Author Topic: Cassanova's Love Chapter 23 31-12-2012  (Read 102439 times)

Offline hye sun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1252
    • View Profile
Re: Cassanova's Love SPOILER, 12.13.2011
« Reply #2340 on: January 05, 2012, 11:20:35 pm »



CHAPTER 20




Genggaman hye jin terlepas, saat Daniel dengan amarah yang memuncak melangkahkan kaki, mendekati lee min ho yang terus menggoda adiknya_memandang “gadisnya”, hingga membuat hye sun tidak mampu menggerakkan tubuhnya dari lelaki bertubuh jangkung itu.

“ apa yang kau lakukan!” pekik Daniel, sembari mencengkram erat lengan minho_membuat tubuh itu sedikit tak seimbang, menjauhkan tubuh itu dari hye sun yang berdiri kaku.

Pada awalnya cengkraman itu bagai borgol yang semakin lama terasa semakin menyakitkan pada tubuh cassanova, hingga akhirnya dengan rasa kesal yang luar biasa Minho menarik lengannya_melepaskan lengan itu dari kemarahan seorang Goo Daniel.

“inikah sikap yang harus kuterima dari saudara iparku!” minho berujar dingin sembari merapikan jasnya dengan wajah aristrokat yang terlukis jelas pada gurat- gurat tampan  cassanova.

“aku tidak mengundangmu, Mr.lee!, jadi pulanglah!” suara itu terdengar menekan, diiringi puluhan pasang mata yang menyaksikan “pertarungan” diantara kedua lelaki itu.

Minho tersenyum sinis_mengerutkan dahinya.

“pulang?, aaaaa…tidak…tidak…” suara minho kali ini terdengar santai, dan dengan matanya yang tajam, ia pandang raut wajah iparnya yang kian memerah_menahan amarah atas sikapnya.“kau tahu, aku masih memiliki hak atas adikmu, Mr.Goo. Dan demi kenyamanan kita bersama, biarkan aku ikut merayakan pesta isteriku kali ini” tukas minho enteng, sembari sesekali melirik II woo yang berada tidak jauh dari mereka.

Hye sun menggenggam erat setiap sisi gaunnya. Kekhawatiran kembali muncul, saat ia sadar pertikaian antara MINHO-DANIEL semakin meruncing.  Dan dengan rasa gugup yang luar biasa, ia langkahkan kakinya seolah tertatih, menghampiri Goo Daniel.

“o…oppa…” dengan lembut ia sentuh lengan Daniel, mencoba memadamkan amarah lelaki itu. “oppa…sudahlah” bisik hye sun, membuat Daniel memandang wajahnya sesaat.




“aku mohon minho_sshi, tinggalkan pesta ini, aku mohon….” mata hye sun dengan cepat beralih menatap wajah angkuh dihadapannya, wajah angkuh yang hanya bisa bertahan sesaat, seolah tersentak akan ucapan hye sun barusan yang menurutnya “sangat menyakitkan”, saat untuk kesekian kali kehadirannya, sama sekali tidak diinginkan oleh wanita yang sangat dicintainya.

 “tidak” balas minho dengan suara datar. “kau tahu, aku bukan lelaki yang mudah menyerah akan sesuatu, hye sun_sshi”
“lakukan demi aku!” hye sun berujar dengan suara menekan, membuat minho mengepalkan kedua lengannya_menahan rasa sakit yang kini terasa menghujam jantungnya.

“demi kau?” minho mengerutkan dahi “ lalu …. Bagaimana dengan hatiku hye sun_sshi, bisakah kau memahami akan hatiku?” tanya minho, yang membuat hye sun semakin tidak berkutik akan ucapan lelaki itu.



Suasana pesta yang pada awal terasa meriah dengan music dan tarian, kini terasa sunyi dan “dingin” setelah kehadiran minho yang tiba- tiba. Dan Seolah ingin mencairkan suasana yang “mencengkam” dengan santai minho melangkahkan kakinya beberapa langkah, menjauhi Daniel yang semakin geram akan tingkahnya, dan hye sun yang memandangnya dengan tatapan sendu…..

“tuan dan nyonya yang terhormat, maafkan atas ketidak nyamanan anda semua malam ini, silahkan…. Nikmati pesta ini kembali!” minho berujar dengan suara lantang, sembari memainkan jemarinya_membuat music kembali mengalun ditengah ruang pesta.

“apa yang dia lakukan!”jerit Daniel dengan suara menekan, saat didepan matanya, minho menarik segelas champagne dari pelayan, dan mereguknya hanya dengan satu tegukan.

“oppa!” bisik hye sun dengan nada menekan, diikuti hye jin yang dengan cepat menahan tubuh Daniel yang lagi- lagi mencoba menyerang.

“Daniel, jangan permalukan dirimu !!” hye jin berujar kesal saat beberapa pasang mata masih asyik menikmati ‘pertarungan’ itu.

“tidak!!!, bajingan tengik ini harus diberi pelajaran!” geram Daniel sembari menarik lengannya yang tertahan.

.

.

Langkah kaki Daniel dengan cepat mendekati minho yang berdiri gagah, tersenyum saat beberapa pasang mata menyapanya ramah. Sadar akan kedatangan Daniel, yang “mungkin” akan segera melepaskan pukulannya, dengan cepat minho menahan tubuh kekar itu saat terkaannya sama sekali tidak meleset.

“jangan pernah mencoba untuk melakukannya lagi, hyung!” bisik minho dengan suara menekan. “hanya satu kali, cukup satu kali! karena aku akui, aku pantas mendapatkannya saat itu!”

Tubuh mereka berdiri dengan kekuatan_saling beradu, membuat hye sun yang luar biasa panik mencoba menghampiri, namun seketika terhenti saat II woo menahan lengannya, sembari berbisik “jangan…”

“kau tahu, aku bisa mendapatkan hye sun jika aku ingin!, karena dia isteriku!” suara minho terdengar geram. “tapi aku mencoba menahan semuanya, karena aku menghormatimu hyung!, aku menghormati saudara dari wanita yang kucintai!”



“kau pikir, aku takut akan ancamanmu, Mr.Lee?!”balas Daniel sinis “tidak! Aku tidak takut akan ancaman pemuda ingusan sepertimu dan berhentilah memanggilku HYUNG!”

Minho tersenyum sinis mendengar ucapan lelaki yang kini semakin erat mencengkram leher jasnya.

“jangan membuatku terpaksa melakukannya HYUNG, karena aku takut kau akan menyesali semuanya” lagi- lagi minho menyelipkan “HYUNG” pada nama Goo Daniel, seolah menikmati kemarahan lelaki itu.

“lakukanlah, dengan senang hati aku terima tantanganmu!!!” balas Daniel, hingga membuat minho terkekeh akan kata- kata itu.

“bukankah… aku sudah melakukan setengah dari tantanganmu, hyung ? Bukankah Aku sudah membuat pengadilan menolak tuntutanmu!” minho mengangkat alisnya, sembari tersenyum “setan”  “dan yakinlah…. dengan pengadilan pula, aku akan mendapatkan isteriku kembali!”

“bajingan!!” bisik Daniel, geram.

“jangan paksa aku melakukannya, hyung!” minho menggenggam lengan kekar Daniel yang terasa semakin menyakitinya “Karena aku tahu, menyakitimu berarti menyakiti hye sun. Dan aku…. Tidak pernah ingin  melakukannya!!” geram minho sembari menarik tubuhnya menjauhi Daniel beberapa langkah_ namun tetap menangkap hye sun dengan kedua matanya yang tajam.

“jadi…cobalah berbuat baik padaku hyung,…. biarkan aku menikmati pesta malam ini, hanya malam ini!”  


TAP TAP TAP

Langkah kaki berat itu  perlahan menjauhi Daniel, yang berdiri membelakangi, dan dengan satu pandangan, “GOO HYE SUN” minho terus melangkah….

 “ikut aku!!!” suara parau itu kembali mengeluarkan “perintahnya” saat mata bulat hye sun menatapnya seolah ketakutan.
Dengan santai minho menarik tubuh hye sun, membawa hye sun kedalam genggamannya. Melepaskan tubuh itu dari genggaman guardian, yang sedari tadi menahan.

Hye sun yang kebingungan, mencoba untuk menolak. Namun, ia sadar genggaman lelaki itu tidak akan mampu ia lawan.
.

.

.





“II woo_sshi….apa….kau…baik- baik saja?” bisik Gaul dalam hati saat menangkap kesedihan dimata lelaki itu, ketika  dengan kerapuhannya Guardian berdiri, membiarkan matanya menatap kepergian hye sun yang perlahan hilang dari pandangannya, diiringi hye jin yang tak kalah dilingkupi rasa heran ketika Daniel, hanya berdiri. Berdiri kaku_membelakangi, membiarkan kepergian adiknya tanpa ada sedikitpun perlawan seperti yang ia tunjukkan kepada minho beberapa menit yang lalu.


“ini kesempatanmu yang pertama dan terakhir, lee min ho!, karena aku bersumpah! tidak akan pernah membiarkannya lagi, tidak!!!” bisik Daniel geram, diiringi puluhan pasang mata yang terperangah akan “kemeriahan” pesta malam ini.







-------------------------------------



“lepaskan!!!” jerit hye sun, saat minho membawanya kehalaman belakang kediaman Goo Daniel. Nafas hye sun sedikit tersengal saat lelaki itu menarik tubuhnya “paksa”, hingga melepaskannya tidak lama setelah hye sun meminta.

Minho tersenyum sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya….

“kau cantik malam ini, my princess” bisik minho lembut mencoba menenangkan gadis itu, meski hye sun memandangnya dengan pandangan dingin.

“biarkan aku kembali!” jerit hye sun dengan wajah memerah sembari mencoba membawa tubuhnya menjauhi lelaki itu, namun dengan cepat pula minho menahan tubuh itu dengan lengannya.

“jangan khawatir hye…, hyung telah memberikan kita izin, meski hanya untuk malam ini” suara minho terdengar enteng.

Dan BUKKKKKKK

Terdengar pukulan keras, saat hye sun mendorong tubuh minho yang seolah akan memeluknya.

“untuk apa kau datang!”, “kau tahu, kehadiranmu hanya  merusak pestaku!!” hye sun berujar sinis.

 “sungguh… pada awalnya…aku…tidak ingin datang, meski aku selalu mengingat hari ulang tahunmu hye….” Minho tersenyum “tapi….saat aku termenung dalam kesendirianku, tiba- tiba entah mengapa…aku  mendengar suaramu yang memanggil namaku” minho mengerutkan dahi sebelum melanjutkan  ucapannya “ dan kau tahu hye….suara itu…. terdengar sayup, lembut… seperti nyanyian burung kecil yang berkicau menyambut pagi, ketika aku bangun dari tidurku”

Hye sun menggigit kecil bibirnya, saat ia sadar cassanova kembali menggodanya akan kata- kata yang menurutnya, BERLEBIHAN Tapi…. Sangat ia sukai !!!

“untuk  itu, aku datang….karena aku tahu, kau sangat merindukanku hye sun-sshi” Tukas minho enteng_tersenyum, sembari melangkahkan kakinya beberapa langkah mendekati gadis itu.

DEG DEG DEG  hye sun dapat merasakan dengan jelas ketika jantungnya berdegub kencang saat mata tajam itu kembali menguncinya dengan tatapan pesona…..

“demi tuhan, ia benar- benar membuatku gila akan pandangannya, tatapannya yang untuk kesekian kali menguasaiku, membuat nafasku seolah terhenti, lee min ho….menjauhlah dariku, kumohon!!”

“saengil chukae, isteriku!” bisik minho mencairkan rasa gugup gadisnya_ menyentuh kepala hye sun lembut dengan  tangannya.

“hentikan!” balas hye sun gugup, sembari menangkis lengan yang kini seolah membelai rambutnya. “jangan pernah lakukan itu!, pergilah!” balas hye sun masih dengan suara sinis.

Lagi- lagi, Minho hanya diam melihat tingkah “dingin” isterinya, yang dibalut dengan wajah kemerah- merahan saat ia sadar hye sun benar- benar bagai strawberry manis, ketika ia terlihat malu.

“kau pikir…. Untuk apa aku datang ?” tanya minho.

“yang jelas untuk merusak pestaku, membuat kakakku marah dengan tingkah konyol arogantmu, minho_sshi!” jawab hye sun
“huh” minho menarik sungging bibirnya, saat mendengar ucapan “tajam” dari bibir gadis itu.

“kau tahu….aku datang karena aku sangat merindukanmu, hye sun_sshi”

Hye sun menggenggam setiap sisi gaunnya, saat mendengar ucapan spontan dari lelaki jangkung yang terus memandangnya. Memandangnya dengan pandangan berkaca, seolah berusaha mengungkapkan pada dunia….dan pada gadis yang berdiri angkuh dihadapannya, bahwa ia…ia sangat merindukan Princess miliknya…

“aku datang, untuk melihat isteri cantikku. Apakah dia baik- baik saja, apakah dia tetap terus tersenyum, tertawa…. Meski…tanpa aku disisinya, apakah dia…..”

“AKU BISA HIDUP TANPAMU MINHO_SSHI!!!” hye sun mematahkan ucapan minho seketika, Hingga membuat lelaki itu terperangah dan tanpa sadar, menjatuhkan setetes air mata yang sedari tadi ia “tahan”, namun dengan cepat ia seka air mata itu.





“jadi…kau juga berfikir…bahwa aku bisa hidup tanpamu, hye sun_sshi?” tanya minho sembari menatap mata bulat hye sun yang berkaca….

“tentu saja, seperti aku bisa hidup tanpamu, kau pun juga bisa hidup tanpa diriku, minho_sshi!” balas hye sun dengan nada parau.

Minho tersenyum kecut, namun terus menatap wajah isterinya dengan pandangan sendu nan rapuh….

“benar….kau benar hye sun_sshi, aku….AKU BISA HIDUP TANPA DIRIMU, bahkan kau bisa lihat….aku berdiri dengan gagah, dihadapanmu dengan detakan jantung dan nafas yang terus berhembus, meski kau tidak ada disisiku, aku mampu!”

“aku bisa hidup tanpamu, namun…. sungguh, aku tidak tahu bagaimana caranya, ….bagaimana caraku untuk bisa hidup tanpa dirimu, hye sun_sshi”  suara parau minho menekan, hingga kali ini membuatnya tidak   mampu membendung air mata yang menetes untuk kesekian kali.

Hye sun berdiri dengan kedua kakinya yang gemetar, wajah pucatnya segera tertunduk, bersembunyi_ seolah tidak mampu menahan tatapan dan air mata rapuh minho yang tertuju kepadanya.

“hentikan minho_sshi, hentikan sikap bodohmu suamiku, hentikan…..” bisik hye sun sembari terus menggenggam sisi gaun yang kini menjadi kekuatan telak baginya.



--------------------------------------------


Suasana pesta kembali meriah saat music kembali mengalun di salah satu ruang mewah, kediaman Goo Daniel. Meski pada awalnya suasana menjadi sedikit “menegangkan”, namun para tamu sepertinya dapat memahami kondisi saat itu.

Bukanlah berita yang baru, saat pertikaian antara dua kubu itu terjadi. Lee Min Ho - Goo Daniel, telah menjadi santapan hangat beberapa media, terkait dengan perceraian yang terjadi antara Daniel dan Park si Yeon serta perpisahan yang terjadi antara Lee min Ho dan Goo hye sun yang sampai sekarang tetap menjadi misteri, bagi mereka.

“kau…baik- baik saja Daniel_sshi ?” suara hye Jin terdengar sedikit khawatir, saat melihat kecemasan yang berkecamuk diwajah Daniel, meski lelaki itu mencoba menyembunyikannya.

“tidak!, sebelum hye sun kembali padaku, aku akan tetap seperti ini!” Daniel berujar sembari meneguk segelas champagne ditangannya.

Hye jin mengerutkan dahinya “jangan khawatir, aku yakin hye akan kembali. Kupikir tindakanmu barusan lebih baik, terlihat lebih dewasa dengan menghilangkan sifat egomu, karena kita semua tahu Lee min ho masih berhak atas adikmu”

“ego??” dahi lelaki itu seolah mengerut sembari tersenyum sinis, lalu menatap muka pintu seolah menanti kedatangan adiknya.

“ya, aku adalah lelaki egois didunia ini, hye jin_sshi” jawab Daniel sambil kembali mereguk champagne nya lagi.
Untuk beberapa saat hye jin membiarkan Daniel sendiri bersama kemarahannya. Luapan Kemarahan yang mungkin akan membuatnya lebih baik, dibanding jika harus menahannya.

 “aishh!!! sudah hampir setengah jam bajingan itu membawa hye sun. dan kau lihat, adikku sama sekali belum kembali!!”
Hye jin menyentuh lengan Daniel, seolah tidak peduli saat beberapa pasang mata menangkap kedekatan mereka.

“pelayan melihat mereka ditaman,  dan…. aku sudah menyuruh II woo dan Gaul untuk  melihat keadaan mereka saat ini, jadi…. Jangan khawatir, Daniel_sshi” hye jin tersenyum sembari menatap wajah kecemasan itu lagi.

“aku akan coba untuk tenang, dan memberikan bajingan itu kesempatan!” Daniel berujar geram “karena aku bersumpah, ini terakhir kalinya ia menemui hye sun!”

Hye jin menghela nafas panjang melihat tingkah lelaki itu sebelum akhirnya, ia mencoba tersenyum saat beberapa tamu menyapanya ramah dalam kecemasan yang berkecamuk akan kondisi lelaki, yang kini berdiri rapuh disampingnya…..




----------------------------------------------



Hembusan angin semakin menusuk malam itu, suasana taman terasa hening, meski terdengar sayup- sayup alunan music yang mengalun dikediaman keluarga Goo.

Minho dan hye sun……

Mereka berdiri cukup lama masih dengan posisi “kaku” mereka masing- masing, dengan minho yang tidak melepaskan sedikitpun pandangannya, dan hye sun yang tertunduk menyembunyikan wajahnya dari lelaki yang berdiri seolah menikmati kecantikannya malam ini…..

“kau….kedinginan hye?” tanya minho dengan suara parau.ketika gadis itu menyentuh kedua lengannya yang seolah menggigil karena udara dingin malam itu.

Hye sun diam, tidak berkutik_masih dengan wajah yang tertunduk.

Dengan cepat minho melepaskan jas yang membalut tubuhnya, mencoba melekatkan jas itu pada hye sun namun lagi- lagi gadis itu menolaknya.

“cukup minho_sshi!, pulanglah, agar aku bisa masuk dan menikmati pestaku.” Untuk kesekian kali minho tersentak, akan sikap “keras” dan penolakan hye sun padanya.

Ia pandang lagi wajah dingin isterinya dan Perlahan, dengan menahan sakit yang luar biasa minho menghela nafasnya_dalam……….

“baiklah…. Jika memang itu yang kau inginkan, Aku akan segera pulang. Lagipula…aku sudah puas menatap wajahmu malam ini hye sun_sshi”

Lagi- lagi hye sun hanya diam, mencoba untuk tidak menggubris perkataan suaminya.

“tapi…. sebelum aku pulang….” Minho berusaha meraih sesuatu yang hampir terlupa dari jasnya. “ambillah, ini kado special untukmu, yeobbo” minho berujar saat ia menemukan apa yang diinginkan sembari menyodorkannya pada hye sun.
Hye sun melirik sesaat sebelum akhirnya….

“aku…tidak ingin menerima apapun darimu minho_sshi!”

“aku mohon….terimalah hye…., ini…. sesuatu yang paling berharga dariku, untukmu….” suara minho terdengar parau. “terimalah….aku mohon….” Minho berujar sambil menarik tangan hye sun dan meletakkan “kotak” kecil itu pada epalan tangannya.

Untuk beberapa menit, tangan mereka saling bertaut, satu sama lain….

“tanganmu…dingin hye….” Bisik minho sambil menatap wajah isterinya, namun dengan cepat hye sun melepaskan genggaman lelaki itu dengan sedikit kasar.




“kau tahu…ini pesta ulang tahunmu yang pertama bersamaku” minho tersenyum. “aku ingin… hari ini, tahun berikutnya…. Dua puluh tahun berikutnya….setiap ulang tahunmu, aku ingin selalu ada…. Merayakannya bersamamu”
Kali ini tubuh hye sun kembali gemetar, saat lagi- lagi lelaki itu “menguasai” akan kata- kata yang membuat hye sun seakan kembali harus membuat pilihan.

“minho_sshi aku mohon….pulanglah…..!!!” dengan cepat hye sun melangkahkan kakinya, meninggalkan lee min ho, seolah tidak sanggup merasakan kerapuhan lelaki itu.

Namun, baru saja beberapa langkah meninggalkan minho. Sebuah genggaman tangan kembali menahannya, menariknya dan membawanya kedalam dekapan hangat sang cassanova….

Untuk sesaat hye sun kembali terpanah akan wajah tampan suaminya, hingga tanpa ia sadari_ ia tidak mampu bernafas saat untuk kesekian kali bibir minho kembali menguasai bibirnya….

HYE SUN

“ciuman itu terasa memburu hingga membentuk sengatan aneh yang menyambar disetiap tubuhku…. Ciuman yang terasa gamblang, begitu pahit, dalam, hingga beberapa saat terasa sangat menyakitkan…”

Minho menarik tubuh hye sun lebih erat pada tubuhnya, mencoba mencari- cari bibir gemetar itu, dan menikmati saat bibir tebalnya, menangkap sensasi yang luar biasa ketika untuk kesekian kali, bibir ranum itu terkatup_menolak akan cumbuan liar yang semakin menguasai tubuhnya….



“lepaskan” isak hye sun dalam ciumannya

“aku bisa merasakan bibir itu semakin posesif akan diriku, bahkan tidak mengizinkan untukku bernafas, ciuman yang menarik jiwaku, dan membawaku menjadi satu kedalam jiwanya, jiwa yang liar,lembut dan bergairah….”

Untuk beberapa menit minho membiarkan gairahnya menguasai, meski ia sadar hye sun akan membencinya malam ini. setiap detik bagaikan emosi, yang kini bagai bara gairah yang tertahan sekian lama, berpacu seiring detak jantung yang semakin memburu, dan ketika hye sun menggenggam erat jas yang ia kenakan, minho sadar, bahwa gadis itu…..MENCINTAINYA, MENGINGINKANNYA, LEBIH DARI APAPUN….

“sarange, hye….sarange my princess” bisik minho dengan nafas tersengal, merasakan udara hangat yang keluar dari bibir hye sun, menyatukan hidung mereka, mengatur nafas…. Yang kini semakin seirama, saat ciuman itu perlahan terhenti seiring detak jantung yang kian memburu.

“sarange…sarange yeobbo….” ulang minho, yang seketika membuat hye sun tersadar seolah mengutuk sikapnya barusan.
Dengan cepat ia lepaskan pelukan tubuh lelaki itu dari tubuhnya, menatap minho dengan pandangan yang dalam, sembari menyeka bibirnya yang terasa sedikit perih, saat lelaki itu melumatnya_penuh gairah….

“apa yang kau lakukan!!!” pekik hye sun, membuat minho menatapnya dengan pandangan yang tajam.

“aku bersumpah ini terakhir kalinya, kau lakukan itu padaku minho_sshi!!” jerit hye sun meninggalkan minho berdiri, menatap kepergiannya, diiringi sepasang mata yang memandang cemburu dari kejauhan.



------------------------------------------


Hye sun duduk terpaku mengamati beberapa pelayan yang sibuk membereskan pesta yang baru usai beberapa menit yang lalu. Ruang itu kembali terasa sunyi, saat semua kembali seperti biasa. Tidak ada music, tawa, dan dentingan gelas champagne yang menghiasi ruangan itu.

Sungguh, hye sun merasakan bahwa ini merupakan pesta ulang tahun terburuknya, saat beberapa tamu penting harus menyaksikan pertarungan antara Daniel dan lee min ho, yang seharusnya tidak boleh terjadi.

Sesekali ia menghela nafas, sembari terus mengamati kotak kecil yang sedari tadi berada dalam genggamannya. Matanya pun sesekali melirik beberapa pelayan, dengan kesibukan mereka masing- masing, sebelum akhirnya, bola mata itu memandang tepat dimuka pintu.

“dia berdiri dengan gagah, saat memasuki ruangan pesta.” bisik hye sun sembari mengingat kejadian beberapa saat yang lalu. “kupikir…aku bermimpi, dan pada kenyataannya semua memang  terjadi” bisik hye sun memandang nanar untuk beberapa saat, hingga akhirnya sedikit tersentak ketika  Daniel melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu. cepat- cepat ia sembunyikan kotak berukuran kecil itu, pada lipatan gaun putihnya yang panjang.

“mereka pulang, meski aku sadar malam ini bukanlah pesta yang menyenangkan!” gerutu Daniel, sambil mengamati beberapa pelayan yang bekerja.

“o…oppa…mianhe…” suara hye sun terdengar berbisik, membuat Daniel yang sedari tadi kesal sedikit meluluh saat mendengar suara lembut adiknya.

“tidak…tidak, jangan ucapkan kata maaf karena ini bukan kesalahanmu hye” balas Daniel, bersimpuh mensejajarkan tubuhnya_dan menggenggam erat tangan hye sun.

“andai lelaki itu tidak datang, semua tidak akan menjadi seperti ini ” hibur Daniel. “jadi…jangan salahkan dirimu sayang”
Hye sun tertunduk sesaat sebelum akhirnya, mengangkat wajah pucatnya lagi “ oppa…baik- baik saja kan?” nada itu terdengar khawatir.

“tentu saja, oppa tidak apa- apa hye!”Daniel tersenyum, dan hye sun membalas senyuman itu.

Ya, sejak hye sun melangkahkan kakinya kembali memasuki ruangan pesta. lagi- lagi ia merasa semua orang “mengamati” nasib malangnya. Mungkin mereka menganggap semua tidak pernah mereka lihat, tapi tidak dengan hye sun yang terus merasakan bahwa para tamu kini sedang mengasihaninya atas apa yang telah terjadi.

Ketika memasuki ruang pesta, yang cukup lama ia tinggalkan karena “tarikan paksa” cassanova, hye sun disambut dengan puluhan pasang mata yang seolah menatap penuh tanya “apa yang telah terjadi, kemana cassanova? Apa…. Dia menyerah begitu saja?”. Hanya itu yang menari- nari diotak hye sun ketika Pertikaian ini benar- benar akan menjadi “santapan hangat” semua orang yang berada dipesta.

Berbeda dengan Daniel yang menyambutnya dengan senyuman. Mencoba membawanya menikmati pesta, tanpa bertanya tentang apa yang telah terjadi seolah tidak peduli dan menjadi kebahagian bagi Daniel saat ia tidak menemukan cassanova meski hanya bayangan lelaki itu.

“istirahatlah hye…., tidurlah… lupakan semuanya, karena itu yang akan oppa lakukan” Daniel berujar sembari mengecup lembut dahi adiknya.

Hye sun tidak menjawab, gadis itu hanya mengangguk perlahan dengan melepaskan senyumannya lagi.
Perlahan, Daniel mengangkat tubuhnya.

“II woo, mengirimkan salam kepadamu sebelum ia meninggalkan pesta” hye sun mengangkat wajahnya_memandang Daniel.
 
“aku tidak tahu alasan, mengapa II Woo_sshi harus kembali terlebih dahulu, tanpa berpamitan”. Gumam hye sun

“ ada beberapa masalah perusahaan yang mendadak harus ia selesaikan.” Tukas Daniel “sungguh, oppa sangat menyukai pemuda itu, menurutku…..dia pemuda yang baik sayang” Daniel memuji II woo sembari tersenyum.

“ia selalu berada disisimu, menjadi sahabat yang baik untukmu bahkan sampai saat ini” hye sun menundukkan wajahnya mendengar ucapan Daniel. “oppa benar…. II woo lelaki yang baik, bahkan…ia terlalu baik oppa” balas hye sun sembari tersenyum, meski lagi- lagi hanya wajah Lee min ho sang cassanova yang terbesit dipikiran princess ketika menyebut nama Guardian dari bibir nya.




---------------------------------------


Hye sun memasuki kamarnya yang gelap, dan TUP terdengar pintu kamar yang tertutup…

Sesekali ia hela nafasnya yang sesak, sambil membayangkan ciuman yang diberikan minho kepadanya, ciuman yang ia sadar, begitu ia inginkan….

“apakah….aku terlalu jahat padamu mu minho_sshi?’” tanya hye sun, sembari menyentuh bibirnya.

“tidak!!!” bisik hye sun menggelengkan kepalanya, saat lagi- lagi ia kembali merasakan kehangatan bibir suaminya, yang ia yakin akan membuat tidurnya, tidak akan pernah pulas malam ini.

TAP TAP TAP

Perlahan,  ia langkahkan kakinya_ membawa tubuhnya bangkit dari sandaran pintu sembari mencoba meraih cahaya penerang yang berada disisi pintu kamar.

Tiba- tiba…..
.

.


Hye sun bisa merasakan keindahan ketika Cahaya Lampu menyinari ruangan itu, diiringi keterkejutan dan rasa kagum saat gadis itu hanya menatap sembari membelalakkan kedua matanya ketika ratusan mawar putih menghiasi setiap sudut kamarnya….

“a….apa…ini ?”tanyanya heran_ melangkahkan kaki dan mengamati setiap hiasan mawar putih yang tertata rapi, dengan kelopak- kelopaknya nan cantik yang menghiasi tempat tidur.

Wajah hye sun seketika memerah bak kepiting rebus, saat hatinya tanpa ragu menjawab sebuah nama dengan sempurna, LEE MIN HO ya….lee min ho yang melakukan semuanya, pasti dia!!! (teriak Author)



----



KEDIAMAN LEE


Minho bisa merasakan udara yang terasa cukup dingin, saat dalam setiap tuts piano yang ia mainkan dapat terdengar rintikan hujan dan kilatan petir yang kini menemani kesunyiannya dimalam itu.

Alunan music itu terus mengalun dengan indah, namun lebih terasa terdengar menyakitkan, saat cassanova memainkannya lagi- lagi sembari membayangkan wajah isterinya, yang meracuni otak dan pikiran serta mata yang selalu menangkap satu persatu kecantikan disetiap sudut ruangan itu.





Untuk beberapa menit cassanova larut dalam kesedihan yang tertuang dalam setiap permainannya. Namun, ketika semua masih terasa menyakitkan tanpa ragu, ia tuang lagi segelas whisky yang sedari tadi ikut menemani, Dalam satu tegukan, tanpa sisa!

“jika ini menjadi hukumanku, aku mohon…. Hentikan! Hentikan!!!, karena sungguh aku tidak mampu, aku…tidak mampu!!” jerit hati minho yang seolah berpacu dengan melody music yang dimainkan.

“hye sun_sshi, kau membuatku mati akan cintamu, kau pembunuh, sayangku…kau membunuhku….”



----


Hye sun merebahkan tubuhnya ke sisi tempat tidur, seolah menikmati setiap keindahan kelopak mawar putih yang menghiasi kamarnya.

“indah…benar- benar indah….” Bisiknya dalam hati _menyentuh satu persatu kelopak mawar dengan lembut, namun seketika_ rasa itu hanya untuk bertahan sesaat, saat dengan cepat ia tersadar dan  mengutuk akan sikap pujian yang baru saja keluar dari bibirnya.

“lelaki gila!, apa yang ia lakukan!, kapan dia bisa melepaskanku” hye sun menggurutu kesal. “aku sama sekali tidak akan tergoda akan rayuan lelaki, yang menghancurkan hidupku, dan oppa!!”

Dalam gerutu ia lirik lagi ratusan tangkai mawar itu, sembari menggigit kecil bibirnya. Dan dibalik gerutu kecil itu, terbesit sebuah tanya dihati. “bagaimana bisa ia melakukan semuanya?” hye sun berfikir sembari mengerutkan dahi “dia tidak mungkin melakukan semuanya sendiri, tidak!!!” hye sun menggenggam erat sisi ranjang lagi- lagi mencoba berusaha menangkap sesuatu.

.

.



Dengan cepat hye sun melangkahkan kakinya saat ia yakin lee min ho tidak melakukan hal itu sendiri. Sebuah nama telah ia dapatkan, hanya dalam hitungan menit. Ia yakin ia tidak akan pernah salah, akan terkaannya. Dan dengan rasa kesal yang luar biasa hye sun dengan cepat meraih gagang pintu, yang membawanya keluar dari keindahan cinta cassanova malam itu……..





-----------------------------------------


Bibi Chan sedikit tersentak, saat tanpa ragu hye sun menarik tangannya. Gadis itu hanya diam saat sang pelayan menanyakan maksud dari tingkah puteri asuhnya yang menurutnya cukup aneh.
 
Dengan langkah yang memburu, hye sun melewati satu persatu anak tangga masih dengan menggenggam erat tangan pelayan tuanya.

Sesekali pelayan itu mencoba melirik wajah puteri asuhnya, yang mungkin terlihat kesal luar biasa.
 
Ketika sadar gadis itu akan membawanya kekamar, bibi Chan dengan cepat menangkap  maksud dari Gadis berpipi merah, yang kini ada dihadapannya.

Hempasan pintu terdengar, setelah pintu ditutup.

“apa bibi yang melakukan semua ini?!” nada hye sun terdengar meninggi, seolah tanpa basa basi, sembari menunjukkan semua keajaiban itu.

Bibi Chan menunduk, “saya…tidak mengerti maksud anda Nona”

“bibi………..” nada tinggi itu berubah menjadi manja_membujuk pelayannya. Ketika ia yakin ada “campur tangan” bibi chan  dalam merancang “keindahan” yang ada dikamarnya saat ini.

“aku tahu, bibi yang melakukannya. Aku juga tahu kini bibi telah berpihak pada lelaki itu!, minho tidak mungkin melakukan semua ini tanpa bantuanmu, bibi!”

Bibi chan tersenyum tipis, “nona, apakah pelayan dirumah ini hanya saya?”

hye sun melirik pelayannya.

“pelayan dirumah ini lebih dari dua puluh orang, dan anda…. Menuduh saya?”

“tentu saja aku yakin!, karena selama ini…. hanya bibi yang terpesona akan rayuannya!”

Terdengar gelak tawa menghiasi kamar itu seketika.

“rayuan…Cassanova???” bibi chan tertawa lagi.

“nona… apakah diusiaku yang cukup tua ini…aku layak untuk jatuh cinta lagi?”

“bibi !!!” jerit hye sun kesal “ma….maksudku….selama ini hanya kau yang menyukainya…. Hingga membuatku yakin…. Kau membantunya merancang semua ini”

Bibi chan kembali tersenyum, sembari menggenggam tangan hye sun.

“apa…anda menyukainya, menyukai mawar- mawar cantik ini?” tanya bibi chan

“ma….maksud bibi?” hye sun merasa wajahnya benar- benar memerah.

“Mr.Lee, telah merancang semuanya satu minggu yang lalu sebelum pesta ulang tahun anda.” Bibi chan berujar sembari mengamati mawar putih yang mengelilingi kamar itu.

“ia ingin anda selalu mengingatnya dalam setiap tangkai bunga yang akan ia kirimkan kepada anda nona” bibi chan memandang mawar- mawar putih sembari tersenyum.

“jadi, dugaanku tidak salah. Bibi yang melakukannya, bukan?”

Bibi chan mengangguk kecil “ne” jawabnya pendek sembari melepaskan tangannya dari hye sun.

“tapi kenapa? Kenapa bibi lebih membela lelaki yang pernah menyakitiku, dan oppa?!”

“bibi hanya ingin membuatmu bahagia, nona. Dan ketika bibi sadar kebahagianmu, adalah bersama Mr. Lee, maka bibi melakukannya”

“bibi!, aku tidak pernah bahagia bersamanya, dan bibi bisa melihatnya dengan jelas. Jadi aku mohon, jangan pernah lakukan ini lagi!”

“jangan terus membohongi diri anda nona” bibi chan menghela nafasnya sesaat “anda berhak bahagia….”.

“bibi…..” bisik hye sun.

“kesalahan tidak sepenuhnya milik Mr. Lee. dan meskipun dia pernah menjadi seorang pendosa, tapi dia telah membayar semuanya dengan penderitaan yang mungkin lebih menyakitkan dari apapun!”

“aku benar- benar tidak percaya, bahwa Lee Min Ho telah menjadikan bibi sebagai dewa cupid bagi cintanya!”
Suara hye sun seketika meninggi,

“apa yang bibi tahu tentang kehidupan seorang Cassanova!” hye sun menggigit kecil bibirnya.

“yang jelas kini saya lebih tahu dari anda hye sun_sshi, bagaimana kehidupannya, bagaimana rasa sakitnya, dan bagaimana penderitaan yang telah ia lalui, sebelum akhirnya menemukan cinta sejati pada seorang Goo hye sun!”

Hye sun seketika tersentak, bibirnya gemetar dengan bola matanya yang berair_seolah akan menangis ketika mendengar ucapan pelayan tuanya.

“selama tiga bulan ini, Mr.Lee selalu menjadikan saya sebagai penghubung antara anda dan dirinya. Pada awalnya saya menolak, tapi…ada sesuatu yang membuat saya merubah pikiran saya nona….”

Bibi chan menatap hye sun dengan dalam, ketika gadis itu membalas tatapannya.

“ada cinta yang besar pada dirinya, ketika menyebut nama hye sun dengan bibirnya, tersenyum ketika anda menari- nari dipikirannya, dan menangis…. ketika anda menyakitinya….saya bisa melihat itu dengan jelas nona….sangat jelas”
Dahi hye sun seketika mengerut, sembari menggenggam erat sisi gaunnya.

“dia menangis…. seorang pemilik kerajaan SHINWA, menangis dihadapan pelayan tua seperti saya nona, menangis….ketika mengucapkan nama anda dengan bibirnya, memohon agar cinta sejati itu akan berpihak padanya!”

“cukup!, cukup bibi, cukup!” tangis hye sun seketika memecah, menghiasi kesunyian malam diiringi suara petir yang menggelegar.

“hye sun-sshi…” suara bibi chan terdengar parau, dengan lengan tuanya ia sentuh pundak hye sun yang berdiri mematung sembari menangis.

“anda berhak bahagia nona, Mr.Lee…sangat mencintai anda.. jangan…pernah membunuh cintanya lagi, karena…. Saya yakin kesengsaraan akan membunuhnya perlahan….ketika cinta sejati itu tidak berpihak padanya….” Ia seka air mata hye sun perlahan.

“saya mohon… jangan membuat diri anda menderita lagi…. Saya tahu…anda sangat mencintai Mr.lee, hye sun-sshi….”
Ucapan bibi Chan membuat hye sun kembali harus memilih. Cinta atau kehormatan keluarganya_kehormatan Goo Daniel, ketika tiba- tiba, wajah Daniel kembali terbersit dipikirannya.

“tidak!, aku tidak mencintainya bibi, aku tidak mencintainya!!” jerit hye sun yang kembali membuat bibi chan tersentak atas ucapan gadis itu.

“Lee Min Ho tidak berhak lagi menggangguku, mengganggu kehidupanku karena malam ini…aku akan mengambil keputusan!”
Dengan cepat ia raih kotak kecil yang berada disisi ranjangnya, sembari mengambil mantel merah yang menggantung disisi sofa yang ada dikamar itu.

“no…no..na.. apa yang anda lakukan, ke…kemana anda akan pergi?” tanya bibi chan dengan nada khawatir saat hye sun bersiap- siap sembari mengenakan mantelnya.

“aku ingin menemui bajingan itu dan mengatakan padanya, bahwa aku TIDAK MENCINTAINYA, AKU INGIN BERCERAI DAN LEPAS DARINYA, BIBI!!!” hye sun berujar sembari menangis “dengan begitu…. Bibi terbebas dari tangisan cassanova yang selama ini meracuni!”

“no…nona….”


.

.

.

Langkah kaki itu dengan cepat menuruni satu persatu anak tangga. Langkah itu begitu memburu, seiring detak jantung hye sun yang kini tak beraturan saat kemarahan kembali menguasai dirinya.

Dengan erat ia genggam setiap sisi gaunnya, diikuti bibi chan yang memohon agar gadis itu tetap tinggal.

“nona….saya mohon….”

“ini harus diselesaikan bibi, bukankah bibi ingin aku bahagia?”

Hye sun melangkahkan kakinya kali ini menuju pintu utama.
 
“Dan kebahagianku adalah jika aku terlepas dari Lee Min ho, pria yang menyakiti aku dan oppa!!!”

Langkah itu kian mendesak dan tidak membutuhkan waktu lama untuk keluar dari kediaman Goo.

“nona….berhentilah, hujan begitu deras, hentikan sikap kekanak- kanakan anda hye sun-sshi!!” Isak bibi chan dengan suara mengiba sembari menahan lengan hye sun.

“lepaskan aku bibi!hentikan untuk membelanya!!!” jeritan hye sun membuat wanita itu terdiam dalam tangisnya.

“jika bibi memilihnya, maka aku…akan melepaskan bibi. Tidak peduli bahwa bibi pernah merawatku semenjak kecil, tidak peduli jika bibi yang telah membesarkan aku, aku tidak peduli!!!”

PLAKKKKKKKKK, tamparan kecil itu mendarat dipipi pucat hye sun.

Hye sun tersentak, dengan cepat ia sentuh pipinya yang terasa perih sembari memandang dingin pelayan tua yang ada dihadapannya.

“bi…bibi…me…mukul…ku….?” Isak hye sun membuat pelayan tua itu seketika menyesali perbuatannya.

Suasana seketika hening, hanya derasnya air hujan dan suara gemuruh yang menghiasi malam itu. Hye sun memandang rapuh pelayan tuanya, sambil sesekali menyeka air mata yang menghiasi pipinya.

“aku hanya pelayan yang ingin anda bahagia nona…, dan jika pelayan ini tidak berhak atas kehidupan anda…. Maka, maafkanlah saya…..maafkan saya hye sun_sshi” isak bibi chan


“maafkan…saya……maafkan saya….nona….”




--------------------------------------------


Tubuh itu basah ketika ia berdiri tepat dikediaman Cassanova. Kulitnya yang putih semakin terlihat pucat, ketika ia berlari kencang dibawah hujan hanya untuk sampai dihalaman istana itu.

Goo hye Sun dengan keberanian yang telah ia miliki, dengan rasa marah dihatinya, terus melangkah meninggalkan kediamannya yang nyaman untuk menemui lelaki yang sangat ia benci sekaligus ia cintai, didalam kehidupannya.

Rambutnya terlihat acak, dengan mantel dan gaun putih indahnya yang basah. Sesekali ia coba mengimbangi tubuhnya, ketika rasa dingin itu bagaikan tusukan sembilu yang seolah merajam tubuh mungilnya.

Entah mengapa hye sun ingin maju seorang diri, ketika supirnya ingin menemani. Supir muda itu terlihat takut dan khawatir, saat harus meninggalkan hye sun memasuki kediaman Lee seorang diri. Sesekali ia tatap tubuh gadis yang perlahan menghilang dari pandangan_berlari menuju kediaman lee, dengan ribuan rasa kekhawatiran, ketika pekerjaanya pun kini jadi taruhan.

TOK TOK TOK, ketukan itu terdengar berat dan memburu.

Tidak membutuhkan waktu yang lama, ketika pelayan membukakan pintu setelah sempat sebelumnya berlari terburu.
Dan ketika membuka pintu rumah itu, kedua bola  mata pelayan terbelalak lebar saat hye sun berdiri dengan tubuh menggigil dihadapannya.

“nyo….nyonya….??” Bisik pelayan dengan nada terkejut.

“dimana Lee min ho?!” tanya hye sun sembari melangkahkan kakinya memasuki ruangan.

“tu..tuan…tuan ….”pelayan muda itu terlihat kebingungan

“katakan padaku, dimana lee min ho!” suara hye sun seketika terdengar bagai  jeritan hingga membuat pelayan itu dengan segera menjawab pertanyaan yang sedari tadi sulit untuk ia katakan.

“tuan….kini ada diruang rahasianya, nyonya”

“ruang rahasia?”

“ya, begitu tuan menyebutnya” jawab pelayan lelaki itu polos.

Tanpa ragu ia langkahkan lagi kakinya, mencoba mencari “ruang rahasia” yang dimaksudkan sang pelayan.

“dimana ruangan itu?!” hye sun mencoba mencari sembari melangkahkan kaki, kali ini menuju anak tangga.

“ruangan itu….” belum sempat menjawab,hye sun dengan segera meninggalkan sang pelayan dengan wajah menganga, ketika mendengarkan dentingan piano yang merdu_mengalun disuatu ruangan.

Princess langkahkan kakinya, mengikuti melodi yang sesekali mengalun dikesunyian malam itu. melody yang mengalun menghiasi  istana Lee, diiringi suara hujan yang perlahan semakin deras, dan gemuruh yang masih menguasai.

Rasa takut dan ragu kini hinggap, saat tubuh itu kini berdiri didepan “ruang rahasia Cassanova”. Entah mengapa tubuh hye sun yang basah seketika gemetar dengan hebat, saat untuk kesekian kali ia harus menghadapi Cassanova, suaminya.

Entah apa yang ia takuti saat keberanian baru saja muncul pada dirinya. Apakah ia takut saat harus mengucapkan “perceraian” dihadapan lelaki itu?, atau…..ada ketakutan lain yang lebih menguasai saat pesona cassanova sangat sulit untuk dilawan.

CRAKKKKKKKKKKK pintu itu terbuka, dengan suara yang terdengar cukup mengejutkan saat pintu harus terbentur dinding tembok ruangan.

Ruangan itu terlihat remang, ketika hanya ada cahaya lilin yang menyinari.

LEE MIN HO

Apa yang kulihat?  Ketika aku sadar tubuh mungil princess kini ada dihadapanku. Apakah aku bermimpi, atau mungkin wishky telah meracuni pikiran ketika “bidadariku” berdiri pucat memandangku dengan bola mata menawan itu.


GOO HYE SUN

Dia memandangku lagi- lagi dengan pandangan pesona, menatapku dengan hati- hati, menjadikanku setiap inchi tubuhku menjadi berharga dalam kerinduan pandangan itu, dan ketika aku sadar ia menghampiriku, demi tuhan nafasku tecekat akan pesonanya untuk kesekian kali.


“hye….” Sapa minho dengan nada suara yang memelan, diiringi keterkejutan akan kedatangan isteri nya yang berdiri dimuka pintu.

“hye… kau datang…sayang” bisik minho yang dengan perlahan menghampiri tubuh mungil hye sun yang menggigil.
Untuk sesaat mereka saling bertukar pandang dalam keremangan cahaya yang hanya menyinari beberapa sudut ruangan.

Minho hanya menggunakan beberapa cahaya lilin yang menyinari,  ketika cahaya lampu yang benderang kembali akan membuatnya rapuh dalam penderitaan saat wajah- wajah cantik isterinya tersenyum dalam setiap luka yang mungkin akan membunuhnya malam ini.

“aku datang untuk mengatakan padamu, bahwa aku…telah membuang ribuan tangkai mawar putih yang mengotori kamarku!” lirih hye sun dengan nada parau, hingga membuat lelaki yang ada dihadapannya seketika tersentak ketika kalimat sapaan harus dibalas dengan nada kebencian ketus yang keluar dari bibir isterinya.

“dan aku datang, ingin mengembalikan hadiahmu” hye sun meraih sesuatu dikantung mantelnya yang basah, dan menyodorkan kotak kecil itu saat ia menemukannya.

“demi tuhan aku tidak membukanya, karena aku tidak pernah ingin tahu apa isinya.” Hye sun menggengam sisi gaunnya saat kata- kata menyakitkan itu kembali terucap “Hal yang pasti kulakukan saat aku sama sekali tidak membutuhkan semua kenangan tentangmu, ketika kita  bercerai minho_sshi!”

DUARRRRRRRRRRRR, seketika gemuruh diiringi kilatan petir kembali menggelegar dengan hebat hingga membuat hye sun terkejut bukan main ketika matanya yang terbelenggu dalam kemarahan_menangkap sesuatu yang berbeda disekeliling tembok ruangan, saat kilatan itu membentuk secercah cahaya meski hanya sesaat _Kilatan yang seolah menunjukkan setiap kecantikan yang melingkar pada sudut ruangan “rahasia” cassanova, yang membuat hye sun sadar, setiap wajahnya menghiasi ruangan itu.

Kemarahan itu perlahan sirna, saat dengan langkah kakinya yang gemetar hye melangkah, mencoba memastikan apa yang baru saja dilihatnya. Keremangan cahaya, kini tak menjadi penghalang saat satu demi satu ia tatap lukisan dan setiap gambar wajahnya diruangan itu secara dekat, hingga membuat air matanya kembali menetes menahan rasa sakit ketika ia sadar, cassanova telah menjadi “pengemis cintanya”

“aku bertahan…. Dengan menatap satu persatu senyuman itu hye” minho berujar dengan nada parau. “menganggap kau ada disini, menemaniku, dan membiarkan wajah itu menjadi kekuatanku untuk terus hidup”

Hye sun menggenggam erat kotak kecil yang berada ditangannya, ia sadar air matanya tidak mampu untuk terbendung lagi. Keuntungan baginya saat cahaya yang remang dan tubuh yang berbalik_membelakangi minho, membuatnya mampu menunjukkan ribuan kesedihan dengan air mata yang terus mengalir dipipinya, tanpa terlihat.

“kenapa kau melakukan ini, minho_sshi? Tidakkah kau sadar… hal itu akan melukai dirimu!”

“jika luka itu bisa membawamu kembali, maka aku akan membiarkan setiap luka itu menjadi suatu keindahan, karena sungguh… aku bersedia hidup dengan luka bahkan rasa sakit, aku tidak peduli, hye sun, aku tidak peduli!”

Dengan cepat ia rengkuh tubuh hye sun_meraih pinggangnya…. memeluk punggung isterinya sembari menangis… terisak dalam dekapan_merasakan kembali aroma tubuh itu, detakan jantung, sembari membisikkan kata bahwa ia mencintai isterinya, sangat mencintai isterinya….




“hye…. Sarange….sarange my princess….sarange” bisik minho sembari terisak, menunjukkan kerapuhan, dan air matanya tanpa canggung, tanpa rasa malu, menautkan dagu panjangnya kepundak hye sun, dan bersumpah tidak akan pernah melepaskan “miliknya”.

“minho_sshi…lepaskan…aku” isak hye sun saat lelaki itu semakin memeluk tubuhnya erat.

“tidak….aku…tidak akan melepaskanmu…tidak….”

“lepaskan!” jerit hye sun namun sama sekali tidak membuat cassanova melepaskan pelukannya.

“Di Kehidupanku berikutnya, aku hanya ingin mencintai satu orang., yaitu kau Goo Hye sun!”

Minho berujar dengan nada menekan, hingga membuat hye sun menghentikan sikap penolakannya, terdiam dalam pelukan minho yang memeluknya erat, menopangkan dagu panjang itu dipundaknya.

“Jika  memang kau tidak mencintaiku, tidak masalah, aku tidak akan repot-repot. Aku hanya berharap bahwa aku dapat melihat kau setiap hari, meski hanya dalam bentuk pahatan mati, tanpa suara…. Tanpa kata- kata namun tetap tersenyum indah padaku, menunjukkan satu persatu senyumannya tanpa malu, tanpa ragu!”

“bodoh!, kau bodoh!” isak hye sun.

“ya, aku bodoh akan cintaku!!!…aku sadar, semua karma dalam kehidupanku, karma yang indah karena kau adalah penghukumku, dan demi tuhan!, aku tidak akan pernah menyesal!” lirih minho

“lepaskan aku minho_sshi!” hye sun menjerit saat kata- kata dan pelukan kian menjerat tubuhnya, dengan sekuat tenaga ia melepaskan diri dari minho, dan ketika lelaki itu tak mampu mengendalikan rasa sakitnya, dengan sengaja ia lepaskan pelukan erat dari tubuh princess.

“kau surga….dan neraka cinta untukku my princess” minho berujar lirih sembari memandang hye sun dengan dalam.

“kau gila!!!” balas hye sun pendek.

Dengan langkah yang memburu hye sun berjalan meletakkan “kotak kecil” diatas piano, sembari melangkahkan kakinya menuju muka pintu, meninggalkan minho yang berdiri rapuh menatap kepergiannya.

“jangan tinggalkan aku hye sun,…!!!” jerit minho menghentikan langkah hye sun sejenak. “karena jika kau lakukan itu, aku bersumpah kau akan menyesal, Ny.Lee!” sambung minho dengan wajah geram.

Hye sun melangkah dengan tidak memperdulikan ucapan minho yang berdiri sembari mengepal kedua tangannya….
“mianhe, mianhe minho-sshi….. “ bisik hye sun dalam hati.

“sarange….sarange….minho_sshi” sambung hye sun dalam hati sembari terus menggenggam kedua sisi gaunnya yang basah, hingga tanpa ia sadari…. Sebuah lengan kekar kembali menangkap tubuhnya, mendekap diiringi ciuman yang seketika membuat tubuhnya lemah tak berdaya dalam dekapan cassanova.

Ciuman itu sedikit menghentak, hingga membuat hye sun kehilangan kesadarannya, bahwa kini lelaki itu mencoba meraihnya lebih jauh kedalam gairah yang sekian lama terpendam saat tubuh basah itu, semakin lemah dalam dekapannya.
Minho merengkuh pinggang ramping hye sun ketika lagi- lagi hye mencoba melepaskan pelukan dan ciuman yang terasa sangat menyakitkan, ketika ciuman itu kini semakin menguasai hingga tidak mengizinkan gadis itu bernafas.


“apa yang ia lakukan, ketika mulutku terkatup-menolak ciumannya, seketika itu juga ia semakin liar akan gairahnya yang seolah menggebu, dan dalam sekejap menenggelamkan aku dalam ciuman yang kini terasa indah. Demi tuhan, aku mengutuk diriku ketika aku menyerahkan bibir dan mungkin …..mungkin….tubuhku??! tidak! tidak!”

Untuk sesaat cassanova menghentikan ciumannya, memandang dalam wajah gadisnya_meraup wajah pucat yang semakin jelas dalam pandangannya.

“izinkan….aku memilikimu….izinkan aku mencintaimu…. Hye sun_sshi” bisik minho hingga membuat hye sun merinding akan kenikmatan saat lelaki itu menyentuh wajahnya, lembut…seolah menjadikan wajah dan tubuh itu menjadi sesuatu yang harus dijaga dengan hati- hati.

“ti…dak….tidak….” hye sun berbisik dalam pelukan lelaki yang kini hanya berjarak beberapa senti darinya.

Minho menatap wajah itu dengan tatapannya yang tajam, mengetahui dengan jelas saat bibir hye sun menolaknya, namun tidak dengan tubuh hye sun yang lemah dalam pelukannya_seolah menikmati.

“kapan kau bisa menyerah, my princess…. Saat aku yakin kau menikmati setiap sentuhanku…memejamkan matamu…seolah mengharap lebih, dari hanya sekedar….. sentuhan…”

“ti…dak” bisik hye sun dengan nafas yang tersengal, ketika cassanova mendekap tubuhnya_intim, saat tangan kekar itu menyelinap kedalam mantel merahnya.

“tubuhmu dingin hye….kau menggigil…”

Hye sun hanya diam sembari memejamkan matanya…

“lepaskan…aku…..” bisik hye sun namun menggenggam erat kimono yang membalut tubuh cassanova.

Minho tersenyum kecil melihat tingkah “penolakan” gadis yang kini berada dalam pelukannya, “aku…akan melepaskan magnoliaku, ketika kau tidak menolak ciumanku hye….” Minho berbisik ditelinga kanan isterinya kali ini mencoba membentuk siasat  liarnya. [devil2] [devil2] [devil2]

“izinkan aku memberikan kecupan terakhir, sebelum aku melepaskanmu,”

Hye sun membuka matanya saat lelaki itu membisikkan kalimat yang sedikit membuat wajah cantiknya mengkerut.

“aku berjanji…ini yang terakhir….” Minho berbisik parau.

Hye sun diam dalam pelukan, menatap wajah cassanova, seolah kini menjadi pilihan.

“aku…mohon….tanpa penolakan, dan aku…berjanji akan melepaskanmu, hye…menjadikan pilihanmu, adalah takdir didalam hidupku”

“hye, ini yang terakhir….lakukanlah….hanya yang terakhir sebelum lelaki itu melepaskanmu, terbebas dari belenggunya, dan mungkin… dari cinta gilanya yang terkadang membuatmu muak!” hati princess berbisik, sembari terus memandang mata tajam cassanova yang seolah ingin menelannya hidup- hidup, sampai akhirnya….



“aku hanya terdiam, dengan gemetar ketika bibir tebal itu mengecup jenjang leherku….terasa lembut, hangat, seolah kian merasakan denyutan nadiku yang berdetak dengan kencang, kecupan yang terasa membakar saat lagi- lagi lengan kekar itu memeluk erat tubuh ku yang basah. Aku gigit bibirku_kembali menahan gejolak yang semakin membakar tubuhku dan mungkin…keangkuhan yang selalu ada ketika aku menatap wajah lelaki yang pernah menghancurkan kehidupanku…..”

“sarange” bisik minho disela- sela kecupan yang membuat hye sun merinding saat nafas itu kembali berhembus disetiap jengkal kulitnya.

“ini…yang terakhir, kau…berjanji … ini yang terakhir minho_sshi” bisik hye sun ketika kecupan itu kembali menyapu lembut pipinya yang kian memerah…..

“Kecupan itu perlahan kian mendesak menjadi ciuman saat minho sadar, hye sun tengah pasrah akan “ciuman terakhirnya”. Terbesit tanya dihati gadis itu apakah dia mampu menahan gairahnya saat lelaki itu mulai mahir dan sedikit menipu dengan permainannya….”

minho menyesap lembut pada bibir nan padat untuk kesekian kali. Kali ini membawa tubuh itu mengikuti setiap langkahnya, mereka kini bagai menari, diantara derasnya hujan dan gemuruh yang kini terdengar bagai melody yang indah sembari terus menautkan bibir mereka dengan dalam, lembut_ menuntut dan bergairah”


Untuk beberapa menit hye sun pasrah akan setiap sentuhan, ciuman, yang minho berikan kepadanya, hingga dengan nafas yang memburu, minho melepaskan ciuman itu perlahan, sesuai dengan janjinya……

“aku…melepaskanmu, my princess” bisik minho dengan suara datar hingga membuat hye sun sedikit tersentak dan mengerutkan dahinya.



.

.

.




Daniel menuruni satu persatu anak tangga menuju ruang makan. Entah mengapa pagi ini, ia merasakan lapar yang hebat setelah semalaman menghabiskan hampir satu botol wishky dikamarnya. Kepalanya yang sedikit pusing tidak menjadi kendala, begitu pula dengan beban yang semakin terasa berat dipundaknya, ketika kehadiran cassanova benar- benar menjadi keresahan baginya.

Tidak membutuhkan waktu yang lama, untuk sampai keruang makan yang mewah, dan mencium aroma masakan saat ia baru saja menginjakkan kakinya dimuka pintu.

“apa…my princess belum bangun?” tanya Daniel sembari melangkahkan kakinya_ merebahkan tubuhnya keatas kursi ketika bibi chan sibuk mempersiapkan hidangan untuk majikannya.

“be….belum…mungkin, karena nona merasa lelah dengan pesta semalam” bibi chan menundukkan pandangan ketika Daniel menatapnya sekilas.

“ya…bibi benar, pesta semalam benar- benar sangat melelahkan, dan terkesan….menakutkan!” jawab Daniel sembari menatap hidangan- hidangan lezat buatan pelayan setianya.

Untuk sesaat ia sentuh pisau makannya_memulai menikmati hidangan, sebelum akhirnya ia letakkan pisau itu ketempat semula.

“tapi….” Daniel menatap wajah pelayannya “aku tidak ingin sarapan pagi sendirian tanpa hye, tidakkah lebih baik….aku bangunkan dia”

Ucapan itu seketika membuat bibi chan tersentak, dengan rasa gugup ia mencoba menahan Daniel.

“ta…tapi…saya yakin nona benar- benar lelah tuan, jadi…menurutku… biarkan nona menikmati tidurnya”

Dahi Daniel sedikit mengkerut. “yang kutahu my princess tidak mungkin bangun sesiang ini, dan…apa salahnya jika aku mengulang kebiasaan untuk membangunkannya, dengan sedikit gelitikan!” senyum Daniel seketika merekah ketika membayangkan kebiasaannya membangunkan hye sun dengan gelitikan, hingga membuat gadis itu tertawa terpingkal- pingkal sembari memanyunkan bibirnya.

“tu…tuan”  tubuh bibi chan seketika gemetar ketika Daniel tidak menggubris panggilannya, dan perlahan melangkahkan kakinya menaiki satu persatu anak tangga.

ya tuhan….a...apa yang harus aku lakukan… bagaimana….bagaimana jika Tuan Goo tidak menemukan nona dikamarnya!!!  apa….apa yang harus kulakukan!” bibi chan berbisik didalam hati  diiringi deguban jantung yang kian memburu ketika ia sadar…






Princess belum kembali………….







END CHAPTER


UDAH DI UPDATE, MIAN KALAU MEMBOSANKAN, TERKESAN PANJANG DAN MEMBUAT PARA READER GAK MUDENG BERKEPANJANGAN,

ENJOY AND ENJOY BIN ENJOY YE...... [devil2] [devil2] [devil2] [devil2]

DITUNGGU KRITIK AND JEJAKNYE  





« Last Edit: January 05, 2012, 11:32:45 pm by hye sun »



[lovestruck] [lovestruck] Couples who love each other tell each other a thousand things without talking [lovestruck] [lovestruck]