Author Topic: THE GEISHA {Queen of Goo hye sun} SPOILER 12 Feb 2012  (Read 5599 times)

Offline aii.d luffy

  • Full
  • ***
  • Posts: 301
    • View Profile
Aku tidak tahu apa yang terjadi denganku. Hanya butuh beberapa menit melihatnya, tapi membuat diriku seperti orang gila berhari-hari. Bayangannya bergentayangan di otakku terus. Apa dia hantu? Tapi apakah mungkin ada hantu secantik dia? Atau ia seorang dewi malam? Saat bulan bersinar terang, dia seakan menampakkan sayap indahnya, wajahnya yang bersinar dengan tarian yang ia kuasai. Begitu mata berlian itu bertatapan dengan mataku, dia seperti menciut dan rapuh. Dia pergi. Mungkinkah… mungkinkah aku dapat bertemu dengannya lagi?


THE GEISHA CHAPTER 2


Siingg.. mata elang milik seseorang terbuka. Pertama yang ia tatap ialah samar, beberapa detik selanjutnya terlihat jelas ada seseorang dihadapannya mendelik sebal. Minho mengerjap-ngerjap matanya.


“yya.. Siwon-aa? Kau ini mengagetkanku “ katanya sambil duduk di ranjang. Siwon yang sudah rapi dengan seragam yang ia kenakan mendengus sebal.
“karena kau kesiangan. Aku sudah membangunkanmu berkali-kali. Tapi kau tidak bangun-bangun. Ada apa denganmu, hyung? Sudah 5 hari ini kau selalu kesiangan” Siwon mengomel.
Minho mendengarkan diam termenung. Siwon benar, sudah 5 hari ini dia selalu bangun terlambat. Ada yang tidak beres dengan kerja tubuhnya hingga mengganggu tidur Minho.


“hyung..HYUNGGG!!!” teriak Siwon.
“mwo?”
“aisshh… benar-benar. Memang ada yang salah denganmu. Sudah, kau mandi sana! Rapat kabinet sebentar lagi” setelah berkata seperti itu, Siwon keluar sambil menggumam tidak jelas.


Ia melirik jam, pukul 6 lebih. Biasanya ia bangun pukul 5 atau bahkan tidak tidur sama sekali. Tapi sekarang, ada sesuatu yang membuat ia terlelap. Sesuatu… yang benar-benar indah.

Air hangat dari bak mandi tumpah saat Minho merendamkan tubuhnya hingga leher . kepalanya mendongak menatap atap-atap langit. Matanya menerawang jauh. Mimpi yang sama..selama 5 hari berturut-turut. Minho menutup mata, mencoba kembali kemimpi semalam.

Bayangan tubuh mungil seorang wanita, dengan rambut hitam panjangnya tergerai, di bawah sinar bulan kulit putih mulusnya terlihat bersinar, meliuk-liuk indah dan berputar beberapa kali. Ketika ia lihat bibir kecil yang berwarna merah tersebut begitu ranum ketika tersenyum. Ingin sekali ia mengecup sebentar saja, dan selanjutnya pasti ia menginginkan lebih. Menyesap dan benar-benar merasakan manisnya bibir itu. Dunia fantasi mulai semakin masuk ke dalam tetapi harus runtuh seketika saat seseorang dari luar menggedor pintu cukup keras.

“Minho hyung..Minho hyung..HYUNG..” lagi-lagi Siwon. Suaranya terdengar panik. Minho tersentak lalu keluar dari bak mandi.
“ne..ne.. arasso. Aku akan keluar” balas Minho membentak.
“gwencanayo? Apa yang membuatmu begitu lama? Rapat akan segera dimulai, dan kau tidak juga datang?”
“iya aku tahu. Sekarang pergilah! Aku sudah sadar sekarang” dengan sebal ia mengenakan seragamnya dan membasuh mukanya sekali lagi.
“Minho-aa..ada apa denganmu? Berhentilah membayangkan yang tidak-tidak..”


***o0o***

Siang ini semuanya berkumpul di ruangan tempat latihan menari. Lady Hyekyo bersandar di ambang pintu tetap menghisap rokoknya sambil menatap anak didiknya tersebut.


SRETT..
Dengan sangat cekatan kipas yang dilempar jatuh ditangan kiri Yejin. Ia lalu berputar dua kali dan menunjukkan atraksi hebat yang ia kuasai. Wajahnya tersenyum menggoda dibalik 2 kipas yang ia pegang. Sentuhan terakhir ia membungkuk, melempar kipasnya tinggi-tinggi dan dengan keahliannya ia berhasil menangkap dan mengepakkan kedua kipas tersebut.


Semuanya terdiam. Beberapa detik kemudian terdengar riuh tepuk tangan cukup keras. Eun hye berseru “hebat, sunbae sangat hebat” yang membuat Yejin menyeringai bangga.
Salah satu diantara mereka memancarkan mata kagum yang berlebih. Siapa lagi kalau bukan Hyesun. Matanya berkaca-kaca karena sangat terpukau oleh tarian Yejin. Bibirnya merekah kagum.


“hebat..sangat indah”
“Yejin sunbae yang terbaik..” pujian-pujian terlontar dari yang lain.
“aku sudah latihan keras. Bagaimana menurutmu, Lady?” Tanya Yejin. Lady Hyekyo bertepuk tangan paling akhir.
“itu sungguh menabjubkan. Pertunjukkan besok pasti akan menjadi yang paling besar” semuanya menggumam senang dan berkerumun di samping Yejin.
“ingat kalian para geisha! 2 hari dari sekarang persiapkan yang terbaik. Lusa akan menjadi puncak dari kerja keras kita. Hampir semua pejabat datang untuk pertunjukkan Yejin. Jadi aku mohon kerjasamanya. Arasso??” tutur Lady Hyekyo.
“dhe..” semua serentak menjawab.
“para pembantu boleh kembali bekerja,dan untuk penari lain berlatihlah ekstra keras seperti Yejin. Aku tidak mau kalian mengecewakanku. Kembali ke tempat kalian!”


Setelah mengangguk hormat semuanya berhamburan pergi keluar mengerjakan tugas masing-masing. Hyesun saat ini memutuskan untuk membersihkan ruangan ini sendiri. dilihatnya Lady Hyekyo mendekati Yejin. Tubuhnya yang lebih kecil mendongak untuk melihat wajah Yejin dan menepuk pundaknya.
“kau adalah anak didikku yang paling sempurna dari yang lain. Aku berharap besar padamu. Lusa akan menjadi salah satu puncak karier kita. Jadi kumohon demi rumah ini, lakukanlah semaksimal mungkin” Hyesun menguping percakapan mereka berdua tanpa berani menatap.
Yejin diam dan tersenyum.
“dhe,Lady. Sudah pasti aku akan melakukan yang terbaik. Jangan khawatir. Hanya aku anak yang bisa kau andalkan” keduanya tertawa.
“baiklah. Teruslah latihan agar tarianmu semakin baik. Hargamu pun juga semakin tinggi nanti” Yejin tersipu. “aku pergi dulu”
Lady Hyekyo melirik Hyesun sejenak lalu pergi. Hyesun membungkuk hormat dan melanjutkan pekerjaan ketika tiba-tiba Yejin hampir saja ambruk bila ia tidak berpegangan pada daun pintu. Hyesun yang melihat itu, berlari ke arahnya.


“sunbae,gwencanayo?” tangan Hyesun menopang tubuh berat Yejin. Yejin sendiri oleng, ia menekan kepalannya. Hyesun panik melihat wajanya. Ia menundukkan Yejin dilantai.
“kau berkeringat,sunbae. Apa sunbae sakit? Kau Nampak tidak baik.” Seru Hyesun. Benar, Yejin yang sekarang dengan yang tadi sudah berbeda. Wajahnya kuyu dan perlahan berubah menjadi pucat. Nafasnya tersengal. Hyesun yang getir mencoba mencari bantuan. Tapi tak ada seorang pun. Diambilnya saputangan miliknya, hampir saja ia akan mengusap keringat Yejin tapi segera ditepis kasar.


“apa yang kau lakukan?” geramnya setengah sadar.
“mengusap keringat sunbae. Diamlah sejenak, hanya..”
“aku tidak butuh. Pergilah. Aku mau latihan lagi” potong Yejin.
“ta..tapi..sunbae terlihat tidak sehat. Istirahatlah dulu, sunbae”
“apa urusanmu?”
“ahni..aku hanya takut, bila sunbae tidak beristirahat dan menambah waktu latihan sunbae akan jatuh sakit..dan..dan tidak bisa tampil dipertunjukkan besok” kata Hyesun gemetar. Melihat itu Hyesun sungguh takut. Yejin sudah berusaha keras, ia bahkan diberi kepercayaan oleh Lady Hyekyo. Ia tidak ingin kerja keras Yejin sia-sia.
Yejin terdiam masih bernafas tidak beraturan. Tangannya yang mencengkram lengan Hyesun hingga ia menahan sakit menjadi lemah.
“kumohon sunbae..istirahatlah..” Hyesun seakan ingin menangis.
“bawa aku kekamar..” ia berkata pelan. Dengan sigap, Hyesun membawa lengan Yejin ke bahunya dan mulai berjalan keluar. Entah dimana para pembantu. Lorong sangat sepi, Hyesun berulang kali menabrak dinding karena menopang tubuh berat Yejin.


Dibaringkan dan diselimutinya majikannya itu. wajahnya sudah sangat pucat. Ia pasti kelelahan, batin Hyesun.
Hyesun hendak beranjak dari situ tapi ditahan olehnya.
“jangan katakan pada siapapun kalau aku begini!” sergah Yejin.
“tapi..sunbae..”
“aku bilang jangan..jangan katakan..” ia berbicara sedikit menekan. Hyesun hanya mengangguk hormat dan segera keluar.


“bagaimana kalau dia jatuh pingsan? Ia terlalu keras berlatih” gumam Hyesun. Ia terkejut setengah mati saat tiba-tiba Eunhye muncul.
“kenapa kau disini?” tanyanya membuat Hyesun gelagapan. Ia tidak terbiasa berbohong.
“ahh..aa..aku baru saja membersihkan kamar ini, sunbae.”
“minggir, aku mau masuk” Eunhye hampir menggeser pintu tapi dihadang oleh Hyesun.
“antweyo. Jangan sunbae. Yejin sunbae sedang lelah, tidak ingin diganggu”
“oh,jinja?”
“dhe.dia tidak ingin bertemu siapa-siapa dulu” Hyesun meremas ujung bajunya. Berharap Eunhye segera pergi dari situ. Eunhye berpikir sejenak lalu pergi tanpa berucap.
Hyesun jadi lega.   
“hampir saja”


Ia kembali menuju ruang latihan. Sambil memikirkan pertunjukkan besok. Kalau-kalau Yejin tidak dapat tampil, bagaimana nasib rumah ini? maka dari itu Yejin berlatih keras. Dari pagi hingga malam. Tapi..seandainya..bila Yejin tidak dapat tampil,bisakah dia..yang menggantikannya??

“pabo..pabo..” lagi-lagi kebiasaan Hyesun menggetok kepalanya sendiri. bagaimana mungkin dia bisa berpikir sejauh itu.
“kau hanya seorang babu disini,Hyesun-aa. Hanya BABU!!” ia menyadarkan diri sendiri. tidak mungkin juga kan Lady Hyekyo memilihnya. Mendadak Hyesun ingin berlatih menari. Tapi ini masih siang, pekerjaan pun banyak yang menumpuk. Otaknya kembali mundur mengingat peristiwa saat ia menari dan dipergoki oleh seorang laki-laki.
Hyesun menerka-nerka siapa dia. Pakaiannya rapi,harum parfum maskulin tercium ketika ia beranjak kabur karena ketahuan. Dan wajahnya..
“dia..tampan..”gumamnya. siapa dia? Tapi begitu ingat ia telah ketahuan,ia jadi malu. Orang yang pertama melihat tariannya. Ia pasti menertawakan dirinya,ia juga pasti tahu melihat dari penampilan Hyesun yang hanya seorang babu menari-nari seperti geisha padahal lebih mirip seorang badut pelonco. Orang pertama…
“semoga saja ia tidak ingat diriku” Hyesun pun mulai membersihkan.


***o0o***

Minho menghempaskan tubuhnya di kursi santai. Setelah berjam-jam menghabiskan latihan tembak dan berburu di lapangan, ia merasa sedikit pusing dan memutuskan istirahat. Wonbin yang ikut duduk melihatnya dengan tampang aneh.
“weo,sunbae? Ada yang salah denganku?” Tanya Minho ketika tahu ia sedang diperhatikan.
“kau agak aneh belakangan ini” suara pistol dari kejauhan melengking panjang, Minho tertawa kecil.
“apa karena keterlambatanku?”
“biasanya kau selalu ontime. Apa karena kau sudah jadi bos lalu kau bisa bermalas-malasan? Kau punya tanggung jawab besar disini bung”
“ehmm..sosonghamnida,sunbae. Aku tahu,bukan bermaksud melakukannya. Hanya..”
“hanya apa?” Tanya wonbin penasaran.
“aku kurang sedikit enak badan. Sendiku terasa sakit” tentu saja Minho berbohong.
“kau terlalu banyak bekerja dan kelelahan. Santai saja,untuk saat ini Negara kita sedikit aman. Belum ada rencana khusus untuk penyerangan”


Minho mengangguk. Matanya menatap lurus ke depan, para prajurit mulai latihan menggunakan senapannya lagi. Terlintas dibenak Minho akan sesuatu.
“ahh,sunbae. Ehmm..bolehkah aku meminta sesuatu padamu?”
“tentu saja. Selagi aku bisa,apa itu?”
Minho terlihat ragu-ragu. “bisakah kau ..mengajakku lagi jika kau pergi ke..” kepala Minho menunduk malu.
“rumah geisha??” tebak Wonbin. Dengan perjuangan Minho pun mengangguk.
“ahahaha, sepertinya kau sudah menemukan wanita yang kau sukai? Dia seorang geisha ditempat kemarin bukan?” Merah padam wajah Minho. Tapi pertanyaan Wonbin membuat ia jadi bingung. Wanita yang ia temui..ia tidak tahu asal usulnya. Apa dia geisha?


“aku..entah..”
“kalau kau mengincar Son Yejin,kau adalah antrian yang keseribu. Sudah banyak yang mengincar dia termasuk aku. Wanita itu pun belum menentukan siapa yang akan jadi pendampinya..”
“tunggu dulu..” potong Minho membuat Wonbin terkejut, “Yejin siapa?”
“mwo?kau tidak tahu Yejin?” Minho hanya menggeleng polos.
“jinja?kau tidak tahu? Dia geisha yang tampil pertama kemarin. Kau tidak ingat?”
Sekali lagi Minho menggeleng.
“astaga..lalu geisha mana yang kau sukai? Yejin-ssi adalah yang terbaik”
Tunggu,Minho tidak tertarik sama sekali dengan acara pertunjukkan itu. dia hanya tertarik pada kejadian dimana ia bertemu dengan wanita misterius diluar rumah. apa ia geisha? Minho menebak seandainya ia bukan geisha,ia pasti tinggal dikawasan itu. tapi Minho yakin seyakin yakinnya bahwa wanita yang membuat indah setiap tidur malamnya pasti seorang GEISHA.


Dan dua hari berikutnya, ketika pukul 6 sore semua terlalu sibuk untuk duduk sejenak. Pasalnya para pembantu harus mendandani artis utama. Son Yejin duduk di depan cermin bundar besar, rambutnya masih tergerai dengan hanya satu sumpit bertengger. Ia sudah mengenakan gaun merah yang pernah dilihat oleh Hyesun kemarin. Betapa cantiknya dia,batin Hyesun.
Saat ia melihat ke arah mukanya, Yejin Nampak diam dan lesu. Hyesun teringat semalam, saat ia terbangun untuk membersihkan dapur tengah malam,tak sengaja melihat bayangan bergerak di belakang dan saat ia memergoki, Yejin sedang berlatih sendirian di tengah udara dingin. Hyesun hanya bisa mengintip dengan perasaan getir melihat kekerasan Yejin karena ia diberi tanggung jawab. Dan sekarang bibirnya mulai pucat. Sebisa mungkin Yejin tidak memejamkan mata. Dia juga terhibur melihat betapa cantiknya sekarang ia memakai gaun merah tersebut.


“yya kau! Kenapa diam saja? Bantu aku!!pali..” teriak Lady Hyekyo melihat Hyesun hanya duduk. Hyesun segera bangkit dan mengikuti perintah Lady Hyekyo untuk mengangkut beberapa perlengkapan bersolek. Keduanya kembali dan terkejut bukan main. Sang bintang tergeletak lemas bersandar merosot di dinding. Wajahnya pucat dan berkeringat, rambutnya pun mulai berantakan. Lady Hyekyo berteriak dan berlari mendekat.

“Yejin-aa,bangun!ada apa denganmu?gwencana?yya..Yejin..bangunlah!!” seru Lady Hyekyo menepuk pipinya.
Hyesun meletakkan telapak tangan di dahi, “demamnya tinggi sekali, Lady”
Lady Hyekyo panik. Ia memanggil para pembantu untuk menggotong tubuh Yejin ke tempat tidur. Dalam tidurnya Yejin tersengal. Keringat semakin banyak keluar. Hyesun berlari mengambil pecahan balok es dan mulai mengompres keningnya.
“oh tidakkk…bagaimana ini…bagaimana dengan malam ini…sebentar lagi pertunjukkan dimulai..” Lady Hyekyo gelisah,ia mulai tak tenang dan menyulut rokoknya. Yang lain juga tak kalah takutnya.


“Lady,sudah ada beberapa tamu yang datang. Otthokeyo?”
Mampus sudah Lady Hyekyo. Ia membuang rokoknya dan menepuk dengan kasar pipi Yejin.
“kumohon Yejin..sadarlah..sadar..BANGUN YEJIN BANGUN!!!” wanita itu tampak frustasi. Semuanya pun juga bingung,bagaimana kalau Yejin tidak bisa tampil,siapa yang akan menari menggantikan si angsa Yejin?
Yejin tetap tidak bangun malah pernafasannya lebih parah. Lady Hyekyo yang akan menampar tapi lengannya ditahan seseorang.
“Lady jangan lakukan ini..jangan…anda tidak tahu Yejin sunbae sudah berlatih keras hingga ia jatuh sakit seperti ini?” sergah Hyesun,matanya berkaca-kaca sedangkan Lady Hyekyo menatapnya tajam.
“sudah menjadi tugasnya ia begitu. Tidak akan kuizinkan dia untuk tidur dihari sepenting ini”
“jangan Lady,saya mohon. Dia kelelahan,setiap malam ia berlatih sendiri tanpa ada yang tahu. Ia terlalu berlatih keras. Untuk hari ini,biarkan dia istirahat. Dia demam cukup tinggi” tangan Hyesun gemetar. semua mata tertuju pada mereka.
“LALU SIAPA YANG AKAN MENGGANTIKANNYA? KAU TAHU KAN CUMA DIA YANG PALING SEMPURNA DIANTARA YANG LAIN??” sengit Lady Hyekyo.


Terdiam sudah, tidak ada yang menjawab. Hyesun benar-benar ingin menangis,air mata sudah terkumpul dipelupuk mata. Eunhye maju mengusulkan.
“Lady,dengan segala hormat,bisakah saya mengusulkan diri untuk..”
PLAKKKK…semua terkejut membelalakkan mata.
“apa kau gila?dari semua penampilan, kau adalah geisha terburuk yang pernah aku miliki” mendengar itu,Eunhye mundur dan menitikkan air mata. Teman-temannya segera menenangkan dan Lady Hyekyo semakin gila. Ia mondar-mandir tidak jelas. Sudah tampak pejabat-pejabat tamu langganan yang biasa menanti Yejin. Bagaimana kalau acara ini gagal?


Hyesun tertunduk. Sebegitu hebat kah Yejin? Lama-lama ia sedikit iri, Yejin seakan diagung-agungkan. Tapi kenyataannya memang benar. Yejin adalah yang terbaik dari yang terbaik. Dan disanalah ia, terkapar lemah akibat kerja kerasnya. Matanya kristalnya masih menatap sosok yang terbaring tanpa sadar Kim Soeun maju ke hadapan Lady Hyekyo.
“Lady,saya menghadap untuk memberitahukan siapa yang pantas menggantikan Yejin sunbae hari ini” semua menoleh. Lady Hyekyo menoleh sangat cepat menatapnya tajam.
“sosonghamnida saya sangat lancing. Tapi saya berkata sejujurnya”
“siapa?siapa dia?jangan bilang kau..”


“dia Goo Hyesun. Dialah yang bisa,Lady” hening seketika.

***o0o***

Gadis itu mendelik seperti akan keluar bola matanya. Tidak disangka Soeun mengajukan namanya. Ia merasa dari ujung rambut hingga jari-jari kakinya gemetar. apa-apaan Soeun?
“Hye..siapa?” Tanya Lady Hyekyo linglung.
“dia..Goo Hyesun” Soeun menarik tangan Hyesun yang hanya diam dibelakangnya untuk maju. Semuanya yang disitu tercengang.
“apa yang dilakukan babu itu?”
“mereka sudah gila,menyuruh pembantu untuk menggantikan Yejin sunbae” cerca yang lain.


Dengan seringaian Lady Hyekyo tertawa. Jadi Goo Hyesun adalah pembantunya sendiri. ia bahkan tidak tahu namanya.
“kau masih waras atau tidak?mana mungkin..”
“saya bisa menjamin. Bahkan bisa dibilang Hyesun jauh lebih baik daripada Yejin sunbae. Percayalah, saya sudah pernah melihatnya menari” dikata seperti itu, Lady Hyekyo tersinggung.
“kau membandingkan dia dengan Yejin ku?”
“saya berbicara apa adanya” entah keberanian darimana Soeun yang menyedihkan menjadi setangguh ini,pikir Hyesun. Ia sendiri masih belum mencerna semuanya.
“Soeun-aa..”bisik Hyesun takut.
“lakukanlah..aku tahu kau bisa” balas Soeun.


“Lady,tamu sudah cukup banyak yang hadir. Apakah kita akan memberitahukan semuanya untuk acara malam ini batal?” Tanya salah satu pembantu. Lady Hyekyo memberi aba-aba untuk berhenti. Dia mendekat.
“apa jaminanmu bila dia gagal?”tanyanya menakutkan.
“kau boleh melakukan apa saja terhadap kita berdua. apapun. Jadi saya mohon, beri kesempatan Hyesun terlebih dahulu”
“Soeun-aa..”bisik Hyesun lemah.
Cengkraman Soeun menguat seakan memberi kekuatan Hyesun tapi yang ada malah menyakitinya.


Lady Hyekyo berpikir sejenak, ia mengintip memang sudah banyak tamu yang datang. Disana terlihat jelas panglima besar tuan Ohk Wonbin duduk dengan para koleganya. Dia kembali lagi menatap Yejin sejenak yang tidak tampak ada harapan untuk bangun dari demamnya dan menoleh ke arah Soeun.
“kuberi satu kesempatan..”


Malam ini lebih padat dari malam terakhir Minho berkunjung kemari. Sebenarnya ia tidak tertarik pada rumah ini. ia hanya ingin mencari wanita itu. wanita yang selalu muncul dalam mimpinya. Baru saja permisi keluar tapi Minho sudah dipanggil seseorang untuk diajak mengobrol. Terpaksa ia mendekam sebentar disini.
“kau kelihatan gelisah. Wegude?” Tanya Wonbin. Minho tersenyum kecut.
“apakah begitu?”   
“ya..santai saja,bung. Sebentar lagi akan dimulai” pria ini tertawa.
Hanya satu alasan, Minho pergi ke kamar kecil sebentar. Akhirnya ia bisa keluar,ia menghela nafas senang. Dia mulai berjalan sesuai jalan yang ia ingat menuju rumah dimana ia menemukan wanita tersebut. Ada harapan besar bahwa Minho akan bertemu dengannya disana,malam ini.


Di tempat lain, Hyesun menjadi kikuk setengah mati. Ia sedang dirias oleh temannya sendiri. dicobanya untuk mengacuhkan tatapan ganas dari penari pembantu seperti Eunhye yang memancarkan amarah.
“Soeun..bisa-bisanya kau melakukan ini padaku?kau mau menyerahkanku sebagai tumbal?” bisik Hyesun ketika Soeun menyisir rambut panjangnya.
“aku tahu kau bisa Sun-aa. Dan sangat yakin. Aku sudah pernah melihatmu menari seorang diri”
“mwo?kau..tahu?”
Soeun tersenyum. “hampir setiap hari”


Ketika gaun merah terpaksa dilepas dari Yejin yang masih terbaring pucat, Hyesun yang menyaksikannya seakan tersayat. Harapannya terkabul, ia bisa memakai gaun indah ini. tapi..ia bukan dengan tidak sengaja memakainya, tapi secara paksa. Andai saja Yejin tahu, bagaimana nasibnya? Perasaan bahagia lebih terpupuk oleh perasaan sedih. Ia senang walau hanya untuk 1 malam saja dia menjadi seorang geisha. Tapi disisi lain, dia ingin menangis ketika melihat wajah Yejin yang tidak berdaya.
Dan berikutnya, semua pun memandang takjub. Aura kecantikan yang baru dan segar terpancar dari seorang pembantu seperti Hyesun. Dengan gaun merah bertabur berlian,rambut disanggul dengan hiasan bunga, wajahnya yang penuh dengan riasan semakin menambah kecantikannya, dan kulit mulus seputih boneka tepung buatan, bibir Lady Hyekyo pun tidak dapat tertutup karena terlalu takjub.


“lady..”panggil Hyesun pelan menyadarkan Lady Hyekyo dari keterdiamannya. Dia tersentak. “Hoo..baiklah..” dia menyuruh Hyesun untuk mengikutinya.
“ingat Sun-aa. Anggap ini semua untuk Yejin sunbae. Aku tahu kau akan melakukan yang terbaik..” Hyesun ingin memeluk temannya tapi tak bisa. Beberapa pasang mata memandang iri. Ia hanya menunduk dan menyiapkan diri sepenuhnya.


Diluar sudah ramai dan mulai ricuh. Hampir 30 menit menunggu pertunjukkan belum dimulai. Para petinggi marah dan menuntut. Bintang utama yang ditunggu belum juga muncul. Begitu pula Lee Minho. Ia gagal menemukan wanita yang ia cari dan sudah menunggu cukup lama. Minho menyimpulkan ia tidak akan datang. Pertemuan kemarin hanya suatu kebetulan saja. Ia sangat kecewa, ia pun memutuskan untuk kembali walau tidak berniat menonton pertunjukkan. Wonbin bertanya ia hanya menjawab sekilas. Dilihatnya yang lain mulai ricuh.

“ada apa sunbaenim?” tanyanya.
“pertunjukkan belum dimulai juga. Ada apa dengan para wanita itu?” para pejabat sudah sangat kesal. Minho dengan raut masam hanya duduk disebelah Wonbin tanpa mengacuhkan mereka yang mulai protes.


Lady Hyekyo keluar memberi penghormatan tanda pertunjukkan akam segera dimulai. Pejabat yang melihat kedatangan Lady perlahan diam dan duduk kembali. Wanita berusia 30 tahunan itu sangat gugup, pasalnya ini bukan yang ditunggu oleh para tamunya. Bagaimana kalau mereka kecewa? Bagaimana kalau mereka marah lalu yang terburuk..semua akan pergi dari tempat ini. ketakutannya menjadi-jadi saat pintu bergeser terbuka. Lampu dimatikan dan hanya menyorot kepada satu wanita yang berbalut gaun merah menyala yang anggun. Wajahnya menunduk hingga membuat penonton masih belum bisa melihatnya. Walau sangat tidak menikmati acara, Minho hanya menatap dengan lesu. Semuanya mulai berbisik-bisik dan Lady Hyekyo menyulut rokoknya dengan gelisah.

Niat Hyesun untuk mundur ke belakang dan pergi hampir saja dilakukannya ketika ia teringat kata-kata Soeun. “lakukan demi Yejin sunbae”. Ya benar. Ini untuk dia. Perlahan ia mengangkat muka dan membuka matanya. Seketika penonton terdiam terkejut.
“dia bukan Son-ssi”
“siapa dia..” ujar mereka. Kembali penonton ricuh,mereka merasa dibohongi dan mulai menyebut nama Lady Hyekyo. Wajahnya benar-benar kebingungan, Hyesun pun diam takut ditempat mendengar cemohan mereka. Sungguh niat yang tadi semakin menjadi-jadi untuk pergi dari situ.
“dimana Yejin-ssi. Siapa lagi wanita ini?” celetuk Wonbin. Minho menoleh dan melihat ke arah
Yang sama dengan Wonbin. Seperti terkena sengatan listrik, wajahnya berubah kaget. Wanita itu..bukannya yang ia cari. Yang selalu ada didalam mimpinya. Tidak salah lagi. dia..
“sunbae..si.siapa dia?” Minho bertanya gelagapan tanpa memandang Wonbin, matanya masih focus pada Hyesun yang masih terdiam gelisah. Penonton semakin ramai yang membuat Lady Hyekyo kelimpungan dan takut.
“aku tidak tahu siapa dia. Yang pasti dia bukan Yejin-ssi. Apa kau tahu dia?” tambah Wonbin.
“ya..aku tahu..” jawab Minho pelan dengan mata bersinar. Wajah Wonbin menjadi bingung.


Lady Hyekyo mencoba meminta maaf kepada semuanya tapi sulit. Hyesun memejamkan mata.
“kenapa kau harus mundur? Ini semua demi Yejin sunbae, Hyesun. Kau harus bisa. Ya..lakukan yang terbaik, anggap dirimu adalah Yejin..kau BISA HYESUN..” ujarnya dalam hati. Dia membuka matanya dan mengangkat kepala. Tanpa membiarkan para tamu berteriak-teriak kesal, ia mulai menari dengan fantasinya yang biasa ia gunakan. Jarinya membuka dua kipas saat music mulai terdengar. Hyesun meliuk-liukkan badan dang lengan, memainkan kipasnya tanpa berhenti. Perlahan para tamu terdiam dan menyaksikan dia beraksi. Bagaimana dengan Minho? Kekaguman akan Hyesun semakin bertambah. Kecantikannya yang dipoles riasan membuat ia seribu kali menjadi cantik. tariannya semakin indah dari hari pertama mereka bertemu. Semuanya juga ikut terpukau, apalagi saat Hyesun melempar sebuah kipas ke atas dan jatuh ke tangannya dengan sangat sempurna. Ia lalu berputar sekali, mengepakkan kedua kipas, yang akhirnya membungkuk tanda pertunjukkan telah usai.


Semenit kemudian, terdengar tepukan tangan riuh membahana diruangan. Hyesun mengangkat tubuhnya dengan ekspresi linglung. Masih tidak percaya, mereka menyukainya? Ya mereka sangat menyukainya. Teriakan mencemoh digantikan oleh tepuk tangan dan pujian-pujian. Semuanya berdiri dan memberi tepuk tengan yang semakin keras. Bibir Hyesun tersenyum merekah. Dia tidak menyangka, ia berhasil. Ia sangat berhasil. Lady Hyekyo berjalan mendekatinya menatap Hyesun penuh kebahagiaan dimatanya.
“kau...sangat hebat..” dia berucap sambil meremas jemari Hyesun. Senyum Hyesun semakin lebar, ia hampir menitikkan mata saat Lady Hyekyo menariknya ke dalam. Para tamu sudah berebutan untuk mendekat, itu tidak akan Lady Hyekyo biarkan.
Sementara semua ramai, Minho berdiri dan berlari menghampiri Hyesun. Tapi ia terhadang oleh tubuh-tubuh asing. Dia terlambat, Hyesun sudah masuk ke dalam dan permohonan untuk Hyesun harus keluar semakin keras.


“dia benar seorang Geisha..ya dugaanku benar..tidak akan kubiarkan dia jatuh ke tangan orang lain..” umpat Minho. Ia ikut berkerumun dengan beberapa orang yang juga ingin meminta Hyesun keluar.

***o0o***

“aku akan membayarmu tinggi..”
“aku memberimu 2x lipat..”
“berikan padaku Hyekyo-ssi..aku mau dia..”


Tempat ini menjadi sasaran empuk para pejabat, seakan berebut sebatang emas. Beberapa kali tawaran tinggi dilontarkan, Lady Hyekyo hanya diam dengan seringaian kecilnya.
“kumohon, aku akan memberimu berapa saja yang kau minta. Tapi dia milikku”
“enak saja, kau kira kau siapa? Aku yang harus mendapatkannya..” lagi-lagi ricuh. Para penari lain yang mendengar dibelakang memandang sirik dan tajam Hyesun yang kini dikelilingi teman-teman seprofesinya.
“kau hebat” puji Soeun. Hyesun tersipu.
“gumawo, Soeun-aa”


Eunhye yang semakin muak pergi dan diikuti teman-temannya. Ia sempat menabrak bahu Hyesun hingga tubuhnya oleng. Hyesun hanya bisa diam dan sedikit merasa bersalah. Yejin masih terbaring lmah kata Soeun. Ia memerintahkan semuanya untuk menjaga Yejin saja.

“dia harus jadi milikku..”
“tidak bisa..dia milikku..kau mencemohnya tadi..”
Lama-lama Lady Hyekyo merasa frustasi. Para pejabat ini tidak mau mendengarkan penjelasannya.
“tuan-tuan, kita disini punya peraturan..”
“pokoknya aku..
“tidak bisa aku..”
“aku membayarmu berapapun Hyekyo-ssi..”
“HENTIKANN..” bentakan seseorang membuat semuanya terdiam. Minho berdiri di belakang dan menguak para kerumunan banteng itu. dia berjalan menuju Lady Hyekyo dan berbalik lagi.
“aku yang pertama kali melihatnya, jadi..aku yang berhak mendapatkan wanita itu..”seru Minho tegas membuat mereka tercengang begitu juga Lady Hyekyo.
“yya Minho-ssi, apa maksudmu?”
“dia sudah menjadi milikku sebelum kalian melihatnya..yang jelas dia adalah HAK KU”


Mendengar itu, para pejabat menyerah dan satu persatu pergi keluar dengan pernyataan Minho. Mereka kecewa ternyata geisha itu sudah ada yang punya apalagi itu adalah panglima besar Jenderal Lee Minho. Dengan puas setelah melihat mereka semua pergi, dia mendapati sedang diperhatikan Lady Hyekyo.
“ehmm..sosongheyo agashi. Biar kujelaskan maksudku tadi”
“anda mengenal Goo Hyesun?” Tanya Lady Hyekyo penasaran.


“jadi namanya Goo Hyesun? Nama yang indah..” batin Minho.

“ehh..aku..sebenarnya aku tidak mengenalinya” jawab Minho kikuk.
“lalu,bagaimana anda bisa mengklaim kalau dia adalah milikmu? Kau belum tahu siapa Hyesun-ssi kan?”
Minho semakin bingung. “tapi…aku..”
“dan anda belum bisa memilikinya,tuan Minho yang terhormat”
“bwo?waeyo?” Minho tersentak. Lady Hyekyo tersenyum simpul.
“dia masih seorang gadis. Umurnya belum mencapai 20tahun. Itu artinya tidak ada siapapun yang akan menjadi pendampingnya sebelum ia berusia 20tahun. Itu sudah menjadi peraturan Negara untuk kami”
Harapan Minho seakan runtuh. Ia belum pernah mendengar peraturan semacam itu. dari raut mukanya, Lady Hyekyo tertawa dalam hati. Terlihat sekali bahwa Minho benar-benar kecewa.
“kalau anda mau, anda masih bisa menjadi pendamping salah satu geisha terbaikku. Dia adalah Son Yejin. Dia yang terbaik disini”
“aku tidak tertarik dengan yang lain. Aku hanya akan menunggu Hyesun-ssi” terang Minho mantap.


Lady Hyekyo memandang kegigihan seorang Minho. Tanpa tau keduanya bahwa sekarang Hyesun baru saja beranjak dari balik dinding karena mukanya sudah seperti tomat yang membuat ia tambah manis, tersipu akan pernyataan seseorang yang ia sendiri tidak tahu siapa dia. Jelas Hyesun sudah tidak mendengar kelanjutannya, ketika Lady Hyekyo berkata :
“aku bisa menawarkanmu sesuatu..”


END OF CHAPTER..
BELIEVE IN HAPPY ENDING--MINSUN