Author Topic: The Curse - Chapter Sixteen, Updated 30 Mar'13  (Read 20661 times)

Offline Winda Minsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 679
    • View Profile
Re: The Curse - Chapter Three, update 6 jan'12
« Reply #60 on: January 14, 2012, 06:30:37 am »
CHAPTER FOUR




Lapisan embun menggenang. Tanpa Gae In sadari setetes air kecil yang sedari tadi menghinggapi pelupuk matanya, mulai membasahi lalu berambat deras. Joon Sung terkesiap melihat begitu seksama ke wajah wanita di depannya. Ia mencoba memperhatikan lagi ekspresi yang Gae In lukiskan kali ini.


"Gae In..." Bisiknya Halus. Membuat Gadis itu dengan cepat menghapus air matanya dengan punggung tangan. Gadis itu mencoba tersenyum.


"Ne... Tak apa Joon Sung-ssi. Maafkan jika aku menyulitkan Kae Bi" Sambarnya dengan senyum dibuat setegar mungkin. "Aku harus ke kamar mandi... Permisi Joon Sung-ssi" Lanjutnya lagi, sambil membawa kaki jenjangnya melangkah meninggalkan ruang makan. Joon Sung terus menatap semua gerakan tubuh dan raut wajah kecewa dari gadis polos itu. Ada rasa iba yang dirasakannya, ia sadar ucapannya tadi meremukkan hati Gae In.



"Maafkan aku Yoon Gae In..."


Gae In menghentikan langkahnya yang sudah berdiri Jauh dari hadapan Joon Sung. Ia berdiam bak patung sungguhan. Ucapan Joon Sung cukup membuatnya mengerti, hatinya menerima karna terselipkan kata 'maaf' di permintaannya. Mana mungkin ia menolak? Itu memang bukan kewajibannya. Itu sama sekali bukan tanggung jawab yang harus ia emban. Kini ia rasakan Joon Sung mulai melangkah mendekat, membuatnya semakin di liputi kabut gelap dan berarah ke jiwa yang hampa.


"Maaf jika aku menyakitimu terlalu dalam. Maafkan jika aku tidak bisa membalas perasaanmu... Maaf" Gae In mendongak cepat, ia bagai maling yang tengah tertangkap basah. Joon Sung masih menatapnya tak bergeming, membuat Gae In tersudutkan.


"Kau..."


"Maaf" Ucap Joon Sung lagi. Gae In tersenyum lirih menimpali, ia menggeleng pelan. Dan mencoba bersikap tenang, ia menolak mengeluarkan sikap lemahnya di hadapan Joon Sung.


"Anhiyo... Aku yang seharusnya mengucapkan itu. Aku sudah lancang... Maafkan aku Joon Sung-ssi" Sanggahnya cepat


"Lancang? Kau berhak Yoon Gae In. Setiap manusia mempunyai rasa ketertarikan, dan itu tidak bisa di pungkiri. Hanya aku saja yang tidak bisa mengimbangi perasaanmu, Maaf" Terang Joon Sung, membuat gadis itu tersenyum lagi. Gae In mencerna kalimat tadi, entah kenapa hatinya 'sedikit' berangsur untuk mengerti. Kali ini senyuman ikhlasnya yang ia berikan.


"Arraseo, aku akan mencoba melupakannya... Aku akan menghapusnya, Joon Sung-ssi"


"Banyak kebahagiaan yang menantimu selain bersamaku. Jangan sia-siakan hal itu" Joon Sung tersenyum tipis ke arah Gae In


"Terima kasih. Do'a ku menyertai kebahagiaanmu dan Kae Bi. Selamat atas pernikahan kalian..." Sekarang ia tahu, cinta memang tidak bisa di paksakan. Ia mengerti, cinta tak bisa dirasakan satu hati saja. Joon Sung bukanlah lelaki kurang ajar yang menginjak perasaannya dan bersenang, tertawa bahagia di atas keterputukannya. Pria itu sangat menghargai dan menjaga hati yang Gae In berikan padanya. meskipun tidak mudah untuk menghilangkan rasa itu secepatnya, Gae In berkemauan tinggi untuk berusaha. Joon Sung benar, Banyak kebahagiaan yang akan menantinya setelah ini.



***


"Kau akan berangkat kerja sekarang?" Tanya Kae Bi, melihat Joon Sung yang tengah mengenakan Jas Hitamnya.


"Ne" Jawab Joon Sung singkat sambil menenteng Ransel besar berwarna hitam, ia bersiap melangkah.


"Lalu kau pulang jam berapa?" Kae Bi beranjak dari pembaringannya dan menghampiri Joon Sung, yang mulai mendekat ke arah pintu.


"Tidak tahu, mungkin petang ini. Tapi jika mendapat lembur, larut malam aku akan tiba. Ada Bibi Yoon dan Gae In, yang akan menemanimu seharian ini. Jika nanti mereka pulang, jangan lupa mengunci pintu dan bergegas tidur" Jelas Joon Sung, mulai menjangkau handle pintu.


"Eh tunggu..." Sambar Kae Bi, mencegahnya. Ia menjangkau lengan pergelangan tangan Joon Sung kuat. Membuat lelaki yang berada di hadapannya itu mendelik tajam seperti elang, Kae Bi segera melepaskan genggaman tangannya, saat di lihat Joon Sung seperti tidak menyukai hal yang di lakukannya tadi.


"Kau belum berjanji untukku... Semalam kau mengabaikannya" Gumam Kae Bi getir, meremas ujung piama yang ia kenakan. Sorot mata Joon Sung menciptakan ketakutan pada dirinya, ia kembali menundukkan kepala.


"Haruskah?" Kae Bi mengangguk kecil mendengar pertanyaan Joon Sung. Ia mendekat ke arah pria itu.


"Iya, dan seluruhnya. Apapun yang Ayah lakukan terhadapmu, kau harus memberitahukannya kepadaku" Ucapnya antusias, Sangat beharap Joon Sung mau berjanji untuknya. Ia menanti jawaban.


Joon Sung menghela nafas, memandang tak mengerti melihat Keinginan Kae Bi. Apakah ia harus menepati janji itu? Jika saja malah membuat Kae Bi semakin tertekan, dan membuat gadis itu menangis lagi di hadapannya. Jujur saja ia muak memikirkan itu semua, ia tak mau membayangkan lagi tangisan Kae Bi untuk merutuk diri sendiri dan membawanya dalam keterpurukan. Apa yang harus ia lakukan?


"Kau mau kemana? " Kae Bi menahannya seketika, saat ia mulai meraih handle pintu kamar. Gadis itu memberikan pandangan kecewa, Joon Sung meliriknya sekilas


"Aku tidak bisa menjanjikan. Tapi akan aku usahakan" Ucapnya yang kini mulai berjalan meninggalkan Kae Bi. Gadis itu berdiri sendiri di ambang pintu besar kamarnya dan Joon Sung. Ia menatap lesuh setiap benda-benda milik Joon Sung yang mampu ia jangkau dengan kedua iris di matanya.


"Apakah begitu susahnya untuk bejanji kepadaku? Huh, aku bingung setiap kali harus menghadapi sikapnya itu! Apakah dia tidak menyadari, ia memiliki kepribadian dingin dan sangat kaku" Gerutu Kae Bi mengercutkan bibirnya, mengingat Joon Sung yang begitu sering memperlihatkan tampang 'angkuhnya'. Tapi perlahan pikiran itu terhapus, saat di lihatnya lagi seluruh kebaikan yang Joon Sung berikan untuknya, semuanya tergantikan. Ia tersenyum tipis saat mengingat ucapan-ucapan Joon Sung yang membangkitkan motivasi dan semangat untuknya. Entahlah, ia juga baru pertama kali bertemu dengan pria seperti itu.


"Tapi dia begitu baik...  jauh lebih baik, atau mungkin... terlampau baik. Kau membingungkan Joon Sung-ssi..." Ujarnya. Ia tersadar dan mulai berjalan menyusul kepergian Joon Sung.



***


Dong Bin berdiri malas di depan pintu lift, menunggunya terbuka agar ia bisa sampai ke lantai tiga ruang kerjanya. Bukan hal yang tabu lagi bagi para karyawan yang mengenalnya, Penampilan Dong Bin yang selalu berantakkan. Seperti sekarang ini, kemeja yang keluar dari celana, rambut tidak di rapikan, dasi yang tidak tepat dengan kerah kemeja. Membuat setiap para karyawan mendengus kesal. Apalagi sekarang, ia menguap lebar dan merentangkan tangan seenaknya.



"Hah... Joon Sung?" Gumamnya saat melepaskan pandangan ke arah pintu masuk perusahaan. Ia melihat sosok Joon Sung disana, melangkah sambil memasukan kedua tangan ke saku celana. Dong Bin mengerjapkan mata tak percaya, bukankah Joon Sung sudah di keluarkan? Untuk apa datang kesini?


"Yya Kim Joon Sung!" Teriaknya lantang, membuat beberapa pasang mata beranjak, melihat Dong Bin sesaat. Joon Sung menengadahkan pandangan, ia mencari sosok suara yang memanggil namanya di tengah khalayak ramai.


"Hei... Disini!" Suara Dong Bin menggema sekali lagi, Joon Sung mulai melayangkan pandang lagi. Kali ini di dapatnya Dong Bin yang sedang melambaikan tangan bersemangat sambil berdiri tegap, ia tersenyum sumringah menatap Joon Sung. Membuat lelaki itu berjalan ke arahnya


"Yya, Joon Sung-ssi. Kenapa kau bisa datang kesini? Bukankah kau sudah dikeluarkan?" Tanya Dong Bin membulatkan kedua bola mata kepada Joon Sung yang berdiri di hadapannya sekarang ini, mulutnya menganga lebar seakan tak percaya.


"Tidak, keputusannya dibatalkan. Aku mendapatkan jabatanku lagi" Jawabnya singkat


"Joungmal? Yya, akhirnya kau kembali. Aih, jika begini aku tak akan kesusahan lagi membuat laporan marketing sendirian" Ucap Dong Bin kegirangan. Joon Sung tersenyum tipis menimpalinya. Kini mereka berdiri bersisian bersama, menunggu pintu lift terbuka.


Mr.Goo berjalan bersama Ajudan Kim dan para rekan bisnisnya, pandangan beliau terfokus pada beberapa lembaran kertas yang ia genggam. Ajudan Kim senantiasa berada di belakang pria tengah baya itu. Para karyawan membungkukan badan hormat ketika sang Presdir berjalan di depan wajah mereka. Dong Bin melemparkan pandangan asal, ia terkejut saat di lihatnya Presdir Goo bersama rombongan mengarah semakin dekat ke tempatnya berdiri. Ia jadi panik sendiri, teburu-buru merapikan penampilannya yang berantakkan. Memunggungi Presdir dan merapikan letak dasi panjang yang ia kenakan.


"Apa yang kau..." Joon Sung mengalihkan pandangan dari Dong Bin dan kini mengarah kepada Presdir Goo yang semakin mendekat, berjalan ke tempat yang ia pijakki.


Lelaki tua itu seketika merubah raut wajahnya menjadi keras, Objek pemandangan yang terpampang di depannya mampu memacu kadar emosi menjadi lebih tinggi. Ia menaikkan sudut bibirnya, mencibir kecil. Ajudan Kim menundukkan kepalanya sambil berpikir keras. Bagaimana jika keributan itu akan terjadi lagi? Mengingat majikannya yang pasti akan menaikkan amarah bila melihat Joon Sung. Dan ia semakin dikejutkan lagi, ketika secara tiba-tiba Presdirnya itu mengambil langkah tegap  dan berarah pada Joon Sung.  


Mereka sama-sama bertatap muka, melihat dalam pandangan berbeda. Presdir Goo memandang penuh keangkuhan dan keras, pancaran api terlihat di bola matanya. Joon Sung membalas, ia lebih terlihat tenang dan malah menundukkan kepalanya saat melihat Lelaki tua itu, menunjukkan sikap hormat kepadanya.


"Heh, bajingan penghancur!" Bisiknya pelan, sangat pelan, terus menatap Joon Sung lekat seakan-akan ingin menerkam lelaki yang ada di hadapannya saat ini.


"Kim Joon Sung, Ketua tim penyusun kegiatan marketing di Goo Seoul Corporation" Presdir Goo menancapkan penglihatannya saat membaca kartu nama Joon Sung yang melekat di saku jas hitam. Ia mencibir lagi, menatap Joon Sung begitu rendahnya. Pandangan itu mulai menarik bagi para rombongan kolega Presdir Goo dan semua karyawan yang berada di lantai Lobby perusahaan. Menantu dadakan Presdir Goo ini, turut mengundang perhatian. Ya, hampir seluruh konflik antara Mr.Goo dan Joon Sung menjadi perbincangan hangat untuk bergosip di waktu senggang mereka.


"Bekerja keraslah Tuan Kim. Isterimu membutuhkan nafkah, bukan?" Seringainya Bagai serigala licik. Lalu berjalan melangkahkan kan kaki menuju lift yang berdenting. Ia tersenyum puas saat berbalik memasuki ruang gerak tersebut. Hingga pintu itu tertutup rapat, melepaskan pandangannya dari arah Joon Sung.


Ia bergumam sendiri dalam hati "Kau beruntung karna aku gagal melenyapkanmu..."


Dong Bin tercekat sesaat, menyaksikan kejadian tadi. Pikirannya sibuk, di penuhi kejadian baru dan sulit untuk di cerna. Banyak sekali pertanyaan yang bersarang. Penglihatannya masih berfungsi baik. Ia tidak salah, tatapan Presdir Goo dan ucapannya seolah-olah ingin menyudutkan Joon Sung. Memberi kesan rendah pada teman baiknya itu. Dan kini ia berpaling, Joon Sung terlihat seperti biasa saja. Ia berdiam sejak tadi, mendongakkan kepala menatap layar kecil dari monitor di atas pintu lift.


"Kau ada apa dengan Presdir Goo? Bukankah beliau ayah dari Goo Kae Bi, isterimu?"


Satu pertanyaan polos yang keluar dari mulutnya, mengantarkan kebisuan berkepanjangan. Joon Sung mengacuhkan, bungkam dan terus menatap kosong ke depan pandangannya. Para karyawan sesekali melirik sekilas, lalu berbisik dengan rekan yang berada di sebelah sisi mereka masing-masing. Joon Sung tentu saja tidak bodoh, ia tahu semua orang itu membicarakan apa yang terjadi antara dirinya dan Presdir Goo tadi. Dan siapa yang perduli? Itu tidak menjadi permasalahannya. Tidak ada malu untuk setiap kata yang terlontar dari mulut ke mulut tentang dirinya. Ia bukan orang yang mudah terpancing emosi, dan mementingkan harga diri dengan tahta yang di dapatnya. Joon Sung melirik mereka satu-persatu tanpa ekspresi apapun selain wajah datarnya. Dong Bin ikut menatap, melihat pandangan Joon Sung. Jika sudah begini ia memilih diam dan berganti persoalan lain di dalam pikirannya. Ia tahu Joon Sung seperti apa, tertutup dan tidak ingin setiap orang menjangkau urusan pribadinya lebih dalam. Tidak ada yang mampu memahaminya, bahkan ia yang bisa dikatakan lebih lama mengenal Joon Sung.


"Ayo"


Lamunannya Buyar, Joon Sung mengajaknya melangkah bersama menuju pintu lift yang sudah terbuka dan di padati dengan para karyawan yang akan memasukinya. Keduanya masih sama-sama berdiam. Joon Sung dan Dong Bin berjalan, menghentakkan sepatu kulit mereka secara cepat.


"Aku merindukannya... Aku begitu gila dibuatnya, Jung Min"


Suara itu menghentikan detakan sepatu tadi, Joon Sung juga menghentikan langkah Dong Bin. Ia menatap Jung Min dan Ah Ra yang kini berada di posisi membelakangi dirinya. Ia membuang pandangan, malas. Iya, malas untuk melihat wanita keras kepala dan beraninya menghina Kae Bi dengan perkataan kasar. Ia tahu Ah Ra kini tengah menangis, terbukti dari punggung kecilnya yang senggukan naik-turun.


"Sepertinya ia terpuruk sekali melihatmu kini tak sendiri lagi" Ujar Dong Bin yang ikut memandang Ah Ra yang sedang mencengkram pergelangan tangan Jung Min agar tidak lari dari sisinya. Dong Bin terkekeh kecil sekilas melihat wajah sahabatnya yang begitu lelah mendengarkan curahan hati Ah Ra.


"Lalu apa? Menghiburnya sampai ia kembali seperti dulu lagi? Bermimpilah untuk membayangkan, karna aku tidak akan pernah melakukan hal itu"


Seterusnya Joon Sung berjalan kembali. Membuka pintu kaca tebal, tanpa tedeng alih. Ah Ra dan Jung Min terkesiap seketika. Sosok Joon Sung menarik perhatian mereka, apalagi untuk Ah Ra. Hatinya mencoba menyangkal, jika di depannya kini adalah pria yang sangat ia rindukan keberadaanya. Bukan bermaksud untuk mendendam atas apa yang Joon Sung lakukan padanya, ia malah meragukan kembali bilamana cintanya itu bisa berpaling ke hati lain. Sungguh malang memang, ketika ia hanya bisa berdiam kaku menyaksikan Joon Sung tanpa tahu hal apa yang bisa  ia lakukan untuk sekedar bertegur sapa.


"Joon Sung..." Gumamnya lirih dengan mata sayu, berembun.


Joon Sung membaca lembaran-lembaran kertas di meja kerja. Membaca dengan seksama dan teliti, ia mulai menyibukkan diri tanpa melempar pandangannya dengan anggota regu tim yang ia pelopori. Dong Bin dan Jung Min menjadi panik ketika Ah Ra perlahan menuntun langkahnya menghampiri Joon Sung. Apa yang harus mereka lakukan? Joon Sung dengan ucapan yang menusuk dan Ah Ra dengan segunung sifat keras kepala, seperti batu. Mereka saling berpandang, mana yang harus di amankan terlebih dahulu? Jika salah pilih mungkin saja berbalik, mereka menjadi 'mangsa' untuk luapan sifat kedua orang tersebut.


"Jangan mengusikku!"


Perintah itu membuat Ah Ra membujur kaku. Ia melayangkan pandangan pada Joon Sung, pria itu mengabaikannya. Joon Sung berucap tanpa mau melihat wajah Ah Ra yang sudah di penuhi dengan buliran air mata. Ia malah semakin membenamkan diri pada tumpukan file di atas meja kerja.


"Aku..." Ah Ra mengeluarkan suara, terhenti karna mulai menyadari Joon Sung tidak menggubris ucapanya.


"Aku atau kau yang pergi?!" Tekan Joon Sung masih dibuat setenang mungkin.


"Tapi... Joon Sung"


"Aku bilang pergi!"


Sentakan itu membuat Ah Ra memejamkan mata ketakutan, mengiring bersama kedatangan air mata yang mulai mengalir. Ia bersedih untuk sikap kasar Joon Sung tadi. Kenapa jadi begini? Dulu, sekalipun ia berbuat kesalahan. Joon Sung tak pernah memperlakukannya sekasar seperti sekarang ini.


"Apa kau begitu membenciku?" Tanya Ah Ra memberanikan diri. Ia memandang Joon Sung nanar sampai pria itu akhirnya mendongak. Membalas dengan pandangan menusuk dan mendelik tajam


"Aku menghargai untuk setiap perasaan yang kau rasakan. Mengucapkan kata maaf untuk bisa kau relakan. Tapi untuk menghina isteriku...." Ucapnya menekan dingin. Begitu angkuhnya, membunuh Ah Ra dengan setiap sorot mata yang ia ciptakan. "Mungkin membencimu... bahkan bertindak lebih pun aku bisa. Selama kau mencoba untuk menjamah Kae Bi.... Aku bersumpah akan membuatmu terpuruk lebih dulu di sana!"


Jelas sudah, Ah Ra merasa lututnya benar-benar lemas sekarang. Air dari pelupuknya semakin berderai. Joon Sung melangkah pergi dari hadapannya. Ia jatuh terselungkup, menggeleng pelan dan tersenyum menyedihkan. Isteri? Kae Bi dan Joon Sung sudah menikah secapat ini? Tak tahukah jika hal itu membuatnya ingin mati.


"Tidak... Tidak mungkin secepat ini" Ia mengelak jauh dari kenyataan. Hatinya enggan menerima jikalau semua hal itu memang benar adanya. Ia terisak cepat, tak terkendali. Merasa sakit, bagai di hujam pisau tajam. Ia meringis, ini terlalu menyakitkan untuknya.


"Aaarghhh! Aku benci... Aku benci semua ini!"


Jung Min dan Dong Bin terpenjarat mendengar jeritan melingking yang memekakan telinga mereka. Lalu setelahnya, kedua pria itu mengahampiri Ah Ra yang terpuruk menyedihkan. Menangis tanpa henti, membuat mereka bertambah iba.


"Ah Ra-ssi, bangunlah. Jangan seperti ini" Dong Bin memegang kedua bahu Ah Ra yang masih terisak. Ia mencoba menopang tubuh gadis itu untuk berdiri bersama Jung Min.


"Aku tak akan rela... Aku tak pernah merelakan mereka bersama"



***


Kae Bi masih saja bergelut dengan penampilannya. Kali ini ada yang berbeda, ia nampak sederhana dengan balutan kaos putih dan celana jeans. Merasa risih dengan penampilan baru, membuatnya terus mematut diri di cermin. Ia mengarahkan pandangan ke semua lekuk tubuh. Merentangkan kedua tangan sambil mengamati lagi.


"Terlalu kebesaran, seperti baju laki-laki saja" Ujarnya sambil menghela nafas panjang. Ia berjalan ke arah ranjang, mendudukan tubuh mungilnya disana.


"Kae Bi-ssi" Panggilan dibalik pintu, membuatnya segera berdiri dan berjalan menghampiri. Gae In berdiam di sana dengan sebuah keranjang besar yang dijinjing. Kae Bi menghernyitkan dahi memandangnya.


"Apa ini?" Tanyanya sambil mengamati. Melangkah ke belakang seolah memberi pertanda untuk Gae In, agar gadis itu masuk ke dalam ruangan.


"Pakaian Joon Sung. Bolehkah aku meminta izin untuk meletakkan pakaian-pakaian ini di lemari?" Gae In berucap dengan gugup. Membuat Kae Bi terkekeh kecil lalu mengibaskan tangan.


"Yya Yoon Gae In, tentu saja boleh. Bukankah memang selama ini kau yang selalu memasukkan pakaian Joon Sung ke lemari? Jadi kenapa harus meminta izin dariku?" Kae Bi tersenyum sambil menanggapi. Gae In membuatnya bergidik geli, gadis itu masih saja merasa sungkan kepadanya.


"Tidak, Kae Bi-ssi. Kau adalah isteri Joon Sung dan aku berkewajiban meminta persetujuan kepadamu jika aku melakukan sesuatu di Apartement ini" Jawab Gae In, meletakkan keranjang besar itu di lantai. Ia menggenggam kedua tangannya sambil menundukan kepala.


"Jangan seperti itu. Emh, bagaimana jika aku membantumu. Baiklah, biar aku yang membawa keranjang itu" Kae Bi meraih dan menjinjing keranjang merah muda tadi. Gae In menolak dan mencegah dengan menahan pergelangan tanga Kae Bi.


"Anhiyo Kae Bi-ssi. Biar aku saja yang melakukannya. Ini tugasku" Sanggah Gae In, mencoba mengambil keranjang dari tangan Kae Bi. Alih-alih menolak, Kae Bi hanya tersenyum ala kadarnya dan menggeleng pelan


"Biar aku bantu. Kau lupa? Aku ini temanmu kan?" Gae In mengangguk pelan mendengarnya, ia menjadi tak enak hati. Kae Bi meraih salah satu pergelangan tangan Gae In, menuntunnya untuk sampai di depan lemari pakaian.


"Tapi.."


"Ssstt... sungguh tak apa, Yoon Gae In. Lebih baik sekarang kau mengajarkanku, bagaimana cara melakuka hal ini? Apakah ada cara-cara tertentu untuk meletakkannya?" Kae Bi mulai membuka pintu lemari. Gae In membalas tersenyum. Bagaimana bisa dirinya sanggup untuk membenci gadis seperti Kae Bi. Ia ramah dan sangat ingin membuka diri, untuk berteman baik. Membuatnya menjadi sedikit sungkan, karna merasa bersalah untuk rasa yang ia ciptakan pada Joon Sung, Pria yang notabene adalah suami Kae Bi sekarang ini. Kemauan untuk menghapus rasa itu semakin bertambah, Gae In bersungguh-sungguh untuk memendam cintanya pada Joon Sung.


Kae Bi dan Gae In bekerja sama, mereka saling membantu satu sama lain. Apalagi Kae Bi, ia begitu bersemangat menimpali sikap Gae In yang masih terlihat canggung. Meskipun begitu, komunikasi di antara keduanya sudah jauh lebih membaik. Gae In memberikan bantuan untuk Kae Bi, menginstruksikan apa-apa saja yang Kae Bi tidak pahami. Tidak butuh waktu lama  mengerjakannya. Mereka menghempaskan diri di sofa panjang yang terletak di ruang tamu. Setelah selesai memasukkan semua pakaian ke dalam lemari.


"Dimana Bibi Yoon? Aku tidak melihatnya" Kae Bi mengedarkan pandangan.


"Ibu berbelanja di pasar. Sore nanti ia akan kembali untuk menyiapkan makan malam" Jawab Gae In lembut. Kae Bi menganggukan kepala, mengerti.


"Apartement ini terlihat nyaman. Kau yang membersihkannya setiap hari?" Gae In tersenyum tipis menimpali pertanyaan Kae Bi.


"Tidak juga. Terkadang Joon Sung sendiri yang membersihkannya ketika libur dari pekerjaan. Aku dan ibu hanya di tugaskan memasak dan mencuci pakaian" Terangnya jelas.


"Serajin itukah, sampai membersihkan sendiri?" Kae Bi menekan pertanyaannya, mulai tertarik dengan pembicaraan kali ini.


"Ne. Ia tidak suka bila Apartementnya terlihat berantakkan" Jawab Gae In. Kae Bi terlihat sedikit tercengang mendengar pengakuan tadi. Kehidupan Joon Sung sangat bertolak belakang darinya. Begitu mandiri dan sangat cekatan. Semua dikendalikan oleh Joon Sung sendiri tanpa bantuan dari orang lain maupun kedua orang tua. Kae Bi tidak mengetahui jika Joon Sung hidup sebatang kara dan sama sekali tidak mempunyai sanak saudara.


"Gae In, apakah kau tahu latar belakang keberadaan keluarga Joon Sung? Benarkah ia hanya hidup sendiri tanpa kedua orang tua?" Tanya Kae Bi tiba-tiba. Gae In menunjukkan mimik muka kebingungan. Gadis itu melayangkan pandangan kosong sambil berpikir.


"Aku tidak tahu, Kae Bi-ssi. Untuk masalah yang bersangkutan dengan keluarga Joon Sung, aku tidak mengetahuinya sama sekali. Joon Sung tidak pernah bercerita tentang hal itu. Ia sangat tertutup... Tapi" Gae In mulai menerawang lagi. Ia mengingat kembali ucapan sang ibu, Joon Sung menyebutkan sesuatu saat di beri pertanyaan mengenai asal daerah tempat tinggalnya sebelum pindah ke seoul dan mendapatkan pekerjaan. "Ibu pernah bilang... Ketika Joon Sung berumur tujuh belas tahun, ia pergi dari panti asuhan di desa Jan Jaeyong. Lalu, meneruskan pendidikan perguruan tinggi di kota seoul" lanjut Gae In.


"Panti asuhan?" Ulang Kae Bi tak percaya. "Aku tidak tahu jika...." Ia terperangah. Jadi selama ini Joon Sung hidup tanpa tuntunan dan kasih sayang dari keluarga. Sendiri dan sunyi, mungkinkah itu yang ia rasakan hingga berubah menjadi pribadi yang begitu tertutup. Kae Bi benar-benar tak menduga jika Joon Sung menjalani hidup seperti itu.


"Apa Joon Sung tidak pernah memberitahumu?" Gae In menatap Kae Bi, menyelidik.


"Ahhh... Aku tidak..." Kae Bi jadi gelagapan sendiri.


"Maksudku... selama berpacaran dengan Joon Sung, ia tidak pernah bercerita banyak mengenai kehidupannya. Kau tahu kan Joon Sung seperti apa? Bahkan sampai kita menikah, ia masih tak mau bercerita" Dusta Kae Bi. Mencoba setenang mungkin. Gae In mengangguk kecil pertanda mengerti, Kae Bi tersenyum pahit menimpali.


"Gae In-ssi, aku permisi ke kamar" Ia beranjak pergi sambil membungkukan badan.


Kae Bi menghampiri meja kerja Joon Sung. Tidak ada bingkai foto keluarga atau kedua orang tua Joon Sung disana, seperti dugaannya. Begitu keraskah kehidupan yang Joon Sung jalani? Tanpa kedua orang tua, hidup menyendiri dan kesepian. Bekerja keras dari titik yang paling bawah. Lalu, untuk apa dia disini jika membuat Joon Sung semakin terbebani?! Untuk apa menambah penderitaan lelaki itu, dengan masalah yang seharusnya ia tanggung sendiri. Kae Bi menangis, bibirnya bergetar.


"Kau benar-benar berbeda, Joon Sung-ssi. Kau membuatku tidak mengerti... Membuatku semakin merasa bersalah...." Bisik Kae Bi pelan. Ia terisak, menutup bibirnya sendiri dengan kedua tangan. Air mata semakin mengalir. Sakit, ia merasakan perih di dalam hatinya.


"Aku harus mengakhri ini semua" Kae Bi berjalan cepat. Ia mengambil koper besar di sudut lemari. Bergerak, menuju pintu kaca di hadapannya. Kae Bi mengemasi semua pakaian sambil menghapus buliran air mata di pipi.



***


Joon Sung melangkah menuju pintu Apartementnya. Lalu membukanya dengan kunci cadangan. Pandangannya menjuru ke segala arah. Tidak di dapatnya Bibi Yoon dan Gae In di sana. Aneh bagi Joon Sung, karna biasanya merekalah yang menyambut kedatanganya. Ia berjalan menuju pintu kamar. Joon Sung semakin tidak mengerti lagi, ketika melihat Kae Bi berdiri memunggunginya.


"Apa yang kau lakukan disitu?" Kae Bi berbalik, menatap Joon Sung. Ia mulai menghampiri pria itu sambil membawa koper yang di tarik.


"Untuk apa koper hitam itu?" Tanya Joon Sung lagi, menatap raut wajah Kae Bi.


"Pergi dari sini. Akhiri semuanya sebelum melangkah lebih jauh lagi" Jawab Kae Bi, mematung. Ia berdiam dengan pandangan kosong.


"Apa yang Gae In katakan padamu! Jawab aku?!" Joon Sung menuntut penjelasan. Matanya tajam memandang kedua bola mata Kae Bi. Keputusan gadis itu agak membuatnya tergelonjak. Gae In, dia yang bersama Kae Bi seharian ini. Apa yang di racuninya hingga Kae Bi menjadi seperti ini?


"Tidak ada! Aku yang bertanya dan aku yang ingin mengetahui" Kae Bi memekik kencang.


"Apa yang Gae In katakan? Apa! Dia memohon kepadamu untuk meninggalkanku, begitu?" Tekan Joon Sung mendesak. Kae Bi tertegun mendengarnya, kenapa jadi Gae In yang di libatkan? Dan... Menghasutnya untuk meninggalkan Joon Sung? Apa maksud dari semua ini.


"Apa yang kau bicarakan? Memohon kepadaku untuk meninggalkanmu.... Aku tidak mengerti?" Tanya Kae Bi memandang Joon Sung.


"Kau bodoh atau apa?! Jangan pernah mendengarkan ucapannya! Aku tidak akan pernah membalas perasaan Gae In!" Sepertinya Joon Sung salah mengartikan alasan kepergian Kae Bi.


"Membalas perasaan Gae In? Maksudmu..." Kae Bi terpenjarat hebat. Ia membulatkan kedua matanya. "Gae In mencintaimu?" Tanyanya berlanjut.


"Kau... Sebenarnya apa yang Gae In katakan!" Sentak Joon Sung. Kae Bi terkesiap, Nyaris tak percaya dengan sandiwara tadi siang yang dibuat Gae In. Bagaimana bisa? Pantas saja Gadis itu memberi tatapan yang berbeda untuknya saat pertama bertemu. Rupanya, ia sudah memendam hati terlebih dahulu pada Joon Sung.


"Jawab aku!"


Kae Bi tersenyum pahit memandang Joon Sung. Kehadirannya tak hanya membuat pria itu terbebani, tapi juga wanita-wanita yang mengisi kehidupan Joon Sung. Kae Bi mengerjapkan mata menahan tangis.


"Aku hanya tak ingin membuat semuanya terpuruk dan tersakiti oleh perasaan masing-masing. Terutama, untukmu. Maafkan aku Joon Sung-ssi, melibatkan dirimu dalam permasalahanku. Aku pergi, sekali lagi aku minta maaf..." Kae Bi beranjak, mengayunkan langkah kaki keluar dari kamar Joon Sung. Meninggalkan lelaki yang masih berdiam tanpa tahu harus berbuat apa.


Kae Bi berjalan pelan, ia menangis mengiring langkahnya. "Maafkan aku Joon Sung-ssi... Maafkan aku" Bisiknya lirih. Ia semakin mendekat, menuju daun pintu Apartement. Tapi sebuah pelukan mencegahnya. Hatinya di lumuri cairan panas, ketika sebuah tangan kekar membalut dadanya.


"Jangan pergi"


Suara parau itu menghias di gendang telinganya. Joon Sung menopangkan wajah di bahu kiri Kae Bi. Memeluk erat tubuh wanita itu. Sekarang apa yang di perbuatnya, ia sudah tidak perduli! Hati kecilnya bernista, ia tak mau kehilang Kae Bi. Sungguh, ia menolak akan hal itu.


"Aku tidak akan membiarkanmu terpuruk sendiri" Bisiknya Halus. Kae Bi menangis pelan, membuat seluruh tubuhnya bergetar. Ia memang di ambang kehancuran, Tanpa Joon Sung. Tapi untuk membuat kehidupan pria itu menjadi lebih sulit, Kae Bi benar-benar tidak bisa.


"Aku bisa gila jika terus bersamamu. Dua wanita mencintaimu! Perubahan hidup yang kau jalani, makian dan cacian dari Ayah! Cibiran dari orang lain... Terlihat begitu menjijikan, atas kesalahan yang tidak kau perbuat. Apa kau tidak lelah seperti itu?! Lepaskan aku, Joon Sung-ssi"


"Aku tidak perduli!"


"Tapi aku perduli!" Kae Bi melepaskan pelukan Joon Sung. Matanya berkaca memandang pria di hadapannya. "Dan untuk apa kau melakukan hal bodoh seperti itu? Untuk apa!? Kau tidak pernah menjelaskannya kepadaku. Aku benar-benar tak bisa memahamimu! Biarkan aku pergi!" Jerit Kae Bi dengan tangisnya.


"Aku tidak tahu! Aku tidak pernah menjelaskan, karna aku tidak tahu alasan itu!" Joon Sung berucap lantang, mengatupkan rahang keras. Ia mengepalkan tangan erat, memandang Kae Bi tajam.


"Mustahil, jawaban apa itu! Kau membual..." Elak Kae Bi. Membuat Joon Sung bertambah mendelik. Ia berjalan cepat dan meraup tubuh mungil itu kedalam pelukannya.


"Aku tidak pernah tahu, dan jangan pernah menanyakan hal itu! Jangan pernah menanyakanya lagi!" Kae Bi meronta di dalam pelukan Joon Sung. Ia berusaha mendorong tubuh besar itu.


"Lepaskan! Lepaskan aku!"


Joon Sung mendengki mendengar perintah itu. Ia sedikit merenggangkan pelukannya, dan beralih cepat menatap wajah Kae Bi. Sial bagi Joon Sung, ia mematung saat menatap bibir ranum itu. Bibir yang ingin disentuhnya tadi secara kasar, Jika saja kesadaranya tidak kembali berfungsi. Kae Bi memejamkan mata ketakutan, ia menolak menatap mata tajam milik Joon Sung. Pria itu segera melepaskan tubuh ringkih itu sepenuhnya. Kae Bi terhempas, sedikit oleng dari posisinya.


"Siapa laki-laki itu. Siapa namanya?" Pertanyaan itu membuat Kae Bi mendongakan pandangan ke arah Joon Sung. Menghentikan tangisnya, ia meruncing menatap Joon Sung.


"Siapa namanya!?" Sentak Joon Sung lagi. "Aku pernah berjanji, bukan? Membantumu menemukan pria itu dan akan meninggalkanmu jika ia benar-benar akan bertanggung jawab. Siapa namanya?" Tanya Joon Sung lagi. Kae Bi perlahan mengeluarakan suara


"Hyun Woo... Lee Hyun Woo"


"Kau tenang saja, Jika aku berhasil menemukan pria itu. Aku akan melepaskanmu.... Dan tidak hanya melepaskan... Lenyap dari kehidupanmu akan aku lakukan bila memang benar ia akan bertanggung jawab" Sambar Joon Sung dingin. Ia merebut koper yang Kae Bi genggam. Lalu berbalik, memunggungi gadis itu dan mengambil langkah


"Joon Sung " Panggilan itu membuatnya berdiam, tanpa membalikan pandangan.


"Untuk masalah Gae In. Ia tidak memberitahukan perasaannya itu kepadaku dan juga... Ia tidak bersalah. Aku mohon, jangan melakukan apapun padanya" Ujar Kae Bi.


"Dan malam ini sampai seterusnya, Aku tidur di sofa" Balas Joon Sung yang melangkah kembali, meninggalkan Kae Bi yang membeku sendiri.


***


[size =29pt]Melbourne, Australia[/size]


[font=comicsanssm"Apa?! Menikah...?" Hyun Woo melantangkan suaranya, perlahan ia menggenggam kuat gelas kristal yang berisi champagne. Ada rasa dengki yang mengalir di sana. Seorang lelaki berjas hitam dan berbadan besar mengangguk, menjawab pertanyaan Hyun Woo.


"Sial! Padahal tinggal selangkah lagi untuk membunuh Boneka Barbie Presdir Goo itu" Rutuk Hyun Woo. Tapi siapa pria yang menikahi Kae Bi? Setahunya, tidak ada seorang pria yang mengisi kehidupan gadis itu selain dirinya saat mereka masih menjadi sepasang kekasih. Dan itu semua membuat Hyun Woo semakin penasaran. Ia mendengus kesal


"Siapkan penerbangan menuju seoul! Aku mau penerbangan malam ini" Perintahnya ketus. Pria yang berdiri di hadapannya mengangguk lagi. Hingga akhirnya beranjak meninggalkan Hyun Woo sendiri


"Apakah ia mendua saat masih bersamaku? Heh, Brengsek!" Hyun Woo jadi lepas kendali. Ia berdiri dan menjangkau pistol yang kamar pelurunya menyatu dengan laras. Ia mendelik tajam ke depan pandanganya, menyiratkan dendam yang membara.


"Tunggulah kehadiranku, Kae Bi-aa sayang..... Pistol ini..." Ia mengelus pelan bagian pistol hitam yang di genggamnya saat ini. "Akan membawamu menuju surga.... Dan mungkin kau akan bertemu dengan ibuku disana... Heh" Kekehnya pelan. Hyun Woo menyeringai seperti iblis, menyeramkan.


"Sayang sekali, kenapa kau harus menjadi putri Goo Bin Woo sialan itu!" Hyun Woo tersadar mencerna ucapannya sendiri. Hatinya mengelak perasaan kecil yang muncul di dalam perasaannya. Ia menggeleng pelan "Bicara apa aku ini?! Huh!"



***


Kae Bi mengoles roti tawarnya dengan selai coklat. Ia bermalas-malasan melakukan hal itu. Pandangannya terus saja diedarkan menatap pintu kamar yang tertutup rapat, menunggu seseorang di dalam ruangan itu. Bibi Yoon memperhatikannya dengan alis berkerut. Perlahan, ia menghampiri Kae Bi sambil menepuk pelan bahu gadis itu.


"Ada Apa, Kae Bi? Kenapa roti-mu tidak dimakan, hemh?" Tanya Bibi Yoon, membuat Kae Bi terkesiap dan mendongak terkejut.


"Aahh... Ne bibi" Jawabnya gelagapan. Bibi Yoon tersenyum dan mengelus sayang puncuk kepala Kae Bi. Gae In menghampiri gadis mungil itu, menyuguhkan segelas susu untuknya.


"Gumawo, Gae In-ssi" Balas Kae Bi sambil tersenyum sekilas. Ia bersikap seperti biasa pada Gae In, tanpa memikirkan permasalahan kemarin. Itu hak Gae In, jadi untuk apa ia mencampuri. Ia bukan isteri 'sungguhan' untuk Joon Sung, bukan isteri dengan kadar cinta yang tinggi. Ia hanya bagian terbaru dengan masalah yang memberatkan pria itu.


Joon Sung keluar dari kamar. Beberapa pasang mata mengamatinya sekilas, lalu berdalih kembali ke pandangan asal. Kecuali, Kae Bi . Ia terus menatap Joon Sung yang berjalan begitu saja tanpa membalas tatapan yang ia berikan. Kae Bi mendesah berat saat Joon Sung sudah melaluinya.


"Joon Sung, kau tidak sarapan?" Panggil Bibi Yoon. Joon Sung yang sudah berdiri di ambang pintu, perlahan memabalikan tubuhnya menatap wanita tengah baya itu.


"Tidak. Aku berangkat Bibi" Pamitnya singkat. Bibi Yoon semakin bingung di buatnya. Kae Bi menundukkan kepala sambil mengunyah rotinya pelan.


"Hei, Kim Joon Sung. Apa kau tidak mau berpamitan kepada isterimu?" Tanya Bibi Yoon. Membuat semua orang di ruangan itu terdiam. Joon Sung melirik Kae Bi sekilas, tak ada tatapan istimewa darinya. Kemudian berbalik lagi, dan segera berjalan meraih handle pintu.


"Ada apa dengan, Joon Sung?" Bibi Yoon berujar. Gae In mengangkat kedua bahu, pertanda ia tidak tahu. Kae Bi menatap piring putih, dengan pandangan kosong.


"Kau bertengkar dengan Joon Sung?" Kae Bi terdiam mendengarkan pertanyaan itu. Namun, setelahnya ia menggeleng pelan.


"Anhiyo Bibi, aku tidak bertengkar dengan Joon Sung" Jawabnya pelan. "Bibi aku kekamar dulu ya?" Pintanya. Awalnya Bibi Yoon sedikit enggan untuk menyetujui karna Kae Bi belum menghabiskan sarapan. Tapi akhirnya ia mengangguk pelan dan membiarkan gadis itu berjalan, meninggalkan meja makan.


Pagi berganti siang, Kae Bi berjalan menuju Halte bus di persimpangan trotoar yang ia pijakki sekarang ini. Langkah kakinya bergerak kecil, ia begitu lesuh. Sejuta pikiran merangkak di dalam otaknya. Joon Sung benar-benar terlihat begitu marah. Apa yang harus ia lakukan? Kae Bi berniat mengunjungi Joon Sung di perusahaan siang ini. Ia ingin meminta maaf atas sikapnya tadi malam pada pria itu. Di perjalanan Kae Bi masih terdiam sendiri, tanpa menyadari jika seseorang tengah mengintainya dari kejauhan. Menatap tajam setiap gerakan yang ia buat.


Di dalam bus Kae Bi tergesa-gesa melayangkan pandangan agar ia tidak salah turun di halte lain. Ini kali pertama baginya menaiki kendaraan umum seperti bus. Kalau bukan karna Joon Sung, ia tak akan mau seperti ini. Di lirik oleh beberapa pria mata keranjang yang sedari tadi menatapanya menggoda. Kae Bi jadi risih, ia terus saja mendumel dalam hati agar cepat bertemu dengan Joon Sung. Sesampainya di Goo Seoul Corp, ia mengeluarkan I Phone silver dan mencari nama Joon Sung di list contact name. Ia menunggu panggilannya di jawab Joon Sung. Kae Bi meringis kecil, merasakan sinar matahari begitu menusuk kulit wajahnya


"Kenapa tidak di angkat?" Gumamnya


Hyun Woo berdiam di dalam mobil Mercy merah. Objek pemandangannya tak pernah lepas kepada gadis yang kini berdiri di depan pelataran pintu masuk perusahaan Goo Seoul Corporation. Ia membuka kaca mata hitam yang sedari tadi bertengger di hidung mancungnya. Hyun Woo mengamati Kae Bi sangat tajam, ia tak pernah berpaling atau mengedipkan mata sekalipun.


"Ada apa?" Joon Sung melipat kedua tangan di dada. Ia berdiri di hadapan Kae Bi sambil membuang muka ke arah lain. Sementara Kae Bi hanya membisu sambil meremas keras Handphone yang ia genggam. Joon Sung menghela nafas, bosan menunggu Kae Bi yang tak kunjung mengeluarkan suara.


"Aku akan pergi jika kau tetap seperti ini" Ucap Joon Sung. Membuat Kae Bi serba salah, ia membuka mulut bersiap mengeluarkan suara.


Hyun Woo tertegun melihat Joon Sung. Pandanganya jadi semakin  meruncing, melihat laki-laki yang bersisian bersama Kae Bi itu. Ia menatap Tajam. Darahnya seakan mengalir begitu cepat. Hyun Woo mengambil pistol hitam di dalam saku jasnya. Lalu memandang Kae Bi dan Joon Sung silih berganti. Terlihat Kae Bi yang menundukkan kepala, dan Hyun Woo pikir gadisnya itu tengah tersipu malu untuk memandang Joon Sung. Ia mendelik tajam, menggenggam pistol yang ada di tangannya semakin kuat.


"Bunuh mereka semua! Bunuh semua anggota keluarga Goo!"


[size =10pt]Ucapan itu menghantarkan Hyun Woo dalam ketermenungan. Ia masih menatap Kae Bi yang kini berbicara dengan Joon Sung. "Ahh sial!" Ia membanting gagang stirnya kasar dengan pistol yang semenjak tadi berada di tangan. Hyun Woo mangatupkan rahang keras, ada yang berbeda dari hatinya. Ia merasakan itu.


"Mianhe. Semalam, tidak seharusnya aku berbicara kasar padamu" Kae Bi berujar kecil. Joon Sung meliriknya sekilas.


"Kau kesini hanya untuk meminta maaf?" Tanyanya dingin. Kae Bi mengangguk kecil. Joon Sung melanjutkan ucapannya lagi. "Baiklah, aku bisa pergi sekarang kan?"


Hyun Woo keluar dari mobilnya. Berjalan menuju semak belukar dan berdiri di belakang dedaunan hijau yang lebat. Ia mulai mengangkat Pistol dan membidik target tembaknya. Joon Sung pergi meninggalkan Kae bi dan ini kesempatan bagus baginya. Kini ia hanya melihat Kae Bi berdiri sendiri. Hyun Woo semakin gencar mengarahkan senjatanya pada Kae Bi. Sekua tenaga ia mencoba melawan perasaan yang berkecamuk kecil di dalam hatinya. Ia bersiap, melancarkan peluru tepat di Jantung Kae Bi.


"Selamat tinggal Goo Kae Bi"



***[/font]
[/size]



END CHAPTER
« Last Edit: April 07, 2012, 11:39:49 am by Winda Minsun »

[lovestruck] and in another life, we believe... love never die [lovestruck]