Author Topic: New World >'<Chapter 10/ending>'<update 4 Maret 2012  (Read 7159 times)

Offline vhia_minsuners

  • Full
  • ***
  • Posts: 411
  • saranghae MinSun.... saranghae Joondi...
    • View Profile
Re: New World >'<Chapter 8>'<update 20 Januari 2012
« Reply #45 on: January 20, 2012, 08:25:31 am »
Chapter 8

Cast
Goo Hye sun aka Goo Min Hye
Lee Min Ho aka Lee Sun Ho
Park Min Young aka Miny
Lee dong hae aka Mr Stuyoshi

 

“apa yang kau lakukan semalam Minhye? Darimana saja? Kenapa baru pulang?, appa dengar Mr. Stuyoshi meninggalkan kau dan Sunho berduaan, karena ia mendapat pesan untuk segera kembali menemui asistennya” tanya Mr. Goo pada putrinya
 
“appa pikirkan saja.. appa yang dilakukan seorang wanita dengan kekasihnya?” jawab Minhye enteng
 
“anyi... appa tak mau menebak, appa takut salah menilai”
 
“Minhye tahu appa sangat cemas, tapi appa mengertilah... Minhye sudah sangat dewasa untuk menempuh hidup tanpa dorongan appa... Minhye tak mau terus berkutat dengan Goo’s grup.. Minhye ingin merasakan masa-masa manis dengan seorang laki-laki”
 
“tapi bukan Sunho... appa telah meminta padamu untuk mempertimbangkan Mr. Stuyoshi yang appa yakin kehidupannya jauh lebih terjamin,,,”
 
“tapi Minhye tidak mencintai laki-laki itu, Minhye tak mampu melihat sesuatu yg menarik dari hidupnya...”
 
“apa yang kau katakan? Dia memiliki jaminan hidup yang lebih baik daripada Sunho” tanya Mr. Goo dengan nada yang ditekankan
 
“apa appa menjamin Minhye akan mencintai stuyoshi?” Minhye balik bertanya saat mendengar pertanyaan appanya
“cinta? Cinta bisa datang di saat kalian telah menikah...”
 
“jadi appa sunguh-sungguh berencana menikahkan Minhye dengan stuyoshi?”
 
“appa tahu kau tidak suka laki-laki yang lebih kecil dari usiamu”
 
“anyi... sekarang bukan masalah umur yang Minhye maksud...”
 
“lalu?”
 
“ini masalah hati”
 
“appa sudah bilang. Cinta itu bisa datang nanti... saat kalian sudah menikah”
 
“tidak appa... Minhye sudah terlanjur menyukai Sunho” jawab Minhye dengan pasti, Mr. Goo dan Minhye memang sama-sama keras, bersikukuh mempertahankan pendapat.
 
“itu hanya cinta sesaat... hanya nafsu...”
 
“nafsu? Bagaimana appa bilang itu nafsu sesaat?”
 
“kau dan dia menghabiskan malam bersama, dan diluar sana hujan begitu deras...  appa tak bisa mengatakan selebihnya apa yang terjadi, tapi appa yakin Sunho laki-laki normal yang akan menggodamu dengan jurus mautnya dan kau akan lemah dengan rayuannya... lalu...” sebelum Mr. Goo melanjutkan perkataanya, Minhye segera memotongnya
 
“lalu menghabiskan waktu di atas ranjang yang hangat... berbagi kehangatan... itu yang appa maksud?”
 
“cukup Minhye....! appa merasa gagal mendidikmu saat appa harus memikirkan apa yang terjadi semalam”
 
“intinya... Minhye ingin menikah dengan Sunho... tidak ada stuyoshi dan stuyoshi yang lain... dia memang seorang bartender, tapi Minhye menikmati hidup baru bersamanya, dan mungkin apa yang appa pikirkan sekarang memang benar adanya... maka dari itu sebelumappa mendengar berita kehamilan Minhye... appa baiknya segera menyetujui permintaan Minhye..” Minhye segera meninggalkan tempat dimana ia dan appanya bersitegang cukup lama, tanpa menoleh kembali dimana sanga appa terduduk lemas mendengar permintaan Minhye yang menurutnya sangat kekanak-kanakan
 
“Minhye-a....!!” Mr. Goo mencoba memanggil puterinya, namun tak ada jawaban
 
-------------------------
 
 
Minhye mengurung diri dalam kamar, ia tak mau menatap wajah Mr. Goo setelah bersitegang cukup lama, makan malampun ia tak mau... ia ingin menunjukan ini adalah bentuk dari protesnya pada appa
 
Meja makan yang memang selalu sepi ini bertambah sepi saat Minhye tidak bergabung dengan Mr. Stuyoshi di meja makan karena dari tadi siang Minhye tidak menyentuh yang namanya makanan,,, dan Mr. Goo khawatir jika Minhye tidak makan malam lagi
 
“panggilakan Minhye untuk makan malam bi” pinta Mr. Goo pada pembantu di rumah itu
 
“sosaenghayeo sajangnim... tapi saya sudah berulang kali mengetuk pintu kamarnya, ia tak kunjung mau keeluar... dia Cuma bilang dia tidak lapar”
 
“anak itu benar-benar keras kepala” ia bangkit dari kursinya dan segera menuju kamar Minhye, saat tiba di depan pintu kamar Minhye... pasokan udah dalam paru-paru Mr. Goo tiba-tiba berkurang, hingga ia haru menghirup dalam udara yang ada... kemudian menghembuskannya dengan berat
 
“tok tok... Minhye-a, dari tadi kau tidak makan,, ayolah temani appa untk makan malam sayang”
 
“mian appa... Minhye tidak lapar”
 
“hanya temani appa saja... ayolah...kau tak kasihan melihat appamu ini kesepian, appa baru saja pulang ke seoul lagi,,, masak hanya dapat cuekanmu?”
 
“itu salah appa sendiri”
 
“baiklah... appa mengaku salah... tadi itu memang kita bicara tidak dengan kepala dingin, appa mau kita bicara sekali lagi”
 
“jika jawaban appa masih tetap sama... Minhye juga tidak akan beranjak dari kamar” tantang Minhye
 
“baiklah... appa akan mempertimbangkan semuanya... tapi please jangan siksa appa dengan cara seperti ini,,, appa ini sudah duda, dicuekin pula oleh anak satu-satunya...”
 
“kreek” wajah Minhye tiba-tiba muncul dari dalam, matanya sudah cukup sembab... dan jujur saja perutnya juga sudah sangat keroncongan, dan saat berhadapan dengan Mr. Goo perut itu berbunyi dan minta untuk diisi, Mr. Goo kaget dan hampir tertawa, namun segera ditahan saat melihat wajah cantik Minhye yang tak biasanya
 
“lihatlah... kau bilang tidak lapar, lalu itu bunyi apa?”
 
“appa memang appa paling cerewet...” Minhye segera meninggalkan Mr. Goo dan berjalan menuju meja makan
 
 
Sesampai di ruang makan, mereka nampak duduk berseberangan... Mr. Goo memandang Minhye, ia belum menyentuh makanan yang ada di depannya
 
“makanlah sayang”
 
“anyi... appa kan bilang Minhye hanya menemani appa makan, bukan untuk menyuruh Minhye makan”
 
“tapi kau pasti lapar sayang”
 
“abaikan saja... mood Minhye masih buruk, percuma jika mulut tidak mau menelan makanan...”
 
“ayolaaah.... kemana puteri appa yang dulunya manja,,,?”
 
“itu masa lalu... Minhye sekarang sudah dewasa bukan gadis kecil yang akan duduk dipangkuan appa untuk meminta disuapin”
 
“benar juga... tapi bagaimana jika appa merindukan moment itu... appa ingin sekali bisa menyuapimu lagi sayang”
 
“anyi... appa fokus saja dengan makanan appa... Minhye tidak berminat”
 
“bagaimana kalau kita  makan sambil membicarakan masalah pernikahanmu?”
 
“mwo?”
 
“ya... pernikahanmu”
 
“akan menambah mood buruk jika appa akan membicarakan itu, apapun pilihan appa, Minhye tidak akan mau”
 
“benarkah?, bagaimana jika pilihan appa jatuh pada laki-laki bartender itu”
 
“mwo????????”
 
“aduhh... Minhye sayang, tidak adakah jawaban lebih panjang dari kata Mwo?”
 
“maksud appa apa?? “
 
“appa ingin membicarakan lagi tentang Sunho”
 
“jadi... appa?”
 
“appa tak bisa berbuat banyak, orang tua mana yang tidak mengharapkan putrinya bahagia, mungkin appa terlalu melihat materi untuk melihat kebahagian itu, namun ternyata appa sadar, bahagiamu mungkin terletak pada laki-laki yang bernama Sunho itu”
 
“lalu?”
 
“lalu apanya?”
 
“lalu keputusan appa?”
 
“intinya, apa yang menjadi pilihanmu,,, kini menjadi pilihan appa”
 
“SUNHO....... SUNHO.......... pilihanku selalu SUNHO appa” Minhye beranjak dari duduknya dari berlari menuju tempat Mr. Goo duduk dan segera merangkul Mr. Goo erat...
 
“hahaha.... puteri kecil appa sudah kembali” Mr. Goo menarik pinggang Minhye hingga ia duduk dia atas pangkuan sang appa
 
“gumawo appa.....!”
 
“orang tua selalu ingin melihat senyuman pada anaknya,,,, dan appa hampir kehilangan senyuman itu, namun appa sekarang melihat senyum itu tepat didepan appa lagi...”
 
“Sunho adalah kebahagian Minhye appa, Minhye yakin akan perasaan itu...”
 
“ne... appa akan mengerti itu saat melihat senyuman manis ini sudah terpampang di depan appa”
 
“Minhye mau appa suapin..” rengek Minhye pada appanya
 
“kapan kau akan mengundang Sunho makan malam disini?”
 
“kapan appa siap?”
 
“kenapa tanya kesiapan appa?, yang akan menikah dirimu sayang....”
 
“besok, bagaimana kalau besok malam?”
 
“terserah sayang”
 
“gumawooo... cheongmal gumawo appa.... “ Minhye segera mencium pipi appanya dan meminta untuk disuapi lagi
 
-----------------------------
 
 
“jadwal dengan rekan hari ini tolong dijadwal ulang, karena hari ini saya sedang menyiapkan sesautu yang lebih penting” ucap Minhye saat paman jung masuk dengan berkas-berkas dan jadwal untuk pertemuan dengan rekan bisnis
 
“baik agashi”
 
Minhye segera merogoh ponsel dan menekan nomor Sunho
 
Terdengar suara yang menghubungkan panggilan Minhye pada Sunho, sekitar beberapa detik... akhirnya terdengar suara Sunho
 
“yeoboseo?”
 
“yeoboseo... halo sayaaang” dengan gaya manjanya Minhye memanggil Sunho
 
“hei... ada apa dengan pagi ini kau tampak senang... tidak biasanya menelpon di jam kerjamu?”
 
“bisakah kita bertemu sekarang?”
 
“jam berapa?”
 
“sekarang”
 
“baiklah... aku akan menjemputmu sekarang”
 
“Ok”
 
--------------------------------
 
 
Minhye dan Sunho duduk di bangku panjang dan menatap danau yang ada tepat di depan mereka... awalnya Minhye duduk bersejajar dengan Sunho, namun tiba-tiba ia naik ke pangkuan Sunho dengan gaya manjanya
 
“ada apa ini? Kenapa hari ini begitu manja?” tanya Sunho
 
“ini adalah awal...”
 
“maksudnya?”
 
“kau akan terbiasa setelah ini dengan tingkah manjaku”
 
“haha... tapi aku suka”
 
“sungguh?”
 
“nhe...”
 
“kau tahu... setelah malam di penginapan itu...” Minhye terdiam sejenak
 
“kenapa setelah malam itu, apa yang terjadi? Jangan bilang kau menyesal melakukan itu”
 
“bodoh... bukan itu, kalau aku mau menyesal seharusnya dari awal... “
 
“lalu?”
 
“aku dan appa sempat bersitegang”
 
“maksudmu appamu tahu apa yang kita lakukan?” tanya Sunho segera menekan kedua bahu Minhye, hingga Minhye sekarang menghadapnya
 
“ne” Minhye mengangguk
 
“lalu, bagaimana ini,,,, apa ia memarahimu?”
 
“marah? Tentu saja ia... ayah mana yang rela mendengar anak semata wayangnya ditiduri oleh seorang laki-laki yang belum menjadi suaminya
 
“Minhye... aku tahu ini pasti terjadi, aku sampai memikirkan sesuatu yang buruk akan terjadi pada hubungan kita, aku takut jika....”
 
“sssttt” Minhye menempelkan telunjukannya pada bibir tebal Sunho
 
“appa memintaku untuk mengundangmu makan malam di rumah malam ini”
 
“mwo?”
 
“aku ingin menikah denganmu”
 
“mwo?’
 
“hei... adakah kalimat yang lebih panjang dari kata mwo?” persis ayahnya Minhye berucap
 
“maksudmu, kita menikah... secepat itu?”
 
“yaaa.... apa maksud dari pertanyaan itu, apa kau mau bilang kalau kau tak mau menikah denganku setelah apa yang telah kita perbuat?”
 
“kenapa kau begitu yakin tentang aku akan setuju dengan pernikahan ini?
 
“jadiii.............. kau” Minhye segera beranjak dari pangkuan Sunho, namun segera ditarik kembali pinggang Minhye dan kembali terjatuh pada pangkuannya
 
“lepaskan aku...!”
 
“mau kemana?”
 
“mau menghindari matamu”
 
“jangan lakukan itu.... tetaplah disini, tetaplah menatap mataku.. karena mataku juga akan selalu menatapmu”
 
“lalu apa maksudmu berkata seperti itu”
 
“kau memang gadis yang cepat emosi... aku hanya mengujimu... bagaimana bisa aku menyia-nyiakan wanita sepertimu, aku hanya tak habis pikir kenapa kau begitu yakin padaku?”
 
“aku mempercayaimu... aku mencintaimu Sunho”
 
“aku tahu....” hanya kata sederhana namun mampu menjadi jawaban atas prilaku ini.
 
Mata mereka menatap satu sama lain... tatapan itu turun seiring suasana danau yang mendukung,,, angin berhembus kencang... rambut panjang Minhye tergerai menyapu wajah Sunho yang kini hanya berjarak 1 cm dari Minhye... entah siapa yang memulai, namun bibir itu telah menyatu saling melumat..  Sunho menekan tengkuk Minhye saat ciuman itu semakin menuntut... terdengar suara desahan dari bibir Minhye dan membuat Sunho berhasil menerobos masuk untuk menyesap lebih dalam..
 
“hmmf... sun,,,,” ucap Minhye terbata-bata
 
“nikmati ciuman manis ini sayang....”
 
Sunho kembali menyesap bibir mungil itu semakin dalam dan lidah Sunho menerobos masuk memenuhi mulut Minhye,,, sementara tangannya bergerilya di atas bukit kembar Minhye... ia terus membelai bukit kembar itu sesekali menekannya,,, membuat Minhye terbuai... dengan ciuman dan sentuhan Sunho,,, selanjutnya bibir itu turun ke dagu... kemudian ke rahang Minhye dan terakhir ia mencoba mengecup lembut tengkuk Minhye sebelum gangguan datang tanpa diduga
-
-
 
“OPPA.............!” teriakan itu tak asing di telinga Sunho, sontak membuat pelukan Minhye dan Sunho yang tak berjarak kini melonggar saat mendengar teriakan wanita itu
 
“miny-a... apa yang kau lakukan disini?”
 
“WANITA SIALAN...........PLAK” miny dengan mudahnya menampar pipir Minhye, hingga membuat Sunho menatapnya tajam
 
“YAAAA....... APA-APAAN KAU INI?”
 
“oppa.......... kenapa dengan perempuan ini?, kau tadi janji padaku akan menemani membeli sesuatu, tapi kenapa sekarang kau berada dengan perempuan sialan ini”
 
“TUTUP MULUT MU MINY........ kau semakin lancang, mulutmu semakin kotor...... tadinya aku kasihan padamu karena kamu tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini,,, namun aku ternyata salah... sifatmu yang selalu merasa memonopoli diriku membuatku jenuh... asal kau tahu... aku ini hanya menjadikan adik, bukan seorang wanita yang spesial di hatiku”
 
“jangan bicara lagi oppa........ aku tak mau mendengar kau membela wanita sialan ini di depanku”
 
“CUKUP... CUKUP.. CUKUP.... LAGI KAU BERKATA BEGITU, AKU AKAN MENJAHIT MULUTMU YANG KOTOR ITU,,,, dan mungkin ini saatnya untuk ku katakan, cari laki-laki lain yang mampu menjagamu... mampu menyenangkanmu... dan yang jelas aku tak mampu,,,, dan malam ini aku akan menyerahkan surat pengunduran diri, aku tidak akan bekerja di bar lagi....”
 
“Sunho-a...!” panggil Minhye tak percaya, jujur Minhye masih syok saat miny menamparnya... namun melihat Sunho membelanya di depan perempuan lancang itu, ,membuatnya terkesima... namun sekarang ia kembali dikejutkan dengan keputusan Sunho yang berhenti dari bar 2xx
 
“kau tidak bisa meninggalkan aku begitu saja oppa........”
 
"BERHENTI MERAJUK MINY........ KU KATAKAN PADAMU......... AKU DAN MINHYE AKAN SEGERA MENIKAH.... DAN JANGAN COBA-COBA KAU BERANI MENYAKITI CALON PENGANTINKU....  KARENA MULAI DETIK INI AKU HANYA MILIKNYA SEORANG, TIDAK ADA LAGI MINY YANG CENGENG YANG AKAN MENGADU PADAKU”
 
“anyi,,,,,,,,, oppa pasti berbohong............”
 
“terserah kau percaya atau tidak....... dan aku tegaskan....kau pergi dari sini, sebelum aku semakin membencimu”
 
“oppa.......!”
 
“DIAM.....! kau membuat citramu semakin buruk di mataku, pergilah”
 
“aaarrggggg” miny segera pergi saat kesabarannya sudah tak dibendung lagi “oppa jahat”
 
 
Setelah kepergian miny, Sunho segera beralih ke Minhye, pipinya yang putih mulus kini tampak memerah akibat tamparan keras miny
 
“Minhye sayang, maafkan aku tak segera menghentikan tindakan miny, gwenchana?”
 
“anyi... sudah hampir mereda... tadi begitu sakit”
 
“mianhae sayang” tutur Sunho lembut sembari mengecup pipi Minhye yang terkena tamparan itu, diciumnya begitu dalam. Minhye hanya mampu tersenyum saat melihat prilaku Sunho
 
-------------------------
 
 
Makan malam di Goo mansion pun tiba, Sunho datang dengan eommanya.... sempat terjadi kebisuan sejenak saat mata Mr. Goo jatuh pada wajah eomma Sunho
 
 
“bagaimana kabarmu?”
 
“baik Mr. Goo”
 
“aku tak pernah menyangka jika Sunho adalah anakmu”
 
“appa..... appa mengenal eomma Sunho?” tanya Minhye dan Sunho hanya memandang tanpa berkata apa-apa
 
“ne... eomma Sunho adalah teman SMA appa...” hanya itu yang mampu Mr. Goo katakan
 
“benarkah...?? ini akan sangat mnyenangkan” wajah Minhye nampak ceria, namun ia tak menyadari ada sesuatu di tatapan keduanya, dan Sunho menyadari itu
 
“eomma... tolong katakan sesuatu”
 
Tanpa diduga... eomma Sunho menangis diantara percakapan itu,,, dan ia tak mampu berkata apa-apa... hanya keluar kata
 
“mianhae” selepas itu ia berlari keluar dari goo mansion... menyadari akan keganjalan itu, Sunho segera bangkit dari duduknya, namun segera dicegah Mr.goo
 
“Sunho, kau temani Minhye disini, aku akan mengejar eommamu.......” Mr. Goo segera melesat keluar mengejar eomma Sunho
 
Saat itu Sunho menatap lurus ke Minhye, beribu pertanyaan di kepalanya
 
“ada apa ini?”
 
TBC>> ^’^



 
Mian klo kurang gereget.... #nunduk 90 derajat

« Last Edit: January 20, 2012, 08:59:50 am by vhia_minsuners »


kissing you baby... muaaaccchhh ^^