Author Topic: The Curse - Chapter Sixteen, Updated 30 Mar'13  (Read 21570 times)

Offline Winda Minsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 679
    • View Profile
Re: The Curse - Chapter Four, update 14 jan'12
« Reply #90 on: January 21, 2012, 06:15:37 am »
CHAPTER FIVE





Goo Kae Bi mengarah telak dengan rasa kecewa yang berkeliaran dihati. Ia mematri kokoh dengan segala keputus-asaan untuk mengiring langkah Joon Sung. Semua terasa begitu pening, ia tertunduk lesuh terus mengiba agar berat beban yang di pikulnya sekarang ini tidak akan terasa lagi. Untuk saat ini saja, ia benar-benar ingin menembus dinding waktu. Menciptakan ketenangan serta kedamaian, paling tidak merasuki jiwanya sendiri dengan sentuhan lembut.


Lapisan mata yang berkerut, melayangkan pandangan. Pria tengah baya dengan sorot mata tajam. Ia berdiri di ambang pintu perusahaan Goo Seoul Corp, mengangkat wajah tuanya. Mengikuti gerak tubuh dan menerka raut wajah gadis mungil dibalik kaca lebar yang membatasi posisinya saat ini. Ia mengarah lagi, untuk sejenak melupakan segala 'konflik' yang ada. Rasa rindu itu tidak bisa di tepis, ia kalah dengan ego-nya sendiri. Mr.Goo sedikit memberontak kecil, ia merutuk. Apa yang dilakukan menantu biadabnya itu? Kae Bi mematung seperti manusia yang tidak berdaya upaya. Sementara sebagai suami, Joon Sung bermasa bodo sendiri. Seakan lepas dari tanggung jawab. Sekali lagi, ia semakin mendendam.


Hyun Woo menyeringai kecil, ia membidik Kae Bi lagi dengan ketajaman bola mata. Terus memegang gagang pistol dengan erat, bersiap menembuskan 'peluru dendam'. Ia semakin meruncing, laksana pemburu berambisius tinggi.


"Aku bukan jahanam, jika saja peristiwa itu tidak terjadi" Bisiknya kecil.


Satu aliran menyentak cepat. Ada yang berbeda, Hyun Woo terhenti seketika. Perasaan aneh menghinggap lagi. Pembodohan baginya! Ini sama sekali tidak bisa di cerna dengan seksama. Ia jadi bimbang tak menentu, mencoba melawan perasaan yang menjalar di setiap denyut nadinya. Seakan mau meletup sendiri, ia lepas kendali dan.....


DUUUAAAARRRR


Joon Sung berbalik cepat, menancapkan pandangan sigap ke arah Kae Bi. Jantungnya berdetak ketika peluru silver melesat cepat untuk menembus tubuh sang istri. Ia segera berlari, seluruh anggota tubuhnya digerakkan gesit berusaha menjangkau tubuh Kae Bi.


"Goo Kae Bi!" Teriak lantang Mr.Goo, segera berlari membawa langkah panjangnya keluar dari gedung perusahaan. Para karyawan menjerit histeris, suara ledakan itu benar-benar mengiang keras di telinga mereka. Semua berlari tak menentu arah, kecuali Kae Bi. Ia berdiam di ambang bahaya, tak memperdulikan semua yang ada. Benda kecil yang seolah bergerak lamban di dalam penglihatannya, terus di amati. Iblis datang menuntunnya untuk memejamkan mata. Pikirannya di tutup rapat, ia tersendat seperti berada di ruang gelap. Semua jeritan di sekitar bagai bisikan kecil, atau mungkin hanya hembusan angin yang hambar menyentuh daun telinga. Kae Bi merasuki alam bawah sadar, menyelam... Menyentuh batas lubang mendasar sangat dalam.


Peluru semakin mendekam, dan Kae Bi mematung bagai mayat yang tengah di topang kayu. Semua terasa lemah, ia seperti terbang tinggi ke awan dan di taburi angin bergilir. Sejengkal lagi peluru akan menembus dada, Tetapi... Joon Sung dengan sigap meraih tubuh Kae Bi Menghantarkan ke dalam dekapan erat, hingga keduanya terhempas dan terbaring di hamparan keramik tanah liat.


"Menyingkir!" Presdir Goo memperingati bagi para karyawan yang akan bersentuhan dengan peluru tembak dari senapan api tadi. Semua segera berlutut kebawah, menghindari mara-bahaya yang akan menyerang. Hingga serpihan kaca berdenting nyaring, terpecah berserakan.


Kedua mata sendu itu masih terpejam rapat. Joon Sung mengerjap melihat wajah yang seakan terlukis 'mati' di atas tubuhnya. Meremas keras kedua bahu kecil Kae Bi, memberi pertanda dan keyakinan agar kedua mata itu terbuka kembali. Tapi pengharapan tersebut semakin jauh untuk menjadi sebuah kenyataan. Kae Bi masih terpejam seperti tidak sadarkan diri, membuat Joon Sung meletup. Hingga sebuah tangan mengambil alih Kae Bi. Mr.Goo membawa sang putri ke dalam dekapan, menepuk kecil sebelah sisi pipi Kae Bi.


"Kae Bi! Kae Bi-aa! Bangun..." Desaknya seperti memohon. Membiarkan setetes air mata mengalir begitu saja demi sang putri tercinta. "Bangun Kae Bi... Bangun!" Lirih pria tua itu, semakin bertambah menyedihkan ketika membawa Kae Bi kedalam pelukannya.


Bola mata Joon Sung memerah di pancari api serta sebulir air bening, berkaca. Ia mengepalkan tangan terus berjalan dengan tubuh yang menjulang tinggi. Matanya bagai elang, mendelik dan berbagi arah pandang ke asal peluru yang tadi datang. Joon Sung semakin menjadi lagi, saat sesosok pria berlari gencar dan memunggunginya.


"Aku akan membunuhmu, Keparat!" Desis Joon Sung merajam. Satu hentakan dari tubuhnya membawa bayangan hitam bergerak cepat di bawah sinar terik matahari. Joon Sung membelah jalan beraspal kasar, berlari cepat di penuhi kadar amarah tinggi. Pandangannya kian membunuh, semua kumpulan dari dendam mengalir disana. Sementara itu, Hyun Woo memasuki Mercy merah dengan menderu nafas cepat. Ia melirik Joon Sung dari kaca spion mobil. Sudut bibirnya terangkat, ia tersenyum sinis.


"Bodoh!" Ia menyeringai untuk kegagalan kali ini. Kemenangan atas dirinya harus tertunda sesaat. Hyun Woo berpikir, mungkin mantan kekasihnya itu memang tidak di takdirkan untuk merenggang nyawa hari ini. "Perlahan... Aku akan membunuhnya perlahan... " Hyun Woo menancap pedal gas, dan melaju dengan kecepatan tinggi. "Dia penghambat!" Ia tak pernah beralih melihat Joon Sung yang terus berusaha mengejar kedudukannya. Hingga membuatnya menambah laju kecepatan lagi, mengeyahkan diri. Bukan saatnya untuk meladeni 'perang dingin' yang Joon Sung berikan.


Sementara itu Joon Sung tersenggal, melayangkan tinju di udara. "Argghhh! Brengsek!" Teriaknya lantang menendang kasar hamparan debu. Menyorot semakin menakutkan, lebih dari sebelumnya. Ia ingin sekali menggenggam pisau tajam dan melayangkan tepat menancap ke Jantung pria 'biadab' itu. Menikam jalan kosong yang di lalui mobil Hyun Woo tadi.



***


"Joon Sung... Joon Sung..."


Bibir itu bergumam kecil. Menelusupkan satu nama di dalam penglihatan jiwanya. Kae Bi bergetar di pembaringan, tubuhya terkulai lemah di sofa hitam ruangan Presdir Goo. Wajahnya berpeluh deras, membuat Mr.Goo berdecak pinggang berjalan kesana-kemari. Melirik Kae Bi sebentar, lalu membuang pandangan. Seakan berusaha menahan perasaan cemas yang kian meletup.


"Kae Bi-aa"


Joon Sung datang, menghantarkan tubuhnya ke arah Kae Bi yang mulai membuka mata perlahan. Tapi cengkraman tangan menahan, membuat Joon Sung terseret ke belakang. Mr.Goo bertajam sinis, menampar pipi Joon Sung dengan keras.


"Suami macam apa dirimu?!" Hardik Mr.Goo seketika, lumuran darah meningkat di dalam otaknya. Ingin sekali menghancurkan manusia di depannya ini. "Bagaimana bisa kau meninggalkanya begitu saja! Lihat, ia hampir mati!" Sentaknya lantang bak suara petir menyambar. Joon Sung menahan rasa sesak atas cengkraman tangan sang mertua di kerah kemejanya. Ia menepis kasar, manakala dilihatnya Kae Bi yang berusaha beranjak dari posisi.


"Minggir!" Ucap Joon Sung yang kehilangan kesabaran. Melihat Kae Bi tergopoh seperti itu, membuatnya berontak keras. Ia mendelik ke arah Mr.Goo serta melepaskan tubuh dari jeratan tangan yang mencegahnya. Menderap, melangkah begitu pesat menghampiri Kae Bi.


"Lancang sekali kau, Bajingan!" Mr.Goo menarik tubuh Joon Sung. Melayangkan bogem mentahnya, keras. Joon Sung mulai setengah sadar, menyentuh kepalanya yang terasa pening. Terhempas di lantai dengan tangan panjang yang ia gunakan untuk menopang.


"Joon Sung... Jangan... Hentikan..." Kae Bi berusaha berdiri membawa tubuhnya untuk menjangkau Joon Sung. Ia berucap lirih disana.


"Ceraikan Kae Bi! Hidupnya tidak akan 'aman' ditangan Bajingan sepertimu"


Dongakan cepat Joon Sung arahkan pada mertuanya itu. Semakin menjadi saja geraham yang bergemelatuk. Manusia seperti apa yang ada di hadapannya sekarang ini. Begitu sombong dan terlalu menganggap semua seakan mudah untuk di kuasai. Sekali lagi, Joon Sung bertatap dengan paras dipenuhi 'dendam' milik Mr.Goo. Ia berbalas tak mau kalah, membuang tatapan menikam lewat iris hitam yang begitu tajam.


"Saya berhak atas dirinya dan tak akan pernah melepaskannya sampai kapanpun, Tuan Goo. Dia ISTRI KU! Kau dengar, bukan? Dia akan tetap menjadi ISTRI KU!" Joon Sung meluap, menekan setiap perkataannya.


Ia menghentakkan kaki. Mengambil tubuh Kae Bi dengan dekapan. Joon Sung berjalan membawa tubuh ringkih yang semakin lunglai. Melewati Mr.Goo tanpa berbalas pandang lagi. Hingga Predir besar itu jadi terkesiap sendiri, terkekeh sinis untuk apa yang Joon Sung lakukan terhadapnya.


Kae Bi merangkulkan tangan pada leher jenjang milik Joon Sung, suaminya. Menatap wajah dingin yang terus memandang ke depan tanpa berbalik untuk melihatnya. Entah keinginan dari mana, Kae Bi tersenyum dengan lemah semakin bersandar pada dada bidang Joon Sung. "Terima kasih" Bisik Kae Bi lembut dan memejamkan mata, menikmati setiap hentakan langkah Joon Sung yang membawa tubuhnya.


Mereka keluar, melewati pintu utama perusahaan Goo Seoul Corp. Banyak pasang mata mengamati, melihat dari dekat atau kejauhan tidak bermasalah. Pasangan suami-istri muda itu membawa kebisuan seketika. Para karyawan berbisik pelan, terus menyorot Joon Sung dan Kae Bi yang sudah seminggu ini menjadi bahan perbincangan hangat. Dong Bin dan Jung Min turut menyertakan diri melihat adegan itu. Jujur saja, mereka sedikit terpengarah. Berdiri di belakang Joon Sung sambil terus menatap tak henti.


"Aku baru sadar. Joon Sung benar-benar mencintai Kae Bi" Gumam Dong Bin. Jung Min melirik sekilas lalu beralih pada Joon Sung.


"Dan Joon Sung menjadi setangguh itu karna Kae Bi" Timpal Jung Min.



***


"Maaf"


Bisikan dari Joon Sung, membuat Kae Bi terdiam. Sebuah tangan terulur untuk menggenggam jemarinya, bertaut untuk menjadi satu. Ia bergerak pandang menatap Joon Sung. Tersenyum tulus, membalas genggaman tangan lelaki itu. Membuat Joon Sung tak mampu berkata, ia terkeluh sesaat. Kae Bi mengelak sendiri, ada satu tatapan Joon Sung yang membuat dirinya enggan berpaling, ada satu tatapan yang seakan menuntun untuk ia rasakan, dan... Satu lagi debaran kecil untuk menatap ketampanan yang tak mampu ia pungkiri.


"Bolehkah aku mengucapkan sesuatu? Satu panggilan untuk bisa aku rasakan sendiri?" Pinta Kae Bi.


"Apa ?" Tanya Joon Sung


"Terima Kasih... Karena kau telah berdiri disana. Aku berulah lagi dan membuatmu semakin sulit. Tidak mengerti kau titisan dari mana, aku hampir gila memikirkannya. Dan hari ini.... Hari ini kau menghidari kematian untukku. Terima Kasih, Suamiku" Kae Bi berbinar, menatap lembut Joon Sung. Lapisan embun menggenang.


Joon Sung tertegun sejenak. Apa yang di ucapkan gadis itu? Membuat pikirannya tersumbat sesaat. Terhalau 'sebutan' manis yang Kae Bi berikan. Rasanya hari ini begitu panjang. semua berjalan lambat. Ia tetap mematut diri, melihat Kae Bi yang menjulang indah di hadapannya. Sebuah pelukan mewakili perasaan. Kae Bi terkesiap, bersandar pada bahu tegap milik Joon Sung.


"Kau tidak harus mengucapkannya. Aku akan baik-baik saja bila kau terus terjaga" Balasnya berbisik halus, membuat kekakuan Kae Bi terus berlaku.


"Terberkati sekali aku bisa bersamamu. Apa yang ada di pikiranmu ketika melakukan hal-hal bodoh seperti tadi?"


Pertanyaan itu bergilir mendatangi hati Joon Sung. Seperti titik kelemahan untuk mendangarnya. Mendatangkan kebisuan dan memacu daya pikir serta menelusuri hati, jawaban apa yang akan ia berikan. Ia sendiri juga tidak tahu akan hal itu. Joon Sung melepaskan kedua tangan kekarnya yang sedari tadi mengungkung tubuh mungil Kae Bi.


"Bukankah kau tidak akan menanyakannya lagi? Jangan membuatku menjadi 'kesal' untuk kau lihat. Bicara yang lain saja" Sanggah Joon Sung. Kae Bi mengangguk kecil, lalu bersandar pada kepala ranjang. Joon Sung menyelimuti tubuh istrinya perlahan, ia berdiri dari duduknya.


"Apa yang kau butuhkan ?" Kae Bi mendongak. Joon Sung berbalas, menatap raut wajahnya.


"Anhiyo. Aku tidak membutuhkan apapun" Jawab Kae Bi lalu melayangkan pandangan kosong ke arah lain. Joon Sung menafsir sendiri. Kebisuan merajai keduanya.


"Joon Sung-ssi...." Panggilan itu membuat Joon Sung berbalik, menyambut Kae Bi yang tengah menatapnya. Ada yang lain di mata gadis itu. Joon Sung mendekat, Kae Bi semakin menunduk mematikan pandangan mereka.


"Ne?"


"Aku... Aku..." Matanya mulai berair. Wajah putihnya memerah seakan menahan pilu. "Aku takut... Aku takut..." Ringis Kae Bi sambil menangis. Air mata mengalir deras. Perlahan tubuhnya di tuntun ke dalam pelukan hangat Joon Sung, ia meringkuk disana sambil terisak cepat.


"Aku akan tetap menjagamu, percayalah" Satu pernyataan yang harus Kae Bi dengar. Joon Sung berpancar serius seketika. Ia bersumpah sendiri, tidak akan pernah membiarkan tubuh gadis itu terjamah bahaya, tidak akan pernah membiarkan tubuh itu terbaring tak berdaya, tidak akan pernah!



***


Hyun Woo menderap, menelusuri ruang kamar megahnya. Ia menghempaskan diri di atas pemabaringan luas. Menatap kelambu putih yang menghias di atas ranjang. Melayang, membagi pikiran dengan perbuatan 'gila' yang ia lakukan tadi. Saat Joon Sung begitu gigih menyelamatkan Kae Bi, Hyun Woo mengigit bibir bawahnya miris. Entah untuk siapa ia berperang argumen dalam hati, kejadian tadi terus membayang dan merangkak menjadi pertanyaan besar di dalam otaknya.


FlashBack


Hamparan rumput bertabur bersama awan berhias dilangit. Taman indah yang terletak di ujung kota sepi, begitu teduh untuk di kunjungi. Tempat berbagi kebahagian bersama keluarga atau mungkin sepasang kekasih yang tengah dilanda cinta, tempat melepas kepenatan atau berbagi keceriaan. Kae Bi tersenyum manis, menatap Hyun Woo yang tengah tertidur lelap di atas pangkuannya.


"Aku mencintaimu" Ia berbisik riang, sambil mengelus lekukan wajah tampan milik Hyun Woo. Setelahnya, ia menengadahkan pandangan kedepan. Melihat suara burung-burung gereja berkicau, langit begitu cerah untuknya siang ini.


"Kae Bi-aa" ia terpenjarat. Hyun Woo beranjak dan kini duduk merapat di sisisnya. Lelaki itu merangkul bahu kecil Kae Bi, memberikan kecupan hangat di kening sang kekasih.


"Apa yang kau bisikan tadi?" Tanya Hyun Woo penasaran. Kae Bi tersenyum lagi, sangat cantik... Ia berpikir polos, berpura-pura menerawang.


"Aku tidak mengucapkan apapun" Jawab Kae Bi asal. Hyun Woo menggoda, mulai meniup pelan telinga Kae Bi, membuat gadis itu bergidik kegelian dan menggeliat tak beraturan.


"Yya Hyun Woo-ssi, hentikan... Hahaha, hentikan..." Kae Bi masih bergidik, menjauhkan tubuhnya dari Hyun Woo. Keduanya tertawa bersama. Hyun Woo membawa Kae Bi kedalam pelukannya, mengelus sayang puncuk kepala Kae Bi. Hingga gadis itu membalas pelukannya, begitu erat dan semakin erat.


"Aku mencintai wanita cantik ini" Kae Bi tertawa dibawa rayuan Hyun Woo. Keduanya berayun kecil, menikmati peluka yang menghangatkan satu sama lain.


"Kau tahu, cinta itu awalnya putih. Setelah di isi keindahan cinta itu akan berwarna merah muda, merona. Tapi, ketika terpuruk kepedihan cinta itu akan berubah menjadi warna merah tua yang kecoklatan, kelabu dan begitu gelap. Menurutmu, cinta kita sekarang berada di warna yang mana?" Tanya Kae Bi. Hyun Woo terkeluh mendengarnya, ia terdiam sesaat.


"Aku tidak tahu. Dan aku tidak ingin membicarakan itu. Aku mencintaimu bukan dengan warna-warna seperti yang kau bicarakan" Terang Hyun Woo. Kae Bi menyipitkan mata, melepas pertanyaan.


"Lalu dengan apa kau mencintaiku?"


"Dengan hatiku. Aku mencintaimu dengan hatiku. Arraseo Kae Bi-aa, sayang?" Kae Bi dibuat melambung tinggi lagi. Wajahnya merona merah, sejak tadi senyum terus terhias. Hyun Woo benar-benar membuatnya gila, Kae Bi mendekap kekasihnya itu kian erat.


End FlashBack


"Apa yang aku pikirkan! Kenapa jadi begini, huh" Hyun Woo menjadi geram sendiri, tersadar dari lamunan panjangnya. Bersusah payah membuang jauh-jauh kenangan itu. Tapi, ada yang tertahan. Satu pertanyaan bergelayut di pikirannya
ssm

"Apakah Kae Bi Mencintai pria itu? Tapi... Dia tak mungkin melupakanku secepat ini. Bagaimana bisa!" Tuntutnya sendiri, rasa penasaran bergelayut di hati. Dan itu sungguh menganggu ketentraman jiwa Hyun Woo.


"Aku harus membunuhnya secepat mungkin!"



***



"Geudae naegyeoto seon sungan...."


Kae Bi mengarah kosong. Memejamkan kedua mata. Tubuhnya tenggelam bersama busa-busa sabun di dalam Bath-up. Ia menghirup nafas sejenak, menarik semua tekanan di dalam dirinya. Melawan cambukan hati yang terasa perih  


"Geu nunbichi neomu joha...."


Ia melantunkan nyanyian lagi. Bernada lemah tanpa intonasi. Tak ada dentingan piano menghias, yang biasa ia mainkan bersama lagu itu. Kae Bi mulai membasuh mukanya yang begitu pucat. Mencoba menghilangkan semua beban yang ia rasakan. Mendalami setiap perasaan dengan kegalauan.


"Ojeneun ureotjiman oneureun....... Dangsinnttaema naeireun haengbokhalkkeoya"

 
Joon Sung tertegun mendengar suara parau sang Istri. Ia beralih pandang ke pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Melepaskan perhatian dari tumpukan kertas yang ia baca di meja kerja. Kae Bi semakin terbawa menikmati alunan lagu yang ia tuang pada ruangan itu.
 


"Eolguldo anhi meotdo aniani...."


Ia mulai terisak, merajam pilu. Bertopang dagu pada kedua lutut yang ia lipat dan peluk erat dengan kedua tangan, Kae Bi menangis. Joon Sung berjalan perlahan... Mendengar suara di balik pintu kokoh di depannya. Hatinya menjadi tidak tenang sendiri. Nyanyian itu sungguh membuatnya di landa keterpakuan, suara tangisan Kae Bi sayup-sayup didengarnya dengan jelas.


"Budeureoun sarangmani pillyohaesseoyo"


Kae Bi bertahan, melawan isakan. Ia menelusuri seluruh pergelangan tangan. Joon Sung semakin kalut, ragu-ragu ingin menggapai handle pintu. Tak mungkin terus mendengar isakan itu! Iris hati ini jika Joon Sung tak pedih mendengarnya. Untuk wanita selemah Kae Bi, ia tahu benar apa yang akan di perbuat gadis itu setelah ini.



"Jinagan sewol modu.... ijeobeorige"


Tangis itu pecah. Kae Bi semakin kuat memeluk lututnya. Ia tak tahan! Sungguh, ia benar-benar lelah sekali. Tubuhnya bergetar hebat.



"Dangsin eobsin amu geotdo ije..."


Semua seakan terhenti. Kae Bi menghela nafas membuang semua penyesakkan. Berdiam seperti mayat hidup.



"Hal sueobseo.... Sarangbakke nan molla..."


Kae Bi merenggang, ia melemaskan semua tenaga yang ada. Membuat tubuhnya terbaring perlahan, terhanyut bersama air yang menggenang. Ia tenggelam, bagian tubuhnya sudah tak terlihat di permukaan air. Bayang datang dan membuatnya bermimpi dengan mata terpejam[/b]


"Dengan hatiku. Aku mencintaimu dengan hatiku. Arraseo Kae Bi-aa, sayang?" Sosok Hyun Woo, mengulurkan tangan. Memeluknya erat



"Seterusnya kau menjalani hidup seperti apapun di luar sana, aku tak akan perduli! Dan jangan berfikir aku akan kembali seperti dulu... Menyanjungmu tinggi sebagai putri keluarga Goo. Kau yang membuat segalanya menjadi berubah, ingat itu. Ingat sampai nafasmu tak berhembus!" Kini sosok sang Ayah yang berada dalam penglihatannya. Berparas dingin terus menatap 'angkuh' padanya


"Jangan Pergi..." Joon Sung menatap sendu kearahnya. Baru kali ini Kae Bi melihat tatapan seperti itu. Ada seberkas cahaya disana... Cahaya putih yang membuat bayangan Joon Sung menghilang. Bukan, bukan ia yang pergi meninggalkan Joon Sung... Tetapi Joon Sung yang pergi meninggalkannya bersama cahaya putih itu.


"Kae Bi! Kae Bi-aa!"

Joon Sung bergerak cepat, membuka pintu secara paksa. Hatinya menjerit, menyeretnya dalam kebisuan. Air mata menggenangi pelupuknya. Joon Sung segera berlari. Berlutut, menjangkau wajah Kae Bi yang pucat dan di lumuri buliran air.


"Apa yang kau lakukan, bodoh!" Hardik Joon Sung pada Kae Bi yang menutup mata. Sebelah tangannya meraih handuk putih yang terletak di pinggiran Bath-up. Ia berdiri dan segera menarik tubuh Kae Bi lalu menutupinya dengan handuk yang diambil tadi.


Kae Bi di hempaskan perlahan oleh Joon Sung diatas ranjang. Tubuh ringkih itu dibalut selimut tebal. Joon Sung segera menghapus semua buliran air yang tersisa di wajah Kae Bi. Menarik tubuh itu kedalam dekapannya. Tuhan, itulah nama yang Joon Sung ucapkan dalam hatinya. Ia menjatuhkan air mata untuk yang kesekian kali. Membayangkan Kae Bi terbaring seperti ini, membuatnya di hujam kilatan pedang tajam. Sungguh, membiarkan dia mati.. Bertukar posisi seperti Kae Bi saat ini, ia rela. Ia sangat ikhlas, jika hal itu dapat mengiring Kae Bi lagi untuk kembali hidup. Joon Sung terlalu mencintai gadis yang membujur lemah di dalam pelukannya ini. Kae Bi bagai organ tubuh penting untuk kehidupan Joon Sung. Sadar atau tidak sadarnya akan hal itu, Kim Joon Sung benar-benar telah terpenjarat oleh sosok Goo Kae Bi.


"Bangun Kae Bi-aa! Bangun!" Ringis Joon Sung lagi. Mata itu terbuka perlahan. Kae Bi mengerjap, melihat Joon Sung yang tengah menatapnya pekat.


"Joon.... Joon Sung-ssi" Ucapnya terbata. Joon Sung menangkup kedua tangan pada wajah Kae Bi.


"Apa yang kau lakukan Kae Bi-aa? Apa yang ada di dalam pikiranmu. Aku mohon jangan seperti ini.. Aku mohon" Joon Sung memeluk Kae Bi lebih erat. Tutur katanya di rubah selembut mungkin, menahan amarah yang mencuat tinggi. Semua ia lakukan demi Kae Bi. Tubuh itu bergetar, seperti menggigil. Joon Sung segera menatap Kae Bi, melepaskan pelukannya.


"Ada apa? Astaga, Aku mohon jangan membuatku hampir mati Kae Bi-aa. Kau kenapa? Beritahu aku!" Kae Bi berangsur-angsur merubah raut wajahnya. Ia meringis dalam pelukan Joon Sung. Seperti tidak mempunyai daya dan upaya lagi. Kae Bi benar-benar sekarat. Perlahan ia mencoba menjamah lekuk wajah Joon Sung. Sambil mengeluarkan air mata yang telah berderai.


"Dingin.. Aku kedinginan, Joon Sung... Aku kedinginan" Ia berucap lirih, nada suaranya mendayu lemah di dalam pendengaran Joon Sung.


"Kau kedinginan?" Ulang Joon Sung yang masih menerka. Kae Bi mengangguk pelan. Membuat Joon Sung semakin erat memeluknya. Meraih jemari tangan Kae Bi, hingga gadis itu menangis. Joon Sung menghembuskan nafas hangatnya pada kedua tangan Kae Bi.


"Apa masih dingin?" Tanyanya. Kae Bi mengangguk lagi, nafasnya sudah tidak berturan dan itu membuat Joon Sung semakin cemas.


Seluruh bagian tubuh Kae Bi, Joon Sung tutupi dengan selimut tebal di atas ranjang mereka. Tapi tetap saja tak membuahkan hasil apapun, Kae Bi tetap bergetar... Terus menatapnya sayu. Joon Sung menundukkan kepala sejenak, tanpa pikir panjang ia menyergap Kae Bi. Mencium setiap lekukan wajah istrinya itu. Mengusap rambut halus Kae Bi yang menjuntai di kening. Ia beralih, mengecup pipi Kae Bi cepat, berpindah ke pelipis, hidung, serta dagu wanita itu. Samar-samar Kae Bi mengerjapkan mata. Merasakan kehangatan yang Joon Sung berikan untuknya.


"Joon Sung" Kae Bi meraih wajah Joon Sung dengan kedua tangannya. Ia merasakan bibir Joon Sung yang terlepas dari pipinya. Lelaki itu tertunduk, dan mulai menjauh.


"Mianhe. Aku tidak bermaksud seperti itu. Maaf aku lancang" Joon Sung akan beranjak. Tapi satu tangan mencegah. Kae Bi menatapnya penuh pengharapan, entah itu hanya dugaan Joon Sung saja atau benar adanya.


"Jangan Pergi"



***


Kae Bi mulai memejamkan mata perlahan. Mencoba merasuki alam mimpi dan terlelap tidur. Lima belas menit bertahan pada posisi itu, malah membuatnya jenuh sendiri dan merasa tidak nyaman. Hari semakin larut, ruang kamar tidurnya dan Joon Sung terlihat begitu gelap. Hanya cahaya remang dari sinar rembulan yang memantul ke dalam jendela. Kae Bi berpaling, menatap sosok pria yang tertidur di sampingnya. Ia memandang lekat, dan mulai memperdalam penglihatan.


"Tidurlah"


Kae Bi terkejut sesaat. Suara itu mencekamnya. Ia tak mampu bergerak atau sekedar bersuara. Menggigit bibir bawahnya, getir.


"Bagaimana dengan keadaan bayimu itu? Apa dia juga merasakan 'sakit' atas hal bodoh yang kau lakukan tadi?" Joon Sung membuka kedua bola matanya. Kae Bi terkeluh mendengar pertanyaan itu.


"Aku tidak tahu" Jawabnya asal, membuang pandangan jauh-jauh dari tatapan menyidik yang Joon Sung berikan padanya. Sesungguhnya ada getaran lain yang ia rasakan. Perhatian Joon Sung, membuatnya bertanya-tanya sendiri.


"Sadarkah di dalam tubuhmu itu ada kehidupan lain yang harus kau jaga" Tandas Joon Sung, membuat Kae Bi terdiam. Istrinya itu berbalas pandang. Kae Bi menuntun tubuhnya ke arah Joon Sung. Menatap dengan seksama kedua mata yang terus tertuju padanya.


"Aku juga tak akan membiarkannya terpuruk. Bayimu tidak mempunyai dosa sekecil apapun. Aku akan menjaga kalian" lanjut Joon Sung. Kae Bi terpenjarat sesaat. Adakah lelaki seperti ini? Rela berkorban demi wanita yang baru ia kenal? Setan dari mana yang merasukinya!


"Apa yang kau rasakan? Apa sesungguhnya perasaan yang kau rasakan kepadaku?" Joon Sung tercekat mendengarnya. Ia menelan ludah untuk pertanyaan yang Kae Bi lontarkan. Gadis itu menuntut jawaban. Ia terus mendekat ke arah Joon Sung


"Apa maksudmu?"


"Aku tidak sedangkal itu untuk merasakan semua perlakuan yang kau berikan. Aku tidak buta soal perasaan.  Kau mencintaiku, Kim Joon Sung"



***






END CHAPTER
« Last Edit: April 07, 2012, 12:01:30 pm by Winda Minsun »

[lovestruck] and in another life, we believe... love never die [lovestruck]