SPOILER ...
"STANN!!" Em membungkuk dan menguncang pundak Stan, namun cowok itu tidak bergeming. Stan berlagak tidur, mengacuhkan Em yang mencak-mencak kesal. "Huhh!!" Em mendorong pundak Stan keras-keras. Merasa tidak dihiraukan, dia lalu menghempaskan tubuhnya di atas jerami. Bibir mungil miliknya meruncing hingga hampir menyentuh cuping hidungnya.
Em sedikit memiringkan kepala hingga dapat melihat jelas bayangan yang bergerak pelan dari balik jendela di kejauhan sana. Em menghela nafas, tersenyum kecil buat kenyataan yang diyakininya kini.
"Ada apa?"
Suara dalam dan datar itu mewarnai ruang kantor yang besar dan luas di pusat kota London itu. Jonathan mendengarkan selama beberapa menit, tanpa memberi reaksi apa-apa terhadap si penelepon, meskipun apa yang didengarnya dari seberang membuatnya sangat tidak nyaman dan ingin marah. Jonathan mengenggam gagang telepon erat-erat, gerahamnya mengatup keras.
"Aku tidak bisa menolak, karna sudah janji?" Jonathan berujar dengan nada dingin. Dia mendengarkan kemudian mengangguk. "Ya, aku tahu. Aku akan datang sesuai keinginan kalian--"
"Stan!!" tegur Em seraya mengerak-gerakkan tangannya di depan Stan. "Are you okay? Oh, come on, aku terlambat bukan karna sengaja--" Em merenggek, berharap pengertian dari Stan.
"Eh?!!" Stan tersentak. Guncangan kecil di lengan yang dilakukan Em menyadarkannya dari mimpi. "Hn--" Stan terbatuk kecil membersihkan kerongkongannya yang mendadak seperti tersumbat. "Kau--gaun ini .... cocok buatmu ... " Stan berucap dengan nada yang dibuat sewajar mungkin.
Em tertawa, lalu memutar badan di tempatnya, layaknya seorang model yang sedang memamerkan busananya. Tapi yang terlihat, justru seperti seorang gadis kecil yang sedang memamerkan mainan barunya. Yang malah, semakin membuat Stan pusing tujuh keliling. "Menurutmu begitu? Haha, aku juga sangat menyukai gaun ini--," Em tersenyum manis.
Stan mengacungkan jempolnya. "Indah--"
"DIAAA!! Dia keren sekaliiii!!!" Gadis itu berjingkrat-jingkrat sambil menunjuk ke halaman depan. "Dia tamu ayahmu ya, Fair??!!"
Mary mendengus dan berpaling mengikuti arah yang ditunjuk gadis tersebut. Dia melihatnya sekarang, 'sesuatu' yang menyebabkan para wanita ini berteriak riuh. Seorang pria jangkung yang terbalut tuxedo hitam sempurna menutup pintu Ferrari perak yang terparkir melintang di depan rumah. Rambutnya yang berombak menyala kemerah-merahan di bawah siraman sinar lampu taman. Sepasang matanya tajam, jernih namun bersinar redup. Tertuju ke depan namun tidak fokus pada titik tertentu.
Mary membuka mulut perlahan-lahan, "Mars ... "