Author Topic: The Curse - Chapter Sixteen, Updated 30 Mar'13  (Read 20606 times)

Offline Winda Minsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 679
    • View Profile
Re: The Curse (Chapter Five, update 21 jan'12)
« Reply #135 on: February 05, 2012, 09:43:52 am »
Song Chapter


Hyun Bin - That Man

Han namjaga geudereul saranghamnida
(Seorang pria mencintaimu)
Geu namjaneun yolsimhi saranghamnida
(Pria itu mencintaimu dengan sepenuh hati)
Meil geurimjachorom geudereul ttara danimyo
(Setiap hari seperti bayangan yang terus mengikutimu)
Geu namjaneun useumyo ulgo issoyo
(Ketika pria itu tersenyum, ia menangis di dalam hati)
Olmana olmana do noreul
(Berapa lama lagi)
Irotge baraman bomyo honja
(Apakah aku harus melihatmu hanya sendirian)
I baramgateun sarang I gojigateun sarang
(Cinta ini seperti angin, cinta yang tidak berharga)
Gyesokheya niga nareul saranghagetni
(Jika aku terus mencoba, akankah kau mencintaiku?)
Jogeumman gakkai wa jogeumman
(Datanglah sedikit lebih dekat)
Han bal dagagamyon du bal domangganeun
(Satu langkah lebih dekat lagi)
Neul saranghaneun nal jigeumdo yope issoyo
(Aku yang mencintaimu, sekarang berada disisi mu)
Geu namja umnida
(Pria itu menangis)
Geu namjaneun songgyogi sosihamnida
(Pria itu sangat pemalu)
Geuraseo utneun bobeul bewobomnida
(Jadi dia belajar bagaimana untuk tertawa)
Chinhan chin-guegedo mothaneun yegiga maneun
(Banyak yang tidak bisa dikatakan bahkan kepada teman dekat)
Geu namja-eui maeumeun sangco tusongi
(Hati pria itu penuh dengan bekas luka)
Geureso geu namjaneun geudel neul saranghetdeyo ttokgataso
(Jadi pria itu mencintaimu karna kalian sama)
Tto hana gateun babo Tto hana gateun babo
(Hanya orang bodoh hanya orang bodoh)
Hanbon nareul anajugo gamyon andweyo
(Bisakah kamu memeluk ku sebelum kamu pergi?)
Nan sarangbatgo sipo geudeyo
(Saya ingin dicintai)
Meil sogeuroman gaseum sogeuroman
(Setiap hari di dalam hatinya, di dalam hatinya)
Sorireul jireumyo geu namjaneun oneuldo geu yope itdeyo
(Dia berteriak dan pria itu ada disismu lagi hari ini)
Geu namjaga naraneun gon anayo
(Apakah kamu tahu bahwa saya pria itu?)
Almyondoso ironeun gon anjiyo
(Kamu tidak akan bertingkah seperti ini jika kamu tahu)
Moreulloya geudaen babonikka
(Kamu tidak tahu karna kamu bodoh)
Olmana olmana do noreul
(Berapa lama lagi)
Irotge baraman bomyo honja
(Apakah aku harus melihatmu hanya sendirian)
I baramgateun sarang I gojigateun sarang
(Cinta ini seperti angin, cinta yang tidak berharga)
Gyesokheya niga nareul saranghagetni
(Jika aku terus mencoba, akankah kau mencintaiku?)
Jogeumman gakkai wa jogeumman
(Datanglah sedikit lebih dekat)
Han bal dagagamyon du bal domangganeun
(Satu langkah lebih dekat lagi)
Neul saranghaneun nal jigeumdo yope issoyo
(Aku yang mencintaimu, sekarang berada disisi mu)
Geu namja umnida
(Pria itu menangis)





CHAPTER SIX







"Bukan saatnya untuk mendalami perasaan"


Joon Sung berdalih, memutuskan kontak mata yang tercipta di antara dirinya dan Kae Bi. Dilanda keterpakuan hebat atas satu ucapan yang membuatnya harus menjawab. Ditaburi rasa pahit di dalam tenggorakan yang tercekat. Semua begitu gelap untuk ia perdalami. Bukan naif, terkadang ia juga bertanya menggema sendiri dalam diam. Mencintai? Satu bagian dari dalam diri setiap manusia yang tak pernah ia rasakan, bahkan sehalus lembut belaiannya, ia tak pernah terbayang. Di tuntut paksa untuk melakukan segalanya demi 'kebahagiaan' seseorang. Merelakan sesuatu untuk pembodohan diri sendiri. Berdayung lemah menuju muara yang tidak ada batasnya. Semua sulit. Ia bangun dari tidurnya dan segera beranjak pergi.


"Kau mencoba menghindar?" Kae Bi ikut-ikutan beranjak dari posisinya begitu melihat Joon Sung yang akan melangkah keluar dari kamar mereka. Setengah menatap dalam keadaan penuh kebimbangan. Menetralisir aliran darah yang membuncah tinggi akibat satu pernyataan yang tak tertahankan, satu ucapan yang terlontar 'menyudutkan' bagi Joon Sung dari bibirnya sendiri.


"Tidak.... Aku tidak menghindar jika rasa itu memang ada" Kae Bi menahan nafasnya dalam-dalam. Apa yang didengarnya kini membuat semuanya seakan berhenti. Deguman jantung menjadi cepat, semakin cepat kala berbalik memandang punggung tegap di hadapannya.


"Tapi untuk lebih sadar diri, aku tidak akan pernah memulainya... Ingatkan itu selalu"  


Ucapan itu bagai dakwahan untuk Kae Bi camkan baik-baik. Intonasi suara Joon Sung membuatnya meringkuk dalam kegetiran hati. Jadi apa yang dirasakan pria itu kepadanya? Sungguh, kalimat singkat yang tak mampu ia cerna dengan baik.


"Jadi benar adanya, kau memang mencintaiku?"


Semua berbisu, Joon Sung berhenti diam di depan pintu kamar yang akan ia lalui. Bibirnya di katupkan rapat-rapat. Palang hatinya sudah runtuh, mencelos seketika saat mendengar satu pertanyaan yang keluar lagi dari mulut Kae Bi. Bukan sekarang, tidak untuk saat ini seharusnya pertanyaan itu terlontar.



"Aku tidak tahu... Maaf" ia tidak akan bisa menjawab. Sekeras apapun untuk mendalami hati, ia tak akan dapat menjawabnya sekarang. Ia melirik Kae Bi sekilas, dengan kasat mata yang lamban bergerak. "Sekedar untuk kau ketahui saja, aku sangat sulit. Bahkan untuk memahami diri sendiri..." Joon Sung memejamkan mata ketika mengatakan kalimat terakhir yang baru saja di ucapkannya. Menyedihkan memang, terbelenggu beban sendiri untuk waktu yang lama. Tubuh dan jiwanya bagai tak sejalan hingga sulit untuk ia mengerti.


Kae Bi meramban dalam keterdiaman lagi. Apa yang ada di dalam benaknya menjadi terkunci untuk di tafsirkan. Balasan membingungkan dari Joon Sung membuatnya tak berkutik sedikitpun. Tidak tahu? Jawaban kebimbangan, bukan? Dalam arti sempit, seakan-akan pemuda itu juga mulai merasakan sesuatu yang berbeda. Jujur, ia benar-benar takut jikalau perasaan ini akan menjadi kenyataan. Rasa cinta yang Joon Sung berikan kepadanya akan semakin tumbuh, dan saat itulah ia harus dituntut untuk memilih.... Menangkup cinta itu dalam genggaman, untuk semua pengorbanan yang Joon Sung berikan kepadanya. Atau.... Menolak, kembali pada satu pria yang masih sangat ia cintai. Pria yang telah menanam benih dalam rahimnya. Yaitu, Lee Hyun Woo.


"Maaf... Tapi aku benar-benar tidak tahu dan... Aku tidak ingin untuk memulai.... Semua terlalu sulit. Aku tidak dapat memahami perasaanku, karna aku...." Joon Sung terhenti untuk mengucapkan kalimatnya. Semua menyesakkan untuk ia kenang lagi.


"Aku mengerti..." Kae Bi mengangguk sambil tersenyum pahit. Kini ia sadari, masa lalu yang Joon Sung alami memang benar-benar berlaku untuk kepribadian lelaki itu saat ini. "Aku maklumi untuk semua kehidupan yang kau jalani selama ini" Sebelah alis Joon Sung terangkat tinggi-tinggi. Ia rasa, bibirnya tak pernah sekalipun mencurahkan isi hati serta kesakitan yang ia rasa menjadi sebatang kara pada Kae Bi. Tapi, kenapa tiba-tiba gadis ini jadi seperti memahami? Ada yang tidak beres, ia mulai menyadari.


"Jangan salah paham. Aku tahu dari Gae In yang mendengar obrolanmu dengan Bibi Yoon" seolah-olah mengetahui apa yang Joon Sung pikirkan, Kae Bi menyanggah cepat. Sedangkan Joon Sung, masih terhenyak seorang diri.


"Aku telah mengubur dalam-dalam kenangan itu" Balas Joon Sung yang seakan tak mau terlarut. Kae Bi mendekat, berjalan pelan. Memposisikan dirinya di hadapan Joon Sung yang masih mengarah kosong ke depan, tertuju pada dinding berhias lukisan kerajaan pada jaman Yunani dahulu.

"Tapi aku bangga untuk semua kerja keras yang kau hadapi seorang diri. Do'a ku menyertai untuk kebahagiaanmu yang lebih layak lagi" Kae Bi menyungging, tersenyum simpul.


"Jangan mengungkit dan mencampuri masalah ini lebih dalam. Aku sudah mati ketika mereka mencampakanku begitu saja!" Ucap Joon Sung menggebu-gebu. Rahangnya mengeras untuk Kae Bi lihat. Rasa yang lebih-lebih dari tusukan pisau yang menembus jantungnya, muncul lagi. Memikirkan, manusia terkutuk yang tak mempunyai perasaan! Membuangnya bagai sampah bekas tak berguna. Di campakkan untuk hidup tanpa kasih sayang dan penopang, itu semua terlalu menyedihkan.


"Kau baik-baik saja, Joon Sung-ssi?" Kae Bi menerka-nerka sendiri agak takut, sambil mencondongkan kepala melihat ekspresi Joon Sung.


Alih-alih membalas tatapan Kae Bi yang kian lekat kearahnya. Joon Sung malah mengenyampingkan tubuh indah yang berdiri tepat di hadapannya itu. Mengacuhkan, berjalan lagi menuju gagang pintu yang ia tarik. Menghilang cepat, dan membuat Kae Bi terperangah sendiri. Menatap hampa kepergian Joon Sung dari hadapannya. Ia menerawang jauh pada lantai yang sekarang ini ia pijakki. Perasaan bersalah beruntun-runtun datang, gurat amarah menghias pada wajah Joon Sung tadi. Kae Bi merutuk kecil dalam hati. Ia menghela nafas dan memejamkan mata sekejap



***


Hari-hari berlalu begitu saja untuk kehidupan yang dialami Joon Sung dan Kae Bi. Sesudah kejadian itu keduanya dilanda kebisuaan ketika berada dalam satu suasana atau ruangan yang sama. Apalagi Joon Sung, Lelaki itu membeku setiap harinya. Entahlah, mencoba menghindar atau apa. Namun, kekakuan itu membuat Kae Bi merenung dalam lamunannya. Joon Sung kini lebih sering berangkat ke kantor pada pagi-pagi buta saat matahari setengah terbit dan pulang larut malam karena mengambil tugas lembur yang sebenarnya dapat ia tinggalkan. Sementara Kae Bi, kesehariannya hanya berdiam di Apartement bersama Bibi Yoon dan Gae In. Tidak banyak yang dapat di lakukan gadis itu, usia kandungannya genap satu bulan keatas dan tak pelak menambahkan rasa mual yang sering menjadi-jadi seperti pagi hari ini.



"Aku.... Hueekkk" ia membungkukan badan pada Bibi Yoon seraya berlari kecil meninggalkan ruang makan ketika dirasakannya sesuatu mendesak keluar dari perut itu. Gae In segera menopang tubuh Kae Bi, menuntunnya kearah kamar mandi. Joon Sung setengah menatap sambil bergelut pada koran paginya lagi.


"Hei Kim Joon Sung, apa yang kau lakukan disitu?! Cepat bantu isterimu" Tekan Bibi Yoon. Menjadi geram sendiri. Joon Sung mendongak lamban lalu menghela nafas. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan perlahan, menghampiri Kae Bi dan Gae In yang baru saja menyumbulkan kepala dari pintu kamar mandi.


Kae Bi berjalan tertatih dalam rangkulan Gae In. Pernafasannya menderu cepat seiring langkah yang ia tuai. Pening mulai menjalar cepat, mengingat tadi ia mengeluarkan isi perut yang begitu banyak. Sesuatu membuatnya terpenjerat seketika, sebuah cengkraman mengambil alih pergelangan tangannya dari pundak Gae In. Joon Sung kini meraih bahu ringkih itu ke dalam dekapannya. Kae Bi membisu sambil terus menatap wajah Joon Sung yang membuang pandangan ke arah lain.



"Biar aku yang mengantarnya ke kamar" Ia perlahan-lahan mengayunkan kaki seiring dengan langkah Joon Sung. Gae In mengangguk pelan dan berjalan ke ruang makan lagi membantu sang ibu.


Tak ada satu suara pun yang mendayu-dayu pada pendengaran masing-masing. Mereka saling membungkam, satu sama lain. Joon Sung mendudukkan Kae Bi perlahan di atas ranjang. Sekilas, kedua iris tajam itu menatap pekat Kae Bi dengan segala keterdiaman yang ada. Kae Bi membalasnya tak kalah dengan seksama. Membuat Joon Sung segera tersadar dengan sedikit gelagapan. Ia berbalik memunggungi Kae Bi. Melangkah lagi meninggalkan gadis itu dalam kesunyian.


"Miane..."


Joon Sung berhenti melangkah. Kae Bi masih menatap penuh harap akan tanggapan darinya. Sungguh, bukan hal ini yang ia inginkan. Kekakuan dari Joon Sung untuknya setelah mempertanyakan masalah perasaan dan seluk-beluk kehidupan Pemuda itu. Seluruh hatinya menolak akan keterpakuan dan kebisuan yang Joon Sung berikan. Ia tidak mau ini semua akan menerus, menjadi satu beban lagi untuk kehidupan yang ia jalani bersama Joon Sung.


"Maaf untuk apa?" Joon Sung merespon singkat dengan intonasi suara datar seperti biasanya


"Kesalahanku, untuk pembicaraan kita pada malam itu.... Aku---"


"Berhenti! Aku tidak tertarik untuk mengungkitnya lagi" Tekannya sedikit membuat Kae Bi terkesiap. Ia berbalik, tepat menancap pada kedua bola mata Kae Bi. Membuat gadis itu terperangah jelas.


"Aku tidak ingin... Hanya itu, aku benar-benar tidak ingin mendengarnya..." Mata sendu itu mampu membuat Kae Bi terkeluh. Joon Sung membisu seraya menatap Kae Bi dari kejauhan. "Sungguh.. Mengertilah..." Apa yang Kae Bi lihat sekarang? Ia benar-benar tak menyangka. Joon Sung melemah dan mengerjapkan mata yang mulai berkaca, ia menangis! Untuk pertama kalinya menangis di dalam penglihatannya.


"Joon Sung" Kae Bi beranjak menghampiri, ia terus mendekat. Sampai-sampai tak menyadari jarak yang ia ciptakan terlalu dekat. Wajah pemuda itu kini di tatapnya dengan jelas.


"Lelah... Aku lelah. Aku juga manusia biasa... Aku juga ingin merasakan semua yang seharusnya aku rasakan..."


"Joon Sung" Kae Bi bergumam tertahan. Membingkai wajah Joon Sung dengan kedua tangannya. Perlahan, air mata itu mulai mengalir dari kedua iris 'tajam' yang biasanya ia lihat. Tapi untuk sekarang semuanya berbeda, tak ada tatapan tajam, tak ada pandangan yang membuatnya menjadi menundukkan kepala gugup, tak ada delikan sinis yang Joon Sung berikan. Yang ada hanya tatapan sayu, tatapan lembut penuh pengharapan, mata yang seolah berkata memagut beban yang begitu lama, penuh tekanan yang tak bisa di curahkan.


"Jangan seperti ini. Maafkan aku..." Kae Bi mencondongkan tubuhnya ke arah Joon Sung. Merangkul pemuda itu ke dalam pelukannya. Tak ada kalimat apapun yang Joon Sung ucapkan setelahnya. Mereka berada dalam waktu yang cukup lama dengan posisi seperti itu. Joon Sung semakin mengeratkan pelukan itu pada Kae Bi. Untuk sekali ini saja, ia ingin telihat lemah...  Jiwa serta hatinya telah dikuras habis-habisan selama ini. Bersitegang pada kenyataan hidup pahit yang harus dijalani, ia sungguh muak! Muak dengan semua itu.


"Kae Bi-aa" Panggil Joon Sung


"Hemh"


"Bisa kau lepaskan.."


Perlahan Kae Bi menarik tubuhnya ke belakang. Kecanggungan sedikit menghinggapi manakala menatap wajah Joon Sung yang saat ini begitu melekat ke arahnya. "Apakah... Lebih baik?" Ia tersenyum sungkan, menggembungkan pipi. Seolah ingin terlihat tenang untuk pelukan yang ia buat tadi.


"Gomawo"


"Ne?"


"Terima kasih dariku" Balas Joon Sung sambil menunjukkan garis senyuman di bibirnya. Kae Bi terhenyak sesaat, melampangkan dada. Baru kali pertama baginya melihat Joon Sung tersenyum seperti itu. Entahlah, hanya sebuah senyuman sederhana tetapi mempunyai daya pikat tersendiri. Hingga debaran kecil itu mencela di hatinya. Debaran yang tak pernah ia rasakan.



***


"Jadi, informasi apa yang kau dapatkan?"


Lelaki berjas hitam itu menatap tegap ke arah Hyun Woo. Melihat sang majikan yang kini menatapnya dengan raut wajah serius, tidak seperti biasa yang akan terlihat santai sambil bersendau gurau di atas sofa.


"Hei! Cepat katakan! Jangan membuatku lama menunggu!" Ucapan lantang Hyun Woo sekarang membuatnya sedikit bergetar.


"Miane Sajangnim---"


"Cepat katakan!" Tanpa memberi jeda kepada orang suruhannya itu. Hyun Woo terus menatap tajam dan mendesak. Ia benci di permainkan dan di buat menunggu lama hanya karna lamunan bodoh lelaki di hadapannya ini


"Goo Kae Bi kini tidak tinggal di Goo Mansion lagi, Sajangnim. Ia menetap bersama suaminya di salah satu Apartement kecil" Tutur lelaki beparas 'keras' itu. Takut-takut berbuat salah lagi, kali ini ia memasang telinganya untuk mendengarkan respon dari Hyun Woo.


"Mereka tinggal bersama?" Seperti orang bodoh Hyun Woo bertanya sendiri. Sulit dipercaya, apa benar Kae Bi telah melupakannya secepat itu? Jadi perasaan apa yang Kae Bi berikan untuknya selama ini? Cambukan kecil semakin menghinggap, membuat emosinya mencuat tinggi.


"Ne, Sajangnim?" Tanya ulang lelaki tadi, ia sedikt kebingungan akan reaksi majikannya itu.


"Heh, dia mempermainkanku!" Tandasnya sinis sambil mengepal sealiran perasaan yang membuat hatinya jadi remuk sendiri. Menerawang dalam diam, menyikapi perasaan yang kian tidak menentu.


"Sajangnim--"


"Beri tahu aku alamatnya dan siapkan mobil sekarang juga!" Hyun Woo mengambil langkah panjang, meninggalkan lelaki tadi seorang diri dalam ruang kerjanya. Ia terus berjalan tanpa mengalihkan pandangan ke arah lain. Tetap bertahan dalam ketajaman penglihatan serta wajah 'angkuh' yang di tunjukkannya ketika beberapa pelayan membungkukan badan ke arahnya.


"Sial! Kenapa jadi menyebalkan begini! Kau benar-benar mempermainkanku, Goo Kae Bi!!!" Ia berdecak pinggang sambil mematut diri dalam cermin besar yang berada di dalam kamar megahnya. Hembusan nafas menjadi menderu cepat. Hyun Woo berkeras hati pada perasaannya.


"Kau berhutang penjelasan kepadaku, Kae Bi-ssi!!!"



***



"Kenapa sepi sekali? Dimana Bibi Yoon dan Gae In?" Kae Bi menyumbulkan kepalanya dari balik pintu kamar. Berpencar pandangan menatap setiap ruang di dalam Apartement itu.


"Ini hari minggu, aku meliburkan mereka setiap hari ini" Jawab Joon Sung yang tengah berkutat sendiri pada buku bercetak tebal di atas sofa. Ia tak beralih sedikit pun ketika membalas pertanyaan Kae Bi tadi.


"Oh begitu..." Tanggap Kae Bi lesuh, sambil berdiam tanpa ekspresi.


"Kau merasa bosan?"


"Dhe?"


"Jika kau merasa bosan, aku akan mengajakmu pergi" Balas Joon Sung yang kini berdiri dari duduknya. Menatap Kae Bi yang tengah melihat jenuh seisi ruangan kecil itu. Ia bisa merasakan, ada yang berbeda dari wanita itu. Entahlah, tapi yang pasti ia harus menggaris bawahi jika Kae Bi adalah wanita dengan ketergantungan perasaan yang sangat peka.


"Kae Bi-aa?" Joon Sung mengeluarkan suara lagi.


"Aku tidak tertarik Joon Sung-ssi. Biarkan aku berdiam di kamar seharian ini" Tolaknya halus, ia tersenyum ala kadarnya bersiap meraih handle pintu.


"Kau tidak tertarik jika kita akan pergi ke toko perlatan bayi?"


"Mwoga?"


"Perlukah aku mengulangnya?"


Kae Bi terdiam, menghentikan gerakan. Memandang Joon Sung pekat seolah memberi tanda tanya besar. Pembodohan apalagi yang akan di lakukan pemudan ini? Ia semakin kalut sendiri dengan pikirannya tanpa mengindakan Joon Sung yang tangah menanti jawaban untuk ajakan yang dibuat tadi. Sejumput ketakutan menjadi bumerang baginya kali ini, Debaran itu jelas-jelas menjadi nyata untuk ia rasakan.


"Kenapa kau jadi terlihat dungu seperti itu?"


"Mwo?!" Ucapan tadi tak elak membuat angin bergilir datang menghampiri dan menyadarkan semuanya.


"Lupakan. Cepat bergegaslah. Aku menunggu..."



"Tuhan, kau lihat itu. Apa yang aku rasakan kini kian menjadi? Ada apa ini... Aku tidak pernah merasakan sesulit seperti ini saat bersama Hyun Woo. Aku takut... Aku benar-benar takut akan hal yang aku alami bersamanya. Hyun Woo... Aku mohon, datanglah... Cegahlah sebelum rasaku ini semakin bertambah. Datanglah sebelum aku dan Joon Sung di takdirkan untuk menggapai perasaan kami masing-masing... Aku mohon..."


Perlahan Kae Bi mengangguk pelan di hadapan Joon Sung. Kali ini ia menutup pintu kamar itu rapat-rapat. Menghilangkan sosok Joon Sung yang tadi menghias dalam iris matanya.



***


"Ayo masuk"


Langkah Kae Bi seketika memendat. Ia berdiri kaku di depan pintu toko besar yang menjual semua peralatan bayi. Corak warna toko yang berdesign merah muda dan biru awan membuatnya membeku. Di tambah lagi saat beberapa boneka Teddy Bear menghias di kaca etalase toko. Ia terhenyak sesaat. Menjadi seorang ibu itu bagi sebagian orang sangat indah. Memulai kehidupan baru dengan sesosok bayi mungil yang begitu lucu. Tapi, untuknya? Apakah semua itu bisa ia rasakan juga?


"Kau terlalu banyak melamun untuk hari ini" Kae Bi tergesa-gesa menyadarkan diri oleh suara parau berupa bisikan.


"Anhiyo. Hanya saja, apakah tidak terlalu cepat untuk membeli semua peralatan ini? Usia kandunganku baru sebulan lebih, Joon Sung-ssi. Lagi pula, ibu berjanji akan mengirimkan peralatan bayi lengkap saat usia kandunganku genap menginjak lima bulan mendatang" Elak Kae Bi meyakinkan Joon Sung


"Tidak ada salahnya kan sesekali menyenangkan dia? Setidaknya perhatianmu tercurah untuknya saat memilih baju-baju atau peralatan lainnya di toko ini"


"Maksudmu?"


"Aku hanya ingin melihatmu menjadi sesosok ibu yang baik"


Ucapan itu membuat Kae Bi terperangah sesaat. Ia dihentak sebagian perasaan yang begitu menyakitkan. Akankah bisa seperti itu? Menjadi ibu yang baik untuk bayinya bersama Hyun Woo? Mengingat ia ingin mati saja untuk satu kesalahan yang menghancurkannya kini.


"Selamat siang Agashi"


Seorang pelayan wanita tersenyum ramah. Ia membungkukan badannya kepada Kae Bi, lalu setelahnya merentangkan tangan memberikan akses jalan untuk kedatangan gadis itu. Kae Bi membalas senyuman pelayan itu tak kalah ramah, ia bersemi cantik membuat semua orang di sekitarnya ikut memperhatikan.


"Apa yang mereka lihat?" Joon Sung begumam pelan seraya mengimbangi langkah Kae Bi yang telah mendahuluinya. Kini mereka berjalan saling berdampingan.


"Jika ada yang kau sukai, pilihlah. Aku tidak akan melarang sebanyak apapun itu"


"Joon Sung ini terlalu berlebihan" Sanggah Kae Bi cepat


"Anggap saja hadiah dariku untuknya"


Dengan dituntun satu pelayan menjuru ke se-isi ruangan toko, Joon Sung dan Kae Bi menyematkan langkah mereka berkeliling dan memilih barang-barang ringan. Baju bayi yang lucu-lucu dengan bentuk yang menggemaskan membuat Kae Bi tidak berhenti tersenyum atau sekedar menyunggingkan bibir tipis saat pelayan toko menjelaskan apa-apa saja bahan pokok utama yang ia butuhkan saat bayinya lahir nanti. Ia mulai menyukai aktifitas ini, apalagi saat memilih beberapa lusin pakaian tidur dan kelambu putih


"Bagaimana kalau kulitnya tidak peka pada bahan ini?" Ujarnya sambil memilin sebuah baju tidur bayi bewarna keunguan.


"Kami menjamin Agashi. Bahan-bahan baju bayi yang kami buat disini di pilih dari sutera lembut dan berkualitas" Jawab sopan pelayan itu dengan senyuman. Kae Bi mengangguk perlahan sambil melirik beberapa model berbeda dari piama tidur tadi. Joon Sung menyunggingkan senyumnya sekilas, memandang Kae Bi yang kini sibuk sendiri dengan baju-baju bayi yang di suguhkan pelayan itu. Ia melipat kedua tangan di dada sambil terus mengamati


"Apa menurutmu kita harus membelinya juga, Joon Sung-ssi?" Seru Kae Bi yang membuat Joon Sung tersadar dari lamunan berkepanjangannya. Ia terlihat menghernyitkan dahi melihat sikap Joon Sung tadi.


"Ada apa?"


"Tidak ada apa-apa. Ne, ambilah. Kita juga perlu membelikannya baju hangat saat musim dingin" Sambar Joon Sung, ia mengayunkan langkah kepada Kae Bi. "Sudah kau dapatkan piama mana yang kau sukai?" Lanjutnya lagi.


"Ini lucu sekali..." Joon Sung mengambil salah satu piama bayi yang di pilih Kae Bi tadi. Baju panjang beserta celananya, berpola gambar kepala beruang dengan sarung tangan mungil. Ia menunjukkan seulas senyumnya sambil mengelus lembut piama itu.


"Ne... Itu sangat lucu" Timpal Kae Bi memandang Joon Sung yang kian menyulitkan perasaannya. Ia tersenyum pahit, berdusta kecil.


"Doronim... Agashi..." Joon Sung dan Kae Bi saling mengalihkan pandangan ke arah pelayan toko yang sedari tadi melayani serta menemani mereka berkeliling. Pelayan itu tersenyum sungkan kepada keduanya, lalu berkata.


"Saya turut bahagia untuk menjelang kelahiran bayi kalian nanti. Semoga apa yang Doronim dan Agashi harapkan pada kelahiran anak kalian, dapat terwujud dengan baik"


Mereka saling terdiam. Menghilangkan senyuman yang tadi menyungging di bibir masing-masing. Hati keduanya sama-sama mencelos, kecanggungan datang tanpa permisi. Menyulut keterdiaman berkelanjutan di antara mereka. Memang, andai saja Joon Sung dan Kae Bi adalah kedua orang tua utuh dari calon bayi itu, mungkin tidak akan ada suasana yang tercipta seperti sekarang ini.


"Doronim... Agashi... Kalian tidak apa? Mi... Mianhamnida, apa saya salah berbicara?" Tanya pelayan itu, menerka sekaligus menjadi ketakutan sendiri. Ia mengharap jawaban yang keluar dari bibir Joon Sung dan Kae Bi.


"Anhiyo. Terima Kasih atas ucapannya" Kae Bi segera menempali. Ia tersenyum cantik seraya membungkukan badan, dengan rasa hormat tinggi. Joon Sung turut mengimbangi dengan memberi senyuman kecil. Sudah berapa kali ia tersenyum hari ini? Seorang Kim Joon Sung tersenyum di khalayak ramai, siapa yang membuatnya menjadi seperti itu.



***


"Kau lelah?"



"Tidak sama sekali. Banyak kesan untuk hari ini, Gomawo"


Kae Bi tersenyum kepada Joon Sung yang kini berada di sisinya. Lalu, menundukkan kepala sejenak sambil menyusuri lagi koridor Apartement yang sepi tak berpenghuni itu. Joon Sung berpaling sambil mengeratkan jinjingan kantong belanjaan tadi. Keduanya saling menerawang dalam diam. Menelusuri langit-langit koridor dengan penjabaran pemikiran mereka yang berbeda-beda.


"Kae Bi-aa"


Panggilan itu membuat Kae Bi berhenti melangkah. Tepat dimana pintu Apartement Joon Sung berada, sesosok pria berdiri tepat di hadapannya dengan paras wajah yang tak asing untuk ia kenal. Pria yang selama ini ia cari... Pria yang menghilang di dalam kehidupannya begitu saja... Pria yang kini mengandung benih di dalam rahimnya. Lutut Kae Bi seakan lemah seketika, ia tak mampu menopang segala berat yang ada di tubuhnya.


"Hyun Woo....." Bisiknya pelan dengan mata berbinar yang mulai memerah. Menyanggah hati untuk tetap bertahan agar tidak runtuh lagi. Apa yang dilihatnya kini nyata, bukan bayang semu semata. Lelaki yang amat ia rindukan itu kini berada dalam penglihatannya.


"Hyun... Woo" Tenggorokannya lagi-lagi tercekat. Suara lemahnya terdengar begitu perih bagai mengoyak perasaan.


"Kae Bi-aa, ini aku. Ini aku sayang..."


Ucapan itu semakin nyata untuk didengarnya. Kae Bi menangis, menangkup kedua tangan ke arah bibirnya yang terkatup rapat-rapat. Ia ingin melangkah.... Menghampiri Hyun Woo yang kini tengah tersenyum ke arahnya. Tapi, seakan tak sesuai laras. Kakinya seolah lumpuh sesaat... Satu dari sekian besar kalbu yang menyerang, mencegahnya untuk tetap bertahan.


"Kae Bi-aa" Panggilang lain menyadarkannya dalam kebimbangan.


"Joon Sung...." Balas Kae Bi yang menancapkan keua bola matanya tepat ke arah iris mata Joon Sung. Pandangan mereka bertemu seketika. Jiwa yang kini bertaut menjadi satu. Jantung mereka berdetak cepat seakan bertalu-talu.


"Selesaikan semuanya" Joon Sung mempertajam tatapannya. Membuat Kae Bi tidak sedikitpun terusik oleh lelaki yang kini berada di hadapan mereka. Kalimat yang terlontar tadi, seakan bagai gerbang penutup. Sebagian harapan sirna, terbang jauh entah kemana. Joon Sung dihantui dilema lagi. Apakah secepat ini? Secepat ini ia harus melepaskan Kae Bi?


"Kae Bi-aa, kita perlu bicara" Hyun Woo berucap lagi. Berpandang kepada Joon Sung dengan tatapan menusuk. Keduanya kini saling mematut diri, melihat satu sama lain dengan mulut membisu.


"Jelaskan semuanya. Aku akan pergi sekarang" Joon Sung menatap Kae Bi lagi, menghela nafas setelah mengucapkan satu kalimat tadi. Ia harus berperang pada hati yang kian menyesakkan. Iya, kenapa semua menjadi begitu menyesakkan untuknya! Di rangkai dalam keadaan seperti ini, benar-benar membuatnya tidak bisa berkutik.


"Tapi... Joon Sung-ssi" Cegahan Kae Bi membuat niatnya beranjak dari tempat itu terhenti. "Kau akan menemaniku, bukan? Membantuku untuk menjelaskan semua?" Joon Sung tertegun sesaat. Ia melerai pelan tangan Kae Bi yang bertopang pada pergelangan tangannya.


"Tidak. Aku tidak berhak mencampuri urusanmu lebih dalam, Kae Bi-aa. Jelaskanlah semuanya... Aku akan menunggu di dalam..." Joon Sung mengayunkan langkah kaki perlahan. Meninggalkan Kae Bi dalam keterpakuan sesaat. Ia beralih pada Hyun Woo, pria yang sedari tadi mengamatinya tanpa henti. Joon Sung membalas dengan tatapan datar, membungkukan badan dalam diam. Lalu menghilang dibalik pintu Apartementnya.



***


"Kae Bi-aa aku...." Hyun Woo menghampiri Kae Bi. Menuntun langkahnya dalam balutan senyuman yang tercurah. "Aku merindukanmu..." Bisiknya pelan, menghantarkan tubuh mungil yang masih membeku itu kedalam pelukannya.


"Kenapa Hyun Woo-ssi... Kenapa kau baru kembali dalam keadaan seperti ini..." Isakan Kae Bi menggema, gadis itu menangis tertahan. Membuat Hyun Woo semakin merengkuhnya erat. Pria itu meneguk aroma tubuh Kae Bi dalam-dalam. Ada perasaan rindu disana, sesuatu yang Hyun Woo tidak sadari.


"Miane, Kae Bi-aa"


"Aku terpuruk sendiri, Hyun Woo! Aku begitu tersiksa sendiri disini!" Kae Bi memukul keras dada bidang Hyun Woo, meluapkan amarahnya yang meletup. Dengan diiringi tangis dan isakan, ia kerahkan seluruh tenaganya untuk kembali memukul cepat dada Hyun Woo.


"Maafkan aku sayang... Hei, berhentilah menangis. Aku mohon...." Hyun Woo mengelus pelan puncuk kepala Kae Bi. Di jamahnya rambut panjang kecoklatan itu dengan sayang. Ia tersenyum manakala di rasakannya Kae Bi membalas pelukannya.


"Sekarang...." Ia beralih, merenggangkan pelukannya pada Kae Bi. Membuat gadis itu ikut melepaskan tautan tangannya yang mengungkung pinggang Hyun Woo tadi.


"Bisa kau jelaskan siapa lelaki tadi, hemh?" Ia menangkup wajah Kae Bi dengan kedua tangannya. Membelai perlahan pipi lembut itu dengan segala kekuasaannya. Ya, Lee Hyun Woo akan selalu menganggap Goo Kae Bi adalah miliknya secara utuh. Gadis itu adalah 'buruan'nya untuk membalaskan dendam.


"Dia... Emh, dia Kim Joon Sung. Dia suamiku" Jawab Kae Bi tersendat ketakutan. Ia menundukkan kepala dalam-dalam. Hyun Woo menyeringai kecil tanpa sepengetahuannya. Tersenyum seperti iblis, tertuju tajam pada Kae Bi.


"Kau...?" Ia mengenakan topengnya lagi saat Kae Bi mendongakkan kepala mendengar ucapannya.


"Aku bisa jelaskan. Sungguh, bukan seperti itu"


"Baiklah... Aku harap semua itu tidak menyakitkan untukku, Kae Bi-aa. Kau tahu, bukan? Aku paling benci di permainkan..."



***


Joon Sung mengerjapkan mata berulang kali dalam diam. Sudah hampir satu setengah jam dia bertahan pada posisi seperti itu. Deraian berbagai ketakutan menyelimuti, entah ketakutan apa yang ia rasakan kini. Yang jelas-jelas membuatnya terlihat seperti manusia bodoh, melirik berkali-kali dalam selingan menit ke arah pintu kokoh yang tertutup rapat. Ia menopang kedua siku tangannya di atas kedua lutut kaki. Terus terpaku pada hamparan pemandangan kota seoul dari luar jendela kacanya.


"Joon Sung" Ia menoleh cepat dan segera beranjak, berdiri tegap ke arah Kae Bi yang tengah melangkah menghampiri.


"Kae Bi" Panggil Joon Sung. Keduanya sama-sama terdiam dalam kejauhan. Kasat mata Kae Bi tak mempu di terkanya, gadis itu memagut sepi dan justru membuat Joon Sung semakin di landa kegalauan.


"Apa kau akan melepaskanku?"


Joon Sung tahu apa arti dibalik pertanyaan Kae Bi. Sedikit dari apa yang akan terjadi setelah ini ia sudah bisa menerka. Hatinya membeku, tercabik perih untuk sesuatu yang ia tidak ketahui. Inikah saatnya? Mengakhir semua... Semua yang telah ia raih untuk melindungi Kae Bi dalam genggamannya. Segala yang menyiksa dan juga membuatnya bahagia sekejap, harus terhapus begitu saja.


"Aku sudah berjanji. Dan lagi, tidak ada sesuatu yang mengharuskanmu untuk bertahan bersamaku" Ucap Joon Sung, menatap teduh ke arah Kae Bi.


"Tapi---"


"Dia mau bertanggung jawab, bukan?"


"Ne" Angguk Kae Bi, yang nyata-nyata semakin membuat Joon Sung meringis perih.


"Dia menyuruhku untuk menetap tinggal di rumahnya" Joon Sung tak berdaya lebih, ia bungkam. Apa yang harus ia cegah?! Hal apa yang dapat membuat Kae Bi untuk bertahan bersamanya! Kegilaan di balik pertanyaan-pertanyaan itu muncul di dalam pikiran Joon Sung. Untuk sesuatu yang benar-benar membuatnya menyedihkan seperti ini.



"Beri aku satu kepastian... Beri aku satu keyakinan... Apapun yang bisa membuatmu untuk bertahan bersamaku... Alasan apapun yang bisa membuatku untuk menggenggammu selama-lamanya. Aku mohon..."


"Pergilah..."



***


Kae Bi menarik kopernya keluar dari kamar. Ia berjalan pelan dalam langkah kecil yang begitu lemah. Menatap pria yang kini membujur kaku, memunggunginya. Ia terhenyak sesaat. Benarkah tak ada keyakinan apapun yang akan ia ucapkan kepada Joon Sung? Walau rasanya hati ingin berbicara, namun sulit. Ia juga tidak tahu, dan lebih tepatnya tidak ingin tahu perasaan apa yang kini bersarang di dalam hatinya.


"Aku pamit Joon Sung-ssi" Gumamnya seperti berberat hati.


"Surat perceraiannya akan segera ku buat"


"Joon Sung. Aku... Aku tidak ingin perpisahan seperti ini" Kae Bi terisak pelan, ia mulai menangis dalam diam


"Lalu kau ingin seperti apa, Goo Kae Bi? Pada kenyataannya kau dan aku... Sangat jauh berbeda" Suara lemah Joon Sung menghentikan semuanya. Apa yang Joon Sung ucapkan, mendengung dalam telinga Kae Bi. Hingga, membuat gadis itu perlahan menghampiri Joon Sung. Sudah cukup! Ia tidak ingin tersiksa seperti ini!


"Jangan mendekat! Aku tidak ingin seinci tubuhmu itu menyentuhku! Aku tidak ingin perasaan terkutuk ini semakin menjalar! Aku pria dingin Kae Bi-aa. Pria yang tak akan pernah memberimu sebuah kebahagiaan, karna aku tidak pernah tahu apa itu cinta..."


"Aku mohon jangan menghindar Joon Sung-ssi. Sekali ini, aku benar-benar ingin memastikannya... Aku benar-benar ingin tahu kesungguhan akan perasaanmu kepadaku... Jangan membuatku tersiksa, jangan membuatku ditaburi dilema..."


Kae Bi menangkup wajah Joon Sung dengan kedua tangannya. Ia memejamkan mata perlahan, menuntun bibir kecilnya menghinggap kedalam bibir Joon Sung yang lebih padat. Kae Bi mengecupnya sesaat. Membuat Joon Sung membelakan mata lebar-lebar. Aliran darah menjalar bagai sengatan listrik, seakan-akan menciptakan sisi agresif pada dirinya muncul. Lumatan panas itu datang tanpa bisa dihindari, Joon Sung kalah telak dengan keteguhan hatinya. Disuguhi bibir wanita yang ia cintai, siapa yang bisa menghindar? Berlomba-lomba dengan hati, merasakan sebuah sentuhan sayang yang tak pernah ia bayangkan.


"Pergilah... Aku mohon pergilah..."


Ciuman itu terhenti, saat Kae Bi mencoba membalas setiap lumatan yang Joon Sung berikan di bibirnya. Ia membuka kedua bola mata perlahan, melihat pria yang kini menyambutnya dengan pandangan setajam elang.


"Jangan membuatku gila, Kae Bi-aa. Aku dituntut sesuatu yang menyiksakan selama ini!"


"Baiklah.... Jika memang itu yang kau rasakan.... Terima kasih untuk segalanya, Joon Sung-ssi... Aku pamit, selamat tinggal..." Ia berjalan, menyeret koper hitam besar dengan pandangan kosong. Kae Bi memasrahkan diri, hingga air matanya mengalir tanpa di sadari. Sakit, ia benar-benar sekarat akan perasaan yang kian membucah di hati.


"Jika kita di pertemukan lebih dahulu... Mungkin rasa ini tidak akan terlambat untuk hinggap di hatiku, Joon Sung-ssi" Bisik Kae Bi yang kini menghentikan langkahnya. Kenapa Joon Sung tidak mencegahnya pergi!? Ada apa dengan semua ini, kenapa ia jadi berharap lebih! Sebenernya apa yang ia inginkan! Sungguh, takdir seakan mempermainkannya saat ini.


Ia setengah menatap Joon Sung yang kini hanya berdiam membeku. Sekilas melirik lewat iris matanya. Inikah akhirnya? Perpisahan yang tidak ia inginkan sama sekali! Perpisahan yang membuat dirinya dan Joon Sung terlahir kembali untuk tidak saling mengenal satu sama lain? Perpisahan yang melepaskan ikatan dirinya bersama Joon Sung.


"Aku mencintaimu Kim Joon Sung! Oh tuhan, Kenapa aku menjadi seegois seperti ini!? Aku tidak menginginkan semua ini! Aku... Aku benar-benar terbebani. Bantulah aku... Bantulah aku lagi seperti dahulu... Ketika kau menjadikan tubuhmu sebagai sanggahankku... Ketika aku terpuruk, kau menopangku dalam lindunganmu"



"Satu kebodohanku untuk merelakan diri dalam pagutan semu... Satu keikhlasanku menjalar kala melihatmu yang tengah terpuruk.. Dan satu perasaan ini, perasaan yang tidak mudah untuk aku gapai. Maafkan aku..."



***


"Semua sudah terkendali" Hyun Woo melirik lagi kaca spion mobilnya, bersigap jika Kae Bi datang secara tiba-tiba.


"Kau akan membunuhnya sekarang, bukan? Puteri Goo itu harus di enyahkan segera!" Balas suara di sebrang sana, begitu gencar menekan.


"Tapi Ayah---"


"Bunuh dia didepan Ayah atau... Kau mau bila Ayah yang membunuhnya di depan kedua matamu, Lee Hyun Woo..." Nada berupa ancaman itu terdengar dingin. Membuat Hyun Woo membelakan mata lebar-lebar


"Ayah, berilah aku waktu"


"Jangan bilang bahwa kau mencintai puteri Goo itu! Kau tahu apa hukumannya untuk pengkhianat!?"


"Ayah--"


"Pelabuhan Dong Shan! Aku menunggu disana. Ingat Lee Hyun Woo, Bunuh dia didepan penglihatanku!"


Sambungan telepon itu teputus secara sepihak. Hyun Woo menampar gagang stir mobilnya secara kasar. Memaki sendiri untuk kepulangan sang Ayah yang secepat ini. Jika sudah begitu, ia tak bisa berkutik. Lee Joon Shik-- sang Ayah, Pria yang ia kenal akan membunuh siapa saja yang mengkhianatinya, pria dengan 'tangan dingin' yang merubah Hyun Woo menjadi pribadi seperti sekarang ini, pria berambisi tinggi dan tentu saja akan melakukan apapun... Apapun yang bisa membuatnya membalaskan dendam.


***[/font]
[/size]






END CHAPTER
« Last Edit: April 07, 2012, 01:16:46 pm by Winda Minsun »

[lovestruck] and in another life, we believe... love never die [lovestruck]