Author Topic: I CAN’T CALM MY HEART ″ending super LONG″  (Read 38157 times)

Offline Cud na

  • Junior
  • **
  • Posts: 100
  • Love Minsun
    • View Profile
I CAN’T CALM MY HEART


Preview Chapter 13

Junpyo :   ”Andwe... katakan ini bohong kan? Kau hanya pura-pura bersikap seperti ini padaku? Benarkan?”

Jandi :      ”Lepaskan! Apa yang kau lakukan?”

Jandi mendorong tubuh junpyo kuat, lagi-lagi pelukannya terlepas.

Jandi :      ”Kau lihat, orang-orang disana akan melihat kita.”

Junpyo :   ”PERSETAN DENGAN SEMUA ITU.” membentak keras, ia mulai brutal, seperti junpyo yang sebenarnya.


Benar saja, suara junpyo berhasil memancing beberapa pasang mata mengarah pada mereka, sebagian mulai berbisik-bisik. Membuat jandi semakin kesal, tanpa perduli dengan kemarahan junpyo, ia langsung pergi dari sana. Tapi lagi-lagi junpyo mengejarnya, dan saat itu juga beberapa orang berjas hitam mulai mendekati mereka. Junpyo terlihat bingung dengan orang-orang ini, bukannya dia takut, tapi dia tidak mengerti kenapa mereka membungkuk pada jandi. Ia hanya bingung sejak kapan istrinya itu didampingi bodyguard?

Sementara junpyo hanya terdiam bingung dengan kondisi ini, ia tidak mengerti. Sungguh ia ingin sekali menghajar semua bodyguard itu, tapi mendadak ragu saat mendapati jandi pergi sambil terus menatapnya. Tatapan yang memohon agar junpyo meredam emosinya.


Chapter 14  ( ENDING )


               
PART 1


Malam itu, jandi pulang dengan wajah murung. Tertunduk layu dan kelelahan dengan langkah berirama. Pikirannya melayang pada sesosok pria yang tak mampu ia lupakan sekejap pun, sama sekali tidak berharap pertemuan dengannya dalam keadaan seperti itu. Energinya hilang saat membayangkan sikapnya, tadi itu bukanlah ketulusan hatinya. Mengejuti junpyo dengan cara seperti itu, tak pernah terfikir olehnya.

Tapi tiba-tiba langkah gontai jandi terhenti -disertai buyarnya lamunan, pandangan yang dari tadi nanar menatap lantai kini menangkap sepasang kaki berdiri di hadapannya dalam jarak yang sangat dekat. Perlahan jandi mengangkat kepalanya.... senyum hangat ommanya menyambut dengan antusias, seakan telah menanti sejak tadi.

Jandi :      ”Omma?” bersikap seolah tak terjadi apapun barusan.

Omma :   ”Kau sudah pulang.. bagaimana pestanya? Berjalan lancar?” sebenarnya ia hanya memastikan semuanya baik-baik saja, tapi wajah murung yang berusaha jandi sembunyikan itu sudah menjelaskan semuanya.
 
Jandi :      ”Ne, acaranya sudah selesai, Rumah Sakit itu sangat besar dan bagus.”  tersenyum tipis, juga tidak berani berlama-lama membalas tatapan ommanya.

Omma :   ”Kau baik-baik saja?” dengan tatapan menyidik.

Jandi meyakini ada maksud tersirat dari pertanyaan itu, ia tidak berani berbohong, hanya bisa menghindar sakin takutnya ommanya segera tahu kalau tadi dia bertemu dengan Goo Jun Pyo.

Jandi :      ”Gwenchana. Omma, Appa sudah tidur?” mengalihkan pembicaraan.

Omma :   ”Sepertinya belum. Kau ingin melihat appa?”

Jandi :      ”Ne.”

Jandi buru-buru pergi dari sana, langsung menuju kamar Mr.Geum tanpa tahu pandangan curiga ommanya terus mengekori hingga ia berlalu. Dalam hatinya, Mrs.Geum menebak-nebak apa yang sudah terjadi. Bahkan ia tak menghiraukan seorang pelayan yang lewat di depannya, bagai manusia transparan yang memandang bingung pada nyonya-nya.

Pelayan :   ”Nyonya, anda baik-baik saja?” tanyanya ragu, sukses membuat lamunan Mrs.geum buyar.

Mrs.Geum  :   ”Ah, ne. Gwenchana.”

Meski sedikit penasaran, pelayan itu pun tak berani mengganggu. Ia membungkuk untuk kemudian pergi, tapi Mrs.Geum menghentikannya.
 
Mrs.Geum :   “Tunggu dulu!”

Pelayan itu kembali menoleh pada Mrs.Geum yang seperti baru mengingat sesuatu.

Pelayan :   “Anda perlu sesuatu nyonya?”

Mrs.Geum :   ”Kepala Pelayan Joo... dimana dia?”

Pelayan :   ”Dia masih di depan, nyonya ingin saya memanggilnya?”

Sekilas Mrs.Geum menoleh ke lantai atas -dimana jandi dan suaminya sekarang berada- seperti mempertimbangkan sesuatu.

Mrs.Geum :   ”Ah, Tidak usah. Biar saya yang kesana.”

Pelayan :   ”Baik Nyonya, saya permisi.” sekali lagi membungkuk, dan pergi.

Mrs.Geum langsung menuju pintu utama untuk mencari kepala pelayan Joo.




--------------------------------------------




Di dalam kamar, terlihat jandi sedang memeluk Mr.Geum yang tubuhnya tersandar di bantal, di hadapannya televisi masih menyala. Mr.Geum masih belum bisa berbicara, tapi tatapannya seolah menyimak pembicaraan orang lain. Jandi mengenggam tangan appanya erat-erat -dengan penuh rasa bersalah, sorot mata gadis itu terlihat sedih meski ia berusaha menutupinya.

Jandi :   ”Kenapa appa belum tidur?” tanyanya pelan.

Betapa senangnya jandi ketika appanya merespon pertanyaan, meskipun hanya sebuah lirikan yang tertuju pada televisi.

Jandi :   ”Omma memaksa appa menonton ini?” setelah berusaha keras menahan air mata, akhirnya secara alami jandi tertawa.

Dasar canggih, sejak kapan Mr.Geum dipaksa menonton acara musik remaja.....

Jandi :   ”Appa pasti sangat bosan, bagaimana kalau kita menghirup udara segar di luar, Appa setuju kan?” tanyanya antusias.

Dengan bersusah payah, akhirnya jandi berhasil memapah mr.Geum untuk duduk di kursi roda, kemudian mendorongnya ke balkon. Dari sana, angin terasa berhembus sejuk... Suhu yang hangat membuat udara terasa lebih segar. Jutaan bintang di langit berhamburan indah dengan pancaran cahayanya masing-masing, mereka berkelap-kelip seakan mengobrol bersahut-sahutan, membuat malam terasa tak sesunyi kenyataannya.

Saat itu jandi berlutut di hadapan appanya, membalas sorot mata Mr.Geum yang sendu seakan dapat membaca suasana hati jandi yang sedih. Gadis itu menggenggam tangannya, terasa kaku. Sudah sejak tadi ia menahan tangis, mendapati kondisi Mr.Geum yang membuat hatinya nyeri. Dulu, appannya yang keras kepala ini selalu memaksanya melakukan ini dan itu, yang selalu diawali dengan bantahan jandi tanpa mengetahui kebaikan di balik itu semua. Tapi lihat sekarang, ia bahkan tak dapat mengangkat jari telunjuknya, ini semakin membuat jandi merasa bersalah. Bagaimana ia bisa mengatakan dirinya terluka karena berpisah dengan junpyo, sementara appanya masih semenderita ini akibat konflik rumah tangga mereka. Semakin jandi merindukan junpyo, semakin menyesakkan dada saat melihat appanya seperti ini.

Jandi :   ”Appa, apa yang bisa ku lakukan hanyalah memohon padamu untuk segera sembuh. Maafkan aku appa....” kali ini setitik air matanya menetes, jandi langsung tertunduk.



----------------------------------------------------



Di sisi lain, Mrs,Geum menemui kepala pelayan Joo yang tadi mengekori jandi ke pesta. Lelaki itu langsung membungkuk saat nyonya-nya menghampiri.

Kepala Pelayan Joo :   ”Nyonya.”

Mrs.Geum :   ”Apa yang terjadi?” tanyanya serius.

KP.Joo :   ”Tadi Nona bertemu dengan Presdir Goo.” jawabnya ragu.

Mrs. Geum :   ”Aku sudah menduganya..”

KP.Joo :   “Tapi tidak terjadi hal yang serius Nyonya. Mohon anda jangan khawatir.”

Mrs. Geum :   ”Untuk itu aku menyuruhmu menjaganya. Kalian harus lebih hati-hati setelah ini.”

KP.Joo :   ”Saya mengerti nyonya.” membungkuk lagi.

Omma jandi menghela nafas berat, sepertinya ia terlihat sedih.




--------------------------------------------------




Di Tempat yang berbeda,



Suara dentuman musik terasa memekakkan telinga, tapi orang-orang disini justru menikmatinya. Ke-empat pria tampan itu duduk santai, dengan botol-botol minuman berserakan di atas meja.


Yijung :   ”Aku pikir kau tidak minum lagi. Kelakuanmu menjadi aneh sejak pulang dari Boston.”

Junpyo :   ”Karena otak ku tidak bekerja makanya aku minum.” jawabnya acuh, sambil menuang air ke gelas untuk kesekian kalinya, meneguk sampai habis dalam sekali teguk.

Woobin :   ”Kau bertemu dengannya, kan?”

Junpyo :   ”Aku hampir gila, aku tidak mengerti kenapa jandi bertingkah seperti itu.”

Ia terus berkeluh kesah seperti orang bingung, sejauh apapun junpyo berfikir, ia tetap tidak menemukan celah yang salah. Seingatnya, sejak terakhir kali mereka bertemu di Boston... hubungan mereka masih baik-baik saja.

Yijung :   ”Jelas dia tak ingin bertemu denganmu. Kau yakin kalian sudah berbaikan?”

Junpyo :   ”Lebih dari itu.” jawabnya cepat, pasti.

Kata-kata junpyo itu berhasil membuat jihoo bergeming, ia yang dari tadi duduk diam dengan kaki terlipat anggun -kini seolah terusik. Refleks melirik pada junpyo, pergerakan jihoo itu membuat teman-temannya sadar akan keberadaannya. Mengingat jihoo telah lebih dulu tahu tentang kepulangan jandi, seharusnya dari tadi ia menjadi sasaran pertanyaan mereka.

Yijung :   ”Yah, Yoon Jihoo. Katakan sesuatu!” memelototi jihoo -memojokkan, seolah ia tertuduh.

Jihoo :      ”Aku hanya tahu dia pulang, dan sama sekali tidak menyinggung junpyo, itu saja.”

Jlas jihoo bukan tipe orang yang mencampuri urusan orang lain, apalagi hal yang sepertinya tak ingin dibahas oleh jandi. Apa daya, mereka juga sebenarnya sudah menduga.

Junpyo :   ”Aku harus menanyakannya pada jandi.” tanpa ba bi bu junpyo langsung bangkit dari duduknya dan akan segera pergi, tapi woobin buru-buru menahannya.

Woobin :   ”Yah. Kau mau kemana?” berdiri tepat di hadapan junpyo untuk menghalangi langkahnya.

Junpyo :   ”Aku tidak bisa diam saja. Biar aku cari tahu sendiri.” menyingkirkan tangan woobin di dadanya, tapi woobin tetap tak mau menyingkir.

Woobin :   ”Kali ini tahan emosimu.”

Yijung :   ”Woobin benar, kau harus memikirkannya dengan kepala dingin.”

Junpyo :   ”AKU TIDAK BISA BERFIKIR!” tukasnya keras, seperti biasa, penuh emosi.

Jihoo :      ”Jandi bukan anak yang bisa menentang orangtuanya, jadi percuma kalau kau membuat keributan.”

Junpyo terdiam memikirkan kata-kata jihoo yang sepertinya hampir berhasil membuat junpyo mengurungkan niatnya. Baiklah, biar woobin perjelas saja...

Woobin :   ”Karena itu juga kan kau menikah dengannya. Jadi kali ini hati-hati, jangan membuatnya membencimu.” ucapnya datar, tanpa sadar semakin membuat junpyo bingung dan takut.

Junpyo :   ”Arrrghhh....” ia menghempas tangan woobin dan tetap pergi dari sana.

Yijung berteriak padanya ”Kau mau kemana?”

Woobin :   ”Junpyo-yaa??”

Junpyo :   ”Aku mau pulang.” tukasnya kesal tanpa menoleh lagi.

Yijung :   ”Ke kantor maksudnnya?” terkekeh menertawai junpyo.

Junpyo :   ”TERSERAH!” semakin kesal.

Teman-temannya tampak lega karena sepertinya kali ini junpyo mendengar kata-kata mereka, bahkan junpyo sudah bisa mulai mengurangi tabiatnya yang suka melampiaskan kemarahannya pada mereka.

Yijung :   ”Kita harus melakukan sesuatu.”

Yijung dan woobin dengan gampangnya menoleh pada jihoo, seolah mereka mengatakan akan menyerahkan urusan ini padanya.

Jihoo:      ”Mwo?” memandang yijung dan woobin bergantian.

Woobin :   ”Katakan sesuatu!” pintanya memaksa.

Jihoo :      ”Aissh...”

Woobin dan yijung tersenyum nakal mendapat tanda setuju dari jihoo, meskipunn terpaksa.



------------------------------------------------------------




Kembali pada jandi dan appanya, keduanya masih dalam keheningan. Wajah jandi terbenam di pangkuan Mr.Geum, air mata berlinang membasahi wajah mulusnya. Sekuat tenaga menahan isakan yang membuat dadanya sesak dan penuh. Perlahan ia menengadah, seketika  mata indah itu membulat besar saat menatap wajah appanya. Buru-buru ia menghapus airmatanya agar pandangannya jelas.

Jandi :   ”APPA? APPA?” mimiknya panik. ”Appa menangis?? Benar appa menangis? OH, benarkah?”

Jandi langsung memeluk Mr.Geum yang masih tidak bergerak.


”JANDI? JANDI?” suara Mrs.Geum semakin mendekat.

Jandi :      ”OMMA... Appa menangis! Appa sudah bisa menangis!” Ucapnya antusias, memanggil ommanya yang langsung berlari ke arah mereka.

Mrs.Geum :      ”Apa? Appa menangis?”

Jandi :      ”Lihatlah.” membiarkan ommanya mendekat pada suaminya.

Senyum Mrs.Geum merekah, ia langsung memeluk suaminya. Meskipun hanya air mata, tapi itu sangat berarti karena suaminya sudah mampu merespon sejauh ini.

Mrs. Geum :      ”Yah, anak nakal. Kenapa kau membuat appa mu menangis huh?” matanya berkaca-kaca, tersenyum pada jandi.

Jandi :      “Tapi itu bagus kan?”

Mrs.Geum :      ”Dasar anak nakal.” sambil tersenyum haru.

Jandi :      ”Omma, aku panggilkan dokter ya?”

Mrs.Geum :      ”Ini sudah larut, besok jadwal dokter Shin datang, biar omma katakan padanya besok.”

Jandi :      ”Baiklah.”

Mrs.Geum :      ”Sayang, apa jandi mengatakan hal yang membuat mu sedih? Dia memang nakal.” sambil menghapus airmata Mr.Geum.

Jandi tersenyum menyaksikan orangtuanya yang selalu saling menyayangi, bagaimana ia bisa menghilangkan senyum itu dan membuat mereka kecewa?

Mrs.Geum :      ”Jandi-yaa.. Istirahatlah. Kau pasti lelah.”

Omma jandi mulai mendorong kursi roda appanya ke dalam kamar.

Jandi :      ”Omma, biar aku bantu.”




-------------------------------------------------------




Shinwa Group




Junpyo mondar-mandir di dalam ruangannya, ia menunggu serketaris menyelesaikan pekerjaan yang menurutnya tak ada yang beres. Dari tadi dia hanya marah-marah dan gelisah, sama sekali tidak membantu. Tampaknya dia memang sedang tidak bisa berfikir.

Junpyo :   ”Apa saja yang kau lakukan? Semua orang sudah menunggu di ruang meeting. Kau ingin membuatku malu?”

Serketaris itu masih berkutat dengan laptop di hadapannya, sangat terburu-buru hingga ia tak sempat mendengar omelan junpyo sejak tadi.

Junpyo :   ”Apa semua ini? Tidak ada yang beres.”

Untuk kesekian kalinya membanting semua laporan yang sudah diselesaikan serketarisnya itu beberapa waktu lalu, bahkan itu semua sudah dikerjakan berulang-ulang.


Lima belas menit kemudian, pintu ruangan presdir terbuka. Lelaki berpostur tinggi itu melangkah lebar penuh percaya diri dengan tangan terselip di saku celananya, ia diikuti tiga orang serketaris sekaligus, yang terpongoh-pongoh mengikutinya dengan raut kelelahan. Tapi junpyo masih saja mengomel, rautnya kesal, stilan jasnya juga tidak pernah serapi dulu sejak ia tinggal di kantor.

Junpyo :   ”Siapkan surat pengunduran diri kalian kalau proyek ini tidak selesai hari ini juga!”

Ketiga serketarisnya hanya bisa tertunduk pasrah, mengikuti junpyo tanpa berani menegakkan kepala mereka saat melewati koridor-koridor gedung shinwa yang luas dan mewah. Tampang dingin presdir mereka itu membuat lutut terasa lemas, dahinya terus terhenyit, tak ada senyum sama sekali.

Di sekitarnya, ternyata seorang wanita yang juga diikuti tiga orang pria berjas hitam sedang menuju titik yang sama, namun dari sisi yang berbeda. Hanya terpisah oleh sebuah tembok kokoh yang akan bertemu di ujung lorong seperti perempatan. Wanita yang tampak anggun dan elegan itu juga berjalan dengan sikap pasti meskipun terlihat tegang. Tidak seperti biasa saat ia bekerja, gadis ini mengenakan miny dress berwarna krem dengan jas putih yang tetap terlihat formal.

Jandi :      ”Haruskah kalian mengikutiku sejauh ini?” ucapnya sinis, menyindir pengawal yang terus saja memaksa ikut masuk ke dalam gedung Shinwa. ”Lucu sekali. Apa aku seperti penjahat yang akan melarikan diri?”

Salah satu pengawal itu dari tadi hanya bisa berkata maaf, karena gadis ini selalu kesal dengan kehadiran mereka. ”Maaf nona, tapi kami....”

Jandi :      ”Cukup! Kalian disuruh ibuku??? Kau sudah mengatakannya seratus kali hari ini.”

Pengawal :   ”Maaf nona!”

Mereka terus berjalan hingga nyaris tiba di perempatan koridor yang terdapat ruang meeting di sisi kanannya. Saat itu juga, jandi mendengar suara yang sangat familiar.


”TANPA SERKETARIS JUNG, APA KALIAN TIDAK BISA BEKERJA DENGAN BAIK? AKU BISA GILA!”


Deg.... jandi ingin sekali menghindar dari si pemilik suara, tapi tak sampai sedetik pria itu sudah berada di hadapannya. Ya, ia terlambat. Tepat saat junpyo melewati lorong dimana jandi berdiri, lelaki itu menoleh ke kanan dan sontak saja langkahnya terhenti. Ketiga seketaris yang mengikutinya bahkan nyaris menabrak punggungnya kalau saja mereka tidak segera berhenti mendadak. Mata junpyo melebar, mulutnya yang dari tadi mengomel tak henti-henti kini kelu. Begitu juga dengan jandi, ia tidak melanjutkan langkahnya, hanya menatap pria sempurna di hadapannya.

Junpyo :   ”Jandi?” ucapnya pelan.

Serketarisnya saling melirik satu sama lain, tersungging sedikit senyum ragu di bibir mereka, mengira nasib mereka akan segera aman karena ada jandi yang akan mengikuti meeting.

Junpyo :   ”Se..sedang apaaa...” terbata-bata dengan berbagai perasaan di hatinya, mengira mungkinkah jandi datang untuk menemuinya.

Jandi :      ”Meetingnya belum dimulai? Aku pikir aku terlambat.” melirik jam di pergelangan tangan.

Mulut junpyo sudah terbuka ingin berucap, meeting? Tapi ia tidak bisa mengatakan kalau di kepalanya ada banyak sekali pertanyaan yang ingin ia tanyakan, tanpa ada hubungannya dengan meeting. Tapi seketika konsentrasinya buyar setelah seorang pria -yang mengikuti jandi- bergerak maju selangkah, seakan sengaja menunjukkan keberadaannya.

Junpyo :   ”Kau mau apa?” sikapnya menantang pria itu, juga meremehkan, seakan ia tidak takut apapun.

Jandi mendelik pada pengawalnya, menyuruh lelaki itu untuk tidak membuat onar. Lelaki itu membungkuk sambil mundur, tapi junpyo terlanjur kesal.

Junpyo :   ”Jandi-yaa, kita harus bicara.”

Junpyo langsung menarik tangan istrinya, dan kali ini tanpa basa-basi  pengawal jandi langsung menghentak tangan junpyo hingga terhempas. Sontak dia naik darah hingga terjadi keributan. Junpyo memukul keras wajah lelaki itu sementara kedua pria yang lainnya menyergap junpyo dari belakang, memutar tangannya. Bukan junpyo namanya jika menyerah begitu saja, ia tetap meronta meskipun menahan sakit. Serketarisnya yang menyaksikan itu berteriak ketakutan, semuanya terbelalak ngeri bercampur marah -melihat presdir mereka diperlakukan seperti itu.

Jandi :      ”Hentikan!” teriaknya kuat.

Gadis itu sekuat tenaga mendorong tubuh pengawalnya, alih-alih ingin menolong junpyo, mereka malah melepaskan junpyo begitu saja hingga jandi yang kelebihan tenaga justru terdorong dengan sendirinya ke tubuh junpyo. Untungnya junpyo langsung menahan tubuhnya sebelum tersungkur, tapi justru kepala jandi membentur dinding hingga gadis itu memekik kesakitan.

Jandi :      ”AAkkh...”

Junpyo :   ”JANDI? JANDI-YAA... Ya ampun!” rautnya panik, ragu-ragu menyentuh kening jandi yang terluka. Gadis itu dapat merasakan saat tangan junpyo refleks menyentuh perutnya, dia pasti takut jika terjadi sesuatu pada kandungan jandi. Seakan melupakan meeting, atau apapun itu.... junpyo langsung membawa jandi ke ruangannya.

Tiga serketarisnya yang dari tadi menyaksikan langsung kejadian ini memelototi ketiga pengawal itu, mereka dengan raut marah langsung memojokkan ketiganya.

Serketaris1 :   ”YAH... Apa yang kalian lakukan huh? Kau pikir tempat apa ini?”


Serketaris 2 :   ”Apa kalian preman huh? Dasar kau!”


Serketaris 3:   ”Cepat pergi! Atau aku akan memenjarakanmu!”  


Ketiga serketaris itu semakin melangkah maju, mendekati –memojokkan mereka dengan postur menantang hingga pengawal-pengawal itu gugup. Ditambah lagi, mereka bingung karena sudah menyakiti nona mereka sendiri. Karenanya, mereka memutuskan pergi dengan tangan hampa.




---------------------------------------------------




Jandi masih shock dengan apa yang baru saja terjadi, dia sebenarnya memang sengaja melakukan itu untuk mengusir pengawal-pengawalnya. Tapi sekarang perkaranya berbeda, ia tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika akan berhadapan empat mata dengan junpyo. Setelah beberapa menit terduduk sendirian di sofa ruangan junpyo, ia masih belum menemukan cara untuk pergi dari tempat ini.

’Bagaimana ini?’ gumamnya dalam hati. Meremas-remas tangannya sendiri, gugup.

Sementara junpyo akan segera tiba dengan membawa kotak P3K. Tanpa pikir panjang, jandi buru-buru bangkit dari duduknya dan memutuskan untuk pergi. Tapi terlambat, ketika ia mendengar suara hentakan langkah buru-buru junpyo. Benar saja, lelaki itu tiba dengan terengah-engah dan raut panik. Tanpa basa-basi atau mungkin memang tak berniat menanyakan pendapat jandi, ia langsung mendudukan jandi kembali, buru-buru mengobrak-abrik isi kotak itu.

Junpyo :   ”Apa kita harus ke dokter? Bagaimana? Kau merasa pusing?”

Junpyo masih sibuk dengan plester yang ia dapat dari kotak itu, bahkan belum sempat menangkap tatapan kaku jandi padanya. Gadis itu jadi serba salah, melihat perhatian junpyo, bagaimana bisa dia mengacuhkan junpyo begitu saja, itu akan menghancurkan hatinya. Tapi saat ini... sungguh ia tak ingin diperlakukan seperti ini, ia tak akan sanggup menerimanya.

Jandi :      ”Aku baik-baik saja.” memperhatikan junpyo yang seenaknya mulai menempelkan plester di keningnya, menutupi luka kecil akibat benturan tadi.

Setelah selesai, dengan entengnya junpyo memamerkan senyum manis pada jandi yang dari tadi menatapnya hingga terkelu. Senyum itu memudar seiring menyadari tatapan miris jandi yang terlihat tidak suka dengan perhatiannya. Junpyo masih tidak mengerti arti tatapan yang menyayat hati itu, seakan ingin mengatakan sesuatu, tapi enggan!

Dalam jarak sangat dekat, bola mata yang jernih itu memantulkan wajah tampan junpyo. Masih tak bergerak, suasana dibalut kekakuan. Detak jantung seakan berseru mengekspresikan kerinduan, tapi sudahlah.... Sampai disini saja, sebelum jandi semakin tenggelam dalam lautan cinta yang tak mampu ia selami dengan sewajarnya.

Junpyo sendiri terperangah saat jandi tiba-tiba berdiri, menatap jandi penuh tanya. Sementara gadis itu tidak berniat berlama-lama lagi, ia buru-buru menghindar dan menjauh dari junpyo.

Junpyo :   ”Jandi-yaa? Kau mau kemana? Apa tidak sebaiknya periksa ke dokter?”

Dengan wajah polos, junpyo masih belum mengerti arti penolakan jandi. Tingkah jandi itu sungguh membingungkan, dia benar-benar menginginkan jarak, bersikap seperti orang asing.

Jandi :      ”Ini hanya luka luar. Bukankah kita harus meeting? Jangan biarkan yang lainnya menunggu terlalu lama.” ucapnya datar.

Junpyo :   ”Persetan dengan semua itu. Yang aku tahu, kita harus bicara.” akhirnya ia mengatakan apa yang tak ingin jandi dengar.

Junpyo dengan sengaja semakin membuatnya terpojok sebelum gadis ini kabur lagi.

Junpyo :   ”Katakan sesuatu, jandi-yaa...” ucapnya pelan, dengan nada ketir mengisyarat keraguan.

Jandi :      ”Aku juga tidak mengerti apa yang kau bicarakan.” langsung melangkah untuk menghindar, tapi tuduhan junpyo menghentikannya.

Junpyo :   ”Kau berubah sejauh ini... Apa aku terlihat begitu bodoh dan harus menerimanya begitu saja?”

Kedua tangan jandi yang mengepal seakan menjelaskan kalau ia tidak sekuat itu untuk terus berbohong, junpyo menatap punggung bergetar itu, menunggu reaksi jandi. Sampai akhirnya gadis itu berbalik dan membalas tatapan tulus goo jun pyo.

Jandi :      ”Apa kau tidak pernah membayangkan ini akan terjadi saat kau mengajakku pulang waktu itu?” Sikapnya dingin, tak tergoyahkan.

Junpyo :   ”Karena itu, kita hadapi bersama.. Jangan seperti ini... Kau tahu, ini menyiksaku.”

Jandi :      ”Aku bahkan belum sempat memikirkannya saat omma memaksaku kembali ke Seoul.. Jadi.....” sejujurnya jandi tidak tahu apa yang harus dikatakannya lagi, dia terlihat ragu.

Bagaimana dia menjelaskan, junpyo sendiri tahu saat di Boston jandi sama sekali tak berniat pulang meskipun dia memaksanya? Hingga tiba-tiba ommanya melakukan hal yang sama, dan bahkan ia tak bisa menolak. Lalu bagaimana sekarang dia bisa berada di pihak junpyo? Itu tidak mungkin. Karena dia pulang demi orangtuanya, bukan junpyo.

Junpyo :   ”Jandi-yaa...” seperti berharap suatu kepastian.

Jandi :      ”Beri aku waktu... Aku mohon Goo Jun Pyo.”

Sorot mata indahnya membuat junpyo terkelu, tatapan yang melukiskan tekanan yang berat. Junpyo tak mampu lagi menambah bebannya, ia tak setega itu. Hanya bisa terpaku menyaksikan jandi berlalu begitu saja.

Masih tersimpan dalam pandangannya -ekspresi jandi tadi itu sangat berbeda. Junpyo terlalu mengenalnya, meski terkadang gadis itu rapuh, biasanya junpyo dengan mudah akan mendekapnya. Juga ketika jandi kuat berkharisma, maka junpyo bersedia bertekuk lutut di hadapannya. Tapi tadi itu... ia tidak sedang berada diantara keduanya. Sesaat tadi junpyo tak mampu memaksannya, atau jandi akan semakin terluka.

Junpyo mulai berfikir... bagaimanapun semua ini terjadi karena dirinya, ia yang melukai orangtua jandi sampai seperti ini. Dia juga yang menginginkan puteri mereka, lebih dari apapun di dunia ini.  



-----------------------------------------------------




Malam harinya, pengawal-pengawal yang tadinya mengikuti jandi justru pulang tanpa nona mereka. Sebenarnya mereka sudah berjam-jam menunggu jandi di sekitar gedung Shinwa, tapi gadis itu tidak muncul. Karena bingung harus  mencari kemana, akhirnya mereka pulang dengan tangan hampa. Sontak saja kelapa pelayan Joo marah habis-habisan pada ketiga orangnya yang bekerja tidak becus, mereka hanya tertunduk takut dengan raut bersalah.

KP.Joo :   ”APA KAU BILANG? SIAPA SURUH KALIAN PULANG TANPA NONA? DASAR BODOH!”

Keributan di luar itu tentu saja mengundang perhatian pelayan lainnya, mereka berkumpul saling berbisik, bahkan tak menyadari Mrs.Geum datang. Omma jandi itu juga menyaksikan pemandangan itu dengan penuh tanya sebelum akhirnya menghampiri mereka.

Mrs. Geum :   ”Apa yang terjadi?” tanyanya bingung pada kepala pelayan Joo yang langsung membungkuk melihat kehadiran nyonya mereka itu.

KP.Joo :   ”Nyonya, maafkan saya!” semakin menunduk dengan raut serba salah.

Mrs.geum :   ”Kepala pelayan Joo? Kau tidak dengar, apa yang terjadi?” mulai mencium gelagat yang tidak beres disini.

KP.Joo :   ”Nona jandi... Dia menghilang! Juga terluka...” semakin ketakutan.

Mrs.Geum :   ”APA? Ter..terluka katamu?”

Mendadak wajah Mrs.Geum pucat, dia ketakutan kalau-kalau terjadi sesuatu pada jandinya. Apalagi jika itu adalah akibat dari sikap kerasnya. Meskipun jandi tidak menginginkannya menjadi seperti ini, tapi gadis itu selalu menuruti kata-katanya. Jelas-jelas ommanya sudah menyakiti jandi sejauh ini, bagaimana kalau dia benar-benar terluka? Mrs.geum akan menjadi yang tersalah, lebih dari Goo Jun Pyo.

KP.Joo :   ”Maafkan saya nyonya. Tapi saat itu....”

Belum selesai KP.Joo menyelesaikan kata-katanya tiba-tiba suara seseorang memotong ucapannya.

”Apa yang terjadi? Kenapa kalian semua berkumpul di luar seperti ini?”

Mrs.Geum terperanjat :   ”JANDI?”

Di luar dugaan, gadis itu dengan santainya mendekati mereka seolah tak terjadi apapun, juga tidak mengindahkan raut khawatir ommanya. Dia terlihat baik-baik saja.

Jandi :      ”Oh, pasti kalian sedang dimarahi karena meninggalkanku kan? Kau tahu, aku harus pulang dengan bis.” memonyongkan bibirnya juga memelototi pengawal-pengawalnya itu, membuat mereka tertunduk ketakutan.

Mrs.Geum :   ”Kau terluka?” menyentuh wajah jandi, untuk memastikan plester yang menempel di dahinya bukan luka serius.

Tapi jandi justru menghindar.

Jandi :      ”Ini hanya lecet sedikit.”

Mrs.Geum :   ”Benarkah?” memperhatikan jandi lekat, memastikan kalau tidak ada yang serius yang terjadi.

Jandi :      ”Hmm... Sepertinya mereka membuat kesalahan. Karena itu omma, sebaiknya mereka di rumah saja.” kata-katanya terdengar datar, juga dingin.

Mrs.geum terhenyak sesaat, tidak pernah jandi bersikap seperti ini sebelumnya.
Dia seperti mengancam... ’Mungkin saja akan terjadi hal yang lebih parah, jika omma tidak segera berhenti. Bukan melindungiku, tapi justru aku yang akan melindungi orang yang ku cintai.’

Jandi :      ”Ahh, aku lelah sekali. Omma, aku istirahat dulu.” sekarang ia justru tersenyum hangat, bahkan sempat mengedipkan mata pada pengawal-pengawalnya itu pertanda dirinya lah yang menang!  Kemudian berlalu menuju kamar.

Mereka semua jadi kebingungan sekaligus terpesona. Tidak seperti yang mereka bayangkan -mengira jandi akan menyuruh Mrs.Geum memecat mereka, tapi justru gadis itu sama sekali tidak membesar-besarkan masalah. Tapi Mrs.Geum justru terlihat khawatir, masih terdiam memikirkan kata-kata jandi barusan. Sebelum kemudian manatap anak buahnya dengan tampang kesal, hanya bisa menghela nafas, marah. Setelah ini tak ada yang bisa mengekori jandi lagi, gara-gara kecerobohan mereka sendiri.




            ========================




Keesokan harinya terasa berlalu begitu cepat. Jandi seharian sibuk di kantor, dia juga berkali-kali menolak telpon dari Goo Jun Pyo. Lelaki itu tetap saja berusaha mendekatinya, sama sekkali tak memberinya waktu. Ya, seperti itulah junpyo. Tapi jandi juga tak lelah menghindar, meskipun tanpa pengawal yang mengikutinya, jandi tetap enggan bertemu dengan junpyo.

Sore itu, sesosok pria tampan yang sedari tadi berdiri di depan gedung Independent Group sambil bersandar di mobil mewahnya. Ia terlihat sedang berbicara dengan seseorang melalui telpon, sebelah tangannya terselip di saku celana sambil terus memandangi seorang gadis cantik yang sedang berjalan terburu-buru keluar dari gedung itu. Gadis itu juga sedang bebicara di telpon.

Ternyata jihoo, yang memang sedang menunggu jandi. Gadis itu tidak tahu kalau orang yang sedang bicara dengannya di telpon sudah dari tadi memandangnya dari kejauhan.

Jihoo :      ”Aku sudah di depan. Warna pink selalu terlihat cocok dengan mu.” ucapnya menggoda, membicarakan pakaian yang sedang dipakai jandi.

Jihoo terkekeh geli, sepertinya puas sekali mempermainkan jandi yang sibuk menoleh kesana kemari mencari keberadaannya.

Jandi :      ”Yah, jangan main-main. Kau dimana oppa? Aku tidak melihatmu.”

Jihoo :      ”Tapi aku melihat mu.” semakin terkekeh.

Saat dia sedang asik menggoda jandi, tiba-tiba senyumnya luntur saat melihat seseorang datang mendekati gadis itu. Saat itu juga sambungan telponnya langsung terputus, semakin membuat jihoo khawatir, karena jandi terlihat bicara sangat serius dengan orang itu, Han jaekyung.

Dia menebak-nebak apa yang terjadi, untuk apa jaekyung menemui jandi di kantornya. Dan... anehnya, mereka tidak bersitegang. Semakin aneh ketika sejurus kemudian jihoo melihat mereka masuk ke dalam mobil jandi bersamaan, mobil itu melaju -melewati jihoo yang berdiri di sisi kiri parkiran. Bahkan sempat melihat jandi melewatinya tanpa menyadari keberadaannya. Jihoo terperangah menatap mobil itu pergi begitu saja, seolah jandi sama sekali tak ingat sebelumnya mereka janji bertemu.

Jihoo buru-buru masuk ke mobilnya dan melaju mengikuti mobil jandi. Semakin lama jihoo tak bisa menebak jalan yang dituju jandi. Bukan juga menuju ke tempat dimana mereka akan pergi, yaitu Rumah Sakit. Ternyata semalam jandi bukannya pulang dengan bis, melainkan jihoo lah yang mengantarnya sampai ke rumah. Dan mereka sepakat akan pergi ke Rumah Sakit hari ini.



FLASHBACK


Malam masih belum selarut biasanya ketika jandi pulang. Sesampainya di depan gerbang kediaman keluarga Geum yang luas itu, dilihatnya suasana rumah sangat ramai. Saat dimana Mrs.Geum sedang berkumpul bersama kepala pelayan Joo dan orang-orangnya di depan pintu. Jandi yang malam itu diantar pulang oleh jihoo, sengaja meminta jihoo untuk tidak mengantarnya ke dalam.

Jandi :      ”Oppa, sampai disini saja. Biar aku masuk sendiri.”

Jihoo :      ”Tapi......”

Melihat jandi dari tadi sibuk memperhatikan orang-orang di rumahnya, jihoo mengurungkan niatnya bertanya lebih lanjut. Mengingat akhir-akhir ini jandi pasti sangat kelelahan menghadapi pengawalnya itu.

Jandi :      ”Gomawo oppa... ” baru saja ia akan membuka pintu, jihoo refleks menahan tangan jandi.

Jihoo :      ”Tunggu dulu, tadi kau bilang akan ke Rumah Sakit besok?”

Jandi hanya mengangguk pelan dengan pandangan penuh tanya.

Jihoo :      ”Aku akan menjemputmu besok.”

Jandi :      ”Ah, tidak usah oppa...”

Jihoo :      ”Kebetulan besok sore aku harus ke Rumah Sakit. Baiklah, sampai jumpa besok.” ocehnya cepat tanpa menginginkan persetujuan jandi.

Jandi tidak mengetahui kalau jihoo memiliki maksud terselubung dalam hal ini. Ya, ini memang gila. Jihoo sendiri tidak percaya di kepalanya bisa muncul ide seperti ini. Sejujurnya niat itu muncul akibat tekanan dari teman-temannya yang selalu memojokkannya, dan Goo Jun Pyo harus memberinya penghargaan untuk ini. Ah, ia menyesal... tapi terlambat untuk berubah pikiran.

Jandi mengangguk ragu, kemudian ia keluar dari mobil jihoo. Lelaki itu hanya menatap punggungnya menjauh sebelum akhirnya pergi. Sementara jandi mulai berpura-pura kelelahan berjalan kaki, seolah dia benar-benar pulang dengan bis. Mengatakan kalau pengawal-pengawal itu membawa mobilnya dan menelantarkannya. Maaf saja, kali ini jandi memang sangat berniat bohong, supaya dia bisa terbebas dari pengawalan. Sukurnya, misi ini berjalan mulus. Makanya hari ini tak ada seorangpun dari mereka yang mengikutinya. GREAT!!!


End Of Flashback




Jihoo masih terus mengikuti mobil di depannya, ia tidak tahu arah perjalanan ini. Apa yang akan dilakukan kedua gadis itu? Jihoo tidak memiliki petunjuk untuk itu. Oh, tapi mungkin seseorang bisa menjelaskan keadaan ini.

Dengan cepat jihoo mengenakan headset di telinga, sementara matanya terus memantau pergerakan mobil di depan dengan laju yang lumayan stabil dan untuk sementara ini jarak antara mereka tidak menjadi kendala bagi pandangannya. Suara nada dering sambungan telpon langsung menyambutnya, tidak perlu waktu lama baginya untuk mendengar suara yang terdengar antusias itu, tentu saja.

”Yah, jihoo-yaa... aku sedang dalam perjalanan ke Rumah Sakit. Apa kau sedang bersamanya? Kau tidak boleh menyebut namaku.” ocehnya antusias.

Bodoh, kalau reaksinya seperti ini jihoo semakin tidak enak mengatakan kalau rencananya gagal. Lagi pula kenapa dia bicara seolah jihoo tidak tahu rencana yang ia buat sendiri. Ternyata semalam terlintas begitu saja dipikiran jihoo untuk mempertemukan jandi dan junpyo. Mendengar hari ini adalah jadwal kontrol kandungan jandi, junpyo disuruh menyusul ke Rumah Sakit. Karena sudah berkali-kali yijung dan woo bin mendesaknya untuk melakukan sesuatu, juga mulai bosan mendengar junpyo terus mengeluh. Tidak heran jika junpyo sangat antusias menerima telpon darinya, lihat... bahkan dia membentaknya!

Junpyo :   ”YAHHH..”

Teriakan junpyo membuyarkan lamunan jihoo.

Jihoo :      ”Junpyo-yaa, sekarang kau dimana?”

Junpyo :    ”Aisshh.. Sudah ku bilang jangan sebut namaku! Aiiissshhhh.......”

Jihoo menghela nafas, sepertinya dia akan segera membuat junpyo kecewa.

Jihoo :      ”Junpyo-yaa... Jandi tidak sedang bersamaku...” ucapnya ragu.

Junpyo :   ”APA? WAEYO? BAGAIMANA DENGAN RENCANA KITA?”

Ya ampun, lelaki ini memang dewanya ngotot. Dia tidak memberi kesempatan pada jihoo untuk menyelesaikan kata-katanya.

Jihoo :      ”Jandi sekarang bersama jaekyung!” ucapnya cepat, sebelum junpyo mengomel lagi.

Tapi kali ini senyap, bahkan si junpyo yang antusias kini tak berkutik.

Jihoo :      ”Junpyo-yaa... kau dengar? Sekarang jandi bersama jaekyung.”

Junpyo :   ”Dimana?” nadanya penuh kecemasan dan firasat buruk, jauh lebih serius.

Jihoo :      ”Ntahlah, aku sedang mengikutinya. Mereka menuju selatan sungai Han. Putar arah dari jalan Rumah Sakit.”

Tit............................................

Sambungan telpon itu langsung putus sedetik setelah jihoo menyelesaikan kata-katanya, tanpa basa-basi. Jihoo hanya bisa menggelengkan kepala menghadapi sikap temannya itu, sambil terus mengikuti mobil jandi. Bukan hanya demi junpyo, tapi keselamatan jandi mungkin memang prioritas hidupnya. Naluri itu yang tidak bisa ia abaikan, ntah bagaimanapun.

Tiba-tiba ponselnya berbunyi, di layarnya tertera nama Goo Jun Pyo!

Junpyo :   ”Aku di belakang mu!”

Hoh, jihoo mengehela nafas tak percaya. Bagaimana bisa secepat ini? Apa dia benar mengendarai mobil? Jihoo menoleh ke spion mobilnya, ternyata benar-benar... Mobil junpyo kini membuntutinya, membuat jihoo bahkan tak bisa menahan senyum, sakin kagumnya.

Jihoo :      ”Kau benar Goo Jun Pyo! Di depanku itu mobil jandi. Kau lihat?”

Junpyo :   ”Ne. Aku akan mendahuluinya.”

Nyaris saja si junpyo yang ceroboh dan tak sabaran ini menginjak pedal gasnya sampai poll bak pembalap profesional sebelum jihoo berteriak protes.

Jihoo :      ”ANDWE! Apa kau gila? Itu membahayakan jandi! Ikuti saja mereka…”

Rencananya sih seperti itu.. Jarang-jarang junpyo jadi penurut. Tapi, seakan benar-benar sial -saat di perempatan lampu merah ada sebuah truk yang tiba-tiba datang dari arah kanan dan memotong pandangan mereka, sementara mobil jandi lebih dulu melaju sebelum lampu merah menyala. Keduanya berteriak bersamaan.

”SH!T”

Terlebih lagi junpyo, dia langsung mengoceh marah-marah seolah lampu merah dan truk itu petaka baginya.

Junpyo :   ”YAH, seharusnya aku mendahuluinya! Sekarang bagaimana? Dimana jandi??”

Jihoo juga tidak kalah bingung, ditambah lagi dengan ocehan-ocehan junpyo. Dengan kesal ia melepas headset di telinganya, menoleh ke sisi kanan dimana mobil junpyo juga menunggu lampu hijau menyala. Lelaki itu juga sedang menatapnya dengan raut kesal, mulutnya komat-kamit. Tapi sejurus kemudian junpyo berubah heran dan juga marah, saat menyadari jihoo terkekeh geli -menertawainya. Menyadari tak ada headset lagi di telinga jihoo, junpyo buru-buru membuka kaca mobilnya dan berteriak pada jihoo.

”YAH... PAKAI HEADSET MU!!!”

Jihoo tertawa geli sambil memegangi perutnya, membuat junpyo putus asa. Aissshhhh.... teriaknya.

Jihoo terperangah saat melihat mobil junpyo bergerak cepat dan langsung menjauh. Ia baru sadar lampu sudah berpindah menjadi hijau, kemudian jihoo kembali memakai headsetnya dan mengikuti junpyo.

Tak seberapa lama keduanya melaju, mereka dihadapkan dengan perempatan jalan lagi. Sontak keduanya bingung.

Jihoo :      ”Sekarang kemana?”

Keduanya saling berpandangan dari dalam mobil masing-masing, berlagak seperti agen rahasia.

Junpyo :   ”Kau ke kiri, aku ke kanan.”

Tanpa aba-aba, keduanya langsung melejit ke arah masing-masing. Bertaruh siapa yang akan bertemu lebih dulu dengan apa yang mereka cari. Nasib siapa yang membawa salah satu dari mereka........ pada jandi.




-----------------------------------------------------




Disisi lain, kedua gadis itu berdiri di tepi sungai Han tempat mereka bertemu dulu. Angin kencang menerpa, menerbangkan rambut indah mereka hingga menyapa wajah. Gaun yang jandi kenakan bergerak melambai tanpa menggoyahkan tubuh mungil yang sudah beberapa lama mematung disana. Ntah apa yang sudah dikatakan jaekyung, tapi jandi tidak lagi bisa mengeluarkan kata-kata, rautnya bingung, dan tidak percaya. Jaekyung menggapai tangannya, hidung gadis ini bahkan memerah, juga wajahnya, dibasahi bulir-bulir air mata yang mengalir deras. Sesekali ia menggoncang tubuh jandi, tapi gadis itu tetap terpaku tak bergeming. Pundaknya naik turun seperti menahan sesuatu yang membuatnya shock hingga menyulitkannya bergerak.

Jaekyung :   ”Aku mohon jandi...”

Lagi-lagi, kata-kata itu yang terucap dari bibir jaekyung, sambil menangis tersedu-sedu. Dia masih menunggu reaksi jandi, dan tepat saat akan kembali menggoyangkan tubuh jandi, tiba-tiba seseorang menarik tangan gadis itu dengan kasar.

Junpyo :   ”APA YANG KAU LAKUKAN???”

Junpyo mencengkram tangan jaekyung geram hingga gadis itu meringis kesakitan bercampur shock. Begitu juga dengan jandi, ia terbelalak menatap junpyo yang sekarang ada di hadapannya. Bagaimana bisa?

Junpyo :   ”APA KAU SUDAH GILA??? SAMPAI KAPAN KAU BERHENTI MEMBUATKU MARAH, HAN JAEKYUNG!!!!”

Junpyo kembali menghentak tangan jaekyung yang sudah tak bertenaga sakin lelahnya menangis, sementara jandi menatapnya ngeri. Ia masih terkelu memandangi mereka bertengkar.

Jaekyung :   ”Junpyo-yaa... sakit.....” merintih.

Bukannya melunak, junpyo semakin bringas menarik tangan jaekyung ntah untuk apa. Jandi mulai ketakutan menyaksikan sikap kasar junpyo, ia berusaha melerai keduanya, menarik tangan junpyo kuat-kuat.

Jandi :      ”Hentikan Goo Jun Pyo.”

Tapi junpyo terlanjur berada di puncak amarah, bahkan mungkin ia tidak mendengar ucapan jandi. Junpyo menghempas tangan jaekyung hingga gadis itu tersungkur ke tanah, jandi terbelalak.

Junpyo :   ”Kau tidak apa-apa?” sama sekali tidak menghiraukan jaekyung, ia justru mencemaskan jandi. Karena dari awal berasumsi jandi sedang berada dalam bahaya, maka tanpa segan junpyo memberi jaekyung pelajaran.

PLAK!

Sebuah tamparan keras justru mendarat di pipi junpyo, membuatnya terbelalak. Begitu juga dengan jaekyung, juga jihoo yang menyaksikan mereka dari kejauhan (Akhirnya dia putar arah).

Junpyo bingung, siapa yang baru saja menamparnya? Benarkah tangan yang selama ini membelainya dalam buaian sekarang berubah menjadi begitu tajam? Berhasil mengobarak-abrik hatinya.

Junpyo :   ”Jandi?” panggilnya pelan, menatap gadis itu dengan tatapan yang sangat terluka.

Dalam tatapan tajam bola mata jandi, tersirat tanda tanya besar dan juga penyesalan dan kekecewaan mendalam. Semuanya menyatu hingga junpyo tak mampu mengartikannya. Sakitnya tamparan ini sama sekali tidak menakutinya secara fisik, tapi justru ia ragu dengan apa yang telah dikatakan jaekyung pada jandi.

Gadis itu sama sekali tidak menghiraukan tatapan penuh tanya junpyo, ia langsung pergi dari sana. Junpyo yang masih shock tetap tidak mau menyerah, buru-buru menghalangi langkah jandi.

Junpyo :   ”Apapun yang ia katakan, tak bisakah kau hanya percaya padaku?” tatapannya penuh harap, tapi jandi menatapnya semakin dingin.

Jandi :      ”Tidak!” jawabnya ketus dan kembali melangkah menuju mobil.

Junpyo masih berusaha mengejarnya, ia menarik tangan jandi sebelum gadis itu masuk ke dalam mobil.

Junpyo :   ”Jandi-yaa...”

Jandi tetap tidak menghiraukannya, ia malah menghempas tangan junpyo.

Jandi :      ”Bagaimana kau bisa bersikap sekasar itu pada seorang wanita? Apa karena selama ini semuanya terserah mau mu? Sudah cukup Goo jun pyo.”

Ucapan sinis itu mengakhiri segalanya, begitu saja ia meninggalkan junpyo yang terperangah tak percaya.

’Apa barusan itu dia sedang membela Han Jaekyung?’ batinnya bertanya-tanya.

Mungkinkah gadis sepintar jandi dapat tersihir oleh apapun yang jaekyung katakan padanya? Ntahlah, saat ini ia tak mampu berfikir, hanya berniat mengejar jandi, dan menayakan langsung padanya.
Junpyo dengan cepat menuju mobilnya, tepat saat ia membuka pintu mobil, muncul sebuah tangan yang menahannya. Jihoo menatap tajam, dahinya terhenyit, serius.

Jihoo :      ”Jangan mengejarnya lagi!”

Junpyo :   ”LEPASKAN! Aku tidak bisa bersabar lagi!” tukasnya tajam, menatap jihoo seperti seorang penganggu yang saat ini membuang waktunya dengan percuma.

Jihoo :      ”Kau tidak pernah bersabar Goo Jun Pyo!” ucapnya dingin, memvonis junpyo yang selalu menjadi tersalah.

Junpyo :   ”Minggir YOON JIHOO!”

Jihoo :      ”JANDI MENYETIR SENDIRIAN. INI MEMBAHAYAKAN DIRINYA, APA KAU TIDAK MENGERTI?” kali ini bentakan jihoo membuat junpyo terdiam, sejenak ia berfikir. Memang benar, tapi ia tidak mampu menahan emosinya lagi, dia hanya butuh penjelasan.

Junpyo :   ”Aku bisa lewat jalan lain..”  

Junpyo tetap tidak mau mendengar kata-kata jiho, semua itu tidak cukup untuknya saat ini. Yang ia butuhkan hanya penjelasan dari jandi, tidak tahan lagi dengan hubungan yang tidak jelas ini. Mobilnya langsung tancap gas setelah mendorong tubuh jihoo yang menghalanginya. Sahabatnya itu hanya bisa menghela nafas putus asa, sakit kepala menghadapi sikap keras kepala junpyo.

Kemudian jihoo seolah baru menyadari sesuatu, ia menoleh dan mendapati jaekyung juga sedang menatapnya dari jarak yang lumayan jauh, di sisi pantai. Dia masih disana menyaksikan semua ini, rautnya penuh penyesalan dan terluka. Jihoo kembali menghela nafas seakan masih ada tugas rumit yang menunggunya setelah ini, dia tidak tahu kenapa ide konyol semalam itu harus terlintas dipikirannya. Dan kini semuanya kacau, tidak lepas dari andil seorang Han Jakyung, lagi-lagi....




--------------------------------------------------



Jandi melangkah lebar dan terburu-buru saat memasuki rumahnya. Tanpa melihat siapapun yang di lewatinya, ia langsung berjalan menuju kamar dengan wajah tertunduk. Menutupi wajahnya dengan punggung tangan sebalah kanan, wajah cantik itu dipenuhi rona merah dan matanya sembab.

Mrs. Geum heran dengan tingkah jandi saat itu, yang hanya lewat saja di hadapannya tanpa menoleh, sama sekali tak menyadari keberadaannya.

Mrs.Geum :   ”Jandi?” panggilnya pelan, ragu.

Ia bahkan tak sempat menanyakan apapun, gadis itu langsung menutup pintu kamarnya. Mrs.geum memandangi pintu kamar jandi dengan raut bingung, tidak tahu kalau jandi masih tersandar di baliknya, dan menangis terisak.

Perlahan tubuhnya yang tersandar di pintu akhirnya ambruk ke lantai, lututnya mendadak lemas. Jandi menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangan karena tak sanggup menahan isakan yang takutnya terdengar keluar. Airmata mengalir deras dari mata indahnya, dadanya seakan penuh sesak. Tak mampu menahan tangisnya yang meluap penuh haru. Apa yang dikatakan jaekyung padanya hingga membuat jandi seakan begitu rapuh? Mendadak merasa dunianya menjadi sangat sepi, ia sendirian. Menikmati gejolak hatinya yang lebur tak karuan. Bahkan tak mampu membedakan haru maupun luka, tidak tahu perasaan yang sesungguhnya, ia terlalu bingung saat ini.

Hanya kata-kata jaekyung itu, tak mampu ia lupakan. Bahkan saat berhadapan dengan lelaki yang sangat dirindukannya sekalipun, rindu itu mendadak hambar.



FLASHBACK


Di tepi pantai, jandi dan jaekyung saling bertatapan serius. Tergenang bulir air di sepasang mata keduanya, ntah karena tersentuh oleh kencangnya tiupan angin, atau karena ekspresi perasaan mereka saja yang sama-sama mengantisipasi obrolan serius yang akan terjadi beberapa saat lagi. Yang jelas, mereka hanya terdiam cukup lama, sebelum jaekyung memulai pembicaraan.

Jaekyung :   ”Sudah lama tidak bertemu jandi-yaa... Terakhir kali, kita juga bicara di tempat ini.” Suaranya agak bergetar seakan menahan sesuatu di tenggorokan, tidak sabar untuk mengatakannya.

Benar, saat itu jaekyung juga mengajaknya bertemu di tempat ini, dan seingatnya saat itu jaekyung meninggalkan kesan yang sangat mendalam. Saat ia mengutarakan perasaannya yang sebenarnya terhadap junpyo dan menantang jandi untuk bertaruh dengan cinta Goo Jun Pyo. Tapi kali ini rautnya sangat berbeda, bahkan jandi yang siap diperlakukan sama seperti waktu itu -mendadak ragu.

Jandi :      ”Ne, sudah lama sekali.” ucapnya tenang, tersungging senyum hambar di wajahnya.

Jaekyung :   ”Bagaimana kabarmu?” Sekilas ia melirik pada perut jandi yang tidak terlihat jelas karena gaun yang dikenakannya tidak membentuk tubuh sama sekali.

Jandi :      ”Semuanya baik-baik saja. Apa ada yang ingin unnie katakan?”

Jaekyung :   ”Apa?” mendadak ia menjadi gugup, menyadari jandi sudah mengetahui maksudnya.

Jandi :      ”Katakan saja unnie.”

Jaekyung :   ”Baiklah. Tampaknya hubungan kita tidak cocok untuk basa-basi.” tersenyum kecut, semakin merasa tidak enak. Terlihat ia seakan mengumpulkan keberanian sebelum melanjutkan kata-katanya.
”Jandi-yaa, atas apa yang telah terjadi, aku tahu bahkan berkata maaf pun sungguh keterlaluan. Tapi semua itu adalah salahku, kau bisa menghukumku.”

Jandi menatap jaekyung dengan raut bingung, demi Tuhan dia tidak tahu apa yang sedang dibicarakan oleh gadis ini. Bahkan sorot mata jaekyung penuh penyesalan dan rasa bersalah, yang diyakini jandi bahwa dia tidak sedang berbicara ngawur.

Jandi :      ”Unnie?Apa yang kau bicarakan?”

Jandi bahkan memegangi pundak jaekyung yang mulai terguncang, gadis itu tidak dapat lagi menahan airmata yang kini mengalir deras. Tapi jaekyung yang tidak pernah membayangkan kalau jandi tidak tahu apapun tentang kesalahannya, justru terus mengutarakan semua perasaan yang selama ini membebaninya.

Jaekyung :   ”Pak Jung... dia tidak bersalah! Aku... aku sudah berusaha mengatakannya pada junpyo, tapi... dia sama sekali tidak ingin mendengar ku lagi..” suaranya bagai gelombang parau hingga sulit diterjemahkan, mengatakan semua itu sambil terisak –tercekik oleh beban yang dibuatnya sendiri. Mata jandi juga berkaca-kaca meski ia masih belum mengerti.

Jandi :      ”Unnie, tenanglah... Tapi aku tidak mengerti apa yang terjadi. Pak Jung? Ada apa dengan pak Jung?” tanyanya antusias.

Dalam isakan jaekyung yang semakin dalam, nalar jandi masih bisa mengingat kata-kata junpyo kemarin, saat ia bertemu dengannya di Shinwa. Saat itu junpyo mengoceh pada serketaris-serketarisnya saat mereka mengekorinya ke ruang meeting, sambil marah-marah ia menyinggung soal Pak Jung. Seingatnya saat itu junpyo berkata..... ”TANPA SERKETARIS JUNG, APA KALIAN TIDAK BISA BEKERJA DENGAN BAIK? AKU BISA GILA!”

Ya, saat itu junpyo memang mengeluhkan ketidakhadiran serketaris Jung. Tapi masih belum mengerti apa hubungannya serketaris Jung dengan jaekyung saat ini. Ia hanya menatap gadis itu penuh tanya, menuntut penjelasan.

Jandi :      ”Unnie? Ada apa dengan serketaris Jung?”

Kali ini jandi agaknya tidak sabar, ia mengguncang tubuh jaekyung sekali. Barulah gadis itu berusaha lebih tenang, ia mengusap air matanya, berusaha bicara lebih jelas meskipun nalarnya belum sampai mempertanyakan kenapa jandi seolah begitu lamban menangkap pembicaraannya.

Jaekyung :   ”Surat itu, aku yang melakukannya. Pak Jung tidak bersalah.”

DEG... tanpa sadar kaki jandi melangkah mundur, tangannya yang tadi bertengger di tubuh jaekyung yang gemetar kini terlepas. Bibirnya sedit terbuka, matanya tak berkedip menatap jaekyung dengan pandangan kosong. Terperangah seiring mencerna apa yang jaekyung katakan. Bukan junpyo? Jadi, bukan junpyo yang melakukannya?

Jaekyung tampak heran dengan reaksi jandi, ia terlambat menyadari kalau jandi tidak tahu apapun. Gadis itu tampak sangat terkejut, jaekyung jadi serba salah. Saat itu, ia mengguncang lengan jandi, tetap memohon supaya jandi memaafkan Pak Jung. Mengoceh agar jandi membujuk junpyo untuk memaafkan Pak Jung yang tanpa ia ketahui bahwa junpyo tak pernah menyalahkan pak jung. Tapi semua itu tidak bisa dipastikan oleh jandi, ia sedang sibuk dengan pikirannya sendiri. Masih tidak menyangka kalau sejauh ini junpyo hanyalah seorang tertuduh.

Jaaekyung :   ”Aku mohon Jandi...” lagi-lagi mmengguncang lengan jandi, saat itulah junpyo melihatnya dan salah paham. Mengira jaekyung akan menyakiti jandi lagi, karenanya ia bereaksi semarah itu.


End Of Flashback



Jandi masih terisak mengingat itu semua, dia masih tidak menyangka kalau bukan junpyo yang menyebabkan semua kejadian ini. Bodohnya, saat lelaki itu memintanya untuk percaya, tak terbesit di batinnya untuk menanyakan alasan junpyo menceraikannya sampai appanya harus celaka. Mulanya jandi hanya mengira junpyo marah padanya setelah kejadian malam di rumah jihoo itu, hingga kemudian junpyo pergi ke New york tanpa kabar.

Jandi :      ”Kau masih melindunginya seperti ini?” bisiknya pelan, bergetar menahan berbagai emosi dalam dirinya saat ini.

Ntah harus senang -karena junpyo tidak menceraikannya atau harus terluka -karena lelaki itu justru melindungi jaekyung sampai sejauh ini. Tidak mengatakan yang sebenarnya, justru membiarkannya berada dalam kesalahpahaman. Apa pernikahan mereka tidak lebih penting? Bahkan jandi mengira ketika junpyo datang ke sungai Han tadi, mungkin untuk menghalangi jaekyung mengakui segalanya. Ia berfikir mungkin saja sampai sekarang junpyo masih belum bisa melepas jaekyung, jandi yakin jauh di dalam lubuk hati junpyo masih ada jaekyung yang tidak bisa hilang. Hingga sejauh ini, jandi akan terus menjadi seseorang yang merampas junpyo dari jaekyung.

Airmatanya tidak mampu untuk dibendung, jari-jari itu meremas bagian dada yang terasa sesak, sebagai jawaban seberapa parah luka hatinya. Jandi ingin memungkirinya, ia tidak pernah siap ketika harus mendapati junpyo menyimpan orang lain di hatinya. Ia tidak ingin mempercayai apa yang junpyo katakan di Boston adalah kepalsuan, bahkan jandi mempercayainya meskipun jika junpyo pernah berniat menceraikannya. Lebih baik seperti itu, daripada melindungi kebohongan sejauh ini.


BRAK!!!

”JANDI? GEUM JANDI? JANDI-YAA.......”

Jandi terkesiap ketika mendengar suara yang sangat familiar itu -tak sabaran memanggil-manggil namanya, ia buru-buru menghapus airmatanya, sementara wajahnya masih merah dan lembab.

”JANDI-YAA??”

Sekali teriakan lagi membuatnya bangkit sambil memastikan pendengarannya, itu benar suara Goo Jun Pyo. Tapi setelahnya jandi hanya mendengar suara gaduh, seperti orang yang sedang berkelahi. Tentu saja, bagaimana dia bisa datang kesini sementara dia tahu percis seperti apa keadaannya. Jandi segera keluar kamarnya, tapi saat itu juga Mrs.Geum sudah berada disana. Keduanya mendadak kaku ketika berpas-pasan, sementara jandi semakin gugup saat mendengar teriakan yang diiringi suara pukulan.

”JANDI?” Bruk!

Mrs.geum menatap jandi dengan tatapan penuh antisipasi, begitu juga sebaliknya. Terlihat jelas Mrs.Geum tidak ingin jandi keluar dari kamarnya, mulanya dia memang berniat mengunci pintu kamar jandi dari luar, tapi ia terlalu lamban.

Jandi :      ”Omma...?” panggilnya pelan, ragu dengan apa yang akan terjadi padanya.

Mrs.Geum :   ”Masuklah! Omma tidak ingin memaksamu lagi.” ucapnya dingin dan cepat.

Jandi :      ”Tidak perlu, omma memang tidak perlu melakukannya. Apa yang omma inginkan, aku yang akan menyelesaikannya. Karena itu, berhentilah!”

Mrs.geum belum mengerti dengan kata-kata jandi -yang lagi-lagi terdengar ketus, memaksa hatinya diliputi rasa bersalah. Apa maksudnya dengan menyelesaikan? Mrs.Geum mendadak ragu dengan sikapnya ketika jandi seolah dengan suka rela akan memberian apa yang ia inginkan, meskipun sorot matanya menjelaskan kalau dirinya begitu terluka saat ini.

Tanpa penjelasan lagi, jandi melewati ommanya begitu saja seakan begitu pasti dengan apa yang akan ia lakukan. Buru-buru menuruni anak tangga, benar saja, matanya langsung berkaca-kaca saat menangkap sosok junpyo yang terlihat begitu tak berdaya. Bibirnya berdarah, junpyo tersungkur di lantai sambil ngos-ngosan. Hingga mata mereka bertemu, sungguh jandi segera menangis histeris jika saja ia mengikuti perasaannya.

Junpyo :    ”Jandi?”  ucapnya antusias saat menatap jandi masih terpaku di anak tangga.

Jandi :      ”Apa yang kau lakukan?” masih terperangah manahan tangis.

Jandi langsung berlari mendekati junpyo, membantunya berdiri. Tapi lelaki itu justru langsung berbaur memeluknya, jandi agaknya terkejut dengan reaksi junpyo, terpaku dalam diam.

Beberapa penjaga yang berkelahi dengan junpyo juga tak kalah berantakan, mereka juga berdarah dimana-mana. Mereka semua kembali akan bergerak menghalangi jandi, tapi Mrs.geum menahan mereka.

Mrs.Geum :   ”Hentikan! Biarkan saja mereka....” tukasnya pelan tanpa melepas pandangannya dari jandi dan junpyo.

Lelaki itu terlihat begitu tenang saat tubuhnya berada dalam dekapan jandi, seakan beberapa luka bekas pukulan itu sama sekali tak menyakitinya. Junpyo tersenyum, memeluknya semakin erat.
Junpyo :   ”Gomawo.” bisiknya di telinga gadis yang sangat dicintainya itu.



--------------------------------------------------



Jandi perlahan memapah junpyo menuju mobil junpyo, dan ia sendiri yang mengendarai mobil itu. Junpyo sama sekali tidak protes, terserah jandi akan membawanya kemana, asal bersamanya..

Sementara Mrs.Geum hanya membiarkan mereka pergi, ia ragu dengan apa yang jandi katakan tadi. Apa yang akan dilakukan puterinya itu, dia pun tidak tahu. Tapi sekarang ia terlihat kesal dengan beberapa orang di hadapannya yang sedang tertunduk itu, Mrs.Geum mengomel -memarahi mereka sambil mondar mandir.

Mrs.Geum :   ”Apa yang kalian lakukan barusan? Lagi-lagi kalian mengacaukan semuanya. Siapa yang suruh kalian berkelahi? Ya ampun!” mondar-mandir, stress menghadapi anak buahnya yang rata-rata wajahnya babak belur oleh pukulan junpyo.

Salah satu dari mereka ragu-ragu menjawab ”Tapi dia yang memukul duluan nyonya...”

Mrs.Geum :   ”Tentu saja. Aku tahu bagaimana anak itu.” mendelik pada mereka semua.

”Ka.. kami... hanya membela diri...” ucap salah satu pengawal.

Mrs.Geum semakin memelototi mereka pertanda ia tidak perduli, anak buahnya itu langsung tertunduk gugup. Mrs.Geum hanya menghela nafas kesal kemudian meninggalkan mereka yang langsung memegangi wajah mereka yang lebam-lebam kesakitan.



-----------------------------------------------



Krekkkk...........

Pintu itu terbuka, Mrs.Geum dengan raut kesal masih mengomel sendiri sambil mendekati suaminya. Tapi mendadak ia terlihat shock saat menoleh pada suamianya itu, untuk pertama kalinya selama ia terbaring sakit raut Mr.Geum berubah sangat marah. Mrs.Geum semakin terbelalak ketika lelaki paruh baya itu terlihat susah payah mengangkat tangannya yang bergetar hebat, seakan begitu berat. Istrinya terkejut, mulutnya menganga menyaksikan perubahan kondisi suaminya yang begitu tiba-tiba. Mr.Geum mengangkat sempurna tangannya sambil menunjuk istrinya yang mematung, dengan raut geram bibir kakunya terbuka. Untuk pertama kalinya sejak terakhir kali ia bicara.....

”K..kau... ke...ter..la..luan.....” dengan susah payah, juga serak.

Mrs.Geum terbelalak shock. Apanya yang keterlaluan hingga membuat suaminya mendadak bicara? Apapun itu, yang penting sekarang Mr.geum sudah bisa bicara.

Mrs. Geum :      ”Sayang?” ucapnya gugup, tak percaya.

Ntah sakin lelahnya mengucapkan sepatah kata itu, atau memang ada yang tidak beres, tiba-tiba saja Mr.Geum malah pingsan. Mrs.geum yang tadinya terpaku berubah jadi panik, langsung berbaur memeluk suaminya sambil mengguncang tubuhnya.

Mrs.Geum :   “Suamiku? Sayang? Apa yang terjadi? bagunglah…. Aku mohon…”

Dengan panik omma jandi berteriak keras memanggil siapa saja yang mendengarnya.

”TOLONG.... CEPAT PANGGIL DOKTER!!!!!” menangis ketakutan.





         ============================



Nyambuuuuung ke bawah  [sweat] [sweat]

« Last Edit: February 08, 2012, 06:43:36 pm by Be my self »