Author Topic: [RPF] Minsun ~ Life is Beautiful ~ chapter 9. last update, 04 Agustus 2010  (Read 18369 times)

Offline endree_noona

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1713
  • ^True ♥ Never Runs Smooth^
  • Location: heroes city ^^
    • View Profile
CHAPTER 7


ADDITIONAL CAST



KIM MIN JI



JUNG EUI CHUL



HONG KI as JEREMY



ISAO SASAKI as HYESUN APPA





“Apa kau bilang? Keluar katamu YYA!!!” Geun Seuk berteriak kepada Min Ji yang berdiri angkuh di depannya.


“Benar, mulai saat ini aku KELUAR, aku sudah muak dengan kalian dengan band ini dan dengan semuanya” sahut Minji datar dingin tanpa ekspresi.





“APA KAU BILANG!!!” Geun Seuk kembali berteriak keras, ia sangat marah emosinya naik hampir saja ia menampar Minji kalau tidak segera dihentikan oleh Eun Chul.


“Hyung, tenang jaga emosimu” Eun Chul menggenggam tangan Geun Seuk yang kemudian di tepiskan oleh Geun Seuk.


“Minji-aa, katakan apa alasanmu sebenarnya kenapa kau tiba-tiba ingin keluar?” Eun Chul mencoba mendinginkan suasana yang sedang memanas di antara Geun Seuk dan Minji. “Kalau memang ada yang membuatmu tidak puas atau tidak suka katakanlah sekarang juga tidak ada masalah yang tidak bisa di bicarakan” lanjutnya lagi.


“Sudah ku katakan aku muak dengan kalian aku juga sudah bosan, terutama denganmu kau sangat kasar” sahut Minji melirik kearah Geun Seuk sinis.


“KAU!!!” suara Geun Seuk tertahan. Tangannya mengepal menahan amarahnya.


“Minji-aa” Eun Chul memotong sebelum Geun Seuk bertindak sesuatu yang malah akan memperkeruh suasana.


“Dengar kalian berdua, aku Lee Min Ji mulai detik ini tidak ingin berurusan dengan kalian lagi atau band ini terserah kalian melakukan apa tapi aku rasa tidak akan pernah ada gunanya, seharusnya sejak dulu aku meninggalkan band ini, band yang seperti sampah” Minji masih bicara dengan sinisnya.


“YYA MINJI!!!” Geun Seuk berteriak meluapkan segala amarahnya. Otot-otot lehernya keluar wajahnya merah padam.


“Hyung….. tenanglah” Eun Chul masih mencoba meredam suasana. “Minji-aa kenapa kau tiba-tiba berubah dan kenapa pada saat kita akan mengikuti festival dan apa maksud perkataanmu tadi?” Eun Chul mencoba meminta penjelasan Minji yang masih tidak bergeming, senyuman sinis tersungging di bibirnya membuat Geun Seuk semakin panas.


“Bukankah sudah kukatakan tadi Eun Chul, kau ini tuli yah AKU tidak mau berurusan dengan BAND SAMPAH seperti ini lagi ARASSO”. Sahut Minji sinis.


“HAH, Baiklah kalau kau ingin keluar cepat pergi dari sini sebelum aku merobek mulut rubahmu itu” Geun Seuk tiba-tiba menyahut. Minji agak terkejut namun ia segera kembali seperti semula.


“Apa yang kau tunggu dengan band sampah ini, cepat keluar sekarang juga KELUAARRRR!!!” sahut Geun Seuk lagi. Eun Chul diam ditempatnya tidak bisa berbicara banyak kalau Geun Seuk sudah seperti itu ia pun menyerah. Minji tersenyum sinis kearah mereka berdua kemudia pergi dari basecamp tempat mereka biasa latihan membanting pintu keras-keras.


Geun Seuk terduduk di sofa, amarahnya masih belum reda, di tariknya rambutnya sendiri sementara ia menggigit bibir bawahnya.


“Aush, sialan…” Geun Seuk memukulkan tinjunya kearah sofa, Eun Chul hanya diam memperhatikan Geun Seuk saja ia tidak berani berbicara jika Geun Seuk masih seperti itu. Tiba-tiba Jeremy masuk ke ruangan basecamp, nafasnya memburu wajahnya pucat dan kelihatan sangat panic.


“Hyung, wegude? Aku.. tadi.. aku bertemu dengan Minji dan dia…dia.. kelihatan marah sekali hah..hah..hah..” Jeremy bertanya histeris disela nafasnya yang masih kembang-kempis. Dilihatnya Eun Chul dan Geun Seuk yang terdiam di tempatnya masing-masing tidak ada yang berbicara.


“Hyung?” sahut Jeremy lagi pelan ditatapnya Geun Seuk dan Eun Chul bergantian menanti penjelasan.


“Sekarang bagaimana, kita harus bagaimana?” Eun Chul berkata pelan melihat kearah Geun Seuk dan tentu saja Jeremy yang tidak tahu apa-apa hanya bisa mengernyitkan alisnya bingung.


“Tidak bagaimana-bagaimana kita harus terus berjalan dengan atau tanpa dia” sahut Geun Seuk dingin.


“Tapi?” suara Eun Chul terputus ia berhenti sejenak. “Kita harus bagaimana tinggal 2 minggu lagi sebelum festival itu lalu bagaimana kita..” suara Eun Chul kembali terpotong oleh Jeremy yang tiba-tiba menyahut.


“Yo..yo..yo..Hyung adakah seseorang yang bisa menjelaskan padaku apa yang sedang terjadi kalian berdua membuatku benar-benar bingung sekarang” Jeremy kembali menatap kedua temannya itu. Geun Seuk bangkit dari duduknya.


“Bagaimanapun kita tidak boleh melewatkan festival ini karena ini satu langkah besar untuk band kita, dan Jeremy mulai sekarang kita harus melupakan Minji dan berjalan terus” sahut Geun Seuk. Jeremy masih kebingungan mulutnya mengangga mencoba mencerna kata-kata Geun Seuk barusan.


“Hyung, maksudmu Minji dia ke..lu..ar?” Tanya Jeremy pelan dengan nada shock.


“Kalau begitu apa kau yang akan berganti menjadi vokalis ataukah kita harus mencari vokalis lain menggantikan Minji. Tapi dimana kita bisa menemukannya sedangkan waktu kita sangat terbatas?” sahut Eun Chul menatap Geun Seuk. Geun Seuk meletakkan tangannya di atas pinggangnya terdiam sejenak berpikir.


“Kalian jangan khawatir kita latihan saja seperti biasanya sisanya biar aku tangani” sahut Geun Seuk kemudian. Geun Seuk menghembuskan nafasnya perlahan namun berat. Akhirnya hari itu mereka kembali berlatih untuk persiapan festival music yang akan diadakan oleh salah satu stasiun radio besar yang ada di Seoul, namun latihan hari itu benar-benar kacau mereka masing-masing kehilangan minatnya dan tidak dapat berkonsentrasi sama sekali, akhirnya mereka memutuskan untuk membubarkan diri dan pulang ke rumah masing-masing.





Hari itu karena masih sore maka Geun Seuk menuju ke rumah sakit untuk mengunjungi ibunya kembali. Dalam perjalanan ke rumah sakit ia lebih banyak melamun, sampai tidak sadar ia bertabrakan dengan seseorang.


Brakk…..  


“Aduuuuhhhhh sakiiitttttt yah kau taruh dimana matamu hah” suara seorang gadis berteriak mengumpat Geun Seuk. Geun Seuk refleks menoleh ke arahnya begitupun gadis tersebut.


“KAu!!!” suara mereka berbarengan. Minam memegang pantatnya yang sakit karena jatuh bertabrakan dengan Geun Seuk tadi.


“YYa…selalu saja kau” ringis Minam menahan linu di pantatnya.


“Hey gadis aneh, kau sendiri juga melamun kan kalau tidak bagaimana kita bisa bertabrakan hah seharusnya kalau kau melihat kau kan bisa menghindar” omel Geun Seuk balik.


“Oh…. benar juga apa yang dia katakan” Minam menggumam pelan.


“Mwo?? kau bilang apa?” sahut Geun Seuk kembali meletakkan tangannya di dadanya.


“Yash…. kau ini” sahut Minam kembali tidak mau kalah. Geun Seuk kemudian berlalu begitu saja dengan cueknya, ia melewati Minam begitu saja tanpa bicara apa-apa lagi.


“YAH!!!” teriak Minam keras, orang-orang yang kebetulan berada di taman itu menoleh ke Minam. Minam menutup mulutnya dengan tangannya merasa malu telah berteriak tidak pada tempatnya. Geun Seuk menoleh membalikkan tubuhnya melihat kearah Minam.


“APA, jangan minta aku untuk minta maaf karena aku tidak bersalah” Geun Seuk mencibir Minam.


“Aushh, dasar laki-laki brengsek tidak sopan” Minam kembali mengumpat pelan bergumam dengan dirinya sendiri. Geun Seuk membalikkan badannya kembali kemudian ia pun kembali berjalan menuju ke rumah sakit yang letaknya sudah tidak jauh lagi. Meninggalkan Minam yang cemberut karena kesal setengah mati.



*********************


Sore itu seperti biasa Hyesun menuju ke Manolin Café, meskipun wajahnya sedikit pucat karena dia merasa agak tidak enak badan namun ia tetap memaksa untuk berangkat. Ayahnya yang dua hari kemarin baru kembali sempat mencegahnya untuk berangkat namun Hyesun tetap keras kepala memaksa untuk masuk dengan alasan dia hanya menunggu café saja tidak melakukan pekerjaan yang berat. Akhirnya setelah capek berdebat dengan putri bungsunya akhirnya Mr. Sasaki mengalah dan membiarkan Hyesun pergi.


Selama di café Hyesun lebih banyak diam dan melamun, memikirkan perbincangan dengan ayahnya tadi pagi tentang rencana Mr. Sasaki untuk membawa Hyesun berobat di Jerman, namun sekali lagi Hyesun menolak dan mengatakan bahwa ia kini baik-baik saja.


“Sun-aa, appa sudah membuat janji dengan Dr. Joseph dia professor ahli tulang dan syaraf yang ada di Jerman kemarin waktu appa di Jepang kami sempat bicara cukup lama dan ia menyarankan supaya kau di rawat disana, bagaimana menurutmu nak” Mr. Sasaki berkata lembut kepada putrinya itu saat mereka sedang sarapan pagi.


“Appaaaaaa…” Hyesun merajuk menanggapi dengan malas.    
 

“Unnie, benar kata aboji, kau seharusnya tidak menolaknya lagi kali ini” sahut Minam tiba-tiba saat ia ikut sarapan bertiga bersama mereka.


“Yya.. Minam-ssi kenapa kau sekarang malah mendukung appa hah” Hyesun menjawab sedikit cemberut kearah Minam.


“Minam benar nak, lagipula tidak ada salahnya mencoba siapa tahu kali ini berhasil” tutur Mr. Sasaki kembali tersenyum kepada Minam dan Hyesun. Hyesun tidak menjawab ia hanya cemberut saja.


“Arasso nanti aku pikirkan lagi” akhirnya jawaban itulah yang keluar dari mulut Hyesun. Minam dan Mr. Sasaki tersenyum lega mendengar jawaban Hyesun.



*********************


“Sun-aa gwenchana”. “Kau baik-baik saja wajahmu agak pucat” Suara Seung Gi membuyarkan lamunan Hyesun.


“Ah, gwencana…” sahut Hyesun menoleh kearah Seung Gi. “Apa apa? Apa ada masalah?” lanjutnya melihat ke sekeliling café.


“Tidak ada masalah tapi wajahmu pucat sekali, kau sedang sakit? Kenapa kau memaksa datang harusnya kau istirahat saja dirumah Sun-aa”


“Ahniyo, aku baik-baik saja kok” Hyesun tersenyum simpul. “Kau belum pulang?” sahutnya lagi.





“Oh belum hari ini aku pulang malam, Minho hari ini tidak bisa datang tadi ia sempat menelpon katanya dia sedang sakit” sahut Seung Gi kemudian.


“Mwo? apa katamu dia sakit? Sakit apa?” Hyesun bertanya dengan nada cemas.


“Tadi dia bilang agak tidak enak badan saja, mungkin gara-gara cuaca yang berubah-ubah drastis jadinya banyak orang yang sakit pancaroba. Sun-aa kau juga harus menjaga kesehatanmu jangan suka memaksakan dirimu lihat wajahmu sendiri yang pucat begitu” lanjut Seung Gi kemudian.


“Ah, Gwenchana. Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku seperti itu aku ini bukan anak kecil lagi arasso”


“Iye, arasso kau memang bukan anak kecil lagi tapi keras kepalamu itu lebih parah dari anak kecil kau tahu” Seung Gi tertawa kecil.


“Mwooo?” Hyesun membelalakkan matanya dan memonyongkan bibirnya kesal kearah Seung Gi yang menertawakannya.



*********************


Hari itu Hyesun pulang cepat selain alasan ia ingin beristirahat juga karena Seung Gi yang tetap cerewet memaksanya untuk pulang, namun alih-alih pulang ia malah menuju ke apartemen Minho setelah sebelumnya membeli beberapa makanan untuk Minho. Entah kenapa Hyesun sangat mengkhawatirkan Minho, Hyesun baru tau kalau Minho tinggal sendiri di apartemennya dari cerita Seung Gi, karena itulah ia berpikir pasti tidak ada yang merawatnya karena dia sakit. Ia mengkhawatirkan Minho lebih dari dirinya sendiri saat ini.


Sesampainya di depan apartemen Minho, Hyesun memakirkan mobilnya di tepi jalan kemudian mengeluarkan kursi rodanya dari mobilnya. Saat ia sudah duduk di kursi rodanya dan mengambil makanan yang dibelinya untuk Minho tadi, tidak sengaja ia melihat Minho keluar dari apartemennya dan seorang gadis berjalan di sampingnya bergelanyut manja di tangan Minho. Hyesun tertegun makanan yang di bawanya jatuh ke tanah shock melihat Minho.


Minho melihat kearah Hyesun, pandangan mereka berdua bertemu. Minho berjalan menghampiri Hyesun setelah sebelumnya melepaskan ikatan tangan Bo Young.


“Hyesun-ssi, kenapa kau kemari” Tanya Minho saat dia sudah ada di depan Hyesun. Minho melirik kearah makanan yang jatuh di jalan. Hyesun terdiam sejenak. Minho berjongkok di depan Hyesun dan mulai memunguti makanan yang terjatuh di depan Hyesun.


“A..Aku..aku dengar kau sedang sakit karena itu aku… mem..bawakan makanan untukmu karena aku dengar kau tinggal sendiri” jawab Hyesun pelan, suaranya bergetar. Minho menoleh ke arahnya.


“Miane merepotkanmu tadinya aku sudah akan berangkat tapi tiba-tiba kepalaku pusing” sahut Minho.


“Oh. ahniyo akulah yang harus meminta maaf karena sudah datang mengganggumu” jawab Hyesun melirik kearah Bo Young yang terlihat kesal. Minho ikut menoleh kearah Bo Yong. Hyesun menanggukkan kepalanya ke Bo Young yang masih berdiri ditempatnya.


“Kalau begitu…aku pergi sekarang” sahut Hyesun cepat kembali masuk ke mobilnya. Lalu setelah berpamitan cepat Hyesun pun pergi meninggalkan Minho yang kebingungan dengan sikapnya yang aneh.





Selama di jalan Hyesun tidak kuasa menahan air matanya. Ia menangis entah karena sedih atau kesal yang jelas ia merasa cemburu melihat Minho yang bersama dengan Bo Young tadi. Sesekali ia menyeka air matanya yang jatuh di pipinya. Sampai dirumah iapun langsung menuju ke kamarnya, tidak diperdulikannya teriakan Minam dan Terry anjingnya yang terus menyalak. Hyesun mengunci dirinya di dalam kamar. Sesampainya di kamarnya ia menuju ke meja tulisnya, masih menangis.


“Unnie…Sun unnie gwencana” suara Minam terdengar dari luar mengetuk pintu kamarnya berkali-kali namun Hyesun tidak menjawab karena badannya masih bergetar. Hyesun menahan nafasnya sebentar mencoba menenangkan dirinya. Minam masih terus memanggil dari luar dengan cemas. Akhirnya setelah bisa menguasai dirinya Hyesun mengayuhkan kursi rodanya ke pintu dan membukanya. Minam masih berdiri di depan pintu dengan wajah yang amat sangat cemas.

  
“Unnie, gwenchana” Minam bertanya dengan cemas, Hyesun hanya tersenyum tipis membuat Minam semakin penasaran.


“Gwenchana, apa kau sakit lagi? Unnie apa perlu kita ke rumah sakit sekarang aku akan mengantarmu!” seru Minam. Wajahnya pucat pasi melihat Hyesun dengan seksama.


“Ah gwenchana dongsaeng aku tidak apa-apa aku tidak sakit, masuklah”


Hyesun menuju ke dalam diikuti oleh Minam di belakangnya. Minam kembali bertanya kepada Hyesun. Agak lama Hyesun terdiam, ia ragu-ragu untuk bercerita kepada Minam, namun segera di tepisnya perasaannya itu, sejenak kemudian Hyesun pun menuangkan segala perasaannya kepada Minam. Minam mendengarkan curhat Hyesun dengan seksama


“Unnie, kau sedang jatuh cinta” sahut Minam tersenyum.





TO BE CONTINUED……


And if that love was true... When you love someone It will all come back to you. Coz we are MINSUN family ^^