Author Topic: I CAN’T CALM MY HEART ″ending super LONG″  (Read 37934 times)

Offline Cud na

  • Junior
  • **
  • Posts: 100
  • Love Minsun
    • View Profile
Di sisi lain, saat malam semakin larut. Sebuah mobil mewah berwarna merah itu sudah beberapa menit terparkir disana, tepat di halaman kediaman keluarga Goo yang super luas. Mobil itu seolah tak berpengendara, tidak seorangpun keluar. Mungkin karena saat itu hujan deras serta angin kencang sedang mengobrak-abrik suasana malam, atau mungkin pemiliknya sengaja berdiam diri disana, tegang. Sekaku sorot mata jandi yang hanya menatap ke depan tanpa lelah. Membuat junpyo ragu meski sesekali meliriknya, tapi gadis itu tetap tak bergeming. Junpyo jadi serba salah, awalnya dia senang saat jandi membawanya pulang. Hatinya pun seketika dihiasi bunga-bunga, semerbaknya menjadi penawar luka di bibirnya akibat perkelahian tadi. Dengan percaya diri mengira mereka akan kembali tinggal bersama, tak terasa sakit di tubuhnya meski dikeroyok beberapa orang, dia lah pemenangnya. Ya, dia juaranya.

Junpyo berdehem sekali sebelum memulai pembicaraan, berharap bisa menghancurkan kekakuan.

Junpyo :   ”Ehem... Jandi-yaa... Aku senang akhirnya kau mau pulang.” tersenyum ragu, tak menutupi kegembiraannya meski sedikit heran dengan sikap jandi yang terasa dingin.

Jandi :      ”Goo Jun Pyo, sampai disini saja.”

Junpyo :   ”Apa?”

Sontak lelaki itu menoleh, meyakini telinganya pasti sudah salah dengar. Menyadari junpyo akan menghelanya, jandi buru-buru melanjutkan kata-katanya sebelum mulut junpyo -yang sudah terbuka- kembali berucap.

Jandi :      ”Tidak seharusnya seperti ini. Jujur saja, sejak awal... aku berharap kita segera berpisah. Apa kau tidak menyadarinya?” ucapnya santai dan ketus.

Junpyo :   ”Jandi-yaa, aku tidak mengerti.” bahkan ia ragu jandi sedang bercanda atau serius.
 
Jandi :      ”Kau juga seperti itu! Kita menikah sambil memikirkan bagaimana caranya mengakhiri ini semua. Jelas-jelas tidak saling menginginkan.”

Junpyo terperangah, matanya berkedip berkali-kali. Masih tak mengerti, tapi apapun itu, sampai disini ia mulai tak ingin jandi bicara lagi.

Junpyo :   ”Apa yang kau bicarakan? Jangan bicara lagi!” berusaha memungkiri, berusaha mengajak jandi untuk berhenti jika ia sedang berjalan dalam keputus-asaan.

Jandi :      ”Ini yang sebenarnya. Mungkin kau lupa.. Sejak awal, kau juga tidak menginginkanku.” Jandi justru semakin mengingatkan perasaan mereka saat belum tenggelam dalam cinta. Seolah ingin menyadarkan junpyo kalau pada awalnya dia mencintai wanita lain, dan memintanya kembali menggali perasaan itu. Mengira junpyo akan dengan mudah kembali menemukan jaekyung di hatinya. Mungkin memang tidak seharusnya mereka memaksakan diri.

Junpyo segera menghela, tapi lagi-lagi kata-kata tajam jandi tidak mengijinkannya bicara. Mata gadis itu berkaca-kaca saat menatap junpyo di sisinya.

Jandi :      ”Sudah terlalu jauh, aku ingin kembali pada saat dimana aku menginginkan kau pergi dari kehidupanku.”

Junpyo :   ”HENTIKAN!” bentaknya kuat. Dia benar-benar tidak tahan lagi mendengar ucapan jandi. Tapi gadis itu justru semakin mempertegas sikapnya.

Jandi :      ”Mianhe... Goo Jun pyo.”

Saat itu juga jandi keluar dari mobil junpyo yang disambut oleh deras hujan dan sambaran petir. Tubuhnya sekejap saja basah kuyup, angin bertiup kencang, membuatnya merinding. Belum sempat beranjak dari sana, junpyo yang marah langsung menangkap gadis itu dalam cengkramannya, ia mendorong tubuh jandi, memojokkannya hingga punggungnya tersandar ke mobil sakin kuatnya tenaga junpyo yang sedang mengerang.

Junpyo :   ”JANGAN MEMPERMAINKANKU GEUM JANDI! AKU TIDAK AKAN BERSABAR LAGI!” tatapanya tajam, membentak geram. Mencengkram kuat tangan jandi, meninggalkan bercak merah disana -ketika gadis itu tak kalah bersikeras menyingkirkan tangan kokohnya.

Jandi :      ”Apa kau ingin aku meninggalkan keluargaku sekarang? Semakin aku memikirkannya, aku yakin cintaku tidak sebesar itu.” ucapnya enteng, sinis, begitu pasti.

Ia tak bergeming sedikitpun oleh tatapan tajam junpyo -yang perlahan tapi pasti- berubah jadi keraguan, menyulut beningnya butiran air yang sejak tadi sudah genting di pelupuk. Cengkramannya di tubuh jandi mendadak melemah, seiring sorot matanya berubah memilukan. Jandi dapat memastikan betapa berhasilnya ia membuat lelaki itu terluka.

Raut wajah jandi tak mengisyaratkan penyesalan, mematahkan asa junpyo begitu saja. Seakan tak ada celah untuk berharap semua ini hanya guyonan. Mana mungkin, tak tahukah ia batapa sulitnya jandi bertanggung jawab pada ungkapan hatinya yang palsu? Ia tidak mungkin mundur lagi.

Junpyo :   ”Katakan padaku, apa jaekyung mengatakan sesuatu padamu? Iya, pasti omma memaksa mu?? Katakan ini bukan kata hatimu! GEUM JANDI!”

Lelaki itu bersikeras memungkiri kalau semua yang jandi katakan adalah kesungguhan hatinya, matanya memerah, meski airmata yang jatuh langsung berbaur dengan dinginnya air hujan yang mengguyur seluruh tubuh. Junpyo menggeleng keras, setidaknya berusaha mendesak jandi menarik kembali kata-katanya. Tapi gadis itu bahkan tak berkedip sedikitpun, menandakan keseriusan.  Meski air hujan menyapu wajah cantiknya, ia terus menatap junpyo dengan tatapan dingin. Sebelum sejurus kemudian meninggalkan junpyo begitu saja.

Tidak, tak semudah itu baginya menyerah. Seolah tak ingin jandi menjauh selangkahpun dari dirinya, junpyo langsung menangkap tubuh jandi lagi.

Junpyo :   ”KAU BERJANJI TIDAK AKAN MENINGGALKANKU! APA KAU LUPA???” kali ini berteriak histeris, melawan derasnya suara berisik hujan.

Jandi :      ”Aku sudah berubah pikiran... Aku akan segera melupakanmu!” tukasnya tajam, menusuk hati junpyo sekejam mungkin. Kembali menyingkirkan tangan lelaki itu, kemudian melanjutkan langkahnya.

Junpyo menatap punggung jandi yang semakin menjauh, hatinya bagai disengat jutaan lebah. Airmata pun mengalir deras, membuatnya mati rasa.

Junpyo :   ”Arrrrrgggghhhhhh......................” berteriak kekuat-kuatnya sampai tubuh kokoh itu tersungkur -berlutut di tengah hujan deras sambil memegangi dadanya.

”KAU BOHONG!! KATAKAN SEMUA INI TIDAK BENAR!! KAU BERJANJI TIDAK AKAN MENINGGALKAN KU... GEUM JANDI!!!!    huk..huk...”

Beberapa pelayan di rumah itu berhamburan untuk melihat keributan di luar, mereka terkejut menyaksikan tuan mudanya berlutut sambil berteriak. Semakin bingung saat sempat melihat jandi yang berjalan pelan menuju gerbang. Junpyo mengamuk, ia bangkit seraya kakinya menghantam mobilnya. Mungkin berniat menghancurkan benda malang itu.

Siapa yang berani mendekat? Kepala pelayan pun nyalinya menciut, hanya mondar-mandir ketakutan tanpa berani bertindak. Beberapa pelayan wanita justru ikut menangis.

Sementara jandi terus menjauh, ia masih dapat mendengar makian-makian junpyo. Teriakan memilukan itu, semakin memberatkan langkahnya. Tubuhnya bergetar oleh isak tangis, kedua tangan menutup mulutnya rapat-rapat. Merinding disambar dinginnya angin malam.

’Bodoh, apa kau percaya dengan kata-kataku? Kau... memang bodoh.’ Batinnya, masih terus terisak.



            To be continued.......
         ============================
« Last Edit: February 08, 2012, 07:02:54 pm by Be my self »