Author Topic: I CAN’T CALM MY HEART ″ending super LONG″  (Read 38270 times)

Offline Cud na

  • Junior
  • **
  • Posts: 100
  • Love Minsun
    • View Profile
Chapter Ending
PART 2



Sebulan telah berlalu sejak kejadian malam itu, junpyo dan jandi sudah berjalan dalam kehidupan mereka masing-masing. Tapi bagi jiwa yang kehilangan sebagian lainnya, membuatnya bagai bergerak tapi tak berjalan. Membuatnya berjalan tapi tak bergerak. Meski pagi yang secerah ini, disambut paduan suara burung yang saling menyahut dari segala penjuru. Musim panas belum juga berlalu, hawa hangatnya menyelimuti setiap jiwa dalam naungan teriknya matahari. Wewangian bunga yang bermekaran mewakili hari penuh semangat di antara bisingnya setiap pergerakan manusia dalam kesibukan masing-masing.


Kediaman Keluarga Geum


”Jandi?? Jandi? Dimana anak itu?” Suara Mrs.Geum memenuhi seisi ruang makan bahkan sampai ke ruang lainnya, memanggil-manggil anak semata-wayangnya yang masih belum juga turun untuk menyantap sarapannya.

Mrs.Geum :   ”Cepat panggilkan jandi. Nanti dia kabur lagi tanpa sempat sarapan.” pintanya pada saah satu pelayan yang sedang menyajikan makanan di meja.

Pelayan :   ”Baik nyonya.”

Pelayan itu membungkuk untuk kemudian pergi melihat jandi.

Mr.Geum :   ”Istriku, jandi bukan anak kecil lagi. Kau jangan mengaturnya terus.” ucapnya penuh wibawa sambil menyeruput segelas susu di depannya.

Mrs.Geum :   ”Kau kan tahu akhir-akhir ini makannya semakin tidak teratur. Orang hamil itu tubuhnya semakin besar, tapi lihat jandi... orang akan berfikir aku tidak mengurusnya dengan baik, tubuhnya masih kurus begitu.”

Setidaknya, sejak Mrs.geum bagun tidur.. rumah itu dipenuhi oleh omelan-omelannya. Suaminya yang duduk di kursi roda itu tidak terlalu memperdulikannya, bahkan sesekali hanya menertawai.

Suara langkah jandi terdengar buru-buru, mendekati ruang makan. Ya, dia benar-benar memakai high heels. Diikuti seorang pelayan, jandi menyapa omma dan appanya dengan senyum ceria seperti biasanya.

Jandi :      ”Omma, appa, selamat pagi!” langsung meneguk segelas susu di meja.

Mrs.Geum :   ”Yah, pelan-pelan... Habiskan sarapanmu dulu baru pergi.”

Jandi :      ”Anyio, aku buru-buru...”

Mrs.Geum :   ”YAH... Jandi-yaaa... pikirkan anakmu di perut. Kau tidak boleh pergi sebelum sarapan.” langsung memotong roti di piring jandi untuk menyuapinya.

Jandi :      ”Ne, aku akan memakannya di mobil.” jawabnya acuh.

Mr.Geum :   ”Jandi-yaa, jaga kesehatan mu. Pekerjaan tidak terlalu penting.”

Bukannya mengiyakan nasehat appanya, jandi malah mengalihkan pembicaraan.

Jandi :      ”Appa tahu kan proyek resort di Busan sudah selesai? Sabtu ini peresmiannya.”

Mr.Geum :   ”Tentu saja. Nanti kita pergi bersama..”

jandi :      ”Siapa bilang aku akan datang?” jawabnya acuh tak acuh sambil meletakkan gelas susunya yang sudah kosong.

Bukan Mr.Geum yang bereaksi, tapi justru istrinya yang langsung memelototi jandi.

Mrs.Geum :   ”Apa maksudmu? Kau tidak mau datang?” tukasnya cepat.

Jandi :      ”Aku sudah pesan tiket ke Boston. Ada acara kelulusan, aku sudah berjanji akan datang.”

Belum lagi istrinya mengeluarkan omelan-omelannya Mr.Geum mengisyaratkan omma jandi untuk menutup mulutnya. Jandi yang melihatnya pura-pura tidak tahu, ia malah langsung menyambar makanan di meja dan langsung kabur.

Jandi :      ”Aku pergi dulu omma, appa...”

Dia buru-buru kabur sebelum dipaksa melakukan sesuatu lagi. Tapi teriakan ommanya menghentikannya.

Mrs.Geum :   ”Jandi-yaa... ini tas mu kenapa ditinggal?”

Dengan wajah merah merona jandi berbalik kembali mengambil tasnya, omma dan appanya hanya terperangah oleh sikap konyol jandi yang semakin hari semakin parah.

Mrs.Geum :   ”Ada apa dengannya? Anak kita yang pintar sekarang jadi ceroboh begitu.”

Mr.Geum :   ”Sudah. Mungkin dia sedang banyak pikiran.”

Mrs.Geum :   ”Memikirkan apa? Goo Jun Pyo?”

Mr.Geum :   ”Huuss... Kau ini.”

Mrs.Geum terus saja mengoceh.

Mrs. Geum :   ”Tapi tetap saja tidak mengaku.”

Mr.Geum :   ”Bagaimana kalau dia memang memikirkan junpyo? Apa yang bisa kita lakukan?” tukasnya cepat, untuk menghentikan ocehan istrinya.

Mrs.Geum mendadak murung, membuat suaminya jadi serba salah.

Mr.Geum :   ”Yah, sudahlah... Tadi itu dia hanya sedang gugup, setauku pagi ini akan ada meeting di Shinwa.”

Ucapan itu tidak membuat istrinya lega, seolah tak tergoda oleh hiburan palsunya.

Mrs.Geum :   ”Semakin lama dia semakin tertutup, kau pikir aku tidak merasakannya? Mungkin saja jandi menyimpan dendam padaku.”

Mr.Geum :   ”YAH... Bagaimana kau bisa berkata seperti itu tentang putriku yang hatinya begitu tulus. Kau tidak tahu, mungkin karena aku makanya dia selalu menghindar.” kalimat terakhirnya terdengar pelan, penuh penyesalan.

Memang selama ini jandi selalu menghindar setiap kali ommanya berusaha memancingnya, bertanya tentang perasaannya sekarang.


Pembicaraan suami–istri ini berpindah ke kebun di belakang rumah, saat Mrs.Geum membawa suaminya berjalan-jalan untuk menghirup udara segar setelah menyantap sarapan mereka.


Mrs.Geum :   ”Semua ini salah ku.” ucapnya pelan.


Flashback



Malam dimana hujan turun begitu lebat, mengobarak-abrik hati dengan penuh kegelisahan. Saat itu, Mrs.Geum sedang mondar-mandir gelisah sambil meremas-remas tangannya yang terlihat kaku -terkepal tak mau lepas. Hujan yang dingin tak mampu menghapus titik-titik keringat yang bertengger di dahinya. Hampir selama setengah jam dia dalam posisi seperti seterika, matanya memandang jauh ke gerbang, namun yang ditunggu-tunggu belum muncul.

Mrs.Geum :   ”Kepala pelayan Joo, kemana dokternya? Kenapa sudah selama ini tapi belum juga datang.” berteriak melawan berisiknya hujan, ia tak mampu lagi menahan kepanikan.

KP.Joo :   ”Sebentar lagi sampai nyonya, saya sudah menghubunginya barusan, katanya sudah dekat. Mungkin karena hujan sangat deras, sabar sebentar nyonya.”

Mrs.Geum :   ”Bagaimana aku bisa sabar, suami ku masih belum sadarkan diri.” rautnya panik, bahkan hampir menangis. Namun dagunya yang bergetar mengguratkan ketegaran seorang wanita. ”Dimana jandi? Kau sudah mencarinya?”

Kp.Joo :   ”Ponselnya tidak aktif, saya akan menyuruh seseorang mencarinya ke kediaman Goo.”

Mrs.Geum :   ”Tidak perlu. Biarkan saja.”

Setelah beberpa menit berlalu, akhirnya seorang dokter tiba. Tanpa basa-basi mereka langsung menuju ke kamar Mr.Geum. Istrinya berharap-harap cemas saat dokter memeriksa suaminya yang jatuh pingsan tadi, kali ini ketakutan merajai dirinya. Ia teringat, kata-kata yang diucapkan suaminya dengan terbata-bata... ”K..kau... ke...ter..la..luan.....”
Apa maksudnya? Sampai sekarang ia belum mengerti, tapi pada saat itu ia dapat merasakan kemarahan melalui sorot mata suaminya.

Dokter :   ”Nyonya Geum.”

Panggilan dokter membuyarkan lamunannya.

Mrs.Geum :   ”Dokter, bagaimana suami saya?”

Dokter :   ”Tekanan darah dan detak jantungnya normal. Beliau sedang tertidur, mungkin kelelahan. Kelihatannya semua baik-baik saja.”

Mrs.geum :   ”Benarkah? Tapi... tadi dia bicara dok.”

Dokter :   ”Bagus sekali, itu perkembangan yang sangat cepat. Tunggu sampai beliau terbangun, kita lihat perkembangannya. Besok bawa Mr.Geum ke rumah sakit untuk pemariksaan lebih lanjut.”

Mrs.Geum :   ”Ne dokter. Ghamshamnida.” membungkuk, akhirnya terlihat lega.

Dokter :   ”Lebih bagus jika terbangun nanti beliau bisa kembali berbicara. Anda tidak perlu khawatir.”

Mrs.Geum :   ”Ne. Dokter.”

Mrs.Geum mengantar dokter sampai ke depan, ia membungkuk untuk berterimakasih. Tidak lama berselang, bahkan sebelum ia kembali masuk ke kamar, Mrs.Geum melihat sosok jandi yang sedang berjalan cepat sambil menutup mulutnya dengan tangan melewatinya begitu saja.

Mulanya ingin mengabarkan tentang kondisi appanya pada jandi, tapi mrs.Geum justru menatapnya heran. Keadaannya saat itu sangat dramatis, basah kuyup. Bukan hanya ujung-ujung rambut indahnya yang masih masih meneteskan air, saat itu Mrs.Geum juga sempat melihat butiran airmata membasahi wajah puterinya yang cantik. Dia hanya bisa terkelu, menebak-nebak sesuatu yang buruk pasti telah terjadi.

Ia teringat dengan kata-kata jandi sebelum ia pergi bersama Goo jun Pyo, mungkin tangisnya kali ini berkaitan dengan itu.


Keesokan harinya...


Pagi-pagi sekali saat suasana masih sepi, Mr.Geum terbangun dari tidurnya. Perlahan tangan kakunya menyentuh tangan istrinya yang sedang tidur di sisinya. Merasa samar-samar ada yang menyentuhnya, Mrs.geum pun terbangun. Matanya yang tadi sulit terbuka sakin kantuknya, kini melebar dengan bibir sedikit terbuka.

”Suamiku?” Ucapnya pelan, tak percaya.

Sungguh keajaiban saat mendapati tangan suaminya sudah bisa bergerak menyentuhnya, padahal sebelumnya ia tak pernah melihat satu jaripun bergerak.

Mr.Geum :   ”Jan..di...” ucapnya kaku, terbata-bata.

Mrs.geum semakin kaget, bukan namanya yang pertama kali dipanggil.. ada apa dengan jandi?

Mrs. Geum :   ”Apa ada apa? Kau ingin aku memanggil jandi? Sayang, kau baik-baik saja kan?” Airmatanya sudah tumpah, mungkin dipikirnya suaminya ini ingin mengucapkan kata-kata terakhir sebelum kematian (?)

Mrs.Geum buru-buru turun dari tempat tidur untuk memanggil jandi, tapi justru suaminya menghentikan. Lelaki itu tidak mau melepas tangan istrinya seakan ia hanya ingin istrinya mendengar saja.

Mrs.Geum :   ”Waeyo?” menatapnya penuh tanya.

Mr.Geum :   ”Jan..di.. Ha..mil...”

Mrs.geum terdiam, menatap suaminya tanpa berkedip sedikitpun. Apalagi suaminya itu justru tersenyum, membuatnya semakin yakin telinganya tidak salah dengar. Atau mungkin ada yang salah dengan suaminya setelah bisa berkomunikasi kembali?

Mrs. Geum : ”Apa? A..apa itu benar? Sayang?”

Mrs.Geum kaget bercampur antusias, matanya melebar berkaca-kaca. Dikejutkan oleh suaminya yang mendadak bisa bicara, juga mendapat kabar gembira tentang kehamilan jandi. Sejenak ia melupakan semua kesulitan selama ini, ia lupa dengan apa yang sudah terjadi pada jandi semalam. Lupa dengan apa yang telah ia lakukan untuk memisahkan jandi dari Goo Jun Pyo, ayah dari cucunya. Sementara suaminya hanya menatapnya penuh haru.


End Of Flashback



Mrs. Geum :   ”Sejak malam itu, jandi berubah menjadi sangat tertutup. Dia selalu menghindar setiap kali aku menanyakan Goo Jun Pyo. Dia bahkan tak mengatakan padaku tentang kehamilannya, aku terlalu memaksanya. Dia mungkin membenciku.” ucapnya pelan dengan pandangan menerawang ke depan, penuh penyesalan.

Suaminya yang duduk di kursi roda hanya menghela nafas, sudah tak terhitung berapa kali istrinya ini mengeluhkan hal yang sama selama sebulan terakhir.

Mr.Geum : ”   Bagaimana dia bisa mengatakan padamu kalau dia sedang mengandung anak Goo Jun Pyo. Sayang, jandi hanya takut menyakitimu, karena dia sangat menyayangi kita.”

Itulah juga mengapa malam itu Mr.geum sangat emosional, saat terjadi keributan di rumahnya... ia ingin sekali menghentikan istrinya karena tahu istrinya pasti akan menyesal. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah keributan itu, tapi secara ajaib Tuhan menganugrahkannya kesembuhan saat dia memaksakan diri untuk bicara.

Pada awalnya Mr.Geum marah atas apa yang telah lakukannya istrinya, tapi lambat laun tanpa disalahkan pun Mrs.Geum tidak pernah berhenti merasa bersalah. Kata-kata ’menyesal’ selalu terucap dari mulutnya sejak tahu jandi sedang mengandung anak junpyo.

Pikiran Mr.Geum melayang pada saat jandi menceritakan tentang kehamilannya, ia bahkan masih dapat merasakan perasaan haru saat itu. Juga betapa tertekannya jandi saat dalam kebingungan -memohon padanya untuk segera sembuh. Di balkon waktu itu... saat pertama kali Mr.Geum menangis.....



FLASHBACK


Jandi :      ”Appa, apa yang bisa ku lakukan hanyalah memohon padamu untuk segera sembuh. Maafkan aku appa....” kali ini setitik air matanya menetes, jandi langsung tertunduk.

Saat itu, hati mana yang tak akan mendung menyaksikan puterinya bersimpuh-berlutut- di hadapannya dengan membenamkan wajahnya untuk menyembunyikan airmata. Sementara dirinya bahkan tak mampu membelainya. Hanya terisi sesak di dada, Mr.Geum mengamati jandi yang mulai terisak. Ia melanjutkan kata-katanya dengan suara serak parau, airmata Mr.Geum tak tertahankan- mulai berkaca-kaca.

Jandi :      ”Appa harus segera sembuh, karena... karena appa.. akan segera memiliki cucu.”

Jandi semakin terisak, sementara appanya sontak diliputi perasaan berbunga-bunga. Kebahagian yang mendadak itu mengalahkan kekakuan saraf-sarafnya, hingga tanpa sadar ia pun ikut menangis, sementara kepala jandi masih terbenam di pangkuannya.

Sebenarnya, Mr.geum tahu apa yang ingin disampaikan oleh jandi. Dia pasti merasa sangat bersalah, merasa menjadi sangat egois dan tidak mampu mengendalikannya. Menginginkan appanya sembuh, sebagai jalan untuk bisa memaafkan dirinya dan juga junpyo? Tapi saat itu, justru Mrs.Geum bertindak terlalu keras, hingaa jandi tak berani memutuskan apapun. Dan tak ada yang bisa ia lakukan Mr. Geum meski tahu semua itu, karena itu ia sangat marah. Tapi dia juga merasa bersalah karena semua ini terjadi akibat dirinya yang terlalu lemah, pikirnya.

Setelah beberapa lama dalam posisi seperti itu, barulah lambat-lambat jandi mengangkat kepalanya, matanya membulat besar saat menatap wajah appanya. Buru-buru ia menghapus air matanya agar pandangannya jelas. Ia berteriak melihat appanya menangis. Kemudian ommanya datang......


END OF FLASHBACK



Mrs. Geum :   ”Ini salah ku. Seandainya aku tahu, bagaimana bisa aku memisahkan mereka.” tak berhenti menyalahkan dirinya.

Tapi semua penyesalan seakan percuma, ia baru menyadari semuanya sudah terlambat. Sejak jandi pulang ke rumah dalam keadaan berantakan dan basah kuyup malam itu, hatinya sudah tertutup. Meski tidak tahu percis apa yang sudah terjadi malam itu, mulai dari sana jandi selalu menghindar setiap kali ommanya menanyakan tentang junpyo. Terlambat, walau sudah berusaha memperbaiki kesalahannya.

Mr.Geum :   ”Jangan menyalahkan dirimu lagi, kau juga menderita karena aku, sayang. Bukankah kau sudah berusaha keras menyatukan mereka lagi, sekarang biarkan mereka sendiri yang menyelesaikan perasaan mereka.”

Mrs.Geum :   ”Tapi, kenapa lama sekali? Beberapa bulan lagi akan menjadi seorang ayah, apa saja yang dilakukan anak itu?”

Keduanya hanya menghela nafas.



SHINWA GROUP



 
Pria tampan berpostur menjulang itu dengan penuh percaya diri berbicara di depan sejumlah relasi bisnis maupun pejabat pemerintahan, orang-orang disana memperhatikannya dengan pandangan berbinar. Beberapa asik mengangguk dan tersenyum puas, terkadang mereka juga bertepuk-tangan menyambut kalimat-kalimat keberhasilan yang terlontar dari mulut Goo Jun Pyo.

Junpyo :   ”Saya sebagai Presdir Shinwa Group merasa sangat bangga dan berterimakasih atas kerja keras anda selama ini, saya berharap dapat bekerjasama lagi untuk menyelesaikan proyek-proyek selanjutnya.”

Kalimat tadi disambut tepuk tangan meriah oleh seluruh peserta rapat, junpyo membungkuk pertanda berterimakasih. Semua orang berdiri dan mulai saling bersalaman pertanda sebuah proyek telah selesai dan berhasil diluncurkan. Satu per satu dari mereka mengucapkan selamat dan meninggalkan ruang meeting dengan tampang puas. Tak lama ruang meeting yang luas dan mewah itu hanya bersisa beberapa orang, junpyo yang masih menyambut jabat tangan rekan bisnisnya sekilas melirik seseorang yang dari tadi sibuk membereskan berkas di mejanya.

”Ghamshamnida.. Ghamshamnida...”

Kali ini jabat tangannya terhenti -sebelum menoleh pada pemilik tangan yang sangat dikenalnya itu, hatinya bergetar. Tangan yang biasa disentuhnya, kini menjadi sangat asing. Ia mengangkat kepalanya, dan gadis yang tadi diliriknya kini telah berada di hadapannya. Sementara suasana semakin sepi karena orang-orang tadi sudah meninggalkan ruangan itu.

Jandi :      ”Selamat Presdir Goo.” Sambil menatap junpyo dengan sorot mata seperti biasanya, kaku.

Junpyo :   ”Kau juga sudah bekerja keras. Selamat juga untukmu.” tidak kalah dinginnya.

Ntah sudah berapa lama situasi antara mereka menjadi seperti ini, keduanya menggunakan bahasa formal seperti orang yang tak pernah saling mencintai -sementara benihnya sekarang hidup dalam kandungan jandi yang semakin membesar. Sikap keduanya alot setiap kali mereka bertemu, satu sama lain tak ada yang mau mengalah.

Jandi membungkuk untuk kemudian meninggalkan tempat itu, tapi junpyo sempat melirik highheels yang dipakainya. Sontak ia mendengus ketika menyadari jandi selalu berusaha menyakitinya.

Junpyo :   ”Aku harus memastikan kau datang ke Busan sabtu ini.” ucapnya ketus, berhasil menghentikan langkah jandi sebelum ia keluar dari ruangan itu. Jandi menoleh, tatapan junpyo semakin dingin tanpa ia ketahui bahwa sebenarnya itu hanya karena highheelsnya.

Jandi :      ”Aku tidak akan datang. Dan kau tidak perlu menghiraukan hal itu.”

Junpyo :   ”Kau pasti datang!”

Kali ini ia tersenyum sinis, meninggalkan jandi yang kebingungan.

Jandi  :   ”Kenapa aku harus datang huh?” ucapnya kesal setelah menyadari di ruangan itu hanya tinggal dirinya sendiri.

Jandi pun mendengus karena junpyo meninggalkannya begitu saja, semakin hari lelaki itu semakin tidak perduli padanya. Begitu sering bertemu di kantor, seminggu terakhir junpyo bahkan tidak lagi menanyakan kabarnya.

Anehnya, jandi justru melakukan hal yang selalu membuat junpyo marah. Seperti menggunakan highheels ini, dia tahu junpyo tidak suka, tapi malah berharap junpyo tidak bersikap seacuh ini. Akhir-akhir ini jandi sangat kesepian, mengira mungkin junpyo benar-benar sudah tidak menginginkannya lagi. Tapi bukankah itu juga keinginannya? Sulit sekali menahan perasaan cinta, sulit!

Dengan wajah murung jandi pergi dari tempat itu, tapi baru selangkah ia berjalan tubuhnya nyaris bertubrukan dengan seseorang yang juga terlihat kaget. Orang tersebut langsung membungkuk pertanda hormat.

Serketaris Jung :   ”Nona....”

Jandi juga membungkuk, meski mulanya terasa kaku, tapi berusaha mencairkan suasana antara mereka.

Jandi :      ”Pak Jung, kenapa buru-buru?”

Serketaris Jung :   ”Maaf nona, saya baru saja akan menjemput Presdir di Bandara. Ternyata lebih cepat dari jadwalnya.”

Jandi :      ”APA? Presdir? Appa?”

Sereketaris Jung :   ”Ne, nona.”

Serketaris jung menatap jandi dengan tatapan penuh tanya, gadis itu seperti memikirkan sesuatu. Ya, dia baru mengerti maksud dari kata-kata junpyo barusan. Lelaki itu sudah tahu kalau orangtuanya akan pulang ke Korea, makanya dengan percaya diri mengatakan jandi pasti akan datang ke pesta di Busan.

Jandi    :   ”Pak Jung, dimana Goo Jun pyo?” tanyanya cepat.

Serketaris Jung yang semakin heran hanya menjawab seadanya : ”Tuan muda di ruangannya.”

Tanpa basa-basi jandi langsung berbalik arah menuju ruangan junpyo, sementara serketaris Jung tersenyum senang. Kemudian ia melanjutkan langkahnya untuk ke bandara.




--------------------------------------------




Pintu ruangan junpyo terbuka cepat, mengagetkan lelaki itu yang sedang berbicara dengan seseorang melalui telpon. Dahinya terhenyit menangkap sosok jandi yang masuk tanpa permisi dan kini berdiri di hadapannya dengan tampang kesal.

Junpyo :   ”Baiklah, nanti aku hubungi lagi.” ucapnya pada lawan bicara di telpon.

Tepat saat telpon itu diletakkan di tempatnya, jandi langsung memburu junpyo dengan kata-kata tajam, tanpa sempat lelaki itu menanyakan keperluannya.

Jandi :      ”Kau sengaja meminta appa datang ke acara itu?”

Junpyo :   ”Apa yang kau bicarakan?” jawabnya acuh.

Jandi :      ”Kau tahu apa yang aku bicarakan.”

Junpyo :   ”Oh, maksudmu acara di Busan? Atau tentang kesepakatan itu?” kali ini junpyo tersenyum sinis, dengan sengaja menertawai jandi. Sorot matanya yang teduh kini berisi isyarat kemenangan, yang membuat jandi semakin kesal.

Jandi :      ”Jadi benar kau sengaja?” memicingkan matanya, seolah menuduh junpyo berbuat curang padanya.

Junpyo :   ”Kau tidak membicarakan kesepakatan itu dengan ku, jadi aku....”

Belum lagi junpyo menyelesaikan kata-katanya, jandi buru-buru menghela.

Jandi :      ”Kesepakatan apa? Aku tidak bermaksud membuat kesepakatan apapun.” mulai merasa semua orang telah salah paham terlalu jauh tentang hal ini.

Sebenarnya kesepakatan seperti apa? Mengapa seolah junpyo begitu memanfaatkan situasi yang salah ini? Apa dia kembali berfikir bahwa pernikahan adalah sebuah kesepakatan? Jandi mulai memikirkan kata-katanya Mr.Goo waktu itu, seingatnya ia hanya bermaksud mengembalikan segala sesuatunya pada posisi semula. Tapi kesalahpahaman Mr.Goo semakin berlarut-larut, mengira pernikahan junpyo dan jandi baik-baik saja. Karena setelah jandi mengetahui kalau bukan junpyo yang ingin menceraikannya, ia menghubungi Mr.Goo untuk membicarakan hal ini.



FLASHBACK



Jandi :      ”Appa, aku sudah memaafkan Pak Jung, appa juga harus memberinya kesempatan.”

Jandi berkali-kali meyakinkan Mr.Goo kalau dia sudah memaafkan serketaris Jung. Bukan hanya karena dia ingin melupakan segalanya, tapi juga karena junpyo membutuhkan serketaris Jung. Dan juga demi permohonan jaekyung waktu itu. Jandi hanya ingin mengembalikan mereka semua pada posisi dimana ia tidak pernah hadir dalam kehidupan junpyo, maka setelah semuanya selesai, dia bisa melepasnya dengan tenang.

Mr. Goo :   ”Tidak, sudah appa katakan, appa tidak bisa mengabulkan permintaanmu ini.”

Jandi :      ”Tapi, junpyo membutuhkan serketaris Jung di sisinya.” di luar dugaan, appa junpyo ini memang jauh lebih keras kepala dari junpyo. Membuat jandi putus asa, sudah berapa lama mereka membicarakan hal ini, tapi appa junpyo masih belum luluh.

Mr.Goo :   ”Apa junpyo yang menyuruhmu untuk membujukku?”

Jandi :      ”Anyio, tidak seperti itu. Aku hanya..”

Mr.Goo langsung menghela kata-kata jandi.

Mr.Goo :   ”Tapi appa senang kalian sudah berbaikan.”

Jandi :      ”A..Apa?” mulai panik.

Terdengar tawa bahagia dari seberang sana yang membuat jandi bingung. Dengan memaafkan serketaris jung, apa itu berarti jandi sukses membuat Mr.Goo salah paham? Bagaimana caranya menjelaskan kalau keadaan mereka tidak sebaik itu. Jandi jadi terbata-bata, sulit baginya untuk mematahkan gelak tawa Mr.Goo saat itu juga.

Mr.Goo :   ”Jandi-yaa... Appa titip junpyo padamu... Karena mu, dia menjadi seorang yang sangat aku andalkan. Jaga juga cucu appa baik-baik...”

Tit......... telpon itu langsung putus begitu saja, membuat jandi semakin bingung. Karena apa yang dimaksudnya sama sekali bukan seperti itu......

Tapi setelah pembicaraan itu, beberapa hari kemudian serketaris Jung justru sudah kembali bekerja. Junpyo yang tak tahu apa-apa juga tidak mengerti, seingatnya berkali-kali ia menghubungi serketaris Jung untuk memintanya kembali, tapi lelaki paruh baya itu berdalih dirinya tidak pantas. Disaat junpyo mulai menyerah, kenapa tiba-tiba Pak Jung muncul?

Tanpa berlama-lama dalam kebingungan, kehadiran pak Jung langsung disusul dengan bunyi dering ponsel junpyo, telpon dari appanya. Ternyata Mr.Goo telah memerintahkan serketaris jung untuk kembali bekerja, mulanya junpyo tidak tahu kenapa appanya tiba-tiba berubah pikiran. Sebelum akhirnya Mr.Goo menjelaskan kalau jandi tempo hari menghubunginya, dan ia tak bisa melakukan apapun untuk menolak menantu kesayangannya itu.

Junpyo menghela nafas tak percaya, bahkan suara appanya tampak sangat bahagia di tengah suasana hatinya yang sedang kelam. Dari pembicaraan Mr.Goo, junpyo menuduh jandi telah membuat kesepakatan dengan appanya tanpa sepengetahuannya. Ia mengira jandi berkata pada appanya kalau hubungan mereka baik-baik saja, demi mengembalikan serketaris Jung ke posisi semula.


END OF FLASHBACK





Junpyo :   ”Ntah apa yang kau katakan pada appa, kau pasti tahu apa yang harus dilakukan.”

Kata-kata junpyo tadi semakin memojokkan jandi, ia menuduh junpyo telah memanfaatkan kesalahpahaman Mr.Goo untuk mempermainkan status pernikahan mereka.

Jandi :      ”Kau tidak perlu khawatir, aku akan menjelaskan semuanya pada appa.”

Junpyo :   ”Terserah, kau memang bukan tipe orang yang akan menepati janji.” ucapnya dingin. Mendadak jandi terkelu, dia tahu junpyo jelas-jelas sedang menyindirnya.  Sorot mata lelaki itu tajam, penuh dengan kekecewaan juga marah.

Jandi seolah dihujam oleh rasa bersalah yang tak bertepi, divonis oleh junpyo sebagai yang paling bersalah. Ia segera memalingkan wajahnya, menghindari sorot mata kelam yang mengarah pada sudut hatinya yang terdalam, mengobrak-abrik perasaannya.

Lagi-lagi dia menghindar sebelum junpyo membahas lebih jauh tentang hubungan mereka, tak berani menatap junpyo. Tapi pandangannya justru berubah heran saat menyadari seisi ruangan junpyo yang berantakan, ruangan itu lebih mirip kapal pecah, tidak seperti kantor. Pakaian berserakan, terdapat bantal juga selimut di sofanya, juga perlengkapan lainnya. Menyadari itu, wajah junpyo mendadak memanas, Sial... dia akan segera malu.

Jandi :      ”Kau... tinggal disini?” tanyanya ragu.

Junpyo semakin risih dengan pertanyaan itu, bisa-bisa sikap ’dingin’ nya selama ini memudar oleh asumsi jandi. Oh tidak, harga dirinya tak akan membiarkan itu terjadi.

Junpyo :   ”Kau bisa keluar sekarang, tidak ada yang memintamu kesini.” ucapnya pelan tanpa mau menatap jandi lagi.

Benar saja, jandi jadi gugup –dia tidak percaya kalau junpyo masih belum mau pulang ke rumah karena dirinya. Sebelum suasana menjadi semakin kaku, gadis itu buru-buru pergi dari sana. Junpyo hanya diam saja menatap punggung jandi.
   



         ===========================




Cuitt citt citt cittt...... suara kicau burung di senja yang hangat ini menemani sesosok pria tampan yang sedang duduk santai dengan kaki terlipat -di sebuah taman bermain. Sesekali bibir tipisnya menampilkan senyum menawan, juga sorot mata itu... bisa menjatuhkan hati wanita. Pria itu sedang asik memperhatikan beberapa anak kecil yang sedang bermain di salah satu wahana taman itu. Satu tangannya memegang cup ice cream yang sudah habis setengahnya, tampaknya dia sudah agak lama menunggu seseorang disana, berkali-kali melirik jam di pergelangan tangannya.

Selama beberapa lama, akhirnya sepasang kaki indah yang memakai sepatu berwarna hijau lumut muncul di hadapannya. Orang itu menengadahnya, hatinya tetap saja bergetar setiap kali sosok cantik itu menerpa pupilnya, ditambah dengan senyuman bagai dewi.

Jandi :      ”Oppa? Aku terlambat!” memerkan lesung yang dalam di pipinya.

Jihoo :      ”Kau sudah datang, duduklah...”

Jandi :      ”Ada apa? Sepertinya sangat serius? Tidak biasanya ke tempat seperti ini.”

Jandi duduk di sisi jihoo sambil melirik satu cup ice cream yang sedang dilahap lekaki itu, refleks ia terkekeh. Membuat jihoo memandangnya penuh tanya.

Jihoo :      ”Waeyo?”

Jandi :      ”Anyio, aku hanya tidak pernah melihatmu seperti ini. Kau mengajak ku kesini untuk makan ice cream?” Tidak bisa menahan tawanya, baginya jihoo tidak cocok dengan ice cream itu.

Jihoo :      ”Ayo kita jalan-jalan.”

Jihoo langsung bangkit dari duduknya untuk kemudian menarik tangan jandi, gadis itu hanya mengikutinya saja. Tak tahu apa maksud jihoo sebenarnya, tapi jandi sangat menikmati suasana ceria di taman bermain ini walapun sedikit lelah karena perutnya sekarang sudah agak berat. Keduanya berjalan mengitari taman bermain itu, sesekali berhenti melihat orang-orang yang bermain di wahana menantang, keduanya juga berteriak mengikuti sorak sorai orang-orang itu. Jihoo juga membelikan ice cream untuk jandi, berfoto bersama badut, duduk di bawah pohon rindang sambil bercanda. Percis seperti sedang berkencan.

Selama beberapa jam disana, keduanya tampak kelelahan. Jandi berjalan pelan menyusuri jalan setapak menuju pintu keluar, diikuti oleh jihoo yang terus memperhatikannya. Mereka melewati banyak pedagang kaki lima yang menjajakan dagangannya ke dekat pintu taman bermain itu. Di tengah-tengah jalan -saat mereka terlihat sedang santai berjalan, ada seorang anak kecil yang sedang asik berlarian. Anak itu berlari cepat dari belakang jandi dan tanpa sengaja malah menumbruk jandi dari sisi kiri, jihoo yang terkejut melihat tubuh jandi nyaris tersungkur langsung menangkap gadis itu hingga jatuh dalam pelukannya. Sementara bocah kecil tadi tampaknya baru sadar kalau dia hampir saja membuat orang lain celaka. Dia segera membungkuk dan minta maaf pada jandi.

”Maaf.. maafkan saya...” wajah polosnya kelihatan ketakutan dan merasa bersalah.

Jandi yang masih dalam pelukan jihoo langsung menjauh begitu menyadari posisinya, begitupun dengan jihoo, lagi-lagi jantungnya berdegup kencang tak beraturan, gugup.

Belum lagi jandi mengomentari soal anak itu, seorang wanita tua tiba-tiba datang dan memarahi bocah itu. Tangannya langsung mendarat di kepala bocah itu.

”Kau ini, apa yang kau lakukan? Nona ini sedang hamil, bagaimana kalau dia terluka? Haduuuuhhh kau nakal sekali..”

Wanita itu membungkuk dan minta maaf pada jandi yang hanya terperangah menatap mereka.

”Maafkan cucu saya nona... anda baik-baik saja? Maafkan dia...”

Jandi :      ”Tidak apa-apa bibi, aku baik-baik saja...” tersenyum pada bibi itu dan juga cucunya yang langsung tertunduk. Sementara jihoo hanya memperhatikan saja.

Nenek :   ”Cepat minta maaf lagi.” perintahnya pada cucunya itu.

”Noona, saya minta maaf.” menundukkan kelapanya dalam-dalam.

Jandi :      ”Adik kecil, kau tidak apa-apa kan? Apa kau terluka?”

Bibi itu justru menatap jandi penuh tanya, gadis cantik ini malah begitu perhatian pada cucunya yang nakal. Jandi mengusap kepala bocah yang sedang menatanpnya heran. Anak itu lantas menoleh pada sebuah mainan yang kini sudah menjadi rongsokan karena hancur berantakan di lantai, ia menatap mainan malang itu dengan pandangan prihatin. Sorot mata polos itu membuat jandi iba, dia pun memungut mainan yang sudah hancur itu.

Jandi :      ”Mainan mu jadi rusak, maafkan aku...”

Anak itu hanya terdiam, melihat jandi begitu baik -ia justru semakin merasa bersalah. Baginya mainan itu bukan apa-apa dibanding noona yang begitu menghargai mainannya.

Jihoo yang dari tadi memperhatikan mereka kini seakan menjadi pria paling sial sedunia, bagaimana dia bisa dihadapkan pada wanita yang begitu sempurna... tapi tak pernah mampu dimiliki. Jandi, gadis itu... bagai malaikat yang terpantul di bola matanya, tanpa mampu diraih. Semakin sering bersamanya, jujur hatinya semakin terluka, cintanya terpaksa dikubur mati sebelum sempat bernafas. Tak bisa dipungkiri, sorot mata jihoo melambangkan cinta setiap kali berpatih pada sosok jandi. Maaf, dia tak mampu mengendalikannya.

Buru-buru lelaki itu memalingkan wajahnya, menghindari ratapan malang pada dirinya sendiri. Menghela nafas berat, seakan terbebani oleh pikiran bodoh yang terus menempel di jidadnya.

Dilihatnya jandi masih berbicara dengan anak itu dan neneknya, diam-diam jihoo pergi meninggalkan mereka. Tapi hanya sebentar, tidak sampai beberapa menit. Lelaki itu kembali sambil berlari mendekati jandi dan yang lainnya, mereka langsung menoleh -memandang heran pada sebuah benda yang dipegang jihoo. Ternyata sebuah mainan yang sama percis dengan mainan yang saat ini dipegang oleh anak itu. Jihoo menyodorkan mainan itu pada bocah tadi –yang langsung berbina-binar.

Jihoo :      ”Ini untuk mu.”

Tanpa pikir panjang, anak itu langsung menyambar mainan itu sambil tersenyum senang. Jandi terpukau menatap jihoo yang tersenyum dan mengusap kepala anak itu.

Jihoo :      ”Kau membelinya disana kan?” sambil menunjuk ke arah sekumpulan pedagang mainan. Senyum jandi semakin lebar, bangga pada kebaikan hati oppanya ini.

Nenek anak itu yang dari tadi diam pun ikut mengomentari cucunya.

Nenek :   ”Kau sangat beruntung, lain kali tidak boleh kemana-kemana kalau aku sedang berjualan. Arasso?”

Cucunya itu mengangguk patuh, kemudian membungkuk pada jihoo dan jandi.

”Ghamshamnida...”

Tingkah menggemaskan anak ini membuat jandi tertawa.

Jandi :      ”Bibi, kau juga berjualan disini?”

Nenek :   ”Ne, oh.. ikut dengan ku sebentar nona.”

Jihoo dan jandi saling berpandangan bingung saat nenek itu terpongoh-pongoh menarik tangan jandi untuk mengikutinya. Tidak jauh, hanya beberapa meter dari tempat mereka berdiri. Ada sebuah meja yang penuh dengan barang dagangan, ntah apa itu, seperti macam-macam pernak-pernik. Bibi itu mengeluarkan dua buah benda -yang serupa tapi tak sama- dari salah satu kota kaca, ia meletakkan benda itu di tangan jihoo dan juga jandi. Keduanya menatap benda itu bergantian.

Jandi :      ”Apa ini bi?”

Nenek :   ”Itu Jimat, kalian simpanlah! Semoga bayi kalian diberkati.”

Sontak jandi dan jihoo sungkan untuk tersenyum, keduanya berkedip berkali-kali. Bukannya tak percaya pada jimat, tapi mereka hanya tak mengerti dengan hal-hal seperti itu. Lagi pula... Bayi siapa? Hey, hati-hati kalau sampai junpyo mendengarnya! Yang pasti, keadaan semakin kaku saja antara jandi dan jihoo.

Si bibi yang merasa senang diperlakukan baik oleh kedua orang ini, terus saja mengoceh.

Nenek :   ”Kalian pasangan yang serasi.”

Jihoo berdehem sakin gugupnya, ntah karena tenggorokannya mendadak haus atau mungkin karena malu -keinginannya terbongkar. Tapi jandi malah jadi tidak enak, mengingat pengakuan cinta jihoo padanya waktu itu.

Jihoo :      ”Ghamshamnida....”

Jihoo membungkuk, diikuti jandi yang wajahnya sudah merona. Gadis itu langsung pergi, diikuti oleh jihoo. Meninggalkan nenek dan cucunya yang sudah jatuh hati pada pada mereka.

Jihoo :      ”Jandi-yaa...” berusaha mengimbangi langkah cepat jandi.

Lelaki ini menahan lengan jandi, bola mata cokelat itu berhadapan langsung menusuk hingga relung hati jihoo, tegang. Konyol memang, tapi jandi tidak bermaksud mengacuhkan jihoo. Sejurus kemudian gadis itu terperangah saat jihoo meletakkan sesuatu di tangannya. Jimat itu, jandi menatapnya bingung.

Jihoo :      ”Berikan ini pada junpyo.” ucapnya pelan.

Dia semakin bingung, jelas-jelas jihoo tahu seperti apa hubungannya dengan junpyo. Tapi kenapa.....?

Jihoo :      ”Berikan kesempatan padanya.” jawab jihoo atas tatapan penuh tanya gadis itu.

Jandi :      ”Oppa, kau memintaku kesini untuk membicarakan hal ini lagi kan?”

Jihoo  :   ”Lalu apa yang kau inginkan? Kau ingin junpyo kembali pada jaekyung sementara kau terus seperti ini?”

Mengingat sudah berkali-kali jihoo menghantuinya mengenai statusnya dengan junpyo –meskipun hanya secara tersirat.

Jandi :      ”Oppa?” sanggahnya tajam, tak ingin jihoo melanjutkan kata-katanya, tetapi lelaki itu tidak berhenti.

Jihoo :      ”Kau melepasnya, tapi kau tidak bisa melupakannya. Begitu juga Goo Jun Pyo!”
 
Lelaki ini sebenarnya tidak berbicara selancar itu, sesekali ia seakan menahan nafas untuk sekeras ini pada jandi. Mungkin kata-katanya akan melukai jandi, tapi ia tidak tahan lagi melihatnya seperti ini terus.

”Kau tahu, junpyo menayakan padaku tentang kehamilanmu.... karena kau tidak mengizinkannya ikut saat pemeriksaan. Kau tidak tahu betapa antusiasnya dia, saat mengetahui kalian akan memiliki seorang putri. Kenapa harus aku yang mengatakan padanya? Apa yang kau inginkan jandi-ya?”

Jandi terkelu, ia terhenyak dengan butir air di pelupuk mata, menyaksikan jihoo yang dengan lantang memojokkannya. Lelaki ini tak pernah seperti ini sebelumnya, ntah karena lampias keputus-asaannya pada cinta jandi, atau mungkin dia memang begitu perduli pada sahabatnya itu. Jandi mendadak gentar, ia terguncang oleh desakan jihoo, wajahnya mendadak pucat, membuat lelaki itu jadi serba salah.

Jihoo :      ”Percuma jandi-yaa... meskipun kau melepasnya, junpyo bahkan tak mau menemui jaekyung.” kali ini dengan nada rendah. ”Gadis itu, jaekyung... dia menemuiku sebelum meninggalkan Seoul.”

Ucapan jihoo barusan memang menarik perhatian jandi yang dari tadi hanya terkelu.

Jandi :      ”Oppa? Apa maksudmu?”

Jihoo :      ”Tadi pagi dia datang untuk memintaku mengatakan ini padamu.”

Jandi masih menatap jihoo penuh tanya......

”Sebenarnya aku tak mengizinkannya pergi sebelum menyelesaikan kekacauan ini. Tapi kau pasti tahu... tak ada yang bisa ia lakukan, karena junpyo bahkan tidak ingin melihatnya lagi.”

Jandi :      ”Mwo?”

J ihoo melanjutkan....

”Dia memintaku menyampaikan maafnya padamu.”

Kali ini jihoo menatap jandi dengan raut serius....

”Karena itu jandi-yaa, berikan junpyo kesempatan. Karena tak ada yang menginginkan perpisahan kalian, tidak juga junpyo ataupun kau sendiri.”

Belum selesai jandi mencerna kata-kata jihoo, tiba-tiba dering ponselnya membuyarkan apa yang sedang ia pikirkan.

Tit.. titt.. tittttt....... Jandi terlihat ragu menjawab ponselnya ketika ia melihat di layar ponsel itu tertera nama Goo jun pyo, ia menoleh pada jihoo yang menatapnya hingga dia terpojok.

Jihoo :      ”Jawablah...”

Untungnya ponsel itu tak putus-asa berdering, sampai akhirnya jandi menekan tombol call.

Jandi :      ”Yeoboseyo?” nadanya terdengar pelan, tak bersemangat. Tapi suara antusias dari seberang sana memprovokasi jandi yang langsung kesal oleh sahutan lelaki itu.

”YAH, KENAPA LAMA SEKALI? KAU MAU MEMBUATKU MATI CEMAS HAH?”

Aiiisshhh... suara teriakan itu mungkin juga sampai di telinga jihoo, lelaki itu sampai menghela nafas -meratapi sikap junpyo.

Jandi :      ”Ada apa huh?” tampaknya jandi sedikit melunak.

Junpyo :   ”Kau dimana? Aku akan menjemput mu.”

Jandi semakin kesal, junpyo tetap saja bertindak sesuka hatinya.

Jandi :      ”YAH....”

Teriakan jandi barusan seolah ingin menyadarkan junpyo akan sikapnya.

Junpyo :   ”Sekarang orangtua ku sedang menuju ke rumahmu, dan malam ini mereka menunggu kita untuk makan malam.”

Jandi :      ”Mwo?” rautnya panik.

Jandi melirik jihoo yang juga sedang memandangnya bingung, seakan gadis itu bertanya ’Eotthoke?’



---------------------------------------------------


Nyambuuuuuunngggg ke bawah   punk punk  [smiley-dance013] [smiley-dance013]
« Last Edit: February 08, 2012, 07:02:12 pm by Be my self »