Author Topic: I CAN’T CALM MY HEART ″ending super LONG″  (Read 38081 times)

Offline Cud na

  • Junior
  • **
  • Posts: 100
  • Love Minsun
    • View Profile
Re: I CAN’T CALM MY HEART ″Ending Part 1″
« Reply #375 on: February 06, 2012, 10:35:30 am »
Lelaki berpostur tinggi sempurna itu sekarang bersandar di mobil mewahnya yang terparkir di depan gedung Independent Group, berkali-kali ia melirik jam di pergelangan, serta sesekali menghela nafas pertanda sebenarnya dia bukan tipe orang yang bisa sesabar ini. Sudah hampir dua puluh menit dia terkukung dalam kebosanan menunggu jandi yang belum juga tiba, bersumpah dia tak akan melakukan ini jika saja bukan karena gadis yang sangat mencintainya itu.

Tak seberapa lama, sebuah mobil berwarna putih yang amat dikenalnya melaju -mendekatinya, junpyo memicingkan matanya -berusaha mempertajam penglihatannya. Ternyata firasatnya benar, saat mobil itu berhenti di dekatnya barulah jelas kalau yang keluar dari dalam sana memang jihoo, diikuti oleh jandi. Junpyo menatap keduanya bergantian dengan sorot mata yang sinis, bersikap seolah ia tak perduli apapun kepentingan mereka hingga harus berduaan. Padahal cemburunya sudah sampai ke ubun-ubun. Hal seperti ini sudah sering terjadi selama sebulan terakhir, junpyo berpura-pura acuh meskipun ia tahu mereka sering berduaan. Bahkan terkadang dia tanpa sungkan bertanya pada jihoo tentang keadaan jandi, membuat jihoo juga heran kenapa junpyo tidak menunjukkan sikap cemburunya sampai selama ini. Dia hanya menunjukkan sikap dingin, hingga jandi meyakini perasaan junpyo mungkin perlahan telah memudar.

Jandi :      ”Ottokhe junpyo-yaa?” tanyanya panik.

Pertanyaan jandi tadi hanya ditanggapi dingin oleh junpyo yang terlihat acuh.

Junpyo :   ”Semua ini karena idemu. Merepotkan sekali.”

Tsaaahh... tingkah konyol junpyo itu membuat jihoo menghela nafas. Jelas-jelas ia tahu bagaimana perasaan lelaki itu, tidak heran kalau jandi tak berniat maju selangkah pun.

Jihoo :      ”Jandi-yaa, aku pergi...”

Kini jihoo pergi meninggalkan mereka berdua, sebelumnya dia sempat menepuk pundak junpyo. Junpyo hanya tersenyum kecut.

Tanpa basa-basi junpyo langsung masuk ke mobilnya, dipikirnya jandi akan mengikuti. Tapi gadis itu justru masih diam di tempatnya.

Junpyo :   ”Yah, mau ikut tidak?” teriaknya ketus.

Jandi tidak mengerti apa yang junpyo rencanakan, gadis itu mendengus kesal.

Jandi :      ”Kenapa aku harus mengikutimu?” memonyongkan bibirnya, tidak kalah keras kepala.

Junpyo :   ”Terserah kau kalau ingin melupakan kesepakatan itu... ” jawabnya acuh.

Jandi :      ”Sudah ku bilang itu bukan kesepakatan!”

Junpyo :   ”Apapun itu, sekarang mereka sedang menunggu kita disana. Juga orangtua-mu”

Jandi memelas serba salah, apa yang harus ia lakukan? Dia tidak bermaksud berbohong pada orangtua junpyo yang mengira mereka baik-baik saja. Bagaimana dia bisa menghancurkan hati mereka yang sangat menyayanginya? Bahkan orangtua jandi juga ikut menutupi yang sebenarnya terjadi, menyembunyikan kenyataan dan berharap agar mereka bisa kembali bersama. Mereka hanya tidak tahu kalau jandi dan junpyo sudah sepakat mengakhiri hubungan mereka meskipun Mrs.Geum sudah melunak sejak tahu kalau putrinya sedang mengandung anak jun pyo.




---------------------------------------------------------




Kediaman Keluarga Goo


Jandi :      ”Tunggu dulu!”

Jandi buru-buru menarik tangan junpyo ketika lelaki itu akan turun dari mobil, dari sana terlihat beberapa mobil sudah berjejer –terparkir. Pasti mereka sudah berkumpul. Junpyo melihat gadis itu sangat gugup, membuatnya jadi tidak tega mempermainkannya.

Junpyo :   ”Waeyo?”

Jandi :      ”A..aku.. tidak bisa berbohong.” katanya pelan.

Sorot mata junpyo yang kelam semakin terselimuti kekecewaan, kenapa jandi tidak mengerti, haruskah ia melakukan ini semua? Dia tidak tahu betapa junpyo lelah mengejarnya, bahkan disaat paling tersakiti sekalipun, junpyo tak tega melihat jandi kebingungan.

Tak tahukah dia betapa junpyo terluka karena hal ini... berpura-pura memiliki atas apa yang memang miliknya. Sekuat hati mengikuti permainan ini, meskipun ia sangat lelah.. hanya karena dirinya tak mampu menyerah.

Jandi terperanjat ketika secara mendadak tangan yang hangat itu menggenggam tangannya, ia menatap junpyo yang tidak bergeming. Gadis itu berusaha menarik tangannya, tapi junpyo menggenggamnya kuat. Mata indah itu melebar, menatap junpyo penuh tanya.

Junpyo :   ”Ikuti saja seperti kataku. Kita tidak akan ketahuan.” ucapnya datar tanpa menoleh pada lawan bicaranya.

Bibir jandi sudah terbuka untuk melancarkan protes, tapi tidak jadi... karena junpyo keburu keluar dari mobil. Jandi yang masih bingung hanya menuruti saja, melihat lelaki ini begitu percaya diri berjalan sambil  menggenggam tangannya, membuat jandi lupa akan rasa gugupnya.

Baru saja keduanya memasuki kediaman Goo, suara gelak tawa sudah menyambut mereka. Jandi semakin gentar, langkahnya terhenti. Junpyo yang menggenggam tangannya juga ikut terhenti, menatap jandi penuh tanya. Melihat jandi begitu ketakutan, secara refleks junpyo semakin mengencangkan genggamannya, tak ada keraguan di sorot mata lelaki itu. Tidak sulit baginya untuk berpura-pura, karena memang ini adalah ketulusan hatinya.

Mr. Goo langsung bangkit dari duduknya ketika melihat junpyo dan jandi datang, ia tertawa bahagia dan langsung memeluk jandi.

Mr.Goo :   ”Oh lihat mereka sudah datang! Bagaimana kabarmu sayang? Kau pasti menjaga cucuku dengan baik.” memegang perut jandi yang sudah membesar.

Junpyo hanya tersenyum kecut menyaksikan keduanya, sementara Mrs.Goo juga menyambut mereka berdua dengan pelukan.

Jandi :      ”Aku baik-baik saja, aku sangat merindukan kalian.”

Mrs.Geum :   ”Aku tidak sabar menunggu kelahiran cucu pertama ku. Sayang, terimakasih.”

Dia berterimakasih pada junpyo, karena telah memberikannya seorang cucu. Jandi hanya tersenyum miris menyaksikan betapa bahagianya mereka.

Junpyo :   ”Ne, aku akan memiliki seorang puteri secantik ibunya.” menoleh pada jandi yang matanya membulat lebar. Sementara tatapan penuh cinta itu tak bisa junpyo sembunyikan, karena hatinya selalu bergetar oleh raut jernih jandi.

Orangtua junpyo memandangi mereka bergantian, sepertinya mereka dapat merasakan sesuatu yang janggal disini. Tapi Mrs.Geum justru tersenyum senang, ia tertunduk menyembunyikan perasaan harunya, begitu juga appa jandi.

Saat makan malam, jandi yang duduk di sebelah junpyo diperlakukan bak seorang ratu oleh seluruh anggota keluarga. Seluruh perhatian tertuju padanya, maklum saja... jandi sedang mengandung cucu pertama keluarga Goo juga keluarga Geum. Jandi sendiri agak risih diperlakukan seistimewa itu, karena pada dasarnya dia bukan seorang yang manja. Ditambah lagi, kelakuan junpyo yang menjadi-jadi, membuat jandi hanya bisa menggigit bibir, sakin kesalnya. Lelaki ini berlagak seperti tak terjadi apapun pada hubungan mereka, jandi bahkan tidak bisa membedakan ini ketulusan atau hanya pura-pura. Bukankah selama ini dia bersikap dingin? Kenapa tiba-tiba berubah semanis ini?

Junpyo :   ”Makan yang banyak..”

Lagi-lagi ia menyendokkan sesuatu ke piring jandi, lelaki itu dari tadi terus saja senyam-senyum sendiri. Kedua orangtua mereka pun tersenyum malu-malu melihat kemesraan keduanya.

Jandi :      ”Sudah cukup.” jawabnya datar.

Mrs.Goo :   ”Junpyo-yaa, terkadang wanita hamil juga tidak berselera. Kau harus menjaga istrimu dengan baik.”

Junpyo :   ”Ne. Omma..” jawabnya pasti, dengan senyum tertahan.


Selesai makan malam seluruh keluarga berkumpul dan bersenda gurau, kali ini suasana terasa hangat. Mereka duduk di sofa sambiil mengobrol, Mrs.Goo sibuk menasehati jandi soal kandungannya. Sementara Junpyo bicara dengan appanya dan Mr.Geum.

Mr.Geum :   ”Aku dengar Shinwa mulai mengerjakan sebuah mega proyek di Inggris? Aku ucapkan selamat padamu.” memuji sahabatnya.

Mr.Goo :   ”Ini karena Junpyo, dia sudah bekerja keras selama ini.”

Junpyo :   ”Appa, untuk proyek ini. Aku sudah lama ingin membicarakannya, aku berencana menyatukan Shinwa dan Independent jika appa tidak keberatan.”

Semua orang yang ada disana terhenyak, ucapan junpyo tadi tidak terlihat main-main, ia sangat serius. Bahkan Mr.Goo sendiri belum tahu tentang ini, jandi pun menatapnya penuh tanya. Apa mau lelaki ini? Ini justru semakin memperkuat hubungan keluarga mereka.

Mr.Geum :   ”Kita bisa bicarakan ini nanti.”

Mr.Goo :   ”Baiklah, nanti kita bicarakan lagi. Hahaha”

Mr.Goo berusaha mencairkan suasana yang hampir beku. Malam semakin larut, orangotua jandi berpamitan pulang, barulah jandi mulai menyadari posisinya sekarang ini.

Mr.Geum :   ”Kami permisi dulu, kalian istrirahatlah, pasti lelah setelah perjalanan jauh.” ucapnya pada Mr.Goo.

Mr.Goo :   ”Baiklah, kau juga jaga kesehatan mu.”

Mrs.Geum :   ”Jandi, omma pulang dulu ya.. Junpyo, aku titip jandi padamu.” Tersenyum puas sambil mengedipkan matanya pada jandi.

Jandi :      ”Apa?” ucapnya gugup, berkejap berkali-kali. Ia bingung bagaimana caranya agar tidak tertinggal disini, sayangnya sekarang ini otaknya sedang buntu. Secara mendadak tidak bisa berfikir bagaimana untuk pulang bersama orangtuanya. Sementara junpyo hanya menahan senyum memperhatikan wajah pucat jandi.

Mrs. Goo :   ”Biar aku antar ke depan. Junpyo-yaa, bawa istrimu istirahat.” perintahnya pada junpyo tanpa tahu sekarang jandi ingin sekali kabur.

Mr.Goo mendorong kursi roda appa jandi, sementara Mrs.Geum dan Mrs.Goo mengikuti mereka. Tapi sebelumnya Mr.Goo dapat mendengar jandi dan junpyo saling berbisik.

Jandi :      ”Otthoke?” bisiknya pelan, menatap junpyo seakan sangat terdesak. Malangnya, junpyo justru terlihat acuh. Bagaimana tidak, keadaan seperti ini terus terang sudah lama dinantinya.

Junpyo :   ”Mana aku tahu.” jawabnya acuh.

Mrs. Goo menoleh pada keduanya, jandi langsung terdiam.

Mrs. Goo :   ”Ayo bawa istrimu istirahat. Dia pasti lelah!”

Mengambil kesempatan ini, junpyo dengan enteng langsung merangkul pundak jandi yang seketika memelototinya.

Junpyo :   ”Ayo... kita ke kamar.”

Jandi semakin geram melihat senyum nakal junpyo padanya.



---------------------------------------------




Krrrrrrttttttt.... kamar ini gelap. Saat pintunya terbuka hanya nuansa senyap yang menyambut jandi dan junpyo, bahkan terasa asing bagi pemiliknya karena mungkin sudah terlalu lama tak berpenghuni. Dua pasang kaki itu seakan betah berdiri di ambangnya, meresapi sisa-sisa kehangatan yang pernah tercipta disana. hingga keduanya enggan melangkah. Kamar ini, memasukinya seakan sengaja menenggelamkan diri ke dalam tumpukan memory yang belum usang. Ia menerjemahkan bahasa cinta dari sebuah kisah yang siap menjadi masa lalu.

Jandi :      ”Andwe...” ucapnya pelan, seolah lidahnya berucap tanpa disadari.

Junpyo menoleh padanya, menyadari kalau jandi bersikukuh tak ingin membuka celah masa lalu mereka, junpyo hanya bisa menatapnya dengan perasaan terluka. Tergurat jelas raut kebimbangan di wajah gadis itu. Tidak, ia bahkan tak pernah berniat untuk mencoba.

Junpyo hanya berdiam diri saat jandi buru-buru pergi tanpa menghiraukannya. Tak mencegahnya, junpyo bahkan tak menoleh, hanya menikmati sesak yang terasa amat menyakitkan karena sikap keras kepala jandi.

Tapi sejurus kemudian junpyo dikejutkan oleh suara berisik langkah kaki seseorang yang buru-buru, semakin mendekatinya. Junpyo menoleh, saat itu juga ia dibuat kaget oleh jandi yang langsung mendorong tubuhnya masuk ke dalam kamar dan buru-buru menutup pintunya. Junpyo terperangah, memandanginya bingung. Sebelumnya junpyo memang sempat melihat ommanya sedang berjala menuju kamar mereka.

Junpyo :   ”Apa yang terjadi?” menatap jandi penuh tanya.

Tok tok tok......

Ya, pertanyaan junpyo dijawab oleh ketukan pintu ommanya yang sontak membuat jandi gugup. Lelaki itu masih bingung saat ia membuka pintunya, jandi menyambut mertuanya itu dengan sebuah senyum kecut yang menggambarkan ketegangan.

Mrs. Goo :   ”Kepana lampunya tidak dinyalakan?”

Keduanya saling melirik satu sama lain, konyol... mereka lupa. Semakin putus asa saat Mr.Goo  justru tersenyum malu-malu.

 Mrs.Goo :   ”Ah, arasso... Omma hanya ingin mengucapkan selamat malam.”

Mrs.Goo menutup pintunya kembali, sempat-sempatnya ia mengedipkan mata pada jandi dan junpyo. Sementara jandi tertunduk menyembunyikan rona merah di wajahnya, junpyo justru tersenyum saat meliriknya.

Suasana semakin kaku ketika mereka hanya tinggal berduaan, suhu yang hangat mendadak meningkat, menggerahkan. Jandi sampai gugup ketika lampu kamarnya tiba-tiba menyala, junpyo menahan senyumnya.

Junpyo :   ”Ehem... Aku mau mandi, duduklah....”

Jandi :      ”Mwo?”

Jandi terbelalak saat junpyo tanpa segan langsung membuka kemejanya, memamerkan dada juga perut ’kotak-kotak’ yang menggiurkan itu. Bahkan sulit menelan ludah saat sesekali meliriknya, berpura-pura tak tertarik, padahal jantungnya yang berdegup kencang menjelaskan betapa rindunya berada dalam dekapan tubuh junpyo.

Jandi menghela nafas kuat setelah memastikan junpyo sudah berada di bathroom, tubuhnya semakin terasa gerah. Jandi mengipas-ngipas wajahnya dengan kedua tangan, terlihat titik-titik keringat di dahinya. Tak sengaja ia menoleh pada deretan closet pakaian junpyo, ragu-ragu jandi mendekati salah satu lemari disana. Sejenak ia termangu di hadapan lemari itu, seingatnya tak ada lagi yang tersisa. Semua pakaiannya disini sudah dibawa semua olehnya saat ia akan pergi ke Boston, saat itu junpyo berada di New York. Ragu-ragu ia membuka lemarinya, benar, kosong. Hoooohh... jandi menghela nafas, tapi tiba-tiba suara junpyo mengagetkannya.

”Apa kau lupa, kau sudah mengosongkannya... ”

Sontak jandi berbalik sakin kagetnya, semakin bingung saat disambut oleh sebuah kemeja putih yang disodorkan junpyo.

Junpyo :   ”Pakai ini.”

Jandi :      ”Mwo?”

Jandi menghela nafas kesal. Pertama, karena junpyo tak mengeluarkan suara sedikitpun dan hampir membuat jantungnya copot. Kedua, apa itu? Hanya sebuah kemeja? Jandi memicingkan matanya -memandang sinis pada kemeja itu, juga pada junpyo.

Junpyo :   ”Waeyo?”

Jandi :      ”Tidak perlu, sebentar lagi omma dan appa pasti sudah tidur, aku akan pulang. Besok, katakan saja aku buru-buru ke kantor.”

Jandi dengan acuh melewati junpyo begitu saja, mulanya junpyo masih diam. Tapi seolah ia tak dapat menahan perasaannya lagi, tiba-tiba junpyo menangkap lengan jandi untuk menghentikan gadis itu.

Junpyo :   ”Kenapa kau begitu dingin? Haruskah kau bersikap seperti ini terus?” dengan nada putus asa. ”Sampai kapan Geum jandi? Sampai kapan kau akan bersikap seperti ini pada ku?” kali ini junpyo berusaha menekan suaranya untuk tidak berteriak.

Jandi :      ”Hentikan... Orangtuamu akan mengira kita bertengkar?” justru mengalihkan pembicaraan.

Junpyo :   ”Apa kau benar-benar tidak tahu? Kau tidak tahu kenapa aku mau berpura-pura seperti ini? Apa kau benar-benar tidak tahu siapa yang paling terluka dengan kebohongan ini?”

Jandi :      ”Aku tidak ingin membicarakannya...” tukasnya cepat.

Junpyo :   ”KAU TAHU SEPERTI APA PERASAANKU..... TAPI KAU SENGAJA MENYAKITIKU? SEJAK KAPAN KAU MENJADI BEGITU EGOIS?”

Kali ini junpyo tak mampu menahan gejolak emosinya lagi, tanpa sadar bahkan tubuh jandi terguncang oleh hentakan junpyo. Disaat yang sangat tak tepat, tiba-tiba perut jandi mengalami kontraksi, sontak ia memekik menahan sakit.

”Aahhhkk....”

Amarah junpyo langsung berubah menjadi ketakutan saat melihat jandi tersungkur ke lantai sambil memegangi perutnya.

Junpyo :   ”Jandi—yaa...  Apa yang terjadi? Kau sakit? Ada apa?”

Lelaki itu mendadak pucat, panik. Ia ketakutan, pikirannya blank. Detik itu juga junpyo menyesal telah berteriak pada jandi, apa bayinya marah karena ia telah berteriak pada ibunya? pikirannya kacau.

Junpyo :   ”Bagaimana? Kita ke Dokter?”

Perlahan rasa sakitnya mulai hilang, jandi mulai tenang. Junpyo mengusap keringat yang mengucur di dahi jandi dengan penuh perhatian, tannpa sadar juga memegangi perut jandi yang membuat gadis itu terkelu menatapnya. Raut wajah junpyo yang penuh kecemasan membuat jandi luluh, mengurungkan niatnya untuk menyingkirkan tangan junpyo. Menatap wajah junpyo yang teramat dekat di hadapannya, hatinya berdesir, terlihat jelas ketulusan dari sorot mata lelaki itu.

Seketika jandi memikirkan kata-kata Mr.Geum yang meminta jandi untuk kembali pada junpyo. Saat itu appanya bertanya, apakah jandi masih mencintai junpyo atau telah melupakannya... Mr.geum bilang... demi menghapus rasa bersalah ommanya, ia meminta jandi untuk kembali pada junpyo.

Hingga saat jihoo memintanya untuk memberikan junpyo kesempatan, juga karena junpyo dan jaekyung ta bisa disatukan lagi...

Junpyo :   ”Gwenchanayo?”
 
Kata-kata junpyo membuyarkan lamunan jandi, kedua pasang bola mata mereka bertemu. Jandi seolah mencari jawaban keraguannya disana.

Jandi :      ”Gwenchana.” ucapnya pelan tanpa melepas pandangannya dari junpyo.

Junpyo :   ”Kalau kau mau pulang, aku akan mengantar mu.”

Terlihat kekecewaan dari sorot mata junpyo tanpa tahu jandi yang bahkan sudah melupakan keinginannya untuk pulang. Jandi juga terharu, apa sekarang junpyo sedang mengalah?

’Bodoh... kau mengorbankan hatimu demi aku yang selalu menyakitimu...’ gumam jandi dalam hati.

Jandi hanya terdiam, ia tertunduk setelah menyadari matanya kini berkaca-kaca. Junpyo perlahan membantunya berdiri. Saat lelaki itu akan pergi untuk memakai pakaiannya, tiba-tiba jandi memanggilnya.

Jandi :      ”Junpyo-yaa...”

Junpyo kembali menoleh dengan raut putus asa, jandi mendekatinya dan meletakkan sesuatu di tangan junpyo.

Junpyo :   ”Apa ini?” menatap benda aneh di tangannya.

Jandi :      ”Itu jimat. Mungkin demi bayi kita.” ucapnya sambil tersenyum.

Junpyo masih memandang benda itu, tapi sejurus kemudian ia mmembalas senyum jandi. Malam itu, junpyo benar-benar mengantar jandi kembali ke rumah orang tuanya.


   To be continued.................
==============================
« Last Edit: February 13, 2012, 07:16:00 pm by Be my self »