Author Topic: I CAN’T CALM MY HEART ″ending super LONG″  (Read 37701 times)

Offline Cud na

  • Junior
  • **
  • Posts: 100
  • Love Minsun
    • View Profile
Re: I CAN’T CALM MY HEART ″ending super LONG″
« Reply #375 on: February 07, 2012, 06:43:02 am »
Chapter Ending
PART 3



Malam dimana pesta peresmian proyek Resort Busan diselenggarakan, pesta mewah ini dihadiri oleh tamu-tamu kelas atas, pejabat, pengusaha, juga banyak wartawan. Di salah satu sudut ruang jamuan itu terlihat Mr.Geum yang duduk di kursi roda didampingi istrinya -sedang dikrumuni beberapa teman juga kerabatnya, mereka sedang asik mengobrol yang mungkin menanyakan kondisi kesehatan Mr.Geum karena baru kali ini pengusaha besar itu kembali menunjukkan dirinya ke publik setelah sekian lama jatuh sakit. Suasana menjadi terasa hangat oleh kehadirannya, rekan-rekan bisnisnya penuh semangat memberikan dukungan agar lelaki paruh baya ini segera pulih kembali.

Di sisi sudut yang lain, terlihat banyak sekali wartawan berkumpul. Beberapa di antaranya sedang mewawancarai pengusaha-pengusaha terkenal yang berperan penting dalam kemajuan perekonomian Korea. Tapi ada seorang yang hilang disini, pengusaha muda berbakat Goo Jun Pyo –belum juga tampak di antara para tamu yang hadir. Sebagai pengusaha yang sangat populer, tentu saja junpyo menjadi target para pemmburu berita di tempat ini. Mengingat Shinwa juga satu-satunya pemilik saham dari proyek ini, ditambah lagi banyak sekali teka-teki yang menyangkut kehidupan pribadinya -menimbulkan rasa penasaran publik.

Ruang jamuan yang di kelilingi dinding kaca itu terlihat super mewah, orang-orang di dalamnya saling berjabat, berbisik, juga tertawa. Ntah apa yang mereka bicarakan, satu sama lain terlihat akrab. Di sisi lain, terdapat dua orang reporter yang sibuk membidik kamera mereka dari luar ruang jamuan itu, namun tak sekalipun terdengar suara jepretan. Keduanya berusaha keras mencapai posisi terbaik untuk mendapatkan view sempurna, tapi sebenarnya apa yang mereka cari?  Keduanya terlihat frustasi karena mereka tidak melihat sasaran mereka dari tadi.

Reporter 1 : ”Kenapa tidak ada? Apa dia tidak datang? Mana mungkin...”

Grasak-grusuk putus asa, sampai terduduk di lantai.

Reporter 2 :   ”Sebentar lagi acara dimulai, aku rasa sebentar lagi dia datang.”

Sekian lama berkeluh kesah, sepertinya Tuhan mendengar keputus-asaan mereka. Keduanya langsung bangkit dengan tampang antusias, membuka mata lebar-lebar saat rombongan keluarga Goo memasuki ruangan dengan kerumunan para reporter. Kedua reporter itu sendiri tidak tertarik ikut bergabung dengan rekan-rekannya, mereka justru membidik sasaran dari tempat yang jauh. Tapi..... tunggu dulu, keduanya saling berpandangan bingung..... ’Dimana Goo Jun Pyo?’

Reporter 1 :   ”Sudah ku bilang dia tidak datang!” katanya sok tau, tanpa melepas pandangannya dari kerumunan orang disana, semakin frustasi. Bahkan Mr.Goo beserta isrtrinya sudah melewati kerumunan wartawan -yang dilarang masuk ke ruang jamuan, jelas-jelas hanya terlihat berduaan. Tak ada junpyo.

Reporter 2 :   ”Mereka menyapa Tuan Geum... Lihat itu...” jarinya menunjuk ke arah Mr.Geum yang sedang mengobrol dengan Mr.Goo.

Reporter 1 :   ”Sepertinya hubungan mereka baik-baik saja.. Tapi kenapa putri Geum juga tidak datang?”

Reporter 2 :   ”Haah.... Sia-sia aku berada di sini.”

Tepat saat salah satu dari mereka nyaris menyerah, sakin putus asanya. Tiba-tiba yang lainnya justru membuka mata lebar-lebar, rautnya kembali antusias saat ia mendapati sosok pria tampan berpostur tinggi -yang sangat mudah dikenali berjalan dari arah yang berlawanan dengan krumunan wartawan. Dia mendekati Mr.Goo juga Mr.Geum.

Reporter 1 :   ”Oh?? Itu.... itu.... Goo Jun Pyo!” ucapnya terbata-bata sambil menarik-narik rambut temannya yang juga langsung memelototi pria itu.

Reporter 2 :   ”Oh?? Benar! Dia... datang sendirian???”

Benar, Goo Jun pyo dengan penampilan terbaiknya terlihat sedang menyapa orang tua juga mertuanya.

Junpyo :   ”Maaf, aku terlambat...” membungkuk.

Banyak pasang mata tertuju padanya, Mrs.Goo mendekati junpyo sambil berbisik padanya.

Mrs.Goo :   ”Dimana istrimu?”

Kali ini junpyo tak bisa menjawab, tapi untunglah saat itu juga ada salah satu rekan bisnis mereka yang menyapa kedua orangtuanya –hingga perhatian Mrs.Geum teralihkan. Junpyo juga terlihat mencari seseorang, kemudian ia mendekati Mrs,Geum untuk menanyakan keberadaan jandi.

Junpyo :   ”Omma, dimana jandi?” bisiknya pelan.

Melihat ekspresi putus asa Mrs.Geum saja sudah bisa ditebak kalau gadis itu benar-benar tidak datang.

Mrs. Geum :   ”Ntahlah, dia bilang akan ke Boston. Tak disangka dia benar-benar keras kepala.”

Junpyo :   ”Mwo? Boston?”

Raut wajah junpyo berubah penuh kekecewaan, hanya bisa menghela nafas dengan gurat-gurat putus asa di dahinya. Mrs.Geum juga merasa tidak enak melihat junpyo begitu kecewa, lelaki itu membungkuk padanya untuk kemudian pergi dari sana.

Dengan raut kesal ia berjalan menahan sesak di dada, melangkah lebar juga cepat -menyusuri sudut demi sudut resort mewah itu, ntah kemana. Bkepalanya tak berhenti bertanya kenapa gadis itu begitu keras kepala? Tidak kah dia merindukannya? Sementara dirinya begitu berharap melihatnya saat ini.

Saat itu junpyo tidak menyadari kalau ada dua orang wartawan yang dari tadi mengikutinya, keduanya terpongoh-pongoh mengikuti jejak langkah junpyo yang sangat cepat. Sampai mereka kehilangan jejak lelaki itu saat di hadapkan pada banyak ruangan, selama beberapa menit mereka mengitari di sekitar tempat itu, tapi tetap tidak ketemu.

Sementara itu, ternyata junpyo baru saja keluar dari toilet. Tepat saat itu juga, junpyo melihat sesosok gadis cantik yang juga sedang keluar dari toilet wanita di hadapannya –dengan mengendap-endap. Junpyo seketika terperangah, matanya berkejab berkali-kali. Begitu juga dengan gadis itu tak kala mata bertemu. Jandi dengan gaun merahnya masih terlihat paling cantik dan penuh pesona meski perutnya terlihat membesar, tak tahukah dia betapa saat ini hati junpyo bagai meletup-letup. Kekecewaannya barusan itu sirna begitu saja. Tanpa sadar senyum lelaki itu menyapa jandi dengan mata berkaca-kaca sakin senangnya –membuat jandi heran.

Jandi :      ”Waeyo?” tanyanya bingung.

Tiba-tiba keduanya mendengar suara berisik yang semakin mendekat ke arah mereka.

”Tadi aku melihatnya ke arah sini..”

”Kau yakin?”

”Iya, dia tadi ke arah sini...”

Junpyo dan jandi saling perpandangan penuh tanya, mulai merasa kalau mereka lah yang dicari pemilik suara itu. Junpyo menoleh ke arah suara berasal, matanya membulat lebar ketika menyadari ada reporter yang mengikutinya. Tanpa aba-aba junpyo langsung menarik tubuh jandi masuk kembali ke dalam toilet wanita, gadis itu menatapnya bingung saat junpyo buru-buru menutup pintunya.

Jandi :      ”Apa yang kau lakukan? Ini toilet wanita.. kau...”

Belum selesai jandi mengomel, junpyo buru-buru membungkam mulutnya, semakin membuat gadis itu terbelalak.

Junpyo :   ”Sssttt.... Jangan berisik.”

Jandi semakin kesal, tapi ia juga tak melawan. Hanya memelototi junpyo pertanda meminta lelaki itu untuk menyingkirkan tangan yang membungkam mulutnya.

Jandi :      ”Cepat keluar!” dengan gigi rapat, menekan suaranya.

Junpyo :   ”Kau lupa, aku pernah melakukan ini.” menahan senyumnya, mengingat saat pertama kali mereka bertemu. Di toilet juga X_x

Jandi hanya menghela nafas tak percaya, bisa-bsanya dia tersenyum disaat seperti ini.

Jandi :      ”Kau senang sekali ya masuk ke toilet wanita?” sindirnya kesal, tapi junpyo justru semakin memamerkan lesung pipinya.

Junpyo :   ”Aku pikir kau tidak datang.” tak mampu menyembunyika rasa senang melihat jandi ada di hadapannya.

Melihat junpyo begitu senang akan kehadirannya, jandi pun jadi gugup.

Jandi :      ”Aku juga akan pergi...” ucapnya pelan, bukan hanya takut terdengar keluar, tapi juga mendadak merasa ragu mematahkan senyum junpyo.

Junpyo :   ” Mwo? Lalu kenapa kau disini?” tanyanya dengan pandangan menyidik..

Jandi :      ”Itu karena.....”

Melihat jandi tak bisa menjawabnya, mungkin saja dugaan junpyo benar.

Junpyo :   ”Kau menghindari wartawan?” tanyannya dengan pandangan tak percaya.

Jandi tak menjawab mengisyaratkan dugaan junpyo benar, ternyata dari tadi ia tidak masuk ke ruang jamuan hanya karena ingin menghindari wartawan? Kali ini junpyo agaknya merasa serba salah, ia tahu mungkin jandi tidak tahu harus berkata apa jika dicecar pertanyaan seputar hubungan mereka. Tapi di sisi lain, kenapa gadis ini begitu keras kepala? Menanggung semuanya sendirian, hingga serumit ini.

Junpyo :   ”Kenapa tidak keluar saja dan mengatakan kita baik-baik saja?” Nadanya terdengar sinis, seolah meneror jandi untuk menyerah. Dari awal jandi ragu untuk mengatakannya karena junpyo pasti akan bereaksi seperti ini.

Dahi junpyo terhenyit melambangkan kekecewaan yang tak terungkap, tak juga melepas tatapannya dari jandi, menandakan ia menunggu jawaban yang justru tak ingin dijawab oleh gadis itu. Sementara jandi menjadi pendosa yang ketakutan melirik sorot mata yang menusuk hingga kerelung hatinya itu.

Junpyo :   ”Sudah cukup jandi-yaa.. Kenapa kau begitu keras kepala? Aku sudah tahu semuanya…”

Kata-kata junpyo tadi membuat jandi bingung, menatapnya penuh tanya. Dia tidak mengerti kenapa junpyo begitu yakin dan terus memojokkannya. Alih-alih menghiraukan perkataan junpyo, jandi justru mengalihkan perhatian.

Jandi :      ”OH? Kelihatannya mereka sudah pergi... Ayo keluar!” Ucapnya antusias, buru-buru akan kabur. Lagi-lagi ia mencoba menghindar tanpa tahu apa yang akan junpyo lakukan selanjutnya.

Tepat saat jandi akan membuka pintu itu, junpyo dengan cepat menarik tangannya -mengejutkan jandi dengan sebuah melumatan di bibirnya. Sontak gadis itu terbelalak dan memberontak -mendorong-dorong tubuh junpyo. Alih-alih terlepas dari sergapan junpyo, jandi bahkan tak bisa bergerak karena junpyo dengan kuat mengunci wajahnya. Ia semakin agresif melancarkan lumatan-lumatan yang ditolak mentah-mentah oleh jandi, lidahnya terus mendorong masuk rongga mulut jandi yang berusaha ditutup rapat. Bukannya berhenti, kali ini junpyo justru menyudutkan tubuh jandi, hingga tersandar ke dinding.

Seketika energi gadis itu seakan habis, kelelahan mendorong tubuh junpyo. Mendadak tak bertenaga melawan hingga ia tersengal, ciuman itupun terlepas. Junpyo masih dalam emosinya saat melihat mata jandi berurai titik-titik air, gadis itu ketakutan oleh sikap kasar junpyo.

Junpyo :   ”Apa aku tidak boleh menyentuh istriku?” ucapnya serak, menatap tajam pada jandi, penuh kekecewaan.

Jandi  :   ”Kau sudah gila...” pandangannya kabur oleh derai airmata.

Junpyo :   ”Benar, berhentilah membuatku gila.”

Jandi :      ”Goo Jun Pyo!” ucapnya putus asa, lelah.

Tapi junpyo tak bisa lagi menahan hatinya, ia juga sudah lelah menunggu.

Junpyo :   ”Kau bilang akan segera melupakanku? Aku sudah memberimu waktu jandi-yaa.. Tapi sampai saat ini, kau masih mencintaiku! Setiap hari aku menunggumu untuk menyerah!”

Junpyo menuduh jandi dengan penuh keyakinan, gadis semakin terkelu. Bagaimana jandi bisa menghindar lagi, sorot matanya sudah menjelaskan semuanya. Benar, itu cinta.

Jandi :      ”Minggirlah...” pintanya dengan raut memohon, mulai putus asa.

Junpyo :   ”Surat cerai itu... Kau tidak pernah menandatanganinya? Kau tidak ingin berpisah denganku?” sindirnya dengan sikap penuh percaya diri, sambil tersenyum, memojokkan jandi.

Kali ini jandi terperanjat kelu, sikap kerasnya seakan luluh lantah. Bagai melihat seorang munafik sedang bercermin di bola mata yang kelam itu, sambil bertanya-tanya bagaimana junpyo bisa tahu? Tatapan yang memaksanya untuk menyerah itu semakin menyudutkan. Bibirnya yang sudah terbuka bahkan tak bisa menyanggah apapun.

Junpyo :   ”Jangan memungkiri lagi jandi-yaa... Karena aku, tidak akan melepasmu meski sampai di kehidupan berikutnya.”

Bukan karena junpyo mengancamnya dengan sesuatu yang begitu indah, bukan juga karena haru yang tiba-tiba membaluti hatinya, hanya saja bulir airmata itu tak tertahankan lagi, mengalir seiring kebekuan hati yang mencair. Lelaki ini tahu betul perasaan jandi saat ini, seakan menjawab gumaman takdir yang meminta mereka untuk bersatu kembali.... Ia pun merangkul jandi, memeluk erat tubuh mungil yang bergetar itu, membanamkan wajah cantiknya dalam dada hangat junpyo.

Junpyo :   ”Aku merindukanmu, sangat merindukanmu....” bisiknya lembut di telinga jandi.

Jandi semakin terisak, masih belum bisa berkata-kata, karena tak pernah terbayang olehnya untuk menyerah. Tak mengira ia bisa merasakan lagi detak jantung junpyo yang berdegup di telinganya, hingga merasakan hela nafas yang mendera penuh gelora, membuatnya merinding.
 
Jandi merasakan junpyo merenggangakan tubuh mereka, kedua pasang bola mata mereka bertaut. Wajah tampan itu sudah berada di hadapannya, menyapa untuk kemudian semakin mendekatinya. Jandi bahkan tak sempat berkedip saat bibir penuh itu kembali menyerangnya dengan sebuah lumatan yang dalam, sampai wajahnya terdorong... disadari tangan junpyo sudah berada di tekuknya, meminta jandi membalas permainan bibirnya.


FLASHBACK



Hari itu, di tengah hari yang terik, seorang wanita paruh baya datang menemui junpyo di kantornya. Junpyo agaknya terkejut dengan kehadiran Mrs.Geum yang tidak biasanya. Ia tak dapat menebak apa yang menjadi tujuan omma jandi ini, seingatnya tak ada lagi yang tersisa antara dirinya dan jandi setelah perpisahan di tengah hujan lebat malam itu, hanya beberapa hari berselang sejak kejadian itu.

Yang sebenarnya adalah.... saat  ini junpyo dalam keadaan sangat kacau. Dia yang yakin mampu merelakan jandi yang sudah mengingkari janjinya, tapi justru keadaannya semakin kacau. Di hadapan orang lain ia seolah baik-baik saja, tapi saat ia berada dalam kesendirian, junpyo kembali minum-minum untuk menghilangkan jandi dari pikirannya. Tapi kedatangan Mrs.Geum hari ini kembali menyadarkannya bahwa ia tak bisa lari dari rasa cintanya pada jandi. Seacuh apapun ia bersikap di hadapan gadis itu, segala sesuatu yang berhubungan dengannya selalu menghampiri tanpa diminta, tak pernah luput dari ketertarikan junpyo.

Junpyo menatap heran pada Mrs.Geum yang benar-benar berdiri di hadapannya. Meski begitu, ia langsung menyambut ’mantan’ mertuanya ini. Setelah membungkuk memberi salam- junpyo mempersilahkan Mrs.Geum duduk. Bukan karena enggan duduk di sofa yang berantakan, tapi Mrs.Geum justru memilih berdiri berhadapan dengan dinding kaca gedung pencakar langit ini, menatap ke depan pada bangunan-bangunan yang terlihat kecil dari sana. Masih dalam diam, terlihat serius. Junpyo pun mendekatinya, berdiri di sisi Mrs.geum.

Junpyo :   ”Apa yang membawa omma datang kesini?” Tanyanya ragu.

Mrs.Geum :   ”Karena akhir-akhir ini jandi sangat sulit untuk diajak bicara, terpaksa aku mencarimu...” Jawabnya santai, seolah tak pernah terjadi perselisihan antara mereka.

Junpyo :   ”Apa jandi baik-baik saja?” rautnya berubah khawatir.

Mrs. Geum justru tersenyum, tanpa menoleh pada junpyo yang menatapnya penuh tanya dengan alis terhenyit

Mrs. Geum :   ”Jadi benar, hanya aku yang tidak tahu kalau putriku sedang mengandung.”

Junpyo mulai ragu, mengira Mrs.Geum datang untuk membahas rasa kecewanya tentang hal ini.

Junpyo :   ”Aku tidak berfikir untuk menyembunyikannya...”

Mrs. Geum :   ”Sejak pulang ke Korea, aku yang melarangnya bertemu denganmu. Kau mungkin membenciku.”

Junpyo semakin bingung, tak mengerti arah pembicaraan Mrs.Geum.

Junpyo :   ”Anyio omma...”

Belum sempat junpyo menyelesaikan kata-katanya, Mrs.Geum langsung menghela.

Mrs.Geum :   ”Karena aku tahu, akan terjadi hal seperti ini.”

Junpyo :   ”Jika karena hal itu, Omma tidak perlu mencemaskannya, karena jandi akan segera melupakanku.” ucapnya dengan nada yang menekan, sulit. Seolah ia memastikan akan menghadapi kenyataan itu.

Mrs.Geum :   ”Kau percaya? Jadi karena itu kau tidak bersikeras menemuinya lagi?”

Di luar dugaan junpyo, ia mengira mungkin Mrs.Geum akan berterimakasih atau merasa lega, tapi wanita paruh baya itu justru terlihat kecewa. Apa dia salah bicara?

Junpyo :   ”Mwo?”

Mrs.Geum menghela nafas berat sebelum ia melanjutkan kata-katanya...

Mrs. Geum :   ”Dalam hal ini, jandi bukanlah si penurut seperti yang kau bayangkan. Jika saja dia menuruti kata-kataku, mungkin kaliian benar-benar sudah bercerai.”

Junpyo sontak menoleh padanya, tepat saat kalimat terakhir itu diucapkan. Ia terperanjat, matanya tak berkedip sedikitpun. Mendadak teramat gugup, menuntut penjelasan.

Mrs. Geum melanjutkan.... ”Demi menghindari perceraian... dia pergi ke Boston karena aku memaksanya untuk menandatangani surat itu. Jadi, apa sekarang kau masih berfikir dia akan menuruti kata-kata ku?”

Junpyo terperangah, ia tak percaya dengan apa yang baru saja ditangkap oleh telinganya... Mata tajam itu menatap Mrs.Geum dengan raut bingung, tidak fokus. Pikirannya melayang, jantungnya berdegup kencang. Apa ini berarti, Mereka tak pernah benar-benar bercerai? Lalu malam itu, bukan perasaan jandi yang sesungguhnya? Jika bukan karena orantuanya, lalu demi apa? Untuk apa jandi bersikeras menyakitinya?

Pikiran junpyo langsung tertuju pada jaekyung saat itu.. ketika mendapatinya bersama jandi di pantai. Hohhh.... junpyo menghela nafas berat, matanya terkejap berkali-kali. Apa jandi benar-benar berfikir untuk melepasnya hanya demi Han Jaekyung?

’Tega sekali kau...’ pikirnya.

Tapi suara Mrs.Geum membuyarkan lamunan junpyo.

Mrs. Geum :   ”Aku sduah mengatakan apa yang seharusnya aku katakan sejak awal. Demi menghindari penyesalan pada cucu ku kelak... aku tidak akan menyakiti orangtuannya. Sekarang sisanya ku serahkan pada kalian.”

Sejak saat itu junpyo tak pernah lagi memaksa jandi, membiarkan gadis itu lelah hingga ia menyerah dengan perasaannya. Tapi dasar keras kepala, tak disangka sampai sebulan pun jandi tetap tidak menyerah. Menunggu selama ini justru membuatnya gila, setengah mati menahan rindu.


End Of Flashback




Kembali pada suasana yang semakin panas di toilet.......

Kedua sejoli ini masih berkutat dengan ciuman mereka yang semakin memanas, seakan semua itu adalah candu yang membuat mereka lupa diri. Saling melumat, kepala memutar ke kanan dan kiri. Mengimbangi gairah yang tak berhenti sekejappun, seluruh tubuh berdesir nikmat menyatukan hasrat. Tak ada tenaga lain lagi untuk bertahan, tak ada yang tersisa selain kerinduan yang menggebu-gebu. Tangan junpyo masih mengunci wajah jandi seiring lidahnya yang semakin dalam bertaut, mengeluarkan desahan nikmat yang membuat tubuh merinding. Sampai jandi dengan berat hati melepaskan ciumannya, junpyo menatap wajah bening itu -seolah masih menuntut lebih. Keduanya masih mengatur nafas bersamaan dengan kembang kempisnya dada.

Jandi :      ”Junpyo-yaa...”

Sorot mata lelaki itu seakan ingin menelan jandi hidup-hidup, begitu bernafsu merangkul gadis ini dalam cintanya lagi. Tapi jandi menghentikannya saat junpyo mulai menciumanya lagi. Meletakkan tangannya di dada junpyo menatapnya penuh tanya, jandi terlihat risih –memandangi sekeliling mereka. Benar, ini toilet. Seakan berkata ’tolong hentikan sekarang juga, sebelum seseorang masuk dan mendapati kita dalam keadaan seperti ini.’ Ya, pakaian yang tadinya rapi kini berantakan, begitu juga rambut mereka yang lumayan acak-acakan.

Tak perlu berlama-lama, belum sempat jandi menjelaskannya, mereka lebih dulu mendengar suara berisik dari luar. Jandi terbelalak saat mendengar suara tawa wanita yang semakin mendekat ke arah mereka, keduanya mendadak panik.

Kreeekkk... Pintu toilet itu terbuka, dua orang wanita masuk ke dalamnya sambil mengoceh, menandakan kalau mereka tak melihat siapapun disana. Lalu dimana junpyo dan jandi?

Kedua wanita itu terus saja mengoceh sambil mencuci tangan dan membenarkan gaun sexynya...

”Benar, aku tadi melihatnya.... hanya sebentar..”

Dan ternyata..... junpyo dan jandi sedang berada di salah satu kamar toilet, jandi membekap mulut junpyo sekuat tenaga. Nyali lelaki itu langsung menciut saat jandi memelototinya ketika ia berusaha ’mengintip’ kedua wanita itu. Tanpa sengaja mereka mendengar percakapan kedua orang itu.

”Dia datang sendirian....”

”Jadi benar, presdir Goo sudah bercerai?”

Mendengar namanya disebut, junpyo pun terhenyit. Begitu juga dengan jandi yang langsung memasang ’kuping’ baik-baik. Keduanay saling berpandangan, bertanya-tanya apa yang orang bicarakan tentang mereka. Apalagi jandi, mendadak wajahnya memerah menahan cemburu. Jelas-jelas dari nadanya..... gadis-gadis itu senang kalau mereka bercerai, ia kesal sekali.

”Yang ku dengar juga begitu... Pria itu berkencan dengan banyak gadis, mana mungkin bertahan dalam pernikahan.”

Hey, jangan asal bicara. Seperti itulah kira-kira ekspresi junpyo saat matanya membulat lebar, apalagi mendapati jandi menatapnya semakin kesal. Junpyo komat-kamit kesal, kata-kata yang tak bertanggung jawab itu seolah taruhan hidup matinya pernikahan mereka saat ini.

”Benar...”

”Tapi, dia sangat sempurna... Kau lihat tadi, dia tampan sekali.”

Kali ini junpyo bersikap tenang pertanda ia setuju, tersungging senyum nakal di bibirnya seakan memaksa jandi untuk mengakui kalau dia adalah gadis paling beruntung karena memiliki hati seorang Goo Jun Pyo yang dipuja banyak wanita.
Sayangnya tak sesuai harapan, jandi malah semakin kesal, gerakannya yang tiba-tiba akan mendorong junpyo justru malah menimbulkan keributan.

Brakk......

Suara benturan benda di tembok membuat kedua wanita tadi terperanjat, mereka menoleh pada kamar dimana jandi dan junpyo berada. Keduanya mendekati, dengan wajah bingung. Mereka baru menyadari ada orang lain di tempat itu.

”Nona... Apa kau baik-baik saja?” memastikan suara tadi bukan sesuatu yang berbahaya.

Jandi yang panik buru-buru menyahut... ”Ne... Tidak apa-apa..”

”Baiklah...”

”Ayo kita pergi...” ajak salah seorangnya.

Selama beberapa lama jandi memastikan kalau tak ada suara lagi, perlahan ia keluar dari tempat itu, diikuti junpyo yang terlihat acuh. Tampangnya berubah sok polos saat jandi menunjukkan ekspresi marah padanya, seolah ia juga tidak mengerti apa yang gadis-gadis itu bicarakan. Dengan kesal jandi meninggalkannya, segera keluar dari sana. Diikuti junpyo yang dari tadi hanya senyam-senyum -mengingat jandi mendadak semanis ini.

Junpyo mempercepat langkahnya, tanpa aba-aba ia langsung menyambar tangan jandi dan menggenggamnya. Jandi menengadah -menoleh pada junpyo disisinya, lelaki itu semakin menggenggam erat tangannya, berjalan pasti, dengan senyum terbaiknya. Membuat jandi terkelu dan hanya mengikuti langkahnya.

Ia tak perduli saat mereka berjalan menuju keluar hotel dimana ada banyak kerumunan wartawan disana. Di sekitar lobi, terdapat dua orang reporter yang tadi mengikuti junpyo. Keduanya berusaha mempertajam penglihatan mereka, berkedip berkali-kali. Mereka saling berpandangan satu sama lain, memastikan kalau yang mereka lihat itu benar.

Reporter 1 : ”I...itu... itu.. Goo Jun Pyo?” Katanya terbata-bata pada temannya yang menjawab dengan anggukan cepat.

Serentak keduanya histeris ”HAMILLLL???”

Sementara langkah junpyo dan jandi terhenti oleh reporter yang menghadang mereka, security disana berusaha memberi mereka jalan. Semua mata tertuju pada keributan disana, sedangkan junpyo dengan tenang tetap menggenggam erat tangan jandi meski mereka diserbu dengan berbagai pertanyaan. Diluar dugaan jandi, ternyata junpyo memang sengaja meladeni reporter-reporter itu, ia menatap heran pada junpyo yang dengan tersenyum pasti sambil menjawab beberapa pertanyaan.

Junpyo :   ”Terimakasih atas perhatian kalian pada proyek ini..”

Salah satu reporter :   ”Presdir Goo, bagaimana pendapat anda tentang rumor  yang berkembang sekarang ini tentang perceraian itu?” langsung saja.

Jandi juga terlihat menunggu jawaban junpyo untuk hal ini, tapi junpyo tiba-tiba merangkulnya, membuatnya gugup.

Junpyo :   ”Semuanya baik-baik saja, kami sedang menanti kelahiran anak pertama kami.”

Jandi terpukau melihat  junpyo begitu penuh percaya diri dengan jawabannya, tanpa tahu kalau dia memang bermaksud meluruskan apa yang selama ini dipergunjingkan orang-orang, termaksuk gadis-gadis di toilet tadi -tentang hubungan mereka.

Sementara itu, kedua reporter tadi yang tidak ikut mengerumuni junpyo dan jandi, tampak kecewa. Seketika semangat mereka hilang mengingat apa yang selama ini sudah mereka kumpulkan tentang scandal perceraian Goo Jun Pyo ternyata sia-sia. Tidak perlu mengintai, jika saja tahu ternyata junpyo datang sendiri mematahkan rumor yang terkesan disembunnyikan selama ini. Karena sejak kabar perceraian itu muncul, tak ada yang bersedia menjelaskannya. Sampai berita simpang siur kemana-mana, publik menduga kalau Mr.Geum jatuh koma karena hal ini.

Akhirnya junpyo membawa jandi keluar dari kerumunan wartawan, kemudian mereka memasuki mobil yang sudah siap disana. Junpyo sendiri yang menyetir.

Jandi :      ”Kita mau kemana?”

Junpyo :   ”Mencari udara segar.” jawabnya sambil tersenyum, tanpa meminta persetujuan.




--------------------------------------------------




Stelah perjalanan yang lumayan jauh, akhirnya mobil junpyo berhenti di sebuah pantai yang bahkan tak terlihat indah karena terselubung gelap malam. Begitu turun dari mobil, jandi dan junpyo disambut oleh berisiknya debur ombak yang mendayu-dayu. Keduanya langsung diterpa angin pantai yang menggigilkan tubuh, mengayun-ayunkan rambut juga gaun hingga mata pun merah –berair.

Junpyo :   ”Kau kedinginan?”

Keduanya berdiri menghadap laut yang luar biasa kelam penuh misteri.

Jandi :      ”Ne, tapi udaranya sangat segar.” tersenyum sungkan.

Junpyo duduk di depan mobilnya dengan tangan terlipat di dada, awalnya lumayan sunyi, keduanya berdiam diri sebelum junpyo memecahkan kekakuan.

Junpyo :   ”Jandi-yaa.. ada yang ingin kau katakan?”

Jandi menatap junpyo lama sekali, bagaimana ia tahu... Ada banyak sekali yang ingin ia tanyakan, tapi begitu sulit mengungkapkannya. Apalagi jandi semakin ragu saat mendapati junpyo sepertinya sudah tahu apa yang mau ia tanyakan, tapi lelaki itu terlihat keberatan menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya.

Jandi :      ”Kenapa kau melindunginya? Itu saja, aku butuh alasanmu..” ucapnya pasrah.

Benar, junpyo tak terlihat gugup, ia sudah tahu jandi akan menanyakan hal ini.

Junpyo :   ”Jadi benar, kau sudah tahu... Jaekyung yang mengatakannya padamu? Karena itu, kau ingin kita berpisah meskipun kau tahu aku tidak ingin kita bercerai?”

Jandi mengerti kalau junpyo kecewa, tapi dalam hal ini seharusnya bukan dirinya  yang terpojok.

Jandi :      ”Kau tahu pasti..... berapa lama aku bisa menerima kenyataan saat aku jatuh cinta padamu...”

Junpyo :   ”Jadi kau menyesal?”

Jandi :      ”Kau belum menjawab pertanyaanku, kenapa kau melindunginya? Setelahnya akan ku putuskan aku menyesal atau tidak..”

Junpyo :   ”Jandi-yaa...”

Jandi :      ”Aku harus tahu, demi apa? Kau membiarkan pernikahan kita berada di ujung jurang, menjebakku dalam kesalahpahaman... Jika bukan karena kau masih menyimpan Han jaekyung dalam hatimu, aku tak bisa menemukan alasan lain.”

Junpyo terdiam sesaat, wajahnya mendadak pucat. Ia tertunduk dalam-dalam, seakan begitu sulit baginya mengatakan alasan itu pada jandi. Kedua tangan yang terselip disaku celananya terlihat gemetaran, jandi menatapnya heran, kenapa tiba-tiba junpyo jadi begitu gugup.

Jandi :      ”Junpyo-yaa? Kau baik-baik saja?” tanyanya ragu, ingin menyentuhnya. Nyaris jandi mengurungkan niatnya untuk memaksa junpyo bicara, melihat lelaki itu begitu terguncang.

Junpyo :   ”Belasan tahun yang lalu.....”

Jandi :      ”Mwo?”

Suara serak junpyo yang bergetar membuat jandi terhenyak, sepatah kata itu seakan tak pernah ingin diucapkan oleh lelaki itu, tapi kali ini ia memaksakan diri untuk bicara.

Junpyo :   ”Orangtua-ku memaksa ku untuk ikut dengan mereka tinggal di New York. Seorang bocah delapan tahun yang tidak tahu apa artinya keluarga bersikeras untuk tidak pergi, karena aku mengira sudah pasti aku akan hidup sendirian disana. Karena orangtua-ku akan meninggalkanku setiap hari. Apalagi saat itu.....”

Kali ini junpyo terlihat ragu untuk meneruskan kata-katanya, sementara jandi terus menatap junpyo penuh tanya. Lelaki itu melanjutkan ceritanya....

”Saat itu.. aku juga tidak ingin meninggalkan Jaekyung.”

Serrrr.... jandi mulai merasa perih di dadanya, apa mungkin memang benar jaekyung adalah cinta pertama junpyo? Dan ia memisahkan mereka? Tunggu dulu, junpyo buru-buru melanjutkannya sebelum jandi berfikir terlalu jauh...

”Karena sejak berteman dengannya, aku baru tahu seperti apa yang namanya keluarga. Paman Han –supirnya saat itu- selalu mengajakku bermain bersama putri yang sangat dicintainya. Aku sampai kecanduan berada di antara kehangatan keluarga mereka.... Dan jika aku pergi, aku berfikir tidak akan merasakan perasaan ini lagi.”



FLASHBACK



Saat itu Incheon Airport dipenuhi orang-orang, ditambah suara berisik pesawat yang lalu lalang antara langit dan bumi. Seorang bocah kecil dengan wajah kesal hanya terdiam duduk di ruang tunggu bersama orangtuanya, mereka bersiap akan berangkat dengan jet pribadi. Bocah lelaki itu adalah Goo Jun Pyo kecil yang terlihat sangat murung, menoleh ke kanan dan kiri memperhatikan sekelilingnya. Hanya ada seorang supir ketika itu -yang menunggui mereka. Sementara serketaris Jung sedang menyiapkan segala sesuatunya. Orangtua junpyo juga masing-masing sibuk dengan ponsel mereka, berbicara ntah dengan siapa di telepon.

Mrs.Goo :   ”Pak Han, kau pulanglah... sebentar lagi kami akan berangkat.”

Pak Han yang adalah supir pribadi keluarga Goo membungkuk –mengiyakan perintah majikannya.

Supir Han :   ”Baik Nyonya... Saya permisi.”

Supir Han pun berlalu dari sana, sementara Mr.Goo juga istrinya masih sibuk berbicara serius di telpon. Mereka tidak menyadari keberadaan putera mereka yang sudah tak ada lagi di tempat duduknya.

---------------

Sementara itu, supir Han sedang dalam perjalanan kembali ke kediaman keluarga Goo. Selama perjalanan tak ada yang aneh yang ia rasakan. Sampai sekitar lima belas menit berjalan, ponselnya berdering. Ternyata dari Mr.Goo.

Supir Han :   ”Presdir? APA?? Tuan Muda hilang???”

Sontak mobilnya berhenti, tanpa ba bi bu ia langsung menoleh ke belakang. Ternyata benar, Goo Jun Pyo dengan santai duduk disana tanpa diketahuinya.

Supir Han :   ”Ne presdir, tuan muda sedang bersama saya.” jawabnya panik.

Junpyo :   ”AKU TIDAK MAU KE AMERIKA!!!!” teriaknya kuat agar appanya mendengar.

Supir Han :   ”Jadi, presdir sudah mau berangkat? Baiklah Presdir. Aku mengerti.”

Supir Han memandang pasrah pada bocah kecil itu, junpyo kecil bahkan terlihat acuh.

Junpyo :   ”Jadi Appa sudah pergi? Bagus sekali!” tertawa senang.

Supir Han :   ”Benar, presdir sudah berangkat. Tapi serketaris Jung tidak jadi pergi, dia akan menyusul ke Amerika bersama tuan muda.”

Junpyo :   ”APA? AKU TIDAK MAU!!!”

Ntah apa yang dipikirkan anak ini, sontak ia turun dari mobil dan berlari sekencang-kencangnya tanpa mendengar lagi supir Han histeris memanggilnya.

CIIIIIIIIIIIIITTT...... BRAAAKKKKK..............

Suara benturan keras mengagetkan siapa saja yang berada disana. Langkah junpyo terhenti seketika, ragu-ragu ia menoleh ke belakang. Matanya terbelalak ngeri saat melihat mobil mewah miliknya sudah hancur tak berbentuk, saat itu juga degup jantungnya seakan berhenti. Ia terpaku disana, sekitar jarak empat meter dari mobil yang bahkan sudah terseret jauh dari tempatnya semula. Saat itu dunia seakan tak bersuara, semua orang yang ada disana berlarian mendekati tempat kejadian. Semuanya seperti berteriak, berusaha mengeluarkan seseorang dari rongsokan mobil itu, bahkan tak ada yang menoleh padanya. Dengan matanya sendiri, junpyo kecil melihat darah berceceran dimana-mana, juga beberapa mobil polisi yang datang menghampiri. Selama beberapa menit, akhirnya mereka berhasil mengeluarkan tubuh seseorang yang penuh dengan darah, membuat lutut junpyo lemas. Dia adalah supir Han, nyawanya tak tertolong setelah sebuah mobil box lumayan besar tiba-tiba menghantam mobil mewah keluarga Goo yang terparkir di pinggir jalan.

Saat itu, junpyo juga melihat serketaris Jung yang baru tiba di TKP, seperti orang gila menoleh kesana kemari mencari seseorang. Meski samar-samar terdengar Serektaris Jung meneriakkan namanya, junpyo tetap terdiam tanpa mampu menyahut. Sampai lelaki paruh baya itu menemukan dirinya dalam keadaan ketakutan, kaki kecilnya gemetaran. Ia tak menangis, tapi juga hanya diam membisu. Serketaris Jung berlari ke arahnya, ia langsung memeluk junpyo sambil menangis.

Sereketaris Jung :   ”Tuan Muda... Kau baik-baik saja?”

Pak Jung juga gemetaran saat memastikan tubuh junpyo tak tergores sedikitpun. Ia mendapati junpyo terlihat sangat shock, tangannya sampai dingin.

Junpyo :   ”Serketaris Jung.... Paman Han terluka.” ucapnya polos.

Serketaris Jung kembali memeluknya, sambil menangis.


End of Flashback





Junpyo :   ”Saat itulah serketaris Jung kehilangan sahabatnya... tapi dia masih bersyukur karena aku selamat.”

Pipi junpyo sudah berurai airmata, ia tertunduk dengan tangan gemetar menopang pada mobil yang di dudukinya. Jandi sendiri pun terlihat shock, ia terkejut sampai menutup mulutnya dengan kedua tangan.

”Mianhe jandi-yaa... dari awal, semuanya adalah kesalahanku.” ucapnya putus asa.

Jandi :      ”Jangan bicara lagi....”

Jandi mengerti betapa ia telah mengobark-abrik luka lama junpyo, lelaki ini berusaha mengubur semuanya dalam-dalam, tapi ia justru memaksanya menggali kembali cerita yang bahkan tak bisa dilupakan. Perlahan jandi mendekati junpyo, meraih tangan lelaki itu yang sampai berkeringat padahal udara di pantai sangat dingin. Jandi dapat merasakan luka saat menatap mata junpyo yang merah berair, airmata jandi pun tumpah.

Junpyo :   ”Mianhe....Aku tidak bisa menyalahkan jaekyung. Ini salahku.” ucapnya ketir. Setitik demi setitik air matanya jatuh.

Jandi :      ”Junpyo-yaa... bagaimana kau bisa menyalahkan dirimu atas apa yang sudah menjadi takdir hidup seseorang. Kematian bukanlah sesuatu yang bisa disalahkan. Aku mohon behentilah memikirkannya.” menggenggam erat tangan junpyo, memberinya kekuatan karena saat ini di hadapannya bukanlah junpyo yang biasanya, Goo Jun Pyo yang penuh percaya diri, kini terlihat sangat rapuh.

Junpyo :   ”Selama ini, aku tidak berani mengatakan pada siapapun. Tidak juga pada jaekyung.. Aku berusaha menutupi kehilangnnya, tapi pada akhirnya... aku menyakitimu jandi.”

Lelaki ini tertunduk semakin dalam, mengisyaratkan penyesalan yang tak mampu ia perbaiki lagi.

Jandi :      ”Anyio junpyo-yaa...”

Tanpa ragu jandi berdiri di hadapan lelaki itu -yang masih terduduk- mendekapnya dalam pelukan, membenamkan wajah lelaki itu di dadanya, hingga terasa tubuh junpyo bergetar menahan tangis.

Junpyo :   ”Mianhe...” lagi-lagi.... suaranya masih serak.

Jandi merenggangkan pelukannya, sepasang mata mereka bertemu. Sementara tatapan kelam junpyo seakan menghanyutkannya dalam cinta yang semakin dalam, jandi tak tahan melihat lelaki yang sangat dicintainya itu sekarang begitu tak berdaya. Perlahan wajahnya menunduk -mendekati wajah junpyo yang sudah siap sedia menyambut bibir jandi, terasa dingin saat bibir kenyal itu  melekat di bibirnya. Menekan semakin dalam hingga pipi mulus gadis itu ikut basah oleh sisa-sisa airmata di pipi junpyo.

Semilir angin pantai menyapu seluruh tubuh keduanya sejoli yang sedang bergelut dalam kerinduan mereka, dinginnya malam itu seakan bukan apa-apa meski kulit pun dibuat merinding. Pelan-pelan lidah mereka bertaut, menerobos masuk rongga mulut satu sama lain, tak ada yang mengalah. Sunyinya malam seakan memperjelas ketegangan antara keduanya, tak sabar merenggut kembali manisnya cinta yang sudah lama tak dikecap. Memusnahkan hari-hari sunyi yang dibaluti rindu yang menggebu. Junpyo tak berhenti, begitupun jandi.




------------------------------------------------------




Apa ini mimpi? Rasanya ia masih terpejam, tapi sinar merah itu menusuk tajam setelah menerpa wajahnya. Bola mata jandi yang masih tertutup kelopaknya pun bergerak-gerak seakan mimpinya begitu terusik. Tak seberapa lama, mendadak teduh. Tak ada lagi bayangan terang yang menganggu tidurnya, sebelum suara seseorang benar-benar mengembalikannya dari alam mimpi.

”Jandi-yaa... jandi?”

Perlahan kelopak mata jandi terbuka, ia belum sadar sepenuhnya karena memang pupilnya tak disambut oleh cahaya menyilaukan melainkan sebuah telapak tangan lebar yang berjarak sangat dekat –tepat di depan matanya. Ia langsung menoleh ke arah pemilik tangan itu, pandangannya disambut oleh wajah tampan yang sedang memerkan lesung pipinya.

Jandi :      ”Goo Jun Pyo?”

Junpyo :   ”Kau terkejut karena sudah lama tak melihat wajah ku saat pertama kali matamu terbuka?”

Jandi hanya tersenyum, ia baru menyadari keberadaannya -semalaman tertidur di dalam mobil.

Junpyo :   ”Lihatlah....”

Gadis itu mengikuti arah jari telunjuk junpyo, seketika bola mata cokelatnya berubah warna kemerahan. Jandi memicingkan matanya saat sinar matahari yang sedang merangkak terbit langsung menusuk pupilnya, tapi berubah takjub menyaksikan keindahannya. Tanpa ia sadari junpyo sudah berada di luar, membukakan pintu untuknya.

Junpyo :   ”Ayo....”

Menyodorkan tangannya untuk kemudian digenggam jandi, membawa gadis itu tepat ke mulut pantai. Jandi terpukau menyaksikan matahari menyingsing dari ufuk timur, ditambah deburan ombak yang berlarian menuju pada mereka.

Jandi :      ”Indah sekali...” ucapnya pelan.

Junpyo :   ”Ne...”

Junpyo merubah posisinya dan berdiri di hadapan jandi, menggenggam kedua tangannya sambil menatap sepasang mata yang jernih itu.

Junpyo :   ”Jandi-yaa.. sejak kau hadir, aku seakan menemukan segala yang tidak pernah ku miliki... Bukan orang lain, hanya ada kau... Aku mohon, biarkan kita memulainya lagi... Bersama putri kita yang akan segera lahir, dan anak-anak kita nanti...”

Jandi masih terdiam dengan mata berkaca-kaca, sebelum kemudian ia mengangguk pelan yang disambut oleh senyuman lega junpyo. Ditengah warna merah matahari terbit, perlahan junpyo mendekatkan wajahnya pada jandi untuk mendaratkan sebuah kecupan hangat di kening gadis itu.




--------------------------------------------------





Hari sudah menjelang siang saat mobil junpyo sampai di kediamannya. Disana Mr.Goo sudah menunggu saat keduanya berjalan masuk, appa junpyo itu terperangah saat memperhatikan penampilan mereka yang lumayan berantakan. Junpyo masih mengenakan jas semalam, sementara jandi juga masih dengan gaun merahnya.

Mr.Goo :   ”Kalian sudah pulang..” heran, memperhatikan mereka.

Junpyo :   ”Ne.. Appa sedang menunggu kami?” ia juga heran melihat Mr.Goo sudah di depan pintu dari tadi.

Mr. Goo :   ”Ne, appa dan omma akan kembali ke New York sebentar lagi.”

Jandi :      “Secepat itu appa?”

Mr.Goo :   “Karena appa masih banyak pekerjaan, Halmoni juga membutuhkan omma..”

Jandi:      ”Kalau begitu, biar aku antar ke Bandara.” pintanya antusias.

Mr.Goo :   ”Andwe jandi-yaa.. Kalian kan baru pulang, istirahatlah… Kau tidak boleh kelelahan, arasso?”

Ancaman manis itu membuat jandi tak bisa mengelak, hanya tersenyum mengiyakan.

Jandi :      ”Tapi.. dimana Omma?”

Mr. Goo :   ”Ah, dia....”

Belum selesai Mr.goo mengeluh karena bosan menunggu istrinya yang hampir sejam berdandan, akhirnya Mrs.Goo muncul.

Mrs. Goo :   ”Aku sudah selesai. Kalian ini, kenapa tadi malam meninggalkan pesta begitu saja?”

Datang-datang sudah mengomel, suaminya justru membela jandi dan junpyo.

Mr.Goo :   ”Biarkan saja, semua kan sudah beres. Tidak apa-apa...”

Junpyo dan jandi hanya tersenyum.

Mrs.Goo :   ”Jandi-yaa.. istirahatlah.. kau pasti lelah..”

Jandi :      “Ne, omma… Appa, aku ke kamar dulu.”

Jandi membungkuk untuk kemudian berlalu dari sana. Baru saja junpyo akan mengekorinya, tapi Mr.Goo menghentikannya.

Mr.Goo :   ”Junpyo-yaa... kita bicara sebentar” bisiknya pelan.

Junpyo hanya mengikuti appanya ke ruang kerja, tanpa banyak bertanya karena sepertinya sangat serius.

Mr.Goo menyodorkan sejumlah surat kabar juga majalah ke tangan junpyo yang menatap bingung benda-benda itu, barulah ia mengerti setelah membaca salah satu judul yang paling besar.

’Menanti kelahiran pewaris Shinwa Group’

Di bawahnya terpampang jelas fotonya bersama jandi saat menemui wartawan tadi malam. Kemudian ia menoleh pada appanya, menatapnya penuh tanya. Namun Mr. Goo justru tersenyum, semakin bingung ketika appanya menepuk-nepuk pundaknya pelan.

 Mr.Goo :   ”Kau melakukannya dengan baik. Appa bangga padamu! Sekarang appa bisa tenang melihat mu menyelesaikan segalanya.”

Senyum keduanya mengembang, sudah lama mereka tidak sedekat ini.

Junpyo :   ”Gomawo.. Appa....”




=========================================




Jandi menoleh saat pintu kamarnya terbuka, tenyata junpyo masuk sambil terus tersenyum, bahkan sebelum melihat jandi. Dengan enteng ia melangkah masuk, tapi mendadak ia terpaku saat mendapati jandi sedang berdiri kaku dengan hanya terbalut kemeja putih miliknya. Baju yang terlihat kebesaran di tubuh mungil itu hanya menutupi sampai bagian paha, selebihnya... jandi juga merasa risih saat mata junpyo tak berhenti memelototi kaki indahnya, pipinya merona merah.

Jandi :      ”Aku... mengambilnya di lemarimu.. Tidak ada yang bisa ku pakai selain ini.” ucapnya gugup, karena baru beberapa hari lalu ia menolak memakainya saat junpyo memberinya kemeja ini.

Junpyo hanya menahan senyumnya, berlagak acuh dengan sikap konyol jandi.

Junpyo :   ”Aku mandi dulu.”

Jandi mendadak murung karena junpyo mengacuhkannya, mengira junpyo tidak tertarik lagi padanya karena sekarang perutnya semakin membesar. Dengan wajah murung sesekali ia melairik junpyo yang sedang membuka pakaiannya. Karena junpyo tidak juga menoleh padanya, jandi jadi putus asa, jandi pun langsung menuju tempat tidur. Tapi seketika seseorang menyambar tubuhnya dari belakang, memeluknya erat. Jandi diam tak bergerak seolah memastikan kalau sesuatu yang menekan-nekan pundak hingga lehernya adalah hidung mandung junpyo, sontak ia menggeliat saat lidah yang kasar itu mulai bermain menjalari bagian itu. Sementara dekapan tangan junpyo semakin erat, mengunci tubuhnya dari belakang, menghirup aroma tubuh yang lama tak menyapa hidungnya. Lelaki itu membalikkan tubuh jandi, mata keduanya bertaut, saling menatap lekat nyaris tak berjarak. Degup jantung seakan terdengar keluar, semakin kencang saling menyahut. Hela nafas junpyo yang memburu menerpa wajah jandi, matanya terpejam -tak mengendalikan hasrat yang menggebu.

Tak perlu aba-aba bagi junpyo untuk melumat mesra bibir penuh yang dari tadi menggoda, jandi mendesah nikmat -menyambut lumatan junpyo yang semakin dalam. Merasakan setiap sentuhan lelaki itu di setiap jengkal tubuhnya, sementara tangannya yang terlilit di leher junpyo semakin mengencang. Lumatan junpyo lebih dalam lagi, mendorong kuat. Jari-jari jandi sesekali meremas geram rambut lebat junpyo, begitu juga sebaliknya, tangan junpyo semakin liar berkeliaran di punggungnya.

Sekejap saja kamar itu sudah berserakan oleh pakaian yang tergeletak di lantai, di penuhi suara desahan-desahan nikmat yang saling bersahutan setelah junpyo membawa jandi ke atas ranjang. Tubuh keduanya kini polos tanpa sehelai benang pun, junpyo melumat setiap bagian tubuh gadis itu meski tak berani terlalu menindih tubuh istrinya. Tapi justru jandi tetap menempel lekat pada dada bidang lelaki berkulit cokelat ini, bergelut dalam dekapannya. Keduanya bertatapan penuh harap sambil mengatur nafas yang memburu, berada dalam gairah yang menyesakkan, rindu yang tak terbendung.

Tak seberapa lama, terdengar suara jandi memekik tertahan, saat junpyo sudah memasuki tubuhnya, mendorong juga mengguncangnya. Berkali-kali... hingga keduanya seolah kecanduan. Tak henti-hentinya menyelesaikan rindu yang selama ini tertahan.




         =================================




Hanya ada hari-hari indah penuh cinta.... setelah semuanya terjawab seperti air yang mengalir. Dari cerita hidup junpyo dan jandi, tercipta sebuah keluarga seperti yang selalu junpyo impikan sejak kecil…



Jandi POV


Aku tidak pernah membayangkan bagaimana suamiku itu bisa memperlakukan ku seperti seorang ratu setiap harinya. Hari yang kami lalui… tak pernah sedikitpun ia memalingkan wajahnya dariku. Setiap aku terbangun, dia selalu disini.. di sisiku. Pertama kali ia membuka mata, senyum yang selalu menghiasi bola mataku itu memberi semangat ketika aku memulai hari. Dia adalah pria tertampan yang ku kenal, dia juga yang terbaik. Aku tahu kalau dia benar-benar tak ingin kehilangan lagi, tenang saja.. aku juga tak bisa hidup tanpa mu sayang...

Di saat perut ini semakin lama semakin membesar, aku mulai tidak percaya diri dengan bentuk tubuhku. Tapi junpyo justru memberikan perhatian yang lebih setiap harinya, membuatku merasa menjadi wanita tersexy di dunia, dia tak akan puas sebelum pipi ku ini merona merah oleh kasih sayangnya. Ya, Goo Jun Pyo memang penakhluk wanita, aku yang mandiri kini bahkan sangat bergantung padanya. Meskipun tidak terlalu manja, tapi junpyo itu selalu mengejutkanku dengan hal-hal romantis yang membuatku kecanduan dengan sendirinya.

Misalnya saja, di suatu siang musim gugur kala itu. Tiba-tiba saja ia muncul di kantor, aku pikir biasa saja -karena junpyo selalu menyempatkan makan siang bersama ku. Tapi, setelah masuk ke dalam mobil. tepat ketika aku duduk di sebelahnya, ia mengeluarkan selembar kain hitam dan memintaku memejamkan mata. Tentu saja aku tidak mau, konyol. Tapi dia bersikeras memaksa, untuk yang sati itu dia tak berubah. Dan akhirnya aku mengalah.

Jandi :      ”Kita mau kemana?” dengan mata tertutup kain hitam.

Junpyo :   ”Kau akan segera tahu.” ucapnya enteng.

Menurutku, dia terlalu lama menutup mata ini. Aku merasa risih, menunggu sampai mobilnya berhenti. Kemudian junpyo memapahku berjalan pelan dengan mata tertutup, ntah kenapa saat itu tidak menabak-nebak kemana ia akan membawaku. Seakan rela menyerahkan diriku kemanapun ia membawaku, aku bersedia ikut dengannya kemanapun.

Saat junpyo membuka kain hitam yang membalut mataku, samar-samar pupil ini menangkap sesuatu yang sangat menarik perhatian. Ya, jelas-jelas tempat ini adalah taman super luas di kediaman kami sendiri. Tapi.... siapa yang menyulapnya? Aku menoleh pada junpyo yang sedang tersenyum puas, karena berhasil membuatku terpukau.

Jandi :      ”Bukankah ini musim gugur? Bagaimana ini?”

Aku masih terkelu menagkap keindahan di depan mata, sepanjang taman yang dipenuhi bunga warna-warni yang sangat lebat. Di salah satu sisinya juga terdapat taman bermain yang super mewah, tempat ini awalnya tak seindah ini. Kini serasa berada di pulau Jeju.

Junpyo :   ”Bunga-bunga ini akan menyambut kelahiran puteri kita.” memandang bangga karyanya itu.

Jandi :      ”Kau ini... aku bisa tersesat, tidak mengenali rumahku lagi.”

Junpyo terkekeh, kemudian ia memelukku dari belakang.

Junpyo :   ”Aku yang akan selalu menjemputmu pulang, kau menyukainya?”

Jandi :      ”Ne. Indah sekali.”



End of POV



         ===============================





Moment kelahiran anak pertama


TAP TAP TAP......

Beberapa pegawai berlarian panik, menuju ruangan presdir Independent Group. Disana jandi terkulai lemah dengan kepala tergeletak di atas meja, samar-samar ia mendengar mereka bicara cukup kencang.

”Disini, cepat bawa...”

”Hati-hati...”

”Ayo cepat...”

”Kau sudah menghubungi presdir Goo?”

”Aku baru saja mau menghubunginya..”

”Ah, cepat!”

Setelahnya jandi tidak ingat apapun lagi, ia pingsan.

Sampai gadis itu kembali membuka mata, disana ada junpyo yang sedang berbicara dengan dokter. Melihat sekelilingnya, sepertinya ini rumah sakit. Jandi mengingat-ingat apa yang terjadi, seingatnya.. ia sedang asik menyelesaikan pekerjaan di kantor. Tapi kenapa tiba-tiba.....

”APA YANG TERJADI?”

Jandi menoleh pada suara berisik itu, suara yang  dikenalnya. Benar, disana jihoo sedang menatapnya dengan raut cemas. Barulah junpyo menyadari jandi sudah sadar, buru-buru ia menggenggam tangan gadis itu.

Junpyo :   ”Jandi-yaa? Kau sudah sadar? Kau baik-baik saja? mana yang sakit?” tampangnya panik.

Jandi sendiri masih bingung. Dokter yang tadi berbicara dengan junpyo buru-buru akan memeriksanya, tapi jihoo menghentikannya.

Jihoo :      ”Biar aku saja.”

Yahhh, cari perkara. Saat itu juga wajah pucat junpyo mendadak berubah merah, melihat tangan jihoo oppa bergerak di sekitar dada jandi dengan stetoskopnya. Dia masih pencemburu nomor satu -meskipun di dalam keadaan terdesak sekalipun.

Jihoo :      ”Sebaiknya dirawat disini, kita tinggal menunggu, karena sudah waktunya persalinan.”

Junpyo :   ”APA?”

Junpyo semakin panik, belum apa-apa wajahnya sudah pucat pasi sakin gugupnya.

Jihoo :      ”Jandi-yaa.. istirahatlah...”

Jandi :      ”Ne oppa..”

Jihoo berjalan keluar bersama junpyo, membiarkan jandi istirahat. Tapi rupanya masih ada yang sangat dikhawatirkan junpyo, jandi sempat mendengar junpyo mengoceh pada jihoo.

Junpyo :   ”Kau tidak boleh kemana-mana, tunggu bersamaku disini.” ucapnya gugup.

Jihoo :      ”Aku akan meminta temanku yang merawat jandi, kau jangan khawatir.” meskipun ia sudah beberapa kali menghadapi proses persalinan tapi tidak untuk kali ini. Dia langsung mengibarkan bendera putih, mungkin karena pasiennya adalah jandi.




= Setelah satu hari jandi berada di Rumah Sakit =



”Aaaaakkkkkhhhhh.......”

Itu adalah teriakan terakhir jandi setelah berteriak sekuat-kuatnya tanpa henti, sampai seorang bayi mungil terlahir di dunia. Airmatanya tumpah, begitupun junpyo saat putri pertama mereka menangis meraung-raung hingga suara nyaringnya memenuhi ruangan itu sampai keluar.  Junpyo yang biasanya begitu kokoh, kini bergetar dengan wajah pucat. Sepanjang proses persalinan, ia menggenggam tangan jandi. Meskipun seakan mati rasa, tapi dinginnya tangan junpyo masih bisa dirasakan jandi. Junpyo jauh lebih takut dari istrinya itu. Dari tadi mulutnya yang biasa penuh ocehan justru hanya terdiam, bibirnya terbuka tapi tak mampu berkata-kata.

Seorang suster memberikan bayi mereka pada junpyo, airmata lelaki itu tak berhenti berlinang, manatap bayinya dengan pandangan takjub. Sumpah, dia terlihat cengeng saat itu.

Junpyo :   ”Dia... sangat mirip denganmu!” katanya terbata-bata, itu ucapan pertamanya sejak tadi hanya diam.

Benar, bayi mereka yang masih merah itu memang sangat mitip dengan jandi. Bibir mungilnya, juga hidungnya yang sama sekali tidak semancung ayahnya, tentu serupa dengan jandi. Dokter menyuruh perawat membawa bayinya ke ruang bayi, tapi junpyo menolak untuk melepaskan gendongannya.

Junpyo :   ”Biar aku yang menggendongnya.”

Begitu keluar dari ruanga itu, disana sudah ada orangtua mereka, juga teman-teman junpyo yang langsung berhambur –berebut untuk melihat bayinya.

Mrs. Goo :   ”Oh, cucuku...” ucapnya dengan mata berkaca-kaca, begitu juga yang lainnya.

Mrs.Geum :   ”Lihat, dia mirip sekali dengan jandi.”

Junpyo sedikit menunduk untuk memamerkan bayinya pada appa jandi yang masih duduk di kursi roda.

Mr.Geum :   ”Benar, ketika baru lahir jandi juga seperti ini.”

Semuanya terkekeh. Kemudian ternyata jihoo langsung mendekati jandi yang masih di dalam ruang bersalin, memastikan jandi baik-baik saja.




         ============================




Nyambuuuuuuuuuuuuuuuung ke bawah..................  [smiley-dance013] [smiley-dance013]
« Last Edit: February 13, 2012, 07:29:45 pm by Be my self »