Lima tahun kemudian
Jandi : ”Sayang, katakan pada serketaris Jung, hari ini biar aku yang menjemput yang menjemput Hyemi.”
Jandi terlihat sedang buru-buru saat memasuki mobilnya di halaman Independent Group, tapi langkahnya terhenti ketika mendengar ucapan junpyo melalui sambungan telepon.
”Mwo? Jihoo oppa sudah menjemputnya? Ooh, baiklah... Ne, aku langsung pulang.”
Sore itu, jandi berkesempatan untuk pulang cepat dari kantor. Memang sejak Shinwa dan Independent bersatu, jandi tidak perlu terlalu bekerja keras demi perusahaan. Karena ada junpyo yang mengurus semuanya.
Saat itu jandi buru-buru pulang ke rumah untuk putrinya. Setibanya disana, ternyata benar terlihat jihoo sedang bermain dengan anaknya di taman bermain yang junpyo siapkan lima tahun yang lalu untuknya. Jandi mendekati jihoo yang sedang duduk di salah satu bangku taman itu, sementara putrinya masih asik bermain.
Jandi : ”Oppa?”
Jihoo : ”Oh... kau sudah pulang?”
Jandi : ”Maaf merepotkanmu. Pasti hyemi yang memintamu menjemputnya...”
Jihoo hanya tersenyum melihat jandi bersikap sungkan seperti itu.
Jihoo : ”Kebetulan aku ke rumah sakit nanti malam, jadi aku menjemput hyemi dulu...”
Jandi hanya tersenyum, tapi suara teriakan puterinya mengagetkannya.
Hyemi : ”Ommaaaaaaa...... kau sudah pulang?”
Suara memekakkan telinga itu memang imut, tapi gaya bicaranya itu selalu seperti itu. Berlagak seperti orang dewasa. Setelah bermain beberapa lama sampai langit sudah hampir gelap, jihoo berpamitan untuk segera ke rumah sakit. Sementara hyemi terus ribut ingin ikut dengan pamannya itu, tapi jandi melarangnya.
Saat makan malam, dia terus mengoceh sepanjang malam tanpa henti, membuat jandi pusing tujuh keliling.
Hyemi : ”Kapan omma liburan lag bersama appa? Aku bisa dititipkan pada ahjusshi...” tawaran yang bagus, tapi bagi junpyo. Jandi justru kesal.
Jandi : ”Jangan tanyakan itu lagi...”
Hyemi : ”Baiklah, biar aku tanyakan pada appa saja.” ucapnya acuh.
Jandi terperangah tak percaya, anak ini baru berusia lima tahun tapi bicaranya lancar sekali. Mengoceh terus seperti tawar-menawar pada ommanya, jandi memelototinya, tetap dia tidak juga diam bahkan saat ia bertingkah anggun sambil melahap makan malamnya, meskipun makanannya lengket di pipinya, tapi dia tetap merasa anggun. Jandi sampai geleng-geleng kepala.
Hyemi : ”Kenapa omma tidak makan?”
Jandi : ”Kau makanlah duluan.. Habiskan ya...” mengacak-acak rambut halusnya, tapi bocah itu memonyongkan mulutnya pada jandi pertanda ia risih.
Hyemi : ”Omma menunggu appa?”
Jandi : ”Ne. Kau makanlah yang banyak...”
Bocah itu hanya mengangguk.
Jandi : ”Sayang, omma dengar kau berkelahi di sekolah ballet. Benar begitu?” memicingkan matanya, menatap penuh curiga.
Hyemi : ”Tidak. Aku tidak sampai memukulnya.” jawabnya enteng, sontak membuat jandi kaget.
Jandi : ”MWO?”
Hyemi : ”Omma, si sujin itu menggoda jihoo ahjussi, aku hanya bilang kalau aku lebih cantik darinya, aku lebih mempesona.”
Jandi : ”APA? Oh, dari mana kau belajar kata-kata itu??” tanyanya tak percaya.
Hyemi : ”Appa selalu bilang begitu padaku. Katanya aku paling cantik:” Ucapnya penuh percaya diri.
Jandi : ”OH, AKU BISA GILA!!!”
Bocah ini, meawarisi 95 persen wajah jandi, dan 100 persen sifat junpyo. Tidak heran kalau jandi selama beberapa tahun terakhir ini dibuat kerepotan oleh dua orang anak dan ayah ini. Goo hyemi selalu mengikuti tingkah appanya, sikapnya semakin hari semakin penuh percaya diri. Hingga jandi selalu tepojok, tapi junpyo selalu membelanya.
Jandi : ”Sayang, mana boleh kau bocara seperti itu. Itu akan melukai hati temanmu.”
Hyemi : ”Ne omma. Arasso...”
Jandi : ”Lalu, benar kau tidak memukulnya kan?
Hyemi : ”Anyio.. Aku hanya menjambak rambutnya sedikit.” nyengir..
Jandi : ”Oh God, GOO HYEMI !!!!” >.<
-----------------------------------------------------
Malam semakin larut, junpyo kembali ke kamarnya setelah memastikan puteri kesayangannya sudah tidur pulas. Ia mendekati jandi yang sedang duduk si sofa sambil membaca beberapa majalah bisnis. Junpyo duduk di sebelahnya, perlahan mulai mengganggu konsentrasi jandi. Ia melingkarkan tanganya di pinggang ramping jandi, membuat istrinya itu mengeliat geli.
Junpyo : ”Sayang, aku merindukanmu!”
Bukannya membalas pelukan junpyo, jandi justru terlihat kesal.
Jandi : ”Junpyo-yaa.. tadi hyemi berkelahi lagi di sekolah balet.”
Junpyo : ”Aku tahu, dia hanya cemburu pada temannya yang meminta jihoo membelikan ice cream. Kau jangan terlalu memikirkannya.” ucapnya enteng, masih terus menghujani jandi dengan kecupan-kecupannya.
Jandi : ”Kau selalu memanjakannya, mengajarkannya kata-kata yang aneh.”
Junpyo : ”Aku bilang dia cantik, karena puteri kita itu sangat mirip dengamu. Dia selalu membuatku merindukanmu sayang.”
Jandi : ”Tapi dia menjambak rambut temannya. Hoh, aku kesal sekali.”
Junpyo : ”Benarkah? Ah, puteriku memang jagoan.”
Jandi : ”YAH.. ” berteriak kesal.
Junpyo : ”Ohya, besok kau juga tidak usah menjemputnya, dia minta menginap di rumah jihoo.”
Jandi : ”LAGI??? Tapi sayang, itu akan merepotkan jihoo oppa..”
Junpyo : ”Kau kan tahu, hyemi sangat penurut pada jihoo. Dia pasti tidak akan rewel dikelilingi paman-pamannya yang tampan itu.”
Memang benar, tidak ada yang bisa menjaganya sebaik jihoo. Kecil-kecil seleranya sudah kelihatan bagus. Dia sangat menyukai jihoo.. ya ampunnn...
Jandi : ”Tapi....”
Junpyo : ”Bukankah itu bagus, kita bisa pergi bulan madu.” tersenyum nakal, menggoda jandi.
Jandi : ”Aiisshh... Minggu lalu juga baru pulang! Jadi hyemi benar-benar mengatakan ini padamu.. Kalian ini, apa saja yang kalian bicarakan..” ucapnya kesal.
Bukannya mengindahkan kata-kata jandi, lelaki itu justru mengejutkannya dengan langsung menggendong tubuh istrinya itu.
Junpyo : ”Dia akan baik-baik saja, kau jangan khawatir. Puteri kita itu sangat pintar, dia hanya menginginkan seorang adik.”
Jandi : ”YAHHHHHH”
Jandi tidak sungguh-sungguh menolak saat junpyo mengriringnya ke tempat tidur, karena hal seperti ini sudah rutin dilakukan setiap malam. Saat lampu kamar mereka berubah remang-remang, cantiknya wajah jandi yang putih itu tidak pernah luntur meski setiap saat junpyo menatapnya lekat. Mengagumi setiap lekuk pahatan Tuhan yang terpantul di pupilnya, seakan ia adalah pria paling beruntung di dunia.
Dengan lembut junpyo memulainya dengan sebuah lumatan yang semakin lama semakin dalam, sementara jandi membalasnya tak kalah bernafsu, melumat habis bibir penuh itu sampai keduanya kesulitan bernafas. Junpyo menindih gadis itu dalam dekap tubuhnya yang kokoh. Membuat jandi menggeliat ketika lidah kasarnya bermain liar di lehernya, sementara tangannya dengan cepat menyingkap gaun tidur jandi. Jari-jari jandi pun tak sabar melicuti piyama junpyo seakan ingin sekali menyentuh otot-otot di tubuhnya.
”Ahhh...”
Desahan jandi memenuhi kamar yang tengah membara itu, tubuh keduanya berkeringat, wangi parfum bercampur jadi satu seiring permainan yang semakin memanas. Rajang itu sudah berserakan akibat gerakan mereka yang tak berhenti sekejap pun, junpyo melumat bagian-bagian tubuh jandi dengan brutal. Sungguh gadis itu berkali-kali mengerang nikmat setelah junpyo memasuki tubuhnya, mengguncangnya tanpa henti. Terkadang jandi yang terlalu agresif berada di atas tubuh junpyo. Sampai keduanya mencapai puncak dan terkapar disana, seakan energinya habis terkuras hingga jandi tertidur dalam pelukan junpyo.
Seperti itu selanjutnya, rutinitas yang biasa mereka lakukan setiap malam, sebelum tidur, juga terkadang setelah terlelap. Ketika fajar menyingsing, sebelum hyemi lebih dulu bangun dan meneriaki kamar mereka.
================================
Kehadiran anak kedua
Junpyo POV
Di tahun kelima musim dingin setelah hyemi lahir, istriku tercinta mengandung anak kedua kami. Saat pertama kali mengetahui jandi hamil lagi, aku mungkin terlihat putus asa ketika setiap pagi jandi muntah-muntah. Ingin rasanya menggantikan posisinya itu, aku tidak tega melihatnya. Dia bahkan sempat dilarikan ke rumah sakit sakin lemahnya, dia selalu memuntahkan hampir semua makanan yang dimakannya, aku merasa sangat berdosa. Tapi disisi lain, aku juga bahagia dengan kehadiran bayi kedua kami. Hyemi juga semakin rewel, akhir-akhir ini dia selalu cemburu dengan adik yang masih di kandungan ommanya. Dia merengek meminta jandi menggendongnya, menidurkannya, padahal sebelumnya dia selalu datang padaku untuk hal ini.
Aku terpaksa membawa hyemi ke rumah halmoninya, mereka senang dia menginap disana. Terkadang juga bergantian jihoo yang menjaganya, mengingat kondisi jandi yang lemah di kehamilan keduanya. Aku tidak ingin hyemi semakin membuatnya tertekan. Sebenarnya karena aku juga ingin memiliki waktu berkualitas bersama jandi, karena semakin hari kami semakin disibukkan dengan urusan kantor dan juga hyemi.
Mungkin benar, wanita hamil akan terlihat semakin mempesona, itulah yang kurasakan pada pada jandi. Setiap saat, tak pernah sekalipun jandi pergi dari pikiranku. Aku selalu merindukannya, dimanapun. Bahkan saat perjalanan bisnis ke luar negeri, aku tak berniat meninggalkannya seharipun. Tapi aku bersyukur, jandi mengaku sangat bahagia. Kami memiliki keluarga yang hangat, yang tak pernah ku dapatkan saat aku kecil, aku tak akan membiarkan itu terulang pada keluargaku.
Jandi juga selalu memberikan apapun yang ku inginkan, dia istri terbaik di dunia, juga ibu terbaik bagi hyemi. Kami sering berlibur, sesuai janjiku padanya, membawanya menyaksikan keindahan negeri Korea ini. Sementara hyemi sangat pengertian, dia tidak pernah ingin pergi bersama kami, asalkan meninggalkannya di rumah jihoo, dan memberinya adik perempuan, dia tak akan rewel. Gadis pintar!
Puteriku itu sangat diberkati, keinginannya terkabul saat jandi melahirkan puteri kedua kami yang ku beri mana Goo Eun Sun. Aku terpukau saat melihat bayi mungil kami itu sangat menyerupai wajahku.
Seiring berjalannya waktu, sikap keras kepala hyemi semakin menjadi-jadi setiap kali dia cemburu pada adik perempuannya Eun sun. Dari mulai adiknya belum bisa bicara, sampai eun sun berusia satu tahun. Hyemi selalu bertengkar dengannya. Kediaman keluarga goo kini menjadi sangat ramai, oleh teriakan Goo Hyemi juga Goo eun sun. Syukurnya puteri bungsu ku itu mewarisi sifat ibunya, dia lebih banyak mengalah pada hyemi yang usianya jauh lebih tua.
End Of Junpyo Pov
========================
Kelahiran anak ke tiga,
Cukup lama beberapa orang itu mondar-mandir di depan kamar bersalin. Rautnya terlihat cemas, padahal ini sudah yang ketiga kalinya bagi mereka. Seorang gadis kecil di antara mereka terus menempel pada jihoo, dia bahkan tak mengerti apa yang membuat wajah paman tersayangnya itu terlihat sangat tegang. Sementara satu gadis kecil lainnya terlihat lebih kalem dalam gendongan Mrs.Goo.
Hyemi : ”Ahjusshi... apa omma masih lama di dalam sana?”
Jihoo tersenyum padanya.
Jihoo : ”Kita berdo’a saja ok?”
Hyemi justru memonyongkan bibirnya, percis jandi.
Hyemi : ”Aku tidak mau adik perempuan lagi... Eun sun selalu nakal padaku.” ocehnya dari tadi, lumayan mencairkan suasana tegang orang-orang disana.
Woobin : ”Hyemi-yaa... Dulu kau sendiri yang ingin adik perempuan.”
Hyemi: ”Tapi yang penurut, eun sun sama sekali tidak menuruti ku.”
Yijung : ”Wah, anak ini bukan main miripnya dengan junpyo.”
Hyemi : ”Omma juga selalu bilang begitu.” ucapnya bangga. Membuat semua orang disana terkekeh.
Tapi seketika tawa mereka terhenti, ketika mendengar suara tangis bayi dari dalam ruang bersalin. Semuanya kembali tegang, sampai beberapa saat kemudian junpyo keluar, dan menggendong seorang bayi dengan wajah berseri-seri.
Junpyo : ”Bayi laki-laki...” ucapnya pelan, sepertinya junpyo sudah tidak terlalu tegang lagi menghadapi persalinan, tidak seperti saat pertama dan kedua. Apalagi jarak antara Eun sun dan putera ketiga mereka hanya dua tahun.
Semuanya tersenyum bahagia...
Mr.Goo : ”Ah, jagoanku!!” mencium cucu laki-lakinya.
------------------------------------------------------------
Setelah beberapa saat dibawa ke ruang perawatan, kamar jandi dipenuhi gelak tawa kebahagiaan keluarga besarnya.
Junpyo : ”Goo Hyun Joon... Kau akan bersaing dengan appa huh?” mencium bibir putera kebanggaannya.
Jandi : ”Akhirnya bertambah lagi satu lelaki dalam hidupku.” masih terbaring lemah, sementara junpyo menggendong putranya di sisi ranjang jandi.
Junpyo : ”Sayang, dia tidak mirip denganmu.”
Jandi : ”Juga tidak mirip denganmu.”
Mr. Geum : ”Tapi dia mirip kalian berdua..”
Junpyo : “Ne, hidungnya semancung aku…”
Jihoo : “Matanya mirip jandi.. Seperti hyemi..”
Ehem… tampaknya teman yang satu ini tidak berhenti mengagumi jandi, cinta pertamanya. Meski raut junpyo berubah cemburu saat pandangannya bertaut pada sinar mata jihoo yang penuh cinta, tapi tak lama kemudian ia tersenyum saat jihoo juga tersenyum padanya. Ikut bahagia untuknya.
Hyemi : ”Mana? Mana? Aku mau lihat...” gadis kecil ini selalu ikut campur obrolan orang dewasa, dia bersikeras untuk melihat wajah adik laki-lakinya.
Eun Sun : ”Aku juga mau lihat.. Appaa....” minta digendong oleh junpyo yang sedang menggendong adiknya.
Mrs.Geum : ”Hati-hati eun sun-ah...”
Jandi : ”Nanti kau jatuh..”
Kedua gadis kecil itu berebut meraih adiknya, bergantungan di kaki jenjang appanya, sementara junpyo tidak bisa menggendong mereka. Mrs.Geum buru-buru menggendong eun sun, tapi jihoo segera mengambil alih mengingat tubuh eun sun yang lumayan berisi. Sontak saja hyemi protes.
Hyemi : ”YAHHHH.....” teriaknya histeris.
Semua mata tertuju padanya, memandangnya heran, bocah itu bahkan menangis.
Jandi : ”Waeyo?” memandang heran pada hyemi.
Hyemi : ”LEPASKANNNN!!”
Dia meronta-ronta menarik jihoo yang tinggi menjulang agar lelaki itu tidak menggendong eun sun, wah gawat!
Yijung : ”Sini biar aku menggendongmu.”
Tawaran yijung itu sama sekali tak menarik baginya.
Hyemi : ”ANDWEEE!!”
Langsung menepis tangan yijung, membuat semua yang ada disana melongo menatapnya heran. Begitu juga eun sun yang tidak mengerti kenapa unnienya menangis histeris seperti itu. Akhirnya jihoo menyerahkan eun sun pada yijung untuk kemudian menggendong hyemi. Gadis kecil berusia delapan tahun itu langsung tenang dalam gendongan jihoo, akibatnya semua orang mengejeknya.
Junpyo : ”Yah, Goo hyemi... bagaimana pamanmu ini akan mendapat pacar kalau kau terus menempel padanya.”
Jihoo hanya tersenyum manis padanya, memang sangat memanjakan anak itu.
Jandi : ”Ah, anak ini... oppa, jangan terlalu memanjakannya.”
Lucunya, tangan mungil hyemi justru menutupi sepasang telinga jihoo rapat-rapat, agar tak terpengaruh dengan apapun yang orang katakan. Sontak saja semua orang disana tertawa. Ah, dia memang pintar.
End Of Chapter
=================================
Thank you for all readers ^^