Chapter 13
Cerita sebelumnya Min Ho termangu di suatu tempat yang tidak dikenalnya mendapati Hye Sun mengabaikannya. Ia kesal dan amarah sudah mulai menguasainya tapi ternyata Hye Sun yang dikiranya sengaja mengabaikannya ternyata tidak bisa melihat & mendengarnya.
Min Ho menjadi bingung dan tidak mengerti apa yang telah terjadi dan sayup-sayup ia merasa ada suara nyanyian. Ia mencari-cari arah suara tapi tidak ada siapa-siapa di sana. Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk-nepuk bahu dan memanggil-manggil namanya.
Min Ho tersentak dan mengerjap-ngerjapkan mata mendapati dirinya ada di dalam kamarnya sendiri. Di sisi ranjang ada Mr. Jung yang memandangnya dengan wajah cemas dan khawatir. Rupanya Mr. Jung yang memanggilnya tadi & mimpinya benar-benar aneh.
“Sosongheo Doronim…Saya telah mengganggu tidur anda.” Ucap Mr. Jung melihat anak majikannya terdiam meskipun ia sudah siap jika dimaki dan dibentak tapi ternyata dugaannya meleset.
“Huahhem….Tidak apa-apa Mr. Jung.” Min Ho memijit-mijit kepalanya, mengingat-ingat lagi mimpinya barusan.
“Apa arti dari mimpi ku…apakah Hye Sun akan pergi meninggalkanku selamanya..Tidaaak..itu tidak boleh terjadi….”
“Tiiiiidaaaaaaaaakkk …” Min Ho memegang kepala dengan ke dua tangannya sembari menggeleng-gelengkannya.
Mr. Jung menjadi khawatir melihat tingkah tuan mudanya, buru-buru mendekati.
“Ada apa Doronim…? Apa ada sesuatu yang telah terjadi?”
Min Ho mendongakkan kepalanya dan menyadari Mr. Jung masih berada di sisi ranjangnya.
“Oh…tidak ada apa-apa….tadi aku hanya bermimpi…oh ya, ada apa Mr. Jung ?” Min Ho baru menyadari kecemasan di wajah Mr. Jung belum hilang dan pastinya ada sesuatu yang penting harus disampaikannya sehingga ia berani membangunkannya.
“Eh..sosongheo Doronim…Mr. Park tadi menelpon anda tapi karena tidak diangkat beliau menghubungi saya dan menanyakan anda. Mr. Park hanya mengatakan ada sesuatu yang harus Tuan Muda ketahui…Sekarang saya akan hubungi Mr. Park untuk Tuan Muda.” Mr. Jung menunduk hormat lalu melangkah menuju pintu.
“Mr. Jung…” Mr. Jung berhenti dan membalikkan badannya.
“Ne..Doronim..”
“Tolong siapkan air panas untuk saya dan saya sendiri yang akan menghubungi Mr. Park.” Ujar Min Ho kemudian ia mengambil ponselnya yang terletak di nakas di samping tempat tidurnya.
“Baik Doronim.” Mr. Jung kemudian menuju kamar mandi dan menghilang dibalik pintu.
Sementara itu Min Ho melihat di layar ponselnya, Mr. Park telah 5 kali lebih menghubunginya. “Pasti ada sesuatu yang sangat penting.” Pikirnya
Min Ho langsung memencet tombol merah di ponsel dan begitu terhubung langsung diangkat, rupanya Mr. Park sudah menanti untuk bicara dengannya.
“Yeobseyo..”
“Mr. Park… Apa ada sesuatu yang penting harus aku ketahui..?”
“Ne Tuan Muda..”
“Apa itu…cepat katakan, jangan membuatku bingung dan penasaran…?”
“Tuan Muda…Sebaiknya Tuan segera ke rumah sakit…saya akan menemui Tuan di sana.”
“Apa telah terjadi sesuatu padanya..?” Min Ho teringat mimpinya, berbagai macam pikiran berkecamuk dikepalanya. “ Apa ia …?” Min Ho tidak melanjutkan kata-katanya.
“Sosongheo Tuan Muda…Mr. Kim tidak mengatakan apa-apa pada saya dan menurut informasi yang saya dapatkan Nona Goo sudah tidak ada di ruang UGD sejak tadi pagi.”
“APAAA…? Kenapa baru memberi tahu aku ..?” Min Ho mulai emosi, Orang tua Hye Sun berjanji menghubunginya jika sesuatu terjadi tapi kenapa mereka tidak menghubunginya.
“Sosongheo Tuan Muda, saya juga baru tahu…Saya sekarang sudah sampai di rumah sakit dan saya akan mencari tahu apa yang telah terjadi.”
“Heeh…aku akan segera ke sana, tolong Mr. Park cari tahu dan kabarkan secepatnya..”
“Baik Tuan Muda..”
Setelah memutuskan hubungan Min Ho menangkupkan telapak tangan ke wajah, ia menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha mengenyahkan bayangan yang tidak-tidak mengenai Hye Sun.
Mr. Jung yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan semakin khawatir jika terjadi sesuatu pada anak majikannya tersebut tapi ia tidak boleh menunjukkan emosi yang berlebihan supaya tuan mudanya tidak tambah khawatir.
“Doronim, airnya sudah siap… apa doronim akan mandi sekarang..?” Min Ho mengangkat kepalanya dan menatap Mr. Jung yang tersenyum menenangkan, ia hanya mengangguk pelan.
“Apa ada yang doronim perlukan lagi..?”
“Tidak…nanti jika ada, Mr. Jung akan aku panggil...Eh ya,tolong siapkan mobilku..” Mr. Jung menunduk hormat lalu pergi dari hadapan Min Ho yang segera bangkit lalu masuk ke kamar mandi, awalnya ia hanya ingin membasuh mukanya saja tapi akhirnya memutuskan untuk mandi karena ia perlu berbadan segar agar bisa berpikir jernih.
***<<<>>>****
Hotel Goo
Bi segera menyiapkan alat-alat yang diperlukannya untuk menangkap komplotan teroris yang telah mereka buru beberapa tahun ini, ia bertekad kali ini mereka harus berhasil apalagi komplotan itu telah melukai gadis yang dicintainya dan banyak jiwa yang sudah jadi korbannya selama ini.
Bi sudah mendapat informasi dari orangnya tempat komplotan itu tinggal selama di Korea. Ia sudah memerintahkan agar tempat itu diawasi dan diintai sebelum mereka gerebek menunggu hari gelap dan juga mengingatkan jangan sampai pergerakan mereka tercium komplotan itu.
Tangan Bi yang dari tadi sibuk memasukkan senjata dan alat yang akan dibawanya ke dalam tas ransel terhenti menatap dengan sedih ke photo Hye Sun yang terletak di atas nakas di samping ranjang.
“Bagaimana kabarmu Hye Sun-aa ? Oppa harap kamu segera sadar dan kamu pasti bisa karena kamu gadis yang kuat. Maafkan Oppa tidak bisa melindungi dan menyelamatkanmu…Oppa sungguh menyesal kamu terlibat lagi dengan masalah yang membahayakan dirimu dan Oppa tidak ada di sampingmu…Hye Sun-aa… sadarlah manisku..”
Tanpa disadarinya tetesan bening bergulir dari sudut matanya, Bi meletakkan kembali photo itu setelah mengecupnya penuh cinta dan menghapus air bening di pipi dengan lengan kemejanya. Setelah memeriksa kembali isi ranselnya dan merasa sudah cukup barang yang dibawanya, Bi memakai jaket kulit hitam dan kacamata hitam lalu beranjak pergi.
***<<<>>>****
Di rumah sakit
Pukul 15.30
Begitu sampai di rumah sakit Min Ho di sambut oleh Mr. Park dan mereka bergegas menuju ruangan yang disampaikan oleh Mr. Kim. Mr. Park hanya mengatakan Hye Sun dipindahkan ke ruang perawatan dan selebihnya diam hanya menjawab bahwa Tuan Mudanya akan mengetahui semuanya setelah sampai di sana.
Pintu Lift terbuka di lantai 10 dan mereka ke luar menuju lorong sebelah kiri ke ruang vip. Mereka sampai di depan ruangan yang bertuliskan vip 10-1A yang di sambut oleh Mr. Kim yang menunduk hormat. Min Ho menatap dingin kepada Mr. Kim dan tanpa memperdulikannya ia meraih kenop pintu tapi di tahan oleh Mr. Kim. Min Ho menatap garang ke Mr. Kim dengan pandangan bertanya kepada Mr. Park.
“Sosongheo Tuan Muda…Mr. Kim harus minta izin dulu kepada Nona Goo apakah beliau bersedia menemui Anda..” Kata Mr. Park menjelaskan maksud Mr. Kim.
“Mwo…?” Mata Min Ho melotot kepada dua orang didepannya yang menekuk wajahnya, “Kenapa aku harus perlu izin dari Nona…” Min Ho seakan baru kembali ke bumi menyadari kata-kata Mr. Park…… “tunggu…maksud kalian Hye Sun sudah sadar..?” Min Ho mengguncang bahu Mr. Park dan kemudian Mr. Kim yang hanya diam diperlakukan seperti itu.
“Kenapa kalian tidak memberitahu aku sebelumnya heeh…Apa kalian ingin melihat aku gila atau mati dulu baru menyampaikannya hah..?” Emosi Min Ho membuncah karena tidak diberitahu secepatnya begitu Hye Sun sadar oleh orang kepercayaannya dan juga Mr. Kim walaupun Mr. Kim bukan abdinya tapi tetap saja ia melampiaskan kemarahannya pada Mr. Kim.
“Sosongheo Tuan Muda…tenang dulu..” Mr. Park berusaha melepaskan cengkraman Min Ho di kerah baju Mr. Kim yang langsung mendapat sorot kemarahan Min Ho.
“Mr. Kim hanya menjalankan perintah jadi hendaknya Tuan Muda tidak melampiaskan kemarahan kepadanya. Apa Tuan tidak ingin bertemu dengan Nona Goo..?” Mr. Park mengingatkan tujuan mereka ke sana sebelum di tegur pihak rumah sakit membuat keributan karena beberapa orang yang lewat di lorong itu memperhatikan mereka dengan alis mengernyit.
Min Ho segera melepaskan cengkraman dari Mr. Kim dan membetulkan kembali kerah bajunya yang berantakan sembari menunduk minta maaf. Mr. Kim tersenyum penuh arti lalu mengetuk pintu dan beberapa detik kemudian setelah terdengar suara dari dalam ia masuk.
Min Ho berusaha mencuri pandang ke dalam ruangan ketika Mr. Kim masuk tapi ia tidak melihat apa-apa. Ia merasa senang sekaligus bahagia mengetahui Hye Sun sadar walaupun ia belum tahu pasti keadaannya paling tidak ia sudah melewati masa krisis.
<<>>
Sementara itu di dalam ruangan, Hye Sun mendengar suara gaduh di luar dan ia yakin Min Ho yang telah membuat ulah itu. Ia yakin Min Ho pasti marah besar karena tidak dikabari secepatnya. Ia merasa tidak punya nyali menghadapinya walaupun rasa rindu juga menjalarinya, ia ingat janji mereka untuk tidak bertemu dulu sebelum hari H-nya. Di samping itu ia belum bisa menjelaskan jika Min Ho bertanya kenapa ia bisa bisa lepas dari cengkraman Endrivosky dan menyamar jadi orang lain untuk menyelamatkannya.
Hye Sun menggigit bibir bawahnya mengatasi kegalauan hatinya antara bertemu atau tidak. Sementara itu ke dua orang tuanya yang dari tadi memperhatikan kegelisahannya saling berpandangan bingung. Setahu mereka Hye Sun merindukan tunangannya karena begitu sadar Min Ho yang pertama kali ditanyakannya dan begitu mereka akan mengabarinya malah di larang tapi selalu menanyakan tentang Min Ho hingga Myra diam-diam minta Mr. Kim mengabari Mr. Park supaya tidak kentara karena Henry juga mendukung Hye Sun. Hye Sun terlihat gelisah mengetahui Min Ho mau datang ke rumah sakit dari Mr. Park, apalagi mendengar keributan di luar ruangan kegelisahannya makin jelas terlihat. Ke dua orang tua itu menatap penuh arti begitu Mr. Kim masuk menyampaikan siapa yang datang menjenguk.
Hye Sun minta Mr. Kim menunggu ia akan menuliskan pesan kepada Min Ho sebelum mereka bertemu. Myra berbisik ke telinga Henry namun Henry menggelengkan kepalanya tapi Myra sepertinya mengatakan sesuatu yang membuat Henry tercenung dan akhirnya mereka berdua ke luar ruangan.
<<>>
Baru 2 menit Mr. Kim masuk tapi Min Ho sudah tidak sabar menunggunya ke luar, begitu pintu terbuka ia langsung menoleh dengan sumringah tapi ternyata bukan Mr. Kim yang ke luar melainkan orang tua Hye Sun. Min Ho menunduk hormat dan menyapa mereka. Myra tersenyum hangat dan membalas sapaan Min Ho tapi tidak dengan Henry ia hanya membalas dengan datar dan dingin. Myra menyikut Henry dan menatapnya dan seperti berbicara dengan matanya mengingatkan suaminya. Akhirnya Henry dengan berat hati mengajak Min Ho ke kantin rumah sakit untuk berbicara mengenai Hye Sun.
Setelah sampai di kantin mereka memilih tempat duduk di pojok, Mr. Park membelikan coffee untuk mereka dan setelah meletakkan di meja, Min Ho mintanya kembali ke ruang Hye Sun di rawat.
Setelah terdiam sekian lama menikmati coffee masing-masing, Myra angkat bicara.
“Mianhae Min Ho-aa, kami tidak bermaksud menutupi berita tentang Hye Sun tapi ini permintaannya setelah mengetahui kamu baru pulang untuk beristirahat setelah menungguinya sejak kejadian itu. Kami harap kamu tidak marah yang penting sekarang Hye Sun sudah sadar dan lukanya tidak parah, dokter sudah melakukan pemeriksaan lengkap dan hasilnya baik hanya perlu istirahat beberapa hari untuk memastikan apakah ada efek sampingnya terhadap psikologis dan juga trauma pada tubuhnya. Jadi kita patut bersyukur dan berdo’a semoga tidak ada hal serius yang terjadi akibat kejadian itu. Tapi sekarang kami berharap kamu mau menolong kami ?”
Min Ho mendesah lega mendengar keterangan Myra tentang Hye Sun walaupun ia merasa Henry masih bersikap dingin padanya namun kata-kata terakhir Myra membuatnya resah.
“Pertolongan saya..? Ada apa sebenarnya Bi..? Saya akan membantu semampu yang saya bisa demi Hye Sun. Jika ini tentang pernikahan, itu bisa di …”
“Ahniyo…bukan tentang pernikahan, kami yakin kalian akan bisa memutuskan tentang itu dengan baik…”Ucap Myra melirik kesuaminya yang dari tadi hanya diam dan menatap gelas coffeenya seperti ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman. Myra menendang pelan kaki suaminya hingga ia tersentak dan menatap bertanya ke Myra. Myra menunjuk ke Min Ho dengan gerak matanya.
“Eh…Begini Lee Min Ho, walaupun hasil pemeriksaan menunjukkan Hye Sun tidak cedera parah tapi dokter memintanya untuk di rawat inap beberapa hari lagi seperti yang sudah dijelaskan oleh Myra. Masalahnya Hye Sun bersikeras minta pulang setelah pemeriksaan selesai, alasannya ia sudah sehat dan hanya lecet dan luka kecil jadi tidak masalah jika istirahat di rumah saja. Tapi dokter melarang karena mereka belum yakin 100% persen dan khawatir jika terjadi sesuatu kalau di rawat di sini akan cepat ditangani daripada di rawat di rumah. Dan Myra berpikir…” Henry mendelik menatap istrinya yang menendangnya dengan keras. “Maksudnya kami berpikir mungkin kamu bisa membujuknya untuk mau di rawat inap sampai dokter yakin tidak ada masalah dengan kondisinya. Tolong bujuk supaya ia mau di rawat inap, kami sudah berusaha tapi anak itu tetap bersikeras mau pulang. Entah apa yang ada dikepalanya hingga bertindak begitu..” Ujar Henry dengan nada sinis ditujukan ke Min Ho, sekali lagi Myra menendang dengan keras kaki suaminya yang membuat Henry meringis kesakitan dan melotot keistrinya.
Myra tidak tahu apa yang telah terjadi antara suaminya dengan Min Ho yang jelas setelah mereka bicara berdua tadi pagi sikap Henry semakin dingin ke Min Ho dan ia tidak ingin hal ini mempengaruhi hubungan Hye Sun dengan Min Ho.
Sedangkan Min Ho menyadari perubahan sikap Henry semakin besar padanya, namun ia masih berpikiran positif tentang itu. Sekarang yang menjadi pikirannya adalah sikap Hye Sun yang ngotot minta pulang dan kunjungannya yang harus mendapat persetujuan dulu.
“Apa sih maunya bertindak begitu buat susah orang saja. Apa dia tidak memikirkan akibatnya ? Huh…” Min Ho mendumel dalam hati.
“Paman dan bibi tidak perlu khawatir, saya akan berusaha untuk membuatnya mau di rawat inap di sini jika ia tidak mau di rawat di rumah sakit ini bisa kita pindah ke rumah sakit lain, hal itu tidak masalah kan..?” Min Ho menatap ke dua orang tua di depannya yang menganggukkan kepalanya.
Setelah berbasa-basi sebentar mereka kembali ke ruangan Hye Sun di rawat tetapi Myra minta Min Ho pergi lebih dulu dan memegang lengan suaminya. Begitu Min Ho tidak terlihat lagi Myra menatap suaminya dengan pandangan menuduh.
“Mworagu…?” Henry tidak mengerti maksud istrinya.
“Mwo…? Aigo.. bisa tidak kamu bersikap seperti biasa dengannya…Ia tidak ada hubungannya dengan yang terjadi dulu dan semua itu sudah selesai jadi tolong..jangan diungkit lagi masalah itu, ingat permintaan Tuan Goo, Henry..” Myra menatap suaminya dengan raut memohon sementara Henry memandang lurus ke depan dengan wajah kaku.
***<<<>>>****
Sementara itu di sekitar apartemen Endrivosky pada waktu yang sama
Bi mengemudikan mobilnya di jalan itu dengan pelan dan dari jauh dilihatnya beberapa orang rekannya sedang menyamar dan mengawasi dari kejauhan. Setelah dekat ia tepikan mobil dan bergabung dengan rekannya yang sudah berada di sebuah ruangan yang tidak terpakai tidak jauh dari apartemen Endrivosky.
“Apa sudah ada pergerakan ?” Tanya Bi mengintip dari kerai jendela ke arah apartemen Endrivosky mengikuti temannya yang melihat ke sasaran dengan teropong.
“Belum ada, mereka sepertinya menunggu keadaan aman baru pergi, tadi hanya ada pengantar makanan yang ke sana sementara komplotan itu belum terlihat satupun ke luar.” Ucap rekan Bi tanpa menoleh.
“Jangan sampai mereka lolos, peringatkan rekan yang lain untuk lebih waspada dan memperketat pengintaian, mereka terkenal lihai meloloskan diri, jangan sampai kita lengah.” Ujar Bi mengingatkan, ia menarik kursi yang sudah usang dan membersihkannya lalu duduk dan membuka ransel lalu mengeluarkan senjata dan teropong.
“Apa sudah dapat kabar dari rumah sakit ?” Tanya rekannya menoleh ke Bi.
“Belum…dan sepertinya susah untuk dapat informasi dari pihak rumah sakit.” Kata Bi menerawang ke kejadian di rumah sakit sebelumnya.
“Mianhae Hye Sun-aa..” batinnya.
Sementara itu tidak jauh dari tempat Bi dan rekannya, di sebuah apartemen, Endrivosky duduk berselonjor di sofa menikmati minumannya dengan bersenandung seperti tidak ada yang terjadi dan si duo terlihat gelisah karena mereka masih di kejar oleh pihak berwajib dan terjadi pemeriksaan yang ketat di bandara dan pelabuhan dari berita di TV. Endrivosky mengetahui kegelisahan si duo tapi ia pura-pura tidak mengetahui dan bersikap tenang malah terkesan santai seperti orang yang menikmati liburan. Hal ini sengaja dilakukannya untuk meredam agar mereka tidak semakin resah dan takut karena jika ia sendiri menampakkan kegelisahannya maka si duo bisa ketakutan dan berbuat hal-hal yang bisa menunjukkan keberadaan mereka walaupun sebenarnya jauh di lubuk hatinya ketakutan itu ada tapi karena sudah seringnya ia menghadapi keadaan genting maka suasana hati seperti itu bisa disembunyikannya dengan baik.
Ketenangan Endrivosky bukan tidak ada pengaruhnya terbukti si duo yang awalnya ketakutan sedikit demi sedikit mulai tenang meskipun kegelisahan masih terpancar dari raut mereka. Si duo sudah mulai bisa bercanda namun berusaha tetap siaga jika tempat persembunyian mereka ketahuan. Bos mereka, Endrivosky, sudah mempersiapkan mereka, karena si duo termasuk baru ikut dengan Endrivosky tapi mereka sudah memahami cara kerja bosnya, namun baru kali ini operasi mereka terendus dan di kejar-kejar.
***<<<>>>****
16.00
Kembali ke rumah sakit
Min Ho sudah berada di depan ruangan Hye Sun di rawat di sambut oleh Mr. Kim dan Mr. Park yang menunduk hormat. Mr. Kim mendekat dan menyerahkan sebuah kertas terlipat rapi ke Min Ho. Min Ho menerima kertas tersebut dengan alis berkernyit dan menatap penuh tanda tanya ke Mr. Kim. Mr. Kim tidak berbicara hanya mempersilahkan Min Ho melihat kertas itu dengan isyarat tangannya lalu mundur ke tempatnya semula.
Min Ho memandangi kertas ditangannya dengan banyak pertanyaan berkelebat di kepala. “Aish…apa maksudnya ini..?” gumam Min Ho pelan. Akhirnya dengan berat hati dan jantung berdebar Min Ho membuka kertas yang terlipat rapi ditangannya dengan pelan dan melihat tulisan tangan rapi yang dirindukannya membuat hatinya semakin berdebar keras dan begitu membaca kata-kata yang ada di kertas itu hatinya terenyuh, kertas yang ada ditangannya telah menjadi gumpalan kecil karena diremasnya dengan kuat, matanya serasa panas dan kepalanya berdenyut-denyut. Ia tidak habis pikir Hye Sun bertindak seperti itu di saat dirinya hampir gila dan mati membayangkan gadis yang sudah mulai mengisi hari-harinya pergi dari sisinya.
“Apa yang merasuki pikirannya hingga membuat pilihan seperti ini ? Apa dipikirnya aku egois dan tega membiarkan dirinya menderita demi kebahagianku..?” Batin Min Ho dengan tangan yang masih mengepal erat.
“Ya..Lee Min Ho, kau memang egois hingga ia berbuat seperti itu, apa kau tidak menyadarinya heh..gadis itu terlalu baik buatmu tapi kau selalu memaksakan kehendakmu karena napsu bukan karena cinta..sadar Lee Min Ho sadar.” Sebuah suara terngiang dikepalanya seakan menyadarkannya akan perilakunya yang seenaknya.
“Tapi tetap saja ia tidak bisa bertindak seperti ini, ia juga egois tidak memikirkan orang lain.” Bantah Min Ho pada dirinya sendiri.
Sementara itu di dalam ruangan, Hye Sun pasrah dengan apa yang akan dilakukan Min Ho karena tindakannya tapi itu semua demi kebaikan mereka berdua. Setelah cukup lama menunggu Hye Sun berdiri dan dengan langkah pelan membuka lemari kecil tempat bajunya di simpan oleh Mr. Kim setelah ia minta diambilkan pakaian ganti. Kepalanya masih terasa berdenyut tapi tidak dipedulikannya, ia akan pulang dan naik taksi jika Mr. Kim tidak ada karena Min Ho tidak menjenguknya berarti pilihan pertama yang diambilnya.
Hye Sun mengganti baju rumah sakit dengan celana khaki dan atasan warna putih lengan pendek, baru separuh ia mengancingkan atasannya, terdengar pintu di buka dan di tutup dengan keras dibelakangnya. Refleks Hye Sun menoleh ke arah pintu dan mendapati Min Ho berdiri dengan tangan mengepal erat di ke dua sisi badan dan mata yang memancarkan kemarahan sekaligus kerinduan yang mendalam menatapnya tidak berkedip. Hye Sun menutup mulutnya dengan ke dua tangan menutupi keterkejutannya, ia pikir Min Ho sudah pergi begitu membaca pesan yang diberikannya lewat Mr. Kim.
Min Ho yang amarahnya sudah berkobar melihat Hye Sun berdiri di depan lemari dengan pakaian yang terbuka bagian atasnya menjadi lupa dan matanya yang tadinya melotot karena marah sekarang melotot karena tubuh Hye Sun bagian dada terpampang didepannya hingga membuat debaran jantungnya semakin bertalu-talu.
Mereka saling menatap dalam waktu yang lama dan Hye Sun baru menyadari tatapan Min Ho yang meredup sudah berada sangat dekat dengannya hingga tarikan nafas dan debaran jantung Min Ho terdengar jelas ditelinganya juga nafas hangat Min Ho menerpa wajahnya membuat pipinya memanas dan jantungnya tidak karuan.
Min Ho seperti kehilangan kesadaran setelah melihat Hye Sun yang selama beberapa hari ini hanya dapat dilihatnya melalui photo walaupun ia bertemu dengannya kemaren sore dan sepanjang malam bersama tapi dalam situasi yang tidak memungkinkan untuknya menyalurkan kerinduannya. Sehingga begitu sudah dekat ia langsung menangkup wajah Hye Sun dan melumat bibirnya dengan rakus seakan ingin meluapkan semua kerinduan dan emosi yang sudah menggunung melupakan kondisi Hye Sun yang baru siuman dari koma membuat Hye Sun gelagapan menerima ciuman Min Ho. Awalnya Hye Sun pasif tidak meladeni ciuman Min Ho tapi lama-lama ia hanyut juga dengan ciuman Min Ho hingga tanpa disadarinya ia juga membalasnya membuat Min Ho semakin intens menciumnya dan tangannya juga mengelus dan meremas dengan lincah menyusuri tubuh Hye Sun bagian atas yang tidak tertutup bagian depannya.
Nafsu sudah menguasai Min Ho apalagi dengan Hye Sun yang juga meladeninya membuatnya lupa kalau sekarang ini mereka berada di rumah sakit dan gadis yang direngkuhnya lagi dalam masa penyembuhan. Min Ho tersadar ketika ia hendak menanggalkan pakaian Hye Sun tapi yang punya menahannya dengan memegang erat lengan Min Ho yang hendak melepaskan pakaiannya dan dengan susah payah Min Ho mengendalikan hasratnya. Min Ho kemudian memeluk Hye Sun dengan erat seakan tidak mau dilepaskannya lagi, ia merenggangkan pelukannya lalu membopong Hye Sun dan membawa tubuhnya ke ranjang, membaringkannya dan mengancingkan baju Hye Sun yang sudah terbuka semua dengan sorot takjub menatap kulit putih mulus di balik pakaian itu membuat Hye sun jengah dan salah tingkah hingga menepiskan lengan Min Ho dan menutupinya dengan selimut tapi Min Ho menahannya dan melanjutkan aksinya sehingga Hye Sun bisa pasrah.
Setengah jam sudah ke dua insan itu hanya saling menatap dalam diam di tempatnya masing-masing ~Hye sun yang berbaring di ranjang dan Min Ho yang duduk di kursi di samping ranjang~ Tak ada satupun yang mulai pembicaraan, kepala mereka berkecamuk dengan berbagai macam pikiran hingga ketukan di pintu mereka acuhkan.
Mr. Kim membuka pintu dengan perlahan lalu masuk meskipun tidak ada sahutan dari dalam menyuruhnya masuk, setelah menunduk hormat Mr. Kim menyampaikan pesan dari orang tua Hye Sun yang pulang dan tidak pamit dulu dan berpesan akan balik lagi setelah mereka beristirahat dan berharap Hye Sun bisa istirahat dengan tenang. Baik Hye Sun maupun Min Ho tidak bereaksi dengan Mr. Kim membuat Mr. Kim merasa aneh dengan ke dua anak manusia itu yang saling menatap dalam diam tapi tidak banyak bertanya, ia menunduk hormat kemudian berlalu ke luar.
***<<<>>>****
Di kediaman keluarga Goo
Myra dan Henry sampai di depan rumah lalu turun dan mereka di sambut oleh pelayan yang menyapa dan menunduk hormat, mereka hanya mengangguk lalu masuk ke dalam tanpa saling bicara. Pelayan hanya menatap dengan bingung majikannya namun tidak ambil pusing, ia membawa barang majikannya yang dikeluarkan oleh sopir ke dalam rumah dan mengantarnya ke kamar majikannya.
Myra terburu-buru ke luar dari kamar mandi mengenakan kimono handuk dan rambut basah terbungkus handuk yang masih menetes mendengar ringtone ponselnya terus berbunyi sementara Henry yang sudah membersihkan badan duduk melamun di sofa menatap sesuatu yang ada di dalam kotak kayu kecil seukuran buku mengacuhkan ponsel yang terus berdering di atas nakas di samping tempat tidur.
Myra hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Henry dengan cepat meraih ponsel dan melihat nama yang tertera dilayarnya menarik nafas lega.
“Yeobseyo”
“Hallo Myra…mianhae mengganggu apapun yang sedang kamu lakukan saat ini.” Suara wanita di seberang dengan ramah yang tidak lain Sonya, ibu Lee Min Ho.
“Ahniyo…Kami baru pulang dari rumah sakit dan membersihkan badan.”
“Kalian pasti lelah sekali dengan kejadian ini dan pastinya belum sempat beristirahat, jadi aku mengganggu waktu istirahatmu..mianhae.. kami sungguh menyesal tidak bisa berada di samping Hye Sun dalam keadaan begini..” Ucap Sonya dengan nada menyesal dan bersalah
“Ahni…Kami mengerti kalian juga pasti cemas dan butuh informasi tentang Hye Sun jadi tidak masalah bagi kami karena Hye Sun juga akan jadi bagian keluarga kalian. Kita selaku orang tua selelah apapun demi anak tidak akan merasakannya dan kami mengerti dengan kesibukan kalian yang tidak bisa ditinggalkan.” Sahut Myra, matanya sekali-kali melirik ke Henry.
“Iya betul…ngomong-ngomong bagaimana kabar bakal menantu kami ? Apakah ia sudah bangun dari komanya ? Kami akan secepatnya pulang ke Korea begitu pekerjaan di sini sudah bisa di tinggal dan semoga nanti malam kami sudah bisa berada di Seoul.” Kata Sonya cemas dan khawatir.
“Syukur kepada Tuhan, ia sudah sadar tadi pagi dan hasil pemeriksaan sementara tidak ada yang serius hanya perlu istirahat dan perlu di control lagi nanti untuk memastikannya jadi kita bisa bernafas lega.”
“Oh benarkah itu Myra..?” Suara Sonya terdengar.
“Iya benar Sonya…Hye Sun sekarang sudah berada di ruang pemulihan dan dalam beberapa hari sudah boleh pulang jika hasil pemeriksaan nanti tidak ada masalah.”
“Oh syukurlah, kami senang sekali mendengarnya..” Nada suara Sonya sangat senang dan terdengar seseorang memanggilnya. “Ok. Myra meetingnya akan kembali di mulai, salam buat Henry dan maaf kami ya…By”
“By..” Myra menaruh ponselnya setelah Sonya memutuskan hubungan, ia berjalan mendekati Henry yang tidak berkutik dari tadi menatap kotak ditangannya. Dari belakang sofa Myra menyentuh pundak Henry dan memeluknya mesra dan mencium pipinya, ia dapat merasakan kegalauan yang dirasakan suaminya. Henry menoleh sekilas ke Myra lalu berkutat lagi dengan kotak ditangannya.
***<<<>>>****
17.00
Rumah sakit
Suasana di dalam ruang vip itu sunyi walau ada dua insan berlainan jenis yang masih berdiam diri. Baik Min Ho maupun Hye Sun tidak ada yang memulai karena mulut mereka seperti terkunci dan bingung bagaimana memulainya sehingga terkesan seperti dua orang remaja yang baru jatuh cinta tapi masih malu-malu kucing saling melirik secara sembunyi-sembunyi.
Pintu di ketuk dan seorang perawat masuk membawa catatan dan alat tensi serta stetoskop. Min Ho berdiri dan menggeser kursi yang didudukinya mempersilahkan perawat mengecek kondisi Hye Sun. Perawat melihat pakaian Hye Sun mengernyitkan alisnya kemudian melihat ke catatan yang dibawanya tidak ada yang salah kemudian ia menangkap dengan sudut matanya pakaian rumah sakit yang tersampir di gantungan mantel. Perawat itu menatap Min Ho lalu Hye Sun, seakan mengerti maksud tatapan perawat itu, Hye Sun hanya tersenyum kecil dan merasa malu.
Setelah selesai memerika dan mencatatnya kondisi Hye Sun, perawat itu pamit dan mengingatkan dokter akan mengunjunginya pukul 19.00 kemudian ia pamit tapi masih sempat melirik ke Min Ho yang berdiri di depan jendela melihat ke luar. Tidak lama kemudian datang perawat lain membawa obat yang harus di minum Hye Sun dan makan malamnya. Perawat itu menjelaskan obat mana yang harus di minum dulu sebelum makan dan setelah makan, Min Ho memperhatikan dengan seksama dan menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
Sepeninggal perawat itu Min Ho mencuci tangannya lalu menarik meja dorong berisi makanan dan obat ke samping ranjang, ia membuka botol air mineral dan menuangkannya ke gelas dan membuka bungkus obat yang harus di minum sebelum makan, ia mendekati Hye Sun dan bermaksud mendudukkannya tapi Hye Sun duduk sendiri sebelum Min Ho sempat menyentuhnya. Hye Sun menyadari Min Ho meliriknya dengan kesal tapi ia pura-pura tidak tahu.
Min Ho lalu mendorong meja itu hingga berada di depan Hye Sun kemudian mengambil gelas dan menyodorkannya ke mulut Hye Sun, Hye Sun dengan patuh meminum air dan menelan obat yang disodorkan oleh Min Ho. Min Ho melap mulut Hye Sun yang basah dengan sapu tangannya. Tangannya terhenti melihat bibir Hye Sun bagian bawah sebelah kanan merah seperti berdarah, dilapnya pelan dan diperhatikannya sapu tangannya tidak ada bekas darah, rupanya bibir Hye Sun luka dan terbayang waktu ia mencium Hye Sun. Ia jadi malu dan merasa bersalah atas sikapnya yang kasar.
“Mianhae..” Ucapnya pelan sambil menunduk.
“Mwo..?!” Hye Sun yang tidak paham bingung dengan sikap Min Ho yang berubah-ubah dari pertama kali menemuinya.
Min Ho menyentuh bibir Hye Sun yang terluka sembari minta maaf lagi, Hye Sun menyentuh bibirnya dengan ujung lidahnya dan memang terasa ada yang berbeda. Ia menoleh ke Min Ho yang menatapnya dengan sendu dan penyesalan, ia tersenyum lalu tiba-tiba tawanya pecah yang pertama pelan lama-lama menjadi keras membahana di ruangan vip itu.
Min Ho bengong melihat tingkah Hye Sun, ia meraba dahi Hye Sun dan memeriksa nadinya tidak ada yang salah.
“Baby…what wrong ? Gwenchana..? Come on baby please tell me if your ok.” Min Ho memeriksa tubuh Hye Sun yang masih belum bisa menghentikan tawanya hingga Mr. Park dan Mr. Kim melongokkan kepalanya ke dalam tapi melihat tidak ada yang aneh mereka menutup kembali pintu dan mengangkat bahu mereka. Akhirnya Hye Sun menghentikan tawanya walau masih tidak bisa menyembunyikan rasa gelinya.
“Apa kau ingin membuatku stress ?” Min Ho, setelah merasa ia dipermainkan, melotot menatap Hye Sun yang mengatup bibir dengan rapat supaya tawanya tidak pecah tapi sorot matanya tidak bisa menutupinya. Hye Sun hanya menggelengkan kepalanya dan menunduk supaya Min Ho tidak tambah marah melihatnya masih tidak bisa menahan tawanya.
“Min Ho, kamu sungguh aneh tahu..” Ujar Hye Sun setelah bisa menguasai dirinya.
Min Ho yang sebal tertegun mendengar suara Hye Sun yang terdengar sangat merdu ditelinganya. Didekapnya Hye Sun dengan penuh perasaan dan dibelainya rambutnya dan tangannya terhenti di perban yang membalut luka di kepala Hye Sun. Perasaan bersalah, kesal, marah dan takut membayangi wajahnya, tangannya mengepal erat dan tubuhnya menegang menyentuh perban itu teringat ledakan yang menyebabkan Hye Sun terluka.
“Tuh kan..kamu mulai aneh lagi..” Hye Sun berusaha mencairkan hati Min Ho yang mulai sentimental.
“Sosongheo baby..” Ucap Min Ho merenggangkan dekapannya lalu mencium ubun-ubun Hye Sun.
“Sekarang waktunya makan malam dan minum obat lagi setelah itu.” Min Ho membuka tutup makanan dan mengambil sendok lalu dengan cekatan menyendok nasi dan lauk kemudian menyuapkan ke mulut Hye Sun yang awalnya menolak disuapi tapi Min Ho berkeras akan melakukannya. Hye Sun sebenarnya merasa tidak lapar tapi melihat Min Ho bersemangat menyuapinya membuatnya terus membuka mulutnya hingga setengah nasi sudah habis dimakannya.
“Min Ho…!” Panggil Hye Sun pelan ketika Min Ho lagi memotong lauk.
“Hhm…iya baby ?” Min Ho menghentikan kegiatannya dan menoleh ke Hye Sun, tersenyum lalu kembali melanjutkan aktifitasnya.
“Kamu tidak makan..?” Tanya Hye Sun, matanya menyusuri tubuh Min Ho yang terlihat kurus.
“Nanti..Mr. Park sebentar lagi akan mengantarnya…aaaa..” Min Ho minta Hye Sun membuka mulut dan menyuapkan makanan begitu mulut Hye Sun terbuka.
“Mhmaksudku…” Hye Sun tidak melanjutkan karena mulutnya masih penuh nasi dan menelan cepat makannya dan bermaksud mengambil minum tapi Min Ho sudah lebih dulu menyodorkan gelas ke mulutnya. Hye Sun menatap Min Ho yang tersenyum memberi isyarat untuk meminumnya, Hye Sun meminumnya tanpa protes lagi menikmati perhatian tunangannya lalu melanjutkan kata-katanya yang terputus.
“Apa selama beberapa hari ini kamu tidak makan..?”
Min Ho mengernyitkan alisnya melihat Hye Sun menatapnya dengan raut prihatin, mengerti arah pembicaraan tunangannya, Min Ho hanya menggeleng.
“Kamu bisa membohongiku tapi tubuh dan matamu tidak, Min Ho-aa..” Hye Sun membuang wajahnya dan berpura-pura marah.
“Baby, mianhae …bukan maksudku begitu…aku hanya terlalu sibuk jadi kadang lupa waktu makan…sekarang kamu makan lagi ya…aku janji tidak akan terulang lagi.” Min Ho berusaha membujuk Hye Sun.
“Baik…tapi sekarang kamu makan dan habiskan ini semua, aku sudah kenyang dan kemarikan obatnya.” Hye Sun menatap Min Ho tajam tidak ingin di bantah.
Min Ho hanya bisa menghela napas dan menuruti keinginan Hye Sun, ia ingin berargumen tapi dipikirnya tidak ada salahnya menuruti keinginan gadis yang dicintainya yang sudah berkorban untuknya, ia berusaha untuk tidak egois.
“Orang sehat aja eneg makan makanan di rumah sakit apalagi orang sakit, pantas pasien makannya hanya sedikit.” Batin Min Ho
Hye Sun memandangi lelaki disampingnya makan dengan lahap walaupun terkesan dipaksakan tapi tetap dihabiskannya dengan tersenyum meskipun sebenarnya menghabiskan makanan itu perlu perjuangan bagi Min Ho.
Setengah jam kemudian Mr. Park masuk membawa makan malam untuk Min Ho, setelah berbicara sebentar dengan Min Ho Mr. Park ke luar dan bersama dengan Mr. Kim mereka meninggalkan rumah sakit tapi ada beberapa orang berbadan kekar yang menyamar menjadi keluarga pasien atau petugas rumah sakit mengawasi ruangan dan lorong tempat Hye Sun di rawat atas perintah Min Ho.[/size]
***<<<>>>****
« Last Edit: February 29, 2012, 11:40:27 pm by Amira »

Logged