Author Topic: ♥ Minsun's OR Jundi's Short FanFiction ♥ ~ (LITTLE KISS., 27.03.10)  (Read 62103 times)

Offline neiya

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1006
  • Location: depoook
    • View Profile
LITTLE KISS..


Chapter 2




Saat ini aku sedang berada di halaman belakang tepatnya di bawah pohon tua yang cukup besar dan menyejukkan. di sini aku berdiri dan menyenderkan tubuhku pada batang pohon..menumpahkan segala rasa  kekesalan dan kebencianku.

Pria itu adalah goo jun pyo. tuan muda yang saat ini menjabat sebagai presiden di sebuah prusahaan bergengsi yaitu "SHINHWA". Prusahaan terbesar di korea. Prusahaan yang selalu bekerjasama  menangani berbagai macam proyek dengan prusahaan bergengsi lainnya baik di dalam maupun di luar negri. Ia adalah pria muda terkaya di negara ini dan sangat di minati oleh para gadis untuk dijadikan pacar.

aku sangat tidak menyangka kalau pria itu yang akan menjadi majikannya. pria yang Telah merebut paksa ciuman pertamanya.dan sekarang ia harus melayaninya, melayani segala kebutuhannya.

Masih teringat segar di kepalaku bagaimana sikapnya tadi. Ia hanya menatapku sesaat, menatapku dengan pandangan dingin..setelah itu ia melengos pergi tanpa mengucapkan sepatah kata.meninggalkanku yang berdiri dengan tampang syok.

"Lelaki brengsek" gumamku pelan. Ingin sekali aku menghampirinya. Memakinya. Tapi itu tidak mungkin. Sekarang ia adalah majikanku. Dan sangat tidak mungkin lagi untukku mengundurkan diri dari pekerjaan ini mengingat kebutuhan keluarganya yang sangat mendesak dan mengharuskanku untuk tetap bertahan disini. Bagaimanapun caranya.

30 menit sudah aku berada di bawah pohon. Rasa takut terus menghantuiku. Aku sangat tidak siap untuk bertemu muka dengannya. Mengingatnya saja sudah sangat membuatku muak. "Yaa..ottoke.."Bagaimana kalau nanti ia menciumku lagi? Atau jangan jangan ia akan melakukan hal yang lebih dari itu? "Aaaaaakh" teriakku. apa yang harus aku lakukan? Yaa geum jandi. Kau harus kuat !!" Aku menyemangati diriku sendiri.

Dengan mengumpulkan sekuat tenaga akhirnya aku memutuskan untuk masuk ke dalam rumah yang megah itu. dengan langkah yang sangat di paksakan, aku terus berjalan menuju dapur.

 "Geum jandi, sekarang waktumu menyiapkan makan malam untuk tuan muda"

Aku terkaget seketika, dan langsung menoleh ke arah suara yang memanggilku tadi," yee..araso" aku membungkukkan badanku kepada mrs.san, ia adalah kepala pelayan di rumah ini. wanita yang sangat disiplin dan tegas. Walaupun ia sudah tua tetapi ia  masih terlihat sangat segar dan bersemangat.

"Yaa..geum jandi, tuan muda tidak ingin makan di ruang makan. Jadi kau antar makan malamnya langsung ke kamar tuan muda." Tambahnya dan segera berlalu untuk mengawasi para pelayan lainnya.Aku sendiri tak tau berapa banyak pelayan yang bekerja di rumah ini.

Aku berjalan ke arah dapur. Sesampainya disana terlihat para koki dan pelayan lainnya sedang sibuk mengerjakan tugas mereka masing masing.

Aku menuju sebuah meja yang di atasnya sudah ada bermacam macam masakan yang aku sendiri tidak tau namanya. Tapi dari penampilannya aku tau bahwa masakan itu adalah masakan kelas atas.sangat menggiurkan.

Aku meraih nampan yang berisi masakan masakan itu. Mataku seketika terbelak " yaampun nampan ini berat sekali"

Susah payah aku membawa masakan yang sedang ku pegang erat di nampan. Mengingat betapa luasnya rumah ini membuatku harus berusaha sekuat tenaga menuju kamar junpyo.

"Akh! Tanganku sudah mati rasa" jengkelku.

Akhirnya dengan penuh perjuangan aku sampai juga di depan sebuah pintu besar. ya..disinilah kamar majikannya. Rasa takut sudah mulai menghantuiku.

Tok..tok..tok..

aku mulai mengetuk pintu dengan tangan yang gemetar hebat.

5 menit sudah aku menunggu, namun tidak ada jawaban dari dalam. Tanganku sudah mau copot rasanya. Nampan ini ingin sekali ia banting karna saking kesalnya menunggu.

Tok..tok..tok..

Hm.. Masih tidak ada jawaban. " Bagaimana ini..apa yang harus aku lakukan.." Akhirnya setelah mengambil nafas dalam dalam dan menghembuskannya, aku memberanikan diri membuka pintu tersebut.

Cekleek...

Aku masuk perlahan..dan betapa aku terkejut lagi melihat kamar majikannya ini. Kamar yang sangat luas. Seperti hotel bintang 5. Mewah dan Sejuk sekali..karna ruangan ini terbuat dari jati..sehingga sangat nyaman untuk berlama lama disini.

"Dorenim.." Panggilku pelan sambil celingak celinguk mencari pria itu.

Samar samar aku mendengar suara rintihan yang semakin lama semakin jelas..aku memasang kedua kupingku dan memastikan apakah yang di dengarnya itu sungguhan atau tidak.

Mataku membelak lebar ketika mataku mendapati seseorang sedang berciuman hebat. Aku menelan ludahku dan berusaha memundurkan kakiku untuk menjauh dari mereka.

"Praang"

Sendok yang kubawa di nampan terjatuh.

Sontak kedua orang yang sedang asyik berciuman itu menoleh ke arahku.

" YAA..APA YANG KAU LAKUKAN DIKAMARKU" junpyo berteriak sangat keras.

Aku sangat kaget dengan amarahnya itu. Seketika aku memalingkan wajahku ke belakang " maafkan saya dorenim, saya hanya ingin..ingin.. mengantarkan makan malam untuk anda" ucapku tergagap

Pria itu berdiri " apakah kamu tidak di ajarkan sopan santun HAH!! Apa kau tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu!!" Ia masih terus berteriak

"Yaa..junpyo..sudahlah..kau tidak perlu semarah itu" ucap wanita yang tadi sedang berciuman dengan junpyo. Wanita itu berbeda dengan yang dulu saat di trotoar. Ia berkata sambil mengancingkan kemejanya yang sudah hampir semuanya terbuka.

"BAGAIMANA AKU BISA TENANG!! IA DENGAN LANCANG MEMASUKI KAMARKU DAN TANPA SEIZINKU" junpyo terus dan terus berteriak. Ini membuatku pusing dan naik darah.

Aku berusaha keras untuk tidak melawannya. Bagaimanapun juga ia adalah pelayan di sini. Dan orang ini adalah majikannya. Sudah semestinya ia patuh terhadapnya. Walaupun ia sangat ingin menumpahkan nampan yang ia pegang ke muka majikannya.

Kali ini aku menatap lurus ke arahnya dan membungkukkan badanku" maafkan saya dorenim..saya sudah berkali kali mengetuk pintu, tetapi tidak ada jawaban"

"Sudah..sudah.. Taruh saja makanan itu di meja..dan kau boleh pergi" ucap wanita itu lagi sambil memeluk junpyo dari belakang. Aku sangat berterimakasih kepadanya karna sudah menolongku menghadapi pria brengsek ini. Dengan cepat aku menuruti perintahnya dan segera lari keluar dari kamar yang menyebalkan itu.

Hosh..hosh..

Akhirnya aku berhenti berlari. Nafasku masi tersengal sengal. Saat ini aku kembali lagi ke pohon tua . Disini aku merasa sangat nyaman..

Aku mengepalkan tanganku, mukaku memerah menahan rasa benci dan marahku." Bisa bisanya aku menemukan seorang pria yang sangat menjijikan seperti itu. Dan mengapa tadi pria itu berkata kalau aku ini tidak mempunyai sopan santun? Harusnya aku yang berkata seperti itu padamu karna kau sudah se enaknya menciumku dan memakiku."

"Tenang geum jandi..kau harus kuat.." Hanya itu yang bisa kulakukan..meyakinkan diriku sendiri agar bisa dan terus tetap bertahan disini.

***
Akhirnya tiba waktunya untuk aku pulang karna jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Aku tersenyum senang dan segera menuju kamar mandi untuk mengganti seragamku.

Aku mencari sosok mrs.san untuk berpamitan padanya. Langkahku terhenti ketika aku melihat sosok yang sangat aku benci.ya dia adalah Goo jun pyo! Tak mau berurusan dengannya lagi karna terlalu lelah, aku memutuskan untuk mengumpat di balik rak yang menyimpan berbagai macam barang antik.

Aku melihat ia sedang berjalan menuju ruang kerjanya. Aku memperhatikannya berjalan. Badannya yang tinggi tegap..dada yang bidang.. Rambut yang lurus dan hitam pekat..serta wajah yang sangat tampan itu melamunkanku."Omo..mengapa aku berfikir seperti itu! Ya geum jandi..ingat..ia itu sangat berbahaya. Jangan tertipu oleh ketampanannya"

Aku memastikan ia sudah benar benar berada di dalam ruangannya.

"Geum jandi apa yang kau lakukan seperti itu?" Mrs.san berkata tepat di belakangku.

Aku membungkukkan badanku" maaf mrs.san aku hanya..hanya..hanya sedikit pusing" ucapku tergagap dan berbohong padanya.

"Benarkah? Mungkin kau terlalu lelah hari ini.. Geum jandi jangan lupa besok kau harus datang secepatnya pulang sekolah, karna besok tuan muda libur, jadi ia seharian berada di rumah ini dan kau harus melayaninya"

Seketika tubuhku terasa lemas"yee mrs.san..kalau begitu aku pulang dulu..anyonghaseo.." Sekali lagi aku membungkukkan badan dan tersenyum padanya

Mrs.san tersenyum"anyonghaseo jandiya.."


***


"Yaa..goo jun pyo! kemarilah..aku, yi zhung dan ji hoo sedang berada di club xx..banyak wanita cantik dan seksi disini" ucap woo bin di telpon. Ia adalah sahabat dekat junpyo yang juga sahabat dekat yi zung dan ji hoo.

" Tidak..aku sedang tidak mood hari ini." Tolak junpyo di sebrang sana

"Ya..junpyo kau akan menyesal jika tidak datang, lihatlah gadis gadis disini sangat menggiurkan" kali ini yi zhung yang berbicara

"Aku sudah katakan aku tidak mood! ARASO!!" Junpyo yang kesal langsung mematikan handphonenya dan menaruhnya kasar di meja kerjanya.

Ia memegangi kepalanya..dalam hati terdalamnya ia sebenarnya sudah muak dengan para gadis gadis itu. Ia sudah muak bercinta dengan mereka.  Ia tau bahwa gadis gadis itu hanya menginginkan materi darinya. Namun hanya dengan cara seperti itulah ia bisa melepaskan stres dan bebannya.

Prusahaan yang di bangun ayahnya ini sangat menyiksa dirinya. Bayangkan..hampir setiap hari ia terbang ke berbagai negara untuk bertrmu kliennya, kadang ia harus menjamu tamunya berjam jam.dan itu membuatnya muak.

***

"Omaa aku pulang" aku menyalahkan lampu rumahku yang sudah padam

"Omaaa.." Aku memanggil omma dan berjalan menuju kamarnya.

Mataku terbelak ketika aku melihat omma tergeletak tak sadarkan diri di lantai kamarnya. Aku segera berlari menghampirinya"yaa..omma..omma..sadarlah.." Aku terus mengguncangkan tubuh omma dan menangis

Perlahan omma membuka membuka matanya perlahan" jandiyaa.."

"Yee..ini aku omma" aku menggenggam tangan omma erat " gwencana?"

Senyuman tersungging diwajah omma" yee..omma baik baik saja. Kau jangan khawatir"

Aku segera membawa omma menuju ranjangnya dan membaringkan ia disana.."Omma..bagaimana bisa seperti ini..apa yang terjadi" isakku

"Tidak..omma mungkin hanya terlalu capek membereskan rumah jandiya.." Omma mengusap usap rambutku dengan lembut

"Benarkah??kalau begitu mulai sekarang kau tidak boleh lagi terlalu capek membersihkan rumah omma..araso?"perintahku keras dan memeluknya

"Iya jandiya.."

"Jandiya...maafkan omma telah berbohong kepadamu..omma tidak ingin kau cemas. Kau sudah cukuo menderita dengan harus bekerja menjadi pelayan untuk memenuhi kebutuhan kita sehari hari.sebenarnya akhir akhir ini omma tak tau kenapa sering sekali pusing..dan itu sangat menyakitkan jandiya.." Gumamnya dalam hati..

***
Esok siangnya..

Sepulang sekolah aku segera bergegas pulang dan mengganti pakaianku. Sesuai amanat mrs.san aku harus datang lebih awal karna majikannya hari ini libur. Dan ia harus melayaninya.

"Ommaa..aku pulang" teriakku dan aku segera menuju kamar untuk bersiap. Saat aku hendak membuka pintu kamarku tiba tiba terdengar suara orang terjatuh dari dapur. Aku segera berlari ke arah suara.

"Omma!!" Aku segera menghampiri omma. Aku melihat raut wajahnya sangat pucat dan berkeringat. Aku terus berusaha memanggil namanya dan membangunkannya, tetapi omma tidak juga sadar.

Sambil terisak aku mengambil handphoneku di kantong sakuku dan menelpon rumah sakit.

"Yobseo, saya geum jandi, tolong kirimkan ambulance ke rumah saya di jalan. Jeun no.36. Kumohon cepat.." Ucapku sambik terisak

Sambil menunggu ambulance datang aku tidak hentinya membangunkan omma. Namun tidak ada jawaban..

Ngiiiing..ngiiiiing..
20 menit menunggu akhirnya mobil ambulance pun datang dan langsung membawa mereka ke rumah sakit.

"Omma..bertahanlah.. Aku akan selalu di sampingmu.." Ucapku sebelum omma di bawa ke ruang tindakan.

Aku duduk di ruang tunggu. Terus menunggu dalam tangis..1 jam telah berlalu namun belum ada tanda tanda seorang dokter maupun suster yang keluar dari ruang tindakan tersebut.ini sangat membuatku cemas.

Aku tidak mau kehilangan omma..hanya dia yang aku punya..appa.. Yee..aku harus memberitahu appa..

Ku rogoh lagi sakuku dan mencoba menelpon appa..

"Tidak..appa tidak boleh tau..ia sedang bekerja disana..aku tidak boleh mengganggunya..tidak boleh.."Gumamku..

Ceklek..

Pintu itu akhirnya terbuka..seorang dokter terlihat keluar dari sana..

Aku segera menghampirinya" dokter bagaimana keadaan omma ku" tanyaku cemas.

"Anda siapa? Apakah anda putrinya" tanyanya

Aku menganggukkan kepalaku.

"Ikut saya" dokter itu berkata lalu segera berjalan cepat menuju ruang kerjanya. Aku pun dengan langkah cepat mengikuti di belakangnya

***

"Omma mu menderita kanker otak stadium 2..masih belum terlalu parah namun juga membahayakan jika tidak cepat mengambil tindakan"

Aku seakan di terpa kilat..hatiku sangat sakit mendengar perkataan dokter tersebut. Aku semakin deras menitikkan air mataku" benarkah..lalu apa yang harus di lakukan dok.."

"Operasi.."

Aku menghapus cepat air mata yang menggenangi pipiku dengan kedua tanganku" operasi..?"

"Yee..kemungkinan besar omma mu bisa di selamatkan dengan operasi ini. Tapi..."

Dokter itu tiba tiba mengentikan kalimatnya..

Aku yang tidak sabar langsung bertanya " tapi apa dok?"

Dokter tersebut mengela nafasnya " biayanya sangat besar agashi"

***

Saat ini aku berada di taman. Aku duduk di sebuah ayunan yang sudah tua.
"Darimana aku mendapatkan uang sebanyak itu..bahkan jika aku menjual rumah kecilku pun masih tak cukup untuk membiayayai omma.." Aku berkata sambil menangis..ya..untuk sekarang aku hanya bisa menangis..

"Harus kemana aku mencari uang dalam waktu sesingkat ini..appa..tidak mungkin appa mempunyai uang..beberapa bulan ini saja ia tidak mengirimi kami uang.." Aku terus terisak

Tulululululut..

Handphoneku berdering.

"Yobseyo.."

"Jandiya..kau dimana..sudah jam berapa ini..tuan muda sudah sangat marah" mrs.san berkata dan terdengar agak kesal

"Maaf mrs.san.."Aku menjelaskan kepada mrs.san tentang kejadian hari ini. Beruntung ia memaafkanku..dan menyuruhku untuk libur hari ini..aku sangat bersyukur aku tidak di pecat. Karna aku mengira ia akan memecatku.

"Jun pyo sedang menungguku.."Aku mendengus kesal..Yaa..goo jun pyo..lalu aku seketika mendapatkan ide!  GOO JUN PYO!! Mungkin ia bisa membantuku. Meminjamkan sedikit uangnya untukku.


***


Aku sudah berada tepat di depan kamar jun pyo..aku sudah membulatkan tekadku untuk meminjam uang kepadanya.. Aku tak perduli..walaupun aku sangat membencinya tetapi aku tidak ada pilihan lain..omma sedang sekarat di rumah sakit.. Aku tidak mau kehilangan omma.. Apapun akan aku lakukan untuknya..meskipun aku harus memohon padanya..

Tok..tok..tok..

Aku mengetuk pintunya perlahan.

"Masuklah" teriaknya dari dalam

Dengan langkah gemetar aku memasuki kamarnya. Aku terus menelan ludahku. Aku sangat takut bila berhadapan dengannya.

Ia berada di sofanya dan sedang membaca sebuah koran.

"Dorenim.." Panggilku

Ia menoleh ke arahku. menyeripitkan alisnya dan langsung berdiri berjalan ke arahku. Aku hanya bisa diam dalam ketakutanku.

"KAU!! BISA BISANYA KAU TELAT! APA MAU KAU KU PECAT HAH!! DAN MENGAPA KAU TAK MEMAKAI SERAGAMMU!!" Ia bertriak sangat kencang tepat di wajahku.

Aku menundukan wajahku" maafkan saya dorenim.. Tadi saya ada sedikit urusan" ku kepalkan tanganku untuk menahan emosiku dan tangisku.akan sangat memalukan jika aku menitikkan air mataku

Aku hanya mendengarkan ocehannya yang semakin menjadi jadi itu. Aku hanya menundukkan kepala dan berusaha untuk tidak menanggapinya.

"Dorenim.." Panggilku di tengah tengah ocehannya

"BO??"

"Bolehkah saya meminjam uang?" Aku sudah mengtakannya..

Terlihat jelas di mataku tampangnya yang terkaget itu.. " Untuk apa?" Tanyanya yang mulai bisa mengendalikan emosinya tadi

"Anda tidak perlu tau.. Yang jelas saya sangat membutuhkannya sekarang..dan saya berjanji akan menggantinya dengan uang gaji saya dorenim.."

Junpyo langsung terdiam dan terlihat sedang memikirkan sesuatu..apa yang ia fikirkan?? Sudah lebih dari 10 menit ia terdiam.
"Baiklah..akan aku pinjamkan.." Ucapnya yang disambut oleh senyuman senang olehku.

Aku tidak menyangka junpyo akan meminjamkannya uang dengan begini gampangnya..terimakasih tuhan..

"Benarkah?" Tanyaku yang tak henti hentinya tersenyum bahagia

Ia mengangguk"tetapi dengan satu syarat. Jika kau menerima syarat ini maka kau tidak perlu mengganti uangnya" tatapannya lurus menatapku

aku membelakkan mataku tidak percaya. Apa apaan ini.. Mengapa pakai syarat segala.."Tenang geum jandi..ini semua demi ibumu"

"Apa itu syaratnya.."Tanyaku

"Mudah sekali.. Syaratnya yaitu kau hanya harus TIDUR denganku"

Aku membelakkan mataku tak percaya dengan apa yang aku dengar barusan "BOO???"





NEXT CHAPT 3

Sist aku minta comentnya lagi yaaa.. :D