Spoiler ke-2 ...
Si-Hwan mengelus-ngelus dagunya dan mendengarkan dengan seksama. Kata-kata terakhir Sun-Hye terpatri erat dalam otaknya. Ternyata Sun-Hye mempunyai penafsiran yang tidak bisa dikatakan lemah.
"Jadi menurutmu, .. ada kemungkinan Geun-Suk melakukannya?"
Pertanyaan Sun-Hye membuat Si-Hwan melebarkan matanya.
"Dia punya kesempatan itu, bukan?"
Si-Hwan menghela nafasnya. Dia tidak menjawab pertanyaan Sun-Hye. Dengan agak pelan, Si-Hwan mengeser kakinya.
"Jika saja malam itu dia datang dengan maksud tertentu, berarti dia punya kesempatan itu ... ," Sun-Hye bergumam pelan, " ... dia pasti sudah mempersiapkan segalanya, .. kira-kira kapan kopi haraboji akan dibuat, bagaimana kopi itu disajikan dan dibawa ke kamar kakek, waktu haraboji akan meminumnya dan ... kapan racun tersebut bereaksi. Kemungkinan besar, Geun-Suk sudah mempersiapkan alibinya pada saat ajal haraboji menjelang ... "
Sun-Hye kembali menurunkan pandangannya ke balik punggung Min-Chan, dan reaksi kecil ini berhasil tertangkap penglihatan Min-Chan.
Min-Chan membujurkan badannya dan berdiri dari ranjang. “Kau boleh pergi!”
“MWO?!” Sun-Hye terlonjak kaget. “Paman Chan!”
“Jika kedatanganmu hanya bermaksud membisu seperti ini, sebaiknya kau pergi!” Min-Chan mengerakan tangannya kearah pintu.
“Paman Chan!” Sun-Hye melompat dari duduknya. “Aku .. “
“Pergilah!” lanjut Min-Chan dengan nada yang terdengar tak bertenaga.
Sun-Hye mengamati Min-Chan. Dia tidak main-main … Sun-Hye menahan nafas. Min-Chan serius dengan ucapannya, dia bahkan tidak melihat kearah Sun-Hye.
"Kau bilang pot bunga itu berada di tempatnya seperti biasa?"
Pelayan itu berpikir sebentar kemudian mengangguk lambat-lambat. "Ne ... "
"Setelah itu, entah mengapa 'dia' berpindah tempat?"
Pelayan tersebut mengangguk-angguk kembali. "Ne, agashi .. "
"Jadi, ... ada jangga waktunya .. pot bunga tersebut tiba-tiba berpindah tempat, bukan?" Sun-Hye berkata pelan-pelan supaya si pelayan tidak bingung dan dapat mengerti.
Pelayan itu mengangkat kepalanya dan terlihat berpikir keras. Tangannya mengaruk-garuk kepala membuat rambutnya yang tersanggul ke atas jadi berantakan. Beberapa menit berlalu ketika dia berkutat dengan pikirannya yang terasa buntu. Akhirnya dia mengangguk-angguk, seolah-olah sudah menangkap maksud pertanyaan Sun-Hye.
"Kau mengerti?!" Sun-Hye sedikit memiringkan kepalanya.
"Ne .. ne ... "
"Jadi kemana kau pada saat itu?" selidik Sun-Hye.
Waktu berkelebat dengan sangat lamban ketika Sun-Hye menjatuhkan kakinya di lantai bawah. Mata bulatnya jelalatan ke kanan dan kiri. Tidak dilihatnya seorang pun! Dia menghembuskan nafas dan terburu-buru berlari dengan tanpa suara ke ruang kerja haraboji yang terletak di bagian belakang. Sun-Hye membuka pintu dengan sangat pelan. Penerangan yang berasal dari dalam ruangan langsung menyapa pandangannya. Mata Sun-Hye membulat.
Ada orang dalam ruangan?!
Sun-Hye membentangkan pintu lebar-lebar. Cahaya kelabu redup dari lampu kerja haraboji membuatnya sedikit mengejapkan matanya. Untuk beberapa detik, barulah mata Sun-Hye terbiasa dengan cahaya redup yang sempat mengiris selaput matanya tersebut.
Sun-Hye telonjak kaget. Orang yang berada dalam ruangan, yang sedang menghadap kearahnya saat ini, berdiri di belakang meja sambil menenteng sebuah buku yang terbuka di tangannya. Dia menatap lekat Sun-Hye dengan keterkejutan kentara yang tidak mampu disembunyikan dari wajahnya. Sun-Hye membujur kaku seketika. Tidak menyangka sosok ini yang akan didapatkannya berada dalam ruang kerja harabojinya. Di malam selarut ini?
"Kau .... " Sun-Hye menutup mulutnya dengan tangan. "Kenapa ... " suaranya bergetar ketika menyapu iris gelap yang agak tersembunyi dibalik rambut yang terjuntai lemah.