Author Topic: The Curse - Chapter Sixteen, Updated 30 Mar'13  (Read 21442 times)

Offline Winda Minsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 679
    • View Profile
Re: The Curse (Chapter Nine, Update 24 mar'12)
« Reply #255 on: April 08, 2012, 08:42:55 am »
Spoiler




“Apa yang harus ku ratapi?’ Jika kau hanya berdiam tanpa memberiku keyakinan. Apa yang harus ku tangisi?’ Jika kepidahan yang ku rasakan nyatanya membuatmu bahagia. Kae Bi, Adakah kehidupan yang lebih kekal untuk kita?—, Aku selalu bersabar ketika semuanya berpaling, aku berdiri sendiri tanpa uluran tangan seorang pun . . . Tapi, kenapa aku masih saja selalu tersakiti. Seberapa banyak aku tersungkup, hanya kau yang mampu menopangku—kau yang aku ingin lihat selamanya”





“Aku belum siap–” Ia menahan isak tangisnya “jika kita berpisah dengan cara seperti ini, aku tidak akan rela!” Joon Sung benar-benar beringsut pada posisinya sekarang, ia mengambil salah satu tempat pada kursi di koridor sunyi itu.


Entah sudah berapa kali dirinya terpuruk dan berakhir menyedihkan seperti ini. Saat dari Kae Bi yang begitu berputus asa pada kenyataan yang ada, saat Kae Bi mencoba mengakhiri hidup, saat Kae Bi memilih untuk mengakhiri segalanya dan pergi bersama orang lain. Tapi semua tak menyesakkan seperti ini!


“Kae Bi-aa, aku mohon jangan seperti ini” Susah payah, lagi-lagi Joon Sung memejamkan kedua mata, membiarkan air mengalir lagi disana.
Pandangan Joon Sung tak fokus lagi. Kepalanya terasa agak pening saat harus menegakkan tubuh. Selama tiga hari ini, keinginan untuk menyuap satu sendok nasi pun tak pernah di dapatnya. Nafsu makan Joon Sung menurun gila-gilaan. Staminanya mungkin sudah di bawah batas, manakala lagi-lagi kepalanya berdenyut-denyut, seperti habis di hantam palu godam bertubi-tubi. Dan seketika saat hendak mencoba bangkit kembali, suatu rasa menjalar dalam hati. Dadanya sesak, seolah di penuhi air hingga ke pelupuk matanya. Ketakutan merambah naik, dan berpacu bersama detakan jantung. Joon Sung membeku. Dia menepuk dadanya berulang kali. Air mata mengalir begitu banyak dari pelupuknya.




“Dia anakku! Kau membunuh cucu-mu sendiri!” Kata Hyun Woo sewaktu itu. Ia berucap begitu menggebu. Mr. Lee hanya terdiam, masih menunjukkan raut wajah setenang mungkin.


“Bila perlu dua-duanya aku lenyapkan. Sayang, Wanita itu masih bisa selamat” Ucapnya menyeringai lebar. Hyun Woo jelas semakin menggila bersama luapan amarahnya. Ia tahu sang Ayah memang begitu keras kepala, tapi dia tak pernah tahu jika sang Ayah akan sekeras kepala ini.


“Dendam ku sudah mengalir kental bersama aliran darah dan berpacu bersama detakan jantung” Kata Mr. Lee dingin.





Aku membuatnya menderita” Rintih Hyun Woo. Susah payah ia memejamkan kedua mata menahan tangis.



“Kau memang keparat!” Ujar Joon Sung. Tersenyum sinis dengan raut wajah geram. “Beberapa kali ia mencoba mengakhiri hidupnya sendiri dan kau pikir apa penyebabnya!?”



“Mianhe” Wajah Hyun Woo di lumuri begitu banyak air. Ia menundukkan kepala sedalam-dalamnya di hadapan Joon Sung.



“Tidak seharusnya perkataan itu di tunjukkan kepadaku!” Joon Sung berteriak keras. Ia berdiri menjulang di hadapan Hyun Woo. Kobaran api terlukis dari pantulan cahaya di kedua matanya. Joon Sung mengepal tangan kuat-kuat. “Bukan aku yang merasakan semua siksaan itu! Berkatalah seperti itu untuk dia . . . Dia yang kau buat terpuruk! Dia yang kau buat menderita! Dia yang menjadi lemah, hidup dalam tekanan. Apa kau tahu itu!? Sadarkah, orang yang paling ku cintai ingin mati hanya karena pria sekeparat sepertimu!?” Tekan Joon Sung begitu menggebu. Deru nafasnya memburu, menatap Hyun Woo begitu menikam. Tak ingin emosinya besungut-sungut lebih lanjut, Joon Sung segera beranjak dari tempat itu.




“Kau begitu mencintainya?” Keadaan sudah tidak setenang tadi saat Hyun Woo melayangkan pertanyaan tersebut. Joon Sung mendelik tajam, membuat Hyun Woo menahan nafas.


“Apa perlu kau tahu!” Ucap Joon Sung dingin. Raut wajanya mengeras menatap Hyun Woo


“Aku perlu tahu, karna dia wanita yang kucintai” Aliran darah Joon Sung berdesir cepat. Tangannya mengepal erat, membuat gurutan nadinya terlihat dengan jelas. Kalimat tadi terngiang berjuta kali di dalam pikirannya, membakar emosi Joon Sung menggebu-gebu. Hyun Woo menunjukkan raut wajah bersungguh-sungguh, dan itu semakin meletupkan amarah Joon Sung.





“Sebenarnya apa yang kau inginkan! Kau tidak akan pernah berhenti sebelum Kae Bi mati di hadapanmu, begitukah!?” Tanya Mr.Goo yang semakin menarik kerah kemeja Joon Sung, membuat pria itu merasa sesak. “Sadarkah kau telah merampas semua kebahagiannya! Kau mengancurkan hidup putriku, bajingan!” Sebelah tangan Mr.Goo melayang tinggi-tinggi. Bersiap mengarahkan kepalan tangannya untuk mendaratkan pukulan kearah wajah Joon Sung.
Hyun Woo refleks mencondongkan tubuhnya. Merempas pergelangan tangan Mr.Goo dan menghempaskannya secara kasar. Ia menatap pria tengah baya itu dengan mata berkilat tajam.


“Dia tidak bersalah! Jangan sekalipun mencoba menyentuhnya dengan tangan kotormu itu!”





“Tidak ada lagi keinginan yang akan ku tuntut di dunia ini. Bersanding denganmu membuatku terpenuhi rasa syukur . . . Joon Sung-ssi, dapatkah kau melihatnya?’ Aku akan selalu tersenyum bahagia karena aku percaya—kau tak akan pernah membiarkanku terpuruk sendiri”

[lovestruck] and in another life, we believe... love never die [lovestruck]