Aku kasih prolog *sekaligus spoilernya, yaa...*
Kobe, Jepang, 17 Januari 1995, 05:30:18 am (16 menit 24 detik sebelum gempa bumi dahsyat mengguncang Hanshin-Awaji)
"Omma, aku takut--"
Seorang anak perempuan yang kira-kira berumur 11 tahun itu tiba-tiba saja keluar dari kamarnya dengan wajahnya yang putih pucat seperti hantu, rambut hitam pekat yang acak-acakkan, dan mata coklatnya yang menyala-nyala. Ia baru saja bermimpi buruk.
Ibunya mengerutkan kening sebentar, di tangannya terselip sebatang rokok dan tepat di hadapannya adalah beberapa botol bir yang sudah dibuka.
"Masuk--"perintah suara ibunya dengan dingin, meskipun sudah 3 tahun berada di sini dan menguasai bahasa Jepang dengan fasih, ia masih menggunakan bahasa Korea apabila berkomunikasi dengan anak perempuannya yang dianggapnya agak memiliki keterbelakangan mental itu.
Anak itu ragu-ragu, wajahnya kelihatan takut sekali, seluruh tubuhnya gemetar hebat. Bayangan tanah yang terbelah, orang-orang menangis, tewas, dan berteriak minta tolong itu berkelebat lagi dalam pikirannya. Tapi pada akhirnya, ia menyerah dan menyeret kakinya sendiri yang terbungkus celana kebesaran itu untuk kembali ke kamar.
***