Author Topic: Ne Obliviscaris - Os Two was published on seven June (maaf, ada pergantian judul)  (Read 2063 times)

campbell

  • Guest
Re: Lemonade Os
« on: June 05, 2012, 12:54:47 pm »
Os One

Alec berjalan menyusuri koridor sekolah dengan tampang berandalnya. Obsidiannya tak henti memandang dengan tajam siapapun yang berani menatapnya lebih dari tiga detik. Hari ini masih sama seperti hari sebelumnya. Sekolah. Belajar. Dan--

"CAMPBEEEEEL!!!"

--teriakan para guru.

Alec hanya membalikkan badannya. Dan dengan cuek melambaikan tangan seakan ia hanya menyapa kawan lama.

"Aku tidak akan pergi terlalu lama. Jangan merindukanku, head master."

Setelah mengeluarkan seringai khasnya, ia kembali menyusuri koridor sekolah. Meninggalkan sang head master yang tergopoh-gopoh menyusulnya.

Disudut lain, Selena menatap semua pemandangan itu dengan--kagum. Ya, kata yang kurang lebih seperti itu. Ia tak bisa menjadi seperti Alec--walaupun terkadang ia menginginkannya; pemberontak, maniak hukuman, dan ditakuti banyak siswa. Selena hanya bisa menjadi sesosok rumput liar, yang bahkan bisa diinjak siapapun tanpa bisa membela diri.

Setelah memastikan tak ada seorang pun yang memperhatikannya, Selena melangkah keluar dari persembunyian. Kembali menuju tempat yang dimana ia bisa jadi diri sendiri tanpa takut dibully.

"Halo Moon, liburanmu menyenangkan?" Sebuah interupsi menyeruak ke membran pendengarannya, membuat Selena harus menutup mata.

"Kupikir kau sudah tenggelam di lautan Atlantis," kali ini suara lain lagi. Masih dengan nada mencemooh. "Ngomong-ngomong, kau lagi dalam masa ya? Tanda merahnya kelihatan sekali loh."

Harusnya Selena tak memperdulikan semua perkataan itu. Tapi, ia terlanjur panik. Dengan cepat ia menoleh ke bagian bawahnya, malang, tangannya malah menyenggol minuman yang dibawa oleh salah satu anggota kelompok itu.

Bagi Selena, semua terjadi hanya dalam hitungan detik. Iris kembarnya tiba-tiba mendapati wali kelasnya, Mr. Taylor, berdiri dengan murka tepat dihadapannya. Selena baru menyadari bahwa ternyata ia memecahkan mesin minuman yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri.

Well yeah, she did?

DETENTION ROOM. Basement. 11 a.m until 3 p.m. Best regard, Mr. Taylor

Tak ada yang bisa dilakukan selain menurut. Bukankah rumput liar tak bisa melakukan apapun?

Alec terus melangkah melewati halaman sekolah yang luas. Ia memang berniat bolos. Eksitensinya sebagai bad-boy harus terus dipertahankan, bukan?

Membran pendengarannya secara samar menangkap suara benda jatuh seraya satu bola basket melayang tepat diatas kepalanya dan dengan hantaman keras. Alec tidak akan menjadi preman jika hantaman bola basket bisa membuatnya pingsan.

Obsidiannya bergulir cepat mencari tahu siapa pelaku yang harus bertanggung jawab. Tak sabar untuk bertemu sang pencipta, hah?

"Kembalikan bola itu, Campbell. Dan segera kembali kekelasmu." Mr. Noel, salah satu guru yang tak takut terhadap Alec. "Temanmu tidak sengaja melakukannya. Ia tadi tidak dapat melihatmu."

Teman? Dia bilang, teman?

"Kurasa imbisil bodoh itu bisa melihat ini." Tanpa memperdulikan tarikan napas yang serentak terjadi, Alec terus menunjukkan jari tengahnya.

DETENTION ROOM. Basement. 11 a.m until 3 p.m. Best regard, Mr. Noel

Detention? Sudah biasa kok.

Lucy menarik napas panjang ketika keluar dari dewan guru. Ayahnya yang baik hati itu memaksanya untuk ambil konsultasi universitas. FYI, ia baru second grade. Masih ada bertahun-tahun lagi untuk masuk universitas.

Dan entah kenapa pagi ini Lucy benar-benar bosan. Ia malas belajar aritmatika. Kalaupun dipaksakan untuk masuk, mungkin ia akan kena teguran. Dan pasti teguran itu akan sampai ditelinga ayahnya.

Bolos? Satu tindakan yang mendadak tersirat diotaknya. Setelah memastikan biolanya aman diloker, ia berjalan mengendap-endap. Lucy tak pernah membolos sebelumnya, jadi jangan heran tak sampai lima detik ia berpikir untuk bolos, sudah ada guru yang memergokinya.

"Kupikir kelasmu berada dilantai tiga, miss Elle. Untuk apa berjalan mengendap-endap seperti pencuri dilantai dasar?"

DETENTION ROOM. Basement. 11 a.m until 3 p.m. Best regard, Ms. Taylor

Great.

Jo tak pernah berniat sedikitpun untuk masuk tim basket sekolah. Ia hanya menyenangi drum, alat musik yang menentukan ritme permainan semua anggota tim. Tapi ia tak bisa membantah ketika sang mum menyuruhnya untuk ambil bagian dalam tim ini. Sama seperti Tommy, kakak sulungnya yang jadi kebanggaan keluarga.

"Hoi Ludwig, cepat lemparkan bola itu! Aku tidak bisa menilaimu jika kau terus berdiam terus seperti itu!"

Jo menatap ragu -calon-pelatih basketnya. Dengan tenaga seorang drummer, Jo melempar bola oranye itu. Entah dilempar kearah mana, karena tiba-tiba kristal kelamnya menangkap raut marah dan kesakitan pelatihnya. Ups. Apa Jo baru saja mengenai...

DETENTION ROOM. Basement. 11 a.m until 3 p.m. Best regard, Mr. Noel

Berdoa saja semoga Tommy juga pernah mendapatkan hukuman.

Drew dengan cepat mengemasi barang-barangnya dan loncat dari mobil. Ia tak lagi memperdulikan perkataan ayahnya mengenai calon istrinya itu. Masa bodoh. Ia sudah terlambat untuk presentasi.

Jenjangnya melangkah cepat menyusuri koridor. Setiap kata yang dilontarkan ayahnya semakin terpatri dalam ingatan seiring dengan langkah kakinya. Dasar tua bangka. Apa dia tidak sadar umur.

Nyatanya, Drew-lah yang tidak sadar waktu. Langkah kakinya semakin melambat. Ingatannya kembali ke kemarin malam ketika ayahnya dengan riang mengatakan akan menikah lagi.

"Maaf sir, saya terlambat." Mr. Craig bukan tipe orang yang gampang mentoleril kesalahan, apalagi kesalahan terlambat dikelasnya lebih dari satu jam setengah.

"Kuharap kau menikmati sisa waktumu, Mr. Jenkis."

DETENTION ROOM. Basement. 11 a.m until 3 p.m. Best regard, Mr. Craig

Ini semua salah wanita itu.

...

OOC : ini baru pengenalan masing-masing karakter dan alasan kenapa mereka berlima bertemu.