Author Topic: Ne Obliviscaris - Os Two was published on seven June (maaf, ada pergantian judul)  (Read 2088 times)

campbell

  • Guest
Os Two

Takdirlah yang membawa mereka berlima ketempat ini. Tak banyak orang yang menyadari, ada ikatan yang lebih kuat dari sekedar hubungan saudara ataupun orangtua. Ikatan yang lebih dalam yang terkadang tidak dimengerti oleh manusia sendiri. Seperti benang merah yang saling terhubung antara seseorang dengan orang lain, benang yang lebih kuat dibandingkan cinta. Jodoh. Takdir lain yang membawa manusia terkadang berpikir secara irasional.

Ruang hukuman terletak di basement. Lantainya para imbisil bodoh, begitu ungkapan sarkatis Alec. Nyatanya, ia-lah orang yang paling sering mengunjungi basement akibat kartu detensi yang didapatnya. Menuju basement hanya perlu lewat lift khusus.

Di basement--selain Detention Room--juga terdapat beberapa klub yang tidak didukung secara vinansial oleh pihak Obey. Seperti klub koran sekolah, catur, musik, berkebun, duel (yang ini ditolak mentah-mentah bahkan sebelum proposal pembentukan klub baru diletakkan diatas meja head master), drama, et cetera. Hanya olahraga yang dibiayai oleh sekolah karna menurut head master, sponsor lebih tertarik kepada olahraga dibandingkan kegiatan lain.

Jenjang Selena menyusuri dengan pelan koridor basement. Tempat ini ramai, bahkan lebih ramai dari dunia atas. Anak-anak yang terkesan diasingkan mendiami dunia bawah tanah, sedangkan yang populer didunia atas. Itu adalah paradigma yang diterpatri diotaknya sejak first grade.

Basement terdiri dari dua lantai, dan menurut peta, Detention Room terletak dilantai satu diruangan paling sudut.

"Kena detensi juga, he?" Selena tersentak kaget. Suara bariton itu berada tepat dibelakang telinganya. Reflek, Selena berbalik dan sempat menabrak beberapa barang pajangan milik klub drama dikoridor.

"Whoa, reflekmu buruk, miss. Ngomong-ngomong, kau freshman? Sepertinya aku tidak pernah melihatmu ditempat ini." Alec dengan santai memasukkan kedua tangannya kesaku celana, menganggap bahwa sikap Selena tadi tidak banyak berpengaruh untuknya.

Selena tak bisa berkata apapun. Seluruh saraf motoriknya seakan tersuntik literan morfin hingga berasa kaku. Ini pertama kalinya Alec dan ia berbicara empat mata, dengan jarak kurang dari dua meter.

"Well, aku tidak bisa menunggu jawaban darimu terlalu lama. So, we have to come in together. Shall we?"

Selena menganguk dengan kaku. Don't tell her that they must be detention together. My!

"Peraturan disini sangat sederhana. No eating, no drinking, no sleeping, no talking, no typing, no texting. Jika kalian melanggarnya, tentu saja aku akan menambah hukuman kalian dengan senang hati. Are we clear? Great."

Ms. Imel, guru musik actually, tapi karena musik tak mendapatkan dukungan finansial dari sekolah, ia beralih fungsi menjadi pemberi hukuman. Ia sibuk menghitung berapa orang yang ada diruang hukuman. Tak banyak. Hanya mereka berlima.

"Alright. I have dicided, karena aku harus mengawasi kinerja para CS yang baru, dan aku tidak ingin kalian bermalas-malasan selama empat jam mendatang, kita akan melakukan sesuatu."

Drew tak paham. Apa maksudnya 'melakukan sesuatu' itu membersihkan ruang hukuman ini? Great.

"We are gonna clean up the around here, membongkar apapun yang bisa dibongkar, dan mengubah tempat ini menjadi lebih baik. Shall we?"

Kan?

Drew menatap Alec yang duduk disebelahnya.
"Dude, aku lebih memilih menghabiskan sisa hidupku dipanti jompo dibandingkan harus melakukan ini. Tempat ini neraka!"

Alec menyeringai mendengarnya. Mereka berdua melakukan high five tanpa memperdulikan tatapan ganas Ms. Imel.

"No comment, Mr. Jenkis. Dan kuharap kau tidak mencari teman sepermainan, Mr. Campbell. Kalau tidak hukuman kalian semua akan kutambah."

Koor 'HEEEY!!!' seketika menggema.

"Kalian tahu, jika saja pihak sekolah menyisihkan sedikit dari dana olahraga itu untuk membuat klub musik, tidak seharusnya kita berada disini."

Alec memutar kembar obsidiannya dengan gestur bosan. Karena terlalu sering masuk ruang hukuman, dia sudah kebal dengan sikap drama guru satunya ini.

"Kita telah tergusur ke ruang bawah tanah. Tempat ini hanya untuk orang-orang terbuang. Dan itu bukan kita! Nah! Sekarang silahkan kerjakan tugas kalian. I'll be back in one hour."

Lucy yang pertama sadar setelah Ms. Imel keluar dari ruang hukuman. Ia segera berdiri, mengambil lap yang diberikan guru tadi, dan pergi menuju ke sudut ruangan yang penuh dengan kotoran dan debu.

"Aku ingin segera keluar dari tempat ini, jadi kuharap kalian bisa bekerja sama denganku."

Alec mendengus. Tak ada seorang pun yang boleh memerintahnya. Onix kelamnya menatap tajam Lucy seraya berkata, "Aku tidak menyangka seorang putri Korea yang sempurna bisa datang ketempat ini."

"Shut up, Campbell. Just do it." Ini pertama kalinya Selena mengeluarkan suara. Tanpa memperdulikan tatapan tajam Alec, Selena mengikuti jejak Lucy.

Jo yang masih setia duduk ditempat duduknya, sama seperti dua cowok lain itu, mulai mengeluarkan pendapatnya yang terkadang sangat kontroversial. "This school is stick! Hukuman seperti ini benar-benar tidak manusiawi."

"So welcome to high school, dude," komentar Alec.

Drew mulai mengikuti jejak para gadis untuk bebersih, sedangkan Jo dan Alec tetap bertahan ditempat.

Bunyi air bocor dari langit-langit menghiasi suasana sunyi mereka. Dan segalanya mulai terjadi.

Rentetan nada-nada yang ada disekitar mereka menjelma menjadi kumpulan irama memesona. Petikkan tangan, semprotan pembersih, dan lemparan kunci-kunci.

Sadar bahwa mereka akan bersenang-senang, Alec bangun dan mengambil gitar kusam diatas meja.

Mereka bergembira. Ikatan takdir yang tak disadari akan membawa pada suatu kesalahpahaman tak berujung. Melodi yang terlantunkan dari suara indah Selena membuat segalanya buram. Benang merah mulai menjalar, mengikat kelimanya dalam keputusasaan berkepanjangan.

Let the music groove you
Let the melody move you
Feel the beat and just let go
Get the rhythm into your soul
Let the music take you
Anywhere it wants to
When we're stuck and can't get free
No matter what, we'll still be singing
Come on, come on
Turn up the music
It's all we got
We're gonna use it
Come on, come on
Turn up the music


***

OOC : Lirik Turn Up the Music milik The Lemonade Mouth. I do not making money for that. Beberapa dialog juga saya kutip dan sedikit parapresing.