AAAAAAAAAAAAAAAAAAA sebelumnya aku mau tumpengan dulu yaa soalnya ID yang ini udh bisa dipake lagi
![[clap]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/clap.gif)
Aku jadi punya dua ID, boleh ga? gapapa ya
Terus FF ini udah setahun kurang sepuluh hari ga di update. Gilak banget authornya
![[laughing]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/laughing.gif)
Pasti udah pada lupa sama ceritanya. Gapapa deh bacanya pada nerawang-nerawang aja hehe. Jiwa MinSunHae lagi dateng jadi pengen aja lanjutin FF ini. Oiya, buat sista Imahminsun sorry baru bisa aku update sekarang
![[sweat]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/sweat.gif)
Yaudah deh selamat baca yaa
![[biggrin]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/biggrin.gif)
CHAPTER 4
Goo Hye Sun berdiri dibalik jendela. Matanya menatap lurus keindahan kota Seoul di malam hari. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, raut wajahnya terlihat sedang memikirkan sesuatu.
“Haruskah aku menerima tawarannya?” gumamnya pelan. Ia terlihat begitu bingung.**********
Lee Min Jung kembali menginjakan kakinya di kota Seoul. Saat mendengar kabar bahwa Min Ho masih bekerja di Seoul Magazine Center tanpa berpikir panjang setibanya di bandara, Min Jung langsung pergi menuju SMC. Sebenarnya ia juga mempunyai keperluan lain di SMC selain menemui Min Ho.
Setibanya di sana semua karyawan terlihat terkejut akan kedatangannya. Saat ia masih bersama Min Ho ia memang sering ke sini, dan semuanya juga pasti tahu tentang apa yang terjadi diantara dirinya dan Min Ho sampai akhirnya mereka harus berpisah.
“Min Jung nuna?” Hyun Jin tampak terkejut dan langsung berdiri dari duduknya ketika melihat kedatangan Min Jung.
“Oh Hyun Jin-ssi..” Min Jung memamerkan senyumnya pada Hyun Jin, lalu bertanya, “Apa Min Ho ada di ruangannya?”
Hyun Jin menggeleng. Mulutnya terbuka. Sepertinya ia masih kaget. Lalu saat ia merasa bahwa ini memang nyata, ia menjawab pertanyaan Min Jung tadi. “Oh Min Ho hyung, hmmm, sejak habis makan siang aku belum melihatnya. Atau mungkin dia ada di ruang pemotretan.”
“Begitu? Baiklah, aku ke ruang pemotretan saja kalau begitu. Terimakasih,” Min Jung membungkukan tubuhnya, dan langsung berlalu pergi menuju ruang pemotretan.
Saat memasuki ruang pemotretan ia bisa melihat semua orang tampak begitu sibuk akan pekerjaan mereka masing-masing. Min Jung memutar kepalanya kekanan dan kekiri mencari sosok Min Ho. Tetapi sepertinya laki-laki itu tidak di sana. Karena sejak tadi kedua matanya tidak juga menangkap keberadaan laki-laki itu.
“Nona, apakah Lee Min Ho-ssi ada di sini?” tanya Min Jung kepada salah satu photographer di ruangan itu.
“Tuan Lee? Tidak, dia tidak di sini,” jawab photographer itu sambil menggeleng.
“Oh, ya sudah kalau begitu terima kasih,” ucap Min Jung. Begitu ingin berlalu, langkahnya terhenti saat melihat nametag gadis photographer dihadapannya “Goo Hye Sun” ucapnya dalam hati.
“Kau Goo Hye Sun phorographer yang baru saja terpilih untuk bekerja di sini?”
“Betul, ada apa?”
“Bisa bicara sebentar?”
“Hmm, oke baiklah,”
Hye Sun mengajak wanita cantik yang ia tidak tahu namanya itu menuju sofa dekat pintu masuk ruang pemotretan.
“Ingin bicara apa?”
“Sebelumnya perkenalkan dulu, namaku Lee Min Jung. Begini, salah satu anak perusahaan ayahku sedang dalam keadaan buruk.Aku rasa salah satu faktornya karena photographer di sana kurang handal. Ada beberapa customer yang kurang puas akan service yang diberikan. Ayahku bilang ada orang dalam yang sengaja melakukan ini untuk menjatuhkan perusahaannya.” Jelas Min Jung panjang lebar.
“Lalu apa hubungannya denganku?” tanya Hye Sun bingung.
“Kau photographer pilihan Min Ho. Aku tau itu, dan jangan tanya darimana aku mengetahuinya. Lee Min Ho adalah seseorang yang perfeksionis, dia tidak mungkin memilih photographer untuk SMC dengan asal, semuanya pasti ia perhatikan dengan sangat teliti. Jadi aku yakin kau adalah salah satu photographer terbaik yang pernah dipilih olehnya.”
“Lalu?”
“Lalu, maukah kau bekerja di perusahaan ayahku? Tidak perlu khawatir, aku menjamin pekerjaan ini tidak akan mengganggu pekerjaanmu di sini.”
“Bagaimana bisa kau menjaminnya?”
“Kau hanya akan bekerja satu bulan selagi aku mencari photographer handal untuk menggantikanmu, dan kau akan bekerja pada hari Sabtu dan Minggu. Terpaksa harus menggunakan hari liburmu karena tidak ada cara lain. Aku akan membayarmu dua kali lipat atau lebih atau kau boleh menuliskan nominal yang kau inginkan.”
“Sepertinya kau sudah merencakannya,”
“Terus terang saja, iya. Jadi maukah kau membantuku?”
“Entahlah, akan kupikirkan.”**********
Walaupun tidak bertemu Min Ho, Min Jung tetap merasa senang karena secara kebetulan ia bertemu dengan Hye Sun—seorang photographer yang sudah beberapa hari terakhir ini ia cari tau identitasnya. Pamannya yang tinggal di Seoul memberitahu bahwa SMC baru saja menerima satu photographer baru. Setelah Min Jung mencari tau segala hal tentang gadis si photographer itu, benar saja, Min Ho tidak pernah salah akan pilihannya. Satu yang disadarinya, gadis photographer itu jauh berbeda seperti di foto yang ia lihat. Jauh lebih cantik. Sampai-sampai ia tidak mengenalinya tadi siang.
Ayah Min Jung mendirikan sebuah perusahaan yang berhubungan dengan photography, dan sialnya saat ini salah satu anak perusahaannya sedang terancam dan itulah alasan mengapa ia kembali ke kota kelahirannya ini. Min Jung tertarik untuk menyuruh Hye Sun membantunya dalam masalah ini. Entah bagaimana saat pertama kali ia mencari tau tentang gadis itu, hatinya mengatakan semuanya akan kembali baik-baik saja dengan campur tangan gadis itu.
“Setidaknya aku sudah membuatnya ingin mempertimbangkan permintaanku,” gumam Min Jung sedikit bangga. Untuk sesaat Min Jung tidak memikirkan seorang Lee Min Ho. Hatinya sedikit agak lega karena dengan bertemunya ia dengan Hye Sun, itu membuat satu masalahnya terlewati.**********
“Ada apa?” akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulut Donghae setelah beberapa menit ia memperhatikan Hye Sun dari belakang.
Hye Sun sedikit tersentak lalu menolehkan kepalanya menuju asal suara dan berkata, “Oh, kau. Tidak. Tidak ada apa-apa.”
“Mencoba menyembunyikan sesuatu dariku? Maaf, itu salah satu kelemahanmu nona cantik,” ucap Donghae sambil menghampiri Hye Sun.
“Duduklah,” Hye Sun menyuruh Donghae duduk di sofa dekat jendela. “Begini,..........” mulailah Hye Sun menceritakan kejadian tadi siang dari A sampai Z pada Donghae. Donghae terlihat begitu serius mendengarkan apa yang diceritakan Hye Sun.
“Sebaiknya kau terima saja. Hitung-hitung pengalaman, lagipula hanya sebulan. Masalah hari liburmu terpakai,.. hmm.. aku bisa menghiburmu kalau kau kelelahan,” Donghae menyuarakan pendapatnya setelah Hye Sun selesai bercerita. Degup jantungnya seakan bergerak dua kali lebih cepat saat ia mengatakan bahwa ia bisa menghibur Hye Sun saat gadis itu kelelahan.
“Menurutmu begitu?” Hye Sun tampak menimbang-nimbang.
“Ya.., dan uang bayaran yang kau terima nanti bisa saja menggantikan uangmu yang kau pakai untuk membeli apartemen baru, bukan?” seru Donghae, mengingat kalau Hye Sun ingin membeli apartemen baru yang lebih dekat dengan SMC.
“Ah kau benar! Baiklah akan ku coba.” Hye Sun tersenyum pada Donghae. “Kau memang teman terbaik, kau selalu tau jalan keluar yang tepat untuk ku. Terimakasih..” Hye Sun semakin mengembangkan senyumnya. Donghae hanya bisa membalas senyum gadis dihadapannya itu. Hanya teman yang terbaik. Donghae menekankan kata-kata itu dalam hati. Dan percayalah, kata-kata itu membuat hati Donghae cukup teriris.
“Sudah tidak bingung lagi, kan? Sekarang istirahatlah.” Donghae mengacak-acak rambut Hye Sun lalu bangkit dari duduknya. Langkahnya terhenti saat ia merasa pergelangannya dicekal.
“Tunggu dulu,” cegat Hye Sun. “Besok setelah aku menemui wanita itu, mau tidak kau menemaniku mencari apartemen baru?” pinta Hye Sun pada Donghae.
“Tentu saja. Sekarang tidurlah,” setelah melepas cekalan tangan Hye Sun dilengannya Donghae keluar dari kamar Hye Sun. Setidaknya kali ini ia tidak membicarakan Tuan Lee itu di depanku. Donghae bersyukur dalam hati.**********
“Jadi kau menerimanya?” tanya Min Jung memastikan. Wajahnya terlihat begitu senang.
“Setelah memikirkannya semalaman, kupikir tidak ada salahnya dicoba,” jawab Hye Sun memastikan. Ia membalas senyum Min Jung yang terlihat sangat senang itu.
“Ahhh akhirnya satu masalah selesai. Kuharap kau bisa membantuku. Terimakasih telah menerima tawaranku,” tangan Min Jung terulur dan Hye Sun menjabat tangannya yang terulur. Ia tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya. Ternyata bertemu dengan Goo Hye Sun tidak sesulit yang ia bayangkan.
Min Jung memutuskan untuk mentraktir Hye Sun makan. Sebagai tanda terimakasih karena gadis itu sudah ingin bersedia membantunya. Setelah memesan makanan mereka, tiba-tiba ponsel Min Jung berbunyi. “Sebentar ya,” ucap Min Jung lalu mengangkat teleponnya.
“Iya aku sudah bertemu dengannya....... Dia menyetujuinya...... Tenang saja.... Apa? Baiklah aku akan melupakannya sementara..... Tetapi setelah semuanya kembali baik-baik saja, biarkan aku melakukan semua yang kuinginkan.... Ya, baiklah,” Min Jung menutup ponselnya, lalu kembali membenarkan duduknya. “Ayahku,” katanya seakan menjawab raut wajah Hye Sun yang tampak penasaran.
Hye Sun mengangguk, “Dia menanyakan tentang tawaranmu terhadapku?” tanya Hye Sun.
“Ya,” Min Jung mengangguk. “Dan sedikit masalah pribadi.” Tambahnya.
“Boleh bertanya sesuatu?” Hye Sun kembali bertanya.
“Silahkan.”
“Kemarin katamu anak perusahaan ayahmulah yang terancam bangkrut. Berarti perusahaan ayahmu perusahaan yang besar. Dan bagaimana bisa kau bilang kalau di sana photographernya tidak handal? Itu sangat aneh.”
“Seperti yang sudah kukatakan kemarin, ada orang dalam yang berusaha menjatuhkan perusahaan ayahku. Orang kepercayaan ayahku yang bekerja di anak perusahaan itu ternyata punya dendam terpendam. Entah apa alasannya, Ayah tidak cerita padaku. Ia tidak pernah curiga dengan orang itu. Tidak berapa lama banyak customer yang mengeluh karena projek mereka dikerjakan dengan asal. Dan inilah hasilnya. Dia menyuruhku kembali ke Seoul untuk membantu memulihkan keadaan.”
“Kembali ke Seoul? Memang sebelumnya kau tinggal dimana?”
“Beberapa tahun lalu aku pindah ke Amerika karena satu insiden yang memalukan. Lalu aku dinikahkan dengan seorang laki-laki di sana. Sebenarnya ada satu alasan lain mengapa aku setuju kembali lagi ke sini.” Min Jun tersenyum samar.
“Alasan lain?”
“Ya,” Min Jung mengangguk. “Mencari cinta pertamaku.” Lanjutnya mantap.
Min Jung dan Hye Sun terlihat sangat akrab meskipun baru kedua kalinya bertemu. Mungkin karena umur mereka yang tidak berbeda jauh. Min Jung yang nyatanya tiga tahun lebih tua dari Hye Sun tidak ingin dipanggil Onni. Katanya agar mereka bisa lebih akrab dan di Amerika ia juga tidak terbiasa dipanggil Onni. Dan entah mengapa dengan lancarnya ia menceritakan semua masa lalunya dengan cinta pertamanya pada Hye Sun. Ia bilang ia sedang tidak ingin memikirkan cinta pertamanya itu sebelum semua masalah perusahaan Ayahnya selesai. Ia tidak mengatakan siapa nama cinta pertamanya karena menurutnya itu tidak perlu dan walaupun ia tau bahwa Min Ho lah yang memilih Hye Sun untuk menjadi photographer di SMC, otak dan perasaannya mengatakan kalau hubungan Min Ho dan Hye Sun hanya sebatas sampai pemilihan photographer itu selesai. Karena sepengetahuannya Min Ho adalah seorang atasan yang dingin dan jarang ingin mendekatkan diri pada karyawannya.
Setelah setengah jam lebih mereka bertukar cerita, akhirnya mereka menyudahi pertemuan mereka itu. Min Jung bilang Hye Sun sudah bisa mulai bekerja dengannya minggu depan. Saat sudah berada diambang pintu restoran ponsel Hye Sun berbunyi. Sementara Hye Sun mengangkat ponselnya, Min Jung pamit untuk pergi lebih dulu.
“Ya, Hyun Jin-ssi ada apa?” ternyata Hyun Jin yang meneleponnya.
“Hye Sun-ssi, apakah kau lupa memberiku foto-foto model yang akan dijadikan sampul majalah edisi lusa?” terdengar suara bertanya Hyun Jin di seberang sana.
“Astaga, iya maaf, aku lupa. Baiklah aku akan kembali ke kantor. Tunggu aku, oke?” Hye Sun langsung memberhentikan taksi dan pergi ke SMC. Di dalam taksi ia tidak lupa untuk menelepon Donghae, menyuruh temannya itu untuk menjemputnya di kantor baru pergi mencari apartemen baru untuknya.**********
Saat Min Ho membuka pintu ruangannya ia merasakan tiba-tiba jantungnya berdegup dua kali lebih kencang dan hatinya serasa sangat lega, ketika melihat gadis dihadapannya. Meja kerja Hyun Jin memang tidak jauh dari ruangannya. Maka itulah ia bisa melihat dengan jelas gadis di depan meja Hyun Jin yang sedang memberikan sesuatu. Dua hari terakhir ini jadwalnya sangat padat sampai ia tidak bisa melihat gadis dihadapannya itu. Entah mengapa ia merasa bahwa ia rindu dengan gadis itu. Dan ketika melihat gadis itu lagi hatinya sangat senang.
“Oh Tuan Lee, selamat sore.” Suara gadis itu membuyarkan lamunannya.
“Oh ya, selamat sore Hye Sun-ssi.” Min Ho membalas salam Hye Sun agak kikuk.
“Kau tidak pulang, hyung?” tanya Hyun Jin pada Min Ho.
“Baru saja akan pulang. Kau, Hye Sun-ssi kenapa masih di sini? Kau tidak pulang?” bukannya balik bertanya pada Hyun Jin—karna Hyun Jin lah yang bertanya padanya lebih dulu—ia malah menayakan Hye Sun.
“Oh, saya? Sebenarnya tadi saya sudah keluar kantor untuk pulang, tapi saya lupa memberi foto-foto model yang akan dijadikan sampul majalah edisi lusa pada Hyun Jin, jadi saya balik lagi.” Jawab Hye Sun menjelaskan dengan tersenyum agak takut. Takut dimarahi.
“Begitu? Lalu apakah sekarang sudah selesai? Ingin turun bersama denganku?” entah darimana Min Ho mendapatkan keberanian untuk mengatakan itu, tapi dapat dipastikan kalimat itu keluar begitu saja dari mulutnya.
“Ya?” Hye Sun terkejut saat mendengar tawaran atasannya itu untuk turun bersama.
Seakan mengerti apa yang Min Ho inginkan, Hyun Jin berkata, “Sudah kok hyung. Hye Sun sudah menyerahkan semua foto-fotonya. Jadi, Hye Sun-ssi sebaiknya kau ikut turun saja bersama dengan Min Ho hyung.”
Tidak ada pilihan lain, akhirnya Hye Sun pun setuju untuk turun ke lantai dasar bersama Min Ho. Mereka berdua terlihat canggung sampai akhirnya Hye Sun memecahkan keheningan diantara mereka. “Dua hari yang lalu, gadis kecil itu benar anakmu?” ternyata sejak tadi Hye Sun sedang memberanikan dirinya untuk menanyakan ini pada Min Ho.
“Benar,” jawab Min Ho singkat.
“Berarti kau sudah menikah?” tanya Hye Sun lagi.
Min Ho terlihat agak terkejut ketika mendengar pertanyaan Hye Sun. Lalu ia menjawab pertanyaan gadis itu setenang mungking, “Ibunya meninggal saat melahirkannya,” jawab Min Ho. Tentu saja ia berbohong. Berarti kau sudah menikah? Mulutnya terlalu sulit untuk menjawab pertanyaan itu.
“Begitu?”
“Ya,”
Bunyi dentingan lift menghentikan pembicaraan mereka. Mereka pun keluar dari lift dan sekarang mereka sudah sampai di luar SMC.
“Ingin kuantar pulang?”
“Tidak perlu, temanku sudah menjemput.” Hye Sun menunjuk kearah mobil Donghae, dan tidak lama mobil itu sudah berada dihadapan mereka.
Donghae membuka kaca mobilnya. “Ayo, masuklah!” Donghae menyuruh Hye Sun memasuki mobil dan saat itu pula ia menyadari ada seorang laki-laki—yang sudah tidak asing lagi—di samping Hye Sun.
“Oh, kau. Senang bertemu denganmu lagi.” Donghae menyapa Min Ho lalu menundukan tubuhnya sedikit.
Min Ho pun membalas sapaaan Donghae, “Ya, senang juga bertemu denganmu lagi.”
Setelah Min Ho dan Donghae bertegur sapa dan Hye Sun berpamitan pada Min Ho untuk pergi lebih dulu akhirnya mobil Donghae melesat pergi dari hadapan Min Ho. Hatinya seakan terbakar api saat melihat siapa yang menjemput Hye Sun. Ada apa dengan ku? Oh... Entahlah...**********
“Lagi-lagi bersama laki-laki itu,” gerutu Donghae kesal di dalam mobil saat ia sedang mengendarai mobilnya menghampiri Hye Sun.
Setelah menyapa Min Ho dengan raut wajah yang dipaksakan sebaik mungkin Donghae menginjak pedal gas meninggalkan tempat itu.
“Sepertinya kau sudah menemukan sesuatu yang bisa membuatmu betah dikantor itu.” Ucap Donghae asal.
“Apa?” Hye Sun terkejut. Lalu ia terlihat berpikir. “Maksudmu Tuan Lee?”
“Yah, siapalah namanya..,”
“Menurutmu begitu? Aku bahkan baru bertemu dengannya hari ini, setelah dua hari sama sekali tidak melihatnya.” Hye Sun menjelaskan dengan tetap memandang lurus ke depan. Baru bertemu dengannya hari ini, katanya. Umpat Donghae dalam hati. Lagi-lagi hatinya terasa teriris saat menemukan kenyataan bahwa walaupun baru bertemu tetapi mereka—Hye Sun dan Min Ho—sudah sedekat itu.
Berjam-jam Hye Sun dan Donghae mengitari kota Seoul mencari apartemen baru untuk Hye Sun. Sulit memang mencari apartemen yang bagus dengan harga yang terjangkau. Setelah hampir seharian mencari akhirnya Hye Sun dan Donghae menemukan apartemen yang cocok.
Apartemennya tidak terlalu besar, memiliki satu kamar utama dan satu kamar yang lebih kecil, satu dapur, dan satu kamar mandi. Harganya juga tidak terlalu mahal. Dan yang paling bagus, letak apartemen itu tidak jauh dari SMC. Rencananya besok—hari Minggu—Hye Sun sudah akan pindah ke apartemen barunya ini.**********
Tangan kanan Min Ho sibuk mengeringkan rambutnya. Wajahnya terlihat lebih segar setelah ia membersihkan dirinya. Saat baru saja ia duduk di atas tempat tidur, terdengar suara seseorang membuka pintu kamarnya.
Kepalanya menoleh ke arah pintu, setelah mengetahui siapa yang membukanya ia berkata, “Oh, anak Appa. Ada apa?”
“Aku ingin menanyakan sesuatu,” jawab Ye Eun sambil menghampiri Ayahnya.
“Menanyakan apa? Sini, kemarilah.” Min Ho mengangkat tubuh mungil Ye Eun ke pangkuannya.
“Soal kakak kue beras,” jawab Ye Eun lagi. Ia menatap Ayahnya dengan tatapan serius.
Min Ho terkejut. “Apa yang ingin kau tanyakan tentangnya?” tanya Min Ho.
“Siapa namanya? Lalu bolehkah aku bertemu dengannya besok?” dua pertanyaan sekaligus keluar dari mulut Ye Eun.
“Namanya Goo Hye Sun. Kalau bertemu dengannya.......” belum sempat Min Ho menyelesaikan jawabannya, posel yang ia letakan di atas meja kecil di samping tempat tidurnya tiba-tiba saja berbunyi. “Sebentar,” ucapnya pada Ye Eun. Lalu menurunkan putri kecilnya dari pangkuannya.
“Ya, Hyun Jin-ssi?............ Apa? Tunggu sebentar,” Min Ho menunda pembicaraannya dengan Hyun Jin di telepon lalu berkata pada Ye Eun, “Ye Eun-ah bisakah kau kembali ke kamarmu? Appa harus bicara dengan Paman Hyun Jin. Masalah besok kau ingin bertemu kakak kue beras, Appa akan meneleponnya nanti. Oke?”
“Ya, baiklah.” Ye Eun terlihat kecewa. Min Ho menuntunnya keluar dari kamarnya. Min Ho tersenyum kecil saat melihat putri kecilnya mengerucutkan bibirnya. Sungguh menggemaskan.
“Maaf tadi ada Ye Eun di sini. Silahkan lanjutkan ceritamu,” Min Ho kembali berbicara dengan Hyun Jin melalui ponselnya setelah mengantar Ye Eun keluar. Dan Hyun Jin menceritakan tentang peristiwa—kedatangan Min Jung di SMC—kemarin. Min Ho terkejut. Entah mengapa dadanya terasa berdetak lebih cepat. Cinta pertamanya, Ibu kandung Ye Eun. Dia kembali.
Min Ho menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Wajahnya masih terlihat terkejut. Dia kembali. Setelah apa yang ia lakukan terhadapku dan Ye Eun, apa yang harus kulakukan? Saat masih tenggelam dalam keterkejutannya, tiba-tiba saja Min Ho ingat apa yang sedang ia dan Ye Eun bicarakan tadi. Putri kecilnya ingin bertemu Hye Sun besok, dan ia sudah berjanji untuk menelepon gadis itu. Ia tampak agak ragu. Tetapi karena ia sudah berjanji pada Ye Eun mau tidak mau ia harus memberanikan dirinya menelepon gadis itu.
“Halo. Hye Sun-ssi,” sapa Min Ho saat terdengar tanda bahwa gadis itu menjawab teleponnya.
“Oh, Tuan Lee?” Min Ho bisa mendengar nada terkejut dari ucapan Hye Sun.
“Ya, ini aku. Maaf mengganggumu malam-malam,”
“Tidak apa-apa.” Jawab Hye Sun kikuk “Ada apa meneleponku?”
“Hmm, begini, Ye Eun—anakku—ingin bertemu denganmu besok. Apa kau ada waktu?”
“Besok? Maaf sekali, besok aku harus memindahkan barang-barang ke apartemenku yang baru.”
“Begitukah?”
“Ya, maaf sekali. Tolong sampaikan permintaan maafku pada Ye Eun,”
Sekitar setengah menit keheningan terjadi diantara mereka.
“Ada lagi, Tuan Lee?” akhirnya Hye Sun memecahkan keheningan diantara mereka.
“Oh, tidak hanya itu saja,” ucap Min Ho sambil menggeleng walaupun ia tau Hye Sun tidak melihatnya. Lalu ia melanjutkan, “Hye Sun-ssi kau tidak perlu memanggilku Tuan Lee saat di luar kantor. Panggil saja aku Min Ho-ssi atau siapalah terserahmu asalkan jangan Tuan Lee.” Pinta Min Ho.
“Baiklah,” kali ini Hye Sun mengangguk tanpa sepengetahuan Min Ho.
“Besok, jika kau membutuhkan bantuan kau bisa meneleponku.” Tanpa sadar kalimat itu keluar dari mulut Min Ho. Untuk kedua kalinya ia berkata di luar kesadarannya pada Hye Sun.
“Ya?” Hye Sun terlihat tidak percaya dengan apa yang dikatakan Min Ho barusan.
“Ya sudah hanya itu saja yang ingin aku sampaikan. Selamat malam,” walaupun ia tau kalau Hye Sun sedang terkejut setelah mendengar apa yang ia katakan, tapi ia tidak ingin mengulangnya untuk kedua kalinya. Dan akhirnya ia memutuskan untuk menutup ponselnya dan mengakhiri pembicaraan.**********
Donghae memasuki kamar Hye Sun saat ia melihat gadis itu sedang berbicara dengan seseorang melalui ponselnya.
“Oh, Tuan Lee?” seketika telinganya memanas saat mendengar apa yang diucapkan Hye Sun. Tuan Lee. Ucapnya dalam hati.
Sekitar tiga menit lamanya ia hanya berdiri tertegun di belakang Hye Sun sambil sedikit-sedikit mendengar dan mencerna apa yang sedang Hye Sun bicarakan dengan laki-laki itu. Sampai akhirnya Hye Sun menutup ponselnya dan membalikan tubuh mungilnya.
“Oh,” Hye Sun terkejut.
Donghae hanya tersenyum kecil melihat gadis dihadapannya terkejut. Lucu sekali.
“Selalu seperti ini. Masuk ke kamarku tanpa mengatakan apapun. Seperti hantu,” ucap Hye Sun kesal. Ia menghampiri Donghae dan menyuruhnya duduk di ruang tv.
“Maaf, aku tidak bermaksud,” Donghae tersenyum pada Hye Sun. Tangannya terulur untuk mengacak-acak rambut gadis mungil itu. Ia sangat suka melakukannya. “Sudah kau rapihkan semuanya?” tanya Donghae. Ia melihat ke sekeliling dan sepertinya begitu—Hye Sun sudah merapihkan semua barang-barangnya.
“Sudah,” Hye Sun mengangguk. “Donghae-ah bagaimana kalau kau ikut pindah ke apartemenku? Sepertinya aku terlalu takut untuk tinggal sendiri.” Pinta Hye Sun melanjutkan. Sejak tadi—setelah ia pulang dari mencari apartemen baru—ia sudah memikirkan ini. Donghae memang sepertinya harus ikut pindah bersamanya. Dan benar saja ia memang merasa terlalu takut untuk tinggal sendirian di apartemen barunya nanti. Jika ada Donghae ia baru bisa merasa aman.
“Maumu seperti itu?” tanya Donghae. “Tapi aku belum sama sekali merapihkan barang-barangku,” lanjutnya.
“Barang-barangmu tidak penting. Kita bisa memindahkannya lusa. Yang penting kau ikut pindah bersamaku. Kau mau?” Hye Sun mulai merajuk.
“Baiklah. Tapi,.... apa kau tidak takut tinggal bersamaku?”
“Mengapa harus takut? Selama ini kau selalu menjagaku, dan tidak pernah menyakitiku.”
“Segitu percayanya kah kau padaku?”
“Sejauh ini, iya.”
“Terimakasih,”
“Untuk?”
“Percaya padaku.”
Hye Sun tersenyum. Laki-laki dihadapannya membalas senyumnya.
“Kalau begitu, terimakasih juga,” kali ini Hye Sun yang berterimakasih.
“Untuk?”
“Menjagaku.”
Tangan Donghae terulur untuk mengelus rambut halus Hye Sun. Untuk sementara hatinya terasa lega karena Hye Sun tidak menceritakan apa dan siapa yang meneleponnya barusan. Ia tau kalau ia tidak bisa memaksakan gadis itu untuk mencintainya, atau setidaknya hanya sekedar melihatnya. Memang, gadis itu sudah melihatnya, tetapi melihatnya sebagai seorang teman terbaik bukan sebagai seseorang yang penting—seperti yang ia rasakan terhadap gadis itu. Entah sampai kapan ia harus memendam rasa cintanya.**********
Min Ho meletakan kembali ponselnya ke atas meja kecil di samping tempat tidurnya. Setelah mengakhiri pembicaraan dengan Hye Sun jantungnya masih berdegup dua kali lebih cepat. Direbahkannya tubuhnya yang jenjang di atas kasur. Menatap langit-langit kamarnya, wajahnya terlihat sedang menerawang. Menerawang apa yang sebenarnya ia rasakan sekarang.
Setelah peristiwa di taman dua hari yang lalu, hatinya menjadi terasa aneh jika bertemu gadis itu, jantungnya menjadi berdetak lebih kencang saat menatap gadis itu, dan perkataannya menjadi terucap begitu saja—diluar kesadarannya—saat bicara dengan gadis itu.
Min Jung kembali disaat rasa yang berbeda pada Hye Sun datang. Perasaannya semakin tidak bisa dideskripsikan. Tetapi satu yang pasti, ia tidak akan kembali pada Min Jung. Hatinya sudah cukup sakit dengan apa yang telah Min Jung lakukan terhadapnya. Dan ada satu alasan lagi yang membuatnya sangat tidak bisa kembali pada wanita itu. Kebohongan yang telah ia lakukan—mengatakan pada Ye Eun bahwa ibu kandungnya telah meninggal. Dan mulai saat ini sepertinya ia akan mempertimbangkan soal perjodohan yang putri kecilnya inginkan.**********
Donghae baru saja kembali ke kamarnya setelah menemani Hye Sun di kamar gadis itu. Saat di kamar Hye Sun tadi, mereka menelepon orang tua dan bibi Hye Sun. Sudah hampir seminggu mereka tidak menghubungi keluarga mereka. Rasanya rindu sekali.
Ponselnya berbunyi saat ia baru saja ingin merebahkan dirinya di atas tempat tidur.
“Donghae-ssi,” terdengar suara seorang gadis dari ponselnya.
“Ya, Eun Hye-ssi. Ada apa?” tanya Donghae.
“Begini, Ayahku menyuruhku pergi ke Sydney bulan depan.”
“Benarkah? Untuk apa?” tanya Donghae terkejut.
“Melanjutkan kuliahku di sana. Dan ia juga menyuruhku mengurus studio fotonya di sana.”
“Ayahmu juga punya studio foto di Sydney.”
“Ya, apa aku belum cerita padamu?”
“Sepertinya belum. Lalu studio foto yang di sini? Apa aku harus mengurusnya sendiri?” jika memang benar begitu, aku akan merasa sangat tidak enak. Lanjut Donghae dalam hati.
“Tidak. Kau tidak perlu lagi mengurus studio foto yang di sini.”
“Maksudmu?”
“Ayahku memintamu ikut pergi ke Sydney bersamaku,”
Donghae terkejut. Bagaimana bisa ia ikut ke Sydney bersama Eun Hye. Ia tidak punya cukup uang.
“Tidak perlu khawatir. Ayahku sudah menyiapkan semuanya, kau hanya perlu mengemasi barang-barangmu. Dan aku harap kau tidak menolaknya,” ucap Eun Hye menjawab keterkejutan Donghae.
“Tapi......” Donghae kebingungan. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Ya, baiklah.” Jawab Donghae pasrah.
Setelah menyetujui permimntaan Eun Hye dan sedikit berbincang tentang apa yang akan mereka lakukan di Sydney nanti akhirnya pembicaraan mereka pun selesai. Donghae menutup ponselnya lalu meletakannya di atas bantal di sampingnya. Satu yang ia pikirkan saat ini setelah menyetujui permintaan Eun Hye tadi. Bagaimana dengan Hye Sun kalau ia pergi?
Hanya Hye Sun yang ia khawatirkan saat ia pergi nanti. Siapa yang akan menjaganya? Tuan Lee itu? Haruskah ia mempercayakan laki-laki itu untuk menjaga Hye Sun? Haruskah ia merelakan Hye Sun pada laki-laki itu? Memikirkannya membuat hatinya terasa nyeri. Andai saja Ayah Min Jung belum mempersiapkan semuanya, pasti ia akan menolak untuk pergi bersama Min Jung. Dan sekarang ia pun pusing memikirkan bagaimana caranya mengatakan ini pada Hye Sun. Apakah ini saatnya untuk melepaskannya? Apakah Tuhan sudah tidak mengizinkanku lagi untuk menjaganya? To Be Continued