Author Topic: Cassanova's Love Chapter 23 31-12-2012  (Read 99742 times)

Offline hye sun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1252
    • View Profile
Re: Cassanova's Love SPOILER 1652012
« Reply #2535 on: June 20, 2012, 10:41:22 am »

[/img]



TUP

Terdengar pintu mobil tertutup ketika hye sun menoleh canggung kearah cassanova yang sedari tadi bagai “bajingan mesum” memandangnya.

Jantung hye sun berdetak kencang, ketika lelaki itu merengkuh pinggang rampingnya, sembari berbisik “sudah sampai, sayang” menyeringai-menunjukkan gigi- gigi putihnya, yang menurut hye sun terlihat bagai bocah lelaki yang baru saja mendapatkan sebungkus permen dari ibunya.

“sejak kapan tawanya bagai tupai jelek!” bisik hye sun sembari menggigit kecil bibirnya.

“ayo!” minho mencoba membawa tubuh itu tanpa canggung.

“chakaman!”  princess memandang tanya “ma….mau kemana?” tanyanya gugup sembari menatap wajah suaminya dengan pandangan yang menurut minho bagai pandangan gadis “super” lugu didunia ini.

“huhhhhh” minho menghela nafas panjang kali ini diiringi matanya yang melirik tajam.

“hye, apa aku…terlihat bagai bajingan yang akan memperkosa korbannya ?” wajah minho menunjukkan mimic serius.

Dahi hye sun mengkerut “se…sedikit” jawabnya polos membuat cassanova kembali menunjukkan raut wajah kesalnya.

“ya tuhan…. My Darling…. Untuk apa aku melakukannya ketika lima hari yang lalu kau dengan rela menyerahkan dirimu hye….”

Wajah hye sun seketika memerah, dan…

BUKKKK terdengar pukulan keras pada lengannya, hingga membuat supir young yang melihat-menahan tawa karena rasa geli.

“kau yang menarikku !” hye sun mencoba membela diri.

“dan kau mau, Darl… tanpa menolak!!!” jawab cassanova enteng sembari tersenyum hingga Membuat hye sun melirik kesal ketika lelaki itu kembali menarik erat tubuhnya sembari berujar santai

“jadi hari ini…,  Ikuti saja SUAMI TAMPANMU PRINCESS, Seperti malam itu ! arasso ?!!!”


.

.

.



“mi…minho_sshi, kita…mau kemana?”  hye sun kembali bertanya  untuk kesekian kali sembari melirik sebuah kapal ferry yang kini menunggu mereka.





“aku ingin mencoba menikmati kencan rakyat jelata bersamamu, princess”  balas minho ketika menangkap wajah hye sun yang sedari tadi dilingkupi ribuan tanya.

“kencan ---rakyat jelata ?” dahi itu mengkerut. “maksudmu … ?”

“aku ingin menikmati setiap perjalanan panjang ini bersamamu, tanpa mobil mewah, tanpa pengawal dan pasti akan lebih menyenangkan jika kita ikut bergabung dengan penumpang lainnya”

Mata minho melirik beberapa penumpang yang tengah menyusuri dermaga sembari merengkuh pundak isterinya—membawa tubuh itu ikut menuruni dermaga.

“minho_sshi, oppa akan mencariku, ayolah…kita pulang!” suara hye sun terdengar bagai rengekan gadis kecil, lagi- lagi diiringi dengan wajah memelas, hingga menghentikan langkah cassanova.

Ia pandang wajah cantik isterinya, sembari tersenyum….

“untuk itu aku sengaja menculikmu dipagi hari, agar kita bisa memiliki banyak waktu bersama” minho terkekeh ketika menatap raut wajah khawatir hye sun. “aku juga yakin, OPPA  akan mengira bahwa kini kau sedang bermain Teddy Bear  bersama Gaul, Darl” nada suara itu seolah menyindir.

BUKKKKKKKK terdengar pukulan lagi pada lengan minho, kali ini terasa lebih keras hingga membuat minho menggigit kecil bibirnya menahan rasa sakit.

“hye, bisakah kau tidak melakukan itu sayang!” nada minho terdengar kesal.

“disaat aku serius, kau malah mengajakku bercanda minho_sshi!” gerutu hye sun hingga tidak sadar kini cassanova sedang menggenggam erat lengannya--- membawa tubuh mungil itu menghampiri kapal ferry.

“ok, kau boleh memukulku, dan setiap pukulan kau harus membayarnya dengan ciuman!”  Senyum simpul itu terpancar jelas,.

“bwo??? Ciuman??!!!, tidak minho_sshi!!!” jerit hye sun saat lengan kekal itu kembali mengikat tubuhnya dengan erat

“mi….minho_sshi!!!!”

Minho menatap bagai geram “ kau harus hye, kau harus melakukannya ketika aku meminta, karena aku yakin… dengan begitu… kau akan “ingat” semuanya"




CHAPTER 22


“Jangan katakan ini mimpi ketika jemari mungil ini kini berada erat dalam genggamanku. Wajah cantiknya tersenyum, seolah menikmati daun- daun hijau dari pohon gingko yang menjulang tinggi, atau ribuan bunga plum dan cerry yang bermekaran indah, di awal musim semi…..”



Minho menggenggam erat jemari hye sun .Sesekali ia tangkap rona bahagia diwajah cantik isterinya, yang lebih indah dari cahaya mentari siang itu.

Langkah mereka perlahan, seolah tidak ingin melewatkan keindahan dedaunan rindang dari pepohonan gingko yang tertanam rapi dan menjulang tinggi.




“ini…kencan pertama kita hye, apa kau suka?” tanya minho sembari terus menggenggam jemari isterinya.

Wajah itu memerah, lalu pertahan menganggukkan kepalanya tanpa ragu.

“ne” jawab hye sun singkat.

“seharusnya akan lebih indah jika kita menikmati musim gugur dipulau ini, tapi… aku lebih suka ketika musim semi, saat semua bunga bermekaran, seolah memulai awal yang baru seperti… hubungan kita saat ini”

Hye sun menghentikan langkahnya sembari mengangkat wajahnya yang sesaat lalu tertunduk malu.

“minho_sshi ?”

“weo”  bisik minho sembari mensejajarkan tubuh mungil hye sun hingga menghadap kearahnya.

“gomawo”

Minho tersenyum tipis “untuk apa ?”

“untuk hari ini”  jawab hye sun sembari tersenyum.

“tidakkah terlalu berlebihan sayang, ini hanya hal biasa” minho berujar lagi- lagi tersenyum nakal saat menatap bibir ranum isterinya.

“tentu saja, karena kau seorang perayu ulung minho_sshi, hingga menganggap bahwa semuanya merupakan hal yang biasa, tapi tidak denganku, semuanya--- terlihat indah”  hye sun mengamati keindahan pulau seolah bahagia atas kejutan yang minho berikan untuknya.

“dari ucapanmu, kau benar- benar bahagia sayang” tawa kecil minho terdengar kali ini sembari membiarkan lengan kekarnya meraih pinggang hye sun. “aku benar- benar seorang Cassanova sang perayu wanita, bukankah begitu ?”

“ya, cassanova!, pertahankan itu minho_sshi”  nada hye sun seketika terdengar kesal, seolah cemburu

Lagi- lagi minho membalas dengan tawa “aku akan pertahankan cassanova didalam diriku, tapi hanya untukmu hye , tidak ada wanita lain”

Hye sun memajukan bibirnya “Lagi- lagi kau merayuku!” gerutunya dengan nada manja, hingga tanpa sadar hye sun kembali membangunkan gejolak didalam diri lelaki itu

“hye”

“mmm” mata hye sun berkedip manja.

“baru saja… kau mengucapkan terima kasih padaku untuk hari ini, tapi…apa cukup hanya dengan ucapan terima kasih ?” suara minho terdengar menggoda,

“maksudmu ?”

Minho menggigit kecil bibirnya seolah kesal atas tingkah gadis lugu yang ada dihadapannya.

Untuk beberapa detik  mata bulat hye sun terlihat memburu-seolah berfikir, dan ketika menemukan arti dari “cukupkah hanya dengan ucapan terima kasih” gadis itu tersenyum menyeringai, hingga menunjukkan kembali kedua lesung pipinya.

“oh ya aku mengerti!!! sepulang dari kencan hari ini, aku…akan mentraktirmu menikmati semua makanan yang kau suka”  hye sun tersenyum simpul.

“makan ?” dahi minho mengkerut “makanan yang kusuka ?” minho mencoba mengulang ucapan isterinya.

“yups!” balas hye sun menganggukan kepalanya.

Minho terkekeh, entah itu tawa kesal atau karena benar- benar merasa lucu akan tingkah polos isterinya, hingga terbesit sebuah kata penyemangat dihati “minho, bersabarlah,… karena kau menikahi seorang gadis kecil!”

Dan seolah mencairkan suasana, minho kembali menggoda gadis yang kini tetap mempertahankan sikap lugu dengan wajah polosnya.

“hmmm makanan ?? bagaimana…jika makanan itu telah tersedia dihadapanku, sayang… hidangan nikmat didunia dengan cake penutup yang dilapisi selai strawberry manis kesukaanku” minho merengkuh erat tubuh mungil hye sun, kali ini membuat gadis itu kehilangan kesadaran ketika tanpa ragu ucapan itu bersenandung ditelinganya mesra_ membuat darahnya mendesir hebat diiringi pandangan nakalnya pada bibir ranum isterinya.

“aku ? makanan? Selai--- strawberry ?? Ma….maksudmu…” hye sun merasa gemetar ketika ia sadar cassanova kembali bermain nakal dengan pandangan matanya yang berbahaya sembari tanpa ragu memberikan kecupan lembut dileher jenjangnya yang semakin lama semakin menuntut.

“minho_ssi, ja…jangan… bagaimana… jika… ada …orang …yang melihat…kita”  hye sun mendorong pelan tubuh yang semakin intim mendekapnya dan….

Hye sun bisa merasakan, tubuhnya kini  bukan hanya terkurung dalam dekapan minho, namun juga pohon gingko yang kokoh, ketika cassanova mendorong tubuh mungil itu perlahan kebelakang, hingga semakin membuatnya lebih leluasa diantara rerimbunan pohon- pohon indah yang menjadi saksi kemesraan mereka di hari itu.

“mi…minho_sshi…” suara hye sun mendesah, saat ia rasakan aroma nafas itu kini berhembus diwajahnya_lembut, seolah membelai wajah mungil yang sengaja diciptakan Tuhan hanya untuk Lee Min Ho, sang Cassanova.

“apa kau sudah ingat hye ?”

Hye sun mengalihkan pandangan dari bibir minho yang sesaat lalu menghipnotis tubuhnya.

“menggunakan cara yang indah agar membuatmu ingat akan kejadian malam itu” minho tersenyum, senyuman yang menurut hye sun paling manis dari wajah lee Min ho _ senyuman yang memperlihatkan sisi lembut dari Cassanova saat menatap wajahnya.

“min…minho_sshi”   hye sun kembali berujar gugup saat minho kini mendekatkan jarak pandang hingga hampir menyentuh bibir ranumnya.

“seharusnya jangan permainkan ku dengan cara ini princess”

Mata  tajam itu menatap dalam hingga membuat hye sun merasa ia jatuh cinta untuk kesekian kali akan pandangan tajam nan menggoda dari suaminya.

DEG DEG DEG  Emoticons0425 Emoticons0425 Emoticons0425

Detakan jantung kian berpacu, seolah menggema menghiasi keindahan pulau yang menjadi saksi ketika tanpa ragu, kecupan hangat kembali dirasakan hye sun dari bibir tebal suaminya. Sebuah kecupan yang terasa gamblang, bebas, dan memacu Adrenalin untuk kesekian kali ketika kecupan itu perlahan menjadi lumatan dan berakhir dengan gigitan kecil hingga terasa bagai percikan api cinta yang kapan saja bisa membakar mereka.

Bisa ia rasakan hye sun semakin bergairah akan ciumannya. Gadis lugu yang selalu mengikuti akan setiap permainannya, kini seolah memimpin saat minho bisa rasakan lumatan kecil_seolah ragu pada awal namun semakin mendesak dan memburu, saat tanpa sadar lengan mungil itu menarik mantel cassanova dengan erat- hingga semakin merasakan keintiman ketika tubuh itu kini bersatu dalam dekapan kehangatan, diantara kicauan burung- burung yang seolah menyanyikan lagu cinta.

 “hye…” nafas minho berhembus sembari menyatukan cuping hidung mereka

“mmm” desah hye sun—mengatur nafasnya yang seolah patah.

“haruskah…kita melakukan “itu”  disini”

Mata yang terpejam seketika tersentak, ketika cassanova kembali menjadi lelaki mesum yang menginginkan dirinya!!

“minho_sshi!” jerit hye sun sembari mendorong tubuh itu menjauh darinya beberapa centi.

Minho terkekeh, bisa terlihat jelas rona merah dipipi isterinya  yang semakin tergambar jelas, ketika kata- kata itu seolah bagaikan magnet yang menghipnotis isteri mungilnya.

“tidakkah itu terdengar menakutkan ?!”  nada itu terdengar bagai rengekan kecil.

“oh, darling…” minho melangkahkan kakinya_kembali mendekatkan tubuhnya. “aku hanya bercanda, ketika sadar bahwa hari ini kau telah mempermainkanku, membuatku sedikit kesal karena telah berani melupakan malam terindah kita”

Dahi princess mengkerut, sempat terfikir olehnya jika sampai kejadian itu terulang, ia mungkin tidak akan pernah dapat menolak rayuan itu karena jauh dilubuk hatinya, ia sangat merindukan suaminya_ menginginkannya.

“kau lelaki pertama bagiku minho_sshi, hingga aku tidak tahu mengapa malam itu urat maluku terasa putus, dan ketika aku sadar semua telah terjadi…. Seketika itu juga Aku malu jika menatap wajahmu”

Minho mengangkat wajah tertunduk itu, menyentuh dengan kedua tangannya hingga kini mereka saling melepaskan pandangan satu sama lain.

“tatap aku…” minho mensejajarkan pandangan mereka.

“apakah rasa malu itu masih singgah dihatimu, saat kau…menatap mataku hye?”

Mata hye sun berkedip, tenggorokannya terasa kering saat untuk kesekian kali mata tajam cassanova kembali menghipnotis tubuh dan jiwanya. “sedikit… namun sungguh kini aku tidak bisa menghilangkan rasa gemetar pada tubuhku, minho_sshi” bisiknya polos.

Minho tersenyum dan kembali mengecup mesra bibir isterinya, meski hanya untuk sesaat.

“hye, aku hanya ingin mengatakan… apapun yang kau rasakan, perasaan apapun itu, aku tetap ingin selalu tinggal disini, disisimu”

Hye sun menatap minho sendu

“karena aku mencintaimu, sangat mencintaimu… jadi jangan ragukan itu, hmmm ?”

Wajah itu membisu dalam tatapan mata sendu cassanova, dan seolah ingin menjawab ucapan yang baru terlontar dari bibir lelaki itu, tanpa ragu hye sun mendekatkan wajahnya—menatap sejenak wajah suaminya sebelum akhirnya, ia mengutuk bibirnya yang seolah berkhianat ketika dengan berani, bibir ranum itu kembali melepaskan ciumannya kepada lelaki yang kini telah menjadi suaminya.

Hye sun

“hatiku ingin menolak, tapi tidak dengan bibirku yang kali ini mencoba melakukan kecurangan ketika aroma nafas itu bagaikan magnet yang menghipnotis dan siap membakar tubuhku. Aku menciumnya, memberikan ciumanku yang terasa kaku pada awal, namun berakhir dalam kepasrahan, mengerang dalam kenikmatan, ketika dengan lihai ia kembali memimpinku dalam setiap gerakan bibirnya yang nakal, lidahnya yang liar. Tubuhku mengejang, saat lengan kekar itu kembali mendekapku intim. Oh tuhan,… aku mengutuk diriku ketika aku…ketika aku menginginkan sesuatu, yang lebih dari… sekedar ciuman”



----------------



“apakah aku harus menemuinya hari ini?” tanya Gaul berkata pada dirinya sendiri.

“tidakkah aku terlihat seperti gadis berani dihadapannya jika aku… memberikan pengakuanku?”

Gaul mengarahkan pandangan kesebuah café yang berada tepat dihadapannya. Wajah gadis itu terlihat pucat karena dilingkupi kegugupan yang luar biasa. Terbesit tanya dihatinya, tidakkah terlalu jahat dirinya jika mengambil kesempatan ini, kesempatan disaat II woo tidak lagi “bersama” hye sun sahabatnya?.

Seketika rasa itu ia buang jauh- jauh. Gaul bukanlah gadis yang jahat. ia tidak mengambil atau merebut cinta siapapun. II woo mencintai hye sun yang jelas- jelas sudah menikah, jadi tidak ada salahnya jika Ia mencoba mengobati rasa sakit yang dirasakan oleh II woo .

Perlahan ia langkahkan kakinya_menaiki satu persatu anak tangga. Ia yakin II woo mungkin terkejut akan kedatangannya. Namun, rasa cinta yang besar membuatnya lebih berani apalagi ketika Hye Jin, sepupu II woo menyetujui dan ikut mendukung hubungan mereka.

Hye jin yang sadar bahwa II woo benar- benar terpuruk akan cintanya, tersenyum bahagia ketika ia mendapati bahwa Gaul telah jatuh cinta kepada adik sepupunya. Meski ia sadar tidak mudah baginya merubah hati II woo, Hye jin yakin dengan berlalunya waktu, dan didampingi gadis baik disisinya, II woo akan melupakan Goo hye sun.

Mata bulat gaul menangkap sosok II woo, ketika kakinya kini tengah berada dilantai dua café itu. sebuah café yang menyimpan banyak kenangan sejak pertemuan pertamanya dengan II woo. Ia masih mengingat dengan jelas wajah tampan dan senyuman II woo meskipun pandangan mata itu hanya mengarah pada hye sun  sahabatnya.

“II woo_sshi” suara Gaul terdengar lembut, bahkan hampir tidak terdengar saat memanggil nama lelaki yang kini sedang duduk melamun memandang jendela yang menghadap kesebuah jalan kecil disamping café.




Sesuai dugaan, II woo terkejut melihat kedatangan Gaul yang bisa dikatakan tiba- tiba dipagi itu. Matanya memandang heran, namun sama sekali tidak memperlihatkan ketidak sukaan ketika senyum itu mengembang dibibirnya.

“Gaul_sshi, suatu kejutan!” tukasnya sembari mengangkat tubuh yang sedari tadi terpaku dihadapan meja bundar dengan tiga buah kursi yang melingkar.

“apa kabarmu Gaul_sshi?

“baik, aku baik- baik saja” jawab gaul.

“miane, jika aku mengganggumu hari ini” Gaul menundukkan wajahnya ketika mengatakan hal itu.






“tidak, tentu saja tidak Gaul_sshi, ayo duduklah”  II woo menggeser salah satu kursi yang ada dihadapannya, sembari mempersilahkan gadis itu untuk duduk.

“bagaimana kau tahu aku ada disini Gaul_sshi ?”

Gaul merasakan pipinya kian memerah, ketika lelaki itu berujar sembari memandang wajahnya. Kegugupan yang sesaat lalu menggila terasa hilang dan menjadi rasa malu yang luar biasa saat wajah tampan II woo kini bagaikan magnet yang menghipnotis dirinya.

“Hye Jin oenni yang mengatakan padaku akan keberadaanmu di café ini”

“ya, aku sengaja mengambil beberapa jam waktu kerjaku untuk memenuhi undangan sahabatku hari ini”

Gaul tersenyum “aku tahu, Hye Jin oenni juga mengatakan hal itu padaku”

“hubunganmu dengan noona terlihat lebih akrab, aku suka” II woo berkata sembari meraih ponselnya yang tiba- tiba berbunyi, menandakan sebuah pesan masuk.

Untuk beberapa saat II woo berkutat pada ponselnya. Mata tajamnya seolah terfokus pada pesan masuk yang baru saja ia terima. Ruangan café lantai dua itu mendadak sunyi hingga kegugupan kembali muncul ketika gaul kembali mengingat maksud dari kedatangannya hari itu.

“seorang teman yang menyapa” II woo meletakkan ponsel itu diatas meja.

“teman wanita ?” nada suara Gaul terdengar menyelidik. Hingga membuat II woo melepaskan pandangan herannya pada Gaul.

“oh tuhan,…apa yang aku katakan barusan!” Gaul berbisik didalam hati, seolah mengutuk mulutnya.

“tidak, teman lelaki. Salah satu kolega ku” II woo tersenyum kecil.

Untuk beberapa saat, ruangan terasa hening…..

“oh ya, kalau boleh aku tahu… kenapa kau mencariku gaul_sshi ?”

Mata gaul seolah memburu ketika terlontar pertanyaan dari mulut lelaki yang kini tengah memandangnya.

“aku…a…aku…hanya ingin melihat keadaanmu, II woo_sshi. Setelah semua yang terjadi.”

“yang telah…terjadi?” II woo memandang heran wajah Gaul pada awal, namun ketika itu juga raut wajah itu berubah muram saat menangkap maksud dari ucapan gadis itu. “hye sun, apakah…ini masih mengenai hye sun ?”

Tanya II woo dengan nada parau, dan sebelum gaul menjawab pertanyaan itu__

“aku baik- baik saja, bahkan sangat baik. Kau tidak perlu khawatir”

Dapat terlihat jelas wajah dingin II woo ketika ucapan itu terlontar dari bibirnya.
 
“kau…marah ?” gaul menggigit kecil bibirnya “mianhe, II woo_sshi, tapi sungguh… aku khawatir akan keadaanmu. Aku tidak ingin kau sedih, aku tidak ingin kau murung karena hye sun. aku tahu, semua juga salahku. Andai saja… aku menceritakan semuanya padamu, tentang status hye sun yang telah… MENIKAH kau mungkin…tidak akan sesedih ini”

II woo tersenyum, namun terlihat jelas senyum manis yang terkesan dingin ketika gaul kembali membuka luka lama didalam hatinya.

“bukankah…itu sudah pernah kita bahas sebelumnya Gaul_sshi ? dan sungguh aku tidak apa- apa.”
“II woo_sshi….” II woo tersentak ketika gaul menggenggam tangannya erat. “aku ingin kau tahu bahwa aku… aku akan menjadi temanmu”

Entah apa yang dipikirkan gaul ketika keberanian itu muncul tiba- tiba, saat tanpa ragu ia genggam tangan itu dengan erat—sangat erat. Seolah menjadi penenang bagi jiwa guardian yang rapuh.

“gomawo, gaul_sshi, gumawo, aku tahu…kau akan selalu menjadi sahabat terbaikku” balas II woo sembari menatap jari lentik yang kini melingkar pada setiap jemarinya, namun dengan perlahan ia lepaskan tangannya dari genggaman itu, hingga merubah wajah gaul tiba- tiba.

“bagaimana kabar hye sun, sudah hampir lima hari aku tidak melihatnya sejak pesta ulang tahunnya malam itu. Aku sengaja tidak menghubunginya… mencoba---sejenak melupakannya”

Gaul menatap sendu ketika lagi- lagi nama hye sun terukir indah dibibir II woo, melepaskan genggaman hangatnya ketika nama itu disebut.

“kenapa…kau masih peduli pada hye sun ?”

II woo memandang heran

“sebesar itukah kau mencintai sahabatku ?” suara gaul hampir terdengar berbisik.

“mencintainya ?” II woo tersenyum datar “Gaul, aku hanya ingin tahu kabarnya, hanya ingin pastikan bahwa ia baik- baik saja”

Gaul sadar ia tengah melawan air mata yang mungkin akan menetes dari pelupuk matanya yang bulat “hye sun kini bersama suaminya, menghabiskan hari- harinya bersama lelaki yang ia cintai, apakah kau tahu?!!!” suara Hati itu seolah menjerit kesal.

“hye sun baik- baik saja, dia…bahagia. Kau jangan khawatir, II woo_sshi”

Suara gaul hampir tidak terdengar seolah melemah. Ia sadar air mata itu tidak akan mampu lagi terbendung ataupun dilawan. Ia sadar, ia akan menangis. tapi bagaimana mungkin jika air mata itu jatuh dihadapan lelaki yang belum mengetahui sama sekali isi hatinya.

sampai akhirnya, gaul mendadak membuat keputusan yang tiba- tiba….

“gaul_sshi ?” suara II woo seolah menahan langkah gaul yang seketika berdiri dari duduknya, melangkahkan kakinya yang rapuh, sembari membalikkan pandangannya—menyembunyikan lukanya.

“a…aku harus segera kekampus, aku baru ingat… akan ada ujian pagi ini” ia pertahankan nada suaranya, namun tidak dengan air mata yang mengalir dipipinya. Gadis malang itu menangis, ia sadar ia telah kalah sebelum memberikan pengakuan cintanya. Ia tahu bahwa ia akan menjadi pengecut, gadis pengecut yang menyembunyikan perasaannya dari lelaki yang sangat ia cintai.

II woo memandang tanya, namun tidak mampu melangkahkan kaki lebih jauh, atau mungkin… membalikkan tubuh rapuh gadis itu untuk mencari tahu, akan kepergian gaul yang tiba- tiba, setidaknya…itu yang gaul inginkan.

Tanpa berkata lagi gaul dengan cepat melangkahkan kakinya, membawa hatinya yang hancur. Gaul merasa dunianya berputar, ia yakin hati guardian tidak akan pernah berubah ataupun berbalik kepadanya, bahkan sebelum pengakuan itu terlontar, gaul telah menemukan sebuah jawaban. Guardian.. masih mencintai hye sun, selalu mencintainya.


BRUKKKKKKKKKKKKKKKK

Mata sipit nan tajam kini mengarah pada gadis yang terisak dalam tangisnya. Balutan kemeja putih yang membalut tubuh pemuda itu benar- benar membuatnya terlihat mempesona, dengan raut wajah manis dan flamboyan menggoda kini sedikit terkejut ketika seorang gadis  menabrak tubuhnya.

“mianhe….” Isak gaul hampi dengan suara yang hampir tidak terdengar.

Pemuda itu memicingkan mata-- memandang aneh, dan belum sempat bereaksi lebih jauh, sang pemuda kembali diliputi rasa heran ketika gadis itu dengan cepat berlalu dari hadapannya---berlari menuruni satu persatu anak tangga.

“hey, dude…. Siapa dia ?” pemuda itu menunjukkan mimic wajah bingung, lalu melangkahkan kakinya mendekati II woo yang berdiri mematung.

“temanku”
“teman ? aku tidak yakin”  pemuda itu berujar sembari menggelengkan kepalanya.

“sungguh, dia temanku dan---aku juga tidak tahu…kenapa tiba tiba ia pergi!”

Raut II woo terlihat sedikit cemas hingga sedikit menekukkan wajah tampannya.

“kupikir… dia seorang gadis yang baru saja kau putusi”  pemuda itu berjalan menghampiri.

“bwo ?” tanya II woo heran “kenapa—kau berbicara seperti itu ?”

“karena kulihat…gadis itu menangis Joe, dia….menangis, jangan bilang…kau tidak tahu” pemuda itu tersenyum sungging sembari menarik kursi dan merebahkan tubuhnya.

 “menangis, Gaul—menangis ?? II woo mengerutkan dahi dan terperangah ketika ia menyadari sesuatu.


--------------------------------




“ada saat- saat dimana aku selalu ingat wajah itu ;
ketika diruang tamu, saat menatap sebuah kursi dimana ia biasa duduk sembari melipat kaki—anggun, mempesona.

Dikamar tidur, dengan ukuran ranjang besar dan mewah. Ia suka mengenakan gaun tidur tipis berwarna merah, dengan leher dan dada yang terbuka, menyambutku dengan senyum menggodanya, membuatku akhirnya menyerah akan rasa lelahku.

Semua tempat dimana aku dan dia pernah bersama akan selalu membayangi hari- hariku, meski kini……
Ada wanita lain yang berada disampingku…….”


Daniel berkutat dengan setumpuk pekerjaan yang hampir satu minggu ini menemaninya. Mungkin menurutnya, hanya ini yang dapat ia lakukan ketika otaknya kembali mengingat wajah cantik sang Lady.

Tiba- tiba…

Terdengar nada ponsel yang berbunyi….

“yoboseyo ?” Daniel menyapa sembari tersenyum kecil.

“Daniel_sshi, apakah kini anda masih berkutat pada setumpuk pekerjaanmu sembari mengerutkan dahi ?”

Terdengar suara kekeh

“Bingo!”

“apakah dengan pekerjaan itu membuatmu belum menyempatkan diri untuk menikmati makan siang yang tenang, sembari menghilangkan gurat gurat tua diwajahmu ?”

“bingo!”

“jadi… punya waktu siang ini ?”

Daniel tersenyum, “ya, setelah aku menyelesaikan semua pekerjaanku, Hye Jin_sshi”

“berapa lama…. ?”

“tunggu aku… setengah jam lagi, ditempat biasa ok!”

“seperti biasa…kau yang traktir, Mr. Goo!”

“biasanya…. Memang itu yang akan terjadi, bukan ?”

Terdengar tawa lepas dari bibir hye jin

“aisshhh!”

“baiklah hye jin_sshi, sampai bertemu ditempat biasa”

“ok, don’t be late, Mr. Cool!!”


“huhhhhh, gadis aneh!” gurau Daniel sembari tersenyum saat kembali mengingat percakapannya dengan hye jin barusan. Perlahan ia angkat tubuh besarnya, setelah dalam beberapa menit membereskan beberapa lembar kertas kerja yang berserakan diatas meja.

Wajah lelaki itu tersenyum simpul saat kembali mengingat hari- hari dimana gadis itu selalu datang menghiburnya. Mungkin saat ini hanya hye jin yang menjadi teman terbaik baginya.

Dan Hye jin …

Gadis itu tetap tersenyum ketika sadar Daniel hanya menganggapnya sebagai sahabat ataupun “teman dekat” meski dengan sedikit gurauan ia pernah berkata kepada lelaki yang perlahan singgah dihatinya,

“aku tidak ingin menjadi teman, ataupun kekasihmu. Aku ingin menjadi Pelipur lara bagimu, ketika teman ataupun kekasih melukaimu”



Lamunan Daniel kini mengarah kepada gadis yang selalu menemani hari- harinya meski terkadang bayangan masa lalu itu muncul bagaikan hembusan angin yang dingin, meremukkan setiap sendi tulang, membiarkan setiap jengkal tubuh menjadi kaku, seperti saat ini ketika lelaki itu tersadar ada nada halus yang menyapa, menghilangkan rasa bahagia mendatangkan kemurkaan yang tiba- tiba

“sayang…. ”

Suara itu terdengar lembut_berbisik, namun seketika mampu mengejutkan Daniel ketika ia sadar suara  itu terdengar tidak asing baginya.

“PARK SI YEON!” tubuh gagah itu berbalik “apa yang kau lakukan disini!!!” suara Daniel seketika terdengar tajam.

“Da…daniel….” Park Si yeon melangkahkan kakinya menghampiri meski rasa gugup kini menjadi lawan yang tangguh untuknya. Dengan gencar ia tunjukkan pesonanya, hingga menutupi raut- raut ketakutan diwajah cantik sang lady dengan sempurna.

“entah mengapa… tidak masalah hanya melihat tubuh gagahmu yang berbalik tanpa menoleh kearahku, kekehan kecil yang sesaat mengalun lembut dari bibirmu… hingga membuatku tersadar…bahwa aku…merindukan… suamiku”

Daniel tersenyum sinis, “suami?” dahi itu mengkerut “jangan katakan otakmu kini telah rusak, ketika kau masih mengingatku sebagai suamimu Nyonya!”




Park si yeon menggenggam sisi gaunnya erat, ketika ucapan itu seketika mengguncang dunianya.

“tidakkah dengan menceraikanku, kau telah membuatku merana Mr. Goo ?”

Daniel menaikkan sebelah alisnya   

“keluar dari ruanganku, sebelum pengawalku menyeretmu!”
   
Seketika ucapan itu mematahkan separuh semangat sang lady, namun dengan cepat ia abaikan penolakan Daniel sebagai suatu keberhasilan yang tertunda baginya.

“seharusnya kau memaafkanku, melawan takdir yang memisahkan kita ketika aku yakin masih ada harapan untuk kau dan aku Daniel” suara Park si yeon terdengar bagai rayuan gadis kecil, suara yang biasa ia gunakan untuk menyimpan “kejahatan” yang selalu tersembunyi dibalik wajah cantiknya.

“takdir ?”

“ya, takdir yang memisahkan kita, memisahkan kau…dan aku…”

Daniel menggigit kecil bibirnya, melepaskan kembali tatapan dingin yang membuat Park si yeon merasakan kekesalan luar biasa.

“tidak, ini bukan takdir Nyonya, ini jalan yang kau pilih ketika berkhianat telah menjadi kebiasaanmu, bahkan mungkin aku bisa menangkap semua jelas diwajahmu!”

“cukup!, aku muak dengan kata- kata itu Darl. Berikan aku kesempatan… ketika aku sadar bahwa kau lelaki yang kurindukan”
Park si yeon memajukan langkahnya, kali ini tanpa ragu seolah semua telah terancang sempurna diotaknya. Entah dimana ia sembunyikan rasa malunya, ketika tanpa ragu ia genggam kedua lengan lelaki yang berdiri kaku dihadapannya.

“kita mulai…dari awal” wajah cantik itu memelas “kau mau Darl?”

Daniel tersenyum sinis, dan perlahan melepaskan genggaman erat sang lady pada kedua sisi lengannya.

“kenapa….kenapa kau ingin kembali, ketika proposalmu adalah karangan usang bagiku ?”

“karena aku sadar aku mencintaimu, Setelah aku-- kehilanganmu” jawab lady tanpa ragu.

“cinta ?” Daniel kembali melepaskan senyum sinis

“kupikir akan sempurna jika cintamu kau berikan hanya untuk cassanova, bukankah…kalian pasangan yang serasi ?!”
Park si yeon menatap tajam “apa kau tidak sadar, bahwa lee min ho adalah pasangan sempurna untuk Princess kita?”



“tutup mulutmu!” ia dorong tubuh sang lady hingga membuat wajah cantik itu seketika memerah, menunjukkan rasa kesal luar biasa saat tubuh yang dipuja kini bagai seonggok sampah bagi Goo Daniel!
“Daniel!!!” jerit lady Park—menggila.

“keluar dari ruanganku sekarang, sebelum aku bertindak kasar padamu  PARK SI YEON!”

“lihatlah!, Oppa sang Princess terlihat murka ketika kata- kataku bagaikan rajam bagimu. Apa kau tidak sadar, gadis kecil itu mempermainkanmu, sayang ?”

Daniel memajukan langkahnya, wajahnya memerah sembari menggertakan gigi- giginya hingga memperlihatkan wajahnya yang persegi.

“keluar” nada suara itu menekan.

“kau ingin bukti ?, aku memiliki beberapa bukti bahwa adikmu masih berhubungan baik, sangat baik dengan rivalmu, sayang”
“huh” Daniel tersenyum sinis “kau ingin aku percaya, pada seorang pembohong ?”

Park si yeon mengejang hingga menghilangkan seketika wajah cantik yang sedari tadi ia pertahankan. “kau jahat, Daniel!”

“KE…LU…AR!” ulang Daniel kali ini dengan nada sinis dan menekan, Membuat sang lady sadar kemenangan belum berpihak padanya kali ini.

“baik, aku akan pergi. Tapi ada baiknya kau benar- benar menjaga Princess kita dari lelaki itu, aku tidak ingin karena perbuatan lee minho, kau kembali jatuh sakit dan…”

“apa pedulimu!” kalimat itu seketika menghentak “bahkan jika aku mati, jangan pernah kau melihat jasadku!!

Lady Park menggigit bibirnya, entah mengapa ucapan itu seketika menghancurkan hatinya, tubuhnya gemetar ketika pandangan mata tajam itu berkerling tajam kearahnya.

Dengan langkah patah, ia langkahkan kakinya perlahan.


“aku gagal, tapi jangan pernah berfikir aku menyerah… aku akan membuatmu kembali bertekuk lutut dihadapanku Daniel, aku bersumpah.Tidak peduli jika aku harus menghancurkan segalanya….”


---------------------------------------------



« Last Edit: June 20, 2012, 10:52:01 am by hye sun »



[lovestruck] [lovestruck] Couples who love each other tell each other a thousand things without talking [lovestruck] [lovestruck]