Author Topic: You make me falling in love; chapter 5 part 3 (20/10/2012)  (Read 17259 times)

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
mianhe...jeongmal mianhe baru bisa update...  [heh] [heh] [heh] semoga suka dengan cerita di part ini...  [flowers] [flowers] [flowers]



Chapter 4 part 1

Hye na terlihat menyeka keringatnya sesaat sebelum akhirnya ia melepaskan anak panahnya lagi. Matahari akan tenggelam saat itu, semburat merah yang cantik terlihat dari jendela dojo di peternakan Hye na. Semburat merah yang sangat berbeda dengan semburat merah seseorang. Semburat merah itu terlihat karena rasa marah dihatinya yang sedang meletup.

Tarikan napas Hye na mulai terdengar berat, keringat mengucur semakin deras. Napas Hye na terengah namun Hye na tidak memperdulikannya dan sekali lagi, Hye na mengambil anak panahnya dan menempatkannya di busur sebelum kemudian menarik dan melepaskannya tepat ke tengah target.

“tolong berhenti sekarang nak… kau sudah melakukannya selama 4 jam… jangan lakukan ini… kau akan melukai tanganmu…”ujar Jung ahjussi yang sedari tadi memang menatap Hye na khawatir, namun tidak dapat melakukan apapun padanya. Hye na diam, tidak memperdulikan ucapan Jung ahjussi yang berdiri di belakangnya. Dia sangat marah hari itu, dan ucapan Jung ahjussi sama sekali tidak bisa menghentikannya.

Ia marah, benar-benar marah, terutama pada Jung ahjussi dan karena kekhawatiran yang Jung ahjussi membuat Hye na sama sekali tidak menghentikan panahannya. Hye na semakin menjadi dan semakin marah. Dia mengambil anak panahnya kembali dan menariknya kuat di busurnya sebelum akhirnya melepaskannya tepat ke tengah target.

“aku mohon…” Jung ahjussi menatap Hye na dengan pandangan memohon “kau bahkan belum mengisi perutmu dari tadi siang…” Jung ahjussi terdiam sesaat, menatap Hye na yang sama sekali tidak memperdulikannya “pikirkan anak dalam kandunganmu…”tambah Jung ahjussi lagi, yang perlahan melangkah mendekat, namun…

“berhenti…!! Jangan mendekat lagi… Anda lupa ahjussi… aku membawa anak panah dan busur…” ancam Hye na menghentikan memanahnya tanpa mengalihkan pandangannya menatap Jung ahjussi. Jung ahjussi terlihat diam, menghentikan langkahnya, menatap Hye na semakin tidak mengerti.

Hye na diam sesaat, menarik napas panjang kemudian kembali melepaskan anak panahnya shuutt.. zlebb!!!  Langsung menembus tepat di tengah target. Jung ahjussi diam, menghela napas panjang, ia menyadari, sangat menyadari kesalahannya, kemudian melangkah mundur pelan. Sesaat kemudian ia terlihat mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.

“tolong datang… sekarang… Hye na marah padaku…”ujar Jung ahjussi lirih melalui ponselnya, yang kemudian menutupnya cepat, tepat saat Hye na berbalik mengambil anak panahnya.

“apa belum cukup…?”tanya Jung ahjussi, menatap Hye na kembali.

Hye na masih diam, tidak memperdulikan Jung ahjussi. “… maafkan ahjussi… bukan maksud ahjussi…” zleeb!!  Jung ahjussi menghentikan ucapannya saat tiba-tiba sebuah anak panah melaju cepat melewati dirinya dan menancap tepat di dinding di belakangnya. Jung ahjussi diam terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Hye na.

“kau bisa membunuh ahjussi!!”seru seseorang tiba-tiba, menatap anak panah yang menacap dihadapannya. Hye na diam, mengalihkan pandangannya sesaat.

“biarkan… aku yang salah…”

“ne… anda juga dapat membunuhku saat itu juga…”ujar Hye na yang kemudian mengambil sebuah anak panah ditatapnya Jung ahjussi tajam, kemudian perlahan Hye na mengangkat busur panah dengan anak panah yang sudah ia arahkan pada Jung ahjussi. Jung ahjussi menyadari Hye na bersungguh-sungguh dan kali ini tidak mungkin meleset seperti sebelumnya.

Hye na melepaskan anak panahnya, namun tidak terarah pada Jung ahjussi, dengan cepat dan tiba-tiba Hye na mengalihkan busurnya, dan anak panah itu tepat menancap di tengah papan target dihadapan Hye na. Jung ahjussi diam, memejamkan matanya, menyerah kemudian terlihat tersenyum, menatap orang yang berdiri di sisinya. “…aku tidak dapat melakukan apapun lagi… sisanya… aku serahkan padamu…”ujar Jung ahjussi, yang kemudian menatap Hye na “…maafkan aku nak…”ujar Jung ahjussi, tersenyum kemudian melangkah pergi meninggalkan Hye na dan Jung min sendiri.

Jung min diam ditempatnya, menatap Hye na yang tengah menarik busur panahnya dan melepaskannya.

“apa kau bisa berhenti sekarang…?”tanya Jung min, menatap Hye na dan perlahan melangkah mendekat.

“jangan mendekat… atau anak panah ini akan menembus jantungmu…”ancam Hye na marah, tanpa mengalihkan pandangannya dari target dihadapannya. Jung min menghentikan langkah. Ia menatap Hye na yang tengah  menarik busurnya. Peluh terlihat semakin mengucur deras dari dahi Hye na. Pakaiannya basah oleh peluh dan keringat, napas Hye na terdengar terengah. Hye na  benar-benar terlihat sangat kelelahan namun ia sama sekali belum berhenti atau mungkin sama sekali tidak ingin berhenti. Jung min mengalihkan pandangannya menatap target dihadapan Hye na yang mulai rusak karena banyaknya anak panah yang menancap disana.

“ada apa denganmu?!?!” Jung min mulai tidak sabar lagi.



Hye na terdiam, terengah ditempatnya, mengambil anak panahnya dan Hye na terlihat benar-benar lelah. Hye na diam, menarik napas panjang kemudian menatap target di hadapannya. “aku mohon berhenti… kasihan anak kita…”ujar Jung min. Hye na diam ditempatnya, menatap perutnya sesaat sebelum kemudian kemarahan kembali merajai hatinya.

“pergi…”ujar Hye na lemah, tanpa menatap Jung min yang berdiri tak jauh disisinya, menatapnya penuh kekhawatiran.

“ayolah berhenti…”ujar Jung min, menatap Hye na memohon.

“pergi…”ujar Hye na lagi

Jung min diam ditempatnya, namun langkahnya semakin dekat “…PERGI!!!!” seru Hye na, sambil kemudian mengarahkan anak panahnya pada Jung min dan menembakkan anak panahnya, yang berhasil membuat Jung min keluar dari dojonya.

Jung min menatap dojo di belakangnya kemudian mendesah pelan, dia tidak tahu harus melakukan apa, dia bahkan tidak tahu apa yang terjadi dengan Hye na. Jung min menundukkan kepalanya dan perlahan mulai melangkah pergi, namun, baru beberapa langkah, tiba-tiba ia menghentikan langkahnya, sesuatu yang terjatuh membuatnya terkejut dan menatap keasal suara.

Jung min berlari kearah dojo, ia benar-benar khawatir jika sesuatu… “HYE NA!!!” Jung min berlari cepat, masuk kembali ke dalam dojo. Jung min takut, apa yang ada dipikirannya menjadi nyata, dan ternyata ketakutannya menjadi nyata. Jung min menatap Hye na berbaring tertelungkup di tempatnya.

Segera, Jung min melangkah cepat dan berlutut di sisi Hye na. Perlahan namun cepat, Jung min membalik tubuh Hye na. Saat itu, ia dapa mendengar napas Hye na yang terengah dan cepat serta wajahnya yang memerah dan peluh yang mengalir deras, dari keningnya. Perlahan Jung min, membawa Hye na, menggendong Hye na dalam pelukannya dan dengan langkah cepat ia berlari keluar dari dojo.

*******

Hye na membuka matanya perlahan. Langit masih gelap, udara dingin berhembus. Kesunyian meraja, namun desah napas ringan dan tenang seseorang membuatnya menyadari jika ia tidak sendiri di tempat itu.

Hye na menyapu ruangan. Dan pandangannya jatuh pada seseorang yang duduk tertidur di sisinya. Hye na menatapnya sesaat. Diangkatnya tangannya, namun rasa sakit menyerangnya. Hye na menatap tangannya yang kini terbalut perban. Hye na menatapnya dan rasa menyesal menyerangnya. Hye na menatap tangannya lama, tidak menyadari seseorang yang terbangun dan tengah menatapnya.

“kau bangun…”ujar orang itu, menatap Hye na. Hye na terdiam, menjatuhkan tangannya cepat “akh!!”seru Hye na menatap tangannya yang terluka

 “gwenchana…?!”tanya orang itu lagi, khawatir Hye na diam, orang itu menatap Hye na diam.

“aku… lelah…”ujar Hye na lirih, namun kesunyian malam itu, masih dapat membuat orang itu mendengar ucapan Hye na. Orang itu diam, menatap Hye na. Keduanya kini terlihat diam, berkutat dengan pikirannya. Hye na mendesah dan mengalihkan pandangannya, menatap langit-langit kamarnya.

“Jung min-ssi…”panggil Hye na, yang masih menatap langit-langit kamarnya, membuat Jung min terkejut dan bangkit dari tempatnya, menatap Hye na “d..d..de..”jawab Jung min

“apa kau benar-benar akan menikahiku…?”tanya Hye na, tanpa mengalihkan pandangannya menatap Jung min. Jung min diam, menatap Hye na “… tentu saja…”jawab Jung min yakin. Hye na diam, kini pandangannya teralih pada laki-laki disisinya. Jung min mendapati pandangan Hye na dan kemudian perlahan duduk disisi ranjang Hye na. Keduanya diam “…aku benar-benar ingin menikahimu… dan ini keputusanku… aku tidak ingin anak itu lahir tanpa ayah… aku…”

“…aku lapar…” Hye na menghentikan ucapan Jung min

“de?!?!” Jung min terdiam, bingung sesaat ditempatnya karena sebuah kalimat pendek dari Hye na. Ia menatap Hye na.

“aku lapar… dan aku ingin makan… bisakah kau melakukan sesuatu…? Aku benar-benar lapar…”

Jung min masih diam di tempatnya, tidak percaya dengan apa yang didengarnya “…anak ini ingin makan sesuatu…”tambah Hye na sambil mengusap perutnya. Jung min menatap perut Hye na dan kemudian segera bangkitd ari tempatnya “… aku akan membuatkan sesuatu…”ujar Jung min, menatap Hye na tersenyum dan kemudian beranjak pergi.

Hye na diam ditempatnya, menatap kepergian Jung min, kecut “benar… kau hanya peduli pada anak diperutku…” batin Hye na, mengusap lembut perutnya. Hye na mendesah. Rasa sakit kembali menyerang tangannya.

Hye na bangkit dari tempatnya, ia melangkah pelan kearah jendela dan menatap diam pemandangan tengah malam di rumah peternakannya, kemudian perlahan membuka jendela kamarnya itu, merasakan hembusan angin tengah malam.

“sepertinya aku sudah keterlaluan…”gumam Hye na pelan, yang kembali menatap tangan dengan perbannya. Hye na diam, mendesah kembali dan menatap pemandangan gelap tengah malam, memejamkan matanya, merasakan angin dingin yang berhembus.
Tak lama…

“makanan datang… aku buatkan sesuatu…” Jung min datang sambil membawa piring makanan di kedua tangannya kemudian meletakkannya di meja dikamar Hye na, Jung min terlihat tersenyum senang denga itu, hingga ia menyadari sesuatu “…akkhh.. apa yang kau lakukan… udaranya dingin… dan anak kita akan kedinginan nanti…”ujar Jung min sambil memberikan selimut kecil, hangat pada Hye na. Hye na diam ditempatnya, menatap Jung min yang menyampirkan selimut itu dipundaknya, menyelubunginya. Hanya sesaat, kemudian Hye na melangkah, menjatuhkan selimutnya kemudian mendekat dan duduk di sofa dihadapan piring yang berisi makanan yang dibuat oleh Jung min.

Jung min diam ditempatnya, menatap Hye na. Ia benar-benar tidak mengerti dengan sikap Hye na “… ayo makan” Jung min tersenyum, menatap Hye na menunggu.

Hye na masih diam ditempatnya, menatap Jung min “apa kau yakin…?”tanya Hye na, menatap Jung min

“bukankah kau bilang kau lapar…?”

“ne… tapi dengan keadaan tangan seperti ini apa…” Jung min menghentikan ucapan Hye na “…aku akan menyuapimu…”

Hye na tersenyum tipis, “itu lebih baik…”ujarnya. Jung min terlihat senyum senang, menatap Hye na dan mulai menyendokkan makanan ke mulut Hye na.

**********

“..aku benar-benar gendut” Kini Hye na terlihat berdiri dan menatap dirinya di depan cermin besar yang memantulkan gambaran tubuhnya hingga kakinya. Hye na menatapnya lesu.

Tatapannya kini mulai teralih dan tertuju pada perutnya yang terlihat semakin membesar seakan Hye na membawa bantal kecil yang ia simpan diperutnya. Hye na menyentuhnya lembut.

“kau benar-benar tumbuh dengan cepat…”bisik Hye na sambil menatap dirinya melalui cermin dan membandingkan tubuhnya dengan perut membuncit. Hye na diam dan karena terlalu asyiknya menatap dirinya yang mulai berubah, Hye na tidak menyadari kehadiran seseorang yang berdiri diambang pintu menatap dirinya tersenyum.

“kau masih cantik sayang…”ujar Jung ahjussi menatap Hye na. Dengan cepat Hye na memutar tubuhnya membelakangi cermin dan menatap Jung ahjussi yang berdiri di ambang pintu dengan membawa segelas susu hangat dan sebuah kotak p3k di tangannya yang lain. Hye na diam. Ia masih merasa tidak enak dengan ahjussinya itu.

Jung ahjussi terlihat melangkah masuk dan duduk di sofa kamar Hye na setelah ia meletakkan gelas susu di meja kecil di depan sofa. “duduklah…ahjussi akan mengganti perbanmu…”ujar Jung ahjussi sambil menepuk sofa disisinya dan kemudian mulai membuka kotak p3k di tangannya. Hye na diam, menundukkan kepalanya.

“ayolah… setelah ini ahjussi harus pergi… ada rapat pegawai… ahjussi tidak boleh terlambat untuk yang satu ini…” Jung ahjussi menatap Hye na, tersenyum. Perlahan Hye na melangkah mendekat dan duduk dihadapan Jung ahjussi. Jung ahjussi diam, tersenyum menatap Hye na sesaat sebelum kemudian menarik tangan Hye na yang terluka dan mulai membuka perbannya yang mulai terlihat kotor dan rusak.

Dia sangat tahu tingkah keponakannya itu dan tidak mungkin jika perban itu tidak terkoyak atau lusuh dan kotor oleh debu. Jika kau berbicara tentang Hye na itu akan terjadi.

“….”Hye na diam, pikirannya bergejolak. Rasa marah, kesal serta rasa tidak enak bergolak dihatinya, namun… “ahjussi… maafkan aku…”ujar Hye na kemudian, yang sepertinya rasa bersalahnya lebih tinggi dibandingkan amarahnya. Jung ahjussi tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya dari tangan Hye na yan terluka.

“ahni… ahjussi yang minta maaf… seharusnya ahjussi mengatakanya terlebih dahulu padamu… ahjussi mengerti… mungkin ahjussi akan melakukan hal yang sama seperti mu jika ahjussi jadi kau…”jawab Jung ahjussi yang mulai membalut luka Hye na dengan perban yang baru.

Hye na menundukkan kepalanya, menatap tangannya yang dengan perlahan dan lembut dirawat oleh Jung ahjussi. “mianhe Jung ahjussi…”ujar Hye na lagi yang kemudian secara tiba-tiba memeluk Jung ahjussi erat.

Jung ahjussi diam, tersenyum dan membalas pelukan Hye na dengan usapan lembut di kepala Hye na. “…tak apa… kamu tidak salah nak… ahjussi yang salah… dan semuanya sudah berlalu sekarang… kau baik-baik saja sekarang ahjussi sudah sangat senang…”ujar Jung ahjussi yang kemudian melepaskan pelukan Hye na, menatapnya lembut dan mengecup keningnya pelan “..ahjussi pergi dulu… ada rapat… dan mungkin selama 2 hari… jadi jaga dirimu…”ujar Jung ahjussi sambil membereskan kotak p3k yang dibawanya. Hye na menganggukan kepalanya.

“apa yang ingin kau lakukan hari ini…”

“errrmmm… aku belum bisa memanah…”ujar Hye na sambil menunjukkan tangannya yang diperban “dan aku tidak mungkin berkuda lagi…”tambah Hye na yang menunjukkan perutnya yang mulai membuncit, membuat Jung ahjussi tersenyum lebar menatapnya “mungkin hanya berjalan-berjalan di sekitar peternakan…” putus Hye na

“apa perlu ahjussi panggilakan Jung min untuk menemanimu…?”

“ahni… gwenchana… aku ingin sendiri…”

“baiklah… jika ada apa-apa… hubungi ahjussi atau Jung min… bawa ponselmu… ah ya… maafkan ahjussi tanpa ijinmu ahjussi memasukkan nomor Jung min di ponselmu” aku Jung ahjussi. Hye na diam, menatap Jung ahjussi “ne… gwenchana ahjussi… Hye na tahu kenapa ahjussi melakukannya…”

Jung ahjussi tersenyum menatap Hye na, kemudian mengambil tangan Hye na sebelum akhirnya mengusapnya lembut “…aku ingin kau mendapatkan yang terbaik nak… kau sudah ahjussi anggap sebagai anak ahjussi sendiri…”

Hye na diam, menatap Jung ahjussi tersenyum. “…sudah… atau ahjussi akan terlambat…”

“baiklah… jaga dirimu… jangan lakukan hal yang membahayakan… ahh… 1 hal lagi…”

“ne…!”ujar Hye na, tersenyum menatap Jung ahjussi

“tekan 1 untuk menghubungi Jung min… atau 2, itu nomor ponsel ahjussi jika terjadi sesuatu…”



“ne… hati-hati ahjussi…”ujar Hye na menatap tersenyum ahjussinya itu yang kemudian melangkah pergi meninggalkan Hye na “ahhhh… habiskan susu itu…”ujar Jung ahjussi sebelum menghilang di balik pintu. Hye na menganggukan kepalanya, mengiyakan.

*********

Matahari semakin terik, memancarkan sinarnya. Jung min terlihat diam dengan sebuah senyum simpul yang terus merekah diwajahnya. Hal ini tidak seperti biasanya. Goo Jung min yang selalu serius dan hampir tidak pernah tersenyum dalam satu hari, kini ia terlihat mengembangkan senyum diwajahnya, terus sepanjang hari itu.

“anda terlihat sangat senang tuan…”ujar pak Jang tiba-tiba, tersenyum menatap senyum yang masih merekah diwajah Jung min. Jung min mengalihkan pandangannya menatap pak Jang yang berdiri dibelakangnya. Masih dengan senyum yang terlukis diwajahnya, Jung min bangkit dari tempatnya melangkah mendekati pak Jang “…ne…”

“apa karena rencana itu…?”

Jung min diam, senyumnya semakin melebar. Pak Jang ikut tersenyum menatap Jung min “… saya sudah menyelesaikan semuanya doronim… apa yang perlu saya lakukan lagi…?”

“eehhhmmmm… bagaimana dengan makanannya… apa kau sudah memesannya…?”

Pak Jang tersenyum menatap Jung min namuns edikit terbersit dipikirannya sesuatu yang tidak wajar dan bertolak belakang “…saya sudah mendapatkan restrorannya.. namun saya ragu untuk memilih menunya sendiri… jadi…” ujar pak Jang yang terdengar hati-hati mengatakannya. Ia tidak ingin menghilangkan senyum di wajah tuan mudanya itu.

“ne… tak apa… biar aku yang mengurus sisanya…”

“ne…”

Keduanya terdiam, Jung min terlihat kembali menatap awan yang berarak dari jendela ruang kerjanya “…udaranya cerah…”ujar Jung min, yang teringat sesuatu dan dengan tiba-tiba membalikkan tubuhnya menatap pak Jang “…pak Jang… berikan ponselku…”ujar Jung min.

“de?!?!”

“ponselku…”ujar Jung min lagi, memperjelas. Pak Jang diam ditempatnya menatap Jung min kemudian segera mengambil ponsel Jung min di saku jas kerja Jung min yang tersampir di kursi tak jauh dihadapannya.

Jung min menekan sebuah angka, dan segera tersambung “…yobseyo…”sapanya. Jung min membalikkan tubuhnya, masih dengan senyum diwajahnya. Pak Jang diam menatap senyum itu, benar-benar takjub, Senyum tuan mudanya dapat bertahan selama itu.

“…errrmmm… kau dimana…?”ujar Jung min yang terdengar berhati-hati. Pak Jang diam, dan mulai tertarik dengan pembicaraan Jung min melalui ponselnya itu. Ekspresi dan gaya bicara Jung min tidak seperti biasanya. Ia terdengar dan terlihat seperti yang semua orang katakan bila seseorang mengalami perasaan jatuh cinta. Pak Jang terdiam, memikirkan sesuatu, hingga…

“pak Jang…aku pergi… aku pulang malam… jadi batalkan semua rapat hari ini… ganti dengan hari yang lain…”ujar Jung min yang kemudian mengambil jasnya, melangkah pergi tanpa member kesempatan apapun pada pak Jang untuk menghentikannya. Pintu tertutup di hadapan pak Jang, meninggalkan seribu tanda tanya dikepalanya.

********

Hye na melangkah perlahan, menatap sekelilingnya sesekali. Melangkah perlahan dibawah naungan pohon yang rindang, ditemani oleh angin yang berhembus. Hye na menghela napas, menikmati apa yang ada disekelilingnya.

Terlihat seseorang tengah diam menatapnya. Senyum tak ada habisnya menghiasi bibirnya. Tak henti pula ia mencurahkan perhatiannya pada wanita yang melangkah perlahan di depannya. Dengan tekat yang diambilnya, akhirnya ia memutuskan…

“…matahari semakin terik Hye na…”ujar orang itu sambil kemudian membuka payung yang dibawanya dan melangkah dibawah payung tersebut bersama Hye na. Hye na menatap terkejut orang itu.

“oppa…”panggil Hye na, terkejut dengan kedatangan orang yang kini berdiri di sisinya. Orang yang dipanggilnya oppa hanya diam, tersenyum menatap Hye na.

“apa yang kau lakukan…?”tanya orang itu lagi.

“…kau sendiri oppa… apa yang Sung Min woo lakukan disini di pagi yang beranjak akan siang seperti ini.. apa tidak ada pasien lagi…”

“ahni… tidak ada… dan aku merasa bosan, jadi aku kemari… lalu kau sendiri… tidak biasanya kau tidak menghabiskan harimu dengan memanah…atau… berkuda”

“ahhhh… karena… ini…”ujar Hye na sambil menunjukkan tangan kanannya yang diperban. “dan untuk berkuda… karena ini… ahjussi melarangku…”ujar Hye na sambil kemudian mengusap perutnya yang sudah mulai terlihat membesar.

“hey..!! ada apa dengan tanganmu ini…”seru Min woo terkejut dengan apa yang dilihatnya. Min woo dengan cepat mengambil tangan Hye na yang terluka, mengangkatnya dan menatapnya “…apa yang terjadi… kenapa bisa…”

Hye na tersenyum lebar, merasa sangat bersalah kemudian menarik tangannya dari genggaman Min woo dan melangkah pelan, meninggalkan Min woo.

“aku yang salah…”ujar Hye na sambil melangkah perlahan. Min woo diam dan dengan cepat ia menyusul langkah Hye na “…apa yang terjadi…?”tanya Min woo lagi, benar-benar merasa khawatir.

Hye na menghentikan langkahnya dan menatap Min woo yang berdiri disisinya, tak lama, kemudian Hye na menundukkan kepalanya, penuh dengan penyesalan. “…aku berlatih memanah terlalu keras… jadi membuat tanganku seperti ini…”jawab Hye na

“auuushhh… seharusnya kau memperhatikan kata-kata Jung ahjussi”ujar Min woo. Hye na diam, tersenyum “auuushhh… tapi tidak apa-apa bukan…? Gwenchana…?”

“ne… sudah lebih baik… “jawab Hye na senang. Ia benar-benar merasa diperhatikan. Berbeda dengan seseorang. Hye na mengeluh memikirkan hal itu. “ayo kita masuk…”ujar Min woo kemudian “… semakin panas… tidak baik dengan dirimu dan anak dalam kandunganmu… auuushhh… kau sekarang benar-benar harus memperhatikan dirimu…”ujar Min woo.

“apa… kau mengkhawatirkanku oppa…?”tanya Hye na, menatap Min woo tersenyum senang, mengharapkan sesuatu. “ne… tentu saja… aku sangat mengkhawatirkanmu… jadi jangan lakukan hal bodoh lagi…” ujar Min woo yang membuat senyum Hye na semakin terlihat melebar “…sekarang ayo kita masuk…”ajak  Min woo lagi.

“de” jawab Hye na yang kemudian melangkah bersama Min woo masuk kedalam. Senyum Hye na masih terlihat diwajahnya, hingga ketika keduanya melangkah akan masuk kedalam rumah, seseorang menghentikan langkah keduanya dengan tatapan tajamnya.



“ommo!!!” Hye na terlonjak sesaat setelah menatap Jung min yang berdiri dihadapannya, menatap dirinya dan Min woo bergantian dengan pandangan menilai sekaligus marah “Kau mengejutkanku…”ujar Hye na, menekan dadanya pelan

“apa yang kalian berdua lakukan…?”selidik Jung min, menatap Hye na dan Min woo bergantian. Hye na menatap Min woo sesaat, bingung dengan pertanyaan Jung min, begitu pula dengan Min woo yang memandang Hye na bingung lalu mengalihkan pandangannya menatap Jung min dihadapannya.

“apa maksudmu Jung min-ssi…?”tanya Min woo

“kalian…”Jung min menghentikan ucapannya, menatap Hye na tajam.

“auuushhh….apa maksudmu…”ujar Hye na yang semakin kesal dengan Jung min

“kalian…”

“apa…?!?!”tanya Hye na menunggu.

“aiisshhh…”

“auuushhhhh!!! Terserah kau saja… aku lelah…”ujar Hye na yang kemudian melangkah masuk kedalam, tanpa mempedulikan Jung min yang menatapnya tajam, tak lama Min woo menyusul langkah Hye na, masuk kedalam, membuat Jung min semakin kesal ditempatnya. “Yaaaaiiiisssshhh”

*********

Matahari semakin meninggi. Panasnya terasa semakin menusuk, namun angin yang berhembus, berhasil mengusir sedikit panas yang menusuk kulit hingga tulang dan terasa menyejukkan. Hye na tengah menikmatinya dengan ditemani secangkir teh hangat dan buku ditangannya. Ia begitu menikmati, hingga…

“auuushhh… apa yang kau lakukan… biar aku saja yang menyiapkan makan siang…”seru seseorang tiba-tiba. Hye na diam ditempatnya. Sama sekali tidak memperdulikan dan tidak ingin peduli.

“auuushhh… Jung min-ssi… aku lebih lama mengenal Hye na… jadi… biarkan aku saja… aku lebih sering memasakkan sesuatu untuknya… jadi jangan merepotkan diri anda sendiri…”jawab laki-laki yang lain.

“ahni… aku tidak merasa repot jika itu untuk anakku…”ujar Jung min seakan menegaskan jika dia yang lebih berhak atas Hye na karena anak yang dikandung olehnya adalah benih cintanya, dengan Hye na(???) dan anak itu ada dalam perut Hye na.

Hye na terdiam, mendengarkan. Sesaat rasa marah dan kesal mengusiknya, perlahan Hye na memejamkan matanya sesaat, menarik napas panjang, dan menghembuskannya pelan berusaha untuk menyabarkan dirinya, tidak ingin terganggu oleh apapun. Hye na mengambil cangkir teh nya dan perlahan mulai meminum airnya sedikit  “YYA!!! Kau mengacaukannya!!!” seru seseorang kemudian yang berhasil membuat Hye na tersedak karena terkejut saat ia meminum air tehnya.

“auuushhh… sebenarnya apa yang mereka lakukan…”gumam Hye na semakin kesal, dan kemudian bangkit dari tempatnya, melangkah ketempat kekacauan itu berasal.

“YYA!!! Kalian berdua hentikan!! Auuushhh…”seru Hye na tiba-tiba menatap Min woo dan Jung min yang terlihat tengah berebut sendok sayur besar dan celemek masak. Kedatangan Hye na membuat keduanya berhenti dengan kegiatan kekanakan mereka.

Hye na melangkah mendekat dan berdiri diantara keduanya. Menatap keduanya kesal, memarahi dengan pandangannya, seakan tengah memarahi anak kecil yang bandel. Jung min dan Min woo menundukkan kepalanya diam. Dengan cepat, Hye na mengambil celemek ditangan Jung min dan sendok sayur besar ditangan Min woo.

“auuushhh… tidak akan selesai jika kalian begini…”ujar Hye na. Ketiganya terlihat diam. Hye na mendesah pelan, menatap 2 orang dihadapannya bagai tersangka sebuah kasus yang sangat besar yang akan membuat keduanya dijatuhi hukuman mati atau pancung. Hye na menghela napas lagi kemudian menundukkan kepalanya, mengambil keputusan “… baik… begini saja… kalian berbagi tugas… buat sesuatu yang enak dan menyehatkan…apa kalian bisa…?”

“ne”jawab keduanya bersamaan dan dengan keyakinan yang sama, membuat Hye na diam dan menatap keduanya bergantian “… bagus… kalau begitu kalian bisa memulainya sekarang… semua bahan ada di lemari es… dan jangan berebut apapun lagi…”ujar Hye na, menatap keduanya mengancam.

Bersamaan keduanya menjawab tantangan Hye na dengan sebuah anggukan mantap. Membuat Hye na tersenyum simpul menatap keduanya.



“aneh…”ujar Hye na pelan yang kemudian meninggalkan keduanya berkutat dengan tugasnya masing-masing untuk menyenangkan seorang Jung Hye na.

*******

Hye na benar-benar merasa sangat lelah saat itu. Tidak menyangka hanya menunggu ia merasakan lelah yang sangat. Perlahan Hye na merebahkan tubuhnya, memposisikan tubuhnya agar lebih nyaman dan kemudian mulai memejamkan matanya. Tidurnya berhasil membawa dirinya ke alam mimpi, jauh, dan berhasil membuatnya tersenyum di tidurnya.

“Hye na…”panggil seseorang tiba-tiba, sambil merapatkan selimut yang memang ia pakaikan pada Hye na sebelumnya. Hye na diam, masih tersenyum dan masih terlelap dalam mimpinya. Orang itu terlihat tersenyum menatap itu. “jika kau tidur, lebih menyenangkan…”ujar orang itu sambil mengusap lembut kepala Hye na dan perlahan menyibakkan rambut Hye na yang menutupi sebagian wajahnya, tapi hanya sesaat, karena…

“YYA!! Jung min-ssi… apa yang kau lakukan… kau harus menyiapkan meja makan…”ujar Min woo tiba-tiba, menatap Jung min yang duduk disisi Hye na yang masih tertidur.

“auushhh… bisa lebih memelankan suaramu tidak….”ujar Jung min kesal

“auuhh…aigooo… kau ini…” keluh Min woo yang kemudian kembali masuk kedalam dapur dan menghilang. Jung min menatap kesal Min woo, kemudian segera mengalihkan pandangannya ketika ia mendengar sebuah suara. Hye na mulai membuka matanya, menatap Jung min dan terkejut…

“MWO?!?! Kau…!! Apa yang kau lakukan…?”ujar Hye na terkejut dengan keberadaan Jung min yang duduk disisinya.

“ahniyo… hanya ingin membangunkanmu… makanannya sudah siap…”ujar Jung min yang terlihat sedikit gugup dan ia juga sama sekali tidak berani menatap Hye na. Hye na menatap Jung min sesaat kemudian mengalihkan pandangannya menatap dirinya yang tertutup selimut. “ayo makan… dan kita kedatangan tamu…”ujar Jung min yang kemudian segera bangkit dari tempatnya.

“siapa…?”

“kau akan tahu nanti…”ujar Jung min yang segera membalikkan tubuhnya dan beranjak dari tempatnya itu. Hye na terdiam ditempatnya, menatap kepergian Jung min dengan satu pertanyaan.

Perlahan Hye na mulai bangkit dari tempatnya, melangkah cepat kearah ruang makan, dimana semuanya telah siap dan disiapkan. Hye na menatap meja makan sesaat sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya menatap seseorang karena panggilannya.

“ anyong Jung Hye na-ssi…”ujar orang itu, yang bangkit dari tempatnya begitu menatap kedatangan Hye na. Hye na menatapnya. “kau…” dan mengalihkan pandangannya pada Sung Min woo yang duduk dihadapan orang itu.

“ahhh… itu… maafkan aku.. aku yang memaksa Min woo oppa untuk mengajakku kemari…”ujar orang itu lagi. Hye na diam, namun tatapannya masih tertuju pada Min woo “…oppa…”gumamnya pelan. Saat itu Jung min terlihat diam ditempatnya, mempermainkan sendok ditangannya, menundukkan kepalanya, tanpa menatap ketiga orang yang bersamanya di tempat itu.

“…kita  belum sempat berkenalan…”ujar orang itu lagi menatap Hye na. Hye na diam, tanpa ekspresi atau apapun.

“lebih baik kau duduk dulu… aku benar-benar takut melihatmu berdiri terlalu lama…”ujar Jung min yang tiba-tiba angkat bicara, menghampiri Hye na dan membawanya untuk duduk. Hye na diam dan mengikuti ucapan Jung min yang membawanya untuk duduk di sisi orang itu, namun… “ahni… tempatku disana…”ujar Hye na yang kemudian menunjukkan tempat duduk di sisi kanan Jung min yang membuat dirinya kini diapit oleh Min woo dan Jung min.

“ahhh… baiklah…”ujar Jung min yang mengikuti langkah Hye na, berjaga dibelakangnya.

“aku bisa melakukannya sendiri Jung min-ssi… tidak perlu membuatku terlihat seperti orang yang sakit parah…”ujar Hye na melepaskan cengkraman tangan Jung min di lengannya. Jung min menatap Hye na diam, dan membiarkan dirinya berjalan ke tempat yang ia inginkan. Hye na duduk kemudian, Jung min menyusul Hye na untuk duduk. Setelah semuanya duduk, orang itu terlihat mulai membuka mulutnya lagi “… perkenalkan… aku Yeon Yoon su…”ujar orang itu. Hye na diam ditempatnya.

“aku…”

“ne… aku sudah tahu… tapi… maaf apa kita bisa makan sekarang…”ujar Hye na yang kemudian mulai mengambil makanan dihadapannya, membuat Yoon su, diam menatap Hye na tidak mengerti, kemudian mengalihkan pandangannya menatap Min woo yang duduk dihadapannya. “…sudah makanlah…”ujar Min woo, menatap Yoon su tersenyum, yang kemudian Min woo terlihat mengambilkan Yoon su beberapa makanan dihadapannya dan meletakkannya di mangkuk Yoon su. Hye na menatapnya dan tiba-tiba Hye na meletakkan dengan keras sendok dan sumpit ditangannya, membuat ketiga orang yang ada disekelilingnya menatapnya bingung “…waeyo…?”tanya Jung min menatap Hye na.

“…aku lelah… ingin tidur saja…”jawab Hye na, yang kemudian bangkit dari tempatnya.

“tunggu …”panggil Min woo tiba-tiba, membuat Hye na, Jung min dan Yoon su diam menatapnya, menunggu, tapi… “kau belum makan Hye na-aa…”tambah Jung min, mendahului Min woo seakan tahu apa yang akan dikatakan olehnya.

Hye na mendesah “…ahniyo… gwenchana… aku hanya ingin tidur sekarang…”ujar Hye na, menatap Jung min kemudian segera mengalihkan pandangangannya menatap Min woo yang menatapnya sedih. Hye na mengerti tatapan itu, yang akhirnya membuat ia memutuskan untuk mengatakan sesuatu.

Hye na memejamkan matanya sesaat sebelum akhirnya memutuskan untuk mengatakannya “…maafkan… aku… Kim…Yoon su-ssi… tapi… aku benar-benar lelah sekarang… maafkan aku…”ujar Hye na yang terdengar kaku.

“ahhh.. ne… gwenchana… kau memang harus banyak istirahat…”jawab Yoon su. Hye na tersenyum, dan mengalihkan pandangannya menatap Min woo dengan tatapan yang mengatakan “bagaimana… kau puas sekarang…?” . Hye na tersenyum dan kemudian segera membalikkan tubuhnya dan  beranjak pergi.

*********


Hye na membuka matanya. Malam sudah datang menghampirinya. Menggantikan siang hari yang ditemani si mentari menjadi malam yang gelap ditemani oleh sang bintang. Hye na melemaskan otot-ototnya. Ruangannya gelap saat itu. Tidak ada lampu yang menyala dan ruangannya hanya diterangi oleh sinar bulan yang masuk melalui tirai jendela yang masih terbuka. Perlahan Hye na bangkit dari tempatnya, dan melangkah pelan, keadaan sangat gelap saat itu, hingga ia tidak menyadari seseorang yang duduk disofa kamarnya dengan kaki panjang menghalangi langkah Hye na membuat Hye na menendangnya.

“akh!”seru orang itu. Hye na diam ditempatnya, terkejut

“siapa?”ujar Hye na, menatap siaga sekeliling kamarnya yang gelap. Hye na masih diam ditempatnya, hingga tiba-tiba lampu kamarnya menyala, menerangi dirinya yang sesaat memejamkan matanya, belum terbiasa dengan cahaya yang terang.

“auuusshhh…”

“gwenchana…?”tanya orang itu, menghampiri Hye na yang menutupi matanya dengan kedua tangannya. Hye na sangat hapal dengan suara itu “…YYA!! Kau belum pulang…”seru Hye na

“aku tidak bisa pulang… makan siang tadi kau belum menyentuh makananmu sedikit pun… aku khawatir…”

Hye na menghela napas berat. Ia sudah sangat paham yang dikhawatirkan laki-laki dihadapannya itu “…tenang saja Jung min-ssi.. semuanya baik… dan aku tidak akan mencelakakan anak ini… jadi pulanglah…”

“ahni… aku akan disini sampai besok… lagipula aku sudah mendapatkan ijin dari Jung ahjussi”

“yaiissshh… tetap saja… kau tidak mendapatkan ijin dariku…”ujar Hye na kesal

“ahni… walaupun tidak mendapat ijin darimu… aku tetap disini…”ujar Jung min, kukuh. Hye na menatap Jung min semakin kesal, sepertinya tidak ada gunanya jika Hye na memaksa laki-laki dihadapannya untuk pergi “auuushhh… yaaiiiiishhh…”ujar Hye na kesal kemudian melangkah pergi.

“mau kemana…?”

“kamar mandi…”jawab Hye na, menatap Jung min kesal “ahhh… baiklah… jika ada apa-apa panggil aku… aku….”ucapan Jung min terpotong. Tiba-tiba ia mendengar sebuah suara asing yang cukup keras. Jung min diam, Hye na diam dan mengerti sesuatu. Dengan cepat Hye na menatap perutnya dan menutupinya dengan kedua tangannya, namun Jung min terlanjur mengetahuinya. Jung min terlihat tersenyum menatap Hye na “…kau lapar…?”
Hye na hanya diam ditempatnya, menundukkan kepalanya, malu. Jung min masih tersenyum “…kalau begitu aku akan membuatkan makanan untukmu… tunggu… apa yang kau inginkan…?”tanya Jung min

Hye na diam, ia masih terlalu malu “…ahh… aku tahu… tunggu… aku akan membuatnya untukmu…”ujar Jung min yang kemudian membalikkan tubuhnya, namun belum sempat ia melangkah, tiba-tiba Hye na menghentikan langkahnya “…ah… chakaman…”panggil Hye na, membuat Jung min membalikkan tubuhnya, menatap Hye na yang masih menundukkan kepalanya.

“ne…?”

“errmmmm… malam ini aku ingin makan iga sapi…”ujar Hye na, menatap Jung min.

“mwo…?!?”

“ne… iga sapi… tapi aku ingin yang dipanggang… bisakah…?”

Jung min diam ditempatnya, menatap Hye na tidak percaya “bisakah…?”tanya Hye na lagi, menatap Jung min penuh harap. Jung min masih diam dan tak lama Jung min mengangkat jam ditangannya “…jam 2 malam..”gumam Jung min lirih

“bisakah…?”

“dimana aku bisa mendapatkan masakan iga sapi selarut ini…”gumam Jung min

Hye na menghela napas “… tidak bisa ya…”ujar Hye na lemah yang kemudian membalikkan tubuhnya “huuufttt…baiklah… siapkan apa saja…”ujar Hye na kemudian yang melangkahkan kakinya perlahan kearah kamar mandi

“tunggu… aku bisa… tapi… kau harus menunggu…”

Hye na diam, senyum lebar merekah diwajahnya “…ne… aku akan menunggu…”ujar Hye na yang menatap Jung min senang, dan berhasil membuat Jung min sangat senang karena berhasil membuat wanita dihadapannya tersenyum senang.

“kalau begitu… aku masuk dulu…”ujar Hye na yang kemudian masuk kekamar mandi dan menghilang dibalik pintu.

Jung min menatap pintu yang tertutup dihadapannya, kemudian menghela napas panjang “…bagaimana ini…?”ujar Jung min lirih. Jung min diam sesaat, kemudian teringat sesuatu. Ia mulai mengambil ponselnya dan menekan sebuah nomor speed dial disana yang tak lama segera terhubung ke ponsel seseorang.

********

 Jung min tersenyum menatap sesuatu ditangannya. Senyum keberhasilan semakin terlihat saat ia memasuki sebuah halaman rumah peternakan. Jung min memarkirkan mobilnya kemudian mengambil sesuatu disisinya. Jung min mencium senang barang yang dibawanya kemudian melangkahkan kakinya masuk, namun langkahnya terhenti.

Hari semakin larut saat itu, ia tidak habis pikir melihat seseorang yang berdiri diam menatap pintu dihadapannya.

“permisi…”sapa Jung min, melangkah mendekat, mulai merasa takut. Orang itu segera membalikkan tubuhnya begitu menatap Jung min. Jung min diam “… anda mencari seseorang tuan…?”tanya Jung min

“ahhh… de… aku mencari seseorang… Hye na… apa aku bisa bertemu dengannya…?”
Jung min diam, menatap menilai pada laki-laki paruh baya dihadapannya. Ia sama sekali belum pernah bertemu dengan laki-laki ini, apalagi jika berhubungan dengan Hye na, yang ia tahu laki-laki paruh baya yang dekat dengan Hye na hanya Jung ahjussinya, dan selalin itu Jung min tidak pernah tahu, namun…

“ahhh.. kalau begitu masuklah… Hye na bangun tadi… dia memintaku untuk membelikanya ini… duduklah… aku panggilkan dia…” ujar Jung min tanpa mengetahui siapa atau memiliki urusan apa dengan Hye na.

Jung min melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan dimana kemungkinan Hye na berada, namun belum sampai ia diambang pintu ruangan itu, seseorang keluar dari ruangan tersebut.

“auuushhh… kau lama sekali… apa…” langkah dan ucapan Hye na terhenti saat ia menatap laki-laki paruh baya yang berdiri begitu ia menatap Hye na. Jung min diam ditempatnya, menatap Hye na dan laki-laki itu bergantian. Keduanya memiliki tatapannya yang berbeda. Hye na terlihat menatap laki-laki itu marah sedangkan laki-laki paruh baya di hadapannya menatap Hye na dengan tatapan penuh dengan kerinduan dan kesedihan yang sangat.
Kemarahan benar-benar terlihat diwajah Hye na, “siapa yang menyuruhmu masuk”ujar Hye na marah

Jung min diam, menatap bingung dan bergantian Hye na dan laki-laki itu “…aku…”jawab Jung min, yang berhasil membuat Hye na memalingkan wajahnya menatap Jung min “ahhh… aku pikir dia…”

“suruh dia pergi..”potong Hye na, menatap Jung min kesal

“tapi…”

“Hye na tunggu… maafkan aboji…”

“jangan katakan kata itu lagi… ayahku sudah meninggal… sekarang pergi…”ujar Hye na. Jung min diam, sekarang ia mengerti segalanya. Ia menatap tajam laki-laki paruh baya dihadapannya.

“aku mohon…”ujar orang itu.

“sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi… pergi dari sini…”ujar Hye na, membalikkan tubuhnya, membelakangi laki-laki itu “ternyata dia tuan Lee…”batin Jung min. Jung min terlihat menundukkan kepalanya sesaat “…suruh dia pergi…”ujar Hye na kemudian, menatap Jung min

“tapi…”

“atau aku yang akan pergi…”

“ahni…”

“baik… aku akan pergi… tapi tolong pikirkan perkataan aboji sebelumnya… ini harapan terakhir aboji…”ujar tuan Lee yang kemudian memutar tubuhnya dan melangkah pergi keluar dari ruangan itu

“chakaman…”panggil Hye na, menghentikan langkah tuan Lee. Tuan Lee terlihat memutar tubuhnya dan tersenyum senang, mengharapkan akan sesuatu.

“…aku sudah memikirkannya…”ujar Hye na, menatap tuan Lee dan Jung min bergantian. Tuan Lee masih diam, Jung min menatap Hye na menunggu.

“aku akan menikah dengan Goo Jung min…dan tidak ada yang lain…. Jadi jangan memaksa lagi… tidak ada pembicaraan tentang hal ini lagi… aku sudah memutuskannya… dan sekarang… pergi…”ujar Hye na, menatap Tuan Lee tajam penuh dengan keyakinan, yang berhasil membuat Tuan Lee terkejut ditempatnya menatap Hye na tidak percaya, ia menundukkan kepalanya tidak tahu apa yang harus dilakukan lagi.

Sedangkan Jung min, ia menatap Hye na terkejut dengan wajah yang tidak percaya, benar-benar tidak menduga tentang ini. Ia percaya, ia akan menikah dengan Hye na, tapi…

“Jung min-ssi…”panggil Hye na, sambil masih manatap tuan Lee yang berdiri dihadapannya, dengan tubuh membelakanginya

“d..de?!?”

“aku ingin menikah besok… dan benar-benar besok… apa kau sudah siap…?”

“MWO?!?”seru Jung min membuatnya menatap Hye na semakin tidak percaya. “Besok?!?!” tanya Jung min tidak yakin

“ne… dan aku harap kau tidak melakukan apapun Tuan Lee… jika Sesuatu terjadi… aku tidak akan pernah memaafkanmu…”ancam Hye na, yang kemudian memutar tubuhnya dan masuk kedalam ruangannya, meninggalkan banyak kejutan pada Jung min dan Tuan Lee.

End Of Chapter