UNTITLED
[/b][/b][/b]
Cast :
Lee Min Ho as Jang So Jun
Dia adalah salah seorang anak yang jenius di sekolahnya.
Ia selalu mengikuti lomba, kompetisi, dan olimpiade agar ia bisa mendapatkan uang untuk bertahan hidup.
Dan ketika ia mengikuti program pertukaran pelajar di Kobe, tanpa diprediksi ia menjadi salah satu korban gempa di Kobe pada tahun 1995, di sana juga ia bertemu seorang anak yang agak aneh bernama Park Hae Won, yang kemudian secara tidak resmi ia angkat menjadi adiknya.
Ia menghabiskan waktunya bersama-sama dengan adik angkatnya sampai ia sukses dan berhasil meraih impiannya sebagai salah satu perancang mobil utama di Korea Selatan, yang tenaga kerjanya dibutuhkan di mana-mana, bahkan sampai ke luar negeri.
Goo Hye Sun as Park Hae Won or Jang Hae Won
Sekilas, tak ada yang istimewa dari seorang gadis seperti Hae Won.
Ia tak bisa merasakan rasanya duduk di bangku pendidikan sejak kecil karena ibunya sangat menganggap aneh anak ini dan dengan So Jun pun ia tak mempunyai kesempatan untuk belajar secara formal karena kesulitan ekonomi.
Dari kecil sampai besar, pekerjaannya hanya berada di dapur. Ia selalu menyelesaikan pekerjaan rumah tangga untuk So Jun yang selalu bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.
Ia sering dikira orang-orang adalah kekasih dari Jang So Jun, kakak angkatnya. Karena So Jun kelihatan sangat menyayangi Hae Won.
Oh, ya. Dia adalah anak yang mempunyai kemampuan untuk melihat hal-hal aneh lewat mimpinya.
![[hmpfh]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/hmpfh.gif)
Son Ye Jin as Cha Yeun Ja
Dia adalah seorang pekerja pindahan dari Amerika Serikat yang kebetulan menjadi partner kerja Jang So Jun.
Ia selalu bisa memberikan pengertian bagi So Jun yang membutuhkan sosok ibu. *ingat, [hmpfh]ibu
![[hmpfh]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/hmpfh.gif)
* Ia juga menerima dan menyayangi Hae Won sebagai adik dari So Jun.
Kita lihat saja seberapa besar cinta seorang Cha Yeun Ja terhadap Jang So Jun dan terlebih lagi terhadap calon adik iparnya…
![[hmpfh]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/hmpfh.gif)
![[hmpfh]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/hmpfh.gif)
Yang lainnya, aku tambahin sendiri, ya…
PROLOG
Kobe, Jepang, 17 Januari 1995, 05:30:18 am (16 menit 24 detik sebelum gempa bumi dahsyat mengguncang Hanshin-Awaji)"Omma, aku takut--"
Seorang anak perempuan yang kira-kira berumur 11 tahun itu tiba-tiba saja keluar dari kamarnya dengan wajahnya yang putih pucat seperti hantu, rambut hitam pekat yang acak-acakkan, dan mata coklatnya yang menyala-nyala. Ia baru saja bermimpi buruk.
Ibunya mengerutkan kening sebentar, di tangannya terselip sebatang rokok dan tepat di hadapannya adalah beberapa botol bir yang sudah dibuka.
"Masuk--"perintah suara ibunya dengan dingin, meskipun sudah 3 tahun berada di sini dan menguasai bahasa Jepang dengan fasih, ia masih menggunakan bahasa Korea apabila berkomunikasi dengan anak perempuannya yang dianggapnya agak memiliki kelainan mental itu.
Anak itu ragu-ragu, wajahnya kelihatan takut sekali, seluruh tubuhnya gemetar hebat. Bayangan tanah yang terbelah, orang-orang menangis, tewas, dan berteriak minta tolong itu berkelebat lagi dalam pikirannya. Tapi pada akhirnya, ia menyerah dan menyeret kakinya sendiri yang terbungkus celana kebesaran itu untuk kembali ke kamar.
***
CHAPTER 1
“Hei, kadang-kadang aku suka bingung bagaimana dua orang di dunia ini bisa bertemu dan saling jatuh cinta—“
Jang So Jun, pemuda Korea berumur 15 tahun, bangun dengan tubuh yang hampir mau remuk. Ia melihat langit-langit kamarnya telah berubah menjadi langit-langit sebuah tenda yang remang-remang dan kekurangan penerangan itu.
Dengan enggan ia akhirnya bangkit dari tanah keras yang beralaskan tikar berbahan parasut itu. Ia memperhatikan keadaannya sendiri terlebih dahulu, sweater warna abu-abu dan celana piyama longgar yang dikenakannya robek di sana-sini. Wajahnya dan seluruh tubuhnya terasa sakit semua.
Ketika kaki panjangnya yang terbalut celana longgar berjalan melewati orang yang menangis meraung-raung dengan posisi yang saling berdempetan itu, ia berusaha mengingat apa yang terjadi kemarin malam, tapi seingatnya kemarin malam ia hanya bersiap-siap untuk duduk sebagai pelajar di Kobe.
Ketika akhirnya ia keluar dari tenda yang pengap itu, ia baru menyadari apa yang telah terjadi. Gempa bumi. Bangunan-bangunan di sekitarnya runtuh dengan tanah, tak ada bangunan yang masih berdiri, dan orang-orang yang nampaknya sudah tewas tergeletak di mana-mana.
Kaki So Jun mendadak lemas melihat pemandangan di sekitarnya. Ia teringat teman-temannya dan memikirkan keberadaan mereka, tak sekalipun sejak dari tadi ada seseorang yang dikenalnya melintas di hadapannya. Ia mencoba mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, ingin menemukan bangunan yang merupakan asramanya. Tapi, hasilnya nihil. Ia tak bisa lagi mengenali bangunan-bangunan di sekitarnya.
Ia hampir ingin pingsan sebelum akhirnya ia mendengar sebuah suara yang lemas dari tempat yang dianggapnya sudah mati itu.
“Ajossi—“
Ia berusaha menyadarkan dirinya sendiri, kalau-kalau ia sudah berimajinasi terlalu hebat sehingga ia sampai mendengar suara yang menyuarakan bahasa Korea dengan fasih di kota Kobe, apalagi di situasi seperti ini.
Tapi, suara itu terdengar lagi di balik reruntuhan bangunan di dekatnya, “Ajossi, tolong aku—“
Ketika ia sudah dekat sekali dengan sumber suara itu, ketidakyakinan mulai meliputi seluruh tubuh dan pikirannya.
“Ajossi—“Suara itu kerap terdengar lagi dan akhirnya So Jun tak bisa membuang waktu lagi, dengan kedua tangannya yang kokoh dan kuat untuk anak-anak seumurannya, ia mulai menggali reruntuhan bangunan itu, sampai ia akhirnya menemukan seorang anak perempuan yang umurnya tak lebih dari dari 11 tahun sedang meringkuk dengan posisi yang memprihatinkan di balik reruntuhan itu, ia diselimuti selimut warna coklat muda yang sudah compang-camping, tubuhnya luka sana sini, bajunya sudah robek di mana-mana.
“Ya Tuhan!”pekik So Jun, ia tak dapat berbuat apa-apa saking terkejutnya melihat kondisi anak itu, keadaannya lebih parah dari dirinya sekarang ini.
“Tolong aku, Ajossi—“gumam anak itu selanjutnya.
Suara lemah itu terdengar lagi dari mulut kecil gadis tak berdaya itu. Bibirnya merah diliputi darah segar. Tanpa memedulikan gadis itu yang memanggilnya ‘Ajossi’ dengan agak lancang, So Jun menggendong anak perempuan itu keluar dari reruntuhan bangunan itu.
Tangan itu lalu meremas lengan baju So Jun yang sudah robek dengan sangat keras, membuat kerusakan yang lebih parah pada sweater rajut itu.
“Gwenchanseumnida?”tanya So Jun pada anak perempuan dalam gendongannya itu. Kedua tangannya gemetar hebat, seringan apa pun perempuan itu, sekarang, ia membutuhkan perjuangan keras agar dapat membawa anak itu ke tenda beralaskan tikar parasut itu.
Seorang relawan akhirnya mendekati mereka berdua, dia berbicara dalam bahasa Jepang, “Anak ini kenapa?”
“Aku menemukannya di balik reruntuhan—“jawab So Jun singkat dalam bahasa Jepang, ia menggeletakkan anak itu begitu saja dalam tenda itu, lalu ia memperhatikan anak perempuan itu baik-baik.
Relawan itu akhirnya bertanya lagi padanya dalam bahasa Jepang, “Kau kerabatnya?”
So Jun tidak menggeleng, tapi juga tidak mengangguk, ia juga tak berusaha menjawab, ia hanya terdiam tanpa dapat berkata apa-apa.
***
So Jun merasakan anak yang tidur di sampingnya ini bergerak sedikit—hanya sedikit—tapi syukurlah, setidak-tidaknya ia sudah tahu kalau tidak terjadi hal yang serius pada anak ini.
“Hei, Dongsaeng—“panggil So Jun sambil menepuk pelan pipi putih kemerahan yang diliputi beberapa luka kecil itu.
Untunglah, beberapa menit kemudian, mata itu terbuka, segera menyorot So Jun yang berada tepat di sampingnya.
“Ajossi?”Anak itu mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali.
“Ada apa?”tanya So Jun sambil memperhatikan anak itu.
Anak itu kemudian menoleh ke arah lain, mencoba berpikir sebentar mungkin sekadar menjernihkan pikiran. Tapi, ketika bertemu pandang dengan So Jun lagi, wajah itu berubah menjadi pucat.
“Aku—“Gadis itu terbata-bata. “Aku takut—“
So Jun segera memakluminya. Terperangkap di balik reruntuhan bangunan selama beberapa jam tentu bisa dijadikan alasan gadis ini untuk takut, tapi tiba-tiba gadis ini berubah menjadi histeris.
“Apa itu?!”seru gadis itu tak terduga. “Aku tak bisa mengingatnya! Apa yang tertinggal?!”
“Apa? Apa yang tertinggal?”So Jun tak kalah gelagapannya, ia kaget menyaksikan reaksi gadis itu setelah bangun tidur itu.
“Sesuatu—“Gadis itu menjawab. “Yang tak bisa aku lihat—“
***
Entah kenapa, sejak pertama kali So Jun bertemu dengan anak perempuan itu, tak sedetik pun anak perempuan yang bernama Hae Won itu melepaskan tangannya dari lengan baju So Jun yang sudah agak kumal karena tidak diganti selama dua hari itu.
So Jun sendiri entah kenapa membiarkan anak ini selalu melakukan hal itu. Bahkan, secara tidak langsung, ia telah mengganti nama keluarga anak perempuan ini dengan nama keluarganya, agar anak itu bisa selalu bersama-sama dengannya dengan alasan ikatan kekeluargaan.
“Jang So Jun, Jang Hae Won!”seru lelaki Jepang yang kira-kira berumur tiga puluh tahun itu dengan kerasnya.
Sekarang mereka berdua sedang berada di antara lautan manusia yang terdiri dari warga asing, yang bukan penduduk asli Jepang. Tim evakuasi memang sengaja memisahkan warga asing dan warga lokal. Bagaimana pun juga, bukan hanya terhadap warga lokal saja mereka punya kewajiban, terhadap warga asing pun mereka berkewajiban untuk memberitahukan secara resmi kepada negara mereka masing-masing bahwa mereka menjadi salah satu korban dari gempa bumi berkekuatan 7.2 skala richter di Jepang ini.
So Jun akhirnya membangunkan anak perempuan yang dari tadi tertidur sambil memeluk pinggangnya erat-erat itu. “Hae Won-ya—“
Mendengar suara itu saja, mata Hae Won segera terbuka. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya berkali-kali, sudah seharian mereka menunggu di sini, menunggu nama mereka dipanggil untuk dievakuasi, dan bohong jika ia bilang kalau ia tidak merasa capek sama sekali.
Tapi, ketika mendengar suara So Jun, kelelahan itu mendadak hilang. Ia kemudian mengikuti So Jun yang bangkit berdiri, menuju ke sebuah bilik yang berisi ratusan orang yang juga sedang dievakuasi.
“Hae Won-ya,”bisik So Jun pelan. “Kau tenang saja, ya. Aku sudah bilang kalau kita ini kakak beradik.”
Hae Won mengangguk dengan patuh selagi tangannya merengut lengan sweater abu-abu yang sudah kelihatan kotor itu. So Jun kemudian melirik anak perempuan yang tingginya tak lebih dari bahunya itu, piyama yang dikenakan Hae Won sudah lama tak diganti, sudah kumal, dan robek di sana-sini.
“Tolong isi formulir ini dengan bahasa Inggris.”Lelaki Jepang di hadapannya berusaha melafalkan bahasa Inggris sebaik mungkin.
So Jun mengangguk, mengisi formulir itu. Setelah selesai mengisi formulir untuk dirinya sendiri dan Hae Won, ia menyerahkan lembaran kertas itu pada lelaki Jepang di hadapannya.
“Jadi, kalian kakak beradik?”tanya lelaki Jepang itu pada So Jun dalam bahasa Inggris, mengingat rata-rata warga asing tidak dapat berbahasa Jepang dengan baik, ia mengamati formulir dengan bahasa Inggris itu.
“Ya.”jawab So Jun singkat, diiringi anggukan dari Hae Won yang masih merenggut lengan sweaternya.
“Orang tua?”
“Mereka hilang dalam bencana ini.”jawab So Jun, tapi kali ini, suaranya yang renyah dan ramah itu berubah menjadi suara yang penuh ketegangan, ia tak berani menatap lelaki di hadapannya. Dan ia memang harus mengakui kalau ia selalu merasa sangat gugup dan tegang apabila ia harus berbohong.
“Kalian di bawah umur.”lanjut lelaki Jepang itu. “Dan menguntungkan sekali kalau ada dermawan yang akan membiayai anak-anak di bawah umur ke negara kalian masing-masing.”
So Jun mengangguk-angguk.
“Pesawat pertama yang pergi ke Korea berangkat besok pagi.”kata lelaki Jepang itu. “Karena penerbangan di Kobe hanya penerbangan lokal, dari bandara Kobe kau akan transit ke Osaka International Airport. Tapi jangan heran jika kalian harus berdempetan dengan anak-anak lain.”
So Jun mengangguk lagi.
“Di Korea kalian punya keluarga yang tersisa, kan?”tanya lelaki Jepang itu lagi.
So Jun mengangguk. Lebih baik begini daripada harus memperpanjang masalah. Ia hanya melirik Hae Won sebentar dan mengalihkan pandangannya lagi pada lelaki Jepang itu. “Ada. Bibi kami.”
Hae Won terlihat agak tidak begitu nyaman ketika So Jun bilang bibi kami. Tapi, Hae Won memutuskan untuk diam saja, mungkin karena Hae Won tak dapat memikirkan resiko apabila ia dan So Jun harus berpisah jika ia memprotes perkataan So Jun. Anak ini seperti sudah punya ketergantungan pada So Jun dan entah mengapa So Jun sendiri tak dapat melepaskan ketergantungan yang sudah berlangsung selama dua hari itu.
Akhirnya, setelah cukup berbasa-basi, dengan tangan mungil Hae Won yang masih merengut sweater So Jun, mereka keluar dari ruangan itu.
“Ajossi tadi berbohong.”kata Hae Won pada So Jun. So Jun mendengar suara itu, lalu ia melirik ke arah Hae Won, tidak menjawab.
“Ajossi, kan, tinggal sendiri.”kata Hae Won lagi. So Jun merasa agak terganggu dengan panggilan Ajossi itu lagi, anak ini tak henti-hentinya memanggilnya dengan sebutan Ajossi, walaupun sebenarnya ia masih cukup umur untuk menjadi seorang Oppa. Hello… Maksudnya, So Jun kan masih umur 15 tahun, ia belum menginjakkan kaki ke SMA dan anak perempuan ini memanggilnya dengna sebutan Ajossi.
“Aku memang sudah biasa hidup mandiri.”jawab So Jun, ia tidak berusaha memperbaiki panggilan anak ini terhadap dirinya. “Hei, tapi dari mana kau tau aku tinggal sendiri?”
“Rahasia—“jawab Hae Won sambil tersenyum jail, ingin membuat So Jun penasaran.
***
Seoul, Korea Selatan
Dengan langkah yang agak gentar, Hae Won masuk ke dalam rumah yang kecil dan sempit itu. Baik, bahkan ini tak bisa disebut rumah, ini hanya sebuah kamar kos yang sangat rapi dan teratur dengan sebuah kamar mandi kecil di sudut ruangan dan sebuah dapur yang sangat kecil.
“Ajossi—“panggil Hae Won sambil memperhatikan dapur kecil itu. “Kita akan memasak di sana?”
So Jun mengangguk sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana tidur yang sudah tiga hari yang lalu tidak diganti.
“Memangnya kau bisa memasak?”tanya So Jun tiba-tiba, sadar kalau anak itu baru saja mengucapkan kata ‘kita’.
Hae Won mengangguk dan menjawab. “Ibuku mengajarkanku memasak berbagai macam masakan Korea, Jepang, dan Eropa, agar ketika ia pulang bekerja, ia bisa makan banyak—“
“Aku menghabiskan waktuku hanya untuk berada di dapur—“sambung Hae Won lagi, mencoba menjelaskan pada So Jun yang masih mengerutkan keningnya.
“Bagaimana dengan sekolah?”tanya So Jun dengan kening yang masih berkerut. Pertanyaan di dalam kepalanya bertambah banyak.
“Kata ibuku, ia tak punya biaya untuk menyekolahkanku setelah ayahku meninggal.”jelas Hae Won. “Ia juga bilang sekolah untuk anak sepertiku sangat mahal. Makanya, aku tidak bersekolah selama ini.”
So Jun kemudian tersenyum dan mengelus-ngelus rambut anak itu lagi. Kasihan sekali nasibnya.
“Aku bisa pinjam pakaian Ajossi?”tanya Hae Won pada So Jun, tangannya masih terus memegang lengan sweater yang dipakai So Jun.
“Sebelum itu, aku ingin meminta padamu sesuatu.”ucap So Jun sambil merendahkan tubuhnya agar dapat bertatapan langsung dengan wajah anak perempuan itu. “Jangan panggil aku AJOSSI.”
Hae Won tersenyum manis, lalu So Jun merasakan air liur anak itu menyembur ke wajahnya.
“Hei, kita hanya berbeda 4 tahun dan kau panggil aku AJOSSI.”So Jun memasang tampang yang sangat bersungguh-sungguh sambil mengeluarkan empat jari tangannya, membuat anak ini lebih mudah memahaminya.
“Oh, ya, maaf, OPPA—“jawab Hae Won sambil tersenyum senang. So Jun hanya mencubit pipi anak ini dengan gemas ketika mendengar kata-kata yang keluar dari mulutnya.
“Aku juga minta sesuatu pada Oppa—“kata Hae Won pada So Jun. “Rumah ini kurang pernak-pernik. Jika ada piala lagi, jangan coba-coba untuk menjualnya—“
“Kau tahu dari mana?”So Jun kemudian terlihat agak berpikir keras untuk tahu kapan ia memberitahu anak ini soal dia yang selalu menjual piala-piala hasil kompetisi dan olimpiade yang diikutinya agar ia mendapatkan uang untuk bertahan hidup.
“Apa pun yang Oppa sembunyikan dariku. Walaupun aku tidak begitu senang dengan itu, aku akan mengetahuinya—“kata Hae Won dengan suatu tatapn yang tak dapat dibaca oleh So Jun sekalipun.
“Kamu—“
“Oppa, sebelum Oppa mengetahuinya, aku sudah akan mengetahui itu lebih dulu.”kata Hae Won, pada akhirnya anak perempuan ini hanya membuat bulu kuduknya berdiri semua.
“Kamu punya indra keenam?”tanya So Jun setelah hening panjang. Hae Won menggeleng.
“Ini bukan indra keenam. Kata ayahku, ini hadiah karena aku orang baik.”kata Hae Won sambil menatap So Jun lekat-lekat. So Jun terdiam sejenak.
“Kau berarti sudah tahu akan gempa di Kobe?”tanya So Jun pada Hae Won yang sangat tidak kelihatan sedang bercanda.
Hae Won mengangguk. “Aku juga tau aku tak perlu mencari ibuku. Aku juga tau siapa yang akan menolongku. Dan aku tau kalau ada sesuatu yang tertinggal di Kobe.”
“Apa?”
“Aku juga tidak tahu.”jawab Hae Won pada akhirnya.
So Jun mengangkat bahu, ia ingin tertawa dan memecahkan suasana tegang itu, tapi sepertinya tawanya hanya akan membuat anak seperti Hae Won sakit hati. Anak ini butuh dukungan dan perhatian. “Sudahlah.”
So Jun mengelus-ngelus rambut coklat Hae Won. “Ganti baju sana. Oppa harus mencari lagi kompetisi yang harus Oppa ikuti.”
So Jun kemudian bangkit dari posisinya, memasukkan tangannya ke celananya yang sudah kumal itu. “Hari ini tak bisa lebih baik dari hari-hari sebelumnya—“
***
2 tahun setelah pertemuan mereka…
Angin kencang bertiup kencang sekali. Malam itu sungguh mencekam. Perut Hae Won sudah sangat melilit, sekujur tubuhnya mengeluarkan keringat dingin.
Jam sudah menunjukkan pukul 20.16. Tapi, lelaki itu tak kunjung-kunjung pulang sampai sekarang.
Oppa pasti sedang berbohong padaku.
Sehari sudah mereka tidak makan sesuap nasi pun. Kontrak rumah sekecil ini pun tak bisa dibilang murah, So Jun mati-matian mengikuti berbagai lomba sains dan matematika hanya agar bisa mencukupi kebutuhan mereka berdua.
Dan ketika pintu mendadak terbuka, Hae Won segera menyeret kakinya sendiri ke dekat pintu.
“Oppa—“sambut Hae Won dengan wajah yang terlihat sangat keras dan marah. Tapi, seakan tidak terjadi apa-apa, So Jun dengan seragamnya yang masih lengkap pun tersenyum melihat gadis itu sambil mengangkat sebuah bungkus plastik hitam tinggi-tinggi.
“Oppa mendapatkan makanan—“kata So Jun sambil menutup pintu kamar itu dengan tangannya. Hae Won menatap So Jun dengan tidak senang, sambil menahan rasa sakit yang dirasakan perutnya, Hae Won menunjukkan tanda akan meledak sebentar lagi.
“BUKA BAJU OPPA!”perintah Hae Won dengan dingin dan sangat keras, ia menunggu So Jun melakukan apa yang diperintahkannya.
Tapi So Jun malah menatapnya dengan pandangan aneh. “Kau kenapa, Hae Won-ya?”
“Buka!”teriak Hae Won sambil membuka jas seragam sekolah So Jun dengan paksa. Pada akhirnya, So Jun hanya terperangah melihat tingkah Hae Won yang aneh.
Tapi, segera seketika setelah itu, Hae Won menengadah ke arah So Jun yang lebih tinggi 20 cm darinya.
“Apa yang Oppa sembunyikan dariku?”tanya Hae Won sambil memegang perutnya yang masih melilit karena kelaparan.
“Aku—“So Jun tergagap, tak mengerti ke arah mana pembicaraan ini. Tapi, ia segera mengerti ketika ia mulai sadar anak yang berdiri di hadapannya ini adalah anak yang mempunyai indra keenam—atau hadiah kalau Hae Won menyebutnya—
Tanpa mengijinkan So Jun untuk menjawab, dengan paksa Hae Won membuka kancing kemeja putih yang dipakai So Jun, melepaskannya kemeja itu dan membuangnya jauh-jauh dengan derai air mata yang tak bisa dibendung lagi, entah karena kesakitan atau dongkol karena kelakuan So Jun.
Hae Won lalu memutar badan So Jun yang polos dan menemukan apa yang sebenarnya tak begitu ingin ia temukan.
Air mata itu kemudian mengalir begitu saja melihat luka di sekujur punggung So Jun. “OPPA!”
So Jun kemudian berbalik ke arah Hae Won yang mendadak histeris, menatap wajah Hae Won dengan dada telanjang.
“Aku tak pernah bilang kalau aku mau makan!”seru Hae Won dengan emosi yang tak dapat dikendalikan. “Aku lebih baik menahan lapar daripada harus melihatmu bekerja seperti ini untuk memenuhi kebutuhan kita!”
“Aku lebih baik tak usah jadi adikmu daripada harus menjadi beban tanggung jawabmu! Sudah! Cukup!”seru Hae Won dengan air mata yang masih mengalir. “Aku mau jadi Park Hae Won saja! Aku tak mau membebani Oppa lagi dengan semua ini!”
“Apa katamu?”tanya So Jun kemudian sambil menatap Hae Won yang menangis sesengukan dengan lekat-lekat.
“KAU PIKIR AKU TIDAK MENDENGAR RINTIHANMU KEMARIN MALAM!”seru So Jun, kali ini giliran So Jun yang marah dan Hae Won hanya terdiam sambil berusaha menenangkan dirinya sendiri dan meredakan rasa sakitnya. “Kau pikir aku tidak tahu kalau aku tidak tahu perutmu sedang melilit!”
“Aku baik-baik saja! Aku hanya sedang datang bulan!”teriak Hae Won, berusaha membela diri dan tidak membuat So Jun khawatir.
“Mana ada perempuan yang datang bulan dua kali dalam sebulan?”tanya So Jun, mulai mendekatkan dirinya pada Hae Won yang masih belum bisa menghentikan isakannya.
“Kau tak pernah bisa jujur padaku, aku benci bagian itu.”lanjut So Jun. “Dan sekarang kau ingin jadi Park Hae Won saja? Aku tak akan mengijinkannya!”
“Kau memang beban bagiku!”bentak So Jun diiringi isakan Hae Won yang semakin menjadi. “Tapi kau yang sengaja menciptakan suatu beban bagiku. Beban karena kau selalu membuatku merasa aku selalu kurang baik terhadapmu selama dua tahun terakhir ini, sehingga kau tidak mau menceritakan segala hal kepadaku!”
“OPPA!”balas Hae Won dalam bentakan, menyuruh So Jun untuk berhenti, tapi kemudian, tangan kokoh dan kuat milik So Jun menarik tubuh Hae Won dengan agak kasar ke dalam pelukannya.
“Setelah kau harus menderita menjadi adikku, mana tega aku membuat penderitaan baru untukmu?”tanya So Jun sambil membekap tubuh mungil Hae Won di dalam pelukannya. “Setelah tidak bisa menikmati bangku pendidikan selagi aku bisa menikmatinya, mana tega aku tidak memberimu makanan? Setelah bekerja untuk menyelesaikan segala pekerjaan rumah tangga, mana mungkin aku membuatmu lebih menderita lagi?”
“Aku tidak pernah menderita—“tukas Hae Won sambil berusaha melepaskan wajahnya yang basah karena air mata dari dada bidang So Jun yang polos dan tidak ditutupi sehelai benang pun itu.
Kemudian, menyadari keengganan Hae Won berlama-lama berada di dalam pelukannya, So Jun melepaskan pelukannya. Mengusap air mata Hae Won dengan ibu jarinya.
“Kau. Makan—“perintah So Jun pada Hae Won, ia mendekatkan wajahnya pada wajah basah adik angkatnya itu. “Dan besok, kita jual semua piala dan medali yang ada di rumah ini.”
Hae Won kemudian tak dapat bersuara lagi. Ia mengangguk menyetujui.
“Aku tak mau kau repot-repot membersihkan piala dan medali itu lagi—“tegas So Jun sambil mengacungkan jari telunjuknya. “Lagipula, barang-barang itu sudah seperti sarang nyamuk di sini.”
Hae Won pun memaksakan diri untuk tersenyum.
“Biar kuhitung. Kita bisa mendapat kurang lebih 500.000 won dari hasil penjualan piala dan medali itu.”kata So Jun kemudian. “Medali emasnya itu 24 karat. Dan setelah ini, kita bisa makan makanan enak.”
So Jun mengoceh sendiri lagi dan merangkul Hae Won dengan erat, membawa adiknya itu ke sebuah meja serbaguna yang mereka biasa pakai untuk makan.
***
Kalo jelek, mian yaaa…
![[hmff]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/005.gif)
Gk berbakat nulis sihhh… Apalagi cerita beginian…
Chapter 2 siap mental pas si jin dan para cewe seksoy keluar..
Dan mereka udh dewasa sekali di chap 2…
Udh bukan anak-anak bau kencur kyk gini lagi…
![[hmpfh]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/hmpfh.gif)
![[hmpfh]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/hmpfh.gif)
Mami.. Satu lagi... jangan protes kependekan...
yg ini kubikin di komputer dan lagi gk niat...
cuma lagi pengen ngotak-ngatik komputer dan pengen membuat suatu kisah tentang kasih seorang kakak terhadap
adik ketemu gedenya...
![[on]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/on.png)