Author Topic: The Curse - Chapter Sixteen, Updated 30 Mar'13  (Read 21106 times)

Offline Winda Minsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 679
    • View Profile
Re: The Curse (Spoiler for awhile)
« Reply #315 on: August 24, 2012, 09:10:34 am »

CHAPTER TWELVE












“Every story has an end. But in life, every ending is just a new beginning”


Tanpa tahu makna apa yang terdapat pada kalimat dalam buku bacaan yang berada di pangkuan Joon Sung, Kae Bi berucap tanpa jeda dengan spontanitasnya. Pandangannya menyemat, menjadi satu dengan objek yang Joon Sung kini lihat. Rasa penasaran berkecamuk sebab sedari tadi suaminya itu serius dengan kegiatan ini, tanpa hendak sedikit pun membagi perhatiannya ke arah lain. Tengah malam telah menjelang, tapi Kae Bi mengeluh belum bisa tidur.



“Ada apa?” Helaan nafas Joon Sung sebelum berkata, mampu Kae Bi rasakan dengan baik. Pria itu melirik sekilas dengan jarak dekat yang kini terpaut di antara mereka.


“Anhiyo, Hanya tidak mengerti dengan kalimat tadi” Ia menunjukkan seulas senyum sungkan. Membuat Joon Sung memasang alis menyatu dan mulai mencerna dimana letak topik pembahasan Kae Bi mengenai kalimat tersebut.


“Ini?” Tunjuknya bergeming. Kae Bi mengangguk pelan saat telunjuk Joon Sung mengarah pada selembar dari sekian ratus kertas yang terdapat dalam buku itu.


“Tidak begitu sulit. Kau mampu menjabarkan maknanya dengan baik. Cermatilah lebih teliti” Tukasnya yang hendak mengabaikan Kae Bi lagi, dan kembali kepada kegiatan yang lalu. Membuat gadis itu berpaling dengan sejuta pemikiran mengiringi.


Selang menit berjalan begitu saja. Sepertinya Kae Bi benar-benar mematuhi apa yang di katakan Joon Sung tadi. Sepasang mata coklat yang berbinar itu nampak menerawang lurus bersama pandangannya. Joon Sung mengarah sesaat pada Kae Bi, ia mulai terhenti dan tertegun saat istrinya itu kini telah memasang raut wajah seserius mungkin, entah sejak kapan.


“Masih tidak tahu?” Tanyanya membuka pembicaraan, dan dibalas Kae Bi dengan gelengan lemah. Joon Sung menaikkan sudut bibirnya sekilas, seperti biasa—tampang angkuh serta dinginnya membuat Kae Bi tak berkutik.


“Kau tahu bukan, kehidupan yang kau jalani pasti tak akan semulus seperti apa yang kau inginkan?” Ia mulai menatap Kae Bi lekat, membuat jarak di antara mereka terpatahkan. Kae Bi dengan seksama mendengarkan tutur kata yang Joon Sung ucapkan. Ia mencernanya dengan baik.


“Suatu problema atau permasalahan akan muncul tanpa harus menunggu kehendak yang kau buat. Sebisa apapun kau beranjak jauh, ia akan terus datang karena kau tak bisa memecahkannya secara baik. Dan ketika semuanya berakhir, satu hal yang harus kau camkan” Ucapnya bersungguh-sungguh. Kae Bi tak pernah membagi pandanganya sedikit pun ke arah lain.



“Apa itu?”



“Segala permasalahan yang kau hadapi adalah pelajaran hidup yang harus kau simak dan ingat, jangan pernah mengulang kesalahan yang sama sebab kehidupan yang baru akan terus datang. Setiap akhir dari segalanya akan berujung pada hal yang baru. Kau paham?” Setelah mendapat anggukan cepat dari Kae Bi, Joon Sung segera beranjak dari ranjang. Menutup buku yang bercetak tebal dan meletakkannya di atas meja. Ia berjalan, mulai menyambar kursi di depan meja kerja. Kae Bi mengamati dalam diam, melihat pergerakan apapun yang sejak tadi Joon Sung perbuat. Hingga pemuda itu mulai serius bergelut dengan layar komputer pun, Kae Bi masih mengamati sambil mendekap sebagian tubuhnya dengan selimut.


“Tidurlah” Kata Joon Sung sekilas. Namun Kae Bi sepertinya masih terlalu nyaman dan enggan beranjak dari kondisi seperti itu. Sehingga mau tak mau Joon Sung mulai menatapnya tajam tanpa membuka suara apapun.


“Aku akan menunggumu” Kae Bi bergumam kecil tanpa mau membalas tatapan Joon Sung. Ia menjadi kikuk sendiri dan tak tahu harus berbuat apa sebab kalimat yang baru saja di ucapkannya serasa menelanjangkan dirinya hidup-hidup di hadapan suaminya itu.



“Mwo?” Balas Joon Sung yang memasang raut muka tak mengerti.


“Aku bilang aku akan menunggu hingga kau menyelesaikan pekerjaan itu” Kae Bi jadi kesal sendiri sebab Joon Sung seperti ingin memintanya untuk berucap kembali. Kali ini perkataan yang di ajukannya pada Joon Sung lebih menekan dan terdengar sangat jelas.


“Tapi aku baru saja memulai pekerjaan ku dan lagi kau tidak harus seperti ini. Lekas tidur dan jangan menunggu” Joon Sung memutuskan pandangan yang tercipta diantara mereka. Perintah tadi seakan baru saja membuat Kae Bi menahan batas kesabarannya agar tidak meletup secepat mungkin. Ia hanya ingin berada di sisi Joon Sung sampai pria itu benar-benar menyelesaikan pekerjaannya. Jujur saja, nyatanya Kae Bi telah berjanji pada dirinya sendiri untuk mempelajari bagaimana menjadi istri yang baik untuk Joon Sung. Ia ingin mengenal segala tingkah laku serta kepribadian yang ada pada pemuda itu. Memenangkan hati Joon Sung dengan perhatian yang ia buat. Dan sekarang Kae Bi seakan harus mendengus dan membutuhkan seseorang untuk segera memberitahu dimana letak kesalahannya.


“Kenapa kau selalu bersikap seolah tak pernah ingin berada dalam waktu yang lama bersama ku?” Pertanyaan yang menurut Joon Sung tak sepantasnya Kae Bi ucapkan, kini merajai pendengarannya. Sebagian hatinya ikut tercengang setelahnya. Kalimat apa ini?


“Adakah benarnya aku seperti itu? Jadi menurutmu aku terlalu sering menghindar dan mengacuhkan, begitu?” Tuntut Joon Sung yang berada dalam jarak yang jauh dari Kae Bi. Kali ini keduanya saling menatap lekat-lekat. Mencari-cari alasan sebab segerumbul perasaan menyebalkan telah datang tanpa bisa di cegah.



“Kau menyadari itu” Ucap Kae Bi sengit



“Dan sejak kapan kau berprilaku sangat memalukan seperti ini? Tidakkah terlalu kekanakan jika kau hendak menuntut hal yang tak harus kau ketahui!” Intonasi suara itu mulai dingin. Lebih dari ucapan Kae Bi tadi. Arah pandang Joon Sung juga telah berlalu dari hadapan Kae Bi. Pria itu menyibukkan diri dan lebih memilih menekan keyboard komputernya.



“Seharusnya aku sadar bahwa kau itu adalah manusia sedingin es!” Kae Bi mendelik sebal. Dan berhasil membuat Joon Sung menghentikan gerakan ketika ucapan itu terlontar begitu saja dari bibir Kae Bi. Ia menatap gadis itu untuk yang kesekian kali seraya tersenyum begitu sinis.



“Lalu menurutmu, perlukah aku melanjutkan pembicaraan ini? Perlukah aku membuang waktu ku—Berada dalam keadaan yang sama untuk membahas hal tak penting seperti ini”


“Kau—” Cukup sudah! Memang terlalu sulit rasanya mempunyai pasangan hidup yang tidak mengerti bagaimana harus memberi perhatian lebih. Sering kali ia mendengar perkataan menusuk yang keluar dari bibir Joon Sung, tapi tidak sampai menjengkelkan begini. Entah hormonal Kae Bi yang memuncak atau ia belum bisa masuk ke alam mimpi hingga menjadi ketus dan segera meninggalkan Joon Sung di dalam ruang kamar mereka.


Pintu di hentak Kae Bi cukup keras. Membuat Joon Sung hampir menganga tergagap. Kekehan kecil ia bawa dalam hembusan nafas. Sejak kapan Kae Bi jadi sensitif seperti ini? Biasanya gadis itu hanya memberenggut kesal lewat tatapan mata atau raut wajah, tapi nampak kali ini berbeda. Apa dia benar-benar marah? Pikir Joon Sung.


“Wanita memang selalu seperti itu” Desis Joon Sung yang mengangkat bahu. Seolah mengandalkan keyakinan bahwa Kae Bi akan baik-baik saja setelah ini.



Hampir satu jam berlalu. Joon Sung masih sibuk sendiri dengan pekerjaannya. Ya, sepertinya bayangan akan sosok Kae Bi sudah tak bermain lagi dalam pikirannya. Sampai, kesadaran menampar Joon Sung—Ada sebuah rintihan menghinggap masuk dalam celah relung hati paling dalam. Kepedihan serta kekecewaan meluap. Tak sampai sekejap Joon Sung mulai bangkit dari ranjang, Kae Bi! Langkah panjang segera membawa Joon Sung keluar dari ruangan itu. Ia hendak menghela nafas namun urung. Sosok Kae Bi tak di temukannya di ruang tengah. Kemana gadis itu?



Sedapat mungkin kini ia mulai mencari, mengitari setiap sudut ruangan untuk dapat menemukan Kae Bi. Langkahnya tidak terburu-buru juga tidak terlalu lambat. Ia tahu Kae Bi masih berada di tempat ini. Joon Sung beralih menuju dapur, tapi sosok Kae Bi masih tak dapat di temukan. Ia mulai kewalahan sendiri sebab kali pertama istrinya itu bertindak seperti ini. Ia tak tahu jika Kae Bi juga dapat menjadi wanita-wanita menyebalkan sekelas Ah Ra.



“Kau bukan makhluk kecil yang berpikiran polos lagi, Goo Kae Bi. Hentikan ini” Bisik Joon Sung seakan merutuk sendiri. Menyangkal jika ada perasaan gundah serta cemas yang terus bermain pada bagian otak serta hatinya.



Sepasang kaki jenjang Joon Sung di ayunkan lagi. Kali ini ia mulai mendekati ruang makan di sebelah lemari berisi buku-buku. Kekecewaan lagi-lagi harus di dapat manakala tak ada satu pun bagian tubuh Kae Bi yang mampu di lihatnya. Ia mendesah berat. Hingga memutuskan untuk segera berlalu, namun suara tangis di susul isakkan setelahnya membuat Joon Sung membeku. Suara itu semakin terdengar jelas sebab Joon Sung mulai menghampiri sudut lemari.


Kae Bi melipat lututnya, menopangkan wajahnya yang di penuhi genangan air. Bahunya sesenggukan pelan dan membuat Joon Sung sedikit remuk melihatnya. Ya, ia akan lemah dan sulit bernafas saat menemukan Kae Bi tak berdaya seperti ini. Joon Sung mulai berlutut, menyetarakan pandangan pada Kae Bi. Namun gadis itu hendak berpaling saat menyadari lekukan wajah Joon Sung sudah sedekat ini dengannya.



“Kae Bi-aa”


Tak ada respon yang di beri. Kae Bi memalingkan wajahnya dan membuat Joon Sung serba salah. Pergelangan tangan Kae Bi mulai di sambar cepat. Ia mencoba melepaskan genggaman tangan Joon Sung, tapi tenaga pemuda itu terlalu kuat. Sepasang mata Kae Bi mendelik tidak senang. Ia menahan letupan besar dalam diri sebab Joon Sung telah membuatnya menangis seperti ini.



“Pergi!” Ketus Kae Bi mencoba melepasakan lagi cengkraman tangan Joon Sung. Alih-alih mendengarkan perkataannya, Joon Sung segera mendekat. Tangan yang tersisa di gunakan untuk menyambar cepat dagu mulus Kae Bi. Wajahnya semakin dekat. Hingga sebuah kecupan mendarat di bibir gadis itu. Kae Bi terbelalak, apa yang dilakukan Joon Sung? Detakan cepat dari jantung Kae Bi terasa kuat. Ia melemah, semua begitu gelap untuk di lihatnya. Hanya ada Joon Sung—Wajah tampannya dan sepasang mata yang tengah terpejam, menikmati sentuhan yang di perbuatnya untuk Kae Bi.



Sereguk perasaan muncul saat Joon Sung bertatapan lagi dengannya, menghentikan ciuman dadakan yang dibuat tadi. Kae Bi sudah tak wajar sejak tatapan itu kian pekat menusuk bola matanya. Apa yang harus di perbuat? Joon Sung mulai menggenggam erat sepasang telapak tangannya. Nafas pemuda itu menggebu dan caranya memandang begitu dalam.



“Kau tak harus takut jikalau dalam pemikiranmu aku tak pernah ingin berada di sisimu dalam waktu yang lama” Ucapnya penuh keyakinan. Menatap Kae Bi tanpa bergeming hingga gadis itu tak mampu mengerjapkan mata sedikit pun.


“Aku memang manusia sedingin es, untuk itu aku memerlukan dirimu untuk menghangatkan semuanya. Kau tak perlu mencintai ku begitu banyak, karena aku yang akan melakukan semua itu untuk mu, Kae Bi-aa” Kae Bi menyumpahi dan terus bertanya apa ini ilusi? Benarakah semua ucapan tadi terlontar dari bibir Joon Sung sendiri? Sebagian otak cerdas itu merangkai kata demi kata yang mampu membuat tubuhnya terasa ngilu.



Joon Sung masih bungkam memandang Kae Bi yang tengah terlelap ke arahnya. Paras ayu itu terhias lagi dalam penglihatan Joon Sung. Wajah berkilau dan sepasang mata yang terpejam, mampu membuatnya menahan nafas. Seulas senyum tipis Joon Sung ciptakan. Tak pernah ia tahu, bahkan saat Kae Bi tak sadarkan diri—semua itu mampu membuatnya terpikat. Ia telah jauh terpaut dalam pesona serta kecantikan gadis itu. Tak ada yang tidak dapat membuatnya merasakan detakan hebat seperti ini selain Kae Bi. Entah apa yang membuatnya mempunyai keberanian hingga selekuk wajahnya mulai mendekat ke arah tubuh mungil itu. Kini Joon Sung dapat melihat jelas raut wajah Kae Bi yang tengah terbuai dalam alam mimpi.



“Percaya padaku, Kae Bi-aa! Jangan biarkan aku merasakan rasa kehilangan lagi— Jangan”





***



Hawa panas menyeruak masuk saat Dong Bin mulai membuka pintu. Ah Ra nampak tersentak dari tempatnya saat menatap monitor. Iris hitamnya membulat, memandang Dong Bin yang kini mengeluh keras sembari menghempaskan diri di sofa ruangan. Ia mengoyakkan kerah kemejanya dan membuang dasi yang dikenakan kesembarang tempat. Joon Sung dan Jung Min yang baru saja tiba menyusul kedatangan Dong Bin tadi, ikut menempatkan perhatian pada rekan satu timnya itu.



“Sepertinya hasil Meeting tadi berpengaruh besar untukmu” Sahut Jung Min yang memandang Dong Bin dengan ejekan. Ah Ra menghampiri ketiga pria itu dengan cepat.



“Memang hasil Meetingnya seperti apa?” Tanya Ah Ra dengan antuasias. Gadis itu kini telah menempatkan diri di sisi Joon Sung dan Jung Min


“Ayahmu—, benar-benar sekeras kepala batu” Bengis Jung Min tepat di depan wajah Park Ah Ra, membuat gadis itu mengubah raut wajah dalam sepersekian detik.


“Yya!” Jerit Ah Ra yang hendak menyambar lengan Jung Min.


“Hentikan!” Dong Bin yang sejak tadi mengatupkan bibirnya, kini mulai membuka suara. Membuat semua orang di ruang itu tak dapat bergeming, kecuali Joon Sung yang sejak tadi hanya berdiam diri.


“Kalian membuatku pusing!” Dengus Dong Bin dengan muka memerah padam. Mendengus saat menatap Ah Ra dan Jung Min secara bergantian. Menciptakan sorot mata tajam buat kegaduhan yang mereka ciptakan tadi.


“Sejak kapan kau begitu peduli dengan hasil meeting yang kita lakukan?” Joon Sung memasang raut wajah datar saat menanyakan hal tersebut. Dirinya tersudut di sisi ruangan, menciptakan jarak untuk ketiga orang yang kini mulai mengamatinya


“Peduli? Peduli apa!?” Sembur Dong Bin yang membuang pandangan secepat mungkin.


“Lalu?” Tanya Joon Sung memastikan lebih lanjut.


“Jessica marah-marah lagi dan membuatku muak” Dong Bin mengerang panjang. Jung Min yang mendengar hal tersebut, kini terkekeh sendiri di tempat. Ia berdecak pinggang lalu membuang muka dengan tawa mengejeknya.



“Cih! Benar-benar” Bisiknya pada diri sendiri. “Kelabilan yang tidak pasti, kalau boleh ku beritahu” Lanjutnya menyeramahi.


“Wanita memang membingungkan” Keluh Dong Bin seraya berjalan ke meja kerjanya.


“Hei! Aku wanita dan hormati itu” Jerit Ah Ra kesal. Jung Min melepas tawa dan berpaling untuk dapat menggoda gadis itu kembali.


“Wanita?” Ulangnya pada Ah Ra. “Jika melihat sikapmu yang kekanakan, apa pantas untuk di beri sebutan seperti itu?”


“Yya Sung Jung Min! Kau benar-benar ingin mati ya!?”


“Sedikit saran—” Selak Joon Sung, yang membuat Ah Ra dan Jung Min menoleh. “Lebih baik kalian memeriksakan masalah kejiwaan karena kurasa bagian tersebut sudah tak berfungsi dengan baik” Semua yang mendengar ucapan tersebut, hanya bisa diam membatu. Pasalnya, mereka tahu siapa Joon Sung dan bagaimana tajamnya ucapan Ketua Timnya itu jika sudah merasa kesal.



“Segera hubungi bagian Marketing. Kita lakukan observasi di tempat tender yang akan Presdir revisi ulang” Sahut Joon Sung dingin. Jung Min segera menyambar beberapa proposal di atas meja kerjanya, kemudian mengangkat sepasang kaki jenjang miliknya untuk mengikuti langkah Joon Sung.


“Kalian benar-benar akan pergi?” Jung Min menghentikan gerakan saat mendengar suara Dong Bin yang mendramatis


“Tentu saja” Jawab Jung Min


“Huh! Kalian tega meninggalkan teman kalian yang sedang tidak dalam kondisi baik?” Dong Bin menghela nafas


“Ha...Ha...Ha, gaji awal bulanku lebih berharga dari kesedihanmu, Bung”


Dong Bin memberikan tampang yang sudah tak bersahabat lagi saat Jung Min mencela kembali. “Aku berteman dengan orang yang salah—” Rutuknya.


“Dan Joon Sung, dengan wajah 'tidak-ada-hubunganya-denganku' itu sangat menjengkelkan!”


Joon Sung hanya mengangkat bahu sebagai tanda mewakili jawaban, lalu ia pergi keluar ruangan diikuti Jung Min dan Ah Ra yang nampak sekuat tenaga menahan tawa.




***



“Tidak. Joon Sung sepertinya pulang larut malam, cari cara lain”



Hyun Woo yang tak sengaja mendengar suara berat di balik pintu yang setengah terbuka tak begitu lebar, kini menghentikan gerakan. Nama Joon Sung yang mulai menghias dalam benak bersama suara tadi terpaksa membuatnya berupaya mencerna pikiran.



“Dia putraku! Pantas saja aku melakukan ini. Secepatnya Joon Sung harus meninggalkan putri si Goo keparat itu!” Rasa geram serta amarah sedikit mendominasi intonasi suara tersebut. Hyun Woo merapatkan tubuh tegapanya ke dinding. Siapa lagi yang hendak merebut adiknya itu dari kehidupan yang di jalaninya sekarang kecuali Mr.Lee



“Ayah, dia benar-benar” Hyun Woo bergumam kecil. Jadi sekarang Ayahnya itu telah memulai serangan untuk mendapatkan Joon Sung kembali. Lalu, bagaimana dengan Kae Bi? Dan Hubungan diantara keduanya jika Joon Sung mengetahui status atas dirinya dalam keluarga Lee. Tidak. Sang Ayah pasti akan melakukan cara sepicik apa pun. Jika perlu, membuat Joon Sung membenci Kae Bi selama-lamanya dengan mengetahui rahasia kelabu itu.


Hyun Woo berpandang jeli. Mendengar detak langkah seseorang yang hendak menghampiri, segera saja ia merubah raut wajah datar, menjulang tinggi dan mulai mengayunkan langkah kembali tanpa keraguan. Tepat di depan ruangan tersebut, ia menghentikan gerakan sebab sosok sang Ayah tengah bersipapas langsung dengannya saat ini. Sedikit kegugupan muncul, Hyun Woo mentralisir hati serta menggurau dengan menyentuh bagian tengkuknya.



“Tak ada kegiatan hari ini?” Pertanyaan itu sontak membuat Hyun Woo terjerat. Refleks ia menggeleng kaku dan mengangkat bahu. Membuat Mr.Lee menghenyitkan dahi, ada sesuatu yang ganjal saat menangkap gerakan putra sulungnya itu.



“Ayah akan pergi?” Hyun Woo berbalik tanya guna menghilangkan kecanggungan serta tatapan mengawasi yang Mr.Lee berikan. Segera saja pria tengah baya itu mengalihkan pandangan ke arah lain.



“Ada keperluan di luar, aku mungkin pulang larut malam” Ia mulai melangkah setelah berucap, perlahan membuat jarak di antara Hyun Woo. Tak banyak lagi tutur kata yang akan di ucapkan. Mr. Lee benar-benar telah hilang dalam penglihatan pemuda itu.


Hyun Woo mendesah berat. Ganjalan datang bertubi memenuhi isi otaknya, membuat penat. Apa yang akan ayah lakukan untuk mendapatkan Joon Sung kembali? Pikirnya. Jujur saja, jika ia di hadapkan pada suatu pilihan untuk hidup bersama kembali dengan saudara sekandungnya itu, pasti akan ia lakukan. Tapi—tidak dengan cara seperti ini, dengan dendam, amarah, kedengkian. Joon Sung tak harus merasakan apa yang ia rasakan selama belasan tahun mendekam di Mansion Lee. Kenangan pahit itu, cukup Hyun Woo rasakan sendiri.



“Aku harus mengatakannya!” Keyakinan Hyun Woo mulai menggebu, tak ada cara lain sebelum semuanya terlambat. Cepat atau lambat Joon Sung memang harus mengetahui asal usul keluarganya. Dengan cepat Hyun Woo segera melangkah, menuruni satu persatu anak tangga dengan berlari kecil. Ia akan mengatakan semuanya pada Joon Sung.




***



Joon Sung, Jung Min serta Ah Ra berjalan beriringan. Usai melakukan observasi di luar batas wilayah seoul ternyata cukup menguras tenaga, sebab objek lapangan yang di amati kali ini cukup sulit untuk di jangkau dengan transportasi umum. Sore itu Lobby Goo Seoul Corp cukup padat. Para pegawain berlomba-lomba, meliuk-liuk kesana-kemari, entah bergegas pulang atau menyelesaikan pekerjaannya.



Ah Ra yang berjalan terlebih dahulu di depan Joon Sung dan Jung Min, kini mendesah berat. Langkahnya mulai sedikit oleng dan tidak mulus, ia memasang raut wajah tak bersemangat. Perjalanan yang habis memakan waktu sepanjang hari itu ternyata membakar energinya. Tanpa tahu menahu ketika pandangannya teralihkan, dari arah lain seseorang berbadan gempal dan cukup berisi tak sengaja membentur tubuh lunglainya itu. Alhasil Ah Ra yang tak punya refleks bagus harus terhempas begitu saja. Joon Sung yang spontan, langsung menangkap Ah Ra yang akan jatuh dan berakhir menyedihkan.



Kae Bi tersenyum samar, ia menginjak pedal remnya dan menghentikan mobil Hyundai Veloster milik Joon Sung. Sabuk pengaman mulai dibuka, senyum cantiknya semakin bertambah sebab hari ini ia berniat mengajak Joon Sung makan malam bersama dengan masakan yang dibuatnya. Kae Bi telah menyiapkan bekal dalam kotak makan besar dan semuanya makanan kesukaan Joon Sung yang ia ketahui dari Bibi Jang. Kaki Jenjangnya mulai menapak ke tanah. Ia menjinjing kotak bekal dalam genggaman. Kae Bi tak henti memamerkan seulas senyum kepada siapapun yang melihatnya, hingga. . .



“Joon Sung” Bisik Kae Bi pelan, sangat pelan seperti hembusan angin. Lututnya terasa lemas dan tak mampu untuk menopang semua yang hinggap. Kotak bekal yang tadi di genggam dengan erat kini meluncur mulus begitu saja. Tak banyak mulai membawa perhatian khalayak ramai termasuk Joon Sung dan Ah Ra yang berdiam dengan posisi pemuda itu menangkup tubuh Ah Ra dan saling bertatapan.



Kae Bi mencelos sendiri. Apa yang di rasakannya sekarang? Rasa sakit dan perih mulai tercipta dan memasuki lubuk hati. Tak pernah ia merasa sesakit ini—ia tak pernah merasa semua yang ada pada dirinya begitu gelap, bagai terjatuh tanpa alas, tak ada yang mampu membantu kecuali dirinya sendiri. Air akan hinggap di pelupuk jika saja Kae Bi tak memalingkan wajah cepat. Joon Sung dan Ah Ra yang sekarang merubah gerakan apa pun, ia sudah tak peduli. Seperti orang bodoh—Kae Bi malah mengatasi kegugupannya sendiri seraya berlutut dan mulai mengemas kembali kotak bekal yang berhambur tak menentu itu.



“Kae Bi-aa, kau tak apa?” Sebuah suara lain mampu membuatnya berpaling. Hyun Woo turut berlutut serta membantu Kae Bi melakukan kegiatannya setelah ucapan tadi mampu membuat gadis itu terperangah. Dengan hati-hati Hyun Woo dan Kae Bi mulai beranjak kembali. Pemuda itu sedikit canggung sebab Kae Bi hanya memilih diam dengan genangan air yang sudah tertahan di pelupuk. Hyun Woo paham apa yang di rasakan Kae Bi saat ini. Ia hendak memutuskan untuk beranjak dari tempat itu, hingga menyadari bahwa sepasang penglihatan tajam telah mengintainya sejak tadi.



“Ikut aku” Joon Sung mengambil gerakan cepat pada pergelangan tangan Kae Bi sesudah berdiam lebih lama melihat kebersamaan gadis itu dan Hyun Woo yang semenjak tadi telah hinggap di dalam penglihatannya. Berhasil membuat perasaannya berkecamuk tak pasti dan terus melirih gundah. Sampai sempat terpikir dalam benak untuk menarik Kae Bi cepat-cepat dari sisi pria itu, namun tubuhnya masih selaras dengan akal pikiran—Joon Sung tahu dimana ia harus menempatkan emosi serta luapan amarahnya, ia masih dapat terkontrol dengan baik.



Kae Bi membeku sejenak. Ia tak berani atau lebih tepatnya tak berniat sama sekali untuk melirik Joon Sung lebih lama. Pandangannya hanya bertumpu pada gagang kotak bekal yang rusak, ia hanya berdiam dan tak hendak bergeming. Hyun Woo dan Joon Sung saling balik berpandang lalu sesekali melirik Kae Bi kembali. Melihat Hyun Woo yang seperti ingin menegur atau memulai pembicaraan terlebih dahulu sebelum dirinya, membuat Joon Sung gagap sendiri. Dengan segera ia menggenggam jemari tangan Kae Bi dan menoleh cepat ke arah Jung Min.


“Referensikan laporan itu, Aku pulang lebih awal” Ucapnya keras. Ia membukakan pintu mobil untuk Kae Bi dengan gerakan cepat. Berlalu dari hadapan Hyun Woo begitu saja, hingga mesin menderu kencang dan kendaraan beroda empat itu menghilang dari penglihatan Hyun Woo. Ia tersenyum lunglai sambil mendecak lirih. Bahkan Joon Sung tak sedikit pun memberi celah untuknya untuk sekedar membantu Kae Bi. Sebegitu besarnyakah perasaan yang telah tertanam di hati saudara sekandungnya itu. Hingga tak mengizinkan siapapun mengambil jarak sedekat itu dengan Kae Bi.



Joon Sung mendengus saat melihat Kae Bi yang masih bungkam dan enggan mengeluarkan suaranya. Ia berdecak pinggang nyaris menyerah dan tak tahu harus berbuat apa sebab perasaannya tak tenang dan mendustai kesalahan mulai merajai hatinya. Apa yang hendak ia katakan jika saja Kae Bi masih membisu dan tidak menuntutnya untuk mengeluarkan penjelasan sama sekali? Apa yang sesungguhnya dirasakan wanita itu sekarang? Tak ada perasaan apa pun yang datang pada hatinya saat ini, tak ada perasaan Kae Bi yang mampu di tembusnya. Ia menghela nafas, memandang punggung ringkih Kae Bi yang tengah terbenam dalam wastafel dapur. Berulang kali Joon Sung berharap jika pandangan mata itu akan bersibabrak dengannya, dan tak perlu lagi ada kecanggungan seperti ini. Tapi, semua tidak membuahkan hasil. Sungguh—ia tak tahan, tak mampu berada pada posisi seperti ini untuk waktu yang lebih lama lagi.



Kae Bi telah berbalik, dan agak membuatnya tersentak. Sepertinya gadis itu juga merasakan hal yang sama dengan Joon Sung saat pandangan mereka tak sengaja bertemu, namun semua terlalu singkat—secepat mungkin Kae Bi membuang tatapan ke arah lain. Ia sibuk dengan beberapa tumpukan alat makan yang tengah di papahnya.



“Tunggu—”



Kae Bi menghentikan gerakan sebentar tanpa mau berbalik memandang Joon Sung. Kepalanya tetunduk dalam-dalam. Sementara Joon Sung sendiri, malah bergelut dengan hatinya. Jujur saja, baru kali ini ia di tempatkan pada keadaan seperti ini. Baik, sekarang apa yang dapat ia ucapkan? Otaknya telah berbuih dan akan meletup hanya karena seorang Goo Kae Bi.



Merasa tak ada rangkaian kalimat yang hendak di ucapkan Joon Sung kembali, membuat Kae Bi segera angkat kaki. Ia mulai melangkah dan Justru membuat kesabaran Joon Sung seakan telah meluap. Ia mengambil langkah panjang dan memasang jarak sedekat mungkin dengan tubuh mungil itu agar pandangan mereka bisa tersemat—Agar ia bisa menatap Kae Bi lekat dan meyakini paras ayu itu jika semua ini hanya kesalahpahaman semata.



“Tidakkah kau merasa ini semua terlalu kaku?” Tanya Joon Sung dengan sejurus keyakinannya. Kae Bi mulai membalas tatapan pekat itu dengan mata yang sedikit berkaca.


“Kau tak perlu menanyakan hal tersebut” Jawab Kae Bi dalam intonasi suara yang kecil. Ingin rasanya ia segera menghilangkan pandangan itu—Raut wajah Joon Sung yang kini terhias di hadapannya.


“Katakan sesuatu dan biar ku beri penjelasan” Nada bicara Joon Sung mulai melembut, mengimbangi Kae Bi dan kali ini tak membiarkan luapan emosinya menguasai lebih jauh.



“Semua sudah jelas” Ucap Kae Bi sekuat hati. Mencoba memberanikan diri menatap Joon Sung. “Gadis itu—Ia mencintaimu ketika aku belum hadir, bisa kau bayangkan bagaimana rasanya bersentuhan dengan orang yang kau cintai dengan jarak sedekat tadi!” Tekannya yang membuat Joon Sung membulatkan mata lebar-lebar, nyaris tak percaya jika itulah pemikiran yang di ciptakan Kae Bi.


“Kau tahu jika kejadian tersebut bukan suatu kesengajaan? Seharusnya kau dapat memahami dan tidak segera dikuasai kecemburuan seperti ini” Sanggah Joon Sung. Kae Bi menatapnya segan dengan senyuman sinis.



“Sebaiknya kita hentikan pembicaraan ini karena kau tak akan mengerti dengan apa yang aku rasakan sebagai seorang wanita” Air hendak jatuh dari pelupuknya. Kae Bi segera berpaling. Ia menahan segala bentuk perasaan yang mulai tak teratur dalam relung hati. Seharusnya ia menyadari bahwa Joon Sung tak akan mungkin dapat menembus benak serta perasaanya. Ya, ia cemburu dan tak akan pernah mereda sampai Joon Sung memberi keyakinan yang lebih pasti dan masuk ke dalam logikanya jika kejadian itu benarlah kesalah pahaman adanya. Ia juga layaknya wanita biasa—berharap di beri tempat istimewa dan di beri rasa perhatian yang mencuat tinggi dari pasangannya. Seharusnya Joon Sung dapat menjelaskan bahwa ia tidak benar-benar menikmati kejadian tadi! Tersiksa saat dirinya berpaling dan memilih bungkam, Seharusnya Joon Sung berinisiatif memberi penjelasan sebelum ia menuntutnya terlebih dahulu! Tapi, Kae Bi tak menemukan itu sama sekali. Tak ada satu pun perlakuan yang seharusnya Joon Sung berikan untuk dirinya. Ia mulai berjalan, secepat mungkin dan bersumpah akan segera menghilang dari tatapan tajam itu. Tapi—



“Kae Bi-aa” Joon Sung sedikit bersuara keras. Ia berbalik guna menatap Kae Bi yang nyaris menahan nafas dan menyudutkan diri. Joon Sung berjalan tegap dan membuat Kae Bi terguncang, karena secara tiba-tiba Joon Sung menghempaskan dengan kasar peralatan makan yang di genggam Kae Bi hingga tak berdaya dan berjatuhan membuat suara gaduh. Kini keduanya saling menatap



“Percaya padaku!” Joon Sung bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Kae Bi hanya mengatupkan bibir karena tak tahu apa yang harus di perbuat.



“Jangan seperti ini, karena ...” Joon Sung menghentikan perkataan saat dirasa otaknya mulai memendat. Ia tak ingin Kae Bi seperti ini, bersikap acuh dan mengabaikannya buat kesalah pahaman yang tidak ada artinya sama sekali. Tapi mengapa sesulit ini mengucapkannya, perkataan yang sudah sedemikian rupa terangkai harus rela menghilang begitu saja. Kae Bi masih menunggu Joon Sung melanjutkan ucapannya. Namun, apa yang dinanti. Nyatanya untuk kesekian kali pemuda itu masih membisu dan menatapanya dengan iris hitam yang semakin membuat Kae Bi tersayat.



“Aku mencintaimu, Joon Sung. Aku mencintaimu, tapi—” Ia tak kuat untuk bertahan lebih lama lagi. Tangisnya pecah bersama genangan air yang sudah menguap di pelupuk. Kae Bi menutup raut wajahnya dan mulai terisak memilukan, membuat Joon Sung nyaris tak sadarkan diri dengan perlakuan yang dibuat oleh Kae Bi. Hatinya mencelos dan mulai tak baik karena menyaksikan wanita yang paling ia cintai kini menangis tersedu hanya karena ulahnya.


“Kae Bi” Bisik Joon Sung. Matanya mengerjap berulang kali untuk memastikan apakah ini benar adanya.


“Aku mencintaimu. Namun—mengapa sepertinya kau tak berdaya upaya lebih untuk membalas perasaanku. Kau—Kau hanya cukup tahu dan mengerti. Seperti tak pernah ingin membalas apa yang ku beri. Aku tersiksa, Joon Sung. Melihat mu bersama wanita lain—Wanita yang jelas-jelas pernah menyatakan persaannya terhadapmu di depan penglihatan ku. Aku meyakini bahwa hatimu hanyalah milik ku. Tapi—tapi mengapa sesakit ini melihatmu seolah tak mencoba sekali pun meyakinkan bahwa kejadian tadi hanyalah kesalahan. Tak ingin mengatakan dan memberi tahu bahwa kau tidak ingin berada di posisi tadi bersama wanita itu. Aku tidak baik-baik saja”



Oh tuhan, serasa semua aliran dan organ tubuh Joon Sung tak berfungsi sama sekali ketika Kae Bi mengatakan kalimat demi kalimat tersebut bersama isakan dan lirihan pelan. Tak tahu jika Kae Bi akan sesakit dan tersiksa seperti ini. Dengan segera ia singkirkan secara halus telapak tangan mungil milik Kae Bi dari wajah cantik itu. Joon Sung menggenggam pergelangan tangan Kae Bi erat-erat. Ia mensejajarkan pandangan guna mencapai mata yang terpejam dan di penuhi air mengalir milik Kae Bi. Miris—Joon Sung menatap dengan raut wajah hampa, apa sebegini besarnya rasa yang telah Kae Bi tuai dalam hati untuk dirinya.



“Maafkan aku—Sungguh maafkan aku” Sergah Joon Sung hati-hati. Ia mulai membawa tubuh tak bertenaga itu dalam dekapannya. Disana Kae Bi kembali meringis, meluapkan segala rasa yang ia alami belakangan ini. Tak ada yang bisa menenangkannya selain pelukan hangat dari Joon Sung. Ia meraung dan sempat terisak hebat. Joon Sung segera membelai lembut punggung gadis itu seraya tangan yang tersisa di buatnya untuk mengelus puncuk kepala Kae Bi.



“Aku memilihmu dan jangan ragukan itu, Kae Bi-aa. Aku—Aku mencintaimu” Joon Sung berujar sedikit ragu pada kalimat terakhir dan tak pelak membuat tangis Kae Bi seketika terhenti. Ia melepaskan diri dari dekapan hangat pemuda itu. Memandang Joon Sung nyaris dengan ketidakpercayaan.



“Mwoga—” Tanya Kae Bi dalam ketermanguan besar. Sepasang mata sembabnya membulat terperangah. Joon Sung menghela nafas menutupi kegugupan. Ia berdecak pinggang dan menatap Kae Bi lekat.



“Aku telah mengatakannya jadi berhenti bersikap seperti tadi” Tanpa membuat gerakan apapun. Joon Sung segera berpaling, mengambil langkah dari hadapan Kae Bi. Meninggalkan gadis itu dengan sejuta pertanyaan yang hendak berkelebat dan menuntut. Kae Bi tersadar dan mengerjapkan mata berulang kali guna menetralisir aliran darah dan segala hentakkan yang berdenyut-denyut di kepala akibat ucapan Joon Sung tadi. Namun di detik berikutnya, ia menunjukkan seulas senyum—senyum tipis nan cantik yang selalu terhias dan bisa membuat Joon Sung menahan nafas.




***




Sudah sekian kali Kae Bi menatap Joon Sung seperti itu. Memberikan senyum yang entahlah, membuat pemuda itu hampir mendilik dingin dan memberenggut kesal. Joon Sung segera berpaling untuk mengambil bahan makanan yang salah satunya berada di dalam lemari es. Kae Bi mengamati kepergian suaminya itu tanpa memutuskan senyum yang sudah ia buat sejak tadi. Setelah Joon Sung benar-benar melakukan pekerjaannya dan berdiri di depan pintu lemari es, barulah ia kembali pada kegiatan memasaknya.



Kae Bi hendak menuang garam yang akan di taburi kedalam wadah besar yang ia amati sejak tadi, hingga Joon Sung kembali bersanding dengannya dengan jarak dekat. Kae Bi bisa melihat bagaimana ketampanan Joon Sung saat pria itu bergelut dengan aktifitasnya sendiri. Membuat Kae Bi kembali mengembangkan senyum tipis, berbahagia sebab Joon Sung mulai berani mengungkapkan perasaannya. Peristiwa ini patut di kenang dengan baik, pasalnya ia tahu bahwa Joon Sung selama ini adalah pria yang buta akan kata-kata seperti itu, ia tidak akan berbicara karena belum mengerti dan memahami apa yang dinamakan—Cinta.



“Berapa seharusnya kadar garam yang kau bubuhi di dalam sup itu?” Kae Bi seperti tertampar sendiri. Ia sempat tersentak sedikit. Joon Sung sudah mengamatinya dengan tampang sedingin dan sesinis apa pun. Karna keteledoran Kae Bi, hampir semua butiran garam tersebut tumpah dari tempatnya.



“Kau—” Tekan Joon Sung yang sudah kehabisan kata. Ia mengalihkan pandangan dari Kae Bi guna meredam emosinya. Kenapa wanita itu selalu bersikap ceroboh layaknya seperti ini? Melakukan hal yang benar-benar membuat amarahnya harus tersulut dan membuat kesabarannya seakan di uji.



“Mianhe” Sesal Kae Bi yang terlihat menundukkan kepala. Joon Sung melihatnya sekilas dan kembali lagi membuang pandangan.



“Kita makan di luar saja malam ini. Biar aku yang membersihkan semua kekacuan itu dan lekas pergi” Joon Sung menghela nafas sebelum mengucapkannya. Membuat Kae Bi merasa semakin bersalah karena menghancurkan keadaan yang ada. Ia menatap Joon Sung lagi dengan raut wajah sendu.



“Mianhe, Aku tahu aku bersalah” Gumam Kae Bi pelan saat Joon Sung hendak pergi meninggalkannya.



“Kau tak perlu mengucapkannya lagi. Aku selalu tahu penyebab apa yang membuatmu di kelilingi kecerobohan seperti itu. Lupakan ini”


“Aku tahu, aku pasti terlalu bodoh untuk berada di kehidupan seperti ini bersamamu” Joon Sung menghentikan gerakan. Ia berpaling cepat setelah Kae Bi mengucapkan kalimat tadi. Ia berpandang tak mengerti, menatap Kae Bi yang menekuk wajah murung.


“Tidak. Dan aku tak akan pernah menyesal membawamu kedalam kehidupan ini. Jangan pernah berbicara seperti itu lagi” Bantah Joon Sung cepat. Membuat Kae Bi tersendat mendengarnya. Joon Sung sungguh tak pernah mempermasalahkan kecerobahan mana pun yang Kae Bi buat dalam kehidupan mereka. Kau akan mengelak jauh saat seseorang yang kau cintai membuat kesalahan sekecil apa pun—Begitu juga dengan Joon Sung.




***



Kae Bi hampir membuat Joon Sung mengurungkan nafsu makannya. Ini sudah kelima kali ia menyantap menu yang berbeda dari delapan hidangan yang mereka pesan. Joon Sung menelan ludah, nyaris tak percaya jika Kae Bi mempunyai nafsu makan sebesar ini. Sementara Kae Bi yang masih menikmati kegiatan mengunyah daging dalam mulutnya, seketika mengalihkan pandangan pada Joon Sung.



“Kau tidak menyentuh makananmu?” Tanyanya yang masih di penuhi nasi di dalam kerongkongan, membuat intonasi suaranya menjadi aneh di gendang telinga Joon Sung, hingga pria itu malah melipat kedua tangan di dada sambil tersenyum mengejek, menyimak Kae Bi lekat.



“Kau rakus sekali” Ucap Joon Sung dingin. Kae Bi mendengus kecil. Alih-alih membalas perkataan Joon Sung, ia malah terus menyambar lauk-pauk di hadapannya dengan sumpit yang di gerakkan cepat.



Joon Sung harus menahan tawa saat melihat Kae Bi yang tengah kesulitan menelan segerumbul makanan yang di kunyahnya ke dalam kerongkongan. Mulut mungil itu hampir terisi penuh dan sepasang pipi Kae Bi menjadi mengembung dan memerah. Joon Sung yang punya akal untuk mengabadikan eksperesi wajah tersebut, kini telah mengarahkan BlackBerry Onyx-nya ke arah wajah Kae Bi. Begitu lampu blitz menyala terang kearahnya tanpa permisi, barulah Kae Bi sadar jika Joon Sung mulai bertindak seenaknya.



“Yya!” Pekik Kae Bi yang baru selesai meneguk segelas air. Ia membulatkan mata ke arah Joon Sung. Sejak kapan pria itu bertindak menyebalkan seperti ini?


“Akan ku buat dalam ukuran besar untuk menghiasi ruang tamu” Joon Sung bergumam dengan seulas senyum yang menyatakan kemenangan atas dirinya untuk memboikot Kae Bi agar gadis itu bersikap lebih tenang dari pada tadi.



“Yya! Joon Sung-ssi, silahkan menghapusnya sebelum kau benar-benar akan mati!” Tangannya mulai bergerak lincah, berusaha merampas HandPhone dalam genggaman tangan Joon Sung. Namun, berhubung pemuda itu mempunyai gerakan yang lebih gesit, Alhasil Kae Bi hanya bisa mendelik dan mendengus.



“Seberapa besar nyalimu hingga dapat memberitahu bahwa kau berani membunuhku? Hah?” Tantang Joon Sung yang mulai mendekatkan tubuh tegapnya ke arah Kae Bi, menyindir. Senyum serta tatapan sinisnya membuat Kae Bi benar-benar muak. Ia tak kehilangan akal. Seraya melirik sumpit yang masih di apitnya, Kae Bi segera mengambil beberapa potongan besar daging yang telah di panggang, dengan cepat ia menyuapkan ke dalam mulut Joon Sung hingga pria itu hampir tersedak karena tak siap menerima gerakan tadi.



“Yya! Kau—” Tekan Joon Sung sambil mengunyah makanannya. Kae Bi tersenyum sinis kemudian kembali melakukan kegiatannya. Kali ini ia mengambil sesendok besar kimchi pedas dan melayangkannya ke mulut Joon Sung lagi.



“Silahkan menikmatinya Tuan Kim Joon Sung, Ha...Ha...Ha” Ia tertawa renyah dan membuat beberapa pengunjung di restoran itu menempatkan perhatian ke arah mereka. Kae Bi mulai menahan tawa dan Joon Sung hanya mendelik sekaligus bersusah payah mengunyah makanan yang berisi penuh di dalam mulutnya.




***




“Ah mashitaaa!” Kae Bi berujar penuh senyum seraya mengalungkan jemari tangannya ke pergelangan lengan Joon Sung. Pria itu bertampang sinis memandangnya, kemudian berjalan tegap lagi dan mengalihkan pandangan.



“Kau makan seperti tadi, bagaimana kau bilang bahwa itu tidak enak!” Umpat Joon Sung. Kae Bi tersenyum tanpa menunjukkan raut wajah malu atau apa pun. Membuat Joon Sung terkekeh pelan dan kini menghentikan langkah.



“Aku baru tahu selain ceroboh dan dapat bertindak bodoh, Goo Kae Bi ternyata adalah wanita yang rakus seperti babi” Joon Sung menatap Kae Bi hendak menahan tawa. Hingga keadaan hening dan pemuda itu selesai berucap, barulah Kae Bi membuka tawanya hingga keras. Mereka seakan menertawakan kebodohannya masing-masing.



“Ha...Ha...Ha dan Kim Joon Sung yang begitu menyebalkan karena tak mau berhenti menyalahkan Goo Kae Bi!” Cetus Kae Bi keras, mereka berjalan beriringan lagi menuju halte bus.



“Kau ingin balas dendam, begitu?” Tanyanya pada Kae Bi



“Anhiyo” Kae Bi menggelengkan kepalanya cepat. Ia masih menatap laju trotoar yang sejak tadi di pandanginya dengan senyum yang mengembang.



“Karena?”



“Karena Kim Joon Sung tahu bagaimana cara membuat Goo Kae Bi selalu di jauhi dari hal yang berbahaya, dan salah satunya menasehati. Benar bukan?”



“Kau salah besar”



“Mwo!?” Kae Bi berpandang tak percaya ke arah Joon Sung. Membuat pemuda itu menunjukkan seulas senyum sesudah memutuskan pandangan pada Kae Bi dan menatap lurus ke depan.



“Karena Goo Kae Bi selalu membuat Kim Joon Sung khawatir, karena Goo Kae Bi tidak ingin menyelamatkan dirinya sendiri, hingga Kim Joon Sung harus selalu cemas saat akan menemukannya dalam bahaya”



“Mianhe” Ucap Kae Bi mengatupkan bibirnya rapat.



“Memang seharusnya begitu” Balas Joon Sung. Tiba-tiba mereka menghentikan gerakan. Joon Sung dan Kae Bi berdiri di tepian Jalan sungai Han. Kae Bi harus banyak bersyukur untuk hari ini. Ia tak pernah tahu jika hal terindah adalah menikmati sisa waktu senggang bersama Joon Sung dengan lelucon seperti ini. Ia bahagia sebab kali pertama Joon Sung bisa mengeluarkan gelak tawa bersamanya. Lebih-lebih Joon Sung, sepertinya sebagian hatinya mulai meletup bahagia saat mendapatkan moment berharga seperti ini bersama Kae Bi. Ia belum pernah benar-benar menikmati suasana seperti ini bersama seseorang. Berbagi canda dan tawa dalam keadaan suntuk ternyata menyenangkan. Ia seperti tahu makna kebersamaan serta kehangatan dari seorang keluarga.



“Bisakah kita terus seperti ini?” Kae Bi menatap Joon Sung penuh harapan. Pemuda itu memberi respon dengan sedikit mengembangkan senyum.


“Bisakah kita seperti ini denganmu yang selalu tersenyum seperti itu?” Tanya Kae Bi lagi.


“Aku tidak harus selalu memberikan senyum seperti ini dimana pun. Apalagi untuk sesuatu yang ku benci” Mendengar ucapan Joon Sung, membuat Kae Bi merenung sendiri, hingga suatu hal yang ganjal timbul dari lubuk hati.


“Akankah kau tetap melindungiku walau pun kita saling membenci?” Sekarang Joon Sung harus merubah raut wajahnya menjadi sedingin mungkin ketika mendengar ucapan itu dari bibir Kae Bi. Mereka saling memandang dalam diam. Hingga Joon Sung memilih berjalan mendahului gadis itu.


“Aku tidak ingin kau berkata seperti itu lagi—” ia menghentikan langkah setelah memasang beberapa jarak. “Jika aku harus membenci mu, maka diriku sendiri yang akan ku benci terlebih dahulu melebihi apapun. Cepat beranjak dan segera beri tahu jika kau kedinginan”




***



“Aku merasa kau semakin berat” Joon Sung memasang raut wajah datar saat wajah Kae Bi telah tertanam di dalam dada bidangnya. Gadis itu mulai memejamkan mata dalam dekapan Joon Sung dan mencoba memasuki alam mimpi sebab malam semakin larut.



“Kau berlebihan, aku hanya menghabiskan delapan menu yang berbeda dan itu tidak akan mengubah berat badanku dengan cepat, Huh” Sanggah Kae Bi yang rupanya tak terima dengan perkataan Joon Sung. Ia sedikit mendengus kecil. Selanjutnya, tak ada lagi respon dari Joon Sung untuk membalas perkataan sang istri. Ia telah memejamkan mata dan tak membuat gerakan apapun.



“Joon Sung” Kae Bi berbisik sesaat. Namun yang di panggil sepertinya tak mendengar. Hingga terpaksa Kae Bi harus mengangkat kepalanya sendiri. Bertumpu pandangan pada wajah Joon Sung yang tengah terbuai dalam mimpi. Ia tersenyum, ketika menyaksikan bagaimana wajah arogan itu berubah menjadi lembut. Tak ada tatapan tajam, bentuk ekspresi kaku dan kesombongan. Kae Bi menganggumi raut wajah Joon Sung seperti ini. Tampan—begitu tampan untuknya.



“Saranghe” Ucap Kae Bi tanpa bisa di kendalikan lagi. Ia semakin dalam menatap lekukan wajah Joon Sung yang tersaji di hadapannya. Mengapa begitu indah? Mengapa ia harus terjebak dalam waktu yang lama untuk menikmati ketampanan ini? Bisik Kae Bi. Hingga tatapannya berhenti tepat di bibir padat milik Joon Sung, Kae Bi berdetak cepat. Wajahnya bersemu memerah dan tak pelak semakin menambah hawa panas yang memasuki ruang kamar.



Kae Bi menundukkan kepala, guna mengambil tempat lagi di atas dada bidang Joon Sung. Namun, suatu cengkraman kuat memaksanya untuk bertahan dan menghentikan gerakan. Kae Bi menyadari bahwa sebagian pinggangnya kini telah di kalungkan sesuatu. Sebuah tangan telah menguncinya disana. Takut-takut ia melirik Joon Sung dengan gerakan lamban. Tapi, pemuda itu masih memejamkan kedua mata. Kae Bi semakin dibuat terkejut saat tangan itu bergerak kembali dan mulai menyentuh bagian punggunnya, bermain-main di sana dan secara tiba-tiba menekan bagian tubuhnya untuk lebih mendekat ke arah Joon Sung. Hingga kini wajah mereka sudah tidak di batasi jarak apapun.



“Joon Sung—” Bisik Kae Bi pelan, mencoba menghentikan perbuatan pemuda itu pada dirinya. Tapi, balasan yang dibuat Joon Sung sekarang adalah menyentuh bagian tengkuk Kae Bi dan mulai mengarahkan kepala gadis itu agar setara dengan bagian wajahnya. Joon Sung mulai membuka mata saat bibirnya hendak menjamah bibir Kae Bi.



Sebuah lumatan menyentak mereka dalam gerakan. Kae Bi mencoba menikmati sentuhan yang diberikan Joon Sung dengan menyanggah bobot tubuhnya yang kini berbaring di atas tubuh idealis milik suaminya itu. Desahan Kae Bi mulai keluar manakala Joon Sung kini memainkan lidahnya dalam bibir ranum miliknya, memaksa memasuki ruang dalam rongga mulut Kae Bi dan melumatnya kembali. Selang menit kemudian tanpa di duga Kae Bi, Joon Sung merubah posisi mereka. Membuat Kae Bi berada dibawah gerakannya.



Kae Bi mencengkram erat sebagian kaos yang dikenakan Joon Sung, saat pemuda itu hendak mencumbu bagian dadanya. Tangan Joon Sung yang terampil mulai melepaskan satu-persatu kancing pimaya Kae Bi. Hingga sebuah penutup dada bewarna gelap itu terpampang begitu jelas. Tetapi sesuatu seperti menampar Kae Bi dengan gelap. Ia tersadar akan dimana kejadian lalu itu kembali menjamah pada sebagian memori otaknya. Memutar kembali kenangan yang pernah singgah.


“Kenapa?” Joon Sung yang mulai hendak mencumbu bagian itu kini terpaksa mengurungkan diri, sebab Kae Bi menghentikan gerakan dan bangkit dari tempat. Membuat Joon Sung tak mengerti dan memandang Kae Bi yang seperti terjerat akan sesuatu. Bola mata gadis itu hampa dan tak bergairah, Ada yang salah—Joon Sung mengetahui itu.



“Aku sesalkan karena kau bukan untuk yang pertama melakukan ini” Kae Bi berhasil membuat Joon Sung tercekat. Pemuda itu membisu dan tak mengeluarkan suara apapun saat mendengar ucapan tersebut terlontar begitu saja dari bibir Kae Bi. Pandangannya berubah sendu dan dingin, ia menundukkan kepala dan tak ingin membalas tatapan Kae Bi. Hatinya cukup berdesir dan berdetak saat mendengar ucapan tersebut—ucapan yang mana sangat di bencinya! Hal yang membuat Kae Bi harus merasakan keterpurukan dan mimpi buruk kini terkenang pada bagian otaknya secara cermat. Hingga takdir seakan mempermainkan mereka dalam belenggu. Tak ada yang dapat diucapkan setelah itu, Joon Sung dengan keterbungkamannya dan Kae Bi yang terus menatap dalam gundah.



***






END CHAPTER




« Last Edit: August 24, 2012, 09:34:26 am by Winda Minsun »

[lovestruck] and in another life, we believe... love never die [lovestruck]