CallMinsun
Welcome,
Guest
. Please
login
or
register
.
1 Hour
1 Day
1 Week
1 Month
Forever
Login with username, password and session length
News:
Home
Search
Calendar
Login
Register
CallMinsun
»
FANFIC
»
Short Fanfic
»
You make me falling in love; chapter 5 part 3 (20/10/2012)
(Moderators:
revynska
,
Amira
) »
Message #51332
« previous
next »
Print
Pages:
1
...
15
16
[
17
]
18
19
...
21
Go Down
Author
Topic: You make me falling in love; chapter 5 part 3 (20/10/2012) (Read 16857 times)
ai_yuki
Hero
Posts: 1235
Location: Indonesia
You make me falling in love; chapter 5 part 1 (09/10/2012)
«
Reply #240
on:
October 08, 2012, 06:08:51 pm »
YEY!!! akhirnya bisa
Chapter 5 part 1
Matahari mulai beranjak meninggi, meninggalkan bekas-bekas hangat yang digantikan oleh rasa panas yang perlahan mulai meraja. Tanpa memperdulikan yang tengah terjadi disekitarnya, Jung min menatap diam secangkir kopi pekat ditangannya.
Ia hanya terdiam tanpa memikirkan apapun hingga sesuatu kembali masuk kedalam, menyelam jauh ke pikiran terdalamnya, tidak memperdulikan tatapan mata prihatin dari Pak Jang yang duduk dihadapannya. Pak Jang mengalihkan pandangannya menatap jam tangannya.
Pada jam itu, keduanya seharusnya sudah berada dikantor dan mengadakan rapat pemegang saham tentang proyek baru yang direncanakan oleh Jung min, tapi tampaknya keterdiaman Jung min belum menunjukkan akan berakhir yang menandakan Pak Jang hanya dapat diam menunggu, tapi tidak beberapa lama, desahan terdengar dari mulut tuan mudanya itu.
“pak Jang… jam berapa kita harus kembali kekantor..”tanya Jung min masih belum mengalihkan pandangannya dari cangkir kopi dihadapannya.
Pak Jang menatap Jung min sesaat “…sekarang ini, seharusnya kita sudah kembali kekantor doronim… pemegang saham pasti sudah menunggu anda…”
Jung min diam, menghela napas sesaat kemudian perlahan mulai bangkit dari tempatnya dan melangkah perlahan kearah kantornya. Pak Jang diam melangkah mengikutinya menatap punggung bos mudanya itu, dan dengan keberanian kecil ia mengejar langkah tuan mudanya itu, menjajari langkahnya, memanggil namanya “…doronim…”panggil Pak Jang yang membuat Jung min menghentikan langkahnya, menatap pak Jang lesu “…de?!?”
“…hanya… adakah sesuatu yang dapat saya lakukan tuan…?”tanya pak Jang menatap Jung min serius. Jung min diam ditempatnya menatap pak Jang terdiam, memikirkan segalanya, kemudian perlahan Jung min menggelengkan kepalanya “tidak ada pak Jang…”ujar Jung min
Pak Jang menatap Jung min diam, mencoba mencari pembenaran, tapi memang benar, tuan mudqnya itu tidak membutuhkan bantuannya atau bantuan siapapun saat itu, dan keduanya melanjutkan perjalanan mereka kembali.
*******
“aku ingin bertemu dengan tuan Goo Jung min..”ujar seorang wanita tiba-tiba dari balik meja, yang menatap wanita dihadapannya terkejut sekaligus hormat “…ahh… Hye na agashi.. mianhe… saat ini pak direktur sedang mengadakan rapat dan…”
“ahhh… begitu…”
“tapi anda bisa menunggu beliau diruangannya…”ujar sekretaris Jung min, tersenyum sambil kemudian menunjukkan ruangan besar tak jauh disisinya yang Hye na tahu adalah ruangan Jung min “silahkan… anda bisa menunggunya disini…”ujar sekretaris itu, tersenyum, membukakan pintu untuk Hye na yang kemudian disusul langkah Hye na yang masuk kedalam ruangan itu “ahhh… pukul berapa rapatnya selesai… aku masih ada janji yang harus aku penuhi…”tanya Hye na, menatap sekretaris itu.
“tidak akan lama lagi agashi… mungkin sekiar 15 menit lagi…”ujar sang sekretaris
“baiklah… terima kasih banyak kalau begitu…”
“ne…”jawab si sekretaris yang kemudian beranjak pergi keluar dari pintu ruangan Jung min dan menutup pintunya.
Hye na menatap sekeliling ruangan itu ketika pintu dibelakangnya menutup. Hye na sama sekali belum pernah masuk kedalam ruangan kerja suaminya itu. Ia hanya pernah menatapnya sekilas dari pintu dan itu terjadi hanya beberapa menit karena kemudian ia pergi.
Hye na menghela napas panjang dan kemudian melangkah perlahan kearah meja kerja Jung min kemudian duduk dikursinya perlahan. Hye na merasakan kesulitan saat akan duduk dikursi Jung min yang lebih rendah dari kursi biasanya. Ia tahu, sangat tahu kalau Jung min memiliki tinggi yang tidak sepadan dengan meja kerjanya, jadi Jung min merendahkan kursinya, namun Hye na dapat menebak, Jung min masih terlihat keren dan tampan saat duduk di kursi ini walaupun ia memendekkan tinggi kursinya.
Hye na duduk perlahan, dan tersenyum saat ia merasa kesulitan mendudukkan pantatnya di kursi tersebut. “aigooo… kau benar-benar cepat besar nak… sekarang kau mempersulit omma untuk duduk dikursi appamu…”ujar Hye na yang dengan usaha terakhirnya ia dapat duduk dikursi itu. Hye na menikmati tempat suaminya itu, dimana suaminya duduk dan menatap ruangan itu, mencoba menyimpan bentuk dan kondisi ruangan itu, dan sesuatu menarik perhatiannya.
“auuusshhh… dasar sama saja… ini bukan tempat untuk meletakkan berkas penting… bagaimana bisa dia meletakkan berkas-berkas itu di atas bar. Yup, benar sekali, tidak seperti ruangan pada umumnya, ruangan kerja Jung min memiliki bar minuman yang memang sengaja ia sediakan untuk kepentingan tamunya agar dapat mendekatkan dia dan siapapun tamu pentingnya saat mereka berada diruangan itu, memang filosofi yang aneh, tetapi berhasil. Jung min sendiri yang mengatakannya dan tentu saja, karena bar minuman itu masih dipertahan kan dengan berbagai macam minuman yang tersedia, Hye na dapat melihat usaha suaminya itu sangat berhasil, dan membuat Hye na tersenyum saat menatap itu, membayangkan Jung min menghabiskan minuman bersama klien-kliennya saat mereka tengah membicarakan bisnis.
Langkah Hye na terus kea rah berkas-berkas itu. Ia menatap berkas-berkas itu dan betapa terkejutnya ia saat menatap sebuah berkas yang bertuliskan namanya. Hye na tidak mengerti kenapa namanya ada di berkas itu dan apa yang membuat dirinya berada disana.
Hye na manatap berkas itu sesaat kemudian perlahan membuka berkas itu. Hye na mambaca tulisan disana dan hingga akhirnya sesuatu mengejutkannya. Mata Hye na terbelalak saat mengetahui sesuatu dari kertas-kertas yang berada dalam berkas itu “…ap…”
“Hye na…”panggil seseorang tiba-tiba, yang membuat Hye na mengalihkan pandangannya menatap orang itu, mengalihkan pandangannya menatap orang itu. “Hye na…”panggil orang itu yang sekarang juga menunjukkan keterkejutannya.
“Hye na apa yang kau lakukan…”tambah orang itu yang kemudian melangkah mendekati Hye na dan mengambil berkas ditangannya. Orang itu menatap Hye na, menatapnya, memohon “…dengarkan aku sayang… aku…”
“kenapa kau tidak mengatakannya…?”tanya Hye na, menatap laki-laki dihadapannya marah. Jung min diam ditempatnya, menatap Hye na, iba. Tentu saja bukan pada Hye na melainkan pada dirinya sendiri “…dan siapa itu Kim Jung hyun… siapa dia…? Tanya Hye na yang ternyata berhasil membuat Jung min menundukkan kepalanya, menatap sepasang sepatunya.
“siapa dia… dan apa hubunganmu dengan semua ini…?”
Jung min masih diam, tidak mampu melakukan apapun “…katakan padaku Goo Jung min-ssi… siapa orang itu…”
Lama Jung min terdiam, hingga akhirnya ia menyadari kesalahannya dan ia tidak akan bisa menutupi segalanya lagi “…ayahku…”ujar Jung min yang kini berhasil membuat Hye na membelalakkan matanya menatap Jung min, separuh tidak percaya dan separuh lagi, ia sangat tidak ingin mempercayainya. Hye na diam, menatap Jung min sesaat, kemudian menarik napas panjang, berusaha menenangkan dirinya. Perlahan ia mengusap lembut perutnya yang sudah mulai membesar, mencoba mengingatkan dirinya akan seseorang yang berada diperutnya “…lalu… kenapa disini tertulis bahwa ayahmu yang bertanggung jawab atas kecelakaan itu… bahwa ayahmu yang mengakibatkan kecelakaan yang membuatku kehilangan…” Hye na terdiam tidak mampu meneruskan kalimatnya, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
“aku bisa menjelaskan segalanya…aku…”
“sejak kapan kau tahu tentang hal ini Goo Jung min-ssi… dan bagaimana…” Hye na menghentikan kalimatnya sesaat, air mata terlihat mulai jatuh ke pipinya, hatinya sakit “aku bisa menjelaskannya sayang…”
“apa kau menikahi ku karena ini…?!?!”tanya Hye na, mengmbil kesimpulan, yang ternyata membuat Jung min terkejut dan menatap diam Hye na dihadapannya. Jung min diam ditempatnya menundukkan kepalanya.
“benar bukan… ternyata seperti itu… dan ucapanmu…” Hye na menghentikan ucapannya sesaat, tidak mampu meneruskan perkataannya “bagus sekali…” Hye na menghentikan ucapannya kembali, menghapus air mata yang telah mengalir ke pipinya “… jadi jawab aku Goo Jung min-ssi… kau menikahiku karena anak ini, dosamu yang lalu ini…” ujar Hye na sambil menunjukkan berkas ditangan Jung min “…dan tentu saja karena tanah itu… iya bukan…??!? Sehingga kau merasa harus menikah denganku…” Hye na menatap Jung min, menahan air matanya yang akan jatuh, Hye na menarik napas panjang, sebelum melanjutkan ucapannya kembali “…kau menikahiku karena merasa kasihan padaku bukan.. ”lanjut Hye na yang berhasil membuat Jung min mengalihkan pandangannya menatap Hye na dengan tatapan terbelalak “tidak.. ahni… tidak seperti itu… percayalah…”
“percaya katamu…” Hye na menghentikan kalimatnya dan ditatapnya Jung min, sangsi “…apa lagi yang harus kupercayai Goo Jung min-ssi… sudah terlalu banyak rahasia dan sudah terlalu banyak kecurigaan…”
“ini bukan seperti yang kau pikirkan…”
“sudah… hentikan… hentikan semuanya… aku benar-benar merasakan sakit sekarang… aku harus pergi… dan aku tidak membutuhkan rasa belas kasihmu…”ujar Hye na yang kemudian melangkah pergi meninggalkan Jung min dengan menekan kuat dadanya yang terasa sakit. Meninggalkan Jung min yang tidak mampu melakukan apapun dan hanya terdiam ditempatnya.
*******
Matahari semakin beranjak, menunjukkan semburat berwarna jingga, menunjukkan bahwa sebentar lagi sang mentari akan tenggelam, ditelan malam. Jung min terdiam ditempatnya, membelakangi jendela yang menunjukkan saat-saat matahari akan kembali ke ufuk.
Pak Jang diam, menunggu dan menatap Jung min yang masih diam menundukkan kepalanya. Pak Jang tahu, ia tahu segalanya, apa yang dipikirkan tuan mudanya itu dan masalah yang sedang ia hadapi, tapi ia juga tahu bahwa tidak ada yang bisa ia lakukan, hingga.. “pak Jang… ada janji apa lagi untuk hari ini…?”tanya Jung min, masih menundukkan kepalanya dan terdengar lesu.
“tidak ada doronim… sudah selesai… dan jika anda ingin pulang… maka…”
“ne… tolong siapkan mobil, tapi aku ingin ke peternakan Hye na sebelum pulang… aku ingin menemuinya…”
“adakah sesuatu yang dapat aku lakukan tuan…?”tanya pak Jang akhirnya, menatap Jung min penuh harap.
Jung min terdiam sesaat, tanpa kata hingga terdengar desah dari mulutnya “ceritakan aku tentang hal itu pak Jang…”ujar Jung min kemudian
"tapi…”
“ne… aku tahu kalau aku tidak ingin mendengar apapun tentang orang itu.. apapun, tapi aku juga tidak tahu apa yang harus aku lakukan pak Jang… aku merasa ada sesuatu… ada sesuatu disini…” Jung min terdiam sesaat, menghela napasnya kembali, kemudian perlahan mengangkat wajahnya menatap pak Jang, memohon dan penuh harap.
“apa yang ingin anda tahu tuan…”
“ceritakan segala yang kau tahu…”
Pak Jang diam ditempatnya, menatap Jung min tegas dan yakin “…kalau begitu, saya hanya harus membawa anda ke beliau tuan… anda hanya harus mendengarnya sendiri dari orang yang anda pikir bertanggung jawab dibalik semua ini...”
Jung min diam, menatap pak Jang sesaat, kemudian kembali menghela napas panjang dan menundukkan kepalanya, akhirnya menyerah “…baiklah…”jawab Jung min lemah.
Ia tahu apa yang akan dilakukan pak Jang dan ia tahu akan dibawa kemana dirinya pergi, dan sekarang disitulah ia berada, disebuah ruang kerja luas dengan meja besar dihadapannya dan seorang laki-laki yang diam menatapnya bergantian dengan sebuah berkas yang sudah membuatnya berkali-kali menghela napas dan menatap anak laki-lakinya.
Jung min diam menatap laki-laki paruh baya dihadapannya, tegang. Hatinya bergolak sejak ia masuk dan menatap orang itu yang hanya diam menatapnya penuh ketenangan, dan kini sebuah senyum yang juga seperti senyum miliknya terlihat merekah diwajahnya“…bagaimana…”
“aku benar-benar minta maaf karena mengganggu anda...” Jung min menghentikan kalimatnya, menahan amarahnya “...tuan… tapi aku hanya akan meminta sedikit waktu anda jika anda dapat mengatakannya tanpa basa basi dan langsung pada sesuatu yang ingin aku ketahui… hanya…katakan padaku segalanya…”ujar Jung min terdengar dingin
Laki-laki dihadapannya terdiam menatap Jung min, sesaat Jung min dapat melihat ketenangannya buyar dan tergantikan dengan sedikit rasa sakit yang terpancar dimatanya dan sebuah kerinduan yang terselip diantara rasa sakit itu.
“apa yang ingin kau ketahui…”tanya laki-laki itu
“ceritakan padaku tentang apa yang tertulis dalam berkas itu…”ujar Jung min sambil melirik sesaat berkas yang sebelumnya ia lemparkan diatas meja diantara keduanya dan telah dibaca laki-laki dihadapannya dan berhasil membuat Jung min semakin terkejut dengan ekspresi tenang ayahnya setelah membaca laporan yang menyatakan ayahnya sebagai pembunuh.
Laki-laki itu tersenyum, mengetahui apa yang akan dia katakan, dan kemudian laki-laki itu mendesah pelan dan perlahan merebahkan tubuhnya ke kursi dibalik mejanya “…sebelumnya nak…”ujar laki-laki itu yang kini berhasil membuat Jung min terkejut “…aku ingin mengucapkan selamat untuk pernikahanmu dan… kalau aku juga...errrmmm... kalau tidak salah dalam waktu 4 bulan lagi kau akan mendapatkan seorang anak”ujar laki-laki itu yang kini menggantikan rasa terkejut Jung min dengan sebuah kemarahan.
“...bagaimana kau…” dengan cepat Jung min segera mengalihkan wajahnya, menatap pak Jang yang masih berdiri dibelakanganya dengan tatapan marah. Pak Jang terlihat menundukkan wajahnya setelah menyadari tatapan tuan mudanya itu. Ia sangat mengetahui maksud tatapan Jung min, laki-laki dihadapan Jung min hanya tersenyum, menatap apa yang terjadi pada Jung min dan Pak Jang.
“ahni… bukan pak Jang nak… Pak Jang tidak pernah menceritakan hal ini padaku…”ujar laki-laki itu “…atau anda memang melupakannnya pak Jang…?!?”tanya laki-laki itu kemudian, mengalihkan pandangannya menatap pak Jang tersenyum tipis.
Pak Jang mengangkat wajahnya cepat, menatap laki-laki itu terkejut “ahni Kim Jung hyun-nim, tidak seperti itu, hanya…” pak Jang terlihat diam, tidak tahu harus melakukan apan dan hanya melirik sekilas pada Kim Jung hyun bergantian dengan Jung min kemudian kembali menundukkan kepalanya.
Kim Jung hyun menghela napas pelan dan menyandarkan tubuhnya dikursinya, mencoba lebih nyaman dengan situasi yang saat itu “tinggalkan kami berdua pak Jang… aku ingin menjelaskan segalanya pada anakku…”
“AKU BUKAN ANAKMU!!!”seru Jung min tiba-tiba, menatap penuh kemarahan pada Kim Jung hyun yang hanya tersenyum membalas tatapan penuh kemarahan Jung min dengan tersenyum sekilas pada pak Jang, menganggukkan kepalanya sekilas untuk meminta pak Jang untuk keluar dari ruangan itu.
“kau anakku nak... dan takdir yang menyatakannya seperti itu...”
“tidak!! Aku tidak pernah menjadi anakmu...” Jung min diam sesaat, menatap ayah yang sudah tidak menerimanya semenjak kecil dan dengan sengit melanjutkan kalimatnya “kau!! Kau yang sudah menyatakannya sendiri bahwa kau tidak memiliki anak... kau sendiri yang memutus hubunganmu dengan anakmu!... DENGANKU!!!”seru Jung min marah. Kim Jung hyun diam, menatap Jung min, rasa sesal menyerang hatinya saat itu “...maafkan ayah nak...”ujar Kim Jung hyun kemudian.
“AHNI!” jawab Jung min sarkastis, kemudian dengan cara yang sama ia melanjutkan kalimatnya “aku tidak ingin mendengar kata maaf disini... aku hanya ingin mendengar penjelasan tentang hal ini..”ujar Jung min sinis sambil menekan keras berkas dihadapan keduanya dengan telunjuknya. Jung min dan ayahnya terdiam saling menunggu, kemudian... “anda bisa keluar sekarang pak Jang...”ujar Kim Jung hyun lagi. Jung min dan Kim Jung hyun diam ditempatnya, saling menatap walaupun dengan pandangan yang berbeda, menunggu pintu ditutup oleh pak Jang, dan kemudian…
“bagaimana…”kalimat Jung min terhenti namun Kim Jung hyun dapat mengetahui arah kalimat Jung min. Kum Jung hyun diam ditempatnya, menghela napas pelan kemudian perlahan bangkit dari tempatnya. “apa yang ingin kau dengar nak...?”tanya Kim Jung hyun kemudian.
Jung min diam, menatap ayahnya tajam kemudian menghela napas panjang sebelum akhirnya ia menunjuk berkas yang ia letakkan dimeja diantara keduanya. “segalanya... segalanya tentang laporan itu... apa kau benar-benar yang membunuh ibu dari Hye na...?”ujar Jung min, menatap sang ayah penuh selidik.
Kim Jung hyun diam ditempatnya, menatap Jung min sesaat kemudian membalikkan tubuhnya menatap langit malam yang tanpa bintang dan kilatan cahaya yang dipancarkan lampu-lampu dimalam hari. Kim Jung hyun terdengar menghela napas sesaat sebelum akhirnya mulai bicara.
*********
Hye na diam menatap sesuatu dihadapannya, serius. Matahari masih menunjukkan tajinya saat itu. Udara yang panas dan sengatannya yang menusuk. Hye na diam, menetapkan sesuatu dan perlahan mengangkat busur dan anak panah yang telah terpasang ditengahnya.
Hye na menatap target jerami, jauh dihadapannya, membidik, kemudian saat ia menarik napas panjang, dan menghembuskannya bersama dengan anak panah yang ia lepaskan dari tangannya dan langsung menghantam target jerami yang berdiri jauh dihadapannya, menancap ditengahnya.
Hye na terlihat meringis saat ia melepaskan anak panah itu. Ditatapnya tangan kanannya yang mash terbalut perban yang mulai terlihat kotor.
Hye na menyeka keringatnya dan menjatuhkan dirinya duduk di ujung dinding dojo peternakannya, tepat dengan kedatangan seseorang “gwenchana…?”tanya orang itu sambil menunjukkan kotak putih p3k ditangannya. Hye na menatap orang itu, dan hanya keterdiaman yang terlihat. “waeeeee…?”ujar orang itu menatap Hye na bingung dan kemudian duduk disisi Hye na yang masih menatapnya diam.
Min woo melangkah mendekat berdiri disisi Hye na dan perlahan mengambil tangan kanan Hye na dan mulai membuka perban ditangannya “… seharusnya kau tidak memanah dulu… lihat lukanya kembali mengeluarkan darah…”ujar Sung Min wo sambil membuka perban ditangan kanan Hye na perlahan.
Hye na masih diam, menatap orang itu, namun tak lama kemudian ia menarik tangannya dari genggamannya “oppa… apa yang kau lakukan…”
“tak ada…”ujar Min woo yang kemudian meraih tangan Hye na kembali
Hye na menarik tangannya kembali, dan mengalihkan pandangannya pada kotak p3k yang dibawa Min woo, kemudian mengambilnya “ahni… kau tidak boleh…”
“biarkan aku…”
“Min woo oppa… Jung min…”
“dia tidak disini… dan biarkan aku merawat lukamu… luka ini akan bertambah parah jika kau nekat menggunakannya…”ujar Sung Min woo yang kemudian mengambil tangan Hye na dan meletakkannya dipangkuannya, mulai melepas balutan tangan Hye na yang sudah membelit tangannya untuk beberapa hari ini dan terlihat sama sekali tidak mendapat perhatian dari Hye na dan ternyata Sung Min woo menyadarinya “…yya… berapa lama kau tidak mengganti perbanmu…?”
Hye na diam, menatap Min woo dan tersenyum, tersipu malu karena keteledorannya. Min woo diam dan mulai melepas perban yang membelit tangan Hye na kemudian menggantinya dengan yang baru.
Keduanya terdiam, melakukan kesibukan masing-masing dan jika mengamati wajah Min woo merupakan suatu kesibukan maka apa yang Hye na lakukan sekarang benar-benar membuatnya sibuk, hingga keduanya tidak menyadari kehadiran seseorang yang mengamati keduanya dengan perasaan terluka dan marah.
Hye na masih diam menatap Min woo namun segera terganggu oleh tatapan seseorang yang tengah menatapnya sedari tadi. Hye na mengangkat wajahnya menatap orang itu diam... dan hanya diam. Hye na menyadari kedutan otot dirahang laki-laki itu dan Hye na mengetahui kedutan itu hadir karena apa yang dilakukan Min woo disini berhasil membuat laki-laki itu marah “nah…sudah… sekarang lebih baik..”ujar Min woo, menatap Hye na tersenyum, namun yang ditatap hanya diam ditempatnya menatap seseorang yang berada dibelakang Min woo.
“…apa yang…”kalimat Min woo terputus, seseorang itu kini berhasil mengusik Min woo “Goo Jung min-ssi…”sapa Min woo yang kemudian bangkit dengan cepat dan segera disusul oleh Hye na. Min woo terlihat diam, berdiri diantara keduanya dan ia berkesan dirinya adalah seorang pengganggu, yang mungkin menurut pendapat Jung min adalah benar.
“mianhe… aku hanya…”
“aku ingin berbicara empat mata dengan ISTRIKU…”ujar Jung min dengan menekankan kata ’ISTRIKU’ pada kalimatnya yang ternyata berhasil membuat Min woo menatap Jung min terkejut.
Jung min menatap Hye na tajam, dengan pandangan dan raut wajah yang tegang, Jung min tidak mengalihkan ataupun melirik sedikitpun pada Min woo yang kemudian segera beranjak pergi meninggalkan keduanya.
Hye na dapat melihat otot yang berkedut di pelipis Jung min dan ketegangan yang tergambar diwajahnya. Hye na tahu Jung min marah dengan adanya Sung min woo tapi saat itu yang seharusnya marah adalah dirinya.
Hye na menyadarinya, dengan keputusan yang diambilnya, Hye na segera mengambil busur dan anak panah yang disandarkannya di dinding di belakang tubuhnya “untuk apa kau kemari?”tanya Hye na ketus yang kemudian segera memasang anak panah ke busurnya dan mencoba untuk menarik anak panahnya dengan tangannya yang terkesan tebal karena perban baru yang melilit tangannya “akhh!!”seru Hye na tiba-tiba ketika ia akan melepaskan anak panahnya.
Jung min segera beranjak dari tempatnya, mengambil anak panah Hye na dan menjatuhkannya di lantai kayu dojo “kau benar-benar gadis yang sulit…”ujar Jung min, menatap Hye na dan mencengkeram tangan kanannya kuat “sebenarnya apa yang kau inginkan…”tanya Jung min menatap Hye na tajam
“akh!! Kau menyakitiku…”ujar Hye na yang berusaha menarik tangannya dari cengkraman Jung min
“apa yang kau inginkan Jung Hye na…”tanya Jung min lagi tidak memperdulikan rasa sakit tangan Hye na yang dicengkeramnya semakin kuat. “lepaskan!!”seru Hye na namun masih belum dapat membuat Jung min melepaskan cengkraman tangannya.
“Lepaskan Goo Jung min-ssi!!”seru Hye na yang dengan sebuah tarikan kuat berhasil menarik tangannya lepas dari cengkraman tangan Jung min.
Hye na mengusap lembut pergelangan tangannya sesaat “…seharusnya aku yang menanyakannya padamu Goo Jung min-ssi… apa maumu…”ujar Hye na masih mengusap lembut tangannya namun tak lama kemudian ia mengalihkan pandangannya menatap Jung min yang berdiri dihadapannya “apa maumu dan apa rencanamu… katakan segalanya… dan…” Hye na menghentikan kalimatnya
“apa…?!?”tanya Jung min kemudian
“dan… aku… ahni… kita akan melupakannya…”ujar Hye na yang mengalihkan wajahnya cepat, dari tatapan tajam Jung min “…apa maksudmu…”
Hye na menarik napas panjang “…kita hentikan segalanya…”
“apa yang harus dihentikan…”tanya Jung min, menatap Hye na bingung.
“usahamu… apapun itu dan untuk apa itu… kita cukup menghentikannya saja…”ujar Hye na
“aku tidak…”
“…kau tidak perlu melakukan apapun usahamu itu…”
“usaha apa…aku tidak..”
“usaha untuk bertanggung jawab atas anak ini… usaha untuk mendapatkan tanah ini dan usaha untuk mengasihani aku karena kepergian…” Hye na menghentikan kalimatnya, tidak sanggup meneruskannya dan yang terlihat kemudian air mata yang mulai jatuh membasahi pipinya.
“aku tidak…”
“semuanya terlihat jelas Goo Jung min-ssi… dan kau tidak perlu memungkirinya lagi… aku tidak akan melakukan apapun... dan aku tidak akan meminta apapun… hanya akhiri saja…”
“…”Jung min diam, menunggu, ditatapnya wanita yang tengah mengandung anaknya diam “…anak itu anakku Hye na…”ujar Jung min lirih, putus asa. Kini terpancar rasa cinta dimatanya dan sebuah tatapan memohon. Hye na mendesah pelan “aku tidak akan memutus dan memungkiri dirimu sebagai ayah anak ini dan aku juga tidak akan meminta apapun padamu…” Hye na menghentikan kalimatnya sesaat “…cukup sampai disini…”
“ahni… bukan itu… bukan itu…”
“ya tentu saja… tentu saja itu… aku tidak akan melakukan apapun lagi… jadi… tolong tinggalkan aku…”
“ahni… dengarkan aku dulu… beri aku kesempatan…”
Hye na diam, menatap Jung min. keputus asaan terpancar diwajahnya, dan dengan perlahan Hye na melangkah meninggalkan Jung min yang diam ditempatnya tidak dapat melakukan apapun dan tidak dapat mengatakan apapun untuk membela dirinya.
********
Matahari mulai tenggelam, memberikan semburat jingga yang menyelimutinya. Jung min diam, membenamkan wajahnya diantara tangannya. Dalam kesunyian rumah peternakannya, ia terngiang segalanya kembali. Segala hal yang membuat dirinya seperti saat ini.
Flashback
“apa yang ingin kau dengar nak…”ujar pria itu yang masih menatap Jung min tenang, tidak terganggu dengan tatapan marahnya.
“jelakan segalanya… semua dosamu yang lalu…”
Laki-laki itu diam ditempatnya “…dosaku nak…?!?!”
Jung min menyipitkan matanya, sangsi dengan niat laki-laki dihadapannya “…apa terlalu banyak hingga kau tidak tahu harus memulainya dari mana…?”ujar Jung min, sarkastis yang ternyata malah membuat laki-laki itu tersenyum lebar, melipat kedua tangannya di dada, terlihat berpikir dan mencoba mengingat.
“ne… benar nak… terlalu banyak dosa yang aku lakukan… jadi… katakan dosa mana yang ingin kau dengar…”ujar laki-laki itu.
Jung min menghela napas panjang, melangkah mendekati meja diantara keduanya dan membuka berkas yang berada diatasnya “…ini… apa hubunganmu dengan kematian Jung Soo yoon… ibu dari…”
“Jung Hye na atau bisa aku bilang Lee Hye na… istrimu?!?!?”
Jung min diam, mendengar nama sang istri disebut begitu saja oleh orang yang sangat ia benci. Ketegangan dan kemarahan kembali terpancar diwajahnya. Kim Jung hyun menghela napas panjang sebelum akhirnya ia bangkit dari tempatnya dan melangkah membelakangi Jung min “… ceritanya sangat panjang nak…”ujar Kim Jung hyun lemah
“apa maksudmu…”
“segalanya bermula dari sebuah urusan bisnis yang… awalnya menguntungkan….tapi ternyata merugikan antara aku dengan ayah Hye na… Lee Byung jun..dan.. ” Kim Jung hyun terlihat diam sesaat, menatap anak laki-lakinya.
Jung min diam, mendengarkan setiap kata dan setiap kalimat yang dikeluarkan oleh laki-laki dihadapannya. Jung min sama sekali tidak menyangka hanya karena sebuah urusan bisnis, seseorang mampu membunuh orang lain, dan seseorang itu adalah ayahnya “hanya karena sebuah urusan bisnis anda membunuhnya..??!?!”ujar Jung min sarkastis. Kim Jung hyun menghela napas, seakan mengiyakan.
“kau sama sekali tidak berubah…”ujar Jung min, menatap ayahnya yang kini memutar tubuhnya dan menghadap Jung min, untuk mendengar segalanya “…apa maksud….ahhh… ne… benar sekali… dan aku sangat menyesalinya… sangat nak…”
Jung min mendengus mendengar ucapan ayahnya “…untuk apa menyesalinya… bukankah tidak ada gunanya untuk itu…”
Ayah Jung min diam, menatap Jung min nanar dan sedih “…ne… bahkan mungkin tidak akan cukup hanya sekedar meminta maaf. Jung min menyipitkan matanya, menatap laki-laki dihadapannya itu “…jadi… jelaskan segalanya…”
Kim Jung hyun menghela napas panjang sesaat kemudian melangkah duduk dihadapan Jung min dan mulai menerawang, kembali mengingat segalanya. “…ne… benar, kematian Jung Soo yoon adalah tanggung jawabku… dan tentu saja aku tidak akan memungkirinya… aku yang memanipulasi kendaraan Lee Hye na dan semua kendaraan di rumah itu, hanya untuk mencelakai dan memberi peringatan… tapi diluar dugaanku, satu nyawa melayang karenanya… itu yang terjadi…”
Jung min diam sesaat, menatap laki-laki dihadapannya “lalu tentang Kim Tae jung…?” tanya Jung min
“Kim Tae jung …?!?!?”
Jung min diam, menatap sang ayah yang tampak terkejut dengan ucapan Jung min “…bagaimana kau mengenalnya…?”
Jung min tidak menjawab pertanyaan ini dan hanya mengajukan sebuah pertanyaan kembali “… apa kau bersekongkol dengan Kim Tae jung…?”
Kim Jung hyun diam ditempatnya, menatap Jung min “…tidak… tentu saja tidak… dia benar-benar tangan kanan Lee Byung jun ayah Hye na… dan kau tidak bisa membayar orang kepercayaan dengan uang sebanyak apapun.. tapi aku mendapat bantuannya…”
“ne… kau mendapat bantuannya untuk memasukkan orang yang kau suruh memanipulasi semua kendaraan itu…dan akibatnya Kim Tae jung yang di persalahkan atas segalanya…”
Kim Jung hyun diam ditempatnya menatap Jung min, setelah mendengar ucapannya, menatap Jung min tidak percaya “… aku mengenal anaknya… Kim Tae san dan dia menjadi pelindung Hye na sekarang… aku mengetahui jika ayahnya yang memerintahkannya untuk menjaganya…” Jung min menghentikan perkataannya “…benar-benar menjadi orang kepercayaan hingga mati…”ujar Jung min lagi, menatap sang ayah yang tersenyum mendengar ucapannya.
Keduanya terdiam sesaat, memikirkan sesuatu dikepala masing-masing, tapi… “apa yang akan kau lakukan nak…”
Jung min mengangkat wajahnya menatap sang ayah kesal, sinis “apa yang akan kau lakukan…”
“penyesalan tidak berguna bukan… tapi jika itu bisa membantu maka apapun akan aku lakukan untuk kebahagiaanmu nak…”
Jung min menatap sang ayah, “ck! Kebahagiaan…?!?!” Jung min menatap sang ayah tajam “…aku tidak tahu tentang kebahagiaan sejak aku lahir tuan Kim Jung hyun, dan karena kau sekarang, aku akan kehilangan kebahagiaan yang akhirnya dapat aku raih… dan kau hanya bertanya apa yang dapat kau lakukan…?!?” Jung min mendengus sinis “benar-benar hebat...”ujar Jung min lagi.
Dengan tenang, Kim Jung hyun menatap Jung min dan tersenyum “…ne… apa yang dapat aku lakukan untuk membantu mendapatkan kebahagiaanmu lagi…?”
Jung min semakin marah mendengar perkataan sang ayah dan dengan cepat ia mengambil berkas dimeja diantara keduanya, dan menatap sang ayah tajam “…tidak perlu!! aku yang akan menyelesaikannya sendiri… aku hanya ingin kau menjauh dari semua ini dan biarkan aku melakukan apapun sendiri…”ujar Jung min yang kemudian beranjak pergi meninggalkan sang ayah, namun tiba-tiba menghentikan langkahnya setelah ia membuka pintu ruangan itu “… terima kasih untuk penjelasanmu itu…”ujar Jung min lagi yang kemudian membanting keras pintu dibelakangnya dan pergi.
End Of Flashback
Jung min mengacak rambutnya, bingung dan marah pada dirinya sendiri “…apa yang harus aku lakukan sekarang…”ujar Jung min, mendesah panjang, menutup wajahnya dengan kedua tangannya, hingga sebuah ketukan dipintu membuatnya bangkit dari tempatnya “ne...”ujar Jung min yang kemudian membuka pintu kamarnya “pak Jang...”ujar Jung min terkejut dengan kehadiran pak Jang dimalam itu “apa yang anda...”tanya Jung min terhenti menatap laki-laki dihadapannya
“maafkan saya tuan... hanya ingin memperjelas segalanya...”ujar Pak Jang, menatap Jung min serius.
Jung min diam, bingung, menatap keseriusan pak Jang “silahkan pak Jang...”ujar Jung min sambil kemudian menunjukkan kursi tak jauh dari tempatnya kemudian menyusul pak Jang duduk dihadapannya. “ada apa pak Jang...?”tanya Jung min lagi
“hanya ingin mengatakan yang seharusnya tuan...” ujar pak Jang lagi dan membuat Jung min benar-benar diam, menatap pak Jang “apa maksud pak Jang...?”
Pak Jang diam, menarik napas panjang “...ini tentang laporan yang diberikan oleh Kim Tae so-ssi...”
Jung min diam menyadari kearah mana pembicaraan pak Jang, dan mendengarkan setiap kalimatnya hingga membuat Jung min tercengang ditempatnya “segalanya berawal dari persahabatan kecil antara Jung Soo yoon dan ayah anda tuan...”ujar pak Jang, menundukkan kepalanya, tidak mampu menatap Jung min.
“mwo?!?! Persahabatan antara ibu Hye na dan...” kalimat Jung min terhenti, menatap pak Jang tidak percaya “apa maksud anda pak Jang... aku tidak... aku tidak mengerti...”ujar Jung min, memalingkan wajahnya dari pak Jang, masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
“ne.. persahabatan yang membuat tuan Kim Jung hyun harus kehilangan cinta pertamanya...”
Jung min diam, makin tidak mengerti apa yang dikatakan oleh pak Jang, namun pak Jang melanjutkan kalimatnya “nyonya Jung Soo yoon adalah cinta pertama tuan Kim Jung hyun hingga akhirnya Jung Soo yoon agashi bertemu dengan tuan Lee, ayah Hye na...”
Jung min diam ditempatnya, menatap pak Jang tajam, namun cerita itu membuat Jung min mulai mengerti “...saat anda berumur 20 tahun dan nona Hye na berumur 16 tahun, tuan Lee dan tuan Kim bertemu untuk bisnis mereka... dan dari situlah segalanya bermula... banyak terjadi kesalah pahaman yang kemudian membuat tuan Lee mengancam tuan Kim... dan membuat Tuan Lee menjauhi Jung Soo yoon-ssi... Ibu Hye na...”
“mengancam?!?”potong Jung min
“ne... dengan nyawa anda... namun ternyata itu hanya sebuah ancaman...tuan Lee tidak pernah melakukan apapun pada anda... walaupun sesuatu memang terjadi pada anda...”
Dahi Jung min mengernyit tidak mengerti “apa yang terjadi denganku...?”tanya Jung min tidak mengerti
Pak Jang menarik napas, ditatapnya Jung min lekat “apa anda ingat saat anda kuliah dan mendapatkan beasiswa di Inggris, anda sempat diserang oleh seseorang...”ujar pak Jang, mencoba mengingatkan Jung min.
Jung min diam, mencoba mengingat dan ingatan itu kembali, Jung min masih ingat segerombol anak mencoba menyerangnya, namun tidak terjadi apapun padanya karena tiba-tiba 2 orang yang mengenakan jas hitam melawan gerombolan anak itu. Jung min baru menyadari 2 orang itu adalah orang-orang yang diperintahkan oleh ayahnya untuk menjaga Jung min. “... namun Kim Jung hyun-ssi mengira anda memang diserang oleh tuan Lee, dan hasilnya adalah kecelakaan yang dialami Hye na dan ibunya...”
Jung min tertawa, menyadari bahwa segalanya benar “...ne... hampir semuanya benar doronim... namun anda salah... tuan Kim tidak bermaksud mencelakai atau membunuh nyonya Jung Soo yoon dan Hye na agashi... hanya sebuah ancaman... ayah anda tidak akan mampu membunuh sahabat sekaligus cinta pertamanya... ditambah lagi ayah anda tahu bahwa tuan Lee tidak pernah melakukan ancamannya...”
Jung min diam ditempatnya, mengerti apa yang terjadi “...jadi ini hanya kesalah pahaman yang membuat Hye na kehilangan ibunya...”ujar Jung min, marah, tidak pada pak Jang tapi pada dirinya.
“lalu... bagaimana dengan bukti yang aku dapatkan...”ujar Jung min, tidak percaya dengan ucapan pak Jang.
“bukti itu benar jika yang menyabotase mobil Hye na agashi adalah anak buah ayah anda, namun ada yang salah doronim, orang itu juga bertindak dengan kemauannya sendiri... dia dendam dengan tuan Lee hingga membuat tuan Lee kehilangan orang yang disayanginya...”
“bagaimana bis...” Jung min menghentikan kalimatnya, kemudian bangkit, tidak mengerti “lalu siapa yang mencelakai Hye na dan ibunya...”
“orang itu dendam pada tuan Lee karena sudah mengambil warisannya... tapi sekarang orang itu sudah mendapatkan hukuman yang seharusnya...”
Jung min diam, menatap pak Jang, kemudian tiba-tiba menjatuhkan tubuhnya ke sofa dibelakangnya, terkejut dengan apa yang sudah didengarnya. Keduanya terdiam. Pak Jang menatap tuan mudanya itu sesaat sebelum akhirnya bangkit berdiri dan pamit keluar dari ruangan Jung min, meninggalkan Jung min sendiri, memikirkan apa yang baru saja didengarnya, “jadi ibu Hye na adalah cinta pertama orang itu dan, bukti ini salah... orang itu hanya ada disaat dan pada situasi yang salah...”batin Jung min. Jung min menarik napas panjang, kemudian kembali berkutat dengan pikirannya, hingga...
“yobseyo…”sapa Jung min
“yobseyo… Goo Jung min-ssi… mianhe… tapi aku harus memberitahukan sesuatu…”
“mwo?!?!?” Jung min bangkit dari tempatnya “…bagaimana dengan Kim Tae so…”
“dia tidak ada ditempat, dan aku tidak bisa mencegahnya… cepatlah kemari…”
“ne… tolong lakukan apa yang harus kau lakukan… jangan biarkan wanita itu meminum apapun”
Jung min menutup ponselnya dan dengan langkah cepat ia keluar dari ruangannya, mengambil kunci mobilnya dan melajukannya cepat.
********
“Hye na agashi… apa yang…”
“aku ingin bertemu dengan Kim Tae so…”ujar Hye na sambil mengambil gelas air mineralnya kemudian menyandarkan tubuhnya dibantalan kursinya.
“bos?!?! Dia tidak…”ujar seorang laki-laki
“panggilkan dia untukku sekarang..”ujar Hye na yang terdengar seperti sebuah perintah
“tapi…”
“Hye na…” panggil seseorang tiba-tiba, membuat Hye na langsung mengalihkan wajahnya menatap orang itu “apa yang kau lakukan disini…?!?”ujar Hye na kesal, menatap orang itu
“Goo Jung min-ssi…”panggil laki-laki itu
“ayo kita pulang..”ujar laki-laki itu, menatap Hye na tajam dan kemudian mengambil tangan Hye na sebelum akhirnya menariknya cepat, membuat Hye na bangkit dari tempatnya.
“ahni!!”seru Hye na menarik lepas tangannya dari cengkraman Jung min “aku arus bertemu dengan Kim Tae so sekarang… aku butuh penjelasannya…”
Jung min diam, menarik napas panjang sesaat “…kau tidak membutuhkan Kim tae so… dan tidak ada penjelasan yang kau butuhkan… jadi kita pergi sekarang..”ujar Jung min yang segera kemudian menarik Hye na bangkit, namun lagi-lagi Hye na menarik lepas tangannya yang membuat Jung min mengangkat tubuh Hye na dalam pelukannya dan membawanya pergi “YYA!!! apa yang kau lakukan!!! Turunkan aku sekarang!!! Turunkan!!”seru Hye na, memberontak
“ahni… aku harus membawamu pergi dari tempat ini…”ujar Jung min memaksa yang kemudian sudah mendudukkan Hye na di jok mobil disisinya. “duduk dan diam!!”perintah Jung min dengan tatapan tajamnya, yang berhasil membuat Hye na diam ditempatnya. Tak lama Jung min menyusul Hye na duduk disisinya, di belakang setir “..aku benar-benar tidak mengerti… kau hamil tapi kau datang ke bar malam seperti itu…”ujar Jung min, membuat Hye na menatap marah padanya.
“turunkan aku!!”seru Hye na kesal
“ahni!!”
“turunkan aku sekarang!!”
“ahni!! Aku harus membawamu pulang…”ujar Jung min, menatap Hye na kemudian melajukan mobilnya cepat. Hye na diam ditempatnya, tidak mengatakan apapun, marah dengan sikap suaminya, melipat kedua tangannya didada.
Keduanya terdiam, tidak mengatakan apapun atau tidak saling mengeluarkan suara, hingga terdengar desah panjang Jung min “…mianhe…”ujar Jung min, tanpa mengalihkan pandnagannya pada Hye na, namun Hye na mengalihkan pandangannya menatap Jung min terkejut. keduanya terdiam, saling menunggu, hingga akhirnya “…untuk apa…?”tanya Hye na, menundukkan kepalanya, menatap gundukan besar perutnya.
“untuk segalanya…” Jung min menghentikan ucapannya, merasakan kehadiran Hye na disisinya yang menghela napas dan menatap Jung min. “mianhe… aku… aku benar-benar tidak mengetahui tentang kejadian itu… aku benar-benar..”
Wajah Hye na menegang, mendengar kalimat Jung min, membuatnya mengingat segalanya “…hentikan!! Aku tidak ingin mendengar apapun tentang itu lagi…”
“tapi…”
“aku ingin pulang kepeternakanku…”
“ahni… aku akan membawamu kerumahku… kau tinggal disana…”
Hye na memalingkan wajahnya cepat, menatap Jung min serius, tegas “…tidak… antar aku pulang… atau aku akan loncat sekarang…”ancam Hye na yang saat itu sudah akan membuka pintu mobil Jung min, meyakinkan akan ancamannya. Jung min menekan kepalanya, menghela napas panjang “…baik… aku akan mengantarmu pulang…”ujar Jung min, menyerah.
Selama perjalanan, keduanya hanya terdiam ditempatnya, tidak saling melontarkan pertanyaan ataupun menatap. Hye na memlingkan wajahnya, menatap jalanan disisinya sedangkan Jung min tampak diam, menatap jalanan dihadapannya, dan begitu mobil yang mereka tumpangi sampai di depan peternakan Hye na, Hye na segera membuka mintu mobil Jung min dan melangkah pergi meninggalkan Jung min yang mengikuti langkah Hye na masuk.
“ada apa…?”tanya Jung ahjussi tiba-tiba setelah Hye na melangkah masuk kedalam rumah dan melangkah kekamarnya “…tidak ada ahjussi… aku lelah.. ingin sitirahat…”ujar Hye na yang kemudian menutup keras pintu kamarnya. Jung min melangkah masuk, berdiri dihadapan Jung ahjussi, menundukkan kepalanya “…aku sudah mendengarnya nak…”ujar Jung ahjussi
“ne ahjussi… dan sekarang saya benar-benar bingung… apa yang harus aku lakukan…”ujar Jung min, menatap Jung ahjussi sengsara.
“tidak ada nak… kau hanya harus memberikan Hye na waktu berpikir… aku yakin Hye na akan segera mengerti… biarkan dia sendiri dan berpikir…”ujar Jung ahjussi, menepuk pelan bahu Jung min, memberikan aliran hangat untuk memberikan sedikit harapan padanya.
“baik ahjussi… aku titip istriku… tolong hubungi aku jika terjadi sesuatu atau apapun pada istriku itu…”
“tentu saja nak…”
“khamsamnida ahjussi…”
*********
Hye na diam menatap peternakan melalui jendela kamarnya. Sudah hampir 3 hari ia berada di peternakannya. Hye na menghela napas panjang, membalikkan tubuhnya dan saat itu terlihat jelas dimatanya sebuah mawar merah yang sudah mulai layu ditempatnya. Hye na menatapnya tajam dan perlahan melangkah mendekatinya.
“omma…”panggil Hye na lirih.
Flashback
Hye na menatap jendela mansion Lee. Hujan mengguyur saat itu, dan malam sepi menyelimuti dirinya. Hye na membalikkan tubuhnya dan ditatapnya sang ibu yang berbaring lemah diranjangnya. Napasnya terlihat terputus, dan Hye na benar-benar khawatir dengan keadaan sang ibu.
Sudah hampir 3 tahun sang ibu menghadapi penyakit paru-paru yang kronis, dan sudah lebih dari 30 kali Hye na meminta sang ibu untuk menjalani operasi, tapi sang ibu sama sekali tidak menggubris ucapannya dan hanya melakukan pengobatan jalan dirumah. Hye na menatap sang ibu “omma… gwenchana…?”tanya Hye na, sedih sambil mengusap lembut kepala sang ibu. Ibunya perlahan membuka matanya dan ditatapnya Hye na lembut “…gwenchana sayang… hanya sedikit lelah…”ujar ibu Hye na
“kita harus kerumah sakit omma…”
“ahni… dirumah saja… kita tunggu appamu pulang…”
“appa tidak…”Hye na menghentikan kalimatnya “…baiklah… Hye na akan menghubunginya…” ujar Hye na yang kemudian bangkit dari tempatnya, mengambil telepon disisinya dan beranjak menjauh.
Telepon Hye na mulai tersambung, namun lama, tidak ada yang mengangkatnya, hingga akhirnya Hye na mengulang sambungannya kembali “appa…”panggil Hye na.
“bukan agashi… ada yang bisa saya bantu…?”ujar orang itu
“ahh… pak Kim… apa aku bisa bicara dengan appa…?”ujar Hye na, menunggu. Pak Kim diam ditempatnya, lama “…pak Kim…”panggil Hye na kemudian…
“halo… ada apa Hye na… appa sibuk… tolong jangan hubungi appa dulu…” ujar tuan Lee, dan membuat Hye na tersenyum mendengar suara sang ayah.
“appa harus pulang…”ujar Hye na, terdengar bersemangat
“memang ada apa…?”
“pulanglah appa… aku dan omma membutuhkanmu…”pinta Hye na, yang kemudian mengalihkan pandangannya menatap sang ibu yang terlihat memejamkan matanya kembali.
“tapi appa sibuk… sudahlah… jangan menelepon lagi, jika tidak ada yang penting…”
“apa kami berdua tidak lebih penting dari pekerjaanmu…?”
Tuan Lee diam ditempatnya, namun Hye na masih dapat mendengar desah napas sang ayah. Tuan Lee memikirkan jawaban “…ne.. pekerjaan lebih penting…”jawab ayahnya dan kemudian menutup teleponnya. Ucapan sang ayah berhasil membuat Hye na diam ditempatnya. Terkejut dengan jawaban sang ayah.
Hye na diam, benar-benar terkejut dengan jawaban yang dilontarkan sang ayah, hingga tidak menyadari panggilan sang ibu dan napasnya yang semakin terdengar aneh. “Hye..Hye..Hye na”panggil ibu Hye na
Hye na mengalihkan tubuhnya, menatap sang ibu dan melangkah mendekat “…omma…!! Omma!!!”panggil Hye na
“Hye…Hye…na… sa…kit…”
“gwenchana… Hye na akan membawa omma kerumah sakit… Hye na akan…”
“ahni…”jawab omma Hye na terputus
“harus omma… tunggu sebentar…”ujar Hye na yang kemudian berlari keluar dari kamar sang ibu, mencari keberadaan orang lain di mansion itu, hingga akhirnya Hye na berhasil membawa sang ibu dan mendudukkan sang ibu di bangku penumpang mobilnya, membawanya melaju cepat, menembus hujan angin yang melanda daerah itu, malam itu.
Malam itu, hujan dan perasaan khawatir serta sedih dan terkejut mempengaruhi perasaan dan penglihatan Hye na, hingga Hye na tidak menyadari sebuah truk yang melaju cepat didepannya. Hye na menginjak rem mobilnya, namun gagal, remnya tidak berfungsi. Hye na membanting setirnya dan keduanya menabrak pagar pembatas jalan, dan setelahnya…gelap, Hye na tidak dapat melihat atau mendengar suara apapun lagi.
Setelahnya, Hye na bangun ditempat yang sampai sekarang membuat Hye na membencinya. Tempat yang Hye na yakini membuat sang ibu pergi meninggalkannya.
End of Flashback
Hye na memejamkan matanya, mengingat segalanya. Air mata mulai jatuh membasahi pipinya. “omma… jika saja rem itu tidak dirusak…”ujar Hye na lirih.
Hye na diam, hingga tak lama tedengar ketukan di pintu kamarnya “…Hye na…”panggil seseorang
“ahjussi… masuk saja…”ujar Hye na, menghapus air mata yang mulai jatuh, dan bangki dari tempatnya “ada apa…”tanya Hye na ketika ia menatap Jung ahjussi melangkah masuk kedalam kamarnya sambil membawa sembuah nampan dengan sebuah mangkuk diatasnya “…sup hangat…”ujar Jung ahjussi, tersenyum lebar, menatap Hye na. Jung ahjussi meletakkan nampan itu di meja tak jauh dimana sebelumnya Hye na duduk.
“gomawo ahjussi…”ujar Hye na yang kemudian duduk ditempatnya kembali, menatap Jung ahjussi tersenyum.
“makanlah…”
“ne…”jawab Hye na yang kemudian diam, menundukkan kepalanya “sekarang nak… ahjussi akan menunggumu…”ujar Jung ahjussi yang membuat Hye na tersenyum lebar menatap Jung ahjussi dan mulai mengambil mangkuk sup itu sebelum kemudian mulai memakannya. Keduanya terdiam, hingga “…nak… apa kau masih memikirkan ibumu…?”tanya Jung ahjussi pelan, menatap Hye na serius sekaligus iba. Hye na tersedak mendengar ucapan sang paman, yang segera memberikan segelas air putih dan tissue pada Hye na.
Hye na diam kemudian mengalihkan pandangannya menatap sang paman. Hye na tidak menjawab, menundukkan kepalanya namun sikapnya itu cukup memberikan sebuah jawaban pada Jung ahjussi.
“segalanya sudah berlalu nak… dan ommamu sudah tenang disana… tidak ada yang merisaukannya lagi atau menyakitinya… jadi sekarang bukankah lebih baik kau juga tidak memikirkan tentang hal itu… kau cukup mengenang ommamu sebagai seorang ibu yang baik…”
Hye na diam ditempatnya, memikirkan ucapan Jung ahjussi “… lanjutkan hidupmu… ditambah lagi ada seseorang dalam perutmu sekarang… kau akan menjadi seorang ibu tak lama lagi… jadi hanya lanjutkan hidupmu… jangan membuat kesedihan mempengaruhimu… lagipula jika kau seperti ini, apakah ibumu akan kembali padamu…”ujar Jung ahjussi, menatap Hye na iba kemudian perlahan mulai mengusap kepalanya lembut, ketika menyadari air mata mulai jatuh membasahi pipinya.
“mianhe ahjussi… tapi Hye na tidak mampu melakukannya… benar-benar tidak bisa…”ujar Hye na semakin membenamkan wajahnya dikedua belah telapak tangannya dan Jung ahjussi hanya dapat menghela napas lemah menatap kemenakannya itu.
*********
End Of Chapter
Logged
Print
Pages:
1
...
15
16
[
17
]
18
19
...
21
Go Up
« previous
next »
CallMinsun
»
FANFIC
»
Short Fanfic
»
You make me falling in love; chapter 5 part 3 (20/10/2012)
(Moderators:
revynska
,
Amira
) »
Message #51332