CallMinsun
Welcome,
Guest
. Please
login
or
register
.
1 Hour
1 Day
1 Week
1 Month
Forever
Login with username, password and session length
News:
Home
Search
Calendar
Login
Register
CallMinsun
»
FANFIC
»
Short Fanfic
»
You make me falling in love; chapter 5 part 3 (20/10/2012)
(Moderators:
revynska
,
Amira
) »
Message #51536
« previous
next »
Print
Pages:
1
...
17
18
[
19
]
20
21
Go Down
Author
Topic: You make me falling in love; chapter 5 part 3 (20/10/2012) (Read 16769 times)
ai_yuki
Hero
Posts: 1235
Location: Indonesia
You make me falling in love; chapter 5 part 3 (20/10/2012)
«
Reply #270
on:
October 20, 2012, 08:14:01 am »
semoga tidak mengecewakan
Chapter 5 Part 3
Beberapa minggu kemudian…
“kau sudah bangun sayang… ayo kita sarapan…”ujar Jung min, sambil menatap Hye na yang baru saja bangkit dari tempatnya dan tengah mengusap lembut perutnya, tersenyum. Jung min tersenyum menatap itu dan hanya dapat bersyukur atas apa yang lagi-lagi didapatkannya di pagi yang indah dan cerah.
Tidak terasa kini usia kehamilan Hye na sudah memasuki minggu-minggu akhir kehamilannya, dan sudah hampir waktunya. Perut Hye na yang sebelumnya terlihat kecil kini sudah membesar sesuai dengan umurnya.
Hye na sudah mengurangi berbagai kegiatannya terutama memanah setelah Jung min dan dirinya dengan terpaksa dan berhasil mencari seseorang yang Hye na anggap mampu menyainginya dalam panahan mengingat usia kandungannya yang semakin tua. Jung min, Jung ahjussi dan dokternya menuntut dirinya untuk banyak beristirahat.
Di umur kehamilannya yang sudah memasuki minggu ke 37 ini, Hye na lebih banyak tinggal di peternakannya bersama Jung ahjussi. Ini merupakan permintaan Hye na yang menginginkan dia tinggal di peternakannya, dan Jung min tidak mampu menolaknya dan bahkan tidak akan pernah bisa menolak, dan segalanya memang terbukti.
Sikap manja Hye na semakin menjadi di usia kandungannya yang semakin tua. Banyak hal yang diinginkan Hye na, dan yang membuat Jung min hampir kewalahan karena lelah, dan yang paling membuat Jung min lelah adalah hasrat dan gairahnya yang terus meningkat seiring semakin tua kehamilannya, selain itu hampir setiap hari Jung min harus kembali ke rumah peternakan Hye na di setiap makan siang atau sebelumnya sesuai dengan panggilan Hye na. Jika Hye na menginginkan Jung min pulang 5 menit setelah keberangkatannya, maka Jung min akan segera pulang, dan jika Hye na menginginkan Jung min tidak pergi, maka Jung min tidak akan pergi, jika Jung min tidak melakukan seperti yang dimintanya, maka Jung min harus menghadapi apapun itu, sebagai hukuman dari Hye na untuknya.
Seperti hari ini, di pagi yang cerah. Jung min duduk dikursinya, mendengarkan seseorang yang tengah membacakan hasil laporan untuknya saat rapat tengah berlangsung. Jung min terlihat serius hingga tiba-tiba terdengar dering ponsel yang mengejutkan semua orang di ruangan itu. Betapa tidak, Jung min sudah menetapkan aturan di pabrik dan kantornya jika sedang bekerja atau sedang dalam rapat maka ponsel harus selalu dimatikan. Jung min tidak ingin apa yang sedang dilakukan pekerjanya ataupun apa yang sedang dilaporkan pekerja atau rekan bisnisnya untuk Jung min di interupsi oleh suara dering ponsel.
Jung min diam, menatap semua orang yang berda dalam ruang rapat tersebut. Ditatapnya satu persatu semua orang, mencari siapa orang yang telah melanggar aturannya, namun dering ponsel itu maih terus berbunyi tanpa ada yang berusaha untuk mematikannya “…milik siapapun ponsel itu, harap segera menjawabnya atau…”
“mianhe doronim…”ujar pak Jang tiba-tiba, melangkah cepat dan berdiri di sisinya. Jung min berdeham, menjawab pak Jang “…ini…”ujar pak Jang lagi ragu, berusaha membisikkan sesuatu pada Jung min.
Jung min terlihat mengalihkan pandangannya menatap pak Jang dan betapa terkejutnya Jung min saat menatap sesuatu yang diulurkan pak Jang dengan sembunyi-sembunyi padanya. “…nyonya muda doronim…”bisik pak Jang.
Jung min berdecak sedikit kesal sekaligus malu namun kemudian ia bangkit dari tempatnya dan disusul oleh pak Jang yang setelah keluar dari ruangan rapat tersebut segera memberikan ponsel Jung min padanya.
“yobseyo…”ujar Jung min, menahan sedikit rasa kesalnya.
“yobseyo.. Jung min-aa… bisakah kau pulang dan bawakan aku semangkuk Seolleongtang… aku menginginkannya sekarang… bisakah…?”
“tapi…”
“aku ingin itu…”potong Hye na, meminta, merajuk dari balik ponselnya. Jung min menghela napas panjang, menyerah “baiklah… akan aku belikan… apa ada yang lain…?”
“ahni… hanya itu..”
“baiklah… aku akan membelikannya untukmu…”
“gomapta…”ujar Hye na yang kemudian memutus sambungan komunikasi antara mereka. Hye na tersenyum, mengharapkan apa yang dipikirkannya, namun, ternyata tidak sesuai apa yang diharapkan dan dipikirkannya.
1 jam setelah Hye na menelepon Jung min, seseorang mengetuk pintu rumah peternakan Hye na, dan dengan cepat Hye na meletakkan buku yang tengah dibacanya dan bangkit kemudian terlihat bergegas menghampirinya dengan senyum lebar yang merekah diwajahnya, namun senyum itu hanya bertahan beberapa detik setelah Hye na membuka pintu rumah peternakannya, dan menatap seseorang yang sama sekali tidak diharapkannya hadir dihadapannya.
“mianhe… nyonya Lee Hye na…”ujar orang itu
Hye na diam, kemudian menganggukkan kepalanya menatap orang itu yang mengambil sesuatu dari kotak berbahan besi ditangannya “Seolleongtang pesanan anda…”
Hye na diam menerima mangkuk berisi mie yang diberikan oleh pengantar tersebut, dan menatapnya nanar setelah pengantar itu pergi, Hye na terdiam ditempatnya menatap mangkuk berisi mie tersebut, saat itu air mata mulai terlihat dipelupuk matanya. Rasa kesal dan marah menguasainya “…ahni… aku tidak ingin yang seperti ini…”ujar Hye na kesal, membawa mangkuk mie tersebut kedapur dan membuangnya di tempat sampah didapur dan berhasil membuat Jung ahjussi terkejut dengan apa yang dilakukan Hye na “…YYA! Hye na kenapa membuangnya… bukankah…”
“aku mohon ahjussi, jangan buang itu, jangan lakukan apapun pada mie itu biarkan tetap seperti itu… aku benar-benar membenci seorang Goo Jung min-ssi…”ujar Hye na singkat, cepat dan tegas kemudian segera beranjak dari hadapan Jung ahjussi dan melangkah masuk kedalam kamarnya dan Jung min. Hye na diam, merebahkan tubuhnya diranjang, memikirkan kembali apa yang baru saja terjadi padanya “…dia benar-benar berbohong… Goo Jung min-ssi pembohong… aku benar-benar benci padamu..”ujar Hye na kesal yang kemudian menutup wajahnya dengan bantal dan berteriak, berusaha menahan tangis yang hampir pecah.
Jung ahjussi terlihat menghela napas panjang saat ia menyadari dan mulai mendengar isakan tangis yang pecah dari arah kamar kemenakannya itu. Jung ahjussi menyadari, di umur kehamilan Hye na yang semakin tua ini, Hye na semakin bertambah sensitive, apapun yang membuatnya kesal, marah ataupun sedih walaupun itu hanya sesuatu hal yang menurut orang lain adalah kesalahan kecil, Hye na akan merasakan kesalahan itu adalah kesalahan yang besar, dan sulit sekali Hye na memaafkan atau melupakannya.
Jung ahjussi diam ditempatnya, menatap pintu kamar keponakannya itu. Didengarnya tangis Hye na yang mulai pecah dan terdengar keras. Jung ahjussi sudah sangat terbiasanya dengan hal ini yang jarang terjadi disaat Hye na tidak hamil namun sekarang, Jung ahjussi sudah terlalu sering mendapati Hye na mengalami hal seperti ini, membuat Jung ahjussi sangat memahami apa yang sedang dialami Hye na. Perasaan Hye na sangat dipengaruhi oleh kehamilannya yang akan mengganggu hormon – hormon yang berhubungan dengan itu, dan saat ini yang sedang dialami Hye na adalah contohnya, mudah tersinggung, mudah marah dan mudah meneteskan air mata.
Jung ahjussi mendesah pelan, kemudian menggelengkan kepalanya, hal ini sudah terjadi untuk kesekian kalinya dan tampaknya Jung min sama sekali tidak belajar dari pengalaman.
Beberapa jam kemudian, saat matahari sudah mulai terbenam. Sinarnya yang digantikan oleh gelap malam dan panasnya yang digantikan oleh rasa dingin yang menusuk. Jung ahjussi terlihat mengtuk pintu kamar Hye na, menunggu.
“Hye na… apa kau tidak makan malam nak…?”tanya Jung ahjussi sambil mengetuk pintu kamar Hye na yang sudah ia lakukan hampir selama setengah jam, namun tetap tidak ada jawaban dari keponakannya itu. “Hye na…”panggil Jung ahjussi lagi, menatap pintu dihadapannya, menunggu sebuah jawaban, tapi masih belum ada jawaban.
Dialihkannya pandangannya menatap jam di dinding ruang keluarga, waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam, namun masih tidak ada tanda-tanda Hye na yang keluar dari kamarnya ataupun kepulangan Jung min.
“auuusshhh… aku benar-benar tidak mengerti”keluh Jung ahjussi kesal yang kemudian pergi sambil menekan nomer di ponselnya “…yobseyo… pulanglah sekarang…”ujar Jung ahjussi yang terdengar memohon, dia sangat khawatir dengan keadaan keponakannya, kemudian dengan cepat Jung ahjussi segera menambahkan “Istrimu tidak mau memakan malamnya… ne… bahkan dia belum makan siang.. sekarang Hye na masih mengurung dirinya dikamar…” Jung ahjussi diam sesaat, mendesah pelan, sebelum akhirnya melanjutkan kembali ucapannya “sebenarnya apa yang kau lakukan hingga membuatnya seperti ini ausssshhh… aku benar-benar tidak tahan lagi… cepat pulang sekarang…”ujar Jung ahjussi yang kemudian segera menutup ponselnya
*************
Jung min menatap ponselnya sesaat, memikirkan segalanya, mencoba mencari tahu. Hye na tidak mungkin melakukan hal itu. Hye na harus makan untuk anak mereka. “anak…” batin Jung min yang kemudian mengalihkan pandangannya menatap pemandangan malam yang terlihat dari jendela kaca ruangan kantornya “bagaimana dengan Hye na… ibu dari anaknya…”batin Jung min lagi, berkutat dengan pemikirannya “ahni… aku juga mencintainya… sangat mencintainya… seharusnya aku lebih memperhatikan Hye na” ujar Jung min kemudian lirih yang kemudian dengan cepat, Jung min menekan sebuah nomer di ponselnya dan langsung terhubung.
Dering terdengar dari ponselnya, lama hingga Jung min harus memutus sambungannya dan menghubungi nomor itu untuk kedua kalinya dan kali ini akhirnya dering itu putus dan digantikan oleh keheningan. Jung min dapat mendengar desah napas yang terdengar berat dari seseorang dari ponselnya. “yobseyo… Hye na-aa…”sapa Jung min
Hye na hanya diam, mendengarkan ucapan Jung min “gwenchana…?”tannya Jung min lagi, tidak memperdulikan desah napas keras yang terdengar dari ponselnya.
“ahhh… hah…a..da apa…?”tanya Hye na kemudian terdengar lemah.
Jung min diam ditempatnya, tidak berani mengeluarkan kalimat yang membuat Hye na mengeluarkan decak kesal dari mulutnya “…jika kau mengganggu tidurku hanya untuk bertanya… hehh… anakmu baik atau…hehhh… tidak… kau semakin… hah… berhasil membuatku sangat hah hah… membencimu”ujar Hye na yang kemudian menutup ponselnya dan dengan usaha terakhirnya ia mematikan ponselnya, tidak ingin dihubungi atau diganggu oleh suaminya atau siapapun. Ia benar-benar merasa lelah, kesal dan marah… Ia juga merasa sakit.
Jung min menjauhkan ponselnya dari telinganya yang otomatis mengarahkan ponselnya ke pandangannya “…benci…”gumam Jung min lirih. Jung min diam, masih menatap ponselnya hingga terdengar ketukan dipintu ruang kerjanya “…mobil sudah disiapkan tuan…. Anda…” ucapan pak Jang terhenti oleh langkah Jung min yang tiba-tiba menghampirinya dan mengambil kunci mobil yang dibawa pak Jang.
“tuan…”panggil pak Jang,
“benci… benci…”gerutu Jung min lirih, melangkah keluar dari ruangannya. “ahni… ahni… kau tidak bisa dan tidak boleh membenciku istriku…”gerutu Jung min lagi yang kemudian terus melangkah dan sama sekali tidak menggubris panggilan pak Jang, hanya terus melangkah cepat dan semakin cepat meninggalkan kantornya.
Jung min melajukan mobilnya cepat, membawanya keluar adri kawasan perkantorannya, membawanya pulang. “ahni… ahni…”ujar Jung min disela-sela dia menyetir mobilnya cepat, kemudian dengan gerakan cepat, Jung min mengambil ponselnya dan menelepon seseorang. Dengan speed dial, Jung min segera terhubung dengan… “aauuuussshhh… sial! Dia mematikan ponselnya… Hye na… kau benar-benar…”ujar Jung min yang dengan cepat, membanting setirnya dan menghentikan mobilnya cepat ketika ia sudah memasuki pekarangan rumah peternakan Hye na.
“ahjussi!”panggil Jung min, ketika menatap Jung ahjussi yang melangkah kearahnya dan menatapnya “ada apa sebenarnya nak… apa yang terjadi pada Hye na…?”tanya Jung ahjussi
“entahlah… kata ahjussi dia belum makan siang dan sekarang dia belum menyentuh makan malamnya… apa dia pergi…?”tanya Jung min
“ahniyo… dia mengurung diri dikamarnya setelah dia membuang Seolleongtang yang dia pesan padamu… aku benar-benar bingung apa yang terjadi…”
Jung min menghela napas panjang “Hye na marah padaku…”ujar Jung min, menatap Jung ahjussi yang terdiam, membalas tatapan Jung min, mencari sesuatu yang belum dapat menjawab apapun yang ada dibenaknya.
“apa tentang Seolleongtang itu…?”tanya Jung ahjussi. Jung min diam ditempatnya menatap Jung ahjussi yang segera mengetahui jawabannya “…auuushhhh… apa kau tidak pernah belajar nak… hal seperti ini bukan yang pertama kalinya bukan…?”
“mianhe…”
Jung ahjussi diam, menatap Jung min kesal “…kalau begitu ahjussi tidak dapat melakukan apapun… kau urus sendiri… ahjussi sudah menyerah untuk hal seperti ini…”ujar Jung ahjussi yang kemudian membalikkan tubuhnya dan pergi meninggalkan Jung min sendiri dengan pemikirannya.
Jung min menghela napas sesaat sebelum akhirnya melangkah masuk menyusul langkah ahjussi. Diberanikan dan ditekadkan dirinya, hingga akhirnya kini ia tengah menatap kamar keduanya yang tertutup dihadapannya. Jung min mengangkat tangannya, mengetuk kamar Hye na, namun lama, tidak terdengar jawaban “…sayang…”panggil Jung min, namun masih tidak terdengar jawaban dari dalam.
Jung min semakin khawatir, menatap pintu dihadapannya “Hye na…sayang…”panggil Jung min, menatap pintu dihadapannya kemudian berangsur mulai memukul keras pintu itu dengan tinjunya “Hye na… buka pintunya… apa yang kau lakukan… sayang… buka…!!”seru Jung min, namun masih tidak ada jawaban dari dalam kamar itu. Jung min mengalihkan pandangan khawatirnya pada Jung ahjussi yang berdiri disisinya, menatap Jung min sama khawatirnya.
Jung min sangat menyadari kali ini tidak seperti biasanya jika Hye na merasa kesal padanya atau marah padanya. Jika biasanya Hye na akan berteriak meminta Jung min untuk pergi dan tidak memperdulikannya atau melempar sesuatu kearah pintu, namun tidak kali ini. Sekarang, Hye na hanya diam ditempatnya, tidak berteriak atau melempar sesuatu kearah pintu. Hanya keheningan yang terdengar saat Jung min mengetuk, dan berteriak memanggil namanya.
“dobrak saja nak…”ujar Jung ahjussi yang membuat Jung min menganggukkan kepalanya dan kemudian melangkah cepat mendorong pintu kamar mereka hingga terbuka, dan saat itulah, Jung min benar-benar terkejut dan marah pada dirinya sendiri ketika menatap Hye na yang terbaring dilantai dengan napas yang terdengar berat “Hye na!! Hye na!! gwenchana?!?!”ujar Jung min sambil kemudian menidurkan kepala Hye na dipangkuannya, menyentuh kepala Hye na pelan, dan mengusap keringat dingin yang mengalir di dahinya. Jung min diam kemudian dengan perlahan membawa Hye na kedalam pelukannya dan meletakkannya lembut diranjang keduanya.
“Hye na… Hye na… sayang…”panggil Jung min, terdengar khawatir
“Hye na… nak…”panggil Jung ahjussi bergantian dengan Jung min. Keduanya menatap khawatir pada Hye na. “ahjussi aku panggil dokter Han…”ujar Jung min sambil kemudian bangkit dan menekan beberapa angka di ponselnya yang segera terhubung dan terdengar sebuah suara yang dikenalnya “….mianhe dokter… saya butuh anda sekarang… Hye na… Hye na… dia sepertinya demam… saya tidak tahu apa yang harus dilakukan…saya… tolong kemari…”ujar Jung min khawatir, gugup. Setelah mendengar jawaban dokter Han, Jung min menutup ponselnya dan kembali berjalan kearah Hye na.
“Hye na… Hye na…”panggil Jung min lagi, “bangun sayang…”ujar Jung min khawatir
“apa tidak ada masalah dengan kandungannnya…?”tanya Jung ahjussi tiba-tiba yang membuat Jung min mengalihkan pandangannya menatap perut Hye na yang membesar. Keduanya diam, menatap kaki ke perut Hye na kemudian kembali ke kaki Hye na, keduanya tidak menemukan keganjilan, darah atau cairan yang mengalir kekakinya “…sepertinya tidak ada masalah ahjussi…”
“yah… bagus kalau begitu… bagaimana dokter Han…”
“Pak Jang akan membawanya kemari…”ujar Jung min tanpa mengalihkannya pandangannya dari Hye na yang terbaring lemah, dengan keringat dingin yang terlihat bercucuran dan napas yang terdengar berat.
*********
Jung min menatap tersenyum pada wanita yang terlelap, tenang dihadapannya.
Masa kritis dan bahaya Hye na sudah terlewati dan kini fajar telah menyingsing. Jung min diam, membelakangi sang fajar yang perlahan mulai masuk melalui jendela kamar mereka.
Jung min mengangkat tangannya kemudian dibelainya kepala Hye na, menyibakkan rambut yang menutupi wajah istrinya itu “…sayang…”panggil Jung min lembut, namun tidak ada jawaban ataupun gerakan dari Hye na yang membuat Jung min hanya menghela napas panjang kembali.
Perlahan Jung min bangkit dari tempatnya, dan melangkah kearah kamar mandi namun langkahnya tiba-tiba terhenti ketika ia mendengar sebuah suara yang berasal dari belakang tubuhnya dan membuat Jung min dengan cepat membalikkan tubuhnya dan menatap asal suara itu.
“Hye na…”panggil Jung min menatap Hye na yang tengah membuka matanya dan mengedipkan kedua matanya, silau dengan cahaya matahari yang mulai memancar. “gwenchana…?”tanya Jung min, berlari dan menatap Hye na senang sekaligus sedih.
Hye na diam, menatap sekelilingnya sesaat, mencari sesuatu “…haus…”ujar Hye na kemudian yang membuat Jung min segera bangkit dari tempatnya dan mengambil Hye na apa yang diinginkannya “…ini… minumlah… setelah ini kau harus makan…”ujar Jung min, menatap Hye na yang perlahan mulai meneguk air mineralnya.
Hye na diam selama beberapa saat kemudian dengan bantuan Jung min, Hye na kembali merebahkan tubuhnya diranjang “…istirahatlah… aku akan buatkan bubur untukmu…”ujar Jung min. bangkit dari tempatnya dan melangkah kearah pintu. “…ahni…”ujar Hye na tiba-tiba, menghentikan langkah Jung min tiba-tiba serta membuat Jung min memutar tubuhnya, menatap Hye na, tidak mengerti
“tidak perlu… tinggalkan aku saja dan urus pekerjaanmu… bukankah kau memiliki banyak janji penting yang harus kau tepati…”ujar Hye na sinis, tanpa menatap Jung min dan kemudian membalikkan tubuhnya hingga membelakangi suaminya. Jung min diam, Hye na tengah merajuk sekarang, dan Jung min menyadari apa yang harus dilakukannya “mianhe…”ujar Jung min, menundukkan kepalanya, tidak menatap Hye na.
“ne…pergilah… tidak perlu mencemaskan atau mengkhawatirkan aku… aku sudah mulai terbiasa sekarang…”ujar Hye na lagi.
Jung min diam ditempatnya, menatap punggung Hye na sesaat. Hye na diam ditempatnya kemudian perlahan mengangkat tubuhnya dan bangkit dari tempatnya. Sesaat Jung min masih diam ditempatnya, namun ketika Jung min menatap Hye na yang terhunyung ketika bangkit, Jung min segera berlari mendekati Hye na dan membantu istrinya itu untuk berdiri, tetapi, dengan cepat pula Hye na mencekal cengkraman tangan Jung min “…pergilah… aku tidak perlu dibantu…”ujar Hye na.
Jung min diam, rasa sakit, marah dan kesal pada dirinya sendiri mulai merayapinya. “sayang…”ujar Jung min
“sudahlah… kau tidak perlu berpura-pura memperhatikan aku… semuanya baik…”ujar Hye na sarkastis, yang kini berhasil membuat Jung min semakin marah. Ditatapnya Hye na kesal “…aku tidak pernah berpura-pura…”seru Jung min marah.
“baiklah… kalau begitu lelah… kau sudah lelah padaku… jadi lanjutkan saja hal apapun yang harus aku lakukan… dan tinggalkan aku…”ujar Hye na lagi yang melangkah perlahan, merayap, bertumpu pada dinding berusaha untuk keluar dari kamarnya. Jung min menarik napas panjang “…berhenti sekarang sayang…”ujar Jung min, yang memejamkan matanya, menahan amarahnya.
Hye na tidak menggubris dan perlahan mulai melangkah keluar dari kamarnya, namun seperti yang telah diduga Hye na sebelumnya, tiba-tiba Jung min menyelipkan tangannya di lutut dan kepala Hye na kemudian mengangkat tubuh Hye na dengan mudah seakan berat tubuhnya yang bertambah setelah kehamilannya tidak mempengaruhi dirinya.
“kau harus mendengarkanku istriku…”ujar Jung min yang kemudian dengan lembut dan perlahan, tidak terpengaruh oleh amarah yang menggelegak dihatinya, Jung min merebahkan tubuh Hye na diranjang keduanya.
Hye na menatap Jung min sesaat “…tidak ada yang perlu dibicarakan lagi…”ujar Hye na yang berusaha mengangkat tubuhnya kembali, namun ia merebahkan kembali tubuhnya saat tubuh Jung min, menghalangi tubuhnya dan kedua tangan Jung min menahan kedua tangan Hye na. Hye na menatap Jung min kesal dan marah “…lepaskan!”seru Hye na menahan air mata yang mulai merembes di pelupuk matanya.
“ahni… tidak akan pernah…”ujar Jung min
“lepaskan!”ujar Hye na marah.
“ahni.. kau istriku… kau ibu dari anakku…dan aku sangat mencintaimu… aku tidak akan pernah melepaskanmu…”ujar Jung min “aku mencintaimu… sangat mencintaimu…”ujar Jung min yang terdengar melemah dan akhirnya menghilang di telan cekungan di pundak Hye na. Jung min diam, menyesap aroma tubuh Hye na, mencari ketenangan dari cekungan di pundak Hye na.
Hye na diam, membelalakkan matanya, tidak menyangka dengan apa yang didengarnya lagi. “aku mencintaimu dan tidak akan pernah melepaskanmu…”ujar Jung min lagi yang perlahan melepaskan cengkraman tangannya di pergelangan tangan Hye na dan kini mulai mendekap tubuh Hye na erat, membawa Hye na masuk kedalam kehangatan tubuhnya.
“kau benar-benar menjengkelkan Jung min-ssi…”ujar Hye na dingin beberapa saat kemudian yang ternyata berhasil membuat Jung min mengangkat wajahnya dan ditatapnya Hye na yang berada dibawahnya. “ap…” kalimat Jung min terhenti ketika menatap wajah Hye na yang berubah. Tatapannya dingin, tanpa ekspresi.
“sayang…”
“pergilah…”ujar Hye na
“ahni…”
“aku tidak ingin melihatmu…”ujar Hye na lagi. Kali ini Jung min diam, masih menatap Hye na sedih. “aku…” kali ini kalimat Hye na terhenti, ketika Jung min dengan tiba-tiba membekap bibir Hye na dengan bibirnya dan mendekap Hye na dalam pelukannya lagi dengan sikap yang posesif, tidak ingin kehilangan istrinya itu.
*********
Matahari sudah bersinar kembali, Hye na membuka matanya perlahan karena terganggu oleh sinar mentari yang menyambutnya membuat Hye na kini memalingkan wajahnya, melindungi matanya dari sinar mentari yang menyergap. Jung min tersenyum menatap itu kemudian perlahan bangkit dan mulai menutup tirai jendela yang terbuka untuk menghalangi sinar mentari yang masuk.
“bagaimana sekarang sayang…”ujar Jung min, menatap Hye na kemudian menyibakkan selimut Hye na dan masuk kembali kedalamnya, untuk membawa Hye na masuk kedalam pelukannya. Hye na tersenyum dan membalas pelukan Jung min. keduanya terdiam, saling menyerapi apa yang mereka alami.
“ah!!”seru Hye na tiba-tiba teringat sesuatu yang kemudian ia segera bangun dari tempatnya, duduk dan perlahan menggerakkan kakinya keluar dari selimutnya, menapakkan kakinya sandal kamarnya.
“mau kemana…”tanya Jung min menatap Hye na bingung, yang mencoba mengambil jubah tidurnya disisinya dan memakainya pelan “ kamar mandi…ada janji dengan dokter Han…”
“ahhh… pemeriksaan kandunganmu… baiklah… aku akan bersamamu…”ujar Jung min yang kemudian menyusul Hye na bangkit dari tempatnya dan memakai jubah tidur yang tergeletak jatuh di bawah sisinya, tidak menyadari tatapan Hye na yang terkejut “… jinja..?!?!?”tanya Hye na tiba-tiba, membuat Jung min mengalihkan pandangannya menatap Hye na “ne… tentu saja sayang… jika itu membuat dirimu senang, apapun akan aku lakukan…”jawab Jung min, mengecup singkat hidung Hye na.
Hye na diam ditempatnya, terkejut dengan apa yang didengarnya, menatap suaminya hingga Jung min berdiri dihadapannya, menatapnya bingung “sayang… bukankah kau harus kekamar mandi… atau perlu aku…”
“ah! Ahni… tidak perlu… aku…” Hye na merasakan sesuatu yang aneh dengan tubuhnya, saat ia mencoba bangkit berdiri dari tempatnya. Ia merasakan lelah dan lemah yang sangat, hingga keduanya kakinya tidak mampu menopang tubuhnya. Hye na merasa pusing dan segalanya berputar disekelilingnya. Hye na kembali terduduk di ranjang, membuat Jung min menatapnya terkejut “ada apa…?!?!? Gwenchana…?!?!?”tanya Jung min, melangkah memutari ranjang keduanya dan berdiri dihadapan Hye na, menatapnya khawatir.
“entahlah… aku merasa aneh…”ujar Hye na, menyentuh kepalanya pelan. Kemudian ketika Hye na bangkit dari tempatnya, mencoba kembali melangkah, tiba-tiba segalanya gelap, Hye na jatuh pingsan dan Jung min menangkap tubuh Hye na cepat sebelum ia terjatuh. Perlahan Jung min membawa Hye na kembali ke tempat tidur mereka.
“oooohhh… apa yang harus aku lakukan… sayang… sayang…”panggil Jung min khawatir, sambil menepuk lembut pipi Hye na, berusaha menyadarkannya. “apa yang terjadi… sayang bangun…”ujar Jung min, semakin takut, hingga akhirnya…
“nak… kalian sudah bangun…”sapa seseorang tiba-tiba, yang membuat Jung min segera bangkit dari tempatnya dan melangkah cepat kearah pintu “..ahjussi…”
“ahhh… kalian sudah bangun… apa Hye na tidak apa-apa… dokter Han sudah datang… dia…”kalimat Jung ahjussi terhenti ketika dengan tiba-tiba Jung min berlari cepat ke tempat dimana dokter Han berada dan tak lama kemudian Jung min sudah datang dengan membawa dokter Han bersamanya dan mempersilahkannya untun masuk. Jung ahjussi diam, dan bangkit dari sisi Hye na, menatap Hye na khawatir
“apa yang terjadi…”tanya Jung ahjussi, menatap dokter Han yang mulai memeriksa Hye na. Jung min masih diam, menatap Hye na cemas.
********
Matahari kembali hadir. Sinarnya menerangi dan kehangatannya meraja, menggantikan dinginnya sang malam. Jung min duduk diam, menatap Hye na menunggu cemas. Setelah apa yang terjadi kemarin. Jung min tidak mampu sedikitpun untuk memejamkan mata. Ia ingin dirnya selalu ada jika Hye na membutuhkan sesuatu, tetapi seharian Hye na tidak membuka kedua matanya kemarin, yang semakin membuat Jung min cemas, tetapi kini, perlahan kelopak mata Hye na terlihat bergerak dan kemudian ditatapnya sepasang mata Hye na yang membuka, menatapnya.
“sayang… gwenchana..?”tanya Jung min, bangkit dari tempatnya, menatap Hye na “apa yang terjadi…?”tanya Hye na, sambil menatap sekelilingnya. “semuanya baik… dokter Han sudah memeriksamu… dan tidak ada yang bahaya dengan dirimu atau anak kita…”
“bagus kalau bayi ini baik-baik saja…”
“ne… tapi aku lebih mengkhawatirkan dirimu… apa semuanya baik… apa ada yang terasa sakit…?”tanya Jung min, menyentuh kepala, tangan, tubuh, perut, dan kaki Hye na berusaha mencari sakit di istrinya itu. Hye na tersenyum menatap Jung min, kemudian menyentuh tangan Jung min, membuat Jung min duduk didekatnya “…aku baik-baik saja… hanya…akhhh…” Hye na berseru tiba-tiba, sambil menekan lembut dan menatap perutnya “ada apa..?”
“gwenchana… hanya ini…”ujar Hye na sambil membawa tangan Jung min ke perut Hye na, ingin Jung min merasakan apa yang dirasakan olehnya “…apa..”
“rasakan saja..”ujar Hye na, diam sesaat dan tiba-tiba, Jung min terkejut ditempatnya sambil menarik tangannya cepat, menghindar apapun itu yang membuatnya terkejut. Hye na tersenyum menatap Jung min kemudian membawa tangannya kembali menyentuh perutnya.
“dia semakin sering melakukannya…”ujar Hye na lagi, tersenyum senang, menatap perutnya, mengarahkan tangan Jung min untuk mengusap lembut perut Hye na lagi.
“jinja?!?!”ujar Jung min terkejut.
“ne…”
“kapan…? Ahh… maksudku mulai kapan dia… melakukannya…?”tanya Jung min, penasaran, bersemangat.
Hye na diam, menatap Jung min sesaat “…mianhe…”
“yya… ada apa…?! Kenapa minta maaf…”ujar Jung min, menatap istrinya bingung, namun perhatiannya masih tertuju pada perut Hye na “mianhe… karena banyak hal… membuatmu tidak mengikuti perkembangan anak ini secara menyeluruh… mianhe…”ujar Hye na, menundukkan kepalanya, merasakan air matanya yang mulai menetes jatuh. Jung min diam, menyadari itu, mengangkat kepalanya dan ditatapnya sang istri lembut. “ahni…”ujar Jung min, mengangkat wajah Hye na, menatapnya.
“tidak sayang… yang lalu biar berlalu…. Kita tidak perlu memikirkannya lagi… sekarang… kita jalani saja apa yang harus dijalani… dan kau juga harus menjaga kesehatanmu untuk dirimu sendiri, untuk bayi kita, dan untuk diriku… jika kau dan anak kita baik… bagiku itu lebih dari cukup…”ujar Jung min, sambil mengusap air mata yang jatuh di wajah Hye na.
Hye na menganggukan kepalanya, dan setelahnya dengan cepat Jung min membawa Hye na kedalam pelukannya, memeluknya erat. “mianhe… dan… gomawo…”tambah Jung min, mengusap lembut Hye na dalam pelukannya. “sekarang lebih baik kau makan dan beristirahat… jangan pikirkan apapun lagi…”ujar Jung min, menatap Hye na kemudian perlahan merebahkan tubuh Hye na diranjang, membantunya beristirahat.
***********
Malam mulai menjelma. Menggantikan teriknya mentari. Keheningan yang tercipta, membuat Hye na membuka kedua matanya. Hye na menyapu ruangan itu, kemudian mendesah pelan. Hye na bangkit, dia harus segera pergi, namun saat Hye na mencoba bangkit, tiba-tiba tubuhnya kembali terjatuh dan terduduk di ranjangnya.
“ada apa sayang…”ujar seseorang tiba-tiba, masuk ke kamar itu, menatap Hye na, yang segera mengalihkan pandangannya menatap orang itu “…Jung min… ahni… aku harus kekamar mandi…”
“tunggu disana…”ujar Jung min yang kemudian berjalan cepat, dan mendekati Hye na kemudian perlahan menggendong Hye na dalam pelukannya dan membawanya ke kamar mandi dimana ia baru saja keluar dari tempat itu.
“apa kau akan baik-baik saja…”tanya Jung min sambil meletakkan Hye na di atas kloset duduk kamar mandinya. “ne… hanya merasa aneh…”jawab Hye na, sambil menundukkan kepalanya
Jung min tersenyum menatap itu “…akan lebih baik jika kau mandi… akan aku siapkan air hangat untukmu dan aku akan membantumu mandi…”
Hye na diam, menatap Jung min tidak percaya “…aku benar-benar seperti anak kecil…”ujar Hye na, yang tanpa disadarinya, air mata mulai jatuh dipipinya, membasahi wajahnya “…yya… jangan menangis… ada apa… jika kau tidak ingin aku melakukan itu…”
“ahni… gwenchana… lakukan saja… itu juga akan lebih mudah untukku jika kau mengusap punggungku… perut ini tidak mengijinkan aku untuk menyampainya…”potong Hye na, tersenyum lebar seperti anak kecil menatap Jung min
“baiklah… tunggu disini… aku siapkan semuanya…”ujar Jung min, tersenyum dan kemudian meninggalkan Hye na di tempatnya, duduk di atas kloset duduk.
Tak lama…
“aku tidak pernah diperlakukan seperti ini…”ujar Hye na sambil memainkan busa sabun mandinya dan membiarkan Jung min mengusap punggung Hye na hingga lengannya. Jung min tersenyum menatap itu “… dan aku baru pertama kali melihat wanita begitu cantik dan seksi seperti dirimu…”ujar Jung min, menggoda Hye na, memercikkan busa sabun dihidung Hye na.
Hye na tertawa, kemudian membalas perlakuan Jung min dengan memercikkan air sabun ke tubuh Jung min, hingga membasahi hampir seluruh tubuh Jung min.
“yya… kau benar-benar…”
“weee… kenapa…”ujar Hye na, menggoda Jung min. Jung min diam, menatap Hye na kemudian dengan tiba-tiba Jung min membuka jubah mandinya dan segera masuk kedalam bath tub dan mendekap Hye na erat. “…yya… apa yang kau lakukan…”
“ahni tak ada… hanya ingin memeluk istriku…”jawab Jung min, mendekap Hye na lebih erat. Keduanya diam, saling meresapi apa yang dialami keduanya “…arghhhhh!!”seru Jung min tiba-tiba sambil mengacak rambutnya dengan satu tangan dan tangan yang lain, masih membawa Hye na dalam pelukannya.
“waeee…?!?”tanya Hye na, masih dalam pelukan Jung min
“aku benar-benar tidak dapat menahannya…”
“apa…”
“ini semua karena larangan dokter Han…”
“waeee?!?! Apa kata dokter Han…?”tanya Hye na, melepaskan pelukan Jung min dan menatapnya tajam. Jung min diam ditempatnya, menatap Hye na kemudian senyum terlihat diwajahnya namun ia masih diam, menatap Hye na yang segera mengerti apa yang ada dipikiran suaminya itu.
“aahhh… aku mengerti…”ujar Hye na, tersenyum nakal menatap suaminya. “dokter Han berhasil membuatku berjanji untuk tidak melakukannya, hingga keadaanmu lebih baik… jadi aku tidak akan tidur bersamamu di ranjang yang sama…”jawab Jung min dengan menundukkan kepalanya.
Hye na diam ditempatnya, menatap Jung min yang terlihat sedih, menundukkan kepalanya “…ahhh… hanya karena itu, kau tidak akan tidur bersamaku…”
“ne…. paling tidak sampai kau merasa lebih baik…”
“aku lebih baik sekarang…”ujar Hye na membela diri
“tapi…”
“kau hanya tidur disampingku bukan… kita tidak akan melakukan apapun… dan dokter Han tidak akan tahu jika kita tidur bersama…”jawab Hye na sambil tersenyum nakal, menatap Jung min.
Jung min diam, menatap Hye na tidak yakin dengan apa yang dikatakan istrinya itu “benarkah…?!?!?”
“ne… tentu saja…”ujar Hye na, lebih meyakinkan.
Jung min tersenyum ditempatnya, menatap Hye na kemudian membawa Hye na kembali dalam pelukannya, Hye na diam, tersenyum lebar kemudian tiba-tiba dan tanpa diduga oleh Jung min, Hye na mendorong tubuh Jung min hingga terlentang, dan mengubah posisinya. Kini Hye na duduk diatas tubuh Jung min, tersenyum lebar, menatap Jung min nakal.
“ahni sayang…”
“ahni..?!?!? tapi aku ingin…”
“tapi dokter Han…?!?”
“yya… yang dilarang kan dirimu bukan aku… jadi jika aku yang melakukannya tidak akan masalah bukan…?”ujar Hye na, tersenyum menantang, senang. Jung min diam ditempatnya, menatap Hye na, kemudian senyum terlihat diwajahnya “…baiklah… jika kau merasa baik… tapi kau harus berhenti jika tubuhmu terasa…”ucapan Jung min terhenti ketika tiba-tiba dengan cepat HYe na membekap mulut Jung min dengan bibirnya, mencium dalam, mengulumnya. Jung min tersenyum, dan setelahnya ia mulai membalas ciuman Hye na lebih dalam dan lebih agresif. Kebahagiaan itu terus mengalir di tengah kehidupan mereka, mengalir deras membanjiri keduanya, hingga kemunculan seseorang yang tak terduga.
*********
Hye na menatap suaminya lembut, penuh kasih “…apa kau benar-benar berjanji kali ini…?”tanya Hye na, berbinar sambil membantu suaminya memakai dasinya.
Jung min tersenyum membalas tatapan berbinar istrinya “…ne… kali ini aku berjanji, setelah segalanya selesai dan siap dengan rumah kebun itu, aku akan membawamu kesana…” Jung min berhenti sesaat, tersenyum menatap istrinya, melingkarkan lengannya di pinggang Hye na, membawanya lebih dekat “…dan tentu saja anak kita juga…”ujar Jung min sambil kemudian mengusap perut Hye na yang membesar, dan menundukkan tubuh dan mendekatkan wajahnya ke perut, kemudian mengecup perut Hye na.
Hye na tersenyum menatap itu, mengusap kepala Jung min lembut, namun tidak berhenti disitu saja, tiba-tiba Hye na menarik dasi Jung min yang ujungnya masih berada ditangannya, membuat Jung min bangkit dan menatapnya “..aku juga ingin…”ujar Hye na, menatap Jung min genit kemudian mengecup bibir Jung min dalam, kuat, dan tidak mengijinkan Jung min untuk terkejut atau berpikir, Hye na semakin memperdalam ciumannya dan membawa Jung min semakin menunduk kearahnya.
Perlahan Hye na melepaskan pegangannya di dasi Jung min, namun beralih pada kerah kemeja Jung min yang ditariknya kemudian Hye na semakin berjinjit, dan kini melingkarkan lengannya di sekeliling leher Jung min dan menarik leher Jung min mendekat Hye na mengerang tertahan dalam ciumannya, meluncurkan kedua tangannya melingkari punggung Jung min, memeluknya erat…
Pintu diseberang keduanya bergetar oleh ketukan, pintu itu didorong sebelum ada jawaban, rutinitas Jung ahjussi setiap pagi, memberitahukan pada keduanya jika sarapan sudah siap, dan sepertinya kali itu Jung ahjussi memliki cara yang berbeda, setelah mengetuk pintu kamar Hye na dan Jung min, Jung ahjussi langsung membuka pintu kamar Hye na seolah tidak ada orang lain di ruangan itu selain Hye na. hal ini sering ia lakukan dulu, sebelum Hye na menikah, dan kini Jung ahjussi tanpa sengaja melakukannya lagi. “sarapan sudah siap….”ujar Jung ahjussi sambil menatap ranjang Hye na, namun yang dicari tidak ada. Jung ahjussi mengedarkan pandangannya, mencari sosok Hye na, dan pandangannya segera terhenti ketika mendapati Hye na dan Jung min tak jauh dihadapannya dan berhenti dengan pekikan cukup keras yang dapat menghentikan apapun yang dilakukan oleh kedua orang yang tengah dimabuk cinta itu.
Menyadari kedatangan Jung ahjussi, Jung min terdiam ditempatnya, kemudian dengan cepat, membuat Hye na melepaskan ciumannya, menjauhkan dirinya, tanpa melepas tangannya dari bahu Hye na. Hye na menatap Jung min tanpa melepaskan lingkaran tangan Jung min di punggungnya “…waeeee…?!?!”seru Hye na tiba-tiba kesal. Jung min diam, mengarahkan pandangannya pada Jung ahjussi yang berada di belakang Hye na, membuat Hye na membalikkan tubuhnya. “ahhhh…ahjussi… apa yang kau lakukan”ujar Hye na, sedikit kesal, karena menghentikan apa yang tengah dilakukannya bersama Jung min.
Jung ahjussi diam ditempatnya, menatap Jung min dan Hye na kemudian tawa kecil terdengar darinya.
“ahjussi”ujar Hye na kesal, melipat kedua tangannya didada, marah.
“baik baik… maafkan ahjussi sudah menginterupsi apapun yang kau lakukan.. hanya ingin memberitahu jika sarapan sudah siap… dan…” Jung ahjussi menghentikan kalimatnya sesaat, menatap Jung min dan Hye na menilai secara bergantian. “…yahh… sekarang terserah kalian ingin sarapan atau tidak… kalau tidak, ahjussi akan menyimpannya agar kalian bisa menghangatkannya kembali dan memakannya… tapi…” lagi-lagi Jung ahjussi menghentikan kalimatnya kembali “yahhh… terserah kalian…”ujar Jung ahjussi menatap Jung min dan Hye na bergantian “…silahkan lanjutkan…”sambung Jung ahjussi, tersenyum lebar ketika menyadari wajah Hye na semakin cemberut dengan mulut yang mengerucut kesal. “baiklah… ahjussi lapar…”ujar Jung ahjussi yang kemudian membalikkan tubuhnya, namun sebelum ia melangkah, Hye na berhasil menghentikannya “…mood ku sudah hilang… sebaiknya kita makan sekarang…”ujar Hye na yang kemudian pergi meninggalkan Jung min dan Jung ahjussi yang masih diam, menatap kepergian Hye na.
**********
“halo semuanya…”sapa Hye na, menatap semua murid memanah ciliknya, penuh kerinduan.
“ahhh!!! Seosaengnim…”sapa seorang murid perempuan Hye na
“sudah lama sekali seosaengnim tidak kemari…”
“ne… mianhe… bagaimana kabar kalian… sampai dimana kalian sekarang…”
“memanah dengan target… dan kali ini benar-benar target…”ujar seorang anak laki-laki yang berdiri membanggakan dirinya dengan melipat kedua lengannya di dada, dan mengangkat kepalanya, tinggi.
“wuaahhh… pintar sekali… itu bagus semuanya…”ujar Hye na, menatap semua murid memanahnya.
“ahhh… seosaengnim… teman anda membantu kami untuk mencapai itu…”ujar seorang murid perempuan Hye na yang mengatakan kalimatnya dengan tersipu.
“ahhh… benarkah… dan siapa itu…”tanya Hye na, menatap bingung ke semua muridnya, menunggu, hingga…
“sebenarnya… aku tidak seperti itu… mereka memiliki bakat memanah dan menjadi pemanah yang hebat…”ujar seorang ria tiba-tiba, menatap Hye na tersenyum.
Hye na diam, menatap orang itu terkejut ditempatnya “…op..oppa…”ujar Hye na lemah, terlihat pancaran bingung dan rasa tidak senang dimatanya, membuat Sung Min woo terdiam, menatap Hye na “…mianhe…”ujar Min woo, menatap Hye na, melangkah mendekatinya.
“ahhh… ahni oppa… gwenchana…”ujar Hye na “tapi… apa setiap hari kau kemari…”
“tidak.. hanya hampir setiap hari… ingin menemani anak-anak ini, mencoba keahlian memanahku kembali…. Sekaligus tempat latihan gratis…”ujar Sung min woo enteng, menatap Hye na kemudian pandangannya teralih pada parut Hye na yang sudah membesar “…sepertinya sebentar lagi, sikecil lahir…”ujar Min woo
Dengan cepat Hye na mengalihkan pandangannya menatap perutnya “…ne.. sebentar lagi…”
Sung Min woo terlihat diam, menundukkan kepalanya. Keheningan mulai tercipta “…ahhh… bagaimana dengan…” Hye na menghentikan kalimatnya, meenundukkan kepalanya “…wanita itu…”ujar Hye na lagi
“ahhh… aku kehilangan kabarnya…”jawab Min woo cepat, seakan tidak ingin membicarakan wanita yang dimaksud Hye na. “mianhe…”ujar Hye na, ketika menyadari kecanggungan itu.
“gwenchana…”ujar Min woo, menatap Hye na tersenyum. “sekarang… setelah beberapa lama, kita bisa bertemu… bolehkah aku mentraktir sesuatu…”ujar Min woo, menatap Hye na penuh harap.
Hye na diam ditempatnya, menatap Min woo, kemudian menundukkan kepalanya tidak yakin “…ayolah…”paksa Min woo
Hye na terdiam sesaat sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya, menyetujui ajakan Min woo.
Tak lama, kini keduanya telah berada disebuah kafe tak jauh dari dojo tempat latihan milik Hye na, tepatnya, diseberang dojo Hye na, dimana sebelum Hye na menikah dengan Jung min, adalah tempat favoritnya.
“ini… apa hanya air mineral… biasanya kau memesan segelas besar mochachino…”ujar Min woo sambil memberikan segelas besar air mineral sebagai ganti segelas besar mochachino yang biasa Hye na minum.
Hye na tersenyum menatap Min woo kemudian mengambil gelas air mineralnya “…ne… aku harus menahannya sebentar karena seseorang di perut ini…”ujar Hye na.
“ahhh… tentu saja… dan juga karena seseorang yang membuatmu tidak akan mungkin meminum itu lagi… dan aku bahkan tidak bisa mendekatimu… tapi hari ini… sepertinya keberuntunganku..”
Hye na tertawa lepas, menyadari siapa yang dibicarakan oleh Min woo “…ahhh… sudah lama sekali aku tidak melihat dan mendengar tawamu… hari ini benar-benar hari keberuntunganku…”ujar Min woo kemudian menatap senyum Hye na takjub. Hye na diam, mendengar ucapan Jung min, menundukkan kepalanya “Hye na…”panggil Min woo, membuat wajah Hye na terangkat menatapnya dan ketika Hye na mengangkat kepalanya, saat itulah Hye na merasakan pusing dikepalanya, kemudian segalanya menggelap.
Jung min diam ditempatnya menatap seseorang yang ia kenal sebagai guru memanahnya “Hye na seonsaengnim…” ujar Jung min lirih, mengalihkan pandangannya pada seseorang tak jauh dari tempatnya berada, dan ternyata berhasil menarik perhatian seseorang yang berdiri disisinya “…ada apa Hwang Jung min…”ujar laki-laki itu.
“ahni ahjussi… hanya saja… sepertinya ada yang aneh dengan Min woo hyung dan Hye na seonsaengnim… lihatlah…”ujar Jung min sambil menunjukkan dua orang yang tengah berjalan. Sung Min woo terlihat membawa Hye na dalam pelukannya masuk kedalam mobil sedangkan Hye na…
“apa seonsaengnim sakit ahjussi… sepertinya dia tertidur…”cetus Jung min, yang kalimatnya ini membuat seseorang yang dipanggilnya ahjussi semakin lekat memperhatikan kemudian dengan cepat ia mulai mengambil ponselnya dan menekan beberapa nomer di ponselnya.
********
Jung min menatap semua orang yang tengah berkutat, membaca berkas dihadapan mereka masing-masing, kemudian segera mengalihkan pandangannya menatap jam di pergelangan tangannya. Sudah hampir satu jam rapat itu diadakan, begitu lama, dan dia sudah sangat ingin bertemu dan kembali pada istrinya. Di liriknya pak Jang yang duduk di sisinya dan ajaib, ia mengetahui lirikan Jung min.
Jung min menunjukkan jam ditangannya, memberikan tanda pada pak Jang, kemudian menunjukkan ponselnya yang diletakkannya di sisi mejanya. Pak Jang diam, kemudian menganggukkan kepalanya. Ia sangat mengetahui kekhawatiran bos mudanya itu. Usia kehamilan istrinya sudah tua dan hampir mendekati waktunya untuk melahirkan seharusnya Jung min lebih banyak bersama istrinya itu, dan pak Jang sudah menyarankan Jung min untuk mengambil cutinya, namun Jung min bertekad untuk menyelesaikan proyeknya dan juga harapannya dan Hye na untuk memiliki rumah kebun itu, sehingga Jung min masih harus bekerja dengan catatan, kapanpun Hye na membutuhkannya, ia akan segera meluncur pulang, tapi tidak kali ini.
“baiklah… kali ini rapat kita hentikan sampai disini… besok bisa kita lanjutkan lagi…”ujar Jung min, menghentikan kesibukan semua orang diruangan itu, membuatnya menjadi pusat perhatian.
“ne… khamsamnida…”ujar pak Jang kemudian, menatap semua orang diruangan itu kemudian melangkah pergi mengikuti Jung min yang melangkah kembali keruangannya, dan ketika ia membuka pintu dan melangkah masuk kedalam ruangannya, langkahnya segera terhenti ketika menatap seseorang yang tengah duduk di hadapan kursinya, menunggunya.
“Kim Tae so!!”seru Jung min membuat Tae so bangkit dari tempatnya dan segera memalingkan wajahnya menatap Jung min “apa yang…” kalimat Jung min terhenti oleh tatapan penuh keyakinan Tae so “aku baru mendapatkannya tadi… dan aku langsung kemari…”ujar Kim Tae so yang kemudian memberikan berkas ditangannya pada Jung min
“apa ini…?”
“baca saja… dan bisa jadi jiwa Hye na dalam bahaya…”
“mwo…?!?” seru Jung min, menatap Kim Tae so tidak percaya kemudian mulai membaca berkas yang diberikan padanya dengan cepat, secepat kemudian ia menggerutukkan giginya geram. Kemarahan mulai merajainya saat menyadari dan mengetahui segalanya “…Sung Min woo” gerutu Jung min, marah “siapkan mobil pak Jang… aku harus bertemu Hye na sekarang… kau ikut aku Kim Tae so…”ujar Jung min yang kemudian melangkah keluar dari ruangannya tepat saat ponselnya berdering. Dengan cepat Jung min mengangkatnya “yobseyo…?”sapa Jung min cepat
“mianhe Jung min-ssi… sepertinya Hye na agashi dalam bahaya… aku mengikuti mereka dan Sung Min woo…”
“Sung Min woo?!?!? dimana kau sekarang…”tanya Jung min cepat. Tangannya yang menggenggam ponselnya bergetar karena kemarahan. Setelah mendengar jawaban orang itu, Jung min menutup ponselnya dan melangkah cepat. Rasa takut mulai merajainya, mencuri setiap pikiran logisnya. Kepanikan yang begitu besar kembali meracuni dirinya.
Dengan langkah cepat Jung min keluar dari ruangannya diikuti oleh Tae so yang membaca sebuah masalah diwajah Jung min, dan ia merasa ketakutan untuk pertama kalinya “aku benar-benar akan membunuhnya jika terjadi sesuatu pada Hye na”gerutu Jung min sambil terus melangkah cepat tidak mempedulikan sekelilingnya, atau apapun yang berada dihadapannya. Kepanikan sudah mengusai setiap langkahnya.
********
Logged
Print
Pages:
1
...
17
18
[
19
]
20
21
Go Up
« previous
next »
CallMinsun
»
FANFIC
»
Short Fanfic
»
You make me falling in love; chapter 5 part 3 (20/10/2012)
(Moderators:
revynska
,
Amira
) »
Message #51536