Author Topic: You make me falling in love; chapter 5 part 3 (20/10/2012)  (Read 16766 times)

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
ini ai potong jadi 2... terlalu panjang  [hmpfh] [hmpfh]

bagian ke 2

Perlahan Hye na membuka matanya. Rasa sakit menyerang kepalanya dan kerongkongannya terasa kering.

Hye na mengedarkan pandangannya menatap sekelilingnya, mencari sesuatu yang di kenalnya, namun segalanya terasa baru. Ia sama sekali tidak mengenal tempat itu, segalanya baru untuk penglihatannya, hingga…

“kau sudah bangun…?”tanya seseorang tiba-tiba, membuat Hye na memalingkan wajahnya, mencari keberadaan orang itu dan menatapnya diam, penuh tanda tanya.

“oppa…”ujar Hye na serak, kemudian kembali mengedarkan pandangannya menatap sekelilingnya kembali “dimana kita…?”tanya Hye na, menatap sekelilingnya kembali, mencari. Min woo diam, tidak menjawab atau melakukan apapun, hanya duduk dihadapan Hye na, membelakanginya.

“oppa…”panggil Hye na lagi, menatap punggung Min woo bingung. “oppa!!!”panggil Hye na lagi semakin keras

“diamlah!! kau wanita yang benar-benar menyusahkan…”seru Min woo, sambil bangkit dari tempatnya dan menatap Hye na tajam. Hye na diam ditempatnya, menatap sebuah kesalahan pada diri Min woo. “oppa…”ujar Hye na, terkejut. memikirkan sesuatu yang salah dengan laki-laki dihadapannya, dan prasangka itu terasa semakin besar dihatinya “ada apa denganmu…?”tanya Hye na, menatap Min woo tidak percaya.

Min woo diam selama beberapa saat, namun cukup lama untuk Hye na dapat menyadari kondisinya yang terikat di pergelangan kakinya dan kedua tangannya. “apa yang kau lakukan…?”tanya Hye na, menatap Min woo takut. Min woo hanya diam, tidak menjawab pertanyaan Hye na kemudian senyum jahat terlihat diwajahnya “…kau masih ingat dengan kecelakaan yang kau alami dengan ibumu…?”tanya Min woo. Hye na diam, menatap Min woo bingung sekaligus curiga.

“apa maksudmu…?”

Min woo lagi-lagi mengangkat ujung bibirnya menunjukkan senyum liciknya “…apa kau tahu atau tidak… orang  yang memanipulasi mobilmu…?” Min woo menhela napas sesaat “…yang mengakibatkan ibumu meninggal… masih ingat…?!?!?”

Hye na diam, mencoba menggerakkan kaki dan tangannya yang terikat didepan tubuhnya mencoba untuk mengendurkan ikatannya. Ia mencoba mengingat atau mencari tahu apapun yang pernah diucapkan pihak kepolisian, ayahnya atau pak Kim yang menjadi tangan kanan ayahnya saat itu, dan…

“Sung Jin woo…”gumam Hye na lirih, tidak yakin, namun suaranya itu masih dapat terdengar oleh telinga Min woo yang berdiri jauh diseberang Hye na. Min woo tersenyum penuh kemenangan kemudian tawa menyusul senyum itu. Tawa yang menyimpan dendam dan kemenangan. Hati Hye na mulai bergetar. Ketakutan mulai merayapi hatinya “…apa…” Hye na terdiam, tidak mampu melanjutkan ucapannya.

“hyung…”ujar Min woo sambil menundukkan kepalanya, menatap kedua tangannya yang dikatupkan dihadapannya.

Hye na diam, terkejut, tidak mampu mengatakan apapun dan hanya terdiam menatap Min woo seakan menunggu. “…dia meninggal beberapa bulan yang lalu di tempat pengasingannya…” Min woo menghentikan ucapannya sesaat, mengangkat wajahnya, menatap Hye na tajam “penjara…dibunuh oleh orang satu selnya”tambah Min woo

Hye na diam. Rasa senang sekaligus marah mulai merayapi dirinya menggantikan ketakutannya “…dia pantas mendapatkannya…”ujar Hye na tajam, menatap Min woo penuh kemenangan.

Mendengar ucapan wanita yang duduk dihadapannya, kemarahan Min woo semakin menjadi “ne… dia lemah, dan sebenarnya dia tidak akan melakukan kejahatan jika tidak dalam keadaan yang memaksanya untuk melakukannya… dan tindakan ayahmu memaksanya untuk melakukannya…”

Hye na diam ditempatnya. Hye na sudah mengetahui segalanya. Sung Jin woo memanipulasi mobil Hye na karena untuk membalas tindakan ayah Hye na yang sudah mengambil dan menghancurkan satu-satu harta peninggalan orang tuanya, dan sebenarnya Hye na tidak mampu menyalahkan siapapun. Hye na menyadari ayahnya atau Sung Jin woo sama-sama bersalah.

Min woo diam, kemudian mengalihkan pandangannya menatap Hye na “…dank au pantas untuk mendapatkan ini…”ujar Min woo yang kemudian bangkit dari tempatnya dan melangkah maju mendekati Hye na, penuh dengan ancaman.

********

Jung min melangkah cepat, tidak mempedulikan apapun yang ada disekitarnya dan dengan cepat naik ke tangga dengan melompati 2 tangga sekaligus. Tidak memikirkan kengerian yang terlihat didepan matanya. Keadaan gedung yang rusak dengan kayu-kayu yang mulai rapuh.

Jung min tidak mempedulikan semua itu. Kekhawatiran sudah mulai merasukinya. Jung min mengelilingi ruangan di lantai 2 gedung tersebut yang menghubungkan dengan beberapa ruangan di lantai itu.

Dengan napas terengah, Jung min mulai mencari dan ia mendapatkan sesuatu yang benar-benar membuatnya marah dan terkejut. Ia menatap Sung Min woo tengah berdiri diatas tubuh Hye na yang terikat dan berusaha mencekik leher Hye na dengan kedua tangannya. Jung min menyadari kondisi Hye na yang mulai kesulitan bernapas dan kemudian dengan cepat, Jung min beranjak masuk dan langsung membawa Min woo dari atas tubuh Hye na, menjatuhkan tubuh Min woo dan kini ia berada dibawah tubuh Jung min yang menjepitnya kuat.

“kau benar-benar…” belum sempat Jung min melanjutkan kalimatnya, Jung min sudah mengarahkan bogem kerasnya ke wajah Min woo dan membuat darah mengucur dari sudut bibir Min woo, dan saat itulah terdengar dari mulutnya bukanlah sebuah rintihan melainkan tawa, tawa keras yang memekakkan. Jung min diam, menatap Min woo tidak percaya dan ketika ketidak sadarannya mulai terusik dengan isak tertahan Hye na.

Tangannya mulai bergerak dan memukuli tubuh dan wajah Min woo bertubi-tubi. Hingga akhirnya napas Jung min mulai terdengar terengah. Kesadarannya kembali dan ditatapnya Min woo yang tergeletak tak berdaya, setengah sadar dibawah tubuhnya. Isak lirih Hye na masih terdengar dan ternyata itu semakin memicu Jung min untuk mulai mengarahkan kedua tangannya di leher Min woo, berusaha mencekiknya.

Segalanya sudah gelap untuk Jung min, hanya keinginan membunuh yang terasa kuat dihatinya, hingga ketika Min woo sudah mulai kehabisan napasnya. Hye na berusaha mencoba menggeser tubuhnya mendekati Jung min, dan dengan kedua tangannya yang terikat didepan tubuhnya, Hye na menggenggam lengan Jung min, mencoba menghentikan percobaan pembunuhan Jung min atas Min woo. Hye na berhasil membawa Jung min kembali kedunia mereka.

Hye na menatap Jung min, menggelengkan kepalanya, melarang Jung min melakukan niatnya “to…tolong… hen…hentikan Jung min…”ujar Hye na disela isakannya. Perlahan Hye na menarik napasnya sesaat sebelum melanjutkan kalimatnya “aku tidak ingin… ayah dari anak kita dicap sebagai pembunuh…” Hye na menarik napasnya kembali “…biarkan dia menjalani hukumannya…”ujar Hye na, menatap Jung min memohon dan penuh keyakinan.

Jung min diam, menatap Hye na lembut kemudian ia mengalihkan pandangannya kembali menatap Min woo yang terdengar merintih kesakitan dibawah tubuhnya dan sekali lagi dengan pukulan telak yang keras, Jung min kembali mengarahkan bogem mentahnya ke rahang Min woo, membuatnya tidak sadarkan diri.

Jung min segera bangkit dari tempatnya, menatap Hye na, membuka ikatan di pergelangan kaki dan tangannya dan dengan cepat, membawa Hye na kepangkuannya dan memeluknya erat, erat, erat.

Hye na diam, menyerapi kehangatan tubuh Jung min yang mulai menghangatkan tubuhnya, membalas pelukan Jung min dan saat itulah, Hye na dapat merasakan tubuh Jung min bergetar keras. Jung min menggigil “…aku benar-benar takut… aku benar-benar ketakutan… aku tidak dapat membayangkan hidupku tanpamu…”

Hye na diam, mengusap punggung Jung min lembut mencoba menenangkan “….ahni… gwenchana… semuanya sudah baik… semuanya sudah baik…”ujar Hye na lirih

“aku sangat mencintaimu…”ujar Jung min pelan, membuat Hye na tersenyum “…ne… aku tahu…”

“aku sangat mencintaimu… sangat mencintaimu… sangat mencintaimu…”ujar Jung min lagi

“ne… aku juga… aku sangat mencintaimu…”ujar Hye na akhirnya yang berhasil membuat Jung min melepaskan pelukannya dan menjauhkan tubuh Hye na, menatapnya tidak percaya, dan saat itulah senyum penuh keyakinan terkembang diwajah Hye na dan seketika itu Jung min mulai membekap mulut Hye na dengan bibirnya, membawa Hye na dalam, dan lebih dalam, hingga akhirnya Jung min melepaskan ciumannya, menatap Hye na, dengan napas tersengal. “…kita harus keluar dari sini…”ujar Jung min “apa kau tidak apa… bisa berjalan…?”

“ne… gwenchana…”jawab Hye na “…aku bisa…”ucapan Hye na terhenti, dengan cepat dan hati-hati, Jung min menyusupkan tangannya di punggung dan lutut Hye na, mnenggendongnya dalam pelukan Jung min dan perlahan membawa Hye na keluar dari gedung itu.

“apa yang terjadi…”tanya Kim Tae so tiba-tiba, menatap Jung min saat keduanya mulai melangkah keluar dari gedung itu “… tolong hubungi polisi…”

“mana Min woo…?”tanya Kim Tae so, menatap Jung min bingung.

“didalam… pingsan”

“tapi… bangunan ini sudah rapuh… bagaimana…”

Jung min memutus ucapan Kim Tae so, menatapnya dengan tatapan kesal “…terserah bagaimana kau mengeluarkannya… jika harus merobohkan gedung ini,  dan menggali reruntuhan untuk mendapatkan tubuhnya.. maka lakukanlah”ujar Jung min dingin yang kemudian membawa tubuh Hye na masuk kedalam mobilnya perlahan. “…aku harus kerumah sakit untuk mengetahui keadaan Hye na… aku minta tolong urus sisanya…bawa laki-laki itu ke yang berwajib…”ujar Jung min sebelum ia masuk kedalam mobilnya dan duduk dibalik kemudinya. “terima kasih…”sambung Jung min, menatap Kim Tae so, tersenyum singkat padanya sambil menepuk bahunya ringan sesaat.

********

Beberapa hari kemudian…

Segalanya kembali seperti awalnya, namun tidak untuk kehamilan Hye na. Saat ini, kehamilan Hye na hanya tinggal menghitung hari, dan sejak hari ini, usia kehamilan hanya tinggal 15 hari lagi Hye na dari tanggal yang diperkirakan anak pertamanya akan lahir. Hye na mengusap lembut perutnya, tersenyum, dan tiba-tiba Hye na terpekik kesakitan saat ia merasakan sesuatu yang aneh dengan perutnya.

“ada apa…?”tanya nyonya Yoon tiba-tiba, menatap Hye na khawatir

“ahni… hanya, tiba-tiba terasa sakit… tapi hanya beberapa detik…”

“ahhh… tak apa… memang begitu jika usia kandungan sudah mendekati harinya…”

Hye na tersenyum mendengar penjelasan nyonya Yoon. Hye na menatap nyonnya Yoon. Sudah sejak tragedy itu nyonya Yoon tinggal bersamanya, Jung min dan Jung ahjussi di rumah peternakannya. Jung min meminta nyonya Yoon untuk menjaga Hye na karena Jung ahjussi dan Jung min menyadari keberadaan mereka berdua tidak dapat diharapkan untuk selalu berada disisi Hye na untuk menjaganya, maka dari itu, Jung min meminta nyonya Yoon untuk datang dan menjaga Hye na.

“anda ingin sesuatu…?”tanya nyonya Yoon, menatap Hye na, menunggu

“ahhh… ahni… tidak nyonya Yoon, terima kasih… hanya bisakah kau mengambilkan ponsel dan segelas air mineral…”

“ahhh…. Tentu saja…”

“khamsamnida…”ujar Hye na menyusul kemudian nyonya Yoon pergi, menghilang meninggalkan Hye na. Tak lama, ponsel Hye na sudah berada ditangannya dan setelah ia meminum air mineral yang dimintanya dan memberikan gelas yang telah kosong pada nyonya Yoon dan menunggu nyonya Yoon pergi. Hye na menekan beberapa nomor diponselnya dan tersenyum ketika sambungan mulai terhubung.

“kau bisa pulang sekarang…”tanya Hye na lewat ponselnya, tersenyum

“ada apa sayang… aku sedang sangat sibuk sekarang… aku bisa pulang sore nanti… dan itu sudah paling cepat… apa ada yang kau inginkan… aku akan meminta pak Jang membawanya untukmu”

“ahni…aku ingin kau pulang sekarang…”pinta Hye na

“tapi aku benar-benar sibuk…”

“sibuk apa…”

“ada beberapa proyek baru… dan aku harus membaca beberapa proposal yang harus di bahas saat rapat dengan pemegang saham besok…”

Hye na diam mendengar penjelasan suaminya. Ia mulai mengerucutkan mulutnya, kesal, “aku ingin kau pulang sekarang… aku… akh! Akh! Akh! Akh! Perutku sakit… sakit…”

“sayang… sayang… gwenchana…?”tanya Jung min yang terdengar mulai khawatir saat mendengar suara kesakitan Hye na “…ahni… AKH!!”seru Hye na lagi yang kemudian mulai menutup ponselnya, tidak mampu melakukan apapun lagi.

***********

Jung min menatap ponselnya sesaat setelah Hye na memutuskan sambungannya, kemudian mengalihkan pandangannya menatap pak Jang yang menatapnya bingung “…ada apa doronim…?”tanya pak Jang menatap Jung min yang menatap pak Jang terdiam. “…berapa hari perkiraan kelahiran anakku pak Jang…?”tanya Jung min

“15 hari dari sekarang doronim… memang ada apa…?”

“ahni… Hye na mengeluh kesakitan… apa mungkin ini waktunya…”tanya Jung min, datar, menatap pak Jang bingung. Pak Jang diam ditempatnya, menatap Jung min, berpikir “…bisa jadi doronim…”

“mwo?!?!?! Kalau begitu kita pulang sekarang…”

“tapi bagaimana janji menembak anda dengan pak Park..?”

“tolong batalkan saja… katakan padanya aku harus menemani istriku… sepertinya Hye na akan melahirkan pak Jang…”ujar Jung min yang kemudian melangkah pergi meninggalkan pak Jang yang terlihat masih diam ditempatnya, namun perlahan mulai menyadari situasi dan kondisi saat itu, “ahhh… ne doronim…”

“kunci…”ujar Jung min, mengulurkan tangannya

“ahhh… ini…”ujar pak Jang, sambil memberikan kunci mobil Jung min, menatap kepergian Jung min dan ia sendiri mulai mengambil ponselnya, untuk menghubungi pak Park yang sebelumnya memiliki janji dengan Jung min.


Jung min masuk kedalam mobilnya tergesa, menyalakannya kemudian mengambil ponselnya menghubungi dokter Han dan sesaat setelah hubungan itu tersambung, tanpa berbasa basi Jung min langsung mengatakan apa yang diperlukannya “…dokter Han… Hye na akan melahirkan… aku butuh dirimu sekarang…”ujar Jung min yang sejurus kemudian mematikan ponselnya dan melajukan mobilnya ke rumah peternakan Hye na.

“sayang…”gumam Jung min yang kemudian menekan nomor ponsel Hye na, namun yang terdengar hanya nada sambung ponsel Hye na. Hye na tidak mengangkat ponselnya. Jung min semakin khawatir. Dengan tekanan keras kakinya, Jung min melajukan mobilnya lebih cepat, dan cepat ke rumah peternakan Hye na.

Dan akhirnya…



“mana Hye na…?!?”seru Jung min sesaat setelah ia menghentikan mobilnya, keluar dan memberikan kunci mobilnya pada seorang pegawai peternakan Hye na, namun sebelum orang itu menjawab pertanyaan Hye na, Jung min sudah melangkahnya meninggalkannya, masuk kedalam rumah peternakan. “Hye na!!”panggil Jung min, mulai mencari didalam rumah, membuka setiap pintu yang ada dalam rumah itu.

“Hye na!!!”panggil Jung min

“doronim…?!?”ujar seseorang tiba-tiba, menyentuh lembut bahu Jung min yang kemudian segera memalingkan wajahnya, menatap orang itu.

“ahh… nyonya Yoon… dimana… dimana Hye na…!?!?”tanyanJUng min, tergesa “bagaimana keadaannya… siapkan semuanya nyonya Yoon, kita harus membawa Hye na kerumah sakit…”ujar Jung min, mulai melangkah meninggalkan nyonya Yoon, namun hanya beberapa langkah, nyonya Yoon segera menghentikannya “agashi ada di dojo… memanah…”ujar nyonya Yoon.

“kalau begitu kita harus kesana… semua harus disiapkan…”ujar Jung min, belum menyadari apa yang dikatakan oleh nyonya Yoon dan mulai melangkah ke dojo, namun lagi-lagi hanya beberapa langkah, Jung min berhenti sesaat, dan membalikkan tubuh menatap nyonya Yoon “…apa maksud anda nyonya Yoon…”

Nyonya Yoon diam, melangkah ke dapur, meninggalkan Jung min yang segera melangkah mengikuti nyonya Yoon “…agashi baik-baik saja… dan sekarang sedang memanah di dojo panahan…”tambah nyonya Yoon, tersenyum menatap Jung min yang diam, terkejut dengan apa yang didengarnya. Jung min diam, tidak mampu bergerak, benar-benar terkejut dengan apa yang didengarnya.

“jadi segalanya baik…?!?”

“ne… tentu saja… anda bisa melihat agashi di dojo jika tidak percaya dengan ucapan saya…”ujar nyonya Yoon, meyakinkan.

Jung min terdiam, masih tidak mampu melakukan apapun hingga akhirnya rasa kesal menerjang dan meruntuhkan tubuhnya. Dengan langkah cepat yang dipelopori dengan rasa kesalnya, Jung min berjalan ke dojo dimana Hye na berada.

Dan tepat seperti yang diucapkan oleh nyonya Yoon, Hye na ada dihadapannya dengan keadaan baik-baik saja, tidak terjadi apapun dan masih dengan perut yang membesar dan tengah membidik dengan busur dan anak panahnya pada target jauh di hadapannya.

Jung min melangkah mendekati Hye na dan setelah Hye na melepaskan anak panahnya, Jung min berdeham keras, menahan rasa kesalnya dan hatinya semakin kesal saat senyum Hye na terkembang diwajahnya “…ahhh… sayang…”ujar Hye na enteng, membuat hati Jung min semakin panas, namun Jung min menahannya dan ia sudah terlalu sering melakukannya sehingga ia lebih dari mampu menahan marah dan rasa kesalnya.

“bagaimana keadaanmu…?”ujar Jung min, menatap Hye na, kesal.

“baik… semuanya baik… ini…”jawab Hye na sambil kemudian menyerahkan sebuah busur dan anak panah pada Jung min “… aku ingin bermain denganmu… ayo…”ujar Hye na, tanpa ada rasa bersalah karena sudah berbohong pada suaminya itu.

“aku tidak bisa… aku harus kembali kekantor…”

“ahni… kau harus disini…”

“tapi kau baik-baik saja…”ujar Jung min, menatap tubuh Hye na yang saat itu mengenakan pakaian memanahnya, menatap dari kepala hingga ke kakinya. “ahni… kau benar-benar harus disini…”

“tapi…”

Hye na diam, menatap Jung min marah dan ternyata berhasil membuat Jung min diam, dan menuruti ucapan Hye na, walaupun masih ada rasa kesal yang bercokol dihatinya. Dan kejadian itu akan menjadi suatu pelajaran untuknya kemudian.

**********

Pagi mulai menjelma, udara sejuk menerpa wajah Hye na ketika ia tengah berdiri menghadap padang rumput yang luas di peternakannya. Matahari perlahan mulai tersingkap dari awan yang menutupi. Menunjukkan cahaya dan kehangatannya.

Hye na tersenyum, menarik napas panjang sesaat sebelum ia kembali melanjutkan langkahnya kea rah istal kuda miliknya, namun ketika ia akan melangkah, tiba-tiba seseorang menari tubuh Hye na dengan melingkarkan lengannya di perut Hye na, membuat Hye na menghentikan langkahnya “…pagi sayang…”ujar Jung min, mengecup leher Hye na lembut “…pagi nak…”tambah Jung min lagi, mengecup perut Hye na lembut.

“apa hari ini aka pergi…?”

“ne… aku harus melihat pabrik… tapi tenang saja… hanya itu… setelahnya aku milikmu sayang…”ujar Jung min, mengeup hidung Hye na lembut.

“bagus… “ujar Hye na tersenyum, kemudian perlahan melepaskan dekapan tangan Jung min di perutnya dan membalikkan tubuhnya menatap Jung min “… pergilah bersiap… aku akan ke istal…”

“untuk apa…?”

“hanya untuk melihat… tidak akan melakukan apapun… lagipula jika aku hanya duduk, perutku terasa sakit…”ujar Hye na, mengusap perutnya sambil meringis.

“apa semuanya baik…? Apa ada yang salah…?”tanya Jung min khawatir, menatap Hye na dan mengalihkan pandangannya menatap perut Hye na sebelum kemudian mengusap lembut perutnya lagi.

“gwenchana… kata nyonya Yoon memang seperti itu… akan terus terasa sakit jika sudah hampir waktunya…”

“ahhh…” Jung min diam sesaat ditempatnya menatap perut Hye na “…jika terjadi sesuatu kau harus segera mengatakannya padaku…”ujar Jung min

“ne… ne sayang…”jawab Hye na “sekarang bersiaplah… jangan sampai terlambat…”ujar Hye na yang dijawab sebuah senyuman dari Jung min kemudian kecupan singkat didahi oleh Hye na. “hati-hati…”ujar Jung min lagi sebelum kemudian ia melangkah pergi masuk kedalam rumah peternakan Hye na, namun…

“akhhh!!”seru Hye na tiba-tiba sambil memegang erat perutnya.

“yya… ada apa… apa sudah waktunya…?”

“ahni… bawa aku ke peternakan saja…”ujar Hye na sambil tersenyum nakal, menatap Jung min “…auuushhh… jangan seperti itu…”ujar Jung min kesal, ketika menyadari Hye na tidak serius dengan sakitnya. “kau membuatku takut…”ujar Jung min lagi yang kemudian menurunkan Hye na pelan didepan istal kuda Hye na.

“he he he he… hanya lucu melihat wajahmu yang khawatir…”jawab Hye na yang kemudian masuk kedalam istal, meninggalkan Jung min yang merengut diam, menatap Hye na kesal.

“auuushhhh… aku pergi…”ujar Jung min kesal

“ne… hati-hati…”ujar Hye na singkat, tersenyum penuh kemenangan kemudian menghilang masuk kedalam salah satu bilik kudanya.

Beberapa menit kemudian, Jung min baru saja berangkat untuk urusannya dan Hye na masih dalam istal kudanya, mengecek kesehatan kuda-kudanya dan juga Shin, kuda Jung min yang diminta Hye na untuk dibawa ke istalnya. Kini Hye na tengah mengusap lembut kepala Lian, kuda betina Hye na yang kini tengah mengandung anak dari Hiro, kuda kesayangan Hye na. peut kuda itu sudah terlihat membesar, dan untuk yang satu ini, Hye na juga sangat menantikannya, karena dalam kandungan Lian, adalah anak Hiro.

“semoga segalanya baik Lian…”bisik Hye na lirih, tersenyum mengusap lembut perut Lian yang mendapat balasan berupa usapan lembut dari kepala Lian yang mengusap lengan kiri Hye na “…ahhh… bagus… jaga dirimu…”ujar Hye na, mengusap singkat lagi kepala Lian kemudian melangkah keluar dari bilik Lian, dan kini ia melangkah masuk kedalam bilik Hiro yang berada di sisi bilik Lian “..hai Hiro…”sapa Hye na, mengusap lembut kepala Hiro yang menjawab dengan ringkikan lembut. “ahhh… apa kau antusias menunggu anakmu…?”tanya Hye na, menatap Hiro senang dan lagi-lagi terdengar ringkikan sebagai jawaban untuk Hye na.

“anak pintar…”ujar Hye na, mengecup singkat kepala Hiro “…baik… aku harus pergi… aku harus melihat Shin sekarang… jadi ayah yang baik ya…”ujar Hye na mengusap pelan kepala Hiro kemudian melangkah pergi, keluar dari bilik Hiro dan melangkah masuk kedalam bilik Shin sekarang, dimana ia menemui seorang pegawai Jung min yang biasa mengurus Shin “…bagaimana Shin…?”tanya Hye na menatap pekerja itu

“bagus…agashi… dia juga sudah memilih pasangannya…”ujar pegawai itu.

“oh ya… siapa…? Kuda betina yang menurutku bagus disini Lian dan Amorita… apa dia memilih amor…?”

“ne… dia memilih Amori…”

“bagus… dan sekarang apa yang akan kau lakukan…”

“membawa Shin keluar… tapi sebelumnya, akan memberinya makan sebentar…”jawab pegawai itu sambil menunjukkan seember makanan Shin pada Hye na. “kalau begitu berikan saja padaku… siap kan saja yang lainnya…”ujar Hye na, mengambil ember berisi makanan yang dibawa pegawai itu yang kemudian disusul dengan kepergian pegawai itu keluar dari bilik Shin. “terima kasih…”ujar Hye na lagi dan kemudian perhatiannya kembali terfokus pada Shin yang menatapnya diam.

“sekarang makan… setelah itu kau akan bertemu dengan kekasihmu…”ujar Hye na, mengusap kepala Shin lembut. Shin diam, menatap Hye na kemudian mengusap perut Hye na lembut dengan kepalanya sebelum kemudian ia menundukkan kepalanya untuk memakan makanan dalam ember yang diletakkan Hye na di hadapannya.

Segalanya selesai. Hye na menatap Shin sesaat sambil mengusap kepalanya kembali sebelum kemudian ia melangkah keluar dari bilik Shin, dan tepat setelah Hye na keluar dari bilik Shin, rasa sakit mulai menyerang Hye na, Hye na merasakan perutnya kram dan keringat dingin mulai mengalir dari dahinya.

Hye na mencoba bertahan, menyandarkan tubuhnya pada dinding istal, dan mengusap pelan keringat yang menetes, namun tak lama, ia tidak dapat bertahan lagi. Hye na jatuh terduduk di atas tumpukan jerami. Kali ini rasa sakit yang datang tidak seperti biasanya. Ini lebih sakit dari sebelumnya dan Hye na benar-benar tidak dapat menahannya. Rasa sakit itu tidak kunjung menghilang hingga akhirnya seorang pegawai peternakan Hye na masuk kedalam istal dan mendapati Hye na terduduk bersandar pada dinding istal dengan keadaan seolah akan melahirkan. Hye na terengah, mencoba untuk bernapas dengan teratur namun ia semakin terkejut ketika menyadari cairan yang perlahan mulai mengalir keluar dari pangkal paha Hye na, turun ke kakinya yang ternyata juga mengejutkan pekerja peternakannya itu.

“agashi…!!! Agashi!! Gwenchana…?!?!”

“ah…ahnih… tolong…hah…hah… hubungi suamiku… tolong…”ujar Hye na sambil menunjukkan ponselnya yang segera diambil oleh pegawai itu.

“tekan angka 1”ujar Hye na lirih, menahan rasa sakitnya

“ahh… ne… ne… tunggu sebentar… tahan sebentar agashi…”ujar pegawai itu sambil memberi semangat pada Hye na. Orang itu mulai menekan angka 1 di ponsel Hye na dan mulai terhubung dengan ponsel Jung min, hingga tak lama kemudian terdengar suara Jung min “..ah… yobseyo… doronim… agashi… agashi… sepertinya sudah waktunya untuk melahirkan… bagaimana ini… saya… yobseyo… yobseyo…”seru pegawai itu tiba-tiba ketika menyadari hubungan telepon mereka terputus. “yobseyo… doronim!! Doronim!!”seru pekerja itu yang kemudianmengalihkan pandangannya menatap Hye na bingung “..doronim mematikan ponselnya agashi…”ujar pekerja itu lemah

“akh… dia… akhhh!! Benar-benar!!”gerutu Hye na, menahan sakitnya

“apa yang harus saya lakukan sekarang…”

“bawa… bawa aku… akhhh kerumah sakit…”

“tapi…”

“bawa… AKKKHHH!!! Sekarang!!!!”seru Hye na, benar-benar tidak tahan dengan rasa sakit yang menyerangnya

“iy..iya…”

“Hye na…!! naaaakkk!!!”panggil seseorang tiba-tiba, melangkah masuk kedalam istal dan saat itulah pekerja itu langsung menghambur padanya, menunjukkan keadaan Hye na. “AHJUSSI!!! AKHHH!!!”seru Hye na ketika menatap Jung ahjussi yang melangkah cepat, mendekatinya.

“Ada apa…?”

“sepertinya sudah waktunya tuan…”jawab pekerja itu

“kalau begitu bantu aku membawanya kemobil…”

“ne…”

“apa Jung min sudah dihubungi…”tanya Jung ahjussi lagi, sambil menyelipkan lengannya di kepala dan punggung Hye na, membawanya bersama pekerja itu keluar dari istal dan melangkah kearah mobilnya.

“Jung min… apa kau sudah menghubunginya?!?!?”tanya Jung ahjussi lagi, menatap pekerja itu sesaat setelah Hye na direbahkan di jok penumpang bagian belakang mobil Jung ahjussi “sudah… tapi….”

"Laki-laki berengsek itu mematikan ponselnya ahjussi!! Akkhhhhh!!!!“seru Hye na. Jung ahjussi diam, menatap Hye na kemudian mengalihkan pandangannya menatap pekerja yang berdiri dihadapannya khawatir

“panggil nyonya Yoon!!”ujar Jung ahjussi kemudian “…aku akan membawanya kerumah sakit…”

“ne…”ujar pekerja itu yang kemudian segera berlari meninggalkan Jung ahjussi mencari nyonya Yoon.

“laki-laki berengsek itu mematikan ponselnya ahjussi…”ujar Hye na kesal sambil menahan rasa sakitnya.

Jung ahjussi diam, menghela napas panjang kemudian mengangkat ponselnya menekan beberapa nomer yang segera terhubung. “yobseyo…”

“ne ahjussi… ada apa…”

“istrimu akan melahirkan”ujar Jung ahjussi dingin, ketus

“tapi…”

“aku akan membawanya kerumah sakit sekarang…”

“tapi…”

“untuk apa kau menghubunginya ahjussi.. AKKHHHH!!! Biarkan saja… hah hah hah hah…”napas Hye na mulai terengah “…biarkan saja!!! Aku tidak membutuhkan orang itu… AKKHHHH!!!!”

“apa semuanya baik ahjussi…”tanya Jung min, polos

“YYA!!! apa kau tidak mendengarnya!! Susul aku di rumah sakit… aku sudah membuat janji dengan dokter Han…”ujar Jung ahjussi yang kemudian memutuskan sambungannya, menyimpan ponselnya dan segera melajukan mobilnya setelah nyonya Yoon masuk kedalam mobil, dan duduk di sisi Hye na sebagai tumpuan untuk kepala Hye na.

“sakit ahjussi… sakiiitttt…”

“iya… iya…. Bertahan sayang…”ujar Jung ahjussi

“apa bisa lebih cepat lagi tuan… darahnya mengalir!!!”

*********

“…apa yang terjadi…?” tanya Jung min tiba-tiba sudah berdiri di samping Jung ahjussi saat mereka membawa Hye na dalam ranjang beroda, membawanya masuk kedalam ruag persalinan bersama 2 orang suster yang ikut mendorong ranjang Hye na.

“akhhhh!!”keluh Hye na kesakitan

“dia… ketubannya pecah… spertinya udah waktunya…”jawab Jung ahjussi sambil terus beralri membawa Hye na ke dalam ruang persalinan.

Jung min diam, menatap Jung ahjussi tidak percaya “tapi…”

“untuk apa kau datang!!! Pergi!!! Akhhhhh!!!”sela Hye na tiba-tiba, melepaskan tangan Jung min dari pinggiran ranjang beroda yang membawa Hye na.

“maafkan aku sayang…”pinta Jung min, menatap Hye na memohon

“AHNI!!! AKHHHH!!! AHNI!!! AHNI!!! AHNI!!! AHNIIIIIIII!!!”seru Hye na sambil kemudian mengigit lengan Jung min dan dengan kedua tangannya ia menarik rambutnya, mendekat kearahnya “akkkhh…!!! maafkan aku…”ujar Jung min, memohon

“AHNI!!! Tidak akan!!! AKKKHHH!!! Tidak akaaaaaannn!!!! Pergi!!! PERGIIII!!!” seru Hye na disela rasa sakitnya sambil semakin keras menarik rambut Jung min.

Jung min tidak dapat melakukan apapun dan hanya mengikuti Hye na yang menarik rambutnya masuk kedalam ruang persalinan. Jung min hanya menatap diam, khawatir serta takut saat melihat usaha Hye na untuk mengeluarkan anak mereka dari perutnya, hingga akhirnya proses itu selesai.

“terima kasih…”ujar Jung min sambil kemudian mengecup dalam tangan Hye na, tersenyum. Jung min menatap Hye na hangat, tersenyum mengusap keringat yang keluar deras dari dahi Hye na, kemudian perlahan Jung min mengarahkan kepalanya ke wajah Hye na, namun tepat ketika Jung min akan mencium Hye na, tiba-tiba Hye na memalingkan wajahnya, menolak. “…kau belum kumaafkan…”ujar Hye na

Jung min diam ditempatnya menatap Hye na “ayolah sayang… maafkan aku…. Aku mohon…”

Hye na diam, tidak mengatakan apapun, dan tetap memalingkan wajahnya dari Jung min sampai terdengar ketukan di pintu kamar Hye na. seorang suster masuk sambil membawa anak Hye na dalam keadaan sudah dimandikan dan bersih. Hye na menerima anaknya dan memeluk serta menciumnya lembut, bahagia dengan apa yang sudah didapatnya “…seorang bayi perempuan cantik… seperti ibunya…”ujar suster itu, tersenyum senang menatap Hye na dan Jung min “…selamat agashi… doronim…”ujar suster itu.



“terima kasih banyak suster…”

“ne… silahkan…”ujar suster itu dan kemudian melangkah keluar dari ruangan Hye na, meninggalkan Hye na dan Jung min memberikan kedua orang tua baru itu waktu dengan anak mereka. Jung min diam, menatap takjub bayi perempuan dalam pelukan Hye na. dia benar-benar bahagia saat itu, hingga tidak dapat membendung air matanya sendiri “…anak perempuan…”ujar Jung min tertahan, menarik napas panjang kemudian perlahan menjulurkan tangannya untuk menyentuh anak perempuannya, namun…

“kau tidak boleh menyentuhnya…”ujar Hye na, menjauhkan anaknya dari jangkauan Jung min.

“waeyo… dia anakku…” jawab Jung min, menatap Hye na tidak percaya.

“kau sudah menyakitiku…!!! Kau tidak percaya padaku!!! Bagaimana kalau Jung ahjussi tidak datang!!! Apa kau akan membiarkanku kesakitan  dan membiarkan anak ini lahir di istal kuda…”

Jung min terdiam, terkejut dengan ucapan Hye na. Ia benar-benar tidak menyangka jika yang dilakukannya akan berefek seperti ini “mianhe sayang…”ujar Jung min, menatap Hye na sedih

“ahni… pergilah…”

“mianhe…”

“urus pekerjaanmu saja… dan tinggalkan aku dengan anak ini… pergilah…”

“jangan seperti iu sayang… aku mohon…”pinta Jung min, menatap Hye na memohon. “mianhe… mianhe… mianhe…”ujar Jung min

“ahni…!!”

“mianhe…”

“ahni…”

“mi..” ucapan Jung min terhenti ketika terdengar olehnya ketukan dipintu ruangan rawat Hye na. “masuk…”ujar Hye na, menatap pintu dihadapannya yang tak lama kemudian terbuka dan seseorang masuk kedalam ruangan Hye na.

“kau sudah membawanya…”tanya Hye na menatap orang itu.

“ne… ini…”ujar orang itu sambil memberikan sebuah busur dan anak panah pada Hye na

Jung min menatap diam busur dan anak panah ditangan Hye na, bingung “…untuk apa sayang…”

“hentikan!! Aku bukan sayangmu”

“tapi…”

“berdiri dipojok!!” seru Hye na, menatap Jung min marah.

“apa yang…”

“diam saja… dan katakan maaf sampai aku menembakmu…”

Jung min menatap Hye na tidak percaya, shock, kemudian memejamkan matanya, emnarik napas panjang dan mulai melakukan apapaun yang diminta oleh istri dan ibu dari anaknya itu.“mianhe… mianhe…, mianhe…, mianhe…, mianhe…, mianhe…, mianhe…,” ucap Jung min, terus hingga Hye na mengarahkan anak panahnya pada Jung min hingga akhirnya ia akan melepaskan anak panahnya, tiba-tiba terdengar rengekan dari sisi Hye na yang berhasil menarik perhatian dari Jung min dan Hye na.

“ahhh… sayang… ahni… ahni… tak apa…”ujar Hye na, meletakkan busurnya dan menggendong anak perempuannya di pelukannya.

“ne… omma hanya bercanda…”tambah Jung min yang sudah berdiri di sisi Hye na, mengusap lembut anak perempuannya yang segera terdiam, menatap kedua orang tuanya dengann binar-binar khas bayi.

“ahhh… kau benar-benar manis…”tambah Hye na, mengecup lembut kepala anak perempuan mereka bersamaan dengan Jung min.

“yya… apa yang kau lakukan… kembali ketempatmu…”ujar Hye na, menatap Jung min kesal.

“ahni… ini tempatku…”

“YYA!!”

“ini tempatku…”ujar Jung min kukuh pada pendiriannya, membalas pandangan Hye na marah namun tanpa Hye na duga tiba-tiba Jung min mengecup singkat dahi Hye na kemudian bibir Hye na singkat “YYA!!! aku tidak…” ucapan Hye na terhenti oleh bungkaman bibir Jung min di bibirnya, mendekap Hye na dalam pelukannya di ranjangnya bersama anak perempuan mereka dalam dekapan keduanya.

**********

Epilog

Matahari bersinar terik siang itu, namun tidak mengalahkan semangat seseorang untuk datang melakukan pekerjaan yang sudah biasa ia lakukan. Semangat itu sama sekali tidak kalah dengan wajah kaku, tegang dan tidak berdaya orang dihadapannya.

“bagaimana semuanya…?”tanya Jung min tegas, menatap salah satu pekerja pabriknya

“baik pak.. tidak ada masalah…”

“bagus…”ujar Jung min yang kemudian mengangkat wajahnya dan menatap semua orang yang berada diruangan itu “..kalian harus ingat… disini kalian memegang makanan.. dan aku ingin segalanya dilakukan dengan teliti dan steril tidak boleh…”kata-kata Jung min terputus oleh dering ponsel yang membuat Jung min geram, menatap sekelilingnya, mencari suara dering itu. Lama, dering itu tidak juga menghilang, membuat Jung min semakin marah menatap seluruh pekerjanya “…saya ingin dering itu berhenti. Jadi ponsel siapapun itu, angkat sekarang atau aku akan memecat orang itu…”ujar Jung min, menunggu menatap semua orang itu, namun dering itu tidak berhenti juga. Jung min diam, memejamkan matanya, menahan amarahnya, hingga kemudian “maafkan saya pak… ini agashi…”bisik pak Jang yang melangkah mendekati Jung min.

Jung min diam, terkejut dan sedikit malu, karena dia yang membuat peraturan tapi dia juga yang menghancurkan peraturan itu “…maafkan saya…”ujar Jung min yang dengan cepat mengambil ponselnya ditangan pak Jang dan beranjak pergi “…bukankah aku bilang untuk…”

“anda sendiri yang meminta untuk jangan mematikannya doronim… berjaga ketika agashi membutuhkan anda…”kilah pak Jang

“auuushhh…”ujar Jung min kesal yang kemudian segera menghentikan dering ponselnya “yobseyo…”

“GOO JUNG MIN!!! kau harus pulang sekarang!!! Aku… iya sayang… tunggu sebentar jangan nangis…”ujar Hye na yang juga terdengar tangisan bayi perempuan mereka

“apa semuanya baik…?”tanya Jung min kemudian “sayang…”panggil Jung min ketika tidak terdengar jawaban dari seberang ponselnya.

“ahni gwenchana… tunggu sayang… iya appa akan pulang…”ujar Hye na

“ada apa…? Apa ada masalah dengan Hea min…? semuanya baik sayang…”

“ne… semuanya baik… tapi… Hea min…. iya sayang… iya sayang… akhhh!! Jung min pulanglah… aku mohon…”ujar Hye na akhirnya yang kemudian sambungan terputus. Jung min diam, menatap ponselnya sesaat kemudian segera mengalihkan pandangannya menatap Pak Jang “…pak Jang bawa berkas laporan tentang pabrik ini kerumah… aku akan menunggu dirumah… aku harus pulang sekarang…”

“semuanya baik bukan doronim…?”

“ne… aku harap tidak ada masalah… jangan lupa bawa semua laporan padaku malam ini…”

“ne…”

“terima kasih…”

Dan dengan cepat Jung min melajukan mobilnya cepat, hingga akhirnya ia menghentikan lajunya di depan rumah peternakan Hye na, dan tepat ketika ia keluar dari mobilnya, seseorang keluar dari rumah peternakan itu smabil membawa baby Hea min dalam pelukannya “iya sayang… cup cup… appa akan segera pulang… jangan nangis sayang…”ujar Hye na berusaha menghibur anak perempuannya.

“ada apa sayang…”sapa Jung min kemudian

“ahhh.. akhirnya pulang… Hea min menginginkan appanya…”ujar Hye na yang kemudian menyusul sebuah kecupan singkat Jung min di bibirnya “…kalau begitu berikan padaku…”ujar Jung min yang kemudian mengambil Hea min dari pelukan Hye na dan menggendong Hea min menatapnya lembut, tersenyum lebar



”ahhh… sayang…” ujar Jung min sambil kemudian merebahkan tubuh Hea min di dadanya, menidurkannya dan mengusap punggungnya ringan, lembut

“tenang sayang… apa sudah disini…”ujar Jung min, menenangkan, dan ajaib, saat tepukan hangat Jung min mengusap lembut punggung Hea min, bayi itu diam, “ahhh… kau merindukan appa ya…”ujar Jung min lembut, sambil menepuk pelan punggung Hea min. Hea min diam, mengangkat wajahnya sesaat, menatap sang ayah kemudian menyurukkan kepalanya ke dada Jung min, merebahkan tubuhnya didada bidang sang ayah.

“ahhh… tidurlah sayang… tenang ya…”ujar Jung min lembut.

Hye na diam menatap itu, tersenyum “…sepertinya dia sudah terbiasa dengan kau berada dirumah saat tidur siangnya…”ujar Hye na yang kemudian melangkah masuk dan disusul Jung min mengikuti Hye na masuk kedalam rumah.

Jung min menimang Hea min, membawanya melangkah pelan mengelilingi ruang tamu rumah peternakan Hye na hingga akhirnya Hea min tertidur lelap dalam pelukannya. “sudah tidur sayang…?”tanya Hye na menatap Jung min kemudian mengalihkan pandangannya menatap Hea min, mengintipnya dari punggung Jung min “…ne…sepertinya sudah…”

“kalau begitu pindahkan dikamarnya… dan kita makan… kau belum makan bukan…”

“ne…”jawab Jung min yang kemudian membawa Hea min kekamarnya yang memiliki tema warna pink, peace dan kuning lembut. Indah.

Jung min meletakkan Hea min di boksnya dan meninggalkannya “bagaimana Hea min…”

“tidur…”

“lapar?!?!?”

“ne…”

“kalau begitu ayo…”ajak Hye na yang menarik tangan Jung min, namun tidak keruang makan melainkan kekamar mereka berdua “…kita mau makan dikamar…?!?!?”

“ne… aku sangat lapar… sangat lapar dan benar-benar ingin memakan dirimu…”ujar Hye na, menatap Jung min genit.

“yya… kita tidak akan…”

“ne… kita akan…”ujar Hye na yang kemudian mencium Jung min, membekap mulutnya dalam, dalam dan agresif, hingga akhirnya Jung min melepaskan ciuman Hye na, keduanya terlihat terengah dengan wajah memerah.

“baiklah… jika kau menginginkan itu… kita lakukan…”ujar Jung min yang kini menerjang tubuh Hye na, merebahkan tubuhnya diranjang besar keduanya.

End
« Last Edit: October 22, 2012, 12:25:47 am by ai_yuki »