Author Topic: THE PRISONER OF PRINCE Chapter 8 21102012  (Read 24815 times)

Offline hye sun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1252
    • View Profile
Re: THE PRISONER OF PRINCE Chapter 8 21102012
« Reply #450 on: October 20, 2012, 12:13:57 pm »



Kim Hyung Joon as Woo Bin









The Prisoner of Prince



Prince Jun,…..

Mengenakan kemeja hitam, dengan kancing dada yang terbuka. Melepaskan pandangan tajam pada tubuh yang seketika mengejang karena kehadirannya yang mungkin…tiba- tiba.

“lama tidak melihatmu, Anthea…” suara itu terdengar serak.


-----

bisa aku rasakan aroma khas tubuh budakku yang kini terasa bagai selai strawberry yang manis . aku biarkan bibirku mengecupnya dengan lembut, hingga sampai ketulang lehernya, dan… suatu keterkejutan! Budakku hanya diam, akan sentuhanku yang perlahan menyusuri setiap keindahan tubuhnya. Apa dia telah terbiasa ? tapi demi tuhan, ini bukan cinta… ketika aku yakin rasa jijiknya akan menjadi keuntungan terbesarku”


---------

“Anthea… entah kenapa aku suka nama itu Junpyo_sshi… nama yang lebih sering kudengar dari bibirmu”

“oh, tuhan… jangan katakan kecelakaan kecil itu telah merubahmu menjadi kucing yang liar” bisik junpyo sembari terkekeh. “kenapa aku lebih suka jika kau menolakku sembari menangis dari pada…. Terdiam pasrah disaat aku mulai menginginkanmu”

Jandi hanya diam mendengar ucapan itu. mata bulatnya perlahan mengeluarkan titik- titik air mata yang sedari tadi ia tahan.

“kurasa…akan lebih indah jika kau menangis seperti ini” bisik Junpyo sembari perlahan menghapus air mata Jandi— seolah menikmati kesengsaraan gadis yang masih terus menangkap wajah dingin sang pangeran dengan tangannya.

Sampai akhirnya….

“apa yang ia lakukan?!”  bisik Junpyo dalam hati, saat merasakan kecupan hangat yang seketika membuyarkan seluruh dunia sang Pangeran.


“Jandi-a !!




CHAPTER 8



“sentuhannya terasa membakar jiwaku yang liar. Hasratku, gairahku ketika semua menjadi satu. Ia melumat bibirku hingga memancingku untuk mengerang ketika perlahan lengan kekar itu membelai lekuk tubuh menggigilku. Aku membalas ciuman, seakan tidak peduli meski ia lelaki yang sangat kubenci didalam kehidupanku. Tarian lidahnya seolah menekan mulutku yang terbuka, menjelajah didalamnya. Hingga Aku seakan menyesali atas apa yang aku lakukan malam ini, aku membencinya tapi sungguh aku sangat merindukannya”

Jandi mendorong dada kekar itu ketika ia sadar akan terjadi sesuatu yang mungkin tidak pernah ia inginkan---- tapi terlambat, ia membangunkan kembali gairah pangeran Iblis!

“tangannya bergerak kepunggungku, untuk lebih menekan tubuhku dengan tubuhnya. Kakinya menjepit kedua kakiku--- menawanku agar aku tidak lari dari pelukan yang terasa membakar --- sentuhannya yang terasa memabukkan hingga aku merasakan denyutan hebat pada salah satu bagian tubuhku. tidak!!! Aku bahkan terdiam ketika lengannya melepaskan ikatan tali kimono yang sesaat lalu melingkar dipinggangku….”

“Ju…Junpyo….” Desah jandi ketika dengan cepat lelaki itu kembali menyerang dan bermain diseputaran dadanya yang seakan mengejang. Menikmati pahatan sempurna yang terpampang dihadapannya.

Jandi  pejamkan matanya, meski kini mata bulat itu kembali basah. Ia genggam erat seprai yang berada disisi tubuhnya, ketika menahan gairah yang seakan menggila ketika Junpyo kembali mahir dalam menggunakan bibir dan lidahnya. Jandi bisa merasakan ketika lelaki itu membelai lembut kakinya, menyelusur lembut sampai kepahanya. Seakan mengajarkan pada gadis itu bahwa ia memiliki jemari- jemari ajaib yang bisa membunuh gadis manapun ketika merasakan sentuhan erotisnya. Bahkan ketika jemari tangan itu telah berhasil membuka kaki jandi, tanpa gadis itu sanggup untuk menolak sedikitpun.

“kenapa, dia tidak menolakku ? kenapa dia hanya diam, dan menyisakan ribuan tanya diotakku ketika melihat air matanya yang menetes ?” bisik hati Prince Jun yang mencoba mencerna gairah yang ditunjukkan Anthea kepadanya.

“kenapa kau diam, ingin menggunakan siasat barumu, Anthea ?” bisik pemuda itu, mencoba menahan birahinya yang kali ini terasa menggila ketika kaki indah itu terbuka dihadapan dan berada dikedua sisi tubuhnya.

“atau mungkin kau telah terbiasa akan setiap setuhan- sentuhanku, hingga membentuk rasa kepasrahan diri ?” Prince terkekeh sembari mulai bermain dengan jemarinya--- kali ini mengizinkan jemari- jemari itu untuk membelai setiap lekuk tubuh “pelayan” nya bagai menggelitik, sebelum akhirnya menyusur perlahan pada kaki, paha hingga bagian dalam tubuh Anthea yang membuat gadis itu seketika mengejang dan tersentak.

Jandi tutup mulutnya agar tidak menjerit, meski Prince masih mendengar isakan kecil yang keluar dari bibir gadis itu.
“bisakah kau mengakhiri permainan yang pernah kau mulai Anthea ?”prince menyentuh lagi dada Anthea yang mengejang, menyapu dengan lidahnya seakan ingin memulai “siksaan kenikmatan” yang selama satu minggu ini tidak lagi Anthea rasakan.


Namun sayang kekuasaan Prince hanya bermain untuk sesaat, ….





ketika Anthea tiba- tiba meremas rambut ikalnya, memegang kepala lelaki itu dan menahannya diiringi  nafas Anthea yang terdengar memburu saat tubuhnya seakan tidak sanggup menerima setiap sentuhan dan belaian Junpyo pada setiap jengkal kulit sensitifnya.

“hentikan, bisakah kau menghentikan dirimu untuk tidak mencintaiku ?”

“gadis gila!!” Prince berujar ketus sembari berbisik dengan nada menekan “kau pikir aku melakukannya karena aku mencintaimu ?”

“kau mencintaiku,  Kau sangat mencintaiku, hingga kau tidak pernah melupakan diriku, tubuhku, bahkan bayanganku”

Prince menekan tubuhnya, ketika ucapan itu kembali membangkitkan amarahnya. Bibirnya kembali berusaha mencari, menjamah dan menciumi gadis yang terbaring dibawah tubuhnya--- memberi ciuman yang bertubi sembari perlahan berusaha untuk kembali menyakiti Jandi yang kembali terisak didalam pelukannya.

Namun lagi- lagi Prince harus dikejutkan, ketika sebuah ciuman kini terasa membuyarkan dunia pangeran untuk kesekian kali, saat bibir ranum Jandi melesat cepat dan bermain disetiap jengkal bibirnya. Gadis itu melumat bibir lelaki yang kapan saja bisa membunuhnya, ia rengkuh leher Junpyo, menekan bibirnya seolah membalas setiap sensasi yang beberapa saat lalu diberikan Pangeran Iblis untuknya.

 “aku akan mengakhiri permainan yang pernah kumulai. Lakukan apa pun yang ingin kau lakukan, balaskan rasa sakitmu kepadaku, agar kau puas Junpyo_sshi!” nafas gadis itu terdengar memburu disela- sela ciumannya.

“huh, tentu saja akan kulakukan, kau tahu aku suka ketika kau menantangku” suara serak prince Jun berbisik sembari dengan cepat membuka kembali kaki indah Anthea yang berada disetiap kedua sisi bagian tubuhnya.

Anthea Gemetar, ia tahu ia sangat merindukan lelaki jahat itu. ia bahkan mengutuk dirinya ketika sengaja menantang pemuda yang telah membangkitkan gairahnya sampai keubun- ubun.


Hingga permainan kini harus kembali dimulai…..



Prince menyentuh tubuhnya kali ini dengan kembali menekan seakan marah. Membuat Jandi lagi- lagi hanya diam seakan terbiasa, bahkan tidak peduli meski lelaki itu akan kembali menyakitinya. Dada bidang prince seakan menggilas dan menekan tubuh dan dadanya, hingga gadis itu merasakan sesak diiringi nafas yang memburu atau mungkin sesekali tercekat hebat, ketika separuh nafasnya terbang mengikuti Jiwa liar sang “pangeran”.

Dan seolah ingin menunjukkan kebaikan hati ; Junpyo menggigit kecil bibirnya mencoba menahan gairah itu untuk sementara, Ia angkat tubuh besarnya perlahan--- seolah memberikan kesempatan untuk jandi bernafas, namun tidak dengan matanya yang seketika kembali melepaskan pandangan liar.

Junpyo seakan menikmati pemandangan yang terpampang jelas dihadapan, keindahan dada anthea yang membusung dan mengeras lalu beralih pada mata bulat yang terasa sendu, hingga bibir ranum yang tampak terlihat merah dan basah sebelum akhirnya mencoba mengatur nafas dan jiwa yang kembali terasa menggila dan bergairah ketika keperkasaan itu seakan menuntut untuk memasuki selubung hangat Gadisnya yang terasa basah.

“aku harap kau akan menikmati, ketika kau telah berhasil membangkitkan gairahku Anthea… “prince berbisik menyuruk telinga jandi sembari memberikan gigitan kecil pada telinga gadis itu.

“namun satu hal yang harus kau tahu bahwa apa yang kulakukan bukan cinta, ini bukan cinta--- bukan!” desahnya sembari berusaha melakukan sesuatu yang begitu sangat ia inginkan, sesuatu yang gila!!


“akh….”  Jandi kembali mendesah dalam isaknya ketika ia perlahan merasakan sesuatu yang menghujam tubuhnya--- kali ini sesuatu yang terasa Indah, perkasa, liar dan ---- sial!! Gadis itu seakan kembali menikmatinya.

Ia mendesah sembari menatap wajah lelaki yang kini menatapnya, sampai ketika lelaki itu membungkam bibir mungil nya dengan ciuman yang dalam --- membakar, bergairah seakan lapar!, merasakan ciuman yang seakan menuntut hingga gadis itu kembali merengkuh tekuk sang pangeran dan memberikan akses lebih mudah bagi Junpyo untuk menjamah setiap lekuk tubuhnya atau mungkin jengkal bibirnya secara bebas dan utuh.

Jandi tahu ini bukan yang pertama. Ini untuk kesekian kali, ketika tubuhnya harus kembali menjadi milik lelaki sialan yang menakjubkan .

Kini Geum Jandi harus mengakui, ia merindukan keperkasaan yang liar yang selama ini ia rasakan disetiap malam- malamnya. Ia rindu kecupan, belaian dan aroma maskulin dari tubuh “sang pangeran”.

“Junpyo…” bisiknya ketika lelaki itu kini mulai bermain dan bergerak didalam tubuhnya. Ia sentuh wajah “pangeran Iblis” dengan kedua tangannya, memandang wajah tampan itu dengan tatapan sendu, dengan pandangan mata yang terasa sayu seakan terlena---- menikmati setiap hujaman yang membakar tubuhnya.

Junpyo merasakan keanehan ketika gadis itu seakan menikmati setiap cumbuannya. Ia merasa kesal, marah, namun harus ia akui ini yang terindah. Bahkan ia harus akui bahwa kemarahan, rasa benci perlahan meluntur dari hatinya, seakan ingin terus bercinta dan memberikan ribuan kenikmatan dan kepuasan didalam diri Anthea.

“ia Begitu lembut bagai sutera, memabukkan bagai wishky, wangi … bergairah!” bisik Junpyo sembari terus bermain diatas tubuh gadis yang  kini menatapnya dengan pandangan dalam, mendesah dalam pelukan ketika keperkasaan Junpyo terasa “dalam dan liar”.

Jandi menggigit bahu Junpyo, ketika ia kembali merasakan kenikmatan dalam permainan malam itu. Ia merasa benci ketika harus melakukan tindakan itu, namun tidak sanggup menolak ketika gairah Junpyo kini tertanam didalam tubuhnya, hingga membasahi ketika guncangan itu terasa dahsyat---membuat gadis itu kembali berteriak dalam epalan tangan yang seketika membungkam bibirnya __menghentikan aliran darahnya.


“Jun….Jun…Pyo….” erangnya dalam dada bidang yang seakan mengungkung tubuhnya, hingga mata Junpyo kembali menatapnya tajam sembari berbisik disela- sela gerakannya yang kali ini terasa melambat, mencoba untuk menenangkan diri….

“jangan katakan bahwa kau telah ingat semuanya, Geum Jandi”

Mata bulat itu menatap sayu “aku--- tidak mengerti apa yang kau katakan Tuan”

“berbohong adalah keahlianmu” balas Junpyo sembari terus membiarkan keperkasaannya yang setengah terangsang berada didalam tubuh gadis itu.

“aku hanya ingin menjadi pelacur dan budakmu yang baik, bukankah itu yang kau inginkan ?”  kali ini nada suara itu terdengar gemetar.

Prince tersenyum, senyuman sungging yang terasa dingin. “Gadis pintar!!” ia berujar sembari terkekeh lalu perlahan kembali mendekatkan pandangannya sesaat sebelum menyentuh cuping telinga Jandi dan berbisik


“aku yakin--- permainan ini harus kembali dilanjutkan”




Satu Minggu yang Lalu




Jandi berdiri terpaku sembari memandang dua lelaki yang asyik dengan kuda- kuda mereka. Salah satu lelaki tidak asing lagi dimatanya. Setiap malam kehadirannya merupakan suatu mimpi buruk yang tiada akhir bagi gadis berwajah pucat itu. Pelukannya, ciumannya bagaikan kutu- kutu busuk yang menggerayang bebas atau mungkin cambukan keras yang seolah menghancurkan setiap sendi tulang ditubuhnya

Bagaimana dengan lelaki yang kini berada disamping Prince ?

Lelaki itu terlihat gagah dengan pakaian berkudanya. Meski tidak segagah lelaki gila yang terkadang tidak melepaskan pandangan matanya kearah Jandi yang berdiri disebuah beranda, ditemani beberapa pelayan yang mengeluarkan suara yang cukup berisik ketika kedua lelaki itu menunjukkan bakat berkuda mereka masing- masing.

Jandi berdiri diantara tubuhnya yang gemetar. Wajah pucatnya menunjukkan bahwa gadis itu sedang sakit. Namun seperti biasa, prince tidak peduli akan keadaan gadis itu ketika keinginannya adalah suatu kewajiban yang harus dipatuhi budaknya.

Sudah hampir satu jam Jandi berdiri disamping kursi, Sesekali ia genggam erat ujung kursi yang saat ini menjadi penopang tubuh gemetarnya. Bulir- bulir keringat menetes perlahan didahinya sembari sayup- sayup mata bulat itu memandang kedua lelaki yang perlahan menuju kearahnya, terlihat jelas mereka kini tengah membicarakan sesuatu sambil  mengendarai kuda- kuda jantan mereka---perlahan.




“apakah dia…pelayan barumu Prince ?” tukas Woo Bin sembari mengelus lembut kuda berwarna coklat gelap miliknya.

“pelayan baru ?” Prince melirik Jandi seolah dapat menerka pelayan yang dimaksud sahabatnya itu.

“ya, pelayan yang memiliki warna kulit seputih magnolia, ketika cahaya pagi menyinari setiap jengkal tubuh mungilnya” Wo Bin menatap nakal hingga membuat Prince melepaskan lirikan tajam “dia milikku! Pelacurku!” suara itu hampir terdengar bagai jeritan.

“Are You serious Prince ?!” ‘

“Kau tidak percaya?” Prince tersenyum sungging.“Haruskah aku menjelaskan kepadamu berapa kali aku bercinta dengannya ?”

Wo Bin mengerutkan dahi “bwo!!! apa kau gila Dude ?!, bagaimana jika ibumu tahu bahwa kau tidur dengan seorang pelayan!”

“I don’t care!”

Woo Bin tertawa lepas ketika ucapan itu  terdengar dari mulut Junpyo.
“aku tidak percaya, jika kau mampu melawan Ibumu”

Prince dengan cepat menghentikan kuda hitam miliknya. Wajah dingin itu tergambar jelas ketika ucapan Woo Bin terdengar seolah memperolok.

“kau tahu. aku tidak takut dengan siapapun! tidak ada!!!”

“ok, Prince! Aku percaya!!, kau tahu aku tidak akan pernah ingin ikut campur dalam urusan yang kini sedang kau hadapi Dude!” nada suara itu terdengar membujuk. Woo Bin tahu kemarahan Prince merupakan halilintar yang mungkin akan menyambar tubuh, membakar dan perlahan membunuh dirinya hingga Woo Bin mencoba menyesali atas apa yang ia katakan barusan.

Beberapa pelayan yang berdiri disisi Jandi berbisik genit, saat mulut- mulut lancang mereka tanpa malu membicarakan ketampanan kedua pemuda yang bagi mereka terlihat sexy ketika duduk diatas punggung kuda jantan, dengan pakaian berkuda yang ketat hingga mempertontonkan otot- otot tubuh pemuda gagah dengan charisma mereka masing- masing.




“coba lihat, betapa gagahnya My Prince saat berkuda….” tukas salah satu pelayan sembari menggigit kecil bibirnya diiringi pandangan genit.

“ya… kau benar Young Ae, selalu bermimpi jika suatu hari ketika gairah Prince sedang memuncak, dia bisa memanggilku  untuk tidur bersamanya” bisik hyori sembari terus berdiri dengan tubuhnya yang seketika gemetar--- saat pikiran kotor itu singgah diotaknya.

Young ae mendengus kesal diikuti pandangan Ji eun yang tidak kalah dingin…

“huh,  kapan pikiran kotormu berhenti, Hyori!. Jangan pernah berfikir jika Prince akan mengundangmu kekamarnya, meski kau melakukan ribuan operasi plastic!” Hyori menekukkan wajahnya, ketika dua gadis itu terlihat memperolok.

Untuk beberapa saat mereka membiarkan kemarahan, menghentikan aksi maupun ucapan genit mereka masing masing. Sampai akhirnya, Hyori menyentuh lengan Yoeng Ae—memberikan aba- aba, mencoba ingin menjadikan pelayan lemah disamping mereka sebagai bahan olokan yang menarik.


“bagaimana denganmu, Jandi. Tidakkah…. Prince terlihat sangat tampan ?” Yoeng ae berujar sembari melepaskan pandangan ketidak sukaannya pada Jandi yang sedari tadi berdiri mematung.

Jandi tersenyum, senyuman yang terlihat datar pada wajahnya yang terlihat pucat.

“oh, Yoeng Ae… tidakkah kau sadar bahwa Jandi selalu berada dan bergemul didalam selimut Prince Jun. Bahkan semua orang tahu, ia pelacur bagi Uri Prince!!!, OMG, Aku tidak tahu kenapa, uri Prince lebih memilih gadis yang sama sekali tidak menarik!!!” Hyori berujar angkuh sembari sesekali menyentuh poni rambutnya dengan genit.

Jandi menggigit kecil bibirnya ketika ucapan mereka kini terdengar sangat memperolok, mata bulat itu terlihat sendu, tubuh mungilnya terasa gemetar. Namun, ia coba untuk menahan semua itu. Jandi merasa tidak perlu terpengaruh akan kata- kata para gadis meski mungkin ucapan mereka benar- benar terdengar menyakitkan.



Hingga suara serak seorang pemuda, kini terdengar menyapa, membuat ketiga pelayan menghentikan aksi usil mereka….

“ternyata--- kau disini”

Sapaan tiba- tiba itu seketika membalikkan pandangan gadis yang berdiri dengan hanya menggunakan sisa kekuatannya.
“meski aku tahu, bukan suatu hal yang mengejutkan melihat pelayan Pribadi sepupuku berada disini” suara itu terdengar datar diikuti tubuh jandi yang membungkuk memberi hormat, hal yang juga dilakukan oleh ketiga pelayan genit.

“Jin Hoon_sshi, apakah…anda membutuhkan sesuatu ?” Young Ae mencoba menyapa majikan tampan, yang kini menjadi salah satu idolanya.

Jin hoon memandang pelayan itu dengan pandangan datar, “Tidak, terima kasih” jawabnya hingga pandangan itu kembali beralih kearah Jandi.

“kau—terlihat pucat, apa kau sakit ?”

Jandi kembali menggenggam sisi kursi “ti….tidak, saya… baik- baik saja Tuan”

“jika kau sakit, ada baiknya istirahat. Tidak perlu berdiri menunggu sepupuku yang gila, dia bukan anak kecil yang harus ditemani ketika bermain”

Jandi mengangkat wajahnya yang tertunduk diiringi suara yang hampir tidak terdengar “sa, saya…”

“ini, sudah menjadi tugas kami melayani Prince Jun, Jin Hoon_sshi.” Hyori seolah memotong kalimat jandi yang terlontar, ia berusaha menunjukkan sikap setia, namun lebih memperlihatkan tingkah seorang  penjilat disetiap gurat- gurat wajahnya, hingga membuat wajah dingin itu kini kembali mengarah padanya.

“apakah--- kalimatku tertuju untukmu ?” Jin Hoon melempar tatapan dingin hingga membuat ketiga pelayan genit saling melempar pandangan gugup masing- masing, seolah menyesali sikap mereka barusan.
“ada baiknya, jangan menyela setiap perkataanku. Kalian tahu, aku sangat tidak suka !!” ucapan itu terdengar menekan.

Suasana beranda mendadak sunyi. Tidak ada lagi nada- nada genit yang terdengar ketika Ketiga pelayan itu menundukkan pandangan mereka seolah takut, namun kembali  tersentak ketika Jin Hoon mengulurkan tangannya kearah Jandi.


“ayo, masuk. Aku tahu kau sedang sakit”

Jandi melirik tangan yang kini seolah ingin menjadi penopang tubuhnya yang lemah. Mata bulat itu seakan terperangah, begitu juga ketiga pelayan yang melempar pandangan Iri dan kesal.

“kau tidak dengar perintahku ? ayo masuk!” Ji Hoon kembali mengulang kalimat perintah, meski ia sadar aksinya tidak akan lolos dari pandangan mata Prince Jun.

Dan ia benar, Prince kini memandang dengan pandangan dingin meski dari kejauhan. Entah mengapa mata elang itu dapat menangkap tingkah yang tidak biasa dari sepupunya, sebelum akhirnya memacu kuda dengan kecepatan tinggi, meninggalkan Woo Bin yang menganga dengan mulut yang terbuka seakan “tercampakkan”!


Kuda Prince melaju kencang, urat kemarahan kini tergambar jelas diwajahnya. Ia kembali menunjukkan kecemburuan yang terasa menggila, “apa yang dia lakukan ? apa dia gila ?!!!, apa dia ingin menjadi berita utama Korean News, sebagai korban amarah sepupunya ?!!” bisik Prince dengan kemarahan yang memuncak.


Hingga hanya dalam hitungan detik kuda itu terhenti, tepat dihadapan mereka!


Prince melempar tatapan mata tajamnya kearah Jandi yang tertunduk, sebelum tatapan itu beralih kearah Ji Hoon. “apa yang kau lakukan disini Hyung ?!” nada Prince terdengar menekan diiringi lirikan tajam pada tangan Ji Hoon yang mengarah tepat kearah budaknya.  

Ji Hoon menangkap ketidak sukaan dari wajah Junpyo hingga perlahan menurunkan tangan yang sesaat lalu “ingin” menjadi penopang tubuh gadis yang berdiri gemetar diantara kedua kakinya. Pemuda itu tersenyum, seolah menjadi suatu ketersengajaan yang membuatnya melakukan semua itu, khususnya ketika dihadapan sang “Pangeran Iblis”

“aku--- hanya ingin membawa pelayan ini masuk. Wajahnya terlihat pucat, dan aku rasa dia kini sedang sakit”

Junpyo kembali melirik Jandi, diikuti pandangan kesal ketiga pelayan ketika Jandi kini telah menjadi “gadis idola” bagi kedua lelaki yang begitu sangat mereka inginkan.

“sakit ataupun tidak, aku yakin itu bukan masalah untukmu Hyung!”

Ji Hoon tersenyum sungging, “apakah kau sudah lupa apa yang telah aku katakan kepadamu Prince ?”




“cihh!!!” prince mendengus kesal.

“aku akan membawanya masuk, ketika kau tidak ingin melakukannya prince!” ucapan itu terdengar meyakinkan hingga membuat Mata tajam itu seketika terbelalak lebar, sembari menggertakan setiap giginya seolah ingin menunjukkan wajah tampan Prince yang persegi. “ bwo ?!, sejak kapan lelaki dingin sepertimu peduli kepada seorang pelayan, seorang budak!!” lagi- lagi nada itu terdengar melengking.

“sejak hari dimana mataku menangkap keindahan tubuhnya. Entah mengapa --- aku merasa ikut menjadi pemilik tubuh itu!”

Prince menggigit kecil bibir bawahnya seakan menahan amarah yang kini telah sampai ke ubun- ubun. Wajah pemuda itu menekuk, dengan gurat- gurat emosi yang tergambar jelas, mencengkram erat tali pengekang kuda hingga Ji Hoon dapat menerka bahwa adik sepupunya sedang cemburu bukan main.

“ada baiknya hentikan omong kosong mu, Hyung!”

Ji Hoon kembali mengembangkan senyum sungging, seakan menertawakan ucapan yang baru saja terlontar dari bibir sepupunya.
“kau tahu, aku tidak pernah bermain- main akan ucapanku, kan?”

“benarkah ?”  Prince naikkan salah satu alisnya “tapi seperti yang kita tahu semua tidak akan pernah merubah apapun. Pelayan ini adalah milikku!” Prince melepaskan pandangan nakal tajamnya kearah Jandi yang berdiri sembari menggenggam kedua sisi pakaian pelayan yang melekat ditubuhnya ketika mata tajam Prince kini seakan tengah mengincar sesuatu darinya.


Dan seolah ingin menunjukkan kekuasaannya, Prince yang masih duduk dipunggung kuda jantan mengulurkan tangannya kearah Jandi yang tertunduk, mencoba melakukan apa yang sesaat lalu dilakukan Ji Hoon kepada gadis yang masih menundukkan pandangan---berusaha menyembunyikan wajah pucat cantiknya.

“naiklah!”

Jandi mengangkat wajah yang tertunduk itu seakan tersentak akan perintah yang terlontar dari bibir sang “pangeran Iblis” tidak terkeculi Ji Hoon yang merasa bahwa Prince kini mulai menunjukkan taringnya.

“gadis ini sedang sakit, Prince!”   

Prince memainkan alisnya, diiringi tawa sungging ketika mata tajam itu kembali melepaskan lirikan membunuh kearah Ji Hoon“apa kau percaya ?” Prince mengangkat salah satu alis tebalnya “kau tidak pernah tahu wajah Iblis yang bersembunyi diwajah cantik gadis ini hyung” Suara itu terdengar serak, hingga Jandi harus kembali menundukkan wajahnya ketika Prince memandangnya dingin.

Untuk sementara suasana terasa sunyi, hanya terdengar kicauan burung dan semilir angin yang berhembus, hingga seakan membuat tubuh jandi kembali menggigil dalam “dekapan” mata lelaki yang kali ini semakin mengikat tubuh hingga jiwanya, sebelum akhirnya…..

“apa kau tidak dengar ucapanku, Geum Jandi!!” suara itu terdengar bagai halilintar yang seketika memecahkan kesunyian.
Jandi merasa dunianya berputar, saat tangan prince kini mengarah kepadanya--- memerintahkan gadis itu untuk naik kepunggung kuda, seakan lelaki itu ingin menunjukkan bahwa ia tetap pemilik tubuh gadis mungil yang bersembunyi dibalik rambut dan wajah tertunduknya.

Tapi tidak dengan Joon Ji Hoon. Pemuda itu menahan tubuh Jandi ketika gadis itu  ingin mencoba melangkah mengikuti perintah majikannya, “kau sakit, masuklah!” perintah Ji Hoon dengan nada yang terdengar menekan diiringi pandangan Woo bin dan ketiga pelayan yang seakan tengah menyaksikan sebuah opera “cinta segitiga”.






“apa yang ia lakukan ? apa dia ingin mati ?!!!” hati itu bergejolak dalam amarah yang kian berkecamuk, namun dengan sempurna ia coba sembunyikan kemarahannya yang menggila.

“kau akan kalah jika kau menunjukkan rasa cemburumu, PRINCE”

“Geum Jandi, honey…ayo naik. Aku ingin mengajakmu berkuda…. Tidakkah pemandangan Istana ini sangat sayang jika kau lewatkan ?” nada Prince terdengar merayu, namun bagi Ji Hoon nada itu tersengar bagai amarah yang tertahan.

Jandi yakin lengan Jin Hoon kini akan menjadi pelindung tubuhnya, namun ia sadar hanya menjadi pelindung sesaat ketika amarah Prince akan kembali memuncak jika ia tidak menggubris perintah “pangeran Iblis” yang kini mencoba melepaskan “rayuan kematian” kepadanya.

Entah apa yang akan dilakukan sang pangeran ketika berkuda menjadi satu- satunya cara untuk melampiaskan kemarahan yang saat ini makin terasa menguasai jiwanya. Jandi gemetar, tubuhnya terasa lemah ketika perlahan ia singkirkan lengan Ji hoon yang sesaat lalu menahannya hingga dengan cepat pemuda itu dapat menangkap “senyum iblis” yang tergambar jelas diwajah sepupunya  yang seakan berbisik “kini kau tahu, aku pemenangnya Hyung”

Jandi raih tangan kekar yang kapan saja bisa memberikan siksaan atau mungkin membawanya kelembah kematian. Gadis itu merasa tidak berdaya, dalam “titah” yang terlontar dari bibir  Junpyo, ketika ia harus kembali mengingat perjanjian yang pernah ia lakukan kepada sang penguasa tubuhnya.

Dalam hitungan detik tubuh itu telah berada diatas punggung kuda dengan Prince yang berada dibelakangnya. Prince kembali memberikan “pengikat” bagi tubuh yang gemetar, memberikan dekapan yang terasa menggila ketika ia sadar kaki indah itu kini terpampang bebas dihadapan ketika pakaian pelayannya tersingkap, hingga lagi- lagi membangkitkan gairahnya.

“kau lihat Hyung, ia bahkan sadar siapa pemiliknya!” Prince mengembangkan senyum kemenangannya, hingga membuat Ji Hoon mengepalkan kedua tangannya, seakan menahan rasa kesal luar biasa--- Rasa kesal yang  bersembunyi dibalik wajah tenang pemuda itu,  bahkan ketika Prince tanpa ragu meraih rambut Anthea dan menggelungnya, seolah tidak ingin membiarkan tengkuk indah itu bersembunyi dibalik rambut panjang yang tergerai.

“kau siap Darling ?” bisik prince pada telinga Jandi yang terdiam dalam dekapan dada hangat yang mengukung punggungnya.

Junpyo kembali tersenyum meski gadis itu tidak menjawab pertanyaannya. Ia menyeringai, melepaskan senyum kemenangan kearah Ji Hoon yang berdiri mematung, diikuti tatapan ketiga pelayan yang menahan kesal bukan main, dan wajah Woo Bin yang terlihat menekuk --- mengerutkan dahi “Gila!”






Prince menyentakkan kakinya keperut kuda dan membawa Jandi pergi dari istana. Kuda itu berlari dengan cepat ketika Prince mengeluarkan perintah bagi sang kuda jantan untuk berlari.  Jandi merasakan kecepatan yang tiada terkendali ketika dengan suara menyentak Prince membawa sang kuda jantan seolah melayang, melesat bebas. Angin yang berhembus kembali membuat tubuh gemetar Jandi semakin melemah. Kepalanya terasa pusing, dalam dekapan dada kekar yang seakan memeluk tubuhnya, membiarkan kedua lengan pengendali berada disetiap sisi tubuhnya.

“aku bisa merasakan dekapannya pada tubuhku, merasakan detak jantungnya yang terasa bagai irama yang memabukkan”



“apa kau benar- benar sakit Anthea ?”  suara yang membuat Jandi membalikkan pandangannya kearah Junpyo sesaat “sa…saya…hanya sedikit pusing tuan”

“Jeongmal ?”

Dengan Anggukan gadis itu menjawab….”n…ne”

“mencoba percaya pengakuanmu, meski aku merasa kau seakan tengah menggoda sepupuku dengan wajah polosmu!” prince berujar sembari terus memacu kuda jantan miliknya.

Gurat- gurat kemarahan tergambar jelas dibalik wajah iblis tampan yang kini tengah mengendalikan kudanya. Junpyo merasa cemburu meski keangkuhan dan rasa sakit membuatnya tidak pernah mengakui hal itu. kuda itu berpacu seakan melawan kecepatan waktu, menelurusi hamparan rerumputan yang luas hingga membawa mereka menuju kesebuah jalan yang mengarah ke dalam hutan kecil yang ada diwilayah kekuasaan “Pangeran”.


“ma…mau kemana dia membawaku pergi ?” bisik jandi ketakutan, dengan kedua bola matanya yang harus kembali basah karena air mata yang perlahan menetes disudut mata bulatnya.


Hingga akhirnya, kuda itu terhenti tepat didalam hutan dengan rerimbunan pohon- pohon besar yang mengelilingi…


Junpyo perlahan turun dari kuda jantan miliknya, namun tidak membiarkan gadis itu mengikuti. Ia biarkan Jandi duduk dipunggung kuda dengan tubuhyang gemetar, wajahnya yang pucat--- dengan rambut tergelung dan membiarkan beberapa helai rambut itu menutupi separuh wajah cantiknya. Junpyo berdiri sembari melipat kedua lengannya. Ia nikmati ketakutan jandi yang terisak, seakan hal itu menjadikan kepuasan baginya.

Kini yang terdengar hanya isakan, kicauan burung- burung yang melayang diatas langit, dan mungkin semilir angin yang berhembus kencang di pagi itu.

“apa--- kau menyukai sepupuku, Anthea ?” nada suara itu terdengar serak.

“ti---tidak” jawab Jandi dengan suara yang gemetar.

“apa--- kau ingin keluar dari istanaku, Anthea ?”

Jandi memandang wajah Prince dengan matanya yang sendu “ti---tidak” suara gemetar yang berubah menjadi isakan ketakutan.

“kalau begitu, berhentilah mendekati Jin Hoon dan menjadikan pemuda bodoh itu sebagai jalan keluarmu dari Istanaku!, APA KAU MENGERTI ??!!!!”



Jandi genggam tali kekang kuda dengan erat. Gadis itu tertunduk lemah dalam tangisnya yang seakan tak terbendung. Ia menangis ketika ketakutan kini menyelimuti jiwanya, ketakutan akan suara yang bak halilintar menggema ditelinganya, ibarat suara kematian yang siap membawanya kedalam lubang neraka.

“jangan pernah berfikir aku hanya ingin menakutimu, Geum jandi” Junpyo tersenyum sungging “aku membawamu kesini, karena aku ingin menunjukkan kepadamu, bahwa aku bisa melakukan apapun kepada pelayan yang berani….” Kata – kata itu terhenti sejenak “yang berani mengkhianatiku, bahkan untuk kedua kali!” Nada suara Junpyo berubah parau, ketika otaknya seakan kembali mengingat akan kejadian dari masa lalu yang menyakitkan.

“aku berharap--- kau akan mengingat semuanya Geum Jandi, mengingat bagaimana kejamnya kau mempermainkan hatiku, menjadikanku pemuda gila yang mencintaimu, lalu membunuh perasaanku dengan sebuah pengkhianatan yang keji”

“apa kau takut ?” Prince berujar sembari memundurkan langkahnya dari Jandi yang berada diatas kuda jantan miliknya. Entah apa yang ada didalam pikiran lelaki itu, ketika lagi- lagi ia mencoba menggoda Jandi yang gemetar diiringi ketakutan yang tergambar jelas diwajahnya.

Gadis itu mengangkat wajahnya yang tertunduk, lalu mengangguk.

“kalau begitu--- mintalah maaf kepadaku untuk hari ini” Junpyo berujar sembari bersandar disebuah pohon besar dengan tangan yang masih terlipat angkuh.

Jandi menggigit kecil bibir bawahnya, tenggorokannya terasa kering dalam isakan yang masih mengalun jelas dibibirnya “ma…maafkan aku Junpyo_sshi” bisik jandi “ma…maafkan aku…” Junpyo lagi- lagi menatap  dengan penuh kemenangan ketika ucapan itu terdengar memelas dan mengiba.

“kata maafmu belum bisa membayar setiap goresan luka dalam yang terukir didalam hatiku, apakah kau tahu Anthea ?” prince Jun berbisik, dengan tatapan matanya yang tajam, menatap wajah tertunduk Anthea dari tempatnya kini berdiri--- tepat disisi kiri kuda jantan miliknya.




Hingga sampai akhirnya, sebuah kejadian yang tak terduga membuat Junpyo tersentak dalam nafas yang tercekat, semua datang tiba- tiba--- mengejutkan, bagaikan sambaran petir dimusim panas, petir dengan sinarnya yang tidak wajar…..




“HERCULES!!!” pekik Junpyo ketika tiba- tiba kuda jantan itu mengangkat kakinya keatas yang seolah tanpa kendali dengan Jandi yang masih berada diatas punggungnya. Kuda itu menggeliat, takut ketika seekor ular kini berada dibawah kakinya,seekor ular yang melintas diantara rerimbunan semak belukar.

Jandi menjerit, tangisan kembali memecah dalam ketakutannya ketika kuda itu tidak mampu ia kendalikan. Hentakan demi hentakan seakan mengguncang tubuh lemah jandi yang terus menggenggam erat kendali liar Hercules, meskipun Junpyo kini berusaha menjinakkannya dengan penuh kepanikan dan rasa bersalah saat bahaya seakan tengah mendekati tubuh Anthea.


“Junpyo_sshiiiiiiiiiiiiii” pekik gadis itu ketika keliaran Hercules yang menggila kini membawa tubuhnya menjauhi Junpyo yang terluka dan menjerit ketika kuda miliknya menerjang tubuh kekar itu hingga membuatnya jatuh ketanah.

BUKKKKKKKKKKKKK



Hercules berlari kencang setelah hampir melempar tubuh gadis yang kini menangis diatas punggungnya. Gadis itu terus terisak dengan tangan yang menggenggam erat tali pengekang, dengan setiap jemarinya yang gemetar. Kecepatan kuda itu seolah kembali mengejar waktu, melesat seakan menggila  “Jandi-aaa, Jandi-aa!!!!” pekik Junpyo mencoba bangkit dengan kekuatannya lalu mengejar kecepatan kuda yang mengamuk- menunjukkan keliaran yang luar biasa.

Junpyo bisa merasakan kedua bola matanya yang basah, diiringi keringat yang menetes didahi ketika ia bagai orang yang menggila mengikuti kecepatan Hercules yang membawa tubuh gadisnya pergi.



“Junpyo_sshi tolong aku….” bisik Jandi dalam isakan sembari membalikkan arah pandangnya kebelakang, menatap wajah kecemasan, ketakutan, sang pangeran yang berusaha mengejar kecepatan kuda, mencari jalan pintas yang terbaik untuk dapat menyusul Hercules….


Tapi sayang, ketakutan Hercules telah membuatnya menjadi liar hingga tidak akan mampu dikendalikan, dihentikan!!

“aku, merasakan duniaku berputar, ketika pandanganku kini terasa melayang.Tubuhku yang lemah, tiada daya…. Bahkan ketika lenganku tidak mampu lagi bertahan dalam kendali yang terlalu sulit untuk aku taklukkan…. aku takut… aku takut…. A…ku takut….Junpyo_sshi…” bisik Jandi ketika mata bulat itu tidak mampu untuk menangkap suasana “menakutkan” yang terlihat dihadapannya, tangannya gemetar ketika genggaman pada tali pengekang seakan lemah, nafasnya sesak  hingga sampai akhirnya,...

“Junpyo_sshi…………….”



BUKKKKKKKKKKKKKKKKKK

Tubuh mungil itu terjatuh ketanah, terhempas kuat dengan kepala yang membentur sesuatu yang keras, saat Hercules melesat bebas, hingga melempar tubuh lemah Anthea, lagi- lagi tanpa kendali.




sayup- sayup aku bisa melihat sesosok tubuh yang berlari mendekatiku, dengan wajah yang seakan berbalut kabut duka, rasa sakit, dan ketakutan…..”

“Geum jandi!!!” pekik junpyo dengan nafas yang tersengal ketika mendapati tubuh gadis itu terbujur lemah dengan darah yang bercucuran didahinya.







Dengan cepat langkah itu bagai berlari mendekati Jandi yang membisu, dengan tubuh yang menelungkup. “Geumjandi, bangunlah sayang…ayo…bangunlah, aku mohon…” bisik Junpyo mengangkat kepala Jandi dengan lengannya, membelai rambut yang menutupi wajah pucatnya, lalu seakan terkesima ketika   melihat mata bulat yang kini menatapnya dengan pandangan sendu, sebelum akhirnya perlahan menutup mata itu.




“Jandi ?, aku mohon…. Bukalah matamu geum Jandi” Junpyo sentuh mata itu sembari dengan cepat memeluk tubuh pelayannya yang terdiam, tanpa gerak. Merasakan kegugupan yang luar biasa, rasa takut akan kehilangan…. Kehilangan untuk kedua kalinya.

Ia seka darah itu perlahan dengan tangannya, mata tajamnya basah sembari berusaha menahan emosi atau mungkin tangisan yang sebentar lagi akan memecah kesunyian. Prince gemetar, bibirnya terus mengalunkan nama gadis itu dengan penuh kelembutan, seakan memohon agar gadis itu dapat membuka matanya, meski hanya untuk sesaat.


Tapi sayang permohonan itu terasa sia- sia, ketika wajah pucat Jandi dan kebisuan bibirnya kini seakan perlahan merenggut nafas kehidupan sang “Pangeran”.

“Geumjandi…. Aku…mohon…bangunlah, bangunlah….Jandi-a….”


.



.



.





Prince duduk terpaku menatap wajah Geum jandi yang kini terbaring diatas ranjang besar rumah sakit. Pemuda itu menyandarkan tubuh besarnya yang seakan lemah, masih dengan pakaian berkuda yang dikenakannya pagi tadi.

“Geum Jandi….” Bisiknya dengan nada yang seakan bergetar. Sebelum akhirnya Junpyo menghela nafas panjang, dan  menengadahkan pandangan----mencoba menatap langit- langit ruangan lalu memejamkan  matanya yang terasa lelah.






Junpyo kembali akan ingatannya beberapa  jam yang lalu, ketika jandi terbujur lemah dalam pelukannya.


Entah apa yang dipikirkan pemuda itu, ketika ia tidak peduli akan rasa lelah dan letihnya---membawa tubuh wanita yang ia benci, untuk sampai ke Istana, berpegang, memeluk pada punggungnya. Bertahanlah Jandi-a Junpyo berjalan melewati jalan setapak, hamparan rerumputan luas dengan nafasnya yang tersengal, dengan keringat yang menetes didahinya.
Bertahanlah Jandi-a Junpyo merasa tenang ketika ia masih bisa merasakan nafas gadis itu berhembus perlahan dilehernya, hingga terasa disisi kanan pori wajahnya, ketika kepala jandi tergolek lemah dibahunya. Bertahanlah Jandi-a sebuah kalimat yang terus mengalun dari bibir junpyo tanpa ragu, tidak peduli jika gadis itu mungkin akan mendengarkan setiap permohonan dan harapannya.

Hingga terdengar pintu kamar yang terbuka, membuyarkan lamunan Junpyo yang sesaat lalu seakan berkelana.

Jin Hoon berdiri dimuka pintu, melirik tajam wajah letih sepupunya sebelum akhirnya melangkah masuk tanpa ragu. Wajah dingin pemuda itu terlihat menekuk, ketika menatap “gadis mawar” yang kini terbaring lemah.

“dokter bilang, dia hanya mengalami patah tulang dan gegar otak ringan” Junpyo berujar sebelum sempat Jin Hoon bertanya tentang keadaan gadis itu. Junpyo seakan bisa membaca isi kepala sepupunya, yang berdiri mematung sembari melepaskan pandangan sinis kearahnya.

“apa kini kau puas Prince ?” kalimat yang menekan seakan menuntut kini terdengar dari bibir Jin Hoon.

“maksudmu ?”

“kau mengerti apa yang kumaksud, karena aku tahu kau bukan lelaki yang tolol, dik!”

Junpyo melirik tajam, ketika kalimat itu seketika terdengar bagai memojok.
“berhentilah untuk ikut campur dalam setiap urusanku, Hyung.” Junpyo menggertakan gigi hingga memperlihatkan wajahnya yang persegi “ apapun yang ku lakukan, itu adalah hakku!”

“seperti mencoba melukai Geum Jandi ?” tanya Jin Hoon sinis “ atau tepatnya--- mencoba untuk membunuhnya ?!”

“Cihh!!! Terlalu cepat Jika aku harus membunuh gadis yang masih ingin kunikmati diatas tempat tidurku, Hyung!”

Jin Hoon mengepalkan tangannya, seakan menahan geram atas ucapan yang baru saja terlontar dari bibir junpyo.
“apa yang kau tahu tentang aku dan Geum Jandi, huh ?” Junpyo melepaskan senyum sungging lalu perlahan bangkit dari duduknya, melangkah mendekati Jin Hoon yang sedari tadi berdiri seakan mematung “kau hanya pendatang, dan aku---- aku adalah pemiliknya hyung” Prince mensejajarkan pandangan mereka sembari berusaha mengatur suaranya agar tidak terdengar melengking.

Untuk beberapa saat mereka seakan berada disebuah arena pertarungan. Melepaskan pandangan dingin mereka masing- masing, seakan siap untuk saling menyerang, berusaha menunjukkan keegoisan, melupakan  keadaan Gadis yang terbaring lemah diruangan itu--- meski mungkin hanya sesaat.

“ceritakan padaku, apa yang terjadi Junpyo ?” mata Jin Hoon seakan kembali memicing.

“kau tidak perlu tahu Hyung, cobalah untuk tenang karena ini Rumah sakit”

Jin Hoon kembali mengepalkan kedua tangannya, menahan rasa geram yang seakan kembali berkecamuk didalam jiwa. “aku akan menyimpulkan bahwa kau ingin mencoba membunuh gadis itu Jun!” nada suara itu seakan terdengar menggertak, mencoba memancing lelaki berambut ikal itu untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya.

“jika ingin membunuhnya, aku bersumpah akan melakukannya dihadapanmu Hyung”  senyum Iblis kembali menyeringai.
“jadi kuharap, sepulangku dari Jepang, aku tidak akan mendengar kisah romantismu bersama Pelayanku! Entah mengapa kau benar- benar telah menjadi perusak semua rencanaku” Prince berujar dengan nada datar, wajah angkuh kembali tergambar jelas ketika ia melangkahkan kaki tanpa beban meninggalkan Jin Hoon yang berdiri kaku diruangan itu.

Junpyo melangkah tanpa menoleh sedikitpun tubuh Jandi yang terbaring, Junpyo mencoba menyembunyikan rasa kekhawatirannya yang terasa makin menggila, ia tidak ingin menjadi lelaki yang mudah memaafkan isteri nya yang berkhianat--- tidak semudah itu. Masa lalu seakan menjadikan jiwanya gelap, menjadikan dirinya  seorang Iblis yang keji, meski ia tahu kejadian pagi itu seakan kembali meruntuhkan hatinya yang keras, hingga menjadikan Jepang satu- satunya tempat baginya untuk bersembunyi dan menunjukkan pada semua penghuni diistana, bahwa PRINCE TIDAK PEDULI, IA TIDAK PEDULI PADA SIAPAPUN !!

“aku akan menjaganya” ucapan Jin Hoon seketika menghentikan langkah Junpyo yang belum sempat mendekati pintu ruangan. Pemuda berwajah dingin itu seakan kembali ingin menunjukkan bahwa ia benar- benar belum mengibarkan bendera putih dalam pertarungannya bersama Junpyo.

“lakukanlah, sebelum aku kembali” Junpyo melirikkan mata tajam sembari mengangkat dagunya. Dikatupnya rahangnya kuat- kuat agar dapat menahan emosi yang coba ia sembunyikan, “aku belum kalah--- karena aku tidak pernah kalah”
“Karena jika aku kembali--- kau tidak akan pernah kuizinkan mendekati Geum jandi, meski hanya bayangannya, tidak akan!”

Junpyo melangkahkan kakinya keluar dari ruangan. Langkahnya terasa berat ketika harus meninggalkan jandi sendirian--- bersama Jin Hoon lelaki yang mungkin akan menjadi “rival: terberatnya. Tapi ia lawan rasa keinginan itu--- keinginan untuk berada disamping Anthea, menjaganya.

“aku tidak akan tinggal, karena aku bukan lelaki yang baik hati Geum Jandi. Aku seorang penghukum--- yang tidak akan pernah memaafkanmu, yang tidak akan menderita ketika melihat luka dan darah didahimu, itu bukan aku..…bukan diriku….”





END FLASHBACK
--------------------------



Jandi mendesah ketika ia mendapati tubuhnya yang melemah, bersembunyi dibalik selimut tebal putih yang hanya menutupi sebagian tubuhnya, membiarkan punggung mulusnya terbuka, ketika ia sadar tubuh lemah itu terbaring menelungkup. Mata bulat itu memicing, saat perlahan mentari pagi menyapa_mencoba mencuri masuk disela- sela tirai kamar yang masih tertutup rapat.


Hingga sebuah suara kini terdengar menyapa….

“Good morning, honey”
 





Jandi bisa melihat tubuh Price yang kini duduk disebuah sofa dengan segelas anggur ditangannya. Jubah tidur itu pun terlihat seakan acak ketika dada bidang itu menunjukkan otot- ototnya, dengan senyum sungging yang mengembang, dan kaki yang dilipat seakan tanpa beban.

“apa—tidurmu Nyenyak, sayang?”  Prince meletakkan gelas anggur itu diatas meja yang terletak disamping sofa sembari perlahan melangkahkan kakinya mendekati Jandi yang terbaring dengan tubuhnya yang berbalut selimut tebal, sebelum akhirnya ia angkat tubuh lemahnya ketika sadar sang Pangeran Iblis seakan mulai merambat mendekatinya.

Prince mensejajarkan pandangannya, menangkap magnolia putih yang setengah telanjang diatas tempat tidurnya.

“katakan ini hanya mimpi, ketika aku masih dapat merasakan  keagresifmu semalam, Anthea” Prince berujar sembari dengan lembut mengecup cuping hidung Anthea dengan bibirnya.

“kau benar- benar terlihat sangat merindukanku, setelah hampir satu minggu tidak merasakan keperkasaanku yang liar” tawa Prince terdengar terkekeh ketika kalimat “nakal” itu terlontar dari bibirnya.

Namun, kekehan yang hanya terdengar untuk sesaat ketika ia sadar, kedua tangan Anthea kini menyentuh wajah tampannya perlahan, dan Junpyo merasa jemari- jemari lembut itu seakan terasa gemetar, menyentuh disetiap pori wajahnya ….

“apa--- kau ingin sarapan, Tuan ?” Prince melepaskan tatapan dalam, seakan tersentak akan ucapan yang terlontar dari bibir Geum Jandi. “aku--- akan menyiapkannya segera untuk anda” tukasnya lembut sembari menurunkan lengan gemetarnya dari wajah Junpyo.

Jandi meraih kimono yang berada disisi ranjang lalu perlahan mengenakannya tanpa ragu dihadapan Junpyo, yang untuk kesekian kali merasakan keanehan ketika gadis itu melakukan hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Menunjukkan ketelanjangan tubuh putihnya tanpa ragu!

“kemana… kemana ketakutan yang selalu hinggap diwajahnya. Air mata yang menetes dipipinya, atau rasa gemetar ketika aku berada disisinya…”

Jandi melangkah menuruni tempat tidur, seakan tidak peduli dengan tubuh kekar Junpyo yang sesaat lalu mengukungnya. Junpyo duduk dengan tatapan nanar---seakan kehilangan kesadaran ketika melihat keanehan sikap yang ditunjukkan Jandi padanya. Tumit jandi yang memerah pun tidak mampu lolos dari pandangannya ketika perlahan Jandi melangkah---mendekati Jendela besar yang ada diruangan itu dan SRETTTTTTTTT, terdengar tirai besar yang dibuka.

Gadis itu tersenyum tipis ketika menatap keindahan pagi yang untuk pertama kali dirasakannya benar- benar berbeda hingga sebuah lengan kekar kembali memeluk tubuhnya, memberikan sensasi yang terasa menggila ketika Jandi sadar aroma maskulin itu kembali menusuk jantungnya.

“katakan padaku, apa yang terjadi Jandi-a ?  bisik Prince dengan nada serak.

“a….aku---tidak mengerti maksud anda Tuan” Jawab jandi sebelum akhirnya lengan kekar itu membalikan tubuh mungilnya, mensejajarkan pandangan mereka ketika dengan perlahan Junpyo mendorong tubuh itu tepat kedinding tembok yang berada disisi jendela, menjadikan kedua lengan kini sebagai pengukung tubuh mungil Anthea.

“kau---mengerti maksudku Geum Jandi!”

Jandi memandang wajah Junpyo dengan tatapan yang menurut lelaki itu benar- benar tidak asing lagi untuknya. Tatapan bola mata yang menunjukkan sikap gadis itu sebenarnya, sikap keras, ambisi dan memiliki semangat hidup yang tinggi, tatapan yang ia kenal, sepasang mata bulat yang memancarkan diri Geum jandi yang sesungguhnya “aku--- hanya akan menjalani perintahmu, apakah aku salah ?” Jandi bisa merasakan tubuh kekar itu kembali menekan tubuhnya.

“aku lebih suka jika kau menolakku!”

Jandi melepaskan senyum tipis pertamanya dihadapan prince, hingga membuat lelaki itu kembali merasakan keterkejutan luar biasa. “tapi kini---aku benar- benar menikmatinya Junpyo_sshi, aku--- bahkan tidak mampu lagi untuk menolakmu” Jandi mengangkat lengannya, kali ini dengan sangat hati- hati, membiarkan setiap jemari menyentuh wajah tampan Junpyo “aku menikmati sentuhanmu, ciumanmu, belaianmu, aroma--- nafas tubuhmu, yang selalu menggentarkan hatiku”

Junpyo memicingkan mata tajamnya, memandang wajah jandi yang seakan kembali membangkitkan rasa inginnya ketika gadis itu telah berani menggodanya dengan kata- kata yang membuat sang pangeran Iblis semakin ingin kembali bermain dengannya.

“kalau begitu--- kau akan mematuhi semua keinginanku, Anthea ?” bisiknya sembari menyuruk telinga gadis itu dengan bibirnya yang basah.

“n…ne…” angguknya namun masih dengan nada gugup, bahkan ketika lagi- lagi Junpyo kembali menggodanya dengan sensasi percikan api yang kapanpun bisa membakar tubuhnya yang gemetar.  Gadis itu menunjukkan sikap agresif, dengan mencoba menjadi “gadis nakal” dihadapan sang “pangeran Iblis” yang tidak akan mampu ia lawan, saat Gairah Prince lagi- lagi terasa menggila ketika melihat belahan dada dari kimono yang tersingkap dihadapan, hingga membuat dada bidang itu kembali betindak nakal--- menekan dengan dada bidangnya.

“Jadi---kau tidak akan menolakku, ketika aku memintamu untuk menikmati air hangat yang pernah tertunda, bukan ?”

Anthea kembali tersentak, ketika ia sadar Lelaki itu terlalu licik untuk ditipu, Junpyo terlalu liar untuk mengikuti kembali permainan yang pernah terhenti sebelumnya, “katakan padaku jawabanmu Anthea…..” Junpyo mendekatkan cuping hidung mancungnya kesetiap pori wajah Jandi yang terlihat pucat. “bukankah kau ingin menjadi pelayanku, budakku yang baik sayang….?”

Anthea bisa merasakan belaian lembut jemari Prince yang kali ini kembali bermain disetiap lekuk indah kakinya--- menyingkap kimono tidur tipis miliknya sampai kepaha hingga membuat bulu kuduknya seakan bergidik, dengan kaki yang gemetar hebat --- dengan nafas yang seakan tercekat!

“Ju---JunPyo_sshi” desahnya diiringi nafas yang kembali terdengar memburu ketika lelaki itu kembali menekan tubuh dengan dada kekar yang mengukung.

“katakan ya, Jandi-a…., agar aku bisa sedikit percaya….” Bisik Prince diiringi dengan senyum Iblis ---mencoba menghukum gadis yang telah berani mempermainkannya hari ini.

Anthea kembali melepaskan Pandangan kearah Junpyo seakan memohon kepada lelaki itu untuk tidak melakukan sesuatu yang gila pagi itu. gadis itu kembali “ketakutan” saat sorot mata tajam itu kini kembali ingin menelannya hidup- hidup. Entah apa yang ada didalam fikiran lelaki itu, ketika menemukan sesuatu yang tidak biasa didalam diri budaknya. Ia yakin ketakutan dari mata Anthea, kembali membuatnya menjadi pemenang dalam permainan ini.

Permainan ??? sebegitu yakinkah sang Pangeran, bahwa Anthea kini tengah mempermainkan dirinya ?

Hingga dengan cepat ia mengangkat tubuh mungil Anthea, sebelum gadis itu menjawab pemintaanya….
“Ju…Junpyo_sshi, a…apa yang kau…lakukan ?” tanya Jandi dengan suara gemetar ketika tubuhnya seakan kembali menjadi sebuah pelampiasan nafsu sang “Pangeran Iblis”

“Junpyo tersenyum, “kita--- akan menikmati air hangat bersama, aku yakin kau akan suka Anthea” mata tajam itu berkerling, sembari dengan cepat melangkahkan kakinya keluar dari ruangan.

Jandi menggelayutkan lengan gemetar itu pada pundak Junpyo, ia tatap wajah pemuda itu dengan gugup--- mencoba menjalankan perintah majikannya meski harus ia akui benar- benar terlihat gila. Terdengar hentakan kaki Junpyo yang melangkah tanpa beban, wajah tampan itupun kembali ditutupi kebimbangan ketika gadis yang ada dipelukannya hanya diam meski Junpyo bisa menangkap rasa gugup yang luar biasa, dari wajah Anthea.

Semua pelayan yang berpapasan disetiap koridor ruangan kembali melepaskan pandangan keterkejutan mereka, tidak ada yang berani mencela, ataupun membicarakan apa yang akan dilakukan Prince dan budaknya pagi itu. Bibir- bibir mereka seakan tersumbat, dengan mulut yang menganga seakan kembali berencana bahwa kejadian pagi itu akan menjadi buah bibir disetiap ruang dan sudut Istana.

“Ju…JunPyo_sshi, a---aku….” Junpyo menaikkan salah satu alis tebalnya “apa ?, kau---menolak ? kau---tidak mau ?” Junpyo menghentikan langkah kakinya sembari mengerutkan dahi.

“a---ada baiknya tidak kita lakukan hari ini”

Junpyo melepaskan senyum sungging “oh, Anthea…. Tidak semudah itu sayang. Bukankah, kau ingin menjadi pelacur setia untukku ?” Junpyo seakan tahu apa yang ada dipikiran gadis yang masih membiarkan tubuhnya berada dalam dekapan dada bidang itu.

“ta…tapi----“

“memohonlah, agar aku melepaskanmu” bisik Junpyo.

Jandi merasa tenggorokannya tercekat, ketika mendengar ucapan yang baru saja terlontar dari bibir Junpyo “apakah dia….apakah dia… sedang mencoba mempermainkanku ?” bisik jandi mencoba menerka.

“aku tidak boleh menolak, ketika aku ingin merebut hatinya kembali, menyatukan hati pangeranku yang mungkin---telah hancur berkeping- keping”

“ti---tidak, a---aku tidak berani menolakmu, Tuanku” nada suara Jandi terdengar gugup diiringi pandangan mata tajam yang lagi- lagi menatapnya liar meski dalam keraguan, dan ribuan tanya.


“ok! Aku tahu!” jawaban itu terasa singkat bagi Jandi yang kembali bisa merasakan debaran jantung Junpyo ketika membawanya menuruni satu persatu anak tangga hingga menuju ke lantai dasar “terkaanku tidak salah! Kan ku ikuti permainanmu, Anthea. wanita licik!”


.




.



.




“Oppa ?” suara lembut terdengar ketika Junpyo melangkahkan kaki dengan Jandi yang masih berada didalam pelukannya. Langkah kaki itu seketika terhenti, seakan terkesima dengan kehadiran seorang gadis muda yang tiba- tiba.

Minyoung berdiri dengan kedua kakinya yang gemetar, ketika menangkap pemandangan yang tidak biasa dihadapannya. Wajah itu menekuk, menggambarkan ketidak sukaan atas apa yang dilihatnya pagi itu; Junpyo dengan Jubah tidur berwarna hitam kini tengah menggedong tubuh  pelayan yang setengah telanjang!

“minny ?” dahi Junpyo mengkerut, “kau--- kembali, setelah hampir menghilang selama dua minggu” Junpyo tersenyum sungging, mencoba menganggap tidak ada yang terjadi antara dirinya dengan gadis bertubuh kurus yang kini berdiri sembari menunjukkan taring kemarahannya.

“aku--- kembali karena permintaan bibi.” Minny melirik tubuh mungil jandi dengan pandangan yang menurut Jandi  benar- benar menakutkan.  “dan sangat terkejut ketika menemukanmu bersama  gadis pelayan ini!” suara minny terdengar bagai jeritan, “tidakkah itu terasa sangat menyakitkan bagiku oppa!!!”

Junpyo masih mengembangkan senyum tipis, tidak ada beban diwajah tampan itu. Pandangan matanya pun masih tetap sama, pandangan nakal yang terlihat memburu, seakan mencari ide cemerlang diotaknya untuk menggunakan bahasa yang halus kepada gadis yang akan siap- siap pergi meninggalkan sang Pangeran serta budaknya.

“Aku akan menurunkan tubuh pelayan ini jika kau meminta”

Minny menghentikan langkahnya, wajah pucat gadis itu seakan kembali merona ketika perkataan Junpyo seakan memberikannya kesempatan untuk tinggal. Kata-kata yang terdengar seperti sebuah pilihan, atau mungkin permohonan.
“Mintalah padaku, maka akan kukabulkan keinginanmu! Mungkin--- itu lah cara permintaan maafku kepadamu, baby”

Minny menggigit kecil bibirnya, seolah tidak mampu menahan godaan Prince yang lagi- lagi kembali menghipnotis jiwanya. Ia tahu terlalu cepat jika menerima kebaikan Junpyo yang tiba- tiba. Ia sadar mungkin laki- laki itu sedang mencoba mempermainkannya---seperti biasa, tapi kenapa permainan Prince terasa indah baginya, terasa nyata dan menggoda hingga  dengan cepat tanpa ragu minny balikkan tubuhnya---tidak sabar dengan kalimat yang  sedari tadi ia ingin ucapkan,  kalimat khusus yang ditujukan untuk Jandi--- wanita yang telah “merebut” pangeran hatinya. “aku ingin---kau menurunkan tubuh pelayan itu oppa!” mata gadis itu menatap tajam kearah jandi untuk kesekian kali.  

Junpyo lagi- lagi tersenyum tipis, sebelum akhirnya tanpa ragu Ia ikuti perintah gadis yang kini menatapnya dengan pandangan penuh harap. Ia turunkan tubuh budaknya perlahan, tanpa sempat menatap wajah keterkejutan yang tergambar jelas diwajah cantik Anthea.,  

“sudah lama aku tidak melihatmu, minny. Hingga akhirnya aku sadar, aku begitu merindukanmu, gadis manjaku” junpyo berujar sembari meninggalkan tubuh Jandi yang berdiri seakan kaku, berdiri mematung dengan pandangan ketidak percayaan atas perubahan sikap Prince pagi itu.

“perasaan apa ini ? bukankah seharusnya aku senang ketika gadis bodoh ini menjadi penolong bagi tubuhku ? tapi kenapa---- kenapa hatiku seakan begitu mengutuk kehadirannya”


“o---oppa ?” Mata bulat gadis itu terlihat binar, tubuhnya seolah melayang keatas awan saat Junpyo menyentuh lembut bahunya yang terbuka, karena gaun sexy yang ia kenakan.

“kau tahu dia hanya pelayanku huh ?” Junpyo membelai lembut garis bibir gadis bodoh yang harus kembali terjebak dalam permainannya “Atau tepatnya--- mm, mainan diatas tempat tidurku, sayang. Tidak lebih!” Junpyo terkekeh hingga ia merasa bahwa hari ini benar- benar keberuntungan baginya.

“jadi aku mohon tinggallah, karena sungguh ketika kau pergi, ada sesuatu yang hilang didalam diriku, seperti--- sayap, aku bagai burung yang kehilangan sayapku Minny, saat aku sadar aku telah menyakitimu”

“oppa…”

“Junpyo_sshi, apa----yang kini ada didalam pikiranmu ?” bisik jandi saat sepasang mata bulatnya kini menjadi saksi ketika bibir tebal sang pangeran, melepaskan ciuman mesranya pada pipi gadis bodoh yang merona. “selamat datang kembali diistanaku, sayang” bisiknya, hingga minny bisa merasakan kehangatan nafas Junpyo pada setiap pori wajahnya yang semakin memerah bak kepiting rebus.


Ruangan itu seketika terasa hampa bagi Anthea. Amarahnya seakan meluap, bagaikan seekor kuda yang nyaris mengamuk karena ada orang asing yang menungganginya, diiringi mata tajam yang mengawasi kedua orang itu lekat- lekat bagai mata elang yang sewaktu- waktu dapat menyambar, Junpyo bisa merasakan itu semua, meski ia tidak dapat melihatnya.

“tenangkan dirimu geum Jandi--- pikirkan cara terbaik untuk menyingkirkan gadis tolol itu dari sisi pangeranmu, pikirkan…dan lupakan kerinduan akan pesona liar suami tampanmu  saat ini, lupakan!” Jandi berbisik, diiringi dengan perubahan raut wajah yang menggambarkan keluguan “gadis lemah” yang  tiba- tiba, ketika  Junpyo berbalik memandang kearahnya.

“siapkan kamar untuk gadis manjaku, lalu jangan lupa, siapkan juga sarapan yang telah kau janjikan untukku, Geum Jandi. “nada suara itu seakan menyeringai “karena mulai hari ini kau bukan hanya pelayan untukku, tapi juga---- pelayan untuk tamu spesialku!”

“pelayannya? Pelayan gadis tengik ini? oh tuhan…jangan pernah bermimpi, My Prince” bisik hati Anthea, dalam kungkungan wajah “ketakutan” yang terlihat nyata, sebelum akhirnya melontarkan kalimat yang jauh berbeda dari isi hatinya, seakan gadis itu memang pandai dalam berpura- pura

  
“ba….baiklah…Junpyo_sshi..” jawabnya hampir dengan nada yang seakan tak terdengar, nada lembut parau yang kini seakan mengalun ditengah kesunyian.



“Akan kupastikan bahwa….kau telah ingat semuanya Jandi-a…..”





END CHAPTER
  




HapPY ReAdIng  [biggrin] [biggrin] [biggrin]
« Last Edit: October 20, 2012, 12:49:59 pm by hye sun »



[lovestruck] [lovestruck] Couples who love each other tell each other a thousand things without talking [lovestruck] [lovestruck]