Author Topic: Cassanova's Love Chapter 23 31-12-2012  (Read 99759 times)

Offline hye sun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1252
    • View Profile
Re: Cassanova's Love Chapter 23 31-12-2012
« Reply #2625 on: December 30, 2012, 12:48:15 pm »
CHAPTER 23




Hye sun melangkahkan  kakinya seakan mengendap. SIAL! Seharusnya ia tidak melakukan hal yang menurutnya benar- benar membuatnya takut. Takut jika Daniel menjebaknya pulang diwaktu pagi, takut jika Daniel mengetahui semua yang telah ia lakukan, takut jika Daniel…Aissh!!, takut seakan telah menjadi makanan sehari- hari hye sun ketika ia ingin bertemu dengan suaminya sendiri.  

Hye sun melangkah hampir tanpa suara melewati beberapa aula sampai akhirnya ia tiba dihalaman belakang rumah mewahnya yang terbuka. Terbuka ? thanks God hye sun merasa beruntung ketika pintu yang terbuka telah menjadi penolong baginya. Ia mengambil nafas dalam- dalam ketika kedua kaki gemetarnya terasa bagai menyengat tubuh menggigilnya, karena cuaca dingin yang berhembus pagi itu.

Kaki itu seakan berjinjit--- menggunakan ujung kaki pada bagian jari- jari yang tampak kotor karena lumpur- lumpur basah yang ada dihalaman belakang. Hye sun merasa jantungnya berdetak cepat, sesekali ia melihat sekelilingnya--- takut jika pelayan  menjebaknya, wanita terhormat yang pulang pagi ketika diam- diam menemui suaminya sendiri , hye sun mendapati senyum manisnya yang merekah, saat kalimat itu terbersit sendiri diotaknya.

Langkah kaki itu akhirnya membawa tubuh mungil hye sun menyusuri lorong pendek, hingga perlahan ia menaiki satu persatu anak tangga yang akan membawanya kekamar tidur. Ia berharap semoga Daniel tidak akan melihat keadaannya yang begitu kusut ditengah  PAGI, dan bersyukur akhirnya harapan itu terwujud ketika lengan pucatnya menyentuh gagang pintu dan….

langkah yang tertatih seketika terhenti seakan tersentak!!!

Bibi Chan berdiri sembari mengacak pinggang. Wajah tua itu menekuk, dengan dahinya yang mengkerut. “anda bagai seorang pencuri kecil ketika berjalan mengendap seperti itu, Aggashi” suara Bibi chan terdengar menekan. “perjanjian kita tidak seperti ini, bukan ?” mata sipit itu memicing.

Hye sun tersenyum menyeringai, dengan nada pelan yang hampir tidak terdengar “ a…aku sudah bilang pada Minho_sshi, tapi--- e---e---ta---tapi--- perjalanan yang cukup melelahkan membuat kami harus menginap dan --- “ hye sun merasakan tenggorokannya kering saat bibi chan melempar pandangan yang kembali menyelidik. “bibi--- tidak harus tahu secara rinci bukan ?”

Pelayan tua itu menarik nafas dalam- dalam, “tentu tidak, untuk Princess yang kini telah menjadi seorang Nyonya bagi keluarga Lee” suara Bibi chan terlalu bersemangat, hingga hye sun seketika membelalakkan mata bulatnya---menunjukkan kepada pelayannya bahwa kini dia sedang ketakutan “sstttttttt” ia gigit bibir mungil ranumnya “bisakah pelankan sedikit suara bibi ?” Ia letakkan sepatunya disebarang tempat.

Bibi chan kembali menghela nafas “Mr. Goo sedang tidur. Dia menunggu anda sampai pukul delapan malam, sebelum akhirnya pergi setelah mendapatkan telpon dari seseorang”

Hye sun memajukan bibirnya, “jadi---oppa Masih tidur ?” tanya Hye sun ketika ia tahu itu bukan kebiasaan kakaknya.

“ya, karena ia baru pulang sekitar jam 2 dini hari” Bibi chan mendekati hye sun yang berdiri seolah berfikir, ia buka mantel tebal yang membalut tubuh puteri asuhnya. “cepat, ganti pakaian anda dengan baju tidur. Cuci kaki anda dengan bersih, oh tuhan…. Lihatlah betapa lumpur sialan itu telah merani mengotori jari- jari mungilmu Aggashi”

“jam 2 ?” hye sun mengerutkan dahinya seakan tidak menggubris ucapan sayang berlebihan yang baru saja dilontarkan pelayan setianya, “Jadi—kemungkinan besar oppa tidak tahu bahwa aku belum kembali bibi ?”

“saya berada dikamar anda selama mungkin setelah kepergian Mr. Goo, membuat semuanya berjalan sesuai dengan yang direncanakan Mr. Lee, dan bersyukur bahwa Mr. Goo tidak menemui anda sebelum ia tidur. Saya pikir--- mungkin karena pengaruh alcohol yang ia minum.”

Tangan tua itu kini membuka kemeja gadis yang masih berdiri dengan ribuan tanya diotaknya.

“sudah, bergegaslah kekamar mandi dan kenakan baju tidur anda. Tuhan telah mengizinkan cinta kalian, hingga dia telah menjadi penolong yang baik hari ini”
Hye sun tersenyum tipis “arasso!” jawab gadis itu pendek sembari berjalan dan meraih kimono tidur miliknya.

“tapi menurut bibi---kemana oppa pergi semalam?” kalimat tanya yang terlontar sebelum gadis itu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.

“saya tidak tahu Agasshi, namun saya yakin tidak ada hubungannya dengan kepergian anda semalam. Jadi----Aggashi jangan Khawatir” Tukas Bibi chan sembari mengambil satu persatu pakaian yang tergeletak disisi ranjang, tepat ketika suara ponsel hye sun berbunyi.

Hye sun mengenakan baju kimononya bagai terburu ketika suara ponsel itu seakan menjeritkan namanya. Ia bahkan baru mencuci kaki mungilnya dari lumpur- lumpur yang sesaat lalu melekat. Bibi chan sedikit terkejut akan tindakan yang dilakukan hye sun dan tersenyum ketika ia tahu bahwa terkaannya tidak salah.

“kau---sudah sampai sayang ?” kalimat tanya yang pertama, ketika Princess menekan tombol penghubung.

Hye sun tersipu, lalu perlahan merebahkan tubuhnya keatas ranjang. Membuat pelayan tua itu mampu menebak siapa yang tengah menghubungi Princess--- membuat wajah cantiknya memerah, dengan senyum manis yang seakan merekah.

“sudah, baru saja” suara hye sun terdengar berbisik, melirik bibi chan yang siap- siap menyelimuti tubuh mungilnya dengan selimut tebal, lalu perlahan melangkah keluar meninggalkan gadis itu, dengan tubuh yang dibalut selimut---hampir semua tubuhnya ketika hye sun merasa kedinginan.

“kau tahu aku khawatir setengah mati, ketika membiarkanmu menghadapi Kakakmu Daniel sendirian ?”

Hye sun tersenyum, “oppa bahkan tidak sadar bahwa aku baru kembali minho_sshi”

“Jeongmal ?”

“ia baru pulang, dan aku tidak tahu dengan pasti pergi kemana saja oppa semalaman”
Hye sun bisa mendengar sayup- sayup suara deru mobil, dari ponselnya. Hingga sesaat ia coba alihkan pembicaraan “minho_sshi, kau dimana ? apa----kau belum kembali?”

“belum” minho tertawa “aku--- menunggumu diluar sayang. Aku khawatir jika Daniel mengetahui semuanya. Dan jika itu terjadi, aku akan masuk dan menghadapinya sebagai suami dan lelaki yang mencintaimu, oh darling--- apakah mungkin bagiku ketika aku meninggalkanmu sendiri ?”

Hye sun kembali tersipu mendengar ucapan suaminya, ia mengigit kecil bibir mungilnya ketika mendengar suara sexy yang kembali menghipnotis tubuhnya “aku--- merindukanmu sayang”

“bukankah--- perpisahan kita baru terjadi dua puluh menit”

“satu menit bagaikan seratus tahun untukku hye, apakah kau tahu ?”

“aishh!!!, tidakkah itu berlebihan Mr. Cassanova, sejak kapan kau menjadi penggombal pinggiran!” hye sun terkekeh ketika ia melontarkan kalimat itu dari bibirnya.

“bwo ?!, penggombal pinggiran ?! oh darling… aku akan menggigitmu jika kita bertemu nanti”

“lakukan, aku tidak takut!”

“karena--- ajaran yang aku berikan hari ini ?” suara itu terdengar menggoda.

“hentikan, minho_ssi!, supir Young akan mendengar kata- kata mesummu!”

“kau kembali malu ketika aku mengajarkanmu tentang seni bercinta semalam. Aku bisa menebak, bahwa raut wajah isteri cantikku kini terlihat merona.”

Minho benar, wajah cantik itu terlihat merona dengan bibir merah yang merekah, ketika perlahan hye sun menyentuh bibir ranumnya.

“ciumanmu--- terasa Indah, bahkan aku berfikir tidak ingin kau melepasnya” bisik hye sun didalam hati.

“hye ?” panggil minho ketika sesaat tiada suara

“ne!” hye sun tersentak dan menggelengkan kepala, mencoba untuk keluar dari pikiran liar yang sesaat lalu menggelayut diotaknya.

“aku--- akan menjemputmu kuliah hari ini. ada waktu senggang ?”

“a---aku tidak tahu. Aku akan menelponmu, jika aku—ada waktu senggang hari ini” nada hye sun terdengar gugup.

“hentikan untuk mencoba berbohong apalagi menghindar Darl, kita tetap akan bertemu hari ini”

Hye sun memajukan bibirnya “minho-sshi, tidak untuk hari ini. Oppa akan tahu jika aku selalu pulang terlambat, dan,,,,”

“tidak, aku jamin Daniel oppa tidak akan tahu hye. Lagi pula--- aku hanya ingin mengajakmu jalan- jalan ketaman, menikmati Ice krim atau mungkin… kembang gula”

Hye sun kembali mengeluarkan kekehan kecil dari mulutnya "apa kau pikir aku anak kecil ?”

“huum, kau gadis kecil yang kunikahi, sebelum akhirnya---- menjadi seorang isteri yang aku cintai”

“Cihhh!!!”

Terdengar tawa minho untuk kesekian kali “istirahatlah Princess, karena hari ini aku akan mengambil waktu istirahatmu untuk menemaniku”

“kau memaksa….” Nada suara hye sun berbisik seakan melemah

“No, No” minho tersenyum “aku---hanya ingin menjadi penggoda, bukankah aku--- penggoda isteriku yang cantik ?”

Untuk beberapa detik, mereka terdiam seakan berusaha saling mendengar hembusan nafas yang berhembus lembut, namun terdengar memburu. Hye sun menarik selimutnya, perlahan dengan mata bulatnya yang sayu karena lelah. Hingga suara suaminya seakan kembali membuka mata bulat itu lebar….

“hye….”

“mmmm” bisiknya lembut

“I LOVE YOU”

Hye sun tersenyum, sebelum akhirnya membalas ucapan cinta suaminya.
“I LOVE YOU TOO, Minho_sshi…”

Terdengar tawa minho yang terdengar lembut, mencoba mengungkapkan kepada dunia dan isterinya betapa bahagianya ia hari itu….

“Mencintaimu hari ini, esok dan selamanya…..”

“aku percaya, Mr. Cassanova”

Hye sun kembali menyeringai dalam kungkungan kedua bola matanya yang kali ini benar- benar terasa lelah. “minho_sshi….aku…mengantuk” terdengar suara hye sun dengan mulut yang menguap. “hanya akan ada waktu dua jam lebih untukku tidur, sebelum oppa membangunkanku untuk sarapan pagi”

“ ok tidurlah sayang, aku akan segera menutup telponku, dan satu lagi! jangan lupa untuk kencan kita hari ini”

“ne” gadis itu menjawab pendek, dengan mata merahnya yang kali ini berair.

”mimpi yang Indah,  princess”

Kalimat Indah yang kembali terdengar sebelum pembicaraan itu berakhir, diiringi senyum manis hye sun dibalik selimut tebalnya….


“sampai bertemu nanti, Suamiku….”



---------------------------------------------------------



Hye sun menuruni satu persatu anak tangga dengan mata bulatnya yang masih terasa kantuk. Ia berjalan perlahan, seakan menghitung tangga- tangga kecil rumah itu. Entah mengapa hari itu Daniel tidak membangunkan langsung Princess untuk sarapan pagi bersamanya seperti biasa. Lelaki itu hanya memerintahkan sang pelayan, Bibi Chan untuk membangunkan adik tunggal kesayangannya.

Pada awalnya hye sun menolak untuk bangun karena tubuh dan matanya yang masih benar- benar terasa lelah. Tapi ketika ia sadar, semua itu tidak boleh dilakukan saat  keterlambatan kecil Daniel malam itu dan ketidak hati- hatian nya, telah menjadi keuntungan terbesar  bagi hye sun, untuk melindungi #CINTA nya.

Sempat hye sun mengutuk dirinya, saat ia harus berbohong kepada saudaranya sendiri. Tapi, berbohong demi keselamatan, bukankah itu tidak apa- apa ? Daniel tidak akan mengizinkan hubungan ini, dia tidak akan pernah menerima Minho sebagai saudara iparnya, hingga kini semua terasa menjadi sangat menakutkan bagi diri seorang Goo Hye Sun, saat bayang- bayang kehilangan, perpisahan menjadi  kabut hitam yang kali ini menutupi dunia sang Princess.

“good morning, oppa….” sapa gadis itu saat lengan mungilnya menggelayut dipundak Daniel sesaat, lalu mengecup pipi lelaki itu lembut.

Daniel tersenyum tipis sembari membalas sapaan hangat itu “good morning my Princess”

“apa--- tidur Oppa nyenyak ?” Hye sun berujar saat pelayan menarik kursi makan untuknya duduk.

“Ya” jawab Daniel singkat.

Hye sun kembali tersenyum, lalu melirik beberapa hidangan penggugah selera. “mmm, sepertinya lezat!” Princess raih garpu dan pisau makanannya seakan tidak sabar untuk menikmati hidangan yang telah berhasil menghipnotis hidung dan perutnya.

“semalam, kau pulang jam berapa hye ?” tanya Daniel sambil memotong kecil potongan daging lembut yang ada di piringnya.

Hye sun yang mencoba berjanji pada dirinya untuk lebih tenang, seketika harus dikejutkan atas pertanyaan yang membuat dirinya seakan bagai terdakwa yang diintrogasi saat sebuah kebohongan harus terpaksa ia lakukan meski Demi Tuhan, Princess tidak pandai dalam berbohong, ia terlalu naif….

“aku ?” mata bulat itu menyembunyikan rasa gugupnya “aku---- pulang pukul sembilan malam oppa…, ayah gaul yang mengantarku pulang. Mianhe jika aku---pulang terlambat” Ia genggam garpu dan pisau makannya dengan erat lalu dengan perlahan ia masukkan potongan daging kemulutnya. Hye sun merasakan sesak, ketika ia sadar potongan daging itu terlalu besar hingga membuatnya sulit menelan. Gadis itu seakan ketakutan, dan beruntung Daniel tidak menangkap semua kejadian itu ketika dengan cepat hye sun raih gelas yang berisikan air mineral, lalu mereguknya.
 
“tidak apa- apa Princess”

Sebuah kalimat yang terdengar bagai angin sejuk, atau mungkin hujan deras ditengah gurun padang pasir nan tandus.

“gomawo, oppa” balas hye sun menyeringai lalu Daniel membalas ucapan terima kasih itu dengan senyumannya yang datar.

Suasana seketika hening untuk sesaat. Hanya terdengar dentingan sendok yang bersuara. Entah mengapa pagi itu terasa sangat sunyi, seakan ada beban dan ketakutan yang jelas- jelas dimiliki hye sun, namun hye sunpun dapat menangkap kegundahan yang juga ada pada diri kakaknya, Daniel….

Hye sun menggigit kecil bibirnya, ia lirik tingkah Daniel yang tidak biasa lalu dengan pandangan menyelidik, ia tatap wajah saudaranya seakan mencoba menemukan saat yang tepat untuk mengutarakan sesuatu. Mungkin pertanyaan itupun dapat mencairkan suasana “angker” diruang makan pagi itu.

“oppa… kudengar dari bibi, semalam oppa pulang pagi ?” nada itu terdengar bagai hati- hati.

Daniel yang sedari tadi mencoba asyik dengan hidangannya seakan tersentak ketika pertanyaan itu keluar dari mulut adiknya--- ia diam membisu sesaat sebelum melanjutkan sarapan paginya meski lagi- lagi mencoba “memaksa” dirinya untuk tenang.

“aku--- tidak ingin ikut campur dalam urusaan oppa, dan---- sungguh aku hanya khawatir. Apalagi bibi chan bilang bahwa oppa pulang dalam keadaan mabuk”

Hye sun tatap wajah Daniel dalam- dalam, meski dengan sedikit ragu pada awal hingga saat Daniel membalas pandangannya. “ada--- pekerjaan yang harus oppa selesaikan hye, oppa hanya minum dengan beberapa teman hingga mabuk. Paling tidak itu adalah cara yang bisa mengurangi sedikit beban yang kini seakan hanya bertumpu pada pundakku”  Daniel berujar datar diiringi senyuman tipisnya.

“tapi, Ngomong- ngomong, sejak kapan kau mengkhawatirkan oppa, hmm ?”

“bukankah aku selalu mengkhawatirkan oppa” hye sun berujar manja, hingga membuat suasana sedikit mencair.

“ sama seperti oppa yang sangat mengkhawatirkanmu semalam. oppa sangat resah ketika kau belum kembali. Ingin menelponmu, tapi oppa urungkan niat itu” Daniel masukkan potongan daging lagi kedalam mulutnya.

“ke, kenapa ?” tanya hye sun ketika ia merasakan sebuah kalimat sindiran.

“jika oppa menelponmu, itu berarti oppa tidak percaya akan ucapanmu. Bukankah begitu, hye ?”

Hye sun mengangkat wajahnya lalu membalas dengan senyuman tipis kepada lelaki yang kembali terlihat tenang dengan sarapannya. “apa---oppa menyindirku ?” tanya hye sun dalam hati sembari kembali bersikap tenang, “tidak!, itu tidak mungkin!, tapi--- dari wajahnya….
ia lirik Daniel “ia sedikit menunjukkan sikap yang tidak biasa padaku”

“apa hari ini---kau memiliki jadwal kuliah hye?” tanya Daniel dengan suara yang sedikit berbeda, ketika ia terlihat tengah mengunyah perlahan sarapan paginya.

“ne, dan---mungkin aku akan pulang sedikit terlambat oppa” nada hye sun terdengar datar mencoba menyembunyikan kegundahan.”ada beberapa tugas yang harus aku kerjakan bersama gaul”sambungnya.

“ Jika kau pulang terlambat, kau bisa meminta supir untuk menjemputmu.”

“tentu” jawab hye sun tanpa ragu,


Daniel mereguk air mineral yang ada digelasnya perlahan setelah menghabiskan semua sarapannya pagi itu. ia terlihat berbeda, sangat tidak biasa.
 
“oppa, akan pergi kekantor. Mungkin akan pulang sedikit terlambat.Sampai jumpa nanti malam”

Hanya kalimat itu yang terdengar jelas ketika Daniel meninggalkan hye sun sendiri diruang makan bersama para pelayan. Ia kecup dahi adiknya, lalu melangkah meninggalkan ruangan. Hye sun kembali merasakan kegugupan yang luar biasa ketika sikap Daniel benar- benar terasa sangat mengganggunya.

“oppa akan menghabiskan semua makanan tanpa sisa, jika otaknya dipenuhi dengan banyak beban pikiran. Apakah--- ada masalah dengan perusahaan ?, ataukah---- ia kini sedang memikirkan adiknya yang telah pandai menjadi seorang pembohong ?”



-------------------------------------------------------


Daniel duduk dikantornya, ia tampak terlihat lelah meski hari masih menunjukkan pukul 10 pagi. Matanya terlihat memburu ketika ia memikirkan tentang apa yang terjadi semalam. Bibir itu tidak henti- hentinya ia gigit, seakan mencoba menyembunyikan rasa sakit akan suatu kesalahan yang telah ia lakukan malam itu.

“seharusnya, aku tidak mengikuti naluri IBLISKU!. Seharusnya, aku tidak pergi. INI SUATU KESALAHAN, INI SALAH!”


Flash Back

Daniel tidak tahu berapa gelas yang telah ia habiskan ketika suhu udara malam itu terasa dingin. Ia lirik jam tangannya yang telah menunjukkan pukul setengah delapan malam.

“mengapa, hye sun belum kembali ?” bisiknya sembari menikmati perapian yang menyala dihadapannya.

“haruskah--- aku menghubunginya?” ia genggam ponsel yang sedari tadi tergeletak disisi meja. “jika aku menghubungi hye, itu artinya aku percaya pada perempuan laknat itu!” jeritnya dalam hati.

“tidak!, aku percaya pada adikku. Ucapan Park Si Yeon hanyalah bualan dan kebohongan. Aku tidak percaya!” bisiknya lagi dalam hati ketika ketakutan sedari tadi menghantui pikirannya.

Pukul delapan malam, …..

Daniel angkat tubuhnya dari kursi yang hampir satu jam ia duduki. Memang bukan pertama kalinya hye sun harus pulang selarut ini. Tapi ucapan Lady Park yang membuat lelaki itu kalang kabut luar biasa. Beruntung bibi Chan mempunyai ribuan cara yang bisa dikatakan “kebohongan mutlak nan sempurna”, namun masih juga tidak dapat menghilangkan kegalauan yang dirasakan Daniel malam itu.

“aku benar- benar telah terjangkit virus Cassanova syndrome” ejeknya pada diri sendiri.

Hingga suara Handphone, menghentikan kerisauan itu sejenak….

“yoboseyo” sapa Daniel dengan nada datar.

“Da…Daniel…”

Mata Daniel seketika memicing, wajah tampannya memerah saat terdengar suara yang tidak asing lagi ditelinga. Suara lembut yang pernah menghipnotis jiwanya, suara itu juga yang pernah hampir membunuh hatinya.

“Park Si yeon!”

“Da…Daniel, to…tolong aku…. A…aku…. A…ku ti…dak…bi…sa…ber…na…fas….” Suara sang Lady terdengar putus. Nafasnya pun terasa sesak dan memburu, hingga seketika meruntuhkan kemarahan Daniel seketika.

“apa yang terjadi ?!” pekik Daniel dengan nada menjerit seakan menggila.
“Da…daniel….a…a…ku…mo…hon…to….tolong….”


PRAKKKKKKKKKK terdengar suara asing dari dalam sambungan telepon.


“Park Si yeon!!!!” pekik Daniel.


.


.


.


Langkah kaki itu terlihat memburu ketika ia keluar dari mobil yang tepat berhenti disebuah apartment mewah dipusat kota seoul. Daniel bahkan masih ingat tempat itu, meski ia pernah menolak alamat yang pernah diberikan sang Lady, ketika wanita itu mencoba mengharapkan cinta dari nya. Ia hanya dapat menangkap sekilas, sebelum kartu alamat itu ia buang ketempat sampah. Beruntung, setelah sampai beberapa orang pegawai yang berada dilobi apartment itu bisa membantunya.

Daniel berlari dan berlari hingga langkah kaki membawanya menuju pintu lift yang tertutup. Lelaki itu masuk, saat lengannya menyentuh tombol menuju kelantai sembilan tempat Park si yeon tinggal. Jantungnya kembali berdetak dengan kencang. Keringat mengucur didahinya. “aku benci wanita itu, tapi--- aku tidak ingin terjadi sesuatu pada dirinya, tidak!”

Sampai akhirnya pintu lift itu terbuka.

Daniel keluar dan menyusuri lorong yang sangat anggun. Lorong itu terlihat sunyi, hampir mirip bagai suasana gereja. Langkahnya seakan tak memberi izin untuk berhenti hingga membuat jantungnya semakin memberikan deguban keras bahkan ketika tangannya melepaskan pukulan yang cukup kuat setibanya dipintu Apartment.

“Park si Yeon, buka pintunya!” pekik Daniel namun tiada jawaban.

“Park Si yeon!!!”  ulangnya lagi dan terkejut saat pintu Apartment itu ternyata tidak dikunci.

CRAKKKKKKKKKKKK terdengar suara pintu yang terbuka.

Suasana ruangan itu terlihat remang. Hanya beberapa titik cahaya dari lampu- lampu gedung  bertingkat  yang mungkin telah menjadi penolong bagi Daniel, ketika lelaki itu perlahan memasuki ruangan. Jantungnya kembali terdengar memburu, nafasnya kian tercekat saat untuk kesekian kali ia panggil nama sang Lady.

“Park Si Yeon”  ia coba mencari keberadaan wanita itu. Dan nihil. Sampai ketika ia langkahkan kakinya menuju kedalam ruangan yang sunyi, dengan pandangan mata yang  mengarah pada pintu kamar yang terbuka.

Tanpa ragu, ia langkahkan lagi kakinya diiringi sekujur tubuh yang gemetar. Pikiran buruk seakan menghantui, meski Daniel sadar tidak ada lagi cinta yang tersisa dihatinya. Hanya luka. Sakit hati, dan kebencian. Itu sudah cukup untuk menggambarkan perasaan Daniel saat ini.

Namun semua rasa itu berubah ketika kakinya memasuki kamar itu. Melihat tubuh yang tergeletak dengan beberapa botol anggur disisinya. Perempuan itu mengenakan gaun tidur tipis berwarna merah, ia menelungkup .


PARK SI YEON!!!! Jerit Daniel lalu dengan cepat menghampiri tubuh wanita yang pernah dicintainya. menyentuh dan membalikkan tubuhnya. Matanya sang lady terpejam, seolah – olah sedang tertidur lelap. Diam tak bergerak.

“Park… Si…Yeon” bisik Daniel ketika tubuh itu ini berada didalam pelukannya.  Ia sentuh dengan jemari yang gemetar perlahan rambut yang menutupi wajah cantik sang lady. “a…apa yang terjadi….” Tukasnya parau lalu dengan cepat Daniel angkat tubuh mantan isterinya itu keranjang yang berada dikamar itu.

Lelaki itu terlihat bingung. Pikirannya kacau. Bahkan ia merasa bagai orang bodoh ketika otaknya baru memberikan izin untuk segera menghubungi seorang dokter. Dokter keluarga Goo, dan konyol! Ia merasakan setetes air mata mengalir dari ekor matanya, ketika dengan tangannya yang gemetar ia tekan tombol dari ponselnya.

“aku tahu, kau pasti akan datang” Suara itu terdengar lembut, selembut hembusan angin malam itu.

Daniel menoleh cepat tanpa mencari asal suara, ketika ia yakin itu adalah suara milik sang Lady, yang kini terbaring dengan posisi yang berbeda. Bukan posisi yang kaku saat Daniel membaringkan tubuh lemahnya itu keatas ranjang. Posisi yang menggoda dan memikat ketika tali gaun tidur itu mengendur disebelah sisi, hingga mempertontonkan lekuk dada yang indah. Ia bahkan menengadahkan kepalanya,seakan memamerkan leher mulus jenjang miliknya.


“kini aku sadar bahwa dirimu masih mencintaiku Daniel….”

“perempuan Licik!!!” pekik Daniel.

Mata sipit tajam itu memicing,”ohhh, sayang…. Maafkan aku ketika aku tahu, tidak ada cara lain untuk mengundangmu. Bahkan kau selalu menolak ketika aku hanya ingin mengajakmu untuk makan siang”

Dengan cepat Daniel mencoba melangkahkan kakinya keluar. Ketika ia sadar pintu kamar itu masih terbuka untuknya. Ia muak saat sang Lady berusaha untuk menggodanya. Ia marah, namun dihati kecilnya seakan berbisik syukur bahwa tidak terjadi apa- apa pada diri wanita licik yang mungkin masih ia cintai.

Namun bukan Park Si yeon, jika harus rela menerima kekalahan untuk kesekian kali.
Bagai kucing liar yang siap menerkam!! Ia bangkit dari tempat tidur dan berlari menuju pintu. Menahan celah itu, agar mangsanya tidak lari atau mungkin keluar dari perangkap cinta yang telah ia rancang dengan sempurna.

“kau tidak boleh pergi Daniel!” pekiknya saat tangan itu telah berhasil mengunci pintu ruangan. Tubuhnya dengan menantang berdiri sandar dipintu, rambutnya yang acak membuatnya terlihat sexy dan menggairahkan.

“bagaimana mungkin--- kau berani meninggalkanku Daniel ?”

“Minggir! Dan buka pintunya!”

“tidak” ia menggeleng nakal.

Daniel menatap tajam, “seharusnya aku tidak datang. Seharusnya aku tidak percaya pada wanita yang pandai berbohong sepertimu, Park Si yeon!”

“dan kau datang, dengan kecemasan diwajahmu. Ketakutan, kekhawatiran yang luar biasa saat aku dapat mendengar jelas!!!---- detakan jantungmu yang memburu Darl” desah Park si yeon sembari dengan berani ia dekatkan tubuhnya pada dada bidang lelaki itu.

“tutup mulutmu!!!” Daniel dorong tubuh itu kepintu. Amarahnya meluap, saat alcohol kembali menguasai dirinya. “kau, hanya kenangan usang bagiku Lady!!”




“Pembohong!” bisik Park Si yeon, sembari dengan cepat menarik tengkuk Daniel. Meraih bibirnya. Melumatnya. hingga seketika menimbulkan sensasi yang menakjubkan yang mengalir keseluruh tubuh Daniel, meski lagi- lagi ia menolaknya. Kasar!!!

“lepaskan!!!”

“bisakah kau memaafkanku Daniel!!! Mencintaiku!!” pekik Park si yeon

Daniel menjauhi tubuh setengah telanjang itu, hingga membuat sang Lady kembali menggila. “oh Ms. Park, aku bukan orang yg sabar mengumpulkan bagian- bagian yang sudah hancur berkeping- keping, lalu menempelkannya kembali , dan kemudian menganggap semuanya akan utuh seperti dulu, apa yang sudah hancur hancurlah!, aku lebih suka mengenang semuanya. bagiku kau masa lalu, bahkan aku selalu berharap kau menghilang untuk selama- lamanya didalam kehidupanku!”

“Stop!!! Hentikan!” balas lady park tiba- tiba. Ia tidak yakin telah mendengar kata- kata Daniel .Pikirannya seakan tidak sanggup menelan kata- kata itu, tapi ia tahu dia tidak akan pernah tahan pada suara Daniel yang sama sekali tidak mengandung kata cinta.

“be…beri aku kesempatan Daniel. Aku mohon…” suara itu terdengar rendah “LeeMinHo hanyalah masa lalu bagiku, tidak lebih! Aku tahu--- aku pernah menjadi wanita gila yang mencintainya. Bahkan aku telah berani menjadi isteri yang tidak setia untukmu. Namun---namun aku sadar Daniel….bahwa…bahwa aku tidak sanggup berpisah darimu, setelah aku…kehilanganmu, dirimu”

Daniel menatapnya sejenak, tatapan lama yang terasa menembus relung- relung hatinya. Lady Park melihat sedikit rasa percaya dimata lelaki itu, namun tanpa minat.

“semua terlambat, Lady”

Park si yeon bisa melihat pandangan mata tajam Daniel yang terlihat letih. Kalau saja Daniel mau bersikap ramah! Kalau saja pria itu bisa memaafkannya, mengulurkan tangannya, hingga ia bisa berbaring dipangkuan lelaki itu lagi. Menciumnya, memeluknya.

“terlambat ? apa maksudmu ?” Dahi itu mengkerut “apa karena kehadiran dokter itu ? dokter sialan itu ?!” kali ini nada itu terdengar menekan.

Daniel terdiam sesaat, sebelum akhirnya memberikan sebuah jawaban yang seketika menghancurkan hati sang lady.

“Ya!, karenanya, karena aku mencintainya!”

“Bwo ?!”

Park si yeon maju beberapa langkah mendekati Daniel. Ia menjerit. Ia menangis sembari memukul kuat dada lelaki yang kini berdiri seakan telah memenangkan pertarungannya malam itu.

“Tidak!!!! Tidakk!!! Kau mencintaiku, kau mencintaiku Daniel!!!kau mencintaiku….” Isaknya, menggenggam erat sisi mantel yang membalut tubuh pria itu.

“aku mohon, beri aku kesempatan!!”

Hati Daniel terasa sakit. Namun ia tersenyum puas ketika air mata itu mengalir deras dari pipi park si yeon.  Wanita itu berlutut,  berlutut dikakinya untuk kesekian kali. Meski itu belum cukup! Daniel ingin sesuatu yang lebih! Saat iblis dihatinya seakan memerintah, ketika menemukan suatu kelemahan yang kembali akan menyakiti sang Lady.

Daniel perlahan mensejajarkan tubuhnya. Memandang sinis perempuan yang terlihat malang dengan gaun tidurnya yang terlihat acak. Daniel menyentuh dagunya.
Diarahkannya wajah Park Si Yeon kearah lampu remah ruangan itu. sejenak ia tatap mata perempuan itu lekat- lekat. Park si Yeon balas menatap, menatap sendu dengan kedua bola matanya yang basah.

“aku mencintai Hye Jin lebih dari cintaku padamu. aku pernah memujamu, dan berucap lantang kau lah cinta abadiku. Tapi tidakkah terpikirkan olehmu bahwa cinta abadi juga bisa menguap ?” Lady menatapnya tanpa bersuara

“cintaku telah sirna. Cintaku telah mati, ketika malam itu aku bisa melihatmu bersamanya. Tulang belulangku seakan tercabut dari tubuhku. Begitu terasa dahsyatnya rasa sakit itu, hingga aku tak mampu lagi melihatmu” bisik Daniel parau.

 “tapi malam ini, aku akan memberikan sesuatu yang kau inginkan. Paling tidak, aku bisa bersenang- senang denganmu. Menganggapmu pelacurku! Bukankah itu yang kau inginkan huh ?!”

Ia tarik kasar tubuh sang lady keatas ranjang. Membuat Park Si yeon tersentak.Dan entah mengapa kali ini sang Lady menolak!.

“aku bukan seorang pelacur!” pekik Lady Park

“kau pelacur Park si Yeon!, bagiku kau gadis yang kuangkat dari kubangan lumpur!!”

Park si yeon menjerit dalam dekapan hangat lelaki yang kini terasa berbeda. Ia bahkan tidak pernah merasakan naluri liar yang kini singgah didalam diri seorang Goo Daniel. Ia menangis ketika dengan kasar lelaki itu menciumi tubuhnya. Menggigit lehernya. Pengaruh Alkoholkah, atau hati Daniel yang kini berbicara……

Dada kekar itu seakan menggilas tubuhnya yang lemah. Kekuatannya seakan sirna ketika jeritan telah banyak membuang energynya. Namun entah mengapa, semua terasa bagai awan indah ketika cumbuan itu seakan kembali membangkitkan gairah sang Lady. Ia bahkan menggeliat liar ketika merasakan sensasi menakjubkan ketika Daniel menyentuh dadanya yang mengeras.Membelai kakinya yang jenjang lalu melingkarkan kaki itu kepinggangnya. Daniel marah. Tapi separuh jiwa lelaki itu menginginkannya.

Park Si yeon kini membiarkan bibir tipisnya mengalunkan desahan liar ketika tubuh yang ia rindukan kini telah bersatu pada tubuhnya. Ia menikmati malam itu. Dan Daniel ? Entahlah…. Namun setiap hujaman, mampu meruntuhkan kebencian yang terasa mengikat hati Goo Daniel malam itu. begitupun sebaliknya ketika bibir lembab itu telah mampu membuat sang Lady menyerah. Ia merasa cair bagaikan salju, ketika tubuh kokoh itu semakin menguasai tubuhnya.

Hingga Terdengar erangan yang memecah kesunyian. Tiada dendam, rasa sakit. Hanya Gairah. Sudah cukup untuk menggambarkan suasana malam itu…

END FLASHBACK


------------------------------------------



Hye Jin melangkahkan kakinya hampir dengan langkah yang memburu. Sesekali ia tatap arloji yang melingkar dilengannya. Langkah kakinya perlahan namun pasti menyusuri lorong- lorong rumah sakit siang itu.

“aku yakin, Daniel akan marah akan keterlambatanku siang ini!” bisiknya dengan nada yang terdengar memburu.

Tidak membutuhkan waktu lama untuknya sampai dihalaman parkir rumah sakit. Hye jin merasakan jantungnya yang berdebar dengan cepat, ketika Daniel tiba- tiba menelponnya beberapa saat yang lalu. Mengharapkan kedatangan gadis itu, meski dengan nada yang tidak biasa. Nada suara yang berbeda ketika Daniel memintanya untuk datang tepat pukul 1 siang ditempat biasa mereka bertemu.

Namun belum sempat membuka pintu mobil, hye jin dikejutkan dengan suara lembut yang menyapanya. Ia kenal suara itu. suara yang terdengar tidak asing ditelinga, bahkan ketika ia mencoba menebak dengan membalikkan tubuhnya….

“Ms. Park ?”

“kupikir akan sulit menemukanmu, dan tidak menyangka bisa menemukanmu dengan mudah disini”

Park si yeon berdiri anggun sembari memandang  “rival” nya. Wanita itu membuka kaca mata hitamnya. Menunjukkan mata bulat nan tajam dan memicing, penuh dengan keangkuhan. Bahkan ia sengaja mengenakan lipstick yang merona siang itu, seakan memamerkan kecantikannya yang memang nyaris sempurna.

“aku ingin bicara denganmu”

“aku ?” hye Jin mengerutkan dahi, “untuk saat ini aku tidak mempunyai waktu Ms. Park. Ada urusan yang harus aku kerjakan hari ini, mungkin--- di lain waktu” nada itu terdengar sopan.

“tapi aku ingin bicara denganmu hari ini, hanya untuk beberapa menit. Dan aku yakin, wanita cerdas sepertimu tidak akan menolak kedatanganku”

.


.


.



Pelayan itu datang dengan membawa dua gelas kopi ditangannya. Lady park bahkan masih bisa menatap hye jin dengan pandangan sinis, meski pelayan kini menjadi penghalang jarak pandang mereka berdua. Suasana terasa sunyi, bahkan sejak pertama kedatangan mereka. Hanya pandangan dingin yang terasa ketika lady park memandang rivalnya sembari sesekali menggigit kecil bibirnya. Atau mungkin menyentuh rambutnya yang sengaja terurai disebelah sisi.

“apa yang ingin kau bicarakan Ms. Park. Sungguh aku ada urusan lain hari ini, dan kita tidak harus selamanya diam sembari melepaskan pandangan jijik, bukan ?”

Sikap sopan hye jin yang coba ia pertahankan seketika sirna, ketika ia sadar Park si Yeon hanya datang untuk mencoba “mengganggunya” hari itu.

“urusan ? apa--- aku bisa menebak  bahwa hari ini kau akan menemui Daniel, mantan suamiku ?”

Ia ambil cangkir kopi itu perlahan, lalu meneguk kopi itu seakan menikmati. Hye jin bisa melihat cara wanita itu ketika menikmati kopinya. Sangat anggun, tertata, dan cantik. Bodoh jika berfikir, bahwa Daniel bisa melupakan Park Si Yeon secepat itu. kegundahan kembali meraja direlung hatinya. Dalam….

“sejak kapan itu menjadi urusanmu Ms. Park ?” tanya hye jin dengan nada sinis.

“sejak hari dimana aku bisa merasakan bahwa Daniel, masih mencintaiku”

Hye jin mengerutkan dahinya. Wajahnya seketika memerah saat medengar kalimat itu. “apa maksudmu ?”




Sang Lady tersenyum, “Mulai hari ini, besok, dan seterusnya, aku ingin kau menjauhi Daniel dari kehidupanmu”

“apa kau kekasihnya ? atau mungkin kau isterinya , ketika memintaku untuk meninggalkan Daniel, huh?”

“aku wanita yang dicintainya” nada itu terdengar tenang tanpa beban.

“itu dulu, yang kutahu dia telah melupakanmu. Kau hanya MANTAN ISTERI TIDAK SETIANYA, dan kau tidak berhak  memintaku untuk menjauhinya, tidak Ms. Park!”
Park si yeon mengepalkan erat kedua tangannya. Ia merasakan sesak didada, ketika kalimat itu seakan kembali menyakitinya. “beraninya Kau padaku, dokter”

“kau hanya wanita yang tertarik pada kilauan emas dibanding emas itu sendiri. Kau ingin selalu dipuja, dicintai, dan berharap semua lelaki dapat bertekuk lutut dihadapanmu. Dan hasilnya…. Kau kehilangan segalanya!”


“oh, aku baru tahu bahwa kau kini menjadi penasehat didalam kehidupanku. Apa yang kau tahu tentang aku dokter ? hingga kau membiarkan mulutmu berbicara seperti itu!” nada suara  itu terdengar menekan. Jeritan yang tertahan.

Hye jin bisa melihat kedua mata tajam itu memicing. Bahkan terlihat berair, seakan ada sesal diraut wajah cantik sang Lady.

“aku hanya wanita, yang mempertahankan milikku Ms Park. Jadi kumohon, jangan ganggu aku. Daniel, ataupun kehidupan hye sun lagi!”

Hye jin mengangkat tubuhnya dengan cepat, seakan tidak ingin berlama- lama dihadapan wanita yang memiliki sikap sopan yang dibuat- buat. Ia tahu kata- katanya sudah cukup menyakiti hati sang lady. Hye jin tidak menyesal, ia hanya mempertahankan. Itu saja.

Hingga kalimat terakhir Park Si yeon menghentikan langkahnya, membelah hatinya menjadi dua.

“aku tidur dengannya! Kami bercinta, dan aku bisa merasakan keinginan Daniel atas tubuhku”

Park si yeon mengangkat tubuhnya, seakan tidak mengizinkan hye jin berada lebih tinggi darinya. Mereka kini terlihat berdiri, dengan posisi yang sama. Namun kali ini, tubuh hye Jin membelakangi, seakan tersentak tanpa mampu membalikkan pandangan kearah “musuhnya”

“dia melakukannya dengan penuh cinta, hingga aku yakin dia masih mencintaiku” nada itu kembali terdengar angkuh “ Please, Aku tidak ingin melihatmu terlalu berharap dan merana Dokter. Tinggalkan Daniel, dan menjauhlah dari kehidupannya, hanya itu yang kupinta. Kurasa---- kau bisa mengerti”


------------------------------------------------------------------


Di sore hari, di musim semi…..

Hye sun menyusuri sebuah taman teduh yang indah dengan minho yang merengkuh pundaknya. Ada hembusan angin segar ditaman itu. Pohon- pohon besar rindang yang tersusun rapi disetiap sisi jalan, hingga siraman cahaya matahari sore yang membuat cassanova tidak berpaling sedikitpun, saat kecantikan itu kini tergambar jelas dipelukannya. Rambut kecoklatan, hingga mata bulat yang menyeringai seakan kembali membangkitkan hasrat untuk memiliki isterinya lagi, lagi dan selamanya….

“kau tahu ini musim semi terindah yang kurasakan didalam kehidupanku hye….”

Gadis itu tersipu “karena ada AKU ?” tukasnya tanpa beban.

“ya karena ada KAU, DIRIMU,KEKASIHKU….” Minho kecup kepala isterinya lembut….

“bagaimana denganmu ?”

Bola mata gadis itu seakan bermain. Atau tepatnya berfikir. Ketika pertanyaan itu seakan sulit untuk ia jawab. mungkin karena malu, ….

“A…aku ?”

Pelukan erat yang sesaat lalu melingkar dipundak, kini terasa meresap pada setiap jari- jari erat, ketika minho tanpa ragu menggenggam tangan isterinya diiringi pandangan mata yang memicing. “ya. Jawab aku Princess”

Hye sun pandang suaminya lekat- lekat sebelum akhirnya perlahan ia dekatkan tubuh mungilnya pada tubuh suaminya.

“Bagiku, Kau musim semi terindahku minho_sshi. Disaat bunga bermekaran dan merindukan cahaya matahari pagi, atau mungkin rerumputan luas yang mencintai musim semi” bisik hye sun hingga kembali mengembangkan senyum manis dari wajah Leeminho.

“jika ini bukan tempat umum, aku bersumpah akan menggigitmu hari ini hye….” Goda minho disela- sela tatapan mata tajamnya.

“kau tidak romantis!” gerutu hye sun hingga membuat lelaki itu terkekeh.

Untuk beberapa menit mereka menikmati kebersamaan itu dengan berjalan, menikmati rindang- rindang pohon ditaman. Menikmati kembang gula, Ice cream hingga tertawa bersama saat Ice cream itu menempel dengan sengaja dihidung mancung Lee minho.

“apa aku terlihat seperti badut hye ?” tanya minho dengan wajah yang menekuk
Hye sun terkekeh, melihat wajah lain dari minho yang saat ini telah menjadi bagian dari dirinya. Tawa lepasnya semakin membuat minho geram, hingga sesekali ia gigit bibirnya ketika melihat pipi merah hye sun yang merekah, atau mungkin pukulan- pukulan kecil yang terasa pada lengan dan dada bidangnya, ketika hye sun memintanya untuk berhenti.




“minho_sshi, hentikan!”

“ok, akan kuseka ketika aku benar- benar terlihat konyol dimatamu hye sun_sshi!”

“mi---mianhe minho_sshi. Aku… hanya benar- benar lucu ketika kau menekukkan wajahmu dengan ice cream yang menempel dihidung” hye sun berujar masih dengan diiringi tawa kecilnya.

“ya, ya ya, aku memang tidak selalu harus tampil menawan dihadapan wanita bukan ? aku juga lelaki humoris hye, bahkan aku juga suka bercanda ketika aku…..”


Hye sun bisa merasakan rasa dingin tiba- tiba menusuk bibirnya saat dengan sengaja minho biarkan Ice cream ditangannya kini menjadi senjata ampuh untuk membuat gadis itu marah dengan bibir yang mengerucut.

“minho_sshi, kau jahat!”

Kali ini lee minho merasa memenangkan permainan ketika ice cream itu telah membuat bibir “dingin” isterinya bagai  lingkaran api, yang seketika membakar tubuh sang Cassanova. Dan rengekan manja itu seakan berkobar mengaliri pemburuh darahnya, membakarnya hingga tanpa sadar membangkitkan rasa inginnya saat lengan kekar itu menarik siku hye sun, hingga mendekatkan jarak mereka.

Mata bulat itu terbelalak, darahnya berdesir hebat ketika tanpa ragu minho gunakan ujung lidahnya untuk membersihkan Ice cream itu dari bibir isterinya. Hye sun mendorong pelan tubuh suaminya, ketika ia sadar beberapa pasang mata kini melirik tingkah mereka. Namun minho menahan lengan hye sun, dan membiarkan lidah itu kembali berkuasa, meski dengan sedikit paksaan ketika lidah itu mencoba masuk kedalam bibir mungil isterinya yang terkatup.

“ini….menyenangkan” bisik minho disela- sela ciumannya

Dengan satu tangan minho melingkari bahu hye sun. lalu mencium gadis itu lagi, tangannya yang lain mengusap lembut bahu hye sun dan menuruni lengannya dengan lembut. Hye sun gemetar, namun ia ingin bekerja sama, meletakkan satu tangan dibahu minho dengan gugup, kehangatan tubuh lelaki itu seakan menyetrumnya.

“mi---minho_sshi” desah hye sun dengan nafas yang memburu.”se…semua orang melihat kita, apa kau tahu ?”

“apa peduliku. Aku sedang mencium isteriku, bukan kekasih ataupun isteri mereka” bisik minho sembari membawa tubuh mungil itu kembali kedalam dekapan hangat dada kekar menantang yang dibalut mantel tebal.

Hye sun dorong tubuh suaminya pelan. Ia rasakan bibirnya basah, namun tanpa Ice cream yang melekat dibibir itu seperti sesaat yang lalu.

“kini aku tahu bahwa Ice cream akan lebih lezat ketika berada dibibirmu hye…..”
Pipi gadis itu kembali terlihat merona.

“mi---minho_sshi!,ayo kita cari tempat yang lebih nyaman” ajak hye sun sembari dengan cepat melangkahkan kakinya, meninggalkan minho yang berdiri seakan mematung. Minho tahu isteri cantiknya itu tengah mengalami rasa malu yang luar biasa. Gadis itu mencoba menjauhi, dari godaan liar suaminya atau mungkin gairah cassanova yang semakin menggebu. Hye sun seakan memohon waktu. Gadis itu masih dilingkupi rasa takut, rasa takut untuk memilih, atau mungkin beban ketika Daniel kini menjadi penghalang terbesar antara cinta mereka berdua.

“aku ingin mencintaimu seperti ini hye. Seperti air yang terus mengalir walau dihadang bebatuan besar. Aku ingin selalu melihat senyummu, senyum indah yang melukiskan kebahagian. Aku tidak akan pernah mengizinkanmu untuk memilih, karena aku bukan sebuah pilihan. Aku takdirmu. Aku bayanganmu yang tidak akan pernah terpisahkan dari tubuh bahkan jiwamu”

Hye sun kini terlihat jauh dari tubuhnya. Namun minho masih bisa mendengar suara nyaring yang kembali menghiasi telinga seakan itu adalah melodi terindah yang pernah ia dengar. Saat bibir itu melantunkan namanya dengan binar kebahagian…..

“minho_sshi, Palli!” jeritnya sembari melambai.

Matahari sore itu seakan menambahkan warna keemasan dirambut coklat hye sun. ia terlihat cantik dengan mantel berwarna merah hingga mempetegas warna kulitnya yang putih. Ia juga mengenakan syal berwarna hitam, yang melingkar dilehernya. Dimata minho hye sun gadis yang nyaris sempurna. Gadis naïf yang dicintainya, mencintainya…..

“akan kutangkap kau hye…..” pekik minho sembari berlari kecil

“dan demi tuhan aku tidak akan melepaskanmu”

.


.


.


Minho dan Hye Sun…..





Mereka duduk disebuah bangku taman yang unik, dibawah rindangnya pohon cherry. Bangku itu menghadap kesebuah danau buatan yang luas dan tenang dimana sebatang pohon berdaun nan mempesona menjuntai ditepiannya. Sekelompok burung- burung terlihat berenang dengan damai.

Hye sun menyandarkan kepalanya dibahu minho, dengan minho yang merangkul penuh tubuh mungilnya. Dagu minho menyentuh rambut hye sun. Sesekali pemuda itu menyendungkan bait- bait lagu cinta diikuti oleh hye sun. mereka seakan menikmati sore itu. mereka seakan tidak ingin terpisahkan lagi, saat pelukan erat itu akan selalu menjadi penenang, penghangat dan nafas kehidupan bagi cinta mereka berdua.

“hye….”

“mmm”

“apa… kau tidur ?” tanya minho ketika tidak mendengar gadis itu berbicara satu katapun.

“tidak….” Balas hye sun “aku--- hanya sedang mendengar detak jantungmu minho_sshi”

Minho tersenyum “apa yang kau dengar ?”

Hye sun mempererat pelukannya, menikmati lembutnya mantel yang membalut tubuh suaminya. “DEG, DEG, DEG aku mendengarnya jelas” suara itu seolah mencontohkan.

“jantungku berdebar, saat kau berada dipelukanku, apa kau tahu ?”

Gadis itu kembali tersenyum dengan pipinya yang merona. “aku tahu, dan aku percaya minho_sshi. Hanya ada namaku ketika jantung itu berdetak, seperti kini jantungku yang seakan terus memuja namamu” nada suara itu kali ini terdengar berbisik, saat lagi- lagi ia peluk tubuh suaminya dengan erat lalu mengecup mesra dagu suaminya lembut….

Untuk beberapa saat ia biarkan aroma tubuh maskulin itu kembali mengikatnya, bermain pada indera penciumannya, lalu merasuk kedalam gejolak bathinnya ketika aroma itu seakan mengingatkannya lagi akan percintaan hebat yang telah dilakukan semalam….

“aku bahkan bisa merasakan darahku berdesir ketika aku hanya membayangkannya….” Bisik hye sun dalam hati saat pelukan itu semakin erat pada tubuhnya. “kuharap aku akan menjadi miliknya, selamanya….”

Hingga Tatapan hye sun tertambat pada sepasang kakek nenek yang sedang berjalan berdua. Mereka tidak terlihat mesra, tapi ada sesuatu yang ada pada diri mereka berdua hingga membuat hye sun menoleh dan terharu. Sepasang manusia yang telah lanjut usia itu berjalan berdua, bergandengan, sesekali bercakap- cakap. Tidak ada yang istimewa, tapi aura kehangatan terpancar jernih sampai- sampai mata hati hye sun seakan silau oleh terang itu.

“minho_sshi….?”

“mmm”

“coba kau lihat, kedua pasangan itu”

Mata minho mencoba mencari “mereka ?” tanyanya sembari tersenyum diiringi anggukan kecil hye sun “Suatu hari aku---ingin seperti itu minho_sshi. Berdua bersamamu, menghabiskan masa tua kita bersama”

Minho menarik wajah hye sun dengan kedua tangannya, lembut namun terasa tiba- tiba. Mensejajarkan pandangan mereka diiringi tatapan lekat pada wajah cantik isterinya. “tentu, kita akan seperti mereka. Memiliki anak- anak, membesarkan mereka, menikahkan mereka, hingga--- menimang cucu kita bersama, kita akan melakukannya hye. Bersama dan selamanya.” entah mengapa suara itu seketika terdengar parau.

Hye sun bisa menatap mata minho yang Lembut dan sedih. Seakan terkesima akan ucapan yang terlontar dari bibir isterinya barusan.

“kau percaya padaku kan ?”

Mata bulat hye sun seakan bermain diantara bulu matanya yang lentik “tentu saja, tapi sadarkah kau ada sesuatu yang membuatku takut ?”

Minho kecup hidung mancung hye sun sesaat. Mencoba menenangkan. “aku tahu apa yang kau pikirkan hye. Aku tahu, kini Daniel berada diantara kita berdua. Namun, apapun yang terjadi bukankah aku akan selalu menggenggam tanganmu, berada disisimu, dan tidak akan melepaskanmu ?”

“mungkin kau bisa melakukannya, tapi tidak dengan kakakku minho_sshi. Ia terlalu rapuh untuk menerima hubungan kita berdua. Dan itu--- terkadang yang membuatku takut”

“oh, tidak…. Tidak….” Minho raih tubuh hye sun lalu memeluk tubuh isterinya dengan erat. Ia bisa merasakan nafas yang memburu ketika nafas itu berhembus dan menyentuh sebagian pori wajahnya. Minho bisa merasakan ketakutan yang terasa menggebu pada diri isterinya, namun juga ketenangan yang seketika saat hye sun kini tengah berada didalam pelukannya.

“aku benar- benar akan marah jika kau mengulang kata- kata itu lagi hye. Daniel mungkin tidak menyukaiku, tidak akan menerimaku tapi tidak untuk selamanya”.

“kau tahu minho_sshi, aku takut jika aku harus kehilangan salah satu dari kedua lelaki yang aku cintai” nada hye sun mulai terdengar parau. Ia merasakan tenggorokannya kering. Sakit. Saat mencoba menahan tangis.

Minho lepaskan pelukan itu,  ia biarkan kedua lengannya kini berada dipundak isterinya. “jangan pernah takut, karena kau tidak akan kehilangan salah satu dari lelaki itu hye”. nada suara itu terdengar menenangkan. “bukankah kita sudah pernah membahasnya puluhan kali bahwa aku tidak akan membiarkanmu untuk memilih ?”

mata minho mencoba mencari mata hye sun yang kini bagai tertunduk. Ia angkat dagu gadis itu, mencoba menjadikan dirinya leluasa untuk memandang wajah isterinya dalam rupa apapun.

“hentikan kesedihanmu, ketakutanmu hye” hye sun bisa merasakan kehangatan bibir tebal itu menyapu lembut setiap jemarinya. Kecupan bertubi yang semakin membuatnya melupakan kegundahan itu sesaat.

“arasso ?”

Hye sun mengangguk pelan sembari terus menatap mata tajam yang seakan siap kembali menunjukkan pesonanya, ketika tanpa ragu minho mendekatkan jarak pandang mereka. Mata, hidung, lalu beralih pada bibir mungil yang ada dihadapannya….




“bibir yang sesaat lalu hanya kurasakan pada setiap ujung jemariku, kini terasa menyapu lembut bibirku. Suamiku memang seorang ahli penggoda yang mampu membuat tubuh dan jiwaku mencair bagai salju ketika kecupan itu kini berubah menjadi lumatan mesra saat ia gunakan lidahnya menerobos masuk kedalam mulutku. Aku mengerang ketika lengan kekarnya semakin memeluk tubuhku intim. Senyum matahari senja itu seakan menjadi saksi cinta saat ia berbisik “sarange hye” disela- sela ciumannya. Gundah sejenak hilang saat aku bisa merasakan rasa jantan yang kental, bibir yang ranum dan ahli, eksplorasi lidah yang penuh percaya diri dan gigi- gigi yang menggores lembut. Tak seorangpun pernah menciumku seperti ini, seakan bibirnya adalah sumber segala kenikmatan. Rasa takjub, ekstasi, wishky, apapun itu. ia telah mampu membawaku kedalam getar- getar kecil dan erotis yang menggugah hasrat dan menjadikanku wanita nakal didalam pelukannya”

Hingga ketika ciuman itu berakhir. Hye sun kembali menyandarkan kepalanya didada minho, seolah merasa puas berada selamanya dalam pelukan lelaki itu. sesekali ia basahi diam- diam bibirnya, seakan masih ingin menikmati ciuman yang sesaat lalu membakar jiwanya. Hye sun tidak peduli jika itu tempat umum. Yang ia tahu ia mencintai suaminya, begitupun sebaliknya.

“kini kau merasa tenang hye ?” tanya minho sembari membelai lembut rambut isterinya.

Hye sun mendongak, kembali menatap wajah tampan itu dengan kedua bola matanya. “ne”

“aku tahu karena ciumanku adalah penawar bagi hatimu yang rapuh” minho berujar santai hingga membuat gadis yang berada dipelukannya itu tersenyum.

“lagi- lagi kau mempunyai kepercayaan diri yang tinggi Mr. Cassanova!”

“dan pada kenyataannya….. aku pengobat jiwamu bukan?” minho menaikkan salah satu alisnya “Dan kaupun, pengobat bagi jiwaku hye” ia kecup bahu isterinya yang tertutup mantel. “dengan janjiku, kuharap tidak akan ada lagi kegelisahan itu Nyonya Lee!”

Hye sun hanya diam sembari dengan manja memainkan kerah mantel suaminya dengan jemari. Ia bersandar dengan mata yang memandang senyum matahari “terakhir” dihari itu. Hye sun terdiam, ketika tahu bibirnya tidak pernah ahli dalam berbohong. Ia tidak pernah yakin bahwa ketenangan dapat menghiasi relung hatinya terdalam, sampai Daniel benar- benar menerima kehadiran Lee Minho didalam kehidupan mereka. Saat ini Hye sun hanya mampu berharap dan berdoa, bahwa kebahagian kelak akan berpihak kepadanya.

“sungguh, aku hanya ingin bahagia. Bersama Oppa, dan…. My Cassanova. Hanya itu” bisiknya dalam hati.


-----------------------------------------------------------------------

Daniel menatap arloji yang sekarang menunjukkan pukul 7 malam. sesekali ia biarkan mata lelahnya ikut menikmati suasana malam diluar jendela mobil. Pikiran sesak kembali terasa menggelayut diotaknya. Ia gigit jemarinya yang seakan terasa bagai semu. Ia takut. Gugup. Ragu.
Park si yeon sedari tadi tidak henti- henti menghubunginya. Pesan singkat wanita itupun tidak pernah lolos dari kata- kata ucapan yang merayu, namun bagi Daniel hanya pesan yang menggertak, menghantui, dan memaksanya menyesali kesalahan yang ia lakukan malam itu.

Daniel menghela nafas panjang diiringi pandangan datar supir yang menatapnya dari kaca mobil. Ia kernyitkan dahi dengan jemari yang sesekali berada didahi mengkerut itu, mencoba menenangkan dirinya sendiri ketika hye jin tidak hadir pada undangan “penting”nya siang tadi. Gadis itupun tidak mengangkat telpon darinya atau membalas beberapa pesan singkat.

“kini--- bebanku terasa semakin berat. Sangat berat. Hingga aku ingin berkata pada Tuhan. Hentikan semuanya, karena sungguh…aku lelah”

.


.


.

Tidak jauh dari kediaman Goo

“sudah sampai” tukas minho sembari menatap wajah isterinya.

“seharusnya kau tidak menurunkanku disini. Bagaimana jika oppa melihat kita ?”

Mata tajam minho menyipit, “oh sayang….hentikan kecemasanmu, ok!”

Hye sun memajukan bibirnya. Menekukkan wajah dengan manja diiringi bibir mungil yang mengerucut, hingga membuat lelaki yang kini duduk disampingnya gemas.

“haruskah aku menggedongmu masuk hye ?” suara itu terdengar nakal diiringi gerakan tubuh yang menggoda.

“cihh!!!” hye sun tesipu malu, sembari melirik supir Young yang ikut tersenyum melihat tingkah kedua sejoli itu.

“sampai bertemu nanti minho_sshi”

Hye sun perlahan keluar setelah supir Young membukakan pintu mobil untuknya. Minho duduk sejenak, lalu menyusul tubuh mungil itu setelah niatnya untuk tidak mengiringi “kepergian” isterinya kini terpatahkan. Lelaki itu benci saat hye sun harus jauh lagi darinya. Ia merasa ini adalah ujian terberat didalam hidup dan kutukan sempurna untuknya.

“hye” suara parau yang kembali menghentikan langkah berat hye sun lalu membalikkan wajahnya.

“kapan kita akan bertemu lagi ?”

Hye sun menggenggam erat sisi mantel. Ia tahu pertanyaan itu akan sulit terjawab untuk malam ini.

“aku akan menelponmu minho_shi” jawab hye sun singkat

Minho mengerutkan dahi lalu perlahan melangkah dengan kedua tangan yang kini berada disaku mantel.

“hei, kau pikir aku percaya Princess ?”

“lalu…”

“biarkan aku masuk dan menyelinap kekamarmu”

“bwo ?” hye sun membelalakkan kedua mata bulatnya ketika merasa minho kembali menggodanya dengan kata- kata mesum. “cihh!, hentikan minho_sshi”

Minho tersenyum geli.

“masuklah kedalam mobil. Udara dingin tidak akan baik untukmu cassanova!” hye sun berujar sembari dengan cepat melangkahkan kakinya menjauhi minho.

“ya, hye sun_sshi!! Tidakkah kau melupakan sesuatu ?”

Hye sun lagi- lagi menghentikan langkah kakinya saat mendengar suara lantang yang kembali menahan tubuhnya.

“sesuatu ?”

Minho kembali melangkah mendekati isterinya.

“ya, sesuatu “

Bulu mata lentik itu seakan bermain, hingga ketika minho dengan cepat merengkuh pinggang rampingnya.

“kau belum menciumku” bisik lelaki itu lembut, sampai ketika minho menunduk dan menciumnya, hingga tidak bisa bagi hye sun untuk menghindar.

Bibir minho menutupi bibirnya. Minho mencium lembut, penuh gairah, mendamba. Saat lidah pria itu menyentuh garis bibirnya, hye sun tidak ragu lagi. Ia menyambut ciuman itu. mereka seakan saling menjelajah,menari, melengkapi. Minho menciumnya---menciumnya lagi. Setiap gerakan lidahnya semakin menumbuhkan hasrat ingin lebih. Ketika minho melepaskan bibirnya---bernafas--- hingga membuat hye sun merasa linglung. Hanyut dalam sensasi dan emosi. Hye sun mencengkram erat bahu minho karena takut lututnya akan goyah sewaktu- waktu.

“jika kau menolak akan ciumanku, maka jangan pernah berfikir aku akan beranjak dari tempatku berdiri” minho berbisik disela- sela nafasnya yang terdengar memburu.

Hye sun tersenyum “aku berfikir bahwa cinta kita memang benar- benar gila”

hye sun genggam erat kerah mantel suaminya.

“sekarang pulanglah minho_sshi”

“arasso, tapi…. Izinkan aku menciummu satu kali lagi hye”

Hye sun tersentak, hingga membuat pipi cantiknya merona.

“hentikan! Tidak!” tukasnya sembari mendorong pelan tubuh minho yang menguasai.
“jangan menolak”

Hye sun terkekeh ketika nafas pemuda itu seakan membuat geli sekujur tubuhnya. Jalanan yang cukup sepi malam itu membuat minho semakin leluasa menggoda isteri cantiknya hingga sepasang lampu mobil yang lewat seakan tepat menyorot kearah mereka.

“oh tuhanku!” hye sun membelalakkan kedua matanya, ketika mobil yang lewat itu kini berjalan lambat kearah mereka yang berdiri disamping kanan trotoar. Jantung gadis itu berdetak dengan cepat diiringi mimic ketakutan ketika mobil itu berhenti tepat dihadapan mereka.

Minho bisa merasakan cengkraman tangan mungil itu pada lengannya. Hye sun ketakutan, minho menebak dalam ketakutan itu, dan terkaannya tidak salah ketika tubuh besar Daniel keluar dari mobil.

Lelaki itu berdiri sembari menggertakan giginya. Ia tidak percaya atas apa yang dilihatnya kini. Jantungnya berdetak hebat diiringi semilir angin yang perlahan berhasil menembus mantel tebal miliknya, membuat kakinya gemetar hingga memperlihatkan langkahnya yang bagai tatih saat perlahan ia melangkah mendekati hye sun yang berdiri.


“a----apa yang--- kau lakukan, hye ?!”

Hye sun merasakan keluh pada bibirnya. Namun ia bisa merasakan kehangatan yang menyentuh setiap jemari ketika tanpa ragu minho genggam tangan itu kuat- kuat. Seakan tidak rela baginya melepaskan gadis yang kini menatap Daniel ketakutan….


“o….oppa….”

END CHAPTER




Akhirnya.........
Long Chappie..... #Ditunggu Saran dan Kritiknya....


HaPpY NeW yEaR semuaa............ [concert] [concert] [AddEmoticons04225] [AddEmoticons04225]

« Last Edit: December 30, 2012, 12:52:23 pm by hye sun »



[lovestruck] [lovestruck] Couples who love each other tell each other a thousand things without talking [lovestruck] [lovestruck]