One Day
Minho duduk ditaman Jungmyo siang itu. Senyum berseri nampak terlihat di wajahnya—ia memang selalu seperti itu, pemuda dengan senyuman tampan yang sarat akan mengundang sejuta pesona. Terbukti dengan adanya beberapa gadis yang kini mulai mencoba bermain mata dengannya. Minho menundukkan kepala seraya masih mengembangkan senyum ketika salah satu dari sekumpulan gadis itu mulai melambaikan tangan kepadanya. Di menit berganti, ia mengalihkan pandangan ke arah lain.
Ia terdiam saat melihat sosok wanita yang berada tepat dibelakang pandangannya saat ini. Gadis berambut sebahu dengan kulit bersinar cerah yang begitu lembut. Pipinya bersemu memerah, mungkin karena udara mulai terasa dingin. Jantungnya berdegup dan diliputi detakan saat hendak melihat gadis itu. Minho terus terhenyak menyaksikan objek pemandangan yang tersaji di hadapannya. Gadis manis yang tengah duduk di salah satu bangku taman, sama sepertinya—duduk menyilangkan salah satu kaki dan menatap hamparan tanah lapang luas dihadapannya. Minho memperhatikan arah pandang gadis itu, ia melihat segerumbul makhluk-makhluk kecil yang sedang asyik berbagi tawa seraya berlarian.
Ada sebuah senyum yang terlukis di wajah cantik itu. Senyuman yang kini membuat Minho berhenti bernafas—sesuatu menyadak dadanya, entah apa itu. Membuatnya juga ikut tersenyum manakala si pemilik pipi merona itu semakin menyudutkan hatinya— membuatnya termangu dalam keheningan. Tak ingin berdiam lebih lama tanpa melakukan sesuatu, Minho segera meraih ponsel dan mengarahkannya ke paras ayu tersebut. Dapat! Ia akan menyimpan gambar ini sebagai salah satu bagian penting dari barang privasinya sekarang.
Perhatiannya kini teralih pada balon-balon bewarna cantik yang terhempas di udara. Beberapa anak bertepuk tangan riang dan melompat penuh tawa. Minho menatap salah satu diantara mereka yang sekarang berada dihadapannya. Gadis mungil itu tersenyum dan menyodorkan sehelai kertas beserta penanya pada Minho.
“Ahjussi ingin menulis sesuatu di kertas ini?” Tanya lugu makhluk menggemaskan itu. Minho tersenyum kemudian menatap wanita yang semenjak tadi menarik perhatiannya.
***
Hye Sun menghela nafas panjang. Kemana Min Jung? Sudah lebih dari setengah jam ia menunggu sahabat baiknya itu. Huh, sering kali mengalami hal seperti ini, harusnya ia tahu bahwa Min Jung benar-benar tak bisa menepati janji. Mulai bosan dengan keadaan sekitar, ia meraih ponselnya dan mengetik sesuatu disana. Hye Sun menaikkan salah satu sudut alisnya saat melihat sesosok makhluk kecil yang kini berdiri dihadapannya seraya memberikan sepucuk surat.
“Buat Eonnie” Ucap gadis kecil itu. Kemudian ia berlari mengarah kepada area permainan yang juga terletak di tempat yang sama. Surat? Dari siapa, pikir Hye Sun bingung. Perlahan ia buka lembaran putih bertinta hitam tersebut.
Maaf—aku bingung harus memulainya dari mana. Tapi bisakah kita saling mengenal satu sama lain? Sabtu depan, Aku menunggumu dibangku taman yang kini kau singgahi.
Hye Sun mengamati setiap kata demi kata yang tertulis disana. Rasa penasaran mulai membaur di sekujur tubuhnya. Pandangannya mulai mencari sosok yang menulis surat tersebut. Namun, tak satupun ia lihat gelagat seseorang yang nampak mengamatinya, orang-orang disekitar area taman itu terlalu sibuk pada kegiatannya sendiri. Hye Sun hendak beranjak dari tempat duduknya saat melihat sesosok pria yang memunggunginya dari kejauhan. Tapi, langkahnya terhenti ketika Min Jung datang dari arah berlawanan dan meneriaki namanya hingga kini ia menaruh perhatian pada gadis itu.
“Hye Sun-aa, ayo pergi. Filmnya akan diputar lima belas menit lagi!” Min Jung segera meraih lengan Hye Sun ketika gadis itu berdiri sempurna di hadapannya. Hye Sun yang tak siap, sedikit terkejut oleh ulah Min Jung. Mereka berjalan dengan Hye Sun yang sedikit oleng dari keseimbangannya. Samar dengan cepat, ia sempat menoleh lagi pada pria yang berada dibangku taman tadi. Mungkinkah, ia yang menulis surat itu? Renungnya.
***
9 November 2010
Angin semilir berhembus perlahan, merayap pada celah-celah lekuk wajah Hye Sun. Tubuh mungil itu berbalut mantel tebal bewarna biru gelap. Deru nafasnya mengeluarkan asap-asap tipis dan itu pertanda bahwa ia telah kedinginan. Siang itu taman Jungmyo memang terlihat ramai dari biasanya, sebab hari ini bertepatan dengan hari libur. Tak jarang Hye Sun menemukan sepasang kekasih, Sanak keluarga yang membawa buah hati mereka, hingga orang tua lanjut usia yang turut merasakan fasilitas tempat wisata dari taman tersebut.
Ia meringis memegang kedua pipinya yang sudah merona memerah. Jika dalam lima menit setelah ini, si pengirim surat misterius itu tak menampakkan raut wajahnya—Hye Sun bersumpah, ia benar-benar akan segera angkat kaki dari tempat ini. Sejak tadi tak ada kegiatan lain yang ia lakukan kecuali hanya berdiam sambil menundukkan kepala. Hingga sepasang sepatu converse bewarna hitam kini terlihat jelas di depan matanya. Hye Sun menengadah, menemukan sebuah tangan terulur kepadanya. Ia dapat melihat sosok Minho menjulang dan memberikan senyum tampan. Entah kenapa melihat itu, Hye Sun lekas beranjak dari tempatnya.
Ragu-ragu ia mulai menjabat tangan Minho. Pemuda itu masih tersenyum dan membuat Hye Sun nampak kebingungan.
“Namaku Lee Min Ho” Katanya. Hye Sun langsung bersemu. Ia jarang berdekatan dengan pria seperti ini. Kehidupannya sehari-hari hanya di geluti dengan kuliah. Selain itu untuk mengisi hari-harinya pun Hye Sun hanya ditemani oleh Min Jung dan kedua orang tuanya. Jangankan untuk berpacaran—menjalin hubungan dengan seorang pria saja ia belum merasakan.
“Goo Hye Sun-imnida” Minho sempat meringis mendengar nada suara Hye Sun yang sedikit sumbang dan serak. Setelah melepaskan jabat tangan mereka, Minho kembali menegur Hye Sun.
“Wajahmu—” Minho menyentuh pipinya sendiri seolah mewakili pertanyaannya pada Hye Sun. “Apa tidak apa-apa? Kau sepertinya kedinginan, Mianhamnida membuatmu menunggu lama” Hye Sun segera mengelus kedua pipinya yang bersemu. Membuat Minho sedikit gugup, nyatanya ia lebih cantik dipandang dengan jarak sedekat ini, batin Minho.
“Oh—” Hye Sun tersenyum menimpali. ”Anhi—Ghwenchanayo”
Mereka berjalan berdampingan di tepi sungai kecil sebagai salah satu pusat tempat wisata di daerah Seohya. Daerah ini memang cukup terkenal, selain taman Jungmyo yang utama. Adapun tempat rekreasi sekaligus tempat wisata alam yang kaya akan tanaman-tanaman panen, bahkan pengunjung disini bisa menanam tumbuhan yang dijual para pedagang di sepanjang kios-kios sederhana. Mereka biasa menanam bibit-bibit bunga yang mereka beli di tanah lapang luas yang dinamakan lahan cinta. Konyol memang kedengarannya, tak sedikit para pasangan yang mencoba menanam bibit di lahan cinta itu.
Sebab, konon katanya, barang siapa yang bibit bunganya tumbuh dilahan itu—niscaya mereka akan selalu bersama dan takkan terpisahkan. Banyak pula pasangan yang mendapati bibit bunga mereka tidak tumbuh, bahkan ada yang mencobanya berkali-kali biarpun sudah gagal. Makanya, jarang ada bunga yang tumbuh di lahan tersebut.
“Kau mau mencoba menanam bibit bunga juga?” Tanya Minho. Ia mencondongkan tubuhnya kearah Hye Sun ketika gadis itu sempat terdiam melihat segerembul pasangan tengah sibuk pada kegiatan mereka—menanam bibit bunga dilahan cinta.
“Ah—” Hye Sun mengalihkan pandangan pada Minho. Gadis itu sepertinya terlalu banyak berpikir, batinnya.
“Kacha!” Dengan mengulum senyum penuh maksud, minho segera meraih tangan Hye Sun dan membimbing jalan gadis itu ke salah satu kios kecil yang berada dihadapan mereka.
“Kau ingin bibit bunga apa?” Tanya Minho yang mulai memilih. Hye Sun cukup terkejut dengan prilaku pemuda disisinya ini. Dengan agak canggung ia pun berkata.
”Anggrek putih” Minho mengangguk dan langsung dipahami oleh penjual bibit tersebut. Mereka kini berada di ujung lahan yang terletak disudut. Minho mulai menggali tanah dengan skop kecil hingga membuat suatu lubang disana.
“Mmm—Minho-ssi” Panggil Hye Sun yang masih memegangi kantung plastik berisi bibit anggrek tersebut. Minho menoleh dan menghentikan kegiatannya.
“Ne?”
“Apa perlu kita melakukan hal ini?” Tanya Hye Sun. Minho nampak menundukkan kepala dan menggali lagi tanah lembab itu.
“Jika kita tidak perlu melakukannya, berikan alasanmu?” Sekarang Hye Sun mengernyitkan alis. Pemuda ini—kenapa ia yang balik bertanya.
“Pertama—” Hye Sun mulai menjawab. “Karena aku tidak percaya mitos itu. Kedua—aku juga tidak berpikir bahwa bibit bunga ini bisa tumbuh ditempat tertutup seperti ini. Dan ketiga—kita. . . Bukan sepasang kekasih” Minho hampir terjatuh mendengar alasan sempurna Hye Sun. Ia tertawa cukup keras dan membuat beberapa pasang mata mengawasinya dengan rasa ingin tahu.
“Biar kuberi alasan mengapa aku menyanggah jawabanmu” Ia mulai memandang Hye Sun penuh senyum.
“Jawaban pertama—aku juga tidak percaya, tapi apa salahnya bila kita mencoba. Jawaban kedua—bibit bunga memang tidak akan tumbuh di tempat tertutup, namun jika memang mitos itu benar—mungkin bibit ini akan segera tumbuh. Jawaban ketiga—” Hye Sun sedikit merona menanti perkataan yang akan terlontar dari bibir manis itu. Astaga, dia berpikir apa!? Bibir manis?
“Kita memang bukan sepasang kekasih. Namun—tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Mungkin kita bisa menjadi seperti itu”
“Boo?” Hye Sun memekik terkejut. Minho balas menertawai dan kini memberikan skop kecil itu pada Hye Sun. Namun ketika gadis itu akan meraihnya, Minho dengan kejailannya mulai melempar-lemparkan gumpulan tanah kecil dengan skopnya ke arah Hye Sun. Membuat gadis itu segera menjauh dan dicegah oleh Minho dengan menarik tangannya. Mereka melepas tawa cukup riang. Setelah bibit-bibit itu telah selesai ditanam. Minho menuliskan sesuatu dipapan kayu berukuran sedang.
“Lee dan Koo?” Tanya Hye Sun yang menyebut marga mereka masing-masing. Minho merespon dengan anggukan.
“Karena banyak pasangan yang menamakan bibit bunga mereka dengan singkatan nama. Jadi—aku rasa mungkin kau akan keberatan, untuk itu aku menggunakan marga kita saja” Hye Sun setuju dengan ucapan Minho. Mereka sama-sama tersenyum saat melihat sebuah gundukan tanah beserta papan bertuliskan nama marga mereka yang tadi Minho buat.
“Jika perkiraanku tidak salah—Mungkin tiga hari lagi sudah mulai tumbuh” Mereka mulai berjalan meninggalkan lahan itu. Hye Sun sedikit memperbaiki posisi tas selempangnya dan menatap Minho dengan raut wajah serius.
“Joungmal?”
“Ne—” Minho meyakini. “Untuk itu, aku bermaksud mengajakmu ketempat ini saat tiga hari tersebut telah berlalu, bagaimana menurutmu?” Minho awalnya sedikit takut jika ajakkannya itu akan ditolak Hye Sun. Tapi samar-samar, gadis lugu itu mulai mengangguk tanda menyetujui permintaannya. Tak sadar, Minho pun mulai menggenggam jemari tangan Hye Sun dan mengajaknya pergi dari tempat itu. Angin surga serasa bertiup ke arah wajahnya, berarti tiga hari lagi ia akan menghabiskan waktu bersama Hye Sun seperti ini, ah... sungguh menyenangkan.
***
“Jika boleh tahu—apa kau sering ketempat ini?” Hye Sun menyeruput lagi Bubble Gumnya sebelum menjawab pertanyaan Minho. Mereka kini duduk disalah satu bangku dan memandang Air mancur Deosi yang tak jauh dari tempat lahan tadi.
“Tidak juga. Sebenarnya hari dimana kau mengirim surat itu—aku sedang menunggu sahabatku untuk nonton film bersama”
“Oh—Begitu” Hye Sun mengangguk setelahnya. Ia menatap Minho yang hanya menggengam kopinya tanpa berniat menyentuhnya.
“Kau sendiri? Bukankah seharusnya berada di tempat kerja?” Ia balik bertanya. Minho tersenyum sebelum menjawab. Dan oh! Kenapa ia selalu tersenyum tampan seperti itu. Membuat aliran darah Hye Sun kini berdesir manakala Minho dengan cara perlahan menatap matanya. Ia pasti bermimpi berkencan dengan pria setampan ini.
“Kalau senggang, Aku selalu datang ketempat ini—tepatnya taman Jungmyo” Minho mulai menyesap kopinya sekarang. “Omong-omong—dari mana kau mendapat pikiran kalau aku ini karyawan?” Ia memang sebenarnya telah tertarik pada kalimat tanya Hye Sun yang terakhir.
“Hanya menduga, memangnya benar?”
“Kau benar sedikit—mungkin tepatnya hampir benar” Kini Ia melipat kedua tangan didada. Kopi yang tadi diesapnya sudah habis.
“Kenapa bisa begitu?” Hye Sun mencondangkan tubuhnya kearah Minho sekarang. Gadis ini sepertinya memang suka mengetahui hal-hal yang belum ia pahami. Gadis pintar, pikir Minho.
“Kuliahku sudah memasuki semester terakhir” Kata Minho kemudian. ”Kau sendiri bagaimana?”
“Baru memasuki semester kedua, Fakultas teknologi informasi”
Minho menyunggingkan senyum kecilnya. Lama mereka berdiam setelah pembeciraan itu, tiba-tiba Minho meraih pergelangan tangan Hye Sun lagi. Gadis itu sempat terkesiap dan menatap Minho—meminta penjelasan.
“Bersepeda diudara secerah ini, Kurasa sangat menyenangkan” Ucapnya penuh semangat. Sontak Hye Sun menganga lebar-lebar—Tidak! Bagaimana ini, dirinya tidak bisa bersepeda sama sekali. Aduh mati deh, kalau ketahuan Minho kan malu juga rasanya. Berusaha menarik lagi pergelangan tangannya, Hye Sun sampai harus mencengkram erat bagian bangku yang mereka singgahi dengan menggunakan salah satu tangannya.
“Minho—Tunggu!” Pintanya yang terkesan memohon. Minho yang sudah akan menariknya ke tempat penyewaan sepeda, terpaksa harus mengurungkannya.
“Ada apa?” Tanyanya khawatir. Hye Sun jadi gugup sendiri—bagaimana ini.
“Aku—” Katanya tersendat. Minho masih menunggu ucapan selanjutnya. ”Aku—tidak bisa bersepeda. . .” Pada kalimat terakhir nadanya begitu memelas. Lantas saja Minho tertawa kecil dan mengelus lembut poni yang menjuntai dikening Hye Sun. Membuat gadis itu bergerumuh menahan sesak pada bagian dadanya. Apa ini?
“Aigo—tak perlu setakut itu. Aku bisa mengajarkanmu bersepeda” Hye Sun menatap tak percaya, Minho dengan tampang meyakinkannya kini menuntun Hye Sun untuk berjalan ketempat penyewaan sepeda.
“Yya! Minho-ssi! Chakaman—jangan dilepas!” Hye Sun menjerit-jerit ketika mencoba mengayuh sepeda bewarna biru itu. Minho memegangi jok belakang sepeda untuk menopang bobot tubuh Hye Sun.
“Ya, terus seperti itu, Hye Sun. Kayuh lebih cepat lagi” Dengan sabarnya Minho memberi aba-aba. Mereka berada dijalur yang memang khusus melajukan kendaraan beroda dua tersebut. Hye Sun mulai sedikit paham dan tidak segugup saat pertama menaikki sepeda tadi. Perlahan-lahan Minho mulai melepas kedua tangannya dari jok belakang sepeda. Ia tersenyum cerah saat melihat Hye Sun yang masih menjalankan sepeda tanpa perlu bantuannya lagi.
“Minho. . . Minho-aaaaa!” Jeritan itu menjelma disusul suara gaduh setelahnya. Hye Sun kehilangan keseimbangan ketika mendapati Minho tak berada lagi di tempat dimana seharusnya ia berada. Kini dirinya harus berakhir menyedihkan di semak-semak yang terdapat disepanjang jalur sepeda. Minho segera membantu Hye Sun berdiri, dan memapahnya dengan hati-hati.
“Kau sungguh tidak apa-apa, Hye Sun?” Minho mencoba melirik Hye Sun yang kini berada di jok belakang. Seraya berusaha mengayuh sepeda dengan kaki panjangnya, Minho diam-diam menyesali perbuatannya tadi. Ia jadi tidak enak hati, Untung saja bidadari cantiknya itu tidak mengalami luka-luka. Hanya terdapat memar ringan di bagian tertentu saja.
“Mianhe, Hye Sun—” Walaupun samar karena terpaan angin. Hye Sun masih dapat mendengar suara Minho yang terdengar lain dari biasanya. Ia diam-diam tersenyum dan mulai melingkari pinggang Minho dengan kedua lengan.
“Ghwenchana, Minho-ssi” Mimpi apa Minho semalam. Ia tersendat dilumuri cairan panas di dalam hatinya. Ia ingin terbang sekarang—sungguh, sentuhan Hye Sun benar-benar memabukkannya. Benar-benar hari yang tiada tara. Mereka tertawa bersama-sama saat Minho menambah laju kecepatan sepedanya, membuat Hye Sun memejamkan kedua mata ketakutan—bersembunyi dibalik punggung kekar itu dan mendekap Minho semakin erat.
***
Ternyata pemandangan malam ditempat wisata ini lebih indah. Itu terbukti dengan fasilitas yang disediakan ditempat ini, para pengunjung bisa menikamati langit berpadu benda angkasa tersebut menggunakan teropong bintang. Minho tertawa kecil saat melihat Hye Sun yang melongo mencari salah satu bintang bersinar yang tadi dilihatnya.
“Tidak ketemu” Gumam Hye Sun kecewa. Minho lalu mengambil alih dan memutar arah teropongnya. Dimenti berganti, Ia tersenyum penuh arti seraya menatap Hye Sun yang masih berdiam.
“Coba lihat sekarang” Hye Sun menuruti ucapannya. Ia mulai meneropong kearah mana Minho tadi mencari benda angkasa itu. Ia membeku manakala bisa melihat bintang yang bersinar dengan jarak sedekat ini. Hye Sun tersendat dan menoleh kearah Minho.
“Itu indah sekali” Pujinya yang mulai mengamati lagi. Minho mengalihkan pandangan tanpa menghilangkan senyum yang terlukis diwajah tampannya.
“Ne, sama sepertimu” Hawa panas mulai menyelimuti keadaan disekeliling mereka. Hye Sun terpaku tak bisa berkata lebih banyak lagi. Lebih-lebih saat sebuah tangan menggenggam jemarinya. Ia melihat Minho yang kini tersenyum sambil memandang bintang-bintang dilangit malam itu. Tak sadar—ia pun turut tersenyum tipis.
Mereka keluar dari area Seohya dan memasuki kawasan taman Jungmyo. Tepat dibangku taman saat pertama kali mereka bertemu—Minho menghentikan langkahnya tanpa berniat melepas genggaman tangannya pada jemari Hye Sun. Kini mereka berdiri berhadapan.
“Tiga hari lagi—temui aku ditempat ini” Itulah kalimat terakhir sebelum mereka benar-benar berpisah. Hye Sun masih terpanah dan duduk dibangku taman dengan rasa berjuta. Senyum tak pernah lepas dari pipinya manakala mengingat hari terindah ini bersama Minho. Apa ini—sekali seumur hidupnya ia baru kali pertama merasakan hal seperti ini. Sensasi bahagia bersama dengan debaran jantung yang terus datang tanpa permisi. Hye Sun benar-benar tidak tahu.
Setelah berusaha keluar dari pintu masuk taman Jungmyo, tergesa-gesa ia berlari menghampiri mobil sang Ayah yang sudah terparkir melintang didepannya. Pandangan Hye Sun menilik saat melihat sekumpulan para petugas dan beberapa pejalan kaki disana tengah menyaksikan kejadian kecelakaan. Sirine mobil ambulan memenuhi suara disana. Hye Sun diliputi perasaan gelap—setengah dari hatinya ikut berdegup. Ada apa ini? Saat hendak akan menghampiri tempat kejadian itu, sang Ayah telah memanggilnya dari dalam mobil.
“Hye Sun-aa, cepatlah. Ibumu menunggu dirumah” Hye Sun mulai berjalan memasuki mobil mewah tersebut. Dilihatnya ambulan tadi sudah menghilang dari tempat. Hye Sun menahan nafas terengah ketika menutup pintu mobil.
“Sun-aa sayang, Kau tak apa?” Panggil sang Ayah yang mulai merasakan gelagat aneh dari putrinya. Setelah memasang seat belt, Hye Sun perlahan menggeleng lemah dan terus menatap kearah dimana kejadian kecelakaan itu berada.
***
9 November 2011
Hye Sun sibuk membaca proposal-proposal tentang kegiatan perusahaan Lee's Group bersama perusahaan pengembang asing. Hari ini sesuai perintah sang Ayah, ia diharuskan memberi keterangan tentang perkembangan teknologi informatika yang akan menjadi salah satu produk Lee's group dikancah negeri asing. Aneh memang, sebab perusahaan ayahnya tidak meraup keuntungan sama sekali dari tender besar ini, tapi mengapa dirinya—yang notabenennya sebagai bagian dari Korean Group harus di ikut sertakan?
Memang sang ayah sempat bercerita, jika CEO petinggi diperusahaan ini adalah sahabat karibnya dimasa lalu. Mungkin sebab itulah yang menuntunnya untuk berada ditempat ini.
Pintu ruangan dibuka. Hye Sun segera memperbaiki posisi duduknya saat melihat salah satu pemuda datang bersama Ajudannya.
“Selamat siang, Nona muda Goo” Sapa pria bewarna rambut coklat yang kini membungkukan badan dihadapannya. Hye Sun tersenyum sekilas kemudian membalas.
“Selamat siang—” Katanya kemudian. ”Tolong panggil saja Hye Sun-ssi, tidak perlu seformal itu”
Lelaki tadi mengangguk dan mulai berbicara dengan pria tengah baya dibelakangnya. Hye Sun hanya terdiam sambil menunggu rekannya itu menyelesaikan pembicaraannya.
“Presdir akan tiba lima menit lagi. Mungkin saat ini dia masih berada di Lobby” Tuturnya. Jadi bukan dia—Presdir muda berbakat seperti yang dibilang Appa, Batin Hye Sun.
Ia mengangguk menimpali ucapan tadi. Dimenit berganti, suara pintu terdengar dibuka lagi. Itu pasti Presdir Lee's Group. Hye Sun segera beranjak dari tempat. Ia hendak membungkukan badan saat melihat sosok yang berada dihadapannya saat ini, Namun—
“Minho—” Bisiknya samar. Lelaki yang merasa namanya disebut itu, kini memandang Hye Sun dengan alis menyatu.
“Kau mengenalku?” Orang yang dipanggil Minho tadi mulai mendekat kearahnya. Mereka bertemu pandang sekarang. Bagaimana ia tidak mengenalnya!? Dia adalah Minho—pemuda yang mengencaninya satu tahun silam. Bagaimana mungkin Hye Sun tidak mengenalnya. Ia masih terhanyut dalam pikirannya, sampai sesuatu menjalar dibagian otaknya dan membuat kesadarannya kembali utuh.
“Oh—” Ia tersenyum canggung seraya menyelipkan beberapa helai rambut ke belakang daun telinganya. “Saya hanya mengetahui nama anda dari Appa” Dusta Hye Sun. Tak bisa dipungkiri jika saat ini gejolak pedih telah bersarang disekujur tubuhnya. Bagaimana bisa Minho tidak mengenalinya? Ini mustahil.
Apakah ia sengaja berpura-pura seperti itu karena menjaga reputasinya sebagai Presdir? Berbagai macam pikiran negatif perlahan masuk kedalam otaknya. Rasanya hampir sama saat Minho tidak menepati janji tiga hari itu.
Ya—Hye Sun pergi ketaman Jungmyo dimana ia dan Minho akan kembali bertemu seusai tiga hari yang mereka sepakati. Namun—apa yang didapatinya? Minho tidak hadir disana, berulang kali Hye Sun mencoba menghubungi ponsel Minho, tapi nomor pemuda itu sudah dinon-aktifkan.
Selama setahun ini mungkin sedikit membekas. Namun dengan perlahan Hye Sun mencoba melupakannya. Berpikir—mungkin ini hanya kesenagan semata yang Tuhan berikan. Ditengah hidupnya yang hanya berisi kekosongan, Tuhan mencoba memberikan kebahagiannya dalam satu hari—disaat satu tahun itu telah berlalu. Dan kini, apa makna dibalik semua ini? Ia dipertemukan lagi dengan Minho yang tidak mengenali dirinya sama sekali? Rasanya beberapa bagian tubuh seperti terkoyak dari tempatnya. Mungkin Minho bisa bersikap sewajarnya, tapi untuk dirinya? Apakah semudah membalikan telapak tangan. Ia wanita—Minho harus tahu jika wanita lebih peka perasaannya terhadap hal-hal yang dialaminya.
“Bisa kita lanjutkan, Hye Sun-ssi?” Hyun Joong—Asisten pribadi Minho, kini mencoba menegur Hye Sun ditengah lamunan gadis itu. Membuat Hye Sun sedikit linglung saat menjelaskan suatu pokok bahasan didepan layar monitor. Ia benar-benar tidak bisa membagi konsentarasinya dengan baik saat ini. Hye Sun menghela nafas jengah.
Minho yang sedari tadi hanya diam dan duduk tepat disisi gadis itu, kini mulai angkat bicara. Ia mengalihkan pandangan pada Hyun Joong.
“Hyun Joong-aa, mungkin Hye Sun-ssi merasa lelah. Ia sudah membahas lima dari pembahasan topik yang kita punya. Jadi kurasa, biarkan ia beristirahat sejenak” Minho menasehati. Hyun
Joong mengangguk dan mengambil tempat disebelah ajudan Kim. Mereka nampak menyiapkan file-file berisi masalah proyek tersebut.
Hye Sun memutar otaknya sekarang. Ia tidak mungkin terus berada didalam kekalutan seperti ini. Ia harus tahu—penyebab apa yang membuat Minho tidak menepati janjinya, dan juga tentang semua kepura-puraan ini! Ia butuh penjelasan dari pemuda itu.
“Oh ya—Omong-omong, sudah berapa lama kau bekerja di perusahaan Tuan Goo, Hye Sun-ssi?” Minho bertanya dan membuat Hye Sun semakin beringsut dari tempat duduknya. Pandai sekali pemuda ini bersandiwara.
“Lima bulan yang lalu” Jawabnya singkat. Minho mengangguk pelan kemudian bergelut pada ponselnya. Hye Sun cukup tersentak, sebab ponsel itu berbeda dengan milik Minho sebelumnya. Mungkin ia sengaja menggantinya, pikir Hye Sun.
“Emmh—Minho-ssi” Hye Sun mulai memanggilnya dengan ragu-ragu. Minho menoleh dan segera balas menatap Hye Sun, namun gadis itu hanya menundukkan kepala.
“Apakah kau tahu—mungkin, daerah disekitar taman Jungmyo bisa menjadi lahan untuk tendermu ini” Hye Sun memancingnya. Saat yang tepat untuk melihat raut muka Minho ketika mendengar nama tempat dimana mereka pernah bertemu. Pemuda itu masih berpikir keras, dengan mengangkat bahu ia mulai menjawab pertanyaan Hye Sun.
“Taman Jungmyo?” Ulang Minho dengan penuh tanya. “Dimana tempat itu?” Hye Sun terkesiap sepenuhnya. Apa benar Minho tidak sedikit pun mengingat semua kenangan mereka. Tapi, bagaimana bisa? Atas dasar apa semua ini terjadi?
“Minho-ssi” Matanya agak berkaca. Hye Sun tercekik saat mendengar nada suaranya yang begitu menahan isak tangis.
“Hye Sun—” Minho hendak menegur gadis itu saat dirasanya raut muka Hye Sun telah berubah menjadi sendu dengan mata berkaca seperti itu.
“Jawab aku, Minho-ssi” Ia sudah tak peduli. Apa yang dipikirkan Minho dalam benaknya, Hye Sun benar-benat tak peduli. Ia butuh kejelasan—bukan sandiwara seperti ini.
“Pernahkah kita saling mengenal?” Tanyanya bersungguh-sungguh membuat Minho terpaku. Mengenal? Satu nalarnya mulai menjalar. Saat dimana ia mendengar taman Jungmyo tadi sebenarnya bagian-bagian dari otaknya mulai mengerut dan ia merasa pening. Sebenarnya, apa yang telah terjadi?
“Maaf Nona, tapi Presdir—” Sebuah suara gaduh berasal dari bibir pintu saat Minho hendak membuka suara untuk menjawab pertanyaan Hye Sun. Seorang sekertaris beserta wanita tinggi semampai dengan dandanan glamour telah menjulang dihadapan Minho.
“Sayang—” Rengek gadis itu sambil melingkari lengannya pada leher Minho. Meletakkan wajahnya tepat diatas bahu pemuda itu. ”Kau kenapa sih tidak menjawab panggilanku tadi? Aku kan minta ditemani membeli cincin pertunangan kita” Eun Hye berucap dengan sangat rewel. Membuat telinga Minho serasa dihinggapi sesuatu yang menyengat.
“Eun Hye-aa, berhenti seperti ini” Minho mulai melepas kungkungan tangan itu. Ia sempat melirik Hye Sun yang kini memandangnya dengan nanar. Melihat itu—lantas saja membuat Minho gelisah, entah disebabkan karena apa. Hanya saja ia merasa malu dan tidak ingin Hye Sun melihat adegannya bersama Eun Hye.
“Maaf Presdir, Nona Yoon memaksa masuk” Sekertaris itu berusaha membela diri dan diberi komentar cibiran dari Eun Hye. Minho mengangguk seakan mengerti dan menyuruh sekertaris itu untuk meninggalkan ruangan ini.
Cukup sudah! Ini lebih dari sekadar penjelasan dari mulut Minho sendiri. Dengan mengumpulkan sisa-sisa kekuatan, Hye Sun mulai beranjak dari tempatnya. Ia meraih tas buatan itali dan langsung menjinjingnya. Langkah kaki berdetak memenuhi ruangan tersebut, Minho ikut-ikutan berdiri—masih tak percaya dengan tindakkan yang Hye Sun beri. Mengapa hatinya sesakit ini? Minho mulai berpikir. Tiba-tiba saja kepalanya terasa berdenyut nyeri. Hyun Joong dan Ajudan Kim segera menghampiri Minho saat pemuda itu tengah meringis memegangi bagian kepalanya yang terasa sakit.
***
Hye Sun berlari secepat mungkin menuju ruang kamarnya. Tergesa-gesa dengan masih menangis, ia mencoba berjinjit—mengambil sebuah koper besar di bagian laci lemari paling atas. Ia harus meninggalkan tempat ini segera! Tidak mungkin ia akan sanggup bertatap muka lagi dengan Minho setalah kejadian tadi. Semua terlalu menyakitkan untuknya. Jika memang Minho ingin mempermainkannya, bukan seperti ini caranya! Setelah selesai berkemas, Ia menyeret kopernya keluar dari ruangan itu. Ia bertekad untuk pergi—bahkan jika orang tuanya pun tidak mengizinkan, Hye Sun akan pergi dari Seoul tanpa perlu menunggu kehendak mereka.
Sementara itu ditempat lain, Minho terbaring lemah diruang kamarnya. Kejadian tadi siang cukup membuat kepalanya terasa penat seperti dihantam palu godam. Hye Sun—kenapa hanya gadis itu yang berada di dalam pikiranya hingga kini. Minho mengingat-ingat lagi kejadian saat dimana ia kali pertama bertemu dengan Hye Sun dikantor tadi. Otaknya bekerja keras, mengulang berbagai ingatan-ingatan yang pernah ia miliki. Mata yang semenjak tadi terpejam akibat menahan rasa pening itu—kini terbuka dengan lebar.
Apakah ia pernah mengenal Hye Sun sebelum kecelakaan sialan itu merenggut semua ingatannya? Apakah selama ini pengisi dari jiwanya yang hampa itu adalah Hye Sun? Dan Apakah di dalam kehidupan sebelumnya Ia pernah mencintai Hye Sun? Minho berusaha beranjak dari tempatnya, mengambil ponsel yang sudah sedikit hancur pada bagian tertentu didalam bupet lemari. Untunglah alat komunikasi itu masih bisa menyala. Dengan segera ia mulai menggerakkan layar sentuh tersebut, mencari sesuatu disana. Dan—
Tenggorokkan Minho mulai tercekat. Ia mengedipkan mata berulang kali, masih belum mempercayai jika diantara foto-fotonya, terdapat foto Hye Sun seorang diri yang tengah tersenyum tanpa memandang kearah kamera ponselnya. Min Ho mulai membuka menu rincian dan tertulis disana jika gambar itu diambil tepat pada bulan November tahun 2010. Ia membeku—mengapa ingatannya belum kembali pulih! Ia membutuhkannya sekarang, Minho perlu kejelasan dari semua kejadian ini.
Tiba-tiba saja rasa sakit itu kembali menyerang bagian kepalanya. Tubuhnya bertumpu pada bibir ranjang. Minho terjatuh saat merasakan sakit berkali lipat dari sebelumnya. Berusaha sekuat tenaga, Namun sia-sia. Minho jatuh pingsan didetik terakhir saat ia berusah membuka suara, meminta pertolongan.
***
Hujan mulai mengguyur pusat Seoul sore itu. Awan kelabu berpancar dilangit redup. Matahari tak nampak dan sinarnya telah redup. Hye Sun masih memegangi payungnya, duduk seorang diri dibangku taman Jungmyo. Pandangannya kosong, menatap hamparan luas yang kini tak berpenghuni. Selama ini ia menetap di Busan. Usai kejadian pahit yang dialaminya saat bertemu Minho, ia memang benar-benar melenyapkan diri. Kau pikir sesakit apa rasanya dicampakkan—bahkan sekali pun dengan seseorang yang baru pertama kali kau kenal? Sekeras hati ia berusaha melupakan kejadian dimana Minho pernah mengusik hidupnya—Namun mengapa sesulit ini rasanya? Mengapa sepedih ini?
“Hye Sun—” Suara gelap mendominasi rintik hujan tersebut. Hye Sun menoleh masih dengan keterbungkaman. Sosok Minho kini berdiri menjulang dihadapannya. Hampir seluruh tubuhnya basah kuyup akibat siraman air hujan. Ia tidak menggunakan pelindung apapun saat air dari bumi itu hendak turun. Hye Sun mulai terbiasa. Ia persis seperti robot yang sudah terkontrol, tak ada gelagat kesedihan maupun keterkejutan, ia hanya menunjukkan raut muka tanpa ekspresi dan mengalihkan pandangan kearah lain.
“Jangan mengusikku” Perkataan itu membuat Minho membujur kaku. Jangan mengusik? Bukankah ia yang seharusnya berkata seperti itu, sebab kejadian dimana saat ia terakhir kali bertemu Hye Sun, tak taukah jika hari itu Jiwa dan raganya telah diusik sosok wanita yang kini berada dihadapannya?
“Hye Sun, dengarkan aku—aku bisa jelaskan kesalah pahaman ini. Aku bisa menceritakan kejadian setelah kita berkencan saat itu—”
Hye Sun langsung menilik tajam. Ia berdiri dari tempatnya dan segera mengayunkan sebelah tangan untuk menampar pipi mulus Minho. Hingga pemuda itu terdiam, menjalari rasa panas akibat sentuhan kasar yang Hye Sun beri. Gadis itu mulai terisak, Minho kini dapat melihat sepasang mata indah Hye Sun tengah memerah. Dadanya dihantam sesuatu yang keras manakala Hye Sun mengatupkan bibir rapat mencoba menahan tangis.
“Seperti apa dirimu yang sebenarnya?” Hye Sun tersendat dalam buliran air mata yang mengalir dipipi. Hujan mulai membasahinya. “Apakah kau pikir ini lucu!—Ditahun yang berbeda sikapmu selalu berubah-ubah seperti ini terhadapku! Dipertemuan pertama kau mengukir kenangan begitu indah, kau berbicara layaknya memang kita ditakdirkan untuk bersama—” Hye Sun mulai terisak menghapus air yang hendak keluar lagi dari sudut matanya.
“Lalu, dipertemuan kedua kau berikanku sebuah kenyataan pahit—Menjerumuskan diriku sendiri untuk tidak mengenalmu, seperti kau yang seolah tidak pernah mengenalku sama sekali. Dan kini, dipertemuan ketiga, kau hadir seolah mengetahui dengan benar kejadian-kejadian saat kita pertama kali bertemu. Apakah ini lucu!?” Habis sudah perasaannya saat segala pertanyaan besar yang sudah sekian lama ia pendam, kini terpapar dihadapan Minho.
“Dan dipertemuan-pertemuan kita yang akan datang, hanya ada sebuah luka. . . Begitukah?” Hye Sun masih menangis dan terisak, ia menatap Minho dengan kepedihan—sama seperti hatinya yang selama ini disinggahi rajam menyakitkan.
“Aku merindukanmu, Minho. . . Aku merindukanmu—”
Sekarang ucapan yang dilontarkan Hye Sun membuat Jantung Minho berdegup tak terkendali. Penuturan jelas dari gadis itu perlahan menghantarkan tubuh kekarnya untuk mendekat kearah Hye Sun. Didekapnya bahu—dimana bagian tubuh ini yang nampak bergetar kuat akibat isak tangis Hye Sun. Minho memeluk tubuh mungil itu dengan erat—ia mencintai gadis ini, gadis yang pertama kali ditemukannya pada tanggal sembilan november, dua tahun yang lalu—ditempat ini, ditaman Jungmyo. Gadis dengan paras ayu dan senyuman memikat hati, gadis itu adalah Goo Hye Sun.
“Mianhe—” Bisik Minho seraya mengecup puncuk kepala Hye Sun dengan sayang.
“Aku mencintaimu, Minho—Aku benci karena harus menghadapi kenyataan saat dimana, hatiku telah terpaut begitu jauh bersamamu—Aku mencintaimu” Minho mulai melepaskan pelukannya. Ia menatap mata Hye Sun yang kini meredup, tak nampak ingin melihatnya. Minho meraih tengkuk gadis itu, dengan satu gerakan ia mengecup bibir ranum milik Hye Sun dengan bibirnya. Membuat mata indah itu membelak tak percaya. Minho kemudian perlahan melepaskan ciuman mereka, memandang Hye Sun dengan segenap hatinya. Ia tersenyum dang mulai megusap sebelah pipi merona Hye Sun dengan ibu jarinya.
“Saranghe—” Setelah itu mereka berpelukan lagi. Minho menjelaskan kejadian yang dialaminya selama ini setelah kecelakaan maut tersebut merenggut semua ingatannya—kecelakaan yang dialaminya setelah mereka berpisah ditaman Jungmyo malam itu. Dan tentang perjodohan yang dijalankan kedua orang tuanya, saat terakhir kali dirinya bertemu Hye Sun di kantor Lee's Group—ia segera membatalkan perjodohannya bersama Eun Hye.
Mereka berjalan dengan Minho yang mengunci lengannya dibahu Hye Sun. Malam telah menjelma di daerah Seohya. Mereka berjalan dengan hati-hati saat menginjak tanah yang sedikit basah akibat guyuran hujan. Tiba dimana mereka berada di lahan cinta, Hye Sun termangu di susul Minho yang masih tersenyum sumringah, menuntunnya ketempat dimana Bibit bunga anggrek yang dulu mereka tanam dengan bertuliskan papan nama Lee dan Koo. Hye Sun semakin terpukau saat melihat Bunga-bunga Anggrek tersebut tumbuh dengan cantik. Warna yang indah dan juga bentuk yang manakala orang melihat, pasti ingin memilikinya.
“Aku merawatnya selama ini” Papar Minho yang kini membuat kesadaran Hye Sun kembali utuh. Tunggu sebentar—jika bunga ini tumbuh dilahan cinta, itu berarti. . .
“Tanggal berapa sekarang?” Minho tiba-tiba bertanya, membuat Hye Sun berpandang tak mengerti.
“Delapan november” Jawab Hye Sun. Minho mulai meyatukan alisnya dan nampak berpikir keras. “Ada apa?” Hye Sun mulai khawatir saat dirasa Minho semakin tenggelam dalam pikirannya.
“Ini aneh—biasanya kita bertemu tepat disaat tanggal sembilan november” benarkah? Jadi disaat pertemuan-pertemuan mereka, tepat jatuh ditanggal yang sama? Ia tidak pernah tahu jika Minho mengingat pertemuan mereka sampai sebegitu detailnya.
***
9 November 2012
Hye Sun menghela nafas pelan saat mendengar alunan lagu dari suara headset bewarna putih miliknya. Ia duduk terpaku menatap beberapa orang yang berlalu-lalang dari hadapannya. Hari ini Minho menyuruhnya menunggu di tempat seperti biasa—ditaman Jungmyo. Hye Sun tersenyum manakala melihat warna-warni balon yang dihempaskan sekumpulan makhluk-makhluk kecil yang tengah berdecak kagum. Ia mengalihkan pandangan saat sebuah tangan terulur kearahnya, Minho telah berdiri disana dan tersenyum tampan—sangat tampan sampai dirasa degupan jantungnya mulai berdetak cepat.
Hye Sun melepaskan headset dari telinganya. Ia berdiri menghampiri Minho dan membalas uluran tangan pemuda itu dengan perlahan. Mereka saling tersenyum, kejadian dimana kali pertama mereka berkencan seperti ini terasa memenuhi memori dibagian otaknya.
“Namaku Lee Min Ho dan—Maukah kau menikah denganku?” Hye Sun menatap Minho, kemudiam menatap jemarinya yang telah menyemat pada tangan Minho, ia menatap Minho lagi, kemudian mengangguk bersama isak tangis. Hanya Minho yang kini berada ditempat paling dalam dari hatinya—Hanya Minho yang bersemayam selama-lamanya disana.
--- THE END ---