Author Topic: My Job Is... your Job...?!?!? (Chapter 8) 1st February 2013  (Read 9611 times)

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
 Chapter 7


“Joo ri sayang… apa kau senang pergi berlibur dengan appa dan omma…”ujar seorang laki-laki sambil mengalihkan pandangannya sesekali dari hadapannya kearah seorang anak kecil yang duduk di jok belakang mobil.

“ne appa… Joo ri senang sekali…”

“ha ha ha ha ha…”laki-laki itu kembali tertawa keras, menatap jalanan yang berliku dihadapannya.

“sudah lama bukan appa tidak mengajakmu keluar… dan sekarang, benar-benar hari keberuntunganmu…”

“ehm!!”Joo ri menganggukkan kepalanya penuh semangat yang kemudian menjulurkan kepalanya di tengah, diantara sang ayah dan ibunya “omma…”ujar Joo ri yang kemudian mengecup pipi sang ibu.

“auuushhh… bagaimana dengan appa…”ujar sang ayah yang merasa iri dengan perlakuan Joo ri pada ibunya

“baiklah… apa juga…”ujar Joo ri yang kemudian mendekatkan wajahnya pada sang appa, dan sang appa juga perlahan mulai mendekatkan wajahnya kearah Joo ri, memejamkana kedua matanya, merasakan ciuman anaknya di pipinya.

“Joo ri ku benar-benar…”

“AWAS!!!”seru ibu Joo ri tiba-tiba menghentikan kalimat sang ayah. Dengan cepat pula ayah Joo ri membanting setirnya ke kanan kearah jurang yang kemudian membawa mobil yang mereka naiki terjatuh dari tebing dan berada tepat di tengah jalan di bawah mereka dimana tak lama sebuah truk melaju kencang dan menabrak mobil ketiganya hingga mobil ketiganya terjatuh kedalam jurang.

Tidak ada tanda-tanda kehidupan dari ketiganya, hanya percikan api kecil yang terlhat dari mesin mobil yang telah rusak, hingga tak lama terdengar suara tangisan seorang perempuan kecil diantara tubuh sang ibu dan ayah.

“omma…”panggil Joo ri kemudian, menatap sang ibu yang berada diatas tubuhnya, bersimbah darah. “Joo ri sa..saya..ng… ka..kau ba..baik-baik sa..ja…”ujar sang ibu lemah.

“omma…!!”panggil Joo ri lagi. Sang ibu terlihat tersenyum menatap Joo ri, mengecup dahinya sesaat sebelum akhirnya ibu Joo ri menghembuskan napasnya.

“omma…!! Appa!! Banguuuunnn… banguuuunnnn…!! jangan tinggalkan Joo ri sendiri… jangan tinggalkan Joo ri… aku mohon…” ujar Joo ri, menatap sepasang tubuh dihadapannya yang tergolek lemah, tidak bernyawa. “ommmaaa…”panggil Joo ri lagi, sambil mengguncang tubuh sang ibu yang terlihat mendekapnya

“appa!!! Omma!!! Banguuuunnnnn…!!”seru Joo ri


Joo ri terdiam ditempatnya, menatap kosong hadapannya dan kemudian pandangannya teralih pada bagian tubuh yang ditekannya kuat. Rasa sakit mulai meraja di tubuhnya, darah segar perlahan mulai mengalir turun, menembus gaun putihnya dan tangan yang menutupinya.

Joo ri menundukkan kepalanya, dengan pandangan terkejut, ia mengangkat tangannya dan sangat jelas di matanya darah segar ditangannya. Air mata mulai turun. Air mata atas rasa sakit yang ditahannya. Tubuhnya perlahan oleng dan kakinya mulai tidak kuat menahan tubuhnya yang kini mulai mati rasa, Joo ri tidak dapat merasakan tubuhnya lagi. Ia terjatuh.

“Joo ri!! Joo ri!! JOO RI!!”seru seseorang tiba-tiba, ah… seseorang… Joo ri mendengar suara yang berbeda kini, siapa… Seseorang yang lain terdengar samar memanggilnya “JOO RI!!! Joo ri…” namun panggilan yang kedua terdengar melemah, tidak sekuat panggilan orang pertama.

“Joo ri… Joo ri…” dan Joo ri tidak mampu mendengar apapun lagi setelahnya

“om…mma… app…appa…”ujar Joo ri terbata dan mulai melemah, kemudian segalanya gelap. Joo ri tidak dapat mendengar apapun dan tidak dapat melihat apapun lagi

*********

Joo ri memnbuka matanya perlahan, dan cahaya putih langusng menyinarinya, menyilaukan kedua penglihatannya.

“Joo ri…nak…”panggil seseorang tiba-tiba, menatap Joo ri yang masih belum mampu membuka matanya lebar-lebar, menatap siluet yang membelakangi cahaya, namun Joo ri mengenal suaranya “…appa…”panggil Joo ri terdengar lemah.

“OMMA!!! APPA!!!”seru Joo ri yang tiba-tiba bangkit dari tidurnya, dengan napas yang memburu.

“gwenchana…?”tanya seseorang tiba-tiba, menatap Joo ri, dan duduk di dekatnya.

“apa yang terjadi…? Dimana aku…”ujar Joo ri yang terlihat menyapu ruangan yang ditempatinya.

“apa kau baik-baik saja…?”

Joo ri mengalihkan pandangannya menatap seseorang yang duduk dihadapannya. “dimana…?”

“kau berada dirumah sakit… semuanya sudah baik sekarang…”

Joo ri menatap laki-laki dihadapannya, sambil mencoba menenangkan dirinya. “apa yang terjadi…? Bagaimana dengan Yong Jun… apa dia baik-baik… AKHHH!!!”

“auusshhhhh… minum ini…”ujar Luke, yang kemudian memberikan segelas air putih pada Joo ri yang segera setelahnya Joo ri meminumnya.

Joo ri menatap Luke sesaat “apa kau baik-baik saja… dimana Yong Jun”

“apa yang terjadi…?”tanya Joo ri lagi, menatap Luke yang terlihat duduk di hadapan Joo ri, menatapnya tajam, diam. “kenapa kau pergi tanpa senjata…?”tanya Luke, dengan nada menginterogerasi.

Joo ri diam, menekan kepalanya yang masih terasa berdenyut kemudian memalingkan wajahnya menatap Luke “…aku…” Joo ri menghentikan kalimatnya sesaat “…dimana Yong jun…? dimana dia…? Apa dia baik-baik saja…?”tanya Joo ri menatap Luke penasaran.

“ck ck ck… kau ini…” ujar Luke, menatap kesal Joo ri sesaat kemudian memalingkan wajahnya, menahan rasa kesalnya “…tenanglah… sejauh yang aku tahu dia baik-baik saja… hanya beberapa luka lecet ditubuhnya…”



 Luke terlihat bangkit dari tempatnya, menghembuskan napasnya “setelah kau melakukan perlawanan tanpa senjata… seseorang melemparkan bom kearahmu… untung saja Joon…” Luke menghentikan ucapannya tiba-tiba, menatap Joo ri sesaat kemudian mengalihkan pandangannya dan berdeham keras “…untung saja aku dan yang lainnya datang tepat pada waktunya…”ujar luke,

"namun ledakan bom itu membuat kalian berdua terlempar jauh dan membuatmu terbentur…”ujar Luke sambil menunjukkan luka dikepala Joo ri yang sudah dibalut dengan perban.

Joo ri menyentuh kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit “aduuhh…”

“istirahatlah…”ujar Luke

“ahni… aku ingin bertemu dengan Harabo…” Joo ri menghentikan kalimatnya tiba-tiba menatap Luke dihadapannya dan Yong jun bergantian, kemudian dengan cepat memalingkan wajahnya “…ehem! Maksudku Jenderal Lee…”ralat Joo ri.

“tapi…”

“istirahatlah…”tambah Luke lagi, yang kini terlihat menatap Joo ri dengan tatapan memaksa dan tidak bisa dibantah.

Joo ri tidak mendengarkan ucapan Luke dan perlahan bangkit dari tempatnya, menahan rasa sakit dikepalanya, namun ketika akan bangkit dari ranjangnya tiba-tiba Luke menarik lengan Joo ri, dan melemparnya jatuh kembali ke ranjang. Joo ri diam, menatap kesal Luke.

“apa masalahmu…”seru Joo ri kesal, menatap Luke marah

“aku bilang istirahat… apa kau tidak mendengarku…?”

“tapi aku…”

“auuushhh… sudahlah… kau hanya harus istirahat… biarkan tubuhmu memperbaiki dirinya… jangan memaksa… sudah tidur…”ujar Luke lagi.

Joo ri diam, menatap Luke, kemudian segera menyelimuti dirinya, hingga menutupi wajahnya.Ia benar-benar kesal gengannya.

***********

“apa anak itu sudah membaik Letnan Kang…?”

“ne.. dia sudah membaik…”

“dan bagaimana dengan Luke dan Yong jun…?”

“Luke masih bersama dengan Joo ri pak… apa kau ingin bertemu dengannya dan…?” tanya Letnan Kang menghentikan ucapannya, seakan tidak ingin mengucapkan apapun dan siapapun yang akan diucapkannya. Letjen kang menatap Jenderal Lee menunggu, dan belum sempat Jenderal Lee menjawabnya, seseorang mengetuk pintu ruangan tersebut. Jenderal Lee diam, menatap LetJen Kang, dengan tatapan bertanya.

“masuk…”seru LetJen Kang akhirnya yang kemudian pintu dihadapannya mulai terbuka, dan seseorang melangkah masuk kedalam ruangan itu. Jenderal Lee menatap laki-laki itu yang mengangkat sebelah tangannya memberi hormat khas tentara sebelum kemudian membungkukkan tubuhnya sedikit, untuk menghormati atasannya yang juga lebih tua.

“ahhh… kau…”ujar Jenderal Lee, menatap tersenyum orang itu.

“ada apa…?”tanya LetJen Kang, langsung

Mendengar pertanyaan LetJen Kang orang itu terlihat mulai serius dan mengambil berkas yang terselip dilengannya kemudian menyerahkannya pada LetJen Kang yang berdiri tak jauh dari orang itu.

“apa ini…?”tanya LetJen Kang, menatap berkas itu.

“…semua data yang anda minta tuan… saya sudah mencari tahu semuanya…”ujar orang itu

“bagus… kau sudah banyak berkorban disini…”

“ini…”ujar LetJen Kang yang kemudian menyerahkan berkas itu pada Jenderal Lee. “sudah menjadi tugas saya pak…”tambah orang itu, mendengar pujian dari Jenderal Lee.

Orang itu terlihat diam ditempatnya, menatap LetJen Kang dan Jenderal Lee yang masih berusaha menghayati laporan yang dibawanya. Ia terlihat berpikir keras “…tapi pak…”panggil orang itu, membuat Jenderal Lee dan LetJen Kang mengalihkan pandangannya. “ada apa…”tanya Jenderal Lee, menatap orang itu

“aku ingin minta waktu lagi…”

“untuk apa…”

“ada sesuatu yang masih misterius yang membutuhkan penyelidikan lagi… jadi aku minta sedikit waktu untuk lebih mengerti semuanya…”

“lalu…”

“ne…” orang itu menghentikan ucapannya sesaat, mengingat setiap ucapannya dan orang-orang yang –mungkin- dia anggap bertanggung jawab untuk semua yng terjadi pada Lee Joo ri. Tapi ia masih belum dapat melakukannya, ia masih belum punya banyak bukti yang cukup. Dan untuk mendapatkan bukti-bukti itu, ia hanya harus melanjutkan apa yang sudah ia kerjakan selama 2 tahun ini. Orang itu menghela napas panjang.

“ada apa…?”tanya Jenderal Lee, menatap orang itu.

“…aku minta waktu dan juga ijin anda untuk memberiku kebebasan dalam melakukan tugasku…”

Jenderal Lee dan LetJen Kang terdiam sesaat ditempatnya, memikirkan ucapan laki-laki dihadapan mereka berdua, hingga akhirnya sebuah kalimat meluncur keluar dari mulut LetJen Kang “…apa maksudmu dengan…”Jenderal Lee menghentikan kalimatnya sesaat, menatap laki-laki dihadapannya penuh selidik.

***********

Malam mulai hadir. Bulan dan bintang kembali melakukan tugasnya dengan berada di posisi mereka masing-masing, namun tidak dengan seseorang yang terlihat diam, menatap seseorang yang terlelap dihadapannya. Menjaga, menunggu.

“mianhe…”ujarnya lirih tidak ingin membangunkan seseorang yang terlelap di hadapannya.

Orang itu mendesah perlahan, mengangkat tangannya untuk mengusap lembut keningnya.

“jangan sakit…”ujar orang itu lagi “aku benar-benar tidak bisa menjagamu dengan baik…”tambahnya yang kemudian terdengar helaan panjang sebelum akhirnya orang itu berbalik, melangkah untuk pergi, namun sesuatu menghentikan langkahnya, seseorang menggenggam tangannya, mencegahnya untuk pergi.

Orang itu menatapnya, terkejut tidak menyangka orang yang tengah terlelap tidur akan menyadari keberadaannya, laki-laki itu membalikkan tubuhnya perlahan menatapnya, terkejut. “ahhh… aku…”

“jangan pergi… jangan pergi omma…”ujar orang itu dalam lelap tidurnya.

Laki-laki itu menatapnya “…hanya mimpi…”ujarnya yang kemudian melangkah mendekat dan menggenggam lebih erat tangan yang mencengkeram tangannya. “tenanglah…”ujarnya, lembut sambil perlahan menepuk pelan tubuh orang itu, menenangkannya, membuatnya keluar dari mimmpinya, menghapus mimpi buruknya itu.

“tenanglah… tenanglah… tidak akan terjadi apapun…”ujarnya dengan suara yang lembut serta menenangkan, dan menatap  takjub ketika senyum terlihat terkembang diwajahnya, menghiasi wajahnya yang indah.

***********

“ahhh… kau sudah bangun…? Apa semuanya baik…”tanya seorang wanita tepat saat Joo ri membuka matanya dan bangkit dari ranjangnya perlahan.

“ahhh… bibi Yang… ne gwenchana…”ujar Joo ri malas, kemudian ia teringat sesuatu… “haraboji…?!?!”tanya Joo ri terhenti “…ne… beliau sudah berangkat dan tidak ada pesan apapun untuk anda agashi… hanya ini…”ujar bibi Yang sambil menyerahkan sebuah kertas tertutup pada Joo ri yang kemudian segera membukanya.

Joo ri menghela napas panjang setelah membaca surat yang diterimanya dari bibi Yang dan seakan mengerti dan ternyata memang sangat memahami, bibi Yang tersenyum menatap Joo ri.

“beliau menyuruh agashi untuk bertugas lagi…?!?”ujar bibi Yang menebak namun tidak hanya sekedar sebuah tebakan, karena itu memang benar. Joo ri menghela napasnya kembali dan menganggukkan kepalanya.

“jika anda belum merasa baik, lebih baik jangan…”

“ahni…”potong Joo ri cepat “gwenchana… aku sudah menerima pekerjaan ini dan akan aku tuntaskan…”jawab Joo ri lagi, membuat senyum bibi Yang semakin lebar diwajahnya.

“baiklah… kalau begitu hati-hati agashi…”ujar bibi Yang, lembut

Joo ri bangkit dari tempatnya, mengenakan pakaiannya dan ketika ia akan mengambil senjatanya ia benar-benar terkejut, senjatanya terlihat tertata rapi di meja di ujung ruangan. Semua senjatanya di letakkan disana, tanpa satupun yang terlupakan. Joo ri diam, menatap senjata-senjata itu sesaat dan berjanji tidak akan pernah menanggalkan senjata-senjata itu sebelum akhirnya mengenakan senjata-senjata itu ditubuhnya dan tidak melupakan apapun.

Bibi Yang menatap nona mudanya itu “…anda benar-benar sangat berbeda dengan orang tua anda agashi…”

Joo ri diam, mengalihkan pandangannya menatap bibi Yang, meminta penjelasan darinya “… maksud saya… anda memilih jalur seperti kakek anda dan tidak memilih menjadi seorang pengusaha atau seorang dokter seperti ayah dan ibu anda, tapi menjadi seorang tentara…” bibi Yang menghentikan kalimatnya, kemudian menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang terjadi pada gadis manis, cantik dan lembut yang berdiri dihadapannya. entah kemana gadis manis, cantik dan lembut yang sebelumnya ia kenal. Kini gadis itu berubah menjadi gadis manis, cantik, lembut disaat-saat tertentu dan akan segera berubah menajdi ganas dan tegas disaat yang lain. Bibi Yang mendesah pelan.

Joo ri diam, menundukkan kepalanya sesaat sebelum akhirnya mengangkat kepalanya dan tersenyum menatap bibi Yang “…aku kagum dengan haraboji bibi Yang… dan ini adalah impianku sejak aku masih kecil…”jawab Joo ri.

Bibi Yang diam ditempatnya, tersenyum manis menatap Joo ri.


Joo ri menghela napas panjang sambil merentangkan kedua tangannya lebar setelah ia keluar dari kediaman Jenderal besar Lee dan menghirup udara segar yang berhembus pagi itu seolah dia baru saja keluar dari kungkungan yang sangat lama.

“aku sudah mengira kau akan seperti ini…”ujar seseorang tiba-tiba, membuat Joo ri bergerak cepat, memegang senjatanya, waspada.

“Luke… sudah berapa lama kau disana…?”tanya Joo ri, membalikkan tubuhnya menatap Luke yang berdiri bersandar di sisi pintu, tak jauh di belakang Joo ri berdiri. Luke menghela napas dan bangkit dari tempatnya, melangkah mendekati Joo ri “…beberapa jam yang lalu… dank au, bukankah Jenderal sudah melarangmu untuk pergi kenapa…”

“auuussshhhh… aku masih bertugas… dan kemana si Siberian itu…”

Luke mendengus, memahami sifat Joo ri “…seperti biasa, banyak acara dan banyak bertemu orang…”

Joo ri mendekati Luke “…kau tidak berjaga disisinya…?!?!?”ujar Joo ri, menyipitkan matanya, menatap Luke. Luke diam, tidak terengaruh dan tersenyum lebar “…dia cukup aman… ayo…”ujar luke sambil melangkah ke mobilnya. Keduanya membuaka pintu mobil dan masuk hampir dengan bersamaan, tidak menaydari 2 pasang mata tengah menatap keduanya.

“mereka sudah pergi…”

“ne…”

Keduanya terdiam sesaat, masih menatap mobil dimana Joo ri baru saja menghilang masuk kedalamnya. “…apa ini baik Jenderal…?”

Sang Jenderal diam, menghela napas panjang kemudian membalikkan tubuhnya menatap seseorang yang berdiri tak jauh dibelakangnya “…entahlah Sung bin-aa… aku tidak terlalu yakin, tapi kita tunggu dan lihat saja…”ujar sang Jenderal yang kini menundukkan kepalanya dan menatap diam lututnya dengan kedua tangannya di dagunya, mencoba berpikir.

*************

Yong jun diam menatap sekelilingnya, mencari seseorang ditengah teriknya mentari yang menyengat siang itu. Namun ternyata orang itu tidak ada disana. Yong jun diam, dan melangkah perlahan ke tempatnya beristirahat semabri menunggu gilirannya untuk pengambilan gambarnya.

“minumlah… udara panas sekali… dan kau sudah banyak berkeringat…”ujar seseorang tiba-tiba, membuat Yong jun mengangkat wajahnya dan menatap orang itu.

Menyadari seseorang yang ada dihadapannya adalah orang yang sedari tadi dicarinya, Yong jun tersenyum lebar kemudian bangkit dari tempatnya dan secara reflex ia membawa orang itu kedalam pelukannya.



 “mianhe…”ujar Yong jun masih memeluk orang itu dan kini mulai mendekapnya lebih dalam, membuatnya hampir kesulitan untuk bernapas. “gwenchana..??!?”tanya Yong jun yang menjauhkan tangannya, namun masih tidak melepaskan tangannya dari bahunya.

Ditatapnya orang itu dalam “…ahh… mianhe… mianhe…”ujar Yong jun yang kembali membawanya kedalam pelukannya, memeluknya erat “…aku benar-benar merasa bersalah dan khawatir padamu…”ujar Yong jun, yang semakin membuat joo ri terdiam ditempatnya, bingung dengan perubahan yang didapatnya sekarang. “y…yya..” Joo ri mulai mengeluarkan suarany, terdengar gugup sekaligus bingung, menepuk pelan bahu Yong jun, mencoba untuk menghentikan apa yang dilakukan Yong jun padanya.

Dan keduanya benar-benar terkejut ditempatnya saat tiba-tiba seseorang berseru, memanggil namanya “YYA!!! Joo ri!!! apa yang kalian berdua lakukan?!?!”seru seseorang tiba-tiba yang membuat Joo ri segera melepaskan pelukan Yong jun, cepat dan terdiam, mencoba menenangkan dirinya. Sesaat tadi, ia merasakan jantungnya berdebar sangat kencang, ia merasakan rasa panas yang terasa diwajahnya yang terlihat memerah. Joo ri benar-benar tidak percaya dengan apa yang dialaminya. Ia terdiam.

Lamunan Joo ri buyar ketika seseorang tiba-tiba melingkarkan lengannya di bahunya dan membawanya lebih dekat dengannya “ahhh… Joo ri… aku merindukanmu… berapa lama kita tidak bertemu setelah kejadian di vila itu dan AKKHHHHH!!!”serunya tiba-tiba ketika Joo ri menekuk jari-jari orang itu berlawanan, untuk mematahkan jari-jarinya “…aku benar-benar akan mematahkannya sekarang…”bisik Joo ri mengancam.

“AKKHHHHH!!! Ahniya!!! Ahniya!!!”seru orang itu yang segera menjauhkan lengannya dari bahu Joo rid an melangkah menjauh dari jangkauannya. Joo ri menatapnya dengan pandangan marah. “bagus…”ujar Joo ri santai.

“kau tidak pernah belajar Kim Sang bum…”ujar Ji hoon, menatap Joo ri dan Sang bum tersenyum.

Menatap kedatangan Ji hoon, Joo ri segera mengalihkan pandangannya dan menatap Ji hoon takjub, penuh dengan kerinduan “…oppa…”ujar Joo ri yang terdengar hampir seperti sebuah desahan.

Yong jun diam, menatap tajam Ji hoon yang melangkah tersenyum mendekati Joo ri. “auusshhh… lagi-lagi… seorang wanita jika berada didekat Ji hoon…”gumam Sang bum kesal namun masih terdengar oleh Joo ri dan Ji hoon yang membalas gumamannya itu dengan senyuman lebar.

“bagaimana keadaanmu…” tanyanya “…apa semuanya baik…”tambahnya lagi.

Joo ri tersenyum malu-malu “…auushhhhh…”seru dua orang tiba-tiba ketika menatap tingkah Joo ri yang terlihat malu-malu ditatap Ji hoon tajam dan penuh kekhawatiran. Sang bum dan Yong jun terlihat terganggu dengan apa yang ada dihadapan keduanya dan mulai melangkah menjauhi Joo rid an Ji hoon “….gwenchana oppa… semuanya baik…”

Ji hoon diam ditempatnya, menatap Joo ri sesaat kemudian menghela napas panjang sebelum kemudian ia mulai melangkah pelan sambil melipat kedua lengannya didada “….yaa… untungnya Yong jun bersikap cepat dan teliti ketika bom itu dilemparkan kearahmu… dia benar-benar gesit dan cepat… bahkan sebelum peluru itu mengenai sesuatu didekatmu, ia sudah membawamu pergi dan berlindung dibalik pohon…”terang Ji hoon, “ahh… dan juga bom itu… jika ia meleset sedikit saja, mungkin kalian berdua akan hancur berkeping-keping…”tambah Ji hoon, yang kemudian membalikkan tubuhnya, untuk mendapati Joo ri yang mengikuti langkahnya dan terlihat terdiam ditempatnya, memikirkan sesuatu. “gwenchana…?”tanya Ji hoon tiba-tiba, menatap Joo ri penasaran sekaligus khawatir.

Joo ri mengangkat wajahnya cepat dan menatap Ji hoon tersenyum “…gwenchana oppa…” Joo ri diam sesaat, beberapa hal masih berkelebat di pikirannya “…tapi…” Joo ri terdiam kembali sebelum kemudian melanjutkan kalimatnya, dan menatap Ji hoon penasaran “…oppa… apa kau yakin dengan apa yang kau katakan… Yong jun yang…” Joo ri kembali terdiam, ragu dengan kalimatnya.

“ne… tentu saja…”jawab Ji hoon yang kemudian terdiam ditempatnya, menatap Joo ri dalam, membaca sesuatu “apa kau tidak ingat…?"tanya Ji hoon menatap Joo ri bingung. Joo ri menggelengkan kepalanya lemah, memikirkan banyak hal dikepalanya, tidak percaya dengan apa yang didengarnya “…aku melihat sendiri apa yang dia lakukan ketika aku akan menarikmu untuk berlindung, dia menarikmu lebih dulu dan kalian berlindung jauh di balik bebatuan untuk menghindari ledakan peluru itu... namun memang sedikit terlambat dengan bom itu hingga membuat kalian berdua terlempar… tapi Yong jun sangat terlatih hingga tidak membuat cidera yang serius, atau efek lain dari ledakan itu…” jelas Ji hoon.

Joo ri terdiam ditempatnya, banyak pikiran mulai mengganggunya. “…sepertinya kau benar-benar tidak ingat… mungkin karena luka dikepalamu..”ujar Ji hoon yang kemudian duduk tak jauh dari tempat keduanya berdiri dan mengalihkan pandangannya menatap Joo ri, “duduklah…”ujar Ji hoon

Joo ri tersenyum menatap Ji hoon dan ketika ia akan duduk disisinya, seseorang memanggil namanya keras “..YYA!!! bodyguard!!! Kita harus pulang…!!!”ujar orang itu. Joo ri sangat mengenal suara itu dan seketika itu ia mendesah panjang, memejamkan matanya lelah. Joo ri membalikkan tubuhnya untuk memberikan orang itu sebuah tatapan ingin membunuh namun hanya sesaat setelah Joo ri menatap orang itu yang diam sambil menyilangkan lengannya di depan dadanya, menatapnya dari ujung kaki ke kepala kemudian berhenti di kedua matanya.



 Joo ri merasakan sesuatu yang aneh di tubuhnya. Seperti ada tegangan listrik yang mengaliri tubuhnya. Joo ri diam, mendesah pelan kemudian kembali mengalihkan pandangannya menatap Ji hoon, lesu “…baiklah oppa… mianhe… aku harus pergi…”ujar Joo ri yang kemudian membungkukkan kepalanya, membalikkan tubuhnya dan berjalan pergi meninggalkan Ji hoon yang tersenyum menatap kepergiannya.

************

Mobil mulai melaju kencang, menerobos angin dan meninggalkan jejak panjang di jalan lurus yang mereka lalui. Joo ri terlihat diam ditempatnya, menatap sesuatu ditangannya yang terlihat seperti layar, namun juga terlihat seperti ponsel.

“apa yang kau lihat…?”tanya Yong jun, menatap Joo ri yang duduk disisinya penasaran.

Joo ri tersenyum kemudian senyum itu menghilang ketika ia mengalihkan pandangannya pada Yong jun. “tak ada…”

Yong jun diam, tidak percaya dengan jawaban Joo ri “…apa itu… berikan padaku…”ujar Yong jun memaksa.

Joo ri diam, menatap Yong jun kesal “…ini bukan apa-apa… hanya monitor yang, menunjukkan keadaan kamera pengawas yang kupasang di beberapa tempat…”

Yong jun diam, mencoba menerima jawaban Joo ri atas pertanyaannya “…mwo…?!?!? Beberapa tempat…? Dimana saja…?!?!? Jangan bilang kau juga memasangnya di rumahku…”

Joo ri tersenyum penuh kemenangan kemudian kembali menatap layar seukuran ponsel ditangannya “…RA-HA-SI-A”jawab Joo ri, tidak memperdulikan rasa kesal yang terlihat di mata Yong jun.

“YYA!!! kau sudah melanggar privasiku…”seru Yong jun.

Joo ri diam, kemudian mengedikkan bahunya, memberikan jawaban menggantung pada laki-laki yang duduk dibalik kemudian, disisinya itu.

“AUUUSSHHHH!!!” Yong jun terlihat frustasi, keduanya terdiam selama beberapa saat. Keterdiaman yang mencekam disatu sisi, dan tentu saja di sisi Yong jun, sedangkan Joo ri terlihat diam, dan tersenyum sendiri menatap layar ditangannya. “auuussshhh…” Yong jun terlihat semakin kesal.

Keterdiaman mulai meraja kembali hingga “…Cham!!! Kau juga memasangnya di kamar dan kamar mandiku!?!?!”tebak Yong jun, menatap Joo ri tidak percaya, yang kembali menjawab pertanyaan Yong jun dengan sebuah kedikkan di bahunya.

“YYYA!!! Kau ini benar-benar!!! Auussshhhh…” Yong jun semakin marah dan mengacak rambutnya frustasi.

Keduanya terdiam, dan menyibukkan diri dengan apa yang mereka masing-masing. Yong jun dengan setirnya sedangkan Joo ri masih serius dan masih dengan senyum lucu menatap layar dihadapannya. Hanya beberapa saat kemudian Joo ri mengalihkan pandangannya singkat ke jendela mobil Yong jun dan menatap jalanan. Joo ri tidak mengenal jalan yang mereka lalui saat itu, Joo ri bingung “…mau kemana kita…”tanyanya, menatap Yong jun, penasaran.

Yong jun terlihat diam, dan mengacuhkan pertanyaan Joo ri padanya. “YYA!!!”seru Joo ri kemudian.

Yong jun mengalihkan pandangannya menatap Joo ri, dengan pandangan dan senyumannya yang mengejek “RA-HA-SI-A”

Joo ri menatap Yong jun diam, membuka mulutnya lebar, benar-benar terkejut dengan jawaban laki-laki itu “AUUSSHHHH!!!”Seru Joo ri, dan kembali mengalihkan pandangannya pada layar ditangannya.

Yong jun tersenyum puas, dan kembali menatap ke jalan yang mereka lalui. Pembalasan memang terasa manis dan menyenangkan…, pikir Yong jun senang. Tersenyum semakin lebar.

**********

“kita gagal lagi… dia sama sekali tidak berhenti… apa yang harus kita lakukan sekarang…” ujar seseorang yang terlihat tengah menghisap rokoknya dalam kemudian menghembuskan asapnya, hingga memenuhi ruangan yang lumayan sempit itu.

Hanya ada sebuah meja persegi dan 3 buah kursi yang terlihat sangat tidak nyaman di ruangan itu. Ada sebuah telepon kabel kecil yang menggantung di dinding dekat dengan pintu keluar yang tertutup saat itu. Sebuah layar yang memperlihatkan beberapa bagian ruangan lain, dimana terlihat beberapa orang tengah berjaga dan beberapa yang lain terlihat tengah bersantai sambil minum-minum.

Beberapa bagian dari layar juga memperlihatkan beberapa aktivitas yang menunjukkan kegiatan siang sebuah klub malam. Beberapa orang tampak melakukan tugasnya, membersihkan bagian-bagian klub tersebut sebelum klub malam itu buka untuk menerima tamu-tamu yang sudah menajdi langganan klub itu juga beberapa tamu yang lain.

Siang itu, udaranya panas, karena hanya sebuah ventilasi kecil yang membuat hanya sedikit udara yang dapat masuk kedalamnya, karenanya, terlihat peluh yang mengucur di wajah hingga tubuh orang-orang yang ada didalamnya, benar-benar tidak nyaman. Bahkan beberapa orang sudah melepas setiap kancing dibajunya untuk mendapatkan sedikit kesejukan.

“sekarang pasti dia sudah melipat gandakan penjagaan… sampai semutpun tidak akan bisa menerobos masuk dan menyentuh kulitnya…” ujar orang yang lain yang terlihat sedikit lebih tua dari sebelumnya karena uban yang mulai tampak di beberapa bagian rambutnya dan lebih kurus. Lagi-lagi ia menenggak air dingin di gelas besar dihadapannya, untuk menambah kesejukan.

“kita serahkan saja segalanya pada orang itu… aku yakin dia bisa melakukannya… dia lebih cerdik dari kelihatannya, dan aku yakin kita akan memenangkan segalany… trophy juga souvenirnya…” ujar yang lain, yang terlihat lebih muda dari orang pertama dan terlihat lebih berotot dari kedua orang yang lain.

Semua kancing dibajunya tampak terbuka, untuk menghapus peluh yang mengucur dari tubuhnya, dan hampir membasahi seluruh bagian bajunya. Orang itu bangkit dari tempatnya, dan mengambil telepon di dinding tak jauh dari pintu, menghubungi seseorang “…aku ingin kau melakukannya… bunuh dia,apapun caranya, dekati dia”orang itu menghentikan ucapannya sesaat, terlihat sangat marah hingga menggemerutukkan giginya, dan menarik napas panjang untuk menenangkan dirinya “…cari kelemahannya… cari saat yang tepat… cari sela kosong yang dapat kau gunakan untuk membunuhnya… lakukan apapun untuk itu… dan aku ingin hari ini eksekusi itu selesai…”ujarnya, yang kemudian menutup telepon itu setelah mendengar persetujuan dari orang yang dihubunginya. Orang itu menghela napas panjang, kemudian melangkah kembali ketempatnya dan tersenyum.

“kau terlalu gegabah…”

“aku tidak ingin menunggu lagi… segalanya harus cepat diselesaikan… dan aku sudah sangat muak dengan laki-laki itu…”

2 orang yang lain terlihat tersenyum dengan ketidak sabaran rekan mereka, namun mendukung rencananya walaupun hanya beberapa persen keyakinan yang mereka berikan untuknya.

Dan udara semakin memanas diruangan itu,entah kenapa orang-orang ini begitu bertahan untuk berada didalam ruangan sempit itu. Ruangan yang mereka sebut ruang rahasia. Ruangan yang mereka gunakan untuk menyusun rencana dan bersiap untuk melakukan rencana mereka.

***********

Yong jun menginjak rem kaki mobilnya, kemudian mobil itu segera berhenti sebelum kemudian Yong jun mengambil kuncinya kemudian membuka pintu disisinya.

“dimana kita…?”tanya Joo ri, sebelum Yong jun menutup pintu disisinya. Yong jun hanya diam, tidak menjawab pertanyaan Joo ri, hanya turun, menutup pintunya kemudian berputar kearah pintu disisi Joo ri. “turun”katanya tegas.

“kita dimana…?”

“turun…”ujar Yong jun lagi sambil menarik lengan Joo rid an membawanya keluar dari mobil. “ausshhhh… yya!!! tidak perlu seperti ini…”seru Joo ri sambil melepaskan cengkraman tangan Yong jun di lengannya dan menatap Yong jun tajam.

Yong jun diam dan memimpin keduanya masuk kesebuah gedung tak terlalu besar yang hampir berada di pinggir kota. Yong jun melangkah hingga ia mendapati seseorang berdiri di pintu gedung itu, member hormat padanya dan tersenyum menyapa “…pagi pak…”ujarnya.

Yong jun tersenyum singkat “…pagi… segalanya baik pak…”sapanya.

“terkendali tuan…”

Joo ri diam, menatap interaksi itu, hingga kemudian Yong jun meraih tangannya dan menariknya masuk. “yya!!! tidak usah seperti ini…”ujar Joo ri sambil berusaha melepaskan tangan Yong jun dari pergelangan tangannya. “kemana…”ucapan Joo ri terhenti, ia menatap tempat itu sesaat, dan terkesima, terdiam. “ini…”

“perusahaanku… JJent…”

“jadi kau… tapi kenapa…”

“aku masih memiliki beberapa kontrak dengan tuan Kang… dan aku harus menyelesaikannya sebelum akhirnya aku bisa lebih berkonsentrasi pada talent agent dan perusahaan produksiku ini…”jawab Yong jun sambil terus melangkah keruangannya.

Joo ri melangkah mengikuti Yong jun dalam diam, memikirkan sesuatu sambil melihat sekelilingnya. “…masuk… dan jangan sekali-sekali memasang kamera pengawas tanpa ijinku ditempat ini…”

“tapi…”potong Joo ri yang kemudian segera dipotong kembali oleh Yong jun “karena… pertama aku jarang disini… dan kedua…”pandangan Yong jun pada Joo ri semakin tajam dan mengancam “…aku tidak ingin privasiku kau usik… dan tidak untuk yang satu ini…”ujar Yong jun, mengancam. Joo ri diam ditempatnya, menatap Yong jun terkejut dengan ketegasannya. “mengerti?!?!?”ujar Yong jun lagi, terdengar sedikit berseru.

Joo ri masih diam ditempatnya “…jawab aku prajurit!!”seru Yong jun

“ne!! agashimnida!!”jawab Joo ri dengan sikap tubuh tegap layaknya seorang prajurit yang diberikan perintah.

“bagus…”ujar Yong jun tersenyum kemudian melangkah masuk dan menutup pintu dibelakangnya. Joo ri berdiri diam tak jauh dari jendela kaca besar di ruangan Yong jun, menatap sekilas pemandangan awan yang berarak, sebelum tiba-tiba Yong jun menariknya duduk di kursi dihadapannya “…duduk”ujar Yong jun singkat dan melangkah cepat kearah kursinya, duduk dan membuka laci di mejanya kemudian bangkit “kita pergi…”ujar Yong jun dan melangkah kerah pintu.

“hanya itu…?”tanya Joo ri menatap Yong jun singkat.

“ne… mau apa lagi… masih banyak yang harus aku lakukan…”

Joo ri diam, menatap Yong jun “kalau begitu kemana lagi kita sekarang…”

“ikut saja…”

“ahni… aku harus memberikan laporan pada anak buahku… kau sudah melanggarnya sekali dan sekarang tidak akan lagi…”

Yong jun diam, menghela napas panjang, memijat ujung hidungnya pelan “… bertemu tuan Kang… ada yang ingin aku bicarakan dengannya… dan dia juga ingin mengatakan sesuatu padaku…”

Joo ri menganggukkan kepalanya singkat dan kemudian menekan nomor di ponselnya, memberikan kabar pada orang yang Yong jun yakini adalah Luke “ok… kita bertemu disana Luke…”ujar Joo ri sebelum mengakhiri pembicaraannya, menyisakan pandangan mencela dari Yong jun.

********

Yong jun menghentikan mobilnya disebuah gedung besar teap ditengah kota dengan banyaknya orang dan banyaknya kesibukan yang dilakukan oleh orang-orang itu disekeliling mereka, membuat Joori mengedarkan pandangannya lebih waspada. Joo ri melangkah cepat ke sisi pintu Yong jun sebelum Yong jun membuka pintu itu, menunggunya disana, mencoba melindungi orang yang ia diperintahkan untuk melindungi.

“tidak akan ada apa-apa…”ujar Yong jun malas, ketika ia menginjakkan kakinya keluar dari mobilnya dan mendapati Joo ri berdiri dihadapannya dengan senjata yang siap ia ambil dari kantung hostlernya dipinggang.

“segalanya harus waspada dan lebih hati-hati…”ujar Joo ri yang kemudian melangkah mendahului Yong jun setelah meyakini tidak ada yang menyerang atau mencurigakannya, hingga…

DOOORRRR… terdengar letusan senjata ditengah kerumunan orang dan ditengah keramaian yang ada saat itu.
Beberapa orang terlihat diam ditempatnya saat, menghentikan semua aktivitas yang mereka lakukan, dan segalanya hening, tidak terdengar apapun selama beberapa detik, hingga kemudian semua orang mulai menjerit dan berhamburan, berlari untuk menyelamatkan diri mereka.

Luke menyadari situasinya dan dengan cepat melangkah keluar dari mobilnya dan berlari kearah Joo ri dan Yong jun sambil terus waspada pada sekelilingnya. Luke menyadari Joo ri dan Yong jun yang masih terdiam ditempatnya, dan itu hal yang sangat berbahaya untuk mereka, membuka diri untuk menerima tembakan, bukankah seharusnya Joo ri menyadari posisi mereka, tapi kenapa…

Luke menghentikan langkahnya seketika ketika menatap Yong jun yang terlihat menatap Joo ri yang berdiri dihadapannya, menghadap kearahnya. Yong jun, diam terlihat sangat terkejut dengan apa yang terjadi dihadapannya. Luke melangkah lebih mendekat untuk lebih mengetahui apa yang tengah terjadi pada keduanya, namun saat langkahnya mulai mendekat, ia menyadari sesuatu yang salah dengan apa yang dilihatnya… seseorang telah tertembak, darah terlihat mengucur dan menggenangi sekeliling Yong jun dan Joo ri.



Luke semakin takut, dan ketika ia kembali tersadar dari keterdiamannya, Luke menyadari semua darah itu berasal dari seseorang yang berdiri membelakanginya, Luke menyadari Joo ri tertembak.



End Of Chapter
« Last Edit: January 23, 2013, 08:11:32 am by ai_yuki »