Author Topic: Full Of Love (Song of Life 2) Chapter 17, update  (Read 23037 times)

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Chapter 16

Additional Cast



 Kim Woo bin as Kang Jun suk

En kyu diam, menatap sedih dan khawatir pada laki-laki yang duduk tak jauh dihadapannya. wajah laki-laki itu kini terlihat tenang, tidak seperti sebelumnya, hanya dapat membentak dan membuang apa saja yang ada di dekatnya. Laki-laki itu kini tengah memejamkan matanya, dengan jari di pelipisnya seakan ingin meringankan atau menghapus apapun yang ada dikepalanya. En kyu diam. Ayahnya itu memang lebih tenang sebelumnya, namun ia masih dapat merasakan kemarahan yang terpendam dan rasa sakit yang sangat dihatinya. Semua itu terpancar dari raut wajahnya dan terlihat jelas dari kerutan yang terbentuk di antara alisnya serta kedutan di ujung bibirnya.

“appa..”panggil En kyu, menatap sang ayah yang masih bergeming ditempatnya, tidak menjawab panggilan En kyu dan terlihat masih sama seperti posisinya sebelumnya, namun hal itu tidak mengurungkan niat En kyu untuk mengatakan apa yang bercokol dihati dan pikirannya. En kyu akan mengatakan yang seharusnya. “…appa… kau harus melihat lebih dalam foto-foto itu… dan mengamatinya lebih dalam lagi… En kyu sangat yakin wanita dalam foto itu bukan omma… seharusnya kau menyadarinya… omma tidak…”

“berhenti…”ujar Jung min, masih dalam posisi yang sama namun terdengar getaran kemarahan di ucapannya.

“appa…”ujar En kyu lagi, berusaha menghapus lumpur yang menutupi kejernihan pikiran appanya, namun ternyata lumpur itu semakin menebal dan hampir berkerak dalam pikiran sang ayah.

“CUKUP!! BERHENTI LEE EN KYU!!!”seru Jung min lebih keras dari sebelumnya, dan menatap En kyu dengan pandangannya yang tajam dan marah. En kyu diam, menatap sang ayah tidak percaya, dan merasa tidak lagi mengenal pria dihadapannya itu. Ia tidak percaya pria dihadapannya itu adalah ayahnya. Ia tidak percaya ayahnya sanggup semarah itu.

“CUKUP EN KYU!! SEGALANYA SUDAH JELAS!!! KAU TIDAK PERLU MENGATAKAN APAPUN LAGI!!  DAN TUTUP MULUTMU!!”seru Jung min cukup menggelegar hingga menggema di pesawat pribadi yang membawa keduanya pulang, menatap En kyu tajam, mengancam.

En kyu diam, menundukkan kepalanya semakin dalam dan semakin menggenggam erat amplop coklat dipangkuannya dengan foto-foto pembuat masalah yang berhasil dia kumpulkan sebelum keduanya berangkat kembali ke Seoul. En kyu diam, memikirkan sebuah cara, namun pikirannya buntu.

En kyu bingung. Ia harus bicara, mengatakan segalanya dan meminta bantuan untuk mencari kebenarannya, tapi bukan dengan appanya. Ia harus mencari kebenaran dan berusaha menyadarkan dan memberi cahaya pada kegelapan yang sudah menutupi hati sang ayah.

Entah apa yang terjadi pada ayahnya itu. Seakan segalanya yang dilaluinya dengan ibunya selama 13 tahun ini menghilang begitu saja. Ditambah lagi keduanya baru saja merayakan ulang tahun pernikahan mereka ke 14. Bagaimana dengan anak-anak mereka. Ayahnya benar-nenar telah dibutakan oleh amarhnya. Ia harus meminta bantuan pada Lee Seung gi, Jung moon dan Park Joon. Dan harus mencari titik terang dari masalah itu. Ia yakin, sangat yakin bahwa wanita didalam foto itu bukanlah ibunya. Dan ia akan melakukan segalanya untuk mendapatkan kebenaran itu. En kyu menarik napas panjang untuk menenangkan dirinya, mencoba mencari jalan dari pikirannya yang tenang. Itu akan lebih baik.

********

Seung gi membuka matanya perlahan, saat ia merasakan sinar mentari masuk dan membayangi kedua matanya, menyilaukan, membuatnya membuka kedua kelopak matanya sebelum mentupnya kembali. Saat itu ia merasakan seluruh tubuhnya terasa sakit, tulangnya seakan retak dan menghilang dari tubuhnya saat ia akan menggerakkan tubuhnya.

“akkkhhhh…”keluhnya lemah, saat ia mencoba mengangkat kedua taangannya untuk menutupi matanya, namun alih-alih bergerak beberapa senti, tangannya malah terasa sakit. Seung gi, menatap sekeliling setelah membiasakan kedua penglihatannya dengan sinar mentari.

“kau sudah bangun…? Ada yang kau inginkan…? Apa masih ada yang sakit…?”tanya seseorang tiba-tiba, menyadarkan keberadaan dirinya dan keadaannya. Ya, ia ingat, ia melawan 3 orang laki-laki malam tadi, dan ia… kalah. Ia ingat semuanya, menyadari sesuatu dan dengan cepat ia mengangkat tubuhnya, seakan rasa sakitnya menghilang saat itu “…Hyun ah-aa… gwenchana…? Apa kau terluka…?”tanya Seung gi menatap ke sisinya dimana ia mendengar dan menatap Min Hyun ah. Min Hyun ah terlihat diam ditempatnya, menatap Seung gi bingung. Keduanya terdiam saling menatap, hingga segalanya sirna ketika Seung gi menyadari sakit di tangan, perut dan wajahnya. “AKHHH…” Seung gi mengaduh cukup keras, kemudian perlahan mulai merebahkan tubuhnya kembali ke ranjang. Hyun ah diam, menatapnya, senyum perlahan mulai terlihat diwajahnya “… aku baik-baik saja… pertolongan datang saat kau jatuh Seung gi-ssi… Jun suk datang disaat yang tepat…”

Seung gi diam ditempatnya, mendengar semua itu merasa tidak berguna dan tidak mampu melindungi seseorang yang penting bagi dirinya. Ia benar-benar merasa tidak pantas.“mianhe…”

“gomawo…”ujar Min Hyun ah masih dengan senyum merekah lebar diwajahnya, menenangkan siapapun yang menatapnya. Seung gi diam, menatapnya, menatap senyum itu “…terima kasih… entah apa yang akan terjadi padaku jika tidak ada kau Seung gi-ssi… entah apa yang akan mereka lakukan padaku selama jeda hingga Jun suk datang…”

Seung gi diam, mengalihkan pandangannya menatap langit-langit ruangan dimana ia tidur. Senyum perlahan mulai hadir diwajahnya. Seung gi, merasakan sesuatu dihatinya, hangat....

“gwenchana…? Apa Lee Seung gi-ssi sudah bangun dokter Min…”ujar seseorang tiba-tiba, yang dengan langkah perlahan masuk melalui pintu dan berdiri disisi dokter Min, menatap Seung gi, menghapus senyum diwajahnya.

“ne… baru saja… sepertinya tidak ada yang parah… hanya beberapa memar yang akan segera hilang dengan obat yang kau berikan semalam… terima kasih…” ujar Hyun ah, mengalihkan pandangannya menatap Seung gi “…karena persediaan hampir habis dan…” ucapan Hyun ah terhenti sesaat, menatap keterkejutan diwajah Seung gi.

“persediaan obat hampir habis dokter Min…?!?”

Dokter Min diam, menundukkan kepalanya “…mianhe Seung gi-ssi… tidak dapat memberikanmu obat yang terbaik yang aku miliki… dan…”

“kenapa kau tidak mengatakannya pada Hye na… kau harus menghubunginya untuk mengirimkan obat-obat jika persediaan kalian sudah hampir habis… bagaimana dengan semua pasien kalian…? Apa yang harus mereka minum sebagai obat… kalian ini praktisi kesehatan tapi… akhhhh…” Seung gi menghentikan ucapannya saat ia merasakan sakit diperutnya. Ia terlalu menekan dirinya saat berteriak, hingga perutnya terasa sakit kembali. “…tenangkan diri anda Seung gi-ssi…” ujar Kang Jun suk, tersenyum menatap Seung gi. “benar dokter Min… segalanya baik…”ujar Jun suk, tersenyum, setelah mednengar ucapan kesal Seung gi yang bertubi-tubi pada dirinya dan Hyun ah.

Hyun ah tersenyum “…istirahatlah… dan makan bubur ini… setelah itu aku ingin kau minum obat yang diberikan Jun suk padamu… itu ramuan… mungkin terasa pahit… tapi aku yakin itu manjur…”ujar Hyun ah, sebelum kemudian ia melangkah pergi meninggalkan Seung gi dan Jun suk dalam ruangan perawatan itu.

“mau kemana…?”tanya Seung gi, tepat sebelum dokter Min menutup pintu di belakangnya.

Dokter Min tersenyum “…sebentar lagi pasien akan datang… dan aku harus menyiapkan segalanya”jawab dokter Min yang langsung menutup pintu dibelakangnya, tanpa menunggu sepatah katapun dari Lee Seung gi.

Seung gi diam, menatap pintu yang tertutup diam, dan segera teralih saat ia menyadari tawa geli tertahan dari laki-laki yang kini sudah duduk disatu kursi di hadapannya sambil membawa mangkuk bubur ditangannya.

“wae?!?!?”tanya Seung gi, menatap kesal sekaligus bingung laki-laki itu.

Jun suk diam, dan semakin tersenyum lebar saat Seung gi membuang wajahnya kesal menatap jendela di sisi kirinya. “… makanlah… kau ingin aku suapi atau…”

“aku makan sendiri… hanya bantu aku bangun…”ujar Seung gi cepat, memotong ucapan Jung suk. Jun suk tersenyum, kemudian mulai membantu Seung gi untuk duduk bersandar di kepala ranjangnya, “terima kasih…”

“ne… sama-sama… hanya itu yang bisa aku lakukan… padahal dokter Min memintak untuk menyuapimu apapun yang kau lakukan… tapi sepertinya kau…”

“ahni… bukan untuk itu… untuk semalam… entah apa yang akan terjadi pada dokter Min jika kau tidak datang…”

Kang Jun suk diam, menatap Seung gi, kemudian senyum terlihat terkembang diwajahnya. “seharusnya aku meminta maaf padamu dan dokter Min Seung gi-ssi…”

Seung gi diam, menatap Jun suk menunggu “…seharusnya aku melindungi dokter Min yang sudah mengabdikan dirinya di pulau terpencil seperti ini untuk memberikan kesehatan untuk setiap orangnya tanpa mengharapkan apapun… seharusnya aku bisa lebih membuat semua orang disini menerimanya… karena segala yang dilakukan dokter Min murni untuk kesehatan… ia tidak mengharapkan imbalan apapun… tapi…”

Seung gi menatap Jun suk diam, menyadari sesuatu “… siapa orang-orang itu Kang Jun suk…”tanya Seung gi, terdengar tegas dan langsung mengena pada diri Jun suk. Jun suk diam, menatap Seung gi terkejut kemudian menundukkan kepalanya, merasa bersalah “…seseongheyo Seung gi-ssi…”

“Kang Jun suk! Akhhh!!”

“gwenchana…?”tanya Jun suk saat menatap Seung gi menekan kuat perutnya.

“gwenchana… katakan saja siapa orang-orang itu…”tanya Seung gi lagi, memaksa dan menekan rasa sakit diperutnya.  Jun suk masih diam, hingga.. “apa kau sudah memakan semuanya…? Sekarang minum obatnya… jika hangat tidak akan terasa terlalu pahit…”ujar Jun suk, berusaha mengalihkan pembicaraan keduanya ketika menatap mangkuk kosong ditangan Seung gi.

Seung gi diam, dan menurut, namun ia sudah tidak sabar lagi. Ia meminum obat itu dengan menatap Jun suk yang menundukkan kepalanya menyadari tatapan menyelidik Seung gi.

“dia kakakku…”ujar Jun suk tiba-tiba, membuat Seung gi tersedak saat meminum obat dimangkuknya. “MWO?!?!? Tapi…” Seung gi diam, tidak melanjutkan kalimatnya, mengusap mulutnya dan menatap Jun suk, membandingkan dirinya dengan laki-laki yang menyerangnya, ‘yang mana…? Tidak satupun dari mereka memiliki wajah yang mirip dengan Jun suk… Jun suk terlihat cerdas, memiliki kulit yang putih, tinggi, tampan dengan rambut hitam kecoklatannya… sedangkan orang-orang yang menyerangnya terlihat seperti… algojo, liar, tubuh kekar, relative pendek dengan bekas luka diwajah dan tubuhnya, kulit coklat kehitaman dan rambut yang tidak kalah hitam kelam…’

Seakan menyadari tatapan Seung gi, Jun suk tersenyum pahit “… orang yang memberikanmu rasa sakit dikepala adalah kakak tiriku… dia merasa terganggu dengan keberadaan dokter Min… karena dia yang menuai hasil ketika aku mengobati orang-orang yang datang untuk kuperiksa dan aku obati… ia yang meminta bayaran apapun itu untuk apa yang aku lakukan… awalnya aku hanya ingin melakukannya sebagai rasa abdiku pada penduduk di sini… dengan ilmuku membantu mereka… tapi…”

“apa dia pernah memukulmu…?”



Lama Jun suk terdiam ditempatnya menatap lantai, tidak menjawab pertanyaan Seung gi, ia diam “…dia pernah memukulmu dan mengancam akan membunuhmu jika kau tidak menurutinya bukan…?” tebak Seung gi lagi, ia sangat memahami orang-orang yang hanya memikirkan materi dan tidak mempedulikan sekelilingnya. Ia sangat mengenal orang-orang seperti itu.

Jun suk semakin membenamkan wajahnya, lebih dalam dan lebih menunduk. Seung gi diam, ia mulai menyadari kekurangan di tempat ini, dan menginginkan sesuatu. Dia harus menghubungi Hye na dan Jung min. ‘ahni… bukan Jung min… Park Joon… dia lebih banyak mengenal orang-orang yang bertugas sebagai pengawal… bukankah dia dulu juga bekerja sebagai pengawal Hye na… ya… Park Joon…’ Dia harus meminta beberapa orang pengawal untuk dokter Min dan Jun suk, dengan menceritakan segalanya.

“apa kau ingin melanjutkan sekolahmu… mengambil jurusan kedokteran… dan membantu semua orang disini sesuai keinginanmu…?”tanya Seung gi, menatap Jun suk yakin.

Jun suk mengangkat wajahnya cepat, menatap Seung gi terkejut.

**********

Hye na tengah merebahkan tubuhnya, mengistirahatkannya sesaat. Semenjak dia menyadari dirinya tidak sendiri sekarang, ada seseorang yang lain di tubuhnya, Hye na selalu merasa cepat lelah. Dan ia memang di haruskan untuk banyak istirahat. Mengandung diusianya saat ini memang agak riskan, karena umurnya dan juga hormon-hormon ditubuhnya yang berubah seiring pertambahan umurnya, namun ia tetap merasa senang karena sudah dipercaya oleh Tuhan untuk mengandung kembali diumurnya yang cukup riskan itu. Hye na tersenyum. Tidak menyadari pandangan seseorang yang menatapnya tersenyum.

“omma…”panggilnya, membuat Hye na segera memalingkan wajahnya menatap orang itu. Hye na tersenyum menatapnya, menyadari sesuatu. “…kau akan pergi Yoorae…?”tanya Hye na, menatap pakaian yang dikenakan perempuan dihadapannya dan tas tangan yang menggantung di tangannya. Pakaian yang dikenakannya benar-benar cocok untuknya, menunjukkan umurnya yang masih muda namun juga menunjukkan kedewasaannya. Hye na menatapnya. Yoorae mengenakan celana jeans ketat menunjukkan kakinya yang jenjang ditambah dengan stiletto sewarna dengan celananya. Kaos putih lengan panjang dan jas biru muda menutupi tubuhnya yang ramping.

“ne omma.. appa memintaku untuk tinggal dengannya.. setelah dia tahu aku datang dia memaksa omma… dan aku tidak ingin terlalu merepotkan omma dan semuanya disini… Yoorae sudah…” kalimat Yoorae terhenti oleh tatapan marah dan sedih diwajah Hye na.

“gwenchana omma…”

“ahniya…”

Yoorae terdiam mendengar jawaban Hye na yang terdengan tegas dan cepat. Yoorae menyadari sesuatu dengan wanita dihadapannya itu. tebakan awalnya adalah karen apengaruh bayi dalam kandungannya, namun sepertinya bukan hanya karena itu. “…kau tidak pernah merepotkan aku atau semua disini… omma yang merasa sudah terlalu banyak merepotkan dirimu… dan sudah seharusnya kau tinggal dengan ayahmu… rawat dia, dan segeralah kirim dia ke pelukan ibumu…auusshhh… aku disini seakan-akan memisahkan sepasang kekasih…”ujar Hye na, menundukkan dirinya, prihatin, sedih.

Yoorae tersenyum mendengar ucapan Hye na, dan perlahan ia melangkah mendekatinya, memberinya sebuah pelukan hangat. Hye na tersenyum, membalas pelukan gadis dihadapannya dan menepuk punggungnya pelan “gwenchana… mianhe… sudah banyak merepotkanmu… aku akan segera mengurus surat kepindahan ayahmu… dan mau tidak mau… dipaksa ataupun tidak… ayahmu harus segera keluar dari Han Hospital…”ujar Hye na yang terdengar sedikit mengancam. Yoo rae melepaskan pelukannya, menatap Hye na terkejut “ahni omma… jangan buat dia pensiun dini…”

“waeyo…?”

Yoo rae tersenyum, kemudian mendekat dan mulai membisikkan sesuatu ditelinga Hye na “…omma akan menyalahkanku karena hanya omma yang akan dirawat oleh appa… dan itu akan membuatnya merasa terkekang… appa terlalu protektif pada omma…”

Hye na tertawa “…ah… ya… aku mengerti… baiklah… aku akan mengirim surat rekomendasi ke salah satu rumah sakit di New York… dan aku ingin kau menggantikan ayahmu… segera sayang…”ujar Hye na, mengecup ringan pipi Yoorae.

Yoorae tersenyum lebar mendengar ucapan Hye na kemudian segera menganggukkan kepalanya cepat “…ne omma”jawab Yoorae tegas. “khamsamnida…”ujar Yoorae sesaat setelah ia bangkit, memutar tubuhnya dan membungkukkan tubuhnya dihadapan Hye na, member hormat. Hye na tersenyum melihat itu, membuatnya beranjak dari tempatnya dan membawa Yoorae dalam pelukannya. “…kamu harus ingat sayang… kamu selalu diterima dirumah ini… dan sampaikan salamku pada ibumu… sampaikan maafku padanya dan terima kasihku…”ujar Hye na. Yoorae tersenyum. “…ne omma…”

Yoorae tersenyum dan beranjak pergi, tepat ketika seseorang mengetuk pintu kamar Hye na. Senyum Hye na dan Yoorae menghilang seketika, menatap penasaran pintu dihadapan keduanya “..ne…”ujar Hye na kemudian.

“maaf agashi… seseorang mencari anda…”

**********

Hyun woo duduk di ruang tengah keluarga Lee, menunggu, di tempat itu Hyun woo masih dapat merasakan kehangata keluarga itu. Ruangan itu adalah ruangan yang tidak pernah sepi, dimana tempat semua orang dalam keluarga itu berkumpul jadi satu. Menikmati kebersamaan, bercanda dna saling mengobrol, membicarakan hampir segalanya. Hyun woo sempat merasakan kehangatan itu selama ia berada bersama keluarga ini. Hyun woo tersenyum, menatap sekelilingnya, berusaha menyimpan setiap bagiannya dalam memorinya, menyimpan setiap hal yang terjadi diruangan itu.

Hyun woo menghela napas panjang, kemudian mulai melangkah ke sebuah foto ukuran besar dengan bingkai bersepuh emas yang menunjukkan keluarga besar itu. Ia dapat melihat Lee En kyu saat ia berumur kira-kira 7 atau 8 tahun dengan adik-adik kembarnya yang berada dalam gendongan seorang laki-laki tua dan laki-laki tua lainnya. Hyun woo dapat menebak mereka adalah orang tua Hye na juga orang tua suaminya itu. Hyun woo menatap sinis pada Jung min yang tampak berdiri di sisi Hye na, mendekap erat tubuhnya, sambil melingkarkan lengannya di sekeliling perutnya, seakan ia hanya berfoto berdua di foto itu.

Hyun woo mendesah. Ia kembali memandang sekelilingnya. Hyun woo sudah menyadari sedari awal, ruangan itu berkesan alam, dengan sofa warna coklat muda. Lantai warna kayu, coklat tua yang terasa hangat juga beberapa foto, piala penghargaan dan lukisan yang semkain menunjukkan kehangatan ruangan itu. Hyun woo tersenyum, membayangkan sesuatu yang tidak pernah terbersit dikepalanya. Keluarga…

Khayalan Hyun woo kembali menjelma. Ia duduk di sofa itu, membaca Koran atau berbicara jadwal syutingnya melalui telepon, anak-anaknya berlari mengelilingi ruangan itu, sesekali bercanda dengannya, mengacak rambutnya atau mengganggunya, memintanya untuk menggendongnya di punggungnya. Hyun woo tersenyum membayangkan itu. Ahhh, jika ada beberapa anak, seharusnya ia juga memiliki seorang istri. Khayalannya kembali mewujud dikepalanya. Setelah ia merasa lelah menggendong anak-anaknya di punggungnya, ia akan duduk kembali di sofa dan mendapati sang sitri tengah duduk di sisinya, memberikannya teh hangat penghilang dahaga, kemudian menyuapinya dengan makanan ringan buatannya sendiri. Hyun woo akan tersenyum menatapnya, saling menunjukkan rasa cinta pada masing-masing dan memupuk rasa cinta itu agar semakin tumbuh subur. Hyun woo tersenyum menatap sisinya dan saat itu, khayalannya menjadi nyata, ia menatap ‘istrinya’ ia tengah tersenyum menatapnya, menunggu. “Hye na…”ujarnya lirih namun terdengar mendesah ditelinga seseorang.

“YYA!!!”seru seseorang tiba-tiba, menepuk pelan bahu Hyun woo yang segera mengalihkan pandangannya menatap orang itu. “YOORAE!! APHO!!”ujar Hyun woo, kesal.

“auushhh… dasar cengeng…!!”jawab Yoorae sambil kemudian mengalihkan pandangannya menatap beberapa tas yang berada disisi “kau juga akan pergi…?”tanya Yoorae,

“kau juga…?”

“ne… appa menyuruhku pulang… jadi… kau sendiri… bukannya kau bilang…EHMMM!!” Hyun woo menghentikan kalimat Yoorae dengan tiba-tiba membekap mulutnya erat dengan sebelah tangannya. “YYA!! APHO!!!”seru Yoorae, mengusap bibirnya yang terasa panas sambil menatap Hyun woo kesal
“auuusshhh… dasar cengeng…”balas Hyun woo kembali.

“kalian berdua… bisa hentikan tidak… kalian seperti anak kecil…”ujar Hye na, menatap keduanya tersenyum. Hye na mengalihkan pandangannya menatap Hyun woo “…kau juga akan pergi…?”

“omma… aku pamit… appa sudah menungguku di apartemennya...”putus Yoorae setelah menatap jam diponselnya kemudian mengalihkan pandagannya menatap Hye na, memeluknya sesaat kemudian segera melangkah pergi, meninggalkan Hyun woo dan Hye na sendiri diruangan itu. “hati-hati sayang…”ujar Hye na sambil melambaikan tangannya. Setelah Yoorae menghilang dari pandangan, tatapan Hye na kembali teralih pada laki-laki dihadapannya “…kau juga harus pergi…?”

“ ne… ada sebuah kontrak film… karenanya aku harus kembali ke New York…”ujar Hyun woo, menatap Hye na sedikit sedih “…gwenchana…?’tanya Hyun woo tiba-tiba ketika menyadari wajah Hye na yang terlihat pucat. Hyun woo melangkah mendekat, meletakkan tangannya di salah satu pipi Hye na, berusaha mencari tahu.

Hye na tersenyum, kemudian meraih tangan Hyun woo dari pipinya. Hye na menggenggam tangan Hyun woo dipipinya, menurunkannya kemudian menggenggamnya dengan kedua belah tangannya, menepuk tangan itu ringan, tersenyum seperti seorang ibu pada anaknya “...kau bisa datang kesini lagi nak... kau selalu diterima disini...”ujar Hye na, tersenyum menatap Hyun woo. “aku senang En kyu memiliki teman-teman yang baik selama dia di New York...”ujar Hye na. keduanya saling menatap tersenyum, tanpa menyadari keberadaan 2 orang yang menatap keduanya nanar. Seorang diantaranya menatap keduanya marah. Kemarahan yang belum reda seutuhnya kembali muncul memuncak dan semakin membesar
“om..omma...”panggil seseorang diantaranya, takut, menatap Hye na tanpa berani memalingkan wajahnya menatap laki-laki di sisinya. Hye na memutar tubuhnya, menatap 2 orang itu “...kalian sudah pulang...?”tanya Hye na tersenyum, menatap keduanya bingung sekaligus senang “...ada apa...? bukankah kita sudah janji akan bertemu disana... ada apa Jung min-aa...”ujar Hye na menatap keduanya tidak mengerti. Pandangannya berubah ketika mendapati kemarahan di wajah Jung min. Hye na melangkah mendekatinya, mencoba untuk menenangkan Jung min.

Perlahan Hye na melangkah dan saat ia meletakkan tangannya di wajah Jung min, dengan tiba-tiba, Jung min menepis tangan itu membuat Hyun woo diam, terkejut dan mengalihkan pandangannya menatap En kyu, mengharap penjelasan, namun orang yang ditatapnya hanya diam, dan menundukkan kepalanya. Hyun woo menyadari sesuatu yang salah. Hyun woo mendekati Jung min dan En kyu, berdiri di sisi Hye na yang tampak terkejut “...aku pamit tuan Lee... En kyu... kita bertemu di New York... terima kasih untuk segalanya... untukmu juga Hye na-ssi... aku berterima kasih untuk segalanya... dan...”

“ayo!!”seru Jung min tiba-tiba, menghentikan kalimat Hyun woo, menarik tangan Hye na, mencengkeramnya kuat membawanya kekamar keduanya.

“ada apa Jung min-aa... akkhh... kau menyakitiku... ada apa...?”tanya Hye na, menatap dan merasakan kemarahan dari pandangan dan cengkraman kuat Jung min. Jung min menghentikan langkahnya tanpa melonggarkan cengkramannya, kemudian membalikkan tubuhnya menatap En kyu dan Hyun woo. “berikan amplop itu Lee En kyu...”ujar Jung min, menatap En kyu yang masih diam, mengangkat tangannya yang bebas, menunggu En kyu. En kyu diam, seolah tidak ingin memberikan apa yang diminta oleh sang ayah.

Dengan kesabaran yang telah menipis, Jung min menggeram, memejamkan matanya, mencengkeram lebih kuat pergelangan tangan Hye na dan berjalan kearah En kyu sambil masih menarik Hye na. Membuat Hye na benar-benar merasakan sakit dipergelangan tangannya “...apho Jung min-aa...”ujar Hye na lirih. Jung min diam, ia mengambil amplop ditangan En kyu dan kemudian membawa kembali Hye na pergi dengan cengkraman yang semakin kuat, seolah ingin memberikan rasa sakit dihatinya pada Hye na, seolah ingin menyalurkan perasaan marahnya melalui pergelangan tangan Hye na.

Hyun woo dan En kyu miris menatap cara Jung min yang menarik Hye na menaiki tangga. Keduanya menatap pasangan itu dalam diam, sesekali berseru lirih dan terlihat beranjak dari tempat keduanya untuk mendatangi Hye na dan membantunya ketika Hye na tersandung di salah satu anak tangga dan hampir terjatuh.

“apa yang terjadi dengan appamu...”tanya Hyun woo, mengalihkan pandangannya menatap En kyu.

“ini bukan saatnya kawan... kau pergilah... ne... kau akan selalu diterima dirumah ini seperti kata omma...”

“tapi...”

“pergilah... ini diluar hakmu... suatu saat aku akan mengatakannya... tapi tidak sekarang... aku mohon...”
Hyun woo diam, menghela napas berat menatap En kyu. Tatapannya kini menyimpan sejuta keseriusan yang tidak biasa dari seorang Kim Hyun woo “berjanjilah... kau akan menjaga ibumu... jangan sampai ayahmu melakukan sesuatu yang buruk padanya... berjanjilah...”

“pergilah...”

“ahni!!!”

“kau harus pergi Kim Hyun woo!!!”seru En kyu frustasi, kesabarannya hilang. Hyun woo menarik napas panjang “...kau harus berjanji Lee En kyu... atau aku akan mendobrak kamar ibumu dan membawanya pergi...”ancam Hyun woo, membuat En kyu mengalihkan pandangannya menatap Hyun woo terkejut. En kyu diam menundukkan kepalanya. Ia lelah...

Saat itu Hyun woo dapat menatap rasa lelah yang terpancar dari pandangannya “...En kyu...”ujar Hyun woo lagi, lembut, menyadari rasa lelah dan tertekan sahabatnya itu “..aku mohon... aku tidak tahu apa masalah antara ayah dan ibumu... tapi satu hal yang aku tahu... ada sesuatu yang seakan kembali terbangun dari diri ayahmu... dan aku dapat melihatnya ini lebih besar... lebih berbahaya... aku mohon... berjanjilah...”

En kyu diam, ia juga menyadari itu, dan ternyata Hyun woo juga menyadarinya. En kyu menundukkan kepalanya semakin dalam, tidak dapat mengelak “...dia ibu ku Kim Hyun woo... aku pasti akan menjaganya... dan kau berkonsentrasilah dengan pekerjaanmu, selesaikan dengan baik... raihlah Oscar... jangan memikirkan apa yang terjadi hari ini... aku berjanji segalanya akan segera berlalu...”ujar En kyu, yang kini tampak tersenyum atau Hyun woo dapat melihat senyum penuh keterpaksaan dari wajahnya, namun Hyun woo menerimanya “..ne... terima kasih...”ujar Hyun woo yang kemudian mengambil tasnya dan membawanya bersama langkah kakinya pergi keluar dari Mansion itu.

**********

Jung min menutup pintu dibelakangnya keras dengan masih menarik dan mecengkeram pergelangan tangan Hye na kuat. Ia membawa Hye na ke pembaringan keduanya. Pembaringan yang merupakan saksi bisu cinta mereka. Tempat dimana keduanya memadu kasih dan cinta, namun Jung min merasakan sesuatu yang berbeda dengan ranjang itu. Sesuatu yang membuat kemarahannya kembali meraja.

“sakit Jung min...ada apa...?”tanya Hye na, yang berusaha melepaskan cengkraman tangan Jung min yang semakin membuat pergelangan tangannya sakit. Ia merasa tulang-tulangnya akan remuk jika Jung min semakin keras mengcengkeram pergelangannya itu.

Jung min mengatupkan rahangnya kuat menahan kemarahannya, namun kemarahan itu tidak tertahan lagi di kedua tangannya. Dengan keras ia membuang amplop ditangannya kemudian melempar Hye na dan membuat Hye na jatuh tertelungkup di ranjang keduanya.

Hye na diam, tidak percaya dengan apa yang dilakukan suaminya itu padanya. Tidak pernah sekalipun Jung min melakukan hal itu padanya. Mencengkeram tangannya kemudian melemparkan dirinya begitu saja. Hye na menatap suaminya tajam, dia benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi pada Jung min.

“ada apa...”

“buka amplop itu dan lihatlah sendiri!”ujar Jung min tegas, menatap Hye na marah. Hye na diam, tidak menuruti apa yang dikatakan Jung min “buka...”ujar Jung min lagi, tidak sabar.

“apa ini...” ketakutan mulai merasuk didiri Hye na. Tubuhnya gemetar, hatinya bergejolak. “buka... BUKA KATAKU!!!”seru suaminya itu, menatap Hye na penuh kemarahan. Hye na diam, dan perlahan mulai mengambil amplop yang dilemparkan Jung min di ranjang dan kini berada disisinya. Hye na meraihnya, membuka dan  menatap isinya.

Hye na membelalakkan matanya, terkejut, tidak percaya dengan apa yang ada dihadapannya. Hye na menatap foto-foto yang seronok ditangannya. “ap...apa ini...?”tanya Hye na, menatap Jung min tidak mengerti.

Kemarahan semakin memuncak didiri Jung min, menatap kepura-puraan Hye na “...ahhh... setelah malam yang indah... kau pura-pura lupa...sayang...”ujar Jung min, dengan nada yang terdengar mengejek untuk kata di akhir kalimatnya.

“tapi...siapa ini... ini...”

“cih...kau benar-benar aktris yang hebat... kau pantas mendapatkan Grammy atau Oscar... aktingmu sangat cemerlang...”ledek Jung min.

“tapi...”

“APA FOTO ITU BELUM JELAS...?!?!? BELUM CUKUP MENUNJUKKAN BETAPA BURUKNYA DIRIMU?!?!? SIAPA LAGI...?!? SIAPA LAGI SELAIN ORANG DI FOTO ITU..?!? ADA BERAPA LAGI SELAIN DIA...?!?!? ADA 2... 3 LAGI...?!?” ujar Jung min sarkatis

Hye na diam, menggelengkan kepalanya kuat “ahni...”ujarnya lirih, masih belum dapat percaya dengan apa yang dilihatnya. Ini bukan dirinya, tapi bagaimanapun dilihat dari sisi manapun, itu adalah....

“ahhh... 5...”ujar Jung min, masih menatap Hye na marah.

Hye na diam, menatap Jung min. Air matanya mulai jatuh menetes. Ia benar-benar tidak mengerti dengan foto itu, namun ia mulai mengerti maksud Jung min. Hanya saja, ia benar-benar tidak tahu kapan foto itu diambil. Kapan ia membuat foto itu dengan keadaan... keadaan seperti itu, ia tidak pernah... Hye na tidak pernah melakukan hal itu. Mengkhianati suami yang sudah hidup bersamanya selama 14 tahun ini, ia tidak akan pernah melakukan itu, bahkan jika itu hal terakhir yang harus dilakukannya, ia akan memilih mati... Ia terlalu mencintai suaminya itu, ia sangat mencintainya, hingga ia memilih untuk tidak dapat menghirup udara kembali jika ia berpisah dengannya, dan kini... mengkhianati suaminya... tidak akan pernah.

“kenapa...?!?”tanya Jung min sarkatis. Hye na menatap Jung min, mengiba. Jung min melangkah mendekat, mencengkeram rahang Hye na kuat, mengangkat kuat wajahnya. Hye na menutup matanya sesaat, menahan rasa sakit yang datang di kedua sisi rahangnya, namun rasa itu tidak sesakit hatinya. Ia merasakan hatinya dicabik dan tubuhnya dibelah menjadi beberapa bagian. Ia merasa sudah tidak bersisa lagi. Jung min masih diam menatapnya marah, tidak peduli dengan apa yang dirasakan wanita dihadapannya.



 Hye na membuka matanya, menahan air mata yang akan jatuh kembali. Saat itulah ia dapat menatap kemurkaan dari pandangan mata suaminya itu. Pandangan yang tidak pernah diperlihatkan dihadapannya selama pernikahan mereka, pandangan yang tidak pernah ada sebelumnya dan entah kenapa ia mendapati pandangan itu. Hye na diam, menatap sang suami, mencoba menahan rasa sakitnya “...apa kau ingin bilang difoto itu bukan dirimu...?”tanya Jung min, menatap Hye na penuh kekejaman. Hye na diam, ia tidak mampu lagi, ia tidak kuat menatap pandangan mata itu. Hye na memejamkan matanya, membuat satu persatu air matanya mulai jatuh menetes, mengalir dipipinya hingga mengalir dan membasahi tangan Jung min yang masih memegang erat rahangnya.

Jung min melepas kuat cengkraman tangannya di rahang Hye na, membuat Hye na seakan ditampar olehnya. Hye na benar-benar tidak mengerti.

Jung min diam, menatap istrinya itu. Rasa sakit ketika merasakan air mata kekasih hatinya, bidadarinya jatuh ditangannya seakan merasuk didalam dirinya, membasahi relung hatinya, mengikis kemarahannya, namun sepertinya tipis, dan kemarahan itu kini malah semakin bertambah “...kau...” Jung min terdiam sesaat, menggigit bibirnya kesal. Ia bisa merasakan rasa darah dimulutnya saat itu. Ia berharap darah itu dapat menahan apapun kalimat yang akan keluar dari mulutnya, tapi... kemarahan telah menguasai segalanya, rasa sakit dan kenangan buruk telah menggantikan segalanya “...jika kau ingin pergi meninggalkan aku... lakukan sajalah... kau tidak perlu melakukan seperti ini.. mengkhianatiku... melakukan hal yang bukan selayaknya... kau...” Jung min menggigit lagi bibirnya kuat. Desahan panjang dan  keras keluar dari mulutnya “...kau benar-benar membuatku muak...”ujar Jung min yang kemudian melangkah pergi meninggalkan Hye na, membanting pintu kamarnya itu, hingga membuat Hye na semakin terpuruk dalam kesedihannya “...ini bukan aku... bukan aku... Jung min-aa...”ujar Hye na lirih setelah pintu dihadapannya menjeblak tertutup.

Hye na jatuh terduduk, menatap semua foto ditangannya, meringis sakit karena rasa panas dipergelangan tangannya sekaligus rasa sakit dihatinya. Hye na mencengkeam erat bajunya tepat didadanya. Tubuhnya sakit, hatinya sakit. Tangisnya yang jatuhpun tidak berhenti, bahkan semakin deras, jatuh.

**********

En kyu menatap kepergian Hyun woo kosong. Teringat akan sesuatu En kyu mengambil ponselnya. Dia menatap layar ponselnya dan tersentak bahagia ketika mendapati pesan dari seseorang yang ditunggunya. Dengan segera En kyu menekan tombol di ponselnya dan menunggu tersambung.

“yobseyo...”ujar seseorang dibalik ponselnya.“ne En kyu... ada apa... kenapa kau meninggalkan pesan...”

“ahjussi... aku mohon... kembalilah... aku mohon...”ujar En kyu cepat, khawatir

“wae...? ada apa...? liburanku belum selesai... dan aku belum melakukan apapun...”

“aku mohon Seung gi ahjussi... ini berhubungan dengan appa dan omma... terjadi sesuatu ahjussi... dan aku butuh pertolonganmu... aku tidak mengerti apa yang harus aku lakukan... aku bingung ahjussi... aku mohon ahjussi...”ujar En kyu, cepat dan terdengar mengiba karena kekhawatirannya. “aku mohon ahjussi... appa...” tiba-tiba kalimat En kyu terhenti, perhatiannya teralihkan pada seseorang yang baru saja berlalu dihadapannya. En kyu menyingkirkan ponselnya dari telinganya dan berjalan bergegas mengejar sang ayah “appa...”panggil En kyu, membuat Jung min mendesah kesal dan menghentikan langkahnya “...omma...”ujar En kyu, sesaat melupakan Seung gi yang masih berada di sambungannya. “En kyu-aa...” panggil Seung gi, namun masih tidak ada jawaban.

“yobseyo...”

“appa... gwenchana...?”tanya En kyu, masih belum mempedulikan Seung gi. Pertanyaan En kyu sebenarnya tidak ditujukan untuk sang ayah, tetapi untuk ibunya. Ia masih dapat melihat kemarahan sang ayah, dan karenanya ia mengkhawatirkan ibunya. Jung min mengerti, ia memahami maksud En kyu, namun keadaannya tidak sedang seperti biasanya. Ia terlalu marah, terlalu kesal dan terlalu benci. “aku sudah tidak peduli dengannya...aku benar-benar sudah muak!!” ujar Jung min, cukup keras hingga Seung gi dapat mendengarnya.

Seung gi yang sebelumnya akan menutup ponselnya, terdiam ditempatnya mendengar itu. Merasakan sesuatu yang berbeda, Merasakan sesuatu yang aneh. Ia mengenal nada suara itu. sudah 14 tahun, nada suara itu tidak pernah kembali, dan kini nada suara itu kembali lagi. ‘Setelah 14 tahun...? apa yang terjadi...?’ “En kyu-aa... Gwenchana...? biarkan aku bicara dengan ayahmu... En kyu-aa!!”

En kyu sama sekali tidak mendengarnya, ia hanya diam menatap kepergia sang ayah, kemudian teringat sesuatu “....ahjussi... mianhe... aku harus melihat omma... aku takut terjadi sesuatu dengannya...”

“apa yang terjadi...?”

“ahni ahjussi... En kyu tidak bisa mengatakannya lewat telepon... ahjussi pulanglah... En kyu mohon... En kyu tidak mengerti harus bagaimana...”

Jeda lama kembali terbentuk, hingga...

“dimana Jung moon ahjussi...?”tanya Seung gi

“tidak tahu ahjussi... En kyu belum melihatnya...”

Jeda kembali hadir, Seung gi diam, hingga “...baik... ahjussi pulang... dan paling lambat besok ahjussi sampai...”

“ne... khamsamnida ahjussi... En kyu benar-benar bingung... En kyu tidak tahu harus melakukan apa...”

“jika Jung moon sudah pulang, katakan segalanya padanya... ceritakan semuanya... dan lebih baik bawa ommamu ke Han mansion...”

En kyu diam, menaydari kefatalan yang mungkin terjadi hingga Seung gi mengatakan itu “...apa yang terjadi pada omma jika ia masih disini ahjussi...?”tanya En kyu, tidak ingin mengerti, dan berusaha membantah pemikiran yang menganggunya. Tidak akan seperti itu.

“entahlah nak... ahjussi sudah terlalu lama bersama appamu... tapi tetap ahjussi tidak bisa menebak apa yang akan dilakukan appamu... hanya bawa Hye na pergi dari sana... itu akan lebih baik baginya...”
En kyu diam, menyadari, bahwa hal yang menganggu pikirannya, benar adanya...

**********

Hye na menatap kosong, nanar semua foto yang terserak dihadapannya. ia tidak mampu bergerak. Seluruh otot ditubuhnya kaku, sakit. Hye na menarik napas panjang, dan itupun membuat dadanya sakit. Ia merasa untuk bernapas pun ia kesulitan.

Segalanya begitu tiba-tiba untuknya, segalanya menyesakkan. Hye na terisak lirih. Dibelainya perutnya pelan “...mianhe sayang... aboji tidak bermaksud memarahimu... aboji hanya marah pada omma... jangan marah padanya ya...”bisik Hye na lirih.

Pandangan Hye na buram oleh air matanya yang masih menggenang dan perlahan jatuh tidak terkendali. Hye na menarik napas panjang. Tubuhnya terasa lelah. Perlahan Hye na bangkit dan merebahkan tubuhnya diranjang. Namun, segalanya terasa aneh baginya, ranjang itu terasa asing ditubuhnya. Terasa baru. Hye na kembali terisak. Apa yang terjadi padanya...? apa yang sudah dilakukannya...? ia bahkan tidak mengetahuinya. Ia bingung. Hye na mengangkat tubuhnya kembali, ia melangkah perlahan ke luar dari kamarnya dan melangkah ke kamar Ha na yang berada tepat disisi kamarnya. Hye na menatap ranjang Ha na sesaat. Ranjang yang cukup besar untuk seorang Ha na, tapi itu adalah saran sekaligus perintah dari suaminya. Karena jika sebuah saran hal itu masih dapat ditolak, sedangkan ini, Hye na tidak bisa memilih atau menolak. Hal ini adalah keharusan dari Jung min. Hye na tersenyum menatap ranjang itu. Ranjang besar yang disediakan Jung min jika ia ketiduran ketika menyusui Ha na, menemaninya atau menidurkannya. Ranjang besar yang memungkinkan jika dirinya dan Jung min ingin tidur bersama Ha na tanpa ingin membangunkan Ha na.

Hati Hye na semakin pedih mengingat itu. Kenapa...? Pertanyaan itu selalu berkecamuk dihatinya, Kenapa bisa terjadi...? 14 tahun mereka menikah dan hancur dalam 1 hari hanya karena foto-foto tidak jelas itu. Foto-foto yang bahkan suaminya sendiri tidak bisa membedakan antara dirinya dengan seseorang entah siapapun di foto itu. 14 tahun kehidupan membahagiakan mereka hancur begitu saja dalam waktu hanya beberapa menit. Waktu 14 tahun... Hye na mendesah. Ya, 14 tahun cukup menyakitkan jika salah satu mengkhianati.

Hye na mengusap air matanya pelan, menatap Ha na yang tengah terlelap dalam tidurnya, membuatnya tersenyum lebar, sejenak melupakan rasa sakitnya. “sayang... dada sudah pulang...”bisik Hye na, sembari mengecup singkat kening Ha na, menatapnya. Perlahan pandangannya buram, air matanya tidak dapat lagi ia bendung. “mianhe sayang... mianhe...”ujar Hye na lirih.

Hye na membaringkan tubuhnya perlahan disisi Ha na, dan membawanya kedalam pelukannya “eomma mencintaimu nak... sangat mencintaimu...” bisik Hye na tanpa dapat menahan air matanya. Hye na mencoba menghapus segala rasa sakitnya. Ia mencoba memejamkan matanya. Tubuhnya terasa lelah, namun otaknya seakan enggan untuk beristirahat. Enggan membuat kedua matanya tertutup. Hye na mencobanya lagi. Ia memaksa, dan akhirnya kedua matanya tertutup.

Kini ia mencoba menenangkan pikiran dan hatinya, tapi segalanya terasa sakit. Ia menangis sambil memejamkan matanya... Hye na benar-benar merasa terpuruk, hingga ia tidak menyadari 2 orang yang tengah menatapnya nanar sekaligus bingung.

***********

Min Hyun ah terdiam ditempatnya, menatapnya, ia terlihat serius dengan ponselnya, namun orang itu hanya diam, seolah-olah berusaha mendengar semua yang terjadi atau semua yang dibicarakan oleh seseorang dibalik ponselnya itu “ada apa...”gumamnya pelan, menatap semangkuk kecil obat yang disiapkan olehnya beberapa saat yang lalu. Min Hyun ah diam, ia harus menyerahkan obat itu sebelum dingin. Min Hyun ah, mengetuk pintu yang sudah terbuka itu pela, namun tidak terdengar jawaban dari orang didalam ruangan itu. ia masih diam dan mendengar dengan penuh konsetrasi apa yang terjadi dibalik ponselnya itu.

“Seung gi-ssi...”panggil Hyun ah dan membuat Seung gi membalikkan wajahnya menatap seseorang yang memanggilnya, namun tetap saja, pikirannya masih berkutat dengan yang didengarnya di balik ponselnya.

“gwenchana...?”tanya Min Hyun ah lagi. Dan Seung gi masih diam, tidak menjawab dan hanya menatap obat di tangan Hyun ah, mengambilnya cepat dan meneguknya tak kalah cepat, menghabiskannya seketika “...gomawo...”bisik Seung gi hampir tanpa suara dan kembali dengan ponselnya.

Min Hyun ah menyadari sesuatu, ia diam dan berharap akan mendengar sesuatu apapun itu, namun ia tidak ingin mencampuri semua urusan Lee Seung gi sebelum ia diajak masuk kedalamnya dan akhirnya keputusannya itu membuatnya melangkah pergi meninggalkan Seung gi.

Lee Seung gi merasakan desahan berat dari mulut Hyun ah, ia menyadari rasa kesal yang mungkin hadir dihatinya karena ketidakpedulian dirinya beberapa saat yang lalu. Seung gi menatap pintu yang tertutup diruangan itu “mianhe...”ujarnya

Dan setelahnya ia kembali serius dengan ponselnya, berusaha memanggil seseorang yang berada.

“En kyu-aa...” panggil Seung gi, namun masih tidak ada jawaban. Seung  gi berdecak kesal. “yobseyo...” panggilnya lagi, masih mencoba untuk mendengar sesuatu. Seung gi diam mengangkat ponselnya di hadapannya, menatap ponselnya, mencoba mencari tahu jika ada kesalahan dengan ponselnya, tapi tidak. Sinyalnya cukup kuat dan batreinya masih penuh. Tidak ada yang salah dengan ponselnya.

Seung gi mengembalikan ponselnya ketelinganya dan mencoba mednegar kembali, saat itulah keterkejutan menerpanya. “appa... gwenchana...?”tanya En kyu. Seung gi diam, sempat diterpa kebingungan juga ketika mendengar itu. berpikir sesuatu telah terjadi pada Jung min, namun ia menyadari yang salah setelahnya,

“aku sudah tidak peduli dengannya...aku benar-benar sudah muak!!” ujar Jung min, cukup keras, dan dari nalik ponsel pun ia masih dapat mendengar suara Jung min itu. Seung gi terdiam ditempatnya mendengar itu.

Saat itulah ia dapat merasakan sesuatu yang berbeda, merasakan sesuatu yang aneh. Ia mengenal nada suara itu. Sangat mengenalnya. Nada suara penuh kemarahan, penuh kebencian seperti yang terjadi ketika itu. Saat hari-hari terburuk seorang Lee Jung min. Saat dimana Jung min terpuruk. Terpuruk sangat dalam karena pengkhianatan dan penyesalan. Saat segalanya adalah mimpi buruk baginya.

Seung gi benar-benar tidak mengerti yang tengah terjadi. Tidak mungkin jika hal itu kembali lagi. Setelah 14 tahun, nada suara itu tidak pernah kembali, dan kini nada suara itu kembali lagi. ‘Setelah 14 tahun...? apa yang terjadi...?’

“En kyu-aa... Gwenchana...? biarkan aku bicara dengan ayahmu... En kyu-aa!!”panggil Seung gi, berusaha mencari tahu yang terjadi dan mencoba menenangkan sahabatnya itu, tapi, sesuatu mengusik hatinya dan pikirannya ‘Hye na.... apa yang terjadi padanya...’ batin Seung gi khawatir

“En kyu!! EN kyu-aa!!” panggil Seung gi, namun sama sekali tidak terdengar jawaban dari En kyu, namun akhinya, setelah jeda yang lama dan mengkhawatirkan, terdengar jawaban dari seseorang dibalik ponselnya.

“....ahjussi... mianhe... aku harus melihat omma... aku takut terjadi sesuatu dengannya...”

“apa yang terjadi...?”

“ahni ahjussi... En kyu tidak bisa mengatakannya lewat telepon... ahjussi pulanglah... En kyu mohon... En kyu tidak mengerti harus bagaimana...”

Seung gi diam. Ia menggigit bibirnya bingung. Apa yang harus dilakukannya. Ditatapnya pintu ruanganya yang beberapa saat yang lalu tertutup. Ia memikirkan Min Hyun ah, apa yang terjadi padanya jika dia pergi. Seung gi masih belum bisa menjamin keamanan Min Hyun ah, tapi... Hye na yang juga memiliki banyak kemungkinan masih akan mengalami bahaya, dan ini bahkan lebih berat, karena bahaya itu datang dari suaminya sendiri.

Lee Seung gi terlalu memahami Lee Jung min. Hampir separuh hidupnya ia habiskan bersama Jung min. Dalam keadaan apapun, susah senang, segalanya. Dan ia sangat menyadari keadaan Jung min sekarang. Ia dapat melakukan khilaf apapun, dan ia mengkhawatirkan istri sahabatnya itu. “dimana Jung moon ahjussi...?”tanya Seung gi

“tidak tahu ahjussi... En kyu belum melihatnya...”

Seung gi diam, ia memejamkan matanya, dan memutuskan “...baik... ahjussi pulang... dan paling lambat besok ahjussi sampai...”

“ne... khamsamnida ahjussi... En kyu benar-benar bingung... En kyu tidak tahu harus melakukan apa...”

“jika Jung moon sudah pulang, katakan segalanya padanya... ceritakan semuanya... dan lebih baik bawa ommamu ke Han mansion...”

En kyu diam, menyadari kefatalan yang mungkin terjadi ketika Seung gi mengatakan itu “...apa yang terjadi pada omma jika ia masih disini ahjussi...?”tanya En kyu. Seung gi menyadari ketakutan dari suara En kyu, ia tidak ingin memberikan ketakutan, tapi ia harus menagtakannya jika tidak ingin sesuatu terjadi pada Hye na. “...entahlah nak... ahjussi sudah terlalu lama bersama appamu... tapi tetap ahjussi tidak bisa menebak apa yang akan dilakukan appamu... hanya bawa Hye na pergi dari sana... itu akan lebih baik baginya...”

Ya, Seung gi tidak dapat menebak apa yang akan dilakukan Lee Jung min jika ia mendapat sebuah pengkhianatan kembali. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh seorang Jung min ketika mendapati seseorang didekatnya, bahkan sangat dekat dengannya berbohong padanya. Seung gi diam, ia menghela napas panjang.

***********

“skak mat...”seru seseorang sambil menatap papan catur dihadapannya. Senyum lebar terkembang dwajahnya, sesuatu telah membuatnya sangat bahagia. Sesuatu yang besar sudah berhasil ia lakukan, tinggal sisanya, dan ia kana menghabisinya. Menghabisi seorang Lee Jung min perlahan namun bertubi-tubi. Membuatnya merasakan sakit. Sakit yang sangat karena sebuah pengkhianatan. Sangat karena ditinggalkan. Ia berjanji Jung min juga akan merasakan itu, merasakan rasa sakit karena ditinggalkan oleh orang yang dicintainya.

Cha In soo menatap seseorang yang menatap diam ia yang tengah memainkan bidak-bidak catur itu sendiri, seakan seorang penguasa yang menggerakkan semuanya dan dengan sesuka hati menghancurkan bidak-bidak itu, membuang yang tidak berguna, melemparkan bidak manapun yang  ia anggap menghancurkan dirinya. “ apa kau sudah menyiapkan yang berikutnya pak Yang...?”tanya In soo, menatap Pak Yang senang

Pak yang menatap tuannya itu. Sudah hampir 20 tahun ia bersamanya. Turun menurun, berawal dari sang kakek, ayahnya dan sekarang dirinya. Ia berusaha melayani tuannya itu dengan baik, melakukan apapun yang diinginkannya, walaupun terkadang bertentangan dengan hatinya, namun yang ia tahu adalah hati tuannya itu, hatinya...? ia tidak terlalu memperhatikannya.

“ne... hanya tinggal menunggu perintah anda kapan hal itu akan dilakukan...”

Cha In soo tersenyum penuh kebanggaan “...heemmm... bagus... dengan 2 hal itu, maka akan membuat seorang Lee Jung min jatuh terpuruk ke lembah terdalam...”ujar Cha In soo.
Pak Yang diam, ia memikirkan sesuatu, hatinya memintanya untuk bertanya pada laki-laki dihadapannya itu
“...tuan... maafkan saya...”

“ne pak Yang... apa yang ingin kau katakan...”

Pak Yang tampak diam, menundukkan kepalanya, memikirkan kembali kalimat apa yang akan ia keluarkan dari mulutnya sehingga tidak membuat laki-laki dihadapannya kesal. “pak Yang...?!?”panggil Cha In soo masih dengan senyum yang terkembang diwajahnya.

“tuan...” pak Yang mencoba kembali. Cha In soo diam, menatapnya “...tuan... apa yang akan kau lakukan pada Hye na agashi setelah...”

Sesuai dengan yang dipikirkan Pak Yang. Seketika, saat ia mendengar nama itu disebut, terjadi perubahan besar di wajah Cha In soo. Otot-otot di wajahnya tampak menegang. Rahangnya mengatup kuat hingga mungkin dapat menghancurkan gigi-gigi yang menopangnya. Pak Yang merasa menyesal telah mengatakan hal itu. Cha In soo menatap tajam semua bidak catur yang masih berdiri dihadapannya. Ia hampir melupakan yang satu itu. Cha In soo diam, ia menatap Pak Yang yang terlihat menundukkan kepalanya, menyadari kesalahannya. Senyum lebar dan kejam tampak diwajahnya saat itu “...aku tidak peduli pak Yang... aku tidak peduli dengan apapun lagi... prioritasku hanyalah menghancurkan seorang Lee Jung min, dan aku tidak peduli dengan apapun yang ada disekelilingnya, hanya melihat ia hancur itu sudah sangat membahagiakan...”ujarnya sarkatis, menatap pak Yang penuh kekejaman.

“tapi... Hye na agashi...” Pak Yang mencoba berkonfrontasi, mencoba mengembalikan hati laki-laki dihadapannya. mencoba menjernihkan kembali pikiran laki-laki dihadapannya.

Cha In soo menatap Pak Yang tajam, seolah menyalahkan atau mencoba marah dengan tatapannya. Pak Yang menundukkan kepalanya menatap tatapan tajam itu. Ia sudah lama tidak melihat tatapan tajam itu. Tatapan tajam yang memendam sejuta amarah dihati.
Cha In soo tertawa mengejek “cih...”

“Hye na...”ujarnya lagi.



 Pak Yang segera mengangkat wajahnya menatap laki-laki dihadapannya itu. Banyak kehilangan dan juga rasa sakit telah mengubah hidupnya. Awal yang harmonis, kini berubah menjadi bencana baginya, membuatnya jatuh dan tersesat di lembah terdalam dari kehidupannya. Diawali kehilangan orang tuanya yang membuatnya terpuruk dan menjadi seorang laki-laki yang tidak mempedulikan dirinya dan sekelilingnya. Menjadi seseorang yang dingin.

Membuat sang kakek dan tentu saja Pak Yang tidak mampu melakukan apapun. Membujuknya dengan apapun tidak berguna. Menyembahnya dan meminta pun tidak dipedulikannya. Anak laki-laki yang sebelumnya hangat... senyum yang hangat pun menghilang begitu saja... Hingga akhirnya seseorang itu datang.

Seseorang yang berhasil membuatnya memalingkan wajahnya, mengangkat wajah laki-laki dihadapannya itu dari keterpurukan. Mengangkatnya dan menariknya dari lembah gelap yang terdalam. Seseorang yang berhasil membawa senyum itu kembali. Ya, seorang Han Hye na. Seorang gadis yang hangat dengan senyum yang manis. Ia berhasil membawa seorang Cha In soo bangkit, menghirup udara segar kembali.
Merasakan kembali manisnya hidup.

Han Hye na yang berhasil mengajarkan cinta yang sebenarnya. Cinta yang tidak harus dimiliki. Cinta yang tidak harus ditujukan secara langsung pada orang yang dicintai. Cinta apa adanya. Cinta yang penuh kebahagiaan. Cinta yang penuh senyuman. Seorang Han Hye na, berhasil melakukan semua itu dalam sekejap. Tidak hanya memberikan cinta seorang Hye na, namun ia juga mendapat cinta seorang Cha In soo yang telah lama hilang. Mendapat kasih sayangnya yang telah lama pupus. Dua haln itu seakan kembali merasuk, bangkit dari dalam diri Cha In soo setelah kedatangan Han Hye na. Membuat sang kakek menghela napas lega dan tersenyum lebar untuk pertama kalinya setelah kepergian anak dan menantunya.

Han Hye na membawa hal yang ajaib untuk keluarga ini, namun seperti kehidupan, seperti musim yang segera berganti. Han Hye na yang membawa musim semi yang indah, membawa serta pula musing gugur yang menghancurkan, juga musim dingin yang menyesakkan. Gadis itu pergi, tanpa mengatakan apapun. Ia pergi begitu saja, tanpa menengok ke belakang lagi.

Setelahnya, ia semakin terpuruk karena kepergian gadis itu, dan terakhir, orang yang sangat disayanginya, kakeknya dengan cara yang menyakitkan, membuatnya penuh dengan dendam. Kematian orang terkasihnya itu yang ia anggap karena ulah seseorang. Seseorang yang menjadi janjinya untuk dihancurkan. Seseorang yang merupakan tujuan akhir hidupnya untuk menghancurkannya.

Cha In soo diam, bangkit dari tempatnya, melangkah menatap jendela kaca di balik kursi besarnya. Ya, dia tidak peduli dengan siapapun, apapun... Kini ia sudah memutuskan “...kirim rekaman itu pak Yang... langsung ke tangannya...”ujar Cha In soo, tegas.

**********

Min jae dan Jae min menatap diam sang ibu yang terlihat terlelap dalam tidurnya. menekuk kedua kakinya ke perut. Memeluk lututnya. Pandangan Min jae teralih. Sesuatu membuatnya tertarik ketika menatap adik perempuannya yang juga tengah menatap ibu tersayangnya itu. “...ma ma...”panggilnya sambil menepuk pelan tangan sang ibu. Min jae tersenyum. Ia beranjak masuk kedalam kamar itu. Disusul Jae min yang tampak melangkah perlahan menghampiri sang ibu. Menatapnya dalam. Ha na segera mengalihkan pandangannya menatap kedatangan sang kakak. Ha na tersenyum “...kemari sayang...”ujar Min jae

“omma lelah sayang... ikut oppa ya...”

Seakan mengerti, Ha na tersenyum lebar mendengar itu, dan mengangkat kedua tangannya, menunggu. Min jae tersenyum, mengangkat Ha na kedalam pelukannya, menggendongnya.

“omma lelah sayang... kita main diluar ya...”ujar Min jae.

“ne... oppa ikut juga...”tambah Jae min.

Mendengar itu senyum Ha na berubah menjadi tawa jenaka. Ketiganya kini melangkah keluar dari kamar Ha na, namun hanya beberapa derap langkah sebelum ketiganya mencapai daun pintu. Terdengar desahan dan isakan tertahan dari arah ranjang. Hye na menangis. Ia juga melihat sesuatu di balik kedua bola matanya.

“ahni... ahni... ahni... jangan pergi... aku mohon... jangan pergi... JANGAN PERGI!!!”ujarnya yang terdengar semakin keras. Dengan langkah cepat Jae min dan Min jae menghampiri sang ibu “...omma...omma... gwenchana...” Jae min mencoba membangunkan sang ibu dengan menyentuh pelan lengannya, kemudian wajahnya, namun sama sekali tidak mendapat efek. Jae min menatap keringat yang menetes di kening Hye na, merasakan cengkraman kuat sang ibu di seprai putih Ha na. Menatap bola mata Hye na yang bergerak tak  tentu dibalik kelopak matanya, seolah mencari sesuatu, seolah melihat sesuatu. Jae min dan Min jae khawatir “....apa yang terjadi...? omma tidak bangun...”ujar Jae min.

Min jae diam, menatap Ha na sesaat kemudian menatap Jae min “...coba angkat kepalanya, dan perciki wajah omma dengan air...”

“MWO?!?”

“lakukan saja... atau dia akan seperti itu terus... omma mendapat mimpi buruk... jika tidak kau bangunkan... ia akan mengalami ketakutan psikologis yang berlebihan... cepat...”

“tapi...”

“auuushhhh.. gendong Ha na... biar aku yang melakukannya...”ujar Min jae sambil kemudian menyerah Ha na pada Jae min dan melangkah mendekati Hye na. Min jae mengangkat kepalanya pelan dan hati-hati, kemudian menyandarkan separuh tubuh Hye na di tubuhnya.

Ditatapnya sang ibu sesaat, entah apa yang sudah terjadi, hingga membuat sang ibu terjebak dalam mimpinya. Mimpi buruknya “...omma...”panggil Min jae, menggerakkan tubuh Hye na agar bangun, namun sia-sia. Hye na masih memejamkan matanya seolah ada yang mengolesi lem di kedua kelopak matanya
“...omma... bangunlah.... bangun... jangan seperti ini... omma...!!!”seru Min jae, yang masih tidak menimbulkan efek apapun dari Hye na.

“ada apa..?!!?”seru seseorang tiba-tiba.

Jae min dan Min jae mengalihkan pandangannya menatap orang itu “...omma mimpi buruk hyung...dan dia belum membuka matanya...”

En kyu melangkah mendekatinya “...omma...”panggil En kyu lembut. Min jae diam, kedua matanya berkeliling hingga mendapati sebuah gelas dengan air yang tinggal separuhnya “...ambilkan gelas itu Jae min...”pinta Min jae

“wae...?!?!”

“ausshhhh... kau terlalu banyak tanya... ambilkan saja..”ujar Min jae kesal, terdengar ketus.

Jae min menatap kesal kembarannya itu sesaat, dan kemudian melangkah mengambil gelas yang diminta oleh kembarannya. Jae min memberikannya pada Min jae, membuat EN kyu menatap Min jae bingung sesaat “...kau tidak akan...” En kyu mengerti

“hanya ini hyung”ujar Min jae singkat kemudian mulai menuang air itu ditangannya dan memercikkannya di wajah sang ibu, mencoba membangunkannya. Hye na tampak memalingkan wajahnya, berusaha menghindari percikan air itu dan kemudian tiba-tiba kedua kelopaknya membuka, menunjukkan mata bulat besarnya. Ya, mata itu membesar, ditambah tarikan napas yang cepat dan panjang menunjukkan jika ia terkejut seolah ada yang menyiramkan air dingin ditubuhnya. Keringatnya membasahi wajah dan pakaiannya.

Hye na memalingkan wajahnya menatap sekelilingnya. Menatap ketiga anak laki-lakinya. Mendapati sang ibu sudah terbangun, Min jae menghela napas lega kemudian merebahkan tubuh Hye na kembali diranjang. Ia bangkit “...gwenchana omma...?”tanya Jae min menatap sang ibu khawatir. Hye na menaap ketiganya tampak bingung “...ahhh... Jae min, En kyu, Min jae... ada apa...? apa yang terjadi... apa yang...?” kalimat Hye na terhenti. Ia merasakan panas di kedua matanya. Ia merasakan sesuatu yang bergulir jatuh dari kedua matanya.

Ketiganya menatap diam itu, termasuk Ha na yang tampak mengerti apa yang sedang terjadi pada sang ibu “....ahhh... mianhe...pasti ini karena omma bangun... omma...”

Air mata itu semakin deras membasahi wajahnya. Hye na tidak dapat membendungnya kembali. Hye na menangis, dan membuat Jae min, Min jae, En kyu juga Ha na terdiam menatap itu.

Ha na menatap Hye na. Raut wajahnya yang sebelumnya terlihat senang kini berubah. Ha na tampak ingin menangis. Tangis Hye na semakin menjadi. Isakannya semakin mengeras. Hye na menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, berusaha menutupi kesedihannya dari penglihatan anak-anaknya, namun seperti air hujan yang terus mengguyur bumi dengan derasnya, air mata itu jatuh tanpa terkendali membasahi wajahnya.

“...ma ma...”panggil Ha na mengangkat kedua tangannya, ingin memeluk sang ibu. Wajahnya tampak sedih. Ha na mencondongkan tubuhnya kearah sang ibu, berusaha mendekati Hye na, hingga kemudian Jae min membawanya mendekat, dan berhasil membuat Ha na melingkarkan kedua lengannya di leher sang ibu, memeluknya, tak lama, Jae min pun tampak melingkarkan lengannya mendekap Ha na dan Hye na dalam pelukannya, disusul Min jae dan En kyu. Seakan ingin menghapus kesedihan sang ibu, keempatnya saling mendekap erat. Memberikan kehangatan mereka masing-masing. Memberikan cinta dan kasih sayang tak bertepi mereka lewat pelukan ke empatnya. Merasakan hangatnya pelukan mereka, tangis Hye na semakin menjadi...

*********

Jung min tampak diam ditempatnya. matanya nanar menatap gelas dengan cairan putih jernih berakohol yang ia putar pelan hingga membuat air beralkohol didalamnya bergolak, berputar ditempatnya. Malam telah menjelma saat itu. Kesunyian menemaninya. Ia sendiri dengan sebotol white wine yang kini sudah berkurang lebih dari setengahnya. Ia mengangkat gelasnya ke mulutnya, mengecapnya sesaat kemudian segera meneguknya habis sebelum kemudian mengambil botol di sisinya untuk menuangkannya kembali kedalam gelasnya, penuh, membuat isi di botolnya habis. Ia menegaknya habis, meletakkan gelasnya keras tepat ketika sesosok tubuh menghampiri dna duduk disisinya. “sendiri...?”tanya orang itu yang dapat Jung min kenali pemilik suara itu adalah seroang wanita. Jung min menengadahkan wajahnya menatap wanita yang kini sudah menempati kursi kosong disisinya. Ia tampak tersenyum “...mau kutemani...?”ujarnya lagi dengan senyum menggoda, serta yang tak luput dari pandangan Jung min, pakaiannya yang tampak minim.

Jung min berdecak mengejek. Ia tidak suka wanita dengan pakaian-pakaian yang minim. Terutama untuk Hye na-nya. Ya, ia selalu memilih pakaian apa yang harus dikenakan Hye na di acara-acara pesta perusahaannya atau saat Jung min membawanya kelaur, mengajaknya berjalan-jalan. Jung min tidak suka jika Hye na mendapat perhatian lebih dari para lelaki yang menatapnya dengan tatapan penuh nafsu.

Jung min menatap gelas kosong di hadapannya, mencoba tidak mempedulikan wanita yang masih menatapnya dengan memamerkan belahan dadanya juga kaki jenjangnya yang hanya tertutup sampai paha atasnya. Jung min meliriknya sesaat, wanita itu masih tersenyum menatapnya. “...apa ada banyak masalah...”tanyanya

Jung min berdecak kesal, merasa terganggu “... bukan urusanmu.”ujarnya ketus

“ahhhh... kau terlihat kesal dan marah sekarang...”ujar wanita itu. Jung min diam “...apa karena kekasihmu... ah... ahni... istrimu ya...”ujarnya lagi, ketika menatap sebuah cincin tersemat dijarinya.

Jung min diam, kini kemarahannya mulai memuncak kembali. Mendengar ucapan wanita yang duduk disisinya membuat ia teringat kembali apa yang terjadi sebelum dia pergi dan mengunjungi tempat ini. Jung min mengalihkan pandangannya, menatap wanita itu, kini ia tampak tersenyum. Senyum menggoda.

“ahhh... kau tidak mendapatkannya malam ini...”tanyanya menebak, menatap Jung min lebih dekat dan lebih intim. Jung min tersenyum. “lalu...” pancingnya

Wanita itu tersenyum, kemudian tertawa cukup keras. Perlahan wanita itu mednekatkan wajahnya pada sisi wajah Jung min, membisikkan sesuatu ditelinganya “...aku bisa menggantikan istrimu untuk malam ini...”ujarnya, menatap Jung min menggoda, menyantuh tangan Jung min yang masih bertengger manis di gelasnya.

Jung min tersenyum, menatap wanita itu yang perlahan Nampak bangkit dari tempatnya, dan berdiri, mendekati Jung min. Wanita itu tersenyum, perlahan namun pasti ia melingkarkan lengannya di tengkuk Jung min dan mednekatkan segalanya. Benar-benar segalanya, mencoba menggoda Jung min dengan tubuh, senyuman dan rayuannya.

*********

“YYA!!! siapapun dapat mengetahunya kalau ini bukan Hye na...”seru seorang laki-laki setelah menatap semua foto yang beberapa saat lalu ditunjukkan padanya, mencoba menganalisa sebagai seorang fotografer professional. Laki-laki itu tersenyum lebar menatap semua foto itu. foto yang menunjukkan sesuatu yang senonoh dan sangat intim dari seroang laki-laki dan perempuan. Ia menatap foto itu lekat. Bukan karena apa yang terlihat namun karena kata-kata sang kemenakan yang mengtakan di foto itu adalah ibunya.

“benarkah Jung moon ahjussi...?”tanya En kyu. Ya, hanya beberapa detik ketika ia melihat Jung moon menginjakkan kakinya di Lee mansion. En kyu segera menemuinya dan menunjukkan semua foto-foto pembuat masalah itu. tentu saja tanpa kejadiran sikembar. Karena ini akan membuat keduanya semakin khawatir. Hanya saja, keduanya memang telah membuat En kyu bicara dengan keadaan yang terjadi pada kedua orang tuanya. En kyu sangat menyadari sifat keduanya yang sama keras kepalanya seperti sang ayah dan akhirnya keduanya membuat En kyu mengakui apabila kedua orang tuanya memang ada suatu kesalah pahaman. Namun En kyu meyakinkan bila masalah itu akan segera selesai dan tidak akan terjadi apapun pada kedua orang tuanya.

Jung moon tersenyum, memalingkan wajahnya dari beberapa foto yang berbeda ditangannya, mencoba menilai dan mencari sebuah perbedaannya, dan tentu saja ia segera menemukan semua perbedaan itu, seperti En kyu sebelumnya “...siapapun yang mengenal Hye na akan mengatakan jika di foto ini bukan dirinya... lihat saja... tinggi badannya... gaya berpakaiannya..”ujar Jung moon “...dan hanya orang bodoh yang mengira ini dia...”

En kyu menundukkan kepalanya mendengarnya “...tapi appa seperti itu ahjussi...”ujarnya. Jung moon diam, ia menatap En kyu iba. Menatap En kyu yang menundukkan kepalanya, membuatnya teringat akan sesuatu kembali, ya... ia tahu pasti karena itu...

“dimana ommamu...?”tanya Jung moon, menatap En kyu khawatir sekaligus ada pancaran ketakutan disana.

“dikamarnya... istirahat...”

“appamu...?”

“dia sudah pergi dan belum pulang...”
« Last Edit: March 16, 2013, 10:04:16 pm by ai_yuki »