Author Topic: HEAVEN - Chapter Nine of Tomorrow (26th July 2010)  (Read 13356 times)

Offline minyounglee

  • Admin
  • Junior
  • *****
  • Posts: 165
    • View Profile
Re: HEAVEN
« Reply #30 on: April 08, 2010, 03:32:51 pm »



“Dia ada disini,sebaiknya Tuan tidak pulang dulu sampai dia meninggalkan lobby,” Miss Kim memperingatiku dengan waspada.

“Aboji?”

Miss Kim menggaguk pelan sebagai jawaban, ia sangat cemas, tentu saja setiap kali aku dipertemukan dengan Aboji, semua akan berujung pertengkaran.

“Araseo…Kau lanjutkan kerja saja. Jangan lupa tinjau ulang semua dokumen pembangunan proyek Mr Woo, aku bisa mengatasi semuanya,” perintahku singkat sembari membersekan semua kertas yang berserak berantakan di meja.

Miss Kim membungkuk dan meninggalkan ruanganku cepat-cepat. Sementara aku bergeming, memikirkan apakah akan ada pertengkaran lain dengan Aboji seperti biasa. Kenapa tidak ada keajaiban yang datang sekali ini saja? Keadaan berlalu tenang tanpa pertengkaran, tak bisakah?

Jariku memencet tombol 4 pada telepon kantor yang terhubung dengan information center. Kebetulan yang menjadi petugas disana adalah Yeon-Seok, sahabat karibuku yang sudah mengerti betul masalah-masalah dalam keluarga kami.

Beberapa detik setelah menunggu, suara serak Yeon-Seok yang tidak asing terdengar, “Yeobseo?

“Oo..Yeon-Seok a, apakah ayahku masih disitu?” tanyaku dengan suara lemas.

Ye…Sekarang dia sedang duduk dan mengobrol dengan Miss Su-Rah.

“Apakah wanita itu ada bersama ayah?”

Pasti jawabannya ya. Aku tidak bisa lebih yakin. Pelacur itu selalu bersama aboji kemanapun ia berada.

Ye. Kau yakin ingin menemuinya?Sebaiknya kau jangan pulang dulu.

Aku menutup telepon sebelum menjawab pertanyaan Yeon-Seok. Tangaku meraih kunci mobil dan kedua kakiku melangkah cepat meninggalkan ruangan. Hari ini Hye-Sun seperti biasa menyuruhku untuk cepat pulang, tentu saja aku tidak akan tega membiarkannya sendiri kesepian di rumah kami yang besar. Tapi tiba-tiba aboji datang seolah sengaja ingin mencegatku pulang. Walaupun aku hanya berpapasan dengannya nanti, aboji sudah pasti dengan senangnya ingin mencari ribut juga mendebatiku sampai terjadi pertengkaran. Sejak kecil aku bertanya-tanya kenapa ia senang dengan pertengkaran dan aku tidak pernah mendapatkan jawabannya sampai sekarang. Demi Tuhan, aku selalu ingin bunuh diri saja setiap mengingat aku dilahirkan ditengah keluarga seperti ini..

Aku tengah berdiri terdiam didepan pintu lobby dan melihat aboji duduk sambil mengumbar kemesraan dengan pelacur itu. Kali ini Miss Su-Rah sudah tidak ada disana bersama mereka. Apa tujuan aboji datang kesini? Menghancurkan suasana? Merusak hariku? Memamerkan kemesraan haram itu? Sial.

Aku mencoba tidak memperdulikan aboji dan berjalan lewat melaluinya. Walaupun aku tahu persis ia akan memanggilku seperti ini,

“Hey anak muda! Tenang saja, aku kesini hanya untuk bertemu Miss Su-Rah. Aku tidak punya urusan dengamu.”

Aku mencoba sekeras mungkin untuk tidak menghiraukannya. Tapi kenapa begitu susah ketika seluruh emosi memuncak dalam diriku? Kenapa aku tak bisa membuka pintu dan segera keluar lalu pulang ke rumah saja? Kenapa aku malah ingin tinggal dan mendebatinya juga? Semakin lama aku semakin tak mengerti, aku benci menghadapi kenyataan bahwa beberapa sifat aboji ternyata masuk kedalam diriku. Aku juga suka berkelahi selayaknya dia dan emosiku benar-benar cepat memuncak jika dipancing kehadiran aboji.

“Kenapa kau tidak bersama pelacurmu? Aku disini bersama pelacurku,” tawa ejek aboji menggelegar. Brengsek.

“Apa kau bilang?” Aku mengadahkan muka dan bertatap pandang tajam dengannya.

“Aku bilang kemana pelacurmu?” aboji mengulang pertanyaannya santai.

Aku menggeram, suaraku terdengar bergetar dalam amarah,” Memang kau kira setiap wanita itu pelacur? Memang kau kira setiap wanita mau ditiduri oleh lelaki brengsek seperti wanita yang ada di sampingmu itu? Hhh.., jangan sebut Seo Hye-Sun pelacur, karena ia bukan. Sebut saja wanita mu itu pelacur, baru pantas, rela ditiduri demi uang, tak ada panggilan untuknya yang lebih pantas daripada pelacur murahan.” Aku dan aboji rasanya sudah tidak memiliki muka lagi untuk bertengkar ditengah kantor. Semua karyawan tentu mengetahui betapa renggangnya kehidupan keluarga ini. Dikelilingi uang tapi begitu menyedihkan.

Sekarang wajah aboji menengang, oh ia telah marah juga rupanya.

“Hey anak muda. Jaga mulutmu,” aboji memperingati tapi anehnya tiba-tiba ia menjadi terlihat sedikit tenang.

“Kenapa? Kenapa aku harus jaga mulutku?” aku berkata dingin menantangnya, ingin melihat sampai mana ia bisa bertahan dalam ketenangan itu.

“Tentu saja kau harus, terutama menyangkut soal pelacur, kau harus menjaga itu nak,” kali ini tawa mengejek aboji semakin terdengar jelas. Wanita di sebelahnya ikut tertawa padahal mungkin ia tidak tahu apa yang lucu dalam percakapan ini, tolol! Pasti ada sesuatu yang disembunyikan aboji, tidak mungkin ia bersikap tenang, rautnya juga mengejek. Ada apa?

“Aku tidak punya hubungan dengan pelacur manapun jadi kenapa aku harus menjaga omonganku?” aku mendesis pada aboji yang sekarang bangkit berdiri. Ia perlahan mendekatiku.

“Oh ya?” aboji mencengkram kerah kemejaku dengan erat, nadanya sangat menantang. Ia terlihat pendek juga gemuk dibanding tubuhku yang menjulang tinggi dan gagah.

Aku tidak menjawab tapi nafasku memburu cepat.

“Apakah kau punya alasan untuk itu?Untuk mengatakan dirimu tidak berhubungan dengan pelacur?” aboji semakin menggeram. Ia memelototiku.

Tapi aku tetap diam, tidak tahu harus menjawab apa-apa. Aboji pasti menyembunyikan sesuatu.

“Ibumu..Ibumu pelacur asal kau tahu!”

“Brengsek!”aku menggertak.

“Apa? Brengsek? Kau tahu, si wanita yang selama ini kau anggap ibu. Dia bukan ibumu, makanya ia tega meninggalkanmu. Kau, Min-Jeo, dan Min-Hee. Kalian bertiga berbeda ibu.! Masih untung aboji tak mengaborsi kalian. Masih untung aku membiarkan kalian hidup, tidak seperti bayi lain. Kau harusnya berterima kasih padaku anak bodoh!”

Dan saat itu aboji menorehkan luka lagi didalam hatiku. Begitu banyak luka sampai hatiku mati rasa. Kenapa tidak pernah puas menyakitiku?

BUAKKK!!

***

Aku sedang duduk di ujung kasur ketika Hye-Sun memasuki kamar kami dengan tampang polosnya. Ia tak tahu apa-apa soal insiden tadi.

“Seo Hye-Sun,” panggilku.

Ia menggaguk pelan lalu membalas dengan senyuman yang membuat lesung pipitnya terlihat jelas.

“Sini..Sini!!” tanganku melambai padanya agar ia berjalan lebih cepat.

“Wae?” Hye-Sun menjentakkan kaki ketika ia berada tepat di depanku.

Aku bangkit berdiri dan menggengam ujung baju Hye-Sun yang tipis.

“Yya..Jeong Min-Ho ssi..Apa yang kau lakukan?”

Lalu mulai membukanya keatas. Setelah itu aku menghempaskan bajunya ke lantai.

“Jeong Min-Ho!”

Hye-Sun menghentakkan nada bicaranya tetapi ia tidak melakukan perlawanan sekalipun. Aku tak berekspresi apa-apa, hanya terpana melihatnya bertelanjang dada didepanku sekarang. Setiap jentik dari tubuh Hye-Sun menyita perhatianku, aku tak pernah benar-benar memperhatikannya selama ini. Ia terlihat menggoda. mungil juga putih mulus, selebihnya lekuk pingang Hye-Sun terbenam setengah oleh celana jenas pendek yang dikenakannya.
Hye-Sun diam balas menatapku dengan heran, ia pasti sedang mencari-cari kebenaran didalam pandanganku.

“Kenapa kau jadi aneh begini?” bisik Hye-Sun tapi suaranya hampir tidak terdengar sama sekali. Kedua tangan Hye-Sun bersilang menutupi dadanya lalu kami bertatap pandang, saling diam.


***

Aku berusaha tetap menjaga keseimbangan dalam kenikmatan yang memenuhi otakku. Hye-Sun terbaring di bawahku, tubuhnya terlihat ringkih dan mungil, raut wajahnya datar tidak menunjukkan reaksi apapun, padahal aku sudah terangsang setengah mati olehnya selama 4 menit terakhir ini.

Sambil menciumi dadanya, tangan kananku turun ke menjelajah bawah. Sampai pada pahanya yang putih mulus serta tanganku segera meraba paha Hye-Sun, jari-jariku menjamah pangkal pahanya dengan begitu liar.

Sebelah tanganku mengelus pipi merah Hye-Sun. Ia begitu panas, keringat mengucur pelan dari dahinya sama sepertiku, tatapan matanya menatapku lurus dengan cemas.

Aku menabrakkan sebuah ciuman pada bibirnya yang terbuka kecil, lalu mulai melumatnya, membiarkan lidahku menjelajahi mulutnya. Hye-Sun membalas ciuman itu dengan lumatan kecil. Ia tampak sangat ragu.

Demi Tuhan, aku tak perlu keraguan sekarang. Yang kuperlukan adalah kenikmatan dan kepuasan. Ya, itu. Aku sudah terlalu muak disakiti terus menerus, sekarang yang kuinginkan hanyalah kepuasan pada tubuh ini.

Aku memaksa Hye-Sun dan membawanya lebih dalam. Aku mengambil ‘ancang-ancang’ untuk memperingatinya bahwa aku akan memulai sekarang. Untuk yang pertama kalinya kami melakukan ini semua setelah melewati ciuman pertama pada minggu-minggu kemarin dan aku menyakinkan Hye-Sun semua akan baik-baik saja.
Kali ini aku merasa tidak bisa lebih perduli lagi. Naluriku begitu membara ingin menyetubuhinya. Aku sangat ingin. Nafsu itu terlalu besar untuk ditolak lagi saat ini. Pikiranku penuh dengan api yang membakar seluruh kesadaranku.

Posisi tubuhku condong ke depan sempurna diatas tubuh Hye-Sun. Aku memajukan setengah badanku perlahan membuat Hye-Sun tidak bisa diam lebih lama. Hye-Sun mencengkram tanganku dan setengah menjerit ketika aku menerobos sampai masuk sepenuhnya ke dalam tubuh Hye-Sun yang basah.
Satu dorongan itu menyulut lebih banyak api kedalam pikiranku. Aku meninginkan lebih. Lebih daripada ini. Oh aku tak perduli, ini terlalu nikmat untukku. Masalah itu menguap begitu saja ketika memfokuskan tubuhku yang menyetubuhi tubuh Hye-Sun dengan bergairahnya.

Hye-Sun menggeram, ia menutup matanya ketika aku berulang kali mendorong lebih cepat dan kencang masuk menerobosnya. Tangan Hye-Sun sekarang mencengkram bantal yang ditidurinya dengan erat. Aku merasakan sensasi yang luar biasa, tak yakin apakah bisa berhenti.

Ketika aku merasa mulai kelelahan, Hye-Sun mulai melonggarkan cengkraman tangannya pada bantal yang ia tiduri mengira aku sudah mau berhenti. Tetapi dalam birahi yang masih menguasai, aku memaksa tubuhku untuk memberikan dorongan puncak, untuk yang terakhir kalinya aku mendorong lebih dengan keras.
Hye-Sun menjerit lebih kencang daripada menit sebelumnya. Cengkramannya kembali dieratkan.

“Oh..,oh…,cukup, cukup, aku tak tahan lagi,” Hye-Sun menangis memintaku untuk berhenti.


Aku terdiam, melihat air matanya yang turun membuatku sadar bahwa ia tidak menikmati semua ini. Aku bermain sangat kasar dan agresif, sedangkan Hye-Sun hanya pasrah dalam kesakitannya untuk memberikanku kepuasan itu. Sadar atau tidak aku pasti telah mengukir sebuah trauma pada diri Hye-Sun, bagaimana tidak, ini kali pertama kami melakukan dan aku bertindak begitu semena-mena tanpa memperhatikannya.

Bodoh….!!?Apa yang sebenarnya aku pikirkan.

“Mi..,mianhe,” bisikku dengan nada menyesal, nafasku masih memburu cepat.

“A.,ada apa dengamu?” Hye-Sun tergagap, ia meringis kesakitan tetapi tidak dapat melakukan apa-apa. Sekarang matanya yang menunjukkan kesedihan bertemu tatap denganku.

“Ini seperti bukan dirimu Jeong Min-Ho.”

Air mata Hye-Sun berhenti mengalir kini giliran air mataku yang menetes.

“Jeong min-Ho…,” Hye-Sun terkaget-kaget melihatku menangis. Aku bukanlah tipe lelaki cengeng hanya saja aku sudah tidak tahan. Di dalam diriku, aku begitu kesakitan, hatiku sakit.

Aku berbaring di sebelah Hye-Sun dan menutup mata.

“Waegude?” aku bisa merasakan Hye-Sun yang terduduk sekarang. Ia mengelus rambutku dengan lembut.

“Apho,” bisikku, ketika kata-kata itu keluar dari mulutku, air mata semakin deras menyusuri pipiku. Aku merasa seperti lelaki tolol tak berguna yang menangis setelah menyakiti istriku sendiri.

Hye-Sun terdiam sejenak sebelum ia menaruh satu tangannya di dadaku, “Maeumi? Apho?”

Aku menggaguk.

“Tadi aku memukul aboji karena..,karena dia bilang, aku…,anak pelacur,” mulutku bergetar ketika mengatakannya. Entah pelacur keberapa yang ditiduri aboji yang merupakan ibuku. Menyedihkan.

“Min-Ho, apa yang kau katakan?” Hye-Sun berbisik tak mengerti.

“Aku, Min-Jeo, dan Min-Hee,” tawa pahit keluar dari mulutku, “Kami bertiga berbeda ibu. Entah pelacur mana yang menjadi ibu kami.”
Hye-Sun terdiam selama beberapa menit.

“Seo Hye-Sun, kau menikah dengan anak pelacur…,”

Tidak ada jawaban. Kali ini Hye-Sun menaruh kepalanya pada dadaku. Lalu ia berkata pelan, “Selama jantungmu berdetak, bahkan sampai berhenti sekalipun. Kau akan tetap menjadi suamiku, tidak peduli apakah kau anak pelacur atau bukan, apakah kau akan menyakitiku atau tidak. Kau akan tetap menjadi Jeong Min-Ho yang kucintai.”

Aku tertegun mendengar jawaban Hye-Sun yang membuatku menyadari betapa aku sudah menyakiti wanita yang paling berharga dalam hidupku dan betapa masalah ini tidak ada apa-apanya disbanding besarnya cinta Hye-Sun padaku.~END CHAPTER



aku pun ngga ngerti ini sebenernya nulis apa..sshh  [wacko]
« Last Edit: April 08, 2010, 03:44:39 pm by minyounglee »
"One of my top escapades is to dive through this infinite world of imagination." - Me

Just tweeting...