Author Topic: HEAVEN - Chapter Nine of Tomorrow (26th July 2010)  (Read 13396 times)

Offline minyounglee

  • Admin
  • Junior
  • *****
  • Posts: 165
    • View Profile
Re: HEAVEN
« Reply #60 on: April 09, 2010, 04:21:22 pm »



“Kenapa kau harus bertengkar lagi dengan ayahmu, lebih baik tidak hiraukan saja,” Yoon-Seok menyarankan dengan nada sedikit ragu.

Kami sedang makan di kantin kantor dan sekarang semua pasang mata tertuju padaku, mengingat insiden beberapa hari lalu.

“Aku tak tahan menghadapi dia, sudah cukup,” beberku pelan sambil menusuk-nusuk daging bistik yang kupesan. Aku tidak memiliki nafsu makan sama sekali beberapa hari ini.

“Jeong Min-Ho! Dia tetap ayahmu bagaimanapun juga,” Yeon-Seok menegaskan.

“Yeon-Seok a, kau ingat dulu semasa kita sekolah, aku selalu diam dihadapan aboji. Tapi sekarang aku tak mau diam, apa gunanya berdiam dihadapannya? Dilecehkan, dicaci maki, dipukul, diinjak-injak harga diriku? Aku tak bisa berdiam lagi. Aku sudah cukup dewasa untuk mengerti kalau ia takkan pernah menggangap aku anaknya atau menggangap dirinya adalah seorang ayah.” Aku menjelaskan lalu menghela nafas panjang. Memang benar, aboji tidak akan pernah berubah. Tidak ada harapan yang kutaruh padanya.

“Min-Ho semarah itukah kau padanya?” tanya Yeon-Seok, dari dulu ia selalu bersikeras untuk mempersatukan hubunganku dengan aboji tapi tidak ada yang berhasil. Yang ada Yeon-Seok diuusir aboji dari rumah kami dengan muka lebam-lebam setelah dihujani berbagai macam hujatan. Untungnya Yeon-Seok tidak menjauhiku, ia tetap menjadi sahabatku sampai sekarang. Dia jugalah yang mengenalkan Hye-Sun padaku, Hye-Sun adalah sepupu jauh Yeon-Seok.

“Bagiku ia tak lebih dari komisaris pemilik perusahaan yang lebih memilih untuk bersenang-senang bersama para pelacur karena sudah memiliki uang berlebih.” Komentarku singkat, tapi membuat Yeon-Seok terlihat sedikit kaget karena ia tak pernah mendengarku berbicara seperti ini.

“Min-Ho sebegitu menyeramkankah ayahmu itu..,aku tak mengerti apa yang benar-benar terjadi,” Yeon-Seok menggelengkan kepalanya. Alih-alih makan waktu kami tersita banyak untuk mengobrol.

Ya memang terlalu banyak aib yang tersembunyi dalam keluarga kami, antara aku, Min-Jeo, Min-Hee dengan aboji. Tidak ada yang mengetahuinya kecuali yang pernah benar-benar tinggal di neraka itu bersama aboji.

Sehingga secara otomatis mulutku menjawab pertanyaan Yeon-Seok ,”Ya.”


***


“Min-Hee!!!!” Aku sedang sibuk meneliti setiap kertas kontrak yang berceceran di meja kantorku ketika Min-Hee, adik perempuanku berdiri di hadapanku.

“Hai. Oppa!” Min-Hee menaikkan satu tangannya menyapaku. Ia terlihat kurus kering dibalik balutan t-shirt putih polos dan jeans pendek.

“Untuk apa kau kesini?” tanyaku tanpa basa-basi. Aku sangat dekat dengan Min-Hee sepanjang perjalanan hidup kami tetapi sejak aku menikah dan ia perlahan merubah pola hidupnya menjadi anak berandal, kami jadi jarang meluangkan waktu bersama.

Min-Hee tersenyum kecil lalu ia duduk di kursi kecil yang terletak di ujung kiri ruangan.

“Tak apa. Hanya mau menjengukmu,” jawab Min-Hee polos, ia mengeluarkan sebuah kantong dari tas selempang hitamnya.

“Oo..,” aku tak bisa mengalihkan pandanganku dari Min-Hee, betapa aku merindukan sosoknya yang gembira dan ceria dulu seperti Hye-Sun. Tapi seiring pertumbuhannya ia berubah menjadi remaja berandal. Konsentrasiku pada pekerjaan sudah buyar, tidak ada gunanya lagi melanjutkan pekerjaan, rasa rinduku terlalu besar untuk menghiraukan Min-Hee.

Min-Hee mengeluarkan 3 boneka beruang kecil putih dari kantong yang dibawanya, lalu ia menjajarkan ketiganya di pangukannya. Aku masih ingat betul, dulu aku suka menemani Min-Hee bermain dan yang paling menyedihkan, sebagai gadis kecil ia hanya mempunyai 3 mainan, yaitu boneka tersebut yang kupungut dari tumpukan sampah di depan sekolah.Ya, aboji tak pernah membelikan kami mainan, ia hanya menyuplai wanita-wanita pelacur di rumah dan ia akan berkata, “Aku menyediakan banyak mainan, itu para wanita itu, bermainlah dengan mereka sepuasnya. Kau harus berterima kasih padaku.” Sebagai anak-anak tentu saja kami diam. Tak bisa berkata apa-apa.

“Kau masih ingat akan boneka ini oppa?” Min-Hee tersenyum menatap ketiga boneka itu.

Aku mengganguk pelan.

“Aku hanya berpikir, apakah Seo Hye-Sun onni sudah hamil, jadi aku bisa menyumbangkan boneka ini pada anak-anakmu sebelum Ryeo membuangnya kelak.”

Ryeo adalah lelaki brengsek itu, calon suami Min-Hee.

“Haha…, Min-Hee, tentu tak bisa secepat itu kan…,” jawabku sedikit tertawa pahit karena otakku membuka kembali memori malam pertama yang menyakitkan itu.

“Eh betulkah? Kita anak aboji seharusnya sudah ahli dalam bidang tersebut,” Min-Hee tertawa mengejek ketika menyebutkan kata ‘aboji’.

Aku jadi berpikir apakah Min-Hee sudah mengetahui tentang permasalahan bahwa aku dan dia juga Min-Jeo berbeda ibu. Tapi aku memilih untuk bungkam daripada membahasnya dengan Min-Hee. Hati kami sama-sama terluka, tentu akan bertambah sakitnya jika kami terus membicarakan luka lama walaupun otakku tak bisa berhenti memikirkan itu semua. Sadar tak sadar, aku sedang menyakiti diri sendiri menyedihkannya.

“Jadi…, kau benar-benar yakin ingin menikah dengan Ryeo?” tanyaku mengalihkan pembicaraan. Setap pertemuan antar keluarga Jeong, tidak ada topic membahagiakan yang dapat dibahas, semua hanya berisi kenangan pahit dan kenyataan menyedihkan.

“Er, ya.” Min-Hee menjawab dengan penuh keraguan.

“Min-Hee,” suaraku dipanjangkan. Ia pasti menyembunyikan sesuatu dibalik keraguan tersebut.

“Oppa jangan coba-coba!”

Yang dimaksud Min-Hee adalah jangan mencoba untuk mengorek lebih dalam. Aku memang begitu, tidak akan puas dengan disuguhkan jawaba ‘Er, ya.’ Menurutku ada yang lebih dari sekedar ya. Penjelasan paling tidak.

“Sudah lama aku tak bertemu onni,” Min-Jee bergumam tiba-tiba.

“Hye-Sun?”

“Ya. Apakah ia masih pelupa seperti dulu ahaha,” Min-Hee berkata dalam tawa. Ia memiliki banyak kenangan lucu menyangkut sifat ‘pelupa’nya Hye-Sun. Bisa dibilang ia adalah salah satu korban kepikunan Hye-Sun.

“Begitulah, ia masih suka lupa untuk hal-hal kecil,” ujarku tersenyum.

“Aku rindu padanya.”

“Sungguh?”

“Ya.”

“Kalau begitu aku akan membawamu pulang ke rumah kami dan bertemu dengan Hye-Sun sekalian makan malam disana, bagaimana?” ajakku.

“Jinja!?”

Kurasa aku tahu apa yang dirindukan Min-Hee dari sosok Hye-Sun. Aku tahu persis. Dan kami beruntung.


***


Langit sudah sangat gelap ketika aku dan Min-Hee sampai di rumah. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul delapan malam.

“Oppa rumahmu dekat pantai?”

“Begitulah, aku baru mengetahui hal ini dari Hye-Sun beberapa minggu lalu.”

Aku memencet bel berkali-kali. Tidak ada jawaban. Aneh.

“Coba, apakah ia lupa mengunci pintu?” kekeh Min-Hee.

Aku menekan gagang pintu rumah kami dan benar saja, pintunya tidak terkunci.

“Cerobohnya tidak hilang-hilang ckckck,” Min-Hee mendecak sambil menggelengkan kepala.

Aku dan Min-Hee melangkah masuk tetapi tidak mendapati Hye-Sun di ruang manapun. Apa jangan-jangan ia tertidur di suatu tempat atau tersesat di mini market tapi lupa membawa handphone. Otakku diserbu dengan berbagai kemungkinan buruk, membuatku panic seketika.

Min-Hee terlihat diam saja di samping sofa melihatku mondar-mandir kesana-sini mencari Hye-Sun, tetapi pada akhirnya ia mengeluarkan suara cempreng menggelegarnya, “ONNIIIIIIIIIIII!!!”

Ouch. Suaranya dan suara Hye-Sun tidak memiliki volume yang berbeda. Paling tidak suara keduanya cukup untuk membuat orang mengalami kerusakan telinga seketika.

Tiba-tiba terdengar teriakan juga dari taman belakang rumah kami, “AKUUU DISINIIII!!!”

Itu Hye-Sun! Aku dan Min-Hee berlari ke taman belakang. Dan menemukan Hye-Sun disana. Membuat kami berdua diam berusaha keras menahan tawa.

“O..,onni!!”

“Hye-Sun a, apa yang kau lakukan?” aku mencoba memikirkan hal-hal horror agar mencegah diriku untuk tertawa keras.

Hye-Sun berdiri dengan tampang polos. Ia disana dengan kostum badutnya. Lagi! Kali ini lebih konyol karena ia memakai sepasang sepatu merah besar, oh well darimana ia mendapatkan perlatan ini. Perasaanku kami tidak pernah membeli lemari tersembunyi di dalam rumah yang menyimpan segenap peralatan dan kostum konyol.

Di belakang Hye-Sun terdapat satu meja kecil dengan dua piring steak juga satu gelas wine dan satu gelas soda di atasnya.
“Ayo…Ayo..Hari ini kalian berdua makan dan aka akan menjadi penghibur kalian!!” Hye-Sun berteriak dan tertawa ceria. Tawanya terdengar nyaring diikuti oleh tawa Min-Hee.

Rumah ini jadi terasa sangat hangat dengan banyak suara tawa disekeliling orang-orang yang kusayangi. Aku tersenyum melihat tingkah mereka berdua, merasa sangat senang.

“Onni, bagaimana mungkin, kau kan pasangan oppa bukan aku. Jadi seharusnya kalian berdua yang makan dan aku menjadi penghibur,” protes Min-Hee.

“Hahhh!! Sudah lama kau dan oppamu tidak bertemu sudah sepantasnya. Dan karena aku melihat kedatangan kalian dari balik jendela makanya aku segera menyiapkan ini semua dan memakai kostum badut. Tadinya aku berencana mabuk-mabukan wine dengan oppamu agar malam ini..,yah.., malam ini begitu. Ehhhh tapi kau datang makanya aku mengganti minumannya dengan soda,” jelas Hye-Sun sedikit terbata-bata pada bagian akhir, ia lalu menarik Min-Hee untuk duduk di kursi, akupun mengikuti mereka.

Sekarang aku dan Min-Hee duduk sembari mulai menyantap makanan sementara Hye-Sun mulai memainkan berbagai lelucon lucu. Tarian bebek kebanggannya tentu saja lalu hal-hal konyol ala badut yang membuat aku dan Min-Hee hampir mati karena tertawa. Walaupun makanan yang disuguhkan sangat amat tidak pas di lidah kami, tapi aku dan Min-Hee terlarut dalam kebahagiaan yang jarang kami dapatkan membuat kami melupakan semua itu. Otak kami serasa seringan bulu tanpa memikirkan masalah yang ada. Semua masalah menguap begitu saja tanpa berbekas. Karena Hye-Sun.

“Onni jangan berhenti melakukan ini karena aku akan membayarmu dengan 3 buah boneka untuk anak kalian kelak,” ujar Min-Hee memperingati Hye-Sun.

Hye-Sun berhenti sejenak, ia menatap Min-Hee membalasnya dengan senyuman kecil.

“Makanya kau harus cepat-cepat hamil, araseo,” papar Min-Hee menaikkan jari telunjuknya dengan semangat. “Aku ingin punya keponakan tahu! Keponakan yang lucu seperti kalian.”

Min-Hee melanjutkan makannya, sekilas tampak ragu tapi ia tetap menyendoki mulutnya denga potongan steak buatan Hye-Sun.

Sementara Hye-Sun, sekarang ia menatapku lalu membisikki sesuatu, “Kalian tertawalah. Tertawalah sepuasnya malam ini.” Ia tersenyum lebar.

Setelah itu aku menjadi tahu alasan dibalik kerinduan Min-Hee dan alasan Hye-Sun melakukan ini. Karena kebutuhan dan pemasokan cinta. Min-Hee dan aku membutuhkan cinta, Hye-Sun tahu itu maka ia berusaha untuk memenuhinya. Malam ini ia isi dengan cinta dan tawa yang mungkin tidak akan kami dapatkan di neraka kami dulu. Kalau sekarang Min-Hee dan aku tertawa senang, ini semua karena dia, Seo Hye-Sun.


***


Min-Hee pulang naik taksi. Ia tentu saja pulang ke rumah Ryeo, sebelum menikah mereka memang sudah tinggal berdua di apartemen Ryeo, itu yang kutahu dari Min-Jeo. Aku mengunci pintu depan dan segera menghampiri Hye-Sun yang berada di halaman belakang.

Hye-Sun sedang berdiri dibawah sinar rembulan, ia mengadahkan mukanya keatas. Sekarang ia sudah berpakaian normal, atasan putih tipis dan celana pendek hitam dengan topi wol coklat menempel diatas rambutnya.
Lagi-lagi ia tampak seperti malaikat. Memang benar istilah malaikat itu, ia cantik, bersinar dibawah rembulan, dan membawakan kebahagiaan. Kurang beruntung apa aku memiliki istri sepertinya?

Renungan ini tiba-tiba menggugah hatiku untuk memeluknya dari belakang. Maka itulah yang kulakukan.

“Hye-Sun.” aku menggumamkan namanya lalu menaruh kepalaku di pundaknya sambil ikut melihat rembulan. Awan diatas rumah kami jarang didatangi bintang atau tepatnya tidak pernah.

“Wae?” Hye-Sun menjawab pelan.

“Gumawo.”

“Gumawo waeyo?” suaranya hampir tak terdengar, sangat lembut. Aku jadi melupakan fakta kalau ia wanita berlapis baja.

“Untuk tadi. Membuatku dan Min-Hee tertawa juga merasakan kebahagiaan.”

“Sudah sepantasnya. Untuk apa orang hidup kalau hanya disuguhi kesedihan saja?” Hye-Sun mendengus setengah terkekeh. “Jadi tidak ada salahnya aku menjadi permen yang manis ditengah kepahitan kalian. Pahit itu tidak enak, aku pernah merasakannya walau tidak sesering dan sepahit kehidupan keluarga kalian. Mungkin kalau aku ada di posisi Min-Hee aku memilih mati saja ya atau pergi ke rumah sakit jiwa?”

Aku tertawa pahit. Mungkin itu yang pernah akan kulakukan dengan Min-Hee, tetapi entah mengapa keadaan membuat kami tidak jadi melakukan itu.

“Sudah, jangan dipikirkan lagi masalah abojimu.” Saran Hye-Sun.

“Memang aku tidak memikirkannya, apalagi setelah memakan steak buatanmu,” godaku.

“Heee? Steak buatanku? Enak kan!” ujar Hye-Sun membanggakan diri.

“Begitulah, tapi kujamin Min-Hee akan sakit perut pulang nanti!” kekehku.

“Mwo?” Hye-Sun terdengar sedikit tidak terima. Ia pasti menangkap ejekanku.

“Omong-omong sayang, kau boleh saja menjadi permen yang manis, tapi jangan memasak daging steak dengan campuran gula dan garam. Jangan!” aku mengeriyit mengingat rasa mengerikan itu.

“Ohhhh Tuhan!!!!!!!!!”

Nah sekarang Hye-Sun telah ingat kecerobohannya. Satu dari banyak kecerobohan, menggantikan lada hitam dengan gula. Paling tidak kami beruntung memiliki Hye-Sun tapi tidak dengan memakan makanan buatannya sampai habis. Mungkin besok aku harus cuti kerja karena mengalami sakit perut - END CHAPTER

"One of my top escapades is to dive through this infinite world of imagination." - Me

Just tweeting...