Chapter 10
“Kau gila—“ucap Dara, tangannya menuangkan champagne di satu gelas kosong yang disodorkan Yoona. Dara tentu tak dapat habis pikir dengan apa yang telah Yoona lakukan. Bayangkan, pengalaman pertama Min Ho untuk menjadi ‘pria’… Bersama UEE!!!
Mata Yoona segera menyipit ketika menerima segelas champagne itu, jelas tidak senang. Ia sudah memikirkan segalanya matang-matang dan cukup percaya dengan kemampuan lelaki itu. Kemampuan lelaki itu untuk memikat, Yoona rasa cukup lumayan. Karena, dari tubuh yang tegap, berotot, dan jangkung sekali itu, setiap wanita pasti akan segera terpana ketika melihatnya.
“Tidak. Aku yakin dia bisa. Walaupun belum kelihatan, aku yakin dia punya pesona …”jawab Yoona, nada bicaranya agak sinis, seperti biasa jika ia sedang ingin membantah pendapat siapa saja.
Dara menggeleng-geleng pelan, tak mengerti apa yang sedang dipikirkan atasan sekaligus temannya, Yoona memang punya pribadi yang unik, ajaib, kekanak-kanakan, emosian, dan memiliki kepercayaan diri yang tinggi terhadap segala sesuatu yang sedang ia kerjakan. Tapi, tetap saja Dara tidak habis pikir jika kepercayaan diri yang tinggi itu tidak lenyap ketika melihat sosok clumsy Min Ho.
Seharian bersama Min Ho, Dara memang merasakan pesonanya yang menggetarkan. Bagaimana patuhnya orang itu. Bagaimana orang itu tak mau menyakiti perasaan wanita. Bagaimana orang itu berkata dengan sangat lembut pada orang-orang di sekitarnya. Bagaimana orang itu tidak mau menghamburkan uangnya. Sampai bagaimana orang itu masih menaati batas kecepatan di kota Seoul.
Tapi, Dara segera menggeleng keras. Tapi ini beda urusannya! Pesona itu saja tidak cukup untuk memikat hati seorang wanita kelas atas seperti UEE. Dengan kepala yang masih menggeleng, pandangannya terpaku pada seorang perempuan yang berpostur tinggi dan mempunyai wajah montok, yang baru keluar dari ruang VIP yang biasanya hanya bisa ditempati oleh Yoona. Wajah perempuan itu kelihatan kesal dan dongkol setengah mati. Jaket yang tadinya ia pakai sekarang ada di tangannya, diremasnya kuat-kuat.
Dara segera tersenyum prihatin, mengetahui pasti terjadi apa-apa di dalam sana. Ketika Yoona melihat senyum Dara, ia segera menoleh ke arah mana perempuan itu memandang. Ia tidak sempat melihat UEE, tapi Min Ho dengan tampilan yang seperti anak remaja itu, keluar dari ruangan VIP dengan wajah yang dipenuhi rasa bersalah, bibirnya basah sepenuhnya, tapi, ada rasa lega yang tak dapat dibayangkan yang terlukis jelas di wajahnya.
“Oh—“pekik Dara dan Yoona bersamaan. Dara segera tertawa terbahak-bahak ketika melihat lelaki itu dengan wajah yang menurutnya lucu itu. Tapi, Yoona sama sekali tidak mendapat sensasi humor dari penampilan Min Ho sekarang ini.
Yoona segera bangkit dari kursi itu, ingin mendamprat Min Ho dan menanyakan apa yang terjadi. Ketika sudah sampai di hadapannya, Min Ho mengangkat kedua tangannya, “Maaf, tolong jangan tanya apa-apa padaku—“
“Kau—“Jari telunjuknya sudah terangkat beberapa senti di depan hidung Min Ho. Tapi ia segera sadar dan menurunkan jari telunjuknya.
“APA YANG TERJADI?!”tanya Yoona dengan nada marah. Dara hanya bisa menyaksikan kejadian itu dengan cekikikan dari jauh. Yoona yang emosian dan Min Ho yang pasrah. Hmmm… Nampaknya Min Ho hanya punya beberapa menit lagi untuk masih bisa berjalan tanpa tongkat.
“Aku tak mau ceritakan—“jawab Min Ho dengan tangan yang masih terangkat.
“YYYAAAAAAAAAA!!! LEE MIN HO-SSI!!!!”bentak Yoona, matanya membelalak, kesal sekali.
“Yoona-ssi, lupakan janjiku padamu tadi.”desah Min Ho perlahan, hampir tak dapat terdengar di bar yang sangat riuh itu. “Aku tak akan pernah bisa berubah—“
“Apa???!?!!” Yoona tambah melotot. Sekarang, Min Ho merasakan kalau sebentar lagi mata itu akan keluar dari rongga matanya.
“Selesai—“Min Ho mengangkat tangannya. “Aku menyerah—“
“Sekarang kau bilang kau ingin menyerah untuk menaklukan seorang gadis sepertinya?”tanya Yoona tak percaya. Dahinya berkerut dalam. Napasnya terdengar tak teratur. “Oh, percayalah, kau belum bertemu yang lebih parah—”
“Dia sudah cukup parah. Oke?”tukas Min Ho lagi, ia segera mengibaskan tangannya di tengah keramaian klub itu, tanpa sadar sama sekali kalau ternyata orang-orang di klub itu memperhatikan gerak-gerik mereka. “Dan, kita akhiri saja di sini. Oke?”
Hah. Memang bodoh. Memang pengecut. Siapa yang mengangguk waktu itu? Siapa, Bodoh? Siapa yang bilang akan berubah? Siapa pun yang mengucapkan janji itu, sekarang sedang melanggarnya, menarik ucapannya sendiri. Hah… Memang sulit dipercaya. Lee Min Ho tak pernah menarik segala ucapannya di dalam hal atau masalah apa pun. Tapi kali ini, ia akhirnya menyerah.
Hah… Masa bodoh kalau dia dikatakan pecundang. Menyerah sesingkat ini demi perempuan yang tidak disukainya sama sekali sepertinya lebih terhormat daripada harus menghabiskan satu malam penuh dengan perempuan itu…
Min Ho akhirnya meninggalkan gadis itu dengan perasaan jengkel, ia menuju meja panjang tempat di mana Dara sedang menunggu, menuangkan minuman ke dalam gelas, Min Ho pun tak tahu pasti apa minuman itu, tapi ia segera meneguknya, meminumnya sampai habis.
“Hm? Air putih?”tanya Min Ho pada bartender itu. Dara tersenyum sambil mengangguk-ngangguk.
“Aku tak mau ambil resiko kalau kau mabuk lagi—“jawab Dara sambil tersenyum.
“Yoona pulang—“kata Dara lagi sambil berusaha melihat Yoona yang juga kelihatan jengkel sekali dan akhirnya keluar dari bar itu dengan tubuh Min Ho yang tinggi yang menghalanginya. “Dia kelihatan kesal—“
“Hei, Min Ho-ya, ceritakan padaku tentang semuanya—“kata Dara sambil memangku wajahnya dengan kedua tangannya, menunggu Min Ho menceritakan apa yang terjadi di dalam ruangan itu.
Entah kenapa Min Ho memang merasa nyaman jika sudah berhadapan dengan bartender ini, tidak seperti ketika sedang bersama Yoona, yang ia rasakan hanya rasa takut bila emosi perempuan itu meledak. Jadi, ia mulai menceritakan semuanya.
“Bayangkan, ia mengajakku ke hotel—“curah Min Ho, sedangkan bartender itu hanya mengangguk sambil tersenyum-senyum. “Aku sih sudah menolak—“
“Lalu?”tanya Dara lagi, ia sepertinya takut kalau ada orang yang tiba-tiba ingin memesan minuman dan obrolan ini harus terpotong, maka ia menyuruh Min Ho untuk cepat-cepat menceritakannya.
“Dia juga terima. Dia bilang di ruangan itu juga tidak masalah—“lanjut Min Ho lagi dengan wajah yang agak kecut. “Lalu, ia tiba-tiba menciumku dan membawaku sampai ke sofa. Dia melepaskan jaketnya. Dan—“
Tiba-tiba Min Ho berhenti. “Dan—kau tahu tidak apa lip gloss yang dia pakai?”
Dara menggeleng, tapi juga penasaran di saat yang sama. “Memang apa?”
“Aku juga tidak tahu—“jawab Min Ho sambil mencibirkan bibirnya. “Tapi, lip gloss-nya itu terasa tidak enak sekali dan pada akhirnya, aku bilang ingin ke toilet. Dia bertanya untuk apa. Dan ketika dia bertanya, aku pun menjawab, aku bilang aku ingin mencuci mulutku yang terasa basah dan sangat tidak nyaman—“
Tawa Dara menyembur. “Hahaha… Dasar gila! Aku juga pasti akan marah kalau begitu!”
Min Ho mencibir. “Hentikan ketawamu itu. Ini tidak lucu—“
“Min Ho-ya, merubah dirimu itu, tidak semudah membalikkan telapak tangan—“jelas Dara sambil membolak-balik telapak tangannya sendiri. “Juga tidak semudah jika kau ingin memesan minuman di sini. Hanya tinggal pesan dan dapat apa yang kau mau. Kau sekarang sedang berada di masa di mana kau melakukan pencarian jati diri lagi. Aku dan Yoona memang bisa membantu. Tapi, dirimu harus membantu dirimu sendiri untuk berubah. Itu yang terpenting—“
“Kau mau berubah?”tanya Dara pada lelaki di hadapannya ini.
Min Ho tak menjawab.
“Cobalah jawab pertanyaan itu, Min Ho-ya—“kata Dara, ia menepuk pundak Min Ho. “Kalau kau benar ingin berubah, bersiaplah melupakan segalanya yang pernah terjadi di hidupmu, terutama saat-saat kau bersama model itu. Tapi, jika tidak, lanjutkan kehidupanmu seperti biasa lagi. Hanya kau yang bisa memilih sekarang—“
“Perkataan Yoona atau pun perkataanku tak penting di sini, yang penting adalah perkataan dari suara hatimu—“lanjut Dara lagi, ia tersenyum. “Kalau kau memang ingin berubah, besok, datang lagi ke sini, minta maaf pada Yoona agar ia tidak marah lagi, setelah itu, kita akan membantumu. Kalau tidak, kembali saja jadi ‘Min Ho Ajossi’ lagi.”
Min Ho terdiam mendengar kata-kata dari bartender itu. Ya, ini semua adalah tentang apa yang dia inginkan. Apa yang dia inginkan? Dia pun tak tahu. Berarti, siapa yang tahu?
HEI, SEMUA, APA ADA YANG TAHU APA YANG LEE MIN HO INGINKAN?
Tidak ada jawaban. Tidak ada yang menjawab. Berarti, hanya dia yang seharusnya bisa menjawab—
***
Ah… Bunuhlah Lee Min Ho…
Kenapa tidak bunuh saja sekalian dia?
Pekerjaannya akhir-akhir ini hampir ingin membunuhnya.
Begitu banyak perusahaan yang ingin menjalin kerja sama yang solid dengan Lee Corporation, tapi banyak juga perusahaan yang tidak memenuhi syarat dan kriteria yang diinginkan Min Ho. Jadi, banyak juga perusahaan yang ia tolak dalam menjalin kerja sama. Dalam proyek selanjutnya, Lee Corporation hanya memilih perusahaan-perusahaan raksasa saja untuk menjadi sponsornya. Min Ho tak berani ambil resiko rugi dalam pembangunan mall di kawasan kota Seoul itu.
Hah. Tapi, ia bisa gila. Benar. Tetap saja ia bisa gila, kenapa ratusan perusahaan itu mengantri untuk menjalin kerja sama dengan Lee Corporation? Baik yang dalam, maupun luar negeri, semua menginginkan ikut andil dalam proyek pembangunan mall terbesar di Seoul itu. Dan ini hampir membunuhnya. Berapa kali ia sudah bicara dengan perusahaan-perusahaan itu, membuatnya sungguh lelah. Bahkan ia juga sempat menolak beberapa perusahaan yang katanya tidak begitu kuat—hanya katanya—padahal lelaki itu juga berpikir ia tak bisa mengambil keputusan dengan sudut pandang semudah itu, tapi, kalau ia harus berhadapan dengan pemimpin perusahaan lainnya. Ia benar-benar bisa gila.
Kemudian, Min Ho melangkah keluar kantornya dengan pandangan nanar dan mengantuk. Pikirannya sudah melayang kemana-mana. Sebulan terakhir ini, ia sudah tidak bertemu kedua gadis itu lagi—Yoona dan Dara, maksudnya—tapi ia sendiri tak yakin, ia tak ingin bertemu dengan mereka berdua, atau ia memang tidak bisa. Tapi, itu semua hanya dapat membuat pusing pikirannya.
Ia lalu menjatuhkan pandangan pada Sekretaris Song yang sedang berkutat dengan pekerjaannya. Sekretaris itu juga harus ikut-ikutan lembur karena Min Ho. Dan sekarang, sudah pukul 8 malam. Ketika mendengar langkah orang keluar dari ruangan itu, Sekretaris Song segera menoleh dengan cepat, ia tersenyum, berdiri, dan membungkukkan badan.
“Malam, Pak—“sapa Sekretaris Song.
Min Ho mengangguk sambil tersenyum. “Maaf kalau Anda juga harus ikut-ikutan lembur. Pekerjaan Anda belum selesai?”
“Belum—“jawab Hye Gyo singkat, tapi penuh dengan rasa hormat.
Min Ho hanya mengangguk-ngangguk sambil memasukkan tangannya pada saku celananya—celana yang ia beli bersama Dara—“Pastikan kalau kamu—“
Min Ho segera terhenti dengan ucapannya sendiri, ia melihat headline majalah yang secara terang-terangan ada di atas meja Sekretaris Song. Mulutnya sekarang terkatup rapat. Ia kemudian memberanikan diri meraih majalah itu dari meja kerja Sekretaris Song.
“Itu—“Hye Gyo ingin menjelaskan, keringat dingin bercucuran di sekujur wajahnya yang putih bersih, ia gelisah melihat tindakan atasannya.
Min Ho membaca tulisan itu dengan mata yang terbuka lebar. Rasa kantuk dan lelahnya hilanglah sudah, semua menguap, digantikan rasa gusar yang sekarang benar-benar menguasai dirinya. Headline berita majalah berbahasa Inggris itu :
HYE SUN-KU, DATING WITH A SUPERB HOT KOREAN GUY, DONGHAE OF SUPER JUNIOR?
Check out their conversation in one of popular socialsite in South Korea. Page 67!
Tangan Min Ho tiba-tiba menjadi sangat sigap. Ia mencari halaman 67 itu.
Mana? Mana?
Akhirnya, ia dapat menemukan halaman itu, halaman 67.
Ia membaca tulisan bahasa Inggris itu dengan sungguh-sungguh.
Itu adalah bagian dari percakapan antara Hye Sun dengan salah seorang selebritis Korea terkenal yang selama satu tahun terakhir ini memang sangat bersinar dengan boyband-nya, Super Junior. Lelaki itu bernama Donghae.
Hyesun: Ddonghae-yah, we have to go to the sauna, ke.
Hyesun: Donghae-yah T.T
Donghae: Goo-Daek! Why~ Why are you crying?
Hyesun: My beloved baby, Donghae ~ ^^ I’ve been submerged lately but after seeing what you wrote, I came ~ ^^ You know you have to be strong, right~?!! Noona will give you a song gift. What do you want?
Donghae: Se7en’s Come; Kim Bum Soo’s I Miss You. Ke~
Hyesun: All you did was write the song title? keke. You’re dead, you little – ke.
Donghae: Kekeke. No, Noona~ You know how I feel! Kekeke Goo-Daek,Daek,Daek!
Hyesun: Ddonghae, Ddonggu – Noona’s dropping by. I miss you ~~ ^^
Donghae: Oh~~~ Goo-Dae,Daek,Daek,Daek~ Really?? You miss me? Kekeke.
Hyesun: Let’s get married – ke.
Donghae: Yes ^^ When??
Hyesun: Donghae – :: censored ::
Donghae: Why?
Hyesun: Donghae-yah~ Noona’s dropping by~ If you go around wearing shorts, Noona’s going to touch your legs – ke.
Donghae: Kekeke, I love you ~~ ke.
Paragraf berikutnya berisi kata-kata seperti ini :
Fans dari Donghae Super Junior sedang berkabung hari ini. Bagaimana pun juga, Donghae adalah salah satu personel dari boyband Korea yang sedang bersinar, Super Junior, yang sedang menerima banyak cinta dari semua fansnya, namun sekarang harus menangani fans-nya yang sedang menjerit-jerit sambil menangis karena sekarang patah hati.
Fans Hye Sun-Ku sendiri banyak yang mengomentari hubungan antara kakak perempuan dan adik itu, mengingat umur Hye Sun yang lebih tua dua tahun dari Donghae Super Junior(perhatikan panggilan Noona itu~Noona adalah panggilan adik laki-laki terhadap kakak perempuan-red). Mereka menginginkan sosok pria dewasa sebagai pendamping Hye Sun dan mereka pikir Hye Sun sudah bisa mendapatkannya dari pria kaya raya pewaris Lee Corporation, perusahaan kontraktor terbesar di Korea Selatan akhir-akhir ini.
Sebelum Hye Sun memutuskan untuk kembali ke dunia modeling, memang sudah terdengar kabar kalau setelah meninggalnya tunangannya tercinta, Geun Seuk-Jang, ada rencana pernikahan antara Hye Sun dan seorang CEO di Lee Corporation, Min Ho-Lee, yang bertujuan untuk mengembangkan hubungan kerja sama Seoul Sun dan Lee Corporation menjadi sebuah ikatan keluarga. Tapi sampai sekarang ini, belum terdengar kabar lagi tentang rencana pernikahan itu. Maka, sepertinya, kita harus menunggu konfirmasi dari Hye Sun-Ku dan Donghae tentang hubungan jarak jauh Seoul-New York mereka, serta hubungan ‘Noona-Dongsaeng’ istimewa itu.
Min Ho kemudian segera menutup majalah itu dengan wajah gusar, ia sudah cukup puas membaca berita itu. Tapi sekarang, ia tak dapat membedakan lagi ia sedang gusar atau pun geram.
“Itu mungkin hanya berita palsu—“kata Hye Gyo sambil berusaha menenangkan Min Ho yang kelihatan sekali sedang gusar.
Min Ho tersenyum kecut, setelah memandang lantai selama beberapa detik, ia mengangkat wajahnya menuju Sekretaris Song.
“Palsu atau pun tidak—“kata Min Ho setelah menghela napas. “Aku sudah tak mau peduli lagi segala hal tentang dia—“
Sekretaris Song tercengang, takut kalau ialah yang telah menyebabkan semua ini. Kalau tahu begini, ia pasti tak akan membeli majalah itu.
“Pak—“Sekretaris Song mulai menegang, tubuhnya agak gemetar.
Min Ho segera mengangkat kedua tangannya. “Aku baik-baik saja. Aku memang selalu harus baik-baik saja, kan?”
***
Bar Charmeleon
Dentaman musik yang terdengar begitu keras itu agak mengusik ketenangan Yoona. Tapi, ia sekarang hanya ingin berbicara dengan Dara dan jika bukan di meja panjang tempat biasa Dara duduk dan melayani pelanggan, ia tak punya tempat lain lagi untuk berbicara dengannya.
Setelah Dara menuangkan minuman ke gelas salah seorang pelanggan, ia kemudian berbalik lagi pada Yoona yang sedang bermain-main dengan gelas tinggi itu, ia memutar-mutarnya, memperhatikannya dengan serius, tanpa memberikan gelas kosong itu lagi untuk diisi ulang oleh Dara.
“So—“Dara menghembuskan nafasnya sambil memperhatikan atasannya ini. “Sudah sebulan, kan, ia tidak ke sini?”
“Sebulan?!”Yoona langsung membetulkan posisi duduknya, menatap Dara dengan tatapan tajam, nada suaranya tinggi. “Aku koreksi, ya, dia sudah tidak ke sini selama 32 hari 1 jam 23 menit—“
“Kau mengingatnya?”Kening Dara berkerut, tawanya menyembur ketika ia mengetahui lawan bicaranya ini sangat gusar dengan keabsenan Min Ho di bar ini.
“Hentikan ketawamu!”bentak Yoona, gelas itu sudah ia pegang erat-erat, ia memperlihatkan lagi tatapan membunuhnya.
“Yoona, apa kau tak khawatir kalau kau sedang menyukainya?”tanya Dara dengan senyum penuh arti.
Yoona membalas perkataan itu dengan bibirnya yang maju beberapa senti. “Hanya dalam mimpimu—“
Tawa Dara menyembur lagi, kali ini sangat keras sampai-sampai semua orang menoleh pada mereka berdua. Yoona menatap wajah orang-orang yang heran itu dengan tatapan tajam, hanya dengan begitu saja, orang-orang itu berbalik ke pekerjaannya masing-masing.
“Kalau sudah begini, tak ada pilihan lain—“desah Yoona tanpa menggubris tawa yang keras itu.
“Kau memang akan melakukan apa?”tanya Dara pada akhirnya. Ia sedang mencoba menjadi serius kembali.
“Besok, aku akan menemuinya—“jawab Yoona kemudian.
Wajah Dara berubah menjadi benar-benar serius, ia menepukkan kedua tangannya. “Wow… Keputusan yang mengagumkan—“
Yoona kemudian tersenyum. “Besok, akan kupastikan lelaki bodoh itu bertekuk lutut di hadapanku—“
***
Keesokan harinya, Min Ho sudah kembali seperti biasa lagi, bekerja lagi, mulai menyibukkan diri kembali, mencoba melupakan berita yang ia baca kemarin. Tapi, ia tak bisa melawan rasa lapar di perutnya lagi, sudah sejak tadi perutnya itu keroncongan, meminta suplai makanan.
Ia melihat jam yang melingkar di tangan kirinya. “Aishh—Pukul dua siang—“
Ia pun beranjak dari meja kerjanya menuju ke luar ruangan. Terlihat Sekretaris Song yang sedang menoleh sambil tersenyum. Wajahnya terlihat agak simpatik dan prihatin, mungkin karena kejadian kemarin.
“Saya ingin makan di luar, Hye Gyo-ssi—“kata Min Ho pada sekretaris yang sedang tersenyum sambil mengangguk itu. “Kalau ada data yang perlu ditandatangani, taruh saja di meja kerjaku.”
Sekretaris Song mengangguk patuh lagi. Akhirnya Min Ho melewati meja kerja sekretarisnya itu.
***
“YOONA-SSI?”Mata Min Ho spontan terbelalak ketika melihat perempuan pemilik bar itu berada tepat di hadapannya dengan pakaian, syal, dan kacamata serba hitam.
“Kamu—“Yoona kemudian menarik tangan Min Ho secepat mungkin dari gedung kantor itu. Untung Yoona sudah bisa bertemu dengan Min Ho di lantai dasar, jadi ia tak perlu repot-repot ijin sana-sini untuk bertemu dengan lelaki ini.
Min Ho hanya dapat mengerutkan keningnya ketika ia sudah keluar dari gedung kantor bertingkat 29 itu. “Yoona-ssi, apa yang kau ingin lakukan?”
Tapi, Yoona tak menggubris Min Ho sama sekali. Ditariknya lelaki itu yang masih tetap pasrah sampai ke mobil Mercedes Benz merah miliknya yang terlihat sangat mentereng.
“Yoona-ssi, maaf, tapi aku ingin makan sekarang ini—“kata Min Ho pada perempuan yang sudah duduk di belakang kemudi itu, namun ketika mendengar perkataan Min Ho, Yoona cepat-cepat menoleh pada pemuda itu.
“Kau…”Yoona berkata dengan nada yang tajam. “Ikut aku sekarang—“
Min Ho kemudian mengernyitkan alisnya, bingung, “Ke mana?”
“PALII, MIN HO-SSI!!!”Yoona membentak. Mendengar teriakan Yoona itu, membuat orang-orang di sekitar tempat parkiran itu segera memusatkan perhatian kepada mereka berdua. Yoona kemudian memencet klakson berkali-kali, mencoba membuat orang-orang itu memperhatikan mereka berdua dengan tatapan bingung, seakan-akan telah terjadi sesuatu antara mereka berdua. Kemudian, akhirnya, Min Ho menyerah dan membuka pintu mobil itu, terpaksa—
***
“Kenapa kau membawaku ke Rumah Sakit Jiwa?”tanya Min Ho heran, ia memperhatikan bangunan sekitarnya ini, semua serba putih, terawat, sejuk, namun menyeramkan di saat yang sama.
“Aku akan membawamu pada seseorang—“jawab Yoona sambil berusaha menutupi wajahnya dengan sebuah syal tebal berwarna hitam.
“Siapa?”tanya Min Ho penasaran. Ia merasa janggal sekali dengan kunjungan ini.
Yoona tidak menjawab, langkahnya tambah cepat, ia membiarkan Min Ho tertinggal di belakang.
***
“Berhubung kondisinya sedang tidak stabil, Anda berdua hanya bisa melihatnya dari luar—“kata suster berseragam putih dengan wajah galak itu. “Jangan coba-coba masuk ke dalam atau pun menarik perhatiannya atau ia akan menghalalkan segala cara untuk keluar—“
Yoona mengangguk patuh. Min Ho hanya bisa mencoba menerawang penghuni di dalam ruangan itu dari balik jendela kaca transparan. Ketika suster itu berlalu, Yoona menghembuskan nafasnya dalam-dalam.
Min Ho semakin memperhatikan gerak-gerik gadis yang ada di dalamnya. Gadis itu mempunyai rambut tebal berwarna merah mencolok yang acak-acakkan dan kelihatan tidak terawat, gadis itu tertawa-tawa sendiri di dalam kamar rumah sakit jiwa itu sambil memegang sebuah boneka Barbie yang keadaannya sudah awut-awutan juga, ia terlihat belum mandi beberapa hari, badannya terlihat lengket semua.
Sementara itu, Yoona mulai membuka syal tebal dan kacamata hitam yang menutupi wajahnya.
“Kenal?”tanya Yoona sambil melipat tangan di depan dada dengan kedua tangan yang masih memegangi syal dan kacamata hitam itu.
Min Ho menggeleng, perempuan itu sama sekali asing, ia bahkan belum dapat melihat perempuan itu secara jelas dari tadi, gadis itu selalu bergerak setiap detiknya dengan tawanya yang kedengaran sampai ke luar.
“Dia kakakku, mantan model—“ucap Yoona. “Kakak yang egois dan manja. Tapi, bagaimana pun juga, aku benci dan sangat menyesali pertemuannya dengan model egois itu.”
“Model egois?”tanya Min Ho dengan kening yang masih berkerut dalam.
“Goo Hye Sun itu—Karena dia, ini semua karena dia—“
***
Flashback
Paris, 3 tahun yang lalu.
Yoona, yang ketika itu baru berumur 19 tahun, baru saja merapikan semua barang-barang yang berserakan di atas meja dan lantai apartemennya. Setumpuk kertas, copic, pensil, dan barang-barang untuk keperluan tugas kuliahnya berserakan di seluruh penjuru ruang yang ia khususkan untuk mengerjakan tugas-tugasnya ini.
Ia kemudian menaikkan lagi kacamatanya yang terus melorot dengan tak sabar. Ia sudah lama ingin membeli lensa kontak baru setelah lensa kontak coklat miliknya hilang sebelah. Tapi, sayangnya, tugas-tugas di Instituto Mangaroni sama sekali tidak mengjinkannya untuk itu.
Sekarang, ia melangkah ke dapur kecilnya ketika sudah mulai puas dengan keadaan ruangan yang menurutnya telah rapi itu(hanya menurutnya, kenyataannya ruangan itu hampir tak ada bedanya dengan sebelum ia membereskannya). Ia membuat secangkir expresso, sekalipun matanya tidak bisa lagi diajak toleransi, yang benar saja, ia tak boleh ketinggalan acara fashion week yang ditayangkan stasiun tv lokal itu sedetik pun!
Ia melihat jam yang tergantung di dinding apartemennya itu. Pukul 10 malam. Dengan buru-buru ia berlari menuju ruang tamu dengan secangkir expresso di tangannya, ia menghempaskan dirinya di sofa yang empuk itu.
Olala…
Tapi baru saja Yoona ingin memencet tombol remote tv itu, ponsel imut miliknya yang berada di atas meja itu tiba-tiba saja berdering, menjerit-jeit, meminta diangkat, membuat dirinya hampir terlonjak kaget. Dengan gerakan tangan yang cepat, salah satu tangannya mengangkat ponselnya itu, sedang satunya lagi melepaskan expresso ke memencet remote tv itu, memerintahkannya agar menyala.
“Allo?!”jawab Yoona dengan aksen Perancisnya.
“Hallo, Yoona-ssi—“jawab suara di seberang sana itu.
Yoona terkesiap, suara itu berbahasa Korea. Ia melepaskan genggamannnya pada remote tv itu. Ia tak punya keluarga lagi di Korea, kedua orangtuanya telah meninggal dunia, yang tersisa hanya Onnie-nya. Tapi, kali ini, seorang laki-laki yang menelponnya.
“Yeobsoyo?”tanya Yoona. Suaranya berubah menjadi serius ketika berbicara dengan orang itu.
“Yoona-ssi, aku Pengacara Kim, pengacara keluarga Anda, keluarga Yoon—“kata suara dari seberang itu. Yoona segera mengerutkan keningnya dalam-dalam.
“Apa? Kenapa Anda menelpon?”tanya Yoona kemudian. Tak mungkin pengacara itu menelpon setiba-tiba ini kalau bukan sedang menghadapi hal darurat.
“Kalau Anda mau bicara soal ahli waris di keluarga kami dan ahli waris seluruh klub malam itu, tolong, aku sudah menyerahkannya pada Eun Hye Onnie—“kata Yoona kemudian, ia memang sudah memasrahkan 75 % dari kekayaan orang tuanya untuk menjadi milik kakaknya, Yoon Eun Hye.
“Aku hanya butuh kurang dari 15 % kekayaan orangtuaku agar dapat menyelesaikan kuliah di Instituto Marangoni dan membiayai keluargaku.”kata Yoona lagi. “Daripada bertengkar lagi, sudahlah, kalau dia mau 10% nya, ambil saja—“
“Yoona-ssi, bukan begitu—“sela Pengacari Kim dengan suara yang tergesa-gesa. “Besok, Anda harus berangkat ke Seoul dengan penerbangan paling pertama.”
“What?!”Yoona dengan spontan berbahasa Inggris. “Jangan seenaknya, ya, Pengacara Kim. Kau tak bisa menyuruhku kembali ke Korea. Tak bisa!”
Tanpa sadar, jari telunjuknya sudah teracung ke depannya, ia memang selalu begini kalau sudah naik pitam, lagi pula, orang ini seenaknya saja meminta dia kembali ke Korea, nanti bagaimana dengan kuliahnya di Paris ini? “Tidak bisa! Dengar baik-baik, ya, AKU—TAK—AKAN—PERNAH—MAU—KEMBALI—KE—KOREA—“
Terdengar desahan pendek, namun suara itu melanjutkan lagi. “Tapi, Yoona-ssi, hal ini sangat penting. Anda harus kembali, selaku satu-satunya orang yang mempunyai ikatan keluarga dengan Yoon Eun Hye-ssi.”
“Tidak! Aku tidak mau! Jangan ganggu aku lagi!”teriak Yoona, ia kesal sekali karena sudah diganggu saat ia ingin menonton fashion week itu, apalagi dengan urusan yang menurutnya sangat tidak penting itu.
Yoona segera memutuskan sambungannya, membanting ponselnya ke atas meja. Memang, ia tak pernah begitu suka kalau sudah bicara dengan Pengacara Kim, karena biasanya, topiknya tak pernah jauh-jauh dari harta warisan keluarga Yoon beserta jaringan klub malam yang tersebar di seluruh Korea itu.
Setelah sudah bisa mengontrol emosinya, ia pun memencet-mencet remote tv itu lagi dengan asal-asalan. Moodnya sudah hancur. Tiba-tiba saja, ponsel imutnya itu berdering lagi, tapi kali ini, bukan telpon, tetapi sms.
Dengan kesal, akhirnya Yoona mengambil ponselnya lagi, hanya dengan menekan satu tombol di ponselnya itu, ia sudah tau hidupnya tak akan berjalan seperti yang ia inginkan.
***
Yoona-ssi, Onnie Anda sekarang sedang berada di kantor polisi, dan mereka mempertimbangkan kemungkinan kalau Onnie Anda akan dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Saya dan tim pengacara memohon pada Anda untuk kembali ke Seoul, secepatnya—
Yoona sedang berada di Incheon International Airport ketika sms dari Pengacara Kim mulai bermain lagi di dalam pikirannya.
Sudah di kantor polisi, sekarang Onnie-nya akan dimasukkan ke rumah sakit jiwa? Bagaimana kehidupan Yoona nantinya? Kalau begitu jadinya, Yoona pasti hanya satu-satunya ahli waris dalam keluarganya, ia harus mengurus klub malam milik Appa-nya, dan cita-cita menjadi fashion designer itu? Kandas sudah.
Tidak! Yoona harus mendapatkan apa yang dia mau! Dia harus tetap menjadi fashion designer, profesi impiannya selama ini. Dia tak akan mau cita-citanya kandas hanya karena ia harus mengurus jaringan klub malam di Korea Selatan. Cita-cita inilah yang membuat dia rela hanya kebagian 25 % dari seluruh harta waris orang tuanya, walaupun sebenarnya, Eun Hye Onnie akan terus memaksa sampai dia mendapat sebagian besar harta warisan itu.
Yoona kemudian melepaskan kacamata hitamnya, mencari orang suruhan Pengacara Kim yang katanya akan menjemputnya dan seorang pria berpostur tubuh tegap telah berada di depannya ketika Yoona mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut bandara ini.
“Anda Yoona Agashi?”tanya pria tegap dengan wajah sangar itu.
“Ne.”jawab Yoona lemas, ia tak senang dengan kenyataan kalau ia harus kembali ke Korea lagi, padahal yang ada di bayangannya selama ini ketika ia sudah meninggalkan Seoul dan menuju ke Paris, ia akan bisa menikmati kehidupannya di sana sebagai mahasiswi di Instituto Marangoni dan pada akhirnya, ia bisa menikah dengan seorang pria Perancis yang tampan. Tapi, sepertinya, ia telah salah memprediksi.
“Kita segera ke kantor polisi—“perintah Yoona, dengan kesal, ia ingin tahu apa lagi yang akan terjadi selanjutnya.
***
“Dongsaeng-a, percaya pada Onnie—“pinta Eun Hye dengan wajahnya yang memelas. Dari melihat wajahnya saja, Yoona sudah tahu ada sesuatu yang tak beres dari Onnie-nya yang satu ini.
Rambut Onnie-nya acak-acakan, tak terawat, bajunya agak kumal, badannya bau, ia hanya memakai sandal jepit. Padahal Yoona tahu sekali bagaimana pun caranya, Eun Hye Onnie tak akan mau berpenampilan seperti ini, kecuali kalau tuduhan orang-orang di sini benar. Eun Hye Onnie telah sakit jiwa.
“Yoona! Kau harus keluarkan aku dari sini!”perintah Eun Hye Onnie, tapi Yoona sama sekali tak bergeming dengan perkataan Onnie-nya.
“Akhhhh!!!”Yoona akhirnya mengibaskan tangannya di depan semua polisi itu.
“Yoona!”bentak Eun Hye Onnie.
“Mwo?!?”balas Yoona membentak, ia sudah pusing dengan ocehan Onnie-nya ini. “Dengar, ya, kalau Onnie tidak gila, Onnie tak akan bersikap seperti ini! Aku ini tau Onnie!”
“Kau tahu aku maka kau pasti tau kalau polisi-polisi ini salah, kan?”tanya Eun Hye lagi, kali ini mengguncang-guncang tangan Yoona dengan kedua tangan yang diborgol. “Aku tidak gila! Keluarkan aku dari sini! Dan aku tak mau masuk rumah sakit jiwa. Ambil saja 25% harta orangtua kita kalau kau mau—”
“Akhhhhh!! Jangan mempersuasiku lagi!”teriak Yoona mengingatkan. Kakaknya selalu saja bicara tentang harta setiap kali pertemuan mereka setelah orang tua mereka meninggal setahun yang lalu. Makin lama bisa makin gila jika setiap hari mendengar soal harta warisan melulu, padahal ia sendiri tak begitu menginginkan harta warisan itu. “Pokoknya, kalau kau bersikap seperti itu terus, jangan harap aku akan membebaskanmu dari sini dan tidak akan memasukkanmu ke rumah sakit jiwa!”
Yoona menghembuskan napas pelan-pelan secara teratur.
Lalu nanti, kalau Eun Hye Onnie masuk penjara atau rumah sakit jiwa bagaimana? Kalau begitu, pewaris satu-satunya hanyalah Yoona, maka Yoona lah pengelola dari harta keluarga Yoon dan jaringan klub malam di Korea Selatan. Dan Yoona harus tinggal di sini bagaimana pun caranya, meninggalkan kuliahnya!
Yoona mengatur napasnya lagi, ia takut kalau-kalau ia tak bisa bernapas ketika menghadapi masalah yang bisa dibilang rumit ini. “Onnie tenang saja. Aku akan melakukan yang terbaik bagi Onnie—“
“Yoona, kau sungguh baik—“
“Aku tak mau harta. Ingat, ya, aku melakukan ini karena tidak mau menjadi pengelola warisan ini.”jelas Yoona sejelas mungkin, Onnie-nya tak boleh berpikir ia melakukan ini karena peduli padanya. “Aku akan memohon pada model itu. Kau tenang saja.”
***
Yoona sedang berhadapan dengan model bernama Goo Hye Sun, penyebab semua dari masalah dan kekacauan ini.
“Goo Hye Sun—ssi…”Yoona berkata dengan pelan dan tenang. “Aku mohon tolong cabut tuntutan Anda—“
Tapi, kemudian Goo Hye Sun yang saat itu sedang didampingi oleh seorang pria tampan jangkung, menggeleng pelan, ia dari tadi hanya diam saja, tidak mengeluarkan kata-kata.
“Kami tak akan mencabut tuntutan kami, Yoona-ssi—“kata pria tampan di sebelah kiri Goo Hye Sun itu, ia kemudian mengulurkan tangan dan membekap gadis di sebelahnya itu dengan rangkulannya.
Ah, sial…
Goo Hye Sun memang bukan orang main-main, harta kekayaannya bahkan tak akan habis sampai 7 keturunan. Dia, kan, pewaris Seoul Sun. Dia bisa melakukan apa saja yang ia mau. Dan ia juga memang tak mungkin berbesar hati mencabut tuntutan ini.
“Begini, aku yakin ini bisa selesai dengan cara yang kekeluargaan. Tolonglah, Tuan, Hye Sun Agashi—“kata Yoona sedikit memohon.
“Tidak.”Hye Sun akhirnya bicara dengan nada dingin dan penuh aroganisasi, ia kelihatan sudah malas berbicara. “Dia hampir saja membunuh saya, dia mengarahkan pisau itu ke arah saya. Geun Seuk-a, aku tak mau mencabut tuntutanku.”
Lelaki yang tampaknya bernama Geun Seuk itu semakin memperdalam rangkulannya. “Ne. Araso. Araso.”
“Agashi, Tuan, aku mohon.”Yoona memohon lagi. “Tolong jangan perpanjang masalah ini—“
“Agashi, maksudku adalah—begini—“Sekarang giliran pria itu yang berbicara lagi. “Kami tak akan memasukkannya ke dalam penjara. Tapi, ia harus kita masukkan ke rumah sakit jiwa.”
Gila! Gila! Kalau begini, bagaimana nanti!
“Dia sudah bertingkah dengan berlebihan, Nona. Anda harus lihat bagaimana ia bisa menjadi orang gila ketika bertatap muka dengan Hye Sun—“ungkap Geun Seuk. “Pasti ia sudah tidak normal. Maaf sekali, Agashi, tapi kami pikir ini adalah keputusan yang terbaik. Ia harus direhabilitasi.”
Yoona menghembuskan napas panjang mendengar penjelasan yang sebenarnya tak begitu ia perhatikan begitu jelas. Ia memang sudah tahu kalau kakaknya sudah tidak normal lagi, dan bagaimana pun juga, ia seharusnya sudah tak pantas memohon seperti ini lagi di depan mereka berdua.
Dilihatnya kalau lawan bicaranya itu kelihatan ingin beranjak dari tempat itu, Hye Sun sudah terlihat meraih tangan pria di sampingnya itu dengan wajah yang sudah lelah, tentu saja, akhir-akhir ini Nona yang satu ini pasti begadang untuk memberikan kesaksiannya sebagai korban.
Tapi, kemudian, Yoona bangkit dari kursinya, meraih tangan Hye Sun yang sudah hampir beranjak dari ruangan itu. Yoona kemudian berlutut di hadapan gadis itu.
“Aku mohon—“pinta Yoona dengan wajah memelas.
Tapi, Hye Sun menatapnya dengan mata menyipit. “Saya tidak akan mencabut tuntutan ini, Yoona-ssi—“
Dengan kasarnya, Hye Sun mengibaskan tangan yang digenggam oleh Yoona itu.
“Aku mohon. Jika bukan dia yang mengelola harta warisan keluarga kami, aku tak tahu siapa lagi—“kata Yoona sambil kerap menggenggam tangan Hye Sun dengan posisi berlutut.
Pria yang ada di sebelahnya kemudian membuka mulutnya. “Agashi, sudah, jangan berlutut lagi demi kakak Anda. Saya yakin Anda sudah tahu persis kalau kakak Anda bersalah—“
“Geun Seuk-a, kita tak punya kepentingan lagi di sini.”sela Hye Sun. “Sudah. Tak ada yang perlu diperpanjang lagi.”
Sekali lagi, Yoona menggenggam tangan itu. “Tolong, Agashi—Saya punya cita-cita. Aku mohon jangan tahan dia dan jangan masukkan dia ke dalam rumah sakit jiwa.”
“Yoona-ssi—“Hye Sun agak berbicara dengan pelan sekarang, kearoganisasiannya perlahan menghilang. “Asal kau tahu. Aku tak peduli dengan cita-citamu itu. Jika kakakmu bersalah, tak ada jalan untuknya menghindar dari kesalahan ini—”
Akhirnya, Hye Sun dan pria itu benar-benar berlalu dari ruangan itu. Meninggalkan Yoona sendiri, dengan beban batin yang luar biasa. Sekarang, tak ada cita-cita lagi sebagai seorang fashion designer, yang ada hanya masa depan sebagai pengelola harta kekayaan keluarga Yoon dan sebuah rencana balas dendam untuk model itu.
End of Flashback[/b]
***
“Aku pernah dengar berita tentang penusukan itu—“ungkap Min Ho terus terang, setelah mendengar cerita dari Yoona.
Yoona kemudian tersenyum kecut. “Kalau saja, Onnie-ku tak bertemu dengannya, dan tak iri dengannya karena posisi yang lebih diutamakan. Aku pasti bisa meraih cita-citaku—“
“Perempuan itu berani-beraninya bilang tak peduli dengan cita-citaku—“lanjut Yoona dengan suara yang agak gemetar. “Kenapa tidak pergi saja perempuan itu dari muka bumi ini?”
“Yoona-ssi, jangan coba-coba—“Min Ho memperingatkan Yoona yang kelihatan tak dapat membendung emosinya lagi.
“Kenapa kakakku waktu itu tak sekalian saja menusuknya sampai mati?”Yoona tak mempedulikan kata-kata Min Ho sebelumnya. “Berani-beraninya ia bilang tak peduli.”
“Tapi, kenapa kau mencintai model egois dan sombong itu?”tanya Yoona tiba-tiba. “Apa yang kau suka darinya? Dia egois, kan? Dia dingin, kan? Lalu kenapa di muka dunia ini masih saja ada dua orang yang mencintainya! Dengan tulus!”
“Dia kekanak-kanakan, kan?”tanya Yoona lagi. “Apalagi jika sudah berhadapan denganmu! Dia pemarah, kan? Tapi kenapa kau tahan dengannya? Padahal aku jauh lebih menyenangkan darinya!”
“Cukup, Yoona-ssi—“sela Min Ho, ia tahu gadis di sampingnya ini sedang merasakan luapan emosi yang tak dapat dibendung lagi.
“Lalu, apa yang kau suka darinya?”Yoona kemudian hampir menjerit. “Lihat apa yang telah ia lakukan! Ia telah membuat Eun Hye Onnie dan kau jadi begini!”
“Aku punya beberapa alasan untuk menyukainya.”jawab Min Ho datar, tapi kenapa sekarang ia jadi ragu dengan jawaban yang ia keluarkan tadi? Kalau dia bilang ada alasan, memangnya apa? Hye Sun saja sudah tidak mau mempertahankannya lagi, jadi untuk apa mencintai Hye Sun lagi? Dulu ia masih bisa bertahan, ketika ia pikir masih ada kesempatan. Karena ia adalah sahabat Hye Sun. Karena ia pikir, Hye Sun pasti akan bisa melupakan Geun Seuk, tapi sekarang, apakah keyakinan serta alasan itu masih ada?
“Dia selalu mengacuhkan dirimu!”teriak Yoona kemudian. “Tidak masuk akal kalau kamu menyukainya sedangkan aku sudah pernah melakukan upaya pembunuhan terhadapnya!”
Mata Min Ho segera terbelalak, buyarlah semua pikirannya. “Yoona-ssi!”
“Clayton Hotel. Aku sudah merencanakan penculikan di sana!”jerit Yoona histeris. “Kalau saja bukan lelaki brengsek dan bodoh yang menyelamatkannya dari sana, ia pasti sudah mati sekarang! Dan ternyata lelaki bodoh yang menyelamatkannya itu adalah KAU!”
Min Ho diam, tak bergeming.
“Kamu ini lelaki bodoh Lee Min Ho! Mana ada lelaki sepertimu di muka bumi ini!”bentak Yoona sekeras-kerasnya, tak peduli di mana mereka sedang berada sekarang. “Pabo! Pabo! Pabo! Pabo! PAAAAAAAAAAAAAAAABBBBBOOOO!!!”
“Berhenti panggil aku bodoh.”sahut Min Ho datar. Gadis ini sudah kehilangan akal sehatnya, tapi Min Ho sendiri sebenarnya juga bertanya-tanya, kenapa ia bisa selinglung sekarang ini. Wajahnya hampir tak ada ekspresi, perkataannya datar semua. Pikirannya dipenuhi oleh pertanyaan, “Jadi sebenarnya, alasan apa yang membuatmu menyukainya?”
Yoona benar! Hye Sun egois! Hye Sun hanya bisa bersikap manis jika berhadapan dengan Geun Seuk. Hye Sun kekanak-kanakan, sombong, dan dingin! Ya! Yang ini juga betul! Walaupun setelah Geun Seuk meninggal, sifat itu sudah tak kelihatan lagi, tapi yang ada malah sikap lemah, tak berdaya, dan tak punya tujuan hidup sekarang. Hye Sun mengacuhkan Min Ho! Ya! Selalu! Hye Sun selalu menolak Min Ho, sekalipun Hye Sun masih mencoba bersikap baik, tapi tak dapat dipungkiri itu adalah penolakan dan penolakan!!!
Lalu, adakah alasan yang kongkret untuk seorang Lee Min Ho menyukai Goo Hye Sun? Loh, kenapa harus berpikir selambat ini! Kalau dipikir-pikir juga, Hye Sun lah penyebab dari kehancuran hidupnya! Hye Sun yang menghancurkan hidupnya! Hidup remajanya! Tak ada yang bisa disalahkan lagi selain Hye Sun! Ia kehilangan keceriaan masa remajanya, karena Hye Sun!
Oh! Kenapa Lee Min Ho baru berpikir seperti itu selama ini? Berarti selama ini ia memikirkan orang yang salah untuk dihapuskan dari pikirannya! Orang yang seharusnya ia lupakan selama ini adalah Hye Sun! Ia telah salah!
Yoona benar. Bagaimana pun juga. Min Ho tak punya alasan apa pun untuk mencintai Hye Sun setulus itu, sedangkan, Hye Sun sendiri belum tentu punya perasaan yang sama.
“Yoona-ssi—“desah Min Ho perlahan. “Kali ini, aku tak akan melaporkanmu ke polisi atas pengakuanmu ini. Tapi, jangan pernah kau ganggu aku lagi—Aku tak mau berkeliaran dengan seorang calon pembunuh—“
Yoona kemudian tak bisa merapatkan mulutnya. Matanya ternyata sembap karena dari tadi diam-diam, lepas dari perhatian Min Ho, Yoona menangis. Seluruh tubuhnya seakan mati rasa. Ia yakin tujuannya membawa Min Ho ke sini, untuk membuat Min Ho ingin bekerja sama dengannya dalam menghancurkan Hye Sun, tapi kenapa lelaki ini jadi memutuskan hal seperti ini?
Min Ho kemudian berbalik, berencana berlalu dari sana. Tapi, tangan Yoona tiba-tiba menggenggam tangan Min Ho erat-erat.
“Jangan pergi—“bisik Yoona. “Kamu tidak boleh pergi. Kamu harus di sini.”
Namun, Min Ho mengibaskan tangannya dengan agak kasar. “Kalau kau berani menyentuhku sekali lagi dan mengganggu hidupku, aku tak akan membiarkanmu hidup tenang di Korea Selatan—“
Min Ho kemudian benar-benar berlalu dari kamar rumah sakit jiwa itu, meninggalkan Yoona sendiri, ia pun mulai mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan mulai memencet sebuah nomor telepon—
“Yobseoyo?”
***
End of ChapterTuh kan gaje... Aku bilang juga opo....
![[hmpfh]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/hmpfh.gif)
Sorry deh mam and all...
yg chap ini rada gaje... akhhh... jelek banget...
miannn yaaa...
![[cry]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/012.gif)
mak nem... ini gara" mak nem...
![[hmpfh]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/hmpfh.gif)
mami... kalo mau
![[head break]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/13.gif)
...
![[head break]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/13.gif)
mak nemm ya...
jangan aku...
![[heh]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/heh.gif)