
Dua minggu setelah pertemuanku dengan Min-Hee, kehidupanku berjalan seperti biasa. Kali ini tenang tanpa perdebatan dan pertengkaran apapun. Aboji menghilang entah kemana sejak terakhir kali pertemuan kami, Min-Hee pun tidak memberikan lebih banyak kabar, Min-Jeo aku tak bisa lebih peduli dengannya. Pekerjaan di kantor selalu menumpuk tanpa henti. Tak apa, membiarkan pikiranku sibuk lebih bagus daripada memusingkan masalah yang ada.
Teleponku berdering, semangat yang sempat hilang terpenuhi kembali setelah mendengar suara Hye-Sun di sebrang sana,,”Jeong Min-Ho! Cepat pulang!”
Ritual Hye-Sun setiap sore, meminta ku pulang, tapi ini masih terlalu pagi baginya untuk memintaku pulang. “Tapi ini masih pukul 3 sayang.”
“Tidak masalah, kau harus pulang!” katanya bersikeras.
“Masih banyak pekerjaan,” jelasku.
“Itu tidak penting. Yang penting kau ada disini.”
“Tapi..”
“Segeralah pulang. Aku tak mau tahu.”
Tut…Tut…Tut
***
Aku membuka pintu rumah perlahan. Suasananya sunyi senyap seperti biasa. Aku terpaksa pulang, khawatir terjadi apa-apa pada Hye-Sun. Sifat yang tak bisa kuhilangkan sebagaimana kerasnya aku berusaha, aku selalu cepat khawatir terhadap keadaan Hye-Sun.
“Hye-Sun?” Aku memanggil dengan suara yang cukup lantang.
Tapi tidak ada jawaban. Hanya ada embusan angin yang menjawabku.
Aku menyusuri ruang tamu dan naik ke lantai dua menuju kamar tidur kami. Hye-Sun tidak disana. Ya ampun, apakah ia ingin bermain petak umpet atau apa?
“Hye-Sun?” panggilku sekali lagi.
Kali ini jawabannya hanya ‘Mmmm!’ kecil yang terdengar dari kamar mandi didalam kamar tidur kami.
“Oh kau di kamar mandi?” sahutku lega.
Aku membuka pintu kamar mandi tanpa ragu. Seketika itu juga terjangan pelukan Hye-Sun sedikit menggoyahkan tubuhku.
“Hey.., kenapa?” tanyaku penasaran, ia menyandarkan kepalanya pada bahuku, aku bisa merasakan senyuman lebar yang tertera di mukanya..
“Jeong Min-Ho…Kau tidak akan percaya ini!” Hye-Sun berbisik.
Apa maksud dari omongannya, aku tidak tahu, tapi kelihatannya ada kabar yang mengembirakan.
“Apa itu?”
Hye-Sun terdiam sejenak sebelum ia berbisik lagi, “Selamat, kau sudah jadi ayah!”
***
Aku duduk di atas kloset dengan Hye-Sun yang berada di pangkuanku. Aku tidak berani memeluk perutnya terlalu erat jadi aku memilih untuk melingkarkan tanganku di sekitar pinggangnya saja.
Hye-Sun masih memegang sebuah test pack pada tangan kanan dan telepon yang ia gunakan untuk meneleponku tadi pada tangan kirinya. Berarti sepanjang satu jam perjalanan ku ke rumah, ia terus berada di toilet tanpa beranjak.
Aku masih kaget dan lebih banyak bergelut dalam pikiranku sendiri. Jadi ayah?
Hye-Sun terus mengoceh daritadi, mengoceh tentang perlengkapan bayi atau ini itu. Tentu saja aku sedikit terkekeh melihat kelakuannya. Ia akan menjadi ibu yang baik pasti.
“Jadi…,jadi menurutmu, anak kita, lelaki atau perempuan?” tanyanya semangat.
“Keduanya bagus,” pikirku. Memang benar, aku tidak pernah akan mempermasalhkan ini semua.
“Hahaha betul juga. Omong-omong apakah ini magis dari Min-Hee?” Hye-Sun mendongak padaku.
“Magis?”
“Minggu-minggu lalu waktu kita bertemu dengannya. Ia meyinggung soal kehamilan kan lalu tiba-tiba ini semua jadi kenyataan.” Hye-Sun tersenyum seolah benar-benar percaya akan apa yang barusan dikatakannya.
“Er..Mungkin,” aku menjawab ragu. Ia selalu bertanya akan hal aneh yang tidak masuk akal. Bagaimanapun seumur hidup aku tak pernah melihat Min-Hee bergelut dengan magis-magis seperti yang diperkirakan Hye-Sun.
“Oh ya!” Hye-Sun terpekik tiba-tiba, “Kita belum memberi tahu orang tuaku!”
Hye-Sun berdiri lalu mulai memencet tombol-tombol nomor yang ada di telepon dengan cepat,ia sudah sangat hafal dengan nomor telepon yang berhubungan dengan orang tuanya tentu saja. Hye-Sun adalah anak tunggal sehingga ia dan orang tuanya sangat dekat satu sama lain. Betapa beruntung, kehidupan yang sangat berbeda 180 derajat dari keluarga Jeong. Lagi-lagi aku merasa sangat iri, apalagi melihat keakraban mereka, namun untungnya keluarga Seo berbaik hati, mereka tidak menyisihkanku tapi mengajakku bergabung setiap kali kami bertemu. Aku seperti layaknya anak kedua keluarga Seo. Mereka sangat baik, orang tua Hye-Sun itu, tidak heran kalau Hye-Sun terdidik dengan baik juga, sekeras-kerasnya Hye-Sun, ia tetap memiliki hati yang sangat baik dan penyanyang. Beruntung aku, ini semua adalah kado dari Tuhan mungkin.
“Nomor sedang sibuk? Tidak biasanya. Padahal ini telepon rumah. Siapa yang menggunakan? Pelayan-pelayan? Aboji dan omoni selalu memakai ponsel mereka lagipula,” Hye-Sun bergumam pada dirinya sendiri. Alisku terangkat sebelah, dalam sejarah hidupku bersama Hye-Sun rasanya tidak pernah sekalipun telepon rumah Hye-Sun sibuk, malah lebih seperti pengganguran.
“Coba saja sekali lagi,” saranku pelan, ikut bangkit berdiri di sebelahnya. Entah, jadi merasa penasaran juga.
“Baiklah,” sekali lagi Hye-Sun memencet tombol demi tombol dengan cepat tapi dering telepon mendahuluinya.
“Eh!Yeobseo!”
Diam sejenak. Aku memperhatikan Hye-Sun, menunggu semburan teriakannya. Itu pasti orang tua nya kan?
1 menit…Tidak ada yang terjadi. Aku masih menunggu tapi raut wajah Hye-Sun seperti dimendungi awan tebal.
Lalu menit kedua.
BRAKK!
Telepon itu jatuh dari genggaman Hye-Sun. Air mata perlahan tergetar keluar dari matanya. Ada apa? Pikiranku berantakan tidak karuan melihat tubuh Hye-Sun yang tersandar di tembok lalu jatuh ke bawah.
“Seo Hye-Sun!”
Aku berjongkok dan kedua tanganku mengelus pipinya. “Ada apa?”
Aku bisa merasakan ia bergetar, Hye-Sun tidak menjawab apa-apa. Yang ada hanya tangisan yang semakin keras.
“Seo Hye-Sun!” panggilku sekali lagi. Tapi ia seperti tidak menyadari keberadaanku. Matanya yang basah menatap kosong tak tentu arah, mukanya menjadi semerah tomat sekarang.
Merasa bingung, aku membawa tubuh Hye-Sun kedalam pelukanku. “Seo Hye-Sun. Ayo katakan ada apa?” bisikku membujuknya.
Ia tidak menjawab. Hanya diam. Kami berpelukan 5 menit, hanya suara tangisan Hye-Sun yang terdengar mengiang di seluruh pelosok kamar mandi. Sampai akhirnya ia kelelahan, mulai tak sadarkan diri, tubuhnya melemas dalam pelukanku.
“Seo Hye-Sun!! Seo Hye-Sun!! Kau belum menjelaskan apa-apa padaku, bangunlah,” aku berteriak-teriak menguncang tubuhnya berkali-kali, berharap ia membuka mata dan menjelaskan apa yang tengah terjadi padaku.
Alih-alih ia sadar, aku malah merasa seperti orang bodoh karena berbicara pada orang yang sudah tak sadarkan diri.-END CHAPTER