Selamat membaca dan siapin ember dan kain pel ya siapa tahu
![[love eyes]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/004.gif)
...
![[hmpfh]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/hmpfh.gif)
[hmpfh, semoga gak
Dan seperti yang kukatakan sebelumnya mianhae jika penggambarannya kurang tepat dan bagi yang merasa namanya di catut aku

sebelum di
![[fighting]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/11.gif)

Sepeninggal Min Ho dan Hye Sun, Bi terduduk lesu di kursi, ia sudah tidak punya harapan lagi untuk mendekati Hye Sun, nasi sudah menjadi bubur tidak ada gunanya menyesali diri karena ia punya banyak kesempatan dari dulu untuk menyatakan perasaannya namun ia tidak punya nyali untuk menyatakannya di samping banyak pertimbangan yang membuatnya mengulur-ulur waktu hingga akhirnya tidak ada lagi kesempatan itu buatnya.
Bi dengan langkah gontai meninggalkan Café Manolin karena ada hal penting yang harus diselidikinya sehubungan dengan cerita Hye Sun. Berbagai macam pikiran bergelayut diotaknya seputar cerita Hye Sun dan permintaannya yang membuat Bi bertanya-tanya tapi Hye Sun bersikukuh tidak mau mengatakan alasan di balik itu semua tapi melihat sikap Min Ho barusan terhadap Hye Sun, Bi mulai sedikit mengerti.
***********
Di rumah kediaman keluarga Goo
Mobil hitam itu berhenti di depan rumah yang megah dan besar seperti istana, sopir segera ke luar dan membukakan pintu untuk tuan mudanya. Min Ho ke luar dari mobil dan menunggu Hye Sun ke luar tapi yang bersangkutan masih diam tidak bergerak, Min Ho menoleh ke dalam mobil kemudian meraih lengan Hye Sun dan menariknya ke luar dengan kasar.
“Lepaskan…Tolong lepaskan, saya bisa ke luar sendiri..” Hye Sun berusaha melepaskan diri dari genggaman Min Ho. Melihat muka Hye Sun yang meringis membuat Min Ho merasa iba dan melepaskannya. Hye Sun mengelus lengannya yang sakit karena di tarik paksa,

ia menatap Min Ho dengan mata melotot seperti mau keluar dan mulut melebar ke samping dan bibir mengatup rapat karena marahnya, kemudian tiba-tiba tangannya melayang ke pipi Min Ho namun reflek Min Ho menangkisnya sehingga tidak kena tapi.. “Aduuuhhhhhh…” Min Ho meringis kesakitan karena tamparan Hye Sun mengenai telapak tangannya yang terluka tadi sambil memeganginya dengan tangan yang lain.
Hye Sun ternganga karena tidak menyangka jika Min Ho menahan pukulannya dengan tangannya yang terluka, dengan cepat ia mengambil sapu tangan dari dalam tas, lalu meraih tangan Min Ho dan membalutnya dengan sapu tangan tersebut.
“Soesongheo, sa..sssaya tidak menyangka akan begini…ayo kita ke dalam sebaiknya cepat di obati, nanti bisa infeksi..” Kata Hye Sun dengan nada menyesal dan mengajak Min Ho masuk ke dalam rumah.
Min Ho mengikuti Hye Sun masuk ke dalam dari belakang, begitu sampai di dalam Hye Sun minta disiapkan kotak P3K kepada pelayannya. Ia mengajak Min Ho ke ruang keluarga dan mempersilahkannya duduk. Hye Sun menaruh tasnya di meja dan mendekati Min Ho, ia melepas sapu tangan yang membalut lukanya Min Ho begitu pelayan datang membawa ember berisi air dan kotak P3K. Min Ho memperhatikan Hye Sun dengan seksama tanpa berkedip sedikit pun bagaimana telatennya Hye Sun membersihkan luka di telapak tangannya, beruntung lukanya tidak parah hanya tergores dan ada sedikit pecahan vas yang menempel, setelah membersihkan dan mengobatinya dengan obat merah lalu membalutnya dengan plester.

“Sudah selesai…” Hye Sun tersenyum bangga melihat hasil kerjanya yang rapi. Min Ho masih menatap Hye Sun dan begitu Hye Sun menengadahkan wajahnya dari tangan ke muka Min Ho pandangan mereka beradu.
Lee Min Ho POV :
Ternyata dia tidak seperti perkiraanku sebelumnya, walaupun awalnya aku benci padanya karena dia telah membuat aku mengalami beberapa masalah tapi sedikit demi sedikit kenapa aku jadi peduli setelah sering bertemu dan jika melihatnya begini aku jadi berpikiran lain tentangnya. Senyumnya itu sangat mempesona, baru kali ini aku merasa ada sesuatu yang lain didadaku memandangi seorang gadis.
Goo Hye Sun POV :
Kenapa dia terus menatapku seperti itu, dia semakin aneh saja dari dari tadi pagi…Dan kenapa dia bisa memecahkan vas bunga di Café tadi hanya dengan meremasnya. Apa dia pikir dia itu jagoan apa ?...Huh buat orang khawatir saja…Heh, apa yang kau pikirkan Goo Hye Sun..sadar..sadar…
“Ekhemm…khemm…” Hye Sun pura-pura batuk sambil mengetok-ngetok kepalanya pelan setelah cukup lama mereka saling menatap, lalu Hye Sun mengalihkan perhatiannya ke meja yang berserakan bekas mengobati Min Ho, ia berdiri dan langsung sibuk merapikannya untuk menutupi kegelisahannya karena Min Ho terus saja memandanginya sementara ia merasa pipinya sudah panas dan memerah tomat. Tiba-tiba Hye Sun menghentikan kegiatannya dan berpaling menghadap ke Min Ho dengan tampang berang membuat Min Ho kaget melihat sikap Hye Sun yang berubah seketika.

“Mwo…?” Min Ho jadi bingung dipandangi Hye Sun seperti itu.
“Kamu kira apa yang telah kamu lakukan di Café tadi heh…Apa hak kamu mencampuri urusanku ?…Kamu bukan siapa-siapa aku, saudara bukan, pacar juga bukan, arasso..?” Jelas Hye Sun dengan gigi gemeretuk dan jika sudah emosi ia lupa bersikap formal.
“APA ???” Min Ho jadi ikut emosi mendengar kata-kata Hye Sun. “Seharusnya yang marah itu aku…karena kamu itu sudah dijodohkan denganku, seharusnya kamu bisa menjaga diri untuk tidak berkencan dengan pemuda lain selain aku, arasso..!!! Sahut Min Ho menekankan sambil berdiri mendekati Hye Sun sehingga mereka berhadapan.
“Mwooo..?” Hye Sun masih tidak menyadari maksud perkataan Min Ho dan ia tidak mengerti kenapa malah Min Ho jadi marah.
“Apa kamu kira kata-kataku dari tadi pagi itu hanya bualan, Hye Sun-yaa…?” Min Ho melembutkan suaranya dan mendekati Hye Sun sehingga tidak ada jarak di antara mereka,

namun Hye Sun mundur perlahan tapi Min Ho tetap mengikutinya hingga Hye Sun tidak bisa mundur lagi karena ia sudah mentok di dinding. Min Ho meletakkan ke dua tangannya di dinding diantara kepala Hye Sun.
“A..a..apa yang mau anda lakukan, Min Ho-Ssi..?” Hye Sun jadi gugup dan salah tingkah, ia rasa pipinya sudah merah seperti tomat matang, apalagi Min Ho mendekatkan wajahnya ke wajah Hye Sun dan menatapnya lekat dengan mata sayu. Hye Sun merasa tubuhnya tidak bisa bergerak dan semakin dekat wajah Min Ho membuatnya semakin gugup, jantungnya berdegup kencang dan ia merasa desiran didadanya ketika nafas panas Min Ho menerpa telinganya.
“Kamu milikku seorang, Hye Sun-yaa…milikku..”Min Ho berbisik di telinga Hye Sun yang membuatnya terkesiap mendengarnya.
Sebelah tangan Min Ho menyentuh lembut pipi Hye Sun dan mengelusnya, Hye Sun ingin menggerakkan badannya untuk mendorong badan Min Ho supaya menjauh darinya tapi antara otak dan badannya tidak singkron karena tubuhnya enggan bergerak.
Goo Hye Sun POV :
Kenapa tubuhku tidak mau bergerak. Oh Tuhan, apa yang mau dilakukannya ? Dia menyentuh bibirku dan matanya…kenapa matanya meredup, tidak biasanya dia memandangku seperti itu…Apa yang harus kuperbuat, ayo tubuh bergeraklah…

Min Ho sedikit membungkukkan badannya supaya wajah mereka sejajar dan ia semakin mendekatkan wajahnya hingga tinggal 2 centi, Hye Sun reflek memejamkan matanya. Min Ho mendaratkan ciuman ke kening dan kemudian turun ke bibir mungil Hye Sun yang merah dan padat dengan lembut.
Min Ho berhenti, melihat Hye Sun diam dan membiarkannya saja menciumnya menjadi berani untuk melanjutnya aksinya. ~“Oh, rupanya kamu tidak keberatan Hye Sun-yaa.”Batin Min Ho~

Min Ho memegang bahu Hye Sun dan mulai mencium lagi bibir Hye Sun, awalnya hanya dengan sentuhan-sentuhan lembut kemudian melumatnya, merasa Hye Sun tetap diam Min Ho semakin memperdalam ciuman dan lumatannya. Min Ho berusaha membuka mulut Hye Sun yang tertutup rapat dengan mendorong lidahnya diantara ciuman dan lumatannya, setelah sekian menit pertahanan Hye Sun goyah juga hingga lidah Min Ho bisa leluasa bermain di dalam mulut Hye Sun.
Goo Hye Sun POV :
Oh Tuhan, kenapa aku membiarkannya menciumku dan kenapa juga aku menikmatinya padahal aku kan tidak suka padanya … maksudku pada sikap sombong dan angkunya itu tapi kenapa aku merasa seperti berjuta watt aliran listrik mengaliri tubuhku, aku seperti melihat berpuluh-puluh kembang api berbagai macam rupa menyala dengan indahnya.
Meskipun beberapa menit kemudian hanya Min Ho yang aktif melumat dan memainkan lidahnya di dalam mulut Hye Sun, namun di menit kesekian Hye Sun mulai mendesah pelan diantara lumatan Min Ho yang panas. “Akhhh…” Hye Sun mulai berani untuk melumat bibir bawah Min Ho yang tebal dan merah, hal ini membuat Min Ho semakin ganas melumat, menyesap dan mengorek-ngorek mulut Hye Sun. Hanya beberapa detik kemudian Hye Sun sudah lihai melumat dan memainkan lidahnya di dalam mulut Min Ho sehingga lidah mereka saling bertaut.
Lee Min Hoo POV :
Akhirnya dia mulai agresif dan menikmatinya, sepertinya dia baru pertama kali berciuman namun dia cepat juga belajarnya. Bibirnya manis dan kenyal membuatku tidak bisa berhenti untuk terus menikmatinya.
Tangan Hye Sun mengunci leher Min Ho sedangkan lengan Min Ho melingkar di pinggang Hye Sun, sementara bibir mereka tidak berhenti melumat dan memagut seakan tidak ingin lepas walau hanya untuk menghirup udara. Min Ho menghentikan lumatan dan melepaskan ciumannya, membuat Hye Sun membuka mata dan menatap Min Ho dengan pandangan kecewa. Namun itu tidak sampai sedetik karena berikutnya Min Ho mendaratkan ciumannya ke daun telinga Hye Sun dan menjilat cupingnya serta menggigitnya pelan. “Akkkhhhhhhh…Min Ho-yaa..” Hye Sun mendesah dan tubuhnya menggelinjang geli, di tambah Min Ho menurunkan ciumannya menelusuri leher, menjilatinya dan menyesapnya serta menggigitnya lembut sehingga meninggalkan bekas merah muda yang memanjang menyebabkan Hye Sun serasa berada di awang-awang. Ciuman dan jilatan Min Ho turun sampai ke dada, satu tangan Min Ho pindah ke depan dan mulai meraba naik dari pinggang ke atas dada di mana ada gunungan di balik baju Hye Sun tapi belum sampai tangannya ke sana tiba-tiba…
“I sesang malloneun pyohyeonhalsuga eobseo..” Hp yang ada di kantong jas Min Ho berbunyi. Mereka berdua tersentak seketika dan menghentikan aktivitas mereka, Min Ho dengan enggan merogoh saku untuk mengambil hp, dilihatnya nama Mr. Park tertera di layar kemudian ia menekan tombol jawab.
“Yeobseyo..”

Seketika tampang Min Ho berubah serius mendengar kata-kata Mr. Park dan ia berjalan menjauhi Hye Sun.
Hye Sun hanya memperhatikan Min Ho menerima telpon yang menjauh darinya, ia melihat dirinya yang sedikit awut-awutan kemudian membetulkan baju dan merapikan rambutnya yang sedikit acak-acakan. Hye Sun tidak menyadari jika Min Ho sudah selesai di telpon dan berada didepannya.

Ia mendongak karena merasa ada yang memperhatikan gerak-geriknya dan ketika ia melihat menengadah, Min Ho langsung menancapkan bibirnya ke bibir Hye Sun dan melumat dan menyesapnya sebentar lalu melepaskannya, ia menatap wajah Hye Sun seperti tidak ingin pergi meninggalkannya, sementara Hye Sun hanya terpaku ditempatnya.
“Ingat...Hye Sun-yaa, Aku tidak suka dan tidak mau melihat hal seperti di cafe tadi terjadi lagi, ARASSO...!!!” Min Ho menekankan kata terakhir, Hye Sun hanya menatap Min Ho dengan bingung.
“Aku harus pergi sekarang…sampai ketemu lagi, sayaaang..” Kata Min ho lembut dan melangkah pergi, meninggalkan Hye Sun dengan alis berkerut.
***********
Tokyo, Jepang
18.30 waktu setempat
Mr. dan Mrs. Lee baru saja sampai di kamar hotel ketika ponselnya berbunyi. Dahi Minki berkerut setelah melihat nama yang tertera di layar, ia menunjukkan kepada istrinya siapa yang menelpon dan reaksi Sonia juga sama dengan suaminya, kemudian Minki menekan tombol jawab dan mengaktifkan speaker sehingga istrinya bisa mendengar pembicaraan mereka.
“Yeobseyo..”
“Hallo Appa, bagaimana kabarnya dan apakah semuanya berjalan lancar ?” Min Ho menyapa dengan ceria.
“Min Ho-yaa, appa dan eomma baik-baik saja dan semuanya lancar…Oh ya, tumben kamu menelpon, apa ada masalah serius dengan perusahaan ?.. Biasanya jika terjadi sesuatu Mr. Park yang menghubungi appa dan eomma ?” Tanya Minki khawatir karena Min Ho tidak pernah menghubungi ayah dan ibunya jika mereka bepergian.
“Ahniyo, semua di sini baik-baik saja, hanya…” Min Ho bingung tidak tahu bagaimana mengatakannya.
“Hanya apa Min Ho-yaa ? Jangan membuat kami khawatir di sini..” Kata Sonia terdengar cemas.

“Hanya…eee…hanya…tentang perjodohan itu..” Min Ho masih malu untuk mengatakannya.
“Min Ho-yaa, appa dan eomma tidak memaksa kamu untuk menerimanya, semua keputusan ada di tangan kamu dan sebaiknya hal ini kita bicarakan nanti saja sepulang kami dari Jepang.” Minki menegaskan.
“Ne, saya mengerti appa tapi sa..ssaya tidak keberatan dengan perjodohan itu dan saya mau…per..perni..ka..han itu dilaksanakan secepatnya.” Min Ho berkata dengan terbata-bata.
“APAA!!! Kami tidak salah dengar khan, Min Ho-yaa..? Sahut Minki dan Sonia bersamaan saling melihat dengan pandangan tidak percaya.
“Ne, itu semua benar…appa dan eomma.” Min Ho meyakinkan ke dua orang tuanya.
“Ya..ya..baiklah, Min Ho-yaa…secepatnya akan kami beritahukan hal ini kepada keluarga Goo..” Minki tersenyum senang demikian juga Sonia matanya mulai berkaca-kaca karena bahagia.
“Baiklah appa dan eomma, sebaiknya kalian istirahat dan tentang acara pesta pernikahan akan kita bicarakan nanti setelah kalian kembali ke Seoul … Selamat malam..” Kata Min Ho mengakhiri pembicaraan.
“Tunggu dulu Min Ho-yaa…Ghamsahamnida karena kamu telah mengabulkan wasiat terkahir aboji…Selamat malam.” Minki menutup ponsel dan langsung di sambut pelukan oleh Sonia. Lelah dan penat yang mereka rasakan seakan menguap begitu saja mendengar berita bahagia dari anaknya.
************
Seoul, Korea
19.35 waktu Seoul
Kediaman keluarga Goo
Myra dan Henry sedang menikmati makan malam sementara Hye Sun berada dikamarnya dan tidak ikut makan dengan alasan tidak lapar dan mau istirahat, ketika pelayan datang mengatakan ada telpon dari Mr. Lee di ruang keluarga.
Henry menghentikan makannya dan menatap istrinya sejenak sebelum berdiri dan melangkah ke ruang keluarga, sementara Myra hanya menatap punggung suaminya sampai menghilang di balik tembok pembatas.
Sepuluh menit sudah Henry belum kembali juga sedangkan Myra menunggu dengan harap-harap cemas, ia jadi tidak berselera melanjutkan makannya sejak mendengar Minki menelpon karena keluarga Lee mengatakan akan menghubungi mereka begitu Min Ho sudah mengambil keputusan.
Dua menit kemudian Henry muncul dengan mimik muka serius seperti ada sesuatu yang dipikirkannya membuat Myra yang melihatnya menjadi khawatir.
“Apa kata Minki, sayang...ayo ceritakan?” Tanya Myra penasaran, sementara tampang Henry masih tidak berubah.
“Ayo katakan, jangan membuatku bingung…Apa Min Ho menolaknya ?” Tanya Myra tidak sabar. Henry hanya tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya.
“Jadi…dia menerimanya…?” Myra terus bertanya tidak sabar menunggu jawaban suaminya. Henry tidak berkata apa-apa, ia menatap Myra dengan sinar mata kebahagian.
************
Seoul, Korea
Pukul : 07.30
Kediaman Keluarga Lee
Min Ho bersiap-siap untuk pergi ke kantor, sudah beberapa hari ini ia kelihatan bersemangat sekali dan selalu ceria walaupun kerjaannya menumpuk dan selalu pulang tengah malam karena ia harus menangani sendiri semua masalah perusahaan selama ayah dan ibunya melakukan perjalan bisnis. Orang tuanya menelpon bahwa besok pagi mereka kembali dan malamnya mereka akan makan malam dengan keluarga Goo dirumahnya membicarakan pernikahannya dengan Hye Sun.

Min Ho sekarang selalu tersenyum jika mendengar atau terlintas dikepalanya nama gadis itu, ia sudah 3 hari tidak bertemu dan mendengar suaranya sejak terakhir mengantarnya pulang yang berakhir dengan ciuman itu, ciuman yang membuat Min Ho tidak bisa lupa dan tidak akan melupakannya karena belum pernah ia merasakan hatinya berdebar dan tubuhnya menuntut lebih dengan gadis lain seperti apa yang ia rasakan dengan Hye Sun.

Di sela kesibukannya bekerja, hanya Hye Sun dan aktifitas yang mereka lewati berdua yang terbayang di pelupuk matanya, kadang ia tersenyum dan tertawa sendiri jika mengingat hal-hal lucu entah sedang rapat atau lagi sendiri di ruang kerja membuat pegawainya bingung melihat sikap atasannya yang aneh itu akhir-akhir ini tapi hal itu malah membuat pegawainya senang karena bosnya itu tidak suka marah-marah lagi yang tidak jelas sehingga mereka menjadi tenang jika berhadapan atau berpapasan dengannya.
Karena sibuk dan memikirkan Hye Sun membuat Min Ho melupakan hal penting yang membahayakan nyawa dan perusahaannya dan mungkin juga orang-orang yang disayanginya sementara sudah sampai tenggat waktunya.
************
Pukul : 08.00
Kediaman Keluarga Goo

Hye Sun memandangi dirinya di cermin, dilihatnya bekas merah di lehernya sudah hilang, selama 3 hari ini ia hanya mengurung diri di kamar karena tanda itu tidak hilang dan jika terpaksa ke luar kamar atau rumah ia memakai syal atau baju yang berleher tinggi untuk menutupinya, di samping itu ia merasa malu dan bingung harus bersikap bagaimana jika tidak sengaja bertemu Min Ho.

Beruntung ia kemaren mendengar percakapan pelayannya yang sedang membersihkan ruang keluarga ketika ia lewat untuk sarapan secara tidak sengaja yang membicarakan tentang bekas merah ciuman di leher akan cepat hilang jika di olesi bawang putih, kemudian secara diam-diam ia mengambil bawang putih di dapur dan mencobanya, ternyata ampuh juga.

Hye Sun menjadi tersenyum sendiri mengingat lagi ciuman pertamanya sampai-sampai pelayan yang mengetuk pintu kamarnya tidak di dengarnya, akhirnya pelayan itu pergi karena tangannya sampai sakit mengetuk tapi tidak dihiraukan oleh Hye Sun.
Mengingat ciuman membuat Hye Sun jadi bertanya-tanya kenapa Min Ho tidak ada menghubunginya setelah peristiwa itu, “apa dia merasa bersalah atau…akhhh, kenapa aku jadi memikirkannya..kalau bertemu atau ia menelponpun aku tidak tahu harus bagaimana, aku malu sekali karena telah membiarkan dan meladeninya…” Batin Hye Sun.
Pikiran Hye Sun melayang ke peristiwa di café dan ia jadi ingat Bi, ia lalu mengambil hp dan mengutak-atiknya, ternyata tidak ada sms ataupun telpon masuk, ia sudah beberapa kali menghubungi Bi setelah pertemuannya di café tapi tidak tersambung dan sms yang dikirimnya pun tidak di balas dan ia pun sudah meninggalkan pesan suara. Hye Sun merasa bersalah pada Bi atas sikap kasar Min Ho padanya dan Hye Sun tidak tahu apakah Bi marah padanya karena biasanya Bi akan cepat menelpon ataupun membalas smsnya, ia berpikiran positif saja jika Bi sedang sibuk mengusut kasus yang dihadapinya apalagi setelah Hye Sun menceritakan apa yang ditemukannya.
***********
Moskow, Rusia
Pukul : 11.00 waktu Moskow
Seorang pria setengah baya, berperawakan gemuk dan pendek yang berada di balik meja sedang menerima telpon dan ia kelihatan tidak senang mendengar penjelasan penelpon di seberang sana.
“APA KAU BILANG!!!…Aku tidak mau tahu, pokoknya kamu harus menemukan cd itu atau nyawamu gantinya…” Orang itu menegaskan dan mengancam, kemudia ia diam mendengarkan suara di seberang sana bicara.
“Terserah kamu bagaimana caranya yang penting cd itu harus kamu temukan paling lambat minggu depan atau ..kreeekkkk.” Orang itu mengarahkan telunjuknya ke leher mengisyaratkan leher di potong atau matilah kau.
Setelah menutup telpon, ia meraih rokok didepannya dan menyalakannya lalu berdiri dan menghadap ke jendela kaca di belakang meja dengan tangan di pinggang. Ia tidak habis pikir bagaimana bisa si Endrivosky kehilangan tas yang sudah susah payah dicurinya dari ilmuwan Seung yang dikuntitnya selama berbulan-bulan dan setelah tas itu ditemukan kembali malah cdnya lagi yang hilang…“Dasar tidak becus..” Pria itu menggumam pada dirinya sendiri dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
************
Seoul, Korea
Pukul : 08.10 waktu Korea
Endrivosky masih memandangi ponsel ditangannya, Mr. Okyvolki marah besar padanya karena telah menghilangkan tas itu walaupun sudah ia dapatkan kembali tapi barang yang sangat berharga malah tidak ada didalamnya, padahal tas itu tidak ada gunanya lagi jika cd itu tidak ada.
Endrivosky kemudian menekan angka-angka dan begitu terhubung, ia langsung minta disambungkan ke seorang petinggi di perusahaan itu tapi ia hanya menelan pil pahit karena yang bersangkutan sedang rapat sampai sore dan tidak bisa di ganggu jadi ia hanya di minta meninggalkan pesan oleh sekretarisnya.
Endrivosky dengan kesal membanting ponselnya ke kasur karena pria yang jadi harapannya untuk mendapatkan cd malah susah dihubungi, di samping itu anak buahnya yang ditugaskannya membuntuti melaporkan kalau pria itu terlihat biasa saja seperti tidak takut akan ancaman yang pernah dikatakannya. Ia tengah berpikir keras dan memutuskan untuk melakukan rencana B karena rencana A sepertinya tidak berhasil. Ia kemudian meraih ponsel dan menghubungi anak buahnya untuk menginstruksikan rencana B jika pria itu mengindahkan ancamannya sampai nanti malam.
*************
Pukul 22.00
Gedung kantor Lee Corporation dan kediaman keluarga Lee
Gedung itu sudah sepi, hanya tinggal petugas keamanan yang lagi bertugas jaga dan beberapa orang yang harus rapat dengan atasannya dan mereka juga sudah bersiap untuk pulang ketika Min Ho ke luar dari kantor. Ia memutuskan untuk makan malam di rumah dan langsung istirahat karena hari ini ia sangat lelah menghadiri rapat dari pagi sampai malam yang rencana sore sudah selesai tapi ada beberapa hal yang harus diselesaikan sekarang juga maka ia memutuskan untuk melanjutkan rapat sampai selesai.
Begitu Min Ho sudah masuk ke dalam mobil, sopirnya langsung tancap gas karena bosnya minta cepat sampai rumah. Sopir yang bernama Izzy itu melihat ke kaca spion dan mobil Cadillac hitam itu yang dilihatnya beberapa hari lalu masih setia membuntuti mereka. Awalnya ia pikir hanya kebetulan saja arah mereka sama tapi setelah beberapa kali ia menjadi was-was dan ia tidak berani mengatakan pada bosnya, ia hanya minta petugas keamanan di kantor dan di rumah untuk waspada dan berhati-hati karena ia punya firasat tidak enak mengenai bos mereka.

Min Ho melihat sopirnya beberapa kali melihat ke kaca spion di atas kepalanya dan gelagatnya jadi aneh membuat Min Ho jadi bertanya-tanya dalam hati karena sudah beberapa kali Min Ho menyaksikan sikap aneh sopirnya yang biasanya tenang. Ketika sopirnya melihat lagi Min Ho mengikuti arah pandangan sopirnya dan dilihatnya sebuah mobil Cadillac hitam mengikuti mereka. Min Ho mengabaikannya karena ia pikir mungkin mobil itu searah dengan mereka tapi ia merasa mobil itu tidak asing baginya.
Mobil memasuki halaman rumah Lee dan Min Ho melihat mobil Cadillac itu berhenti tidak jauh dari pintu gerbang membuatnya bingung karena kemaren ia melihat mobil yang sama juga berhenti tidak jauh dari situ dan Min Ho jadi ingat kenapa ia merasa tidak asing lagi karena ia pernah melihat mobil itu sebelumnya dan Min Ho tidak menyadari kalau orang-orang yang ada dalam mobil itu sedang mengintainya.
****************
Pukul : 09.00
Kediaman keluarga Goo :
Hye Sun baru saja selesai berenang dan ia hendak ke kamarnya ketika dilihatnya pelayan pada sibuk membersihkan rumah dan menata meja dan kursi, demikian juga dengan pelayan dan koki yang bekerja di dapur, dahinya berkerut karena bingung ada apa sehingga pelayan menjadi sangat sibuk seperti itu. Biasanya hanya jika ada pesta atau ada tamu penting mereka sesibuk itu.
Hye Sun bertanya kepada salah satu pelayan dan mereka hanya mengangkat bahu tanda tidak tahu apa-apa. Ia mau bertanya pada ke dua orang tuanya, tapi menurut pelayan mereka sudah pergi pagi-pagi sekali karena Hye Sun tadi bangun agak siang jadi ia tidak bertemu dengan mereka, Hye Sun bertanya kepala pelayan dan menurut kepala pelayan ibunya hanya meninggalkan pesan agar Hye Sun nanti malam tidak ke luar rumah karena ada acara makan malam dirumahnya dengan keluarga Lee.

Hye Sun manggut-manggut mendengar nama keluarga Lee, pantas saja ibunya menyuruh para pelayan menata ruang sedemikian rupa karena ibunya pasti tidak mau malu di depan Sonia pikirnya. Hye Sun terlonjak begitu sadar jika keluarga Lee berarti manusia satu itu juga pasti akan datang batinnya. Hye Sun menggigit-gigit kuku jarinya sambil mondar-mandir tidak jelas membuat kepala pelayan yang ada didepannya jadi bingung.
*************
Pukul : 11.00
Kantor Lee Min Ho
Min Ho sedang berada dikantornya bersiap untuk ke ruang pertemuan karena rapat yang rencananya dijadwalkan sore dimajukan waktunya, ia tidak mau ketinggalan makan malam dengan keluarga Goo hanya karena rapat yang molor waktunya.
Ke dua orang tuanya baru saja sampai dan sedang istirahat di rumah karena kelelahan, jadi ia harus mengambil alih rapat yang dijadwalkan akan dihadiri ayahnya. Baru saja Min Ho menutup pintu dan melangkah menuju ruang pertemuan, terdengar Mr. Park memanggilnya dari arah belakang.

Min Ho menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang, dilihatnya Mr. Park dengan muka kelihatan sedikit pucat dan cemas berjalan agak terburu-buru. Min Ho memandang heran melihat perubahan air muka sekretaris pribadi keluarganya itu, ia merasa telah terjadi sesuatu.
“Gwenchana…?” Tanya Min Ho dengan alis berkerut.
“Tuan muda…Pabrik yang di Busan…” Mr. Park diam sejenak.

“Ada apa dengan pabrik di Busan ?” Min Ho jadi tidak sabar menunggu penjelasan Mr. Park.
Mr. Park mendekatkan dirinya dan membisikkan sesuatu ke telinga tuan mudanya, Min Ho mendengarkan dengan seksama kemudian begitu mendengar kalimat terakhir Mr. Park tanpa sadar ia berseru kencang karena kaget.

“APA !!!” semua pegawai yang mendengar langsung menoleh ke arah mereka dengan bngung. Sementara Min Ho memijit-mijit kepalanya yang mendadak terasa berat.
End of Chapter
*************