This is the original version. Yang dirumah tetangga itu bajakannya. Maklumlah kalo barang bagus kan biasanya gitu. Aslinya belum dilaunching, bajakannya udah keburu beredar. Mudah2an ga nyasar lg, aku udah sedia kompas nih
![[hmff]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/005.gif)
Walaupun ga fresh, happy reading deh. Ada yg kutambah dikit di versi ini.
Jangan lupa komen ya tp ga boleh nyasar. Cuma author doang yg boleh nyasar
![[hmff]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/005.gif)
CHAPTER 2
Minho memasuki kamar tidur dengan membawa senyum ceria. Ucapan Yeo Won benar-benar mempan mengusir kegundahan Minho. Besok adalah hari yang penting baginya. Setelah tarik-ulur beberapa kali, Minho akhirnya membulatkan tekad memberi tahu Hyesun tentang perasaannya. Ia sungguh tak sabar untuk bertemu hari esok.
Bola mata Minho tertuju ke jam dinding persegi yang tergantung di tembok kamar. Jarum pendek tepat mengarah ke angka 11 sementara jarum panjang menunjuk angka 1. Minho berusaha memejamkan mata supaya rasa kantuk segera hadir. Bukannya rasa kantuk yang diperoleh, malah semangat yang menyergapi hatinya. Minho merasakan matanya justru semakin segar seolah ia baru terjaga setelah seharian terlelap.
“Aigoo. Aku harus cepat-cepat tidur” ucap minho pada dirinya sendiri.
Minho membalikkan tubuhnya ke kanan, beberapa detik kemudian ke kiri. Ia terus mengulang tindakan ini entah sudah berapa kali. Minho menghempaskan tangan kanan ke kasur hingga mengenai ponsel yang sedari tadi tergeletak di sampingnya. Ia mengambil ponsel tersebut. Timbul niat untuk menelpon Hyesun. Niat itu segera diurungkan ketika Minho sadar hari sudah terlampau larut. Minho kembali ke niat awal untuk segera tidur. Ia menghitung 1, 2, 3 dan sampai hitungan ke 9 tiba-tiba ia beralih ke niat sebelumnya setelah berkompromi dengan dirinya sendiri bahwa tak akan terjadi perbincangan panjang lebar dengan Hyesun. Setelah itu Minho langsung meraih ponsel dan menekan tombol 1 yang speed dial-nya sudah disetting terhubung ke nomor Hyesun. Pada deringan ke 3 Minho berhasil menangkap suara Hyesun.
“Yeobosaeyo” ucap Hyesun.
“Yeobosaeyo, Hyesun-a. Apa kau sudah tidur?” tanya Minho.
“Tidak. Aku belum mengantuk. Kau belum tidur juga ya?” tanya Hyesun.
“Ne. Aku baru selesai berbincang-bincang dengan kakakku” jawab Minho.
“Malam sekali kakakmu pulang ke rumahnya. Apa tidak kasihan dengan Shin Bi?” tanya Hyesun.
“Noona dan Shin Bi sudah 3 hari menginap di sini. Kakak iparku sedang melakukan perjalanan bisnis ke Jepang. Lagipula noona sudah mulai syuting serial terbarunya hingga mau tak mau Shin Bi harus dititipkan kepada omma” sambung Minho.
“Begitu rupanya. Perbincangan kalian pasti menyenangkan hingga lupa waktu” tebak Hyesun.
“Ne. Perbincangan kami memang berjalan seru hingga tidak sadar sudah pukul 11 malam” jelas Minho.
“Jeongmalyo? Memangnya apa yang kalian bicarakan?” tanya Hyesun lagi.
“Kau mau menebaknya?” tawar Minho.
“Tidak mau. Tidak seru main tebak-tebakan tengah malam” tolak Hyesun.
“Ayolah. Coba saja” bujuk Minho.
“Tidak mauuuuuuu” tolak Hyesun lagi.
“Yaa! Tidak ada salahnya kan kalau kau coba” ucap Minho.
“Aigoo. Kau ini memang pemaksa kelas kakap” kata Hyesun.
“Hyesun-a, jangan mengalihkan pembicaraan. Sudah cepat tebak saja” paksa Minho.
“Aish! Baiklah ... baiklah ... Ehmm ... apa ya ... aku rasa kalian membahas seputar akting. Benarkan?” tanya Hyesun.
“Itu topik yang paling jarang kami singgung. Jawabanmu salah, cepat pikirkan yang lain” ucap Minho.
“Ehm ... kalian membicarakan politik?” terka Hyesun asal-asalan.
“Yaa! Kau pikir kami ini politikus. Jawabanmu salah lagi. Cepat cari yang lain” jawab Minho.
“Aigoo. Minho-a, aku ini tidak pandai menerka. Sudah, aku tidak mau menebak lagi. Cepat katakan apa yang kalian bicarakan. Kalau tidak mau bilang juga tidak masalah, aku juga tidak ingin tahu” ucap Hyesun.
“Cik ... cik ... cik ... kau ini cepat sekali putus asa. Baiklah kuberitahu. Simak baik-baik ucapanku” perintah Minho. Hyesun langsung segera memasang telinganya setelah mendengar instruksi Minho tadi.
“Noona dan aku membahas tentang hal akan yang menjadi kebahagiaanku di masa depan” jawab Minho. Mendengar kalimat barusan, kening Hyesun berkerut.
“Kebahagiannmu di masa depan? Serius sekali topik pembicaraannya. Memang apa yang akan kau lakukan untuk meraih kebahagian masa depanmu?” tanya Hyesun.
“Ehm ... RA-HA-SI-A” ucap Minho yang sengaja ingin menghadirkan rasa penasaran di hati Hyesun.
“Yaa! Lee Min Ho kalau rahasia sebaiknya dari awal tidak usah kau beritahu” protes Hyesun.
“Anhyo. Aku akan memberitahumu. Tapi ... tidak malam ini. Besok kau akan tahu semuanya” sambung Minho.
“Tidak mau! Aku mau sekarang saja. Kenapa harus menunggu sampai besok jika hari ini bisa kau ceritakan?” bujuk Hyesun. Usaha Minho untuk menghadirkan rasa penasaran dalam hati Hyesun tercapai sudah. Ia kini penasaran setengah mati dengan teka-teki yang diciptakan Minho.
“Karena kau harus segera tidur supaya besok bisa mendengarkan pejelasanku dengan cermat” jawab Minho.
“Aku bilang kan aku belum ngantuk. Ayolah, cepat katakan” bujuk Hyesun lagi.
“Tapi ini sudah hampir jam 12 malam, Hyesun-a. Kau harus segera tidur” ucap Minho.
“Walau sudah jam 12 malam, aku masih belum ngantuk. Aku kan mengidap insomnia” jelas Hyesun.
“Mworagu?! Insomnia? Sejak kapan?” tanya Minho bertubi-tubi.
“Sejak aku lulus dari SMA” jawab Hyesun.
“Pantas saja setiap syuting BOF sampai larut, matamu masih saja terlihat segar. Yaa! Kenapa kau tidak memberitahuku dari dulu?” tanya Minho.
“Apa aku punya kewajiban untuk memberitahumu tentang hal ini?” Hyesun balik bertanya.
“Keureom! Tentu saja kau harus memberitahuku” jawab Minho.
“Waeyo?” tanya Hyesun lagi.
Minho terdiam mendengar pertanyaan Hyesun. Ia baru sadar kalau Hyesun sebenarnya tidak berkewajiban memberitahukan hal tersebut karena di antara mereka tidak ada komitmen apa-apa.
“Yeobosayo ... Minho-a, kau masih di situ?” tanya Hyesun ketika beberapa saat lamanya hanya kesunyian yang ia temukan.
“Ne. Aku masih di sini” jawab Minho.
“Yaa! Kenapa kau diam saja! Lekas jawab pertanyaanku” cecar Hyesun.
“Mwo? Memang apa yang kau tanyakan?” Minho malah balik bertanya seputar pertanyaan Hyesun yang sesungguhnya dapat didengarnya tadi. Otak Minho terasa buntu memikirkan jawaban apa yang sebaiknya ia berikan. Oleh karenanya Minho sengaja mengulur-ngulur waktu dengan berkata demikian.
“Aku bilang, kenapa aku harus memberitahumu. Apa kau merasa ada alasan yang kuat yang mungkin tidak kuingat?” kata Hyesun.
Saat Hyesun berbicara, Minho menggunakan kesempatan ini sebaik-baiknya untuk mencari jawaban yang tepat tanpa meninggalkan kecurigaan Hyesun.
“Ah!” teriak Minho sambil menjentikan ibu jari dengan jari tengah.
“Kalau kau memberitahuku tentang hal ini, aku tidak akan berpikir mengganggu tidurmu saat menelpon malam-malam. Dengan begitu aku kan jadi tidak perlu merasa bersalah” jawab Minho.
“Yaa! Jadi cuma itu alasannya. Kau ini hanya memikirkan diri sendiri” jawab Hyesun kesal.
Malam itu Minho dan Hyesun terlibat percakapan yang lumayan panjang. Janji Minho pada dirinya untuk tidak menelpon Hyesun terlalu lama, tidak terpenuhi. Janji itu lenyap bersama suasana keriangan yang menyelimuti obrolan tengah malam antara Minho dengan Hyesun.
Minho melirik kembali jam dinding berbentuk persegi yang masih menggantung di tembok kamar. Jarum pendek mengarah ke angka 1 sedangkan jarum panjang menunjuk angka 2. Sudah 125 menit perbincangan mereka berlangsung. Minho berinisiatif mengakhiri obrolan itu dengan terlebih dulu menasehati Hyesun menggunakan kalimat berikut. “Hyesun-a, sekarang kau harus benar-benar tidur. Aku tutup telponnya ya ... Chakamanyo! Hyesun-a, kau wajib mengimbangi dengan makanan yang sehat agar insomniamu tidak mempengaruhi kondisi fisikmu. Arasso!”
Usai mengucapkan kalimat di atas dan setelah mendengar Hyesun menjawab ‘Arasso’, sambungan telpon Minho-Hyesun terputus di menit yang ke 127.
*******
Keesokan harinya
Hotel yang sama dengan tempat diselenggarakannya farewell ceremony, menjadi pilihan KBS untuk konferensi pers BOF. Petugas hotel dan utusan KBS sedang sibuk-sibuknya menyiapkan acara. Wartawan tampak lebih mendominasi hotel karena belum ada seorangpun pemain BOF yang tiba di lokasi. Mereka sudah membanjiri tempat ini sejak pukul 8 pagi meskipun acara baru akan dibuka tepat jam 10. Wartawan tidak ingin melewatkan moment penting ini untuk mencari berita yang bisa memuaskan konsumennya demi meraup keuntungan besar.
Empat puluh lima menit sebelum acara konferensi pers, mobil Minho sudah tampak memasuki halaman hotel. Saat Minho keluar dari mobil, sosok Goo Jun Pyo tampak jelas melekat pada dirinya. Ia mengenakan jas hitam plus kemeja putih ditambah dasi bermotif garis diagonal dan celana panjang hitam bermotif garis vertikal. Rambut keong yang absent saat farewell ceremony kemarin, kini kembali hadir guna mempertegas sosoknya sebagai Goo Jun Pyo. KBS memang sengaja menginstruksikan kepada para pemain agar tampilan mereka hari ini dapat bertindak sebagai replika tokoh masing-masing.
Minho memasuki lobi hotel diikuti iring-iringan wartawan yang tanpa henti memberondongnya dengan pertanyaan. Minho meladeni setiap pertanyaan wartawan dengan sabar sambil tersenyum lebar hingga membuat cekungan di lesung pipinya tercetak amat dalam. Langkah kakinya tidak diayunkan dengan tergesa agar tidak ada pertanyaan yang terlewati. Wartawan merasa kehadiran Minho terlalu dini karena kebanyakan artis biasanya baru akan muncul di detik-detik terakhir mendekati waktu dimulainya acara. Minho beralasan bahwa ini sebagai kompensasi yang sengaja ia lakukan atas keterlambatannya di acara farewell ceremony kemarin. Alibi Minho berhasil mengelabui wartawan. Mereka tidak tahu bahwa sebenarnya Minho tidak ingin terlambat mengingat ada rencana besar yang akan dijalankannya.
Panitia penyelenggara mengantarkan Minho menuju ruang tunggu. Sudah 30 menit ia berada di sana. Selama kurun waktu tersebut, Minho melibatkan diri dalam perbincangan dengan beberapa kru BOF. Ditengah perbincangan Minho memisahkan diri dari kru-kru yang menjadi teman bicaranya. Ia berjalan mendekati sudut ruangan yang tidak begitu ramai. Minho merogoh saku celana dan mengeluarkan ponsel kemudian menekan angka 1. Sambungan telpon Minho langsung tertuju ke ponsel Hyesun.
“Yeobosaeyo, Hyesun-a. Kau ada di mana?” tanya Minho.
“Masih di jalan. Kau sendiri ada di mana?” tanya Hyesun.
“Aku sudah di hotel semenjak 30 menit yang lalu. Apa kau masih lama?” tanya Minho lagi.
“Mwo! Kau sudah tiba di hotel? Rajin sekali” jawab Hyesun.
“Tentu saja, seorang pemain harus memberi contoh yang baik kan” ucap Minho. Tak ada perkataan dari Hyesun, ia hanya tertawa mendengar kalimat Minho.
“Yaa! Kenapa kau tertawa. Memangnya aku tidak boleh memberi contoh yang baik. Sudah hentikan tawamu” ucap Minho.
– ‘Wae, Hyesun-a?’ – sebuah suara yang bukan milik Hyesun tertangkap telinga Minho.
“Anhyo” jawab Hyesun, bukan pada Minho melainkan pada pemilik suara tadi.
“Min Jung? Benarkah yang barusan bicara itu Min Jung?” tanya Minho ketika suara lain yang bukan milik Hyesun memasuki indera pendengarannya.
“Ne. Aku bersama sepupumu sekarang. Kau ingin bicara dengannya?” tawar Hyesun yang semobil dengan Min Jung yang sebenarnya tidak diwajibkan menghadiri konfrensi pers BOF. Ia hanya ingin menemai sahabatnya karena, baik Na Hee maupun Seon Mi, tidak bisa mengawal Hyesun. Keduanya harus mengurus persiapan pameran Hyesun.
“Ahnyo. Bicara dengannya di hotel saja. Berapa lama lagi kau tiba?” tanya Minho.
“Sekitar 10 menit lagi. Tadi aku bangun kesiangan” jawab Hyesun. Minho baru saja hendak memarahi Hyesun karena gadis itu bangun kesiangan, namun ia malah mengakhiri telponnya ketika melihat Mr. Jung datang menghampiri.
“Anyong” sapa Minho ramah dengan tak lupa membungkukkan badan pada Mr. Jung.
“Anyong. Aku dengar kau sudah datang dari tadi?” tanya Mr. Jung.
“Ne” jawab Minho sambil memasukan ponsel ke dalam saku celana
Mereka pun terlibat dalam perbincangan. Tak berapa lama setelah itu, obrolan ringan Minho dan Mr. Jung diramaikan oleh Kim Hyun Jung, Kim Jun dan Kim Bum yang sudah tiba di lokasi konferensi pers.
Tepat pukul 10 kurang lima menit, mobil yang ditumpangi Hyesun dan Min Jung memasuki halaman hotel. Gaun selutut berwarna krem yang di bagian pinggang dihiasi bunga berwarna hijau dengan ukuran lumayan besar, dipilih Hyesun atas usul Min Jung. Min Jung sendiri lebih memilih mengenakan jaket kulit coklat dan kaos putih beserta celana tiga perempat yang senada dengan warna jaket. Ia tidak terlalu memikirkan tampilannya mengingat kapasitasnya di acara tersebut hanya sebagai sahabat Hyesun. Kamera dan kilatan lampu blitz berhasil mengabadikan keakraban kedua sahabat dekat ini. Panitia dibantu security hotel mencoba mematahkan barikade wartawan dengan meminta pengertian mereka untuk membiarkan Hyesun dan Min Jung memasuki hotel mengingat acara akan dimulai sebentar lagi. Hyesun dan Min Jung bergegas menuju lift dan naik ke tempat berlangsungnya acara.
F4 dan Mr. Jung yang masih terlibat dalam percakapan, melihat Hyesun yang ditemani Min Jung berjalan ke arah mereka. Tak ada satu orang pun menyadari ketika Minho memasang senyum termanisnya menyambut kedatangan Hyesun. Ketika rencana hari ini kembali terlintas dalam pikirannya, Minho memperlebar senyuman hingga terdengar suara tawa yang tertahan.
“Wegude?” tanya Hyun Jung yang tampak heran mendapati Minho tersenyum tanpa sebab seorang diri.
“Oh, ahnyo” jawab Minho yang langsung melangkahkan kaki menuju ruang konferensi pers setelah Mr. Jung memberi aba-aba.
Koferensi pers molor 10 menit dari jadwal karena panitia masih harus meyakini bahwa semua keperluan acara telah terpenuhi. Wartawan tidak memprotes dengan mundurnya acara sebab hal ini sudah sering mereka alami.
Acara yang ditunggu akhirnya dimulai. MC membuka koferensi pers dengan ucapan terima kasih pada wartawan yang bersedia memenuhi undangan mereka. Tidak lama kemudian MC memanggil Mr. Jung beserta para pemain untuk naik ke atas panggung yang sudah dilengkapi dengan meja panjang dan 6 buah kursi. Tepuk tangan riuh dan kilauan lampu blitz mengiringi munculnya F4, Hyesun dan Mr. Jung. Mereka menempati kursi masing-masing. Mr. Jung menduduki kursi paling kiri yang sebelahnya diisi Hyesun, Minho, Hyun Jung, Kim Bum dan paling kanan Kim Jun. MC memberi kesempatan pada para pemain untuk berbicara seputar pendapat mereka tentang tokoh yang diperankan. Setelah itu sesi tanya jawab dimulai. Wartawan mengajukan pertanyaan-pertanyaan berdasarkan list yang mereka buat sebelum acara berlangsung. Minho dan Hyesun paling banyak bicara di sesi awal tanya jawab karena mereka berdualah yang menjadi pusat perhatian wartawan.
Setelah puas bertanya kepada Minho dan Hyesun, wartawan beralih ke Kim Bum. Yang bersangkutan meladeni pertanyaan wartawan dengan santun. Merasa sudah tidak mendapat perhatian wartawan lagi, Minho melirik Hyesun. Gadis itu tampak duduk tenang di sampingnya.
“Hyesun-a, apa kau bosan?” tanya Minho dengan suara serendah mungkin.
“Ahnyo” jawab Hyesun singkat tanpa mengalihkan pandangannya ke arah Minho.
“Saat di telpon tadi, kau bilang bangun kesiangan?” tanya Minho lagi.
“Ne” jawab Hyesun tanpa merubah sikapnya.
“Wae?” Minho bertanya lagi.
“Karena semalam ada orang iseng yang menggangguku sampai-sampai aku baru bisa tidur jam 2 pagi” jawab Hyesun.
“Yaa! Kalau tidak salah aku menutup telponku sekitar jam 1. Kenapa kau baru tidur jam 2?” tanya Minho.
“Karena si pengganggu tadi cerewet sekali di telingaku hingga rasa kantuk yang tadinya sudah timbul sedikit, hilang sama sekali dan baru muncul lagi sekitar jam 2 pagi” jawab Hyesun.
Mendengar jawaban Hyesun, Minho tersenyum. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Hyesun lalu berkata, “Tapi kalau si pengganggu itu berwajah tampan dan penuh perhatian seperti aku, tidak masalah kan?” tanya Minho. Hyesun tak menjawab dan hanya merespon kalimat Minho dengan sebuah tawa kecil.

Mendapati posisi Minho yang sangat dekat dengan wajah Hyesun, para wartawan yang tadinya fokus ke Kim Bum langsung mengarahkan kameranya menuju Minho dan Hyesun. Jepretan kamera yang disertai kilau lampu blitz bertubi-tubi menghampiri mereka berdua. Minho sontak menarik tubuhnya menjauhi Hyesun. Ia kembali ke posisi semula setelah menerima pukulan kencang Hyesun pada pahanya. Tentu saja aksi Hyesun ini tidak tertangkap mata siapa pun karena meja di depan mereka dibungkus taplak panjang yang terurai hingga ke lantai. Keduanya agak sedikit kikuk setelah tertangkap basah. Meskipun Minho dan Hyesun sudah tidak menunjukan tindak tanduk yang mencurigakan lagi, kamera wartawan masih tertuju pada mereka. Untunglah MC hari itu cukup cerdik dan berhasil menetralkan suasana.
Usai acara tanya jawab, konferensi pers dilanjutkan dengan sesi pemotretan. Kilatan blitz kamera wartawan berhasil mengabadikan para pemain BOF dengan bermacam pose dari berbagai angle. Setelah itu MC menutup konferensi pers yang sudah berjalan selama satu setengah jam.

*******
F4 dan Hyesun sudah turun dari panggung. Berbagai hidangan mewah untuk santap siang telah disiapkan panitia di belakang panggung. Kim Bum dan Kim Jun langsung menghampiri meja panjang tempat disajikannya makan siang tersebut. Minho tampak berbincang dengan Mr. Jung. Dari gelagatnya terlihat bahwa Minho ingin menghindari percakapan dengan Mr. Jung dan segera menghampiri Hyesun, namun ia tak kuasa menolak. Sementara itu Hyesun berjalan menghampiri Min Jung sambil membaca sms yang baru saja diterima.
“Min Jung-a, aku duluan ya. Aku harus secepatnya ke galeri mengurus pameran” ucap Hyesun setelah selesai membaca sms dari Seon Mi, asistennya.
“Mwo! Apa kau tidak ingin makan dulu, Hyesun-a?” tanya Min Jung.
“Ahnyo. Aku ada janji dengan pihak sponsor pameran. Seon Mi baru saja mengabari kalau mereka sudah tiba. Tidak baik kan membiarkan orang menunggu lama” jawab Hyesun.
“oo begitu. Ya sudah, cepat pergi sana. Jangan lupa makan siang, Hyesun-a” kata Min Jung.
“Arasso ... Kau ikut mobil Minho saja ya” ucap Hyesun sambil berlalu hingga yang terngiang di telinga Min Jung hanya ‘Arasso’ sedangkan sisanya tidak begitu jelas terdengar.
*******
Minho masih berkutat pada perbincangan dengan Mr. Jung. Hyun Jung telah bergabung dengan mereka semenjak beberapa menit yang lalu. Bola mata Minho tiba-tiba melebar ketika mendapati Hyesun sedang terburu-buru menuju lift. Ia langsung berlari mengejar Hyesun setelah mengucapkan “Miane, saya permisi sebentar” kepada Mr. Jung dan Hyun Jung.
“Hyesun-a, tunggu dulu” teriak Minho sambil meraih tangan kanan Hyesun.
“Aigoo. Kau mengangetkan aku saja. Wae?” tanya Hyesun.
“Ada yang harus kita bicarakan” jawab Minho yang dibaringi dengan menarik tangan kanan Hyesun dan membawanya menuju suatu ruangan.
“Yaa! Kau mau membawaku kemana? Aku harus pergi sekarang” protes Hyesun.
“Aku ingin mengatakan sesuatu padamu” jawab Minho tanpa mengalihkan matanya ke Hyesun.
“Jangan sekarang. Aku sedang terburu-buru” jawab Hyesun.
Minho tidak menanggapi kalimat Hyesun barusan. Ia terus mengayunkan kakinya dengan langkah lebar. Tiba-tiba Minho merasa sulit berjalan seolah ada beban berat yang harus ditarik. Saat menoleh ke belakang, tampak olehnya Hyesun sedang berpegangan pada sebuah tiang dengan tangan kirinya.
“Yaa! Apa yang kau lakukan? Cepat lepaskan tiang itu!” seru Minho.
“Tidak mau! Kau yang harus melepaskan tangan ku. Minho-a, aku benar-benar sedang terburu-buru jadi tidak bisa menemanimu bermain” kata Hyesun sambil menggelengkan kepala dan memasang wajah memelas.
“Aku tidak sedang mengajakmu bermain. Aku bilang kan ada hal penting yang harus kukatakan. Ayo cepat lepaskan tiang itu sekarang juga” ucap Minho.
“Tidak mau. Kalau kau ingin mengatakan sesuatu nanti saja. Sekarang aku ada pertemuan dengan pihak sponsor penyelenggara pameranku. Mereka sudah tiba di galeri sejak tadi” urai Hyesun.
Minho menarik napas dalam dan berkata, “Jam berapa selesainya?” tanya Minho.
“Mungkin akan lama karena banyak hal yang harus kami bahas” jawab Hyesun.
“Yang kau maksud ‘lama’ sampai jam berapa? Jawab yang jelas” ujar Minho dengan nada tinggi dan wajah serius.
“Ehmm ... sekitar jam 7 malam. Ahnyo, jam 8 malam” jawab Hyesun.
“Baiklah. Aku akan ke galerimu tepat jam 8. Pastikan segala urusanmu itu selesai saat aku tiba” jawab Minho.
Hyesun langsung berlari ketika tangan kanannya tidak lagi dalam genggaman Minho. Sedangkan Minho menatap kecewa kepergian Hyesun.
“Sabar, Minho-a. Niatmu akan segera terwujud beberapa jam lagi” kata Minho pada dirinya sendiri. Ia berjalan ke arah ruangan semula dengan langkah tak penuh semangat.
*******
“Yaa! Kau lemas sekali. Cepatlah makan supaya badanmu tidak lemas begitu” tegur Min Jung yang melihat Minho duduk di sudut ruang hotel dengan wajah tertunduk lesu.
“Ne” jawab Minho sekenanya.
“Lee Min Ho! Kau ini kenapa lemas sekali!” ucap Min Jung kesal.
“Kau sakit? Aku ambilkan makanan ya supaya kau bisa lekas minum obat” tawar Min Jung yang mulai merasa khawatir melihat keadaan Minho.
“Ahnyo. Aku baik-baik saja” jawab Minho.
“Tapi kau tidak seperti orang yang baik-baik saja. Kau ngantuk? Apa kau kurang tidur?” tanya Min Jung saat melihat Minho memejamkan mata sambil merebahkan kepala pada sandaran sofa.
“Ahnyo” jawab Minho yang memang tidak sedang mengantuk karena kurang tidur. Ia hanya berusaha menenangkan perasaannya dengan cara memejamkan mata.
“Aku rasa kau kurang tidur hingga lesu seperti ini. Tapi apa alasannya sampai kurang tidur? Syuting BOF kan sudah selesai, iklan barumu juga belum dimulai. Harusnya kan tidak ada masalah dengan jam tidurmu ... Atau mungkin ... kau tidak tidur karena melakukan sesuatu ... tapi, apa yang kau lakukan hingga mengorbankan waktu tidurmu?” ucap Min Jung.
Minho masih tetap memejamkan mata. Sementara Min Jung terus saja menerka-nerka kenapa sepupunya itu menjadi demikian.
“Aku tahu!” ucap Min Jung dengan nada tinggi.
“Kau kurang tidur karena selalu menelpon Hyesun malam-malam kan? Dia pernah cerita padaku kalau kau suka menelponnya malam-malam” tebak Min Jung. Minho hanya tersenyum kecil mendengar kesimpulan Min Jung.
“Minho-a, sebaiknya kau jangan sering-sering menelpon Hyesun pada malam hari. Dia kan harus tidur untuk mengistirahatkan tubuhnya. Kalau kau menelpon terus, tidurnya akan terganggu” ucap Min Jung.
“Hyesun tidak bisa cepat tertidur. Dia kan insomnia. Jadi kurasa dia butuh teman bicara pada malam hari” jawab Minho.
“Mwo! Siapa yang insomnia? Hyesun? Apa tadi kau bilang Hyesun insomnia?” tanya Min Jung tanpa jeda.
“Ne. Jangan katakan kau belum tahu. Kau ini kan sahabat dekat Hyesun, masa hal seperti ini tidak kau ketahui” ucap Minho yang masih merapatkan kedua kelopak matanya.
“Aku memang belum tahu akan hal ini” jawab Min Jung.
“MWORAGU! Kau tidak tahu Hyesun mengidap insomnia?” tanya Minho yang baru saja tersentak saat mengetahui sebuah fakta yang aneh. Matanya yang terbuka lebar menandakan bahwa ia sangat terkejut.
“Ne. Hyesun tidak pernah cerita padaku. Oh ... kurasa dia belum sempat cerita karena insomnia tersebut baru saja ia alami kan gara-gara kau sering menelponnya malam-malam. Kami memang jarang bertemu akhir-akhir ini, jadi kurasa dia lupa cerita” ucap Min Jung.
“Ahnyo. Hyesun sudah menderita insomnia sejak lulus SMA” jawab Minho.
“Mwo! Berarti sudah cukup lama. Yaa! Kau tahu dari mana?” tanya Min Jung.
“Dari Hyesun, kau pikir dari dukun” jawab Minho.
“Kenapa Hyesun hanya cerita padamu. Aku yang sudah 3 tahun bersahabat dengannnya tidak diberitahu akan hal ini” kata Min Jung.
Min Jung kembali sibuk berpikir untuk menerka alasan di balik semua ini. Sementara itu Minho yang tidak tertarik membantu Min Jung berpikir, malah tersenyum pernuh arti. Ia merasa istimewa ketika menyadari bahwa hanya dirinya yang diberi tahu Hyesun tentang hal tersebut.
“Yaa! Sampai kapan kau mau di sini. Aku ingin pulang sekarang. Kalau kau tidak bawa mobil, aku akan mengantarmu. Jadi cepatlah bangun” kata Minho sambil mengangkat tubuhnya untuk berdiri.
“Tidak perlu. Asistenku, Tae Woo, akan menjemputku sebentar lagi. Kami masih ada urusan. Kau duluan saja” jawab Min Jung.
“Baiklah, aku duluan” ucap Minho.
Minho melangkahkan kakinya mendekati lift hotel tersebut. Senyuman kembali muncul di bibirnya akibat kabar gembira yang diperoleh dari perbincangan dengan Min Jung. Minho menjadi lebih percaya diri menghadapi Hyesun malam nanti.
*******
Hari yang sama, pukul 8 malam.
Seusai menghadiri konferensi pers tadi siang, awalnya Minho ingin pulang ke rumah karena ingin menemani Shin Bi yang ditinggal ommanya syuting. Namun rencana itu gagal ketika Sang Ji, managernya memberitahukan bahwa Minho harus mendatangi rumah produksi yang mendanai iklan barunya untuk membahas masalah yang kemarin belum tuntas. Alhasil, Minho menghabiskan waktu hingga pukul 7 malam untuk membahas persiapan syuting iklan. Sebelum mendatangi galeri Hyesun, Minho menyempatkan diri pulang ke rumah guna berganti pakaian.

Minho tiba di galeri Hyesun tepat pukul 8 malam. Galeri itu sudah tampak sepi namun penerangan dalam ruangan masih diaktifkan. Tidak ada satu orang pun yang dilihatnya semenjak Minho memasuki galeri ini. Ia menelusuri setiap ruangan yang ada untuk mencari keberadaan Hyesun. Seluruh ruangan di lantai satu sudah digeledah namun Minho belum menemui titik terang dalam pencariannya. Ia pun menaiki tangga melingkar yang menghubungkan dengan lantai 2 dan mulai menaruh curiga pada satu ruangan yang pintunya tidak tertutup dengan sempurna. Minho mendekati ruang tersebut dan mendapati Hyesun sedang merapikan meja kerja dari tumpukan berkas. Langkahnya terhenti di depan pintu. Ia mengamati Hyesun untuk beberapa saat dan menemukan gurat kebahagiaan terbentuk jelas di wajah Hyesun.
Tok ... Tok ... Tok ...
“Seon Mi-a, kau sudah ...” ucapan Hyesun terpotong saat dugaannya meleset. Senyumnya mengembang ketika melihat Minho sedang berdiri di depan pintu.
“Minho-a. Ternyata kau. Kupikir Soen Mi” ujar Hyesun. Minho tidak mengucapkan apapun selain membalas senyuman Hyesun.
“Yaa, kenapa berdiri di depan pintu? Masuklah” pinta Hyesun.
“Kau sedang menunggu Seon Mi?” tanya Minho sambil berjalan masuk.
“Ne. Sebenarnya dia sudah pulang tapi kunci apartemennya tertinggal di sini. Dia bilang akan mengambilnya. Aku jadi tidak bisa pulang dan terpaksa menunggu sampai dia kembali” jawab Hyesun.
“Kau sudah mau pulang?” tanya Minho yang kini menduduki salah satu kursi di ruangan itu.
“Ne. Kalau saja Seon Mi tidak seceroboh itu meninggalkan kunci, tentu saja aku sudah pulang dari tadi” jawab Hyesun.
“Mwo! Aku kan sudah bilang akan datang ke sini jam 8 malam setelah kau menyelesaikan urusanmu tapi kenapa kau tidak menunggu kedatanganku?” protes Minho.
“Aigoo. Miane, Minho-a. Aku lupa” ucap Hyesun sambil tersenyum.
“Sepertinya ada hal yang menggembirakan, kuperhatikan dari tadi kau tidak habis-habisnya tersenyum” kata Minho.
“Ne. Kau benar. Aku senaaaaang sekali. Meeting ku dengan pihak sponsor berjalan lancar. Pameranku bisa segera terlaksana” jelas Hyesun masih dengan senyumnya.
“Kapan?” tanya Minho.
“Tanggal tepatnya belum dapat dipastikan, masih mencari waktu yang cocok” jawab Hyesun.
“Yaa, katamu ada hal yang ingin kau beritahukan padaku. Cepat katakan, aku sudah mau pulang” pinta Hyesun.
Minho tiba-tiba merasakan ketegangan yang luar biasa. Ia tak tahu harus mulai dari mana. Hyesun yang melihat Minho hanya terdiam menjadi bingung dan khawatir. Ia beranggapan sesuatu telah terjadi pada Minho. Kegembiraan sudah tidak lagi bermain dalam hatinya saat Hyesun menyaksikan Minho seperti ini. Hyesun berjalan mendekati Minho yang masih belum mengangkat suaranya.
“Waeyo, Minho-a? Apakah ada sesuatu yang terjadi padamu? Begitu sulitkah kau mengutarakanya?” tanya Hyesun yang kini sudah tepat berada di depan Minho.
Minho bangkit dari kursi. Ia meraih tangan Hyesun dan membawa tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Begitu erat Minho memeluk Hyesun. Tangan kanannya melingkar di leher Hyesun sementara tangan kiri membekap pinggang Hyesun. Tak ada usaha Hyesun untuk berontak dari pelukan Minho. Ia mencoba memaklumi tindakan Minho terhadapnya karena mengira Minho sedang dililit masalah yang amat pelik.
“Minho-a, sebenarnya ada masalah apa?” tanya Hyesun dari balik dekapan Minho.
“Aku sudah tidak kuat lagi” jawab Minho lirih sambil mempererat pelukannya.
“Tidak kuat apa maksudmu?” tanya Hyesun lagi.
Minho tidak langsung menjawab pertanyaan Hyesun. Ia menarik napas panjang. Aroma tubuh Hyesun dapat dirasa dengan jelas saat ia memeluk Hyesun seperti ini. Pelukan Minho perlahan melonggar. Kedua tangan Minho masih melingkari tubuh Hyesun namun tubuh mereka tidak lagi berhimpitan hingga keduanya bisa saling menatap.
“Aku ... sungguh tidak kuat ... Aku rasa ... aku bisa meledak ... jika tidak mengungkapkan hal ini” ucap Minho.
Penjelasan singkat ini belum membantu Hyesun menangkap arah pembicaraan Minho. Ia hanya terdiam menunggu Minho melanjutkan kalimatnya sambil menatap kedua bola mata Minho.
“Sebenarnya ... aku memiliki perasaan ... perasaan khusus padamu” jawab Minho dengan sepasang mata menjurus tepat ke biji mata Hyesun.
“Mw ... mwo ... mworagu?” tanya Hyesun terbata-bata.
Minho melihat keterkejutan dari sorot mata Hyesun. Ia menatap mata Hyesun yang terbelalak sambil berkata “Aku tidak tahu kapan pastinya perasaan ini hadir. Sejak menjalani hari-hari bersamamu, yang ada dibenakku hanyalah Goo Hye Sun, Goo Hye Sun dan Goo Hye Sun. Aku selalu ingin memperhatikan dirimu, membuatmu tersenyum, memberikan segala yang aku punya, me ...”
“STOP!” teriak Hyesun. Ia langsung menepis kedua tangan Minho dari tubuhnya dan mundur beberapa langkah menjauhi Minho.
“Kau ini sedang bicara apa sih. Aku rasa tubuhmu sudah terlalu lelah hingga bicaramu tidak karuan seperti ini. Sebaiknya kau pulang sekarang” pinta Hyesun sambil berjalan menuju pintu. Baru saja bergerak beberapa langkah, Hyesun tidak bisa melanjutkan ayunan kakinya karena Minho sudah keburu memegangi pergelangan tangannnya.
“Kau tidak perlu menghindar. Aku bisa merasakan kalau kau juga menyimpan perasaan yang sama dengan ku” ucap Minho.
“Minho-a, kau terlalu percaya diri” balas Hyesun sambil berusaha berontak dari genggaman tangan Minho.
“Saranghe, Hyesun-a” ujar Minho.
Hyesun menghentikan perlawanannya terhadap tangan Minho. Gigi seri Hyesun menggigit bibir bawahnya sampai timbul rasa perih. Ia berusaha mengatur ritme pernapasan yang sejak tadi tak beraturan. Hyesun menarik napas panjang hingga seluruh tulang rusuknya berkontraksi ke atas dengan maksimal. ‘Minho-a, kau benar-benar nekat’ ucap Hyesun dalam hati.
“Lee Min Ho! mestinya kau tahu bahwa kau tidak diizinkan mengucapkan kalimat itu padaku!” ucap Hyesun dengan penuh kemarahan.
“Wae?” tanya Minho.
Mata Hyesun mulai berkaca-kaca. Ia merasakan ada sebuah kebahagiaan yang menerobos pintu hatinya tatkala mengetahui perasaan Minho yang sesungguhnya. Akan tetapi di saat yang bersamaan ada kesedihan yang menyelinap masuk saat ia menyadari tidak bisa membalas perasaan yang diungkapkan Minho.
Hyesun menelan ludah dengan sudah payah kemudian berkata “Karena ... karena aku adalah Goo Hye Sun! Wanita yang 3 tahun lebih tua darimu! Wanita yang tidak disukai fansmu! Wanita yang akan menghancurkan karirmu jika terlibat skandal denganku! Wanita yang...”
“Wanita yang paling kucintai di dunia ini! Itulah satu-satunya yang kutahu tentang Goo Hye Sun!” Minho menyambar kalimat Hyesun.
“Minho kumohon ...” kali ini kalimat Hyesun juga disambar Minho.
“Cukup! Kau tidak perlu memohon apapun. Kalau hanya hal-hal tadi yang menjegalmu untuk mencintaiku, sebaiknya kau menyerah. Tidak usah kau pusingkan masalah fans, karir dan bahkan ... masalah perbedaan usia. Itu sangatlah konyol. Fans dan karir bukan segalanya bagiku. Kau ... kebahagiaanmu ... kegembiraanmu ... yang kini menjadi tujuan utama dalam hidupku” ucap Minho dengan suara lantang dan penuh kesungguhan.
“Hentikan! ... jangan kau teruskan lagi!” ujar Hyesun.
“Kau ingin aku berhenti? Baik, aku akan menghentikan semua ini setelah kau mengatakan kau tidak mencintaiku!” tantang Minho pada Hyesun. Tidak ada jawaban apapun dari Hyesun.
“Jawab aku, Hyesun-a! Katakan kau tidak mencintaiku!” perintah Minho lagi dengan suara yang membahana ke seisi ruangan. Kini air mata Hyesun sudah tak terbendung. Pipi kanan dan kirinya dilinangi air mata.
“Wae? Kau tidak bisa mengatakannya bukan? Tentu saja kau tidak bisa karena kau sesungguhnya mencintaiku” kali ini Minho berkata dengan suara rendah setelah diturunkan beberapa oktaf karena melihat Hyesun menangis.

Minho mendekatkan tangan kanannya ke wajah Hyesun guna menghapus air mata gadis itu sedangkan tangan kirinya masih menggenggam tangan kanan Hyesun. Belum juga tangannya menyentuh pipi Hyesun, tangan kiri Hyesun sudah menapik lebih dulu tangan Minho.
Hyesun menengadahkan kepalanya untuk menatap Minho lalu berkata, “Aku ...”
“Hyesun-ssi, waegude?” tiba-tiba suara Seon Mi terdengar hingga membuat Hyesun tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Melihat kedatangan Seon Mi, Hyesun berusaha melepaskan diri dari genggaman Minho.
“Seon Mi-a, kumohon kau keluar dulu” pinta Minho tanpa memandang ke arah Seon Mi.
“Andwe! Seon Mi-a, kau di sini saja” pinta Hyesun yang masih belum berhasil membebaskan tangannya.
“Yaa, sebenarnya apa yang terjadi pada kalian berdua?” tanya Seon Mi yang kini dilanda kebingungan.
“Lee Min Ho! Lepaskan tanganku!” ucap Hyesun.
“Tidak mau” jawab Minho pada Hyesun.
Kemudian Minho mengucapkan kalimat berikut dengan nada yang lebih tinggi “Choi Seon Mi! Apa kau tidak mengerti ucapanku! Sudah kubilang kau keluar dulu!”
Seon Mi ketakutan setelah menerima bentakan keras Minho. Ia menundukkan kepala sedalam-dalamnya. Karena tidak ingin mencampuri urusan Minho dan Hyesun, Seon Mi mulai mengayunkan kaki mendekati pintu. Langkahnya yang ke tiga tertahan saat mendegar ucapan Hyesun.
“Andwe! Seon Mi, kumohon tetap di sini” ucap Hyesun pada Seon Mi.
Hyesun menengadahkan kembali kepalanya ke arah Minho. Sinar mata Hyesun berbeda dengan semula. Hyesun memandang Minho dengan sorot mata yang tajam seperti pemangsa sedang menatap buruannya.
“Dan kau! Lee Min Ho! jika tidak melepaskan tanganku sekarang, aku tidak ingin bertemu dengan mu lagi!” ancam Hyesun.
Menerima ancaman yang mengerikan dari Hyesun, Minho ketakutan setengah mati. Dari rongga mulut Minho terdengar suara gigi yang saling bergeletuk. Minho membuang pandangan ke jendela. Ia tidak sanggup membalas tatapan tajam Hyesun.
Setelah beberapa menit tak ada suara dari siapapun, Minho memutuskan untuk mengalah. Ia membiarkan tangan Hyesun terlepas begitu saja dari genggamannya. Hyesun langsung menghambur ke luar dari ruangan itu. Minho terdiam dengan wajah sarat kekecewaan sedangkan Seon Mi termangu dengan wajah penuh tanda tanya.
*******
Setelah kejadian tadi, Minho dan Hyesun tidak dapat melewati sisa waktu pada malam itu dengan nyaman. Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, kata-kata Minho masih menggema di telingga Hyesun. Hyesun yang pada dasarnya insomnia, menjadi lebih sulit tidur setibanya di rumah. Peristiwa beberapa jam yang lalu berputar terus menerus dalam otaknya.
Tak beda jauh dengan Hyesun, Minho juga terus dibayangi kejadian tadi. Ia tidak mengira Hyesun akan bereaksi seekstrim itu. Penyesalan mulai merambati relung hatinya. Saat tiba di rumah, wajah Minho tampak kusut tak karuan. Yeo Won yang sedari tadi menanti kedatangan adiknya, menafsirkan bahwa sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi pada Minho. Pasti ini berkaitan dengan Hyesun, begitu anggapan Yeo Won.
Bukan hanya dua tokoh utama saja, yakni Minho dan Hyesun, yang tersiksa pasca insiden di galeri. Seon Mi, yang hanya kebagian peran pembantu, juga kecipratan getahnya. Ia ikut-ikutan gelisah karena tak henti memikirkan apa yang sebenarnya terjadi antara Minho dan Hyesun. Belum pernah sekalipun Seon Mi menyaksikan keduanya terlibat dalam percekcokan yang sehebat ini.
*******
Keesokan harinya (sehari pasca insiden galeri)
Minho sedang memasukan beberapa pakaian ke dalam koper. Hari ini dia akan bertolak ke Pulau Jeju untuk syuting iklan bersama Sandara Park. Ditengah kegalauannya semalam, Minho mendapat kabar dari Sang Ji, managernya, bahwa jadwal syuting dimajukan menjadi hari ini. Rencananya syuting akan memakan waktu 2 hari. Demi efisiensi waktu, produser iklan memutuskan bahwa mereka akan menginap di Jeju selama menjalani syuting.
Ada rasa pesimis timbul di hati Minho. Ia tidak yakin dapat menjalani syuting dengan baik mengingat kondisinya saat ini. Bukan fisik Minho yang perlu diwaspadai, suasana hatinyalah yang sangat mengkhwatirkan. Usai kejadian semalam, Minho tampak murung dan tidak bergairah sama sekali menjalani aktivitasnya.
Pukul 11 siang Minho berpamitan pada Mrs. Lee. Sebagai seorang ibu yang melahirkan dan membesarkan Minho, Mrs. Lee dapat merasakan bahwa putra bungsunya itu sedang terlilit masalah. Tidak ada niat Minho untuk berbagi masalah dengan ibunya karena memang begitulah sifat dasar Minho. Mrs. Lee juga tidak berusaha mengorek informasi dari Minho karena ia sangat yakin hasilnya akan nol besar.
“Jaga dirimu baik-baik, Minho-a. Telpon omma jika sudah sampai” begitu ucap Mrs. Lee pada Minho sambil memeluk putranya. Minho hanya menganggukan kepala dan segera masuk ke dalam mobil.
*******
Hyesun masih membenamkan diri dalam selimut. Panggilan Mrs. Goo untuk sarapan bersama tidak dihiraukan dengan alasan masih mengantuk. Padahal dari pukul 6 pagi, mata Hyesun sudah terbuka dan rasa kantuk sudah tidak bersamanya lagi sejak saat itu. Tidak ada aktivitas yang dilakukan Hyesun sampai pukul 11 siang. Panggilan Mrs. Goo kembali terdengar untuk memberitahukan Na Hee menelpon. Namun ia enggan meladeni Na Hee dan meminta Mrs. Goo mengatakan kalau ia masih tidur.
Hyesun turun dari tempat tidur. Sasaran pertamanya adalah kamar mandi. Tidak sampai 5 menit Hyesun berada di situ. Ia hanya membasuh mukanya yang tampak sembab setelah semalaman menangis. Ponsel yang sejak tadi malam disilent adalah sasaran Hyesun yang kedua. Panggilan tak terjawab dan sms dari Na Hee dan Seon Mi banyak terdapat di sana. Hyesun kemudian mematikan ponselnya setelah terlebih dulu mengirim sms pada Seon Mi yang berisi bahwa ia tidak akan ke galeri hari ini. Setelah itu Hyesun kembali murung ketika peristiwa tadi malam kembali bermain dalam benaknya.
*******
Minho dan rombongannya telah tiba di Jeju. Mereka hanya diberi waktu istirahat selama 1 jam. Setelah itu, syuting dimulai. Adegan-adegan yang tergolong mudah untuk aktor seukuran Minho, tidak dapat diselesaikan dengan sempurna olehnya. Kata ‘CUT’ yang paling dominan keluar dari mulut sutradara. Penampilan Minho saat itu sungguh buruk, dan ini tepat seperti prediksinya. Sampai pukul 9 malam, Minho masih belum bisa memuaskan sutradara karena aktingnya tak karuan. Sutradara yang mengira Minho kelelahan, memutuskan untuk break dan melanjutkan esok hari.
*******
Malam harinya
Hyesun hanya dua kali meninggalkan kamar. Sekali saat makan siang dan sekali lagi saat makan malam. Walau tak berselera, Hyesun mencoba menelan makanannya karena tidak ingin membuat sang ibu khawatir.
Waktu menunjukan pukul 9 malam lebih 8 menit. Sudah lebih dari 24 jam insiden itu berlalu. Hyesun tak mampu membayangkan keadaan Minho. Ia saja, sebagai pelaku insiden, sangat menderita. Bagaimana Minho yang menjadi korban. Kekhawatiran menyergapi pikiran Hyesun. Ia takut terjadi sesuatu pada Minho. Hyesun ingin sekali menelpon Minho guna mengetahui keadaannya. Tapi itu sangatlah mustahil. Hyesun menjalani suatu siasat. Ia menelpon Min Jung dan meminta sahabatnya itu untuk menghubungi Minho.
“Mwo? Kau memintaku menelpon Minho? Kenapa tidak kau saja sendiri?” tanya Min Jung heran.
“Saat ini aku tidak bisa mengnelponnya” jawab Hyesun.
“Wae?” tanya Min Jung lagi.
“Sudahlah, Min Jung-a. Kumohon jangan banyak pertanyaan” ucap Hyesun.
“Kau aneh sekali. Baiklah aku akan segera menelponnya” jawab Min Jung.
“Chakaman! Jangan bilang padanya aku yang menyuruhmu menelpon” pinta Hyesun.
“Arasso ... Arasso” jawab Min Jung.
Lima menit kemudian ponsel Hyesun berdering. Ia segera menekan tombol hijau saat melihat nama Min Jung tertera dilayar ponsel.
“Minho sedang berada di Jeju” ucap Min Jung
“Jeju? Sedang apa dia di sana?” tanya Hyesun.
“Syuting iklan barunya” jawab Min Jung.
Hyesun langsung tersentak. Mendengar kata iklan, pikiran Hyesun jadi tambah gusar. Jika Minho sudah memulai syuting berarti interaksi dirinya dengan Sandara Park tidak mungkin terelakan. Hyesun beranggapan hal ini akan menjadi obat manjur bagi Minho atas kejadian kemarin malam. “TIDAK! Ini tidak boleh terjadi!” teriak Hyesun dalam hati
“Yeoboseyo. Hyesun-a, kau masih di situ?” tanya Min Jung saat tidak terdengar apapun dari ujung telpon.
“Ne. Aku masih di sini. Ehm, Min Jung-a, kapan Minho akan kembali?” tanya Hyesun.
“Besok. Kau tidak tahu akan hal ini? Biasanya Minho selalu rajin memberitahumu tentang segala hal, bahkan untuk urusan yang sepele. Apa kalian sedang bertengkar?” tanya Min Jung.
“Ahnyo. Sudah dulu ya Min Jung. Gumawo atas bantuannya” ucap Hyesun mengakiri pembicaraan mereka.
Hyesun setuju dengan Min Jung. Minho memang selalu memberitahu dirinya tentang segala hal. Namun setelah kejadian kemarin malam, ia merasa bahwa Minho tidak akan begitu lagi.
*******
Keesokan harinya (2 hari pasca insiden galeri)
Hyesun sudah rapi untuk bergegas ke galeri. Ia tidak ingin mengurung diri lagi. Pekerjaannya kemarin terbengkalai semua.
Di saat yang sama, Minho sudah selesai dirias dan bersiap mengambil adegan yang belum becus ia lakukan kemarin.
*******
Tidak banyak sketsa yang berhasil diselesaikan Hyesun. Na Hee penasaran melihat tingkah Hyesun hari ini. Ia tak berhasil memperoleh apapun saat berusaha mengorek informasi dari Hyesun. Harusnya Na Hee tidak perlu penasaran jika saja Seon Mi menceritakan apa yang ia lihat dua hari yang lalu. Bukan Hyesun yang menyuruhnya untuk tutup mulut. Seon Mi melakukan itu atas keinginan sendiri. Na Hee juga tidak bertanya apapun pada Seon Mi karena mengira ia tidak mengetahui sesuatu.

Di Jeju, dengan sudah payah Minho berhasil menyelesaikan beberapa adegan. Namun, ia dan seluruh kru belum bisa kembali ke Seoul hari ini sesuai rencana karena masih ada adegan lain yang belum diambil. Jadwal syuting menjadi melar 1 hari akibat ulah Minho.
Intinya, Minho dan Hyesun masih belum dapat fokus 100% dengan kegitan masing-masing karena masih terpengaruh insiden di galeri meskipun kejadian tersebut berlangsung 2 hari yang lalu.
*******
Keesokan harinya (3 hari pasca insiden galeri)
Pulau Jeju, pukul 5 sore
Sejak pagi hingga petang, semua adegan telah berhasil diambil. Sekarang giliran take terakhir untuk direkam. Pada take ini dikisahkan Sandara berjalan menghampiri Minho kemudian mencium pemuda itu.
Minho dan Sandara sudah stand by di posisi masing-masing. Setelah terdengar teriakan ‘Action’ dari sutradara, Sandara mulai mengayunkan langkahnya mendekati Minho. Minho diwajibkan memandang Sandara saat ia bergerak menghampirinya. Maka hal itulah yang dilakukan Minho sekarang.
Setibanya di depan Minho, Sandara mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Minho. Saat briefing, sutradara mengarahkan Minho agar tidak memberi respon terhadap ciuman Sandara. Minho menuruti arahan sang sutradara karena memang itulah yang diinginkan Minho. Tak ada perasaan apapun yang memasuki hati Minho ketika bibir Sandara menciumnya. ‘Andai ia Hyesun’ hanya itu yang dipikirkan Minho saat ini.
Teriakan ‘CUT’ plus acungan ibu jari dari sutradara menandakan syuting telah berakhir. Minho berlalu begitu saja dari Sandara setelah mereka berjabat tangan. Ia berjalan menuju ruang ganti untuk melepaskan atribut yang menempel pada tubuhnya. Seluruh kru tampak sibuk membenahi perlengkapan syuting. Mereka akan kembali ke Seoul malam ini juga.
Tepat pukul 7 malam semua kru plus Sandara Park telah meninggalkan Jeju. Tidak ada Minho dalam bus yang membawa rombongan ini kembali ke Seoul. Minho memutuskan tinggal lebih lama lagi di Jeju. Mungkin pikirannya akan kembali jernih di sini, begitulah harapan Minho.
*******
Seoul, pukul 8 malam
Hyesun belum meninggalkan galeri. Meski seluruh karyawan telah pulang, ia enggan bangkit dari kursi yang didudukinya. Hyesun membiarkan waktu berjalan begitu saja tanpa ada kegiatan yang ia lakukan di ruangan tempat terjadinya insiden beberapa hari yang lalu. Peristiwa itu kembali bermain di benak Hyesun entah untuk yang keberapa kali. Ia tiba-tiba tersentak saat menyadari bahwa Minho sudah kembali dari Jeju kemarin. Karena penasaran dengan keadaan Minho, Hyesun mengambil ponsel dan menghubungi Min Jung untuk meminta pertolongan yang sama seperti 2 hari yang lalu. Walau kembali merasa heran dengan permintaan Hyesun, toh Min Jung tetap menjalankannya. Setelah menyelesaikan permintaan Hyesun, Min Jung langsung melaporkan hasil investigasinya pada Hyesun.
“Minho masih di Jeju. Syutingnya tidak bisa selesai dalam waktu 2 hari” ucap Min Jung.
“Maksudmu Minho tidak jadi kembali ke Seoul kemarin?” tanya Hyesun.
“Ne. Dia masih harus menyelesaikan syutingnya” urai Min Jung.
“Kapan syuting selesai?” tanya Hyesun lagi.
“Beberapa jam yang lalu” jawab Min Jung.
“Kapan mereka kembali ke Seoul?” Hyesun kembali bertanya
“Kalau yang kau maksud dengan ‘mereka’ adalah para kru, maka jawabannya adalah, malam ini juga bus yang mereka tumpangi akan kembali ke Seoul” jawab Min Jung.
“Mwo? Apa maksudmu?” tanya Hyesun.
“Minho tidak ikut bersama bus itu” jawab Min Jung.
“Apa dia bawa mobil sendiri?” tanya Hyesun.
“Ahnyo. Maksudku, Minho tidak ikut bersama dengan bus itu karena ia masih berada di Jeju” jawab Min Jung
“Mworagu! Minho masih di Jeju? Dengan siapa?” tanya Hyesun cemas.
“Sendiri. Dia bilang ingin liburan 2 hari di sana” jawaban Min Jung ini, terutama pada bagian ‘sendiri’, membuat Hyesun dapat bernapas lega.
*******
Dua hari kemudian (5 hari pasca insiden galeri), pukul 10 malam
Kamar hotel Jeju
Minho baru kembali ke hotel setelah seharian berkeliling Jeju. Ia memilih duduk di sofa seusai membersihkan diri. Besok Minho akan kembali ke Seoul. Liburan selama 2 hari tidak membawa perubahan signifikan dalam hatinya. Keberadaannya di Jeju tidak ubah seperti orang yang melarikan diri dari masalah. Minho tidak ingin dianggap pengecut, bahkan oleh dirinya sendiri. Ia berniat menjalani kembali rutinitas seperti biasa.
Kamar Hyesun
Hyesun sedang menghadap cermin di meja rias. Cermin berbentuk oval tersebut membentuk bayangan dirinya yang tampak tak karuan. Hyesun baru saja meninggalkan galeri 45 menit yang lalu. Kepulangannya selarut ini bukan karena ia lupa waktu menyelesaikan lukisan. Pekerjaan Hyesun tidak ada yang beres hingga membuatnya tertahan lebih lama di galeri. Sepanjang hari, pikiran dan raga Hyesun seolah tidak menyatu. Tubuhnya boleh saja berada di galeri namun seluruh jiwanya mengembara mencari sesosok figure yang sudah beberapa hari lenyap dalam kehidupannya.
Kamar hotel Jeju
Minho telah berpindah dari sofa ke kasur. Seharian menjelajah pulau Jeju tidak membuat rasa kantuk datang lebih awal. Minho sudah beberapa kali membolak-balikan tubuhnya untuk mendapatkan posisi ternyaman agar bisa segera tertidur. Putus asa dengan upaya yang sia-sia, Minho tidak lagi memaksakan diri untuk tidur dan memutuskan bangkit dari kasur. Ia berjalan menuju balkon. Saat menengadahkan kepalanya, Minho mendapati langit malam diisi penuh oleh bintang. Ia berdiri terpaku melihat keindahan alam yang satu ini.
“Hyesun-a, apa yang sedang kau lakukan saat ini? Pasti kau belum tidur kan karena insomniamu. Langit malam ini sungguh indah. Banyak bintang bertaburan di sana. Apa kau melihatnya?” ucap Minho seorang diri.
Kamar Hyesun
Hyesun membaringkan diri di kasur setelah keluar dari kamar mandi. Walau matanya masih segar, tapi keinginan terbesarnya saat ini adalah bisa segera tertidur supaya keruwetan pikirannya dapat terhenti sejenak. Lima belas menit sudah Hyesun berusaha membuat dirinya terlelap namun belum juga membuahkan hasil. Dalam kondisi normal saja, mustahil ia tidur pada jam segini mengingat insomnia yang menjangkitinya. Apalagi dalam kondisi seperti saat ini. Hyesun tidak lagi berusaha memejamkan mata. Ia memutuskan beranjak dari kasur kemudian melangkah menuju jendela yang terletak persis di tengah kamar tersebut. Di atas teras jendela, di situlah Hyesun kini duduk sambil memeluk kedua kaki yang ditekuk berhimpit dengan tubuhnya. Ia mengarahkan pandangan menuju langit yang semarak dengan kilauan bintang.
“Indahnya. Minho pasti menyukai langit malam ini” ucap Hyesun dalam hati
Kamar hotel Jeju
Ketika mengamati bintang, Minho teringat kebiasaan barunya saat hendak tidur. Menelpon Hyesun, itulah kebiasaan baru Minho yang sudah tidak lagi dijalaninya semenjak 5 hari lalu. Ia mengambil ponsel dari saku celana. Bukan! Minho bukan ingin menelpon Hyesun. Setelah kejadian di galeri Hyesun, Minho tidak mungkin menelpon gadis itu. Yang dilakukan Minho pada ponselnya adalah memilih menu galeri lalu membuka folder berisi file musik kemudian memilih sebuah lagu dan terakhir menekan option ‘Play’. Sebuah lagu yang hanya diiringi alunan tuts piano dengan durasi kurang dari 3 menit segera terdengar dari speaker ponsel Minho.
Gude negyote son sungan
Gunun bichi namu joha
Ojenun urotjiman onurun
Dangshin teimeneirun
Haengbokalgoya
Olguldo ani motdo aniani
Budu roun sarangmani pilyo hesoyo
Jinagan sewol modu ijo borige
Dangshi nobshin amugotdo ijen
Sarangbake sarangbake nan molla
Kamar Hyesun
Setelah puas mengamati bintang, kepala Hyesun menunduk hingga bertemu dengan lutut. Bola mata Hyesun menangkap keberadaan iPod di atas meja kecil dekat jendela. Ia menjulurkan tangan guna meraih iPod tersebut. Hyesun memasang earphone di sepasang telinganya lalu menekan tombol ON pada iPod setelah memilih lagu yang ingin didengar. Kepalanya kembali menengadah untuk menyaksikan keindahan bintang pada malam itu. Taburan bintang di langit yang tadinya jelas terlihat menjadi kabur akibat terhalang cairan yang mulai mengisi rongga mata Hyesun. Saat ia mengedipkan kelopak mata, cairan itu tak bisa dihambat lagi untuk tidak mengalir di pipi. Hyesun tak kuasa menahan tangis ketika alunan lagu bergendre ballad mulai merambati telinganya.
I sesang malroneun pyohyonhalsuga obso
Kalsurok bokcha orunun narul hyangun namaum
I sesang saemuro he-aril suga obso
Do haedo do haeman ga nunkkeutt kkutobnun naesarang
Gu nugodo no mahkum nal utge
Narul ulgenan saram obsosso
Na dapjin ahjiman
Ojik nohanaman bogo dutgo shipun gol
Nae ane narul salge hago chipun gol
Nal barabwa naui pomuro wa
You’re my every, my everything
You’re my everything, love for you
Kamar hotel Jeju
Tangan Minho terkepal tanpa ia sadari. Suara wanita yang bernyanyi lembut dalam lagu tadi membuat Minho jatuh semakin terpuruk dalam kesedihan. Ia merindukan pemilik suara itu. Ia sudah tidak tahan dipisahkan jarak dan waktu dengan si empunya suara. Minho ingin bisa berbincang dan bersenda gurau dengannya. Kenangan manis saat syuting BOF bermain dalam benak Minho. Cukup! Ia tidak tahan mengingat semua itu. Minho memfilter otaknya agar tidak dirasuki lagi oleh memori indah bersama wanita yang amat ia rindukan. Wanita yang telah menolak mentah-mentah uluran cinta Minho hanya karena alasan yang dianggapnya tidak masuk akal. Wanita yang menjadi sumber kebahagiaannya. Wanita yang sungguh dicintainya melebihi apapun di dunia ini. Dia-lah Goo Hye Sun.
Kamar Hyesun
Hyesun menyeka air mata dengan punggung telapak tangan. Lagu yang saat ini sedang memenuhi gendang telinganya bukanlah lagu sembarangan bagi Hyesun. Lagu yang entah sejak kapan tak pernah absent dari playlistnya. Lagu yang selalu ingin didengar ketika semangatnya perlu dipacu. Lagu yang menyimpan banyak kenangan manisnya dengan sang pemilik suara.
Air mata mengalir kian deras tat kala lagu tersebut mengantar Hyesun memutar kembali memorinya ke masa syuting BOF. Perjumpaan pertamanya dengan seorang pria di acara reading BOF teringat kembali dengan jelas seolah baru saja terjadi kemarin. Pria yang baru saja dikenalnya tersebut sudah berusaha mencuri perhatian Hyesun di pertemuan pertama mereka.

Peristiwa mengerikan, saat Hyesun mengalami kecelakaan mobil, juga kembali terbayang. Luka di sekujur tubuh, membuat Hyesun amat tidak berdaya. Ia sungguh berharap ada orang yang datang menolong. Entah kebetulan atau memang sudah digariskan, sebuah mobil berhenti di dekatnya. Pria yang mengendarai mobil tersebut telah berjasa menyelamatkan Hyesun. Pria yang sudah beberapa bulan terakhir ini memberikan warna tersendiri dalam hidupnya. Pria yang selalu mencurahkan perhatian tulus padanya. Pria yang tidak bisa dienyahkan begitu saja dari dalam hatinya. Pria yang seharusnya ia perlakukan dengan istimewa. Air mata disertai isak pilu tak bisa ditahan Hyesun ketika menyadari bahwa pria tersebut juga adalah pria yang sudah disakitinya beberapa hari yang lalu. Dia-lah Lee Min Ho.
Kamar hotel Jeju
Kaki Minho tiba-tiba terasa lemah dan tak kuat menopang tubuhnya. Minho terduduk lemas di lantai balkon dengan mata terpejam dan bibir tergigit. Tangannya menjambaki rambutnya sendiri. Minho sungguh tak berdaya mengatasi kegundahan hatinya. Kelopak mata Minho terbuka perlahan. Kesunyian yang sedari tadi menemani Minho lenyap akibat suara teriakannya sendiri.
“BOGOSHIPOOOO HYESUN-AAAAAAAAA” teriak Minho sekencang-kencangnya.

Kamar Hyesun
Hyesun menundukan kepala sampai hidungnya terantuk dengan lutut. Ia masih menangis tersedu-sedu. Penyesalan atas tindakannya terhadap Minho 5 hari yang lalu memenuhi hati Hyesun. Andai saja saat itu ia tidak bersikap demikian, mungkin saat ini kondisinya jauh lebih baik. Hyesun terus saja menangis. Di sela isak tangis yang tak kunjung reda, terdengar suara pilu keluar dari bibir Hyesun.
“Minho-a, bogoshipo” ucap Hyesun lirih
TO BE CONTINUED