Shanty : benar kata karin, cahap 1 & 2 ceritanya sudah bagus tapi mata jadi sakit bacanya karena gak ada spasi & tanda bacanya kadang ada kadang gak ada jadi bingung yang bacanya..trus gak ada tanda klo sudah beda tempat dan waktu..
Contohnya aku ambil di chap 2 terkahir, nih yang sudah kuedit ya..
Setelah menghabiskan makanannya, sae yoon baru menyadari kalau jeong ha terus memperhatikannya.
“Kau ini kenapa, apa ada yang salah dengan diriku, apa mereka mengetahui identitasku, atau apa ada pihak kerajaan yang mengetahui keberadaanku disini.” Ujar Sae yoon dengan panik.
“Hahah, tenang tidak satupun pernyataan yang baru kau katakan itu benar, aku hanya senang saja memperhatikanmu, aku juga tidak tahu kenapa sulit sekali memalingkan wajahku darimu.” Ucap jeong ha yan membuat sae yoon jadi salah tingkah.
**********
Menyadari Putri Mahkota menghilang sejak acara persahabatan keluarga kerajaan membuat seisi Istana panik dan mulai mencari keberadaan Putri Mahkota.Terutama Permaisuri yang begitu khawatir dengan keberadaan Putri Mahkota, tapi Putri Seok Joong berhasil menenangkannya.
“Yang Mulia jangan khawatir mungkin Putri Mahkota ada urusan penting sehingga lupa untuk memberi pesan pada sekretaris Byun.” Ujar So Joong pada bibinya.
Sedangkan sang Raja semakin marah dan kesal dengan tindakan sang Putri yang sering sekali membuatnya malu di hadapan para tetua, dan raja pun semakin menyesali karena mempunyai putri yang seorang pembangkang.
“Jika dia pulang nanti, aku pastikan ini akan menjadi kenakalannya yang terakhir dan aku akan menghukumnya dengan berat.” Hardik sang raja.
************
Jeong Ha mendekati Sae Yoon yang sedang duduk di sofa ruangan kerja dikantornya sambil melihat majalah fashion favoritenya.
“Sudah hampir 12 jam kau menghilang dari Istana, pasti Yang Mulia Raja dan Permaisuri serta seisi Istana mencemaskanmu.” Ujar Jeong Ha dengan bijak.
Tapi sae yoon tidak memperdulikan perkataan Jeong ha dan masih sibuk melihat beberapa model pakaian terbaru di majalah tersebut. Merasa tidak diperdulikan, Jeong ha mengambil majalah tersebut dari Sae yoon dan berkata :
“Putri, kau harus pulang!” Tapi sae yoon malah mendorong tubuh Jeong Ha.
“jika kau terus membujukku untuk pulang kerumah, aku akan kabur lagi,kau tidak usah sok baik dan perhatian padaku, jadi hentikan kepura-puraanmu itu" Ucap sae Yoon dengan kesal sambil beranjak dari sofa dan menuju pintu , tapi jeong Ha menarik tangan Sae Yoon.
“Kau ini kenapa? Apa kau ada masalah, jika ya ceritakan padaku, tapi jangan terus menghindar karena itu perbuatan seorang anak kecil.” Tukas Jeong ha.
Mendengar perkataan itu membuat Sae Yoon terdiam cukup lama dan akhirnya sae yoon mulai membuka mulutnya..
“Bagaimana perasaanmu jika kau masih sangat ingin menikmati masa kecilmu bermain dengan teman sebayamu, tapi di usia yang masih sangat muda kau harus memikul tanggung jawab yang besar, menyendiri, tidak mempunyai seorang temanpun, hanya belajar, belajar dan belajar. Tapi apakah ada yang memperhatikan aku, memperdulikan bagaimana perasaanku, apa aku bahagia, aku sedih atau sakit, tidak..tidak seoarangpun yang perduli padaku, bahkan untuk bertemu dengan orangtuaku aku harus meminta izin dulu atau membuat janji dulu dengan mereka, padahal kami tinggal diatap yang sama.” Tanpa sadar airmata mengalir diwajah sang putri, dan terus mengalir.
“Jadi kau jangan bertindak seolah-olah kau mengenalku dengan baik. Bagaimana perasaanmu jika ayahmu mengatakan menyesal mempunyai anak sepertimu, dan membandingkannya dengan orang lain dan berharap orang lain itu adalah anaknya, hah jawab aku bagaimana perasaanmu????” Teriak sae yoon pada jeong ha sambil menangis.
Jeong Ha merasa bersalah dan langsung menghampiri Sae Yoon.
“Maafkan aku, aku tidak tahu jika kau begitu menderita, jika dihatimu begitu sangat kesepian, maafkan aku.” Ucap Jeong Ha sambil memeluk Putri Mahkota.
Dan putripun menangis dalam pelukan hangat Jeong Ha dan berkata dalam hatinya :
“Aku baru mengenalnya 2 hari yang lalu, tapi pelukannya begitu hangat membuatku tidak ingin melepaskannya”