Author Topic: Unconscious Love ~Chapter 13, update 7 August 2011  (Read 36164 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile




Kilasan dari chapter yang lalu ....

Apakah ada ............ "

Perkataan Jaekyung terputus ketika Junpyo tiba-tiba membalikkan badan, memeluk dan menciumnya dengan kasar. Sepasang mata Jaekyung langsung terbelalak lebar.

-------------------------------



Junpyo menghentikan lotus merahnya di jalan dekat pingir pantai. Sepanjang perjalanan, dia tidak mengeluarkan suara. Begitu juga Jaekyung, yang tidak berani mengusiknya setelah ciuman kasar di pelataran parkir, depan gedung 'Korean News'.

Junpyo keluar dari mobil dan menyandar ke kap depan. Pandangannya terarah ke batas laut nan jauh di sana. Jaekyung mengikuti dan mengamatinya dengan seksama. Hari sudah sangat siang waktu itu. Matahari bersinar terik, memantulkan cahaya warna-warni yang sangat menyilaukan mata dari permukaan air laut yang tenang.

"Junpyo-ya ... ", Jaekyung berkata perlahan.

Pemuda itu tidak berpaling padanya. Sepasang matanya menyipit karena terlalu lama melawan sinar menyilaukan di depan sana.

"Junpyo ... ?", panggil Jaekyung lagi.

"Bagaimana kalau kita resmi berkencan?"

Pertanyaan mendadak itu membuat Jaekyung tersentak dari sandaran pintu mobil. Sepasang matanya yang bundar dan besar terbelalak lebar.
"Chinjaaaa?"



Junpyo berpaling padanya dan tersenyum perlahan.
"O benar! Bagaimana menurutmu? Kamu mau menerimanya?"

Jaekyung mengangguk dengan gugup.
"Tentu! ... Tentu saja! .. Maksud saya, hmmm ... saya tidak masalah dengan itu!"

"Bagus!", sahut Junpyo. Dia memutar tubuh ke pintu depan. "Kalau begitu kita resmi pacaran hari ini .. ", dia membuka pintu mobil dan masuk ke bangku depan. Jaekyung melakukan hal yang sama. Setelah memasang sabuk pengaman, Junpyo menghidupkan mesin mobil. "Mari kita bermain sepuasnya hari ini!!!!"

------------------------------------


Ruang kantor itu agak buram, dan akan menciptakan perasaan gentar bagi siapa saja yang memasukinya. Sebuah plat nama dengan tulisan 'Chairman., Kang Hae Jeang' terpahat tinta emas, terletak di tengah meja panjang dari kayu harum warna merah gelap. Beberapa rak tinggi terbuat dari kayu serupa menyejajari sudut ruangan. Semua dipenuhi buku-buku tebal, piagam-piagam penghargaan, piala-piala, dan foto-foto tua.

Di tengah ruangan terdapat beberapa sofa bersandaran tinggi dari beludru hijau gelap, mengelilingi sebuah meja teh berpostur pendek dari pualam hitam berkilat. Ada dua buah lukisan abstrak tergantung di dinding. Yang satu di belakang meja kerja, dan satunya lagi di belakang sofa yang tersedia bagi para tamu, di tengah ruangan. Sedangkan di sudut kanan dekat jendela, berdiri kokoh sebuah jam antik dari perak yang sangat tinggi dan anggun. Semua yang ada dalam ruangan itu mencerminkan sifat pemiliknya. Kang Hae Jeang, pemimpin Shin Hwa, atau omma Junpyo yang dingin dan berkharisma.

Hae Jeang meletakkan pulpen dari emas 18 karat dalam genggamannya ke kaki penyangga di atas meja ketika sesuatu teringat olehnya. Perjalanan bisnis selama dua minggu dari Amerika hampir membuatnya melupakan keberadaan putra satu-satunya, Goo Jun Pyo. Baru tadi pagi dia menginjakkan kaki di Korea, pekerjaan sudah menumpuk di atas meja kerjanya. Beberapa kontrak dan proposal yang harus segera ditandatangani. Belum lagi seminar di Jepang yang harus dihadirinya tiga hari yang akan datang. Tidak ada waktu baginya untuk memikirkan Junpyo. Karena itu dia akan melakukannya sekarang.

Hae Jeang memencet sebuah nomor yang sudah dipasang dalam telepon di atas meja. Dalam hitungan detik telepon itu diangkat dan sahutan terdengar dari seberang sana.

"Yeboseyo, Kang Hae Jeang-nim .. "

"Mr. Jung! Segera kemari, ada yang ingin saya bicarakan!"

"Agashimida, Hae Jeang-nim .. "


Hae Jeang mengembalikan gagang telepon ke tempatnya. Setelah itu dia kembali berkutat dengan tumpukan file dihadapannya.

Tujuh menit kemudian .... tok ... tok .. tok ...

"Masuk!!". Perintah itu sangat tegas dan berwibawa.

Pintu dibuka dan seorang pria berusia sekitar empat puluhan tahun memasuki ruangan dengan sikap hormat. Dia mendekati Hae Jaeng dan membungkukkan badannya.
"Anyongheseyo, Kang Hae Jeang-nim ... "

"Duduklah, Mr. Jung!!". Hae Jeang mengerakkan tangan ke kursi di hadapannya.

Mr. Jung mengangguk, kemudian mengambil tempat di kursi yang ditunjuk wanita itu.

Hae Jeang menghadapinya dengan pandangan menyelidik.
"Junpyo! Apa yang dilakukannya akhir-akhir ini?"

Mr. Jung segera menegakkan badannya.
"Seperti biasa, Hae Jeang-nim. Doronim masih suka berganti wanita, tapi seminggu terakhir beliau menghabiskan waktu lebih banyak dengan Jandi agashi ... "



Hae Jeang menghembuskan nafas perlahan, kepalanya agak tertunduk sambil memainkan jemarinya yang terpelihara baik. "Hhhhh ... sampai kapan dia akan berubah?", gumamnya pelan, seperti bertanya pada diri sendiri. Setelah itu dia memandangi Mr. Jung lagi. "Lalu, bagaimana dengan model itu?"

"Maksud anda, Miss Monica Gomez?", tanya Mr. Jung dengan sikap hormat.

"Iya, yang itu! .. O anak ini selalu membuatku binggung dengan kumpulan model dan artis sebanyak itu!!"

Mr. Jung tersenyum kecil. Dia bisa memahami apa yang dirasakan Hae Jeang karena dia sendiri sering dibuat binggung dengan wanita-wanita yang dikencani Junpyo. Selain nama-nama mereka yang sangat ganjil untuk dilafalkan juga karena seringnya tuan mudanya itu berganti wanita.
"Doronim sudah memutuskannya dua minggu yang lalu, Hae Jeang-nim. Itu sehari setelah keberangkatan anda ke Amerika ...."

Hae Jeang menganggukan kepala mendengar laporan Mr. Jung.
"Saya tidak perduli dengan semua kekanakan-kanakannya itu selama hal itu tidak merugikan Shin Hwa dan tidak menganggu hubungannya dengan Jandi!"

"Ne, Hae Jeang-nim .. "

"Dan satu hal lagi, pastikan semua wanita yang diincar Junpyo tidak berbahaya dan tidak akan menimbulkan buntut berkepanjangan setelah berakhirnya hubungan tersebut! Saya ingin data-data lengkap tentang mereka, status dan terutama asal usul keluarga mereka!", lanjut Hae Jeang tegas.

"Nee ..."

Hae Jeang berhenti beberapa saat. Dia tidak menyuruh Mr. Jung meninggalkan ruangan itu, tapi juga tidak mengeluarkan suara. Dia berpikir selama tiga menit. Setelah itu melanjutkan perkataannya.
"Junpyo dan Jandi, bagaimana hubungan mereka? Apakah ada kemajuan?"

Mr. Jung membisu selama beberapa detik. Pandangannya bertemu dengan pandangan bertanya yang teramat tajam dari Hae Jeang.
" Mr. Jung?!!", tegur wanita itu.

"Ne, Hae Jeang-nim! Sepertinya memang ada kemajuan .. ", jawab Mr. Jung ragu-ragu.



"Sepertinya?". Hae Jeang mengenyitkan alisnya. "Maksudnya, anda tidak yakin dengan penjelasan itu?!!"

Mr. Jung segera membungkukkan badannya.
"Soseongheyo, Hae Jeang-nim .... Hubungan doronim dan Jandi agashi memang sudah ada kemajuan akhir-akhir ini, akan tetapi ... ", sampai di sini, Mr. Jung menghentikan suaranya.

"Akan tetapi? Ada masalah lain?", tanya Hae Jeang sambil berdecak halus. Dia sudah tidak sabar dengan penjelasan Mr. Jung yang bertele-tele. Tidak biasanya asisten sempurna ini ragu-ragu dengan laporannya.

Setelah menahan nafas selama beberapa detik, Mr. Jung memberikan jawabannya.
"Tuan muda So Yi Jeong sudah kembali ke Korea dan akan tinggal di sini dalam rangka kepengurusan 'So's Capital' cabang Korea .... "

Keterangan Mr. Jung terputus oleh pertanyaan mendadak dari Hae Jeang.
"So Yi Jeong? O ya, saya dengar 'So's Capital' membuka cabangnya di sini! Lalu apa hubungannya dengan Junpyo dan Jandi?"

"Sebenarnya tuan muda Yijeong tidak berpengaruh besar terhadap hubungan doronim dan Jandi agashi, tapi walaupun begitu, tuan muda Yijeong kelihatan semakin akrab dengan Jandi agashi .. Dan juga, ada seorang gadis, pegawai dari 'Korean News', memasuki hubungan mereka ... Doronim mengencaninya dua hari yang lalu .. "

Penjelasan terakhir Mr. Jung membuat sepasang mata Hae Jeang yang teroles eyeliner tebal melebar.
"Karyawan dari 'Korean News'? Berarti Jandi juga mengetahui semua itu?"

"Ne, Hae Jeang-nim!"

Hae Jeang memejamkan mata perlahan.
"Anak itu!! Sudah benar-benar keterlaluan! Bagaimana mungkin dia mengencani karyawan Jandi?". Hae Jeang kemudian membuka mata dan mengangkat wajahnya. "Selidiki semua tentang gadis itu, Mr. Jung! Jangan biarkan kehadirannya merusak hubungan Junpyo dan Jandi! Apapun keputusan yang akan diambil Junpyo mengenai pasangan hidupnya, hanya Jandi satu-satunya yang akan kuterima sebagai calon menantu pewaris Shin Hwa!!", katanya tegas.

"Ne, Hae Jeang-nim .. ". Mr. Jung menganggukan kepalanya.

Hae Jeang mengangkat tangannya yang terkepal dan mendekatkannya ke bibir.
"Sepertinya ... saya harus segera bertindak ... ", desahnya halus. Hampir tidak terdengar.

-------------------------------------


Junpyo sedang menekuni majalah fashion di tangannya ketika pintu ruang kantor diketuk halus dari luar.

"Masuk!!". Junpyo melempar majalah dalam tangannya ke meja kerja dan mengalihkan perhatian ke pintu.

suara 'klik' terdengar dan pintu ruangan itu terbuka. Mr. Jung masuk ke dalam ruangan dengan sebuah map tergenggam di tangannya.

"Doronim, Yoon Ji Hoo-ssi beserta beberapa bawahannya sudah sampai dan sekarang menunggu di ruang rapat .. ", lapor Mr. Jung sambil menyodorkan map di tangannya kepada Junpyo. "Ini data-data yang akan dibicarakan dalam rapat nanti ... "

Junpyo menerima map tersebut dan menyelusuri lembaran-lembaran kertas A4 yang terselip rapi dengan matanya. Untuk beberapa saat dia tidak bergerak dari tempatnya. Hanya kepalanya yang bergerak-gerak kecil mengikuti deretan kata-kata dalam berkas-berkas dihadapannya. Lima menit kemudian, dia menutup file itu dan menyerahkannya kembali pada Mr. Jung.

"Kita ke ruang rapat sekarang!!"

Junpyo berdiri dari kursinya. Dia berjalan ke pintu ruangan yang tertata apik dengan warna putih yang mendominasi hampir seluruh sudut ruangan. Mr. Jung mengikuti dari belakang dengan map berisi data-data pendirian hotel Shin Hwa & Yoon tergenggam di tangannya.

--------------------------------


Dua jam kemudian ....

Para peserta rapat mulai keluar dari ruangan rapat utama yang terletak di lantai lima.

"Sosoengheyo kalau saya merepotkan anda, Goo Jun Pyo-ssi .. ", ujar seorang pemuda berambut terang dengan kulit putih bersih.

Junpyo tersenyum padanya.
"Tidak masalah, Yoon Ji Ho-ssi ... Saya masih mempunyai waktu sekitar satu jam sebelum jam makan siang .. "

"Bagus. Saya merasa tidak enak kalau karena gara-gara saya tinggal, acara makan siang anda jadi terganggu .. ". Jihoo balas tersenyum.



Junpyo mengeleng perlahan. "Tentu saja tidak, Jihoo-ssi!"

Lalu salah satu dari pria di belakang Jihoo mengeluarkan suaranya, "Pak direktur, kalau begitu kami permisi dulu...".

Jihoo menoleh padanya dan mengangguk, "Iya, kalian pulang saja dulu!!"

Ketiga pria itu membungkukkan badan dengan hormat, kemudian berlalu dari hadapan orang-orang dalam lorong lebar di luar ruang rapat itu.

Beberapa saat kemudian, Junpyo menghadapi Jihoo.
"Lewat sini, Jihoo-ssi! .. Akan saya tunjukkan keadaan kantor kami sebelum bersantai di ruang kerjaku .. ", katanya sambil mempersilahkan Jihoo mengikuti langkahnya.

"Ghamsamida .. ", kata Jihoo dengan sikap resmi.

-----------------------------------


Setelah mengelilingi gedung Shin Hwa, dan menjelaskan secara sekilas sistem kerja perusahaan tersebut pada Jihoo, Junpyo membawa pemuda itu ke ruang kantornya. Mr. Jung masih mengikuti mereka dengan setia dari belakang.

Sampai di ruang kantor yang didominasi warna putih, Junpyo mempersilahkan Jihoo duduk di sofa yang terdapat di sudut ruangan, dekat jendela. Jihoo tersenyum sambil mengamati keadaan ruangan itu.
"Selera Goo Jun Pyo-ssi sangat tinggi .. ", katanya penuh kekaguman.

Junpyo tertawa tertahan, "Ha .. ha .. Jihoo-ssi terlalu memuji ... Kantorku terlalu sederhana. Saya tidak suka sesuatu yang berlebihan .. "



"Memang sederhana dan tidak berlebihan, tapi memberikan kesan sejuk dan menyenangkan .. ". Jihoo memandanginya dengan mata bersinar penuh arti. "Dan saya bisa melihat kalau semua bahan-bahan yang dipakai dalam ruangan ini walaupun sederhana semuanya dari bahan pilihan berkualitas tinggi ... "

"Selera Jihoo-ssi juga sangat tinggi rupanya, dalam sekali lihat sudah mengetahui kalau ruangan ini dihias dengan bahan pilihan .. ".

Jihoo tertawa renyah, "Ya, begitulah ha .. ha .. ". Junpyo juga tertawa. Ruangan itu menjadi ramai oleh suara ketawa mereka.

Mr. Jung yang dari tadi tidak bersuara, meletakkan file di tangan ke depan Junpyo.
"Semua proposal tentang hotel Shin Hwa & Yoon ada di sini, doronim ..."

Junpyo memandanginya sejenak, lalu meraih file itu.
"Saya harap kerjasama kita dapat berjalan lancar, Jihoo-ssi ...", kata Junpyo sambil memandangi Jihoo.

"Ya tentu saja, .. Semua akan berjalan lancar .. ", sahut Jihoo sambil tersenyum simpul, "Yoon's Power mempunyai landasan yang kuat di Amerika jadi saya yakin hotel Shin Hwa & Yoon akan beroperasi dengan baik ..."

Junpyo mengangguk dengan senyum puas. Proyek kali ini sangat besar, sehingga dia tidak ingin ada kegagalan dalam pelaksanaannya. Yoon's Power merupakan perusahaan besar yang berpusat di Amerika. Walaupun pemiliknya, Mr. Yoon, orang Korea, perusahaannya tidak berdiri di negara ini. Yoon's Power tidak begitu berperan dalam ekonomi Korea atau negara Asia lainnya. Perusahaan itu lebih berpusat ke market Amerika dan Eropa. Mereka memiliki modal yang sangat kuat dan merupakan perusahaan raksasa yang mencakup beberapa bidang penting.

"Saya percaya pada Yoon's Power dan juga cara kerja anda ..", kata Junpyo selanjutnya.

"Ha .. ha .. bisakah kita menghentikan semua kekakuan ini, Junpyo-ssi? Anda bisa memanggilku Jihoo dan jika anda tidak keberatan bisakah saya memanggil anda dengan panggilan Junpyo saja?"

Junpyo tersenyum perlahan.
"Tentu saja Jihoo-ya .. "

"Bagus!!", Jihoo mengacungkan jempol kanannya kearah Junpyo. "Saya senang berkenalan denganmu, Junpyo-ya! Dan entah mengapa sejak pandangan pertama saya mempunyai perasaan akrab padamu, seperti .. seperti seorang teman yang sudah kenal sejak kecil .. "

"Saya juga punya perasaan seperti itu ..", jawab Junpyo yang segera disambut dengan ketawa renyah dari Jihoo.

Percakapan mereka selanjutnya berjalan dengan santai. Mr. Jung memperhatikan keakraban mereka dari tempatnya sambil mengulum senyum. Dua puluh menit berlalu dan suara pintu diketuk dari luar terdengar.

Tok .. tok .. tok ....

Junpyo berpaling kearah pintu dengan kening berkerut. Kemudian dia melirik Mr. Jung sejenak. Asisten pribadinya itu hanya mengangkat bahunya tanda tidak mengetahui siapa yang mengetuk pintu. Junpyo melirik ke jam tangannya, pukul 11:30, .. tidak pernah ada yang berani menganggunya di jam segini. Saat ini sudah menjelang waktu jam makan siang dan semua bawahannya tahu kalau dia paling benci dilibatkan dalam pekerjaan setelah berkutat setengah hari penuh.

"Masuk!!!", akhirnya dia berteriak dengan kesal.

Pintu ruang kantor terbuka dan sekertaris pribadinya, Miss Park Gae In, memasuki ruangan dengan dandanan yang membosankannya. Kacamata tebal bergagang hitam, jas rapi yang sudah sedikit ketinggalan jaman, rok yang kepanjangan dan stoking yang warnanya tidak senada dengan jas dan roknya yang berwarna hitam. Sepasang stoking itu berwarna krem terang.

"Ada apa?", tanya Junpyo keras.

Gae In membungkukkan badan dengan ketakutan. Dia tahu kalau dia sudah melanggar aturan majikannya ini, tapi sesuatu yang harus disampaikannya sekarang tidak bisa ditunda. Makanya dia menjawab pertanyaan Junpyo dengan suara gemetar, "Geum Jan Di agashi sudah .. sudah tiba di sini, pak direktur .. "

"Jandi?", tanya Junpyo dengan kening berkenyit, "Untuk apa dia kemari? Saya tidak punya janji dengannya!!"

"Jandi agashi mengatakan kalau .... "

Jawaban Gae In terpotong oleh suara dari samping. Jihoo segera berdiri dari posisinya, "Maaf .. ", dia memandangi Gae In, "Apakah yang nona bicarakan itu Geum Jan Di-ssi dari Korean News?", tanya Jihoo dengan pandangan bertanya.

Gae In menoleh pada Jihoo dan menjawab hormat, "Iya, tuan Yoon .. "

"Anda mengenal Jandi, Jihoo-ya?", tanya Junpyo mendadak. Sinar matanya begitu tajam. Sejak mendengar pertanyaan Jihoo ke Gae In, sikapnya berubah kaku.

"Tidak!", jawab Jihoo sambil tersenyum tipis, "Saya tidak mengenalnya! tapi .. saya baru ingat sekarang kalau saya telah membuat janji dengan Jandi-ssi untuk melakukan interview di sini .. "

"Mwoo? Interview?". Sepasang mata Junpyo melebar.

"Iya, interview. Korean News sudah menghubungiku sejak kedatanganku seminggu yang lalu
untuk melakukan interview mengenai kerjasama pertama Yoon's Power dengan salah satu perusahaan Asia. Dan karena saya terlalu sibuk selama seminggu terakhir, maka saya hanya bisa meluangkan waktu hari ini ..", Jihoo memberikan penjelasan panjang lebar mengenai kedatangan Jandi, "Miane saya tidak memberitahumu karena saya juga hampir melupakan janji itu dan saya membuat janji di sini, sekali lagi miane ... Waktu saya sangat mendesak, setelah makan siang nanti, saya harus ke suatu tempat .. "

Junpyo mengangguk dengan tampang melongo. Dia tidak mampu menyahut semua perkataan Jihoo. Pemuda itu sudah minta maaf berkali-kali padanya jadi dia tidak punya alasan untuk menunjukkan ketidaksenangannya.

"Suruh dia masuk, Miss Gae In!". Junpyo mengangguk kecil pada Gae In.

"Ne, pak direktur .. ". Gae In mengundurkan diri dengan perasaan lega. Beruntung Jihoo bisa memberikan penjelasan itu pada Junpyo. Jika tidak, dia mungkin sudah dilabrak habis-habisan oleh majikannya karena telah menganggu jam santainya.

"Sekali lagi miane, Junpyo-ya .. ". Jihoo tersenyum halus sebagai tanda dia benar-benar menyesal.

Junpyo membalas senyuman itu dengan agak terpaksa. "Tidak apa-apa .. ", jawabnya pelan.

Lima menit kemudian, pintu ruangan itu terbuka. Jandi berjalan kearah mereka dengan dandanan santai. Kemeja kotak-kotak warna hitam putih, jeans hitam ketat, sepatu sport NIKE dan topi berwarna senada. Rambutnya yang panjang dan lebat dibiarkan tergerai begitu saja. Ransel yang kelihatannya cukup berat bergantung di punggungnya.

"Anyongheseyo ..". Gadis itu menyapa mereka sambil tersenyum manis.



"Geum Jan Di-ssi?", tanya Jihoo dengan sepasang mata agak disipitkan.

"Iya, tuan Yoon .. ", jawab Jandi. Senyuman manis yang memperlihatkan sepasang lesung pipi masih terhias di wajahnya.

"Kamu datang sendiri, Jandi-ya?"

Pertanyaan itu membuat Jandi berpaling pada Junpyo.
"Iya! Wegude?", tanyanya dengan suara keras.

Wajah Junpyo langsung cemberut.
"Mengapa kamu datang sendiri? Wawancara seperti ini tidak perlu kamu lakukan sendiri kan?"

"Apa urusannya denganmu?", balas Jandi.

"Pewaris Korean News tidak perlu turun tangan sendiri kan?", Junpyo ikut berteriak.

Keadaan semakin panas. Keduanya tidak mau menyerah. Saling memandang dengan wajah merah padam. Mr. Jung yang berada tidak jauh dari situ menghembuskan nafas perlahan.

"Pewaris Korean News? Jandi-ssi bukan wartawan biasa?"

Pertanyaan itu membuat Jandi dan Junpyo menoleh bersamaan. Jihoo sedang memperhatikan Jandi dengan pandangan bertanya.
"Apa saya menganggu pembicaraan kalian?", tanya Jihoo pelan ketika mendapat perhatian serentak dari Junpyo dan Jandi.

Jandi langsung mengelengkan kepalanya. "Oh tidak! Anda tidak perlu memperdulikannya, Yoon Ji Hoo-ssi .. ". Jandi tersenyum lagi. Senyuman yang membuat Jihoo tertegun sejenak. Setelah sadar dari keterpanaannya, dia mempersilahkan Jandi duduk di sofa yang terletak tepat dihadapannya.

"Kalau begitu kita bisa memulai wawancaranya sekarang, Jandi-ssi .. ", kata Jihoo kemudian. Dia melirik jam tangannya, "Saya hanya mempunyai waktu sekitar dua puluh menit untuk wawancara ini ..", Jihoo lalu mengangkat wajahnya,  "jika anda tidak keberatan dengan waktu yang terbatas ini nona Geum .. "

"Tentu saja tidak ..". Jandi tersenyum lebar.

Setelah itu dia mulai mengeluarkan semua peralatan buat wawancara itu. Alat perekam, deretan-deretan pertanyaan dalam kertas-kertas HVS yang sudah dibuat sebelumnya, sebuah buku untuk mencatat bagian penting dalam wawancara nanti, pulpen dan perlengkapan lainnya. Wawancara segera dimulai setelah persiapan sudah matang.

Melihat keseriusan mereka, Junpyo hanya bisa memojok ke meja kerjanya. Wajahnya dari cemberut menjadi kelam. Tanpa sadar, kedua tangannya saling mengenggam dan giginya bergemelatuk hebat. Mr. Jung memperhatikan semua itu, tanpa berani mengeluarkan suara.

-----------------------------------


"Jadi anda berinisiatif mendirikan cabang perusahaan di sini?", tanya Jandi dengan mata melebar. Berita ini benar-benar baru dan menarik baginya.

Pertanyaan itu merupakan bagian dari wawancara yang dilakukan Jandi pada Jihoo. Pemuda itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Sebenarnya, pertanyaan ini sering diajukan para wartawan padanya tapi dia tidak pernah mau menjawab pertanyaan tersebut. Tapi kali ini dia menjawabnya.
"Iya. Saya lihat market di sini cukup bagus dan saya yakin dad .. ", dia berhenti sejenak, kemudian tersenyum lagi, "Maksud saya, ayahku, pasti menyetujui rencana ini .. "

Jandi mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Saya yakin rencana anda akan berhasil ..."

"Ghamsamida .. ". Jihoo mengangguk kecil.

"Dan ... ". Jandi kelihatan ragu-ragu sejenak.

Jihoo memperhatikannya dengan seksama. "Iya?"

"Saya khawatir kalau pertanyaan ini tidak pada tempatnya .. ", jawab Jandi.

"Anda bisa menanyakan apa saja, Jandi-ssi! .. Saya bersedia menerima wawancara ini jadi saya sudah siap menerima resiko untuk pertanyaan bentuk apapun!!", sahut Jihoo tegas.

"Anda sangat profesional, tuan Yoon ..". Jandi melontarkan pujian yang membuat Jihoo langsung tertawa keras.

Junpyo mengalihkan perhatian dari majalah yang berusaha dihayatinya ketika mendengar suara ketawa itu. Wajahnya merah padam dan dilemparnya majalah itu ke lantai. Dia berdiri dan berjalan ke lemari dekat pintu, meraih sebuah file dengan acak dan memperhatikannya dengan pandangan nanar.

"Ha .. ha .. nona terlalu memujiku .. dan .. saya rasa lebih baik kita memanggil nama saja, saya tidak suka pembicaraan kaku .. ". Suara Jihoo terdengar lembut.



Jandi tersenyum kecil, "Baiklah kalau begitu, Jihoo-ya .. ", lalu dia mulai mengajukan pertanyaan yang tadi ditundanya. "Mengenai masa lalumu, .. ice skater termuda Asia yang berhasil meraih juara pertama dalam ICE SKATING WORLD, perlombaan ice skating terbesar di dunia dan julukan SI JENIUS MUDA! Mengapa kamu meninggalkannya begitu saja setelah meraih nama sebesar itu?"

Jihoo tidak menjawab. Mendadak, dia meraih tangan Jandi dan menariknya berdiri dari sofa. Jandi sangat terkejut. "Ohh soseongheyo .. Apakah .. apakah pertanyaanku telah menyinggung kenangan tidak menyenangkan?", tanyanya gugup.

Jihoo tersenyum perlahan. Dia tidak menjawab, malahan mengajukan sebuah pertanyaan,
"Apakah kamu sudah makan?".

"Mwoo?". Sepasang mata Jandi semakin melebar.

"Sudah makan belum?". Jihoo mengulangi pertanyaannya.

"Aniyo .. ". Jandi mengeleng dengan gugup.

"Kalau begitu, kita lunch bersama, setelah itu saya akan menunjukkan sesuatu padamu!!".

Jandi tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti langkah Jihoo. Pemuda itu tampak bersemangat sehingga dia tidak bisa menolak permintaannya.
"Tapi peralatanku .. ". Jandi berpaling ke belakang.

"Taruh saja di situ! Kita tidak bisa membawa peralatan seberat itu kemana-mana. Junpyo pasti tidak keberatan kamu menaruhnya di situ ..". Jihoo lalu berpaling pada Junpyo, "Benar kan, Junpyo-ya?"

Mendengar pertanyaan itu, Junpyo mengalihkan perhatiannya pada mereka.
"Kalian mau kemana?", tanya Junpyo, tanpa menjawab pertanyaan Jihoo.

"Kami akan makan siang bersama ..", jawab Jihoo, "Apakah kamu mau ikut dengan kami, Junpyo-ya?", lanjutnya.

"Tentu saja! Saya juga belum makan!", sahut Junpyo cepat.

Dia segera menyelipkan kembali file di tangannya ke lemari. Tapi sebelum dia bergerak, suara Mr. Jung menghentikan langkahnya.
"Doronim!! Anda sudah membuat janji makan siang dengan Kang Hae Jeang-nim .. "

Junpyo berdecak keras.
"Batalkan janji itu!!"

"Tidak bisa doronim!", sahut Mr. Jung tegas.

Dahi Junpyo berkenyit. Tidak biasannya Mr. Jung selancang ini.
"Mengapa?"

"Haejeang-nim akan berangkat ke Jepang besok pagi, .. jadi hari ini merupakan hari terakhir doronim makan bersama beliau. Doronim sudah mengundur acara makan siang dari dua hari yang lalu jadi doronim sudah tidak bisa membatalkannya lagi .. "

Junpyo menghembuskan nafas kuat-kuat.
"Kalau begitu rubah ke dinner .. ".

Junpyo sudah bermaksud mengerakkan kakinya ketika suara Mr. Jung terdengar lagi.
"Tidak bisa, doronim!!"

"WEEEE??!!", teriak Junpyo keras, sehingga membuat Jandi dan Jihoo langsung berpaling padanya.

"Malam ini Haejang-nim ada janji makan malam dengan keluarga Moon dari Mukay Capital .. ", jawab Mr. Jung dengan hormat.

"Jadi ...?", tanya Junpyo putus asa.



"Doronim harus ke restoran Grace sekarang juga!!", jawab Mr. Jung tegas.

Junpyo memejamkan matanya rapat-rapat. Dia tidak punya pilihan lain. Jika dia ingin diceramahi habis-habisan oleh madam Kang, dia bisa memilih bergabung dengan Jandi dan Jihoo. Tapi dia tidak ingin itu. Maka dia hanya bisa mengikuti jadwal sebelumnya, yaitu makan siang bersama ommanya.

"Kalau begitu kamu tidak bisa pergi dengan kami kan, Junpyo-ya?"

Pertanyaan dari Jihoo semakin mengores luka di hati Junpyo.
"Iya, iya .. kalian pergi saja sendiri!!", jawabnya kesal.

Jihoo mengangkat bahunya. Kemudian dia menarik tangan Jandi, mengajaknya pergi dari ruangan itu. Sampai di ambang pintu, Jandi melirik sekilas pada Junpyo. Ada keprihatinan terpancar dari matanya.

---------------------------------------
« Last Edit: April 25, 2010, 10:50:05 am by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun