CHAPTER 2
Bagian 1...
"Lee min ho!" Panggilku dengan suara tertahan menahan rasa kesal
Yang dipanggil sama sekali tidak menjawab dan masih saja sibuk dengan kegiatan yang di lakukannya.
"Lee min ho!" Aku memanggilnya sekali lagi..suaraku sedikit ku naikkan..dan lagi lagi yang di panggil sama sekali tidak menyahut..malahan semakin aktif dengan kegiatannya.
Kesabaranku akhirnya habis juga.. Ku hembuskan nafasku kuat kuat. Setelah itu dengan keras aku mencubit lengan suamiku yang melingkar di pinggangku. Bagaimana aku tidak kesal? Aku sedang menyusui minsun tetapi mino malah memelukku dari belakang dan terus menciumi leherku tanpa henti!
"Ach! Apho.." Ringis mino kesakitan..pelukan dan ciuman yang di lontarkan bertubi tubi padaku segera di lepasnya.
Aku mendengus tanda menang," rasakan! Siapa suruh kau berbuat seperti itu! Benar benar mau mati ya!"
Mino bangkit dari duduknya sambil terus mengelus lengannya yang tadi bekas ku cubit. " Yaa..memangnya tidak boleh apa? Lihat! Minsun dengan lahapnya menyusu..itu kan punyaku." Mino menunjuk ke arah minsun dengan wajah memelas.
Aku melotot padanya. Bantal yang berada di sampingku, dengan cepat ku lemparkan ke arah mino..
Buuuk!!
"Pabo!! Kau tidak malu apa berbicara seperti itu! Bisa bisanya iri sama anakmu sendiri!" Omelku
Mino meringis takut melihat aku memelototinya," arasso..aku hanya bercanda sayang.."
Mino mengelus lembut pipi gembul minsun..," minum yang banyak sayang..supaya kamu cepat tumbuh besar..appa ingin sekali mengajakmu keliling dunia.."Bisik mino di telinga minsun..lalu setelah itu mencium pipi gembul minsun berkali kali.
Ting..tong!
"Itu pasti omma dan appa! Cepat buka pintunya" aku mendorong punggung mino untuk segera bergegas membukakan pintu
"Ye arasso.."
Setelah melihat mino sudah lenyap dari dalam kamar, aku segera berjalan menuju lemari pakaian minsun dan mengambil sebuah topi rajutan berwarna pink lalu setelah itu mengenakannya di kepala minsun.
"Yap selesai! Aigooo..imutnya anak omma!" Aku tersenyum lebar melihat betapa imutnya putriku ini. Ah..dia sungguh menggemaskan!
Dengan hati hati aku menggendong minsun ke dalam dekapanku," kacha! Haelmoni dan haraboji sudah menunggu kita di bawah."
***
"Omo! Hye sun-a itukah cucuku?" Seru ibu mertuaku yang melihatku dan minsun di tangga.. Dengan sumringah ibu mertuaku melesat menghampiri kami. Sepertinya beliau habis dari dapur.. Dengan hati hati ibu mertuaku mengambil minsun dalam dekapanku.
" Aigoo..cantik sekali cucuku! Lihat! Pipinya gembul sekali hye sun-a" katanya penuh semangat dan tiada henti memberikan ciuman di wajah minsun.." Hye sun-a..gumawo..kau telah memberikan malaikat kecil di tengah tengah keluarga lee" ucap ibu mertuaku lagi dan mencium keningku.
Aku tersenyum," yee..omma.." Tanpa ku sadari air mataku jatuh membasahi pipiku..itu adalah air mata kebahagiaan..
Kami bertiga berjalan menghampiri mino dan ayah mertuaku yang berada di ruang tamu
***
"Itu mereka!" Ucap mino dan segera bangkit dari duduknya dan tersenyum lebar.
Ayah mertuaku yang duduk membelakangi kami bertiga segera menoleh.. Aku bisa melihat dengan jelas wajahnya yang begitu senang ketika melihat minsun.
"Omo! Sayang! Berikan cucuku padaku" ayah mertuaku dengan cepat meraup minsun di dalam dekapan istrinya.
"Betapa lucunya dia! " Tiada hentinya ayah mertuaku mendaratkan ciuman di pipi minsun. Sehingga membuat minsun menangis.
"Oe..oe.."
Ayah mertuaku terlihat begitu panik," yaa..sayang..weo? Apakah ada yang sakit? Hah? Beritahu haraboji.." Katanya dengan suara yang begitu khawatir
Aku, mino, dan juga ibu mertuaku tidak tahan untuk tidak tertawa " hahahaha"
" Yaa suamiku. Jelas saja minsun menangis. Kau menciuminya seperti tidak pernah bertemu setahun! Bo? Beritahu haraboji? Memangnya minsun sudah bisa berbicara!" Ucap ibu mertuaku di sela sela tawanya..
Beginilah suasana kami ber lima.. Hangat dan menyenangkan..dari awal hubunganku dengan mino sungguh sangat di restui oleh ibu dan juga ayah mertuaku.. Aku tidak menginginkan apa apalagi di dunia ini..dengan adanya mereka di sisiku, itu saja sudah cukup..
***
"Waah sedap sekali masakan menantuku.. Sudah lama sekali tidak merasakannya lagi.." Ucap ayah mertuaku setelah selesai menyantap makan malam yang aku dan mino hidangkan
" Benar.. Masakanmu sungguh enak hye sun-a" tambah ibu mertuaku
Mino tersenyum mendengar pujian tentang istrinya dari omma dan juga appa. " Siapa dulu dong suaminya!" Ucap mino bangga
Aku terkekeh," yaa memangnya apa hubungannya!"
Tawa riang kembali menghiasi ruang makan...
***
Di ruang keluarga..
Aku melihat minsun di dalam kereta bayi..ku lihat ia masih tertidur pulas..
"Mino-a..dimana album foto pernikahan kalian? Appa dan omma belum melihatnya sama sekali.." Tanya ayah mertuaku kepada mino yang sedang memainkan rambutku
"Bo?? Foto pernikahan? Ada di kamar kami..tunggu sebentar akan aku ambil" mino segera berdiri dan berlari lari kecil menuju kamar
Tidak sampai 5 menit mino sudah kembali lagi dengan membawa 7 tumpukan album foto pernikahan kamu yang berukuran jumbo!
"Ini..hosh..hosh.." Katanya di sela sela nafasnya yang terengah engah..
Aku dan ibu mertuaku terkekeh melihat mino yang sedang kelelahan.
Dengan sumringah ayah mertuaku mengambil satu album foto pernikahan kami..begitu juga dengan ibu mertuaku..
"Aigoo..lihat! Kau cantik sekali hye sun-a! Persis seperti boneka barbie" ucap ayah mertuaku dengan penuh semangat tanpa melepas pandangannya dari foto foto pernikahan kami.
Pipiku seketika memerah mendengar pujian dari mertuaku.." Gamshamidha.."
Aku tersenyum lebar..teringat kembali di benakku saat menjelang hari pernikahanku..
***
Flash back..
malam hari sesaat sebelum dilangsungkan pernikahan besok..
Aku duduk di sofa kecil kamarku..berkali kali aku mencoba memejamkan mata untuk segera tidur, tetapi tidak bisa ku lakukan.. Aku terlalu tegang untuk melangsungkan pernikahanku dengan mino besok.
aku melirikkan mataku ke arah jam weker yang berada di atas meja di samping ranjang.." Aigoo..sudah jam 11 malam..otoke..aku juga belum ada tanda tanda mengantuk" gumamku pelan
Sangat tidak menyangka sama sekali kalau mulai besok semua kehidupanku akan berubah 180 derajat..menjadi istri orang..mengurus suami..melahirkan anak..mengurus anak..melakukan pekerjaan yang biasa di lakukan ibu rumah tangga.. Aah..membayangkannya saja aku sudah deg degan..
Persiapan pernikahanku rampung hanya dalam waktu satu minggu. Hebat kan? Ini semua karna ketidak sabaran mino untuk segera menikahiku..
Masih teringat segar di otakku bagaimana selama seminggu itu mino menyeretku ke sana kemari untuk mempersiapkan pernikahan kami..mulai dari cetak undangan, gaun pengantin, EO, cathring, dan lain lainnya.. Aku sempat protes dengan pernikahan yang super kilat ini.
Saat kami sedang memilih gaun pengantin di sebuah butik ternama di korea, aku dengan wajah super kelelahan berkata pada mino yang sedang sibuk membuka album berkoleksikan berbagai macam model gaun pengantin." Lee min ho.kau benar benar tidak tau diri. Dengan seenaknya menentukan tanggal pernikahan tanpa merundingkannya dulu padaku!"
Mino malah tersenyum lebar lalu menatapku," weo?bukankah ini menyenangkan?" Katanya dengan wajah sumringah
"Menyenangkan katamu? Kita hanya punya waktu satu minggu untuk mempersiapkannya! Di mana mana kalau orang menikah pasti jarak waktunya sebulan atau bahkan dua bulan! Bahkan kita saja tidak sempat berpacaran dulu!" Aku membalas tatapan mino penuh rasa kesal
"Yaa..pacaran kan bisa dilakukan setelah kita menikah! Pokoknya yang paling penting kita menikah dulu! Araso!" Ucap mino tak mau kalah. Aku memutuskan untuk diam saja..tidak ada gunanya membalas perkataan mino karna dia itu sangat keras kepala!
"Agashi..mari ke ruang ganti pakaian..gaunnya sudah siap.." Ucap mrs. Kim pemilik butik.
Aku segera bangkit dari tempat duduk dengan malas..badanku rasanya sudah mati rasa.
"Waaah cantik sekali.." Mrs. Kim menatapku berbinar..
aku mengenakan gaun pengantin berwarna putih panjang.. Di sisi dada sebelah kiriku tersemat sebuah pita berwarna pink yang sangat manis.. Rambut panjangku di curly dan di beri bando bunga bunga.. Persis seperti peri..
Dengan di bantu mrs.kim aku keluar dari fitting room.
Aku bisa melihat dengan jelas mulut mino ternganga lebar..matanya di belakkan ketika melihatku..
"Hy..hye sun-a! K..kau cantik sekali!" Ucapnya tergagap. Dengan susah payah akhirnya mino bisa mengatupkan mulutnya dan menghampiriku
Aku menatapnya dan tersenyum senang," benarkah?"
Mino mengangguk mantap," yee! " Ia melingkarkan tangannya di pinggangku dan membawaku ke dalam pelukannya.." Ini alasanku mengapa begitu terburu buru untuk menikahimu..aku tidak ingin kecantikanmu di umbar kepada pria lain..aku ingin memilikimu seutuhnya.." Bisik mino mesra di telingaku..
Bluuuush.. Wajahku memerah mendengarnya..
***
Akhirnya tiba juga hari pernikahanku.. Pernikahanku di selenggarakan di pulau jeju..ayah dan ibu mertuaku menginginkan sebuah pesta pernikahan yang megah...para tamu undangan yang sebagian besar rekan bisnis keluarga lee tampak telah mengisi kursi kosong yang disediakan..
Dengan di iringi hye kyo onnie dan juga eun hye aku berjalan menuju altar.. appa yang berada di sampingku tiada henti menitikkan air matanya. Maklum..aku adalah anak tunggal keluarga goo..
Pandanganku tidak terlepas kepada mino yang sudah berdiri di mimbar.. Wajahnya terlihat bahagia sekaligus gugup terlihat jelas di wajahnya yang tampan.. Dia..dialah yang akan menjadi suamiku..yang menemani sisa hidupku..
Teng tong teng teng..
Denting suara lonceng pernikahan mengalun..pertanda aku dan mino sudah resmi menjadi pasangan suami istri..
Mino membuka kerudungku perlahan dan tersenyum..ia mengelus pipiku lembut dan mencium bibirku penuh sayang..
Hye kyo onnie, eun hye, ji hoon, dan teman temanku juga teman mino tiada hentinya melempari kami dengan taburan bunga mawar..tanda kalau mereka turut gembira dengan pernikahan ini..
End of flash back
***
"Hye sun-a!" Panggil mino dan membuyarkan lamunanku
Aku tersentak kaget," we..weo??"
"Yaish pabo! Appa dan omma sudah mau pulang tau!" Katanya sambil menjitak lembut kepalaku.
aku terkekeh dan malu sendiri sudah terbengong seperti tadi," miane.."
Aku dan mino mengantar kepulangan omma dan appa sampai di depan pintu.. minsun tidak ikut karna masih terlelap pulas..
***