Author Topic: HEAVEN - Chapter Nine of Tomorrow (26th July 2010)  (Read 13881 times)

Offline minyounglee

  • Admin
  • Junior
  • *****
  • Posts: 165
    • View Profile
Re: HEAVEN
« Reply #105 on: May 09, 2010, 02:23:25 am »

Dan apakah ia mulai menepati janjinya? Untuk berubah menjadi Seo Hye-Sun yang baru? Perlahan tapi pasti. Sudah dua hari kami hanya berpapasan ketika sarapan. Itupun dengan pemandangan tak enak. Hye-Sun mencomot sepotong roti dan menggigitnya lalu meninggalkanku.

Hanya ada ucapan tanpa senyuman, “Sampai ketemu.”

Begitu saja dan kami melanjutkan kegiatan masing-masing. Begini menyesakkankah bagiku melihat perubahan dalam dirinya? Perubahan yang menurutku buruk. Padahal baru dua hari ia bersikap begini, lalu bagaimana kalau sampai selamanya?

Aku menggelengkan kepala menepis kemungkinan buruk tersebut. Rasanya tidak mungkin. Ia istriku bagaimanapun juga, tak mungkin Hye-Sun berlaku begini terus menerus. Mungkin ia sedang sibuk di kantor. Maklum, pasti banyak yang harus dikerjakan. Juga mengingat Hye-Sun sedang hamil dan melewati pasca meninggalnya orangtuanya. Ya!

“Yya, oppa!”

Suara itu membuyarkan semua lamunanku. Min-Hee. Berdiri tegak dibalik balutan kemeja kotak-kotak dan jeans tigaperempat, sedang memandangku lekat-lekat.

“Hey!” Aku tersenyum sebisa mungkin pada Min-Hee ketika menyapanya.

“Tidak sibuk?” tanyanya menaikkan salah satu alis sewaktu melihat tumpukan dokumen dan proposal yang menggunung di atas meja kerjaku, sementara aku melamun menghiraukan semua pekerjaan lantaran memikirkan Hye-Sun.

“Sibuk…! Sekali,” kataku memijat pelipis kencang-kencang setelah bangun dari lamunan dan kembali kepada kenyataan bahwa aku bisa lembur nanti malam karena sudah membuang waktu hampir 3 jam disini hanya untuk memikirkan Hye-Sun.

Min-Hee menggelengkan kepalanya, “Dasar. Pasti ada masalah. Benar-benar kamu.”

“Apa?”

“Melamun kalau ada masalah.” Kata Min-Hee, merebahkan badannya di sofa.

“Apalah. Oh ya, omong-omong, kenapa kesini?” tanyaku. Tak biasanya Min-Hee menghampiriku.

“Main. Bosan.” Min-Hee beralasan dengan santainya.

“Bosan? Apa Ryeo sudah tidak bisa kau jadikan mainan lagi?” sindirku sinis sembari memfokuskan diri membaca proposal dan dokumen.

“Ya dan tidak.” Jawab Min-Hee terdengar asal-asalan dan tidak peduli.

“Pernikahan kalian sudah dekat,”

“Ya begitulah.”

“Apakah kau yakin dengan Ryeo?”

“Yakin bagaimana?”

“Yakin ia benar-benar pendamping yang pas.”

“Kalau ia bukan pendamping yang pas, ya gampang,”

“Maksudmu?”

“Tinggal ceraikan dan cari lelaki lain.”

“Min-Hee!!!”

“Lho? Apa yang salah? Aboji juga begitu?”

“Tapi kau bukan Aboji!”

“Tapi aku anaknya!”

Aku menghela nafas panjang setelah mendebatnya. Tidak ada guna. Pikiran Min-Hee yang polos telah menjadi sekeras batu.

Min-Hee bangkit dan berdiri tepat di depanku.

“Yang harusnya ditanya itu kau oppa!”

“Apa?”

“Kau yakin tidak memiliki masalah?”

Sudahlah sebaiknya kuceritakan. Min-Hee terlalu mengenalku juga gerak-gerikku. Dan air mukaku yang pahit tidak mungkin dapat terluput dari pandangannya hari ini.

**

“Min-Hee.”

“Kau yakin ini akan berhasil?”

“Mm. Kalau tak berhasil memang kau mau membunuhku?” tanya Min-Hee pura-pura serius.

“Yya! Mana mungkin. Dasar.” Aku menjitak kepalanya lembut.

Kami sedang menyusuri sebuah toko bunga, memilah-milah bunga yang pas. Ini semua ide Min-Hee. Untuk malam ini, aku ingin memberikan Hye-Sun kejutan. Atau boleh kusebut melepas kerinduanku padanya selama dua hari ini. Memang baru dua hari dan terlihat berlebihan, tapi aku tak bisa berbohong pada diriku sendiri. Kalau, ya, memang aku terlalu merindukannya. Hatiku menjadi sesak seperti diremas ketika kerinduan itu menyerangku.

“Kenapa tidak kita beli semuanya?” saranku.

Min-Hee melongo sejenak, lalu ia mulai membawa kesadaran dirinya dan berkata,” Ya tentu. Kalau kau tidak keberatan taman rumahmu menjadi taman bunga!”

“Oh..haha. Apa saja untuk istriku tercinta.” Aku tertawa renyah. Dimabuk cinta sungguh nikmat.

“Beruntungnya dia,” cibir Min-Hee iri.

“Tenang saja. Kau juga akan dapat giliran.” Paparku merangkul lehernya.

“Dengan? Ryeo? Hah sana saja mimpi sampai tulangmu lumutan,” dengus Min-Hee kesal, membuang mukanya dari pandangan jahilku.

“Dengaku. Oppamu ini yang baik,” kataku semakin geli menggodanya.

“Aushhh!” Min-Hee melepaskan dirinya dari rangkulanku, ia berjalan selangkah lebih cepat daripadaku.

“Datanglah lagi besok. Ke kantorku ya,”

“Mau apa?”

“Katanya kau mau kejutan?”

Min-Hee menghentikan langkahnya, lalu ia berbalik,” Benar?”

“Ya. Asal kau mau menemaniku menyiapkan semuanya sampai malam nanti.”

“Ya. Ya. Ya. Aku rela menjadi pembantu seharimu. Tapi jangan lupa, besok harus ada kejutan yang setimpal. Atau..”

Aku terkekeh melihat lirikan mautnya yang dibuat-buat ,” Atau apa?”

“Atau kau akan terima akibatnya.” Min-Hee tersenyum tertahan lalu mulai berjalan lagi sambil melirik-lirik bunga indah yang menggelilingi kami.

**

Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Tapi Hye-Sun belum pulang. Padahal aku rela melepaskan semua pekerjaan demi memberinya kejutan hari ini.

“Dia belum pulang juga. Sesibuk apa?” dahu Min-Hee mengeriyit. Keringatnya masih mengucur karena daritadi sore kami sibuk mendandani taman belakang rumah ini secantik mungkin. Taman itu sudah cantik, tapi Min-Hee membuatnya jauh lebih cantik lagi. Bahkan dapur ini masih beraroma spaghetti yang dimasak Min-Hee untukku dan Hye-Sun barusan. Namun kehadiran Hye-Sun yang kami harapkan sejak 2 jam lalu, tidak kunjung muncul.

“Ya. Lihat sendiri kan? Apalagi dia sedang hamil, aku sangat khawatir,” kataku bertopang dagu di meja makan.

“Apa? Dia sedang hamil?” Min-Hee bangkit dari tempat duduknya karena kaget. Lalu kedua matanya membelalak menatapku seolah tidak percaya. “Dan kau tidak memberitahuku sejak tadi.”

Ya ampun. Aku benar-benar lupa karena terlalu asyik dengan rencana Min-Hee akan malam ini.

“Mianhe.”

Min-Hee meraih tas selempang putihnya yang tergeletak di tengah meja makan.

“Mau pulang? Kau marah?”

Min-Hee bungkam. Ia terus merogoh-rogoh tas dengan mimik serius.

“Yya. Aku benar-benar lupa.”

“Mm..”

“Kau tidak jadi pulang?”

Min-Hee terdiam. Nampaknya ia berhasil menemukan sesuatu yang dicarinya di dalam tas.

“Kenapa?”

“Untung aku selalu membawa ini dalam tasku.”

Min-Hee melemparkan tiga boneka beruang kecil miliknya yang sudah kusam padaku.

“Aku berjanji akan memberikannya pada anak-anak kalian.”

“Tapi anak kami belum lahir.”

“Oppa. Oppa. Oppa. Belum tapi akan segera lahir kan?!”

Aku sedikit tersenyum menggengam boneka itu. Memang sudah kusam. Tapi masih ada kehangatan yang tersisa didalamnya. Kehangatan seorang Min-Hee kecil yang polos dulu.

“Aku sudah berkali-kali mencucinya, tapi tidak hilang juga kusam pada boneka itu,” kata Min-Hee tersenyum pahit.

“Gumawo.”

“Ah! Itu juga pemberianmu oppa. Sudah saatnya aku mengembalikan boneka itu sebelum disia-siakan. “

Benar. Bagi Ryeo, boneka ini pasti tidak ada apa-apanya. Kelak Min-Hee menikah nanti, Ryeo pasti akan membuang boneka yang penuh kenangan ini. Ia terlalu brengsek untuk dapat merasakan kehangatan Min-Hee dalam boneka ini.

“Aku pergi.” Bisik Min-Hee lesu.

**

Kedua tanganku membuka pintu rumah kami. Tepat jam duabelas kurang lima menit malam itu.

“Kau pulang,” seruku gembira ketika melihat Hye-Sun yang berdiri lengkap dengan blazer putih yang membalut tubuh mungilnya.

Hye-Sun tersenyum. Tapi senyum kecil yang sudah terlalu lelah untuk dipaksa mengembang lebih lebar.

“Aku punya kejutan,” paparku semangat.

“Ha?”

Dahi Hye-Sun mengeriyit seolah menandakan penolakan. Ia mengertak gigi samar. Otomatis otot mukaku mulai berkedut tegang melihat reaksinya.

“Kenapa?” tanyaku pelan seraya ia memasuki rumah dan duduk di sofa sambil melepaskan sepasang high heels hitamnya.

“Lelah.” Jawabnya singkat. Lalu ia menyenderkan punggung pada sofa dan menutup mata.

“Terlalu lelah untuk kejutan?” tanyaku lagi berusaha tersenyum walaupun sedikit kecewa. Setelah mengunci pintu, aku menghampiri Hye-Sun dan duduk di sebelahnya dengan lengan merangkul lehernya.

Ia menggaguk tanpa jawaban.

Aneh. Ia berlaku semakin aneh. Aku berpikir keras ketika melihat gurat-gurat wajahnya. Semua tampak biasa, tetapi seolah hati dan fisiknya tidak berjalan sejalur. Gejolak apa yang ada dalam diri Hye-Sun sekarang, yang aku tidak pahami, yang membuatnya berlaku aneh seperti ini. Antusias yang biasa kurasakan dari dirinya mengup entah hilang kemana.

Aku memutar sedikit perbincangan kami untuk mencairkan suasana yang sempat terhening sejenak.

“Bagaimana bayi kita?” tanyaku dengan nada riang. Jika meningat tentang anak kami, kegelisahan itu dapat tergantikan dengan cepat oleh keriangan. Aku membelai perut Hye-Sun dan terkaget ketika merasakan perut ratanya sudah membesar sedikit.

“Mm… Baik,” jawab Hye-Sun lagi singkat, masih dengan mata tertutup dengan respon yang minim.

“Apakah kau mual atau bagaimana? Kalau ada sesuatu yang nyaman, keluhkan padaku saja,” kataku lagi, berusaha mengabaikan respon pasif dari Hye-Sun.

“Tak ada.”

“Oh baiklah. Apakah kau berencana pergi ke dokter kandungan?” tanyaku sambil memainkan rambut hitamnya. “Aku akan mengantarmu.”

“Mungkin.”

Aku terdiam. Percuma saja. Bertanya sebagaimana antusias ia tetap bereaksi seperti ini. Apa yang salah? Apa ia depresi karena kematian orang tuanya?

“Hye-Sun a. Kita ke taman belakang yuk. Aku kan punya kejutan untukmu,” ujarku, bangkit dan menarik tangannya lembut.

“Aku lelah. Sebentar lagi ingin tidur.” Dalih Hye-Sun, alisnya mengeriyit.

“Sebentar saja,” pintaku dengan nada usil bercampur manja, masih menarik tangannya seperti anak kecil yang meraung minta es krim pada ibunya.

“Ayo dong. Hye-Sun cantik. Kita main ya ke taman belakang,” bujukku. Bibirku memanjang kedepan untuk meluluhkan hatinya. Tapi ia masih tidak begitu bereaksi selain mengeluarkan cibiran tak jelas.

“Aku sudah susah-susah lho buat kejutan ini bersama Min-Hee dari sore tadi.” Aku mengendorkan sedikit genggaman tanganku lalu mendekatkan tubuhku dengan tubuhnya.

Hye-Sun diam, matanya tertutup rapat, tidak ada senyuman, yang ada hanya gurat ketegangan dan kekesalan pada wajah manisnya.

Ayo..Ayo,” bujukku lagi, menarik-narik tangannya dengan semangat berkali-kali.

Sampai kurasakan hentakan keras. Hye-Sun membuka mata, bangkit, dan menepis tanganku.

“HARUS KUBILANG BERAPA KALI. JEONG MIN-HO, AKU LELAH,” teriaknya membentakku. Seketika itu, aku mematung kaget sementara muka Hye-Sun sepenuhnya memerah karena marah. Ia tak pernah begini padaku. Tak pernah! Mataku berputar memandangnya dalam kesakitan.

“Seo Hye-Sun.” kataku tergagap.

“Sudahlah.” Ia membawa punggung tangannya menyentuh dahi. Hye-Sun mendesah, lalu meninggalkanku sendirian di ruang tamu.

Langkah kaki Hye-Sun terdengar menaiki tangga kayu. Perlahan, perlahan. Aku tak kuasa untuk mengejarnya, hanya berdiri diam mematung.

“Kumohon. Tinggalah,” bisikku. Aku yakin Hye-Sun mendengarnya, ia belum jauh dari anak tangga ketiga.

Langkah kaki itu berhenti sejenak. Selama setengah menit, waktu terasa seperti berhenti. Hening. Hening yang menyakitkan diantara kami berdua. Perubahan yang kusadar semakin membuatku jauh daripadanya. Apakah ia menyadari ini?

Aku menghela nafas. Begitupun Hye-Sun, helaan nafas beratnya terdengar sebelum ia akhirnya memilih untuk melanjutkan langkah kakinya. Meninggalkanku sendirian.`END CHAPTER
"One of my top escapades is to dive through this infinite world of imagination." - Me

Just tweeting...