Author Topic: Song of life last update chapter 20 (13 December 2010)  (Read 46732 times)

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: Song of life last update (chapter 3) 15 Mei
« Reply #15 on: May 15, 2010, 02:30:54 am »
miane kalau jelek ma terlalu pendek...
mohon kritik dan sarannya...

 [jumpy] [jumpy] [jumpy] [biggrin] [biggrin] [biggrin] [biggrin]

thenk u...
 [flowers] [flowers] [flowers] [flowers] [flowers] [flowers]

 [heh] [heh] [heh] [heh] [heh] [heh]


Chapter 3

Additional cast

Lee Seung Gi as Lee Seung Gi (Lee jung Min’s friend and assisten)



“kenapa…kenapa…”samar terdengar dari mulut laki-laki itu, lemah. Hye na menatap laki-laki itu diam. Rasa takut yang

sangat kini sirna. Sebuah rasa kasihan tiba-tiba muncul, ketika menatap laki-laki itu. Entah karena apa… seakan ia

merasakan rasa sakit itu.

Laki-laki itu mengangkat wajahnya, tiba-tiba ia menatap Hye na dengan pandangan sayu, memohon yang lembut. Hye na

menatapnya, keduanya saling menatap dan diluar perkiraan Hye na tiba-tiba laki-laki itu secara paksa membenamkan

mulutnya di bibir Hye na yang lembut. Hye benar-benar terkejut mengetahui itu, Hye na berusaha melepaskan bekapan

itu namun saat ini kedua tangannya dicengkeram keras ke dinding kamar mandi oleh laki-laki itu. Cengkraman dan

bekapan di mulutnya dan tangannya semakin dalam dan kuat,  Hye na benar-benar tidak dapat bergerak. Hye na hampir

menyerah, namun ketika tercium olehnya bau alcohol dari laki-laki itu, menyadarkan Hye na untuk segera melepaskan

diri dari cengkraman orang itu. Sebuah pesan tiba-tiba muncul di kepalanya, ia harus segera melepaskan diri atau …

Hye na berusaha mengangkat kakinya dan dengan cepat dan kuat Hye na menendang tulang kering kaki laki-laki itu.

Laki-laki itu berteriak kesakitan sambil memegang kakinya dan cengkramannya terlepas. Segera Hye na berlari keluar

dari ruangan itu, meninggalkan laki-laki yang terdengar masih berteriak kesakitan. Hye na keluar, dan terduduk di

sebuah kursi kosong tak jauh dari kamar mandi. Hye na masih shock terhadap apa yang dialaminya. Tak lama tiba-tiba

seseorang berlari datang kearahnya. “agashi…apa yang terjadi…”tanya pengawal park tiba-tiba. Hye na diam, berusaha

mengatur napasnya “agashi…apakah telah terjadi sesuatu…?”

Hye na masih diam tidak menjawab pertanyaan pengawal Park. Pengawal Park yang menatap Hye na cemas, dia benar-benar

merasa sangat bersalah ketika menatap wajah Hye na.

“maafkan saya agashi…saya pikir masih…” Hye na menghentikan kata-kata pengawal Park. Pengawal Park terdiam. Hye na

menarik napasnya pelan, mencoba mengaturnya “ tolong ambilkan aku air mineral…”

Pengawal Park segera berlari pergi, meninggalkan Hye na, namun ia juga tidak lupa  memerintahkan anak buahnya untuk

selalu mengawasi Hye na yang masih berada di lobi hotel.

******

Pagi menjelma kembali, matahri menerobos masuk melalui celah jendela kamar Hye na, membuat Hye na membuka matanya

perlahan. Tiba-tiba rasa lelah dan menyesal merasuk dalam dirinya, ketika gambaran itu kembali muncul dikepalanya.

Gambaran dimana seorang pria mengambil ciuman pertamanya dengan paksa, ia benar-benar marah dengan laki-laki itu,

namun  disisi lain, Hye na juga merasa kasihan dengan laki-laki itu “siapa sebenarnya laki-laki itu…”pikir Hye na

Lamunannya buyar oleh sebuah ketukan dipintu kamarnya. Sebuah senyum terlihat dipagi itu, ditengah rasa bingung dan

rasa marah yang dialami Hye na, membuat senyum terlukis di wajah Hye na “appa…ada apa pagi-pagi begini…”

“tak apa… appa hanya ingin bertanya…kenapa kemarin kamu tidak masuk menyusul appa…”

“maaf appa…kemarin…kemarin capek sekali rasanya…jadi Hye na pulang…”

“dengan pengawal Park…?”

“iya…tentu saja appa…bukankah appa menyuruh pengawal Park untuk mengekor ku…mengikutiku kemanapun aku pergi…”

“tapi…apakah hanya capek..tidak terjadi apapun…?”

“iya appa…”jawab Hye na manja. “appa…lapar…ayo kita makan…” ajak Hye na,mengusap perutnya yang lapar dan kemudian

melingkarkan lengannya ke lengan Tuan Han. “hahahaha…anak ini…baiklah…ayo kita makan…ada yang ingin appa bicarakan

denganmu”

Keduanya berjalan ke ruang makan dan mulai memakan apa yang sudah tersedia disana. beberapa makanan kesukaan Hye na

tersedia juga disana. Keduanya menghabiskan makanannya dengan diiringi canda dan tawa dari keduanya.

“apa yang ingin appa bicarakan…” tanya Hye na tiba-tiba

“kamu habiskan dulu makananmu, lalu masuk keruang kerja appa…”

“ada apa appa…?”

“habiskan dulu makananmu…” kata Tuan Han yang kemudian bangkit dari kursinya dan berjalan meninggalkan Hye na

dengan berjuta pertanyaan di kepala Hye na.

*****

“Dokter Ji Hoon…kapan noona kembali…kenapa lama sekali…”

“entahlah En-Kyu ya…bersabarlah…”

“tapi aku rindu sekali pada noona…”

Laki-laki yang dipanggil Hyung segera memeluk En-Kyu, hangat dan erat.

Ji Hoon POV

bukan hanya kamu En kyu-ya…hyung juga sangat merindukan Hye na…

Hye na…kapan kembali…”

End

Lamunan Ji Hoon buyar, seseorang menarik lengan bajunya kuat “hyung…”panggil En Kyu lagi

“wee…En Kyu ya…”

“aku ingin bertemu noona…”

“yeee En Kyu ya…Hyung juga..”

“apa kita tidak bisa menyusul noona ke Korea…?”

“entahlah En Kyu ya… disini juga banyak orang yang membutuhkan Hyung…”

“tapi aku sangat merindukan noona…”

“bersabarlah En Kyu ya…sekarang istirahat saja…kalau kamu sakit…kamu tidak bisa bertemu dengan noona…”

“hyung…apa kalau Kyu sembuh…noona akan datang…”kata en Kyu

“…..pasti….pasti En Kyu-ya….”jawab Ji Hoon tegas namun tidak ada keyakinan didalamnya.  Sudah hampir seminggu, Hye

na pergi dari penampungan. Walaupun semuanya berjalan seperti semula, namun banyak hal yang tidak terlihat oleh

mata terjadi diantara mereka. Senyum dan kebahagiaan seakan sirna dari wajah mereka. Tidak ada lagi tawa canda yang

riang terdengar diantara orang-orang dipenampungan. Tak ada lagi suara nyanyian yang indah yang dinyanyikan oleh

anak-anak penampungan. “Hye na…”gumam Ji Hoon yang kemudian menghela napas berat. En Kyu yang mendengar helaan

napas “apa hyung juga merindukan noona…”

Ji Hoon tersenyum lebar mendengar perkataan En Kyu dan kemudian menyelimuti En Kyu yang saat itu tengah berbaring

di klinik kecil yang dibangun oleh Hye na untuk merawat para korban parah dari bencana gempa yang terjadi beberapa

bulan yang lalu.



Klinik itu sebelumnya adalah sebuah rumah sakit kecil yang hanya sebagian dari bangunannya yang rusak. Sebuah

ruangan dengan persediaan obat yang cukup masih bertahan.

“hyung…”goda En Kyu, menunjukkan senyum lebarnya, menggoda Ji Hoon

“iya…iya…sekarang tidurlah…hyung keluar sebentar,kamu tidur disini saja bersama suster Kang…”kata Ji Hoon yang

kemudian melangkah pergi meninggalkan En Kyu di ruang itu dengan seoranf perawat yang memang berasal dari daerah

itu dan bersedia membantu Hye na mengurus para korban.


******



“bangun pemalas….”seru seseorang sambil menyibak kain tebal yang menyelimuti tubuh Jung Min. Lee Jung Min tampak

tidak bergerak dari tempatnya, dan kembali menarik selimutnya menutupi seluruh tubuhnya kemudian menarik napas

panjang.

“jam berapa kamu pulang dongsaeng…”tanya orang itu lagi

“entahlah…”jawab Jung Min sambil mengusap wajahnya serta mengucek matanya. Dia benar-benar masih mengantuk dan

lelah pagi itu

“ada apa hyung kesini…”tanya Jung min tanpa membalikkan tubuhnya menatap orang yang berada dihadapannya.

“semalam…kenapa kamu mabuk lagi…? apa masih karena…?”

“cukup Hyung…”kata Lee Jung Min, menghentikan ucapan Seung gi, bangkit dari ranjang dan berjalan terhunyung kekamar

mandi. Tak lama Jung Min keluar dan berjalan duduk di hadapan Lee Seung gi.

“ada apa hyung kemari…apakah sudah mendapat kabar baru…?”

“maaf…kalau tentang orang itu…aku belum mendapatkan kabar apapun…terakhir aku mendapatkan kabar dari detektif yang

aku sebar ke seluruh dunia, dia berada di Indonesia… saat terjadi bencana Tsunami besar dulu… dan ketika akan

ditangkap, orang itu sudah menghilang lagi…maaf…”

“selain itu…ada apa lagi…?”

“ada hal yang ingin disampaikan oleh appa mu… dan dia memintku untuk membawamu kekantornya hari ini… jadi

bersiaplah…”

“memang apa yang akan disampaikannya…?”

“entahlah…dia hanya menyuruhku untuk membawamu kekantornya…dan lebih baik kamu segera bersiap Jung Min-aa…”

“tidak…aku masih sangat lelah…”

“sebenarnya kenapa kamu harus selalu berlari ke alkohol untuk semua masalahmu dan untuk melupakan dia… kenapa tidak

mencari wanita lain saja untuk melupakan dia…”kata Lee Seung Gi bingung “masih banyak wanita yang lain yang lebih

baik bukan…”

“itu…bukan urusan hyung…”

“kalau begitu, ini urusanku…cepat bersiap dan ikut aku ke kantor…”kata Lee Seung Gi yang kemudian menarik tangan

Jung Min bangun dan mendorongnya masuk kedalam kamar mandi. “aku tunggu di ruang makan…”tambahnya yang kemudian

pergi keluar dari ruangan besar kamar seorang Lee Jung min, yang tidak tampak apapun disana, hanya sebuah meja dan

kursi, laptop dan sebuah tak buku yang berjajar buku yang tampaknya sama sekali tidak disentuh oleh pemiliknya.

Jung Min menatap kepergian Lee Seung Gi kemudian menarik napas panjang dan mulai menyiapkan diri.

*****

Hari itu matahari terlihat mendung, cahaya dan kehangatan yang terpancar sangat lemah, semua itu tertutupi oleh awan hitam

yang perlahan bertambah semakin membuat gelap bumi. Sebentar lagi air langit akan jatuh tumpah keatas bumi.

Terlihat 2 orang anak manusia tengah menunggu seseorang yang tengah duduk dihadapan mereka. Orang yang hampir 1 jam

selalu berkutat dengan berkas-berkas perusahaan.

“sebenarnya apa yang ingin…appa bicarakan”kata Jung Min dan Hye na bersamaan namun dari tempat yang berbeda.

Orang yang dipanggil ‘ appa’ masih diam dan masih berkutat dengan berkas-berkas diatas meja mereka.”appa!!!”

panggil Hye na tidak sabar.

Akhirnya, setelah beberapa saat menunggu keduanya duduk dikursinya berhadapan dengan anak-anak mereka. Hampir

bersamaan keduanya mengutarakan maksud mereka memanggil anak-anak mereka.

“appa ingin kamu menikah… dan appa ingin kamu menikah dengan orang pilihan appa itu pun jika kamu tidak memiliki

calon yang lain…”

“mwo…!”seru keduanya terkejut

“ta…”kata Hye na.

“dan sepertinya kamu belum memilikinya…”kata Tuan Han memotong perkataan Hye na

“tapi appa…” seru Hye na dari ruang kerja Tuan Han, setelah Tuan Han membicarakan apa yang memang ingin

dibicarakannya bersama Hye na.

“ini sudah menjadi keputusan appa…besok datanglah kekantor appa lagi…”

“appa…!!!” menatap marah Tuan Han, tapi yang ditatap hanya diam, tidak gentar pada pandangan marah Hye na, dan

tetap melanjutkan pekerjaannya.

“appa…!!!”

Tuan Han masih diam, dan makin menyibukkan diri dengan pekerjaannya.

“Hye na benci appa…”seru Hye na yang kemudian bangkit dari kursi dan berjalan keluar dari ruang kerja appanya,

pergi.

Ditempat yang berbeda…

Lee Jung Min hanya diam, menatap appanya dalam, ia tidak mengatakan apapun untuk membantah atau menyetujui

keputusan appanya. Ia tahu pasti apa yang akan dilakukan appanya jika ia berani membantahnya. Keduanya diam, saling

menatap. Hingga akhirnya…



“terserah appa saja…” kata Jung Min yang kemudian bangkit dari tempat duduknya “kalau tidak ada lagi yang ingin

dikatakan…aku pergi…”tambah Jung Min dingin yang kemudian melangkah menuju pintu dan keluar dari ruangan itu

******
Hye na terdiam, sebuah pemandangan terlihat dihadapannya namun ia sama sekali tidak menikmatinya. Semua itu

terpancar dari wajahnya yang lesu dan pandangannya yang kosong.



Lamunannya buyar oleh kedatangan seseorang.

“ehem…ada apa agashi…kenapa melamun…”kata nenek Jang

Hye na memalingkan wajahnya, tersenyum dan membenarkan posisi duduknya. Keduanya terdiam sesaat, nenek Jang

terlihat menunagkan teh yang dibawanya dan memberikan cemilan pada Hye na yang kembali memandang kosong pemandangan

indah dihadapannya.

“tidak ada yang berubah bukan…?”kata nenek Jang tiba-tiba

Hye na tersenyum mendengar kata-kata nenek Jang, dan hanya senyum lemah yang terlukis diwajahnya, kemudian ia

kembali melanjutkan lamunannya.

Nenek jang menghela napasnya pelan, dalam “apa yang dilakukan appa agashi…semua itu untuk kebaikan agashi…semua

yang dilakukan tuan Han adalah untuk anda agashi…”

Hye na menatap nenek Jang, kemudian meletakkan kepalanya ke bahu nenek Jang “tapi nek…”

“agashi pasti mengerti…setelah kepergian nyonya besar…appa agshi sangat menjaga nona…saat nona pergi selama 2 tahun

kemarin, tuan besar berusaha menahan diri untuk tidak mencampuri keinginan agashi agar agashi tidak merasa

terkekang oleh beliau…tuan besar sangat takut bila agashi pergi dan tidak akan pernah kembali… tuan besar berusaha

melakukan segalanya untuk agashi…dan sekarang…tuan besar melakukan apa yang merupakan tugas seorang ayah untuk

agashi…tuan ingin agashi bahagia…”

“tapi nek…menikahkan ku dengan orang yang tidak dikenal…apakah akan membuat aku bahagia…aku sama sekali belum

mengenal bahkan bertemu dengan orang itu… tapi…”

Nenek jang terdiam sesaat, mengusap lembut rambut Hye na dan membuat Hye na terduduk menatapnya,

“agashi…pikirkan…apapun bentuknya itu…semua yang dilakukan orang tua adalah segala sesuatu yang terbaik untuk

anak-anaknya…”

“tapi nek…”kata-kata Hye na terhenti oleh dering ponselnya

“yobseyo…”sapa Hye na

“mwo….begitukah…!!! baiklah…aku segera kesana…jangan biarkan mereka melakukan penggusuran itu dulu nyonya… ne…” Hye

na menutup sambungan, tersirat kecemasan yang snagat diwajahnya “bagaimana ini….” Gumam Hye na cemas

“ada apa agashi…”tanya nenek Jang

Hye na menatap nenek Jang cemas sekaligus bingung dan sedih… nenek Jang yang tidak tahu apapun semakin bertambah cemas dan takut menatap kecemasan yang tersirat diwajah Hye na

Apa yang harus ia lakukan….

End of chapter 3



maaf...kalau jelek...

 [heh] [heh] [heh] [heh] [heh] [heh]
« Last Edit: May 17, 2010, 01:38:16 am by ai_yuki »