Author Topic: Angel By My Side~Chapter 22 Updated 9 January 2011~  (Read 52657 times)

Offline karin.lullaby

  • Senior
  • ****
  • Posts: 557
  • Always you in my eyes, in my life, in my breath...
    • View Profile
aduhhh... ini baru selesai...
hehe... tapi kalo jelek gk nanggung ya...  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]
maaf kalo mengecewakan... miannn...  [laughing] [laughing] [laughing]
mohon kritik dan sarannya seperti biasa... [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]

Chapter 14


   Yokohama, Japan

   Min Ho baru saja pulang dari meeting yang sungguh melelahkan dengan para investor Jepang itu. Ia bahkan baru sekarang menyadari kalau gipsnya ternyata sudah dibuka sehari yang lalu. Ketika ia masuk kamar hotelnya dan membuka televisi. Ia disuguhi berita menarik. Pengakuan dari seorang supermodel internasional, yang belakangan ini adalah tunangannya—

   Setelah mendengar keseluruhan konferensi per situ, Min Ho hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Pusing, bingung, linglung.

   Baru saja ia ingin merangkak ke tempat tidurnya karena dinginnya musim dingin di Jepang ini. Ponselnya berdering nyaring.

   Song Hye Gyo

   “Anyongpuseyo?”Min Ho menjawab telepon itu dengan suara serak dan sengaunya.

   “Anyonghaseyo, Lee Min Ho-ssi—Tadi, selama meeting, Goo Hye Sun-ssi kerap menelpon saya dan menanyakan bisakah ia berbicara dengan Anda—“jelas Sekretaris Song panjang lebar. “Tapi, saya bilang, Anda akan menelponnya jika meeting sudah selesai—“

   “Oh—Ok—Aku mengerti—Aku akan menelponnya—Gamsahamnida, Hye Gyo-ssi—“kata Min Ho seraya mengakhiri sambungan itu.

   Min Ho menekan nomor Hye Sun sambil menunggu telepon itu diangkat. Untungnya, tak sampai beberapa detik. Suara Hye Sun mulai kedengaran.

   “Anyong—“sapa Hye Sun dari seberang sana. “Min Ho-ya?”

   “Hye Sun—Aku baru menonton konferensi pers-mu itu—“kata Min Ho.

   “Ada pujian?”tanya Hye Sun, ia terdengar terkekeh di seberang sana.

   “Brilian—Dan—Cemerlang—“jawab Min Ho dengan nada yang serius.

   “Hei, pertama-tama aku mau bilang kalau aku hanya berbohong di konferensi pers tadi—“jelas Hye Sun sambil masih berusaha menghentikan kekehannya. “Aku marah karena kau menamparku, Tuan—Dan aku lebih marah lagi ketika kau menciumku dengan seperti itu—Dan—camkan baik-baik—Kalau tidak salah dendamku padamu baru lunas 25 %, kan? Gara-gara kejadian kemarin, aku berpikir untuk menganggap dendamku padamu baru lunas 5 %.”

   “Nona, bisa agak serius sedikit?”tanya Min Ho dengan benar-benar serius. Mana bisa Min Ho yang sekarang ini dibuat bercanda—

   “Oh—Oke—Aku sudah serius—“kata Hye Sun, berusaha untuk serius. “Tapi, karena kau mencegahku dalam niatanku untuk bunuh diri, maka—Anggap saja dendamku sudah lunas 35 %.”

   “Oke—Terserahmu—“kata Min Ho acuh tak acuh.

   “Aku akan menjemputmu di bandara besok—Dan ingat kita harus terlihat mesra—“kata Hye Sun dengan nada yang serius.

   “Saya —Hye Sun-ssi, sebentar—Ada telepon masuk di line 2—Jal isseo—“kata Min Ho sambil memutuskan telepon di line 1 dan mengangkat telepon di line 2.

   “Halo? Apa? Ini dari siapa? Nigamollaneunde—Hah? Anda serius? Besok? Hmmm… Saya bisa—Sekarang ini saya ada di Jepang—Besok saya akan tiba di Seoul pukul 5-an—Jadi, Anda bisa tunggu saya di situ? Saya akan melihatnya walaupun tak yakin—Saya akan tiba di sana pukul 6-an—Boleh minta alamatnya dan nomor telepon Anda?“

   Min Ho sekarang mencatat alamat dan nomor telepon yang disebutkan orang yang mengaku bernama Son Ye Jin itu.

   “Oke—Gamsahamnida—“

   Min Ho menutup teleponnya. Ia mengerutkan kening dan menelpon Hye Sun lagi.

   “Anyong?”Hye Sun menjawab lagi.

   “Hye Sun-ssi—Besok Anda tak perlu jemput aku di bandara—Aku ada keperluan lain—“kata Min Ho dengan nada yang serius dan datar.

   “Keperluan lain? Soal pekerjaan?”tanya Hye Sun agak curiga.

   “Saya harap Anda bisa memaklumi—Jal isseo—“kata Min Ho singkat.

   Ia kemudian melemparkan dirinya sendiri di atas ranjang hotel itu. Min Ho yang tidak amnesia dulu pasti telah melakukan sesuatu yang aneh.
***
   Seoul, 26 November 2006—05.35 pm

   Seharusnya, Min Ho sudah sampai jam segini—

   Hye Sun bengong saja ke arah jendela kamarnya. Hyo Joo ada di sampingnya—

   “Hye Sun-a? Wae?”tanya Hyo Joo pada Hye Sun.

   “Aniyo—Gwenchana—“jawab Hye Sun sambil tersenyum.

   “Aku sudah mentransfer uang sebesar 2 juta dollar pada pihak Looks Management—“kata Hyo Joo dengan nada yang tenang.

   Hye Sun segera menoleh pada Hyo Joo. “Trims, Hyo Joo—“

   Jangan tanya dari mana 2 juta dollar itu Hye Sun dapatkan. Kang Na Young-ssi, setelah Hye Sun menyelenggarakan konferensi pers, dengan cara yang mengejutkan tiba-tiba saja mentransfer uang itu ke rekeningnya. Awalnya, Hye Sun tentu menolak karena ia belum resmi menjadi menantunya. Tapi, toh, Na Young-ssi tetap tidak peduli dan tidak mau menerima uang itu kembali. Katanya, Na Young-ssi sudah cukup senang dengan pengakuan Hye Sun di konferensi pers.

   Padahal, Hye Sun yakin jangankan Hye Sun bicara berdua dengan Bibi Na Young tentang 2 juta dollar itu, bicara empat mata dengan Na Young-ssi untuk sekadar minum teh saja tidak pernah. Apalagi membahas persoalan seperti itu. Kemudian, Hye Sun sadar dengan cara yang super ekspres, tapi tetap elegan, ibunya lah yang membuat Na Young mengirimkan uang sebesar itu.

   “Hye Sun—Aku bukan lagi managermu—Karena kau tidak lagi menjadi seorang model—“kata Hyo Joo, ia berdeham pelan. “Geureso?”

   “Geureso?”Hye Sun balik bertanya.

   “Apakah ini waktunya aku kembali ke kehidupanku yang dulu ketika tidak ada kamu, Hye Sun-a?”tanya Hyo Joo, membuat Hye Sun menoleh secepat mungkin.

   “No—“Hye Sun menjawab. “Hyo Joo—Kau sudah cukup baik—Jadi, aku akan mempromosikanmu suatu posisi di perusahaanku—“

   “Hye Sun?”

   “Aku serius—“kata Hye Sun yakin. “Kamu tenang saja, Hyo Joo-ya—“
***
   Seoul,  27 November 2006—07.14 am

   “Anyong—“Suara Hye Sun terdengar ceria pagi ini. “Tunanganku—“

   Tak ada jawaban dari seberang sana, padahal Hye Sun sudah terkekeh sendiri.

   “Min Ho-ya?”

   “Anyongpuseyo? Nuguni?”tanya Min Ho, suaranya terdengar sangat lelah.

   “Ini Hye Sun—“kata Hye Sun sambil mengerutkan keningnya. “Gwenchana, Min Ho-ssi? Dari suaramu kau sepertinya baru bangun tidur—“

   “Ah—Ya—Aku baru bangun tidur—“jawab Min Ho dari seberang sana, suaranya seperti biasa, datar dan terdengar dingin.

   “Oh—Oke—Kupikir kau sedang sakit atau apa—“kata Hye Sun sambil tersenyum. “Eh—Dendamku padamu baru lunas 35% loh—Untuk lunas 50% kau harus menemaniku main-main hari ini—“

   “Mwo?”

   “Main-main! Aku akan mengajakmu ke tempat yang telah kau lupakan, mungkin—Dan kita akan mengingat-ngingat di sana, apa yang telah kita lakukan di sana dulu bersama Geun Seuk—”kata Hye Sun, mendadak antusias.

   Tapi, tak ada jawaban dari seberang sana. “Errr—Hye Sun—“

   “Wegude?”

   “Lupakan?”

   “Ya! Kau yang mengaku sendiri waktu itu kalau kau juga lupa pada Geun Seuk!”

   “Memangnya iya?”

   Hye Sun mendadak cemberut. “Jadi, siapa yang berbicara padaku waktu itu? Hantu? Gumiho?”

   “Hye Sun—Kau ada di mana memangnya sekarang?”

   “Di rumah—Makanya nanti kau harus ke rumahku—“kata Hye Sun sambil menyeringai. “Tidak ada protes, aku tak mau tahu—“

   “Hye Sun—“

   “Yee??”

   “Kau sedang di Seoul?”

   Hye Sun kesal sekarang. “Ne!!! Sudah—Jangan banyak tanya lagi—Ke rumahku—Aku tunggu—“

   Hye Sun memutuskan sambungannya, tanpa memerhatikan, Min Ho yang jadi tambah aneh—
***
   “Min Ho?”Hye Sun bergumam dalam hati. Ia melihat seorang laki-laki dengan postur tubuh yang tinggi dan tegap, dengan pakaian formal juga tebal dan wajah yang agak kusut, sedang berjalan kaki dari pintu gerbang melalui pekarangan rumahnya.

   Sekarang sudah pukul 9 tepat. Hye Sun sendiri heran dengan terlambatnya Min Ho dan kedatangan Min Ho yang tanpa mobil—

   Hye Sun yang dibalut pakaian serba tebal dan elegan berusaha tersenyum sumringah ketika ia mendekati Min Ho yang benar-benar terlihat kusut.

   “Halo—“Hye Sun meletakkan tangannya sendiri di atas pipi Min Ho sambil tersenyum lebar. “Anyeong—“Hye Sun mengelus pipi itu, seperti berusaha menghangatkan kulit Min Ho yang dingin akibat cuaca musim dingin yang memang tidak ada matinya ini. Seperti biasa, wajah Min Ho tak ada ekspresi—Tegang sekali—

“Oh, ya? Mana mobilmu?”tanya Hye Sun seraya melepaskan tangannya dari pipi Min Ho. “Kok bisa terlambat?“
   
“Errr— “Min Ho menggigit bibir bawahnya.
   
“Gwenchana—“kata Hye Sun buru-buru, takut membuat Min Ho tidak enak, ia melirik tangan Min Ho yang sudah dilepas perbannya. “Lagipula aku yang akan menyetir hari ini—Walaupun katanya gipsmu sudah dibuka—Aku tetap takut tanganmu tidak bisa kembali seperti semula—“
   
Hye Sun mengamati pria yang di hadapannya itu mengangguk-ngangguk.
   
“Lagipula, setelah kau amnesia, sepertinya kau tidak akan mengingat tempat yang akan kita kunjungi nanti—“kata Hye Sun.
   
Min Ho segera mendongak. “Amnesia?”
   
Hye Sun mendadak kesal karena Min Ho yang jadi tidak nyambung dan terlambat berpikir ini.
   
“Yaa—Kau, tunaganku, Lee Min Ho, kecelakaan makanya tangan dan kakimu patah dan digips. Dan kau juga mengalami amnesia parsial. Sudah ingat, Tuan?”tanya Hye Sun dengan kesal.
   
Min Ho ini memang bodoh atau pura-pura bodoh, sih?
   
Min Ho mengangguk kecil.

   “Kachaaa—Kita harus cepat-cepat—“Hye Sun berkata dengan semangatnya.
***
   Selama perjalanan, Min Ho terlihat tidak nyaman sekali. Padahal, perasaan Hye Sun, Hye Sun tidak melakukan hal yang membuatnya tidak nyaman, kok.
   
Bahkan Min Ho lupa bagaimana cara memasang sabuk pengamannya sebagai penumpang di deretan kursi depan.
   
“Kenapa, sih, kau ini?”tanya Hye Sun sambil masih fokus ke jalanan.
   
“Gwenchana—“jawab Min Ho, senyumannya terlihat terpaksa—
   
Hye Sun mencibir. “Kau yakin kau tidak sakit? Dari tadi kau aneh sekali loh—”
   
Min Ho tidak menjawab kali ini. Dengan satu injakan di pedal gas saja, mobil itu kemudian meluncur dengan kecepatan 120 km/jam.
   
“Hye Sun-a! Demi Tuhan! Jangan menyetir seperti itu!”teriak Min Ho kalang kabut, kedua tangannya memegang erat tali sabuk pengaman.
   
Hye Sun menambah kecepatan lagi, ia tertawa-tawa. “Kenapa? Seharusnya kau menikmati hal ini.”
   
“Kita bisa kecelakaan!”teriak Min Ho lagi seraya kecepatan mobil itu tambah meningkat.
   
“Sudah lama tidak begini tahu—“kata Hye Sun sambil tersenyum-senyum dan menginjak pedal gas dalam-dalam lagi. “Oh, ya—Kau pasti sudah lupa—“
***
Flashback
[/b]

Tujuh tahun lalu, Kelulusan SMP

   “Woaaaaa!!!”   

Hye Sun menginjak pedal gas lagi dan mobil Mercedes Benz itu meluncur di jalanan Seoul dengan brutalnya.
   
Geun Seuk, yang duduk tepat di sebelahnya hanya menggigit bibirnya sambil memegang sabuk pengamannya.
   
“Hye Sun—Nanti ketika lulusan saat SMA, kau mengemudi pesawat, ya?”tanya Min Ho di kursi belakang sambil bercanda-canda, ia terlihat menikmati semua ini.
   
“Ya!!! Aku akan mendapat ijin mengemudi pesawat terbang ketika SMA nanti—Agar kita bisa bersenang-senang!”Hye Sun menjawab juga dengan antusiasnya.
   
Geun Seuk hanya menggeleng-geleng di sebelah Hye Sun. “Sepertinya, kita tidak akan lulus SMA …“
   
“Mwo?”Hye Sun dan Min Ho sama-sama buka suara.
   
“Mati saja kita sekarang. Pasti mati deh—”jawab Geun Seuk kemudian. “Berhenti saja, ya—Lebih baik aku yang menyetir—Aku bisa—“
   
Hye Sun mencibir. “Geun Seuk, walaupun aku gadis remaja yang masih 15 tahun, aku ini sudah berpengalaman mengendarai mobil—Jadi, kau—“
   
Ciiitttt…
   
Terdengar bunyi rem yang mengganggu telinga ketika Hye Sun menginjak pedal rem itu untuk menghentikan kecepatan mobil Mercedes Benz hitam itu.
   
Geun Seuk sampai tersungkur ke dashboard dengan posisi yang tidak mengenakkan. Kepala Hye Sun sampai terdorong ke roda kemudi itu. Dan Min Ho di belakang sepertinya yang paling parah, ia menjorok ke rongga antara kedua kursi depan itu. Mulutnya mencium gigi mobil itu hingga berdarah.
   
Kemudian, kehadiran seorang polisi membuat keadaan di mobil itu tambah parah.
   
“Yaaa!!! Kalian sudah melanggar batas kecepatan di Seoul—“kata polisi itu dengan galaknya.
   
Ketika Hye Sun mengangkat wajahnya, polisi itu bertanya lagi. “Kau memangnya sudah dapat SIM? Kau tahu tidak kau hampir menabrak trotoar tadi—“
   
Bibir Hye Sun bergetar, kedua tangannya juga. “Jwesonghamnida—“
   
“Eh, sebentar—“Polisi itu mengerutkan kening dan mengeluarkan selembar kertas fax kuning di depannya. “Kau—“
   
“Anda Goo Hye Sun-ssi, pewaris Seoul Sun yang hilang? Bersama Jang Geun Seuk-ssi, pewaris Jang Seuk Group dan Lee Min Ho, pewaris Lee Corperation?”tanya Polisi itu panjang lebar—
   
Hye Sun tambah menggigit bibir lagi. “Kita cuma jalan-jalan keliling Seoul, kok—Kita tidak hilang—“
   
Polisi itu mencibir—“Ayo ikut saya ke kantor polisi—Orang tua Anda sudah mencemaskan Anda—“
***
   Lee Hye Young, Lee Ajossi, Kang Na Young, Jang Ajossi sedang berada di tempat itu. Semua orang tua mereka bertiga datang, minus Mrs. Jang yang memang sudah meninggal setahun lalu dan Mr. Goo yang memang ada urusan penting di kantornya—
   
Semua orang tua ini berhasil membuat anak-anaknya bebas dari hukuman. Tapi, nampaknya, Lee Hye Young tak terlihat begitu senang sehabis dari kantor polisi, ia menyeret Hye Sun ke belakang kantor polisi.
   
“Yaaa, Goo Hye Sun—Sekarang, akui kalau kau bersalah—“Ibunya berkata sambil memukul lengan Hye Sun dengan keras.
   
“Kalau berita tentangmu masuk ke dalam koran besok, ayahmu akan serangan jantung tahu tidak—“Ibunya memukul lengan Hye Sun lagi.
   
Mereka hanya berdua di situ, dengan Hye Sun yang berusaha menahan rintihannya dan pukulan ibunya yang tambah keras.
   
“Goo Hye Sun—Kau harus berjanji tidak akan membuat onar lagi—“kata ibunya kemudian.
   
Hye Sun memanjangkan bibirnya beberapa senti, wajahnya benar-benar terenggut.
   
Pukulan Omma-nya mendarat lagi di lengan mulusnya, kali ini lebih keras.
   
Plakkk!
   
“Omma!!!”Hye Sun menjerit. “Apho!”
   
“Kalau tidak mau berjanji di sini, kita akan pulang ke rumah dan Omma akan mengurungmu di kamar dan kau tidak akan keluar selama liburan musim panas!”bentak Ommanya dengan keras.
   
“Omma—Miane—“Hye Sun berkata sambil menundukkan kepalanya.
   
Sekali lagi, Ommanya memukul lengannya. “Kau tidak boleh menggunakan ‘miane’ sekarang—Itu tidak sopan! Kalau kau masih bilang miane—Liburan musim panasmu akan kau habiskan dengan belajar kesusastraan Korea—“
   
“Ommaaaa…“”Hye Sun mendongak ke arah ibunya.
   
Ibunya memukulnya sekali lagi.
   
“Hye Young Ajuma—“seru seseorang sambil menghentikan keadaan bersitegang antara ibu dan anak itu.
   
“Jang Geun Seuk—“Ibunya berubah menjadi tambah lunak. Senyumnya mengembang. “Geun Seuk-a—Anyyeong—“
   
“Ajuma— “kata Geun Seuk.
   
Ponsel Hye Young tiba-tiba berdering. “Anyeongpuseyo? Sayang?”
   
Hye Young kemudian pergi dari tempat itu dan meninggalkan Geun Seuk dan Hye Sun berduaan saja.
   
Hye Sun berjongkok di lantai sambil mengelus tangan kirinya yang dipukul—“Aphoo—“
   
Geun Seuk ikut berjongkok di lantai itu. “Apho?”Geun Seuk mengelus-ngelus tangan itu.
   
“Neee—“jawab Hye Sun lemah.
   
Kemudian tangan kiri Hye Sun diangkat Geun Seuk dan ditaruh di atas lutut Geun Seuk.
   
“Wegude, Geun Seuk-a?”
   
Geun Seuk mencium lengan kiri itu sambil menutup matanya.
   
“Tidak sakit lagi, kan?”tanya Geun Seuk sambil tersenyum dan mengangkat wajahnya.
   
Hye Sun cemberut, tapi ia tidak bisa menahan diri untuk tersenyum. “Tentu saja masih sakit—Kalau begitu saja pasti masih sakit—Peluk aku dulu—“
   
Geun Seuk kemudian merentangkan tangannya dan Hye Sun segera mendekatkan wajahnya di atas dada Geun Seuk. “Nyaman—“Tangan Hye Sun sekarang memeluk tubuh Geun Seuk dengan erat.
   
Sekarang, tangan Geun Seuk mengelus-ngelus punggung Hye Sun. “Sudah tidak sakit?”
   
“Aniyo—Gwenchana—“jawab Hye Sun sambil tersenyum dalam pelukan itu.
***
   
Min Ho hanya berjarak beberapa meter dari Geun Seuk dan Hye Sun, ia menghembuskan nafas dengan beratnya.

***
End of Flashback
***
[/size]   “Kita tidak jadi merayakan kelulusan SMA kita bersama-sama—Kau pergi—“Hye Sun mulai bercerita dengan senyum sumringah. “Dan soal pesawat terbang, aku masih belum bisa mengendarainya—“

   Hye Sun terkekeh, diikuti Min Ho yang tersenyum, tapi terlihat terpaksa. “Aku—Sempat benar-benar down ketika kau pergi ke London tanpa bilang-bilang padaku—“

   “Aku pergi tanpa bilang-bilang?”Min Ho mengulangi dengan wajah pucat pasi dan telunjuk mengarah ke dirinya sendiri.

   “Errr—Ya—Kau waktu itu hanya memberitahu Geun Seuk saja—“jawab Hye Sun, ia berusaha untuk tetap terlihat senang sekarang, tapi bagaimana pun juga, ia tahu ia tak akan melupakan kejadian lima tahun lalu itu.
   
Min Ho diam begitu saja, ia melihat ke luar jendela mobil itu yang masih tetap kekeuh dengan kecepatan tingginya sampai-sampai pemandangan di luar tidak bisa lagi ditangkap oleh mata Min Ho.
   
Oh.. Sebentar..
   
Satu… Dua… Tiga…
   
Woekksss…
   
Min Ho mengarah ke Hye Sun dan ia tepat memuntahi baju Hye Sun yang serba tebal itu.
   
“LEE MIN HOOOOO!!!”jerit Hye Sun dengan sangat histeris.
   
“DASARRR GILAAA!!!”Hye Sun menjerit lagi.
   
Ciitttt…
   
Suara yang memekakkan telinga terdengar lagi ketika Hye Sun menginjak pedal remnya dengan kesal.
   
Min Ho tak sempat bilang apa-apa, tapi ia pergi begitu saja meninggalkan mobil Hye Sun dan keluar dari mobil itu. Hye Sun masih sibuk dengan bajunya yang terkena muntahan. Hye Sun membelalak sambil menyumpah-nyumpah tak jelas.
   
“AAAAAHHH!!! Min Ho-yaaaa!!!”jerit Hye Sun lagi. “Bau! Kotor lagi!”
   
“Ausssshhhh!!! Lee Min Ho!!! Aku akan membunuhmu!!! Akhhh!!! Ini baju yang baru dibelikan Hye Jung Onnie tahu!!!”teriak Hye Sun lagi, wajahnya merengut kesal.
   
Tapi, Hye Sun heran ketika Min Ho tak kunjung masuk ke dalam mobil, bahkan hanya untuk bilang minta maaf.
   
Hye Sun akhirnya mengelap pakaiannya itu asal-asalan dengan menggunakan tisu dan membuka pintu mobil, melihat Min Ho yang muntah-muntah di semak-semak yang cukup tinggi.
   
“Lee Min Ho-ya!!!”teriak Hye Sun sambil mendekati Min Ho.
   
“Aussshh—Sebentar—“Min Ho muntah lagi, suaranya terdengar oleh Hye Sun yang sekarang memasang wajah jijik.
   
Ketika sudah selesai, Min Ho menoleh pada Hye Sun. Wajahnya benar-benar tidak seperti biasa. Min Ho pucat pasi.
   
“Yaaa—Wegude?”tanya Hye Sun pada Min Ho yang tidak baik-baik saja itu.
   
“Aku tak bisa naik mobil—“kata Min Ho dengan suara yang benar-benar tidak baik-baik saja.
   
“Sepertinya sebelum-sebelumnya kau baik-baik saja—“kata Hye Sun, ia mencibir sekarang, keningnya berkerut.
   
“Ada halte bus di sana—“Min Ho menunjuk-nunjuk halte bus yang ada agak jauh di sana. “Naik bus saja, ya—“
   
Min Ho kemudian menggamit tangan Hye Sun begitu saja, tapi tangan itu segera ditepis oleh Hye Sun. “Ya—Min Ho-ssi—Anda kenapa? Anda baik-baik saja tidak, sih?”
   
Oh,  Nona! Aku muntah-muntah dan aku tidak baik-baik saja—
   
“Untuk apa naik bus?“tanya Hye Sun dengan kening berkerut. “Seumur hidup juga aku belum pernah naik bus—“
   
“Lagipula kita harus berjalan kaki dulu untuk sampai ke tempat yang ingin kutuju—“kata Hye Sun lagi.
   
“Sebentar, kita memang mau ke mana sekarang?”tanya Min Ho pada Hye Sun.
   
“Ke Busan—Bisa sih naik bus—Tapi, jalan kakinya itu dari haltenya—Kakiku bisa patah…”kesal Hye Sun pada Min Ho. “Jangan aneh-aneh ah—Masuk saja. Pali—“
   
“Masuk saja sendiri…”Min Ho sekarang juga ikut kesal. “Aku mau pulang saja—“
   
“Ausssshhh!! Min Ho-ssi!”seru Hye Sun dengan nada tinggi. “Oke! Naik bus—Tapi aku mau ganti baju dulu! Aku juga harus menelpon orang dulu untuk mengambil mobil ini—“
***
   Hye Sun menghentak-hentakkan kakinya ke lantai bus itu. Ia dongkol setengah mati. Diliriknya Min Ho yang sudah tertidur di sebelahnya. Matanya terpejam rapat, dan kedua tangannya terlipat di depan dada.
   
Satu pemberhentian lagi—
   
Hye Sun mengelus-ngelus dadanya sendiri, memberi kekuatan dan tenaga baginya agar siap mental untuk jalan kaki nantinya.
   
Ketika laju bus itu mulai memelan dan berhenti, Hye Sun kembali down—
   
“Min Ho-ssi—Sudah sampai—“kata Hye Sun sambil menggoyang-goyangkan lengan Min Ho. Sekarang pria itu sudah membuka matanya.
   
Cepat-cepat mereka turun dari bus yang sudah tampak sepi karena para penumpangnya sudah turun di halte-halte sebelumnya itu.
   
Min Ho kemudian berjalan di samping Hye Sun. Tadi saja, untuk menjangkau halte, Hye Sun sudah mengaku bisa mati kelelahan.
   
“Kita mau ke mana?”tanya Min Ho dengan nada yang datar dan biasa saja sambil tetap berjalan dengan kakinya yang panjang itu.
   
“Aku lelah—“Hye Sun bergumam lagi, ia sebal, dongkol, lelah, letih. “Sepertinya waktu itu tak sampai sejauh ini—Mungkin gara-gara jalannya bersamamu jadi sejauh ini—“
   
Min Ho sekarang tampak tak terima. “Maksudnya?”
   
Hye Sun berjongkok sekarang di aspal yang diselimuti salju tipis itu. “Sudah dingin. Lelah lagi—“
   
Min Ho ikut-ikutan berhenti sekarang, ia melirik Hye Sun yang sedang berjongkok itu.
   
“Yaaa … Min Ho-ssi—Aku minta gendong—“Hye Sun sekarang berkata dengan nada manjanya.
   
“Mwo?”Min Ho sungguh kelihatan kaget saat itu.
   
“Mau gendong—“Hye Sun berkata lagi, kali ini ia lebih terdengar memerintah.
   
Melihat Min Ho yang tak ada respons sama sekali, Hye Sun menengadah ke atas langit dan berteriak dengan keras. “Gendongggggggggggggggggggggggggggggggggg!!!”
   
Min Ho masih tidak merespons.
   
“Kau mau aku  bicara pakai bahasa apa sihh?? Gendong!!! Cepat!!!”Hye Sun merajuk lagi, ia masih dalam posisinya. “Piggy back ride!!! I wanna that right now, Mr. Lee Min Ho!!!”
   
Baru sekarang Min Ho menghembuskan nafas dan ikut berjongkok. “Cepat naik—“
   
Hye Sun tersenyum dan cepat-cepat naik dalam gendongan itu. “Sekarang sudah lunas 60% …”
   
Dulu, semua ini tak boleh dilakukan Hye Sun. Tentu saja tidak boleh. Kan, ia sendiri yang ingin memberi kesempatan pada Min Ho untuk mencari perempuan lain selain dirinya. Setelah Min Ho menyatakan Hye Sun adalah satu-satunya di hatinya pun, Hye Sun tetap saja tidak boleh berlaku seperti ini, memberi kesempatan dan membuatnya berharap suatu hari nanti Hye Sun akan menyukainya.
   
Tapi, sekarang Hye Sun sendiri yang tidak menghalangi perjodohan itu dan Min Ho sudah melupakan perasaan itu, sah-sah saja, kalau ia bersikap baik sekarang?
***
   Gereja St. Laurentia, Busan, 04.32 pm

   “Di sini?”tanya Min Ho, keningnya berkerut dalam.
   
“Ingatkah tempat ini?”tanya Hye Sun dalam senyumnya, ia turun dari gendongan Min Ho dan menginjakkan kaki di atas jalan setapak gereja itu yang agak berbatu.
   
Hye Sun tersenyum ketika melihat Min Ho yang diam saja. “Kita kebaktian di sini setiap Minggu ketika kita liburan di rumah nenekku yang memang berada dekat sini—“
   
“Aku sudah bertahun-tahun tidak ke sini—Terakhir kali aku ke sini, kalau tidak salah, empat tahun lalu, ketika nenekku meninggal—“jelas Hye Sun panjang lebar. “Terlalu banyak kenangan di Busan. Makanya aku tidak bisa ke Busan sering-sering.”
   
“Kenapa kau ingin membawaku ke sini?”tanya Min Ho kemudian, terdengar bingung.
   
“Main-main?”jawab Hye Sun, tapi juga tak begitu yakin. “Tadi aku sudah bilang, kan?”
   
“Kau mau main-main di gereja? Hye Sun—Ada tempat yang dijadikan tempat main, tapi yang penting bukan di sini, kita ke sini untuk berdoa—“jawab Min Ho.
   
“Main-main dengan ingatan—“tambah Hye Sun, seperti membela diri.
   
Ia kemudian tersenyum dan mempercepat langkah ke pintu gereja yang transparan itu, bangunan itu berdinding kaca, ia berdecak ketika melihat perubahan yang cukup besar pada gereja itu. “Wahh… Terakhir kali ke sini, sepertinya tidak seperti ini—Sudah berubah sekali—“
   
“Hye Sun—“panggil Min Ho hati-hati.
   
Hye Sun segera berbalik menghadap Min Ho yang masih agak jauh dari hadapannya. “Sini!”
   
“Shhhh…”Min Ho mendesis. “Kau tak lihat ada upacara pernikahan, ya?”

   “Lihat, kok—“Hye Sun tersenyum. “Makanya sini—“
   
Min Ho pertama-tama tampak ingin membantah, tapi akhirnya ia mendekat juga dengan tangan dalam saku celananya, ia mengambil posisi tepat di sebelah Hye Sun. Mereka berdampingan satu sama lain, mengintip upacara pernikahan yang sedang berlangsung itu.
   
Setelah lama melekatkan pandangannya ke arah mempelai pria yang sedang memasukkan cincin di jari tangan si mempelai wanita itu, Hye Sun segera menoleh ke belakang, dilihatnya sebuah mobil sedan putih yang sederhana, tidak mewah, tidak menarik perhatian, cukup tua juga—Tapi buket-buket bunga menghiasi mobil itu.
   
“Apa kau pikir mereka berdua bisa sampai di sini, di titik sejauh ini—“lanjut Hye Sun. “Hanya dengan mengendarai sedan putih itu?”
   
“Errr???”Min Ho bengong, ia tak mengerti ke arah mana pembicaraan ini.
   
“Menurutmu, mobil sedan putih yang tak menarik perhatian dan sederhana itulah yang mengantarkan mereka ke sini?”tanya Hye Sun lagi. Sekarang Min Ho bingung mutlak.
   
“Tentu saja—Mobil itu, kan, sudah jelas-jelas mobil pengantin—“jawab Min Ho pada akhirnya, setelah ragu beberapa saat.
   
“Jadi menurutmu, mereka hanya mengendarai sedan putih itu dan bisa sampai di sini?”tanya Hye Sun sekali lagi.
   
Min Ho ragu sesaat dengan jawabannya, tapi ia menjawab lagi. “Ya—“
   
Hye Sun tersenyum sesaat sambil tak melepaskan pandangannya ke arah dua mempelai itu, tidak memberikan reaksi maupun respons, Min Ho buru-buru menambahkan. “Maksudku, tapi—Errr—Begini—Ini tergantung—Pertanyaanmu ini adalah pertanyaan logis atau—“
   
“Bukan pertanyaan logis, Tuan—Agak imajinatif—“jawab Hye Sun cepat-cepat. “Tapi, aku berharap Anda kiranya dapat menjawab pertanyaan ini—“
   
“Mereka sampai di sini bukan karena diantar oleh sedan itu—Mereka—“Min Ho memikirkan lanjutannya. “Mereka di sini—Karena perjalanan mereka selama ini—Perjalanan mereka yang mengantar mereka di sini—“
   
“Tepat—Tepat sekali—Bukan sedan putih itu, melainkan perjalanan, journey, Min Ho. Tepatnya, journey of love.”lanjut Hye Sun. “Perjalanan lah yang membuat mereka di sini—Perjalanan yang penuh halangan, sama seperti aku yang dari tadi haus dan mengeluh kakiku sakit, sampai akhirnya aku minta digendong sampai di sini—Perjalanan panjang, tapi tidak bisa dibandingkan dengan perjalanan kita ke Busan, sampai bisa berada di gereja ini—“
   
“So, what’s the point?”tanya Min Ho, ia jadi bingung lagi sekarang.
   
“The point is—Kalau pernikahan mereka butuh perjalanan sepanjang dan serumit itu—Bagaimana dengan pernikahan kita?“tanya Hye Sun. “Atau kalau kau mau bilang, our future wedding?”
   
“Lalu?”Min Ho menunggu perkataan Hye Sun selanjutnya, ia belum cukup mencerna semua ini.
   
“Kita tak bisa menikah—Kita curang—Kita menyalahi aturan main—“jawab Hye Sun lagi. “Ketika mereka butuh susah payah dan usaha keras hingga sampai di sini, kita bagaimana?”
   
“Min Ho—“Hye Sun mendesah, ia membalikkan badan ke kanan, tempat Min Ho berdiri tegak seperti patung es yang tidak bisa diganggu gugat di musim dingin ini, tangan mungil Hye Sun kemudian meraih lengan Min Ho dan membalikkan posisinya sampai mereka berhadap-hadapan. Hye Sun menjinjit sedikit ketika ia mengelus pipi Min Ho dengan pelan. “Aku sudah bilang kalau aku ingin menikah denganmu dan aku sangat bertanggung jawab soal perjodohan itu—Jadi, sekarang aku tidak mungkin bilang padamu untuk mengakhiri pernikahan ini dan menyuruhmu mencari perempuan lain yang lebih baik dariku.“

Sebelah sudut bibir Hye Sun terangkat, membentuk senyum yang agak tidak tulus, matanya berkaca-kaca.

“Hye Sun—“bisik Min Ho pelan ketika air mata mengucur perlahan dari sudut matanya.

“Seharusnya aku tidak berbicara seperti ini padamu, tapi—“lanjut Hye Sun. “Aku tahu sekali kau tidak mempunyai perasaan apa-apa padaku, jadi ini akan lebih mudah bagiku—Dan, aku pun tidak perlu khawatir harus menyinggungmu seperti dulu-dulu—“

Hye Sun menghembuskan nafas dalam-dalam. “Lee Min Ho—Aku, Goo Hye Sun, selaku sebagai calon mempelai wanita, calon istrimu, salah satu yang bertanggung jawab atas pernikahan kita nantinya, meminta—walaupun ini akan merendahkan harga diriku sendiri sebagai perempuan—kalau pernikahan kita nantinya adalah palsu—Di depan gereja ini, kita akan berjanji jika semua ini hanya drama dan scenario yang harus kita lakoni, sampai suatu hari nanti, ketika aku atau kau dengan alasan yang jelas melayangkan gugatan cerai—atau paling tidak, sampai Seoul Sun bisa berdiri sendiri tanpa bantuan aliran dana dari perusahaanmu—“

Min Ho mematung, wajahnya pucat sekarang.

“Jadi, pernikahan ini aku jalankan hanya semata-mata demi Seoul Sun, perusahaan yang dibangun dari dan oleh keringat kakekku dan ayahku, Goo Jung Hyun—Ketika menikah nanti, aku tidak akan ikut campur dengan urusanmu, dan kau boleh mengatur-ngaturku sesuka hatimu mengingat kau bisa jadi seperti pihak yang dirugikan selama menunggu Seoul Sun bisa berdiri sendiri—Mengatur-ngaturku dalam batasan-batasan tertentu yang masih bisa kuterima—Kau boleh berhubungan dengan perempuan lain selain diriku— “

“Kau—“Hye Sun memperhatikan wajah Min Ho yang termenung, sangat terlihat sedang berpikir keras. “Kau—Sebagai salah satu pihak dalam perjanjian ini, setujukah?”

Min Ho kemudian terlihat menelan ludahnya sendiri dan menegapkan badannya, menatap Hye Sun lekat-lekat. “Kau mau ini?”

“Ya—“jawab Hye Sun, agak kesal, ia seperti anak umur tiga tahun yang sedang ditanyakan ‘Kau mau permen?’.

Hening sejenak, sinar mata Min Ho mengarah lurus, masuk ke dalam mata Hye Sun yang bulat dan besar. “Aku menyetujui perjanjian itu, Goo Hye Sun.”

Hye Sun tersenyum, senyum lega—Ia sudah mendapatkan janji dari seorang Lee Min Ho.
***
   Charmele(ctr)on, 28 November 2006, 09.15 pm

   SANDARA PARK sedang berada di ruangannya yang menghadap langsung ke arah Han River. Ia cukup menikmati pemandangan itu. Setidak-tidaknya setelah seharian bekerja mati-matian mengatur semua pemasukan dan pengeluaran yang ada pada bar milik keluarga Yoon ini.
   
Yoona sudah pergi dari Seoul, kembali ke Paris, ke Instituto Marangaroni, ia mengulang lagi kuliahnya di sana dan menitipkan bar ini ke tangan Dara. Dengan begitu, Dara sekarang bukan seorang bartender lagi, melainkan seorang pengelola dari harta kekayaan keluarga Yoon.
   
Sejauh ini, sih, Dara tak pernah mengeluh, ia selalu menikmati hidupnya sebagai seorang ‘pengelola’ di sini, pengawas berjalannya malam demi malam di bar ini.
   
Seorang penjaga tiba-tiba menerobos masuk ke ruangannya ketika Dara sedang merelaksasikan pikirannya itu.
   
“Nona Muda!”
   
Mendengar suara itu, Dara segera memutar kursinya, menghadap penjaga bar itu dengan sungguh-sungguh. “Wae? Ada apa? Pengacau lagi?”
   
“Ne, Nona Muda—“jawab penjaga itu sambil membungkuk pada atasannya itu.
   
Dara menghela napas panjang-panjang, ia bangkit berdiri dari tempatnya, selama masa kekuasaannya di bar ini, yang membuat dia dongkol setengah mati adalah para pengacau yang entah berasal dari mana itu. Dara harus turun tangan kalau sudah begini. Ia dengan langkah cepat dan pasti menuju bar yang berada di lantai dua, selantai di bawah ruangannya, yang berisik dan ramai itu, tapi terlihat perhatian terpusat pada seseorang di tengah-tengah bar, tak ada yang melihat ke arah lain selain arah itu.
   
“Ah—Pria itu, kan, tampan juga—Sayang—“Seorang wanita di dekat Dara terlihat berbicara seperti itu pada temannya yang satu lagi.
   
“Pria itu gila, ya? Kok, menyebut-nyebut nama Goo Hye Sun sih?”Seorang perempuan muda di dekat Dara berbicara lagi pada teman di sebelahnya.
   
“Kayaknya sih lelaki itu memang fans fanatiknya Goo Hye Sun—“jawab perempuan yang menjadi lawan bicaranya dengan nada yang agak ngeri dan seram.
   
Dara menerobos masuk kerumunan itu dengan diamankan oleh dua orang penjaganya. Ketika ia berhasil keluar dari kerumunan itu dan melihat apa yang dari tadi ditonton semua orang itu, jantungnya benar-benar ingin jatuh ke bawah. “Min Ho-ya—“
   
Di hadapannya, Lee Min Ho sedang terkapar di lantai, berdarah-darah, dengan satu orang sinting yang masih meronta-ronta sekalipun ia sudah dipegang oleh penjaga bar itu. “BRENGSEK KAU!”umpat lelaki itu. “PACARKU ITU BUKAN PACARMU!”
   
“Kalian bawa pria sinting itu keluar!!!”Dara berteriak pada penjaganya itu, ia kemudian menghampiri Min Ho yang terlihat lemah dan tak berdaya di atas lantai bar itu, tapi tetap tertawa-tawa sambil tersenyum-senyum tak jelas.
   
“Hong! Bantu aku membawanya ke atas ke ruanganku—“kata Dara dan seorang lelaki bertubuh tegap dibantu penjaga satunya lagi.
   
Dara hanya melihat penjaga itu membopong Min Ho untuk ke atas, ke ruangannya.
   
Dara segera melotot ke orang-orang yang dari tadi menikmati pertunjukkan itu. “Siapa yang suruh kalian semua menonton! Hushhh!!! Pergi!!!”
   
Ketika, Dara bangkit berdiri, semua orang juga ikut bangkit, takut kalau-kalau nanti membership-nya di bar ini dicabut oleh Dara dan mereka tak bisa masuk ke bar paling bergengsi dan populer di Seoul ini.
   
Dara dengan langkah yang pasti dan elegan berjalan menuju ruangannya. Melihat Min Ho yang sudah diletakkan oleh Hong dan penjaga yang satu di atas sofa yang ada di ruangannya. Ia segera memberi tanda bagi Hong dan penjaganya itu untuk keluar dari ruangan.
   
“Aku tak tahu aku sudah bilang atau belum, tapi kau itu bukan termasuk orang Korea yang jago minum minuman berakohol—“kata Dara sambil perlahan melangkah ke arah Min Ho. “Ada masalah apa lagi? Aku lihat waktu itu kau sudah akan menikah dengan Goo Hye Sun. Sekarang masalah apa? Aku tadinya berharap akan ada dongeng dengan happy ending—“
    
“Aku mabuk…”Min Ho berkata, ia teller, terlalu lemah untuk menjawab.
   
“Itu, sih… Tidak perlu diberi tahu juga aku sudah tahu—“jawab Dara cepat-cepat.
   
“Apa yang terjadi padamu?”
   
“Aku amnesia ternyata—“Min Ho senyum-senyum sendiri sekarang di tempatnya duduk, ia tertawa-tawa.
   
“Loh, kalau amnesia kenapa bisa berada di sini?”tanya Dara, bingung. Orang mabuk memang benar-benar susah diajak bicara.
   
“Karena—Aku dua hari terakhir ini hanya berpura-pura amnesia—Membohongi diri sendiri dan orang-orang di sekitarku—“Min Ho tertawa lagi seperti orang gila, padahal tidak ada yang lucu sama sekali.
   
“Yaaa!!! Pura-pura???!!”Dara memekik kaget, sungguh terkejut.
   
“Shhhhhh…”desis Min Ho, telunjuknya ditaruh di depan bibir, matanya terpejam. “Aku kan bilang dua hari terakhir ini saja—“
   
“Yaaaa!!! Apa sih maksudmu?”tanya Dara pada Min Ho, ia benar-benar mendekat pada Min Ho, ia meraih tangan Min Ho hingga Min Ho berdiri.
   
“Siapa tahu kalau aku pura-pura amnesia, aku bisa melupakan Hye Sun—Haha—“Min Ho tertawa lagi, sekarang ia menepis tangan Dara yang membuatnya berdiri dan kembali duduk di sofa itu. “Aku membenci perempuan itu. Perempuan itu selalu membuatku tampak seperti orang tolol. Tapi, sebagian dari diriku, tak pernah bisa menolak eksistensinya...”
   
“Benar-benar tampak tolol—Membiarkanku berpikir tidak rasional, sampai memutuskan pura-pura amnesia saja—“Min Ho tersenyum tak jelas lagi. “Tapi, aktingku ini cukup hebat, loh—Ibuku masih mengoceh saja dan mengingatkanku tentang segala macam hal—“
   
“Aku mau jadi orang bodoh saja—Jadi aku bisa dengan mudahnya melupakan perasaanku padanya.”Min Ho berkata lagi. “Aku akan melakukan apa pun agar bisa melupakan perasaan itu. Perasaan yang selalu hidup sepanjang hidupku—Mungkin aku jadi pasien Alzheimer saja, ya? Agar aku bisa melupakan perasaan itu—“
   
“Tapi, sayangnya, sekeras apa pun aku ingin melupakan perasaan itu, mengingatkan diriku tentang karena siapa masa remajaku hancur, dan berusaha membencinya atas segala hal yang telah ia lakukan padaku selama ini—“lanjut Min Ho. “Itu semua tak berguna. Dia akan selalu ada di benakku sebagai satu-satunya gadis yang akan dan selalu menerima cintaku—”
   
“Dan aku membenci diriku sendiri karena tak bisa melupakannya—Sepertinya ia bukan hanya membuatku tampak seorang yang bodoh, tapi juga membuatku benar-benar bodoh. Melakukan segala hal untuk kebahagiaan seorang gadis. Menelponnya bak seorang peneror hanya agar bisa mendengar suaranya. Mendatangi pertunangannya secara diam-diam hanya agar bisa melihatnya tersenyum, meskipun itu dari jarak 10 meter. Membangunkan sebuah rumah impian untuk ia tinggal dengan Geun Seuk nantinya, agar ia bisa bahagia bersama suami dan anak-anaknya kelak—“
   
Dara terdiam, tersentuh. Benar-benar termenung akibat perkataan lelaki itu. “Min Ho—“
   
“Tunggu dulu—Aku sudah menyukainya dari kelas 3 SMP—“Min Ho mengeluarkan tiga jarinya yang panjang dan kurus. “3 SMP sampai sekarang ini, kira-kira sudah hampir 7 atau 8 tahunan, kan? Aku berusaha bersikap benar-benar baik padanya. Dengan sikapku yang masih tengil dan polos, juga kekanak-kanakan, aku mencoba untuk menyentuh hatinya dengan berbagai hal. Tapi, tetap saja menurutnya yang terbaik adalah Geun Seuk.”
   
“Sempat lima tahun kita berpisah dan tak bertemu.”Min Ho tertawa lagi, tertawa frustasi. “Setelah aku kembali dari London, ke Seoul, Geun Seuk ternyata meninggal dan aku dijodohkan padanya. Aku pikir ini kabar baik dan sekalipun harus menunggu Hye Sun menyukaiku, aku rela, toh, selama lima tahunku di London, aku juga menunggu agar suatu saat Hye Sun berhenti berpikir kalau semua hal yang kuberikan padanya selama lima tahun itu dari Geun Seuk semua—Dan aku juga masih berpikir dia sepertinya belum tahu perasaanku padanya—“
   
“Tapi, ternyata, ternyata ia pergi ke luar negeri dan aku harus lebih bersabar lagi. Kau tahu tidak bagaimana perasaan ini?”tanya Min Ho. “Apho—Sebentar… Biar kukoreksi, bukan hanya hatiku yang sakit, aku pernah mengalami hal yang tidak mengenakkan di masa remajaku karena Hye Sun—“
   
“Min Ho—Lalu apa yang ingin kau lakukan?”tanya Dara, ia mulai memberanikan diri membuka mulut setelah sekian lama diam dan mendengar curahan hati lelaki ini.
   
“Tidak ada—“jawab Min Ho. “Aku tak akan melakukan apa-apa—Tapi, ada beberapa hal yang sebenarnya kuinginkan—“
   
“Apa?”tanya Dara kemudian.
   
“Aku ingin dia menyadari kalau aku tak pernah berhenti mencintainya sekalipun seluruh sel dalam tubuhku memintaku untuk itu—“ lanjut Min Ho. “Aku ingin dia tahu kenyataannya dan aku ingin dia tahu semua kepalsuan yang ada di dalam hidupnya selama ini.”

“Aku ingin dia mulai menyadari kehadiran dan eksistensiku selama ini—Bukan sebagai Lee Min Ho—“lanjut Min Ho. “Tapi, sebagai malaikatnya—Malaikat yang seperti bintang, yang mungkin tak terlihat pada suatu malam, tapi, selalu ada di atas sana—“
***
End of Chapter








abis ini updatenya bakal lama banget ya...  [laughing] [laughing] [laughing] [laughing]
selamat membaca... [biggrin] [biggrin] [biggrin]
« Last Edit: May 20, 2010, 06:04:53 am by karin.lullaby »

it was CRAZY LITTLE THING CALLED LOVE