Halooo... Gk taunya ada waktu akhir" ini jadinya dilanjutin dehhh....
![[biggrin]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/biggrin.gif)
ADDITIONAL CAST FOR THIS CHAPTER :
SON YE JIN
![[hmpfh]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/hmpfh.gif)
*saking gk ada artis korea lain nih makanya make yg ini..*
Chapter 15
“Oh, ya, kalau perlu kuberitahu, ya—“Min Ho mengangkat tangannya. “Aku dan Hye Sun baru-baru ini ke Busan, dan di situ aku baru tahu kalau Hye Sun sebenarnya sudah menerima perjodohan itu. Tapi, dia meminta adanya pernikahan palsu—Bayangkan apa yang dimintanya dariku itu—”
Setelah tertawa tak jelas, Min Ho ambruk tiba-tiba di tempatnya. Dara memperhatikan pria itu dengan tangan terlipat di depan dada. “Kalau di pikir-pikir, pria ini kasihan juga—Min Ho yang tolol… tapi… romantic—“
Malam itu, Dara menunggui Min Ho yang tertidur akibat mabuk di meja kerjanya, tanpa sadar, lama-lama, rasa mengantuk juga menguasai dirinya dan ia tertidur—
***
Seoul, 29 November 2006, 08.02 am
Min Ho membuka matanya ketika ia sadar dengan keberadaan sinar matahari pagi pada musim dingin di Seoul ini. Ketika melirik jam tangannya, ia sadar sekarang sudah jam 8 pagi.
“Aishhh—Kepalaku—“Min Ho memegangi kepalanya sendiri yang terasa berat, dilihatnya sekelilingnya yang tampak asing itu. Kemudian, matanya berhenti pada sesosok perempuan yang tertidur pulas dengan kepala di atas meja kerja. “Dara?”
Perempuan itu tiba-tiba saja bergidik di tempatnya dan mulai mengangkat kedua tangannya, mencoba menguapkan rasa kantuknya, kemudian pandangannya jatuh pada Min Ho. “Anyyeong—“
“Aku mabuk, ya?”tanya Min Ho pada Dara yang masih diliputi rasa kantuknya.
“Yaaaa—Mabuk dan dipukuli—Tapi, sepertinya tidak sakit—“kata Dara sambil tersenyum. “Iya, kan?”
“Tidak—Kepalaku sakit—“jawab Min Ho dengan cepat—
“Kemarin kau bilang segalanya padaku—“
“Segalanya? Segalanya apanya?”tanya Min Ho dengan bingung dan heran.
“Aku juga tidak ingat, sih—Tapi, pokoknya kau curhat tentang Hye Sun panjang lebar—“kata Dara sambil tersenyum lagi. “3 SMP, ya? Aku turut simpatik padamu—Ditinggal ke New York. Pura-pura amnesia untuk melupakan Hye Sun. Tapi, ada yang membuatku penasaran dari perkataanmu kemarin malam. Menelponnya seperti seorang peneror, mendatangi pertunangannya secara diam-diam hanya untuk menyaksikan senyumnya dari radius 10 meter. Sepertinya itu sah-sah saja sih—Tapi, ada satu yang membuatku penasaran, membangunkan rumah—“
Min Ho mendongak ke arah perempuan yang sekarang sudah tampak segar itu, tapi Min Ho sekarang malah tambah suntuk.
Rumah itu. Rumah yang dua tahun lalu dimaksudkan untuk Hye Sun dan Geun Seuk bersama anak-anaknya kelak. Rumah yang ia harapkan dapat membuat Hye Sun bahagia. Rumah yang ia dedikasikan untuk Hye Sun dan Geun Seuk, kedua sahabatnya itu. Rumah—yang malam itu bisa membuatnya mengingat segalanya—Termasuk Hye Sun, karena, sedikit banyak unsur yang ada di dalam Hye Sun adalah bagian dari rumah itu—
***
Flashback
Min Ho segera menyuruh Pak Yoon pulang ketika ia baru saja tiba dari Yokohama. Sekretaris Song pun ia suruh pulang dengan taksi. Jadi, ia sekarang hanya sendiri di dalam mobil Mercedes Benz nya yang mewah itu, dengan setelan jas dan celana panjang, sepatu santai tanpa kaos kaki, dan wayfarer hitam.
Ia meneliti kertas yang bertuliskan alamat yang kemarin diberitahu perempuan tak dikenal itu. Ia sendiri bingung dengan alamat yang asing itu. Tapi, ia akhirnya memutuskan menuju alamat itu dengan navigator yang tertempel di mobilnya.
Setelah beberapa jam perjalanan dari Incheon International Airport, ia mulai memasuki daerah ujung barat laut kota Seoul, ia melongo kesana-kemari ketika ia mulai menyadari kawasan yang dilintasi mobilnya itu sudah mulai sepi dan jarang kendaraan. Jangankan kendaraan, rumah pun jarang. Tiba-tiba saja, ia mulai dikejutkan dengan pemandangan hamparan pantai di kawasan itu, ketika ia menengok ke sebelah kiri, pemandangan hutan lebat dan belantara mulai terlihat. Ia melihat satu bangunan dekat pantai itu yang berarsitektur serba kayu dan sebuah gereja yang lumayan mewah di garis pantai itu. Tapi, kawasan itu tetap saja masih termasuk sepi, belum terjamah, belum terjangkau oleh masyarakat.
Jalanan di sepanjang garis pantai itu semakin lama semakin mendaki, hingga akhirnya mulai tampak di mata Min Ho sebuah rumah yang berdisain sangat unik, tapi ketika ia melihat nomor rumahnya, ia yakin kalau bukan itu rumah yang dimaksud perempuan bernama Son Ye Jin yang katanya merupakan leader dari perencanaan dan pembangunan rumah di Barat Laut Seoul ini.
“Hmm.. Jadi, yang mana, ya?”tanya Min Ho pada dirinya sendiri, bertepatan ketika ia melihat seorang perempuan yang berdiri di tepi jalan bersama seorang laki-laki.
Min Ho segera menginjak rem mobilnya ketika perempuan itu tersenyum ke arahnya. Min Ho kemudian menurunkan kaca mobil itu dan membuka kacamatanya sambil berkata pada perempuan dan laki-laki itu. “Anda Son Ye Jin-ssi?”
Perempuan itu tersenyum. “Ne, Lee Min Ho-ssi—“
Min Ho segera turun dari mobilnya ketika ia tahu ia sudah sampai ke tujuannya. Ye Jin dan pria di sebelahnya segera membungkuk dalam-dalam ke arah Min Ho.
“Hwang Ji Kyung imnida—Bankamseumnida“Pria yang berpakaian rapi itu berkata sambil mengulurkan tangan yang segera disambut oleh Min Ho.
“Ini anak buahku, yang merupakan disainer interior rumah ini—“Son Ye Jin tersenyum sesaat. “Untuk ke rumah itu, lewat tangga ini, Pak—“Ye Jin mempersilakan Min Ho untuk menaiki sebuah tangga dari kayu yang lumayan sempit dan tak bisa dilewati bertiga, bahkan berdua.
Dalam perjalanan menaiki tangga itu, Min Ho segera membuka perbincangan dengan Son Ye Jin. “Saya mengalami amnesia parsial beberapa bulan lalu, dan saya pikir saya melupakan bagian kalau saya pernah membangun rumah di daerah ini. Memangnya saya pernah meminta Anda merancang dan membangun rumah? Kapan tepatnya saya meminta bantuan Anda?”
Son Ye Jin sempat bingung, tapi kemudian, ia menjelaskan juga.“Anda, selaku pendiri dan pemegang saham terbesar di Lee Corperation, meminta bantuan dari Jae Sun Group, perusahaan tempat saya bekerja sampai sekarang ini, untuk membuat rumah di kawasan ini. Tapi, Anda meminta kalau pembangunan rumah ini dirahasiakan dari siapa pun juga. Kalau tidak salah, saya mendapat perintah pertama kali dari atas tentang pembangunan rumah ini sekitar awal tahun, dua tahun lalu—Bulan Februari tahun ini, kita baru bertemu lagi dan Anda menyuruh timku membuat desain interior seperti yang telah kita diskusikan.“
“Kalau daerahnya sepi seperti ini, bagaimana saya bisa berpikir untuk membangun rumah?”tanya Min Ho, bingung, tapi, Son Ye Jin pun tak kalah bingungnya.
“Kalau itu, jwesonghamnida, saya juga kurang tahu, Pak—“kata Son Ye Jin. Min Ho segera mengibaskan tangannya waktu itu. “Sudahlah. Lupakan saja—“
Ketika mereka bertiga sudah sampai di puncak anak tangga, Son Ye Jin berbicara lagi. “Desain eksteriornya adalah hasil dari diskusi tim kami dan Anda semalam suntuk. Seperti yang Anda mau. Dinding yang menghadap laut terbuat dari kaca agar pemandangan lautnya tidak di sia-siakan. Disainnya klasik dan lembut. Untuk dinding yang tidak menghadap laut, kita memakai dinding dari kaca juga, agar pemandangan hutan di sebelah sana dapat terlihat dengan jelas.”
“Ohh… Oke… Di mana kita bisa masuk?”tanya Min Ho pada Ye Jin.
“Di sini—“Ye Jin membukakan Min Ho pintu dan Min Ho segera masuk ke dalam rumah yang mewah dan megah itu. “Pintunya sengaja dibuat sederhana dan berada di samping, ketika melangkahkan kaki, penglihatan kita pertama-tama akan langsung terpusat pada hutan di sebelah sana yang terlihat tembus pandang dari dalam rumah yang berdinding kaca ini.”
“Tuan Hwang Ji Kyung—“panggil Min Ho pada pria yang berjalan di belakangnya dan Ye Jin. “Desain interiornya. Jelaskan pada saya—“
“Begini, Tuan, ini juga sempat kita diskusikan sebelumnya. Desain interiornya bergaya contemporary, mewah, elegan, dan klasik. Begitu juga dengan dapur dan ruang makannya. Semua lantainya berlapiskan kayu seperti permintaan Anda sendiri, untuk ruang keluarga, Anda meminta lantainya di lapisi oleh karpet dari bulu domba—Untuk kamar mandi, Anda ingin kesan klasik dan mewahnya lebih diperdalam dengan bath tub dan wastafel.”
Min Ho mengangguk-ngangguk.
“Ruang keluarganya dibuat elegan. Di sana kita bisa meminum teh atau kopi pada siang hari sambil melihat pemandangan laut.”lanjut Ye Jin, ia menambahkan perkataan Hwang Ji Kyung. “Dan untuk ruang bawah tanahnya—“
“Ruang bawah tanah?”tanya Min Ho, heran, ia memotong pembicaraan Son Ye Jin begitu saja.
“Ya. Ada ruang bawah tanah dan ini jalannya.”kata Ye Jin sambil membuka semacam pintu di atas lantai dan Min Ho langsung bisa melihat anak tangga yang kelihatan klasik yang menuju bawah tanah, mengingatkannya dengan rumah-rumah bangsawan Inggris jaman dulu. “Ruang bawah tanah ini dibuat untuk mencerminkan suatu gaya hidup profeksionis dan sangat rahasia, penuh dengan privasi. Terakhir kali kita berdiskusi, Anda bilang Anda ingin ruang bawah tanah itu akan dijadikan ruang kerja. Semua furniture di sana sudah tersedia.”
“Anda mau ke atas atau melihat ke bawah dulu?”tanya Ye Jin dengan sopan.
Min Ho menimbang-nimbang sebentar, akhirnya dia memimpin jalan menuju tangga yang menuju ke lantai atas, bukan ke lantai bawah, tanpa kata-kata sama sekali.
“Di ruang atas terdapat tiga ruang tidur. Master bedroom-nya mempunyai teras yang benar-benar menghadap laut. Kalau di bawah tidak disediakan televisi dengan alasan agar tidak merusak gaya klasiknya, makanya kami sengaja meletakkan televisi flat di dalam master bedroom dengan cara dipasang di atas dinding itu.”kata Hwang Ji Kyung. “Karena menurut Anda selain klasik dan elegan, Anda mau menambahkan kesan innocence di kamar itu. Kami menambahkan pernak-pernik bintang yang digantung di atas langit-langit kamar yang akan menyala di dalam kegelapan. Dan menurut permintaan Anda sendiri, Anda ingin ketika terjadi pemadaman lampu, ada sumber energi cadangan yang akan menyalakan lampu-lampu di rumah ini.”
Min Ho mengerutkan keningnya. “Apakah sampai sebegitunya?”
“Ya. Anda yang meminta sendiri soal hal itu.”jawab Hwang Ji Kyung.
“Tepat di sebelahnya adalah kamar utama kedua yang berukuran cukup besar. Di sebelah sini adalah sebuah kamar yang cukup besar juga. Tapi, Anda bilang, Anda belum bisa menentukan desain interiornya, jadi kami juga tidak melakukan apa pun terhadap kamar itu. Kamar itu mempunyai sebuah teras yang menghadap ke arah hutan di sebelah sana. Jadi, rumah ini mempunyai double view atau pemandangan ganda—”sambung Son Ye Jin.
“Son Ye Jin-ssi, Hwang Ji Kyung-ssi, gamsahamnida—“Min Ho membungkuk. “Aku harus mengingat-ngingat semuanya dulu. Untuk sementara ini, saya ingin tinggal di sini untuk beberapa lama. Saya—saya rasa saya harus merenungkan beberapa hal tentang rumah ini—Maaf kalau saya kedengaran mengusir, tapi, jeongmalmiane, bisakah kalian pergi dari rumah ini?”
Son Ye Jin dan Hwang Ji Kyung tampak melirik satu sama lain dengan bingung sampai akhirnya mereka mengangguk. “Ne, Lee Min Ho-ssi—Kalau begitu, kami pamit dulu—“
Mereka berdua turun ke bawah, tanpa ditemani Min Ho. Dan Min Ho berada di rumah itu, sendirian, sambil menjejalkan tangannya ke dalam saku celananya.***
Coba kau ingat, Lee Min Ho... Untuk apa kau membangun rumah ini? Bukankah kau sudah punya rumah sendiri? Dan kenapa harus merahasiakan pembangunan rumah ini?
Angin sore berhembus semilir menerpa wajah Min Ho ketika ia berada di teras master bedroom itu. Kepalanya tiba-tiba saja sakit.
“Hello, good afternoon, Ms. Diane and all my friends—My name is Goo Hye Sun—And I would like to tell you about my favorite place in this world—It’s not a mall or shopping places. I like clean place, but, don’t know why I like beach the most—“
Suara seorang perempuan bergema di kepalanya. Kenangan lama bangkit setelah beberapa bulan enggan memunculkan dirinya.
“Aku ingin meminta bantuan kalian dari Jae Sun Group dalam pembangunan rumah di sini. Anda sekalian sudah mendapat kepercayaan dariku. Dan proyek yang satu ini tidak boleh bocor pada siapa pun juga—“
Percakapan dua tahun lalu kepada pemimpin tertinggi Jae Sun Group, ia sekarang jadi ingat dengan perkataannya waktu itu.
“Terima kasih, Nak—Telah membantu pembangunan gereja dan biara ini—Saya mengharapkan segala yang terbaik untuk Anda—“suara seorang perempuan yang sudah tua.
“Tidak perlu, Kepala Biarawati. Saya mengharapkan yang terbaik untuk gereja dan biara ini juga. Dan saya mohon perlindungan karena sebentar lagi saya akan membangun sebuah rumah di sana—“
“Nak, jika kau tinggal di sana nanti, jangan lupa kebaktian di gereja ini setiap minggu—Pintu gereja ini selalu terbuka bagimu—“
“Tidak—Aku sedang membangun rumah untuk seorang gadis dan tunangannya—”
“Berbahagialah kau yang melakukan sesuatu untuk orang lain dan bukan untuk egoismemu sendiri. Kau akan terselamatkan, Nak—“
Min Ho mengerutkan keningnya lebih dalam lagi. Itu percakapannya dengan Kepala Biarawati Gemma Park dua tahun lalu, ketika ia menjadi donatur terbesar bagi pembangunan gereja dan biara di kawasan Seoul Barat Laut itu, di kawasan ini!!!
“Kepala Biarawati, sebentar lagi aku akan menikah dengan si gadis itu, namanya Goo Hye Sun—Tunangannya baru meninggal baru-baru ini—Tolonglah bantu mendoakan Jang Geun Seuk agar ia bisa diterima di sisi Bapa—Dan berikanlah kekuatan bagi pernikahan kami nantinya—Rumah itu akan jadi rumah kami nantinya—Aku akan mengatur segala-galanya agar rumah itu sempurna baginya—“
Min Ho tambah kehilangan arah, ia bingung, semilir angin itu seakan bisa membuatnya tergoncang sekarang. Itu adalah percakapannya dengan Kepala Biarawati kurang lebih setahun yang lalu, setelah Geun Seuk meninggal.
Perempuan siapa? Gadis itu? Goo Hye Sun?
“Aku takut!!! Aku takut gelap!!! Aku takut!!! Aku tak suka tempat gelap!!! Aku tak bisa melihat kalian berdua!!! Geun Seuk!!! Min Ho!!!”
Gelap? Ya! Hye Sun takut gelap! Ia baru ingat sekarang. Dan… Geun Seuk? Geun Seuk? Mantan tunangan Hye Sun yang sudah meninggal itu, kan? Lelaki yang juga ia sudah lupakan?
“Kamar yang menghadap hutan itu, seharusnya adalah kamar bayi. Tapi, aku takut untuk menaruh desain interior di dalamnya. Dulu, aku terpikir untuk membuat kamar bayi agar bayi Hye Sun dan Geun Seuk bisa tidur di sana. Tapi, sekarang, jika suami Hye Sun nantinya adalah aku. Aku takut tak akan ada bayi di tengah pernikahan itu—“
Brukkk… Min Ho ambruk sambil terduduk di tempatnya. Ia terlihat seperti orang yang bingung.
“Kamar tamu itu, dulu aku pikir bagus juga jika ketika Hye Sun dan Geun Seuk sudah menikah nanti, aku menginap di sana sebagai tamu—“
Itu suara Min Ho lagi. Kepalanya berputar sekarang.
“I love beach, Lee Min Ho-ssi—But I love forest too—So natural—I love that—“
Goo Hye Sun. Itu suara Goo Hye Sun. Apa ini?
“Rumah ini punya sudut pandang ganda. Di satu sisi laut, di satu sisinya lagi adalah hutan—Tapi, dua-duanya adalah bagian dari Hye Sun, karena Hye Sun menyukai kedua hal yang berlawanan itu—“
Suaranya benar-benar seperti sebuah rekaman yang sangat jelas di pikirannya. Terlalu jelas.
“Villa keluargamu yang di pantai itu, Mino—Aku benar-benar menyukainya—Aku ingin sekali bisa seterusnya tinggal di sana, kalau saja ayahku itu tidak memaksaku tidak menggunakan AC padahal udara ketika musim panas itu benar-benar gila di pinggir pantai… Dan kalau saja aku tak punya kenangan buruk hampir diculik di villamu waktu malam-malam itu—“
Suara Goo Hye Sun lagi.
“Pastikan kalau suhu di rumah ini, terlebih lagi kamarnya seperti suhu kamar biasa… Kacanya, aku mau benar-benar diimpor dari negara produsen glass wall terbaik di dunia, tak bisa dipecahkan, dan anti-maling. Dan, satu lagi, aku mau ada energi cadangan yang bisa rumah ini gunakan ketika tiba-tiba terjadi pemadaman lampu. Bagaimana pun itu caranya. Rumah ini tak boleh pernah padam lampunya—“
Lagi-lagi suara Min Ho sekarang. Rumah ini, kalau ia tak salah tangkap. Berarti rumah ini diperuntukkan untuk Goo Hye Sun, kan? Tapi, memangnya siapa Goo Hye Sun itu? Selama ini, ibunya kerap kali menyuruhnya mengingat-ngingat Hye Sun adalah satu-satunya perempuan yang ia cintai. Tapi, otaknya lambat untuk berpikir seperti itu. Dan ia pikir, Hye Sun bukan tipenya. Goo Hye Sun itu siapa???
“Perempuan ini adalah Goo Hye Sun, Kepala Biarawati Gemma—Perempuan yang selalu kupikirkan dalam kehidupanku, bahkan, meskipun, ia tak pernah menyisihkan sedetik pun dalam hidupnya untuk memikirkanku. Dia adalah satu-satunya orang yang bisa membuatku bahagia hanya dengan melihatnya bahagia juga—”
Pertahanannya runtuh sudah. Ambruk—Ambruk begitu saja—
***
End of Flashback
“Kau mau dibantu, Min Ho-ya?”tanya Dara dengan hati-hati.
“Aku ingin dibantu—Tapi, aku tahu ini adalah urusanku sendiri dan seharusnya aku tidak membuatmu campur tangan—“jawab Min Ho, ia menatap sepatunya di lantai, berusaha tidak menatap Dara.
Dara menghembuskan nafas, tidak memedulikan jawaban itu. “Sejauh ini, belum ada yang tahu kalau ingatanmu sudah pulih?”
“Belum. Sejauh ini—hanya kau yang sudah tahu tentang ini semua. Orang tuaku, Hye Sun, sekretarisku juga belum tahu—“jawab Min Ho lagi.
“Kau akan memberitahu mereka secepatnya?”tanya Dara sambil menatap Min Ho baik-baik.
“Entahlah. Menurutmu bagaimana?”tanya Min Ho, sambil melirik ke arah Dara.
Dara mengangkat bahunya. “Min Ho—“Dara berkata dalam bisikan. “Pada kesimpulannya, kau ini mau menjalani pernikahan palsu dengan Hye Sun itu?”
Min Ho, dengan agak ragu, akhirnya mengangguk juga. “Aku tahu sekeras apa pun aku berusaha aku tak akan bisa melupakannya. Lebih baik aku jalankan pernikahan palsu itu dengan sedikit harapan waktu bisa mengubah segalanya. Lagipula aku sudah berjanji padanya.”
“Lalu, rencanamu adalah menikah dan memperlakukannya seperti seorang putri? Seperti dulu?”tanya Dara.
“Aku juga tidak tahu—“jawab Min Ho dengan mata yang mengarah entah ke mana itu. “Dara, omong-omong, Yoona ke mana?”Min Ho teringat Yoona yang dari tadi tak menampakkan diri.
“Yoona? Ia kembali ke Paris, ke Instituto Marangoni dan memulai kuliah jurusan fashion design dari awal lagi—“jawab Dara. “Ketika ia terakhir kali bertemu denganmu itu, ia langsung jadi kacau. Dan ia memutuskan kembali lagi ke Paris dan memberikan tanggung jawab bar ini dan jaringan klub malam itu padaku.”
“Jadi, sekarang aku bukan bartender lagi, tapi seorang, kalau kata kerennya, sih, manajer—“Dara terkekeh sebentar. “Tapi, kalau dipikir-pikir, aku jadi merindukan pekerjaan itu, sih—Padahal dulu, aku ingin pekerjaan lebih tinggi dari bartender, tapi sekarang jadi agak menyesal meninggalkan pekerjaan itu, aku stress dengan jabatanku sekarang.“
Min Ho kemudian terdiam mendengar perkataan Dara itu, “Eh, sebentar—“Min Ho kelihatan berpikir dengan keras sekarang. “Aku sepertinya sudah tahu apa rencanaku selanjutnya pada Hye Sun—“
“Apa?”Dara mengerutkan keningnya.
“Sebenarnya, aku mengambil kata-katanya waktu itu di radio—“jawab Min Ho sambil tersenyum, tersenyum lebar. Ia masih ingat jelas perkataan Hye Sun di radio Countryside yang ia dengar di YouTube itu.“Aku bisa menangani itu sendiri. Tapi, aku mohon bantuan dalam satu hal yang satu ini—“
***
Seoul, 5 Desember 2010, 03.15 pm
Dingin di siang hari akibat musim dingin di Seoul itu serasa menusuk tulang. Hye Sun sedang sendiri di kamarnya ketika ia berusaha menelpon Min Ho untuk kesekian kalinya. Tidak ada jawaban.
“Nomor ini tidak dapat dihubungi. Silakan tinggalkan pesan setelah nada berikut—“Suara operator ponsel itu terdengar lagi ketika akhirnya Hye Sun menyerah dan meninggalkan pesan.
“Min Ho-ya, berhari-hari aku tidak dengar kabar darimu. Tapi, aku ingin memberitahumu kita akan foto pra wedding tanggal 8 Desember nanti—Semoga Na Young Ajuma memberitahumu lebih lanjut—Jal isseo—“
Hye Sun mengakhiri pesannya dan menekan tombol merah di ponselnya itu.
Sebenarnya, ke mana, sih, pria itu?
***
Seoul, 5 Desember 2006, 03.15 pm—Di tempat yang berbeda—
Min Ho benar-benar bersusah payah mengendarai mobil itu. Tapi, sampai sekarang, sejak setengah jam lalu, belum ada kemajuan sama sekali.
“Min Ho-yaaaa!!! Kamu pasti bisa!!! Hanya tinggal menginjak pedal kopling dan gasnya—Ini, kan, mobil automatic—Masa tidak bisa—“sindir Dara di akhir kalimatnya dengan kesal.
Keringat dingin mengucur di seluruh wajah Min Ho. “Dara, aku tak bisa—Aku tak tahu apa yang harus dilakukan—“
“Yaaa!!! Lee Min Ho pasti bisa!! Aja-aja!!! Hwaeting!!!”Dara menyemangati lagi dari kursi depan, tepat di sebelah Min Ho yang tetap salah tingkah.
“Jujur, ya, duduk di sini saja aku sudah gemetaran—“kata Min Ho sungguh-sungguh. “Aku tak bisa, Dara! Aku jadi penumpang saja!”
“Hey! Masa lelaki tak bisa menyetir! Masa kau duduk di sini saja gemetaran! Payah!”ejek Dara dengan tujuan gengsi Min Ho bisa naik tiba-tiba dan ia bisa menyetir lagi.
“Kalau masih menjadi penumpang aku bisa walaupun masih agak takut dan gemetar.”Min Ho membela dirinya sendiri. “But, so sorry, Dara—Aku pikir aku tak akan bisa menyetir lagi—Kecelakaan itu membuatku trauma dan kehilangan naluriku dalam menyetir—“
“Nah, kalau kau didesak keadaan harus melakukan perjalanan tanpa seorang supir bagaimana?“tanya Dara dengan sungguh-sungguh.
“Mungkin kau tidak percaya—Tapi, sejujurnya, aku adalah pengendara motor Harley yang handal. Aku bisa mengendarai motor itu sejak aku masih di London, aku diajari oleh salah satu temanku di sana—“
Dara terbelalak. “Mworago? Kau tak punya tampang seperti itu.”
*** Seoul, 17 Desember 2006, 02.13 pm
“Halo, calon pengantin—“kata Hyo Joo sambil menyolek dagu Hye Sun jail. “Bagaimana foto pra wedding 9 hari lalu? Sorry, aku baru bisa menemanimu sekarang ini, kau tahu sendiri keseharianku sebagai Accounting Manager di perusahaanmu agak membuatku kewalahan—Jadi, aku baru bisa ke sini weekend—”
Hye Sun mengangguk-ngangguk sambil memajukan bibirnya.“Gwenchana—Tidak masalah—Aku tahu kau orang yang bertanggung jawab—Tapi, kalau kau tanya foto pra-wedding itu, jawabannya adalah buruk—Dia tidak bisa berpose, sebentar-sebentar lirik Blackberry-nya terus—Dia bilang dia punya urusan penting, jadi harus buru-buru sekali—“jawab Hye Sun.
“Min Ho yang amnesia itu berubah sekali, ya? Sepertinya ia terkesan workaholic—”tanya Hyo Joo hati-hati sambil mengambil tempat di sebelah Hye Sun.
“Kalau kau mau tahu—“lanjut Hye Sun. “Ya—Yang paling menonjol memang kegilaannya terhadap kerja, tapi, dia bukan hanya jadi workaholic, tapi juga menjadi semacam orang yang serius, tidak begitu banyak bicara, agak terkesan arogan, sih...“
“Tidak dewasa, lembut, dan perhatian lagi, ya?”tanya Hyo Joo sungguh-sungguh.
“Aniyo—“jawab Hye Sun. “Dia yang sekarang lebih ke pribadi yang selalu punya wibawa di depan orang dan agak kaku—Kalau kaku itu sih, memang dari pertama kali dia kembali ke Seoul, ya—Semenjak pulang dari London memang begitu, walaupun kadang-kadang aku suka tak percaya kalau Min Ho kecil itu tengil dan ceplas-ceplos minta ampun—“
Hyo Joo tersenyum menggoda pada Hye Sun, niatannya ingin bercanda. “Lebih suka yang mana? Yang tidak amnesia atau yang sekarang? Kalau aku jadi kau, sih, aku akan merindukan Min Ho yang dulu, yang lembut, dewasa, dan perhatian—Lebih terlihat keren—”
“Yang dulu itu tidak manusiawi—Yang sekarang baru manusiawi—“jawab Hye Sun, bibirnya ia majukan beberapa senti.
“Hhh… Bilang saja lebih suka yang dulu… Yang dulu itu memang tidak manusiawi, tapi tahu tidak, yang dulu itu, lebih terlihat seperti malaikat—“tukas Hyo Joo asal-asalan, tapi perkataan itu benar-benar membuat dunia berhenti berputar bagi Hye Sun, ia termenung akibat perkataan itu.
Apakah—apakah sosok malaikat sudah ada pada Min Ho yang dulu? Dan apakah ia juga merindukan Min Ho yang dulu itu?
*** Seoul, 23 Desember 2006, 10.30 am
“Salju turun!”Hyo Joo mendadak norak ketika perlahan ia melihat salju tipis turun dari atas langit, bertepatan dengan hari pernikahan Hye Sun dan Min Ho.
Hye Sun sedang didandani oleh make up artist handal di depannya, yang merupakan utusan dari Na Young Ajuma. Ibunya sedang di-make up di ruangannya sendiri. Baru sekitar pukul 1 siang, Min Ho dan keluarganya akan tiba di Kediaman Goo.
“Goo Hye Sun, kau bisa jadi adalah pengantin paling cantik sepanjang tahun 2006—“Hyo Joo tersenyum lebar pada Hye Sun yang terlihat agak tegang sekarang. “Aussshhh… Rasanya baru kemarin kita bertemu di New York dan berteman—Sekarang, temanku ini sudah jadi seorang pengantin—Aku ingin cepat-cepat menyusulmu, tapi, belum bertemu yang tepat—“
Hye Sun terkekeh. “Memang kau pikir ‘yang ini’ juga yang tepat? Ini, kan, perjodohan—Kalau mau cepat-cepat menyusul, suruh ibumu menjodohkanmu saja—“
“Yeee… Kalau dijodohkan, dengan pria yang sederajat, tampan, kaya, dan cool seperti Min Ho, aku sih mau saja. Tapi, kalau ibuku yang menjodohkanku, aku akan dijodohkan dengan pemilik pabrik sandal jepit lagi—“Hyo Joo memasang tampang malas. “Relasi keluargamu itu bagus. Tapi, relasi keluargaku itu, lohhh…”
Make up artist itu tak terpengaruh, masih tetap saja mendandani Hye Sun, dengan segala usahanya. Ketika make up dan hair do-nya baru saja selesai ditata, terdengar suara pintu kamar yang diketuk.
“Permisi—“Wajah ibunya yang dibalut make up dan baju yang elegan muncul dari ambang pintu. “Aku boleh masuk untuk melihat putriku ini, kan?”
Tak ada yang menjawab, semua hanya tersenyum. Hingga akhirnya Hye Young masuk ke dalam kamar Hye Sun dan mendekat padanya. “Hye Sun,”bisik Hye Young. “Aku tahu kau akan bahagia dengan pernikahan ini. Sekalipun kau tidak kuat nantinya, kau harus ingat Appa-mu—“
Padahal, ibunya sudah bicara sepelan itu, tapi Hye Sun sengaja memperbesar volume suaranya. “Sudah terlambat jika aku bilang tak kuat di sini—Omma, aku adalah orang yang bertanggungjawab. Omma tenang saja—“
Hye Young tadinya agak kesal dengan Hye Sun, tapi akhirnya ia memaksakan diri untuk tersenyum dan menampakkan giginya. “Kau akan jadi pengantin paling cantik di dunia. Omma jadi sedih ketika mengingat kalau sebentar lagi, kamu bukan milik Omma lagi, Hye Sun-a—“
Hye Sun tersenyum kecil sambil mengangguk. Ommanya tahu-tahu keluar begitu saja dari kamarnya.
Sekarang, ketika Hye Sun sudah memakai baju pengantinnya dibantu dengan seorang stylist. Terdengar suara pintu diketuk lagi. Stylist di hadapannya itu tampak tidak sabaran. Aktivitasnya memberi aksesori pada Hye Sun terhenti karena suara ketukan itu.
“Anyeong—“Itu suara Hye Jung Onnie. “Dongsaeng! Aigo! Kau sungguh cantik—”
Hye Sun sumringah mendengar perkataan Onnie nya itu.
“Ms dan Hyo Joo, kalian boleh meninggalkan ruangan ini sebentar tidak?”tanya Hye Jung Onnie sambil tersenyum kalem. “Ada beberapa hal yang harus aku sampaikan pada calon pengantin satu ini—“
Stylist itu tampak agak sebal, tapi, toh, ia akhirnya keluar juga dari ruangan itu, diikuti oleh Hyo Joo.
“Dongsaeng—“kata Hye Jung Onnie. “Dompetmu mana?“
“Dompet?”Hye Sun mengulangi. “Di lemari. Eh, kenapa?”
Tahu-tahu Hye Jung melangkah cepat ke arah lemari Hye Sun dan mengobrak-abrik seluruh isinya sampai ia menemukan benda yang ia ingin lihat. Hye Jung membuka dompet panjang itu dan melihat isinya.
“Onnieeee!!!”Hye Sun menjerit, menghentikan tindakan Onnie-nya. “Wegude?”
Tapi, sudah terlambat, Hye Jung sudah melihat foto yang terpasang di dompet itu. Hye Jung Onnie mengeluarkan foto itu dari tempatnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi ke atas. “Jang Geun Seuk—“
“Apa yang akan orang-orang bicarakan jika beberapa jam sebelum kau menikah, kau masih menyimpan foto pra wedding-mu dengan Geun Seuk—“Hye Jung menyindir lagi.
“Onnie!!! Cukup dan kembalikan—“Hye Sun berkata pada Onnienya, ia terlihat marah sekarang. “Sekarang jugaaa!!!”
“Rencana! Apa rencanamu? Apa rencana licikmu dalam pernikahan ini?”tanya Hye Jung.
“Pernikahan palsu!”jawab Hye Sun dalam bentakan kesal, benar-benar dongkol pada onnie nya.
“Kau! Kalau kau bukan seorang calon pengantin aku akan menamparmu!”bentak Hye Jung dalam kemurkaan yang amat sangat. “Kau pikir pernikahan itu apa? Sebuah sinetron atau variety show? Dan memangnya Min Ho Dongsaeng menyetujui ini?”
“Ya! Dia mengiyakannya! Jadi, Onnie tak usah ikut campur dalam urusan ini! Kembalikan foto itu dan keluar!”sahut Hye Sun kesal.
“Aku tahu Min Ho yang sekarang amnesia! Tapi, pernah kau pikirkan tidak, sih, kalau tiba-tiba saja, ia bangun dan menyadari semua yang telah ia lupakan? Termasuk kau! Termasuk perasaannya!”
Hye Sun baru ingin membuka mulut ketika Onnienya menambahkan lagi. “Kalau tidak pernah, kau harus sadar diri kau ini adalah orang yang egois, tak punya hati, hanya mementingkan dirimu sendiri!”
“Siapa bilang aku mementingkan diriku sendiri!”bentak Hye Sun. “Kalau saja aku mementingkan diriku sendiri, aku akan keras kepala dan meninggalkan pernikahan ini! Aku memikirkan Seoul Sun makanya aku bisa menerima perjodohan itu!”
“Kau…”
“Jangan munafik dan bilang aku matrealistis! Jangan bilang aku tak punya otak! Karena Onnie harus bercermin sekarang!”bentak Hye Sun balik dalam kemarahan yang amat sangat. “Onnie juga menerima perjodohan dengan Oh Byung Hyun karena kerja sama antara Seoul Sun dan perusahaan milik Oh Byung Hyun Oppa! Posisi kita sama sekarang! Tapi bedanya, dulu, Onnie tak punya seseorang untuk mempertahankan diri agar tidak menjadi istri orang!”
Wajah Hye Jung segera berubah. “Heh! Kau sekarang juga tak punya seseorang untuk mempertahankan diri! Mana? Mana Geun Seuk? Hah? Mana malaikatmu itu sekarang? Kalau kau masih belum bisa menerima kenyataan kalau dia telah pergi selamanya, kau akan kudaftarkan ke psikiater karena kau sudah tidak dapat ditolong lagi sekarang!”
“Onnie!!!”jerit Hye Sun keras dalam nada frustasi, tapi Onnie nya keburu melangkah keluar dari kamar itu sambil menjatuhkan foto pra wedding Hye Sun-Geun Seuk ke lantai tanpa ampun.
***
“Apakah Anda, Tuan Lee Min Ho, mempelai pria, mengambil Nona Goo Hye Sun sebagai istri, dalam keadaan suka maupun duka, baik kaya maupun miskin, baik sehat maupun senang, sampai ajal menjemput dan memisahkan kalian berdua?”
Pastor di depan mereka berdua berdeham sedikit ketika ia tidak mendapat jawaban apa-apa dari Min Ho. Tapi, tak butuh waktu lama, sebelum akhirnya Min Ho menjawab. “Ya. Saya bersedia—“
“Apakah Anda, Nona Goo Hye Sun, bersedia mengambil Tuan Lee Min Ho sebagai suami, menemaninya dalam keadaan suka maupun duka, baik kaya maupun miskin, baik sehat maupun senang, sampai ajal menjemput dan memisahkan kalian berdua?”
“Ne. Saya bersedia—“jawab Hye Sun sambil melirik sedikit wajah Min Ho yang datar dan dingin.
“Kalau begitu, mempelai pria dipersilakan untuk mencium mempelai wanita—“
Min Ho terlihat agak terkesiap, tapi ia memutar badannya juga menghadap Hye Sun yang sudah memutar badannya dari tadi.
Mereka berdua terlihat sama-sama gugup, tapi Min Ho agak mencoba menjaga sikapnya. Ia meraih bahu Hye Sun dan menarik wajahnya agar lebih dekat dengan wajahnya. Ia mencium pipi kiri Hye Sun dengan agak canggung dan kikuk.
Semua hadirin menepuk tangannya, seakan yang di hadapan mereka ini adalah pengantin paling serasi di dunia, padahal boro-boro—
***
Hari yang sama, pada malam hari—
“Chukayo! Lee Min Ho Goo Hye Sun!”Suara MC itu menggelegar di ballroom hotel yang mewah dan penuh dengan dekorasi itu. Bunga-bunga ada hampir di mana-mana, membuat ruangan itu harum bukan main. Ballroom berkapasitas 1000 orang itu benar-benar terlihat mewah sekali di malam pernikahan keturunan salah satu perusahaan Holding Company di bidang kontraktor terbesar di Korea, Lee Corperation dengan seorang gadis dari Seoul Sun, perusahaan besar yang bergerak di bidang kontraktor juga, tapi belakangan pamornya menurun di kalangan bisnis.
Wartawan-wartawan tampak mengabadikan momen pernikahan termegah di Korea Selatan itu dengan kameranya. Setiap sudut ballroom itu tidak luput dari perhatian mereka. Beberapa rekan kerja seprofesi Hye Sun, datang ke acara itu, hanya beberapa, karena ia tidak begitu punya banyak teman. MC pada pernikahan kali itu berceloteh ria, sedangkan pengantinnya sendiri? Wajahnya tegang dan agak datar, tidak menunjukkan ekspresi apa-apa.
Setelah senyam-senyum tak jelas di atas sana, sekali lagi suara MC yang riang, ceria, dan penuh rasa jail itu menggelegar. “Now, you may kiss your bride, Mr!” Spontan seisi ballroom itu meledak tawanya, tawa jail.
Tapi, kalau semua hadirin, termasuk para relasi keluarga tertawa-tawa, pengantinnya sendiri hanya sumringah dipaksakan. Hye Sun menggigit bibir bawahnya sambil menatap lautan tamu di depan pelaminan itu yang sekarang bertepuk tangan dan mengelu-elukan, “Kiss… Kiss… Kiss…”
Hye Sun melirik ke arah Min Ho yang diam saja dengan tangan yang masuk ke dalam saku celana. Pria dengan pakaian broken white itu sekarang memutar badannya ke arah Hye Sun, sempat membuat Hye Sun agak gemetar.
Perlahan, tapi pasti, wajah Min Ho mulai mendekat pada Hye Sun, tapi tangannya sama sekali tak bergerak dari saku celananya itu. Ketika jarak mereka tak kurang dari lima senti lagi, Hye Sun, secara mengejutkan melepaskan buket bunga yang ia pegang dari tadi, dan meraih leher Min Ho dengan tak sabaran.
Kedua bibir itu menempel satu sama lain diiringi tepukan riuh dari para hadirin itu, mereka semua, khususnya wartawan, mendapat suguhan yang bagus di pesta pernikahan kali ini.
Hye Sun melumat bibir pria di hadapannya itu, tanpa mendapat respons apa-apa. Hye Sun kemudian membuka mata dan melepaskan lumatannya. Baru saja ia ingin menjauh, ia sadar Min Ho terlihat melongo dan cengo minta ampun. “Eh, wajahmu jangan begitu—“kata Hye Sun sungguh-sungguh, matanya melotot.
“Aku… Aku …”
Tiba-tiba saja, pinggang Hye Sun direngkuh dan Min Ho kembali menabrakkan bibir mereka berdua dengan penuh gairah. Lidah mereka saling bertaut, benar-benar melupakan posisi masing-masing. Min Ho melupakan peran dan karakternya yang seharusnya ia jalani. Dan Hye Sun melupakan posisinya sendiri sebagai pengantin gadungan di atas pelaminan itu. Mereka saling melumat satu sama lain tanpa memikirkan decakan dan dehaman dari orang-orang di ballroom itu.
***
Mereka berdua ada di kursi belakang mobil BMW milik Min Ho. Hye Sun menatap malas ke jalanan yang sudah sepi dan jarang kendaraan dan Min Ho menatap lurus ke depan sambil sesekali memejamkan mata.
“Miane—“ucap mereka bersamaan, suasana mereka benar-benar aneh ketika itu.
“Kenapa minta maaf?”tanya Min Ho.
“Kau juga, kenapa minta maaf?”tanya Hye Sun balik.
“Aku merasa bersalah tadi—Tidak seharusnya aku menciummu seperti itu—“jawab Min Ho. “Jadi, miane—“
“Kalau aku, tadi Hye Jung Onnie baru saja mengajakku berbicara—Dan ia sempat bilang aku egois, tak punya hati, dan mementingkan diri sendiri—“kata Hye Sun. “Awalnya aku membantah. Tapi, lama-lama aku jadi sadar kalau aku memang seperti itu. Jadi, jwesonghamnida telah menjadi orang yang egois, tak punya hati, dan mementingkan diri sendiri—Jwesonghamnida juga karena aku telah melibatkanmu dalam pernikahan palsu ini—”
“Kalau ada daftar yang menyebutkan apa saja hal yang dapat membuatmu minta maaf, daftar itu pasti panjang sekali—“jawab Min Ho. “Kau harus minta maaf karena telah menjadi gadis judes, sombong, kekanak-kanakan, menyebalkan, egois, dan dingin ketika masih kecil dulu—Sekarang pun kau harus tetap minta maaf karena pernikahan palsu ini dan sikapmu padaku setelah ditinggal Geun Seuk—Kau juga harus minta maaf karena kelabilanmu pasca ditinggal Geun Seuk bulan Januari lalu, yang menyebabkanku khawatir bukan main dengan keadaanmu—“
Hye Sun baru ingin membuka mulut ketika ia sadar dengan apa yang dikatakan Min Ho. “Lee Min Ho—“
“Ya. Aku sudah ingat. Ingatanku sudah pulih.”jawab Min Ho cepat-cepat.
“Kau… Kenapa baru sekarang?”tanya Hye Sun.
“Jika yang kau takutkan adalah aku yang dulu, yang lembut, dewasa, perhatian, mencintaimu, dan selalu membuatmu tidak enak hati itu. Kau tidak perlu takut,”lanjut Min Ho. “Dengar, ya, Goo Hye Sun, kau bukan Tuan Putri lagi bagiku, jadi jangan khawatir aku akan melakukan sesuatu yang membuatmu tidak nyaman—Karena, rasa sakit ini tidak perlu diperpanjang lagi, sudah cukup sampai di titik ini—“
***
End of Chapter
Untuk rumah yang dimaksud di chapter ini :

tampak depannya doang...
tangga yang itu menghubungkan rumah dan pantai...
ada tangga di belakang rumah ini dan menghubungkannya ke jalan yang dilalui minho...
![[biggrin]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/biggrin.gif)
Spt biasa tlg dikomen yaa...
![[biggrin]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/biggrin.gif)
mamm... kamu juga...
![[hmff]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/005.gif)