sis bultang, iya nih ff jaman purba
![[hmpfh]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/hmpfh.gif)
.. gw bakal mempost setiap chpnya setiap hari
![[hmpfh]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/hmpfh.gif)
..
CHAPTER 2
Keesokan harinya, aku, papa dan Mrs. Goo berangkat ke kediaman keluarga Lee. Joongie, pagi-pagi sekali sudah keluar dari rumah. Aku benar-benar tidak mengerti dengan sikapnya sejak mendengar tentang rencana pertunanganku. Kemarin malam dia kelihatan baik-baik saja.
Kami sampai di rumah besar keluarga Lee sekitar pukul setengah sembilan pagi. Sekali lagi saya dibuat menganga melihat rumah yang besar dan megahnya melebihi rumah papa. Langit-langit bangunan itu begitu tinggi layaknya katedral dari negara-negara di benua Eropah. Lantainya dialasi dengan permadani-permadani tebal dengan corak yang indah. Lampu-lampu kristal yang besar dan panjang mengantung dari langit-langit sampai ke tengah ruangan. Kursi-kursi antik yang terbuat dari kayu jati dengan dilapisi kain sutra mahal dan bantal-bantal empuk, serta barang-barang pajangan antik dan mahal yang dikoleksi dari berbagai negara di pelosok dunia.
Mr. dan Mrs. Lee tersenyum simpul melihat aku terpesona seperti itu. Mereka mungkin sudah mendengar dari papa bahwa aku sejak kecil tinggal di desa sehingga tidak pernah melihat rumah semewah ini.
"Junki sedang berada di kamar kerjanya sekarang, tapi sebentar lagi dia akan turun dan bergabung dengan kita ...", kata Mr. Lee kepada kami sambil tersenyum ramah.
Kami menganggukan kepala dan mengikuti langkah kedua tuan rumah menuju ruang tamu yang besar dan luas. Bersamaan dengan itu, seorang pemuda bermuka lonjong, berkulit putih dan bermata agak sipit dengan postur tubuh yang lumayan tinggi, menuruni tangga yang menghubungkan ruang tamu dengan lantai atas.
"Ohhhh .. Junki.. kamu sudah selesai dengan pekerjaanmu?". Mr. Lee memperhatikan putranya yang berjalan kearah kami.
Junki tersenyum kepada papanya dan membungkukan badannya kearah kami.
"Pekerjaan itu tidak mendesak, pa .. saya akan menyelesaikannya nanti malam saja ... hmmm... paman dan bibi Goo, bagaimana kabar kalian? Baik-baik saja bukan?"
"Ha.. ha... Junki senang bertemu denganmu lagi ... sudah dua tahun ya? .. waktu berlalu dengan cepat.. kamu kelihatan lebih dewasa sekarang.."
Papa menepuk bahu Junki dengan senang. Beliau kelihatan begitu suka dengan anak muda itu.
"O ya... Junki, kenalkan ini putri kami .. Goo Hye Sun ..", Mrs. Goo memperkenalkanku kepada Junki sambil mengedipkan matanya.
Junki tersenyum, matanya melirik kearahku. Mukaku langsung memerah karena tindakannya itu. Segera kutundukan wajahku dalam-dalam. Kedua orangtua kami terbahak-bahak melihat interaksi yang terjadi antara kami.
Percakapan kemudian dilanjutkan dengan lebih santai. Ketiga tuan rumah kami ternyata orangnya sangat ramah dan humoris. Mereka tidak sama dengan bayanganku sebelumnya mengenai orang kaya kebanyakan. Waktu tiga jam kami habiskan dengan perbicangan biasa tanpa menyinggung sedikitpun tentang masalah pertunanganku dan Junki. Hal ini membuatku sedikit santai dan dapat menikmati hubungan yang terjalin antara keluargaku dengan keluarga Lee. Mungkin mereka sengaja berbuat begitu untuk menghilangkan kegugupanku. Aku juga tidak mengetahuinya dengan pasti.
Pada pukul 12, makan siang disiapkan di ruang makan. Kami semua menyantap makan siang yang tersedia tanpa berkata apa-apa. Setelah selesai makan, setengah jam kemudian, kami duduk kembali di ruang tamu yang sama dan melanjutkan lagi pembicaraan kami.
Suasana menjadi agak serius sekarang. Mr. Lee, Mrs. Lee dan Junki menatapku dengan pandangan menyelidik. Aku menjadi agak risih dengan tatapan mereka. Ingin rasanya aku melarikan diri tapi tentu saja itu tidak dapat aku lakukan.
Mrs. Lee membuka mulutnya, bersiap untuk mengutarakan maksudnya. Tapi .. niatnya itu terhenti ketika pintu ruang tamu itu dibuka dengan tiba-tiba. Seorang pemuda jangkung dengan terbalutkan kemeja hitam, celana jeans biru ketat dan tas hitam besar yang tersampir dipundak, memasuki ruangan dengan santainya. Dia berdiri membelakangi tangga yang menuju lantai atas dan memperhatikan kami satu-persatu untuk sejenak.
Ketika pandangannya jatuh kepadaku selama tujuh detik lamanya, aku terpana. Wajah itu begitu sempurna. Hidung yang mancung, bibir penuh dan padat yang kemerah-merahan, mata yang bersinar, rambut tebal yang hitam pekat, ditambah dengan bentuk tubuh yang padat berisi dan tinggi badan yang melebihi orang-orang biasa, dia kelihatan tidak ada cacatnya.
Tapi ada satu hal yang membuatku tidak berani berlama-lama menatapnya. Pandangannya begitu tajam dan menusuk sampai ke sanubariku yang paling dalam. Aku menundukan wajahku dalam-dalam.
Pemuda itu berdiri disana hanya beberapa saat. Dia membalikan tubuhnya dan mulai menaiki anak tangga menuju lantai atas setelah selesai dengan kepenasaranannya terhadap keramaian diruangan tersebut.
"Minoooo!!!! Hmmmmmmmm .......... hari ini merupakan hari teristimewa bagi hyungmu, dapatkah kamu ikut memperbincangkannya bersama kami?", Mrs. Lee menatap pemuda yang dipanggilnya Mino itu dengan penuh harap.
Mino membalikan badannya kearah kami. Dia kelihatan agak ragu-ragu dengan permintaan mamanya. Setelah mempertimbangkannya sejenak, akhirnya dilangkahkan juga kaki panjangnya menuruni anak tangga yang sudah dinaikinya hampir seperempatnya.
Mino melangkah kearah kami. Dia menjatuhkan tubuhnya di kursi yang ada di depanku. Aku menjadi serbasalah ketika sepasang mata yang tajam itu memandang lurus kearahku.
"oooh ... bukankah ini putra bungsumu, si Lee Min Ho ?"
Mr. Lee menganggukan kepalanya kearah papa.
"Terakhir kali saya melihatnya, dia masih kecil sekali ..hmm...sudah sekitar lima belas tahun yang lalu kalau tidak salah ... o ya, Mino .. bolehkan paman memanggilmu Mino? Berapa usiamu sekarang ?"
Mino mengalihkan pandangannya dariku ke papa.
"Dua puluh dua !!!", jawabnya singkat.
Papa sangat terkejut mendapat jawaban yang begitu pendek dari Mino.
"Ha..ha..ha... jangan bertanya tentang Mino lagi .. sebaiknya kita membicarakan masalah yang lebih penting dari itu .. he..he..he..", Mr. Lee berusaha untuk mengalihkan perhatian papa dari Mino.
"ohhhhh..ya .. benar. Ada masalah penting yang belum kita diskusikan!!", papa seperti baru sadar akan maksud kunjungannya kesini.
Aku semakin menundukan wajahku mendengar maksud dari perkataan mereka. Aku bisa merasakan aura panas mulai menjalari pipiku. Itu pertanda bahwa pipiku sudah memerah.
"Bagaimana, Junki?.. Kamu setuju kan dengan pertunanganmu dengan Hyesun?", Mr. Lee menatap putra sulungnya dengan seksama, berusaha mendapatkan jawaban yang diinginkannya. Junki menatapku, itu bisa kurasakan walaupun aku tidak mengangkat wajahku.
"Saya tidak ada masalah dengan itu !"
Jawabannya yang enteng mengejutkanku. Segera kuangkat wajahku dan memandanginya dengan heran.
"Lalu.. bagaimana denganmu, Hyesun? Jika kamu juga setuju dengan rencana ini, maka.. kita akan menyelenggarakannya dengan segera .. karena tiga bulan kemudian Junki harus terbang ke Amerika untuk mengurus anak perusahaan kami yang akan dibuka disana ..".
Mendengar perkataan Mr. Lee, aku semakin menajamkan pandanganku ke Junki.
"Ke Amerika ?", tanyaku pelan.
"Benar! karena itu kami sangat berharap kalian bisa segera bertunangan dan menikah tiga bulan kemudian ..", Mr. Lee mewakili Junki menjawab pertanyaanku.
"Apa maksudnya ini? Jika hyung pergi, bagaimana dengan pusat perusahaan yang ada disini ?", Mino tiba-tiba mengeluarkan suaranya.
"Kalau saya pergi, pusatnya tentu saja akan diserahkan ke dalam tanganmu ... bukankah bulan depan kamu sudah akan lulus?.. sudah saatnya bagimu untuk belajar bagaimana cara mengendalikan sebuah perusahaan ..", Junki menjawab pertanyaan Mino yang tiba-tiba itu.
Mendengar itu Mino segera membantah dengan keras.
"Mengapa kalian bisa merubah keputusan secara mendadak seperti ini? Bukankah sudah dibicarakan sebelumnya bahwa saya akan diberi waktu dua tahun untuk melakukan sesuatu yang saya sukai ?"
"Sayang .... itu karena waktu itu hyungmu belum menemukan orang yang akan mendampingi hidupnya ... kamu juga tidak mau kan melihat hyungmu selalu bolak-balik dari Amerika ke Korea hanya untuk bertemu dengan istrinya? ... Setelah menikah .. mereka harus mempunyai tempat tinggal tetap dan ... karena hyungmu bakal mengurus perusahaan yang ada di Amerika maka mereka juga harus menetap di sana ..", Mrs. Lee berusaha untuk menjelaskan keadaan Junki ke anak bungsunya yang sedang marah itu.
Mino menatap mamanya untuk beberapa lama. Kemudian dia mengangkat kedua tangannya.
"Terserah kalian saja!!!!", katanya sambil bangkit dari duduknya dan beranjak dari situ.
"Dongsaeng yaaaaaaaa ....!!", teriak Junki.
Mino tidak membalikan badannya. Dia terus saja menaiki anak tangga yang agak melengkung itu, sampai menghilang dari pandangan kami.
"Hmmm ... anak ini .. benar-benar deh !!!", Mr. Lee mendengus kesal.
Keadaan disitu menjadi tegang seketika. Semua sibuk dengan pikirannya masing-masing. Untuk menghilangkan ketegangan itu, Mr. Lee akhirnya mengeluarkan suaranya.
"Junki, .. sebaiknya kamu mengajak Hyesun berjalan-jalan keluar ... dia baru saja sampai kemarin jadi saya rasa dia belum sempat melihat-lihat keindahan kota Seoul ... masih banyak yang mesti kami bicarakan ... kami tidak ingin pembicaraan kami sampai membosankan kalian .."
Junki menganggukan kepalanya. Dia membungkukan badan kearah papa dan Mrs. Goo kemudian meraih tanganku untuk diajak pergi dari situ.
"Ayo ... kita jalan-jalan keluar!"
Aku hanya pasrah saja mengikuti Junki ketika melihat dia begitu semangat dengan maksudnya tersebut.
**************
Aku dan Junki sekarang berada didalam mobil yang membawa kami dalam perjalanan ke Namsan Tower. Aku tidak tahu tempat itu seperti apa tapi menurut Junki itu tempat yang menarik dan patut untuk dikunjungi bagi siapa saja yang baru pertama kali menginjakan kakinya di kota Seoul.
"Mengapa dari tadi kamu diam saja? Apakah kamu tidak enak badan?", tanya Junki khawatir kepadaku.
Aku mengelengkan kepala. Berpikir untuk beberapa saat, kemudian berkata pelan ...
"Saya hanya merasa ada sesuatu yang menganjal ... saya khawatir ada yang tidak bisa menerima kehadiranku ....".
Junki langsung meledak ketawanya mendengar kekhawatiranku.
"Maksudmu .. dongsaengku, Mino? Ha..ha..ha.. jangan khawatirkan itu ... dia pasti akan menyukaimu.. seleranya tidak jauh beda denganku kok ...", senyum nakal di wajah Junki membuatku segera menundukan wajahku.
"Tapi.. dia ... dia kelihatan marah sekali tadi ..", kataku lebih lanjut tanpa berani mengangkat wajahku.
"Sikapnya memang begitu kok jadi kamu jangan memasukannya ke dalam hati, ... dan ........heyyyyyyy ... kamu tidak menganggap bahwa dia mempunyai kelainan jiwa kan ?"
Aku sangat terkejut mendengar pertanyaan Junki. Langsung kuangkat wajahku dan menatapnya dengan mata terbelalak.
"Tidakkkkkk!!!!! tentu saja tidak!!!.. mengapa kamu berpikir seperti itu?"
Junki tertawa terbahak-bahak melihat keterkejutanku yang amat sangat.
"Ha..ha..ha.. saya hanya bercanda kok.. jangan kamu anggap serius ... hmmm... tapi.. dulu kami benar-benar pernah berpikir bahwa Mino memang mempunyai kelainan jiwa tapi setelah diperiksa oleh dokter keluarga secara cermat, kami baru tahu bahwa dia normal-normal saja .. sikapnya yang pendiam itu memang sudah pembawaannya sejak lahir .. dia terlalu tenggelam dengan dunianya sendiri sehingga dia tidak begitu pandai bergaul dengan orang lain .."
"oooooo begitu ya ...berarti dia dan kamu sangat berbeda ya ..?"
"Maksudmu berbeda bagaimana?.. sifat kami atau tampang kami ....hhmmm ... saya jadi ingin tahu, .. dalam pandanganmu, saya dan Mino, cakepan siapa?", Junki kelihatan senang melihat akibat dari pertanyaannya yang membuatku terlonjak kaget.
"Hahhhhhh .. mengapa kamu bisa bertanya seperti itu? aku .. aku ...", kataku tergagap-gagap, tanpa dapat diartikan maksudnya.
"Ha..ha..ha..ha.. sudahlah ...saya hanya bercanda kok .. tidak usah kamu jawab jika memang sulit untuk dijawab, lagipula saya sudah tahu jawabannya ...", kata Junki sambil mengedipkan matanya.
Aku menghembuskan nafas lega mendengar perkataan Junki. Entah mengapa pada saat itu juga bayangan Mino yang selama ini selalu muncul di benakku hilang seketika. Mungkin ini disebabkan tanda tanya yang selama ini ada dihatiku terjawab sudah oleh Junki. Aku menatap Junki yang duduk disampingku dengan senyum simpul. Aku tahu aku akan menyukainya. Tidak!!! aku rasa aku mulai menyukainya.
************
Aku sampai di depan rumah sekitar pukul setengah sebelas malam. Junki membukakan pintu mobil untukku dengan sopan. Aku keluar dari mobil sambil tersenyum padanya.
"Sampai ketemu lagi ... ingat, jangan tidur terlalu malam, itu tidak baik untuk kesehatan .. semoga kamu mimpi yang indah .."
"Terimakasih!!"
Junki melambaikan tangan kepadaku, kemudian masuk ke dalam mobil. Beberapa saat kemudian, mobil yang ditumpanginya berlalu dari hadapanku.
"Mengapa noona pulang selarut ini?"
Suara Joongie yang keras dan tiba-tiba itu mengejutkanku. Aku membalikan tubuh kearahnya. Joongie berdiri di ambang pintu dengan tatapan tajam.
"Ohhhh ... kamu mengejutkanku saja !!! .. sejak kapan kamu berdiri disitu?", tanyaku sambil melotot kepadanya.
"Saya belum lama berdiri disini tapi .. cukup lama untuk mengetahui siapa yang mengantar noona pulang!!", jawabnya sinis.
Aku mengibaskan tanganku kearahnya dan ... tiba-tiba teriakan terdengar dari mulutku tanpa dapat kucegah lagi .........
"Akkhhhhhhh ..........kemana? ..'Sarang'....'Sarang'.."
Joongie menatapku heran. Ketika melihat aku meremas-remas benang hitam yang ada ditangan kananku, dia baru sadar maksud dari teriakanku.
"Ohh.. akhirnya benar-benar jatuh juga ... sudah saya katakan sejak semula bukan ? jika noona mengikatnya seperti itu, dia akan gampang jatuh .."
Aku tidak menghiraukan perkataan Joongie. Kuacak-acak rambutku dengan perasaan binggung.
"Bagaimana ini ? ... ohhhhhhhhh ... itu satu-satunya barang yang paling berharga dari mama ... aku menjatuhkannya ... ohh.. dimana aku menjatuhkannya?"
Joongie memandangku dengan perasaan kasihan. Aku masih berdiri diam ditempat sambil berpikir keras. Apakah boneka 'Sarang' terjatuh dimobilnya Junki? Jika benar begitu ... berarti Junki benar-benar jodohku. Aku mengelengkan kepalaku dengan keras. Tidak!!!!! aku tidak mempercayai hal-hal seperti itu.
"Noona jangan berdiri saja disitu ... boneka itu mungkin terjatuh di dalam rumah, sebaiknya kita mencarinya terlebih dahulu .."
Joongie mengandengku masuk kedalam rumah. Setengah jam kemudian kami habiskan dengan mengeledah seisi rumah, tapi boneka 'Sarang' tidak kami temukan juga. Akhirnya, kami berdua hanya bisa terduduk lemas di kursi kamarku. Malam semakin larut, karena kecapekan, aku dan Joongie terlelap dikursi, tempat kami terkapar tadi.
***************
Mino menuruni tangga yang menghubungkan kamarnya yang ada dilantai atas dengan ruang tamu di lantai bawah dengan langkah pelan. Saat itu sudah hampir pukul satu dini hari. Orang-orang rumah sudah terlelap dalam tidurnya. Kesunyian dan keheningan menyelimuti rumah besar itu.
Mino memandangi keadaan disekelilingnya dengan perasaan galau. Dia tidak dapat memejamkan matanya sejak tadi. Kejadian-kejadian kemarin siang masih terbayang-bayang dalam pikirannya. Dia merasa tidak puas. Mengapa gadis itu muncul pada saat yang tidak tepat? Sebentar lagi dia tamat dari kuliahnya dan bisa melakukan apa yang disukainya, tapi dengan kehadiran gadis itu semua rencananya akan terbengkalai.
Mino sampai di ruang bawah dengan pikiran yang masih menerawang. Dia melangkah ke deretan kursi yang ada disana tanpa menyadari apa yang akan dilakukannya. Tiba-tiba langkahnya terhenti ..... kaki kirinya menginjak sesuatu yang tergeletak agak di sudut kaki kursi paling kanan. Mino mengangkat kaki kirinya dan memperhatikan benda yang terinjak olehnya.
Mino mengerutkan dahinya. Benda itu tidak cocok dengan keadaan di rumah itu. Dengan masih terheran-heran, Mino memungut benda tersebut dari lantai. Benda itu merupakan sebuah boneka kecil dari kain yang sudah kumal, tidak menarik dan agak berlobang di kakinya.
Mino melangkah mendekati tong sampah yang terletak di pojok tangga dan bermaksud membuang boneka tersebut kedalamnya. Tapi ... dia menghentikan maksudnya itu dengan tiba-tiba ketika tertangkap olehnya pandangan dari sepasang mata boneka yang terjahit dari dua titik benang hitam itu. Pandangan itu begitu memelas, seakan meminta kepadanya untuk tidak membuangnya.
Seperti terhipnotis ... dengan perlahan Mino memasukan boneka kecil kumal itu kedalam saku celananya.
****************