Author Topic: OFF AIR ~ updated 2 April 2011  (Read 54704 times)

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
Re: OFF AIR chapter 3 updated 26 May 2010
« Reply #15 on: May 25, 2010, 08:54:50 pm »
Maaf ya updatenya kelamaan. Kalo lupa cerita chapter sebelumnya, scroll dikit aja dulu ke atas.

CHAPTER 3


Sepanjang hari ini Shin Bi tak henti merengek. Semenjak pulang dari sekolah, ia terus merajuk pada Mrs. Lee untuk dipertemukan dengan Yeo Won yang tengah menjalani syuting. Tabiat Shin Bi memang akan berubah menjadi rewel bila berjauhan dengan ommanya. Mrs. Lee kewalahan menghadapi Shin Bi yang terus saja menangis. Segala cara telah dicoba untuk merayu cucu semata wayangnya tersebut namun Shin Bi tetap saja tak bergeming.

“Omma, omma. Shin Bi mau bersama omma. Hu ... hu ... hu ...” ucap Shin Bi.

“Shin Bi-a, omma saat ini sedang bekerja. Shin Bi main dengan haelmoni saja ya” bujuk Mrs. Lee.

“Tidak mau! Pokoknya Shin Bi cuma mau omma saja! Hu ... hu ... hu ...” jawab Shin Bi.

Rumah besar keluaraga Lee menjadi ‘lebih hidup’ berkat tangis bocah yang masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanak ini.

*******

Minho sedang membaringkan tubuh di kasur dalam kamarnya. Walaupun kamar Minho berada di lantai 2 sedangkan Shin Bi menangis di lantai 1, volume suara Shin Bi yang sangat nyaring membuat Minho dapat dengan jelas mendengar tangisan keponakannya itu. Niat Minho untuk rehat sejenak setelah kembali dari Jeju tak bisa terlaksana dengan lancar. Setibanya di rumah, sekitar 25 menit yang lalu, Shin Bi memang sudah dalam keadaan demikian. Rasa lelah yang amat sangat memaksa Minho berlalu begitu saja di depan Shin Bi tanpa ada usaha untuk menenangkan gadis kecil itu.

Jam dinding yang baru saja dilirik Minho menunjukan tepat pukul 1 siang. Ini berarti sudah lebih dari 30 menit Shin Bi menangis. Ia tak tahan mendengar tangisan Shin Bi dan memutuskan untuk meninggalkan kamar. Minho mengayunkan kaki menuruni anak tangga sambil memegang sebuah boneka yang sudah lama dibeli namun belum sempat diberikan pada Shin Bi.

*******

Mrs. Lee yang dibantu beberapa pelayan belum berhasil ‘menjinakan’ Shin Bi. Wanita paruh baya ini menggeleng-gelengkan kepala melihat tangisan cucunya yang semakin menjadi. Kekeraskepalaan Shin Bi mengingatkan Mrs. Lee pada seseorang. Kini orang tersebut sudah berada persis di depannya dan sedang berusaha menenangkan Shin Bi.

“Shin Bi sayang, jangan nangis lagi ya. Paman punya hadiah untuk Shin Bi” ucap Minho sambil mengulurkan tangan yang memegang boneka ke arah Shin Bi.

“Tidak mau! Hu ... hu ... hu ...” jawab Shin Bi.

“Shin Bi tidak suka boneka ini? Bagaimana kalau paman belikan boneka yang lain? Shin Bi mau?” bujuk Minho sambil mengelus kepala Shin Bi. Hanya gelengan kepala yang diterima Minho. Shin Bi masih saja menangis tanpa ada tanda-tanda ia akan menghentikan tangisnya.

“Lalu Shin Bi maunya apa?” tanya Minho lagi.

“Hu ... hu ... hu ... omma! ... Shin Bi ... hu .. hu ... hu ... mau ... bersama omma” jawab Shin Bi.

Minho menghela napas. Ia yakin Shin Bi tidak akan berhenti menangis sebelum dipertemukan dengan ommanya. Minho, yang dari tadi jongkok di depan Shin Bi, berdiri lalu berkata, “Baiklah, paman akan mengantarkan Shin Bi bertemu omma” ucap Minho.

“Jeongmal? Paman mau mengantar Shin Bi ke tempat omma?” tanya Shin Bi yang langsung berhenti menangis setelah mendengar ucapan Minho tersebut.

Minho menjawab dengan anggukan. Matanya kini mendapati Shin Bi sedang meloncat-loncat kegirangan sambil bertepuk tangan.

“Minho-a, kau kan baru tiba. Sebaiknya istirahat dulu. Kau pasti masih lelah” ucap Mrs. Lee.

“Gwenchana. Aku sudah tidak lelah” jawab Minho pada Mrs. Lee.

“Shin Bi-a, paman mandi dulu. Shin Bi tunggu sebentar dan tidak boleh menangis lagi” ucap Minho pada Shin Bi.

“Jadi paman belum mandi? Ih, paman bauuuuuuuu” jawab Shin Bi sambil memencet lubang hidungnya dengan jari.

“Yya! Jangan mengatai paman demikian. Sewaktu berangkat dari Jeju paman sudah mandi tapi paman ingin mandi lagi agar lebih segar. Arasso!” jawab Minho.

“ooo ... Arasso, paman. Ayo cepat sana, katanya paman mau mandi” jawab Shin Bi sambil mendorong Minho menuju tangga.

Minho menaiki satu per satu anak tangga menuju kamarnya dengan Shin Bi yang masih setia mengekori dan tetap mendorongnya. Bukan kejengkelan yang dirasa Minho terhadap tingkah polah Shin Bi, ia justru semakin gemas dengan keponakannya itu.

“Shin Bi-a, nanti paman jatuh kalau didorong terus” ucap Minho sambil mencubit gemas pipi gembul Shin Bi.

“Habis paman jalannya lambat seperti siput” jawab Shin Bi.

“Yya! Kalau Shin Bi terus mengatai paman, paman tidak jadi mengatar Shin Bi bertemu omma” ancam Minho.

“Mwo? He ... he ... he ... miane” jawab Shin Bi sambil terkekeh.

Shin Bi terus mengikuti Minho sampai kamar. Saat pintu kamar terbuka, Minho mendengar ponselnya berdering. Ia langsung menjawab panggilan tersebut yang ternyata dari Sang Ji, managernya.

“Yeoboseyo, ada apa hyung?” tanya Minho.

“Minho-ssi, iklan barumu sudah keluar di TV. Dari pagi hingga saat ini sudah lebih dari 20 kali iklan tersebut ditayangkan di berbagai station” ucap Sang Ji.

“Jeongmalyo? Cepat sekali iklan itu beredar, padahal baru 2 hari yang lalu pengambilan gambarnya selesai” tanya Minho sambil melirik ke arah Shin Bi saat gadis kecil itu menarik-narik ujung kemejanya.

“Ne. Mereka langsung masuk ruang editing setelah selesai syuting supaya iklan ini bisa segera tayang sebelum pamormu sebagai Goo Jun Pyo hilang. Kurasa 2 hari sudah lebih dari cukup untuk mengedit iklan. Omong-omong, apa kau sudah melihatnya?” tanya Sang Ji.

“Anhi. Aku belum sempat nonton TV” jawab Minho.

“Hyung-a, apa ada lagi yang ingin kau sampaikan?” tanya Minho. Ia bermaksud mempersingkat pembicaraannya karena Shin Bi terus berteriak mengucapkan “Paman cepat sana mandi! Shin Bi mau bertemu omma!”

“Tidak ada. Aku hanya ingin menyampaikan itu. Kau sedang bersama Shin Bi?” tanya Sang Ji yang berhasil menangkap suara Shin Bi di ujung telepon.

“Ne. Ia merengek bertemu ommanya” jawab Minho.

“Tadi pagi aku bertemu Yeo Won-ssi di studio MBC. Shin Bi bisa bertemu ommanya di sana” ucap Sang Ji.

“Arayo. Hyung-a, sudah dulu ya. Aku harus mengantar Shin Bi sekarang” jawab Minho saat rengekan Shin Bi bertambah parah.

“Baiklah. Ah, chakamanyo! Minho-ssi, jangan lupa besok ada promo tour BOF ke Jepang bersama pemain yang lain. Pesawat akan berangkat jam 9 pagi” ucap Sang Ji.

“Ne. Aku ingat” jawab Minho.

Selesai menerima telepon Sang Ji, Minho langsung bergegas ke kamar mandi. Shin Bi belum beranjak dari kamar Minho. Ia bernyanyi dengan riang sambil menunggu Minho selesai mandi. Sesekali Shin Bi berteriak pada Minho, “Paman, mandinya jangan lama-lama!”

*******

Galeri Hyesun
Hyesun berjalan mondar-mandir di depan pintu galeri. Hari ini ia dan Seon Mi berencana membeli beberapa keperluan pameran. Namun sudah 30 menit dari waktu yang mereka sepakati, Seon Mi belum juga muncul.

Beberapa saat kemudian ponsel Hyesun berdering. Ia baru saja mendapat kabar dari Seon Mi bahwa asistennya itu akan sampai 20 menit lagi karena terjebak kemacetan.

Selesai menerima telepon, Hyesun duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan televisi. Hyesun meraih remote yang tergeletak di meja dan bermaksud menonton TV sambil menanti kedatangan Seon Mi. Baru saja ibu jarinya menekan tombol ‘ON’ pada remote, mata Hyesun sudah terbelalak lebar. Ia dikejutkan oleh sebuah tayangan iklan yang bintang utamanya sudah tak asing lagi. Hyesun mengikuti alur cerita iklan tersebut dengan napas memburu. Mata bundar Hyesun semakin membulat tatkala iklan itu mencapai klimaksnya.

Hyesun langsung menekan tombol ‘OFF’ pada remote. Tidak sampai lima menit televisi itu menyala. Adegan yang baru saja disaksikan tadi membuat Hyesun tidak betah berlama-lama menonton TV. Ia kembali berjalan mondar-mandir. Kali ini bukan lantaran Seon Mi belum juga menampakkan batang hidungnya. Iklan yang baru saja dilihatnyalah yang menyebabkannya gusar seperti itu.

“Ottoke ...” ucap Hyesun dengan panik.

Kemudian Hyesun berjalan mendekati meja bundar yang terletak di depan sofa lalu meraih ponsel yang tergeletak di sana. Hyesun hendak menelepon sebuah nomor yang sudah 6 hari ini tidak masuk ke dalam daftar ‘Received Calls’ pada ponselnya.

“Pabo, Hyesun-a. Kau tidak mungkin menghubunginya setelah kejadian di galeri waktu itu” ucap Hyesun sambil mendaratkan pukulan di keningnya sendiri.

Hyesun pun mengganti sasarannya dan memilih menelepon Min Jung. Min Jung dirasa paling cocok untuk dihubungi dalam keadaan seperti ini.

Saat Min Jung mengangkat teleponnya, Hyesun segera berkata, “Yeoboseyo. Min Jung-a, aku perlu bantuan mu. Tolong kau ...”

“Telepon Minho dan tanya di mana dia sekarang” ucap Min Jung menyela kalimat Hyesun.

“Mwo? Ternyata kau sudah bisa menebaknya. Baguslah. Aku jadi tidak perlu menjelaskan tugasmu lagi” kata Hyesun.

“Tidak mau! Sudah dua kali kau meminta aku melakukan hal aneh ini” tolak Min Jung.

“Min Jung-a, kumohon bantu aku sekali lagi. Hanya kau yang bisa menolongku” pinta Hyesun dengan suara memelas, persis seperti Shin Bi yang merengek minta bertemu Yeo Won.

Bujukan Hyesun tidak mengubah pendirian Min Jung. Ia menjawab dengan tegas menggunakan kalimat berikut, “TIDAK MAU! Kecuali ...”

“Kecuali apa?” potong Hyesun.

“Kecuali kau mau bercerita apa yang sebenarnya terjadi antara kau dan Minho hingga kau menjadi aneh seperti ini” jawab Min Jung.

“Aish ... itu perkara mudah. Aku akan menceritakan semuanya nanti. Tapi sekarang cepatlah kau telepon Minho. Kumohon, Min Jun-a” bujuk Hyesun lagi.

“Aigoo. Baiklah. Kau menang. Aku akan meneleponnya sekarang” jawab Min Jung.

“Gomawoyo. Kau memang sahabat terbaikku” ucap Hyesun.

“Sudah hentikan pujianmu. Aku tutup dulu ya” jawab Min Jung.

“Ne” ucap Hyesun. Hyesun baru saja ingin menutup telepon tapi saat menyadari ada sesuatu yang terlupa ia buru-buru menahan telepon Min Jung dan berkata, “Chakamanyo! Min Jung-a, kau jangan ...”

“Jangan bilang kalau kau yang menyuruhku menelepon Minho. Itukan yang mau kau ucapkan?” tanya Min Jung.

“Ne. Ternyata hal ini juga bisa kau tebak ya” jawab Hyesun.

“Tentu saja. Ini sudah untuk yang kesekian kalinya. Jadi aku sudah hafal peraturan anehmu itu” ucap Min Jung

Kali ini percakapan Hyesun dan Min Jung benar-benar telah terputus.

*******
Kamar Minho

Kring ... Kring ... Kring ...

“Paman, teleponmu berdering” ucap Shin Bi yang masih bertahan di kamar Minho.

“Shin Bi angkat saja. Tekan tombol hijau. Katakan paman sedang mandi” teriak Minho dari dalam kamar mandi.

“Ne. Arasso, paman” jawab Shin Bi.

“Yeoboseyo. Aku Shin Bi. Aku keponakan paman Minho. Kamu siapa ya? Ada perlu apa dengan paman Minho?” tanya Shin Bi pada ponsel Minho.

“Shin Bi? Benarkah kau Shin Bi?” tanya Min Jung.

“Ne. Aku Shin Bi. HAN ... SHIN ... BI, keponakan PAMAN ... MIN ... HO” jawab Shin Bi dengan penekanan pada beberapa kata.

“Shin Bi tidak kenal ini suara siapa? Ini bibi Min Jung” ucap Min Jung.

“ooo ... rupanya bibi Min Jung. Bibi mau bicara dengan paman? Tapi paman sekarang sedang mandi” jawab Shin Bi.

“Paman sudah kembali dari Jeju?” tanya Min Jung.

“Ne. Paman baru saja sampai” jawab Shin Bi.

“Jadi paman Minho sekarang ada di rumah?” tanya Min Jung lagi.

“Ne” jawab Shin Bi.

*******

Galeri Hyesun

Hyesun gelisah menanti telepon dari Min Jung. Biasanya Min Jung tidak pernah telat melaporkan hasil investigasinya. Setelah 10 menit lelah menunggu, Hyesun memutuskan menelepon Min Jung dan mendapati telepon yang dituju tersebut dalam keadaan sibuk. Informannya ini ternyata keasyikan ngobrol ngarol-ngidul dengan Shin Bi hingga lupa akan tugas yang diembannya. Lima menit kemudian akhirnya telepon Hyesun berdering juga.

“Jadi Minho sedang berada dirumah?” tanya Hyesun guna mempertegas info yang baru saja diberikan Min Jung.

“Ne” jawab Min Jung.

“Baiklah aku akan ke sana. Gomawo, Min Jung-a” ucap Hyesun. Min Jung baru saja hendak menagih janji Hyesun untuk menceritakan kejadian sebenarnya, namun keburu terdengar bunyi tut ... tut ... tut ... dari ponselnya.

Seusai menutup ponsel, Hyesun langsung bergegas meninggalkan galeri. Tepat di depan pintu galeri, langkahnya terhenti.

“Andwe! Aku tidak boleh menemui Minho. Nanti apa yang harus aku katakan .... Tenang, Hyesun-a. Kau harus bisa mengendalikan dirimu” ucap Hyesun seorang diri.

Hyesun tengah menghadapi sebuah dilemma. Ia bingung harus menemui Minho atau tidak. Peristiwa di galeri beberapa hari yang lalu menahan Hyesun untuk pergi mengunjungi Minho. Namun tayangan iklan yang baru saja dilihatnya mendorong Hyesun bertemu Minho.

“Ottoke? Apa yang sebaiknya kulakukan” ujar Hyesun yang mulai tampak putus asa.

Lima belas menit sudah pergulatan seru dalam hati Hyesun berlangsung. Kedua tangannya yang terkepal kuat dapat dijadikan indikator bahwa Hyesun sudah berhasil mengambil sebuah keputusan. Peristiwa di galeri yang selalu menghambatnya menghubungi Minho kini tak mampu lagi menahan Hyesun untuk menemui Minho. Adegan iklan TV yang baru disaksikannya lebih kuat mendorong Hyesun pergi mencari Minho.

“Aku tidak perduli apa yang harus kukatakan nanti. Pokoknya aku harus menemuinya sekarang juga. Tidak bisa tidak!” ucap Hyesun dengan penuh keyakinan.

Tak berapa lama Hyesun sudah berada dalam mobil dan saat akan mengijak pedal gas tiba-tiba ada yang membuka pintu samping mobilnya. Hyesun melihat Seon Mi terengah-engah dan langsung duduk manis di samping Hyesun.

“Seon Mi-a, apa yang kau lakukan?” tanya Hyesun.

“Miane, Hyesun-ssi. Jalanan sungguh macet. Kita bisa berangkat sekarang” jawab Seon Mi yang masih belum bisa mengatur irama pernapasannya.

“Aish .. kau ini ... Seon Mi-a, aku mau ke ... ah, sudahlah cepat pakai sabuk pengamanmu” ucap Hyesun.

Pedal gas terinjak dengan kuat oleh kaki Hyesun. Mobil yang ditumpangi Hyesun dan Seon Mi melaju dengan cepat membelah jalan raya. Kemacetan yang dialami Seon Mi hanya terjadi di ruas jalan yang menuju galeri sedangkan kendaraan yang menggunakan arah sebaliknya dapat berlenggang dengan lancar. Hal ini membuat Hyesun semakin menginjak kuat pedal gas tanpa mengubris Seon Mi yang sedari tadi berteriak ketakutan.

Jarum speedometer di mobil Hyesun menunjuk ke angka nol. Keliaran Hyesun sepanjang jalan tadi dihentikan oleh lampu merah. Seon Mi memanfaatkan kesempatan ini untuk menormalkan degup jantungnya. Ia sengaja menoleh ke luar jendela untuk merefresh otaknya. Saat melempar pandangan ke luar jendela, mata Seon Mi tertarik dengan sebuah mobil merah di ruas jalan sebelah mereka. Mobil itu ditumpangi oleh seorang pria sebagai pengemudi dan seorang gadis kecil duduk di samping pria tadi.

Seon Mi seperti mengenal pria tersebut. Ia terus mengamati tanpa bersuara sedikitpun. Seon Mi memperkuat daya akomodasi matanya supaya bisa mengenal sosok yang sedang dicermati. Beberapa saat kemudian ia dapat menyimpulkan siapa pengemudi mobil merah itu.

“Bukankah itu Min ... Ahhh! Hyesun-ssi, kumohon mengemudinya pelan-pelan saja. Jantungku sudah mau copot” ucap Seon Mi saat Hyesun tiba-tiba menginjak gas setelah lampu hijau menyala. Ia sudah tidak lagi memperdulikan siapa pria dalam mobil merah tadi. Yang terpenting bagi Seon Mi saat ini adalah keselamatannya bersama Hyesun.

“Kau jangan cerewet. Aku sedang terburu-buru” jawab Hyesun.

*******
Mobil Minho

Shin Bi terlihat gembira duduk di samping Minho yang sedang mengemudikan mobil merahnya. Gadis kecil itu tidak berhenti bernyanyi riang meski irama dan lirik lagu yang didendangkannya tak seiring sejalan. Minho tersenyum geli mendengar nyanyian Shin Bi yang tidak jelas juntrungannya. Kesedihan yang dirasakan Minho sejak beberapa hari lalu terhenti sejenak akibat ulah lucu keponakan kecilnya itu.

“Shin Bi-a, sewaktu paman mandi siapa yang menghubungi ponsel paman?” tanya Minho.

“Bibi Min Jung” jawab Shin Bi dengan cepat dan langsung kembali bernyanyi. Ia seolah tidak mau diganggu karena tengah asyik bernyanyi.

“Bibi Min Jung? Apa yang dikatakannya?” tanya Minho lagi.

“Tidak ada” jawab Shin Bi, masih dengan cara yang sama seperti semula.

Minho tidak lagi menggangu keasyikan Shin Bi bernyanyi. Ia lebih memilih menghubungi Min Jung dan bertanya langsung pada yang bersangkutan.

“Yeoboseyo. Ada apa kau tadi meneleponku?” tanya Minho lewat hands free yang tersambung dengan ponsel.

“Anhiyo. Aku hanya ingin tahu apa kau sudah kembali dari Jeju” jawab Min Jung.

“Wae? Akhir-akhir ini kau sering menghubungiku dan selalu menanyakan keberadaanku. Aneh sekali, tidak biasanya kau seperti ini” ucap Minho yang mulai menaruh curiga pada tingkah laku Min Jung.

“ooo ... ehmm ... Yya, kau ini kan sepupuku jadi wajar saja kalau aku memperhatikanmu” jawab Min Jung.

“Aigoo, kau membuatku merinding. Seorang Lee Min Jung bisa penuh perhatian juga pada sepupunya” ucap Minho sambil tersenyum.

“Aish! Sudah, jangan mengejekku lagi. Minho-a, sepertinya ada yang bernyanyi, apa itu suara Shin Bi?” tanya Min Jung.

“Ne. Yang bernyanyi itu memang Shin Bi. Padahal dari tadi dia menangis terus. Saat aku bilang akan mengajaknya bertemu noona ia langsung ceria” jawab Minho.

“Mwo? Kau mengajak Shin Bi menemui Yeo Won onnie?” tanya Min Jung lagi.

“Ne. Hanya ini satu-satunya cara menghentikan tangisan Shin Bi” jawab Minho.

“Bukankah Yeo Won onnie sedang syuting?” tanya Min Jung.

“Begitulah. Aku sedang menuju studio MBC sekarang” jawab Minho.

“MWORAGU? Jadi saat ini kau sedang tidak di rumah?” tanya Min Jung dengan cemas.

“Ne. Aku sedang di jalan. Kau ini kenapa banyak sekali bertanya, membuat aku pusing saja” jawab Minho.

“Yya! Tingkah kalian itu yang membuat kepala ku pusing tujuh keliling. Harusnya kau tidak boleh pergi kemana-mana karena Hye ... Aish! Hampir saja ...” Min Jung tidak melanjutkan kalimatnya. Ia memutus telepon Minho dan segera menghubungi Hyesun.

“Tingkah kalian? Apa maksudnya? Min Jung benar-benar aneh” ujar Minho seorang sendiri sambil menggelengkan kepala.

*******
Mobil Hyesun

“MWORAGU? Dia tidak ada di rumah” ucap Hyesun setelah mendengar informasi terbaru dari Min Jung.

“Ne. Minho sedang menuju studio MBC untuk mengantar Shin Bi bertemu ommanya” jawab Min Jung.

“Baiklah kalau begitu. Aku segera ke sana. Gomawoyo” jawab Hyesun.

Tubuh Seon Mi terhempas ke depan ketika Hyesun tiba-tiba menginjak rem di saat mobil melaju kencang. Hyesun memutar stir dan berbelok di ruas jalan yang terdapat rambu dilarang berbalik arah.

“Hyesun-ssi, apa yang kau lakukan? Kita tidak boleh berbalik arah di sini” tegur Seon Mi.

“Gwenchana. Aku sungguh sedang terburu-buru” jawab Hyesun.

“Hyesun-ssi. Kumohon pelankan mobilmu. Lagi pula bukankah kita mau membeli perlengkapan pameran. Kenapa kita lewat jalan ini” ucap Seon Mi.

Hyesun tidak menanggapi ucapan Seon Mi. Ia kembali memacu mobil dengan kecepatan tinggi. Hingga akhirnya suara sirine mobil polisi terdengar meraung-raung dan memaksa Hyesun menginjak rem mobil.

Polisi memeriksa Hyesun dengan teliti. Hyesun beralasan bahwa ia sedang diburu waktu hingga terpaksa harus memutar balik di tempat yang dilarang. Sungguh malang nasib mereka. Polisi yang menilang Hyesun bertindak sangat disiplin. Ia tidak bisa dibujuk dengan uang pelicin. Hyesun bahkan tidak mendapat perlakukan khusus walau menyandang predikat sebagai seorang artis. Mereka dibawa ke kantor polisi guna pemeriksaan lebih lanjut dengan tuduhan melanggar rambu lalu lintas dan mengemudikan mobil dengan kecepatan terlampau tinggi.

*******
Gedung MBC

Minho dan Shin Bi sudah tiba di gedung MBC. Tempat yang langsung mereka tuju adalah studio 6, lokasi syuting Yeo Won. Kru yang melihat kedatangan Minho dan Shin Bi langsung mengarahkan mereka menuju keberadaan Yeo Won yang saat itu sedang break syuting.

“OMMAAA” Shin Bi berteriak sekencang-kencangnya memanggil Yeo Won yang terlihat asyik menikmati alunan lagu melalui earphone dengan tubuh masih lengkap terbalut kostum dari wardrobe syuting.



Saking kerasnya teriakan Shin Bi, lagu yang sedang mengalun di telinga Yeo Won berhasil dikalahkan. Suara Shin Bi dapat menembus masuk gendang telinga Yeo Won meski kedua lubang telinga ibu muda ini tersumbat earphone. Yeo Won tak bisa menahan keterkejutan ketika melihat Shin Bi berlari ke arahnya. Ia merentangkan kedua tangan lebar-lebar untuk menyambut kedatangan putrinya yang tiba-tiba. Shin Bi langsung menghambur ke dalam pelukan ommanya. Yeo Won mendekap Shin Bi sambil memandang ke arah Minho.

“Shin Bi-a, kenapa bisa ada di sini?” tanya Yeo Won.

“Shin Bi mau bersama omma” jawab Shin Bi yang masih enggan melepaskan pelukannya.

“Dia menangis terus di rumah. Jadi kuputuskan membawanya ke sini” jawab Minho.

Yeo Won mendudukan Shin Bi di atas pangkuannya. Sementara Minho duduk di samping Yeo Won.

“Shin Bi tidak boleh menangis kalau tidak ada omma. Shin Bi kan anak omma yang paling pintar, jadi tidak boleh cengeng” ujar Yeo Won.

“Tapi Shin Bi kangen sama omma” jawab Shin Bi polos.

Yeo Won dan Minho tersenyum menyaksikan kepolosan Shin Bi. Gadis kecil itu memang tak dapat disalahkan. Wajar bila anak seusia Shin Bi tidak bisa dipisahkan dari sosok seorang ibu.

“Kapan kau kembali dari Jeju?” tanya Yeo Won pada Minho.

“Beberapa jam yang lalu” jawab Minho.

“Apa kau sudah baikan?” tanya Yeo Won lagi.

Minho hanya menjawab pertanyaan Yeo Won dengan seyum penuh paksaan. Yeo Won mengelus-elus punggung Minho guna menyalurkan semangat pada adiknya.

“Shin Bi-a, paman baru pulang dari Jeju dan sekarang harus mengantar Shin Bi bertemu omma. Apa Shin Bi tidak kasihan pada paman. Lihat, wajah paman sangat kusut” ucap Yeo Won sambil mengarahkan telunjuk ke wajah Minho.

“Paman, gwenchanayo? Apa paman sakit?” tanya Shin Bi.

“Anhyo. Gwenchana. Selama Shin Bi tidak menangis seperti tadi, paman akan baik-baik saja” ucap Minho sambil mencubit pipi keponakannya.

Shin Bi beranjak dari pangkuan Yeo Won. Ia memandangi ommanya dengan mata berbinar.

“Wah ... omma cantik sekali dengan pakaian seperti ini. Tidak ada yang bisa menandingi kecantikan omma” ucap Shin Bi.

Minho dan Yeo Won kembali dibuat tertawa oleh ucapan Shin Bi.

“Jeongmalyo? Sungguhkah tidak ada yang bisa menandingi kecantikan omma?” tanya Yeo Won.

“Tentu saja!” ucap Shin Bi

“Anhi ... Anhi ... Shin Bi lupa ternyata ada yang lebih cantik dari omma” Shin Bi segera meralat pernyataan awalnya.

“Siapa?” tanya Yeo Won penasaran. Minho juga dibikin penasaran berkat ulah keponakannya ini. Ia dan Yeo Won tak melepaskan pandangan ke arah Shin Bi sambil menunggu jawaban gadis kecil itu.

“BIBI HYESUN!” jawab Shin Bi dengan mantap sambil memamerkan senyum polosnya.



“MWO!” ucap Minho dan Yeo Won serempak. Mata Minho terbelalak lebar sedangkan Yeo Won hanya bisa tersenyum sambil melirik ke arah Minho.



“Omma, Shin Bi ingin bertemu bibi Hyesun. Apakah omma syuting bersamanya?” tanya Shin Bi.

“Anhyo. Yang syuting bersama bibi Hyesun adalah paman bukan omma” jawab Yeo Won.

“Paman, Shin Bi ingin bertemu bibi Hyesun. Shin Bi kangen sekali padanya. Waktu menemui paman di tempat syuting, Shin Bi cuma sebentar bermain dengan bibi Hyesun. Antarkan Shin Bi bertemu bibi Hyesun ya paman” ucap Shin Bi sambil menarik-narik lengan baju Minho.

Minho tak tahu harus bilang apa pada Shin Bi. Di saat ia ingin menghindari segala sesuatu yang berhubungan dengan Hyesun, malah keponakannya sendiri yang merengek ingin bertemu Hyesun. Minho kelabakan menanggapi permintaan Shin Bi. Melihat adiknya tak berkutik di depan putrinya, Yeo Won berusaha menengahi.

“Shin Bi-a, paman baru tiba dari Jeju dan langsung mengantar Shin Bi ke sini. Sekarang Shin Bi minta diantar bertemu bibi Hyesun. Lalu kapan paman bisa istirahat?” tanya Yeo Won.

Shin Bi hanya menjawab pertanyaan tersebut dengan sebuah tawa kecil yang makin membuat Yeo Won dan Minho bertambah gemas terhadap gadis cilik ini.

*******
Satu jam lamanya Hyesun dan Seon Mi tertahan di kantor polisi. Setelah mendapat pengarahan dan berjanji tak akan mengulangi tindakan tadi, mereka diizinkan meninggalkan kantor polisi.

Mobil Hyesun kembali melaju namun kali ini dengan kecepatan sangat rendah. Bukan karena Hyesun takut ditilang lagi, melainkan karena mobil mereka terjebak dalam kemacetan.

“Aish ... Sial benar aku hari ini” ucap Hyesun sambil memukul stir mobil.

*******
Setelah 50 menit mobil yang ditumpangi Hyesun dan Seon Mi hanya bisa parkir di jalan raya tanpa ada pergerakan berarti, akhirnya mereka dapat terbebas dari kemacetan yang ternyata disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas.

“Hyesun-ssi, kumohon pelankan mobilmu jika tidak ingin bernasib seperti mereka” ucap Seon Mi sambil menunjuk ke korban kecelakaan.

“Arayo” jawab Hyesun singkat. Ia merasa tidak perlu menambah kecepatan mobil karena gedung MBC sudah terletak di depan mata.

Seon Mi terbengong melihat mobil yang dikendarai Hyesun memasuki gedung MBC. Hyesun menghentikan mobil di halaman MBC dan menyuruh Seon Mi memarkirkan mobil. Ia langsung berlari memasuki gedung MBC.

“Katanya mau membeli keperluan pameran, kenapa malah mengajakku ke sini” gerutu Seon Mi sambil mengijak gas dan membawa mobil Hyesun ke tempat parkir.

Hyesun yang sudah berada dalam gedung segera menghampiri resepsionis di lobi utama MBC. Ia bertanya dimana bisa bertemu dengan Lee Yeo Won. Setelah mendapat petunjuk dari resepsionis, Hyesun langsung memasuki lift dan menekan tombol 6.

*******

Yeo Won melihat Minho tampak kelelahan. Jari telunjuk Yeo Won mengarah ke suatu ruangan khusus pemain dan menyuruh Minho beristirahat di sana. Minho menuruti nasehat Yeo Won karena memang dari tadi ia ingin merebahkan tubuh jangkungnya. Minho berjalan mendekati ruang istirahat khusus kakaknya sedangkan Shin Bi masih terus saja menempel pada Yeo Won.

Hyesun keluar dari lift. Pandangannya langsung diedarkan ke penjuru ruangan. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Minho. ‘Apa dia sudah meninggalkan tempat ini?’ tanya Hyesun dalam hati. Hyesun mengira ia datang terlambat dan Minho sudah keburu pergi.

Keberadaannya di gedung MBC tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Hyesun harus melewati berbagai rintangan. Mulai dari selisih jalan dengan Minho, ditilang dan dibawa ke kantor polisi sampai terjebak kemacetan yang sungguh tak bersahabat. Ia bisa melewati semua rintangan itu karena termotivasi oleh semangat menggebu untuk bertemu Minho. Semangatnya sirna seketika setelah semua hambatan berhasil diterobos namun ternyata ia belum juga menemukan Minho. Hyesun sudah tak bertenaga lagi karena energinya terkuras habis setelah melewati hari sialnya ini. Matanya tiba-tiba terasa panas. Tanpa disadari oleh Hyesun sepasang aliran air terbentuk di kedua pipinya.

‘Dimana kau Lee Min Ho’ ucap Hyesun dalam hati.

Setelah lelah berkeliling ke beberapa ruangan namun tak kunjung menemukan Minho, Hyesun mengeluarkan ponsel dan bermaksud meminta pertolongan lagi pada Min Jung. Niat itu tak jadi terlaksana saat mata Hyesun yang masih dipenuhi air berhasil menangkap sesosok pria bertubuh janggung sedang berjalan memasuki ruang istirahat khusus pemain. Hyesun berlari mengandalkan sisa tenaganya tanpa sempat menghapus cucuran air pada wajahnya.

Minho terkejut ketika tiba-tiba tangannya diraih seseorang. Ia menjadi lebih terkejut saat menolehkan kepala dan melihat pemilik tangan tersebut adalah Hyesun. Keterkejutan Minho semakin memuncak mendapati Hyesun berdiri di depannya dengan wajah dipenuhi linangan air mata.

“Hyesun-a, waegude?” tanya Minho penuh rasa cemas.

Bukannya menjawab, Hyesun justru menangis makin sedih. Minho memutuskan membawa Hyesun ke dalam ruangan kakaknya. Minho mengunci pintu dan menutup tirai jendela. Ia tidak ingin orang lain melihat mereka dalam keadaan seperti ini. Untunglah pada saat itu tidak ada pasang mata yang menangkap keberadaan mereka. Para kru dan rekan pemain Yeo Won sedang keluar untuk makan siang.

“Gwenchana? Apa kau sakit?” tanya Minho setelah mereka berada dalam ruang istirahat Yeo Won.

“Hu ... hu ... hu ... Minho-a ... hu ... hu ... kau ... hu ... hu ... jahat sekali ... pada ku” ucap Hyesun ditengah isak tangisnya.

Mendengar jawaban Hyesun, Minho langsung memutar otak dan berpikir keras kesalahan apa yang telah diperbuatnya pada Hyesun hingga gadis yang amat ia cintai menangis sesedih itu.

‘Pabo, Minho-a’ umpat Minho dalam hati ketika tidak berhasil menemukan penyebab kesedihan Hyesun.

Karena tidak tega melihat Hyesun menangis sesedih itu, tangan kanan Minho menarik tubuh Hyesun ke dalam pelukannya. Hyesun menangis sejadi-jadinya di sana. Seluruh perasaannya ditumpahkan dalam pelukan Minho. Mulai dari rasa kesal atas kesialan hari ini sampai sebuah rasa yang, entah apa namanya, timbul setelah Hyesun melihat iklan baru Minho.



Minho memeluk erat tubuh Hyesun. Tidak ada yang lebih menyakitkan bagi Minho selain kesedihan Hyesun. Hatinya terasa tambah perih ketika teringat bahwa dia-lah yang menyebabkan Hyesun dirundung pilu seperti itu.

Lima menit sudah Minho mendekap Hyesun. Tangis Hyesun kini semakin mereda. Minho melepaskan pelukannya dan membimbing Hyesun duduk di sofa dekat jendela.

“Sudah merasa baikkan?” tanya Minho lembut.

Pertanyaan Minho hanya dijawab dengan anggukan kecil tak bertenaga dari Hyesun. Minho memperhatikan wajah Hyesun. Sudah 6 hari ia tak melihat wajah itu. Minho sungguh merindukannya namun mengapa mereka harus berjumpa dalam keadaan demikian.

Minho tidak sanggup melihat kondisi Hyesun saat ini. Mata Hyesun merah dan seluruh wajahnya tampak lusuh. Minho mengambil sehelai tisu dari kotak tisu yang berada di samping sofa. Ia berniat mengusap air mata Hyesun, tapi tangan kanan Hyesun keburu menyambar tisu tersebut. Hyesun menolak bantuan Minho untuk menghapus air matanya. Ia lebih memilih melakukannya dengan tangannya sendiri. Tambah sedihlah perasaan Minho. Tidak biasanya Hyesun menolak perhatian darinya.

“Kenapa kau menangis seperti ini?” tanya Minho lagi.

Hyesun tidak langsung menjawab pertanyaan Minho. Ia diam beberapa saat sambil berusaha menata perasaannya yang kacau balau.

“Aku ... sudah melihat itu” jawab Hyesun dengan suara yang berat.

“Lihat apa?” tanya Minho penasaran.

“Iklan barumu” jawab Hyesun singkat.

“Iklan baruku?” tanya Minho yang kini makin penasaran.

“Ne, iklan barumu dengan Sandara Park” jawab Hyesun.

Minho menegakkan posisi duduknya. Jawaban Hyesun masih belum bisa dicerna karena tidak memperjelas teka-teki seputar penyebab kesedihan gadis itu.

“Lalu ... ada apa dengan iklan itu?” Minho kembali bertanya.

“Kau ... dan Sandara (Hyesun diam beberapa detik) ... kalian ... berciuman?” tanya Hyesun.

Minho tersentak dengan pertanyaan Hyesun. Ia tidak langsung menanggapi pertanyaan tersebut.

“Ne, scenario menginginkan seperti itu” jawab Minho setelah beberapa saat terdiam.

“Apa ada yang salah? Penampilanku ku jelek ya?” tanya Minho ragu.

“Ya, tepat sekali! Penampilan mu itu benar-benar jelek!” kata Hyesun dengan suara yang tiba-tiba meninggi.

“Mwo?” tanya Minho heran.

“Lee Min Ho! Kau ini keterlaluan sekali! Kau tidak memikirkan perasaanku ya?! Mudah sekali kau berciuman dengan gadis lain setelah kau mengatakan ...” Hyesun tidak menyelesaikan kalimat yang diucapkannya dengan penuh amarah.

Minho kembali terdiam. Ia mencoba mencerna setiap ucapan dan tingkah aneh Hyesun. Minho berusaha menelaah semua perkataan Hyesun untuk menarik sebuah kesimpulan. Tidak memerlukan waktu yang lama bagi Minho sampai akhirnya menyadari satu hal. Senyum lebar mengembang di bibirnya.

‘Kena kau’ gumam Minho dalam hati, masih dengan bibir yang tersenyum. Sebelum Hyesun melihat senyum sumringahnya, Minho langsung menyembunyikannya. Ia lalu bersikap normal seolah-olah tak ada yang salah dengan sikapnya.



“Lho, memang kenapa kalau aku berciuman dengan gadis lain? Itukan hanya tuntutan scenario. Ketika sutradara bilang ‘cut’ maka selesailah semua” ucap Minho.

“Tapi, sebaiknya kau bilang dulu padaku” jawab Hyesun.

“Waeyo?” tanya Minho.

“Karena ... “ Hyesun berhenti sejenak untuk mengarang alasan.

“Karena aku sudah terbiasa dengan sikapmu yang terbuka padaku. Kau selalu cerita apapun padaku, termasuk tentang pekerjaan” jawab Hyesun.

Minho yakin jawaban Hyesun hanya alasan demi sesuatu yang berusaha ditutupinya. Minho hanya diam menunggu kalimat Hyesun berikutnya.

“Kalau dari awal kau cerita, aku jadi punya persiapan saat menyaksikan iklan itu” jawab Hyesun.

“Persiapan apa maksudmu?” tanya Minho.

“Persiapan ... ehmmm ... ya pokoknya persiapan. Apa pedulimu dengan persiapanku!” kata Hyesun dengan pandangan nanar.

Minho tidak tahan dengan sikap lucu Hyesun. Ia tak bisa membendung senyumnya yang kali ini dibarengi dengan suara tawa yang tertahan hingga membuat Hyesun menangkap semua ekspresi Minho.

”Wae? Apa yang kau tertawakan? Senang ya melihat aku begini?” tanya Hyesun kesal.

“Ne, aku saaaaangat senang kalau kau seperti ini. Kau itu sekarang sedang dibakar api cemburu” ledek Minho sambil tersenyum.

Mata Hyesun terbelalak hebat. Mulutnya terkatup rapat. Hyesun baru tersadar ucapan Minho benar adanya. Perasaan aneh saat ia melihat Minho berciuman dengan Sandara dalam sebuah iklan TV, yang dari tadi belum ia beri nama, ternyata sebuah ungkapan cemburu. Tidak mungkin! Bagaimana bisa ia cemburu hanya karena sebuah iklan. Hyesun jadi salah tingkah dan berusaha untuk membantah.

“MWO! Cem ... buru. Si..siapa yang kau bilang cemburu?” tanya Hyesun dengan ucapan yang terbata-bata.

“Yang cemburu itu KAU karena tidak rela aku berciuman dengan Sandara” jawab Minho dengan nada riang sambil menunjuk batang hidung Hyesun dengan jarinya.

Mata Hyesun makin terbelalak lebar dan berkata “Yya! Kau ini jangan asal bicara. Aku cuma ...”

“Sudahlah” Minho langsung memotong kalimat Hyesun sambil bangkit dari sofa. Ia kini berada tepat di depan Hyesun. Minho memandang Hyesun yang masih duduk di sofa sementara ia dalam posisi jongkok sambil menangkupkan kedua tangannya di atas tangan Hyesun.

“Sudah terbukti semua kan? Tak usah dipungkiri lagi Hyesun-a. Perasaanmu pada ku, kini semakin jelas” ucap Minho dengan tatapan teduh yang lurus mengarah ke bola mata Hyesun.

“Kau jahat. Kau tega ya menjebakku seperti ini” kata Hyesun dengan suara sendu.

“Menjebak katamu? Hyesun-a, mana tega aku menjebakmu. Ini semua terjadi secara alami. Kau menunjukkan respon yang wajar ketika kau tidak rela melihat aku bersama orang lain. Pasti kau lebih tahu apa alasan ketidakrelaanmu tersebut. Itu karena kau mencintaiku. Kau tidak ingin aku bersama gadis lain apalagi sampai berciuman dengannya” urai Minho yang berusaha meyakinkan Hyesun tentang perasaan gadis itu padanya.

Hyesun terdiam. Hatinya mengakui seratus persen akan kebenaran uraian Minho. Hyesun sudah lelah membohongi diri sendiri. Hyesun tak tahan dengan tembok besar yang segaja ia bangun guna menghalangi rasa cintanya pada Minho. Ia menghentikan pendirian tembok tak berguna itu dan memutuskan untuk menghancurkan hingga ke bagian pondasinya. Tembok besar yang membentengi hati Hyesun kini telah lenyap. Ia ingin mencintai Minho dengan bebas tanpa satu penghalang pun.

Hyesun meraih tubuh Minho yang masih berjongkok di depannya. Hyesun membenamkan diri dalam dekapan Minho. Minho membalasnya dengan melingkarkan kedua tangan ke pinggang Hyesun sambil sesekali membelai lembut rambut lurus Hyesun. Rasa tenang dan hangat seketika menyeruak dalam hati Hyesun. Mereka berpelukan dan tidak bersuara sama sekali selama hampir 5 menit.

“Fansmu. Ottoke?” tanya Hyesun memecah kebisuan diantara mereka.

Minho melepaskan pelukannya. Kedua tangan Minho meremas bahu Hyesun dengan erat.
 
“Apa urusannya dengan mereka? Yang menjalani hubungan ini adalah kita, KAU DAN AKU, tidak ada sangkut paut dengan mereka. Yang terpenting adalah aku mencintaimu dan kau mencintaiku. TITIK. Araso?” ucap Minho. Hyesun mengangguk beberapa kali yang diikuti dengan sebuah senyuman manis.

Perasaan Hyesun lega saat itu juga setelah mendengar perkataan Minho. Berbagai kesialan yang ia alami hari ini sirna tanpa sisa seolah tak pernah terjadi. Bola mata Hyesun tertuju lurus pada Minho, begitupun sebaliknya. Perlahan kepala Minho mendekati wajah Hyesun. Tak berapa lama bibir Minho dan Hyesun sudah bertemu. Beberapa lumatan lembut terjadi setelah itu. Tidak ada nafsu birahi dalam lumatan Minho. Yang ada hanya lumatan yang teramat lembut, karena Minho mencium Hyesun dengan hatinya bukan dengan hawa nafsunya.

Hyesun terbayang salah satu scene BOF dimana Jun Pyo mencium Jan Di di sebuah taman. Adegan itu sama persis dengan yang ia alami sekarang. Tapi, tunggu! Sesuatu yang lain dirasakan Hyesun. Minho menciumnya dengan penuh perasaan dan sarat akan cinta, beda dengan yang dirasakannya saat Minho sebagai Jun Pyo mencium dirinya sebagai Jan Di. Hyesun kemudian menyadari satu hal. Saat ini yang menciumnya adalah Lee Min Ho bukan Goo Jun Pyo. Dan ciuman itu ditujukan untuk dirinya, Goo Hye Sun, bukan Geum Jan Di. Kisah Goo Jun Pyo dan Geum Jan Di boleh saja telah usai, namun tidak dengan kisah Lee Min Ho dan Goo Hye Sun. Kisah mereka justru baru memasuki episode perdana.



Minho masih saja melumat bibir mungil Hyesun. Kali ini Minho tidak mampu mengontrol perasaannya. Bibir kenyal Hyesun membuat Minho hilang kendali. Lidah Minho mendorong bibir Hyesun agar terbuka lebih lebar lagi. Desahan pelan Hyesun segera terdengar begitu lidah Minho mulai bermain dalam rongga mulutnya. Hyesun mulai kewalahan menghadapi Minho yang membawanya bermain lebih jauh. Hyesun mencoba menarik keluar bibirnya dari mulut Minho sambil mendaratkan beberapa pukulan kecil pada dada bidang Minho sebagai isyarat untuk menyudahi ciuman itu. Minho menangkap isyarat Hyesun. Ia membalas dengan mempererat rangkulan tangannya pada pinggang Hyesun hingga ketegangan yang sudah dari tadi menjangkiti tubuh Hyesun menjadi bertambah parah. Interupsi Hyesun melalui pukulannya tidak digubris Minho. Minho terus melumat bibir Hyesun, semakin lama lumatan itu semakin dalam. Hyesun pun akhirnya pasrah dengan keagresifan Minho. Ia meladeni permainan bibir Minho karena sesungguhnya ia juga menikmati aksi Minho ini.

Di tengah keagresifannya, Minho mulai merasa kelelahan. Oksigen residu dalam paru-paru Minho kian menipis. Hyesun juga merasakan hal yang sama, bahkan sudah terjadi dari tadi. Minho harus segera menuntaskan ciuman ini agar ada kesempatan bagi organ respirasi mereka untuk berkontraksi mengikat oksigen. Di menit yang ke 5 Minho mulai menarik perlahan bibirnya. Ciuman mereka berakhir dengan aksi saling pandang di antara keduanya. Tangan Minho masih melingkari pinggang Hyesun. Tidak ada yang berinisiatif membuka suara. Tatapan mata seolah sudah cukup bagi mereka untuk mengungkapkan kebahagiaan masing-masing.

Hyesun mengangkat kedua tangannya dan menangkupkan pada pipi Minho. Sebuah kalimat terlotar dari bibir Hyesun dengan amat lembut, “Saranghe, Minho-a”. Minho tersenyum mendengar kalimat yang sudah lama ia nantikan.



Hyesun mendekatkan wajahnya dan mengecup kening Minho. Minho menerima kecupan Hyesun dengan mata terpejam dan bibir masih tersenyum. Hatinya sangat bahagia. Tidak pernah ia merasa sebahagia ini.

“Gomawo, Hyesun-a” balas Minho ketika Hyesun selesai mengecup keningnya.

“Wae?” tanya Hyesun heran.

“Gomawo karena kau mau menerima perasaanku” jawab Minho.

“Kau tidak perlu berterima kasih pada ku” ucap Hyesun sambil tersenyum.

Melihat senyuman Hyesun tambah bahagialah hati Minho. Namun tiba-tiba ide usil melintas di benak Minho.

“Benar juga. Yang harusnya mendapatkan ucapan terima kasih dari ku bukanlah kau. Tapiiiii ...” kalimat Minho terhenti di sini. Ia sengaja membuat Hyesun penasaran.

“Tapi, siapa?” tanya Hyesun sambil memicingkan mata.

“SANDARA PARK. Baiklah nanti malam aku akan makan malam berdua dengannya” jawab Minho dengan maksud meledek Hyesun.

“YYA! LEE MIN HOOOOO” teriak Hyesun sambil berusaha memukul Minho tapi yang bersangkutan sudah keburu lari menghindar.

TO BE CONTIUED
« Last Edit: June 03, 2010, 10:49:46 pm by Liko »