CallMinsun
Welcome,
Guest
. Please
login
or
register
.
1 Hour
1 Day
1 Week
1 Month
Forever
Login with username, password and session length
News:
Home
Search
Calendar
Login
Register
CallMinsun
»
FANFIC
»
Regular Fanfic
»
THE SARANG
(Moderators:
revynska
,
Amira
) »
Message #7869
« previous
next »
Print
Pages: [
1
]
2
3
...
7
Go Down
Author
Topic: THE SARANG (Read 7775 times)
Be my self
Admin
Hero
Posts: 7360
that winkkkk!!! *fainted
Re: THE SARANG
«
on:
May 26, 2010, 06:58:43 am »
CHAPTER 3
Aku terduduk lemas di kursi tamu setelah pengeladahanku yang entah keberapa kalinya bersama Joongie keesokan harinya. Boneka 'Sarang' yang lenyap tetap saja tidak dapat kutemukan. Aku mempertimbangkan maksudku untuk menelpon Junki dan menanyakan tentang boneka 'Sarang' kepadanya. Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya aku mengambil keputusan juga.
Kuraih gagang telepon yang terletak di meja kecil disampingku dan memencet nomor ponsel Junki yang diberikannya kepadaku kemarin malam. Joongie memperhatikan tindakanku dengan kening berkerut. Dia kelihatan tidak begitu senang.
"Hello, Junki ... ya, benar.. ini aku, Hyesun .. hmm... aku tidak tahu bagaimana harus memulainya?..", aku berhenti disini dan mendengarkan kata-kata Junki diseberang.
"Begini ... ehemmmm ... saya mau tahu apakah ada barang yang tercecer di rumah atau mobilmu kemarin?", tanyaku ragu-ragu.
Jawaban diseberang membuat perasaanku semakin galau.
"Ohhh.. tidak ada? .. hmmm... tidak apa-apa .. tidak!! itu bukan sesuatu yang penting ... apa? makan malam? ...kamu datang menjemputku nanti malam? ... ooo.. tentu saja bisa .. ya, saya tidak ada kesibukan lain nanti malam ... ok, saya tunggu kedatangannya .. bye .."
Aku meletakkan kembali gagang telepon ketempatnya sambil menghembuskan nafas kuat-kuat.
"Noona tidak berpikir bahwa boneka itu akan menjadi perantara perjodohan kalian, bukan?", tanya Joongie tiba-tiba. Aku terperanjat dari tempatku.
"Tentu saja tidak ...saya .. saya hanya ... hanya ingin menemukannya kembali.. jika tidak, saya merasa bersalah pada mama karena barang satu-satunya yang dianggap paling berharga olehnya telah saya hilangkan ..."
Aku menundukkan wajah dalam-dalam. Tanpa terasa airmata yang selama ini kutahan mengalir keluar dan jatuh ditanganku yang bergetar hebat.
Joongie tidak melanjutkan kembali kata-katanya ketika melihat keadaanku yang begitu. Dia berjalan kearahku dan meletakkan tangannya di tanganku. Aku mengangkat wajah dan memandanginya. Ada perasaan teduh dihatiku ketika melihat perhatian yang diberikannya kepadaku. Perasaan ini selalu kurasakan sejak dari kecil. Joongie melebihi seorang dongsaeng bagiku. Dia lebih seperti seorang oppa dalam kehidupanku.
***********
Memasuki minggu pertama, aku cukup puas dapat tinggal bersama papa, tapi entah mengapa hubunganku dengan Joongie justru semakin renggang. Dia sering keluar pagi-pagi sekali dan pulang pada hari sudah larut malam. Sehari mungkin hanya satu dua jam aku memergokinya ada di rumah, waktu selanjutnya selain keluar, hanya digunakannya untuk tidur.
Selanjutnya, papa menganjurkanku dan Joongie untuk masuk ke perusahaan 'Goo Group' yang dikelolanya. Aku menerima tawaran yang diberikan papa. Hitung-hitung untuk memperdalam pengalamanku yang masih dangkal di bidang usaha. Joongie menolak tawaran tersebut. Dia lebih memilih bekerja di tempat lain.
Selama waktu seminggu ini hubunganku dan Junki semakin dekat. Dia merupakan seorang pacar yang baik dan aku yakin dia juga akan menjadi seorang suami yang bertanggungjawab. Pertunangan kami akan dilaksanakan sebulan kemudian. Dan pernikahan kami juga sudah ditetapkan akan dilaksanakan dua bulan setelah pertunangan tersebut.
Bibi dan paman yang mendengar rencana pertunangan dan pernikahanku sangat terkejut. Mereka mengutarakan keberatannya tentang rencana pertunangan dan pernikahanku itu ke papa. Tapi setelah mendengar penjelasan kami tentang pribadi Junki berkali-kali, akhirnya mereka menerima juga walau dengan terpaksa.
Hari ini aku sedang menunggu kedatangan Junki, yang telah berjanji untuk menemaniku mengambil barang-barang yang akan kami pakai dalam pesta pertunangan bulan depan, di pinggir jalan depan rumah. Aku melirik jamtangan yang melingkar di tangan kiriku, sudah jam sepuluh. Junki terlambat lima belas menit dari waktu yang kami janjikan. Tidak biasanya dia terlambat seperti itu. Saat itu ponsel dalam tasku berdering nyaring .... ringggggggg....ringggggggggggg.....ringggggggg ....
"Hello ...Junki .. ya .. apa? kamu tidak bisa datang?.. ada rapat penting ... hmmm ... baiklah kalau begitu .. saya pergi sendiri saja ... apa katamu? ... ohhhh ... terserah kamu saja ... ok ... bye ..", aku memutuskan hubungan dan memasukkan ponselku kembali kedalam tas.
Junki mengatakan kalau dia sudah meminta dongsaengnya, si Mino, untuk menjemputku dan membantu membawakan barang-barang yang kami pesan tersebut. Aku merasa serbasalah. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana sikapku bila bertemu lagi dengan pemuda aneh itu. Ini akan menjadi pertemuanku yang kedua setelah pertemuanku yang pertama seminggu yang lalu.
tuttttttt ............tuttttttttt..........tutttttttt.........
Suara klakson mobil yang ditekan berkali-kali menyadarkanku dari lamunan. Sebuah mobil sport dengan warna merah menyala sudah terparkir disampingku. Jendela mobil depan diturunkan dan .. seraut wajah yang sejak pertemuan pertama sudah memesonaku, dengan sepasang mata tajam memperhatikanku dari balik kacamata hitam yang dipakainya.
"Masuklah!!!!"
Aku memandanginya sesaat dengan ragu-ragu.
"Jika kamu masih berdiri saja disitu, saya akan pergi sekarang juga!!!"
Mino tampak serius dengan perkataannya. Mobil sport yang dikendarainya meraung-raung di tempat. Aku terkejut melihat keseriusannya. Dengan segera aku berlari ke mobil yang dikendarainya, membuka pintu mobil dan duduk disampingnya.
Mino memandangiku untuk beberapa saat. Aku merasa risih dengan pandangannya tapi kuberanikan diriku untuk membalas pandangannya.
"Kenapa? Ada apa?"
"Kenakan sabuk pengamanmu!!", katanya sambil menancap gas mobilnya dalam-dalam sehingga menyebabkan mobil sport tersebut melesat dengan cepat kedepan.
***************
Barang-barang yang diperlukan buat acara pertunangan dan pernikahan itu ternyata lebih banyak dari dugaanku. Aku dan Mino sampai kewalahan dengan beberapa kantong besar ditangan kami dan ditambah lagi jarak yang harus kami tempuh dari toko yang menjual peralatan pernikahan dengan tempat parkir yang cukup jauh.
"Hmmm ... mau makan es krim?", Mino tiba-tiba mengajukan tawarannya.
Aku menatapnya lekat-lekat. Dia hanya menunjuk kearah tukang es krim di pinggir jalan dengan cara memoyongkan bibirnya, karena kedua tangannya penuh oleh bawaan.
Aku masih terdiam ditempat. Mino meletakkan barang-barang bawaannya kemudian berlari kearah penjual es krim yang tidak jauh dari situ. Beberapa menit kemudian, dia kembali lagi dengan dua gelas es krim ditangannya.
"Nahh!!", katanya sambil menyodorkan salah satu gelas es krim ditangannya kepadaku. Aku masih tidak bergerak melihat tindakannya itu.
Mino tersenyum melihat kebengonganku. Aku terpesona. Baru pertama kalinya aku melihatnya tersenyum dan... satu lagi nilai plus untuknya, ketika tersenyum, sepasang lesung pipi yang dalam menghias dipipinya.
Mino meraih tanganku dan meletakkan gelas es krim itu di telapak tanganku.
"Ayo, cepat dimakan .. kalau tidak nanti mencair semua "
Sesaat kemudian, kami berdua berdiri dipinggir jalan sambil menikmati es krim yang lezat. Aku memakan es krim tersebut sambil sesekali mencuri pandang ke Mino yang berdiri disampingku. Sikapnya agak lumayan hari ini. Mungkin benar kata Junki bahwa dia tidak seburuk itu sikapnya.
"Sudah habis? kalau begitu .. ayo, kita pergi sekarang !!"
Mino meraih semua kantong besar yang tergeletak di jalan, termasuk kantong-kantong yang kubawa tadi. Tanpa menunggu tanggapanku lebih lanjut, dia berlalu dari situ dengan langkah lebar. Aku mengikutinya dari belakang dengan kewalahan. Akibatnya, aku hanya bisa berlari-lari kecil dibelakangnya sambil mengomel-ngomel.
***************
Sebulan kemudian, pesta pertunanganku dan Junki diselenggarakan dengan sederhana. Tamu-tamu yang diundang semuanya hanya dari kalangan keluarga dan teman-teman dekat. Kami tidak ingin pesta pertunangan ini diselenggarakan dengan besar-besaran, selain waktunya yang terbatas juga karena dengan jarak waktu dekat pernikahan kami akan dilaksanakan.
Dua hari sebelumnya, paman dan bibi sudah datang dan membantuku mempersiapkan segala sesuatunya. Satu hal yang paling mengejutkanku adalah pada saat pertunanganku, Joongie tidak menampakan dirinya. Entah apa yang dipikirkannya. Aku semakin tidak memahaminya. Bibi cuma berkata bahwa Joongie sedang sibuk sekali dengan pekerjaan barunya. Apa yang dikerjakannya, kami semua sama sekali tidak tahu.
Pesta ini cukup ramai juga, hal ini diluar perhitunganku. Ini semua mungkin karena nama keluarga Lee yang sudah sangat terkenal di Korea. Selama pesta ini, aku tidak berhentinya diperkenalkan kepada keluarga dan teman oleh Junki. Perasaanku tidak sebahagia dugaanku semula. Aku merasa bosan dengan semuanya. Entah mengapa saya bisa merasakan kejemuhan di saat hari yang bersejarah dalam hidupku.
Aku menjatuhkan diri di kursi paling pojok ruangan setelah selesai dengan semua acara perkenalan itu. Suara langkah kaki yang mendekatiku segera mengalihkan perhatianku. Mino berdiri di situ sambil memandangiku. Sekali lagi dia terlihat sempurna dengan jas hitam panjang, celana hitam panjang, kemeja putih dan syal putih panjang yang dikenakannya. Ini adalah pertemuan kami yang ketiga kalinya setelah pertemuan sebulan yang lalu.
Mino tidak mengeluarkan suara. Sikapnya sama dengan bayanganku mengenai dirinya, dingin dan terlalu tenggelam dalam dunianya sendiri. Dia menghempaskan tubuh jangkungnya di kursi yang ada disampingku. Kami sama-sama membisu dan tenggelam dalam pikiran kami masing-masing.
"Ohhh... Hyesun, ternyata kamu disini! Saya mencarimu sejak tadi .. dan ... heii.. dongsaeng kamu juga ada disini? .. ayoo, kita foto bersama ...", Junki mendekati kami yang masih membisu ditempat.
Aku berdiri dari tempat dudukku tapi Mino mengibaskan tangannya kearah Junki..
"Kalian saja.. saya malas .", katanya kemudian sambil beranjak dari situ, tanpa berpaling lagi kearah kami.
"Heiiiii ... huhhhhhhhhh dasar .. anak aneh..", ngomel Junki.
"Apakah dia tidak apa-apa? Sikapnya sangat berubah dibandingkan dengan pertemuan kami yang terakhir ..", tanyaku agak khawatir.
Junki tersenyum kepadaku.
"Tenang saja, dia baik-baik saja kok..... sikapnya memang seperti ..hmmmm... laut ... kamu tahu apa artinya? Kadang-kadang laut itu tenang tapi disaat yang lain dia bisa berubah menjadi berbahaya .."
Aku hanya bisa mengangga mendengar penggambaran sikap Mino oleh Junki. Laut? Ya, laut. Gambaran itu benar-benar cocok untuk Mino. Laut yang ketika tenang bisa sangat meneduhkan tapi laut yang sudah mengamuk akan menyapu segala sesuatu di sekitarnya dengan ombaknya yang menggulung.
"Ayo.. kita foto bersama!! yang lain sudah menunggu dari tadi .."
Junki mengandeng tanganku dan mengajakku ke ruang tengah. Aku hanya mengikutinya saja tanpa banyak membantah.
*****************
Aku terkapar di ranjang setelah pesta pertunangan yang melelahkan itu. Saat itu, jam di meja riasku sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Barang-barang masih berserakan didalam kamarku. Aku malas untuk membereskannya. Kelelahanku seperti sudah akan merenggut nyawaku.
Sekilas tertangkap olehku sosok Joongie yang melewati lorong di depan pintu kamarku yang tidak tertutup rapat.
"Joongie dongsaeng!!!"
Joongie menghentikan langkahnya tepat di pintu kamarku. Dia mengintip melalui celah pintu kearahku, kemudian mendorong pintu itu sehingga terbuka dan mendekatiku.
"Noona ..... ", sapanya pelan.
"Apa yang kamu lakukan di hari pertunanganku ini?", tanyaku sengit.
Joongie tidak berani menatapku. Dia kelihatan serbasalah.
"Maaf .. tapi pekerjaanku tidak bisa kutinggalkan ...."
"Apa yang lebih berharga bagimu, kebahagiaan noonamu ini atau pekerjaanmu?"
Joongie menatap lekat kemataku dan berkata dengan sungguh-sungguh.
"Untuk saat ini pekerjaan ini lebih penting bagiku. Tidak!!! Noona jangan membantah dulu ... saya akan membuktikan kepada noona bahwa juga bisa menjadi seorang laki-laki yang bertanggungjawab, yang layak berdiri di hadapan noona, yang akan mampu untuk melindungi noona dari apapun ..."
Aku terkejut mendengar perkataan Joongie. Tidak pernah aku melihat dia seserius itu. Tapi aku juga tidak begitu mengerti dengan maksud dari perkataannya itu.
Joongie memandangiku dengan grogi. Dia berdeham-deham sejenak.
"Ehemmm...ehemmmm.....selamat malam ...", setelah berkata begitu, dia keluar dari kamarku, meninggalkan aku yang masih terbengong di atas ranjang.
Kejadian-kejadian selama sebulan yang lalu kembali terbayang dalam pikiranku. Perubahan sikap Joongie, pertunangan yang seharusnya meninggalkan kesan yang mendalam bagiku yang nyatanya tidak, pertemuan ketiga kali dengan Mino yang membuatku berpikir tentang dirinya setiap saat yang sama sekali tidak dapat dimengerti oleh diriku sendiri.
Kejadian-kejadian itu secara silih berganti bermain di dalam kepalaku. Rasa lelah ditambah pikiran yang penat membuatku terlelap lima belas menit kemudian.
******************
Keesokan harinya, aku menerima telepon dari Junki yang mengajukan permintaan untuk makan malam bersama. Aku menerima ajakan tersebut dengan senang hati. Mungkin setelah makan malam ini, perasaan hambar di hatiku akan terobati.
Malam harinya, aku berdandan khusus untuk acara tersebut. Kubuka lemari pakaianku dan memperhatikan deretan gaun malam yang tergantung rapi didalamnya. Kuraih gaun malam panjang yang agak terbuka bagian depannya. Kuperhatikan dengan seksama. Aku mengelengkan kepala. Tidak! Ini terlalu terbuka untuk acara makan malam yang istimewa. Aku ingin memberikan kesan manis kepada Junki. Akhirnya aku memilih gaun putih pendek dengan lengan seperempat yang sedikit terbuka di bagian pundaknya.
Kuperhatikan rambutku yang tergerai sampai ke punggung. Aku mengambil sisir kemudian mengikatnya kebelakang dengan membiarkan poni dan beberapa helai rambut terjuntai menutupi telinga. Ya, begini lebih baik. Kuraih sepasang sepatu berhak tinggi dari deretan sepatu lain yang terdapat di rak sepatu. Aku memakai sepatu berwarna putih itu dengan cara menyilang-nyilangkan tali yang mengikatnya.
Beberapa saat kemudian ponselku yang tergeletak diatas meja rias berdering nyaring .....ringggg... ring..........ring....... Kuraih ponsel tersebut, menekan tombol dan mendekatkannya di telinga.
"Hello .....ya, Junki ....aku sudah siap .... apa?rapat penting? .........Hmmm .. baiklah, saya bisa makan sendiri ........apa katamu? .. tidak!!!!!!!!!....lupakan itu...saya tidak mau pergi lagi dengan dongsaengmu ......Hahhhhhhhhhh? kamu sudah menyuruhnya untuk menjemputku? ...Bagaimana kamu bisa ...", kata-kataku terpotong oleh bunyi bell yang ditekan berkali-kali di pintu depan .
"Akhhhhhhhh ..... ada orang datang .. tunggu sebentar, Junki, saya lihat dulu siapa yang datang malam-malam begini .."
Aku berlari ke pintu depan dengan ponsel yang masih tergenggam di tangan. Kubuka daun pintu yang terbuat dari kayu jati murni dengan corak bunga itu dengan segera dan ... sosok jangkung yang amat kukenal berdiri disana.
"Ya ... benar.. itu dongsaengmu.. dia sudah sampai .. ok, baiklah kalau begitu .. bye ..", aku memutuskan hubungan dengan Junki sambil memperhatikan sosok dihadapanku dengan mata tak berkedip.
Mino mengamatiku dengan seksama. Matanya menyelusuri sekujur tubuhku dari atas kebawah dan berbalik lagi dari bawah keatas. Aku merasa risih diperhatikan seperti itu. Tapi, disaat yang lain aku menjadi sadar dengan maksud dari pandangannya tersebut.
Penampilan Mino sangat santai. Dengan kaos abu-abu polos berlengan pendek, kupluk dengan warna selaras, dipadu dengan celana jeans ketat berwarna biru, dia tetap mempesona seperti biasanya.
"Apakah saya perlu menganti baju?"
Mino mengibaskan tangannya.
"Tidak! Jangan menghabiskan waktu untuk itu !!!"
Setelah berkata begitu, Mino membalikan badannya dan meninggalkanku yang masih berdiri di ambang pintu.
"Yaaaaa ......... aku belum mengambil tasku!!!!", teriakku dengan nada kesal.
Mino menghentikan langkahnya, tapi dia tidak membalikan badannya. Aku mendengus kesal kemudian berbalik dan berlari kedalam rumah. Lima menit kemudian aku berlari keluar lagi sambil menjinjing tas kecil ditanganku.
Mino yang mendengar suara langkah kakiku, segera melanjutkan langkahnya. Sekali lagi aku hanya bisa berlari-lari kecil dibelakangnya dengan perasaan dongkol. Aku selalu menjadi bodoh dan tidak berdaya jika berhadapan dengannya.
**********************
Logged
EVIL SMILE ^^
'LOVE' ...
keeps it strong!!!
Our MinSun
Print
Pages: [
1
]
2
3
...
7
Go Up
« previous
next »
CallMinsun
»
FANFIC
»
Regular Fanfic
»
THE SARANG
(Moderators:
revynska
,
Amira
) »
Message #7869